Menikmati Pilpres Sebagai Acara Entertainment

4 Juli 2009 by madurejo

Pesta demokrasi kedua tahun ini segera berlangsung di seluruh pelosok negeri. Pesta itu bernama Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada hari Rabu, 8 Juli 2009. Dari sekian puluh juta warga yang berhak hadir di pesta, ada yang menganggapnya penting dan siap melakukan langkah tegap menuju pesta, ada yang biasa-biasa saja lenggang-kangkung, ada yang cuek-bebek ogah-ogahan, ada juga yang “ah, prek…”. Kelompok yang terakhir ini lebih memilih jadi penggemar Michael Jackson melakukan moonwalk di bulan purnama Rabu Pahing, tanggal 15 Rajab 1430H.

Inilah pesta yang ditunggu-tunggu hasilnya oleh sebagian besar rakyat negeri, bahkan termasuk oleh kelompok “ah, prek…”. Yang ditunggu adalah hasilnya, bukan pestanya. Siapa diantara tiga kandidat yang akan menerima mandat rakyat untuk melanjutkan memimpin negeri ini. Mudah-mudahan kata ‘memimpin’ juga diterjemahkan sebagai membangun, memajukan, memakmurkan, mensejahterakan serta mengamankan. Bukan hanya memimpin thok…., setelah itu terserah rakyatnya disuruh bangun dan sejahtera sendiri-sendiri.

***

Capres No. 1 Megawati Soekarnoputri

Capres No. 1 - Megawati Soekarnoputri

Capres No. 2 - Susilo Bambang Yudhoyono

Capres No. 2 - Susilo Bambang Yudhoyono

Capres No. 3 - Muhammad Jusuf Kalla

Capres No. 3 - Muhammad Jusuf Kalla

Sejak acara pra-pesta antara lain kampanye dan debat capres/cawapres, saya mencoba menikmati suasananya, melalui media surat kabar, televisi maupun internet. Adakalanya seru, ada kalanya lucu, ada kalanya menggemaskan, sesekali menjengkelkan. Satu-satunya cara untuk bisa menikmati serangkaian acara pra-pesta itu adalah menjadikannya sebagai sebuah acara entertainment. Dengan begitu saya tidak perlu membuang energi untuk mikir, melainkan nikmati saja, enjoy aja

Ketika yang muncul di permukaan adalah tentang sesuatu yang logis dan masuk akal, saya manggut-manggut. Ketika yang terdengar adalah tentang mimpi, saya menghisap rokok dalam-dalam kemudian saya tiupkan asapnya ke layar televisi. Ketika ada yang lucu, segera saya mengingat lagunya Mbah Surip lalu tertawa bersama anak saya dengan irama serak patah-patah. Enak to…., mantep to….

Acara debat capres (terutama yang terakhir) lebih enak dinikmati. Tidak monoton dan datar seperti debat sebelumnya. Bak sebuah pertunjukan teater, ada pemainnya yang nampak piawai berimprovisasi dan melakukan blocking dengan manis di atas pentas. Ada juga muncul paparan dialog yang begitu runtut, sistematis dan enak didengar dengan mimik meyakinkan. Namun sesekali ada juga yang menyanyikan lagunya Kuburan Band, dari nada kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi…, ke C lagi…., ke C lagi…. Semuanya berlangsung wajar, apa adanya (ya memang seperti itulah adanya).

Sungguh saya begitu menikmatinya, membuat saya semakin bisa membaca apa yang ada di pikiran mereka, bagaimana cara mikirnya, serta bagaimana mereka menata, mendudukkan dan berbagi buah pikirannya. Akhirnya dapat mempersempit pilihan saya (meskipun sampai mendekati hari pesta rasanya kok masih enggak sempit-sempit juga, dan itu pun tidak terlalu menjadi soal). Kalaupun saya belum punya pilihan hingga detik terakhir, semoga sekian puluh juta tetangga saya sebangsa dan setanah air sudah menentukan pilihannya secara demokratis. Suka tidak suka dan setuju tidak setuju, negeri ini pasti akan dipimpin oleh seorang presiden, setidak-tidaknya oleh satu di antara ketiga kandidat yang ada.

Saya ingat ketika tahun lalu Barack Obama dan John McCain saling berdebat dan beradu argumen sebagai bagian dari agenda pesta demokrasi Amerika. Masing-masing kandidat menunjukkan kelasnya tanpa perlu merasa saling tidak enak atau tidak sopan, melainkan terbungkus dalam kemasan pesta demokasi. Rakyat Amerika pun tidak merasa bosan duduk di depan televisi mengikuti acara semacam itu, karena mereka menikmatinya sebagai acara entertainment yang mendidik, bernas dan menambah wawasan.

