Feed on
Tulisan
Komentar

Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.

Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan “S” Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang “menjual”. Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : “sopnya enak, pak…”, maka saya lalu menyetujuinya.

Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.

Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya….).

Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.

Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan sruputan pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan kepyuran emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.

Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. Lha, wong guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar taste-ya.

***

Rumah makan “S” Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan. 

Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, wong dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.

Setidak-tidaknya menu sop rumah makan “S” Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong hoenak sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu…..

Yogyakarta, 15 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Ibu mertua saya adalah pemegang kartu Askes. Kalau mau memeriksakan kesehatannya, beliau akan pergi ke RSU dengan menggunakan segala fasilitas pelayanan gratis yang diberikan oleh kartu sakti bernama Askes itu. Bagi beliau ada beda yang nyata antara berobat gratis di RSU dan berobat membayar di RS swasta atau dokter praktek. Meskipun untuk memperoleh pelayanan gratis itu ada konsekuensi yang harus dijalani menyangkut kualitas pelayanan, menunggu antrian yang seringkali lama, atau jenis obat murah tapi bukan murahan.

Bukan nilai uangnya yang terkadang berwarna abu-abu, melainkan nilai kebanggaannya yang jelas beda antara hitam dan putih. Perbedaan yang tidak bisa dibandingkan dengan kata-kata sombong anak atau menantunya yang katanya lebih baik pergi ke dokter ahli swasta berapapun biayanya. Kebanggaan tak terukur bagi seorang janda tua pemegang kartu Askes yang tinggal tidak serumah dengan anak dan menantunya.

***

Ketika menemani mertua ke RSUD Wirosaban Jogja, saya ikut duduk beramai-ramai di ruang tunggu berbaur dengan banyak pasien lainnya. Saya hitung ada lebih 65 orang pasien yang sedang menunggu di sana, hampir semuanya sepuh (sempat-sempatnya mengitung…..). Tentu mereka juga pemegang kartu Askes atau Askeskin bagi masyarakat miskin. Ada dua golongan pasien, masing-masing menunggu di depan poliklinik penyakit dalam dan syaraf yang letaknya bersebelahan. Saya masih harus bersabar sambil klisikan menjelang munculnya rasa bosan.

Beberapa saat kemudian saya lihat pasien yang tadi sudah ditimbali (dipanggil) suster untuk masuk ke ruang periksa di kedua poliklinik, kok pada keluar lagi? Rupanya mereka yang keluar dari poliklinik syaraf diberitahu oleh susternya untuk menunggu di luar dulu karena dokternya mau jagong (kondangan). Dan mereka yang keluar dari poliklinik penyakit dalam diberitahu, juga untuk menunggu di luar dulu karena dokternya ada rapat. Hebatnya para orang-orang tua ini, mereka menceritakan semua itu kepada sesama pasien penunggu dengan ringan, muka cerah, tanpa menampakkan muka kecewa (mungkin ada sedikitlah…). Sedang saya yang mendengarnya saja kesal rasanya. Pasien-pasien tua itu disuruh menunggu karena dokternya mau kondangan dan ada rapat….?

Saya tidak ingin membahas tentang benar atau salah, sebaiknya atau tidak sebaiknya. Saya tidak punya ilmunya tentang etika semacam ini. Saya lebih tertarik mengenangnya sebagai peristiwa pelayanan bisnis. Saya mencoba berandai-andai…

Andai-andai yang pertama, kalau dokter itu adalah penjual singkong goreng, pasti akan ditinggal pergi pelanggannya yang memilih membeli gorengan di warung lain meski mungkin harus mengesampingkan faktor cita rasa. Andai-andai yang kedua, kalau pasien itu bukan pemegang kartu Askes atau Askeskin alias pasien mampu, pasti memilih untuk berobat ke dokter lain meski mungkin harus membayar lebih mahal.

***

Lebih 75 menit berlalu, para pasien tua masih dengan tekun menunggu sambil bercengkerama dengan sesama penunggu lainnya. Mereka tampak enjoy aja….. Heran, saya…..! Sudah saya tinggal sholat dhuhur di musholla, belum juga para dokter itu kembali (saya pikir kalau ditinggal sholat, dan sholatnya agak dipercepat…… lalu kondangan dan rapatnya juga akan cepat selesai, ternyata tidak ada hubungannya….. ugh…).

Untuk mengusir kebosanan, saya mengajak bercakap-cakap (kata ini sekarang jarang digunakan) orang tua laki-laki berusia 68 tahun yang duduk di sebelah saya. Beliau bercerita tentang stroke yang dideritanya sejak lima tahun terakhir. Setiap bulan selalu periksa ke RSUD Wirosaban Jogja, ya karena gratis itu. Darimana saya tahu usianya 68 tahun? Sederhana saja. Saya hanya tanya tentang pekerjaan terakhirnya, maka beliau dengan semangat empat lima bercerita pengalamannya sebagai PNS yang pensiun pada tahun 1995. Maka hitungannya menjadi 55 + (2008-1995) = 68.

Seorang ibu agak tua yang duduk agak di sebelah kiri saya kemudian juga saya ajak ngobrol. Sebagai penderita kolesterol, katanya (padahal kolesterol itu baik untuk tubuh, tapi kok malah menderita……?), beliau setiap bulan juga rajin periksa di tempat yang sama. Juga untuk alasan karena gratis.

Lho yang menghuuerankan saya, meski bapak tua itu kalau jalan sudah thunuk-thunuk dan ibu agak tua itu juga kelihatan kurang lincah, wajah-wajah mereka tetap cerah sumringah. Tidak sedikitpun menampakkan roman muka kesal atau manyun….., padahal pelayanan kesehatan yang mereka harapkan melalui kartu Askes atau Askeskin itu diberi bonus disuruh menunggu dokternya kondangan dan rapat entah sampai jam berapa atau berapa jam. Tampak benar, legowo sekali mereka menerima keadaan yang tanpa punya pilihan.

***

Sial benar orang yang mau gratisan, mereka tidak akan pernah punya pilihan. Barangkali aturannya memang berbunyi kalau mau berharap gratisan ya kudu bersiap tidak punya pilihan. Para pasien tua itu harus nrimo, karena satu-satunya pilihan bagi mereka adalah sabar menanti hingga para dokter itu kembali ke ruang prakteknya.

