Archive for Mei, 2011

Biji Saga, Jejamuran Dan Malam Waisak

27 Mei 2011

(1)

Malam ini ketemuan dengan sahabat saya dari Jakarta. Beliau jauh-jauh dari Jakarta membawa empat butir biji tanaman saga (tanaman herbal untuk obat batuk). Saya pun merasa perlu untuk menyempatkan bertemu, daripada keempat butir biji saga itu dibuang malah nggak jelas tumbuhnya, atau malah dibawa kembali ke Jakarta.

Tempat yang dipilih untuk ketemuan adalah resto “Jejamuran” di Beran Lor, Jl Magelang-Jogja yang menyajikan aneka menu jamur (Trims untuk dr. Nury).

(2)

Kupesan menu sate jamur, tongseng jamur, jamur bakar pedas dan jamur goreng tepung, dengan minuman beras kencur. Sate dan tongsengnya sungguh tidak kalah dengan taste sate dan tongseng kambing.

Resto “Jejamuran” merupakan trend setter kuliner perjamuran di Jogja. Pilihan aneka menu jamur disajian sedemikian menarik, dan…woenak tenan. Lebih woenak lagi, karena ternyata saya dibayari oleh sejawat dari sahabat saya itu (Nuwun untuk dr. Sunartono).

(Note: dr. Sunartono, MKes adalah Sekda Kabupaten Sleman, DIY yang baru dilantik)

(3)

Tentang empat butir biji tanaman saga yang dibawa sahabat saya dari Jakarta itu berawal dari saran beliau untuk menanam tanaman herbal saga yang daunnya konon ampuh untuk obat batuk yang rasanya seperti OBH (obat batuk hitam). Beliau menawarkan akan memberi bijinya. Maka kali ini biji itu dibawa serta dalam kunjungannya ke Jogja.

Biji saga ini menarik, butirannya kecil-kecil seperti telur cicak, keras, berwarna merah tua, di satu ujungnya berwarna hitam.

(4)

Pulang dari “Jejamuran” perasaan terasa damai berbunga-bunga. Pertama, puas menikmati aneka menu jamur. Kedua, ada yang mbayarin. Ketiga, membawa empat butir biji saga. Keempat, perjalanan malam terasa lebih damai di bawah pancaran cahaya purnama sidi di malam Waisak.

Bulan penuh sedang bergelayut di atas kepala seperti tahu ada kerinduan di bumi. Kerinduan tentang teladan cinta kasih seperti ajaran Siddharta Gautama yang memancar ke segala penjuru.

Yogyakarta, 16 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Kamboja Pink Dan Kamboja Merah

27 Mei 2011

Kamboja Pink

Kamboja Merah

Tanaman bunga kamboja pink dan kamboja merah yang saya tanam di depan halaman rumah. Kedua tanaman itu berasal dari kuburan. Kedua tanaman itu juga rajin berbunga.

Yogyakarta, 22 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Kisah Tentang Sambal Terasi Goreng Dan Belimbing Wuluh

27 Mei 2011

Pengantar:
Catatan berikut ini adalah penggalan-penggalan cersta (cerita status) yang pernah saya tulis di Facebook selama periode tanggal 8 s/d 18 Mei 2011. Saya hanya ingin berbagi cerita pengalaman. Semoga menginspirasi.

——-

Sambal Terasi Goreng

Sambal terasi goreng untuk sarapan Minggu pagi. Benar-benar sambal yang komponen standarnya “mbok siyah” alias lombok, terasi dan uyah (garam) dimana lombok, terasi dan bawang merah digoreng terlebih dahulu sebelum diulek. Untuk variasi rasa dapat ditambah belimbing wuluh.

Dimakan dengan nasi putih panas. Sensasi hmmm-nya.., terasa saat memainkan jemari untuk muluk (mengambil dengan lima jari) lalu mengantarnya ke mulut. Jadikan telur dadar dan terong goreng sebagai asesori. Uuuhhhmmm….!

