Archive for Februari, 2008

Keramahtamahan Amerika

28 Februari 2008

Sekali waktu saya mencoba menghitung berapa banyak kata “terima kasih” dan “maaf” yang saya ucapkan per hari, mulai saat bangun tidur pagi hari hingga menjelang tidur malam hari. Hasilnya? Rata-rata tidak lebih dari 10 kali. Malah seringkali hitungan angkanya di bawah 10 untuk ucapan “terima kasih” dan di bawah 5 untuk ucapan “maaf”.

Ketika pertanyaan yang sama saya bandingkan dengan ketika saya tinggal di Indonesia, ternyata hasil hitungan angkanya lebih kecil lagi. Artinya, lingkungan di Amerika memang menuntut saya (atau siapapun juga) untuk lebih membiasakan diri mengucapkan kedua kata itu.

Saya justru kaget sendiri, ketika lingkupnya saya persempit di lingkungan keluarga saya sendiri. Ternyata kedua kata itu menjadi barang langka, nyaris jarang terdengar diucapkan. Kalau demikian, lalu timbul pertanyaan di hati saya : Apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah berbuat salah sehingga antar anggotanya tidak perlu saling mengucapkan kata maaf?. Ataukah keluarga saya termasuk keluarga yang tidak bisa berterima kasih antar sesama anggota keluarganya?

***

Dalam keseharian saya di Amerika, sering saya jumpai seseorang mengucapkan kata “terima kasih” ketika dia hampir ketinggalan hendak naik lift dan orang-orang yang lebih dahulu ada di dalam dengan suka rela kembali membuka pintu lift mempersilahkannya masuk.

Seorang lainnya berterimakasih ketika diberi jalan menyusuri lorong-lorong rak atau almari di dalam pertokoan. Seorang ibu berterimakasih kepada anaknya yang mengambilkan sebuah barang belanjaannya yang jatuh dari kereta belanja. Hampir setiap orang merasa perlu berterimakasih ketika ditanyakan tentang kabarnya.

Atau, seseorang mengucapkan kata “maaf” ketika usai membuka pintu masuk ke sebuah ruangan, dia lupa ketika melepaskan daun pintu begitu saja dan tidak memudahkan jalan bagi orang lain di belakangnya yang juga hendak masuk ke ruangan yang sama.

Seseorang meminta maaf ketika tanpa disadarinya dia berdiri menghalangi jalan orang lain. Seorang ibu meminta maaf kepada anaknya ketika barang belanjaannya secara tidak sengaja menyenggol kepala anaknya, padahal bukan salah sang ibu.

Itu semua sedikit contoh yang saya jumpai dalam keseharian saya di Amerika, untuk sekedar membandingkannya dengan yang biasa saya jumpai di Indonesia, dimana kejadian-kejadian semacam itu nampaknya dianggap sebagai hal yang lumrah-lumrah saja yang memang sewajarnya terjadi. Tanpa perlu basa-basi dengan kata-kata “terima kasih” atau “maaf”.

Sekedar contoh sebaliknya (yang kedengaran ekstrim, tapi nyata), ketika ada seorang anak tanpa sengaja menabrak emak-nya yang sedang asyik tawar-menawar dengan bakul kain di pasar. Apa kata emak-nya?. “Ooo…..matane ora
ndelok-ndelokke..
.” (matanya tidak lihat-lihat). Padahal emak-nya yang keasyikan sehingga berdiri menghalangi jalan orang lain.

Atau, orang tua yang menyuruh anaknya menutup pintu. Setelah pintu ditutup, ya sudah. Tanpa perlu kata-kata terima kasih. Layaknya menjadi satu segmen kehidupan yang memang semestinya orang tua menyuruh anaknya dan sudah sepatutnya sang anak patuh.

***

Maka ketika saya ingat lagi pertanyaan yang muncul dalam hati saya tadi, apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah salah atau keluarga yang tidak pernah berterima kasih, saya merasa “agak” lega dan terhibur. Sebab ketika pertanyaan yang sama saya coba proyeksikan kepada keluarga lain tetangga-tetangga saya di Indonesia, ternyata sebenarnya saya berada pada “level” yang sama dengan kebanyakan keluarga di Indonesia.

Hah? Ternyata saya tidak sendirian. Apakah memang demikian senyatanya? Kedengarannya subyektif. Atau, jangan-jangan saya hanya mencari pembenaran atas kesalahan kolektif bersama lebih 200 juta keluarga tetangga saya?

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sepotong cermin yang saya temukan di tengah kultur Amerika. Cermin yang nyaris tidak pernah memantulkan bayangan sisi baik budaya Amerika ke desa saya di katulistiwa sana.

Herannya, justru budaya-budaya yang tidak cocok malahan dibawa masuk (bukan cuma dipantulkan) untuk ditiru dan diterapkan. Lebih celaka lagi, ternyata kita lebih permisif terhadap budaya-budaya yang (sebenarnya) tidak cocok itu.

***

Budaya berbasa-basi (katakanlah itu demikian, atau taruhlah dilakukan dengan tanpa ketulusan) untuk mengucapkan kata “terima kasih” atau “maaf”, bagaimanapun juga adalah satu sisi positif dari keramahtamahan Amerika yang pantas untuk dijadikan bahan introspeksi kolektif di antara kita. Padahal Amerika tidak pernah meng-claim dirinya sebagai bangsa yang ramah, (maaf) tidak sebagaimana kita. Apalagi sampai mem-penataran-kannya atau malah menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah.

Bukannya keramahtamahan itu tidak penting, melainkan anak-anak bangsa kita kurang melihat contoh perilaku keramahtamahan yang ditunjukkan oleh para orang tua mereka. Keramahtamahan dalam perspektif yang tidak sempit, tidak picik, tidak lemah, tidak buta, tidak tiran dan tidak sak geleme dhewe (semaunya sendiri), yang oleh orang Islam disebut sebagai akhlaqul karimah (budi pekerti luhur atau tingkah laku terpuji). Dan, termasuk dalam akhlaqul karimah adalah dengan ketulusan mengucapkan kata-kata “terima kasih” dan “maaf”.

Bahkan disebutkan bahwa orang yang meminta maaf terlebih dahulu (entah dia salah atau benar) mempunyai derajat yang lebih mulia ketimbang orang yang dimintai maaf. Indah sekali suratan itu, kalau saja dapat diwujudkan dalam keseharian kita. Mudah-mudahan.-

New Orleans, 19 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Iklan

Pensiun Ketika Mati

28 Februari 2008

Hari Minggu, 29 April 2001, sekitar jam 9:00 pagi saya tiba kembali di New Orleans, Louisiana, setelah menempuh perjalanan lumayan panjang sekitar 14 jam dari Juneau, Alaska. Dari bandara New Orleans saya lalu menggunakan taksi untuk pulang ke apartemen. Kali ini saya menjumpai taksi yang tampil beda dari biasanya.

Sejak pertama kali memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi belakang taksi, saya sudah mencium sesuatu yang lain dari biasanya. Di bagian lantai bagasinya tergelar kain tebal seperti selimut bergaris-garis merah muda seakan-akan difungsikan sebagai karpet. Begitu masuk dan duduk di jok belakang taksi, serta-merta tercium bau wangi-wangian yang jelas aromanya terasa sumegrak (bukan semerbak tapi berbau tajam), aroma yang aneh untuk selera indra penciuman orang Indonesia.

Sedan Lincoln tahun 1988 yang berbadan panjang dan lebar yang “dipekerjakan” sebagai taksi itu di dalamnya didekorasi layaknya sebuah ruang tamu. Di seputar kaca depan dan dashboard-nya dihiasi dengan bunga-bunga plastik dan patung-patung kecil Yesus Kristus. Di sela-selanya ditempelkan banyak jam tangan berbagai merek tidak terkenal, sepertinya ditempel dengan lem sehingga susah dilepas. Di bagian atas joknya ditempel hiasan plastik berbentuk udang, crawfish, dsb., yang agaknya juga direkatkan dengan lem.

Di seputar jendela samping ada hiasan-hiasan lain, termasuk kutipan-kutipan kitab Injil serta foto-foto hitam-putih. Dari foto-foto itulah akhirnya saya tahu bahwa pak sopirnya adalah seorang veteran Angkatan Laut. Diam-diam saya cocokkan postur tubuh gagah dan kekar serta wajah tampan yang ada di foto dengan wajah pak sopir. Meskipun tidak tampak serupa benar, namun saya melihat garis-garis wajah yang memang membuktikan bahwa wajah yang ada di foto adalah wajah pak sopir.

***

Untuk meyakinkan dugaan saya, maka akhirnya saya mulai membuka percakapan dengan pak sopir. Pak sopir yang bernama Billy itu memang dulu pernah bekerja di Angkatan Laut Amerika dan pernah tugas ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara. Pak Billy pun mengiyakan dengan tersenyum bangga ketika saya tanya apakah orang yang ada di dalam foto itu adalah dirinya.

Pada bulan Agustus nanti Pak Billy akan genap berusia 75 tahun! Ya, sopir taksi itu adalah Pak Billy yang usianya hampir 75 tahun. Sudah 30 tahun ini Pak Billy menjadi sopir taksi miliknya sendiri. Berjalannya sudah tidak lagi tegap, melainkan pelan dan hati-hati. Bicaranya juga pelan, tidak jelas dan serak-serak kering. Setiap kali mendengarkan pembicaraannya saya mesti mendekatkan telinga saya ke sela-sela antara dua jok depan.

Namun jangan salah, tampil dengan berkacamata plastik hitam (bukan plus atau minus) Pak Billy masih cukup gesit mengemudikan taksinya dan tidak keteter mengikuti laju kecepatan lalulintas New Orleans pagi itu.

Pak Billy mengaku hanya bekerja 4-5 jam saja per hari, itupun terkadang banyak waktu terbuang hanya untuk menunggu dapat penumpang. Dia memang bekerja tidak ngoyo (memaksakan diri). Namun tentu adalah sebuah jenis pekerjaan yang luar biasa di usianya saat ini kalau mengingat bahwa dia mengaku berkerja 7 hari per minggu. Artinya, tanpa mengenal hari libur.

***

Menurut Pak Billy, ada dua hal yang membuatnya bangga, yaitu : bangga dapat menghidupi dan mengatur hidupnya sendiri dan bangga dapat menikmati hari tuanya. Lho? Sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa menjadi sopir taksi ternyata juga merupakan salah satu bentuk kenikmatan di hari tua seseorang. Setidak-tidaknya bagi Pak Billy, dan itulah cara Pak Billy menikmati hari tuanya. Sebuah cara yang tentu saja kedengaran aneh di telinga kita pada umumnya.

Kalau dapat diambil benang merahnya, maka barangkali esensinya adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Adakah sesuatu yang dapat ditiru dari penggalan kehidupan seorang sopir taksi bernama Pak Billy ini? Sesuatu yang kiranya dapat disemangati (bukan mengganti) untuk disisipkan ke dalam budaya masyarakat kita yang pada umumnya selalu merencanakan ingin menikmati hari tuanya setelah pensiun nanti, tapi pasti bukan menjadi sopir taksi.

Jika demikian, lalu kapan Pak Billy akan pensiun? Jawabnya ringan saja, dengan suaranya yang lemah dan serak dia berkata : “I will retire when I die ……”, sambil tertawa terkekeh.

Setelah membayar ongkos taksi US$16 plus tip US$2 setiba di apartemen, saya berkata : “Good Luck, Pak Billy…..”

New Orleans, 30 April 2001
Yusuf Iskandar

Sang Pramugari Dan Penumpang Yang Kecewa

28 Februari 2008

Barangkali ini kejadian yang biasa-biasa saja, ketika ada seorang penumpang pesawat yang kecewa oleh pelayanan awak pesawatnya. Paling-paling sang awak pesawat akan minta maaf, dan sesudah itu sebodo amat, mau diterima atau tidak. Tapi bagi saya menjadi peristiwa yang luar biasa, setidak-tidaknya jarang saya jumpai, ketika ada seorang penumpang Singapore Airlines di sebelah saya dalam perjalanan Jakarta – Singapura kecewa berat oleh pelayanan awak pesawatnya.

