Terbang Ke Tapanuli Selatan

12 November 2009 oleh madurejo

IMG00024-20091109-0922

Pagi habis hujan di bandara Polonia, Medan

IMG00032-20091109-1030

Terbang dari Medan Ke Aek Godang, Tapanuli Selatan, naik (maskapai) Susi Air

(Selain Susi Air yang mendarat di bandara Aek Godang, maskapai Merpati juga melayani rute penerbangan ke Tapanuli Selatan, tetapi mendarat di bandara Pinang Sori).

IMG00029-20091109-0927

Tempat sampah di dalam pesawat Susi Air berkapasitas 12 penumpang

IMG00036-20091109-1039

Bandara Aek Godang, sebuah kecamatan di wilayah Tapanuli Selatan, sepiiii…. dan jauuuuuh….

IMG00041-20091109-1149

Dari kecamatan Aek Godang menuju lokasi tambang Martabe di kecamatan Batangtoru ditempuh selama kurang-lebih 2 jam perjalanan darat melalui jarak sekitar 60 km, melewati kota Padang Sidimpuan (terkadang ditulis Padang Sidempuan). Kota ini sekarang masih menjadi ibukota kabupaten Tapanuli Selatan dan rencananya akan dipindahkan ke kota Sipirok. Padang Sidimpuan dikenal sebagai kota penghasil salak di Sumatera. Rasa salaknya khas, manis tapi agak masam dengan sedikit rasa sepat, warnanya ada yang putih bersih dan ada yang bersemburat kemerahan.

IMG00043-20091109-1158

Bentor (becak bermotor) di Padang Sidimpuan

IMG00042-20091109-1157

Vespa kuno sebagai penggerak

(Umumnya becak bermotor atau becak mesin di daerah Tapanuli Selatan menggunakan kendaraan jenis vespa kuno sebagai mesin penggeraknya. Di beberapa kota lainnya di Sumatera ada juga yang menggunakan jenis motor besar kuno atau sepeda motor kuno lainnya. Bentuk atau desain tempat duduk penumpangnya juga bervariasi, ada yang berbentuk kabin seperti bajaj atau helicak dan ada yang terbuka seperti becak biasa)

Antara Medan – Tapanuli Selatan, 9 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Jus Martabe

12 November 2009 oleh madurejo

Menyeruput jus Martabe sambil makan malam di resto Garuda, Medan… Martabe yang ini bukan ‘marsipature hutana be’, melainkan ‘markisa terong belanda’…

(Resto Garuda menyediakan menu masakan perpaduan citarasa padang dan melayu, berlokasi di Jl. H. Adam Malik, Medan. Rasa masakannya lumayan enak….)

(Martabe sebenarnya singkatan dari marsipature hutana be, yaitu Gerakan Pembangunan Desa Terpadu yang pertama kali dipopulerkan oleh Raja Inal Siregar, waktu menjadi Gubernur Sumatera Utara. Sedang penggagas istilah itu sebenarnya adalah Basyral Hamidy Harahap, seorang tokoh dari Tapanuli).

Medan, 8 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Uniknya Ngurus Koperasi

12 November 2009 oleh madurejo

Uniknya ngurusi koperasi: Yang satu sebagai pengurus merasa berkewajiban mensejahterakan anggotanya, yang lain sebagai anggota merasa berhak disejahterakan pengurusnya. Ketika yang me- & yang di- saling pethenthengan bagai cicak & buaya, maka bencana namanya…

Yogyakarta, 7 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Salawatan Di Toilet

4 November 2009 oleh madurejo

Suatu ketika Anda (yang laki-laki) sedang membuang hajat kecil di sebuah toilet, semisal di toilet perkantoran, mal atau bandara. Toilet laki-laki jaman moderen sekarang ini memang dirancang untuk kencing sambil berdiri (maka bagi para guru harap hati-hati, sebab kalau murid-murid Anda tahu nanti mereka akan kencing sambil pada berlari, kan jadi repot…..). Mau tidak mau begitulah cara cepat untuk kencing di toilet umum, ya sambil berdiri itu. Kecuali kalau Anda mau agak bersabar masuk ke kamar kecilnya.

