Archive for the ‘> Seputar JAWA TIMUR’ Category

“Hati-hati Ya…”

29 September 2010

Dalam perjalanan naik taksi menuju bandara Juanda, Surabaya. Datang SMS simpatik: “Hati-hati ya…”. Kubalas: “Pesannya sudah kusampaikan ke sopir taksi…”. Lha yang seharusnya berhati-hati kan sopir taksinya. Kalau saya kan tinggal numpang, melamun dan mbayar…

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Status Waspada Kolesterol

29 September 2010

Makan malamnya dengan kepiting goreng ikan asin, bandeng bakar, udang laki rebus, ca kangkung, jus jeruk pecel (lime). Dikomentari anaknya kolega baru: “Bapak makannya banyak juga ya..”. “Baru tahu ya?”, kataku tapi dalam hati. Sarapan paginya menu hotel ala prasman. Yaaa, gitu deh… Inginnya dimakan semua. Walhasil? Status di FB menyesuaikan status Gunung Merapi, dari Normal menjadi Waspada (waspada kolesterol, maksudnya).

(FB : Facebook)

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Nggeblak Di Kamar Hotel

29 September 2010

Menjelang tengah malam baru masuk hotel. Sebenarnya tidak capek-capek amat. Saat maghrib mendarat di bandara Juanda, lalu makan malam dengan menu kepiting dan ikan bakar dan ngobrol. Usai itu baru masuk hotel. Dan, ah…! Kebiasaan lama itu seperti tidak bisa hilang setiap pertama kali masuk kamar hotel, langsung nggeblak.., merebahkan tubuh, menggeliat..! Di sebuah kamar di lantai 12 hotel Somerset Surabaya yang tidak memiliki lantai 13 melainkan langsung 14.

Surabaya, 24 September 2010
Yusuf Iskandar

Batik Madura

20 September 2010

Batik Madura utk menyambut hari raya Jum’at (tanpa pola clurit)

Yogyakarta, 17 September 2010
Yusuf Iskandar

Hijau Pepohonan

6 Oktober 2009

10116_1233599806404_1421457436_661776_1104748_n

Teman saya Riady Bakri (Jakarta) mengabadikan bentang pepohonan dalam sebuah fotonya yang diberi judul “Let’s Go Green”. Foto dambil di kawasan hutan sekitar air terjun Coban Rondo, Batu, Malang, Jatim. Tangkapan ini memberi nuansa kuat akan indahnya gradasi warna hijau pepohonan, sekaligus membangkitkan nuansa batin akan pentingnya menjaga hijaunya hutan kita.

Yogyakarta, 6 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Foto ini di-upload di album foto Riady Bakri di Facebook

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

27 Juli 2008
Penggal jalan yang terlihat seperti naik, tapi sebenarnya turun

Penggal jalan yang terlihat seperti naik, tapi sebenarnya turun

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Bersama Kijang LGX 2000, saya dan anak kedua saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud yang waktu itu masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan.

Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan kijang warna hitam metalik saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Di kedai kopi, berteduh dari hujan sambil berbincang dengan para tukang ojek

Di warung kopi, berteduh dari hujan sambil berbincang dengan para tukang ojek

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam 2000 cc saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang yang saya kemudikan lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Jalur Misteri (Naik Tapi Turun)

16 Mei 2008

Foto 1 — Tampak dalam foto : Pengendara sepeda motor seperti sedang berkendaraan mendaki, tapi sebenarnya sedang menuruni jalan yang kemiringan turunnya sangat kecil. Ilusi mata atau fenomena tipuan pandangan mata telah menyebabkan keadaan jalan seperti “naik tapi turun”.

 

Foto 2 — Tampak dalam foto : Pandangan dari arah sebaliknya dimana lebih jelas terlihat bahwa pengendara sepeda motor dalam Foto 1 di atas sebenarnya sedang berjalan menurun dengan kemiringan turun sangat kecil.

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

16 Mei 2008

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan. Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Yogyakarta, 16 Mei 2008
Yusuf Iskandar