Saya berusaha menikmati acara debat tiga capres Indonesia seperti rakyat Amerika menikmati acara yang sama menjelang pemilihan presidennya. Maka yang melintas di pikiran saya adalah acara entertainment tentang bagaimana tiga selebriti politik negeri ini tampil di depan publik, mempertontonkan kapabilitas, kompetensi dan kelayakannya untuk dipilih.

Kalaupun kemudian masih juga saya merasa sulit untuk memilih, maka saya akan tetap ingin mengikuti pestanya untuk menikmati suasananya. Sebab ini adalah acara entertainment lima tahunan. Teriring doa seperti tulisan di atas pintu tol Bogor dari arah Jakarta : “Kutunggu Campur TanganMu Tuhan Pada 8 Juli 2009”.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar

Kisah Kecil Tentang Pesawat Salah Parkir

4 Juli 2009 by madurejo

IMG_2919_rMinggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara Selaparang, Mataram, NTB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Berita di berbagai media menyebutkan pesawat tergelincir, ada juga yang menulis keliru belok dan ada yang melaporkan salah parkir. Apapun kejadian yang sebenarnya, yang pasti telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal.

Media menceritakan bahwa pesawat jenis MD 90 yang seharusnya berputar di ujung landasan ternyata sudah memutar duluan sebelum mencapai ujung landasan. Sepertinya sang pilot tidak sabar menunggu mencapai ujung landasan yang berarti harus menambah jarak tempuh 500 meter lagi. Atau pilotnya “lupa” bahwa badan pesawat MD 90 tergolong langsing tapi bongsor memanjang, sehingga ketika memutar tidak bisa dipaksa untuk sekali “jadi”. Kalau mobil bisa atret maju-mundur, lha kalau pesawat perlu dibantu kendaraan pendorong.

Tulisan ini bukan bermaksud membahas apa yang terjadi, melainkan : “Kok bisa sih kesalahan yang tidak seharusnya itu terjadi?”. Jangan-jangan karena sikap keteledoran atau kesembronoan menganggap remeh masalah kecil dalam bisnis penerbangan. Untung masih di darat, lha kalau terjadinya di awang-awang, njuk piye (lalu bagaimana)?

***

Insiden di bandara Selaparang itu mengingatkan saya pada peristiwa kecil yang pernah saya alami di bandara Supadio, Pontianak, sekitar setahun yang lalu. Peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan nyaris tidak ada yang memperdulikan. Tapi bagi saya dan seorang teman, kejadian ini menjadi bahan guyonan meski rada getir.

Menjelang tengah hari, pesawat Batavia Air yang saya tumpangi dari Yogyakarta mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan baik-baik saja, meski keberangkatannya sempat terlambat dua jam. Ketika pesawat bergerak menuju apron area parkirnya, dari dalam pesawat saya lihat ada petugas darat yang kedua tangannya mengayun-ayunkan piranti pemberi tanda agar pesawat terus bergerak.

Petugas parkir itu (saya sebut saja begitu) berada di ujung slot parkir No. 7 (tulisan angka 7 berwarna putih sangat jelas tertulis buesar-buesar di aspal bandara). Ketika pesawat mendekat, tinggal satu tangan petugas parkir yang berayun yang berarti pesawat harus belok mengikuti garis slot parkir yang dimaksud. Eh,  lha kok ternyata pesawatnya bablas saja melewati slot No. 7 menuju ke slot No. 6. Melihat hal itu saya berpikir barangkali memang bukan di situ lokasi parkir pesawat yang saya tumpangi. Seandainya saya duduk di dekat sopir pesawatnya, mungkin pundak sopirnya saya seblak (tepuk) dan saya ingatkan : “Parkirnya kebablasan, mas…”.

Ternyata benar. Beberapa detik kemudian pesawat berputar 180 derajat, kembali menuju ke slot parkir No. 7. Untung area parkiran di slot No. 6 sedang kosong sehingga pesawat bisa bermanuver bebas untuk berbalik arah. Seandainya di situ ada pesawat lain yang parkir, pasti akan butuh kendaraan pendorong untuk mundur lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya salah parkir. Sebab sebelum pesawat menuju apron kawasan parkir tentunya sudah diberitahu oleh petugas darat dimana dia harus parkir dan petugas parkir pun sudah memberi tanda dengan eblek-eblek (piranti berwarna oranye yang diayun-ayunkan) di kedua tangannya.

Ketika akhirnya turun dari pesawat, teman seperjalanan saya bertanya menyindir kepada pramugarinya sambil guyon : “Pilotnya baru ya, mbak?”. Si mbak pramugari rupanya juga tidak menyadari apa yang terjadi dan menjawab serius : “Oh, tidak pak”.

***

Maka kalau kini saya mencatat ada dua kejadian pilot salah parkir atau salah belok atau kekeliruan apapun yang nampaknya kecil dan sederhana, itu terjadi di darat. Bagaimana kalau kekeliruan kecil semacam ini terjadinya di awang-awang langit? Jangan-jangan insiden atau malah tragedi kecelakaan pesawat yang akhir-akhir ini sering terjadi juga bermula dari kekeliruan kecil yang dilakukan entah oleh siapapun?

Hal-hal besar, baik atau buruk, sukses atau gagal, jatuh atau bangun, seringkali bermula dari hal-hal kecil yang nampaknya sederhana dan tidak apa-apa. Kisah tragis, kisah sukses, dan kisah-kisah tak terduga lainnya, seringkali berawal dari hal-hal kecil yang nampaknya tidak ada apa-apanya. Karena itu sebaiknya siapapun (baik mereka yang sedang sukses maupun yang sedang terpuruk) agar bisa belajar untuk memaknai setiap hal sebagai sebuah awal dari sesuatu yang (bisa menjadi) besar.

Para pendahulu kita (pendahulu dalam negeri maupun pendahulu luar negeri) telah membuktikannya tanpa mereka menyadari hasilnya. Maka kita para pewaris, pengikut dan penggembira mestinya bersyukur bisa belajar dari pendahulu kita itu.  Ungkapan “Small is Beautiful” hanya bermakna bagi mereka yang paham artinya besar itu apa, baik dalam hal yang positif maupun negatif, bencana maupun anugerah.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar

Di Terminal 1 Cengkareng

3 Juli 2009 by madurejo

Di Terminal 1-B bandara Cengkareng, Jakarta. Menatap layar monitor info keberangkatan Batavia Air sore tadi, hampir semua penerbangan berkode STD jam sekian, yang berarti… d-i-t-u-n-d-a berjamaah… Jadi kemalaman sampai rumah.

***

Kalau check-in di Terminal 1 A-B-C bandara Cengkareng, jangan percaya begitu saja pada No. Gate yang tertulis pada karcis boarding maupun layar monitor, sebab seringkali masih teka-teki….

(Beberapa kali saya kecele mengandalkan info No. Gate pada karcis boarding. Kenyataannya seringkali berubah tanpa pemberitahuan via halo-halo umum, sehingga ketika saya ngepas tiba waktu boarding baru masuk ruang tunggu ternyata ruangannya sepi karena penumpang lain sudah pindah ruangan).

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Sate Khas Senayan Express

3 Juli 2009 by madurejo

Makan siang di ‘Sate Khas Senayan Express’ yang rasa satenya tidak khas sama sekali alias biasa-biasa saja. Seporsi terdiri 6 tusuk @ 4 iris daging kecil harganya 27 ribu + nasi putih 10 ribu (untung dibayarin…). Yen tak pikir-pikir…, resto ini hanya cocok untuk tujuan entertainment. Jika tujuannya sekedar agar tidak lapar, maka lebih hemat dan efisien nyate di kaki lima…

(Sebenarnya yang sedang dibeli dan dinikmati oleh konsumen adalah suasana dan gengsinya. Lebih dari itu rasa satenya standar. Maka pilihan ada di kantong konsumen…)

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Slogan Di Tol Jagorawi

2 Juli 2009 by madurejo

Di atas gerbang tol (Jagorawi) sebelum masuk Bogor dari Jakarta, terpampang slogan dua baris kalimat besar-besar, bunyinya (ngngng… rada aneh…) :

KUTUNGGU CAMPUR TANGANMU TUHAN PADA 8 JULI 2009
GUNAKAN SABUK KESELAMATAN MELALUI AGAMA MASING-2

Sejujurnya, saya agak mengernyitkan dahi. Kepada siapa slogan itu ditujukan, bagaimana relevansinya, opo to mangsud-e…. Jangan-jangan Srimulat yang menulis….

Jakarta, 2 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Buah Apa Gerangan Namanya?

1 Juli 2009 by madurejo

Menggantung satu-satu (tidak bergerombol) di pohon-pohon kecil yang sedang berbuah di tepi jalan keluar dari bandara Cengkareng (Soekarno-Hatta, Jakarta), seperti mangga, berwarna hijau, seukuran jambu kluthuk atau bola tenis kecil sedikit. Kata sopir taksi, buah itu tidak enak dimakan…. Pantesan, aman tak terusik di sana…

Jakarta, 1 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Makan Siang Di Warung Bu Gendut

1 Juli 2009 by madurejo

Makan siang di warung makan (yang oleh pemiliknya sendiri disebut) Bu Gendut. Masakan Jawa, ada lalapan dengan sambal terasi-tomatnya… manstap sekale…. Saya baru tahu kalau ada lalapan berupa daun (Bu nDut menyebutnya) poh-pohan, entah apa nama lainnya, rasanya asam manis, baunya seperti daun mangga. Saat hitung-hitungan, Bu nDut suka menghitung dipas-paskan dalam ribuan. Pelanggan pun bisa nawar… Heran, sudah habis dimakannya, nawar lagi…

(Warungnya Bu Gendut yang asal Wonosari Jogja itu berada di lantai dasar gedung Graha Induk KUD, Jl. Buncit Raya, Jakarta).

Jakarta, 1 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Repotnya Memilih Jurusan Kuliah

30 Juni 2009 by madurejo

Anak saya sudah diterima dan mbayar untuk Jurusan Ekonomi Manajemen. Lha kok tiba-tiba bilang mau pindah Jurusan Ekonomi Akunting, dengan resiko ongkos yang (sudah dibayar) kemarin hangus dan (harus) mbayar lagi yang jumlahnya jut-jutan….

Sik..sik..sik….., ini bukan soal uang dan boleh atau tidak boleh, melainkan membuat keputusan yang tepat. Maka mulailah saya jalankan salah satu tugas ortu, yaitu “ceramah”, yang ujungnya adalah : “Nduk, malam ini jangan tidur terlalu malam, biar bapak pikir sambil tidur dulu…”.

(Sebelumnya anak pertama saya ini sudah mantap diterima di Jurusan Ekonomi Manajemen program internasional UII — Universitas Islam Indonesia — Yogyakarta, melalui jalur test penerimaan paling awal, sebelum ada kelulusan UAN, saya lupa apa nama programnya… Saking mantapnya sampai tidak mau lagi mendaftar kemana-mana termasuk test masuk perguruan tinggi negeri).

Yogyakarta, 29 Juni 2009
Yusuf Iskandar

***

Setelah bangun esok paginya, barulah ditelisik satu-satu duduknya perkara (ini “ceramah” jilid 2). Kesimpulannya, saran saya begini :

  1. Memastikan apa sih sebenarnya yang terjadi kok ora ono udan ora ono angin ujuk-ujuk kepingin pindah jurusan. Tim kampanye siapa yang telah berhasil mempengaruhi pilihan anak saya yang sebelumnya sudah mantap tenan dengan pilihannya. Setelah itu diurai satu-satu solusinya.
  2. Meminta anak saya untuk cari info/diskusi/konsultasi/dsb selengkap-lengkapnya dengan pihak manapun agar diperoleh gambaran lebih jelas (ya… mirip2 analisa SWOT…) tentang masing-masing jurusan itu.
  3. Barulah kemudian dibuat keputusan.

    Namun sebelum palu diketuk (inilah yang saya maksud jangan tidur terlalu malam), sempatkan untuk sholat tahajud dan istikharah (sesuai ajaran agama yang dianut anak saya).

    Begicu yang terjadi keesokan harinya… Hasilnya? Saya pun menunggu…. Salam utk semua.

    Yogyakarta, 30 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Anakku Mau Mendaki Sindoro

    27 Juni 2009 by madurejo

    Malam ini anakku minta ijin besok mau mendaki gunung Sindoro. Kali ini saya tidak gusar karena ada guru pembinanya yang menyertai. Sambil klecam-klecem lalu minta uang saku 200 ribu +++….. Ijinnya tak seberapa, uang sakunya ituuu…..

    Tapi okelah, anggap saja pengganti janji saya mau ngajak ke gunung Rinjani tapi belum bisa saya penuhi karena kesibukan lain. Dasar ortu…, alasannya sibuk melulu, entah urusan apa, begitu pikir anakku……

    (Ini adalah pendakiannya ke gunung Sindoro, 3153 mdpl, untuk yang kedua kalinya dan berombongan dengan teman-teman sekolah dan pembinanya. Pendakiannya yang pertama beberapa bulan yang lalu hanya berdua dengan pembinanya. Sebenarnya saya kepingin ikut mendaki juga, tapi ya itu tadi…., sebagai ortu ada kesibukan lain yang bersamaan waktunya).

    Yogyakarta, 27 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Dari Debat Capres Putaran Kedua

    26 Juni 2009 by madurejo

    Dari debat capres semalam, saya jadi tahu apa yang ada di pikiran mereka, bagaimana cara mikirnya, serta bagaimana mereka menata, mendudukkan dan berbagi buah pikirannya. Hasilnya, mempersempit pilihan saya. Satu kandidat presiden saya eliminasi dari pertimbangan. Tinggal dua yang masih saya beri kesempatan untuk bisa meyakinkan sebagai yang terbaik (ya diantara dua itu saja….., wong pilihannya ya itu…..).

    (Semalam melihat dan menikmati Debat Capres putaran kedua melalui siaran televisi, kecuali “pariwara berikut ini”….)

    Yogyakarta, 26 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Menandai “Daerah Kekuasaan”

    23 Juni 2009 by madurejo

    IMG_2867_r1

    Jalan lintas antara Jambi – Muara Bulian dapat ditempuh melalui jalan pintas melalui kawasan kebun sawit Asian Agri (sering disebut jalur Nes). Selisih jarak dibanding dengan jalur utama sebenarnya hanya sekitar 6 km, tapi kondisi jalan pintas ini lebih baik, relatif lurus dan kurang padat meskipun lebih sempit.

    Saat hari menjelang senja, saking tidak kuatnya menahan hajat kecil, seorang teman memaksa sopir untuk berhenti sebentar di sebuah kawasan kompleks perumahan Villa Ratu Mas yang belum berpenghuni, guna menandai “daerah kekuasaan” di pojok gapura. Setelah itu, plong rasanya…..

    IMG_2778_rIMG_2781_r

    Jambi, 20 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    “Maximum Security”

    22 Juni 2009 by madurejo

    IMG_2752_r

    Sandal kok bolak-balik hilang….

    Mulanya cuma dipinjam tanpa bilang,
    kemudian setiap kali diperlukan selalu tidak ada,
    akhirnya pergi lama sekali dan tidak kembali lagi….

    Maka, upaya pengamanan maksimum harus diterapkan.

    Koto Buayo – Jambi, 18 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Sepenggal Doa Di Bawah Truk

    22 Juni 2009 by madurejo

    IMG_2777_r

    Dalam perjalanan dari kota Jambi menuju Muara Bulian, di depan kijang yang saya tumpangi terdapat sebuah truk yang melaju ke arah yang sama. Ternyata di bagian bawah belakang truk itu terdapat tulisan yang merupakan sepenggal doa, yang bunyinya sbb.:

    “Ya… Allah.Ampunilah dosa-dosaku.
    Selama ini aku mengambil kesenangan
    di atas penderitaan orang lain”

    Entah siapa yang pantas memanjatkan doa ini…

    Jambi, 19 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Cita-cita Anakku

    21 Juni 2009 by madurejo

    Sampai di rumah di Jogja, ibunya anak-anak menunjukkan buku kenang-kenangan SMP anakku, SMP Islam Terpadu Abu Bakar di Umbulharjo Jogja,  yang tadi malam diwisuda tapi tidak sempat menghadiri acaranya.

    Dalam buku kenang-kenangan SMP, tiap siswa menuliskan cita-cita, pesan dan kesan. Kebanyakan menulis cita-citanya jadi dokter, ustadz, pengusaha, dosen, ahli ini-itu sampai jadi menteri. Tapi anakku menulis cita-citanya : menaiki semua gunung di Indonesia….

    Kata ibunya : “Kamu ini memang aneh….”.
    Kata bapaknya : “Insya Allah akan tercapai…”.
    Dan anakku, Noval, cuma tertawa…

    Yogyakarta, 21 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Masjid Seribu Tiang Dan Oleh-oleh Pempek

    21 Juni 2009 by madurejo

    Pagi tadi setelah check out dari hotel Formosa, Jambi, sebelum sarapan di luar singgah dulu di masjid seribu tiang, Al Falah, Jambi. Jumlah tiangnya 323. Puluhan tiang berlapis tembaga buatan Boyolali, dinding ukirannya buatan Jepara.

    IMG_2884_r

    IMG_2897_rIMG_2902_r

    ***

    Alhamdulillah, dari Jambi numpak singo (naik singa) dan sudah tiba kembali di Jogja. Bawa oleh-oleh kopi Jambi ‘AAA’ dan pempek ‘Selamat’. Pempeknya ini lho…. kok terasa beda dan hoenak sekale… dibanding yang biasa saya beli di Jogja…. Pantesan, langsung babalasss disikat anak-anak….

    Yogyakarta, 21 Juni 2009
    Yusuf Iskandar