***

Sambal terasi goreng (kalau saya sebut sambal goreng saja, bisa diasosiasikan salah, untuk menu yang berbeda) adalah menu yang sarat rasa nostalgia. Inilah menu andalan keluarga kami pada tahun-tahun 1965-1967 di masa-masa sulit jaman peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Selain menu nasi jagung, maka sambal terasi goreng adalah lauk andalan ketika sedang ada nasi. Sesekali ditambah potongan kecil telur dadar karena sebutir telur harus dibagi-bagi.

***

 

Tampilan sambal terasi goreng memang tidak menarik, pucat kecoklatan. Dulu, almarhum ibu suka sengaja tidak mengulek hingga halus benar, agar masih tampak suwiran cabe merahnya yang membangkitkan nafsu makan. Ada semburat rasa manisnya karena waktu mengulek dibubuhi sedikit gula pasir sebagai penyedap pengganti micin atau motto.

Sepertinya itulah menu sarapan terenak yang kami rasakan, karena tidak pernah tahu bahwa di luar sana ada juga menu yang lebih enak.

***

Kini, menu sederhana ini tetap mampu membangkitkan gairah makan. Pertama karena menikmati taste-nya, kedua karena nostalgianya (nilai lain di baliknya), ketiga karena tidak membandingkan dengan yang lebih melainkan yang kurang.

Well, maka ketika saya sedang dihadapkan dengan situasi (apapun) yang tidak mengenakkan. Saya akan berusaha membangkitkan ketiga hal itu untuk memanipulasinya agar menjadi mengenakkan. Walau secara fisik tidak membuktikan, namun secara rasa menentramkan.

***

Masih kisah tentang sambal terasi goreng. Minggu malam ini saya lihat sambalnya masih tersisa banyak. Wah, dibuang sayang. Sedang kondisi sambal masih baik dan sangat layak terbang dari cobek ke mulut, untuk makan malam.

Nasi sepiring langsung ludes. Lha kok telur dadar dan terong gorengnya masih ada, sepiring lagi nasi putih tandas. Lalu istri saya bilang: “Habiskan saja nasi dan telornya”. Ya terpaksa piring seisinya kloter ketiga buablasss…

***

Sambil menghabiskan isi piring trip ketiga, sang koki yang maha karyanya sedang saya nikmati itu cerita tentang tips untuk improvisasi. Katanya: “Kalau terasinya tidak ikut digoreng tapi dibakar, juga woenak“. Kalau begitu lain kali harus dicoba.

Tapi ada satu lagi ganjalan saya. Biasanya pakai jeruk sambal, tapi ini kok pakai belimbing wuluh? Rupanya ada satu rahasia lagi. “Itu resep kebiasaan orang Flores kalau bikin sambal”. Lho kok malah istriku tahu?

***

Belimbing wuluh yang digunakan istri saya berasal dari pohon yang ada di depan rumah mertua, di dekat toko. Sambil ngurusi toko, istri saya memperhatikan ada tetangga asal Flores yang sering sekali minta belimbing wuluh, bahkan di malam hari. Karena penasaran, ditanyalah untuk apa. Ternyata jawabnya adalah untuk dicampur sambal dan itu adalah tradisi masyakarat Flores.

Maka diam-diam istri saya mencoba di rumah. Hasilnya? Memang beda suwwedap-nya…

***

Awalnya agak ragu. Dengan diperasi jeruk sambal saja sudah asam, lha kok malah diganti belimbing wuluh yang kecutnya minta ampyuuun…

Cobalah menggigit belimbing wuluh, digaransi Anda akan nyengir dan mata akan kiyer (memicingkan sebelah mata), sangking kuwwecut-nya… Belimbing wuluh cukup dipenyet tidak sampai diulek halus. Katanya cocok untuk sambal apa saja. Uuufff, air liur pun.., mak cesss…!

——-

Belimbing Wuluh

Belimbing wuluh, tumbuh di halaman sempit rumah mertua di Bintaran, Jogja. Memandang buahnya, lalu membayangkan menggigitnya saja gigi sudah terasa ngilu… Rasa airnya benar-benar kuwwecuut poll….

