Posts Tagged ‘prambanan’

Kedondongku

28 April 2011

Kedondongku — Tinggi pohonnya kurang dari 2 meter. Terus berbunga, terus berbuah, dan akan terus kupetik, kubanting dan kubrakoti… (kumakan) setiap kali aku dinas ke tokoku di Madurejo, Prambanan, DIY. Seperti tak kan habis dalam semusim…

Yogyakarta, 26 April 2011
Yusuf Iskandar

Gule Kambing Dan Sate Goreng “Marto Gule” Madurejo Sleman

7 Januari 2011

Gule kambing, sederhana tapi agak manis gimana gitu… “Marto Gule”, perempatan pasar Gendeng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Menu sederhana (kolesterolnya yang tidak sederhana) tapi bertahan puluhan tahun di tempat yang sama. Sekarang adalah generasi ketiga dari penggiat dan pengusaha pergulean di pinggir timur kota Jogja.

Selain gule, warung “Marto Gule” di Madurejo, Prambanan, ini juga menyediakan menu kambing lainnya, yaitu sate goreng dan tongseng. Sate goreng sebenarnya adalah daging yang dipotong kecil-kecil seperti untuk sate, bumbunya langsung dicampur saat menggoreng. Berbumbu kecap, manis.

Warung ini sekarang dikelola dan dijurumasaki oleh keponakan mbah Marto sejak 1989. Sedang mbah Marto sendiri mewarisi dari ortunya, berarti sudah sejak puluhan tahun sebelumnya.

Yogyakarta, 30 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Patin Goreng Lombok Ijo

20 Desember 2010

Ikan patin goreng lombok ijo, di Rumah Makan Sendang Ayu, Kalasan, Jl. Raya Jogja-Prambanan. Taste-nya manstaff nian…

Yogyakarta, 17 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

“Banting Setir” Dan Orientasi Mind Set

29 September 2010

‎”Banting setir” (alih profesi) memang nampaknya sederhana. Tapi tidak demikian jika orientasi mind set tidak siap. Takut, kurang pede, bingung, awang-awangen (kebayang jauh)…

Ketika siang-siang datang ke (toko) Madurejo Prambanan seorang teman yang sedang cuti dari kerjanya di Saudi dan petang-petang datang ke (toko) Bintaran Jogja seorang teman dari Malang, maka adalah sebuah kesyukuran kalau sempat berbagi pengalaman. Ilmunya tak seberapa, tapi spirit-nya ittuu…

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Harga Telor Naik

20 September 2010

Pulang dari Madurejo, Prambanan, sore ini, ‘boss’ saya mampir warung beli telor ayam. “Wah, habis lebaran harga telor kok malah naik ya?”, katanya.

“Ya, karena ayam-ayam yang biasanya nelor sudah pada meninggal dibikin opor”, kataku…

Yogyakarta, 14 September 2010
Yusuf Iskandar

Ibu Guru Yang Kecopetan

4 Juli 2010

Setelah tugas nyopir dan mengantar istri saya ke tokonya di Madurejo, Sleman, Yogyakarta, saya segera menuju ke masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Cuaca siang di seputaran Jogja sedang panas-panasnya. Maka duduk-duduk sambil agak melamun (melamun tapi agak) dan leyeh-leyeh di teras masjid usai sholat dhuhur, sepertinya menjadi selingan aktifitas yang menyejukkan. Selain menyejukkan suasana fisik di tengah teriknya matahari musim kemarau, juga menyejukkan hati dan pikiran usai menunaikan salah satu kewajiban.

