Posts Tagged ‘gedung putih’

Ibu Guru Teladan

12 November 2008
Betsy Rogers

Betsy Rogers

Seorang guru sekolah dasar dari negara bagian Alabama, terpilih sebagai guru terbaik tahun ini di Amerika Serikat. Presiden George Bush menghormatinya di Gedung Putih pada tanggal 30 April yll, dalam acara pemberian penghargaan yang sangat bergengsi “2003 National Teacher of the Year Award”.

Ibu guru teladan itu bernama Betsy Rogers. Sebagai guru terbaik tahun ini, Ibu Rogers akan menghabiskan waktunya tahun depan sebagai duta besar internasional untuk bidang pendidikan. Ibu Rogers akan meninjau ke seluruh Amerika Serikat dan negara lain, dan mengajurkan agar guru-guru sekolah terus diberi kursus lanjutan yang lebih baik.

Ini memang berita terlambat. Pertama kali membaca berita itu, sejujurnya, saya kurang tertarik. Pikiran saya terlanjur skeptis, paling-paling ya seperti pemilihan Pelajar Teladan atau Guru SD Teladan atau ribuan teladan lainnya, saat perayaan 17-an di Jakarta. Itu saja. Namun, ketika kedua kali saya menerima dan membaca berita yang sama, saya mengendus ada hal yang tidak biasa di balik pemilihan guru teladan itu.

Rupanya benar. Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa. Ibu Roger ini ternyata memang bukan sembarang guru SD. Dr. Helen Betsy Roger adalah seorang ibu berusia 51 tahun, seorang sarjana lulusan Samford University tahun 1974 dan menyandang gelar Master dan Doctor di bidang pendidikan. Beliau telah menjadi guru selama 22 tahun dan memilih mengajar murid-murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar di sekolahan kecil dan ndeso yang murid-muridnya berusia antara 5 hingga 7 tahun, dan kebanyakan anak-anak orang miskin (jangan lupa, di Amerika juga banyak orang miskin). SD itu bernama Leeds Elementary School, di Jefferson County, di luar kota Birmingham, negara bagian Alabama.

Seperti diberitakan oleh Voice of America, bahwa menurut Ibu Rogers, salah satu masalah utama sekolah-sekolah yang ada di daerah miskin adalah bahwa sekolah-sekolah ini tidak memperoleh cukup dana. Dia juga menghendaki agar lebih banyak guru yang bersedia datang mengajar ke sekolah-sekolah anak kaum miskin. Dia bersama suaminya pindah ke daerah pertanian dekat Sekolah Dasar Leeds Elementary pada awal tahun 1980-an. Mereka menghendaki kedua putra mereka mengenal anak miskin dan keturunan ras lain. Sejak itu sampai sekarang ia mengajar di sekolah tersebut.

Bagi Betsy Rogers, cara mengajar sangat beraneka ragam. Dia menganjurkan kepada para guru lain agar jangan sekali-kali menganggap bahwa seorang siswa tidak dapat belajar atau bodoh. Sebaliknya, ia menyarankan agar para guru mencoba teknik baru untuk memberi penjelasan.

Betsy Rogers menggunakan lukisan, musik, dan memasak sebagai bagian dari alatnya untuk mengajar. Dia berhasil meyakinkan sekolah tersebut agar memulai suatu program dimana guru-guru mengikuti perkembangan siswa dari mulai awal kelas satu sampai akhir kelas dua. Ini memungkinkan guru dapat mengukur kemajuan anak. Teknik ini di Amerika Serikat disebut looping. Sekolah-sekolah lain di negara bagian Alabama sekarang menggunakan teknik tersebut.

alam karirnya, Ibu Rogers yang nenek dan ibunya juga seorang guru ini, dikenal atas komitmennya terhadap para anak didik di luar jam sekolah. Sebelum jam sekolah dimulai, beliau memberikan pelajaran tambahan kepada murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar membaca. Ibu Rogers juga berminat pada kehidupan siswanya di luar ruang kelas. Dia menghadiri pesta anak-anak dan pertandingan olah raga mereka. Beliau aktif di Komite Sekolah. Beliau juga membantu keluarga para anak didiknya yang kurang beruntung melalui kelompok-kelompok gereja dan paguyuban atau organisasi social kemasyarakatan. Untuk berkomunikasi dengan semua anggota keluarga siswa, dia bahkan mengirim e-mail kepada orang tua siswa (perlu diketahui bahwa sarana email dan internet sudah menjadi sarana komunikasi umum bagi sebagian besar masyarakat Amerika).

Selama bertahun-tahun, Ibu guru Rogers telah bekerja keras untuk memastikan agar anak-anak didiknya memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa mempedulikan status ekonomi mereka. Beliau berargumentasi bahwa sekolah-sekolah yang kinerjanya rendah harus memiliki guru-guru yang terbaik. Beliau mencita-citakan agar kelasnya menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman dan memberikan suasana yang membantu anak-anak mengembangkan dirinya. Beliau juga menginginkan agar para guru menjadi bangga terhadap profesi mereka dan mengetahui akan pengaruh peran mereka terhadap anak didik melalui cara-cara yang mungkin tidak terlihat.

***

Betsy Rogers terpilih mendapat kehormatan nasional di antara 54 orang guru teladan yang mewakili masing-masing negara bagian untuk berdiri di samping Presiden Bush menyampaikan sambutannya di Gedung Putih. Dalam pesan yang disampaikannya dalam kesempatan itu, Betsy Rogers sempat mensitir sebuah ucapan yang sangat puitis, bahwa “anak-anak kita adalah pesan yang hendak kita kirimkan menuju ke suatu masa yang kita tidak pernah melihatnya. Betapa ini adalah tanggungjawab yang mengagumkan dan luar biasa bagi kita sebagai pendidik, untuk bekerja menuju masa depan Amerika”.

Betsy Rogers juga menghimbau murid-muridnya untuk saling membantu. Dikatakannya : “Tidak perduli seperti apapun keadaan hidupmu, kalian tetap dapat memberi”.

Guru-guru seperti Ibu Betsy Rogers ini, menempatkan anak-anak di atas jalan untuk menjadi warga masyarakat yang baik, terlebih lagi menjadi orang tua yang berhasil. Mereka itu menunjukkan kepada para muridnya bahwa di sepanjang jalan itu ada banyak orang-orang yang perduli dan siap untuk membantu. Demikian kata Presiden Bush.

Apa yang dilakukannya sepulang dari Gedung Putih dan tiba di sekolahnya? Ibu guru Rogers menyampaikan pesan-pesannya di forum pertemuan untuk anak-anak TK sampai kelas dua SD. Kemudian dilanjutkan dengan berpidato di depan anak-anak kelas tiga sampai kelas lima SD. Murid-muridnya bangga karena seorang gurunya memperoleh penghargaan tertinggi dari Presidennya. Ibu Rogers pun bangga dapat berbagi cerita dan pengalaman di depan murid-muridnya.

Kelak ketika Ibu Rogers mengambil paket MPP, betapa bangganya para murid bersama-sama menyanyikan lagu “Auld Lang Syne”…… old long ago……saat-saat yang (pernah) indah…..

Semoga kisah tentang ibu guru Betsy Rogers ini dapat mengilhami kita semua (sebagai bagian kecil dari bangsa besar yang lagi terpurukruk-ruk-ruk-ruk ini) untuk berbuat sesuatu……..