***

Daun pohon belimbing wuluh. Daunnya kecil-kecil, tapi tangkai daunnya terangkai sedemikian tertata rapi menakjubkan, di setiap ujung batangnya. Di batangnya itulah bergelantung menggerombol buah belimbing wuluh yg berbuah lintas musim. Apapun musimnya, belimbing wuluh tetap kuwwecuut membuat air liur mak cesss

***

Tentang pohon belimbing wuluh di depan rumah mertua itu sendiri ada kisahnya (haha, mendongeng lage.., salah sendiri dibaca) –

Pohon itu berumur puluhan tahun. Ketika rumah hendak direnovasi karena rumah lama nyaris rubuh oleh gempa Jogja tahun 2006, pohon itu mau ditebang. Alasannya? Daunnya yang kecil-kecil bikin kotor saja, buahnya tidak bisa dinikmati seperti buah umumnya dan menuh-menuhin halaman yang memang sempit. Intinya, tidak bernilai ekonomis.

***

Mendengar pohon mau ditebang, saya mengusulkan agar sebaiknya jangan. Alasannya? Ada nilai ekonomis intangible yang untuk memahaminya dibutuhkan “ngelmu gaib”.

Pertama, belimbing wuluh banyak diperlukan orang tapi sudah tidak banyak yang menanamnya. Kedua, pohon itu warisan almarhum bapak mertua, maka selama para tetangga, pengunjung toko atau orang lewat meminta buah itu, selama itu pula kebaikan amal jariyah almarhum bapak mertua terus mengalir.

***

Apa artinya? Bahwa amal jariyah itu tidak berkorelasi dengan atau berkonotasi sebagai sesuatu yang mahal dan sulit. Bahwa almarhum bapak mertua barangkali tidak pernah berencana, tapi niat tulus ahli warisnyalah yang menjadikan peninggalan “tidak sengaja” itu menjadi amal yang berkesinambungan (dari dunia sampai akherat berjajar belimbing wuluh, sambung-menyambung menjadi satu, itulah amal jariyah). Sungguh ini kejadian sangat jamak tapi tidak banyak yang ngeh menangkap nilainya.

***

Akhirnya benang merah dari dongeng saya ini, bagi kita yang badannya masih mengandung hayat, masih bisa menikmati mak nyusss-nya sambal terasi goreng atau mak cesss-nya air belimbing wuluh, masih sempat pikir-pikir seperti pesakitan mau banding atau kasasi… Adalah mempersiapkan apa yang dapat diwariskan, sengaja atau tidak sengaja, menjadi amal jariyah. Harta, ilmu, karya, kemudahan atau kebaikan lainnya yang bakal berkesinambungan. Insya Allah…

——-

“Blimwul Tea”

Usai jum’atan, makan siang, duduk di depan komputer toko, menginput data barang. Lha kok kepala teklak-tekluk mata riyep-riyep ngantuk… Haha, langsung ingat. Salah satu manfaat belimbing wuluh adalah untuk obat ngantuk.

Coba bayangkan, kupetik sebuah, kugigit, kuhisap airnya… Huuhh, kuwwecuut-nya… Digaransi ngantuk lenyap seketika tanpa biaya tanpa efek samping. Yaa, kadang-kadang ada efek belakang, perut mulas kalau kebanyakan…

***

Tenggorokan terasa gatal menyebabkan batuk-batuk yang terkadang di luar kendali. Kalau cuaca badan sedang seperti ini enaknya minum lemon tea alias teh hangat diberi perasan jeruk nipis. Berhubung stok jeruk nipis di rumah sedang habis, saya ganti dengan belimbing wuluh. Lho kok enak…

Waaa, belimbing wuluh lagee… Ternyata minuman “blimwul tea” (teh belimbing wuluh yang belimbingnya dicacah-cacah) juga top-markotop bin sip-markosip…

***
Masih lanjutan cerita tentang belimbing wuluh… Menikmati Sabtu pagi dengan menyeruput segelas “blimwul tea” (teh belimbing wuluh). Hmmm, benar-benar mak nyosss karena fanas (sengaja pakai ‘f’). Belimbing wuluh yang kalau digigit asamnya minta ampyuuun... itu ketika disayat tipis-tipis lalu dicampur ke dalam segelas teh panas, asamnya lenyap berubah menjadi uuuhhmm… (susah dilukiskan dengan kata-kata).