Waktu makan siang di kelas bisnis, seorang pramugari Singapore Airlines membagikan sajian makan siang seperti biasanya, juga kepada penumpang di sebelah saya itu. Saat makan siang selesai dan akan dibereskan, rupanya makanan penumpang di sebelah saya nyaris masih utuh, hanya tampak sedikit bekas dicolek-colek. Melihat hal itu, yang rasanya sudah biasa terjadi, saya beranggapan barangkali penumpang di sebelah saya itu masih kenyang atau paling-paling tidak suka dengan menunya.

Sang pramugari juga seperti biasa bertanya : “Apakah Anda tidak suka dengan menunya?”. Jawaban penumpang itu yang membuat saya baru ngeh (menyadari apa yang terjadi). Rupa-rupanya sejak tadi penumpang itu menahan kekecewaan. Terbukti dia langsung menjawab pertanyaan itu dengan keluhan panjang, yang kira-kira maksudnya bahwa tadi dia tidak ditanya lebih dahulu soal menu makannya, dan ternyata menu yang disajikan sangat tidak baik bagi dirinya.

Sang pramugari pun seperti baru menyadari “ada yang salah” ketika mendengar keluhan bernada marah dari penumpang di sebelah saya itu. Buru-buru sang pramugari itu minta maaf, bahkan hingga beberapa kali. Tampaknya kekecewaan penumpang itu sudah sangat mendalam. Dari tingkah dan raut mukanya (saya sempat melirik) sekilas terlihat bahwa penumpang itu masih menahan kekecewaannya.

Beberapa menit kemudian, pramugari tadi datang lagi dan kembali meminta maaf atas kejadian itu, sambil mengatakan : “saya harap hal ini tidak membuat Anda kecewa”. Betapa kagetnya saya ketika dengan tegas penumpang di sebelah saya itu menjawab “You did!”, sambil menambahkan bahwa dia sudah banyak melakukan perjalanan udara tapi kejadian ini membuatnya sangat kecewa.

Sang pramugari seperti kehabisan kata-kata, dan entah berapa banyak saya mendengar kata-kata penyesalan dan permintaan maaf disampaikan oleh sang pramugari. Tapi hingga dia berjalan menjauh, penumpang itu tampaknya masih belum bisa menerima kekecewaannya. Dalam hati saya berpikir, orang ini nanti pasti akan complaint setibanya di Singapura.

Pengalaman saya selama ini mengajarkan bahwa kejadian semacam itu adalah lumrah saja, dan selanjutnya akan berakhir dengan akhir yang tidak enak. Sang pramugari merasa sudah berkali-kali minta maaf, sedang sang penumpang tetap memendam kekecewaannya. Peristiwa akan dianggap selesai dengan sendirinya. Itu saja.

Tampaknya mulai hari itu saya harus mencatat bahwa pengalaman saya ternyata masih belum lengkap. Apa yang terjadi beberapa menit kemudian, menyadarkan saya bahwa ada hal baru yang seharusnya saya tambahkan dalam daftar pengalaman saya.

***

Kali ini datang pramugari yang lain, agaknya lebih senior. Dengan senyum manisnya di balik baju seragamnya yang khas seperti iklan-iklan Singapore Airlines di TV, sang pramugari senior ini mendekati penumpang di sebelah saya, dan mengawali pembicaraan dengan meminta maaf atas kejadian tadi. Sang pramugari ini lalu menjanjikan akan membantu mengatur menu yang sesuai, untuk perjalanan lanjutan yang akan dilakukan oleh penumpang di sebelah saya. Mulailah sang pramugari ini menanyakan kepada penumpang yang sedang kecewa berat itu kemana tujuan akhirnya, dengan pesawat apa, dan seterusnya.

Lalu sambil berlutut di sebelah tempat duduk penumpang itu (sebab kalau tidak, pramugari itu pasti akan kecapekan bicara sambil nungging), sang pramugari dengan lihai mulai menggiring pembicaraan ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Diajukannya dengan sopan dan lembut pertanyaan-pertanyaan seperti : perjalanan ini dari mana, mau kemana, berapa lama, dalam rangka apa, pekerjaannya apa, tugasnya dimana, berasal dari mana, dsb.

Di luar dugaan saya, sang pramugari ternyata berhasil mem-pribadi-kan suasana, hingga penumpang di sebelah saya pun dengan enak menjawab semua pertanyaan itu. Suasana dialog lalu berubah menjadi layaknya pembicaraan dua orang yang sudah lama saling kenal. Sekitar sepuluh menit diperlukan oleh sang pramugari untuk merubah muka cemberut penumpang yang kecewa berat ini hingga lumer menjadi sumringah (cerah) air mukanya (saya sempat sesekali mencuri pandang sambil nguping pembicaraan, sebab tentu tidak etis kalau saya sengaja menolehkan kepala untuk memperhatikannya).

Bagi saya, ini kejadian yang luar biasa. Peristiwa kekecewaan mendalam yang tadi itu kini berakhir dengan happy ending. Terbukti ketika sang pramugari akan pamit meninggalkannya, merekapun saling mengucapkan terima kasih.

Sungguh ini membuat saya gumun (heran). Gumun bukan saja kepada kepiawaian sang pramugari menetralisir suasana, tapi lebih karena pertanyaan yang kemudian timbul di otak saya : “Kenapa saya nyaris tidak pernah menjumpai peristiwa seindah ini di dalam masyarakat bangsa saya yang selalu bangga dengan sebutan bangsa yang ramah?”. Padahal jutaan peristiwa layanan masyarakat semacam ini terjadi setiap detiknya.-

New Orleans, 1 Maret 2000.
Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

Pengantar :

Serangkaian catatan Seputar Adelaide berikut ini adalah bagian awal sebuah perjalanan panjang melalui jalan darat (traveling) membelah Australia dari kota Adelaide (South Australia) menuju Darwin (Northern Theritory). Perjalanan ini kami lakukan dalam rangka liburan bersama keluarga pada tanggal 16-25 Desember 2003.

(1).  Kacang Bawang Pun Harus Dilaporkan
(2).  Jemputan Yang Tak Kunjung Datang
(3).  Jalan-jalan Sore Di Victoria Square
(4).  Wisata Kota Rundle Mall
(5).  Ke Kebun Anggur Barossa Valley

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(1).   Kacang Bawang Pun Harus Dilaporkan

Hari masih pagi ketika pesawat Garuda yang membawa kami sekeluarga dari Denpasar mendarat di bandara Adelaide. Hari itu, Selasa, 16 Desember 2003, sekitar jam 06:45 pagi waktu setempat dan matahari belum menampakkan cahayanya.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, lalu tiba di bagian karantina yang akan memeriksa barang bawaan para penumpang. Seorang petugas dari The Australian Quarantine and Inspection Services (AQIS), seorang perempuan muda cantik yang kalau menilik wajahnya saya duga seorang keturunan Cina, menanyai saya : “Apakah semua formulir isian sudah diisi dengan benar?”. Saya mengiyakan. Lalu dia tanya lagi : “Ada yang kurang jelas?”. Saya diam sejenak, lalu saya jawab : “Tidak”.

Eh, masih ditanya lagi : “Are you sure?”, sambil membawa lembar isian yang sudah lengkapi. Saya jadi agak ragu. Lalu saya coba mengingat-ingat saat mengisi formulir Incoming Passanger Card tadi di dalam pesawat. Seingat saya semuanya sudah cukup jelas dan saya yakin juga mengisinya dengan benar. Maka lalu saya yes-kan saja.

Si mbak petugas karantina meminta saya membuka tas yang saya bawa. Tas pertama OK. Tiba tas kedua, dia melihat sebungkus plastik makanan kecil yang berisi kacang bawang. Dia tanya, kenapa saya tidak melaporkan dalam formulir isian bahwa saya membawa makanan kacang-kacangan. Saya agak terkejut, lalu saya jelaskan bahwa itu adalah makanan kecil seperti yang banyak dijual di toko-toko.

Rupanya sang mbak petugas tidak terima. Bagaimanapun juga barang itu adalah produk tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan yang seharusnya dilaporkan. Agar urusannya tidak pajang, serta-merta saya minta maaf atas ketidaktahuan saya. Sekali lagi, sang mbak petugas merasa tidak cukup hanya diselesaikan dengan permintaan maaf saja.

Pokok persoalannya menjadi, saya telah memberikan statement yang tidak benar tentang barang-barang yang saya bawa masuk ke Australia. Spontan terbayang, denda paling tidak A$220 harus saya bayar. Iya kalau hanya itu saja, lha kalau ternyata lebih dari itu…….? Sekali lagi, saya menyampaikan permohonan maaf atas keteledoran ini.

Maka, keputusan pun dijatuhkan. Saya dinyatakan telah melanggar peraturan AQIS, dan Alhamdulillah….., saya hanya diberi peringatan keras karena ini kejadian yang pertama. Lalu selembar kertas berisi peringatan yang ditandatangani oleh si embak petugas diberikan kepada saya, disertai ancaman bahwa kalau hal serupa terulang lagi maka saya harus membayar denda atau berurusan dengan pengadilan. Akhirnya kemudian saya dipersilakan meninggalkan meja pemeriksaan. Dalam hati saya nggerundel, “masak kacang bawang saja harus dilaporkan…”. Australia memang termasuk ketat dalam hal pengontrolan barang-barang yang masuk ke negaranya.

Kacang bawang memang salah satu makanan kletikan kegemaran keluarga kami, terutama menjadi favoritnya ibunya anak-anak. Jadi sewaktu mau berangkat dari Tembagapura dan di rumah masih ada setoples kacang bawang, tanpa banyak pertimbangan lalu dibungkus dan dibawa untuk ngemil di perjalanan. Eh, ternyata malah nambahin urusan. Bukannya tidak boleh dibawa masuk Australia, melainkan harus dilaporkan.

Harus saya akui bahwa saya telah salah menafsirkan (atau lebih tepatnya menyepelekan) pernyataan dalam formulir Incoming Passanger Card yang kira-kira intinya adalah bahwa semua produk tanaman atau buah-buahan harus dilaporkan. Dan, kacang bawang ternyata dianggap termasuk produk turunan atau hasil tanaman yang harus dilaporkan. Lha, saya pikir ini makanan kecil biasa seperti yang banyak dijual di mana-mana, yang terkadang juga disajikan di dalam pesawat. Inginnya biar cepat dan tidak banyak urusan, eee….malah lama jadinya…….

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(2).   Jemputan Yang Tak Kunjung Datang

Di lobby kedatangan bandara Adelaide kami duduk-duduk menunggu jemputan, setelah selesai berurusan dengan petugas imigrasi dan karantina di pagi tanggal16 Desember 2003. Sesekali melongok keluar bandara barangkali ada orang yang berdiri membawa tulisan nama saya. Menurut pegawai biro travel di Denpasar tempat saya mengatur rencana perjalanan, akan ada orang yang menjemput di bandara Adelaide. Selanjutnya saya harus menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sewa-menyewa kendaraan dengan si penjemput itu.

Hampir setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda adanya orang yang akan menjemput. Saya coba mencari-cari counter Budget, perusahaan yang akan saya sewa mobilnya. Ternyata masih tutup. Sementara di lobby kedatangan tidak juga muncul si penjemput yang dijanjikan.

Saya kemudian ingat, pegawai biro travel di Denpasar pernah menuliskan nomor tilpun yang harus saya hubungi jika ada masalah di Adelaide. Lalu saya cari tilpun umum. Untuk menilpun perlu koin Australia. Cara termudah untuk memperoleh koin di bandara adalah dengan menukarkan uang dollar Amerika dengan uang Australia, disertai permintaan khusus bahwa saya perlu uang koin untuk menilpun.

Saya kembali menuju ke kotak tilpun umum. Sejenak mempelajari aturan mainnya, lalu pencet-pencet tombol tilpun. Usaha pertama gagal, usaha kedua masih tulalit juga. Rupanya saya dibingungkan dengan penggunaan kode area. Usaha ketiga kali berhasil nyambung, tapi terdengar nada sibuk di seberang sana. Saya jadi kurang yakin, jangan-jangan ada yang salah. Saya coba tanya kepada petugas Satpam bandara yang kebetulan sedang lewat, tentang urut-urutan nomor yang harus dipencet sambil saya tunjukkan nomor yang akan saya hubungi. Ternyata yang tadi saya lakukan sudah benar. Hanya belum berhasil nyambung saja.