Kalau kemudian ada orang yang mampu memberi fasilitas gratisan dan sekaligus juga memberi pilihan kepada orang lain, sungguh orang itu mulia dan pantas didoakan agar panjang umur dan banyak rejeki. Sebaliknya kalau ada orang yang suka meminta fasilitas gratisan tapi ngotot menuntut diberi pilihan, sungguh orang yang tidak tahu diri. Cilakaknya, kelompok yang kedua ini sekarang lagi musim di negeri ini (mengalahkan musim durian, rambutan atau penghujan yang hanya berlangsung beberapa bulan saja).

Yogyakarta, 14 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Bukan Saya

Hari ini akan saya ingat sebagai hari yang agak beda dari biasanya. Ada dua peristiwa biasa tapi memberi hikmah yang tidak biasanya.

Jam delapan pagi saya sudah bergegas meluncur ke rumah seorang teman lama untuk melayat ibu mertuanya yang meninggal kemarin. Sudah agak lama saya tidak berkomunikasi dengan teman saya, yang hampir 29 tahun yll pernah sekamar kost di Yogya. Saya sempatkan untuk melayat ke rumah duka dan mengantar jenazahnya hingga ke pemakaman.

Baru saja tiba di rumah sepulang melayat, ada tilpun dari ibu mertua yang minta diantar ke rumah sakit. Segera bergegas lagi bersama istri menjemput ibu mertua dan mengantarnya ke RSUD Wirosaban, Yogyakarta. Setelah mengurus ini-itu di loket, kemudian tiba di ruang tunggu poliklinik penyakit dalam. Namanya juga ruang tunggu, jadi mestinya ya ruang untuk menunggu. Dan yang namanya menunggu dokter di rumah sakit rakyat jelata, tak terprediksi berapa lamanya. Tingkat kelamaannya akan berbanding lurus dengan tingkat kemanyunan pengantar dan penunggu seperti saya.

Sambil melamun manyun, terkadang duduk terkadang berdiri, sambil tersenyum kecut dalam hati seperti ada yang mengingatkan perjalanan saya beberapa jam sebelumnya pagi tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah, dua pekerjaan telah dan sedang saya jalani dengan tanpa beban dan ikhlas (meski agak manyun juga kelamaan menunggu), mengantar jenazah mertua teman dan mengantar mertua sakit.

Tiba-tiba saya seperti sedang disadarkan. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar jenazah mertua teman ke pemakaman, bukannya saya yang diantar. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar mertua ke rumah sakit, bukan saya yang diantar.

Seringkali kita berlindung dan merasa nyaman berada di balik kata “bukan saya”. Bukan saya yang digusur, bukan saya yang jadi korban kecelakaan, bukan saya yang terkena bencana, bukan saya yang kesulitan beli minyak, bukan saya yang terpaksa meminta-minta, bukan saya yang di-PHK, bukan saya yang disia-sia Satpol PP, bukan saya yang gagal ujian, bukan saya yang…… , bukan saya…….

Semua berlalu tanpa makna. Begitu saja. Lalu kita pun lupa. Tapi dua pengalaman pagi tadi yang sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati saya. Bukan saya….., lalu apakah akan tetap begitu saja sambil menunggu tiba kesempatannya (kesempatan kok ditunggu…..), diantar seperti ibu mertua teman saya dan ibu mertua saya?

Padahal yang namanya kesempatan itu sama sekali tidak berbanding lurus atau berbanding terbalik atau berpersamaan matematika dengan waktu, melainkan adalah eksistensi diri kita sendiri. Bak quiz tapi judi di televisi yang direstui petinggi negeri, berbiaya premium tinggi dan dipandu mahluk cantik merak ati : siapa cepat dia dapat…… Begitu juga kesempatan mengantar atau diantar silih berganti tidak mengenal antri.

Yogyakarta, 13 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.

Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? Wow…, jangan kaget di sana ada sate raksasa…… Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.

Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup buesar….).

Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.

Dari tampilannya saja (sumprit…, saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari beboko (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.

Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya dulitkan (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja… “Hmm…., enak…, enak sekali….”. Pilihan hasil assessment saya memang hanya dua, enak dan hoenak sekale…..

Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya dudut (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.

Oedan tenan……., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang ruarrr biasa…..  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi seafood bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak kress…. di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan well done (sebaiknya jangan setengah matang).

Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian…… nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.

***

Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate seafood yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang mirasa, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah brand image Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.

Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya……. Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate seafood Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.

Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.

Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.

Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate seafood Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul “Seafood of Love”, yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.

Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :

My seafood of love, my dining pleasure
Finger lickin’ food, so fresh and tasty
Breezing through my mind
You leave me breathless and wanting for more….

Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap hatur nuhun kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan wal-hamdulillah …… Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.

Yogyakarta, 12 Mei 2008
Yusuf Iskandar 

Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya juga mengira demikian (sebutan khas orang Sunda yang biasa menulis Pa untuk Pak). Padali adalah nama tempat atau kampung dimana warung itu berada.

Warung Sate Padali saya jumpai di rute perjalanan dari arah Labuan menuju Legon, dermaga penyeberangan ke pulau Umang, Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk sumur……). Di sana ada perempatan jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Padali.

Untuk menuju ke Sumur, sesampai di perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan. Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan Warung Sate Padali. Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka warung sate Padali bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.

Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. Krecek kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.

Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit krecek kambing karena penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. Wuih……, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya……

Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan krecek kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis finish sudah klepek-klepek……., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut kemlakaren……., kekenyangan.

Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang pandai memilih daging, sehingga ada beberapa potong daging kambing yang kenyal dan alot dikunyah. Tapi, it’s OK. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.

***

Penjual sate yang saya lupa menanyakan namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta ini rupanya sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Padali. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu usaha pertambangan emas di wilayah kecamatan Cibaliung.

Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kurang subur untuk usaha pertanian, kini kehidupan ekonomi sebagian penduduknya menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang mempunyai keterampilan untuk dididik menjadi tenaga kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan adanya penduduk pendatang yang bekerja di tambang.

Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau daging sapinya cukup dengan membelinya di pasar.

Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung ndeso ini kalau saja mereka pandai mengelola warungnya yang ada sekarang.

Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya semakin ramai. Bolehlah pemilik warung sate ini berharap agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang mau mampir menyantap sate Padali dulu sebelum masuk Sumur.

Yogyakarta, 11 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Sore sudah hampir berujung ketika saya tiba di pantai Legon, tidak jauh di sebelah utaranya kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten. Pulau Umang memang menjadi tujuan saya sore itu. Di sana saya ingin menyaksikan detik-detik matahari tenggelam di horizon barat dari tempat paling barat di pulau Jawa.

Hanya ada satu dermaga yang disinggahi perahu motor yang mengantar-jemput pengunjung pulau Umang. Tidak jauh dari dermaga ada sebuah bangunan bergaya tradisional, berdiri menghadap pantai, yang dikelilingi oleh halaman parkir cukup luas. Sudah ada banyak mobil dan bis wisata parkir di sana. Rupanya bangunan ini adalah semacam kantor administrasi yang mengelola pulau Umang dan segenap aktifitas yang terkait dengan wisata pulau Umang.

Seorang petugas segera menghampiri dan menanyakan keperluan kedatangan saya dan seorang teman. Bagi petugas itu, sangatlah jarang pengunjung yang ujug-ujug sampai di situ tanpa melakukan pemberitahuan sebelumnya. Rupanya semua pengunjung pulau Umang biasanya sudah melakukan reservasi di kantor perwakilan manajemen Pulau Umang Resort & Spa di Jakarta, sedangkan saya njujug saja ke tempat itu dengan alasan hendak melakukan survey lokasi tujuan wisata.

Biaya untuk mengunjungi pulau Umang adalah Rp 100.000,- per orang, termasuk untuk menyeberang pergi-pulang dan seorang pemandu yang akan menemani selama kunjungan. Jam berkunjung bebas, asal tidak kelewat malam maka perahu motor akan siap mengantar kebali ke dermaga Legon. Perjalanan menyeberangnya sendiri sebenarnya hanya sekitar 15 menit, dengan perahu motor yang dilengkapi dengan baju pelampung.

***

Umang_2

Pulau Umang terletak di teluk Panaitan yang membentang di perairan antara Tanjung Lesung di sebelah utara dan Ujung Kulon di sebelah selatan. Luas pulau ini hanya sekitar 5 hektar. Di sebelah selatannya terdapat pulau Oar yang luasnya hanya sekitar 3,5 hektar dan berjarak 10 menitan berperahu motor dari pulau Umang. Karena hanya dua dumuk gundukan karang, maka kedua pulau ini tidak akan muncul di peta Indonesia.

Pulau Umang dan pulau Oar adalah properti pribadi milik seorang pengusaha dari Jakarta. Oleh karena itu wajar kalau pemiliknya berhak mengatur pengelolaan kedua pulau ini. Ibaratnya, kedatangan saya sebenarnya bukan sebagai wisatawan melainkan tamu yang masuk ke rumah orang. Perlu kulo nuwun dulu, lalu dituanrumahi oleh seorang pemandu, dan untuk semua itu harus mbayar….. Belum lagi kalau mau nunut makan dan bermalam.

Begitu mendarat di dermaga kedatangan di Pulau Umang, langsung disambut dengan ramah oleh seorang pemandu wisata. Tampak sebuah bangunan utama yang di depannya membentang sebuah kolam renang cukup luas yang salah satu batas tepinya berbatasan dengan bibir pantai. Bagus sekali. Sebelum jalan-jalan mengelilingi pulau Umang, sempat ngobrol-ngobrol dulu dengan sang pemandu sambil disuguhi jus kiwi, di lobby yang interior dalamnya terkesan antik. Tahulah saya, untuk menginap semalam di pulau Umang pada saat weekend perlu biaya hingga 1,5 juta rupiah per kamar yang berupa setengah villa, yaitu sebuah villa yang terbagi dua, masing-masing cukup untuk ditinggali sebuah keluarga. Sedangkan untuk makan telah disediakan paket bernilai dua-tiga ratusan ribu rupiah per orang per hari. 

Sambil berjalan mengelilingi pulau Umang, sambil melihat-lihat bagian dalam bangunan villa yang berarsitektur minimalis, berkonstruksi kayu, tapi artistik. Bagian bawahnya ruang tamu dan kamar mandi bergaya ndeso, sedang mezanine atasnya untuk kamar tidur berukuran cukup luas. Ada 30 buah villa (yang berarti 60 kamar) yang setengah jumlahnya berkonsep sunrise karena menghadap ke arah matahari terbit di pagi hari dan setengah sisanya berkonsep sunset karena menghadap matahari tenggelam di senja hari. Di depan bangunan villa, tepat di bibir pantai dibangun banyak gazebo tempat para tamu dapat bersantai lesehan atau klekaran, beristirahat menikmati pemandangan pantai dan laut.

Berwisata ke pulau Umang agaknya menjadi kurang pas bagi wisatawan berkantong pas-pasan. Memang kebanyakan tamunya adalah warga Jakarta dan sekitarnya yang berniat membelanjakan simpanan anggarannya untuk agenda rekreatif yang berbeda. Dan jangan heran kalau setiap akhir pekan selalu ramai dikunjungi tamu. Ingin lebih puas tinggal di pulau Umang? Jangan khawatir, beli saja sebuah villa-nya yang berharga 1,5 milyar rupiah. Nyatanya memang ada juga yang membeli untuk dimiliki.

Berjalan mengelilingi pulau Umang tidak perlu waktu lama. Pemandangan alam pantainya sungguh mempesona. Terlebih di saat rembang petang di kala langit sedang terang benderang. Matahari nampak indah sekali sedikit demi sedikit menyembunyikan prejengan wajahnya, meninggalkan berkas dan pantulan cahaya di langit biru semburat merah, memantul pada bongkah-bongkah awan di angkasa (Ugh…., susah sekali merangkai kata-kata seperti ini……). Romantisme menikmati fenomena alam keseharian seperti itulah agaknya yang ingin dibeli wisatawan ber-budget tebal di pulau Umang. Padahal tidak usah menyeberang ke pulau Umang, melainkan nongkrong saja di pantai menghadap ke arah barat juga akan sama kenampakannya. Entah apa bedanya…..