***

Menikmati pagi dengan nyruput “blimwul tea” (teh belimbing wuluh). Ini minuman teh biasa yang dicampur dengan irisan buah belimbing wuluh. Citarasa tehnya biasanya kalah sama sensasi asam dari belimbing, tapi suwedaaap tenan… (By the way, belimbing wuluh ki coro londone oppo yo…?)

Yogyakarta, 8-18 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Maljum

25 Mei 2011

Seorang teman mengirim SMS yang intinya mengucapkan: “Met maljum”. Kubalas: “Buat saya maljum, malsab, malming, malsen, malsel, malrab, malkam, nggak ada bedanya…”.

Lha wong jadwal kerja saya tidak teratur dan hampir tiap hari ada di rumah. Maljum akan punya arti yang khusus bagi mereka yang jadwal kerjanya teratur…, teratur “on-off” maksudnya, alias pekerja yang cuta-cuti bin mudak-mudik…

(Note: Bagi yang belum familiar, maljum adalah kependekan dari malam Jum’at)

Yogyakarta, 19 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Pepaya Ungu

25 Mei 2011

Di sebelah masjid tidak jauh dari toko, ada pohon pepaya berbatang ungu milik seorang jamaah. Konon salah satu khasiat getah pepaya ini adalah untuk obat amandel. “Sudah empat orang membuktikan”, kata yang punya.

Usai sholat Ashar si pemilik langsung kusapa dan kuminta bibitnya. Jama’aaaah… “Mbok saya minta bibitnya” (‘mbok’ adalah dialek penghalus dalam bahasa Jawa).

Setelah dikasih: “Alhamduuu…lillaaah…”. Semoga kali ini berhasil tumbuh sebab yang pertama dulu gagal.

Yogyakarta, 19 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Jatuh Cinta Sama Ikan

25 Mei 2011

Ibunya anak-anak lagi jatuh cinta sama ikan. Membuatku cembulu… (pakai huruf ‘l’). Sudah empat kali saban pulang dari toko mampir beli ikan komet dan koi. Sekarang ada puluhan ikan di kolam belakang rumah.

Setiap hari dia asyik memandangi ikan-ikan itu. Tapi setiap hari juga ada ikan yang diam mengambang, meninggal dunia. Dan setiap hari pula mengeluh: “Kok ikannya pada mati yo?”. Kataku: “Lha piara ikan sih, coba piara sapi, nanti kan nggak ada ikan yang mati…”.

Yogyakarta, 19 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Kucing Kerah

25 Mei 2011

Pagi umun-umun ada kucing kerah (berkelahi) di belakang rumah. Suaranya mbeker-mbeker (melengking) seperti suara motor Ninja yang sedang dipanaskan anak lanang. Bedanya kalau anak lanang saya tegur, kalau kucing kubiarkan saja karena duet suara 1-2 kucing itu jarang saya nikmati, sekalian biar yang masih tidur pada bangun…

Dari kamarnya, ibunya anak-anak tanya: “Gitu itu lagi ngapain sih?”. Jawabku: “Ya tengkarlah, masak kawin teriak-teriak, apalagi main catur…”.

Yogyakarta, 19 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Pantesan Minta Sumbangan Terus

22 Mei 2011

Seorang laki-laki datang minta sumbangan ke sebuah warung sate. Rupanya peminta sumbangan itu sudah sangat dikenal oleh pegawai warung sate. “Berapa hektar sih masjid yang mau dibangun?”, tanya pegawai itu acuh saja karena sudah puluhan kali peminta sumbangan itu datang dengan membawa kotak yang sama dan tujuan yang sama untuk pembangunan sebuah masjid di Jatim. Peminta sumbangan itu pun kabur.

Haha, gede banget masjidnya, pantesan minta sumbangan terus.