Usaha keempat barulah berhasil. Setelah berhalo-halo dan basa-basi sebentar, saya perhatikan suara wanita di seberang sana sepertinya tidak berdialek bahasa Inggris-Australi, melainkan Inggris-Indonesia. Maka, langsung saja saya lanjutkan dengan ngomong Indonesia, dan ternyata nyambung. Kebetulan, pikir saya. Jadi lebih enak suasana sebangsa dan setanah airnya. Lalu saya jelaskan duduknya persoalan. Si ibu di seberang sana, yang saya duga adalah dari partnernya perusahaan travel yang di Denpasar, meminta saya menutup tilpun dulu karena dia akan melakukan pengecekan. Saya diminta menilpun lagi beberapa menit kemudian. OK, permintaan saya turuti. Wong saya memang dalam posisi butuh bantuannya.

Sempat juga agak ragu, jangan-jangan dia hanya berkilah, yang kalau kemudian saya tilpun lagi pesawatnya sibuk terus. Ya maklum kalau ada prasangka seperti ini, soalnya sudah trauma dengan banyak pengalaman di dalam negeri yang mengajarkan hal yang demikian. Untungnya kekhawatiran saya tidak benar. Saat saya tilpun ulang, jawabannya sungguh melegakan. Saya diminta menunggu di luar bandara karena seseorang akan menjemput saya.

Lega rasanya, ketika si penjemput yang ramah muncul tidak lama kemudian. Lalu diibawanya kami memutar bandara dan diantarkan ke counter Budget di terminal kedatangan dalam negeri yang berada di seberang agak ke ujung dari terminal internasional, guna menyelesaikan urusan administrasi lebih dahulu. Wow, lha mestinya kan saya tidak perlu repot-repot tilpun dan menunggu cukup lama, seandainya sebelumnya saya diberitahu. Saya bisa langsung cari tumpangan untuk menuju ke terminal yang satunya. 

Urusan administrasi yang mesti diselesaikan antara lain meliputi pembayaran tambahan biaya sewa kendaraan, pendataan paspor dan SIM Internasional, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan perjanjian sewa-menyewa. Setelah urusan beres, lalu kunci kontak diberikan plus sedikit penjelasan rute yang harus saya lalui untuk menuju hotel. Barang bawaan rupanya sudah dipindahkan oleh si penjemput yang ramah tadi.

Meskipun biaya sewa kendaraan sebenarnya sudah saya bayar di Denpasar, tetapi perlu ada biaya tambahan yang harus saya urus sendiri. Ini karena saya mengambil kendaraannya di bandara Adelaide dan akan mengembalikannya di bandara Darwin. Jarak antara kedua kota itu lebih dari 3.500 km. Wajar kalau untuk itu dikenai biaya tambahan.

Sebelum men-start kendaraan, saya pergunakan beberapa menit pertama untuk mempelajari sejenak situasi kendaraan, termasuk tombol lampu depan, lampu belok, pengatur kaca spion, pengatur wiper, pengatur tempat duduk, pembuka bagasi, lokasi tanki BBM, serta indikator-indikator lainnya yang ada di dashboard mobil sedan Mitsubishi putih bergigi otomatis. Paling penting tentunya mempelajari peta dan rute untuk mencapai hotel. Maklum, dalam beberapa hari ke depan saya akan bertugas rangkap, ya sebagai driver, ya sebagai navigator. Bandara kemudian kami tinggalkan, memasuki kota Adelaide menuju ke hotel yang sudah kami pesan. Lokasi bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 km di sisi barat kota Adelaide.

Pagi itu, kota Adelaide sudah mulai sibuk. Sebelum mencapai hotel, saya sempat salah mengambil lajur jalan. Semestinya saya berada di lajur paling kiri dari tiga lajur jalan yang ada, agar mudah untuk membelok ke arah kiri. Karena saya terlanjur berada di lajur tengah, maka kalau saya paksakan juga untuk belok ke kiri pasti akan dimaki oleh pengemudi lain. Daripada baru di hari pertama sudah memperoleh pengalaman buruk dimaki orang, lebih baik saya teruskan saja dulu untuk kemudian memutar lagi mengambil lajur yang benar sehingga mudah untuk berbelok masuk ke hotel. Untungnya, saya cukup berpengalaman untuk urusan salah jalan, sehingga tidak terlalu bingung kecuali memerlukan waktu tambahan untuk mempelajari ulang rute jalan yang benar, dan tentunya juga kehilangan waktu untuk menemukannya.

Saya memperoleh pelajaran berharga pada hari pertama di Adelaide. Pertama, perlunya memahami lebih dahulu situasi bandara yang belum dikenal, jika hendak menempuh perjalanan dengan menyewa kendaraan. Urusannya tidak terlalu repot jika perjalanan akan ditempuh dengan taksi atau ikut rombongan wisata. Kedua, mengantongi nomor-nomor tilpun penting yang terkait dengan rencana perjalanan. Ketiga, memiliki koin uang recehan akan sangat bermanfaat, karena terkadang kotak tilpun umum hanya menerima uang koin saja. Keempat, jika bepergian dengan mengemudi kendaraan sendiri, perlu memastikan terlebih dahulu lokasi tempat tujuan berada di sebelah mananya persimpangan jalan apa.

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(3).   Jalan-jalan Sore Di Victoria Square

Hari masih terlalu pagi untuk check-in di hotel yang sudah kami pesan, sehingga kamar belum siap karena masih diisi orang lain yang belum check-out. Mau ditinggal jalan-jalan dulu, anak-anak masih merasa malas dan setengah ngantuk setelah menempuh perjalanan tengah malam dari Denpasar menuju Adelaide. Terpaksa mesti menunggu dulu sambil leyeh-leyeh di lobby hotel yang kebetulan sedang sepi.

Sore hari musim panas di Adelaide, tanggal 16 Desember 2003, kami keluar hotel menuju ke pusat kota. Berniat untuk jalan-jalan sore di kota Adelaide dengan tujuan utama ke alun-alun Adelaide, orang-orang menyebutnya sebagai Victoria Square. Tidak sulit untuk mencapai tempat ini dari hotel. Meluncurlah kami ke arah selatan melalui jalan utama King William Road menuju alun-alun Victoria. Ada beberapa tempat yang hendak kami tuju. Apalagi kalau bukan pusat perbelanjaan untuk sight seeing di kala sore hari.

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul lima sore. Matahari pun sudah agak condong ke barat. Cuaca mulai agak teduh. Saya pikir, inilah saat yang pas buat JJS (jalan-jalan sore), yang benar-benar jalan kaki dan bukan dengan kendaraan. Setelah mengitari alun-alun Victoria, kami menuju ke Central Market yang terletak di sebelah barat alun-alun. Mencari tempat parkir di kompleks pasar, lalu keluar jalan kaki.

Lho, pasarnya kok sepi? Tempat parkirnya juga tidak ada yang jaga? Saya curiga, jangan-jangan pasarnya sudah bubar.

Benar juga, ternyata pasar memang sudah tutup. Masih tampak kesibukan orang menutup kios-kiosnya, tapi pintu gerbang sudah ditutup rapat. Rupanya hari itu pasar ditutup jam 5:30 sore. Wah, bukankah ini musim panas, matahari baru tenggelam selewat jam 8:00 malam. Cuaca masih terang-benderang, belum nampak remang apalagi gelap, tapi kios-kios di Central Market sudah pada tutup. Semula kami ingin ke Central Market untuk mencari makan. Pasar ini merupakan pusatnya segala macam jenis makanan. Yo wis, akhirnya JJS kami alihkan untuk berkeliling di sisi barat alun-alun Victoria.

Central Market ini adalah sebuah pasar tua di Adelaide. Umurnya sudah lebih dari 130 tahun. Tahun 1869 pasar ini mulai ada sebagai sebuah pasar tradisional yang menjual aneka buah dan sayuran segar, tapi baru awal tahun 1870 dibuka secara resmi. Setelah mengalami pasang surut dan berkali-kali renovasi, baru akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1965 pasar tradisional ini resmi disebut Central Market. Di sana ada beraneka makanan segar, pakaian dan layaknya toko-toko kelontong dengan harga pasar. Letaknya bersebelahan dengan China Town, tempat favoritnya lidah melayu kalau sedang kepingin makan nasi.

Jalan-jalan sore di Victoria Square, di pusat kota Adelaide, yang di sekelilingnya masih berdiri kokoh bangunan-bangunan tua. Keanggunan kota Adelaide masih mengesan dari banyaknya bangunan-bangunan kuno di pusat kota. Bangunan-bangunan kuno yang masih tampak bersih dan terawat, dengan arsitektur yang indah dipandang. Banyak di antara bangunan-bangunan itu masih berfungsi sebagai gereja. Wajarlah kalau kota Adelaide yang jumlah penduduknya hanya sekitar satu juta manusia lebih sedikit ini juga dijuluki sebagai “City of Churches”.

Sebagai ibukota negara bagian South Australia, kehidupan kota Adelaide relatif tenang, tidak terlalu hiruk-pikuk jika dibandingkan dengan kota-kota besar metropolitan lainnya di Australia. Negara bagian South Australia dikenal juga sebagai “festival state”. Di sinilah, di Australia tempat sering diadakannya berbagai acara festival yang menarik wisatawan untuk mengunjunginya.

Pada tahun 1836, seorang berkebangsaan Inggris kelahiran Kuala Kedah, Malaysia, mendarat di Adelaide. Dialah Kolonel William Light, seorang penjelajah yang kemudian mengawali tumbuhnya komunitas kota Adelaide. Sayangnya, Kolonel Light meninggal dunia tiga tahun kemudian karena terserang TBC. Sebuah tugu dibangun untuk mengenang jasa Kolonel Light. Lokasi keberadaan tugu ini kini disebut dengan Light’s Vision yang lokasinya berada di dataran agak tinggi di sisi utara Adelaide. Nama Adelaide sendiri diambil dari nama Ratu Adelaide, permaisuri dari Raja Inggris William IV.

***

Setelah lumayan capek jalan-jalan di Victoria Square dengan bangunan-bangunan tuanya, segera kami beralih menuju ke Rundle Mall yang lokasinya tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan di sana masih banyak toko yang buka sehingga lebih puas untuk cuci mata. Sore itu, angin terasa mulai semakin kuat berhembus dan hawa dingin pun semakin menyengat.     

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(4). Kawasan Wisata Kota Rundle Mall

Dari alun-alun Victoria kami mengalihkan tujuan ke Rundle Mall. Tidak terlalu jauh jaraknya, hanya sekitar 500 meter di sebelah utara alun-alun Victoria. Rundle Mall adalah kompleks pertokoan yang terletak di sepanjang jalan Rundle, sebuah kompleks pertokoan yang biasa disebut dengan street mall, yang pertama ada di Australia. Ada ratusan toko di sepanjang jalan sepanjang 400 meter, menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan belanja wisatawan.

Nama Rundle diabadikan dari nama seorang tokoh swasta perusahaan South Australia Company yang hidup antara tahun 1791 – 1864, tahun-tahun awal terbentuknya komunitas kota Adelaide. Rundle Mall resminya didirikan tahun 1976, dari sebelumnya sebuah kompleks pertokoan padat pengunjung di sepanjang jalan Rundle.

Lokasi Rundle Mall ini berdekatan dengan banyak obyek wisata lainnya, diantaranya berbagai museum, galeri seni, tempat-tempat rekreasi, termasuk perguruan tinggi. Sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan wisata kota yang cukup menarik. Pemerintah daerah pun kemudian menyediakan berbagai kemudahan, termasuk adanya sarana transportasi keliling yang dapat dinikmati secara gratis.

Ada bis wisata yang disebut City Loop dan Bee Line, yang dapat dinaiki para wisatawan dengan gratis untuk berpindah atau mengunjungi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Adanya Visitor Information Centre tentunya juga sangat membantu bagi siapa saja yang ingin mengenal seluk-beluk kawasan wisata kota ini. Pokoknya, pengunjung benar-benar dimanjakan, tinggal megukur kesiapan bekal uang saku yang mau dibelanjakan saja.

Tapi, sekali lagi sayang……., seperti halnya di Central Market, di Rundle Mall pun masih sore banyak toko yang sudah pada tutup. Rupanya hari itu jam buka pertokoan di Rundle Mall hanya sampai jam 5:30 sore. Hanya pada hari Jum’at toko-toko biasanya buka sampai malam. Beruntung, sore itu masih ada toko-toko yang buka, sehingga masih tampak kesibukan di sana-sini. Lebih-lebih, warung cepat saji banyak yang masih melayani pembeli. Tidak kecewalah jadinya kami berjalan-jalan sore di Rundle Mall. Masih bisa keluar-masuk toko yang masih buka.

