Mampir Nyoto Di Warung Soto Sapi Winong Kotagede

20 November 2009 oleh madurejo

Jumat pagi-pagi ini saya mesti mengantar anak perempuan ke terminal bis Giwangan, Jogja. Sejak kemarin dia sudah wanti-wanti agar bapaknya tidak lupa. Katanya mau mengikuti kegiatan outbond kampusnya ke daerah Sarangan (Jatim) lalu besoknya pindah ke Magelang (Jateng). Pulang dari terminal sengaja saya menempuh rute memutar melalui kecamatan Kotagede, sekedar ingin menikmati suasana pagi mendung yang baru akhir-akhir ini melanda kawasan Jogja dan sekitarnya setelah berbulan-bulan panas terus-terusan.

Tiba di daerah Winong, ujuk-ujuk saya ingat di daerah itu ada warung soto sapi yang lumayan enak, cerita seorang teman. Tidak susah untuk mencari lokasinya, tepatnya di Jl. Ngeksigondo no. 4 yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah tinggal saya. Langsung saja berhenti tepat di depan warung yang pagi itu masih terlihat sepi. Kemudian pesan semangkuk soto sapi sambil sedikit ngobrol dengan pelayannya. Biasa, kalau sudah begini rasa ingin tahu selalu muncul. Sumber informasi yang paling mudah, ya ngobrol dengan pelayannya.

Semangkuk soto dengan kandungan irisan daging sapinya cukup banyak segera tersajikan. Belum puas dengan itu, lalu saya pesan iso (usus) goreng yang dipotong kecil-kecil sebagai ramuan tambahan. Sayang iso gorengnya dibumbu bacem. Saya kurang begitu suka karena sensasi rasa asli isonya jadi hilang.

Sruputan pertama kuahnya begitu menggoda, selebihnya terserah yang menyruput…, sebab rasa kaldu dagingnya langsung terasa. Setelah dicecap-cecap sebentar kemudian saya tambah dengan kecap manis. Dasar lidah Jogja, kalau belum ditambah kecap serasa makan soto tanpa kecap…… Kurang manis, maksudnya. Rasanya lumayan enak, terutama bagi sopir yang sedang kelaparan di pagi mendung. Bisa sebagai referensi kalau suatu kali nanti kepingin makan soto yang lokasinya tidak jauh dari rumah di kawasan Jogja tenggara.

Warung soto ini sudah cukup dikenal di wilayah Jogja, sebagai warung Soto Sapi Winong. Tampilan warungnya yang mengesankan sederhana dan melayani pecinta soto sejak pagi hingga sore hari itu kini sudah memiliki cabang di Jl. Wonosari dan Jl. Solo. Masih di wilayah Jogja juga. Ini menandakan bahwa bisnis persotoan yang mulai dirintis oleh Pak Wachid sebagai pemiliknya sejak sekitar tahun 1993 itu cukup berkembang. Setidak-tidaknya memberi pilihan bagi pecinta soto yang sedang berada di wilayah kota Yogyakarta. Harga semangkuk nasi soto yang hanya Rp 7.000,- kiranya masih wajar  jika menimbang citarasa yang ditawarkan dan asesori irisan daging dalam racikan sotonya. Setidaknya sebanding dengan kebutuhan sebagai pilihan sarapan pagi bagi warga masyarakat penyoto (penggemar soto) yang tinggal atau melewati wilayah seputaran Kotagede, Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran dan membawa sebungkus soto untuk ‘boss’ saya di rumah, saya pun pamit kepada pelayannya (ke pelayan saja kok pamit….). Beberapa saat sebelum meninggalkan halaman warung, lha kok tiba-tiba ada sepeda motor berhenti menghalangi. Pengendaranya sepasang muda-mudi. Keduanya lalu turun dan terlibat dalam pembicaraan serius. Tentu saja saya tidak mendengar percakapan mereka. Tapi memperhatikan ekspresi wajah keduanya sepertinya sedang bertengkar.