Tembagapura, 18 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (18)

2 November 2008

New Orleans, 20 Nopember 2000 – 21:00 CST (21 Nopember 2000 – 10:00 WIB)

Kemelut di depan gawang Gedung Putih masih juga belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Berbagai proses peradilan pemilu baik di tingkat kabupaten maupun negara bagian Florida masih terus berlanjut. Saking banyaknya peristiwa peradilan, membuat saya sendiri bingung untuk memahami proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini. Untuk itu berikut ini akan saya coba ketengahkan gambaran besarnya saja.

Sidang Mahkamah Agung negara bagian Florida tadi sore mendengarkan argumen dari kedua belah pihak tentang sah tidaknya hasil penghitungan ulang di tiga kabupaten untuk ditambahkan ke dalam hasil penghitungan akhir sementara yang sudah disetujui oleh panitia pemilu Florida. Hingga saat ini masih belum ada keputusan peradilan, bahkan belum ada kejelasan kapan akan diputuskan. Jadi, ya masih menunggu.

Padahal Gore banyak berharap agar hasil penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara itu dapat disahkan untuk ditambahkan ke dalam hasil akhir sementara. Pasalnya ketiga kabupaten, yaitu Broward, Miami-Dade dan Palm Beach adalah termasuk wilayah basis pendukung Partai Demokrat. Beberapa TPS yang telah selesai menghitung memang mengindikasikan akan adanya penambahan suara bagi Gore, meskipun angka tersebut belum dilansir keluar.

Sementara proses peradilan masih berlanjut, sementara itu pula acara penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang jumlahnya ratusan ribu di tiga kabupaten juga masih terus dilanjutkan. Entah kapan selesainya, padahal di minggu ini akan ada dua hari libur nasional Thanksgiving Day, yaitu Kamis dan Jum’at.

Sementara itu lagi, tuntutan dari para pemilih di wilayah kabupaten Palm Beach untuk meminta pemilu ulang ternyata ditolak. Kini para pemilih tersebut sedang mengajukan banding atas keputusan penolakan dari peradilan State Circuit Court. Jadi, ya masih menunggu lagi kapan akan diputuskan.

Di lain pihak, adanya sekitar 40% suara (lebih 1.500 suara) dari absentee ballot yang kebanyakan berasal dari para anggota militer dan keluarganya yang sedang bertugas di luar negeri yang telah dinyatakan ditolak karena tidak sah, kini sedang diperjuangkan untuk ditinjau kembali. Para militer itu merasa haknya untuk memilih tidak dihargai, padahal kesalahan itu bukan semata-mata karena keteledorannya.

Bush sangat berharap atas suara luar negeri ini yang diyakini banyak berasal dari para pendukungnya. Sebagaimana telah terbukti dari suara luar negeri yang sudah sah dihitung, Bush mengumpulkan jumlah dua kali lebih banyak dibanding yang dikumpulkan Gore. Apakah suara dari luar negeri ini akan disetujui untuk dipertimbangkan kembali kesahannya. Hingga kini belum ada kepastian. Jadi, ya masih menunggu lagi apakah akan ada perubahan pengumpulan suara.

Ketiga persoalan di atas, dari sekian banyak persoalan yang masih dalam proses peradilan, kiranya cukup memberi gambaran bagi saya (dan kita), bahwa kesimpulan paling gampang adalah proses pemilu masih belum selesai dan tidak tahu kapan akan selesai. Dengan kata lain, presiden baru Amerika belum akan diketahui dalam waktu dekat ini dan penantian Amerika untuk memiliki presiden baru masih akan panjang.

Hingga hari ketigabelas setelah pemilu dilangsungkan tanggal 7 Nopember yll, kedudukan sementara pengumpulan jatah suara (electoral vote) masih tetap 255 untuk Gore dan Bush 246 untuk Bush. Kunci kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang menang di Florida yang berhak memperoleh tambahan 25 jatah suara guna mencapai angka kemenangan 270.

Sedangkan kedudukan sementara pengumpulan kartu suara (popular vote) di Florida saat ini Bush masih unggul atas Gore dengan 930 suara. Bush sedang berusaha keras agar dapat memperbesar angka kemenangannya, sedangkan Gore sedang berusaha keras untuk memperkecil selisih kekalahannya untuk selanjutnya mengungguli Bush sekalipun hanya dengan sedikit suara saja. Untuk itulah berbagai trik dan cara ditempuh oleh kedua belah pihak melalui mekanisme hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi, ya masih menunggu lagi. Entah sampai kapan proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini akan berakhir.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (23)

2 November 2008

New Orleans, 27 Nopember 2000 – 22:00 CST (28 Nopember 2000 – 11:00 WIB)

Dua jam yang lalu, sekitar jam 8:00 Senin malam ini. (Selasa pagi, 9:00 WIB), Al Gore tampil di depan publik dan menyampaikan pidatonya. Dia tetap akan melanjutkan upayanya untuk menentang pengesahan suara Florida kemarin malam. Dikatakannya bahwa warga Amerika adalah sama kedudukannya pada Hari Pemilu hanya jika semua kartu suaranya dihitung. Pernyataan ini merujuk kepada adanya kartu-kartu suara yang tidak dihitung yang jumlahnya lebih dari 10.000 suara, sebagai akibat dari tidak terdeteksinya hasil coblosan oleh mesin penghitung.

Gore juga merujuk kepada adanya penghitungan ulang dengan tangan atas kartu suara di beberapa kabupaten yang tidak berhasil diselesaikan hingga tenggat hari Minggu sore jam 5:00 yll. Padahal Sekwilda Florida sudah akan segera mengesahkan hasilnya sesuai dengan keputusan Mahkamah Agung Florida yang hanya memberi batas akhir penghitungan ulang hingga Minggu sore itu.

Itulah yang kini sedang diperjuangkan pihak Gore yang menginginkan agar semua hasil penghitungan ulang dapat diakui hasilnya dan semua suara yang belum dihitung dengan mesin dapat dilakukan penghitungan ulang. Apapun hasilnya.

Gore mengingatkan bahwa mengabaikan suara sama artinya dengan mengabaikan demokrasi itu sendiri. Dengan gaya retoriknya Gore mengatakan : “Dan jika kita mengabaikan ribuan suara di Florida dalam pemilu ini, bagaimana Anda atau siapapun warga Amerika mempunyai keyakinan bahwa suara Anda tidak akan juga diabaikan di pemilu mendatang?”.

Sementara pihak Bush tetap berkeyakinan akan kemenangannya sesuai dengan hasil akhir yang disahkan oleh panitia pemilu Florida kemarin malam. Bush pun sudah siap-siap membuka kantor di Gedung Putih dalam rangka masa transisi jabatan kepresidenannya.

Proses peradilan masih akan berlanjut dalam minggu ini dan hari-hari selanjutnya, di berbagai macam jenis peradilan dan tingkatan peradilan, yang menjadi tidak mudah dipahami oleh masyarakat awam. Rupanya tidak hanya saya yang bingung, penyiar CNN pun juga kebingungan memahami buuuanyaknya proses peradilan ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (24)

2 November 2008

New Orleans, 28 Nopember 2000 – 21:15 CST (29 Nopember 2000 – 10:15 WIB)

Hari ini tidak ada breaking news, kecuali kedua kubu saling melempar pernyataan. Sudah lebih 20 hari sejak hari pemilu, kontroversi tentang presiden Amerika masih belum juga tuntas…tas…tas…tas… Meskipun hasil akhir suara Florida sudah disahkan Minggu malam yll.

Bush sedang “kebelet”, tidak sabar lagi ingin boyongan ke Gedung Putih menggantikan Bill Clinton pada 20 Januari 2001 nanti. Gore sedang “gerah”, memperjuangkan adanya banyak suara dari pendukungnya di beberapa kabupaten yang ternyata tidak diakui oleh panitia pemilu Florida saat pengesahan dan juga adanya banyak kartu suara yang tidak terbaca oleh mesin penghitung. Proses peradilan atas tuntutan pihak Gore ini masih berlanjut ke tingkat selanjutnya dan masih akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang

Melihat hasil keputusan pengesahan suara di Florida pada Minggu malam lalu, yang menghasilkan angka kemenangan bagi George Bush, seorang rekan di Indonesia (Mas Henry Lumbantoruan) bertanya : “ada banyak massa nggak yang ke gedung DPR-nya Amrik untuk protes hasil sementara Pemilu itu?”

Ternyata tidak ada massa yang ramai-ramai datang ke gedung DPR untuk protes hasil pemilu, yang ada justru protes dari Al Gore, Joe Lieberman dan kubunya. Itu juga cukup dilakukan dari rumah, tidak perlu memprovokasi teman-temannya lalu ngelabrak di jalanan.

Beberapa hari terakhir menjelang pengesahan suara Florida memang banyak massa berunjuk rasa (bukan protes, melainkan memang sedang mengunjukkan perasaannya), antara lain di sekitar kantor pemilu di Tallahassee (Florida). Pendukung Bush bergerombol membawa poster dan meneriakkan yell-yell, di sebelah lain pendukung Gore juga melakukan hal yang sama. Kedua pihak dipisah oleh polisi, dibatasi dengan police line. Tidak ada PAM-Swakarsa.

Di kediaman George Bush di Austin (Texas), massa berunjuk rasa mendukung Bush sambil membawa poster, berjalan keliling halaman, meneriakkan yell-yell. Kalau ada mobil lewat yang juga pendukung Bush, mobil lalu berjalan perlahan sambil membunyikan klakson tanda mendukung. Ternyata di situ juga ada sekelompok kecil pendukung Gore, yang juga membawa poster. Mereka baik-baik saja, saling cengengesan. Mengekspresikan sikapnya masing-masing, tanpa perlu gelut atau tawuran.

Di kediaman Al Gore di Washington DC, massa berunjuk rasa mendukung Gore juga sambil membawa poster. Ketika diumumkan bahwa Bush yang unggul di Florida, massa pendukung Gore lalu meletakkan posternya dan balik kanan. Padahal sebelumnya saya “mengharapkan” mereka akan membakar ban, merusak mobil, melempari gedung atau menjarah toko. Ternyata “harapan” saya tidak cocok untuk saya gunakan di Amerika. Lha, ternyata kok mereka lebih sareh (mampu mengendalikan emosi) daripada saya.

Saya kira, inilah salah satu buah dari hasil pembangunan masyarakat (dan demokrasi) yang sudah mapan. Karena pihak manapun yang jadi Presiden, tidak akan berdampak besar terhadap sistem kehidupan masyarakatnya. Hanya soal beda figur saja dan skala prioritas pembangunannya. Selebihnya, kehidupan akan berjalan normal kembali.

Tidak ada trauma historis yang hanya menyebabkan ketidakpercayaan dan kecurigaan. Sebab kalau itu yang terjadi, maka bersiap-siaplah untuk mengatasi setiap kemelut dengan kemelut baru. Kalau ternyata hasilnya tidak memuaskan, lalu diberikanlah terapi dengan kemelut baru lagi, yang biasanya juga menghasilkan kemelut lagi. Demikian seterusnya, dan itu yang terjadi dalam kurun 4 tahun terakhir sejarah reformasi bangsa kita.

Pihak yang kalah dalam pemilu Amerika akan kecewa? Pasti. Tidak puas? Jelas. Lalu, berbagai cara legal pun akan ditempuh oleh kedua belah pihak guna melampiaskan kekecewaan dan ketidakpuasannya. Setelah itu? Semua pihak akan menghargai apapun keputusan akhirnya. Kemungkinan akan adanya ketidakpuasan yang berlebihan dan tak terkendali oleh individu, dapat saja terjadi. Insiden-insiden kecil tentu tak terhindarkan. Tetapi ketidakpuasan kolektif yang memicu kerusuhan dan teror, kelihatannya kok tidak terjadi dan itulah yang saya lihat sejauh ini.

Peristiwa pemilihan presiden Amerika tahun ini memang akan menjadi cacatan terburuk dalam sejarah demokrasi Amerika. Namun saya melihat, ini juga akan menjadi catatan sejarah bahwa betapapun rumit dan tegangnya proses pemilu kali ini, diperkirakan akan dapat diselesaikan dengan tetap saling menghormati proses demokrasi, sekalipun berlarut-larut. Hal yang terakhir ini memang menjadi salah satu kebanggaan warga Amerika, setiap kali saya omong-omong dengan rekan Amerika saya.

Kini perkenankan saya bermimpi : Kalau saja……., “semangat tidak gampang ngamuk” yang seperti ini dapat ditiru oleh rekan-rekan muda*) saya di mana saja, dan bukannya malah meniru gaya hidup bebas tak terbatasnya ………- 

Note :
*) Seseorang hingga berumur 40 tahun, menurut KNPI masih disebut pemuda.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (30)

2 November 2008

Golden, 8 Desember 2000 – 23:00 MST (9 Desember 2000 – 12:00 WIB)

Perumpamaan saya beberapa hari yll. bahwa proses pemilihan presiden ini layaknya sampai di babak antiklimaks sebuah pementasan drama, ternyata kurang tepat. Hari ini justru terjadi klimaks yang berikutnya, ketika Mahkamah Agung Florida memutuskan untuk dilakukan penghitungan ulang secara manual atas seluruh kartu suara yang belum sempat dihitung oleh mesin penghitung, atau yang disebut dengan undervote. Tidak hanya di dua kabupaten bermasalah, melainkan di seluruh 67 kabupaten yang ada di Florida.

Hal ini terjadi karena adanya hasil pencoblosan yang tidak menghasilkan lubang sempurna, sehingga ditolak oleh mesin pembaca kartu suara. Sebelumnya kartu suara jenis ini dinyatakan tidak sah, tetapi Gore memperjuangkan agar dilakukan pemeriksaan dan penghitungan dengan tangan.

Keputusan yang oleh pers diistilahkan sebagai sebuah keputusan dramatis ini membuat kubu Gore gembira. Pihak Gore yang akhir-akhir ini oleh sementara pihak dinilai sudah nyaris terpuruk, kini pers menyebutnya dengan new live for Gore. Tentu saja keputusan dramatis ini disambut oleh pihak Gore dengan menyebutnya sebagai win for fairness and accountability, win for democracy.

Pihak Bush tentu saja tidak mau kalah dengan mengekspresikan kekecewaannya. Pihaknya menyebut keputusan ini sebagai sad for democracy, sad for nation, sad for Florida. Saling adu pernyataan dan komentar, malam ini bertebaran di berbagai media massa.

Serta merta pihak Bush segera mengajukan emergency petition melalui fax kepada Mahkamah Agung Amerika guna memblokir keputusan penghitungan ulang, yang menurut keputusannya akan segera dilakukan atas lebih 43.000 lembar undervote. Entah bagaimana caranya dan berapa waktu diperlukan untuk melakukan pekerjaan semacam itu.

***

Panitia pemilu Florida segera melakukan pertemuan guna menentukan standard yang jelas tentang bagaimana cara pemeriksaan dan penghitungan ulang secara manual kartu-kartu suara tersebut. Secepatnya besok hari Sabtu pagi proses itu akan segera dilakukan.

Associated Press, seperti dilansir CNN, mengemukakan selisih pengumpulan angka yang sangat tipis antara Bush dan Gore. Hingga malam ini, sementara Bush unggul hanya dengan selisih kemenangan 193 suara. Sebuah margin kemenangan yang membuat kedua kubu semakin deg-degan. Apapun keputusan pengadilan selanjutnya akan menjadi penentu bagi kemenangan salah satu pihak.

Gore sangat yakin, jika penghitungan ulang dapat terlaksana maka dia akan mampu mengungguli Bush. Demikian halnya pihak Bush tentu juga menyadari akan kemungkinan tersebut. Oleh karena itu Bush pun berjuang keras memblokir keputusan Mahkamah Agung Florida dengan melakukan upaya banding secepatnya melalui emergency petition ke Mahkamah Agung Amerika.

Maka perjuangan menuju Gedung Putih menjadi semakin mendebarkan, setidak-tidaknya bagi Bush dan Gore serta pendukung fanatiknya.

***

Sementara itu, hari Selasa tanggal 12 Desember nanti adalah jadwal yang telah ditentukan bagi DPR di negara bagian untuk menentukan utusan yang akan duduk dalam Electoral College. Selanjutnya para utusan itu akan bertindak sebagai pemilih dalam pemilihan presiden secara formal melalui lembaga Electoral College tersebut. Sedangkan hasil akhir di Florida belum dicapai.

Maka sesi khusus yang bersejarah akan digelar di DPR Florida guna memilih utusan untuk anggota Electoral College pada saat hasil akhir pemilu belum diketahui dengan pasti. Tentu saja terjadi pertentangan, terutama dari pihak Partai Demokrat (partainya Al Gore) menentang rencana itu, karena mayoritas anggota DPR Florida dipegang oleh Partai Republik (partainya George Bush).

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (34)

2 November 2008

New Orleans, 13 Desember 2000 – 22:00 CST (14 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Terjawablah sudah kini siapa yang menjadi pemenang pemilu di Florida, setelah Al Gore di depan publik Amerika menyampaikan pidato kekalahannya pada jam 9:00 malam waktu Amerika Timur yang baru lalu (Kamis pagi jam 9:00 WIB). Pidato Al Gore itu disampaikannya di gedung Eisenhower Executive Office, yang terletak di sebelah Gedung Putih, Washington DC, dengan dihadiri oleh istrinya serta pasangannya Joe Lieberman yang juga bersama istrinya.

Mengawali pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia baru saja menilpun George Bush guna menyampaikan menerima kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung Amerika kemarin malam, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan menerimanya.

Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh sebuah ajakan yang sangat simpatik kalau melihat betapa selama 36 hari terakhir sejak hari pemilu tanggal 7 Nopember yll. kedua belah pihak saling bersaing dengan tajam guna memenangi pengumpulan suara di Florida.

Saat keluar dari gedung Eisenhower dimana Gore menyampaikan pidato kekalahannya, di luar gedung di bawah gerimis, puluhan pendukung Gore masih dengan setia mengelu-elukannya dan memberikan tepuk tangan penghormatan atas Al Gore sambil meneriakkan kata-kata ritmis : “Gore in four, Gore in four”. Tentu yang dimaksud adalah agar Gore berjuang lagi untuk menuju ke Gedung Putih pada tahun 2004 nanti dan mereka akan mendukungnya.

Sejam kemudian, Gubernur Texas George W. Bush juga menyampaikan pidatonya di ruang sidang DPR Texas, yang berada di gedung US Capitol di kota Austin. Sebelum Bush menyampaikan pidato penerimaan kemenangannya, terlebih dahulu dia diperkenalkan kepada segenap hadirin oleh juru bicara DPR yang adalah seorang senior Partai Demokrat, lawan dari partainya Bush, Partai Republik.

Di bagian awal pidatonya, Bush juga mengatakan bahwa ia telah menerima tilpun dari Wakil Presiden Al Gore. Bush sangat berterima kasih atas ucapan selamat dari Gore, karena Bush menyadari bahwa hal itu sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh Gore pada saat seperti ini.

Bush menegaskan komitmennya untuk memajukan Amerika bersama-sama. Bukan untuk kepentingan Partai Republik atau Demokrat, melainkan untuk kepentingan segenap warga Amerika termasuk mereka yang tidak memilihnya.

***

Perjuangan panjang dan melelahkan, malahan membosankan bagi sementara kalangan awam, telah dilakukan pihak Gore sejak 36 hari yll. dengan isu utama dilakukannya penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang dinilai bermasalah. Dengan sendirinya pihak Bush juga mesti melawannya dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya. Maka yang terjadi lebih sebulan ini adalah saling adu argumentasi di berbagai forum pengadilan mulai dari tingkat paling rendah di kabupaten-kabupaten bermasalah hingga tingkat paling tinggi di kota Washington DC.

Kini semua telah selesai. Pagi tadi Gore telah melakukan konferensi jarak jauh dengan segenap tim hukumnya di Florida. Gore menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kepada sekitar 30 pengacara dan staff kampanyenya di Tallahassee yang telah bekerja keras sejak hari pemilu yll.

Setelah keluar keputusan Mahkamah Agung Amerika tadi malam, maka kubu Gore sudah merasa tidak ada lagi jalur upaya hukum yang dapat dilakukan guna memperjuangkan kemenangannya di Florida. Maka 25 jatah suara (electoral vote) Florida jatuh ke tangan George Bush. Dengan demikian, secara nasional Bush berhasil mengumpulkan 271 jatah suara, sedangkan Gore mengumpulkan 267 jatah suara. Menciptakan margin kemenangan yang sangat tipis yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilihan presiden Amerika sebelumnya. Meskipun dari jumlah pengumpulan kartu suara (popular vote) secara nasional Gore lebih unggul dibandingkan Bush.

Usai sudah proses panjang pemilihan presiden Amerika. Tinggal kini dilanjutkan dengan tahap formal selanjutnya hingga pelantikan presiden tanggal 20 Januari 2001 saat secara resmi George Bush melengser Bill Clinton menduduki Gedung Putih.

Selamat untuk George W. Bush menjadi presiden terpilih Amerika ke-43. Saya yakin kali ini saluran-saluran televisi pasti tidak akan salah lagi mengekspose presiden baru Amerika sebagaimana yang terjadi pada tanggal 7 Nopember tengah malam bulan lalu. Presiden Indonesia Gus Durrahman juga pasti sudah siap dengan kawat ucapan selamatnya.

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(8).     Antri Memasuki Gedung Putih

Hari ini, Selasa 4 Juli 2000, adalah hari ulang tahun Amerika (Independence Day) ke 224. Kami merencanakan untuk mengunjungi Gedung Putih (The White House) pagi itu bersama-sama dengan keluarga Mas Supeno. Lalu siangnya jalan-jalan di ibukota Washington DC, yang biasanya cukup disebut DC saja (singkatan dari District of Columbia), barangkali untuk membedakannya dengan negara bagian Washington yang ada di ujung barat laut Amerika.

Dari informasi yang telah saya kumpulkan sebelumnya, hari ini Gedung Putih akan buka sebagaimana biasanya. Hanya saja khusus hari ini tidak diperlukan pengambilan tanda masuk terlebih dahulu, melainkan diterapkan sistem first come, first serve (dulu-duluan datang), langsung ke pintu samping timur Gedung Putih.

Sepanjang tahun Gedung Putih memang terbuka untuk umum dan boleh dikunjungi oleh siapa saja, dari hari Selasa hingga Sabtu, sedang hari Minggu dan Senin tutup. Benar-benar untuk umum karena tanda masuk dapat diperoleh dengan gratis. Tentu ada tata tertib yang harus dipatuhi. Biasanya pengambilan tanda masuk dibuka antara jam 10:00 hingga jam 12:00 siang.

Menjelang jam 10:00 pagi kami berangkat dari Wheaton menuju jantung kota Washington DC yang hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Barangkali karena Selasa ini hari libur nasional, sehingga lalulintas relatif cukup lancar. Akan tetapi justru di sekitar Gedung Putih menjadi ramai karena ternyata sudah banyak wisatawan yang lebih dahulu berada di sana.

Setelah putar-putar kesulitan mencari tempat parkir di dekat Gedung Putih, akhirnya memperoleh tempat parkir yang agak jauh. Perlu 15 menit lagi untuk berjalan kaki menuju Gedung Putih. Itupun dengan berjalan kaki agak cepat karena khawatir keburu pintu masuk Gedung Putih tutup lebih awal mengingat banyaknya pengunjung.

Tiba di Jalan Pennsylvania Avenue 1600 dimana Gedung Putih berada , ternyata antrian panjang sudah melingkar di sana. Kepalang sudah datang jauh-jauh dan memang salah satu tujuannya adalah untuk mengunjungi sebuah gedung sangat terkenal yang memang bercat putih ini, maka kami pun menyambung di ekor antrian. Saya perkirakan panjang antrian di depannya sudah lebih lima ratus meter. Saat itu sudah menjelang jam 11:00 siang. Dugaan saya sebelumnya benar, sekitar jam 11:30 antrian sudah di putus oleh petugas. Pengunjung sudah tidak diperkenankan lagi menyambung di ekor antrian.

Antrian bergerak cukup cepat, hingga hanya sekitar setengah jam kami sudah sampai di pintu gerbang pemeriksaan seperti kalau mau masuk ke bandara. Seperti biasa, perlengkapan fotografi tidak diperkenankan untuk digunakan selama berada di dalam gedung, tapi tetap boleh dibawa masuk. Hampir di setiap sudut bangunan berdiri petugas penjaga yang berpenampilan cukup bersahabat dan bahkan siap menjawab dengan ramah setiap pertanyaan pengunjung (saya tidak menyebutnya petugas keamanan karena biasanya yang saya sebut terakhir ini cenderung berpenampilan angker dan digalak-galakkan).

Meskipun demikian toh petugas penjaga ini tetap berlaku tegas. Ini tampak ketika ada seorang pengunjung yang entah sengaja entah tidak, duduk di sebuah kursi di ruang pertemuan kenegaraan yang disebut Red Room (karena memang warna merah mendominasi dekorasi ruangan tersebut) yang jelas-jelas ada tertulis larangan untuk mendudukinya.

Ketika ditegur, ternyata sang pengunjung yang kelihatannya pendatang dari Asia ini malah cengengesan bersama teman-teman rombongannya dan tidak sedikitpun menunjukkan sikapnya bahwa dia telah melakukan hal yang salah. Merasa tegurannya tidak diindahkan, maka langsung saja pengunjung nekad ini digandeng dengan cara yang sopan (baca : tidak kasar) oleh sang petugas penjaga dan dibawa keluar. Tidak diapa-apakan, cuma diperingatkan dan setelah itu disuruh menunggu di luar.

***

Sejak lebih 200 tahun yang lalu, Gedung Putih (the White House) berdiri sebagai simbol kepresidenan, simbol pemerintah Amerika Serikat dan simbol bagi rakyat Amerika. Peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan oleh presiden pertama Amerika, George Washington, pada bulan Oktober 1792. Tetapi justru George Washington sendiri tidak pernah menempati gedung ini.

Baru pada tahun 1800, presiden kedua, John Adams menempati gedung baru ini untuk yang pertama kali. Gedung baru ini selanjutnya menjadi tempat kediaman resmi presiden Amerika, dan sejak itu pula setiap Presiden Amerika melakukan perubahan dan penambahan atas Gedung Putih sesuai dengan selera, kebutuhan dan tuntutan perkembangan bangsa Amerika.

Gedung Putih yang bertingkat tiga ini ternyata mempunyai sejarah yang unik. Berhasil dibangun kembali pada tahun 1817 setelah dibakar bangsa Inggris tahun 1814. Kebakaran terjadi lagi di Sayap Barat tahun 1929 setelah sebelumnya dilakukan pelebaran Ruang Santap Malam dan penambahan ruangan untuk staff kepresidenan. Setiap presiden bebas mengekspresikan sentuhan pribadinya dalam mendekorasi ruangan-ruangan Gedung Putih, dan juga dalam cara mereka menerima kehadiran masyarakatnya yang ingin sowan ke Gedung Putih.

Thomas Jefferson (presiden ketiga) mengadakan open house pertama kali tahun 1805. Setiap warga yang hadir dapat dengan bebas memasuki tempat kediamannya hingga ke Ruang Biru (Blue Room), dan sejak saat itu Gedung Putih terbuka untuk dikunjungi masyarakat umum. Hingga pada setiap acara resepsi tahunan Tahun Baru dan Ulang Tahun Kemerdekaan 4 Juli, gedung ini sangat ramai dipadati pengunjung. Andrew Jackson (presiden ke-7) pernah kabur demi alasan keamanan akibat membludaknya pengunjung acara inagurasi di Gedung Putih.

Saat inagurasi Abraham Lincoln (presiden ke-16), Gedung Putih semakin tidak mampu menampung pengunjung. Baru sejak open house yang digelar Bill Clinton (presiden ke-42) pada 21 Januari 1993, tradisi inagurasi Gedung Putih diubah. Hanya dua ribu warga yang diterima di Ruang Resepsi melalui sebuah undian.  

Memasuki Gedung Putih melalui pintu timur yang disebut East Executive Avenue, setelah melewati ruang pemeriksaan, maka akan langsung menuju ke koridor lantai paling bawah. Tampak dari lorong ini halaman dan taman yang tentunya mempunyai kisahnya sendiri, diantaranya tanaman magnolia yang ditanam Andrew Jackson, lalu Taman Jacqueline Kennedy di sebelah timur dan Taman Rose di sebelah barat.

Halaman Gedung Putih ini ternyata dirawat mengikuti tradisi klasik yang dibuat oleh sebuah biro jasa arsitektur lanskap tahun 1935. Di sepanjang koridor ini bergantung foto-foto para presiden dan ibu negara. Juga dapat disaksikan berbagai contoh piring dan perlengkapan makan yang pernah digunakan oleh presiden sebelumnya dalam menjamu para tamu.

Kemudian kami sampai ke Ruang Perpustakaan sebelum naik ke tingkat yang pertama yang disebut State Floor. Di seberang tangga nampak beberapa ruang khusus yang hanya boleh dilihat melalui pintu, yaitu Vermeil Room dan China Room, juga Diplomatic Reception Room. Ruang pertama di lantai satu adalah East Room yang merupakan ruangan terbesar di Gedung Putih yang biasanya digunakan untuk resepsi, acara perayaan, konferensi pers, dsb.

Selanjutnya memasuki Green Room yang furniturnya dibuat di New York tahun 1810, dindingnya ditutup kain sutera hijau, meja makannya dilapisi marmer Italia yang dibeli tahun 1818. Ruangan ini digunakan oleh Thomas Jefferson sebagai ruang santap malam. Ceret kopi milik John Adams ada di sini, juga tempat lilin dari Perancis milik James Madison (presiden ke-4).

Kemudian kami memasuki ke Blue Room yang berbentuk oval yang sering digunakan untuk menerima tamu. James Monroe (presiden ke-5) melengkapi ruangan ini setelah kebakaran tahun 1814, termasuk tujuh kursi dan satu sofa buatan Perancis. Di tempat ini tergantung foto-foto dari John Adams, Thomas Jefferson, James Monroe dan John Tyler (presiden ke-10). Warna biru pertama kali digunakan selama pemerintahan Martin Van Buren (presiden ke-8) tahun 1837.

Dari Blue Room lalu melewati Red Room yang merupakan ruangan favorit para ibu negara mengadakan resepsi-resepsi kecil, sebelum masuk ke ruangan besar State Dining Room di ujung paling barat. Ruangan khusus untuk acara makan malam dan makan siang yang terakhir direnovasi tahun 1902 ini mampu menampung 130 orang tamu. Dari ruangan ini selanjutnya pengunjung keluar melalui pintu sebelah timur laut.

Tingkat dua dan tiga adalah tempat kediaman presiden dan keluarganya, serta ruang kerja tempat para presiden Amerika mengendalikan pemerintahannya. Sudah barang tentu tidak boleh dilongok oleh para pengunjung, apalagi dimasuki. Selain menyaksikan ruang-ruang utama yang secara umum mengekspresikan kesan klasik, artistik dan anggun, juga dapat dijumpai berbagai dekorasi karya seni dan benda-benda kenangan lainnya.

Sekitar satu jam diperlukan untuk menikmati salah satu kebanggaan rakyat Amerika ini. Kebanggaan yang sama dirasakan oleh setiap pengunjung yang sempat menyaksikan secara langsung seperti apa Gedung Putih itu. Masyarakat Amerika juga bangga, karena Gedung Putih yang memiliki 132 ruangan, 32 kamar mandi, 412 pintu, 147 jendela dan setiap hari dikunjungi oleh sekiat 6.000 orang pengunjung, kini menjadi satu-satunya tempat kediaman presiden yang terbuka untuk dikunjungi oleh masyarakat umum dengan tanpa dipungut bayaran. 

Pertanyaan yang kemudian melintas dipikiran saya adalah, apakah masyarakat Gunung Kidul sana juga pernah merasakan kebanggaan yang sama terhadap Istana Merdeka di jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta? Ah, yo embuh…, wong ndak setiap orang boleh masuk kesana……..- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(9).     Mengunjungi Musium Smithsonian

Siang hari setelah keluar dari Gedung Putih, masih di hari Selasa, 4 Juli 2000, kami berjalan kembali menuju tempat parkir kendaraan yang agak jauh. Di depan Gedung Putih ada taman atau alun-alun yang disebut Lafayette Square, dan kami berjalan memutari alun-alun ini tidak sebagaimana ketika datang langsung memotong di bagian tengahnya karena memburu waktu.

Dari Gedung Putih kami langsung menuju ke kompleks musium Institut Smithsonian yang membentang di sebelah utara dan selatan jalur lapangan rumput sepanjang lebih 1,5 km antara jalan 1st Street di sebelah timur dan 14th Street di sebelah barat. Di kedua ujung lapangan rumput ini berdiri megah Gedung Capitol di ujung timur dan Monumen Washington di ujung barat. Di pinggiran jalur hijau ini ditumbuhi banyak pepohonan pelindung sehingga terkesan teduh dan berhawa menyegarkan.

Bangunan-bangunan di kompleks Institut Smithsonian yang umumnya berupa bangunan kuno yang masih megah dan kokoh ini antara lain terdapat National Museum of Natural History, National Museum of American History, National History of Art, National Museum of African Art, Arthur M. Sackler Gallery, Freer Gallery of Art, Arts and Industries Building, Hirshhorn Museum and Sculpture Garden, National Air and Space Museum, National Archives, National Postal Museum, Anacostia Museum, dsb.

Masih ada dua musium lainnya yang berlokasi di kota New York, yaitu Cooper-Hewitt, National Design Museum dan National Museum of the American Indian’s George Gustav Heye Center. Untuk memasuki museum-museum yang berada di Washington DC tidak dikenakan biaya, hanya National Design Museum yang berada di New York saja yang mengenakan ongkos masuk.

Institut Smithsonian berdiri pada tanggal 10 Agustus 1846. Smithsonian berasal dari nama seorang ilmuwan Inggris James Smithson yang sangat berjasa dalam upayanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat Amerika masa itu, dan bahkan hingga kini. Dalam perkembangannya kini Institut ini telah banyak dimanfaatkan oleh para peneliti dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu serta telah menghimpun lebih dari 140 juta benda-benda sejarah, contoh-contoh temuan ilmiah, karya-karya seni, dsb. 

Di antara 14 musium di kompleks Institut Smithsonian ini, National Museum of Natural History adalah yang paling banyak diminati pengunjung, paling atraktif serta tersedia berbagai fasilitas umum. Museum ini telah menjadi narasumber untuk berbagai penelitian, koleksi dan pameran khususnya dalam bidang biologi, ilmu kebumian dan antropologi. Ke musium inilah siang itu kami berkunjung setelah berjalan cukup jauh dari lokasi parkir, menyusuri tepian jalur lapangan rumput yang cukup teduh.  

Di musium yang terdiri dari tiga lantai ini antara lain dapat dijumpai jejak kehidupan di bumi melalui berbagai temuan fosil tumbuhan dan hewan seperti mamalia, dinosaurus, reptil, serangga, burung, serta kehidupan laut purba, yang juga dilengkapi dengan laboratorium fosil. Budaya bangsa-bangsa di dunia juga dapat ditelusuri melalui eksibisi budaya Asia dan Afrika, budaya Barat, budaya asli bangsa Amerika serta Amerika Selatan. Termasuk eksibisi legenda ekspedisi Viking di Amerika Utara.

Peristiwa sejarah jaman es serta kehidupan awal di bumi, dan temuan-temuan geologi, batu permata serta mineral juga tersaji dengan lengkap dan sangat menarik. Diantaranya yang menarik adalah temuan mineral baru yang diberi nama smithsonite yang komposisinya berupa zinc carbonate. Penamaan ini sebagai penghargaan atas temuan James Smithson pada tahun 1802. Warna dari mineral ini tergantung pada kandungan unsurnya, akan berwarna merah jambu jika mengandung cobalt dan berwarna biru atau hijau jika mengandung tembaga. Ini menjadikan batu smithsonite tampak indah oleh tampilan warnanya.

Selain itu, yang juga banyak dikerubuti pengunjung adalah pameran batu-batu berlian yang diberi nama hope diamond dan ditempatkan di dalam bungkus ruang kaca (barangkali anti peluru, saya lupa menanyakan saking ikut larut dalam pesona kemilaunya).

Tidak terasa waktu bergulir semakin sore. Beberapa bagian dari museum ini hanya sempat saya lewati sambil lalu saja. Rasanya tidak akan cukup waktu mengelilingi musium ini hanya dalam satu dua jam, jika ingin mengetahui lebih dalam tentang berbagai hal menarik yang dipamerkan. Belum lagi harus dengan sabar menjawab pertanyaan anak-anak yang bahkan saya sendiri sering tidak tahu jawabannya. Tapi mungkin itulah salah satu gunanya musium, untuk mencari jawaban atas banyak pertanyaan.

***

Saya mengenal nama Musium Smithsonian sejak kira-kira 3 tahun yang lalu. Waktu itu saya mendapat tawaran untuk menjadi anggota Institut Smithsonian dan berlangganan majalah yang juga bernama sama. Tertarik dengan isi majalahnya, maka tawaran itu saya terima dan untuk itu saya membayar US$24 untuk satu tahun keanggotaan.

Waktu itu meskipun saya memegang Kartu Anggota, tetapi sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk pada suatu saat akan berkesempatan mengunjungi kompleks musium dimana saya adalah satu dari sekian ribu anggotanya. Kini ada terselip rasa bangga, bahwa akhirnya saya sempat berkunjung ke kompleks musium yang berpusat di kota Washington DC ini. Meskipun tentu saja saya tidak memiliki cukup waktu untuk dapat mengunjungi semuanya yang ada di kompleks Institut Smithsonian ini.

Di Amerika, musium merupakan salah satu tempat tujuan wisata. Maka tidak heran kalau di brosur-brosur promosi pariwisata, tidak hanya wisata alam saja yang tampak menonjol dipromosikan melainkan juga termasuk wisata musium. Pengunjungnya pun tidak hanya dari kalangan tertentu (masyarakat sekolahan, misalnya), melainkan juga para orang-orang tua. Terlebih di musim liburan seperti saat liburan musim panas kali ini, musium adalah salah satu tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.

Sangat berbeda sekali dengan apa yang saya jumpai di Indonesia. Sejak SD saya sudah mengenal bahwa di Jakarta ada musium di Gedung Gajah, tapi ya sekedar hafal namanya saja. Rasa-rasanya juga sangat sedikit warga Jakarta yang dapat bercerita banyak tentang musium ini, selain sebuah gedung yang di depannya ada patung gajahnya. Itu saja. Apalagi musium-musium di daerah yang belum dikenal. Masih lebih baik kalau pernah dikunjungi peserta study tour siswa sekolah.

Untuk sekedar mengambil contoh, di daerah Bintaran Wetan, Yogyakarta, ada Musium Jendral Sudirman. Kalau saya pulang ke Yogya, hampir setiap hari melewati tempat ini karena kebetulan tidak jauh dari rumah mertua. Herannya, setiap kali saya melewatinya seringkali saya lupa bahwa di situ ada musium.

Banyak mahasiswa yang kost di sekitar situ yang juga tidak tahu bahwa ada musium yang sangat bernilai kejuangan di sekitar tempat tinggalnya. Tidak jauh dari sana ada Musium Biologi. Musium yang ini malah nyaris tidak terlihat bentuknya.

Tahun 1978 ketika saya masih di bangku SMA di Kendal, saya pernah menerima kartu pass untuk masuk Musium Zoologi di Bogor, sebagai salah satu penghargaan menang lomba karya tulis. Ketika di tahun yang sama saya punya kesempatan untuk liburan ke Bogor, kesempatan untuk mengunjungi Musium Zoologi yang ada di kawasan Kebun Raya ini tidak saya sia-siakan. Ternyata banyak hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya ada di dalam sana. Sebenarnya cukup menarik untuk dikunjungi dan menambah wawasan. Tetapi kenapa tidak banyak yang tahu tentang musium ini? Saya pun baru tahu karena kebetulan punya kartu pass dan sempat mengunjunginya.

Saya jadi penasaran, dulu di lingkungan kampus Tambak Bayan UPN “Veteran” Yogyakarta pernah berdiri Musium Teknologi Mineral. Mudah-mudahan musium yang dibangun menempati bekas gedung perpustakaan serta pernah dibanggakan sebagai satu-satunya musium teknologi mineral itu kini masih ada yang ngurip-uripi (menghidup-hidupi) keberadaannya dan masih diminati pengunjung, minimal oleh mahasiswanya sendiri.

Terkadang saya heran pada diri sendiri. Terhadap musium di luar negeri yang waktu itu sama sekali tidak saya bayangkan seperti apa bentuk dan isinya, saya rela menjadi anggota dan membayar uang keanggotaan. Tetapi terhadap musium di negeri sendiri saya justru tidak mudah memperoleh informasi yang lengkap, akibatnya menjadi tidak tergerak untuk turut merasa terlibat atau memiliki.

Sepertinya ada sesuatu yang terputus. Musium (termasuk sarana dan medianya) yang memang tidak menarik, atau masyarakatnya (termasuk saya) yang memang tidak tertarik. Rasanya perlu ada jembatan yang menghubungkan kedua ujung yang masih terputus itu. Sebab ini adalah potensi ekonomi yang kalau di Amerika dapat mendatangkan pemasukan guna tujuan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Barangkali saja karena belum ada yang “sempat” memikirkan bagaimana mengemas benda-benda kuno agar juga bernilai rekreatif. Bagaimana mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada tambahan ilmu yang bernilai tinggi di sana, ada sumber inspirasi yang membangkitkan semangat, atau setidak-tidaknya ada sesuatu yang enak dilihat, dinikmati, dikenang dan dibanggakan.

Dengan demikian akan menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat yang pada gilirannya akan tertarik untuk datang dan “membeli”. Atau, jangan-jangan malah jenis pekerjaan semacam ini sendiri yang memang tidak atraktif dan tidak bernilai ekonomis?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(13).    Memandang Monumen Washington Dari Gedung Capitol

Hari ini, Rabu, 5 Juli 2000, kami merencanakan siang harinya akan meninggalkan ibukota Washington DC untuk melanjutkan perjalanan menuju kota New York. Namun sebelum meninggalkan Washington DC, kami masih ingin mengunjungi beberapa tempat lagi, yaitu Monumen Washington dan Gedung Capitol.

Sekitar jam 10:30 pagi, kami berpamitan pada keluarga Mas Supeno untuk melanjutkan perjalanan yang masih akan panjang. Meninggalkan kota Wheaton kami lalu menuju ke Washington DC melalui jalan 16th Street. Sekitar pertengahan jalan sebelum tiba di pusat kota, kami menyempatkan untuk mampir ke Rock Creek Park.

Ini adalah sebuah taman yang masih ditumbuhi banyak pepohonan layaknya sebuah hutan yang berada di tengah kota Washington DC, yang mencakup areal seluas lebih 700 ha. Di dalamnya terdapat banyak fasilitas untuk berolah raga seperti jogging, bersepeda, athletik, golf, tenis, dsb., termasuk fasilitas untuk berpiknik. Sungguh sebuah tempat yang nyaman dan berhawa segar di tengah kesibukan kota Washington DC. 

Dari Rock Creek Park kami langsung menuju ke Monumen Washington yang terletak di sebelah selatan Gedung Putih. Tepatnya di belakang Gedung Putih yang dipisahkan oleh sebuah taman yang berbentuk ellips, karena itu kawasan ini disebut The Ellips. Setiba di dekat lapangan Monumen Washington, ternyata daerah itu sudah sangat ramai, hingga banyak kendaraan parkir sampai ke tepi-tepi jalan. Saya kesulitan mencari lokasi parkir.

Setelah cukup lama hanya berputar-putar dengan berjalan merambat karena padatnya arus lalu lintas, dan tetap juga tidak menemukan tempat parkir, saya lalu memutuskan untuk meninggalkan kawasan itu dan langsung saja menuju ke Gedung Capitol.

Saya duga siang itu sedang ada acara di sekitar lapangan Monumen Washington. Entah apa, tapi pasti berkaitan dengan perayaan hari Kemerdekaan, karena beberapa saat sebelum tiba di daerah itu arus lalu lintas sempat dihentikan karena Presiden Bill Clinton dan rombongannya lewat.

Sebenarnya pada saat itu Monumen Washington sendiri masih belum dibuka untuk umum karena sedang dalam tahap penyelesaian renovasinya sejak delapan bulan terakhir ini. Rencananya monumen ini baru akan mulai dibuka kembali pada tanggal 31 Juli 2000. Menurut informasi, untuk memasuki monumen ini tidak dipungut bayaran dan tiket dapat diperoleh dengan gratis pada saat hari berkunjung di tempat yang telah ditentukan. Pemesanan tiket juga dapat dilakukan sebelumnya, tetapi akan terkena biaya pemesanan sebesar $1.50. Monumen ini setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari 500.000 wisatawan.

Untuk mencapai Gedung Capitol dari lokasi Monumen Washington tidak terlalu sulit, karena saya tinggal menyusuri Jalan Constitution lurus saja ke arah timur melalui kompleks Institut Smithsonian. Kawasan terbuka yang membentang antara Gedung Capitol di ujung timur lalu ke barat melalui kompleks Institut Smithsonian hingga Monumen Washington di ujung barat adalah kawasan yang dikenal dengan sebutan The Mall. Di sepanjang kawasan itu membentang lapangan rumput yang luas.

Tiba di Gedung Capitol sudah menjelang jam 1:00 siang. Saya rencanakan paling lambat jam 2:00 harus sudah meninggalkan kota Washington DC agar tidak terlalu malam tiba di New York.

***

Gedung Capitol atau lengkapnya United States Capitol adalah salah satu lambang kebanggaan rakyat Amerika. Gedung tempat dimana para anggota Congress, The House of Representatives dan Senate, melakukan pertemuan untuk membuat Undang-Undang atau peraturan-peraturan bagi bangsa dan negara Amerika.

Gedung kuno yang tampak megah ini rancangan awalnya dibuat oleh Dr. William Thornton pada tahun 1792, dan selama lebih 200 tahun gedung ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Gedung Capitol yang ukuran panjangnya 229 meter dan lebarnya 107 meter ini mempunyai 550 buah ruangan dengan dua bangunan sayap yang berkonstruksi marmer. Di puncak kubahnya terdapat patung Freedom setinggi 6 meter.

Untuk menuju gedung ini, kami melewati halaman depannya yang cukup luas serta banyak ditumbuhi pepohonan, yang merupakan bagian dari kompleks gedung Capitol yang luas seluruhnya mencapai 24 ha. Biasanya pengunjung akan menuju ke teras depan yang letaknya cukup tinggi sehingga harus melalui beberapa tingkat anak tangga. Dari tempat ini pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang utama Gedung Capitol, tetapi pengunjung diberi kesempatan untuk berjalan mengelilingi di bagian luarnya.

Dari teras depan ini kami dapat melihat sebagian kota Washington DC dari ketinggian. Ketika berdiri menghadap lurus ke arah barat maka tampak tepat di depan kompleks Gedung Capitol adalah sebuah kolam luas yang disebut Reflecting Pool dan alun-alun yang disebut Union Square. Setelah itu tampak jalur lapangan hijau menghampar hingga sekitar 1,5 km yang disebelah kiri dan kanannya berdiri kompleks Institut Smithsonian. Monumen Washington terlihat menjulang tegak di ujung pandangan.

Kenampakan seperti ini mengingatkan saya pada beberapa film Amerika yang sering mengambil setting dengan visualisasi bidang terbuka menghijau yang membentang di areal The Mall ini. Tapi tentunya dengan pengambilan gambar tidak pada saat siang hari yang terik seperti yang kami alami saat kami berkunjung ke Gedung Capitol.

Kalau siang ini kami tidak berhasil melihat Monumen Washington dari dekat, maka cukuplah kalau bisa memandangnya dari teras atas Gedung Capitol. Kalaupun bisa mendekat, toh tidak dapat memasukinya juga, karena sedang ditutup untuk penyelesaian pekerjaan renovasi.

Monumen Washington sendiri adalah sebuah monumen marmer obelisk setinggi hampir 170 meter yang dibangun sebagai penghormatan bagi presiden pertama Amerike, George Washington yang diberi gelar sebagai “father of his Country“. Disekeliling monumen ini dikibarkan 50 bendera Amerika “The Star Spangled Banner” yang melambangkan 50 negara bagian yang ada. Di sinilah digelar pesta kembang api pada setiap tanggal 4 Juli. 

***

Washington DC bukan sebuah negara bagian dan juga bukan wilayah teritorial, tetapi mempunyai sebuah pemerintahan yang mencakup urusan keduanya. Karena itu ibukota ini mempunyai kedudukan yang unik. Meskipun kepala daerahnya disebut Walikota (Mayor) namun secara bersamaan dia berfungsi sebagai sebuah ibukota, sebuah kabupaten, sebuah negara bagian dan sebagai tempat kedudukan pemerintah federal.

Washington dipilih sebagai ibukota negara Amerika Serikat oleh Congress pada tahun 1790. Sejalan dengan perkembangan kotanya, baru pada tahun 1800 secara resmi kota ini menjadi ibukota federal, dan tahun 1802 pertama kali dibentuk pemerintahan, akhirnya baru pada tahun 1812 pertama kali dipilih seorang Walikota sebagai kepala pemerintahan Washington DC.

Dua hari sudah kami berada di ibukota yang dihuni oleh lebih dari 600.000 jiwa penduduknya. Kami telah berkeliling untuk melihat sebanyak mungkin berbagai tempat menarik, di kota yang setiap tahun dikunjungi oleh lebih 20 juta orang dari seluruh penjuru dunia dan lokasinya berada di sepanjang sungai Potomac. Akhirnya Washington DC akan segera kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju New York.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar