Posts Tagged ‘kijang’

Tujuan Menghalangi Jalan

25 Oktober 2010

Melihat pemilik rumah pojok yang menggali-gali jalan menghalangi akses ke rumahku, seorang tetangga berkata padaku: “Wah pak, kijangnya nggak bisa keluar ya…”. Kalau mau dipaksakan sebenarnya bisa, wong kijangku biasa off-road (minggir-minggir jalan, maksudnya). Hanya saja nanti pemilik rumah pojok itu kecewa kalau melihat saya bisa lewat. Saya tidak mau lewat karena ingin “membantu” pemilik rumah pojok itu agar tujuannya menghalangi jalan tercapai…

Yogyakarta, 22 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Tak Dapat Ditolak

18 Oktober 2010

Mobil kijang itu mau dipakai acara pengantinan, jadi harus tampil bersih. Karena malas nyuci sendiri, maka kubawa ke tempat pencucian mobil. Beres? Ternyata belum. Lha kok ndilalah, pulangnya hujan. Mobil yang aslinya warna hitam itu jadi ada tutul-tutulnya putih.

Wuah, wuasem tenan..! Terpaksa sampai rumah dilap dan digosok lagi agar tutul-tutul putihnya hilang. Walhamdulillah, rejeki memang tidak akan kemana, tidak juga dapat ditolak, termasuk rejeki ngelap mobil…

Yogyakarta, 9 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kunci Kijang Terkunci

11 Juni 2010

Kunci kontak kijang lupa tertinggal dan terkunci di dalam (ruginya kalau kunci remote rusak). Manggil tukang kunci, ongkosnya Rp 60 ribu tidak dapat ditawar. Ketika dibilang mahal, jawabnya: “Biasa kok pak, yang mahal ‘kan keahliannya”.

Kurang dua menit, lis kaca dicongkel, disogok-sogok pakai kawat, lalu jleeg.., terbuka. Yen tak pikir-pikir benar juga, yang saya bayar adalah keahliannya. Di tempat lain mungkin “ongkosnya” seekor kijang utuh alias maling mobil.

Yogyakarta, 1 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Sepenggal Doa Di Bawah Truk

22 Juni 2009

IMG_2777_r

Dalam perjalanan dari kota Jambi menuju Muara Bulian, di depan kijang yang saya tumpangi terdapat sebuah truk yang melaju ke arah yang sama. Ternyata di bagian bawah belakang truk itu terdapat tulisan yang merupakan sepenggal doa, yang bunyinya sbb.:

“Ya… Allah.Ampunilah dosa-dosaku.
Selama ini aku mengambil kesenangan
di atas penderitaan orang lain”

Entah siapa yang pantas memanjatkan doa ini…

Jambi, 19 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Bersama Keluarga, Kami Melancong ke Bledug Kuwu

28 Juli 2008
Siap-siap... Siap-siap...

Siap-siap... Siap-siap...

Perjalanan bersama keluarga selalu menjadi bagian penting dan mengesankan dalam episode hidup setiap orang (kecuali keluarga yang berantakan…). Ke Blora adalah tujuan kami sekeluarga kali ini dalam rangka bersilaturrahim dengan pak de, bu de, pak lik, bu lik, eyang, serta segenap sanak-sedulur dari anak-anak saya.

Seperti biasanya sejak empat tahun yang lalu, sebuah kijang LGX 2000 cc warna hitam metalik senantiasa menjadi kebanggaan kami setiap kali melakukan perjalanan keluarga. Juga perjalanan ke Blora kali ini, seekor kijang kelahiran tahun 2002 itu pun tetap setia menemani kami. Sudah terbayang sebelumnya kalau kijang yang saya kemudikan sendiri bakal melintasi penggal jalan yang ngombak-banyu dan mbrenjul-mbrenjul antara Solo – Purwodadi – Blora. 

Dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Blora, melewati kota Solo dan Purwodadi, saya sempatkan untuk mampir sejenak di obyek wisata Bledug Kuwu. Ini adalah obyek wisata yang sebenarnya sangat menarik. Terletak di desa Kuwu, kecamatan Kradenan, kabupaten Grobogan. Di sana terdapat semburan lumpur dingin tidak sebagaimana lumpur Sidoarjo, atau lebih tepat disebut letupan-letupan lumpur yang mengandung garam. Letupan lumpur berwarna abu-abu kehitaman itu terjadi secara periodik. Setiap kali muncrat, mengeluarkan uap air, gas belerang dan air garam, menimbulkan bunyi bledag-bledug….., seperti mercon bumbung (bambu), makanya disebut Bledug Kuwu.