Setelah agak capek dan hari pun menjelang senja, kami berhenti di sebuah warung fast food. Biasa, makanan model cepat saji ini memang paling diminati anak-anak. Ada dua warung fast food yang letaknya berhadapan di Rundle Mall. Lha repotnya….., anak saya yang gede maunya ke KFC, anak yang kecil milih MacD. Terpaksalah mampir di kedua warung itu. Mau saos? Kalau di negeri sendiri, bahkan di Amerika, penjualnya akan dengan suka hati memberi kita se-krawuk saos (segenggam sachet kecil isi saos), di sini mesti dihitung dulu dan dikalkulasikan ke total harga makanannya. Pelit? Tidak juga, tapi memang begitu kebiasaannya. Lalu kami pun menikmatinya sambil duduk-duduk santai di depan kedua warung fast food, di tengah jalan Rundle. Seperti yang juga dilakukan oleh anak-anak penggemar KFC dan MacD lainnya di situ.

Sore musim panas, tapi angin bertiup cukup kuat dengan membawa udara sejuk, mungkin karena Adelaide terletak di kawasan yang tidak jauh dari pantai. Hawa segar menyelimuti, hari pun semakin gelap, lalu kami tinggalkan Rundle Mall untuk kembali ke hotel.

***

Malam pun tiba, di luar turun hujan dan angin bertiup sangat kencang hingga bunyi gemuruhnya sampai terdengar dari lantai empat kamar hotel. Menyibak jendela kamar, tampak pucuk-pucuk pohon berayun-ayun tertiup kencangnya angin malam musim panas. Daun-daun tampak beterbangan. Suara gemuruhnya agak menakutkan karena jarang-jarang mengalami kejadian yang seperti ini di musim panas. Terbersit pertanyaan dalam hati, apakah fenomena alam seperti ini memang sudah biasa.

Cilaka….., persediaan rokok saya ternyata habis. Jam sudah menunjukkan lewat jam 9 malam. Terpaksa keluar dari hotel, mencari toko yang masih buka. Nekat berjalan cepat menerobos hembusan angin kencang dan hujan gerimis, akhirnya saya sampai di sebuah toko buku. Kenekatan yang sesungguhnya bukan semata-mata didorong oleh rasa “ketagihan” akan lintingan tembakau yang dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin (sepenggal kalimat yang dihafal anak saya dan sering diucapkan ketika saya merokok). Melainkan lebih terdorong karena ingin memperoleh pengalaman berbeda di negeri orang, yang belum tentu akan sempat terulang.

Beruntung, ternyata toko itu buka 24 jam dan berada tidak jauh dari hotel. Sambil membeli rokok, sambil membuka-buka koran, sambil sedikit ngobrol dengan penjaga toko yang ternyata orang Irak yang sudah lama tinggal di Adelaide. Rupanya cuaca yang seperti malam itu memang sudah biasa. Ngobrol pun jadi berkepanjangan. Sampai akhirnya saya pamit kembali ke hotel dan berangkat tidur.

Yusuf Iskandar 

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(5). Ke Kebun Anggur Barossa Valley

Hari kedua di Adelaide, Rabu, 17 Desember 2003. Hari itu kami merencanakan untuk menuju ke Barossa Valley, sebuah kawasan lembah yang dikenal sebagai kawasan perkebunan anggur dan pusat industri minuman anggur di Australia Selatan.

Barossa Valley berada sekitar 55 km di arah timur laut Adelaide. Untuk mencapainya, saya menempuh rute utara mengikuti Main North Road yang juga disebut sebagai Jalan A20. Karena kurang jeli membaca rambu-rambu, setiba di kota Gawler saya kehilangan arah dan tidak menemukan persimpangan yang menuju Barossa Valley. Kami kebablasan sehingga mesti memutar agak jauh. Daripada pusing-pusing mencari arah jalan, maka saya putuskan untuk berhenti di stasiun BBM di tengah kota. Setelah melayani sendiri mengisi bensin, maka sambil membayar bensin di dalam tokonya, sambil tanya arah yang benar menuju Barossa Valley kepada seorang ibu yang jualan bensin. Jawabannya klasik, yang kalau saya terjemahkan kira-kira begini : “Sampeyan terus saja, nanti di perempatan lampu merah kedua, belok kanan”.

Akhirnya ketemu juga lampu merah kedua yang ditunjukkan si ibu penjual bensin. Saya lalu belok memasuki jalan Barossa Valley Way, atau dikenal juga sebagai Jalan B19. Memasuki jalan ini, suasana pedesaan Australia atau lebih tepat suasana pegunungan sudah mulai tampak. Tiba di kota kecil Lyndoch yang berpopulasi sekitar 1140 jiwa, kami berhenti sejenak untuk buang air sambil istirahat menghirup udara segar pegunungan. Akhirnya tiba di kota Tanunda yang adalah kota terbesar di kawasan Barossa Valley yang berpopulasi sekitar 3500 jiwa.

Barossa Valley memang sebuah kawasan lembah pegunungan yang menarik untuk dikunjungi. Bentang alamnya kira-kira mirip-mirip kawasan perkebunan teh. Berhawa sejuk, berpemandangan indah dengan morfologi tanahnya yang berbukit-berlembah, dimana kebun anggur membentang di kawasan seluas tidak kurang dari 25 km x 11 km. Tidak mengherankan kalau lebih seperempat produksi anggur Australia dihasilkan dari daerah ini.

Aslinya Barossa Valley dibuka oleh pendatang para petani Lutheran Jerman di tahun 1830-an, yang tidak hanya menanam anggur tapi juga membawa minuman anggur dari negerinya dan teknik pengolahannya. Lalu tahun 1842, seorang mineralogist asal Jerman, Johann Menge, ditugaskan menyelidiki kawasan ini. Namun yang terangkat dalam laporan penyelidikannya justru bukan adanya potensi geologi melainkan kebun anggur, jagung dan anggrek. Meskipun sebuah ladang emas, Barossa Goldfields, pernah ada di kawasan ini hingga penghujung abad 19. Yang kemudian berkembang hingga sekarang adalah kawasan kebun anggur dan industri minuman anggurnya.

Maka kini Barossa Valley dikenal sebagai daerah tujuan wisata pegunungan yang cukup populer di Australia Selatan. Nama Barossa sebenarnya berasal dari sebuah nama di Spanyol, Barrosa (double ‘r’), yang kemudian terpeleset hingga kini menjadi Barossa (double ‘s’). Salah satu warisannya, kini masih banyak nama-nama yang berbau-bau Jerman.

Ada ribuan hektar kebun anggur tersebar di Barossa Valley. Ada lebih lima ratus petani anggur, sebagian diantaranya merupakan generasi keenam dari embah-buyutnya yang juga petani anggur. Sekitar enam puluh ribu ton buah anggur dipasok ke lebih 60 lokasi industri pengolahan minuman anggur yang ada di Barossa Valley. Sebagian ada yang hanya berupa industri rumahan berskala puluhan ton saja, sebagian lainnya adalah pabrik-pabrik yang memproses anggur hingga 10.000 ton.

Mengunjungi kebun anggur dan pabrik pengolahannya memang jadi pengalaman unik tersendiri. Sebagian besar dari pabrik-pabrik itu terbuka untuk dikunjungi para wisatawan. Ada juga yang menyediakan fasilitas piknik dan sarana bermain anak-anak. Sementara orang tuanya bisa nenggak anggur. Bagi pengunjung yang sekedar ingin mencicipi produk minuman wine pun disediakan secara gratis. Mencicipi tidak sama dengan nenggak. Kalau yang terakhir ini tentu saja mesti bayar, plus bonus mabuk.

Bagi penggemar dan penikmat wine, tinggal milih saja kepingin menikmati segarnya anggur putih, seperti riesling, chardonnay, semillon, atau kuatnya anggur merah seperti shiraz, grenache atau cabernet. Ada juga yang masih menyimpan anggur kuning kecoklatan yang sudah disimpan lama yang dibuat puluhan tahun yang lalu. Meskipun saya duluuuu…. pernah juga minum jenis-jenis anggur seperti ini, tapi tetap saja tidak bisa membedakan jenis dan tingkat kenikmatannya, kecuali dua hal yang saya ingat, terasa panas di badan dan kalau kebanyakan minum pulangnya mesti diantar.

***

Hari semakin siang ketika kami meninggalkan kota Tanunda, setelah sebelumnya sempat sejenak jalan-jalan dan mampir di Tourist Information Centre. Kami lalu mengambil jalan menuju jalur wisata yang disebut scenic drive, kami ingin mengunjungi salah satu kawasan kebun anggur sekaligus melihat-lihat lokasi pabriknya. Pertama kami coba masuk ke perkebunan Richmond Grove, lalu keluar lagi dan masuk ke lokasi perkebunan Peter Lehmann Wines. Dari sini pun kami keluar lagi hingga kemudian kami putuskan untuk menyinggahi lokasi yang berikutnya yaitu Langmeil Winery. Selain melihat pabrik pembuatan minuman anggur, tentu saja kami ingin berjalan-jalan berada dekat dengan hamparan tanaman anggur yang sedang berbuah.

Berjalan-jalan ke kebun anggur memang sebuah pengalaman baru bagi kami. Maklum, ini adalah pengalaman yang tidak setiap kali mudah untuk dilakukan. Meskipun cuaca siang itu cukup panas, namun rambatan tanaman anggur yang menghampar hijau dengan gerombolan butir buahnya, cukup untuk memanipulasinya. Ya, hanya cukup memandangi buah anggur saja, mau memetik takut diteriaki yang punya.

Di salah satu sudut kawasan Langmeil Winery, dekat dengan pabriknya, ada sebuah ruangan ber-AC yang di sana ada sebuah bar tempat dimana pengunjung dipersilakan untuk sekedar mencicipi anggur produksinya. Lalu di sekitarnya dipajang dan dipamerkan benda-benda dan foto-foto yang menceritakan sejarah industri anggur di kawasan Barossa Valley. Melihat foto-foto kuno hitam putih ini mengingatkan saya akan foto-foto kuno perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa jaman kumpeni dulu.

Meninggalkan lokasi Langmeil Winery, perjalanan kami lanjutkan melewati lokasi-lokasi winery dan vineyard lainnya. Kali ini tidak dengan berjalan kaki, melainkan dengan kendaraan yang sengaja berjalan perlahan. Terus dan terus menyusuri rute scenic drive kebun anggur. Lalu kami tiba di kota kecil Nuriootpa, masih di kawasan Barossa Valley.

Di Nuriootpa kami berbelok ke selatan menuju kota kecil berikutnya, Angaston yang populasinya sekitar 1800 jiwa. Masih terus melaju ke arah selatan hingga meninggalkan perkebunan anggur Barossa Valley menyusuri jalan-jalan sepi di tengah areal pertanian dan perkebunan. Jalannya sangat mulus dan lalu lintas pun sepi, sehingga kami dapat melaju cukup kencang sampai mencapai kota kecil Eden Valley yang hanya dihuni oleh kurang dari 50 jiwa penduduknya. Setelah melalui kota Springton dan Mt. Pleasant, akhirnya kami tiba di kota Birdwood.

Birdwood adalah salah satu tujuan kami berikutnya hari itu. Anak laki-laki saya sudah mengancam pokoknya harus mengunjungi museum motor yang ada di kota kecil Birdwood ini.

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebuah kota kecil di negara bagian New South Wales, Australia. Nama kotanya Parkes. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan dan studi lapangan di tambang tembaga bawah tanah Northparkes. Beberapa surat saya tulis, namun berhubung kesulitan mengakses internet dari kota ini di awal-awal kedatangan saya, maka surat ini terlambat saya kirimkan.

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia
(2).    Tambang Northparkes
(3).    Terserang Flu Dan Pilek
(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum
(5).    Menuju Ke Canberra
(6).    Tiga Jam Di Canberra
(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange
(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation
(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh
(10).  Membaca Koran Dan Memburu Kanguru
(11).  Malam Terakhir Di Parkes
(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia

Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.

Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.

Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.

Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah “Block Caving”, yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.

***

Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.

Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.

Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.

***

Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.

Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : “Parkes is the 50 km/h town”, tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.

Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.

Parkes, 30 Juli 2001.
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(2).    Tambang Northparkes

Saat ini matahari sedang beredar di bumi belahan utara, sehingga kalau Amerika utara dan Eropa sedang musim panas (summer) maka di Australia sedang musim dingin (winter). Namun kota Parkes bukanlah kawasan yang bersalju di saat musim dingin. Hanya saja cuaca cukup membuat saya kedinginan di bawah suhu udara sekitar 8-12 derajat Celcius.

Paling-paling kalau pagi hari kaca-kaca mobil tertutup lapisan es tipis, sehingga perlu memanaskan mesin agak lama sebelum mulai menjalankannya. Demikian halnya di lokasi tambang Northparkes suhu udara cukup dingin meskipun matahari bersinar cerah.

Tadi pagi, sekitar jam 07:30 saya berangkat menuju ke lokasi tambang. Kota Parkes masih terasa sangat lengang dan dingin karena matahari belum lama terbit. Jalan dua lajur dua arah yang menuju ke lokasi tambang pun sangat sepi. Jarak sekitar 30 km menuju tambang Northparkes dapat saya tempuh sekitar 20 menit, itu karena saya dapat melaju sedikit di atas batas kecepatan maksimum 100 km/jam.

Pemandangan di sepanjang rute yang saya lalui hanya berupa dataran terbuka yang sangat luas dengan di sana-sini terdapat pepohonan. Di kejauhan tambak bukit-bukit kecil seperti gundukan tanah yang sebagian besar merupakan ladang-ladang pertanian ribuan hektar luasnya. Yang perlu diwaspadai melaju di jalan ini adalah kalau ada rombongan ratusan ekor sapi-sapi yang sedang melintas jalan dalam perjalanannnya dari satu lokasi pertanian menuju ke lokasi pertanian lainnya. Entah siapa pemiliknya.  

***

Acara saya di hari kedua di tambang Northparkes ini adalah mengikuti “safety induction” sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Dengan kata lain, saya tidak diperbolehkan “ngeluyur” kemana-mana di lokasi tambang ini, apalagi di bawah tanah, sebelum saya menyelesaikan program keselamatan kerja ini meskipun saya hanya sebagai tamu.

Tambang Northparkes adalah perusahaan tambang tembaga yang sahamnya 80% dimiliki oleh Rio Tinto dan sisanya yang 20% dimiliki Sumotomo, Jepang. Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga menghasilkan emas dan perak. Saat ini produksi tambang Northparkes dipenuhi dari hasil tambang terbuka (open pit) dan tambang bawah tanah (underground) yang menerapkan metode “Block Caving”.

Tingkat produksi dari tambang ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tahun ini mentargetkan akan menambang 5,3 juta ton bijih tembaga atau rata-rata sekitar 15.000 ton per hari. Namun tambang ini dikenal sebagai tambang yang mampu beroperasi secara effisien dengan biaya operasi yang rendah dan termasuk salah satu tambang yang unjuk kerja keselamatan kerjanya baik. Untuk mempelajari lebih jauh tentang hal itulah yang menjadi alasan dari tujuan kunjungan saya ke tambang Northparkes ini.   

Mulai besok saya baru akan terlibat lebih jauh dalam aktifitas tambang Northparkes terutama dari bidang operasi produksi tambang bawah tanah.

***

Tadi sekitar jam 19:00 malam saya menuju ke pusat kota guna mencari makan malam. Rupanya di kota kecil ini ada tiga restoran Cina. Dalam hati saya heran juga, kok bisa-bisanya imigran dari Cina ini membuka usahanya di kota yang sebenarnya tergolong kecil dan tidak padat penduduknya. Keheranan yang sama sering saya alami sewaktu “blusukan” di kota-kota kecil di Amerika. Kalau mau diambil benang merahnya, barangkali dalam darah masyarakat Cina pada umumnya memang mengalir naluri bisnis yang sukar ditandingi.

Suasana kota Parkes yang cukup dingin sudah tampak sangat sepi dan lengang, bahkan di pusat kotanya. Toko-toko umumnya buka hanya sampai jam 5 sore, itupun hanya Senin sampai Jum’at. Restoran pun tidak semuanya buka hingga malam. Untungnya ada pasar swalayan yang buka hingga jam 9 malam, sehingga masih memberi kesempatan saya untuk mencari sekedar “kletikan” (makanan kecil).

Clarinda Street adalah jalan utama di pusat kota Parkes. Selain itu ada sebuah jalan raya yang disebut Newell Highway. Hanya di penggalan kedua jalan itulah di kota yang tidak memiliki “traffic light” ini yang dilengkapi dengan lampu penerangan jalan seperti di kota-kota besar. Sebagian jalan-jalan lainnya hanya diterangi dengan lampu neon biasa sebagai penerangan jalan, sebagian sisanya gelap-gulita pada malam hari tanpa penerangan jalan. Oleh karena itu, jika malam tiba terasa sekali bahwa saya sedang berada di sebuah kota kecil yang sepi, di Australia.

Parkes, 31 Juli 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(3).    Terserang Flu Dan Pilek

Hari Kamis ini tiba-tiba badan saya terasa nggreges (tidak enak badan). Nampaknya gejala flu atau pilek sedang saya alami. Entah kenapa. Kalau di kampung saya orang suka menyebut sebagai akibat dari perubahan cuaca. Lha, padahal cuacanya ya dari dulu memang begitu. Hanya saya saja yang berpindah-pindah dari daerah yang sedang bermusim panas dua minggu yll. di Amerika, kemudian pindah ke musim kemarau seminggu yll. di Indonesia, dan kini pindah lagi ke musim dingin di Australia.

Sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa kondisi fisik saya memang sedang tidak prima. Yang pasti, akibat nggreges ini saya menjadi serba tidak enak untuk melakukan agenda kerja. Cuaca dingin di siang hari yang mestinya biasa-biasa saja, menjadi terasa sangat dingin di badan.Tapi ya tetap saya paksakan untuk dapat menyelesaikan agenda kerja saya. Termasuk observasi ke tambang bawah tanah bersama seorang Geotech Engineer. Dan dia adalah seorang wanita.

Rupanya di Australia ini sudah lazim kalau ada para insinyur wanita yang bekerja di tambang bawah tanah, juga di bagian lapangan. Seperti di tambang Northparkes ini, di bagian tambang bawah tanah (underground) ada insinyur wanita yang bekerja sebagai Geotech Engineer dan Draw Control Engineer yang tugasnya merangkap, ya pengumpulan data lapangan, ya pengolahan datanya dan penyajian laporannya.

Di bagian tambang terbuka (open pit) malah dipimpin oleh seorang Superintendent wanita yang bertanggung jawab kepada Mine Manager, selain ada juga Mine Engineer wanitanya. Belum lagi kalau masuk ke kantor tambang bawah tanah yang lokasinya memang berada di bawah tanah, di bagian pusat kontrol sistem tambangnya terdapat beberapa pegawai wanita.

Di Indonesia, para tukang insinyur wanita agaknya masih harus menunggu entah sampai kapan untuk dapat memiliki kesempatan bekerja di tambang bawah tanah sebagaimana para tukang insinyur pria. Bukan soal diskriminasi dan bukan juga soal kemampuan, melainkan lebih disebabkan masih adanya kepercayaan sebagai hal yang tabu.

Sulit dipercaya, tapi kenyataannya keadaan semacam itu masih berlaku di beberapa tambang bawah tanah yang pernah ada di Indonesia. Akhirnya daripada membuat karyawan yang lain resah akibat pelanggaran terhadap hal yang ditabukan itu, maka biasanya lalu pihak perusahaan memutuskan untuk tidak menerima pegawai wanita untuk bekerja di tambang bawah tanah.

Mudah-mudahan dalam perkembangannya nanti akan ada perubahan. Sayang kalau ada Mine Engineer wanita yang berkemampuan tinggi di bidang tambang bawah tanah tetapi tidak terbuka kesempatan untuk mengembangkannya.

***

Sore tadi saya pulang dari lokasi tambang sedikit lebih awal karena terburu-buru hendak mencari obat flu. Beberapa rekan menyarankan untuk mencarinya ke apotik (pharmacy), tetapi apotik sudah tutup jam 5 sore. Akhirnya saya coba mencarinya ke Shopping Center yang buka hingga jam 9:00 malam. Saya dapatkan juga tabletnya yang menurut petunjuknya dapat digunakan untuk mengobati gejala flu dan pilek. Mudah-mudahan manjur.

Malam ini saya ingin tidur lebih awal dengan berselimut rapat karena memang udaranya cukup dingin.

Parkes, 2 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum

Obat flu yang saya beli kemarin agaknya cukup manjur, setidak-tidaknya hari ini kondisi badan saya terasa ada perbaikan. Belum sembuh benar memang, masih bolak-balik mesti buang ingus, tapi nggreges-nya sudah mereda.

Hari ini baru terpikir oleh saya untuk mencari dimana kira-kira saya bisa mengakses internet untuk membuka email, setelah beberapa malam ini saya tidak berhasil on-line dengan laptop saya dari rumah. Mau mengakses email pribadi dari kantor berlama-lama pinjam komputer orang kok ada perasaan tidak enak. Akibatnya beberapa catatan yang sudah saya siapkan menjadi tertunda pengirimannya.

Sebelum pulang ke rumah sore tadi saya coba untuk datang ke Perpustakaan Umum yang ada di kota Parkes. Kebetulan sekali, ternyata di sana tersedia komputer yang dapat disewa untuk mengakses internet. Biayanya A$ 2.50 (sekitar Rp 12.000,-) per setengah jam dan harus membayar di muka. Sewanya dapat diperpanjang hanya jika tidak ada pengguna lain yang menunggu.

Kebetulan lagi, ternyata selewat setengah jam memang tidak ada orang lain yang akan menggunakan internet. Barangkali karena sudah agak malam yang bagi kota ini selepas matahari terbenam sudah tampak sangat sepi dan sepertinya kehidupan hari itu sudah berhenti. Bahkan hingga lebih satu jam saya masih bisa melanjutkan menggunakan komputer. Ketika pulang, ternyata saya tidak diminta untuk membayar biaya  tambahannya. Ya syukur.

Akhirnya beberapa nomor lanjutan catatan “Perjalanan Pulang Kampung” yang tertunda untuk saya kirimkan, malam ini dapat saya posting. Akan tetapi justru catatan “Surat Dari Australia” ini malah tadi malam saya lupa untuk memindahkannya ke disket sehingga tadi tidak terikut saya kirimkan. Mudah-mudahan besok atau besoknya lagi saya akan dapat mengirimkannya.

Parkes, 3 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(5).    Menuju Ke Canberra

Sejak hari Jum’at saya sudah berangan-angan. Apa yang akan saya lakukan di libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu ini. Meskipun di luar cuaca cukup dingin, tapi tentu tidak akan saya pergunakan hanya untuk bermalas-malasan di rumah. Meskipun sebenarnya saya perlu menambah jam istirahat akiat gangguan flu dan pilek. Untuk sekedar putar-putar kota saja rasanya sayang, wong kalau hari Sabtu dan Minggu toko-toko pada tutup.

Akhirnya saya putuskan untuk melakukan perjalanan traveling ke luar kota. Hari Jum’at malam saya membeli peta wilayah negara bagian New South Wales di sebuah stasiun pompa bensin seharga A$7.50 (kira-kira Rp 30.000,-). Dari peta itu saya buat pilihan-pilihan. Ada beberapa kota besar dan agak besar yang layak untuk dikunjungi.

Untuk kota-kota besarnya ada Brisbane (ibukota negara bagian Queensland) di arah timur laut yang jauhnya 995 km. Lalu kota Sydney (ibukota negara bagian New South Wales) dan Wollongong di arah timur, masing-masing berjarak 365 km dan 403 km. Ke arah selatan ada kota Canberra (ibukota Australia) dan Melbourne (ibukota negara bagian Victoria) yang jaraknya masing-masing 306 km dan 721 km dari Parkes.

Canberra yang akhirnya menjadi pilihan saya. Selain karena saya belum pernah mengunjungi kota ini, jarak untuk mencapainya tidak terlalu jauh untuk perjalanan pulang-pergi dalam satu hari. Menilik jaraknya, maka untuk mencapai Canberra saya akan memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan atau rata-rata berkecepatan 100 km/jam.