Pasir pantainya berwarna putih bersih, tapi setelah terhempas oleh ombak ke daratan di beberapa tempat terlihat menjadi tidak bersih lagi, sebab onggokan sampah, kayu, plastik, sandal jepit, ikut terhempas di garis pantai. Onggokan batu-batu karang dan pepohonan yang tumbuh di antaranya, di bagian agak ke tengah laut, menambah pesona pemandangan alamnya yang begitu indah.

Di pulau Umang banyak ditanami pohon ketapang dan waru sehingga terkesan teduh dan berangin semilir. Cocok untuk digunakan sebagai arena bebas beraktifitas alam terbuka. Bagi penggemar olahraga air juga tersedia jetski atau speedboat. Bagi mereka yang hobi memancing malam hari tentu akan menyukai tempat ini. Bagi pengunjung yang menggemari wisata laut, perlu menyempatkan untuk menyeberang ke pulau Oar yang tidak berpenghuni. Alam daratan dan lautnya masih asli sehingga sangat cocok untuk berolahraga menyelam atau snorkling, di antara terumbu karang yang mengitari pulau Oar. 

***

Sayangnya belum ada jalan tembus yang layak dilalui kendaraan yang menghubungkan dari Tanjung Lesung ke Legon, sehingga untuk mencapai dermaga penyeberangan di Legon harus menempuh jalan agak memutar melalui kecamatan Cibaliung dan Sumur. Kalau tidak, mestinya pulau Umang akan lebih enak dicapai dari pantai Carita terus ke selatan melalui Labuan dan menyusuri pantai barat Pandeglang. Pemandangan alam pada jalur ini tentunya akan lebih menarik ketimbang jalur yang harus dilalui sekarang.

Rute jalan untuk mencapai Legon cukup mudah dan aman. Mudah, karena banyak dilalui kendaraan umum dari Jakarta, Serang, Pandeglang atau Labuan. Juga tidak sulit kalau hendak dicapai dengan kendaraan pribadi. Dari Jakarta menuju Sumur jaraknya sekitar 215 km atau sekitar 4-5 jam perjalanan darat. Aman, karena melintasi kawasan yang mulai ramai lalulintasnya maupun dekat dengan pemukiman penduduk. Kalau dibilang kurang aman, itu karena setelah keluar dari Labuan, kondisi jalannya belak-belok melintasi pegunungan dan di beberapa lokasi kondisi jalannya agak sempit dan rusak.

Sebelum meninggalkan pulau Umang, selewat matahari terbenam hari mulai malam tapi tidak terdengar burung hantu, beruntung saya sempat bertemu dengan Pak Christian, sang pemilik properti. Ceritanya pulau itu dibeli pada tahun 1980, lalu tahun 1998 mulai dibangun dan dikembangkan untuk tujuan komersial, dan baru pada akhir 2004 mulai dibuka untuk umum. Dalam upayanya turut mengembangkan wilayah di pantai barat Pandeglang, kini Pak Christian sedang ancang-ancang memasuki industri agrowisata. Beberapa klaster lahan pertanian disiapkan yang nantinya akan ditawarkan kepada investor dengan melibatkan masyarakat sebagai petani penggarap. Ada yang berminat? 

Yogyakarta, 10 Mei 2008
Yusuf Iskandar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pulau Umang terletak di Teluk Panaitan, di sebelah selatan Tanjung Lesung dan di sebelah utara Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pulau karang seluas 5 hektar ini merupakan properti pribadi yang kini dikomersialkan sebagai kawasan tujuan wisata bagi golongan menengah ke atas. Keindahan pesona alam saat sunrise dan sunset adalah aset alam yang dimilikinya.

Pulau Umang - Banten, 2 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Pengalaman Pertama

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya - Semarang, beberapa hari yll.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak…), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : “have a nice flight….”.

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem….., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa’ Gym. Ee…, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak tembelek lencung (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita…..).

Semarang, 30 April 2008
Yusuf Iskandar

Seperti biasa ketika panggilan boarding dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris antri menuju pintu 2 bandara Adisutjipto, Jogja. Tiba giliran kartu boarding saya diperiksa, saya dipersilakan untuk menyisih dulu. “Wah, ada masalah apa ini?”, begitu pikir saya spontan, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi.

Rupanya saya diberitahu bahwa kartu boarding saya diganti, yang tadinya berwarna hijau bertuliskan “Economy Class” ditukar dengan yang berwarna ungu bertuliskan “Executive Class”. Tanpa basa-basi kalimat pengantar, kecuali sekadar : “Boarding pass-nya diganti ya, pak”. Begitu saja kata si embak petugas Garuda..

Jelas saya “tidak puas” (maksudnya, kok tidak ada penjelasannya…). Ketika saya tanya kenapa? Jawabnya singkat : “Di-upgrade”. Lha ya sudah tahu kalau di-upgrade.

Biar tidak kelamaan, akhirnya ya saya komentari sendiri saja sekenanya : “Up grade otomatis ya, mbak”.

“Iya”, jawab pendek si embak (rupanya bukan hanya senjata, pintu dan kunci yang bisa otomatis, upgrade juga bisa…).

Ya sudah. Tiba-tiba saja ayunan langkah saya menuju pesawat yang parkirnya agak jauh terasa lebih ringan, cara berjalan saya pun menjadi agak gaya, dan pandangan ke sekeliling pelataran parkir pesawat pagi itu terasa lebih jernih. Itu karena tadi pagi saat matahari belum mecungul, sebelum jam enam pagi, saya sudah mendapat rejeki dinaikkan kelas oleh Garuda.

Sebenarnya memang bukan peristiwa yang luar biasa. Hanya karena sudah lama saya tidak menerima jenis rejeki seperti ini maka menjadi begitu istimewa. Saking istimewanya hingga saya berpikir, bagaimana caranya agar rejeki semacam ini bisa berulang kembali.

***

Sebagai penumpang pesawat kelas eksekutif, tentu saja berhak menerima fasilitas, perlakuan dan pelayanan berbeda dibanding penumpang kelas ekonomi. Tempat duduk lebih longgar dan lebar, sajian pembukanya bukan permen melainkan jus, diberi pinjaman handuk kecil hangat, bekal untuk sarapan plus penyajiannya juga beda, bolak-balik ditanya dan ditawari apa mau ditambah minumnya (tapi makanannya tidak).

Bukan itu yang menjadi pemikiran saya (diperlakukan enak saja masih dipikir, apalagi kalau tidak enak…), melainkan kenapa tiket saya bisa di-upgrade?

Saya memang anggota Frequent Flyer Garuda, tapi kalau karena itu mestinya banyak juga penumpang lain yang juga jadi member Frequent Flyer. Sementara ketika saya coba mengamati tempat duduk kelas eksekutif, di sana masih ada 6 kursi kosong dari 16 kursi kelas eksekutif yang tersedia. Jangan-jangan diundi? Rasanya tidak mungkin juga. Kurang kerjaan amat…!

Mestinya bagian pertiketan atau pelaporan penumpang yang tahu jawabannya. Tapi kok jadi saya yang kurang kerjaan kalau mau menanyakan kepada mereka.

Yang ada di pikiran saya sebenarnya adalah kalau saya tahu apa alasannya, maka saya akan tahu apa persyaratannya (conditions). Kalau tahu persyaratannya, maka lain waktu saya akan berusaha memenuhi persyaratan itu. Untuk apa lagi kalau bukan agar dinaikkan kelas lagi oleh Garuda.

Bagaimana menjadikan peristiwa tadi pagi sebagai lesson learn. Jika ada kemenangan kecil (small winning) bisa kita raih untuk mendatangkan keuntungan, maka hanya dengan mengetahui dan memahami kondisinya maka kemenangan-kemenangan kecil berikutnya akan dapat kita kumpulkan sehingga menjadi keuntungan besar.  

He…he…he…,  terima kasih Garuda. Sampeyan tidak salah memilih penumpang untuk diberi rejeki…. (atau dikasihani?).

Jakarta, 2 April 2008
Yusuf Iskandar

Pada mulanya saya membaca olokan maskapai “Pokoke Mabur” (yang penting terbang) saya tafsirkan hanyalah sekedar gaya bahasa sebagai ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap perilaku maskapai Adam Air dalam menjalankan bisnisnya. Saya setuju dengan olokan itu karena kedengaran enak di telinga.

Ee… lha kok kenyataan yang sebenarnya malah jauh lebih parah dari sekedar julukan itu. Coba bayangkan, naik pesawat terbang tinggi lebih 9 km di atas permukaan bumi, dengan kondisi pesawat yang asal terbang. Kata Departemen Perhubungan, ada baut-baut dan paku pesawat yang tidak lengkap. “Ini, kan berbahaya sekali”, kata Budhi Mulyawan Suyitno, Dirjen Perhubungan Udara (Eee…alah, Pak De… Pak De…., kok baru sekarang Sampeyan ngasih tahu saya, telanjur 3 tahun ini saya midar-mider dengan pesawat “Pokoke Mabur”, jangan-jangan pesawat yang menghunjam di laut dekat Sulawesi karena ada bagian yang coplok di udara….).

Bukan itu saja, menurut koran “Kontan” hari ini, Adam Air ternyata tidak mengoperasikan pesawatnya sesuai aturan. Proficiency check alias kecakapan pilotnya tidak dilakukan oleh instruktur yang sudah ditunjuk, pelatihan sumber daya manusia tidak sesuai program (sesuatu yang tidak ikut aturan, oleh orang Jawa disebut sak geleme dhewe…). Malah koran “Kompas” hari ini juga menyebut bahwa perawatan pesawat udara tidak sesuai company maintenance manual, dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan (jadi kalau ada kerusakan pesawat jangan-jangan malah menjadi semakin rusak, lha wong ora biso ndandani… tidak bisa memperbaiki…).      

Maka mulai hari ini ijin terbang (operational specification) maskapai “Pokoke Mabur” milik PT. Adam Air Sky Connection itu pun dicabut.

***

Terlepas dari konflik internal dari para pemegang sahamnya, entah itu karena perkara mismanagement atau ketidakpuasan pribadi, yang jelas konsumen pengguna jasa angkutan udara telah menjadi taruhannya selama ini.

Entah itu kebodohan, kekonyolan atau kekejaman, setiap kali pesawat Adam Air mengudara, maka para penumpang dan awaknya ibarat sedang bermain trapeze, sirkus bergelantungan di udara tanpa jaring pengaman. Tinggal tunggu waktu siapa dari pemain sirkus udara itu yang kebagian sial gagal melakukan akrobatiknya dengan mulus dan selamat, meloncat dari satu gantungan ke gantungan lainnya sambil bermanuver di udara. Benar-benar “pokoke mabur”, oedan tenan……

Mengingat kembali bagaimana awak kabinnya terlihat asal-asalan memperagakan prosedur dan tatacara dalam keadaan darurat dan juga bagaimana sopir-sopirnya mendaratkan pesawat hingga sering mak jegluk…., bisa jadi semua itu adalah ekspresi di luar kesadarannya dari sikap ora urus, tidak perduli dan …., ya “pokoke mabur” itu tadi.

Huh…! Miris rasanya kalau ingat bahwa yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara itu benar adanya. Dan, mestinya ya benar. Masak sih, ngarang-ngarang…..

Kini pemerintah masih memberi kesempatan Adam Air untuk memperbaiki kinerja buruknya dalam waktu tiga bulan. Maka pertanyaannya adalah, apakah pihak manajemen Adam Air mampu “menyulap” semua kegagalan dan ketidakmampuan itu menjadi lebih baik dan sesuai prosedur keselamatan yang benar dalam waktu tiga bulan ke depan? Menurut kalendar di rumah saya, tiga bulan ke depan jatuh pada tanggal 18 Juni 2008 (dengan empat tanggal merah di dalamnya), pas peak season musim liburan sekolah.

Have a safe and nice flight…..!

Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai “Pokoke Mabur” yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.

Namanya juga pokoke mabur (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun pokoke mramugari (pakai huruf depan ‘m’, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).

Baru saja pesawat atret mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana emergency segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti emergency dalam dua bahasa.

Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena pokoke (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.

Asal dilarak… diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang coro Londo. Pendeknya, buru-buru seperti kebelet mau ke belakang…..

Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.

Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang kebelet ke belakang….. (bagian belakang pesawat maksudnya).

Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya “acara” peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.

Belum lama pesawat take-off dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.

***

Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat “Pokoke Mabur” lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun mabur (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau “hanya” terlambat satu jam sudah tidak perlu dihalo-halo lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. Wong sudah terbukti sering sekali begitu.

Tiba saatnya boarding, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang tumplek-blek bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.

Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.

Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.

***

Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, tak urung mak jegluk…. Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.

Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai “Pokoke Mabur”, perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar pokoke tekan nggone (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya mabur ….. tinggi sekali dan tidak kembali lagi….. (diucapkan dengan logat Banyumasan).-

Yogyakarta, 5 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Saat sedang mengantri untuk boarding di bandara Adisutjipto Yogya, tiba-tiba saya disapa oleh seorang teman lama. Karuan saja suasana jadi seru, ngobrol ngalor-ngidul sambil bergerak mengikuti antrian. Saking asyiknya, obrolan masih terus berlanjut sambil jalan memasuki pesawat hingga di dalam pesawat, ketika peragaan busana emergency oleh awak kabin, sampai pesawat take-off, hingga tiba saatnya pembagian makanan dan minuman.

Pembicaraan sepertinya tidak habis-habis, ditambah lagi teman lama saya ini tergolong manusia yang suka cerita-cerita. Rencana semula mau tidur di pesawat pertama yang menuju Jakarta jadi batal.

Sajian teh panas sesuai pesanan pun segera dibagikan oleh pramugari. Saat mbak pramugari menyodorkan segelas, eh… seplastik, eh… segelas plastik (gelas kok plastik, pokoknya ya itulah……), tiba-tiba mak grujug…….! Segelas teh panas tumpah di atas pangkuan, membasahi baju, celana dan yang ada di baliknya. Mak nyosss…., lha wong wedhang (air minum) panas je….. Mau bergerak bangkit ya susah. Terpaksa harus agak menahan rasa panasnya.

Mau marah sama siapa? Malah nanti jadi tontonan penumpang lain, mengalahkan lucunya acara “Just for Laugh” yang lagi ditayangkan di televisi kecil yang menggantung di tengah kabin pesawat.

Mbak pramugari pun berkali-kali meminta maaf. Juga teman saya yang duduk di sebelah kanan saya di dekat jendela. Karena saya duduk di tengah, maka acara serah-terima segelas teh panas itu terjadi tepat di depan saya. Ya sudah. Kedua pihak saya beri maaf. Inilah akibatnya kalau kelewat asyik ngobrol, sampai kurang konsentrasi sewaktu acara serah-serahan teh panas.

Mbak pramugari mungkin merasa sudah menyerahterimakan segelas teh panas kepada teman saya, sementara teman saya sambil terus ngobrol meski sudah mengulurkan tangannya tapi sebenarnya belum benar-benar menerima segelas teh panas itu. Maka segelas teh panas itu telah berada dalam ketidakseimbangan antara lepas dari tangan lentik mbak pramugari tapi belum diterima oleh tangan kasar teman saya yang buruh tambang. Tinggal saya yang jadi pelanduk tak berkutik di tengah-tengah. Ya ke-sok-an (ketumpahan) teh panas itu tadi jadinya….

Dua gepok tisu putih lalu disodorkan oleh mbak pramugari dalam dua kali pemberian, lalu masih ditambah dengan dua gulung handuk kecil putih untuk menyeka air. Tapi ya tetap saja telanjur basah. Apa ya mau buka baju dan celana untuk mengusap bagian tubuh yang basah. Tapi saya menghargai langkah tanggap darurat mbak pramugari, meski itu tidak menyelesaaikan masalah.

Untungnya…. (sudah jelas-jelas sial kok masih untung), yang tumpah adalah teh tawar panas, dan bukan kopi manis panas. Saya pun tidak sedang mengenakan kemeja putih.

Nampaknya mulai saat ini saya mesti lebih waspada, atau memasang status “Siaga” hingga “Awas” seperti menyongsong gejolak gunung Merapi, jika tiba acara serah-serahan minuman di dalam pesawat. Siapa tahu penumpang di sebelah saya sedang kurang konsentrasi, atau justru pramugari atau garanya yang tidak konsentrasi.

Sekalipun bisa marah dan berbunyi-bunyi, tapi kalau sudah telanjur basah apalagi plus meninggalkan noda di baju, padahal mau hadir di meeting atau melakukan presentasi. Njuk terus mau ngapain?

Yogyakarta, 1 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Kebetulan urusan di Jakarta selesai lebih cepat dari rencana, maka saya langsung menuju bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jogja. Harapan saya, e-tiket yang sudah dipesan via tilpun untuk penerbangan GA216 tujuan Yogyakarta jam 19:25 WIB, siapa tahu dapat saya majukan jadwalnya ikut penerbangan yang lebih awal.

Tiba di counter Garuda terminal F, saya langsung lapor dengan menyebutkan kode booking. Setelah itu saya tanyakan apakah bisa ikut penerbangan lebih awal. Oleh petugas dijawab bisa, tapi tinggal yang penerbangan GA214 jam 18:30. Sedangkan penerbangan yang lebih awal yaitu GA212 jam 16:30 sudah penuh. Saya setuju untuk diubah ke GA214. Lumayan, lebih awal satu jam. Meski untuk itu dikenakan biaya rebooking sebesar Rp 50.000,-

Sampai di counter check-in di dalam, saya tergoda untuk iseng menanyakan apakah bisa maju ikut penerbangan GA212 jam 16:30. Pasti akan sangat menghemat waktu, dibandingkan kalau mesti menunggu di bandara sampai jam penerbangan terakhir. Oleh petugasnya dijawab sudah penuh, tapi bisa dicoba sebagai cadangan. Saya pun mengiyakan tanda setuju. Maka tiket yang sudah terdaftar untuk penumpang GA214 lalu didaftar sebagai penumpang cadangan GA212.

Tiba waktunya, nama saya dipanggil tanda status cadangan saya lolos untuk ikut terbang bersama GA212. Tapi…. (ada tapinya), tiket saya harus di-upgrade berubah dari kelas dari B ke M. Embuh, apa artinya….., yang saya tahu adalah saya dipersilakan pergi ke kasir dan membayar biaya tambahan. Setelah tanya kasir, ternyata biaya tambahannya Rp 285.000,- Sejenak saya berpikir, diambil atau tidak? Apakah ini biaya tambahan yang layak dibayar untuk memperoleh tempat di GA212?

Pilihannya : tidak diambil berarti tidak perlu menambah biaya dan tetap terbang jam 18:30, atau diambil dengan menambah biaya tetapi bisa tiba di rumah lebih awal sebelum waktu maghrib. Akhirnya saya putuskan untuk diambil dan saya bayar biaya tambahan. Setelah lunas, lalu check-in, kemudian menuju ruang tunggu. Tiba di ruang tunggu untuk lewat saja karena langsung dipersilakan masuk pesawat yang akan segera mengangkasa menuju Yogyakarta.   

Pintu pesawat sudah siap ditutup ketika tiba-tiba ada seorang petugas Garuda perempuan berwajah cukup ayu (lha wong perempuan…..) tergopoh-gopoh mencari-cari saya. Waduh……! Salah opo aku……. Jangan-jangan ada kekeliruan sehingga saya harus balik kanan batal naik pesawat itu, atau biaya tambahannya kurang? Pasalnya, di depan penumpang lainnya yang sudah “sit biyuti” (bahasa Thukul, maksudnya duduk manis) di dalam pesawat menunggu berangkat, mbak petugas Garuda itu menanyakan kertas bersampul biru, bukti pembayaran biaya tambahan tadi.

Setelah saya tunjukkan kertas bersampul warna biru tua berlambang Garuda yang diminta, mbak petugas Garuda mengatakan bahwa kertas birunya diminta lagi karena tadi ada kekeliruan…. Sampai di sini…mak deg atiku…… Lalu disambung, bahwa tadi ada kelebihan pembayaran, maka tiket birunya diganti dan kelebihan pembayaran dikembalikan. Sampai di sini… baru mak plong atiku……

Rupanya jumlah biaya tambahan untuk naik kelas sebagai penumpang pesawat GA212, yang seharusnya saya bayar adalah Rp 171.000,- dan bukan Rp 285.000,- (saya benar-benar tidak tahu bagaimana rumus hitungannya). Pokoknya ya saya iyakan saja.

Saya sempat bertanya : “Kok bisa ketahuan kalau kelebihan, mbak?”.

Mbak petugas Garuda hanya menjawab cepat : “Iya, pak”, sambil tersenyum, sambil memberikan bukti pembayaran pengganti dan kelebihan uangnya (saya maklum, pertanyaan saya pasti susah dijawab cepat, karena saya tidak memberi pilihan jawaban seperti soal test pilihan ganda).

Mbak petugas Garuda segera meninggalkan saya menuju keluar pesawat. Saya pun duduk kembali. Pintu pesawat lalu ditutup dan pesawat segera mundur lalu bersiap terbang. Beberapa saat kemudian, baru iseng-iseng saya hitung uang kelebihannya, dan jumlahnya ternyata Rp 114.000,- pas.

Saya berpikir dalam hati (mestinya kalau berpikir ya dalam otak, tapi kok kedengaran aneh kalau saya katakan “saya berpikir dalam otak”). Sudahlah, pokoknya saya cuma mbatin. Pertama (mbatin saja kok ya ada urut-urutannya…..), kok sempat-sempatnya petugas Garuda memeriksa kembali bahwa saya telah membayar lebih. Kedua, kok sempat-sempatnya menyusul saya ke dalam pesawat yang siap berangkat (padahal jaraknya lumayan jauh dari counter kasir), dengan membawa uang kelebihan yang pas jumlahnya. Ketiga, seandainya kelebihan itu tidak dikembalikan pun sebenarnya saya tidak tahu dan tidak perduli.

Maka untuk kejadian yang simpatik ini, saya menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada Garuda. Untuk hal yang baik ini saya berharap mudah-mudahan bukan karena oknum, melainkan memang perbaikan kinerja. Kalau karena oknum, maka ganti petugas, ya embuh…… kejadiannya. Tapi kalau karena perbaikan kinerja……., jayalah burung besi pembawa benderaku Indonesiaku…..

Saya mengapresiasi, bukan karena Garuda telah mengembalikan kelebihan uangku (Rp 114.000,- mungkin dapat dibelikan 228 potong tempe kedelai goreng tepung, irisan tipis, ukuran 6 cm x 8 cm, cukup dibagikan tetangga se-RT sama anak-anak dan kucingnya), tapi lebih karena perwujudan professionalisme kerja. Terima kasih Garuda!

Yogyakarta, 22 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Di bawah cuaca hujan kecil-kecil, akhirnya burung besi itu terbang juga meninggalkan Yogyakarta menuju Balikpapan. Pesawat baru Airbus 319 milik maskapai Mandala Air yang saya tumpangi sore itu memang tampak sekali masih terasa kinyis-kinyis dan bau toko.

Jok tempat duduknya masih terlihat bersih, warna dinding-dindingnya masih cerah dan belum berubah kusam, lumen lampu penerangnya masih terang, interior dalamnya juga terkesan mewah, sistem halo-halonya juga kedengaran empuk dan pas. Juga piranti peraga penyelamatan masih terlihat gres. Raungan deru mesin pesawatnya pun kedengaran halus (tapi ya tetap saja menderu, wong namanya juga pesawat). Singkat kata, nyaman sekali rasanya duduk di dalam pesawat baru itu dan siap terbang bersama Mandala.

Perasaan kurang nyaman yang biasanya selalu menyertai bila terbang dengan pesawat non-Garuda seolah-olah termanipulasi (meskipun naik Garuda juga tidak selalu nyaman). Rasanya Mandala Air pantas berbangga dengan pesawat barunya yang masih seumur jagung (dalam arti yang sebenarnya, yaitu 3,5 bulan). Seiring dengan perubahan di bawah manajemen barunya, dan juga logo barunya yang berbentuk segi delapan (lebih menyerupai delapan kubah masjid) berwarna keemasan di bagian luarnya dan biru di dalamnya, lalu di tengahnya adalah lima bunga berwarna biru muda (bangunan simetri yang dipaksakan sebenarnya, wong luarnya segi delapan kok dalamnya lima…..). Ya sudah, pokoknya logo baru, karena logo itu perlu.

Tentu hal yang menggembirakan kalau ternyata maskapai lain juga mulai menyadari bahwa memiliki pesawat baru itu sudah sepantasnya menyertai strategi bisnis jasa angkutan udara yang semakin kompetitif dan dibutuhkan, tapi sering diolok-olok tidak semakin aman.

Tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan, hari sudah gelap. Saat landing biasanya menjadi detik-detik mendebarkan, karena yang sudah-sudah tidak banyak sopir-sopir pesawat yang piawai mendaratkan pesawatnya dengan halus mulus. Tapi dengan menaiki pesawat baru, perasaan itu seolah terlupakan. Mestinya ya akan mendarat dengan mulus pula.

Ee…, tapi rupanya prasangka baik saya salah. Tahu-tahu mak jedug….., burung besi itu menghentak bumi, ndlosor menginjakkan kakinya di landasan Sepinggan. Kalau ini jelas faktor keahlian sopirnya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan baru atau tidaknya pesawat. Meski hari sudah malam, tapi cuaca di Balikpapan sedang cerah-benderah.

Meskipun demikian, keseluruhan kesan yang saya rasakan terbang dengan pesawat baru memang cukup membawa kenyamanan dan ketenangan. Lebih-lebih pada saat sebelum terbang, sang pilot yang kalau menilik namanya pasti berasal dari Sumatera Utara, mengajak para penumpang untuk berdoa menurut iman dan kepercayaan masng-masing, layaknya Pak RT yang akan memimpin rapat kampung. Ajakan yang Indonesia bangeth…! (pakai ‘h’ di belakangnya), tapi sungguh ajakan yang simpatik.

Seandainya penumpang pesawat dapat memilih sebelum menaiki pesawat seperti halnya memilih bis atau taksi yang bagus atau baru, tentu semua penumpang akan berebut pesawat yang baru. Hanya memilih yang tidak mak jedug saja, yang hanya Tuhan dan sopirnya (sopir pesawat maksudnya) yang tahu…..

Balikpapan, 7 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Barangkali kini Nano alias Surya Erli Suparjan sedang sedih karena gagal terbang gratis ke Banjarmasin naik pesawat Lion. Atau muram karena berurusan dengan pihak berwajib (maksudnya pihak yang selalu merasa wajib membela diri dan wajib menyalahkan orang lan), gara-gara penyusupannya ke pesawat Lion dilaporkan oleh sang pramugari. “Oo…. kamu ketahuan……”, senandung mbak pramugari.

Tapi saya membayangkan, mas Nano kini justru sedang tersenyum karena berhasil mengelabuhi petugas bandara dengan memakai baju “Security” hingga masuk ke dalam pesawat, bak drama penyusupan di film-film asing (kalau film Indonesia biasanya dramanya agak konyol). Mas Nano pun bersenandung : “Oo…. kamu kecolongan……”.

Mestinya otoritas bandara memberi penghargaan kepada mas Nano karena sukses membuktikan kelemahan sistem keamanan bandara internasional yang dibangga-banggakan negara tetangganya Republik Mimpi.

Kecolongan? Kata ini memberi konotasi bahwa terjadinya baru sekali dan kebetulan ketahuan.

***  

Sabtu sore di bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Tiba di pintu keberangkatan, seorang Satpam memeriksa tiket pesawat lalu mempersilakan saya masuk. Segera disongsong oleh mesin pemeriksa barang dan penumpang. Gawangan scanner pun berbunyi “tit…tit…tit…” disertai lampu merah kecil nyala berkedip. Biasanya akan langsung disambut oleh petugas Satpam yang menyuruh mengangkat tangan dan menggeledah tubuh penumpang. Tapi kali itu kok sepi. Setelah tolah-toleh, tak seorang Satpam pun muncul untuk menggeledah. Ya, sudah. Saya ambil barang yang sudah melewati pemeriksaan sinar-X, lalu check-in.

Kemudian memasuki ruang tunggu. Untuk kedua kalinya peristiwa sken-menyeken harus dilalui. Melewati gawangan pemindai, alarm pun berbunyi dan lampu merah menyala. Kejadian seperti di depan tadi juga berulang. Juga sepi petugas. Juga sudah tolah-toleh. Juga tak seorang pun Satpam menghampiri. Ya, sudah. Ambil ransel dan laptop, lalu duduk di ruang tunggu sambil menyeruput kopi Bengkulu.

Kemana gerangan para petugas security yang bertanggungjawab terhadap keamanan bandara? Petugas yang ada di bagian depan yang memeriksa karcis pesawat terlihat cuek. Petugas di bagian pemeriksaan barang juga terlihat serius memelototi layar monitor. Tapi petugas yang menggeledah penumpang tidak ada.

***

Tiba di bandara Soekarno-Hatta langsung transit dengan pesawat yang menuju ke Yogyakarta. Memasuki galeri ruang tunggu, kembali harus melewati pemeriksaan barang dan penumpang. Pasti di bandara Soekarno-Hatta lebih ketat, wong ini bandara kelas dunia, pikir saya.

Ransel dan laptop berhasil melewati terowongan pemindai. Giliran pemiliknya melewati gawangan pemindai, alarm berbunyi dan lampu merah menyala. Tapi saya kok dibiarkan saja sama security yang ada di situ. Tidak satu pun dari dua orang security yang berdiri gagah di sana bergairah menyambut saya untuk menggeledah atau memeriksa darimana sumber bunyinya (mungkin benar, penampilan saya kurang menggairahkan karena lusuh pulang dari lapangan), Ya, sudah. Wong saya dicuekin saja, sayapun ambil barang lalu melenggang menuju ruang tunggu.

Lalu dimana fungsi pengamanan bandara? Setidak-tidaknya pada dua pengalaman pada hari yang sama di dua bandara yang masih ada hubungan suami-istri (Fatmawati Soekarno di Bengkulu dan Soekarno-Hatta di Jakarta). Jelas ini bukan kecolongan, melainkan kesengajaan.

“Ah, menyesal aku tidak membawa bom rakitan dari Bengkulu ke Jogja”, begitu kira-kira kata oknum teroris seandainya waktu itu ikut terbang bersama saya…..

Yogyakarta, 7 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Older Posts »