Di pertengahan antara Purwodadi dan Blora yang berjarak sekitar 60 km ada desa Wirosari. Dari Wirosari menuju selatan sekitar 7 km, maka sampailah ke lokasi Bledug Kuwu. Ada penunjuk jalan yang mudah diikuti. Sayang obyek wisata ini belum terlalu populer. Kalau bukan karena sedang dalam perjalanan antara Purwodadi – Blora, rasanya orang malas untuk sengaja datang ke sana. Apalagi kalau tahu kondisi jalan antara Purwodadi – Blora yang tidak pernah nyaman dilalui.

Untuk mencapai lokasi Bledug Kuwu memang kurang menyenangkan. Jalur jalan Purwodadi – Blora, juga Solo – Purwodadi, adalah jalur jalan yang tidak pernah bagus. Sekarang sudah semakin lumayan kondisinya, meski masih tetap mbrenjul-mbrenjul. Kondisi tanahnya memang tidak stabil. Diperbaiki seperti apapun, nampaknya jalan raya beraspal itu kok ya enggak bagus-bagus juga. Berbagai teknik sudah dikerjakan dan terakhir dicoba dibeton seperti lajur busway di Jakarta.

Melaju dengan kijang di sepanjang penggal jalan Purwodadi – Blora kudu ekstra hati-hati. Kendati jalannya tampak beraspal mulus, tapi ngombak-banyu, meliak-liuk bak roller coaster. Sesekali bisa melaju kencang, terkadang perjalanan bisa dinikmati sambil lenggut-lenggut kayak sapi, tapi kali lain mak jegagik…. ada lubang perlu dihindari. Sejauh itu, kijang yang saya kemudikan masih mampu bergerak lincah di tengah jalan buruk yang terkadang kudu jeli memilih-milih dan terkadang terpaksa dijalani begitu saja.

Agaknya pemda kabupaten Grobogan belum tergerak untuk “menjual” Bledug Kuwu secara maksimal. Kesan pertama ketika tiba di lokasi ini adalah kurang terjaga kebersihan dan perawatannya, serta kurang menariknya tata ruang di dalam kompleks kawasan Bledug Kuwu. Masih terkesan dikelola seadanya. Padahal untuk masuk ke lokasi harus mbayar. Sayang sebenarnya kalau mengingat keunikan fenomena alam ini. Meski tidak sensasional seperti semburan lumpur Sidoarjo, namun bledug gelembung lumpur yang mengandung air garam yang muncrat di dataran yang jauh dari laut, rasanya tidak ada duanya di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Mestinya ada yang bisa diraih lebih dari yang ada sekarang.

Di Amerika ada dataran luas bernama Salt Lake (padang danau garam) yang berasal dari dangkalan laut kemudian berubah menjadi daratan sangat luas. Sedangkan daratan Bledug Kuwu di Grobogan, menurut ilmu geologi dulu-dulunya berada di dasar laut. Proses pengangkatan dan penumpukan muncratan material yang mengandung garam yang tiada henti jaman demi jaman, akhirnya sekarang menjadi daratan yang berada pada ketinggian lebih 53 m di atas permukaan laut, mencakup kawasan seluas lebih 45 ha dengan suhu sekitar 31 derajat Celcius. Makanya orang menyebutnya sebagai lumpur dingin, meski sebelumnya saya mengasosiasikan dingin ini dengan dinginnya air pegunungan. Tapi rupanya dingin di sini adalah tidak panas.

Adanya kandungan air garam, ada yang oleh masyarakat setempat kemudian dimanfaatkan untuk diolah secara tradisional menjadi garam dapur. Konon kemasyhuran garam Bledug Kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton Surakarta. Ada juga yang mengambilnya untuk digunakan sebagai lulur agar terhindar dari penyakit kulit. Barangkali daripada membeli lulur buatan pabrik beraroma macam-macam, mendingan tubuhnya ditemploki lumpur beraroma belerang. Toh, kalau dilulurkan ke wajah akan sama-sama mampu merubah penggunanya tampil menyerupai hantu…..

Tapi kenapa muncratan lumpur dingin yang mengandung garam ini hanya ada di desa Kuwu? Karena duluuuuu…., menurut sohibul-dongeng, keanehan itu disebabkan adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut selatan (pokoknya kalau ada cerita tentang kehidupan bawah tanah di Jawa, ujung-ujungnya pasti laut selatan). Cerita ini ada kaitannya dengan legenda Ajisaka yang memerintah di Medang Kamolan dan legenda seekor naga bernama Jaka Linglung yang mengaku sebagai anak Ajisaka. Saya yakin kalau anak-anak sekarang pasti tidak kenal dengan kisah Ajisaka dan Bajul Putih. Padahal di jaman saya kecil dulu, kisah ini sangat populer.

