Archive for Desember, 2008

Jam Berapa Sekarang?

30 Desember 2008
Jam berapa sekarang? Mana jarumnya...?

Jam berapa sekarang? Mana jarumnya...?

Jam digital memang tanpa jarum, namun jam yang tidak ada jarumnya belum tentu digital. Sebuah tugu jam di seberang stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta, pada  salah satu jamnya yang menghadap ke sisi timur ternyata tidak ada jarumnya (lihat foto di atas).

Waduh…., jam berapa sekarang? Mana jarumnya…?

Akhirnya, legalah saya kemudian ketika saya melihat bahwa rupanya djarum-nya berada di sisi kiri tugu yang menghadap ke utara (lihat foto di bawah).

Yogyakarta, 30 Desember 2008
Yusuf Iskandar

NB : Mohon maaf foto-fotonya diambil dengan kamera digital pada jarak agak jauh saat malam hari.-

Wow... ternyata "djarum"-nya berada di sisi sebelahnya
Wow… ternyata “djarum”-nya berada di sisi sebelahnya

Musim Libur Panjang Di Yogya

29 Desember 2008
Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogyakarta

Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogyakarta

Inilah hari-hari padat dan merayap di kota Yogyakarta (sering disingkat dengan Yogya, saja). Ya, musim libur panjang telah tiba, yaitu hari-hari libur dan hari-hari kejepit yang membentang antara tanggal 25 Desember 2008 (Hari Natal), 29 Desember 2008 (Tahun Baru 1430 Hijriyah) dan 1 Januari 2009 (Tahun Baru Masehi).

Bertumpuknya 3 (tiga) hari libur nasional ini memang jarang terjadi. “Berkumpulnya” Hari Natal, Tahun Baru Hijrah (1 Muharam atau 1 Suro) dan Tahun Baru Masehi (1 Januari) adalah tergolong kejadian langka. Peristiwa ini (menurut perhitungan) akan terulang 32 tahun lagi atau tahun 2040.

Ribuan pendatang sedang berkunjung dan berlibur ke Yogya. Nampaknya kota Yogya tetap menarik minat wisatawan domestik menjadi kota tujuan wisata. Jalan Malioboro, gudeg Jogja, keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, Taman Sari,  adalah sebagian dari obyek-obyek yang sering menjadi impian para pendatang untuk sekali waktu ingin menyempatkan bisa mengunjunginya. Bukan saja dalam kota Yogya, di seputaran kawasan kota Yogya, masih ada candi Prambanan, Borobudur, Mendut, pantai Parangtritis, kawasan pegunungan Kaliurang, gunung Merapi, dsb. yang juga tetap menarik minat wisatawan, domestik maupun mancanegara.

Inilah hari-hari padat dan merayap di kota Yogyakarta. Petugas lalulintas kewalahan mengatur kepadatan kota yang pada hari-hari biasa saja sudah padat dan semrawut. Bagi penduduk Yogya, inilah hari-hari tidak menyenangkan untuk keluar rumah dan jalan-jalan ke kota. Namun bagi pedagang dan pebisnis sektor non-formal khususnya, pedagang makanan, penjual cendera mata, pewarung, pemilik resto, pengusaha ritel, tukang parkir, pengusaha angkutan, pengelola obyek wisata, copet (ugh…), dan lain-lain yang sejenis itu, maka inilah hari-hari penuh berkah dan panen raya. 

Selamat berlbur dan tetap berhati-hati menjaga keamanan dan keselamatan diri dan keluarga. Semoga menjadi liburan yang mengesankan.

Yogyakarta, 29 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogya

Anak Saya Mulai ”Gila” Mendaki Gunung

26 Desember 2008

img_0658_gunung1

Sepuluh minggu terakhir ini saya perhatikan anak saya (Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP) sudah mendaki empat gunung. Mula-mula gunung Welirang (3.159 meter di atas permukaan laut) di Jawa Timur, lalu gunung Merbabu (3.142 mdpl), puncak perbukitan Menoreh (1.019 mdpl), dan terakhir gunung Sundoro (3.150 mdpl) di Jawa Tengah. Belum termasuk kegiatan outdoor lainnya seperti rapeling (turun dengan tali) yang biasanya dilakukan di jembatan Babarsari, Condong Catur, Sleman. Terakhir, hiking dari gua Ceremai hingga menyusuri pantai Parangtritis.

Setiap ada tanggal merah di kalender, dia mulai kasak-kusuk untuk mencari teman agar bisa mengadakan kegiatan mendaki gunung. Nyaris saban hari yang terlintas di pikirannya adalah soal daki-mendaki dan kegiatan adventure lainnya.

Ibunya yang belakangan jadi manyun kalau anak laki-lakinya ini sudah mulai merengek-rengek minta uang untuk membeli perlengkapan outdoor. Sekali waktu saya minta dia membuat daftar inventaris, perlengkapan apa saja yang sudah dimiliki atau dibelinya, dan berapa total nilai rupiahnya. Rupanya dia sudah siap, lalu disodorkannya sebuah daftar panjang yang antara lain tertulis : tenda, sleeping bag, nesting (alat masak), tas punggung dan cover bag-nya, matras, sarung tangan, sepatu, sabuk, sentolop (senter jarak jauh), aneka piranti untuk mengikatkan tali ke tubuh saat naik atau turun, seperti carabiner, figure of 8, tali prusik, webbing. Masih ada lagi kompas, pisau komando dan termasuk kantong HP. Daftar itupun masih ditambah dengan perlengkapan lain yang direncanakan mau dibelinya juga (sambil menunggu pusar ibunya bolong… katanya biar dikasih uang).

Ketika ibunya menggerutu : “Lha uang yang sudah keluar kok banyak sekali?”.

Jawabnya ringan saja : “Makanya ibu jualan perlengkapan outdoor saja, nanti untungnya untuk saya…., untuk beli alat-alat lainnya…..”.

Mendengar dialog spontan ini, yang terlintas di pikiran saya justru sisi peluang bisnisnya… Barangkali benar juga, buka toko outdoor bisa jadi adalah peluang bisnis yang berprospek bagus di kawasan Yogyakarta dimana banyak orang-orang muda yang hobi adventure alias kegiatan di alam terbuka. Soal kegiatan outdoor, masyarakat Yogya memang tergolong termanjakan oleh fasilitas alam. Dekat gunung, sungai, pantai, gua, bukit terjal, dsb.

Sebagai orang tua, memperhatikan anak yang gejala-gejalanya mulai “gila” dengan aktifitas mendaki gunung ini, tentu saja lama-lama membuat khawatir. Bukan soal kegiatannya yang bertubi-tubi, melainkan khawatir kalau jadi lupa atau abai dengan tugas sekolahnya, sebab sebentar lagi ujian akhir SMP. Sementara orang tuanya tahu, bahwa Noval bukanlah tergolong anak yang mudah dalam belajar, alias perlu didorong-dorong, dikejar-kejar, disemangati dan terkadang agak dipelototi, itu pun masih ngos-ngosan untuk dapat nilai di atas 7. Agaknya, IQ-nya memang tidak dirancang untuk menghafal atau mengerjakan matematika.

***

Sejak beberapa waktu yang lalu, Noval membujuk-bujuk bapaknya agar mau menemani mendaki gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur atau Rinjani (3.726 mdpl) di pulau Lombok, pada penghujung tahun 2008 ini. Sebenarnya ingin juga saya memenuhinya, karena perjalanan pendakian ke kedua gunung itu memang sangat menarik. Selain medannya cukup menantang, pemandangan alamnya begitu indah. Terakhir saya mendaki Semeru tahun 1983 dan Rinjani tahun 1989.

Namun saya mencoba memahamkan Noval untuk menunda rencana itu, pasalnya akhir tahun adalah bukan waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan gunung. Cuaca lebih sering mendung, hujan atau setidaknya banyak kabut. Telanjur jauh-jauh pergi dari Yogya dengan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya, kalau kemudian tidak bisa melihat apa-apa di sepanjang perjalanan pendakian, rasanya rugi sekali. Sedangkan menikmati cantiknya pemandangan alam adalah salah satu hal yang sebaiknya jangan dilewatkan ketika mendaki gunung. Mudah-mudahan saya masih punya kesempatan untuk menemaninya, entah kapan.

Akhirnya Noval dapat menerima alasan saya. Tapi….. (lha ini yang bikin deg-degan), harus ada gantinya. Kata Noval, pokoknya tahun baru mau muncak (menggapai puncak gunung), seperti tahun baru setahun yang lalu ke puncak gunung Lawu (3.265 mdpl). Rupanya kemudian diam-diam dia sudah punya rencana untuk mendaki gunung Merbabu, untuk yang ketiga kalinya.

Ibunya hanya bisa nggrundel….. : “Naik gunung kok terus-terusan ki ngopo to, Le?” (Le, adalah panggilan ndeso untuk anak laki-laki).

Noval hanya nyengenges sambil berkata : “Saya mau ngalahin bapak….”.

Weleh, blaik, ki….. Daripada…daripada…., saya terpaksa ngalah lagi (selain ya karena memang kepingin juga….), kami berdua kemudian merencanakan untuk mendaki gunung Merapi (2.968 mdpl), melalui jalur Selo, Boyolali.

Saya sendiri pernah mendaki Merapi pada tahun 1985, lebih duapuluh tahun yang lalu. Kali ini saya ingin menemani Noval, bukan karena takut dikalahin seperti tekatnya, melainkan ngiras-ngirus ingin saya manfaatkan untuk menanamkan pelajaran filosofi hidup tentang kemampuan untuk survive dalam menghadapi rintangan atau tantangan. Saya pikir, ini adalah salah satu bekal penting bagi seorang entrepreneur.

Insya Allah pada tanggal 31 Desember 2008 nanti kalau tidak ada aral melintang, kami berdua, Noval dan bapaknya, akan mendaki dan menggapai fajar baru tahun 2009 di puncak Merapi. Itulah sebabnya hari Kamis kemarin (25 Desember 2008), saya bersama kedua anak saya jalan-jalan rekreasi sambil melakukan survey ke daerah Selo yang pada sore kemarin berkabut cukup tebal.

Ingin Bergabung Ke Puncak Merapi?

Jalur melalui Selo adalah lintasan pendakian termudah (tapi ya tetap saja bakal melelahkan), jarak tempuh menuju puncak Merapi hanya sekitar 4-5 jam. Rencananya kami berangkat dari Yogya hari Rabu, 31 Desember 2008 siang dan akan memulai pendakian dari Selo pada tengah malam saat pergantian tahun. Mudah-mudahan ketika fajar baru tahun baru 2009 menyingsing, kami sudah berada di puncak Merapi. Hari itu juga langsung turun dan kembali ke Yogya.

Jika ada rekan-rekan yang ingin bergabung dalam pendakian ke Merapi ini, silakan hubungi saya. Bisa berkumpul di Yogya atau langsung ketemu di Selo. Kalau tidak ada yang ikut, ya sudah…. Biar kami berdua saja yang menikmati capeknya……..

Yogyakarta, 26 Desember 2008
Yusuf Iskandar
(HP. 08122787618)

img_0638_puncak_sundoro

img_0591_puncak_sundoro2

img_0490_batu1

img_0786_r

Pondok Bukit Sakinah Di Sukabumi

25 Desember 2008
Mas Hari Prasetyo Dan Moge-nya

Mas Hari Prasetyo Dan Moge-nya

Rupanya kawasan peristirahatan milik teman kita mas Hari Prasetyo itu sudah ada judulnya, yaitu Pondok Bukit Sakinah. Lokasinya dapat dicapai dari rute Bogor – Sukabumi, lalu sampai Lido belok menuju jalan arah PTP VIII atau Chevron Geothermal sejauh kira-kira 16 km.

Mas Hari yang punya hobi nunggang moge (motor gede, segede postur orangnya) memberitahu saya bahwa kini lahannya sudah dilengkapi juga dengan kolam renang kecil untuk anak-anak dengan memanfaatkan air sungai pegunungan yang jernih dan dingin. Juga penghuninya sudah bertambah dengan beberapa puluh ekor bebek. Lebih hebat lagi, mas Hari juga menghimpun anak-anak yatim di seputar kawasan kebun teh yang ada di sana. Beberapa teman rupanya sudah terdaftar sebagai penyantunnya (ada yang berniat bergabung?).

Mas Hari sangat senang kalau pondoknya itu dapat dimanfaatkan oleh teman-teman sekolahnya untuk sekedar refreshing bersama keluarga, syukur-syukur ada semacam kelompok pengajian yang hendak ber-muhasabah di sana, atau anak-anak sekolah yang berkegiatan tadabbur alam.

Lebih detilnya sebaiknya langsung menghubungi beliau, di 08129581836, atau via email : Hari.Prasetyo@vico.co.id. Termasuk kalau ada teman-teman yang kepingin anjangsana ke pondoknya. Saya sendiri sedang berangan-angan ingin mengunjunginya, sebab mas Hari sudah ngiming-imingi mau menyediakan lalapan petai + sambal buatannya. Glek…glek…

Saya yakin bukan hanya mas Hari Prasetyo yang mempunyai klangenan semacam ini. Mbok yao….. berkenan berbagi pengalaman, lebih-lebih kalau malahan sudah lebih maju sebagai kegiatan wirausaha. Saya yakin akan dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman lainnya.

Yogyakarta, 25 Desember 2008
Yusuf Iskandar

100_1922_r100_2050_r100_1134_r

Sebuah Kawasan Indah Di Kaki Gunung Salak

24 Desember 2008

100_1234_r

Teman saya (mas Hari Prasetyo, tukang minyak alumni UPN ‘Veteran” Yogyakarta) yang memiliki mobil klangenan Mercy Tiger 240D yang dulu pernah mau dijualnya, ternyata memiliki sebidang kawasan indah di kaki gunung Salak, dekat perkebunan teh, berhawa sejuk di dataran tinggi, di Sukabumi, Jawa Barat. Kini kawasan tersebut dikelola sebagai tujuan liburan keluarganya sendiri. Ada bangunan tempat tinggal sederhana, mushola, saung (gubuk), dan selebihnya sedang diolah menjadi areal perladangan kecil-kecilan tapi cukup luas.

Melihat pada foto-foto yang dikirimkan ke saya (saya sendiri belum pernah berkunjung), nampaknya cukup ideal sebagai tempat peristirahatan untuk sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kebisingan hidup di perkotaan. Atau, memanfaatkan waktu libur bersama keluarga agar anak-anak bisa bermain menyatu dengan alam, di kebun, di sawah, di sungai, di kolam, di kesejukan hawa pegunungan. Atau, menyepi bersama komunitas kecil untuk berbincang-bincang, berdiskusi, ber-muhasabah, mengkaji topik-topik yang lebih membumi dan melangit.

Beberapa waktu yang lalu Mas Hari bercerita bahwa beliau berencana untuk membuka lokasi itu bagi teman-teman yang ingin memanfaatkannya. Naga-naganya, mas Hari sedang berencana merintis hari tuanya dengan mengembangkan lokasi yang dimilikinya sebagai cikal bakal berwirausaha. Kalaupun ternyata tidak, maka cukuplah sebagai lokasi klangenan yang bermanfaat bagi keluarga, teman-teman dan masyarakat sekitarnya.

Jadi, kalau ada teman-teman yang tertarik dan berminat berkunjung ke lokasi itu dan ingin tahu lebih lengkapnya, dipersilakan untuk langsung saja menghubungi Mas Hari di pesawat HP-nya : 08129581836, atau via email : Hari.Prasetyo@vico.co.id.

Monggo….

Yogyakarta, 24 Desember 2008
Yusuf Iskandar

100_0158_r1100_0264_r100_0273_r100_0336_r100_0395_r100_0665_r100_1128_r100_1205_r100_1218_r100_1223_r

Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

12 Desember 2008

Tiba di bandara Cengkareng masih agak pagi. Paling enak ya ngopi dulu. Tidak banyak pilihan tempat ngopi di seputar terminal kedatangan. Seperti sering saya lakukan, akhirnya mampir ke warung ayam goreng Kentucky (KFC). Bukan untuk beli ayamnya, tapi sekedar minum kopinya. Entah apa kopi bubuknya, tapi jelas bukan paling enak, melainkan sekedar pokoknya ngopi…. dan ngudut…..

Baru beberapa saat duduk ngobrol sambil nyruput kopi, datang beberapa anak anggota laskar penyemir sepatu menawarkan diri untuk menyemir sepatu saya dan teman-teman saya. Dengan halus saya tolak karena memang saya tidak terbiasa menyemirkan sepatu di tempat umum, meski sebenarnya di rumah juga jarang saya menyemirnya. Paling-paling saya seka dengan lap saja.

Anak-anak itu ngotot menawarkan jasanya. Malah mengolok-olok kalau sepatu hitam saya kotor. Weleh…, lha sepatu saya belum dua bulan umurnya masak dibilang kotor. Itu juga bukan sepatu bermerek hasil membeli di toko, melainkan ndandakke…., pesan khusus di tukang sepatu pinggir jalan di Jogja. 

Terpancing juga saya untuk melongokkan kepala ke bawah memeriksa sepatu saya. Jelas masih tampak bersih meski tidak mengkilap. Tapi anak itu setengah merengek terus meminta untuk menyemirnya. Akhirnya luluh juga pertahanan saya. Sesaat kemudian sepatu saya sudah bertukar dengan sandal jepit. Anak itu lalu ndeprok (duduk di lantai) di pojok kedai KFC menyemir sepatu saya. Sepatu teman saya juga ikut disemir oleh anak lainnya. Saya perhatikan kedua anak itu begitu asyik menyemir sepatu sambil saling ngobrol di antara mereka. Rupanya ada seorang temannya yang ikut nimbrung.  

***

Tidak perlu waktu lama bagi anak-anak itu untuk nyemir sepatu. Segera mereka menyerahkan sepatu yang sudah selesai disemirnya. Entah kenapa saya tidak lagi tertarik melihat hasil semirannya, melainkan saya pegang pundak salah seorang yang paling kecil diantara mereka yang berdiri tepat di sebelah kiri saya, dan saya tanya : “Sudah sarapan?”. Mereka hanya kleceman (tersenyum malu) saja. Saya ulangi pertanyaan saya, dan seorang yang lebih besar menjawab malu-malu : “Belum”.

Lalu saya suruh mereka bertiga mengikuti salah seorang teman yang saya minta menemani mereka ke kasir untuk pesan sarapan pagi. Sambil menyimpan semir di sakunya, mereka pun segera beriringan menuju kasir KFC untuk pesan makanan. Tidak lama kemudian mereka kembali dengan membawa nampan berwarna coklat berisi nasi, ayam goreng dan softdrink. Saya suruh mereka duduk di sebuah meja kosong tidak jauh dari tempat saya duduk. Kali ini tidak lagi saya melihat wajah malu-malu mereka, melainkan dengan lahap mereka menghabiskan sarapannya.

Saya penasaran, apakah mereka ini tidak sekolah kok pagi-pagi sudah kluyuran di bandara. Segera saya berpindah duduk dan bergabung dengan ketiga anak itu menempati sebuah kursi yang kosong diantara empat kursi yang tersedia.

Diantara mereka bertiga, ternyata Muslim (9 tahun) masih duduk di kelas 3 SD dan Amat (12 tahun) saat ini kelas 6 di sebuah sekolah di dekat rumahnya di Tangerang. Sedangkan Yudi sudah berhenti sekolah sejak lulus SD tahun lalu.

Muslim yang terlihat paling kecil dan sumeh, setiap hari sekitar jam 5 mulai mengayuh sepedanya menuju bandara berbekal semir dan kain lap. Perlu waktu sekitar sejam untuk menuju bandara dari rumahnya. Sedangkan Amat terkadang harus naik ojek mbayar Rp 10.000,- sekali jalan. Karena masih sekolah dan masuknya siang, maka sekitar jam 11 biasanya mereka sudah pulang untuk segera berangkat ke sekolah. Kalau lagi bernasib baik, mereka bisa mengumpulkan uang lebih dari Rp 50.000,- untuk setengah hari bekerja sebagai penyemir sepatu di bandara.

Mereka bertiga hanyalah sebagian dari puluhan anak-anak laskar penyemir sepatu di bandara yang keberadaannya sering menjadi dilema bagi orang lain. Tapi pasti tidak bagi mereka. Jangankan mereka perduli dengan dilema tentang manajemen bandara, memahami keberadaannya saja tidak. Bagi mereka, asal bisa mengais sedikit rejeki yang betebaran di bandara hari itu untuk dibawa pulang, kiranya sudah cukup.