Dari belakang kemudi saya memperhatikan adegan yang langka itu. Dalam hati saya memberi apresiasi kepada kedua orang itu. Setidak-tidaknya mereka telah melakukan safe action berlalu lintas. Berboncengan sepeda motor, bertengkar, lalu menepi berhenti dulu. Daripada nanti dikira pemain sirkus jalanan, naik sepeda motor sambil berantam…..  Pelajarannya adalah, jangan naik sepeda motor sambil bertengkar. Kalau terpaksa juga mau bertengkar di jalan, menepilah dulu dan berhenti di tempat yang aman (Lha ya siapa yang mau bertindak bodoh semacam ini? Tapi faktanya toh terjadi juga…..).

Tidak lama kemudian, mereka pun bersepakat melanjutkan perjalanan berboncengan kembali. Mungkin sudah ada kesepakatan damai atau gencatan senjata sementara waktu. Entahlah, itu urusan mereka. Yang jelas, kemudian saya pun mengambil gambar spanduk penanda warung Soto Sapi Winong lalu berangsur pulang. Tadi itu bukan saya sengaja ingin menikmati adegan pertengkaran sepasang muda-mudi, melainkan saya terpaksa menunggu hingga pertengkaran selesai karena mereka berhenti tepat di depan tulisan yang mau saya foto.

***

Nyoto atau makan soto adalah salah satu pilihan sarapan pagi yang relatif murah-meriah-mudah. Tergolong makanan cepat saji yang bukan fast food. Kalau kebetulan uang saku lagi cekak, makan soto tanpa pesan minum pun masih layak ditempuh, sebab kuah soto tidak bersantan dan menyegarkan.

Menyimak kata orang Jawa : “Urip mung sak dermo nunut nyoto” (hidup itu cuma sekedar numpang makan soto), murah, cepat, dan kebutuhan perut terpenuhi. Esensinya adalah bahwa hidup ini cuma sebentar saja, sebelum menuju ke destinasi terakhir yang lebih kekal dan abadi. Karena itu, tunaikanlah hidup ini sebagaimana adanya dan wajarnya, sebagaimana makan soto di pagi hari. Sebab soto dan penyoto itu tidak mungkin neko-neko. Dari dulu hingga nanti lewat tanggal 21 Desember 2012, yang namanya soto dan nyoto ya begitu itu…..

Yogyakarta, 20 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Dasa Windu Prof. Drs. H.R. Bambang Soeroto

19 November 2009 oleh madurejo

Bersyukur, dapat mempersembahkan sebuah buku kecil berjudul “Perjuangan Itu Tidak Ada Akhirnya”, bagi sesepuh almamater UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Drs. H.R. Bambang Soeroto, yang berulang tahun ke-80 pada 17 Nopember 2009… Mangayubagyo Dasa Windu….

(Sejak merintis dan mendirkan APN, lalu PTPN, hingga akhirnya UPN, pak Bambang Soeroto menjabat sebagai Rektor selama 35 tahun, dari tahun 1958 sampai 1993. Kemudian tahun 1993 – 2003 pak Bambang Soeroto menjadi Rektor Universitas Proklamasi Yogakarta)

Yogyakarta, 18 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Lembur Dan Nasi Kucing

19 November 2009 oleh madurejo

Siap-siap untuk lembur (beneran, nih). Tiba-tiba kepingin makan nasi kucing di angkringan depan. Eh, siwalan…. Nasinya sudah diborong orang lain yang juga lembur, tinggal kucingnya keluyuran kemana-mana…….

Yogyakarta, 17 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Menunggu Dimimpikan

15 November 2009 oleh madurejo

Minggu pagi ini ada yang aneh pada istriku. Beliau terlihat baik sekali di depan saya, lebih dari hari biasanya. Gaya bahasanya pun terdengar lebih halus dan manis dari biasanya. Ada apa gerangan? Ada yang berulang tahun? Ada yang sedang syukuran? Menang lotere? Meraih sukses lebih? Semua jawabannya ternyata tidak.

