Posts Tagged ‘jakarta’

Juara Freestyle

25 Oktober 2010

Sejak berangkat ke Jakarta Kamis yll, tidak ada kabar apa-apa dari anak lanang. Tahu-tahu tadi sore memberitahu (itu pun setelah kutanya kabarnya): “Barusan aku jawara 1 pak, untuk freestyle nasional”, katanya via SMS. “Alhamdulillah. Great..!”, balasku —

Freestyle yang dimaksud adalah anak cabang olahraga bola basket yang tidak dikenal di jaman bapaknya muda dulu. Kira-kira sejenis keterampilan akrobatik memain-mainkan bola basket.

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bahagia Karena Melepas

29 September 2010

‎”Menderita karena melekat, bahagia karena melepas” — Kalimat itu tertulis di kaca belakang sebuah mobil keluarga yang kujumpai di sebuah jalan tol di Jakarta beberapa waktu yll. Ungkapan yang belum pernah kudengar sebelumnya, membuatku penasaran. Adakah ini kutipan dari sebuah kitab suci?

(Seorang teman berkomentar: Saya sudah lama mendengar kalimat ini dari seorang teman yang menghibur saya dari perasaan berduka yang berkepanjangan ketika bapak saya meninggal tahun 1998, “mantra” ini sangat membantu mencerahkan dan mengubahkan banyak sisi gelap kehidupan. Seorang teman lain berkomentar, katanya itu kutipan dari kitab Sansekerta).

Yogyakarta, 27 September 2010
Yusuf Iskandar

“Kegeden Tekat”

2 Juli 2010

Belum sembuh benar dari tekapar sakit di rumah beberapa hari, tahu-tahu anak lanang sudah di dalam kereta ekonomi menuju Jakarta, mau ikut kompetisi free style. Tinggal ibunya dheleg-dheleg wal-gedheg-gedheg (terdiam sambil geleng-geleng). “Kegeden tekate (kelewat besar tekatnya)”, katanya. Cepat-cepat saja kubilang ke ibunya: “Padahal dulu bapaknya nggak gitu, lho…”. “Yo, lebih parah…”, jawabnya.

Yogyakarta, 22 Juni 2010
Yusuf Iskandar

“Udan Ketek Wewe Ngombe”

29 Mei 2010

Siang di Jakarta, hari hujan tapi matahari terang cahayanya… Pada masa kecil dulu teman-teman main di kampungku suka menyebut dengan ungkapan dolanan “udan ketek, wewe ngombe…”. Artinya? Opo yo…? Hujan (bagi) monyet, tapi (hantu) wewe gombel yang meminum airnya… Maksudnya? Yo embuh...! (Mau tanya simbah, sudah telanjur meninggal dunia…).

Jakarta, 25 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Makan Bubur Di Kondangan

26 Mei 2010

Tengah hari tepat jam 12:00 meninggalkan rumah menuju ke kondangan di Jogja, setelah tiba dari Jakarta 20 menit sebelumnya.

Sampai TKP, saat di area konsumsi, kutanya istriku: “Di rumah ada makan nggak?”.
Istriku balik tanya: “Memang kenapa?”.
“Ya kalau di rumah nggak ada makan aku mau makan banyak-banyak di sini…”, jawabku.

Maka, bubur (‘jenang’, kata orang Jogja) campursari (merah-putih-ketan hitam-monte) pun kuhabiskan dua mangkuk..

(Maksudnya, jenang ini sebagai makanan penutup. Sedang makanan pembuka sebelumnya adalah bakso, mie oriental dan lontong sate…)

Yogyakarta, 23 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Masih Ada Kontrak Yang Akan Lewat

24 Mei 2010

Berangkat dari Jogja buru-terburu, malah nggak sempat dhuha. Tapi ketika menginjakkan kaki di Cengkareng, tiba-tiba ada sepenggal doa pendek turun dari langit Jakarta: “Ya Allah, please deh, mudahkanlah dan jangan Engkau sulitkan (Allohumma yasir wala tu’asyir)… urusanku hari ini”. Dan, kontrak proyek pun ditandatangani (ya ditandatangani aja…), sambil berharap masih ada kontrak yang akan lewat (semoga tidak lewat aja…)

Jakarta, 19 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Pameran Hanafi

7 April 2010

Mestinya hari ini aku hadir di Galeri Nasional Jakarta menyaksikan pembukaan pameran lukisan seorang sahabatku, merefleksi perjalanan kelimapuluh tahun. Tapi nampaknya Tuhan berkata: “Ko istirahatkan dulu ko pu kaki itu…“. Dan, ribuan halaman kertas yang telah penuh goresan pena pun kurenungi

(Selamat dan sukses buat sahabatku, Hanafi. Insya Allah aku ingin bersama menorehkan tinta di halaman selanjutnya, pada kesempatan berikutnya).