Sedang enak-enaknya kencing (kencing kok enak….), malah terkadang sambil sedikit bergidik, badan bergetar tanpa kendali, kepala agak mendongak ke atas dengan tatapan nanar barangkali ada cicak atau buaya di dinding, apalagi sambil membayangkan cerita-cerita lucu……, tiba-tiba ponsel Anda berbunyi keras mengejutkan Anda. Mendingan kalau bunyinya pelan dengan nada dering standar. Sering-sering malah volume nada panggilnya disetel cukup keras dan nada deringnya dipilih lengkingan musik atau lagu-lagu. Apalagi kalau si pengencing (maksudnya orang yang kencing) adalah penggemar lagu-lagu lawas seperti Bengawan Solo dimana air mengalir sampai jauh.

Ponsel Anda berdering saat kencing belum selesai. Oo, repotnya….. Mau diterima, kok merepotkan. Ibarat sedang naik sepeda mau “lepas setang” takut nabrak pagar. Mau dibiarkan dulu, kok musiknya makin keras. Dan Bengawan Solo pun terus mengalir sampai jauh……Sementara orang di sekitar senyam-senyum sambil malu-malu melirik Anda (padahal mestinya Anda yang malu) bagai bertemu seorang selebriti yang sedang kencing. Serba salah dan sering-sering malah membuat panik.

***

Selama ini kita mengenal ada beberapa kebiasaan yang berlaku umum yang meminta seseorang agar mematikan ponselnya. Pertama, ketika berada di dalam kabin pesawat. Alasan resminya dapat mengganggu sistem komunikasi dan navigasi pesawat. Bahkan ketentuan ini sudah disertai dengan ancaman sangsi denda sampai 200 juta rupiah bagi yang melanggarnya. Namun toh banyak juga yang diam-diam melanggarnya tanpa malu-malu dan tanpa merasa bersalah kalau perilakunya yang meremehkan aturan itu berpotensi mengancam keselamatan penumpang sepesawat. Benar demikian atau tidak, itu soal lain. Tapi begitulah bunyi peraturannya.

Kedua, ketika berada di dalam tempat ibadah, taruhlah di gereja atau masjid. Alasannya mengganggu ketenangan dan kekhusyukan jamaah. Jangan sampai terjadi saat di mimbar depan sedang ada khotbah tahu-tahu yang di belakang ada yang menyanyi “Bangun tidur, tidur lagi….”. Kalau lupa? Maksudnya lupa mematikan ponsel, paling-paling kalau tidak disenyumi ya dicemberuti oleh sesama jamaah di masjid atau peserta ibadah lainnya.

Nah, yang ketiga ini yang sering dilupakan orang, yaitu ketika kencing di toilet. Dering tilpun memang datangnya suka tak terduga seperti gempa. Tapi ketika dering itu terjadi, sangat mudah untuk mengetahui dimana episentrumnya dan intensitasnya. Lebih-lebih kalau kencingnya di toilet berdiri ramai-ramai, dijamin akan serba salah dan panik. Salah-salah dalam mengambil langkah tanggap darurat, celana atau sepatu Anda yang basah. Kalau berada di dalam kamar kecilnya masih lumayan, paling-paling orang-orang yang di luar hanya akan mendengar suara lengkingan musiknya sambil tersenyum atau menahan cekikikan, sementara Anda sendiri bisa cuek pura-pura tidak ada apa-apa.

