Archive for the ‘> Musim Panas Di Arizona’ Category

Musim Panas Di Arizona

5 Februari 2008

Pengantar :      

Tanggal 2 sampai 17 Agustus 2000 yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota Phoenix, ibukota negara bagian Arizona. Di sela-sela hari kerja di saat akhir pekan, saya menyempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Berikut ini catatan perjalanan saya.-

(1).    Api Di Mana-mana
(2).    Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran
(3).    Dunia Kecil Biosphere 2
(4).    Wisata Tambang Di Kota Hantu
(5).    Legenda Tentang Lost Dutchman Mine
(6).    Menyusuri Rute Apache Trail
(7).    Peninggalan Budaya Indian Salado
(8).    Bukit-bukit Merah Di Sedona
(9).    Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung
(10).  Taman Nasional Gila

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(1).   Api Di Mana-mana

Selasa sore sekitar jam 15:30, 2 Agustus 2000, saya tiba di bandara internasional Sky Harbor di kota Phoenix, ibukota negara bagian (state) Arizona. Cuaca demikian panas saat itu, suhu udara bergerak di seputar angka 105-108 derajad Fahrenheit (sekitar 41-42 derajad Celcius). Bagi beberapa daerah di sekitar kota Phoenix, musim panas terutama bulan Agustus sering dikatakan sebagai bulan paling buruk, yang berkonotasi sebagai hari-hari dimana suhu udara sangat panas dan kering.

Bahkan jika kita berada di tempat teduh sekalipun, masih sangat terasa sentuhan hawa panas yang tertiup angin. Wilayah Arizona umumnya memang mempunyai bentang alam tipikal gurun yang aslinya tentu miskin dengan jenis tumbuhan besar. Kalaupun sekarang di sana-sini dijumpai tumbuhan pelindung, itu karena hasil rekayasa pertanian.

Sejam kemudian, dengan menaiki taksi saya tiba di sebuah hotel di kota Tempe (baca : Tempi), yaitu sebuah wilayah yang berada di sisi tenggara Phoenix. Lokasi kota Tempe terhadap Phoenix barangkali dapat saya identikkan dengan kota Depok atau Bekasi terhadap Jakarta. Secara geografis nyaris seperti tidak terpisahkan, namun secara administratif adalah dua kota berbeda. Kedua wilayah ini, berada pada ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan laut, dengan tingkat kepadatan penduduk “hanya” sekitar satu juta untuk Phoenix dan 150 ribu penduduk untuk Tempe.

Pertama kali yang saya lakukan setiba di kamar hotel yang dilengkapi dengan alat pengatur udara adalah menghempaskan diri di tempat tidur dan lalu membuka saluran TV. Ternyata di beberapa saluran TV sore itu ada acara khusus, yaitu siaran langsung Konvensi Nasional Partai Republik di Philadelphia dimana Dick Cheney akan menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat wakil presiden.

Pada saat yang sama juga ada siaran langsung pemadaman kebakaran yang sedang terjadi di Phoenix. Maka, jadilah yang tampak di layar TV adalah tayangan pidato kampanye dan pemadaman kebakaran secara bergantian. Terkadang layar terbagi dua untuk penayangan kedua siaran langsung tersebut secara bersamaan..

Kebakaran besar memang sedang terjadi di sebuah gudang di tengah kota Phoenix sejak beberapa jam sebelumnya, yang bahkan hingga malam hari api belum berhasil dipadamkan. Menarik juga menyaksikan siaran langsung kebakaran dan upaya pemadamannya yang gambarnya diambil dari berbagai sudut. Hingga tengah malam saat TV saya matikan, siaran langsung “acara kebakaran” masih belum selesai.

Di musim panas seperti ini, seperti halnya di Indonesia, kebakaran adalah ancaman bencana yang sangat ditakuti. Dan itulah yang hari-hari ini sedang melanda sebagian wilayah belahan barat Amerika, yaitu kebakaran hutan atau api-api liar yang tiba-tiba muncul di mana-mana. Bahkan kilat yang menyambar pun bisa menyebabkan kebakaran. Berita kebakaran hutan hampir setiap hari menghiasi berita TV dan koran.

***

Sebegitu parahkah kebakaran liar yang sedang melanda Amerika?

Informasi terakhir yang juga dilansir CNN, saat ini kebakaran terjadi di lebih 90 lokasi seluas tidak kurang dari 4,500 km2 menyebar di 11 negara bagian. Secara nasional tahun ini kebakaran liar telah terjadi di lebih 68.700 lokasi dan telah menghanguskan areal yang pada umumnya berupa hutan seluas hampir 22,000 km2. Tentu yang disebut hutan di sini berbeda dengan hutan musim hujan di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia. Menurut data yang ada, bencana kebakaran liar tahun ini merupakan yang terparah selama 13 tahun terakhir.

Secara angka, luas wilayah yang terbakar “hanya” sekitar 0,2 % saja dari seluruh wilayah Amerika. Namun menjadi kepentingan semua pihak, kalau mengingat akan berakibat musnahnya berbagai biota hutan serta tumbuhan. Perlu waktu ratusan tahun untuk kembali ke keadaan seperti asalnya. Itupun kalau tidak keburu terbakar lagi. Maka tidak heran kalau semua petugas pemadam kebakaran hutan dikerahkan silih berganti. Bahkan batalyon tentara dan marinir pun diperbantukan, termasuk bala bantuan dari Australia dan Selandia Baru.

Untungnya, tidak banyak negeri jiran yang tinggal di dekat lokasi kebakaran, sehingga Amerika tidak bisa “membagi” asapnya sebagaimana asap Sumatra atau Kalimantan yang mampir ke negeri tetangga di utaranya. Negara terdekat terhadap lokasi kebakaran ini adalah Canada, dan asap api sudah mulai mendekat ke perbatasan. Namun Canada tidak “teriak-teriak”, barangkali juga maklum karena ternyata Canada pun juga sedang disibukkan dengan munculnya api-api liar yang membakar hutan mereka.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(2).   Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran

Berkendaraan ke arah selatan sejauh 117 mil (sekitar 187 km) dari kota Phoenix, saya akan mencapai kota Tucson. Namun sebelum tiba di Tucson, saya berbelok ke arah barat menuju ke Taman Nasional Saguaro (baca : Sahuaro). Saguaro adalah nama sejenis tanaman kaktus raksasa yang hanya hidup di bagian selatan Arizona, tenggara California dan utara Mexico. Ini adalah jenis tanaman kaktus yang bisa mencapai tinggi 9 – 12 meter, dan sedikit di antaranya bisa lebih dari 15 meter. Batangnya (kita sering salah kaprah menyebutnya sebagai batang) bisa seukuran batang pohon pisang kepok. Kaktus ini mampu hidup hingga lebih 200 tahun.

Demi melindungi kerusakan monumen alam yang hanya ada di daerah itu, tahun 1933 kaktus-kaktus raksasa tersebut, beserta dengan jenis kaktus lainnya, tanaman-tanaman gurun, serta binatang-binatang yang hidup di lingkungan itu, dilindungi melalui pengelolaan Taman Nasional Saguaro. Wilayah gurun tempat tumbuhnya kaktus-kaktus raksasa ini disebut dengan gurun Sonoran. Ini adalah salah satu daerah paling panas dan kering di daratan Amerika utara. Karena itu hanya jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu saja yang sanggup bertahan hidup (survive) di lingkungan ini.

Di daratan Amerika utara dikenal ada empat macam gurun, yaitu Great Basin, Mojave, Chihuahuan dan Sonoran. Taman Nasional Saguaro sendiri yang mencakupi wilayah gurun Sonoran ini terbagi menjadi dua, yaitu Saguaro Timur dan Barat yang masing-masing terpisah sejauh 48 km dengan kota Tucson berada di antaranya.

***

Hari Sabtu, 5 Agustus 2000, sekitar tengah hari saya tiba di lokasi Taman Nasional Saguaro Barat. Memang udara siang hari di musim panas seperti bulan Agustus ini terasa panas sekali. Di sepanjang jalan sekitar tempat ini, pemandangan alamnya didominasi dengan bukit-bukit kering dan kaktus-kaktus raksasa.

Setelah berhenti sejenak di ruang pusat pengunjung (visitor center) guna memperoleh berbagai informasi serta peta lokasi, saya melanjutkan perjalanan untuk masuk lebih jauh ke Taman Nasional Saguaro, dengan  mengelilingi rute wisata yang disebut “Scenic Bajada Loop Drive” sepanjang kira-kira 15 km. Di ruang pusat pengunjung ini seharusnya saya membayar biaya masuk US$4. Namun karena saya memiliki kartu keanggotaan Taman Nasional Amerika, maka saya tidak perlu membayar. Sebagai pemegang kartu National Parks Pass, saya dan keluarga bebas keluar masuk di sejumlah 379 taman nasional yang ada di Amerika selama setahun.

Untuk memiliki kartu National Parks Pass ini saya membayar US$50 dan berlaku satu tahun. Bagi saya ini lebih menguntungkan mengingat kesukaan saya untuk mengunjungi taman-taman nasional, dibanding kalau saya mesti setiap kali membayar sejumlah uang setiap akan masuk ke Taman Nasional. Alasan “idealis” lainnya adalah dengan membayar sekaligus untuk setahun, maka saya telah memberi kontribusi lebih kepada organisasi pengelola taman-taman nasional Amerika yang disebut National Park Foundation (NPF).

NPF ini adalah sebuah organisasi, semacam LSM, yang mengelola sejumlah taman-taman nasional di seluruh Amerika. Organisasi ini merupakan partner bagi lembaga resmi pemerintah National Park Sevice, dan berorientasi non-profit. Sumber dana mereka yang utama berasal dari sumbangan para donatur dan biaya uang masuk di hampir setiap taman nasional (karena ada juga taman nasional yang bebas uang masuk).

Dari uang masuk yang mereka kumpulkan, 80%-nya digunakan langsung untuk mengelola program-program utama taman nasional. Melihat bahwa dari taman-taman nasional yang pernah saya kunjungi secara fisik tampak tertangani dengan sangat baik, pasti mereka telah menerapkan sistem management yang bagus pula.

Ada dua hal yang saya pandang menarik : Pertama, bahwa siapapun mereka, untuk terlibat dalam lembaga ini tentu diperlukan rasa memiliki dan rasa peduli yang sangat tinggi terhadap kekayaan alam negerinya. Kedua, kepuasan dan kenyamanan para pengunjung untuk berwisata dan sekaligus memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru melalui cara-cara yang sangat informatif dan edukatif tetap mereka utamakan, dan bahkan mereka sangat peduli kalau ada pengunjung anak-anak yang suka tanya ini-itu.

Terus terang, sebagai orang yang datang jauh-jauh dari negara yang sedang berkembang terkadang saya merasa iri, bagaimana mereka “mau-maunya” terlibat dalam urusan yang secara kasat mata tidak menjanjikan imbalan yang menggiurkan.

Perlu juga rasanya saya catat, bahwa banyak di antara para petugas itu adalah orang-orang tua (kira-kira orang yang sudah usia pensiun) yang mengisi waktu tuanya dengan menjadi sukarelawan di lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi swadaya masyarakat, ya antara lain semacam NPF ini. NPF juga menerima para remaja yang ingin magang atau menjadi sukarelawan, juga para professional dari berbagai bidang termasuk dokter, pengacara, insinyur, dsb.

Bahkan mereka juga menerima anak-anak yang ingin mengisi waktu liburan mereka dengan berkegiatan di taman-taman nasional yang tentunya jenis kegiatannya disesuaikan dengan usia mereka. Pendeknya siapa saja yang berminat bergabung akan sangat dihargai. Adanya kebanggaan bagi setiap orang untuk bisa terlibat dalam kegiatan LSM semacam inilah yang menurut logika berpikir saya lalu menimbulkan pertanyaan : “Kenapa kita belum bisa?”.

***

Setelah menenggak setengah botol air mineral yang saya bawa untuk sekedar menawarkan haus di saat terik panas tengah hari, saya masuk ke rute jalur wisata “Scenic Bajada Loop Drive”. Beberapa ratus meter pertama jalanan cukup bagus karena beraspal, setelah itu saya melewati jalan tanah yang tentu saja berdebu. Berkendaraan dengan kecepatan sekitar 25-30 km/jam saya menyusuri perbukitan yang tampak kering dan tandus yang di sana-sini terhampar berbagai tanaman gurun, terutama kaktus saguaro dan jenis-jenis kaktus lainnya yang lebih kecil.

Di lokasi gurun Sonoran ini dikenal ada lebih dari 50 jenis kaktus-kaktus kecil dan pendek (meskipun di antaranya juga berbatang besar). Kaktus-kaktus raksasa saguaro yang sudah berusia ratusan tahun biasanya sudah tumbuh bercabang dua, tiga, empat atau terkadang banyak, sehingga dari kejauhan tampak seperti batang senjata trisula yang ditegakkan ke atas. Di gurun ini juga hidup binatang-binatang yang mampu menyesuaikan diri dan bertahan di lingkungan gurun, di antaranya jenis-jenis tikus, ular, tupai, kura-kura, javelinas (sejenis celeng), dsb.

Di antara kaktus-kaktus itu ada yang berlubang-lubang menjadi tempat persembunyian burung-burung kecil seperti : woodpecker, warblers, western kingbirds, burung hantu, dsb. Sekali waktu tampak berbunga dan muncul buah di ujungnya. Buah-buah kaktus ini oleh penduduk asli Amerika dulu (suku Indian) dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan dasar pembuat minuman.

Usai mengelilingi bukit kecil yang diberi nama puncak Apache, akhirnya saya menyelesaikan rute mengelilingi sebagian kecil saja dari areal hutan kaktus raksasa. Bagi mereka yang mempunyai hobi hiking, juga tersedia rute untuk berjalan kaki masuk lebih jauh lagi ke areal Taman Nasional Saguaro. Tentu ada peraturan khusus yang harus mereka taati demi menjaga kelestarian flora dan fauna yang khas hanya ada di taman nasional ini.

Apakah ada yang nekad di saat musim panas seperti ini? Ternyata ada juga mereka yang mengisi liburan musim panas dengan hiking ke gurun Sonoran ini. Pasti mereka sudah sangat siap fisik, mental dan bekal, kalau mengingat bahwa suhu udara saat siang hari sangat panas dan kering, dan tanpa ada pohon pelindung di seluas taman nasional, kecuali kalau sekedar berlindung di balik kaktus.

Sekitar dua jam saya berada di daerah ini, lalu keluar dari areal taman nasional dan melaju ke arah selatan menuju kota Tucson.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(3).   Dunia Kecil Biosphere 2

Siang itu, masih di hari Sabtu, 5 Agustus 2000, saya memasuki kota Tucson. Hanya melewatinya, dan terus menuju ke luar kota melalui State Road (SR) 77, Jalan Oracle. Ternyata saya masih mengenali jalan ini, sejak pertama kali pernah melewatinya pada tahun 1996 dan yang kedua tahun 1998. Itu karena di jalan ini ada Tucson Mall, tempat yang saya anggap paling strategis dan praktis untuk sekedar jalan-jalan sore dan belanja oleh-oleh atau titipan kawan-kawan dari Indonesia. Setelah melaju sejauh sekitar 48 km ke arah timur laut, saya tiba di kompleks Biosphere 2 Center. Ini memang obyek yang sudah lama saya angankan karena ada sesuatu yang menarik di sana. 

Sekitar awal tahun 90-an saya pernah membaca tulisan di sebuah majalah di Indonesia (saya lupa apa nama majalahnya). Dalam tulisan itu diceriterakan tentang adanya sebuah dunia tiruan yang digunakan sebagai media eksperimen kehidupan, di mana ada delapan orang (4 pria dan 4 wanita) masuk ke dalam dunia kecil tiruan itu yang terisolasi terhadap dunia luar. Mereka tinggal dan menjalankan kegiatan hidup seperti biasa selama dua tahun di dalam “kurungan” rumah kaca. Segala macam sistem kehidupan di dalam dunia tiruan itu direkayasa sedemikian rupa sehingga sama dengan dunia nyata di luarnya.

Belakangan baru saya ketahui peristiwa itu terjadi pada tanggal 26 September 1991 hingga 26 September 1993. Selang enam bulan kemudian, tim kedua yang terdiri dari 7 orang (5 pria dan 2 wanita) masuk “kurungan kaca” dan berada di dalamnya selama enam setengah bulan. Para anggota tim yang disebut biospherian itu berasal dari negara Inggris, Jerman, Meksiko, Belgia, Australia, Nepal dan Amerika sendiri. Misi dari kedua tim itu dinilai sukses menyelesaikan berbagai eksperimen tentang sistem kehidupan di dunia nyata melalui media dunia kecil tiruan.

Ketika di tahun 1996, saat pertama kali saya melewati jalan Oracle ini dan melihat tulisan Biosphere 2, saya langsung ingat pada artikel yang pernah saya baca di sebuah majalah enam tahun sebelumnya, yang waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan di daerah mana proyek Biosphere ini berada. Maklum, waktu itu masih susah untuk membayangkan nama-nama tempat atau negara bagian yang ada di Amerika. Sayangnya pada tahun 1996 itu dan juga tahun 1998 saya tidak punya cukup kesempatan untuk mengunjunginya. Baru kali inilah saya benar-benar menyempatkan untuk menyaksikannya sendiri.

***

Di dalam dunia tiruan yang terbuat dari struktur kaca, baja dan beton itu dibangun ada lima bioma : hutan musim hujan, samudra, savana, gurun dan rawa-rawa. Habitat manusia, hewan yang umumnya jenis serangga dan monyet, serta berbagai macam tumbuh-tumbuhan, kesemuanya dirancang dan dibangun menyerupai keadaan sebenarnya.

Semua sistem di dalam Biosphere 2 ini bergantung kepada tenaga listrik. Ada sebuah generator gas alam besar di Pusat Energi yang menghasilkan listrik untuk menggerakkan semua sistem dunia tiruan itu. Pusat Energi juga menghasilkan air panas dan dingin yang akan dibutuhkan untuk pemanasan dan pendinginan Biosphere 2 sesuai dengan kebutuhan. Ada dua buah kubah di luar “kurungan kaca” ini yang berfungsi sebagai paru-paru dunia kecil, dimana tekanan, temperatur dan volume udara dikontrol dan dihubungkan dengan Biosphere 2 melalui saluran bawah tanah.

Proses daur ulang air dan sampah, semuanya dilakukan sebagaimana yang dilakukan orang di dunia nyata. Proses sirkulasi untuk mensuplai udara bersih, proses  kondensasi untuk mensuplai air minum, pengaturan cuaca, dsb. dikontrol dan disesuaikan dengan kebutuhan dari kelima bioma serta habitatnya. Tetapi di dalam Biosphere 2 ini hanya ada daerah beriklim tropis dan subtropis, serta tentunya tidak ada tiupan angin kencang.

Dunia kecil ini dibuat tidak lain adalah untuk mempelajari bagaimana bumi berkerja dan bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem bumi. Melalui dunia kecil tiruan ini diharapkan akan dapat dipelajari mengenai kehidupan yang berada di dalam lingkungan yang dikendalikan oleh manusia sendiri. Pada gilirannya hal ini tentu akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Biosphere 1, ya bumi tempat kita nunut hidup ini.

Sebenarnya ada juga proyek sejenis Biosphere 2 ini di tempat lain, yaitu Bios 3 di daerah terpencil Siberia, Rusia, dan Biosphere “J” yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi di Jepang utara.

Biosphere 2 adalah laboratorium kehidupan terbesar di dunia yang dibangun sejak tahun 1987 dengan biaya sekitar US$200. Menutupi areal seluas 1.27 ha dan bervolume 204.000 m3. Sejak 1 Januari 1996, setelah Columbia University bergabung dengan Biosphere 2 membentuk Biosphere 2 Center, Inc., sarana ini menjadi salah satu kampusnya yang bergengsi dan mulai dibuka untuk dapat dikunjungi masyarakat umum.

Fasilitas pendidikan, penelitian dan pengembangan pun mulai lebih komplit, termasuk asrama mahasiswa. Juga sudah tersedia hotel, restoran dan gedung konferensi. Sungguh menjadi tempat menimba ilmu yang sangat menantang. Hanya saja, di musim panas daerah ini memang menjadi bersuhu udara sangat panas sebagaimana daerah-daerah lain di Arizona, sementara belum banyak tanaman pelindung di sekitarnya.

Ada yang menarik ketika berjalan-jalan mengelilingi berbagai sarana yang ada di kompleks Biosphere 2 Center, salah satunya adalah Laboratorium Peraga (Demonstration Laboratories) yaitu tempat diperagakannya berbagai ekosistem seperti hutan musim hujan, gurun dan ekosistem lainnya. Saat berjalan-jalan di dalam ekosistem yang menirukan kehidupan di daerah tropis, serasa saya sedang berada di tengah hutan di Indonesia lengkap dengan bunyi serangga sesungguhnya, tanaman liar yang tumbuh silang-menyilang, pepohonan besar dan udara yang lembab. Pohon pepaya kampung yang sedang berbuah, pisang, pohon aren dan lamtoro gung juga ada di sini.

Saya terpaksa hanya bisa menelan air liur sewaktu menjumpai tanaman daun kemangi yang kalau saya remas memunculkan bau yang khas menggugah selera makan. Ini memang jenis lalapan kesukaan saya. Dalam hati saya berandai-andai : “Kalau saja saya membawa bekal sambal terasi, wuah ……!”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(4).   Wisata Tambang Di Kota Hantu

Minggu pagi, 6 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah timur lalu berbelok ke utara. Hari itu saya merencanakan untuk menyusuri rute Apache Trail dari arah barat melalui daerah pegunungan Superstition.

Negara bagian Arizona adalah satu dari beberapa negara bagian di Amerika yang buminya kaya akan bahan mineral sebagai sumber bahan tambang. Menurut sejarahnya di Arizona ini banyak terdapat bekas-bekas lokasi tambang (terutama emas, perak dan tembaga) yang sebagian diantaranya masih beroperasi hingga kini, baik berskala besar (korporasi) maupun kecil (tambang rakyat). Satu diantara lokasi-lokasi pertambangan itu adalah daerah di sekitar pegunungan Superstition. Di sisi sebelah barat laut dari pegunungan ini ada satu dataran tinggi yang disebut Goldfield (ladang emas).

Sejak pertama kali emas diketemukan di daerah ini sekitar tahun 1891, segera kabar itu menyebar dan para pencari emas pun berdatangan mengadu untung. Dalam waktu yang singkat Goldfield serta merta menjadi sebuah kota yang populasinya mencapai sekitar 5.000-an. Sebuah lonjakan angka yang cukup fantastis untuk ukuran “desa”-nya Amerika. Itu terjadi hanya dalam periode lima tahunan yang kaya dengan emas, dimana saat itu ada sekitar 50 tambang beroperasi. Itulah masa kejayaan Goldfield di periode tahun 1890-an.

Jaman “keemasan” Amerika berlangsung tidak lama, booming emas segera berakhir di penghujung abad ke-19. Demikian halnya yang terjadi di Goldfield, urat bijih (vein) tidak lagi menghasilkan banyak emas, kadar bijihnya (grade) menurun, dan kota Goldfield pun lalu mati perlahan-lahan. Setelah berbagai upaya dilakukan orang untuk membuka kembali usaha pertambangan, akhirnya menampakkan tanda-tanda kehidupann di tahun 1910, namun kemudian pudar lagi tahun 1926.

Kini masa kejayaan ladang emas itu pun tinggal kenangan masa lalu, meninggalkan bekas kota tambang yang dijuluki kota hantu (the ghost town) karena ditinggal penghuninya. Kenangan ini ternyata menjadi kebanggaan masyarakatnya kini. 

***

Mengawali perjalanan untuk menyusuri rute Apache Trail, saya tiba di salah satu lokasi yang tampak dari jauh seperti kota koboi. Tertarik untuk mengetahui tentang bekas sebuah kota ini, maka saya berbelok menuju ke tempat parkir melewati di bawah sebuah struktur besi tua yang ternyata bekas sebuah rangka utama (headframe) sumuran tambang.

Saya lanjutkan berjalan kaki, dalam cuaca yang sangat panas dan tanpa ada pohon pelindung di sekitarnya, saya menuju ke arah bangunan-bangunan yang tampak tua khas bangunan kota kuno di Amerika. Pemandangan ini mengingatkan saya akan kenampakan kota kuno seperti yang sering menjadi setting film-film koboi.

Memandang ke depan ke seberang jalan dari tempat ini tampak pegunungan Superstition yang berprofil “aneh” seperti tumpukan bongkahan-bongkahan batuan monolitikum raksasa, menjulang lebih 900 meter di atas lantai dataran gurun di sekitarnya. Kenampakan seperti ini mendominasi di sepanjang sisi sebelah timur dari areal lembah Salt River. Pegunungan Superstition sendiri sebenarnya hanya bagian dari keseluruhan daerah Superstition yang luasnya hampir 65.000 ha dengan puncak gunung tertingginya lebih 1.800 m dengan beberapa lembah berada di antaranya.

Saya melanjutkan berjalan berkeliling, lalu tiba di lokasi yang menawarkan wisata tambang (mine tour). Saya lihat ada sekitar 15 orang sudah siap mengikuti wisata. Saya tolah-toleh, di situ hanya ada dua orang petugas yang saya taksir usia keduanya di atas 50-an. Seorang menjual karcis dan seorang lagi sebagai pemandu wisata. Saya datangi si penjual karcis lalu saya tanyakan berapa lama kira-kira wisata tambang ini akan memakan waktu. Dijawabnya sekitar setengah jam.

Saya bisa membayangkan kira-kira apa yang bakal dapat dilihat dalam waktu setengah jam. Tidak ada yang menarik, pikir saya. Rasa-rasanya tambang bawah tanah peninggalan Belanda di Lebong Tandai, Bengkulu sana, tempat saya pernah bekerja dulu, akan lebih menarik ketimbang tempat ini. Tetapi bukan alasan itu yang membuat saya kemudian berubah pikiran. Ada yang lebih ingin saya ketahui : Apa sih yang sedang mereka “jual” dan bagaimana cara mereka “menjualnya”, sehingga orang-orang itu yang diantaranya bersama keluarga dan anak-anaknya, mau membayar US$5 per orang untuk mengikuti wisata tambang selama setengah jam?

Karcis kemudian saya beli, bukan kertas sebagai tanda masuknya melainkan sebuah tongkat kayu. Barangkali hanya ingin “tampil beda”. Saya lalu bergabung dengan para wisatawan domestik itu (kali ini saya menjadi wisatawan asing). Sebelum masuk ke dalam kerangkeng (cage) yang akan membawa kami menuruni sumuran tambang (shaft), sang pemandu wisata menjelaskan dengan sangat rinci tentang hal ihwal tambang.

Demikian pula saat kami berada di lorong bawah tanah (tunnel) dan di dalam lombong (stope), berbagai hal teknis termasuk cara-cara pemboran dan peledakan dalam pembuatan lorong, peralatan yang digunakan, sistem penyanggaan, ventilasi, dsb. juga dijelaskannya dengan fasih. Saya hanya menduga-duga saja, sang pemandu wisata ini mungkin dulunya bekas miner (buruh tambang).

Akhirnya setelah naik melewati beberapa tingkat anak tangga, kami tiba kembali di permukaan melalui mulut tambang yang berbeda dengan ketika masuknya tadi. Saya perkirakan tadi itu kami hanya berada sekitar 10-15 meter di bawah permukaan tanah. Tapi itulah gambaran sederhana tentang sebuah tambang bawah tanah berskala kecil yang berhasil dipaparkan melalui wisata tambang selama sekitar setengah jam. Pengunjung tampak puas, anak-anakpun gembira memperoleh pengalaman baru.

Meninggalkan tempat ini saya berjalan melewati beberapa peralatan kuno yang dipajang di sana, diantaranya ada mesin pemboran (rock drill), kereta tambang (mine car) dan relnya, mesin pemboran inti (diamond drill), dsb, hingga saya tiba di sebuah bangunan toko yang di dalamnya ada museum mini yang menggambarkan sejarah tambang-tambang di daerah pegunungan Superstition.

Sekeluar saya dari museum sebenarnya saya berniat untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun saat saya berhenti sejenak di teras museum ini, saya merasa ragu-ragu untuk melangkah keluar. Sesaat mondar-mandir di teras bangunan ini sambil pura-pura memperhatikan struktur bangunan kuno biar tidak tampak seperti orang bingung. Saya merasa masih ada yang mengganjal di pikiran : Lha, tambangnya di mana?

Kemudian saya putuskan untuk masuk kembali ke museum dan menjumpai seorang wanita setengah tua, satu-satunya petugas yang ada di situ. Pertanyaan singkat saya ajukan : “Apakah tempat ini dulunya sebuah kota tambang?”. Dan jawab wanita itu : “Bukan, semua yang ada di sini adalah replika dari sebuah kota tambang jaman dulu”. “Termasuk wisata tambang?”, tanya saya lagi. “Ya”, jawabnya.

Dalam hati saya berkata : “Lha rak tenan” (benar, ‘kan), pantesan tadi masuk ke tambang bawah tanah kok tidak perlu memakai topi pengaman (hard hat). Pinter-pinternya orang cari duit. Sebuah kepintaran yang layak ditiru.

Si ibu petugas itu lalu melanjutkan penjelasannya bahwa dulu di daerah ini memang ada puluhan usaha pertambangan, dan tempat ini adalah hasil rekonstruksi dari sebuah kota tambang Old Mammoth. Kota tambang yang telah ditinggalkan sehingga menjadi kota hantu. Satu diantara nama tambang yang hingga kini sangat melegenda dan penuh misteri adalah Lost Dutchman Mine. Penjelasan si ibu ini memang telah membuat ganjalan pikiran saya sedikit terobati, meskipun inti pertanyaan saya sebenarnya belum terjawab.

***

Itulah, satu contoh kecil saja dari hasil sebuah kerja professional. Saya sangat yakin bahwa mereka yang ngurusi tempat wisata ini bukan berasal dari kalangan orang-orang yang bergelar kesarjanaan. Terlepas dari apakah penilaian saya ini benar atau salah, yang pasti adalah bahwa mereka punya pengetahuan dan kebanggaan akan daerahnya, punya ketrampilan, punya naluri untuk bekerja keras, dan punya komitmen yang tinggi untuk “menyelamatkan” kisah masa lalu desa mereka melalui media bisnis yang menguntungkan. Halal, lagi. Memang, sebuah kepintaran yang layak ditiru.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(5).   Legenda Tentang Lost Dutchman Mine

Sebuah wisata tambang singkat tapi bernuansa sebuah perjalanan panjang lintas waktu baru saja saya alami. Sebuah peniruan yang sangat baik atas sejarah masa lampau dari sebuah wilayah yang sebelum akhir abad ke-19 dulu pernah jaya oleh booming hasil tambang emas dan perak, dan lalu ditinggalkan masyarakatnya sehingga menjadi wilayah tak berpenghuni. Itulah kota hantu yang kini ramai dikunjungi orang dan hidup lagi, bukan sebagai kota tambang melainkan telah berubah menjadi satu sektor industri yang mampu membangkitkan kehidupan sosial-ekonomi generasi penerusnya.

Ada yang membekas di ingatan saya setelah mengunjungi obyek wisata bekas kota tambang Old Mammoth di pinggir selatan dataran tinggi Goldfield ini. Tambang-tambang memang sudah tidak beroperasi lagi, kemilau emas dan perak juga tidak lagi memancar, dan kehidupan kota juga sudah ditinggalkan masyarakatnya, hingga disebut sebagai the ghost town (kota hantu).