Sambil mengisi waktu dengan berbalas SMS (jaman sekarang ini berbalas SMS rupanya sudah menjadi salah satu pilihan cabang aktifitas mengisi waktu), tiba-tiba datang seorang ibu muda naik Mio lalu memarkir sepeda motornya di pelataran masjid. Ibu muda berjilbab itu lalu turun membawa tas cangklong terbuat dari kain dan duduk tidak jauh dari saya duduk bersandar di tiang teras masjid. Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, pandangannya ke lurus depan seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya mencoba mencuri pandang karena saya merasa ada yang aneh. Mau menatap langsung saya merasa tidak enak dan mungkin juga kurang etis (terkadang pikiran saya masih bisa membedakan mana yang etis dan kurang etis, tapi seringkali lupa…).

Sejurus kemudian, tanpa basa-basi atau senyum sapaan, ibu itu bertanya : ”Kantor polisi terdekat dimana ya pak?”. Sepertinya ini pertanyaan yang agak janggal. Saya tidak langsung menjawab, melainkan secepat kilat saya mencoba menyelidik profil kenampakan ibu itu hingga ke plat nomor kendaraan yang dinaikinya. Secepat kilat pula kesimpulan sementara saya bahwa kelihatannya ibu itu bukan orang yang biasa berada di seputaran kawasan situ.

Baru kemudian saya menunjukkan dan memberi ancar-ancar dimana kantor pilisi terdekat berada. Tak ayal rasa penasaran saya belum terjawab. Ada apa dengan ibu itu? Dialog pun berlanjut.

”Lho ada apa bu?”, saya mencoba bertanya menyelidik.

”Saya mau melapor kecopetan”, jawabnya.

”Kecopetan dimana?”, tanya saya lagi.

”Di pom bensin tadi sebelum Prambanan”, jawab ibu itu sambil kemudian menjelaskan ihwal terjadinya aksi pencopetan, setelah saya menanyakan kronologi kejadiannya.

”Sebenarnya tadi ibu sudah melewati kantor polisi sebelum sampai ke sini”.

”Saya tidak tahu pak”.

”Ibu ini dari mana mau kemana?”, tanyaku kemudian.

”Saya dari Sragen mau ke Gombong”.

”Wah, ibu ini nekat sekali. Itu kan jauh kalau naik sepeda motor. Apalagi sendirian”, kataku tidak habis pikir.

”Iya memang, sekitar enam jam perjalanan. Biasanya saya naik bis. Ini soalnya saya buru-buru mau layatan sekalian memulangkan motor ke Gombong”, jawaban itu membuat saya semakin penasaran. Bukan soal kenekatannya, melainkan duduk persoalannya.

Setelah panjang-lebar berdialog karena saya mencoba menelisik dan memastikan bahwa ceritanya benar dan agar saya tidak perlu berprasangka buruk terhadap ibu itu, barulah akhirnya saya percaya bahwa ibu itu tidak sedang mengada-ada dalam rangka mencari keuntungan diri sendiri dengan memperdaya orang lain, alias bukan sedang berupaya pu-tippu

Menurut ceritanya, ibu itu asli Gombong dan hal itu dengan mudah dapat terdeteksi dari logat bicaranya dengan bahasa Indonesia yang ngapak-ngapak, maupun juga dari plat nomor sepeda motor yang dinaikinya. Setelah ibu itu menyadari HP dan dompet seisinya dicuri orang ketika sedang berhenti sholat dhuha di sebuah pom bensin sebelum sampai Prambanan dari arah Solo, dia belok ke selatan berniat mampir ke rumah temannya di Wonosari untuk minta bantuan. Agaknya dia tidak tahu kalau jarak Prambanan – Wonosari itu cukup jauh. Bahkan sialnya lagi ternyata temannya itu sudah lebih dulu berangkat melayat ke Gombong. Itulah sebabnya maka di tengah kebingungannya akhirnya ibu itu mampir ke masjid dimana kebetulan bertemu dengan seorang sopir yang sedang duduk melamun dan leyeh-leyeh di teras masjid.

Baru tiga bulan yang lalu diangkat menjadi guru di Sragen, daerah asal suaminya yang sekarang kerja di Jakarta. Sebenarnya selama ini biasanya kalau pulang ke Gombong naik bis. Tapi karena katanya sekalian mau mengembalikan sepeda motornya dan buru-buru mau melayat, kemudian diputuskan pulang ke Gombong naik sepeda motor, sendirian dengan perkiraan waktu tempuh enam jam! Itulah yang kemudian sempat kulontarkan kata-kata : ”Sampeyan kok nekat banget”.

Niatnya mau sholat dhuhur dulu kok ndilalah di masjid itu tidak tersedia mukena untuk sholat bagi ibu-ibu. Maka ibu itu pun segera hendak pergi lagi, setelah sekali lagi saya memberi ancar-ancar dimana kantor polisi berada. Sambil bersiap melanjutkan perjalanan, ibu itu berkata : ”Saya mau melapor dan mungkin mau pinjam uang ke polisi biar nanti sepeda motornya mau saya titipkan di sana. Saya mau naik bis saja…”.

Ucapan dari ibu guru itu membuat otak saya berpikir cepat. Apakah memang seharusnya ibu itu menempuh cara itu? Tidak adakah solusi yang lebih baik baginya? Apa yang bisa saya lakukan?

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepadanya, sambil saya berkata : ”Bu, ini untuk membeli bensin. Ikhlaskan saja dompet ibu yang hilang dan doakan pencurinya, insya Allah ibu akan memperoleh gantinya yang lebih baik”, kataku sok tahu (dan memang dalam situasi tertentu, berperilaku ’sok tahu’ itu adalah sebuah keterampilan yang sangat diperlukan). Semula ibu itu menolak pemberian saya. Namun saya yakinkan bahwa dia lebih membutuhkannya. Tidak lupa kemudian saya wanti-wanti : ”Hati-hati di jalan, bu…!”. Ucapan ”normatif” tapi saya tahu pasti itu cukup membantu menenangkan pikirannya.

***

Bagian terakhir itulah sebenarnya yang menjadi inti dari cerita saya ini. Bukan soal uang yang saya berikan. Kalau itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik dengan jumlah yang lebih banyak. Dalam agama saya, dan juga siapapun (lebih-lebih para pemilk KTP Islam) pasti tahu, perbuatan ”pamer kebaikan” adalah tergolong riya yang dilarang oleh agama. Namun, ternyata tidak setiap pemilik uang sempat dan mampu membuat keputusan cepat untuk melakukan sebuah kebaikan di detk-detik yang boleh dikatakan ”kritikal”. Sebab kalau saja saya kelamaan berpikir, ibu itu pasti sudah telanjur berangkat tanpa saya melakukan tindakan apapun.

Intinya adalah bagaimana kita menangkap sebuah peluang di detik-detik yang dalam istilah persepakbolaan disebut dengan injury time. Juga dikenal ada istilah suddent dead. Siapa duluan membuat gol, atau action langkah kemenangan, dialah yang akan meraih hasilnya. Dalam pengalaman cerita di atas, saya lebih dahulu membuat keputusan untuk berbuat sesuatu di detik-detik terakhir sebelum ibu itu pergi. Bukan tidak mungkin, saya terlambat membuat keputusan sehingga ibu itu lebih dahulu melaju pergi meninggalkan saya yang sesaat setelah itu baru ngeh….. Sesal kemudian tak berguna….

Satu hal lagi, bahwa kesempatan memperoleh peluang seperti itu tidak datang setiap saat. Sekedar ilustrasi, barangkali kita pernah mengalami berangkat dari rumah membawa segepok uang receh dengan harapan kalau nanti ketemu peminta-minta di jalan akan dibagikan. Tapi setelah berjalan melewati banyak perempatan jalan malah tidak satu pun peminta-minta yang kita jumpai. Atau sekali waktu kita pergi hendak bersedekah kepada seseorang dan ternyata setelah dicari-cari, seseorang itu tidak berhasil ditemui. Bahkan dalam kisah di atas, seorang teman yang kebetulan membaca status yang saya tulis di Facebook segera mengontak saya dan berniat menyumbangkan sejumlah uang. Namun sayang sekali, sudah dicari-cari hingga ke kantor polisi Prambanan, ibu itu tidak berhasil dijumpai. Entah sedang singgah kemana ibu itu. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang. Tapi ketika kemudian kesempatan itu datang, sepertinya banyak hal membuat ragu dan menghalangi sehingga kita malah tidak melakukan apapun.

Ya, tentang menangkap sebuah peluang, itulah sebenarnya yang saya ingin berbagi melalui cerita ini. Menangkap sebuah peluang ”bisnis” yang dalam pemahaman saya di baliknya terkandung nilai yang tak terukur dan digaransi akan memperoleh return yang tak terhingga nilainya. Hanya sebuah langkah kecil yang relatif tidak berarti banyak. Namun saya ingin meyakinkan bahwa improvisasi keseharian semacam itu terkadang perlu dilakukan, minimal agar irama kehidupan ini tidak membosankan begita-begitu saja…, karena langgam improvisasi yang secara kasat mata tidak seberapa itu akan terasa besar manfaatnya baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Namun sekali lagi, tidak banyak orang yang sempat menangkap peluang ”bisnis” semacam ini. Padahal bukan soal ”berapa banyak” yang menjadi esensinya.

Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Soto Sapi ‘Tarunojoyo’ Prambanan

11 Juni 2010

Siang hari mau beli tripleks, cat, paku, dll. di selatan pasar Prambanan, Jogja. Lha kok di dekat situ ada warung soto, ya jelas mampir nyoto dulu… Judul warungnya Soto Sapi ‘Tarunojoyo’ (bukan Trunojoyo). Kalau sudah urusan nyoto, coba dulu, enak nggak enak urusan nanti. Lagian, tahunya nggak enak itu setelah dicoba. Tapi lumayan kok, walau taste-nya standar. Sebab filosofinya ‘kan ‘urip iku mung sak dermo nunut nyoto…’

Yogyakarta, 2 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Musim Panen Di Madurejo

28 Maret 2010

Musim panen telah tiba. Hamparan sawah dengan padi menguning di kawasan Madurejo mulai dipanen, seolah berpacu dengan datangnya musim hujan. Tanaman padi dipotong di pangkalnya, kemudian dirontokkan bulir padinya dengan cara dipukul-pukulkan, lalu rontokan padinya dimasukkan karung, untuk kemudian diangkut ke penggilingan padi dijadikan beras.

Tiada lagi pemandangan petani yang menuai padi seperti nyanyian: “potong padi ramai-ramai, di sawah…”.

(Madurejo adalah nama sebuah desa di wilayah kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, DIY)

Yogyakarta, 27 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Bebeknya Bu Suwarni Prambanan, Enak Dibacem Dan Perlu

18 April 2008

Sekali waktu berkunjunglah ke Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar satu kilometer sebelum mencapai Prambanan dari arah Solo atau kalau dari arah Jogja sekitar satu kilometer setelah candi Prambanan, membelok ke selatan menuju ke stasiun Prambanan. Di jalan depan stasiun ke arah barat, sebelum belok melintas persimpangan rel kereta api, di pojok kanan ada sebuah warung makan yang cukup terkenal. Namanya Rumah Makan Bu Suwarni.

Menu utama warungnya Bu Suwarni ini adalah menu bebek-bebekan, terutama bebek goreng dan soto bebek. Bagi penggemar rasa khas daging bebek, warung ini layak dipertimbangakan untuk menjadi pilihan. Bebek gorengnya yang dibumbu bacem, terasa benar bacemannya. Baceman khas Jogja dengan rasa manis yang agak kuat. Bumbu bacemnya merasuk hingga menyentuh bagian paling dalam dari daging bebek yang tekstur seratnya lebih kentara dibanding daging ayam.

Kalau kurang suka dengan bebek goreng bumbu bacem khas Jogja, masih ada pilihan soto bebek. Soto bebeknya Bu Suwarni memang beda. Kalau umumnya daging bebek digoreng, dibakar, atau dipanggang, maka soto bebeknya miraos tenan…. Dari sruputan kuahnya sudah terasa kaldu daging bebeknya. Sotonya sendiri tidak jauh beda dengan ramuan soto ayam. Ada campuran tauge kecil (untuk membedakan dengan umumnya tauge yang ukurannya besar), irisan kol dan loncang (daun bawang), ditambah irisan ampela bebek, lalu diguyur kuah soto berkaldu bebek. Khas sekali rasanya.  

Warung makan Bu Suwarni ini memang tipikal bisnis keluarga. Sejak berdiri lebih 25 tahun yang lalu, manajemen warung ini tidak jauh-jauh dari sentuhan keluarga besarnya. Bahkan semua pelayannya adalah juga masih ada hubungan kekeluargaan. Hingga kini warung bebek-bebekan ini sepertinya tak goyah oleh aneka badai ekonomi. Tetap beroperasi dan bahkan semakin berkibar.

Dulu-dulunya, warung Bu Suwarni hanya menempati petak kecil di pinggiran jalan raya Prambanan. Sejak tahun 1987, bu Suwarni yang berasal dari dukuh Pereng, Prambanan, pindah ke dalam. Ya, di jalan stasiun barat itu hingga sekarang. Tahun 2006 sewaktu terjadi gempa Yogya, dimana sebagian Prambanan termasuk wilayah yang cukup parah terkena gempa, Rumah Makan Bu Suwarni pun roboh. Kini bangunan warungnya nampak jauh lebih representatif, seiring dengan perkembangan usahanya.

Melihat keberhasilan warungnya bu Suwarni berbisnis menu bebek pada saat ini hingga rata-rata menghabiskan 50 ekor bebek per harinya, terbayang bagaimana gigihnya sosok bu Suwarni muda ketika memulai membuka warung makan bebek goreng. Tentu dengan kondisi yang sangat sederhana pada masa itu. Kalau kini usia bu Suwarni sekitar 47 tahunan, berarti bu Suwarni masih berusia sekitar 21 tahun ketika memulai bisnis ini pada tahun 1982.    

Kita sering “terjebak” hanya melihat ujung dari perjalanan hidup seseorang ketika kesuksesan sudah diraih. Tapi kita sering alpa melihat dan mempelajari bagaimana jatuh-bangunnya sesorang dalam merintis, mengembangkan, mempertahankan dan akhirnya menjaga prestasi usahanya. Bu Suwarni layak menjadi sebuah cermin bagi semangat enterpreneurship di jaman kini. Istilah kewirausahaan yang pada masa itu belum dikenal orang, kecuali sekedar bagaimana bertahan hidup dengan cara yang halal dan barokah. Tipikal cara berpikir orang-orang desa yang lugu dan tidak neko-neko. Kalau akhirnya semangat bertahan hidup itu mampu memberikan hasil yang lebih dari cukup, maka itu adalah berkah dari kerja kerasnya selama meniti masa-masa sulit sekian tahun yang lalu.

***

Sebelum meninggalkan warungnya bu Suwarni, saya sempatkan untuk melongok dapurnya dan memesan seekor bebek utuh tanpa kepala untuk di bawa pulang. Saya baru tahu kalau beli bebek utuh rupanya tidak termask kepalanya seperti halnya kalau beli seekor ayam utuh. Tapi, apalah artinya sepenggal kepala bebek (sedang kepala-kepala yang lain saja kita sering tidak perduli) jika dibandingkan dengan kepuasan menyantap sepotong bebek goreng dan semangkuk soto bebek yang rasanya khas dan miraos (enak) dengan ganti harga yang wajar.

Bebeknya bu Suwarni, memang enak dibacem dan perlu (perlu dicoba maksudnya).  

Yogyakarta, 6 April 2008 
Yusuf Iskandar