Kocaping carito….. Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar, seorang mantan penguasa yang dholim dan suka makan daging manusia yang ketika lengser keprabon berubah menjadi buaya putih (makanya hati-hati kalau jadi penguasa, matine dadi boyo….. kalau meninggal jadi buaya, sebuah petuah agar jangan jadi penguasa yang zalim, begitu kata orang-orang tua). Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Maklum, Jaka Linglung ini termasuk bonek, daripada nanti ekornya nimpukin rumah penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar menempuh perjalanan  ke Laut Selatan melalui subway, lewat dalam tanah.

Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai di tempat yang dituju, ternyata belum. Hingga terakhir nyembul di desa Kuwu. Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya Jaka Linglung inilah yang kini dipercaya menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu. Tapi kok asin? Ya, karena sebelumnya Joko Linglung nenggak air laut kidul…..

***

Jadi, kalau kebetulan berkesempatan melancong ke Bledug Kuwu, kita akan takjub menyaksikan fenomena alam yang unik dan memberi berkah bagi masyarakat sekitarnya. Sebaiknya  kalau mau berkunjung ke Bledug Kuwu jangan di siang hari bolong. Sebab lokasinya gersang, tandus dan poanas, nyaris tanpa pepohonan, meski ada juga orang-orang yang menjual jasa menyewakan payung.

20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

25 Juli 2008
Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Hari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan bersama teman-teman ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova sambil tertatih-tatih berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km dengan berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya mengunjungi kota Tanjung Pinang dan sekitarnya di Pulau Bintan, pada tanggal 10 – 15 April 2006. Perjalanan dari Yogyakarta ditempuh melalui Pulau Batam.

(1).  Menuju Kota Gurindam
(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
(3).  Pulau Penghasil Bauksit
(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”
(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong
(6).  Purnama Di Tanjung Pinang
(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang
(8).  Semalam Di Batam

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(3).  Pulau Penghasil Bauksit

Sejak jaman Sekolah Dasar dulu, pelajaran Ilmu Bumi adalah salah satu pelajaran yang saya sukai. Hingga saya sangat hafal bahwa bauksit sebagai salah satu hasil tambang di Indonesia dihasilkan di pulau Bintan. Lokasinya di sebelah mana pun dengan mudah dapat saya cari. Bauksit mengandung mineral bahan penghasil alumunium, antara lain untuk membuat pesawat terbang. Selalu begitu yang diajarkan oleh guru saya. Saya tidak tahu kenapa tidak pernah disebut sebagai bahan pembuat panci, sendok atau cething (wadah nasi) misalnya, melainkan selalu dihubungkan dengan pesawat terbang. Baru kali inilah saya benar-benar menginjakkan kaki saya di pulau Bintan.

Herannya, kedua anak saya tidak tahu ada pulau yang namanya Bintan yang luasnya dua kali luas pulau Batam. Apalagi menemukan letaknya dan mengetahui hasil utamanya. Terpaksa saya membuka buku atlas Indonesia untuk sekedar menunjukkan kemana bapaknya hendak pergi selama beberapa hari. Menuju ke sebuah pulau dimana ibukota propinsi baru Kepuluan Riau (Kepri) berada. Kepri adalah propinsi ke-32 yang baru diresmikan berdirinya pada tanggal 1 Juli 2004. Diam-diam terbersit kekhawatiran dalam hati, jangan-jangan masih banyak anak-anak Indonesia lainnya yang juga tidak tahu pulau Bintan dan hasil utamanya, belum lagi pulau-pulau yang lebih kecil.

Barangkali karena letaknya yang berdekatan dengan Batam, Singapura dan Johor Bahru, Malaysia, maka keberadaan Bintan nyaris tidak banyak dipromosikan kepada wisatawan dalam negeri. Padahal konon, pantai utaranya yang masih asri dan alami menjanjikan nilai jual tinggi untuk industri pariwisata. Saya ingat ketika di tahun 2002 sempat jalan-jalan ke Singapura dan menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia, di sana banyak saya peroleh brosur-brosur promosi wisata tentang pulau Bintan. Sesuatu yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Yang paling populer adalah kawasan Bintan Resort, dan salah satu hotel mewahnya adalah Mayang Sari Beach Resort (jelas nama hotel ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bambang Trihatmojo……, ya memang tidak ada hubungannya……).  

***

Bauksit yang banyak dijumpai di pulau Bintan dan pulau-pulau di seputarannya dijumpai dalam bentuk endapan laterit. Berada bersama-sama dengan lapisan tanah penutupnya yang kesemuanya menampakkan perwujudan berupa endapan tanah merah. Maka dengan mengupas sedikit tanah penutupnya saja sudah diperoleh endapan laterit mineral bauksit. Dan itu ada di mana-mana. Memandang ke arah mana pun di pulau Bintan ini akan tampak tanah merah yang mengandung bauksit. Oleh karena itu tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pulau Bintan ini adalah pulau bauksit. Di mana pun kita berdiri, maka sesungguhnya kita sedang berdiri di atas endapan bauksit. Demikian halnya dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sungguh sebuah “Maha Karya” yang luar biasa dari Si Empunya jagat raya.

Tidak heran kalau bangsa Belanda yang “lebih dahulu” pandai, sudah sejak lama mengeksploitasi bauksit di pulau Bintan ini, yang hingga sekarang masih berlanjut di bawah manajemen PT Aneka Tambang. Lokasi-lokasi bekas penambangan itu sekarang masih tampak. Sebagian diantaranya kini sudah berdiri bangunan perumahan, perkantoran dan pertokoan di atasnya. Sebagian lainnya ada yang menjadi kolam dan cerukan. Salah satunya, kolam di tengah kota Kijang yang malah menambah asri suasana kota.

Sedangkan area bekas penimbunan tailing (limbah hasil penambangan) maupun area bekas tambang lainnya, kini sudah mulai menghijau ditumbuhi aneka tanaman, baik yang direncana melalui program reklamasi maupun yang dibiarkan sak thukule (asal tumbuh dengan sendirinya). Sebagian dari endapan tailing ini ada juga yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bata, dicetak seperti batako. Katanya mutu batanya lebih bagus, dan sudah banyak juga masyarakat yang memanfaatkannya. Tailing ini pun tidak mengandung B3 (bahan beracun dan berbahaya), sehingga tidak terlalu “merepotkan”. Malah bagi masyarakat yang mempunyai jiwa seni bercocok-tanam, kawasan tailing ini dapat diolah menjadi lahan pertanian yang menghasilkan sayur-sayuran.

*** 

Seharian ini cuaca rada murung, mendung bergelantungan di mana-mana dan hujan. Sebelum kami bekendaraan ke arah barat dari Tanjung Pinang, kami mampir dulu ke Bintan Center untuk sarapan pagi. Cari model sarapan yang berbeda. Ketemulah sarapan roti prata plus tentu saja kopi atau teh O.

Konon roti prata ini jenis masakaan peninggalan orang India yang dulu-dulunya banyak ada di pulau Bintan. Bentuk, rasa dan bahannya seperti martabak, dan dimakan bersama kuah kari atau pokoknya yang mirip-mirip itulah, wong saya juga enggak tahu. Satu-satunya yang saya tahu adalah rasanya enak dan mak sek, bikin kenyang…… Roti prata ini memang biasa dipilih oleh masyarakat Bintan sebagai salah satu jenis makanan untuk sarapan pagi.  

Segera kami melaju ke arah barat mengikuti jalan yang menuju kota kecamatan Tanjung Uban yang terletak sekitar 90 km arah barat dari Tanjung Pinang dan berada di pantai barat pulau Bintan. Jalannya termasuk beraspal bagus tapi sepi. Sekira di km 60-an kami berbelok masuk ke selatan, ke desa Penaga (baca : Penage). Jauh meninggalkan jalan raya ke arah pedalaman mendekati pantai selatan. Niatnya ingin menuju ke tepian dan muara sungai Ekang Anculai. Namun malah menemui jalan buntu dimana terlihat petani-petani Cina bercelana kolor pendek dan ote-ote (tidak pakai baju) yang lagi pada nongkrong di rumahnya. Di sepanjang jalan tanah merah ini banyak dijumpai pohon karet, durian dan duku. Sayangnya saat ini bukan sedang musim durian berbuah.