“Mau dimasakin air untuk bikin kopi, enggak mas?”, tanyanya mesra.
Kok tumben saya ditanya begitu”, kataku heran tapi hanya dalam hati. Biasanya kalau saya bikin kopi sendiri dengan menggunakan air dari dispenser, sering dikomentari : “Kopi terusss…..”. Kebetulan hari ini air mineral di galon di atas dispenser memang sedang habis dan telat diganti. Dalam keadaan seperti ini maka kalau mau bikin kopi mesti menjerang air dulu.

“Pasti ada apa-apa”, kataku lagi dalam hati. Tapi apa ya? Di depan beliau ekspresi saya sengaja cuek aja…, pura-pura seperti tidak ada apa-apa (boro-boro memuji, dasar…!). Tapi hati saya penuh dengan rasa penasaran dan curiga. Meski beliau penggemar Mario Teguh, dampaknya pasti tidak sedrastis pagi ini. Sampai akhirnya istri saya yang justru tidak bisa menahan perasaannya, tipikal seorang wanita.

Barulah kemudian istriku duduk mendekat dan berkata : “Semalam aku mimpi buruk…… Sampeyan meninggal dunia……”.
“Innalillahi wa-inna ilaihi rojiun”, kata saya spontan dalam hati. Wooo….., itu to sebabnya. Pantesan pagi ini kok tampak lain dari pagi biasanya, rupanya saya ‘meninggal dunia’ tadi malam.

Sejujurnya saya sendiri sempat galau. Kenapa sampai mimpi buruk itu hadir menjadi bunga tidur istriku. Jelas ini bukan bunga yang mekar indah harum mewangi, melainkan bagai kuncup bunga kembang tak jadi karena diserang hama KPK (kutu putih kecil). Kalau kebanyakan orang berangan-angan tentang dream comes true. Tapi kali ini sungguh saya berharap jangan comes true dulu, deh…..

***

Sambil menikmati secangkir kopi susu yang susunya full enggak setengah-setengah…., dan menghisap sebatang rokok putih dalam-dalam, saya merenung dalam hati (padahal biasanya kalau merenung itu dalam pikiran). Hasilnya?

Sssttt……, hari ini saya punya alasan dan bargaining position untuk rada dimanjakan oleh beliau…”.

Sssttt yang kedua…., saya punya alasan tambahan untuk menjadi lebih mesra….”. Lebih mesra kepada istri? Ya. Dan kalau itu sih sudah jelas menjadi kewajiban harian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tapi bagaimana menjadi lebih mesra kepada Sang Pemilik Hidup?  Ampun Gusti wastaghfirullah. “Masak sih saya harus menunggu dimimpikan dulu untuk menambah kemesraanku padaMu?”……..

Yogyakarta, 15 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Sesuatu Yang ‘Luar Biasa’

15 November 2009 oleh madurejo

Terkadang sesuatu yang ‘luar biasa’ dapat terjadi tiba-tiba, tanpa pernah terbayangkan, termimpikan, apalagi terencanakan… (kalau direncanakan berarti tidak luar biasa…..). Bukan sesuatunya yang membuat saya tertegun (ya ada…., sedikitlah…), melainkan untuk kesekian kali saya harus menyanjung dan memuji Tuhan bahwa beliau memang ruarrr biasa. Puji Tuhan wal-hamdulillah….. Maha Suci Allah……

Yogyakarta, 14 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Kembali Ke Jogja

14 November 2009 oleh madurejo

Rupanya Batavia Air punya pesawat baru berbadan lebar alias gemuk, Airbus A330, untuk jurusan Medan – Jakarta, seperti yang saya tump angi tadi siang. Good, good, kemajuan untuk Batavia Air…

Tapi rupanya tiket sambungannya ke Jogja sudah disiapkan untuk jam terakhir. Untung sudah ‘berpengalaman’ klontang-klantung di bandara…

(Cuaca pagi agak mendung ketika pesawat Batavia Air meninggalkan bandara Polonia, Medan. Setiba di Jakarta siang hari, saya sempatkan meluncur dulu ke kota Jakarta berjumpa dengan seorang teman di Pacific Place sambil makan siang. Kemudian kembali ke bandara Cengkareng, menunggu jadwal Lion Air jam 19:00 yang akan menuju Jogja sambil terkantuk-kantuk di mushola, menghabiskan waktu siang, sesekali ngecek email…… Sialnya, pesawat Lion Air pun terlambat menuju Jogja…..