Ketika saya tanya : “Uangnya buat apa?”. Mereka menjawab untuk ditabung. Saya tersenyum menyambut jawabannya. Itulah jawaban yang memang saya harapkan.

Ketika saya tanya lagi : “Setelah terkumpul lalu untuk apa?”.

Si kecil Muslim menjawab untuk beli baju. Waduh, jawabannya agak membuat saya kecewa. Tapi segera saya coba berpikir positif. Jangan-jangan, baju pun masih menjadi kebutuhan dasar sandang yang belum terpenuhi bagi keluarganya Muslim yang orang tuanya pengangguran. Ya, beli baju bisa jadi konsumif, tapi itu bagi mereka yang kebutuhan dasar sandangnya sudah terpenuhi.  

Lain lagi jawaban si Amat : “Untuk beli play station“, katanya.

Wah…., saya agak mengernyitkan dahi. Kok jadi lebih konsumtif, pikir saya. Saya penasaran, dalam hati saya merasa kecewa dengan jawaban itu. Lalu saya desak lagi : “Kenapa beli play station?”.

Kini jawabannya justru membuat saya agak terperangah : “Untuk di-rental-kan, dan kakak saya yang ngurusnya..”.

Saya jadi terdiam sesaat. Dalam hati saya berkata, mletik (cemerlang) juga pikiran anak ini. Itu berati sudah tumbuh semangat wirausaha dalam diri si Amat yang mengaku orang tuanya bekerja mengumpulkan plastik akua (kata lain untuk pemulung). Semangat yang memang kelak akan sangat diperlukan oleh anak-anak yang tumbuh di lingkungan marginal seperti mereka.

Saya tidak sedang mempersoalkan aspek positif atau negatif dari bisnis persewaan play station, melainkan saya ingin memberi apresiasi pada jiwa kewirausahaan yang tumbuh dalam diri anak ini. Jiwa kewirausahaan yang dapat tumbuh dimana saja dan kapan saja, tanpa perlu hitung-hitungan yang rumit. Sedang mereka yang sudah berpendidikan tinggi pun tidak mudah untuk membangkitkan semangat entrepreneurship pada diri mereka.

Sebelum mereka beranjak pamit untuk melanjutkan pekerjaannya pagi itu, sempat saya tanyakan : “Sampai kapan kalian mau nyemir?”. Dan, mereka bertiga pun hanya nyengir.…. Saya tahu ini pertanyaan bodoh dan penuh basa-basi. Tapi saya tanyakan juga, karena sesungguhnya seringkali saya memperoleh jawaban tak terduga yang inspiratif dari anak-anak yang semangatnya juga tak terduga ini.

Anak-anak itu pun segera berlalu setelah menerima sekedar uang semir (tapi halal) dan mengucapkan terima kasih, untuk melanjutkan menjual jasa penyemirannya kepada pemilik sepatu lainnya. Pekerjaan yang tanpa lelah terus dijalaninya sejak 2-3 tahun yang lalu.

***

Pagi itu, saya hanya ingin sekedar berbagi kebahagiaan kecil dengan anak-anak penyemir sepatu bandara Cengkareng. Setidak-tidaknya bagi Yudi, Muslim dan Amat. Meski saya juga tahu, belum tentu mereka bisa menikmati secuil kebahagiaan yang saya niatkan untuk berbagi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tapi ada banyak pelajaran telah saya temukan.

Yogyakarta, 11 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Wow… Salju Mulai Turun…..

6 Desember 2008

Intermezzo saja…..

Salju mulai turun di belahan bumi sebelah utara yang sedang mengalami musim dingin (winter). Sementara di wilayah katulistiwa sedang gede-gedenya sumber alias desember. Sebagian wilayah mulai masuk musim penghujan, bahkan menerima berkah banjir besar. Sebagian lainnya hujan sebentar, lalu nggaaaak…. hujan-hujan lagi alias masih panas terik.

Untungnya bagi dunia blogging, wordpress turut berbagi mengirim salju yang turun menyirami blogger dan pembacanya. Rencananya salju wordpress akan turun hingga tanggal 4 Januari 2009. Semoga cukup menyejukkan di tengah gegap bin gempita dan memanasnya berita media massa…. menyongsong datangnya tahun yang baru.

Salam,

Yogyakarta, 7 Desember 2008
Yusuf Iskandar