Karena jalan tanah sudah mentok dan tidak ketemu sungai, maka kami kembali lagi ke jalan raya dan mencoba jalur lain. Upaya kedua inipun tidak membuahkan hasil. Jalan tanah mentok lagi di perkampungan petani lokal. Malah hujan turun agak lebat sehingga terpaksa numpang berteduh di salah satu rumah penduduk di sana. Namun dari ceritanya, lokasi sungai sebenarnya sudah dekat, hanya saja terlalu sulit untuk dicapai dengan berjalan kaki, apalagi naik mobil, karena banyak kawasan rawa berhutan bakau atau mangrove yang tebalnya berkisar 20-200 m dari bibir sungai.

Upaya mencari muara sungai lewat darat hari ini dibatalkan untuk rencananya besok dicoba lagi dengan mencapainya lewat laut. Meski demikian, semua tempat yang kami kunjungi tetap kami petakan menggunakan alat GPS agar dapat diketahui lebih pasti dimana posisi kami ketika kesasar dan mentok di jalan buntu, kalau diplotkan di peta. Segera kami kembali ke Tanjung Pinang, untuk selanjutnya menuju kota kecamatan Kijang yang letaknya di sudut tenggara pulau Bintan. Jarak dari Tanjung Pinang ke Kijang sekitar 28 km.

Namun sebelum kami melaju jauh, kami menyempatkan untuk melihat dermaga sungai milik perusahaan penambangan batu granit yang lokasi tambangnya tidak jauh dari jalan raya. Batu granit hasil penambangannya dimuat ke dalam tongkang melalui dermaga sungai yang juga berada di sungai Anculai, tetapi lebih ke arah hulu dari lokasi yang rencananya hendak kami datangi. Setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju kota Kijang. Kali ini kami mengambil jalur memutar melalui sisi utara pulau Bintan agar dapat melihat pemandangan alam berbeda.

***

Sebenarnya bukan kota Kijang yang menjadi tujuan utama kami, melainkan melihat lokasi dan operasi tambang bauksit. Diantaranya yang saat ini dikelola oleh PT Aneka Tambang. Ya, sekedar melihat saja. Wong namanya juga orang tambang, ya lumrah kalau kepingin melihat tambang (siapa tahu ada peluang membuka cabang “Madurejo Swalayan” ……). Setidak-tidaknya, dengan melihat, maka informasi yang dapat diserap akan lebih banyak dibandingkan dengan hanya mendengar dan membaca saja. Setidak-tidaknya lagi, kalau terpaksanya ngomong soal tambang bauksit maka tidak akan pathing pecothot karena memang sudah melihat sendiri kenyataannya di lapangan.

Sebelum memasuki kota Kijang kami menyimpang ke selatan, menuju lokasi penambangan bauksit, lalu melihat lokasi pencuciananya. Dilanjutkan melihat dermaga sungai dimana selanjutnya bauksit akan diangkut dengan tongkang menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan inilah bauksit dipindahkan ke kapal yang akan membawanya ke pembeli bijih bauksit di luar negeri.

Dengan proses penambangan, pencucian dan pengangkutan yang seperti itulah aktifitas penambangan bauksit di pulau Bintan ini terus berjalan. Bukan saja oleh PT Aneka Tambang, melainkan juga oleh pihak swasta lainnya. Sepanjang pengelolaan areal penambangan dan lingkungannya dikerjakan secara professional, rasanya pemerintah daerah kabupaten Bintan atau propinsi Kepri layak bangga memiliki potensi kekayaan alam yang jarang dijumpai di kawasan lain di negeri ini. Daerah lain yang memiliki potensi cadangan bauksit adalah Kalimantan Barat.

Tinggal pandai-pandai saja pihak pemerintah setempat mengawasi dan mengelola dengan segenap perencanaan yang matang. Tidak asal memperoleh Pendapatan Asli Daerah, melainkan optimasi pendayagunaan sumber daya alam yang diikuti dengan perencanaan yang komprehensif terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah kota dan kawasan penyangganya. Kalau sudah demikian, maka kegiatan ekonomi dan bisnis pun akan tumbuh menyertainya. Peluang untuk memajukan Bintan melalui sektor industri pertambangan masih sangat terbuka. Bauksit hanyalah satu di antara sekian banyak jenis bahan galian lainnya yang ada, seperti granit, andesit, basalt, pasir kwarsa, kaolin, dsb. 

Pengalaman yang terjadi di pulau Singkep (masih tetangga Bintan di Kepri), dimana kini meninggalkan bentang alam bopeng dan kota Dabo yang kini menjadi kota hantu, hendaknya menjadi pelajaran berharga. Letak geografis Bintan yang dekat dengan Batam dan Singapura tentunya menjadi nilai tambah tersendiri, dimana aktifitas perdagangan lintas pulau lintas negara sudah lebih dahulu terbangun sejak lama. Berbeda halnya dengan Singkep yang adoh lor adoh kidul. Semoga pemerintah Bintan dan Kepri lebih cerdas menyikapinya demi kemajuan masyarakatnya.

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”

Masyarakat Bintan ini mempunyai kebiasaan unik, yaitu minum kopi. Bukan di rumah, di kantor, di hotel, atau di resto, melainkan di kedai-kedai kopi yang banyak betebaran di setiap sudut kota. Apakah dia orang biasa atau pejabat atau pengusaha, mereka pada pergi ke kedai-kedai kopi kalau dirasa-rasa sudah tiba waktunya kepingin ngopi. Acara ngopi atau coffee break ini bisa terjadi kapan saja. Tidak perduli pagi hujan, siang bolong panas terik, sore mendung atau malam dingin semribit, pokoknya kalau kepingin ngopi ya pergi nongkrong di kedai kopi. Tapi ya jangan lalu dibayangkan semua penduduk Bintan tumplek-blek di kedai kopi. Itu demo namanya!. Njuk nanti siapa yang tunggu rumah atau kantor……

Maka kedai kopi menjadi tempat paling strategis untuk bertemu membicarakan ihwal apa saja. Lobi-lobi politik, transaksi bisnis, silaturahmi, sekedar membuang waktu, nglaras, diskusi serius, ngumpul-ngumpul penuh canda, semua bisa berlangsung setiap saat setiap hari di kedai kopi, tanpa mengenal hari libur atau jam istirahat. Pokoknya kapan saja.

Salah satu kedai kopi favorit di kota Kijang adalah kedai kopi “Hawaii” yang berlokasi di depan pasar Berdikari. Mudah ditemukan lokasinya karena memang kota ini tidak terlalu ramai. Aroma dan rasa kopi di kedai kopi “Hawaii” ini sangat khas dan kuat sehingga membuat setiap penggemar kopi pasti kepincut untuk kepingin kembali ngopi lagi di tempat ini. Maka ada seloroh bagi pendatang baru di kota ini, yaitu dianggap belum sah datang ke Kijang kalau belum pernah singgah ngopi di kedai kopi “Hawaii”.

Sang pemilik kedai adalah seorang Cina tua yang biasa dipanggil A-Eng. Di usianya yang sudah 79 tahun ternyata engkoh A-Eng ini masih terlihat bregas (gagah), gesit, dan tidak menampakkan kelelahan fisiknya. A-Eng suka diajak ngobrol, apalagi kalau menyangkut kedai kopinya. Engkoh ini pun dengan berapi-api akan bercerita panjang-lebar dengan logat Melayu-Cina yang mulai rada susah dipahami karena giginya yang sudah pada hilang dan diganti gigi emas. Konon, air Riau memang terkenal keras dalam mempercepat kerusakan gigi.

Dulunya A-Eng tinggal di pulau Koyang, yaitu sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Bintan. Katanya semasa muda dulu suka berburu menangkapi monyet dan menyucrup otaknya, hingga puluhan ekor jumlahnya. Hmmmmm…….. Itulah selalu jawabnya kalau ditanya apa resep awet mudanya. Tentu saja ini formula yang tidak layak ditiru. Tapi begitulah pengalaman hidup A-Eng hingga di usianya yang sekarang.

Pada tahun 1969 A-Eng pindah ke Kijang. Dia lalu membuka usaha kedai kopi di depan pasar Berdikari yang pada waktu yang sama juga sedang mulai buka. Tentu saja waktu itu kota Kijang masih sangat sepi. Tapi relatif lebih ramai karena kota ini adalah bekas pusat kegiatan penambangan bauksit ketika Belanda masih jaya. Sejak itulah hingga kini A-Eng tidak pernah pindah. Kedainya pun tidak pernah direnovasi, diperbaiki atau sekedar dirapikan, sejak 37 tahun yang lalu. Maka wajarlah kedai kopi “Hawaii” milik engkoh A-Eng yang ada sekarang ini tampak sangat sederhana dan tradisional, meski tidak dipungkiri munculnya kesan kurang bersih.

Perihal nama “Hawaii” untuk kedainya itu, menurut penuturan A-Eng adalah pemberian pak Camat Kijang pada masa itu. Karena A-Eng yang wong ndeso Cina-Melayu ini bingung kedainya mesti dijuduli apa, maka dia pun minta pak Camat Kijang untuk memberinya nama, dan lalu dipilihlah nama “Hawaii” yang bertahan hingga sekarang menjadi trade mark kopinya engkoh A-Eng.

