Archive for Juni, 2008

Bentang Alam Danau Sentani, Jayapura, Papua

25 Juni 2008

Sentani1

Satu sore di punggungan bukit Ungabo, Sentani Timur, Papua, membentang begitu indahnya alam perawan danau Sentani yang luasnya sekitar 7.500 hektar. Dikelilingi oleh perbukitan ilalang dan semak-semak dengan sedikit pepohonan besar, tampak dari kejauhan seolah-olah dikelilingi oleh selimut hijau.

Masyarakat kampung Yoka dan Ayope tinggal di sebreang-menyeberang danau. Suasana alamnya terlihat masih asli, begitu juga kehidupan masyarakatnya. Namun lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jayapura, hanya sekitar 25 km. Dari jalan utama Jayapura – bandara Sentani yang melintas menyusuri dinding utara danau, pun dapat terlihat dengan jelas pemandangan alam danau Sentani.

Bukit Ungabo, adalah sebuah bukit yang ditengarai menyimpan potensi alam bahan tambang emas.

(Foto diambil tanggal 22 Juni 2008, jam 16:00 WIT – Yusuf Iskandar)

 

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Si Putih Yang “Mengganggu” (Sebuah Komposisi)

5 Juni 2008

Jembatan Kuning

Warna putih berkonotasi suci atau bersih. Tapi terkadang bisa juga “mengganggu”, seperti pengendara sepeda motor dalam foto ini. Pengendara sepeda motor nampaknya “salah” mengenakan warna baju, sehingga baju putihnya agak “mengganggu” komposisi warna yang tiba-tiba terbangun di tengah kepadatan lalulintas di atas jembatan sempit sungai Mahakam, di Samarinda.

(Foto : Yusuf Iskandar — Diambil tanggal 28 Mei 2008, sekitar jam 12:00 WITA)