Yogyakarta, 17 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Sate Sapi Dan Lontong Sayur “Pak Cipto”

22 Mei 2011

Kali ini kangen dengan sate sapi. “Pak Cipto” di Jl. Kemasan, Kotagede, Jogja, menawarkan satu paket sate sapi dan lontong sayur. Seporsi sate sapi terdiri 10 tusuk @3 iris kecil daging sapi bumbu kacang, dipadu dengan sepiring kecil lontong sayur yang tidak ada sayurnya melainkan tempe dan daging. Semua dihargai Rp 20.000,- “Pak Cipto” buka mulai sore.

Puas karena citarasanya, kenyang karena takarannya, apalagi kalau minumnya teh jahe panas…

Yogyakarta, 17 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Hati-hati Bawa Pisau Lipat

22 Mei 2011

Setiap pergi ke toko di Madurejo kini saya membawa pisau lipat sebagai alat bantu untuk makan kedondong yang buahnya tak habis-habis. Tapi bawa pisau lipat di Jogja harus hati-hati. Seorang anggota tim SAR DIY ditangkap polisi, ditahan dan disidang karena bawa pisau lipat dengan tuduhan membawa senjata tajam tanpa ijin…

Siapa sih yang kurang kerjaan ini? Mungkin yang jual pisau atau yang bikin pisau. Mestinya anggota tim SAR itu sambil nyanyi… Chaiya chaiya…

Yogyakarta, 17 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Tergantung Kaki Siapa

18 Mei 2011

Anak lanang kalau sudah kumat malasnya, modalnya hanya nulis SMS kepada bapaknya. “Pak, satu yard berapa meter?”.

Tidak lama kemudian datang lagi SMS: “Satu mil berapa km?”. Belum selesai rupanya, datang lagi SMS: “Kalau satu kaki berapa meter?”. Maka cepat kujawab: “Ya tergantung kakinya siapa? Kakimu atau kaki sapi?”. Sesaat kemudian baru kususuli dengan SMS jawaban yang benar…

Yogyakarta, 16 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Pohon Talok Di Atas Genting

18 Mei 2011

Ini salah siappaaa…? Codot (kelelawar), buah talok atau si pemilik pohon talok, kok tahu-tahu di atas genting tumbuh pohon talok setinggi satu meter dan akarnya sudah menancap di dinding beton sehingga perlu parang untuk memotongnya.

Jangan salahkan si pemilik rumah, karena si pemilik rumah tidak pernah memberi hak penguasaan lahan di atas genting kepada siapapun untuk bercocok tanam, apalagi untuk tujuan yang lain…

Yogyakarta, 16 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Nenek Yang Terus Berlari

18 Mei 2011

Kompas Minggu ini menurunkan artikel tentang para sepuh termasuk nenek-nenek yang masih berlari bahkan di usianya yang lebih 80 tahun. Seakan menambah bukti hasil penelitian di USA bahwa berjalan cepat akan memperpanjang umur (seperti saya tulis di status saya seminggu yll).

Tidak perlu pusing apakah masih sempat menghitung langkah dengan benar atau tidak, tapi: “Lari, Nek…! Lari…!”. Dan, nenek-nenek itu pun terus berlari hingga usia rentanya…

Yogyakarta, 15 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Di Sebuah Acara Pernikahan

18 Mei 2011

Tiba di acara pernikahan di Wates, Kulonprogo. Rupanya prosesi tradisi penyambutan mempelai, sungkeman, suap-suapan (tapi halal) masih berlangsung. Terpaksa berdiri menyisih dulu, menunggu prosesi selesai.