(Pameran lukisan dan instalasi oleh Hanafi berlangsung di Galeri Nasional Jakarta tanggal 6 s/d 18 April 2010)

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Nginap Di Hotel

18 Maret 2010

Anak lanang yang sedang free style-an di Jakarta dan numpang nginap di rumah famili temannya, cerita bangga via SMS:

“Nanti malam dapat fasilitas nginap di hotel X”.
Bapaknya tidak mau kalah: “Bapak juga sering nginap disitu…”.
Dia ganti Tanya-tanya: “Bintang berapa? Bagus nggak?”.
Dijawab bapaknya: “Bintang 3. Lumayan bagus”.
Kemudian disusuli SMS sama bapaknya: “Ra sah ngetarani ndeso-ne, le…! (Tidak usah menampakkan ndeso-nya, le…!)”. Dan SMS pun berhenti.

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sepatu Crocs

17 Maret 2010

Di Jakarta: Saya pernah mengantar teman beli sepatu karet merk Crocs, harganya Rp 699.000,- tapi sekarang sedang obral dan diperebutkan ribuan orang dalam sehari.

Di tokoku Madurejo, Sleman: Sepatu karet merk ‘seadanya’, harganya Rp 27.500,- tapi sepi pembeli hingga berminggu-minggu.

Keduanya saya test dengan cara saya tekan sekuat-kuatnya dengan kuku jempol, sama-sama tidak membekas. Bukan soal salah-benar atau baik-buruk, cuma ya huweran saja…

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Kehilangan Rokok Dan Koreknya

18 Februari 2010

Rokok dan korek apiku hilang tertinggal di Pasar Festival waktu makan siang kemarin. Tapi seorang temanku malah tertawa ngakak dan berucap “Alhamdulillah”. Wooo… dasar! (dasar bukan dia yang kehilangan, maksudnya).

(Ini kali pertama saya masuk Pasar Festival, Jakarta, ke Food Court cari makan siang)

Yogyakarta, 18 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Redaksi Wikimu

18 Februari 2010

Sore ini berkesempatan mengunjungi dapurnya Wikimu.com (media online jurnalisme warga) dan berjumpa dengan tim ‘juru masaknya’. Terima kasih untuk mbak Melani dan mas Bayu atas sambutan dan jemputannya.

(Media online jurnalisme warga – Wikimu – adalah tempat dimana setiap warga, siapa saja, boleh mengirim informasi, berita, cerita, foto, atau apa saja untuk dibagikan kepada siapa saja….. Dengan mottonya : ‘Bisa-bisanya Kita’)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Mumpung Banyak Air

18 Februari 2010

Melihat saya pagi-pagi mau pergi pakai mobil, anak lanang tanya: “Mau kemana pak?”.
Kujawab: “Ke Jakarta”.
“Kok pakai mobil?”, tanyanya.
“Insya Allah sore pulang”, jawabku.
Lalu ia pun berkomentar: “Ah, ke Jakarta kok cuma nunut minum…”.
Enggak mau kalah, aku pun menjawab: “Bukan, cuma mau nunut nyoto sama buang hajat, mumpung di sana banyak air…”.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Tilpun Tipu-tipu (Lagi)

31 Januari 2010

Ini lagi… Baru saja seseorang mengaku dari Telkomsel Jogja (HP 081386071889) meminta saya menghubungi no tilpun “Kantor Pusat” Jakarta pada no. 021 32079339. Ketika saya tanya ada apa, jawabnya: “Nanti dijelaskan, pokoknya segera saja hubungi no itu”. Untuk kesekian kali saya biarin aja…, saya tunggu tilpun baliknya. Habis itu mau saya panggilkan istriku biar dinyanyiin…..

Yogyakarta, 31 Januari 2010
Yusuf Iskandar

“Kunanti Doamu Selalu…”

11 Desember 2009

Sambil ngopi di bandara Jogja, siap mbonceng burung Garuda ke Jakarta, kirim SMS kira-kira seperti tulisan di bak belakang truk : “Kunanti doamu selalu…”

Yogyakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

28 November 2009

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : “Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak”, katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. “Tapi ditawar saja, pak”, katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker…, segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal wesss…. begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. “Oedan…”, kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss…. berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. “Huhhh….”, kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap road race.

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : “Kita lurus pak”. Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : “Belok kanan, belok kanan….!”. Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. “Huhhhh, lagi…..”.

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : “Bang, tahu stasiun Gambir kan?”. “Ya, tahu”, jawabnya meyakinkan.

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. “Wuahhh, modar aku!”.

“Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?”, tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : “Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah”. Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir’ melainkan ‘terminal kota’. “Aaahhhh…. Guoblog!”, kata saya misuh-misuh…, memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : “Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana”, maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : “Jalan terus dan ikuti perintah saya!”. Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku!

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e’) dan saya panggil ‘Abang’, ternyata kemudian bilang begini : “Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)”, katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : “Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)”, kata saya sambil rada jengkel.

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : “Turahane pek-en nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)”, lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta…..

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Malam Takbiran Di Argo Lawu

27 November 2009

Di Argo Lawu menuju Jogja, duduk di samping seorang gadis manis. Sambil takbiran menghabiskan malam… membayangkan sedang mengumpulkan kerikil di Muzdalifah…

(Tadi siang terbang dari Jogja ke Jakarta karena ada keperluan mendadak. Sekitar dua jam saja di Jakarta lalu malamnya kembali ke Jogja naik kereta api Argo Lawu, agar esok pagi-pagi bisa sholat Idul Adha di rumah dan membantu panitia penyembelian hewan qurban di kampung)

Jakarta (di dalam KA Argo Lawu), 26 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

15 November 2009

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008
Yusuf Iskandar

Jumatan Di Tengah Jalan Kehujanan

15 November 2009

Wong ndeso seperti saya ini rada keder juga ternyata menghadapi kepadatan lalu lintas Jakarta. Seperti pengalaman mau menyeberang jalan Mampang Prapatan Raya di teriknya siang Jumat kemarin, susahnya minta ampun. Lalulintas seperti tidak ada selanya. Akhirnya cari barengan. Kalau berjamaah rupanya menjadi lebih diperhatikan orang, termasuk berjamaah untuk menyeberang jalan. Setidak-tidaknya pengendara kendaraan lain menjadi tidak nekat. Tujuan saya memang mau sholat jumatan berjamaah di seberang jalan.

Masjid yang letaknya tepat di pinggir jalan itu rupanya penuh. Setengah jamaah sudah berada di dalam bangunan masjid, setengah lainnya menyebar di trotoar dan di jalan. Padahal, sebagian teras masjidnya sudah dibangun dengan “memakan” trotoar jalan. Maka sebagian Jl. Mampang Prapatan pun digelari tikar dan karpet untuk menampung peserta jumatan yang membludak. Bukan hanya sebagian, setengah lebar jalan malah. Akibatnya lalulintas jadi tersendat karena ada penyempitan jalan.

Hal yang tampaknya sudah lumrah di Jakarta. Saya memang baru pertama kali mengalami yang seperti ini. Selama ini kalau kebetulan jumatan di Jakarta, biasanya di dalam gedung atau kompleks perkantoran, atau di masjid yang lokasinya tidak persis di jalan besar.

Sambil duduk sila di atas gelaran karpet di tengah jalan, saya membayangkan bagaimana kalau jumatan pas hujan deras dan air di jalan mengalir deras pula. Kemana mau pindah?

Ee… lha kok tenan. Belum selesai khotbah, sholat belum dimulai, gerimis tiba-tiba turun. Semakin deras dan titik airnya semakin besar-besar. Jamaah nampak mulai gelisah, sebagian sudah pada berdiri dan bubar menyelamatkan diri mencari tempat aman dari hujan. Ya susah juga, wong di dalam masjidnya sudah penuh.

Untungnya sewaktu sholat dimulai, gerimis hanya berupa titik air kecil-kecil saja, belum berubah menjadi hujan. Untungnya lagi sang khatib yang menyampaikan pesan-pesan khotbah agak pengertian, sehingga khotbahnya tidak berpanjang-panjang. Demikian halnya sang imam pemimpin sholat juga “tahu diri” kalau setengah jamaahnya yang di belakang sedang gelisah bakal kehujanan. Irama gerak sholat pun agak digas lebih cepat dan dengan memilih bacaan surat Qur’an yang tidak terlalu panjang.

Tepat ketika sholat selesai, hujan turun, mak bress….., semakin lebat. Untung sholat sudah selesai. Serta-merta jamaah lari sipat kuping bubar jalan berhamburan bagai anak ayam tidak memperdulikan induknya. Lalulintas terhenti beberapa saat, memberi kesempatan kepada orang-orang yang hendak menyeberang jalan menyelamatkan diri dari hujan. Tak terelakkan kalau kemudian pakaian jadi basah.

***

Agaknya jumatan di tengah jalan sudah menjadi hal biasa di kota besar seperti Jakarta, yang kebetulan letak masjidnya tepat di pinggir jalan besar. Sehingga seminggu sekali jalan raya yang padat lalulintasnya terpaksa dikorbankan, menjadi “three-in-one” (maksudnya berubah dari 3 lajur menjadi tinggal 1 lajur jalan). Apa hendak dikata kalau kemudian jalan yang sudah padat itu menjadi agak macet dan tersendat lalulintasnya. Peristiwa mingguan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh orang desa seperti saya yang biasanya jumatan di kampung dalam suasana santai dan tidak kemrungsung.

Kedua belah pihak nampaknya harus saling maklum. Pihak yang jumatan ya mesti hati-hati sholat di pinggir bahkan di tengah jalan. Pihak pengguna jalan juga mesti agak mengalah akibat penyempitan jalan.

Apa ada solusinya yang praktis dan mudah? Rasanya tidak ada. Sebab di satu pihak, sampai kapanpun masjid dan jamaahnya ya tetap ada di situ, bahkan peserta jumatan cenderung semakin banyak seiring semakin padatnya penduduk kota. Di pihak lain, lalulintas ya akan tetap padat seperti itu dan juga kecenderungannya semakin padat.

Peristiwa jumatan di tengah jalan dan sesekali kehujanan, mau diapa-apakan ya tetap terjadi seperti itu. Sampai kapanpun, kecuali kalau kotanya pindah. Maka satu-satunya solusi adalah menghidupkan dan membumikan semangat dan budaya tenggang rasa yang akhir-akhir ini terasa semakin pudar.

Tenggang rasa, kata yang enak diucapkan, manis dijadikan bahan pidato, indah dituliskan, tapi ngudubilah tidak mudah untuk diamalkan. Boro-boro menenggang rasa, menenggang kebutuhan hidup saja seperti diuber setan…. Kalau sudah demikian, tinggal kita ini memilih mau berada di sisi sebelah “mananya” tenggang rasa. It’s your call……

Yogyakarta, 5 April 2008
Yusuf Iskandar

Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras

28 Oktober 2009

Cuaca seminggu teIMG_2696_rrakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini naga-naganya sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau…..

Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat njumbul-njumbul naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang.

Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. “Waduh, ada apa ini”, pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan…… Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya…. mak jedug, menyentuh landasan bandara Cengkareng. Alhamdulillah, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban.

Saya menguping percakapannya. “Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi”, kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : “Saya juga sudah sport jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja”. Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka aja. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil.

Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : “Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya…”, begitu kira-kira katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan kok ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : “Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa kan masih bisa ditemukan. Lha kalau naik pesawat, hilang entah kemana”. Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?.

***

Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : “Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?”.

Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : “Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak”.

Ooo, begitu to…… Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat.

Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan…. Lho, apanya?

Yogyakarta, 26 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Keluar Dari Tembagapura Naik Heli

20 Juli 2009

Alhamdulillah, pagi ini bisa sampai Timika…, naik chopper. Insya Allah nanti sore terbang ke Jakarta.

(Kebetulan cuaca pagi hari sedang bagus dan ada trip heli atau chopper dari Tembagapura ke Timika. Hanya butuh waktu tempuh 15 menit lebih sedikit, dibanding perjalanan darat 2 jam menyusuri gigir pegunungan)

Timika, 20 Juli 2009 (siang)
Yusuf Iskandar

***

Untung tadi pagi bisa mbonceng Heli, sehingga bisa keluar dari Tembagapura menuju Timika yang jalan keluar-masuknya masih ditutup.

Malam ini mendarat di Jakarta. Sampai hotel langsung nggeblak…. Terpaksa belum sempat pulang ke Jogja, karena perjalanan (Insya Allah) masih akan berlanjut….

(Dari Tembagapura jam 7:00 WIT. Rencana semula dari Timika mau langsung nyambung pesawat Airfast Indonesia jam 9:00 WIT, tapi ternyata pesawat ditunda jam 16:00 WIT sore. Lao-lao — santai – dulu di hotel Rimba Papua yang dulu bernama Sheraton Timika. Penerbangan dari Timika transit di Makassar dan Surabaya, hingga sekitar jam 19:30 WIB tiba di Jakarta)

Jakarta, 20 Juli 2009 (malam)
Yusuf Iskandar