Alhamdulillah, akhirnya perjalanan panjang tapi singkat, empat hari Jogja-Medan, telah selesai saya jalani…..)

Jakarta – Yogyakarta, 11 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Dari Tapanuli Selatan Menuju Medan

14 November 2009 oleh madurejo

Meninggalkan kota kecamatan Batangtoru, Tapanulis Selatan, menuju ke arah Sibolga

Kota Sibolga dilihat dari jalan kelok-kelok yang menuju kota Tarutung.

Tarutung, kota wisata rohani, Bona Pasogit

(Terkenal juga sebagai kota dingin dengan makanan khasnya kacang garing Sihobuk)

Siborong Borong, kota kecil (yang berlokasi) sekitar 25 km timur Tarutung

Pajak (pasar) di Balige, kab Toba Samosir (Tobasa)

Tengah hari mendung di kecamatan Porsea

Parapat, tepian danau Toba, sambil nyruput kopi Sidikalang…

Pematang Siantar, kota adipura

Kota Tebing Tinggi yang tidak memiliki tebing, apalagi yang tinggi

Akhirnya menyentuh garis finish di hotel Danau Toba Medan, setelah menempuh perjalanan 12 jam, lebih 400 km dari Tapanuli Selatan ke Medan…

(Malam ini makan di resto ikan goreng Cianjur di Jl. Kapten Daud, yang berada tidak jauh dari hotel Danau Toba.

Perjalanan darat ini melewati kota-kota yang selama ini hanya saya kenal namanya tapi kini benar-benar saya kunjungi, antara lain : Sibolga, Siborong Borong, Tarutung, Balige, Porsea, Girsang, Parapat, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Deli Serdang, Muara Kaman, Tanjung Morawa, akhirnya Medan…..)

Antara Tapanuli Selatan – Medan, 10 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Mengunjungi (Bakal) Tambang Emas Martabe

13 November 2009 oleh madurejo

IMG00054-20091109-1516IMG00055-20091109-1516IMG00057-20091109-1518IMG00062-20091109-1520

Mengunjungi ‘bakal’ tambang terbuka emas PT Agincourt Resource (PTAR) Martabe di Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut. Direncanakan akan mulai produksi pada tahun 2010.

(Keadaan tambang Martabe pada saat ini masih dalam tahap persiapan dan konstruksi)

IMG00046-20091109-1456

Siap-siap naik heli untuk berkeliling ke lokasi tambang

IMG00050-20091109-1500

‘Fly over’ dengan heli ke lokasi tambang emas Martabe, Sumut

IMG00073-20091109-1548

Secangkir kopi Gayo, waktu hujan sore-sore di Martabe

(Wilayah tambang Martabe memang sering hujan. Mengisi waktu istirahat sambil bercengkerama di lobby kantor sambil menyeruput kopi Gayo atau kopi Sipirok, sungguh nikmat……)

IMG00081-20091109-2017IMG00082-20091109-2020

Nikmatnya durian Batangtoru yang langsung jatuh dari pohon. Wuih…..

(Wilayah Batangtoru terkenal dengan hasil duriannya. Meski musim buah durian sudah lewat, namun masih ada sisa-sisa pohon yang masih berbuah. Dan malam ini sekeranjang durian berhasil disantap beramai-ramai bersama teman-teman karyawan tambang Martabe…. Sampai mblenger…..)

Batangtoru – Tapanuli Selatan, 9 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Terbang Ke Tapanuli Selatan

12 November 2009 oleh madurejo

IMG00024-20091109-0922

Pagi habis hujan di bandara Polonia, Medan

IMG00032-20091109-1030

Terbang dari Medan Ke Aek Godang, Tapanuli Selatan, naik (maskapai) Susi Air

(Selain Susi Air yang mendarat di bandara Aek Godang, maskapai Merpati juga melayani rute penerbangan ke Tapanuli Selatan, tetapi mendarat di bandara Pinang Sori).

IMG00029-20091109-0927

Tempat sampah di dalam pesawat Susi Air berkapasitas 12 penumpang

IMG00036-20091109-1039

Bandara Aek Godang, sebuah kecamatan di wilayah Tapanuli Selatan, sepiiii…. dan jauuuuuh….

IMG00041-20091109-1149

Dari kecamatan Aek Godang menuju lokasi tambang Martabe di kecamatan Batangtoru ditempuh selama kurang-lebih 2 jam perjalanan darat melalui jarak sekitar 60 km, melewati kota Padang Sidimpuan (terkadang ditulis Padang Sidempuan). Kota ini sekarang masih menjadi ibukota kabupaten Tapanuli Selatan dan rencananya akan dipindahkan ke kota Sipirok. Padang Sidimpuan dikenal sebagai kota penghasil salak di Sumatera. Rasa salaknya khas, manis tapi agak masam dengan sedikit rasa sepat, warnanya ada yang putih bersih dan ada yang bersemburat kemerahan.

IMG00043-20091109-1158

Bentor (becak bermotor) di Padang Sidimpuan

IMG00042-20091109-1157

Vespa kuno sebagai penggerak

(Umumnya becak bermotor atau becak mesin di daerah Tapanuli Selatan menggunakan kendaraan jenis vespa kuno sebagai mesin penggeraknya. Di beberapa kota lainnya di Sumatera ada juga yang menggunakan jenis motor besar kuno atau sepeda motor kuno lainnya. Bentuk atau desain tempat duduk penumpangnya juga bervariasi, ada yang berbentuk kabin seperti bajaj atau helicak dan ada yang terbuka seperti becak biasa)

Antara Medan – Tapanuli Selatan, 9 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Jus Martabe

12 November 2009 oleh madurejo

Menyeruput jus Martabe sambil makan malam di resto Garuda, Medan… Martabe yang ini bukan ‘marsipature hutana be’, melainkan ‘markisa terong belanda’…

(Resto Garuda menyediakan menu masakan perpaduan citarasa padang dan melayu, berlokasi di Jl. H. Adam Malik, Medan. Rasa masakannya lumayan enak….)

(Martabe sebenarnya singkatan dari marsipature hutana be, yaitu Gerakan Pembangunan Desa Terpadu yang pertama kali dipopulerkan oleh Raja Inal Siregar, waktu menjadi Gubernur Sumatera Utara. Sedang penggagas istilah itu sebenarnya adalah Basyral Hamidy Harahap, seorang tokoh dari Tapanuli).

Medan, 8 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Uniknya Ngurus Koperasi

12 November 2009 oleh madurejo

Uniknya ngurusi koperasi: Yang satu sebagai pengurus merasa berkewajiban mensejahterakan anggotanya, yang lain sebagai anggota merasa berhak disejahterakan pengurusnya. Ketika yang me- & yang di- saling pethenthengan bagai cicak & buaya, maka bencana namanya…

Yogyakarta, 7 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Salawatan Di Toilet

4 November 2009 oleh madurejo

Suatu ketika Anda (yang laki-laki) sedang membuang hajat kecil di sebuah toilet, semisal di toilet perkantoran, mal atau bandara. Toilet laki-laki jaman moderen sekarang ini memang dirancang untuk kencing sambil berdiri (maka bagi para guru harap hati-hati, sebab kalau murid-murid Anda tahu nanti mereka akan kencing sambil pada berlari, kan jadi repot…..). Mau tidak mau begitulah cara cepat untuk kencing di toilet umum, ya sambil berdiri itu. Kecuali kalau Anda mau agak bersabar masuk ke kamar kecilnya.

Sedang enak-enaknya kencing (kencing kok enak….), malah terkadang sambil sedikit bergidik, badan bergetar tanpa kendali, kepala agak mendongak ke atas dengan tatapan nanar barangkali ada cicak atau buaya di dinding, apalagi sambil membayangkan cerita-cerita lucu……, tiba-tiba ponsel Anda berbunyi keras mengejutkan Anda. Mendingan kalau bunyinya pelan dengan nada dering standar. Sering-sering malah volume nada panggilnya disetel cukup keras dan nada deringnya dipilih lengkingan musik atau lagu-lagu. Apalagi kalau si pengencing (maksudnya orang yang kencing) adalah penggemar lagu-lagu lawas seperti Bengawan Solo dimana air mengalir sampai jauh.

Ponsel Anda berdering saat kencing belum selesai. Oo, repotnya….. Mau diterima, kok merepotkan. Ibarat sedang naik sepeda mau “lepas setang” takut nabrak pagar. Mau dibiarkan dulu, kok musiknya makin keras. Dan Bengawan Solo pun terus mengalir sampai jauh……Sementara orang di sekitar senyam-senyum sambil malu-malu melirik Anda (padahal mestinya Anda yang malu) bagai bertemu seorang selebriti yang sedang kencing. Serba salah dan sering-sering malah membuat panik.

***

Selama ini kita mengenal ada beberapa kebiasaan yang berlaku umum yang meminta seseorang agar mematikan ponselnya. Pertama, ketika berada di dalam kabin pesawat. Alasan resminya dapat mengganggu sistem komunikasi dan navigasi pesawat. Bahkan ketentuan ini sudah disertai dengan ancaman sangsi denda sampai 200 juta rupiah bagi yang melanggarnya. Namun toh banyak juga yang diam-diam melanggarnya tanpa malu-malu dan tanpa merasa bersalah kalau perilakunya yang meremehkan aturan itu berpotensi mengancam keselamatan penumpang sepesawat. Benar demikian atau tidak, itu soal lain. Tapi begitulah bunyi peraturannya.

Kedua, ketika berada di dalam tempat ibadah, taruhlah di gereja atau masjid. Alasannya mengganggu ketenangan dan kekhusyukan jamaah. Jangan sampai terjadi saat di mimbar depan sedang ada khotbah tahu-tahu yang di belakang ada yang menyanyi “Bangun tidur, tidur lagi….”. Kalau lupa? Maksudnya lupa mematikan ponsel, paling-paling kalau tidak disenyumi ya dicemberuti oleh sesama jamaah di masjid atau peserta ibadah lainnya.

Nah, yang ketiga ini yang sering dilupakan orang, yaitu ketika kencing di toilet. Dering tilpun memang datangnya suka tak terduga seperti gempa. Tapi ketika dering itu terjadi, sangat mudah untuk mengetahui dimana episentrumnya dan intensitasnya. Lebih-lebih kalau kencingnya di toilet berdiri ramai-ramai, dijamin akan serba salah dan panik. Salah-salah dalam mengambil langkah tanggap darurat, celana atau sepatu Anda yang basah. Kalau berada di dalam kamar kecilnya masih lumayan, paling-paling orang-orang yang di luar hanya akan mendengar suara lengkingan musiknya sambil tersenyum atau menahan cekikikan, sementara Anda sendiri bisa cuek pura-pura tidak ada apa-apa.