Dulu pernah tersiar rumor, katanya kopinya A-Eng bercampur ramuan daun ganja, makanya setiap sruputan pertama dari kopinya selalu menimbulkan efek thengngng….. di kepala peminumnya, apalagi bagi mereka yang tidak biasa minum kopi. Namun A-Eng membantahnya, diapun tidak merahasiakan resepnya.

Pulau Bintan memang bukan penghasil kopi, makanya A-Eng membeli kopi Sumatra biasa. Menurut A-Tet, satu dari empat orang anaknya yang sekarang tekun membantu usaha babahnya, kopi mentahnya berasal dari kopi Jambi, digoreng sendiri dengan sedikit tambahan minyak wijen dan lalu digilingnya sendiri. Begitu saja, katanya. Kalau kemudian tercipta taste kopi yang khas dan numani (membuat tuman atau ketagihan), itu karena penyajiannya.

Sebelum disajikan, kopi kental itu direndam atau diseduh dalam air panas mendidih agak lama, lalu disaring. Setelah itu tinggal menyajikan dalam cangkir kecil, dan lagi-lagi agak mbludak…… Mau kopi O atau dicampur susu, tinggal pesan saja. Susunya pun tidak sembarang susu, mesti merk “Double Dice” dari negeri seberang. Suatu ketika susunya pernah diganti, ternyata dikomplain penggemarnya. Katanya susunya kurang enak dan akibatnya seringkali kopi dalam cangkir pembelinya tidak dihabiskan. Akhirnya kembali lagi dia menggunakan susu cap “Double Dice” itu hingga sekarang.

Harga secangkir kopinya A-Eng terbilang murah. Cukup Rp 2.500,-. Itu sebabnya kedai kopi “Hawaii” ini laris manis tanjung kimpul. Sehari A-Eng bisa menghabiskan sampai 40 kg kopi, terkadang lebih. Hanya penggemar berat kopi hitam saja yang akan sanggup nenggak kopinya A-Eng lebih dari secangkir, mengingat kental dan aromanya yang kuat, serta sensasi thengngng… di kepala itu.

Iseng-iseng saya tawarkan kepada koh A-Eng untuk buka cabang di Jogja. Waralaba juga bolehlah. Dalam hati saya berkhayal, kalau dijual Rp 5.000,- sampai Rp 15.000,- per cangkir bagi penggemar kopi rasanya masih sepadan dengan sensasi thengngng… yang diberikan, tergantung lokasi dan tampilan kedainya. Mbah A-Eng ini hanya tertawa. Katanya, dia tidak bisa menjamin rasa dan aromanya tidak berubah. Wah…….

Sebagai penggemar kopi yang sudah terbiasa ngopi pagi dan sore, bagaimanapun juga tidak saya lewatkan kesempatan untuk membeli satu kilogram kopi ramuannya A-Eng ini sebagai oleh-oleh untuk saya sendiri. Harganya Rp 25.000,- per kilogram. Tentu dengan harapan agar di Jogja nanti saya akan memperoleh sensasi thengngng….. yang sama seperti ketika ngopi di kedai “Hawaii”.

Pendeknya, sruputan pertama begitu thengngng….., selebihnya terserah Anda…… Mau secangir, dua cangkir atau tiga cangkir mbludak……

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang

Hari ini hari terakhir di pulau Bintan. Siangnya kami akan menyeberang kembali ke Batam. Sesuai rencana yang telah kami bicarakan malam sebelumnya, baik ketika di “Potong Lembu” maupun di “Sunset Café”, pagi hari kami akan menemui seseorang dan melihat-lihat rencana tempat dan peralatan laboratorium untuk menganalisis mineral bauksit.

Sarapan pagi tentu tidak lupa. Meskipun saya termasuk orang yang tidak biasa sarapan, melainkan cukup hanya dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Di tempat baru ini kebiasaan itu perlu disesuaikan agar tidak kehilangan momen-momen beda dan khas yang ada. Mata tertuju pada kedai di bilangan Batu 10 kawasan Bintan Center, yang memasang tulisan mie lendir. Baru membaca tulisannya saja asosiasi saya sudah macam-macam. Ini mie campur lendir, atau mie berlendir, atau lendir yang dicampurkan ke dalam mie?