Australia menerapkan sistem satuan metrik, sehingga lebih mudah bagi saya untuk membayangkan kuantitas sebuah angka seperti misalnya yang bersatuan meter, km, liter, dsb. Berbeda halnya di Amerika yang menggunakan satuan inch, mil atau gallon, yang terkadang mesti dua kali berpikir untuk membayangkan kuantitas sebuah angka.

***

Menjelang jam 09:00 pagi hari Sabtu kemarin saya sudah meninggalkan rumah dan langsung menuju ke jalan besar yang mengarah ke selatan. Seperti biasa, suasana kota Parkes masih sangat sepi seperti tidak berpenghuni saja. Berdasarkan peta, jarak sekitar 300 km menuju Canberra adalah jarak tersingkat yang akan melalui beberapa kota kecil dan melewati jalan-jalan raya maupun Highway.

Di Australia jalan-jalan ini disebut State Route dan National Route yang lalu disertai dengan nomor jalan. Sebagai pembanding, kalau di Amerika jalan-jalan ini disebut dengan State Road (biasa disingkat SR) dan Interstate (biasa disingkat I) lalu diikuti dengan nomor jalan. Hanya saja yang disebut National Route di Australia bisa berupa jalan Highway yang tidak selalu bebas hambatan  

Keluar dari Parkes saya langsung melaju ke arah tenggara menuju kota Eugowra. Jarak yang saya tempuh sekitar 39 km selama kurang lebih 20 menit. Jalanan masih sangat sepi, hanya sesekali saja saya berpapasan dengan kendaraan lain. Ini memang jalan kecil yang kondisinya cukup bagus sehingga saya dapat memacu kendaraan rata-rata sesuai dengan batas maksimum yang diperbolehkan, yaitu 100 km/jam.

Eugowra memang hanya sebuah kota kecil atau dapat saya sebut seperti kota Kecamatan di Indonesia. Populasinya hanya sekitar 1.400 jiwa. Dari Eugowra terus saja saya melanjutkan perjalanan ke arah tenggara sejauh 34 km hingga tiba di kota Canowindra. Kota ini agak lebih besar dibandingkan Parkes. Populasinya sekitar 12.000 jiwa.

Melewati tengah kota Canowindra, di sisi kiri dan kanan jalan banyak saya jumpai pertokoan. Namun di pagi hari menjelang jam 10:00 kota ini tampak sangat sepi. Meskipun saya lihat banyak kendaraan parkir di pinggiran jalan, namun hanya tampak satu-dua orang saja yang berseliweran di trotoarnya. Saya menjadi semakin terbiasa melihat pemandangan kota yang kelihatannya ramai tapi tampak lengang seperti ini.

Dari kota inipun saya terus saja melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju kota Cowra sejauh 33 km. Kali ini saya mulai mengikuti jalan State Route 81. Kondisi jalannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jalan sebelumnya, tetapi arus lalulintasnya sedikit agak ramai.

Kota Cowra tampak lebih besar dan ramai dibanding kota-kota lainnya. Saya tidak tahu berapa populasinya, namun pasti jauh lebih padat disbanding Canowindra maupun juga Parkes. Meskipun di luar kota batas maksimum kecepatan yang diperbolehkan adalah 100 km/jam, namun begitu masuk kota biasanya paling cepat hanya boleh 60 km/jam. Para pengemudi pun umumnya mematuhi rambu lalulintas ini.

Di luar kota-kota yang saya lalui sejak dari Parkes, pemandangan di sepanjang perjalanan nyaris membosankan. Sejauh mata memandang di kiri-kanan jalan hampir semuanya merupakan dataran terbuka yang banyak berupa ladang-ladang pertanian yang sangat luas dengan diselingi oleh pepohonan dan nyaris tidak saya jumpai pemukiman penduduk.

Oleh karena itu melaju dengan kecepatan maksimum 100 km/jam, dan seringkali saya mencuri kecepatan hingga 110-120 km/jam bahkan lebih, rasanya cukup percaya diri untuk tidak kepergok dengan penyeberang jalan, pengendara sepeda atau anak-anak bermain di pinggir jalan. Tetapi tetap perlu waspada mengingat kawasan sepi itu sering menjadi perlintasan kanguru. Hal ini terbukti dengan beberapa kali saya menjumpai bangkai kanguru tergeletak di pinggir jalan karena tersambar kendaraan.

Melewati kota Cowra saya terus melaju ke selatan menuju kota Boorowa yang berjarak 77 km dengan masih mengikuti jalan State Route 81. Dari kota ini jalan yang saya lalui mulai memasuki kawasan pegunungan meskipun tidak terlalu tinggi, namun cukup memberi suasana berbeda karena jalannya yang naik-turun dan agak berbelok-belok.

Dari Boorowa saya terus menuju ke arah selatan ke kota Yaas menempuh jarak 55 km. Sebelum masuk kota Yaas saya pindah ke jalan National Route 31 ke arah timur yang disebut Hume Highway. Tidak jauh kemudian pindah lagi ke jalan National Route 25 yang disebut Barton Highway. Jalan ini mengarah ke selatan langsung menuju ke kota Canberra sejauh 57 km.

Sekitar jam 12:00 siang lebih sedikit, akhirnya saya tiba di kota Canberra. Kota besar ini tidak terlalu padat jika melihat posisinya sebagai ibukota negara Australia atau yang dikenal dengan sebutan Australian Capital Territory (ACT) yang mencakup beberapa kawasan di sebelah selatannya. Saya langsung menuju ke Visitor Information dan itu tidak sulit untuk menemukan lokasinya yang berada di jalan Northbourne Avenue.

Parkes, 5 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(6).    Tiga Jam Di Canberra

Di Visitor Information ini saya memperoleh peta kota Canberra yang mesti saya ganti dengan biaya A$2.00. Saya lalu berhitung dengan waktu karena saya tentu tidak dapat berlama-lama berada di kota ini. Hari Sabtu sore, 4 Agustus 2001, itu juga saya mesti kembali ke Parkes. Saya agak khawatir kalau kemalaman di jalan. Bukan khawatir karena jalan yang pasti lebih sepi dibanding siang hari, melainkan khawatir kalau saya menjadi kurang jeli melihat rambu-rambu petunjuk jalan di saat hari sudah gelap.

Meskipun saya akan kembali ke Parkes melewati rute yang sama dengan ketika berangkatnya, namun mengemudi di daerah yang belum saya kenal di saat malam hari di Australia ini tidak semudah dibandingkan kalau melakukan hal yang sama di Amerika.

Di Australia, petunjuk arah jalan biasanya terdapat di seputaran kota atau setelah persimpangan jalan. Jika saya lengah tidak melihat petunjuk jalan, maka selanjutnya saya tidak akan tahu berada di jalan dan arah yang benar atau salah hingga tiba di kota berikutnya atau persimpangan jalan besar berikutnya. Berbeda dengan di Amerika yang setiap jarak tertentu pada setiap jalan selalu terdapat tanda nomor jalan dan arahnya, sehingga kalaupun salah, maka belum terlalu jauh untuk kembali.

Hal yang sama seperti di Australia ini sebenarnya juga berlaku di Indonesia. Hanya bedanya kalau di Indonesia, sewaktu-waktu kita bisa tanya ke tukang becak, tukang ojek, tukang tambal ban, kios rokok, warung pinggir jalan atau siapa saja yang kita temui.

***

Oleh karena itu, saya rencanakan bahwa saya akan berada di Canberra sekitar tiga jam saja. Artinya pada jam 3:00 sore saya sudah harus meninggalkan Canberra untuk kembali ke Parkes, sehingga tiba di Parkes belum gelap benar. Tempat-tempat yang akan saya kunjungi siang itu pun lalu saya pilih.

Dari sekian obyek wisata di kota Canberra yang saya anggap menarik dan perlu dikunjungi serta cukup dalam tiga jam adalah Gedung Parlemen (Parliament House). Rasa-rasanya ini adalah bangunan termegah di Canberra. Tempat kedua adalah Gedung Australian War Memorial yang letaknya berada pada garis lurus arah timur laut terhadap Gedung Parlemen. Di depan Gedung War Memorial ini terdapat pelataran luas yang lantainya berwarna merah bata yang panjangnya sekitar 1 km dengan lebar sekitar 150 m. Tempat ini disebut dengan Anzac Parade.

Parliament House terletak di Capital Hill dan dikelilingi oleh dua jalan lingkar, yang di dalam disebut Capital Circle dan yang di luar disebut State Circle. Untuk mencapai gedung ini dari Visitor Invormation saya tinggal berjalan lurus saja ke selatan mengikuti jalan Northbourne Avenue lalu bersambung ke Commonwealth Avenue yang menyeberang danau Lake Burley Griffin.

Gedung Parlemen terletak di ujung jalan Commonwealth Avenue, karena itu tidak sulit untuk dicapai asal tidak salah mengambil lajur jalan. Sebab kalau salah akan berakibat berjalan mengelilingi jalan lingar luar ataupun dalam sebelum menemukan lajur jalan yang benar menuju ke Gedung Parlemen.

Danau Burley Griffin ini adalah danau buatan di tengah kota Canberra yang kalau dilihat dari arah mana-mana tampak memberi pemandangan kota yang indah. Namanya saja danau buatan, maka tentu keindahan yang diberikan adalah keindahan yang direncanakan. Namun tidak dapat disangkal bahwa karya seorang arsitek Amerika bernama Walter Burley Griffin dalam merancang kota Canberra adalah karya besar yang dibanggakan oleh masyarakat Canberra.

Pembangunan kota Canberra karya Griffin ini peletakan batu pertamanya pada tahun 1913. Terjadinya Depresi Ekonomi yang juga melanda Australia pada tahun 30-an serta adanya dua kali Perang Dunia telah menyebabkan rencana besar pembangunan kota Canberra terbengkalai. Baru pada tahun 1950-an karya Griffin dilanjutkan.

Tahun 1979 Gedung Parlemen mulai dirancang melalui sebuah kompetisi yang dimenangkan oleh tiga orang arsitek, Mitchell, Giurgola dan Thorp. Hingga akhirnya keseluruhan proyek raksasa ini selesai dengan ditandai diresmikannya Gedung Parlemen Australia oleh Ratu Elizabeth pada tanggal 9 Mei 1988.

Gedung Parlemen ini dapat dikatakan sebagai gedung terbesar di Australia. Juga tidak berlebihan kalau dikatakan gedung ini memang sangat megah dan kaya akan sentuhan seni ketika melihat masuk ke bagian dalamnya. Kemegahannya sudah tampak sejak berada di depan gedung ini. Terletak di area seluas 32 hektar, gedung ini memiliki 4.500 ruangan. Dari jauh gedung ini mudah dikenali dengan adanya menara baja antikarat yang tampak berkilap berdiri di bagian tengahnya, menjulang tinggi dengan bendera negara Australia berukuran panjang 12,8 m dan lebar 6,4 m berkibar tinggi di angkasa Canberra.

***

Tidak terasa saya berada di kompleks gedung ini selama lebih dua jam. Oleh karena itu saya lalu buru-buru meninggalkan gedung parkir yang berada di bawah tanah di depan kompleks gedung dan menuju ke Gedung Australian War Memorial yang terletak di seberang danau Griffin arah timur laut. Saat menjelang menyeberangi danau Griffin, tenyata saya salah mengambil lajur yang benar. Tetapi justru ini membawa saya untuk berjalan agak menyusuri tepian danau yang memang berpemandangan indah.

Sebelum tiba di Gedung War Memorial jalan yang saya lalui berada tepat di pinggir barat laut pelataran luas Anzac Parade. Gedung Australian War Memorial terletak tepat di ujung timur laut jalan Anzac Parade. Dari kejauhan sebenarnya gedung ini tidak tampak megah. Kemegahannya baru terasa ketika mulai masuk ke pelataran dalamnya.

Agaknya ini adalah gedung sebagai kenangan atas para pahlawan Australia yang tewas di medan peperangan sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB. Di dinding dalam bangunan ini tertulis ribuan nama para pahlawan Australia itu yang pernah bertugas di berbagai belahan dunia sebagai pasukan PBB. Hanya saja ketika saya mencoba memeriksa pasukan Interfet yang bertugas di Timor Timur kok tidak saya temukan.

Akhirnya sekitar jam 3:00 sore lebih sedikit saya meninggalkan Gedung Australian War Memorial ini dan kembali ke arah jalan dimana saya datang tadi pagi. Sialnya, saya kurang jeli melihat tanda petunjuk arah sehingga kebablasan. Sekalian saja berhenti membeli bensin agar selanjutnya dapat terus melaju memacu kecepatan agar tidak kemalaman tiba kembali ke Parkes.