Maka ingat-ingatlah terutama aturan mematikan ponsel yang ketiga itu. Kalau aturan yang pertama, pramugari pesawat dengan setia selalu akan mengingatkan Anda. Aturan yang kedua, biasanya di tempat-tempat ibadah sudah dipasang himbauan atau peringatan tertulis. Sedang aturan yang ketiga, Anda harus mengingat-ingatnya sendiri. Kalau lupa? Bersiaplah untuk terkejut lalu panik… Namun usahakan untuk tetap konsentrasi agar langkah tanggap darurat sebagai reaksi spontan Anda tidak salah. Dan jangan tersinggung kalau Anda disenyumi orang disekitar Anda yang pasti tidak bisa menahan geli. Apalagi kalau pemilik ponselnya orang Islam yang nada deringnya berbunyi bacaan salawat. Maka orang-orang pun akan tersenyum sambil memuji dalam hati : “Hebat orang ini, buang hajat pun sambil salawatan…..”. Malunya tak seberapa, tapi paniknya itu……

Yogyakarta, 3 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Nyaris Jotos-jotosan Di Depan Layar Televisi

2 November 2009 oleh madurejo

OC Kaligis dan Gayus Lumbuun nyaris jotos-jotosan tinju di depan kamera TV One tadi pagi…. Maka pantaslah kalau 15 abad yll. Tuhan wanti-wanti : hanya akan menyertai orang-orang yang sabar. Lha yang tidak sabar? Pasti bukan Tuhan yang akan menyertai…..

(Miris sekali rasanya, menyaksikan tokoh masyarakat yang saling tidak bisa mengendalikan emosi dan kesabarannya di depan layar kaca yang pastinya ditonton oleh jutaan pirsawan televisi Indonesia… Weleh, piye to iki….)

Yogyakarta, 2 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Masih Ada Tukang Gethuk Yang Akan Lewat

2 November 2009 oleh madurejo

Karena malas menemani ‘boss’ saya masuk toko, (akhirnya) saya menunggu di mobil saja. Kebetulan ada penjual gethuk lewat, iseng2 saya beli gethuk dan klepon yang (kemudian) dibungkus daun pisang dan kertas koran. Lalu saya buka dan saya makan sambil duduk di emperan toko yang sedang tutup.

Kata ‘boss’ saya : “Saru…”.
Kata saya : “Saru untuk ‘boss’, tapi tidak untuk sopir…”.
Maka berbahagialah sopir-sopir Indonesia, masih ada tukang gethuk yang akan lewat…..

(‘Saru’, bahasa Jawa berarti tidak sepantasnya, tidak sopan, jorok…..)

Yogyakarta 1, Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Kutu Putih Kecil Yang Menjengkelkan

2 November 2009 oleh madurejo

PIC_0011_r1Di belakang toko saya di Madurejo, Prambanan, Jogja, banyak tumbuh liar bibit tanaman pepaya. Saya duga itu berasal dari buangan biji pepaya yang biasanya dibuang begitu saja di halaman belakang lalu tumbuh menjadi puluhan bibit pepaya. Beberapa bulan yll. pegawai toko saya berinisiatif memisahkannya lalu menanam kembali gerombolan bibit pepaya itu. Idenya tentu agar kelak tumbuh menjadi pohon pepaya dan berbuah banyak. Sekalian saja lalu saya sarankan agar ditanam teratur di sekeliling tepi kolam ikan yang masih belum ada air dan ikannya, atau sebut saja kolam kosong.

Ketika pohon-pohon pepaya yang jumlahnya lebih 15 pohon itu semakin tumbuh subur dan besar, dan lalu mulai keluar buahnya, terbayang para pegawai toko yang akan menikmati panen buah pepaya bergantian dari satu pohon ke pohon lainnya, dari hari ke hari. Buah pepaya pun semakin besar dan mulai ada yang berwarna kuning kejingga-jinggaan dan jingga kekuning-kuningan. Buah pepaya yang bergelantungan itu terlihat begitu ranum menyegarkan.

Panen pertama beberapa butir buah pepaya akhirnya terlaksana juga. Unduhan demi unduhan buah pepaya jadi sering dilakukan oleh para pegawai. Lumayan sebagai selingan makan buah. Meski buahnya ya pepayaaaaaa….. terus setiap hari. Biar saja. Biar para pegawai saya semakin pintar bicara melayani konsumen seperti burung beo yang setiap pagi disuguhi pepaya, asal tidak mencret saja. Sesekali saya juga ikut hadir dalam pesta pepaya di Madurejo.