Syukurlah, ada seorang panitia punya ide brillian, disilakannya saya menikmati hidangan lebih dulu. Waaa.., iga bakar pilihan pertamaku, dilanjut zupa-zupa. Usai salaman.., bakso, dawet hitam, es krim, buah… Untuk sementara berpantang nasi…

Yogyakarta, 15 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Pesta Bakar Ikan Anak Kost

18 Mei 2011

Akhirnya ikan-ikan nila di kolam kecil belakang rumah itu ditangkap dan dibakar oleh anak-anak yang kost di rumah. Beberapa hari sebelumnya saya tidak tega untuk mengolah sendri, tapi malam ini ikut makan setelah siap di piring. Anak-anak kost pun happy dengan pesta kecil di malam Minggu. Ibunya anak-anak menyiapkan nasi putih dan bumbu-bumbu, anak kost yang meracik sendiri bumbunya. Oh ya, masih ada sayur asam yang perlu dihabiskan juga. Hmmm…

Yogyakarta, 14 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Calon Pengusaha Yang Peminta-minta

18 Mei 2011

Mbah Daliyem, 62, asal Imogiri, sedang merintis usaha lempeng (kerupuk berbahan ketela). Gigi ompong, fisik lincah, bicara cergas (cerdas dan tegas) disisipi bahasa Indonesia dengan runtut. Bangga bercerita pernah masuk TV dan sekarang sedang membina satu anaknya untuk juga berusaha kerupuk lempeng.

Namun, saban hari berkeliling meminta-minta. “Lho? Kenapa masih minta-minta?”. “Taksih kirang…(masih kurang)”, jawab calon pengusaha itu.

Waaa, ya no comment-lah..

Yogyakarta, 14 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Rejeki Terindah Di Jum’at Pagi

18 Mei 2011

Setiap orang pernah mengalami berada dalam situasi benar-benar sedang butuh uang tapi tidak pegang uang sama sekali. Tidak ada yang dipinjami apalagi dimintai. Pagi ini, iseng-iseng kubuka tas ransel. Ada amplop tertutup rapat yang saya baru ngeh setelah kusobek ternyata berisi lembaran biru bergambar I Gusti Ngurah Rai.

Rejeki memang bisa berupa apa saja dan darimana saja. Rejeki terindahku Jum’at pagi ini adalah terbukanya ingatanku bahwa pernah kuterima amplop berisi uang.

Yogyakarta, 13 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Mengabaikan Hal-hal Yang Lepas

18 Mei 2011

Menjadi sales (supplier) bagi toko-toko kecil identik dengan pekerjaan dengan hasil pas-pasan, apalagi sales lepasan (free lance). Tiap hari mereka blusukan sampai ke desa-desa, naik motor atau mobil milik perusahaannya.

Tapi ada salah seorang sales lepasan yang sering kulihat datang ke tokoku naik taksi, dan mbayar. Pasti ada sesuatu yang lepas dari tangkapan pikiranku. Ya, seringkali kita mengabaikan hal-hal yang lepas seperti itu. Jangan-jangan di sanalah “ilmunya”…

Yogyakarta, 12 Mei 2011
Yusuf Iskandar

“Rahasia” Yang Sesungguhnya

18 Mei 2011

Siang tadi melayat dan mengantar ke kubur jasad bayi laki-laki. Setelah dikandung 9 bulan 10 hari, dilahirkan melalui operasi, sakit tak terobati, akhirnya kembali kepada Illahi Robbi, dalam usia 6 hari. Sedih skali! Yang kemudian kita dengar: “Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi bayi dan ortunya”.

Kebenaran seperti itu sudah lama saya tahu. Tapi sayangnya, “rahasia” yang sesungguhnya kelak hanya masing-masing dari yang masih hiduplah yang tahu. “Hendaklah kalian berpikir”, kata Tuhan.

Yogyakarta, 12 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Hati-hati Dengan OTW

18 Mei 2011

Ketika anak lanang kembali dari Malang mundur dari rencana awal, tahu-tahu kirim SMS: “Pak aku otw..”. Segera kubalas: “Otw ini maksudnya, baru mau berangkat dari penginapan, baru meninggalkan Malang, hampir sampai Jogja, atau baru sampai mana?”.

Hati-hati dengan kata “otw” (on the way)! Ini adalah bahasa gaul diplomatis. Bahkan belum berangkat pun orang suka bilang “otw”. Kedengaran lebih halus daripada bilang “baru mau berangkat”, apalagi kalau mau janjian ketemuan…

Yogyakarta, 12 Mei 2011
Yusuf Iskandar