Maka yang tinggal hanya puing-puing kota, sisa-sisa rongsokan peralatan tambang, dan kisah abadi tentang kejayaan masa lalu. Ketika elemen-elemen “tak berharga” ini disatukan, direkonstruksi, diberi sentuhan artistik, dilengkapi dengan assesori yang informatif, ternyata berhasil dijual dan terbukti dibeli orang.

***

Sambil melanjutkan perjalanan, ingatan saya melayang ke lima tahun yang lalu ketika saya meninggalkan tempat kerja saya di sebuah tambang emas bawah tanah di desa Lebong Tandai, Bengkulu Utara. Tambang ini adalah tambang emas bawah tanah pertama di Indonesia yang dikelola oleh swasta, PT Lusang Mining. Cukup sepuluh tahun mencapai masa kejayaan sejak Indonesia booming emas di era 70-80-an.

Tambang bawah tanah ini beroperasi dengan membuka kembali sebuah tambang lama bekas peninggalan jaman Belanda. Peralatan dan fasilitas baru baik untuk pekerjaan rehabilitasi, pengembangan, penambangan maupun pengolahannya, kemudian didatangkan guna menunjang operasi yang berskala lebih besar. Hingga saat pemilik modal memutuskan untuk mengakhiri operasi penambangan dan meninggalkannya, semua peralatan dan fasilitas tambang masih ada di sana. Apa yang terjadi kemudian?

Dari cerita yang sempat saya dengar, masyarakat pencari emas serta-merta datang dari berbagai wilayah di Indonesia menyerbu Lebong Tandai, mengkapling-kapling lokasi, lalu mengusahakan penambangan sendiri yang menurut terminologi pemerintah disebut sebagai PETI (penambang emas tanpa ijin) alias penambang liar. Semua orang seperti berebut kekuasaan atas bekas aset milik perusahaan. Entah bagaimana nasib tambang dan fasilitasnya itu kini.

Ingatan saya yang kedua menuju ke awal tahun 1983. Saat itu saya bersama empat orang teman terbang menuju Pulau Singkep, di Riau Kepulauan, dalam rangka melakukan Kerja Praktek Lapangan di PT Tambang Timah sebagai syarat menyelesaikan tahap Sarjana Muda.

Masa kejayaan industri pertambangan timah memang sedang beranjak turun saat itu, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun saya masih bisa merasakan dan melihat betapa usaha pertambangan timah telah menyumbang sangat besar dalam perannya menghidupkan sebuah pulau terpencil di deretan kawasan Riau Kepulauan. Dua kota utama yang menjadi basis operasi PT Tambang Timah di sana adalah Dabo dan Raya, selain ada Pulau Karimun dan Kundur di sebelah utaranya yang menjadi satu bagian dari Unit Penambangan Timah Singkep (UPTS).

Operasi tambang semprot (hydraulic mining) dan kapal keruk (dredging) meninggalkan kolong-kolong bekas tambang (semacam kolam raksasa) yang lalu dicoba untuk dimanfaatkan sebagai usaha perikanan, meskipun sejauh ini saya tidak mendengar cerita suksesnya. Hal yang kabarnya kurang lebih sama juga terjadi di Pulau Belitung dan Bangka.

Saya ingat betapa kota Dabo dan Raya yang juga banyak memiliki sarana dan prasarana bekas peninggalan Belanda, menunjukkan gairah kehidupan ekonomi yang melaju pesat. Sebagai dampak dari berkembangnya usaha penambangan timah, maka sektor pertanian terutama sayur-sayuran (tidak ada sawah di sana), perikanan, perhubungan, perdagangan, serta bidang jasa lainnya, seperti terdongkrak turut meramaikan aktifitas sosial-ekonomi. Selain PT Tambang Timah, di sana juga ada PT Riau Tin Mining yang mengoperasikan kapal keruk tercanggih saat itu.

Tiba saatnya timah “ambruk”, operasi menurun, karyawan dikurangi, dan akhirnya penambangan timah Singkep dihentikan. Akibatnya, aktifitas ekonomi terhenti, demikian halnya berakibat di sektor-sektor penunjang lainnya. Orang-orang pun lalu pergi meninggalkan pulau Singkep guna mencari penghidupan lain di tempat yang lain. Tinggallah Singkep dengan “borok-borok buminya” menjadi kota hantu.

Dari dua contoh nyata itu, saya berangan-angan tentang adakah kemungkinan untuk “suatu saat nanti” (diantara tanda petik) lokasi-lokasi bekas tambang yang kini ditinggalkan itu kelak akan dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata, entah wisata alam, museum, sejarah, dsb. Itu kalau memang secara geologis tidak lagi prospektif.

Kita punya pengetahuan, kita punya ketrampilan, kita punya sejarah kebanggaan, dan rasanya kita juga punya komitment untuk “menyelamatkan” masa lalu. Yang juga tidak kalah menariknya, di sana juga ada ceritera-ceritera legenda yang menyertainya. Sayangnya unsur-unsur itu kini masih sepotong-sepotong ada di sana-sini. Sehingga belum bisa direalisasikan menjadi satu kesatuan kerja yang professional. Barangkali masih perlu waktu, tapi entah sampai kapan ……..

Ya, barangkali “suatu saat nanti” ketika sebagian besar masyarakat Indonesia sudah beranjak dari golongan pra-sejahtera menjadi sejahtera, sehingga rekreasi sudah menjadi kebutuhan hidup. Kalau sudah demikian halnya, tentu para pemilik modal tidak akan segan-segan untuk berinvestasi. Atau, perlu terobosan lain?  

***

Menengok kembali tentang kota hantu di pegunungan Superstition ini, salah satu nama tambang yang cukup terkenal adalah Lost Dutchman Mine. Di balik nama itu terkandung ceritera legenda dan misteri yang tidak pernah habis tuntas dikisahkan. Ceritera tentang penemuan emas besar-besaran oleh seorang perantau asal Jerman bernama Jacob Waltz di akhir abad ke-19. Kabar penemuan emas itu lalu menyebar dan masyarakat pun berbondong-bondong berdatangan untuk mengadu nasib mencari emas. Namun ternyata tambangnya Pak Jacob ini tidak pernah diketemukan. Kok aneh?

Hingga kini, sudah banyak tulisan-tulisan yang mengkupas tentang penemuan emas oleh Jacob Waltz ini, lengkap dengan bukti-bukti klipping koran, arsip-arsip negara dan surat-surat pribadi bertulisan tangan yang kesemuanya otentik. Masyarakat pada masa itu percaya bahwa Jacob Waltz memang pernah menemukan emas di pegunungan Superstition. Namun, hingga Jacob meninggal tahun 1891 dalam usia 81 tahun, berbagai lokasi yang telah ditelusuri berdasarkan informasi yang ada, tidak pernah mengarah kepada diketemukannya lokasi tambangnya Jacob Waltz. Pada masa itu memang tidak mudah untuk membuka tambang di situ karena suku Indian masih sangat berkuasa.

Hingga abad ke-20, masih saja ada orang yang percaya bahwa tambang itu masih ada, dan upaya pencarian masih dilakukan orang, layaknya film-film mencari harta karun berpedoman pada peta buta. Namun sebagian orang lainnya skeptis, bahwa tambang itu tidak pernah ada. Sampai-sampai Biro Pertambangan Amerika mengadakan penelitian, dan dalam laporannya tahun 1982 menyimpulkan bahwa lokasi yang dicurigai sebagai tambangnya Pak Jacob ini secara geologis tidak mungkin ditemukan emas. Tidak ditemukan bukti adanya proses alterasi, mineralisasi, atau indikasi lain tentang pengendapan mineral.

Akan tetapi ceritera sudah terlanjur melegenda, dan tambangnya Pak Jacob yang “hilang” ini oleh sebagian orang lalu gampang saja disebut sebagai “Lost Dutchman Mine”. Terlepas dari soal benar pernah ada atau tidaknya tambang ini, ternyata ada ratusan publikasi atau artikel yang pernah ditulis orang berkaitan dengan legenda ini hingga sekarang. Artinya, legenda itu sendiri memang memberi fenomena menarik untuk dikaji baik dari sisi sejarah maupun geologi, dan tentu bisa menjadi inspirasi bagi sebuah karya sastra.

Sambil terus melanjutkan perjalanan saya mereka-reka, kenapa kok disebut Lost Dutchman Mine : Ya …, barangkali dulu di sana ada orang Jawa, sehingga Pak Jacob yang asalnya dari Jerman disebut londo (Belanda) Jerman, dan tambangnya pun oleh orang Jawa itu lalu disebut sebagai tambangnya wong londo (orang Belanda) yang hilang, “The Lost Dutchman Mine”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(6).   Menyusuri Rute Apache Trail

Lewat tengah hari, masih di hari Minggu, 6 Agustus 2000, setelah kepanasan berjalan berputar-putar di kota hantu, saya melanjutkan perjalanan ke timur menyusuri rute Apache (baca : Epaci) Trail. Hingga sekitar 20 kilometer, jalan yang saya lalui berupa jalan aspal mulus sehingga bisa melaju dengan kecepatan sekitar 70-80 km/jam sampai saya mencapai lokasi danau Canyon.

Rute Apache Trail ini membentang dari barat melingkar ke utara lalu ke timur, menghubungkan kota Phoenix dan Globe sepanjang 78 mil (sekitar 125 km). Jalur jalan ini dibangun tahun 1905 sebagai sarana transportasi untuk pembangunan bendungan Roosevelt. Disebut Apache Trail karena rute jalan ini dibangun sejajar dengan rute kuno suku Apache yang melalui lembah-lembah Salt River yang umumnya berupa daerah gurun.

Ini adalah rute yang sudah populer bagi wisatawan karena memberikan pemandangan alam dan melewati kawasan-kawasan yang cukup menarik dan bervariasi di sepanjang rutenya. Antara lain melewati daerah-daerah gurun, pegunungan, jurang, tepian danau, peninggalan bangunan tempat tinggal di lereng pegunungan, bekas kota tambang, dan lembah-lembah yang tererosi. Yang namanya gurun di daerah ini tentu tidak sama dengan kenampakan gurun pasir yang kita kenal selama ini, meskipun sama-sama berupa bentang alam terbuka yang nampak kering dan gersang serta miskin pepohonan di seluas mata memandang. 

Ada empat danau besar di sekitar rute ini, yaitu danau Saguaro, Canyon, Apache dan Theodore Roosevelt. Keempat danau tersebut sebenarnya adalah danau buatan sebagai akibat dari dibangunnya bendungan untuk irigasi maupun pembangkit tenaga listrik. Keempat bendungan tersebut masing-masing bernama Stewart Mountain, Mormon Flat, Horse Mesa dan Theodore Rosevelt.