Maka ingat-ingatlah terutama aturan mematikan ponsel yang ketiga itu. Kalau aturan yang pertama, pramugari pesawat dengan setia selalu akan mengingatkan Anda. Aturan yang kedua, biasanya di tempat-tempat ibadah sudah dipasang himbauan atau peringatan tertulis. Sedang aturan yang ketiga, Anda harus mengingat-ingatnya sendiri. Kalau lupa? Bersiaplah untuk terkejut lalu panik… Namun usahakan untuk tetap konsentrasi agar langkah tanggap darurat sebagai reaksi spontan Anda tidak salah. Dan jangan tersinggung kalau Anda disenyumi orang disekitar Anda yang pasti tidak bisa menahan geli. Apalagi kalau pemilik ponselnya orang Islam yang nada deringnya berbunyi bacaan salawat. Maka orang-orang pun akan tersenyum sambil memuji dalam hati : “Hebat orang ini, buang hajat pun sambil salawatan…..”. Malunya tak seberapa, tapi paniknya itu……

Yogyakarta, 3 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Nyaris Jotos-jotosan Di Depan Layar Televisi

2 November 2009 oleh madurejo

OC Kaligis dan Gayus Lumbuun nyaris jotos-jotosan tinju di depan kamera TV One tadi pagi…. Maka pantaslah kalau 15 abad yll. Tuhan wanti-wanti : hanya akan menyertai orang-orang yang sabar. Lha yang tidak sabar? Pasti bukan Tuhan yang akan menyertai…..

(Miris sekali rasanya, menyaksikan tokoh masyarakat yang saling tidak bisa mengendalikan emosi dan kesabarannya di depan layar kaca yang pastinya ditonton oleh jutaan pirsawan televisi Indonesia… Weleh, piye to iki….)

Yogyakarta, 2 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Masih Ada Tukang Gethuk Yang Akan Lewat

2 November 2009 oleh madurejo

Karena malas menemani ‘boss’ saya masuk toko, (akhirnya) saya menunggu di mobil saja. Kebetulan ada penjual gethuk lewat, iseng2 saya beli gethuk dan klepon yang (kemudian) dibungkus daun pisang dan kertas koran. Lalu saya buka dan saya makan sambil duduk di emperan toko yang sedang tutup.

Kata ‘boss’ saya : “Saru…”.
Kata saya : “Saru untuk ‘boss’, tapi tidak untuk sopir…”.
Maka berbahagialah sopir-sopir Indonesia, masih ada tukang gethuk yang akan lewat…..

(‘Saru’, bahasa Jawa berarti tidak sepantasnya, tidak sopan, jorok…..)

Yogyakarta 1, Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Kutu Putih Kecil Yang Menjengkelkan

2 November 2009 oleh madurejo

PIC_0011_r1Di belakang toko saya di Madurejo, Prambanan, Jogja, banyak tumbuh liar bibit tanaman pepaya. Saya duga itu berasal dari buangan biji pepaya yang biasanya dibuang begitu saja di halaman belakang lalu tumbuh menjadi puluhan bibit pepaya. Beberapa bulan yll. pegawai toko saya berinisiatif memisahkannya lalu menanam kembali gerombolan bibit pepaya itu. Idenya tentu agar kelak tumbuh menjadi pohon pepaya dan berbuah banyak. Sekalian saja lalu saya sarankan agar ditanam teratur di sekeliling tepi kolam ikan yang masih belum ada air dan ikannya, atau sebut saja kolam kosong.

Ketika pohon-pohon pepaya yang jumlahnya lebih 15 pohon itu semakin tumbuh subur dan besar, dan lalu mulai keluar buahnya, terbayang para pegawai toko yang akan menikmati panen buah pepaya bergantian dari satu pohon ke pohon lainnya, dari hari ke hari. Buah pepaya pun semakin besar dan mulai ada yang berwarna kuning kejingga-jinggaan dan jingga kekuning-kuningan. Buah pepaya yang bergelantungan itu terlihat begitu ranum menyegarkan.

Panen pertama beberapa butir buah pepaya akhirnya terlaksana juga. Unduhan demi unduhan buah pepaya jadi sering dilakukan oleh para pegawai. Lumayan sebagai selingan makan buah. Meski buahnya ya pepayaaaaaa….. terus setiap hari. Biar saja. Biar para pegawai saya semakin pintar bicara melayani konsumen seperti burung beo yang setiap pagi disuguhi pepaya, asal tidak mencret saja. Sesekali saya juga ikut hadir dalam pesta pepaya di Madurejo.

Namun belakangan ini seiring cuaca panas berkepanjangan, buah pepaya mulai tampak layu. Tetap berbuah, tapi buahnya seperti balita kurang gizi. Berbuah segan mati tak mau. Semakin hari, bukan saja buahnya yang layu, juga daun dan pucuk pohonnya pun mulai terlihat ikut-ikutan lunglai dan akhirnya membusuk. Tidak lama kemudian satu demi satu pohon pepaya roboh dan mati.

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un….. (semua berasal dari Tuhan dan kepada Tuhan pula akan kembali). Cuma untuk pohon pepaya ini tidak perlu dikubur, melainkan dibiarkan tergeletak di tanah dan akhirnya mengering. Beberapa pohon terakhir kini masih berdiri tidak tegak, miring-miring dan nyaris rubuh. Buah-buah terakhir pun tampak menjingga tapi layu. Maka hampir tamatlah dongeng tentang pesta pepaya di Madurejo.

***

Hama KPK (kutu putih kecil) rupanya datang tak diundang lalu menyerang berjamaah. Kutu putih kecil yang kalau disentuh terasa lengket di kulit yang kemudian saya ketahui memiliki nama latin pseudococcus sp. ini begitu dahsyatnya mengusik kesuburan pohon buah pepaya. Pelan tapi meyakinkan mengerubuti mulai dari pangkal buahnya, tulang daunnya, selangkangan bunganya, hingga merata menempel ke sekujur tubuh, daun, bunga dan buah pepaya. Benar-benar menjengkelkan. Mau disemprot dengan obat anti hama, khawatir bukan KPK-nya yang terkapar tapi malah orang yang makan buah pepayanya.

Belakangan saya membaca koran bahwa ternyata hama KPK ini sudah menyerang ladang budidaya pepaya di desa Mojosongo, kabupaten Boyolali. Separuh dari populasi pohon pepaya di sana (setelah dihitung ada 275.770 pohon buah pepaya) kini musnah dikeroyok KPK.

Rupa-rupanya KPK ini bukan hanya doyan pohon pepaya, beberapa tanaman jarak pagar pun diusiknya. Bahkan beberapa tanaman bunga kamboja (semboja) kuning, putih, merah dan jambon (pink) yang saya tanam di halaman depan rumah pun kini bagai bunga kembang tak jadi. Bunganya pungkring dan layu berguguran, padahal sebelumnya selama ini kalau mekar tampak indah sekali. Tanaman bunga kamboja kuning yang sudah saya setek jadi banyak itu dulu belinya Rp 75.000,- . Sedangkan bunga kambja yang merah dan putih itu memang dulunya saya setek dari kuburan saat sedang ziarah. Tentu saja bukan hasil nyolong, tapi atas ijin dari juru kuncinya.

Hingga kini tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mengatasi serangan KPK kecuali pasrah kepada alam yang baik hati sudah sempat memberi kesegaran buah pepaya kepada pegawai toko saya dan memberi keindahan di depan rumah saya. Nampaknya saya harus lilo-legowo kalau memang saat ini sedang tiba giliran mongso (masanya) bagi KPK itu untuk berpesta. Mahluk kutu putih kecil yang secara fisik tampak tak berdaya yang beraninya menyerang berjamaah seperti peserta tawuran atau pengunjuk rasa atau penggusur paksa itu memang menjengkelkan. Beberapa tanaman kamboja terpaksa saya pangkas pucuk-pucuknya, sedang pohon-pohon pepaya akhirnya mati dengan sendirinya.

Kata orang : “Biarkan saja pak, nanti kalau tiba musim hujan biasanya akan hilang sendiri….”. Orang itu pasti lupa kalau pepaya saya buahnya sekarang, bukan nanti menunggu musim hujan. Maka kalau musim hujan tiba, bukan kutu putihnya saja yang hilang melainkan tuntas sepohon-pohon pepayanya….

Yogyakarta, 2 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

PIC_0010_rPIC_0016_r

Hama KPK

1 November 2009 oleh madurejo

PIC_0011_rLebih 15 pohon pepaya siap buah di belakang toko tewas diserang KPK (kutu putih kecil)…… Lebih lima tanaman bunga semboja merah, putih dan kuning di depan rumah gagal bunga karena disadap KPK……

KPK, kecil tapi lincah tak terduga dan menjengkelkan……

(Belakangan saya membaca koran bahwa ternyata hama kutu putih kecil yang nama latinnya pseudococcus sp. ini juga sukses memusnahkan 275.770 pohon buah papaya, yang berarti lebih separuh populasi pohon papaya yang ada di Mojosongo, Boyolali…..)

Yogyakarta, 1 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Good Bye Telkomsel Flash

29 Oktober 2009 oleh madurejo

Tsel Flash-ku masih terkapar, terpaksa belum bisa on-line

(Sejak dua hari yll. Telkomsel Flash andalanku dalam berinternet murah dan unlimited ternyata klepek-klepek nyaris modar….., sudah diutak-atik-utak enggak bisa-bisa juga….)

Yogyakarta, 23 Oktober 2009

***

Sudah semingguan Tsel Flash semaput, (membuat saya jadi) jauh dari internet…. Sambil nunggu siuman, (lalu) nyoba IM3 dulu….. Serasa seperti baru pulang dari luar angkasa….

(Lumayan, kembali dapat menjumpai teman-teman di dunia maya)

IM3 ongkosnya Rp 1,-/kb. Belum lama klak-klik-klak-klik, tahu-tahu 5Mb terpakai dan Rp 5.000,- bablasss…..

(Oh, borosnya…… Hanya cocok untuk keadaan darurat)

Yogyakarta, 27 Oktober 2009

***

Akhirnya hari ini saya putuskan mem-PHK Telkomsel Flash. Penggantinya sedang diseleksi. Kayak-nya kandidat kuatnya BB…. Itu juga tergantung kalau minggu ini korupsi saya berhasil, dan tidak konangan ‘boss’…..

(Bukan saja Tsel Flash-ku enggak konek-konek, tapi juga konon sekarang tidak ada lagi paket unlimited yang murah. Mendingan putus hubungan dulu dan cari gantinya….. Beberapa teman menyarankan agar ganti BB saja. Maka mesti tanya-tanya info ke teman soal per-BB-an, tentang tipe, spesifikasi dan harga yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kantong, tentu saja. Maklum, rada-rada gaptek kalau soal gadget yang beginian…)

Yogyakarta, 28 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras

28 Oktober 2009 oleh madurejo

Cuaca seminggu teIMG_2696_rrakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini naga-naganya sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau…..

Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat njumbul-njumbul naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang.

Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. “Waduh, ada apa ini”, pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan…… Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya…. mak jedug, menyentuh landasan bandara Cengkareng. Alhamdulillah, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban.

Saya menguping percakapannya. “Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi”, kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : “Saya juga sudah sport jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja”. Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka aja. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil.

Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : “Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya…”, begitu kira-kira katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan kok ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : “Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa kan masih bisa ditemukan. Lha kalau naik pesawat, hilang entah kemana”. Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?.

***

Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : “Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?”.

Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : “Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak”.

Ooo, begitu to…… Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat.

Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan…. Lho, apanya?

Yogyakarta, 26 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Ikut Invitasi Free Style

28 Oktober 2009 oleh madurejo

Malam ini anak lanang pamit ke Jakarta. Bersama klubnya ikut invitasi free style (gaya bebas yang bukan renang) di Plaza Senayan (katanya). Le…le… aya-aya wae

(Anakku Noval, 15 th, akhir-akhir ini giat berlatih free syle….. itu semacam ‘akrobat’ memainkan bola basket tapi tidak di lapangan basket. Satu jenis kegiatan yang tidak saya kenal di jaman saya kecil dulu…… Entah bagaimana dia bisa bergabung di klub ‘Kingdom Free Style’ Jogja yang kebanyakan anggotanya para mahasiswa dan sering berlatih demo di pelataran benteng Vredenburg, Jogja. Klub ini sering diminta mengisi acara demo yang bukan unjuk rasa di seputar kawasan Jateng-DIY….. Biasanya sponsornya produk tembakau yang dapat menyebabkan kanker…. hiks…..

Untuk keperluan event invitasi antar kota di Jakarta, rupanya Noval sangat bergairah untuk ikut ambil bagian, sama ngototnya ketika mau ikut mendaki gunung….. Dasar!….. Akhirnya saya mendukung dengan menyediakan sarana transportasinya. Mudah-mudahan kalian sukses, le…..)

Yogyakarta, 27 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Bakmi Mbah Slamet

28 Oktober 2009 oleh madurejo

Berburu bakmi jawa Mbah Slamet, Kotagede, Jogja. Hmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…..

Seharian ini istriku grundelan : “Penyiar TV ini kayak kekurangan berita, soal poligami disiarkan terus…”. Untuk meredamnya, saya ajak istriku berburu bakmi…

(Selengkapnya tentang bakmi jawanya Mbah Slamet Kotagede ini saya ceritakan dalam tulisan di bawah atau dapat dilihat di Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede, Yogyakarta)

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Peluang Improvisasi (Lagi)

28 Oktober 2009 oleh madurejo

Ndak ada hujan ndak ada angin, datang tamu dikenal, lapor bahwa penghasilannya yang pas-pasan sudah tidak pas lagi untuk biaya hidup seminggu ke depan, bagi dia, istri dan bayinya, plus bayar listrik dan transport. Lalu mau pinjam uang 100 ribu rupiah, minta tempo seminggu…………..

Puji Tuhan wal-hamdulillah, kata hati saya. Tuhan memang ruarrr biasa…., untuk kesekian kalinya memberi saya kesempatan, apakah saya masih “sempat” ber-improvisasi (lagi)…

(Terkadang heran juga…., kenapa justru teman ini datang ke rumahku. Kenapa bukan ke rumah tetangga atau orang lain yang jelas lebih mampu dan layak dari sisi finansial. Agaknya Tuhan sedang memberi ‘peluang bisnis’ kepadaku, dan peluang itu tidak saya sia-siakan. Peluang yang kalau dicari tidak pernah ada dan mungkin tidak akan datang kedua kali…..)

Yogyakarta, 19 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

HUT Ke-253 Yogyakarta

28 Oktober 2009 oleh madurejo

Makan malam (di rumah), dengan menu sayur lodeh ndeso dan rendang, sambil nonton (acara) Jogja Java Carnival (HUT kota Jogja ke-253) di Jogja TV…

(“Selamat Ulang Tahun kotaku, Ngayogyokarto Hadiningrat”)

Yogyakarta, 17 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Maju Terus Pantang Mundur

28 Oktober 2009 oleh madurejo

Hari ini belajar tentang semangat ‘maju terus pantang mundur’. Kedatangan tamu yang luar biasa….. Sang istri menjadi ibu rumah tangga biasa, beranak 3 dan sedang hamil anak ke-4, sambil menyelesaikan S3 yang tertunda-tunda karena kendala biaya. Hal yang sama dialaminya ketika menyelesaikan S1 dan S2. Sang suami jual beras dan  telor sambil menyelesaikan S2. Satu hal yang disyukurinya : hidup sewajarnya tapi merdeka dan bisa sholat tepat waktu….

(Hormat dan penghargaan untuk saudara baruku, mas Basuki dan mbak Rini, sepasang suami-istri dengan tiga anak, malah mau empat, yang sedang berjuang menyelesaikan studinya atas inisiatif dan biaya sendiri di tengah serba keterbatasan mereka. Menjadi pedagang sembako adalah pilihan mas Basuki untuk mencukup kebutuhan keluarganya. Semoga Allah swt. memudahkan langkah pengabdiannya yang patut menjadi teladan bagi siapa saja yang bersemangat ‘maju terus pantang mundur’ dalam menuntut ilmu….)

Yogyakarta, 17 Oktober 2009
Yusuf Iskandar