Namun belakangan ini seiring cuaca panas berkepanjangan, buah pepaya mulai tampak layu. Tetap berbuah, tapi buahnya seperti balita kurang gizi. Berbuah segan mati tak mau. Semakin hari, bukan saja buahnya yang layu, juga daun dan pucuk pohonnya pun mulai terlihat ikut-ikutan lunglai dan akhirnya membusuk. Tidak lama kemudian satu demi satu pohon pepaya roboh dan mati.

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un….. (semua berasal dari Tuhan dan kepada Tuhan pula akan kembali). Cuma untuk pohon pepaya ini tidak perlu dikubur, melainkan dibiarkan tergeletak di tanah dan akhirnya mengering. Beberapa pohon terakhir kini masih berdiri tidak tegak, miring-miring dan nyaris rubuh. Buah-buah terakhir pun tampak menjingga tapi layu. Maka hampir tamatlah dongeng tentang pesta pepaya di Madurejo.

***

Hama KPK (kutu putih kecil) rupanya datang tak diundang lalu menyerang berjamaah. Kutu putih kecil yang kalau disentuh terasa lengket di kulit yang kemudian saya ketahui memiliki nama latin pseudococcus sp. ini begitu dahsyatnya mengusik kesuburan pohon buah pepaya. Pelan tapi meyakinkan mengerubuti mulai dari pangkal buahnya, tulang daunnya, selangkangan bunganya, hingga merata menempel ke sekujur tubuh, daun, bunga dan buah pepaya. Benar-benar menjengkelkan. Mau disemprot dengan obat anti hama, khawatir bukan KPK-nya yang terkapar tapi malah orang yang makan buah pepayanya.

Belakangan saya membaca koran bahwa ternyata hama KPK ini sudah menyerang ladang budidaya pepaya di desa Mojosongo, kabupaten Boyolali. Separuh dari populasi pohon pepaya di sana (setelah dihitung ada 275.770 pohon buah pepaya) kini musnah dikeroyok KPK.

Rupa-rupanya KPK ini bukan hanya doyan pohon pepaya, beberapa tanaman jarak pagar pun diusiknya. Bahkan beberapa tanaman bunga kamboja (semboja) kuning, putih, merah dan jambon (pink) yang saya tanam di halaman depan rumah pun kini bagai bunga kembang tak jadi. Bunganya pungkring dan layu berguguran, padahal sebelumnya selama ini kalau mekar tampak indah sekali. Tanaman bunga kamboja kuning yang sudah saya setek jadi banyak itu dulu belinya Rp 75.000,- . Sedangkan bunga kambja yang merah dan putih itu memang dulunya saya setek dari kuburan saat sedang ziarah. Tentu saja bukan hasil nyolong, tapi atas ijin dari juru kuncinya.

Hingga kini tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mengatasi serangan KPK kecuali pasrah kepada alam yang baik hati sudah sempat memberi kesegaran buah pepaya kepada pegawai toko saya dan memberi keindahan di depan rumah saya. Nampaknya saya harus lilo-legowo kalau memang saat ini sedang tiba giliran mongso (masanya) bagi KPK itu untuk berpesta. Mahluk kutu putih kecil yang secara fisik tampak tak berdaya yang beraninya menyerang berjamaah seperti peserta tawuran atau pengunjuk rasa atau penggusur paksa itu memang menjengkelkan. Beberapa tanaman kamboja terpaksa saya pangkas pucuk-pucuknya, sedang pohon-pohon pepaya akhirnya mati dengan sendirinya.

Kata orang : “Biarkan saja pak, nanti kalau tiba musim hujan biasanya akan hilang sendiri….”. Orang itu pasti lupa kalau pepaya saya buahnya sekarang, bukan nanti menunggu musim hujan. Maka kalau musim hujan tiba, bukan kutu putihnya saja yang hilang melainkan tuntas sepohon-pohon pepayanya….

Yogyakarta, 2 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

PIC_0010_rPIC_0016_r