Adanya danau-danau tersebut setidak-tidaknya memberikan suasana lingkungan yang berbeda di tengah-tengah perbukitan tandus. Tempat itu menjadi banyak dikunjungi orang karena telah menjadi obyek wisata air. Secara umum danau-danau tersebut berbentuk memanjang mengikuti aliran Salt River.

***

Danau Saguaro dengan bendungan Stewart Mountain berada agak menyimpang ke utara, sehingga saya tidak sempat mendekatinya. Panjang danau ini sendiri sekitar 16 km berkelok-kelok dengan luas permukaan airnya sekitar 518 ha. Pembangunan bendungannya selesai pada tahun 1930 dengan tinggi sekitar 63 m dan lebar sekitar 384 m.

Baru ketika mencapai danau Canyon dengan bendungannya yang bernama Mormon Flat saya sempatkan untuk berhenti sejenak menikmati pemandangan alam danau dari tempat ketinggian. Rute jalannya memang berada di tempat lebih tinggi dari permukaan danau. Panjang danau ini juga sekitar 16 km dengan luas permukaan airnya hanya sekitar 380 ha. Bendungan ini selesai dibangun pada tahun 1925 dengan tinggi sekitar 68 m dan lebar 116 m. Di sepanjang penggal jalan ini tampak formasi-formasi batuan vulkanik yang berkenampakan menarik. Umumnya batuan-batuan ini terdiri dari abu vulkanis dan basalt yang terbentuk pada jaman Tersier sekitar 29 juta tahun yang lalu.

Beberapa kilometer setelah danau Canyon jalanan tidak lagi beraspal, melainkan jalan tanah bebatuan yang tentu saja sangat berdebu di musim panas seperti sekarang ini. Melewati penggal jalan tanah sepanjang sekitar 35 km hingga mencapai danau Roosevelt ini memang perlu lebih berhati-hati. Di beberapa bagian jalan ini sangat sempit dengan profil jalan yang menanjak serta menurun menyusuri tepat di lereng-lereng bukit terjal yang terkadang dinding batuannya tegak 90 dejadat, hingga kalau berpapasan dengan kendaraan lain salah satu mesti berhenti.

Masih di penggal jalan yang sama kira-kira di pertengahan rute sebelum tiba di danau Roosevelt, dari kejauhan tampak danau Apache yang berada di elevasi lebih rendah. Danau yang bentuknya memanjang sekitar 27 km ini mempunyai luas permukaan air sekitar 1.050 ha. Pertama kali air mulai mengisi lembah Salt River sebelum membentuk danau Apache terjadi pada tahun 1927 setelah selesainya pembangunan bendungan Horse Mesa yang tingginya sekitar 90 meter dan lebarnya sekitar 200 meter. 

Untuk mencapai pantai danau ini harus menuruni jalan yang cukup curam. Di pantai danau yang dikenal dengan sebutan Apache Lake Marina tersedia fasilitas restoran, penginapan dan penyewaan perahu motor bagi yang ingin memancing ke tengah danau atau hanya sekedar rekreasi. Di sekitar danau ini bisa dijumpai hutan tanaman pinus ponderosa.

Setelah melanjutkan perjalanan dengan hanya bisa melaju 30-40 km/jam melalui jalan tanah kering dan berdebu, kemudian saya tiba di bagian atas danau Roosevelt. Menyusuri pinggiran danau ini saya menyaksikan pemandangan danau yang cukup menarik dengan latar depan adalah bendungan Roosevelt dan jembatan jalan State Road (SR) 188 yang melintasi di pinggir danau. Ini adalah danau terbesar di antara keempat danau di sepanjang rute Apache Trail. Paling mudah dijangkau karena sudah tersedia jalan yang bagus dari arah utara maupun timur, serta mempunyai fasilitas wisata yang lengkap. Karena itu tempat ini setiap tahunnya didatangi oleh tidak kurang dari satu juta orang wisatawan.

Pertama kali danau ini terbentuk oleh pembangunan bendungan Roosevelt yang pekerjaan konstruksinya dimulai pada tanggal 6 September 1906 dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Theodore Roosevelt pada tanggal 10 Maret 1911. Pada tahun 1996 yll, bendungan ini dimodifikasi dan ditinggikan menjadi sekitar 109 m. Akibatnya bendungan ini menjadi tampak berstruktur lebih modern dan permukaan danau menjadi lebih luas bahkan terluas di wilayah Arizona.

Danau ini membentang arah tenggara – barat laut dengan panjang sekitar 40 km dan lebar 3,2 km. Luas permukaannnya tercatat pada saat air tinggi mencapai sekitar 7,690 ha (sekitar 77 km2). Area ini menjadi salah satu pilihan untuk tempat rekreasi karena memang tersedia sarana yang cocok untuk berkemah, melintas alam (hiking), berperahu, bersepeda gunung, dan tentu saja memancing dan olah raga air lainnya. Lomba mancing kelas dunia setiap tahun digelar di danau ini. Banyak wisatawan juga memilih danau ini untuk berski air, berlayar, berselancar angin, atau sekedar berenang.

Seorang teman kerja menyarankan untuk mencoba berenang di danau ini, katanya di musim panas seperti ini berenang atau berendam di danau Roosevelt akan terasa seperti berendam di bak kamar mandi yang hangat airnya. Tentu saja tidak saya penuhi sarannya itu, kecuali kalau saya tinggalnya di sekitar situ sehingga punya waktu yang longgar.

Bagi saya cukup kalau saya sempat datang, melihat dan pulang (vini-vidi-bali). Karena yang paling utama bagi saya adalah : sempat melihat sisi lain dari yang tampak terlihat, yang biasanya justru tidak dilihat oleh umumnya orang lain. Seringkali saya menemukan sesuatu yang menarik di sana, tersirat informasi dan pelajaran yang sangat berharga.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(7).   Peninggalan Budaya Indian Salado

Hari sudah sore saat saya meninggalkan danau Roosevelt, dan perjalanan saya lanjutkan ke arah selatan menuju kota Globe untuk selanjutnya kembali ke Tempe. Belum jauh saya berjalan, sudah sampai di lokasi Taman Monumen Nasional Tonto, saat itu sekitar jam 4:15 sore. Ruang pusat pengunjung (visitor center) masih buka karena jam kerjanya hingga jam 5:00 sore. Ternyata di tempat ini ada peninggalan budaya suku Indian Salado, yaitu sisa bangunan rumah kuno di sebuah rongga atau semacam gua kecil di lereng pegunungan, di wilayah Hutan Taman Nasional Tonto.

Sebagai pemegang National Park Pass, saya bebas biaya US$5 untuk memasuki tempat ini dan saya bisa memperoleh segala informasi yang saya perlukan. Untuk mencapai ke lokasi peninggalan kuno di lereng gunung ini harus ditempuh dengan berjalan kaki mendaki sejauh kira-kira 1 km. Tidak terlalu tinggi memang, tapi cukup membuat napas ngos-ngosan.  Sebelum berjalan menuju monumen saya dipesan agar paling lambat jam 6:00 harus sudah tiba kembali ke ruang pengunjung. Saya perkirakan paling-paling satu jam saya sudah kembali.

Setiba saya di lokasi peninggalan kuno ini ternyata di sana masih ada pengunjung lain, dan masih ada petugas yang dengan setia menjawab setiap pertanyaan para pengunjung serta menerangkannya dengan sangat lancar tentang seluk-beluknya bangunan kuno ini dan bagaimana upaya pemeliharaannya. Yang terakhir ini yang sebenarnya justru lebih menarik perhatian saya, dan bukan bangunan peninggalan kunonya.

Kalau soal peninggalan budaya kuno, rasa-rasanya di Indonesia ini hampir setiap Kabupaten memilikinya. Mulai dari yang terbesar candi Borobudur sampai peninggalan keraton hingga ke arca-arca kecil yang berumur ratusan tahun dari jaman Hindu, lengkap dengan ceritera legenda dan sejarahnya. Saking banyaknya, hingga “cenderung” tidak menarik lagi untuk dilihat, apalagi diampiri (dikunjungi).

Akibatnya, lebih dua puluh tahun saya ber-KTP Yogyakarta dan sempat lima tahunan tinggal di radius 250 meter dari Taman Sari, tapi tidak pernah tahu ada apa di sana, apa lagi paham ceritanya. Atau, teman saya yang asli Bali, tapi ya cengengesan saja kalau ditanya tentang apa dan bagaimana Tanah Lot. Itu kan urusannya para turis ……..

***

Petugas Taman Nasional yang berseragam khas baju warna khakhi, dengan telaten menjelaskan setiap jengkal dari bangunan kuno yang memang tidak besar itu. Karena hanya seperti menempel di rongga yang ada di lereng pegunungan. Di beberapa tempat tertulis : Dilarang bersandar, memanjat, menduduki atau menyentuh bangunan, karena khawatir keutuhan bangunan kuno itu akan terganggu. Benar-benar diperlakukan seperti bala pecah (barang mudah pecah). Petugas ini tidak segan-segan menegur pengunjung kalau dilihatnya ada pengunjung yang, entah karena tidak tahu atau ingin coba-coba, melanggar aturan yang ada.

Dari studi arkeologi diketahui bahwa suku Salado dan sebagaimana suku-suku Indian lainnya adalah hidup dengan cara bertani, yaitu di lembah Salt River yang kini terendam danau Roosevelt. Dari kelebihan hasil produksi pertanian mereka saat itu, kemudian mereka saling barter dengan hasil pertanian dari suku lain. Pada masa itu mereka sudah menjalin hubungan bisnis antar suku.

Mereka adalah suku nomaden. Sekitar tiga abad mereka tinggal di tempat itu lalu secara berkelompok pula pindah ke tempat lain. Meninggalkan bekas bangunan rumah yang selanjutnya tererosi, termakan oleh angin dan teriknya cahaya matahari, hingga akhirnya kini tinggal reruntuhannya saja yang masih bisa dikenali.

Sayangnya tidak diketemukan catatan tentang keberadaan mereka kemudian, juga tidak ada peninggalan yang menunjukkan tentang kehidupan bermasyarakat mereka saat itu. Hal yang paling berharga saat ini untuk menyingkap kehidupan suku Salado adalah melalui lukisan-lukisan di dinding, jejak asap api dari bekas tempat mereka memasak, benda-benda tembikar atau gerabah, dan sisa reruntuhan rumah mereka.

Sejak Monumen Nasional Tonto diresmikan oleh Presiden Theodore Roosevelt tahun 1907 di bawah Undang-Undang Purbakala tahun 1906, tidak satu pun benda-benda di situ boleh diganggu, apalagi diambil sisa-sisa reruntuhannya termasuk benda-benda peninggalan lainnya. Kalau ingat ini, eh …..lha kok Candi Prambanan di sana malah dipreteli kepalanya……..

Secara fisik, peninggalan rumah kuno budaya Salado ini struktur bangunan maupun arsitekturnya kelihatan biasa-biasa saja. Batu-batu belah disusun dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semen perekat. Cara perekatannya pun tidak terlalu rapi dengan arsitektur sangat sederhana, terkesan asal ada dinding penyekat antar ruang-ruang, lalu di bagian atasnya dipasang usuk-usuk kayu. Meskipun harus diakui bahwa itu adalah hasil pekerjaan yang tidak mudah kalau mengingat pembangunannya dilakukan di rongga-rongga di lereng bukit di tempat yang tinggi.

Dari sisi ini saya masih lebih bangga kalau melihat bangunan candi di Jawa yang menurut alkisah disusun dengan menggunakan putih telur sebagai perekatnya (entah telurnya siapa saja, pasti banyak jumlahnya), dengan arsitektur yang lebih bernilai artistik dan umumnya berkomposisi simetris. Sehingga terkesan, siapapun yang membangun candi-candi itu pasti mempunyai budaya yang telah maju pada jamannya. Sementara budaya Salado yang ditemukan peninggalannya ini hidup pada sekitar abad ke-13 hingga 15, jauh lebih muda dibanding budaya Hindu yang membangun candi-candi di Jawa.

Namun dari sisi yang lain, saya menjadi sangat tidak bangga kalau ingat rasa memiliki bangsa saya terhadap peninggalan-peninggalan kuno kok masih memprihatinkan. Padahal kita mempunyai peninggalan kuno yang jauh lebih indah, bernilai karya seni tinggi dan banyak jumlahnya, dibandingkan dengan yang saya jumpai di Taman Monumen Nasional Tonto.

Tetapi kenapa mereka bisa demikian perduli dan sungguh-sungguh menjaga, merawat dan memberikan apresiasi terhadap monumen nasional yang sangat bernilai historis dan perlu dilestarikan. Sementara kita, boro-boro berkesadaran untuk menjaga dan merawatnya, lha wong kalau enggak ketahuan malah dicolongin dan dijual. 

Terlepas dari soal apakah ini ada kaitannya dengan faktor ekonomi atau kemiskinan atau kesejahteraan sehingga tidak urus dengan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan hajat hidup, yang jelas ada satu tingkat kepedulian yang hilang dari kehidupan kita, dan rasanya itu perlu ditemukan kembali.

Kalau demikian, lalu menjadi tanggung jawab siapa untuk “membangunkan” bangsa kita, yang “seperti katak dalam tempurung” ini? Merasa dirinya yang paling baik, hanya gara-gara tidak pernah (mau) tahu bahwa di luar sana ada yang lebih baik. Anehnya tapi nyatanya, kalau ada yang memberitahukan tentang hal yang lebih baik itu malah tersinggung dan terkadang  malah ngonek-onekke (memaki-maki).

Terus terang, sebenarnya saya sendiri sebagai bagian dari katak itu merasa miris (ngeri dan berat hati) untuk mengatakan hal ini, tapi lha kok nyatanya memang demikian. Masih lebih enak kalau ngomongnya sama Gus Dur, paling-paling dijawab : “begitu saja kok repot ……”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(8).       Bukit-bukit Merah Di Sedona

Hari Sabtu, 12 Agustus 2000, sekitar jam 10:30 pagi saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah utara melalui jalan bebas hambatan Interstate 17 yang menuju kota Flagstaff, sejauh kira-kira 225 km. Akan tetapi bukan Flagstaff tujuan saya, karena bulan April yang lalu saya sudah ke kota kecil yang berada di sebelah selatan Grand Canyon ini. Beberapa kilometer sebelum masuk kota Flagstaff saya berbelok ke barat lalu belok ke selatan lagi mengikuti jalan Highway 89A menuju kota Sedona.

Highway 89A ini dapat dikatakan letaknya sejajar dengan Interstate 17, dan saya sengaja menyurusi jalan ini balik ke selatan dari arah utara, karena dari sana saya akan melewati beberapa obyek wisata alam pegunungan yang menarik. Daerah ini memang mempunyai bentang alam yang sama sekali berbeda dibandingkan umumnya daerah Arizona yang berupa dataran gurun.

Daerah pegunungan di sini suasananya lebih hijau oleh banyaknya pepohonan, suhu udara juga lebih sejuk dibanding kota Phoenix dan kota-kota lainnya di selatan. Namun tetap saja gugusan bukit-bukit terjal dan tandus menyelip di antara perbukitan hijau. Justru gugusan bukit-bukit inilah yang ternyata memberi pemandangan indah yang khas karena warna batuannya yang kemerah-merahan dan bentuknya yang monumental sehingga sering menjadi simbul bagi kebanggaan masyarakat kota Sedona dan sekitarnya.

***

Rute Highway 89A dari Flagstaff menuju Sedona sepanjang 40 km ini dikenal sebagai salah satu jalur wisata paling indah di Amerika. Bukit-bukit yang merupakan formasi batuan gamping dan lempung merah menghiasi sepanjang perjalanan rute ini. Bukit-bukit merah berada di sebelah barat jalur jalan dua lajur dua arah yang berkelok-kelok mendaki dan menuruni lereng pegunungan. Di antara jalan dan bukit-bukit itu membentang lembah dan sungainya.

Para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan menyusuri rute ini memang perlu ekstra hati-hati. Ya, karena dengan sendirinya perhatian akan terbagi antara menikmati pemandangan indah di sepanjang rute dan waspada terhadap kendaraan lain karena jalan yang berkelok dengan jurang di sebelahnya.

Tiba di Oak Creek Canyon, saya menyempatkan untuk berhenti sebentar. Sekedar menghirup hawa segar pegunungan dan menikmati pemandangan yang tidak biasanya saya jumpai di Arizona. Lembah Oak Creek membentang sepanjang 25 km dengan lebarnya ada yang mencapai 1.5 km, dengan dinding tebingnya berwarna putih, kuning dengan dominasi warna kemerah-merahan, dan di sela-selanya menyebar pepohonan pinus, cypress dan juniper.

Melanjutkan ke arah selatan, saya tiba di Slide Rock State Park. Masih di bilangan lembah Oak Creek, di dasar sungainya dijumpai bidang luncuran air sepanjang kira-kira 20 meter yang terbentuk oleh proses alam. Di musim panas seperti ini, tempat ini menjadi pilihan orang-orang tua, muda maupun anak-anak untuk bermandi dan berendam di sungai. Mereka memanfaatkan tempat ini untuk meluncur di air sungai di dasar lembah Oak Creek. Yang menarik dari obyek mandi sungai ini adalah air sungainya setiap hari dimonitor kualitasnya. Tempat ini pernah ditutup untuk umum gara-gara diketahui terkontaminasi oleh bakteri yang tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk itu disediakan nomor tilpun khusus (hotline) yang bisa dihubungi setiap saat untuk mengetahui kondisi airnya.

Lebih ke selatan lagi sebelum mencapai kota Sedona, kali ini saya menjumpai pemandangan bukit merah yang beraneka bentuknya, di kejauhan sebelah-menyebelah jalan. Namun cuaca siang itu tiba-tiba hujan deras, padahal saya sedang berada di pinggir sungai di dekat jembatan, karena dari sini tampak lebih jelas pemandangan bukit-bukit merah yang menggunung di kejauhan sebelah timur dan barat jalan.

Ada anjungan atau lebih tepat semacam tempat terbuka yang dilengkapi pagar pengaman di sebelah kiri dan kanan jalan di pinggiran sungai. Tempat ini memang disediakan untuk para wisatawan agar dapat lebih leluasa melihat pemandangan. Rupanya antara kedua anjungan tersebut bersambungan melalui bawah jembatan. Sangat kebetulan tentunya, di bawah jembatan itulah saya bisa berteduh sementara menunggu hujan reda. Setelah agak lama menunggu ternyata hujan tidak juga mereda, akhirnya saya putuskan untuk berlari hujan-hujanan menuju ke tempat parkir, lalu melanjutkan perjalanan. Lumayan basah.

Di antara bentuk-bentuk bukit merah di daerah ini ada yang dikenal dengan nama Courthouse Rock, Bell Rock dan Cathedral Rock. Dua yang terakhir ini yang paling terkenal dan sering ditampilkan menghiasi kartu pos, kalender atau foto-foto promosi pariwisata.

Akhirnya saya sampai di kota Sedona, sebuah kota kecil tapi ramai oleh wisatawan. Satu hal yang paling membuat frustrasi sejak dari Oak Creek Canyon hingga masuk ke Sedona adalah mencari tempat parkir. Terbatasnya area terbuka di antara lajur jalan, lembah dan bukit-bukit, membuat lokasi parkir kendaraan sangat terbatas, termasuk di Sedona. Saat hari libur seperti hari ini, memperoleh tempat parkir menjadi tidak mudah. Sementara parkir di sembarang tempat di pinggir jalan tentu saja tidak diperbolehkan.

Seperti yang saya alami ketika hendak berhenti di Slide Rock, setelah memutar balik dan memutar lagi, baru akhirnya saya dapatkan lokasi agak lebar di pinggir jalan sehingga masih ada jarak aman antara kendaraan dengan badan jalan. Begitulah aturannya untuk bisa parkir di pinggir jalan, itupun di luar kota yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk parkir secara “normal”.

Kota Sedona sendiri berada pada ketinggian 1.340 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh sekitar 7.700 jiwa. Menurut sejarahnya, nama Sedona diambil dari nama seorang wanita, istri dari Theodore Schnebly salah seorang dari sedikit keluarga yang pada tahun 1901 nekad memulai kehidupan di daerah yang waktu itu masih dianggap sangat terpencil adoh lor adoh kidul (jauh dari utara maupun selatan).

Mula-mula daerah itu mau diberi nama “Schnebly Station”, tapi rupanya oleh kantor pos terdekat masa itu dianggap terlalu panjang dan merepotkan penulisannya. Maka dicarikanlah nama yang lebih pendek, lalu diambillah nama “Sedona”. Pak Theodore ini belakangan diangkat menjadi kepala kantor post pertama di daerah itu.

Kini, Sedona menjadi kota yang cukup terkenal dan menjadi salah satu kota tujuan wisata setelah Grand Canyon. Setidak-tidaknya 4 juta wisatawan dari seluruh dunia datang ke tempat ini setiap tahunnya (saya jadi ingat, kita pernah mau mendatangkan 5 juta wisatawan asing ke Indonesia dalam setahun saja susahnya setengah mati).

Pemandangan alamnya yang khas dengan tonjolan bukit-bukit berwarna kemerah-merahan di sepanjang rute menuju Sedona dari arah utara telah mengundang para sutradara film layar lebar maupun televisi untuk merekam filmnya di sekitar daerah ini. Ternyata hal ini memang bisa menjadi promosi yang efektif bagi kota Sedona, sehingga makin dikenal oleh para wisatawan.

***

Dari kota Sedona, saya melanjutkan menuju ke selatan ke arah kota Jerome dan Prescott. Belum jauh meninggalkan pusat kota Sedona, saya berbelok ke timur. Ada jalan lingkar yang menuju ke Red Rock State Park. Taman Red Rock seluas 115 ha ini berupa dataran agak tinggi yang di tengahnya berdiri tegak bukit warna kemerahan sama seperti Oak Creek. Untuk masuk ke tempat ini saya mesti membayar US$5, karena ternyata taman ini tidak termasuk dalam kategori National Park, melainkan State Park yang dikelola secara lokal oleh Pemda setempat. Kali ini kartu pass saya tidak berlaku.

Tempat ini menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pelestarian lingkungan, sehingga daerah ini tertutup untuk kegiatan berkemah karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan flora maupun fauna yang ada. Kegiatan alam hanya di siang hari, dan para wisatawan pun diharuskan tetap melewati jalan setapak yang disediakan. Umumnya para wisatawan hanya akan berada di pinggir luar dari taman ini, dimana akan dijumpai aliran sungai yang jernih berbatu-batu dengan latar belakang menjulang tinggi bukit berwarna kemerahan.

Sebegitu ketatnya aturan ditegakkan jika memang dianggap perlu, demi kepentingan pelestarian ekosistem yang ada. Dan ternyata orang-orang (wisatawan maupun penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya) sangat patuh dan menghargai aturan yang demikian ini. Satu lagi perasaan gumun (heran) muncul di pikiran saya. Ya, barangkali karena pembandingnya adalah “semangat tidak patuh dan tidak menghargai” yang selama ini sering saya jumpai di kampung saya yang jauh di katulistiwa sana.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(9).   Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung

Masih di hari Sabtu, 12 Agustus 2000, hari telah menjelang sore ketika saya tiba di jalur panjang yang menanjak menjelang kota Jerome. Hujan deras mengguyur di sepanjang jalur ini. Di ketinggian lereng barat laut gunung Mingus, sudah nampak bayang-bayang kota Jerome yang saat itu agak berkabut. Hingga akhirnya di sekitar km ke-86 dari kota Flagstaff, saya sampai di jalur jalan yang sempit dan berbelok-belok memasuki kota Jerome.

Sudah sekitar jam 5 sore dengan suasana kota tidak terlalu ramai tapi saya masih ketemu beberapa wisatawan di beberapa sudut kota. Hujan masih menyisakan rintik-rintiknya, dengan bekas hujan deras tampak membasahi kota. 

Jerome, adalah sebuah kota tua yang lebih seabad yang lalu sempat jaya karena menjadi salah satu kota tambang terpenting di Arizona, bahkan untuk daratan Amerika utara. Lokasinya berada di lereng gunung yang cukup curam, sehingga jalan yang membelah melewati kota dan sekarang bernama Highway 89A, dibangun zig-zag, guna mengurangi derajad kemiringannya. Layaknya ramp (jalan melandai) di sebuah open pit (tambang terbuka) yang menghubungkan bagian bawah dan bagian atas kota. 

Rute Highway 89A, melintasi kota ini berubah menjadi jalur jalan yang sempit di sela-sela bangunan-bangunan kuno yang saling berhimpitan dan masih dipertahankan keasliannya. Agaknya di kota ini tidak dikenal jargon “demi pembangunan maka jalan harus dilebarkan dan bangunan di pinggirnya harus dimundurkan”. Kenyataannya toh kenampakan jalan dan bangunan di pinggirnya tetap terkesan rapi, bersih, enak dipandang dan lalu lintas juga lancar. Padahal arus lalu lintas cukup dikendalikan dengan pemasangan rambu batas kecepatan 20 mil/jam (sekitar 32 km/jam).

Jerome memang bukan kota yang padat penduduknya, kota ini kini hanya dihuni oleh sekitar 470 jiwa penduduknya. Terletak pada ketinggian sekitar 1660 m di atas permukaan laut. Memandang ke bawah dari bagian atas kota, tampak pemandangan indah bagian bawah kota yang didominasi oleh bangunan-bangunan kuno yang umumnya berkonstruksi tinggi dibandingkan dengan bangunan-bangunan baru.

***

Kota Jerome memiliki sejarah yang sangat panjang sejak ratusan tahun yang lalu ketika Arizona masih belum menjadi bagian dari Amerika. Resminya kota ini terbentuk pada tanggal 8 Maret 1899. Nama kota ini diambil dari nama seorang pemodal dari New York, Eugene Murray Jerome, yang pertama kali membiayai operasi penambangan melalui United Verde Mining Company. Anehnya, Pak Jerome ini selama hidupnya belum pernah berkunjung ke kotanya. Operasi penambangannya dikendalikan dari New York.

Pertama kali mineral diketemukan di daerah ini pada tahun 1876. Perusahaan tambang United Verde sendiri sejak tahun 1889 sempat menghasilkan tembaga, emas, perak, seng dan timbal senilai lebih dari US$1 milyar. Tentu saja hal ini membuat kota tambang Jerome menjadi incaran para pendatang termasuk para imigran yang datang mencari kerja dan mengejar impian untuk segera meraih keberuntungan.

Kota Jerome pun tumbuh dengan pesat dan menjadi kota yang padat dan sibuk. Dalam tempo singkat, kota Jerome telah dipadati dengan sekitar 15.000 jiwa. Berbagai peralatan modern untuk menunjang operasi penambangan dan pengolahan mineral didatangkan. Tambang bawah tanah (underground) serta operasi pabrik pengolahannya segera saja merubah wajah kota Jerome menjadi kota yang tidak teratur. Polusi asap hitam menyelimuti kota, dan mematikan pepohonan serta vegetasi lainnya di sekitar kota di lereng gunung.   

Hingga sampai di awal abad 20, Jerome menjadi kota yang tidak pernah tidur. Belasan hotel, bar dan rumah-rumah pelacuran mewarnai kehidupan kota tambang ini. Belgian Jenny, ratu honky-tonk dari rumah-rumah cinta adalah seorang mucikari yang paling top pada masa itu. Perjudian, minuman keras dan pemakaian obat-obat terlarang telah menjadi bagian dari kehidupan kota tambang ini. Orang-orang muda berdatangan, menghabiskan putaran hidupnya dalam kerja dan kenikmatan yang sepertinya tanpa akhir. Hingga masa Perang Dunia I, kota ini semakin memuncak kejayaannya.    

Tanpa disadari, berbagai potensi bencana pun semakin mengancam kehidupan kota tambang yang sepertinya semakin kurang terkendali. Penggunaan dinamit untuk operasi peledakan, pengoperasian kerangkeng (cage) untuk menaik-turunkan pekerja ke lorong-lorong bawah tanah melalui sumuran tambang (shaft), runtuhnya lorong-lorong bawah tanah serta pengoperasian alat-alat berat, adalah kombinasi sumber bencana yang sangat potensial.

Sekitar tahun 1920-an, sebuah ledakan dahsyat dinamit telah menyebabkan keretakan, lalu longsor. Jutaan ton batu runtuh dari bukit dan menimbulkan suara gemuruh yang sangat dahsyat dan menimbulkan awan debu menyelimuti kota. Korban manusia tak terhindarkan lagi.

Dalam sejarahnya, ternyata kota Jerome ini memang tidak pernah lepas dari ancaman bencana. Paling tidak tercatat ada empat kali terjadi kebakaran hebat yang sempat membuat kota Jerome rata dengan tanah, yaitu tahun-tahun 1894, 1897, 1898 dan 1899. Namun setiap kali kota dibangun kembali, setiap kali pula kebakaran terjadi kembali.   

Ketika Amerika mengalami depresi ekonomi tahun 1930-an, produksi tambang pun mengalami penyurutan. Pada masa Perang Dunia II, kehidupan tambang agak bersinar lagi, namun tidak berlangsung lama. Operasi penambangan masih dilanjutkan dengan sistem tambang terbuka (open pit) karena masih dijumpai kandungan bijih yang kaya.

Hingga akhirnya tahun 1953 ketika operasi penambangan dihentikan, kota Jerome lalu ditinggalkan oleh ke-15.000 orang warganya. Hanya ada sekitar 50 orang yang masih bertahan, dan berubahlah Jerome menjadi seperti kota hantu. Bekas kota tambang yang nangkring di lereng gunung itu meninggalkan lorong-lorong tambang bawah tanah sepanjang sekitar 140 km, layaknya lubang-lubang tikus di bawah kota Jerome.

***

Lalu seperti apa kota Jerome kini? Penduduknya yang masih tinggal di kota ini sejak operasi tambang ditutup, mereka kebanyakan adalah bekas pegawai tambang dan para pensiunan, menyadari bahwa Jerome mempunyai potensi untuk “dijual” kepada para wisatawan. Kota yang kemudian dijuluki sebagai “The Most Unique City in America”, lalu berbenah diri dan mengorganisasikan diri.

Banyak sisa-sisa bangunan sejak kebakaran tahun 1894 dan 1899 kini masih ada, sebagian telah selesai direstorasi dan sebagian lainnya menyusul. Karena lokasinya yang berada di lereng gunung dengan kemiringan rata-rata 30 derajad, menyebabkan beberapa bangunan telah runtuh dan longsor.

Namun masih banyak sisa-sisa bangunan lama yang kini mempunyai “nilai jual” tinggi di mata wisatawan. Diantaranya adalah bekas penjara kota, lalu ada bagian kota yang pernah disebut distrik Cribs yang mempunyai julukan menyakitkan sebagai prostitution row, bekas bangunan hotel, rumah sakit, gereja, sekolah dsb. Termasuk dua tambang bonanza, yaitu tambang United Verde dan the Little Daisy yang sempat meraih masa kejayaan sebelum terjadinya depresi ekonomi tahun 1930-an. 

Sejenak saya memarkir kendaraan, lalu berjalan kaki beberapa puluh meter menyusuri kota Jerome yang sore itu masih gerimis dan mulai sepi. Di satu sudut kota ada sebuah bangunan kuno yang di dalamnya digelar museum mini, diantaranya memaparkan sejarah panjang kota Jerome sebagai kota tambang.

Para pensiunan pekerja tambang yang dulu bertahan ketika Jerome jatuh, dengan upayanya kemudian untuk menyelamatkan sisa-sisa peninggalan para orang tua, kerabat atau rekan-rekan mereka dulu, kelihatannya membuahkan hasil. Kini kota Jerome hidup kembali, tidak hiruk-pikuk karena memang tambang tidak ada lagi, melainkan kehidupan yang lebih bergengsi karena dikunjungi oleh wisatawan dari mana-mana.

Kabarnya, ada perusahaan yang sekarang sedang mengincar potensi mineral yang memang masih ada di bawah kota Jerome. Akankah Jerome kelak akan mengulangi sejarahnya menjadi kota tambang lagi? Sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi perusahaan itu, karena itu artinya sama saja dengan menghancurkan kembali kota Jerome, mengingat saat ini saja kota Jerome berdiri di atas lorong-lorong bekas tambang yang cukup riskan terhadap kemungkinan longsor atau runtuh.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(10).   Taman Nasional Gila

Hari Minggu, 13 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 pagi saya melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate 60. Hari itu saya merencanakan perjalanan agak jauh, menuju sisi timur dataran Arizona yang berbatasan dengan negara bagian New Mexico. Setiba di ujung jalan bebas hambatan, saya sempatkan untuk mengisi BBM dan membeli beberapa botol air mineral untuk bekal perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian, di mil ke 54 (sekitar 86 km), saya tiba di kota Superior. Kota ini dulunya adalah sebuah kota tambang perak dan kini berkembang cukup ramai dan kelihatannya tidak “sempat” menjadi kota hantu.

Melaju ke timur lagi sejauh sekitar 27 km, saya tiba di kota kecil Miami (ini bukan kota Miami yang terkenal di pantai timur Florida). Sekitar 10 km kemudian saya tiba di kota Globe. Jalur antara kota Superior dan Globe merupakan jalur yang enak dilalui, selain jalannya yang mulus dengan lalu lintas tidak terlalu padat, tapi juga berpemandangan indah. Itu karena rute ini membelah Devil’s Canyon yang dinding-dindingnya menampakkan dengan jelas strata batuannya dan mempunyai punggungan bukit yang berbentuk runcing-runcing serta di beberapa tempat berbentuk seperti menara, dengan warna khas kemerah-merahan.

Kehidupan sebagai kota tambang mewarnai kedua kota Miami maupun Globe. Komunitas tambang di Globe terjadi pertama kali sekitar tahun 1860-an, saat booming produksi perak, lalu berikutnya kota ini juga berjaya dengan hasil tembaga. Hingga kini masih ada operasi tambang tembaga di kawasan Miami – Globe.

Salah satu perusahaan raksasa pertambangan Amerika, Phelps Dodge Corporation, kini masih mengoperasikan tambang dan pabrik peleburannya di kawasan Globe – Miami. Saat melewati kota Miami ini tampak di sebelah utara jalan berdiri pabrik peleburan (smelter) dan pemurnian (refinery) tembaga serta produk-produk sampingannya seperti emas, perak, selenium dan tembaga sulfida.

Meskipun Phelps Dodge dalam upayanya untuk meningkatkan effisiensi perusahaannya telah mengurangi kegiatan tambang tembaganya di Miami, namun tahun 1999 Phelps Dodge Mining Company mengakuisisi Cyprus Amax Minerals Company untuk menguasai 100% kepemilikan pabrik pemurnian tembaga di Miami. Korporasi ini menghasilkan sekitar 36% dari produksi tembaga di Amerika.

  

***

Selepas dari kota Globe, saya melanjutkan perjalanan lebih ke timur melalui jalan Highway 70 menuju kota Stafford hingga sampai di pertigaan dengan Highway 191. Ketika tiba di pertigaan inilah saya baru tersadar dan teringat bahwa sebenarnya saya baru saja melakukan “napak tilas” perjalanan saya tahun 1996 ketika berkunjung ke tambang tembaga Morenci. Karena empat tahun yang lalu saya hanya sebagai penumpang, maka tidak terlalu memperhatikan rutenya. Tapi kini saya ingat, bahwa saya pernah berada di tempat ini.

Pada bulan Maret 1996, dari pertigaan ini saya bersama tiga orang rekan kerja membelok ke Highway 191 menuju ke arah utara. Sekitar 55 km kemudian akan mencapai kota Morenci. Morenci adalah juga kota tambang karena di sini ada sebuah tambang tua tembaga yang dioperasikan oleh Phelps Dodge Mining Company. Tambang ini sudah beroperasi sejak tahun 1937 hingga sekarang.

Ketika korporasi yang mula-mula didirikan bersama oleh Anson Greene Phleps dan William Earl Dodge ini memutuskan untuk membuka tambang terbuka di Morenci, sebenarnya Amerika sedang dilanda depresi ekonomi yang luar biasa, yang dikenal dengan Great Depression. Tidak lama kemudian pecah Perang Dunia II, dan lalu tiba-tiba tembaga menjadi komoditi yang sangat dibutuhkan. Maka produksi tembaga pun menjadi strategis bagi pertahanan bangsa. Ya, karena untuk mensuplai bahan persenjataan perang.

Kini, tambang Morenci rata-rata setiap hari menghasilkan 800.000 ton batuan dan 135.000 ton di antaranya berupa bijih yang dikirim ke pabrik pengolahan (mill). Selain dari operasi tambang terbukanya, Morenci juga memiliki dua unit SX/EW (solution extraction/electrowinning), serta sebuah konsentrator. Karena itu tambang ini menyumbang sekitar 25% dari seluruh produksi tembaga yang dihasilkan oleh Phelps Dodge.

Barangkali dilandasi oleh kebanggaan atas sejarah panjang masa kejayaan tambang ini, maka kini tambang Morenci memberikan layanan masyarakat berupa wisata tambang (mine tour) ke sebuah tambang yang masih beroperasi, dengan tanpa dipungut biaya apapun. Sebuah kontribusi yang bisa tak ternilai harganya bagi masyarakat awam yang tidak pernah tahu tentang bagaimana sebuah tambang beroperasi. Kelak, pengetahuan dan pengalaman semacam ini pasti akan mampu memberikan pemahaman dan wawasan baru yang tak terduga bagi mereka yang memang tidak bergelut di dunia tambang. 

***

Kali ini saya tidak berbelok ke Morenci, melainkan terus melaju ke timur menuju perbatasan negara bagian New Mexico, melalui jalur panjang yang tampak gersang, sepi serta membosankan. Menjelang kota Lordsburg, saya berbelok ke utara menuju kota tambang lainnya, Silver City. Kota ini juga pernah merasakan kejayaannya ketika booming perak di akhir abad 19.

Dari kota ini saya terus menuju utara melalui State Road (SR) 15. Rute sepanjang 67 km yang sempit, mendaki dan berkelok-kelok serta berada di lereng gunung yang menyusuri hutan pinus, saya tempuh dengan sesekali mencuri kecepatan. Khawatir akan kesorean, saya menunda untuk berhenti menikmati pemandangan alam dari punggungan bukit yang saya lalui. Akhirnya dalam 1,5 jam saya tiba di lokasi Taman Monumen Nasional Gila (baca : Hila).

Tiba di ruang pusat pengunjung (visitor center) sebenarnya masih jam 4:30 sore dan cuaca juga masih cerah, tapi entah kenapa kok sudah tutup. Saya lalu langsung menuju ke lokasi taman Gila ini. Untungnya di sana belum tutup dan saya masih bisa menjumpai dua orang wanita petugas Taman Nasional. Dengan menunjukkan kartu National Parks Pass saya, maka dengan tanpa perlu membayar US$3 saya bisa langsung memasuki lokasi taman. Ini adalah Taman Monumen Nasional yang mirip-mirip dengan Taman Monumen Nasional Tonto tempat ditemukannya sisa-sisa bangunan peninggalan kuno suku Indian Salado.

Yang menarik perhatian saya mengunjungi Taman Gila ini adalah karena lokasnya berada di perbukitan yang profilnya membentuk seperti bongkahan batuan raksasa yang dinding-dinding batuannya nyaris tegak. Di dinding-dinding tegak itu ada beberapa gua bekas tempat tinggal suku Indian Mogollon pada abad ke 13. Untuk mencapai lokasi itu, harus berjalan mendaki dan memutar sejauh kira-kira 1 km.

Setiba saya di lokasi reruntuhan bangunan kuno, saya sudah disambut oleh seorang petugas wanita yang setia setiap saat menunjukkan, menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bahkan akhirnya sayapun ditemani turun dari bukit menuju ke pintu keluar taman. Ya, karena rupanya saya adalah pengunjung terakhir sore itu.

Ada 7 gua di dinding perbukitan yang menghadap ke lembah yang curam dan pada 5 gua di antaranya dijumpai sisa peninggalan bangunan kuno. Dinding-dinding rumahnya dibangun dengan konstruksi batu-batu yang diambil dari daerah itu juga, dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semennya. Batang-batang kayu yang dijumpai juga masih asli. Diindikasikan ada sekitar 10 hingga 15 keluarga suku Indian Mogollon pernah menempati bangunan-bangunan yang ada di situ dan ruangan-ruangan yang ada digunakan hanya untuk satu generasi. Mereka adalah masyarakat nomaden dan hidup sebagai petani dan pemburu.

Sebelum memasuki kawasan taman ini, seorang petugas menjelaskan tentang rute yang harus saya lalui serta me-wanti-wanti (berpesan) agar saya tidak mengganggu flora dan fauna yang saya jumpai. Termasuk kalau ketemu ular dilarang membunuhnya dan demikian halnya binatang-binatang sejenis burung dan tupai yang dilindungi. Dalam hati saya bertanya : Apa sih artinya seekor ular atau tupai di tempat itu, dibandingkan dengan ratusan ular atau bajing yang saya percaya masih banyak berkeliaran di sekitarnya.

Rupanya memang ada “pesan standard” yang harus disampaikan kepada setiap pengunjung Taman Nasional Gila. Bukan pesannya yang saya perhatikan, melainkan di baliknya ada tercermin rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan di situ. Lha wong kalau saya pikir-pikir, apa sih kerugian si ibu petugas itu kalau umpamanya dia tidak usah repot-repot menasehati saya dan lalu saya membunuh ular misalnya. Rasanya juga tidak ada ruginya. Gajinya pun tidak akan dikurangi kalau misalnya dia hanya berdiri menjual karcis melayani pengunjung.

Tapi ternyata, si ibu itu tetap memilih untuk repot. Tapi begitulah, barangkali tradisi berpikir saya (atau orang lain yang juga tidak suka repot) masih belum nyandak (menjangkau) tradisi mereka dalam memberi apresiasi terhadap ekosistem dimana manusia hanyalah satu bagian kecil saja di dalamnya.

Saat senja saya baru meninggalkan Taman Nasional Gila ini, dan tiba ke kota Tempe saat tengah malam. Perjalanan panjang di musim panas baru saja saya akhiri. –

New Orleans, 4 September 2000
Yusuf Iskandar