Pokoknya dicoba dulu. Perkara nanti tidak enak ya tidak usah dimakan. Untuk menyiasatinya, saya biarkan seorang teman memesannya dulu, saya menyusul pesan kemudian. Ketika saya lihat mie lendir pesanan teman itu kok kelihatannya cukup merangsang lidah, barulah saya memesan satu porsi tambahan. Rupanya memang sejenis mie ayam, tapi kuahnya seperti bumbu sate sambal kacang. Entah benar entah tidak, pokoknya uenak, dan bikin perut mak sek (langsung kenyang) di waktu pagi. Kalaupun deskripsi saya tentang mie lendir ini salah, toh saya tidak kepingin memasaknya sendiri di rumah.

***

Kami kembali menuju kota Kijang karena ada rencana untuk bertemu dengan seseorang. Bolak-balik Tanjung Pinang – Kijang adalah rute yang biasa, karena jaraknya memang tidak terlampau jauh, relatif tidak padat lalu lintasnya dan jalan aspalnya terbilang mulus. Seperti halnya kota-kota lain yang seakan berlomba menonjolkan motto kotanya, Kijangpun memiliki semboyan sendiri, yaitu Kijang “Berseri”. Saya tidak tahu persis apa kepanjangan dari kata “Berseri” ini. Tapi saya tebak pastilah tidak jauh-jauh dari maksud  bersih, sehat, rapi, indah, dan kata-kata lain yang  semacamnya. 

Namun seorang tokoh Lembaga Adat Melayu berseloroh sambil berplesetan masygul, katanya “Berseri” itu kepanjangan dari “berserak sehari-hari”. Maklum tokoh yang cukup disegani ini hatinya gundah wal-gulana melihat kota Kijang sekarang semakin kurang bersih akibat sampah. Warga dan pemerintahnya seolah-olah kurang perduli dengan masalah kebersihan kotanya. Tentunya ini rasa keprihatinan yang bagus. Karena menurut saya, sekotor-kotornya Kijang yang saya lihat, masih terbilang lebih bersih dibandingkan yang terjadi di kota-kota lain di Jawa.

Hal yang paling menarik dari kota ini adalah tumbuhnya satu-satunya pohon bunga sakura di tengah kota. Tidak ada orang yang tahu persis asal bin muasal tanaman khas Jepang ini kenapa dan bagaimana bisa tumbuh di Kijang yang hingga kini tetap bertahan tumbuh kokoh mencapai lebih 10 meter tingginya. Barangkali dulunya tanaman ini dibawa oleh seorang pendatang dari Jepang, waktu jaman penjajahan dulu. Tapi entahlah, tidak ada yang tahu persis kisahnya.

Ketika di negara asalnya Jepang tiba musim bunga dan sakura bermekaran, maka pohon bunga sakura yang di Kijang pun turut berbunga, dengan dominasi warna putih menyelimuti pohon, seolah-olah satu pohon bunga semua tanpa daun. Ini katanya lho….., wong saya juga belum pernah melihatnya dan saat ini juga tidak sedang musim berbunga. Saya percaya karena foto yang ada di kalender menunjukkan penampakan yang seperti itu. 

Seorang teman yang asli penduduk Kijang bercerita, sudah banyak orang yang mencoba menyangkok atau menyetek untuk memperbanyak tanaman ini, namun selama itu pula tidak ada satu pun orang yang berhasil mengembang-biakkannya. Jadilah hingga sekarang, pokok bunga itu menjadi satu-satunya tanaman bunga sakura yang ada di Kijang, bahkan mungkin di Indonesia. Siapa tahu suatu saat nanti pemerintah setempat menghubungi Jaya Suprana karena mau ikut-ikutan latah mendaftarkan tanaman sakura ini ke MURI.

Ini bagian menariknya, agaknya lokasi di bawah pohon bunga sakura ini cocok untuk medan uka-uka. Pasalnya menurut penuturan orang Kijang, di lokasi itu suka muncul kenampakan seorang wanita. Kawasan sekitar tumbuhnya pohon bunga sakura yang berada di sudut Jalan Tenggiri dekat dengan kolam kota ini memang bukan kawasan pemukiman. Maka kalau malam ya terkesan sepi dan gelap. Bumbu-bumbu penyedap cerita semacam inilah yang semakin membuat satu-satunya pohon bunga sakura di kota Kijang ini semakin menarik untuk dinanti-nanti saat akan datangnya musim sakura berbunga.

Ada bunga sakura di Kijang, ada aset yang potensial untuk “dijual” kepada wisatawan, kalau saja sempat terpikirkan…..

Tanjung Pinang, Kepri – 13 April 2006
Yusuf Iskandar