Akibat salah jalan dan berhenti ini saya kehilangan waktu setengah jam lebih. Akhirnya baru menjelang jam 7:00 malam saya tiba kembali di Parkes. Untungnya tidak mengalami salah jalan ketika hari mulai gelap sebelum tiba di Parkes.

Parkes, 5 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange

Hari Minggu kemarin, 5 Agustus 2001, saya mempunyai rencana berbeda. Masih juga ingin melakukan perjalanan keluar kota, namun kali ini tidank menuju ke kota-kota yang jauh melainkan keliling ke beberapa kota yang ada disekitar kota Parkes. Jalur yang saya pilih adalah lintasan segitiga dari kota Parkes, lalu menuju kota Dubbo yang terletak di arah utara Parkes dan kota Orange yang terletak di arah timur Parkes. Saya sebut saja lintasan memutar ini sebagai segitiga Parkes – Dubbo – Orange.

Berangkat dari rumah agak siang, terlebih dahulu saya menuju ke Tourist Information yang ada di kota Parkes. Sekedar ingin tahu apa yang sekiranya dapat saya lihat di kawasan Parkes dan kota-kota di seputarannya. Yang saya sebut di seputaran adalah kota-kota terdekat yang jaraknya bisa hingga 100 km, akan tetapi masih dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan atau lebih sedikit. Segera saya meninggalkan Parkes menuju ke utara melewati Jalan Clarinda dan Newell Highway

***

Kota Parkes mula-mula terbentuk sejak pertama kali diketemukannya endapan emas pada tahun 1862. Perkembangannya menjadi semakin pesat ketika diketemukan lagi tambang emas Bushman’s Gold Mine pada tahun 1871. Kota inipun lalu bernama Bushman. Pada tahun 1873 Perdana Menteri New South Wales, Sir Henry Parkes, berkunjung ke lokasi penggalian emas ini. Lalu pada tanggal 1 Desember 1873 nama kota ini pun berganti dari semula Bushman menjadi Parkes sebagai penghormatan atas Sir Henry Parkes. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 1887, jalan utama di kota baru Parkes ini berganti nama menjadi Jalan Clarinda. Clarinda adalah nama baptis dari Nyonya Parkes.   

Kota Parkes yang bersaudara kembar (Sister City) dengan kota Coventry di Inggris ini terletak pada elevasi 339 m di atas permukaan laut. Meskipun terletak di daerah beriklim subtropics, suhu udara rata-ratanya relatif tidak berbeda jauh dengan umumnya di Indonesia, yaitu 30 derajat Celcius maksimum di musim panas dan 16 derajat Celcius maksimum di musim dingin. Pada saat musim dingin seperti bulan-bulan ini suhu udara di malam hari memang bisa turun menjadi sangat dingin.

Jalan Newell Highway sendiri adalah jalan utama yang membelah wilayah negara bagian New South Wales dari kota Tocumwal di selatan dekat dengan perbatasan negara bagian Victoria dan Goondiwindi di utara di perbatasan negara bagian Queensland. Oleh karena itu kota Parkes tergolong cukup sibuk disbanding kota-kota kecil lainnya karena berada di perlintasan ekonomi antar kawasan. Tidak heran kalau truk-truk pembawa kontainer-kontainer raksasa pun seringkali terlihat melintas di kota ini.

Sekitar 20 km di utara Parkes, saya keluar dari jalan raya membelok ke timur sejauh 6 km menuju ke sebuah area yang dikenal dengan nama Parkes Radio Telescope. Dari kejauhan sudah tampak sebuah piringan raksasa berdiameter 64 m berdiri di sebuah kawasan terbuka. Teleskop ini dikelola oleh CSIRO Australia Telescope Parkes Observatory. Ini adalah salah satu piranti riset astronomi terbesar yang berada di bumi belahan selatan. Sarana dimana benda-benda angkasa menjadi tampak dekat dan jelas untuk keperluan pengembangan ilmu dan teknologi di bidang astronomi.

Parkes Radio Telescope merupakan salah satu dari delapan antene (piringan) yang keberadaannya menyebar di tiga kawasan. Sebuah antene lainnya yang berdiameter 22 m terletak di Coonabarabran dan enam antene lainnya yang masing-masing juga berdiameter 22 m terletak di Narrabi. Kedelapan antene yang disebut The Australia Telescope ini diresmikan pada tahun 1988.

Ketiga kota Parkes, Coonabarabran dan Narrabi terletak di jalur lintasan Newell Highway. Bersama-sama dengan sarana riset dan observasi astronomi lainnya yang tersebar mulai kota Canberra di selatan hingga Narrabi di utara dan melintasi beberapa jalan Highway, maka jalur ini memperoleh julukan plesetan sebagai “Highway to the Star” menyerap sebuah judul lagunya kelompok Deep Purple.

***

Dari kawasan antene teleskop di Parkes ini saya melanjutkan perjalanan ke utara sekitar 100 km menuju ke kota Dubbo. Menjelang masuk ke dalam kota, saya membelok ke timur menuju ke kawasan kebun binatang yang disebut Western Plains Zoo. Mula-mula saya ragu untuk masuk, wong di kota kecil yang jauh dari mana-mana kok mempunyai kebun binatang. Paling-paling ya sesuai namanya, kebun yang ada binatangnya.

Setelah membayar tanda masuk seharga A$ 22.00 (sekitar Rp 100.000,-) dan diberi peta lokasi, saya baru tahu bahwa kawasan yang luasnya mencapai 300 hektar ini menyimpan lebih 1000 ekor binatang dari lebih 100 spesies yang berasal dari seluruh dunia.

Bedanya dengan kebun binatang umumnya adalah di tempat ini binatang-binatang tersebut dibiarkan lepas di alam terbuka. Untuk keperluan pengamanan biasanya diberi kolam air yang agak lebar dan pagar, sehingga pengunjung dapat melihat binatang-binatang tersebut seperti di alam aslinya.

Tempat ini rupanya menjadi semacam tempat penangkaran bagi binatang-binatang langka yang populasinya di dunia nyaris berkurang. Melalui rute sepanjang 6 km yang dapat dilewati kendaraan, saya dapat melihat bnatang-binatang langka antara lain badak hitam, badak putih, gajah Afrika, biri-biri Barbary, singa Asia, harimau Sumatra, kura-kura Galapagos, gibbon tangan putih, elang ekor baji, dsb.

Ada juga binatang-binatang yang jarang dijumpai atau namanya kedengaran aneh seperti unta, biri-biri Barbary, zebra Grants, eland, wapiti, rusa fallow dan rusa chital, antelope, bison, kuda Przewalski, dingo, koala, emu, kanguru merah dan abu-abu, wallaby, tapir, lemur, dsb. Di antara badak yang ada di situ salah satunya rupanya berasal dari Ragunan. Dari hasil penangkaran binatang-binatang itu kemudian di sebarkan ke kebun-kebun binatang di seluruh dunia.

Pendeknya, saya jadi lupa waktu berada di tempat itu. Sehingga hari sudah sore ketika akhirnya keluar dari kebun binatang dan menuju ke kota Dubbo. Tingkat kepadatan dan keramaian kota Dubbo sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Parkes. Suhu udara harian juga relatif sama. Saya memutuskan untuk tidak berhenti di kota ini.

Dari Dubbo saya berbelok arah ke selatan menuju kota Orange melalui jalan National Route 32 atau yang disebut dengan Mitchell Highway. Jarak yang harus saya tempuh menuju Orange adalah sekitar 150 km, melewati beberapa kota kecil di antaranya Wellington dan Molong. Pemandangan alam di sepanjang jalur ini cukup indah dinikmati karena melewati jalan-jalan di daerah dataran agak tinggi meskipun bukan kawasan pegunungan.

Hari sudah larut sore ketika memasuki kota Orange. Rencana untuk menjelajah kota ini saya batalkan karena hari sudah beranjak remang-remang dan suasana kota pun sudah sepi. Orange adalah kota di pegunungan yang populasinya lebih dari 36.000 jiwa, karena itu lebih besar dan lebih padat dibandingkan Parkes. Suhu udara kota ini di saat musim dingin dapat mencapai di bawah nol derajat Celcius. Oleh karena itu salju sering dijumpai di saat musim dingin seperti sekarang ini. Masyarakat Orange bangga dengan menyebut kotanya sebagai kota seratus taman karena banyaknya kawasan-kawasan hijau pepohonan melingkupi kota ini.

Dari Orange, saya berbelok ke barat untuk kembali menuju Parkes. Jalan yang saya lewati adalah jalan tembus menuju Parkes sejauh 100 km melalui beberapa kota kecil antara lain Boree dan Manildra. Akhirnya saya tiba kembali di Parkes sudah lewat jam 7:00 malam. Puas rasanya telah menjelajah kawasan kota-kota kecil di seputaran Parkes melalui jalur segitiga Parkes – Dubbo – Orange sepanjang 370 km di hari Minggu kemarin.   

Parkes, 6 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation

Hari Senin dan Selasa, 6 dan 7 Agustus 2001 kemarin saya mempergunakan kesempatan untuk bergabung dengan para penambang (miner) di tambang bawah tanah Northparkes. Kali ini saya sengaja ikut dengan salah satu kru dengan maksud agar memperoleh gambaran lebih lengkap tentang bagaimana para pekerja tambang ini mengorganisasikan dan menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saya berharap agar mereka tetap bekerja sebagaimana biasanya, dalam arti bukan lantaran diikuti orang lain lalu bekerjanya diproduktif-produktifkan.

Operasi tambang Northparkes yang berproduksi rata-rata 15.000 ton perhari ini dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari sembilan orang dalam setiap gilir kerja (shift) yang bekerja selama 12 jam. Oleh karena itu dalam satu hari ada dua gilir kerja. Jumlah sembilan orang ini sudah termasuk kepala timnya yang disebut team leader, 3 atau 4 orang operator alat muat (loader) yang disebut dengan alat LHD (load-haul-dum), seorang operator control room dan beberapa pekerja lainnya yang umumnya perkemampuan serba bisa.

Salah satu kru yang saya ikuti disebut dengan secondary breaker. Salah satu tugas dari kru ini adalah mengatasi bongkahan-bongkahan batuan besar (boulder) yang jika langsung dimuat, diangkut dan ditumpah ke dalam mesin pemecah batuan (crusher) maka dapat menggangu proses operasi mesin ini. Selain itu tim ini juga bertugas mengatasi draw point (tempat pengambilan bijih hasil penambangan) yang tersumbat, sehingga material bijih tidak mau turun atau keluar ke mulut draw point. Keadaan ini disebut dengan hung-up.

Untuk melakukan pekerjaannya, kru yang terdiri dari dua orang ini ternyata seringkali berpisah dengan masing-masing saling berbagi tugas. Kalaupun kemudian perlu melakukan pengeboran dan peledakan ulang, maka jika memungkinkan akan diselesaikan oleh salah seorang saja. Demikian halnya misalnya untuk pekerjaan perbaikan jaringan pipa, perbaikan lantai beton (concrete) yang rusak, penyanggaan batuan, dsb. jika memungkinkan mereka akan berbagi tugas dengan masing-masing menyelesaikan tugas yang berbeda.

Demikian seterusnya sehingga pekerjaan hari itu dapat dituntaskan. Seringkali dalam melakukan tugasnya mereka tanpa diawasi oleh team leader-nya, sepertinya sudah otomatis mereka tahu apa yang mesti dikerjakan. Padahal mereka juga menyelingi kegiatannya dengan berhenti untuk merokok, makan dan ngobrol sebagaimana lazimnya.

***

Di bagian ruang kontrol (control room) yang juga berlokasi di bawah tanah, seorang pekerja duduk di depan layar monitor sambil sesekali mengangkat tilpun dan ngomong di pesawat radio komunikasi. Di atas layar monitor utama terdapat enam layar monitor lainnya yang menayangkan hasil liputan kamera-kamera yang di pasang di banyak lokasi strategis sehingga sewaktu-waktu dapat dilihat apa yang sedang terjadi di lapangan dengan mengubah-ubah salurannya.

Semua sistem aliran bijih (ore flow) hasil penambangan mulai dari penumpahan batuan dari alat muat LHD, mesin pemecah batuan (crusher), pengangkutan dengan ban berjalan (belt conveyor) pengangkutan dengan alat pengerek (hoisting), hingga ban berjalan di permukaan tanah, dikendalikan dari ruang kontrol ini. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa perlu ada orang yang menjaga di tiap-tiap alat tersebut.

Oleh karena itu banyak sekali jenis pekerjaan yang dapat dirangkap oleh seorang operator di control room. Kalau di tambang-tambang lain umumnya perlu beberapa operator khusus yang menjalankan dan mengawasi masing-masing bagian crusher, conveyor, winder, dsb. maka di tambang Northparkes para pekerja itu tidak diperlukan lagi.

***

Saat ini operasi LHD masih dilakukan oleh seorang operator. Namun dalam rencana penambangan endapan bijih pada tahap pengembangan berikutnya, direncanakan operasi LHD juga akan dikendalikan dari ruang kontrol ini. Inilah yang kini disebut sebagai konsep otomatisasi tambang atau mine automation.

Pada saat ini tambang Northparkes sedang mempersiapkan rencana penambangan endapan yang ada tepat di bawah dari yang saat ini sedang ditambang yang disebut dengan Lift 2. Cadangan baru ini sebenarnya merupakan kelanjutan ke arah bawah dari endapan yang saat ini ditambang dan disebut sebagai Lift 1.

Lift 2 kini menjadi proyek tersendiri yang ditangani oleh sebuah tim khusus yang melibatkan semua disiplin ilmu terkait. Tujuannya tentu agar proyek Lift 2 tambang Northparkes ini dapat segera beroperasi secara tepat waktu pada saat tambang Lift 1 yang ada saat ini habis cadangannya. Dan hal itu diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2003.

Parkes, 8 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh

Hari ini, kembali saya ngantor di kantor tambang bawah tanah. Kali ini saya banyak bergabung dengan bagian perawatan dan pemeliharaan tambang dan peralatannya (maintenance). Hal ini berkaitan dengan agenda saya untuk memahami masalah pembiayaan dalam operasi tambang Northparkes, mengingat bahwa biaya pemeliharaan (maintenance cost) tambang ini merupakan porsi terbesar dari biaya operasi penambangannya.

Dari omong-omong dengan para pekerja, saya baru tahu bahwa di lingkungan perusahaan tambang Northparkes tidak dikenal adanya penggolongan antara karyawan staff dan non-staff. Dapat dikatakan bahwa semua karyawannya adalah staff yang diatur melalui peraturan kepegawaian yang tertuang dalam Employee Handbook, mulai dari General Manager hingga operator dan administrasi. Tidak ada karyawan yang statusnya non-staff. Dengan kata lain, di perusahaan tambang ini tidak ada tidak memiliki buruh yang biasanya identik dengan karyawan non-staff.

Oleh karena itu, semua karyawan mempunyai jam kerja pokok yang banyaknya sesuai dengan aturan minimal yang dipersyaratkan. Tidak dikenal adanya jam kerja lembur (overtime). Rata-rata karyawan bagian operasional tambangnya bekerja 42 jam per minggu. Semua karyawan menerima gaji (salary) yang sesuai dengan jenjang kepangkatannya yang secara umum nilainya di atas rata-rata.

Pertanyaan saya lalu : Bagaimana kalau ada pekerjaan yang menuntut karyawan untuk bekerja di luar jam kerja yang semestinya atau perlu tambahan jam kerja? Maka secara guyon jawabnya adalah : “Ya, nasib…….”. Artinya, sebagai karyawan staff maka pada dasarnya siap untuk diminta atau tidak diminta bekerja kapan saja sepanjang memang dibutuhkan oleh perusahaan. Demikian kira-kira bunyi peraturan kerja karyawan staff.

***

Akibat dari tidak adanya karyawan non-staff, maka tidak pula dikenal adanya Serikat Buruh (Union) karena status kepegawaiannya menjadi tidak ada karyawan yang bersatus buruh.

Lalu bagaimana jika ada perselisihan perburuhan? Ya, tidak akan ada yang berselisih, wong tidak ada buruh. Semua karyawan diatur melalui peraturan kepegawaian karyawan sejak awal pertama kali mereka masuk kerja. Memang sulit untuk mengidentifikasi sisi untung-ruginya secara mendetail. Namun yang pasti sistem ini sudah berjalan sejak pertama kali perusahaan tambang ini berdiri pada tahun 1994.

***

Diterapkannya pola kepegawaian tambang tanpa buruh ini nampaknya ingin ditiru oleh perusahaan-perusahaan tambang lainnya. Barangkali karena melihat tidak pernah terjadinya perselisihan perburuhan (lha, wong memang tidak punya buruh…). Tapi kenyataannya memang tidak mudah untuk mengubah pola kepegawaian konvensional menjadi pola kepegawaian dengan tanpa buruh.

Sistem ini agaknya hanya mungkin untuk diterapkan pada perusahaan yang baru dibuka. Sehingga sejak pertama kali penerimaan karyawan memang sudah diatur dengan perjanjian kerja bahwa mereka semua akan diperlakukan sebagai karyawan layaknya karyawan staff.

Agaknya pola perusahaan tanpa buruh (non-staff) ini hanya pas untuk diterapkan di perusahaan yang jumlah karyawannya kecil, sebagaimana halnya di tambang Northparkes yang jumlah keseluruhan karyawannya hanya sekitar 170 orang dan itu sudah mencakup semua jenjang kepangkatan dan bidang kegiatan. Sedikitnya jumlah karyawan ini karena banyak bidang-bidang perkerjaan yang dikontrakkan atau diserahkan kepada pihak kontraktor.

Apakah mungkin pola kepegawaian semacam ini diterapkan di Indonesia?

Parkes, 9 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(10).   Membaca Koran Dan Memburu Kanguru

Hari Jum’at ini adalah hari terakhir saya masuk kerja ke tambang Northparkes. Tadi pagi saya memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor di luar tambang dan tidak ke bawah tanah seperti beberapa hari terakhir ini. Memeriksa kembali catatan-catatan yang saya kumpulkan, mengkonfirmasi ulang data-data, menambah informasi yang kurang serta mendiskusikannya dengan beberapa rekan lain. Mengambil beberapa foto tambang juga tidak saya lewatkan dan tentu juga saya sempatkan membaca koran terbaru saat istirahat makan siang.

***

Dari koran The Australian yang baru terpilih sebagai “Newspaper of the Year” untuk kawasan Pacific, di halaman utama terbitan hari ini saya baca berita bahwa akhirnya Megawati berhasil membentuk kabinetnya. Salah seorang menteri yang menarik perhatian saya adalah ditunjuknya Pak Dorodjatun Kuntjoro-Jakti sebagai Menko Ekuin.

Akhirnya Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti jadi menteri juga. Saya sebut akhirnya, karena beberapa tahun yll. nama beliau pernah sempat menjadi rumor bakal menduduki posisi yang sama tapi tidak jadi. Dan, kini jadi.

Ingatan saya menuju ke tahun 1999 di Houston atau tepatnya di kantor Konsulat Jendral RI di Houston, Texas. Sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat waktu itu Pak Djatun hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar sehari tentang peranan industri minyak dan gas di Indonesia.

Saya masih menyimpan catatan-catatan kecil dari pemikiran-pemikiran beliau yang disampaikan secara berapi-api. Sayang catatan-catatan itu kini sedang dalam perjalanan pengiriman ke Indonesia ketika saya pindahan beberapa minggu yll. sehingga saya tidak dapat membuka-buka kembali selengkapnya.

Namun ada hal yang (saya anggap) penting yang saya ingat, yaitu kepedulian beliau berkaitan dengan peranan tenaga ahli Indonesia dalam mengembangkan industri tambang khususnya migas sebagai kekayaan alam yang tak terbarukan. Menurut pemikirannya — seingat saya beliau mengatakan — bahwa umumnya tenaga ahli kita kurang terkondisikan dan kurang berani untuk mengambil resiko menjadi petualang atau wirausaha (entrepreneur) dalam menerjuni dunia usaha atau industri.

Apakah kira-kira kini beliau masih ingat dengan pemikirannya itu? Dan lalu “membantu” membuat terobosan, paling tidak mengkondisikan, agar tenaga ahli Indonesia lebih berperan dalam industri pertambangan khususnya migas? Atau, barangkali malah “lupa” kalau Indonesia masih punya sumber daya alam antara lain migas yang saat ini masih didominasi oleh para “entrepreneur” asing.

***

Berita kedua yang menarik perhatian saya berada di halaman tengah koran yang sama. Berita itu adalah tentang ditangkap dan dihukumnya sepasang suami-istri pengusaha situs pornografi di Amerika karena situsnya mengeksploitasi tentang pornografi anak di bawah umur.

Di beberapa negara bagian di Amerika, pornografi untuk orang dewasa adalah legal, tapi tidak dan cenderung sangat ketat pengawasannya kalau itu menyangkut anak di bawah umur. Seperti halnya ketatnya pengawasan terhadap anak di bawah umur yang membeli produk tembakau dan minuman beralkohol.

Sebagai tambahan illustrasi, ketatnya pengawasan yang sama juga saya lihat di Australia, setidaknya di negara bagian New South Wales. Toko-toko yang menjual produk tembakau kepada mereka yang berusia di bawah 18 tahun adalah pelanggaran kriminal yang dendanya bisa mencapai A$5.500. Demikian halnya terhadap produk minuman beralkohol. Kalau ingat ini kok saya jadi bertanya-tanya tentang kondisi di Indonesia yang demikian bebas.

Tentang situs porno itu tadi, apanya yang menarik? Ternyata supplier dari situs (website) porno yang bermarkas di Dallas, Texas, itu berasal dari tiga negara, yaitu Amerika sendiri, Rusia dan Indonesia. Lha, saya kok jadi miris (merasa ngeri). Rupanya diam-diam (ya memang harus diam-diam) produk Indonesia mampu menempati tiga besar dalam “memasok” konsumsi dunia akan produk haram dan nggegirisi (membuat perasaan ngeri) ini.

Tercatat dari sekitar 300.000 pelanggan situs yang per bulannya membayar US$29.95, sebesar 60% dari hasil bersihnya adalah bagian keuntungan bagi supplier yang tentunya termasuk para webmaster dari Indonesia itu tadi.

Polisi Amerika pun kini sedang mengejar tiga orang supplier produk pornografi anak di bawah umur dari Indonesia itu. Weh….., lha jebulnya (ternyata) “hebat” juga para webmaster kita ini dalam memanfaatkan celah peluang pasar dunia.

***

Sore hari sebelum pulang kantor, saya mengajak seorang rekan untuk menemani keliling tambang guna mengambil gambar tentang tambang Northparkes dan lingkungannya. Di antara fakta yang menarik dari tambang ini adalah bahwa Northparkes tenyata menguasai sekitar 6.000 hektar kawasan tambang dan sekitarnya.

Dari areal seluas itu hanya sekitar 1.630 hektar saja yang dikerjakan sebagai lokasi penambangan. Selebihnya yang tiga-perempat bagian dikelola sebagai ladang pertanian sebagai kawasan penyangga yang mengelilingi lokasi penambangan, dan hasilnya termasuk sebagai pemasukan perusahaan. 

Di kawasan ladang perusahaan ini sering dijumpai kanguru liar yang berkeliaran. Sore itu dengan berkendaraan, saya dan seorang rekan mencoba blusukan (menerobos masuk) ke areal semak-semak hingga ke luar kawasan perusahaan. Tujuannya adalah mencari kanguru. Ternyata kanguru memang ada di sana, maka acara berganti menjadi memburu kanguru yang berlari kian-kemari karena terganggu oleh bunyi kendaraan.

Sebenarnya ada jenis binatang lain yang menyerupai kanguru, yaitu wallaby. Secara sepintas, prejengan (profil binatang) ini adalah sama persis. Susah untuk dibedakan antara kanguru dan wallaby, bahkan orang Australia sekalipun akan kesulitan untuk melihat bedanya. Sama seperti susahnya membedakan antara buaya (crocodile) dengan alligator.

Memang tidak mudah untuk menjumpai kanguru atau wallaby di alam aslinya, karena biasanya mereka akan segera berloncatan lari menjauh kalau terusik. Namun setidak-tidaknya, saya sempat menjumpai sekelompok kanguru di habitat aslinya sore itu. Ya, sekedar ingin tahu dan merasakan pengalaman berbeda saja. 

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar