Posts Tagged ‘rejeki’

Kebaikan Dan Rejeki Malam Jum’at

7 Februari 2011

Sore tadi sebenarnya saya berniat mengisi Maljum dengan tidur lebih awal karena rada nggak enak badan. Saya sudah berniat mbolos dari majelis taklim Maljum. Lha kok tidak biasa-biasanya, koordinator taklim tilpun membujuk untuk berangkat. Tilpun ke HP tidak saya angkat, lha kok malah tilpun ke istri dan “celakanya” saya belum koordinasi dengan istri.

Huahaha, terpaksa berangkat. Tuhan memang ruar biasa kalau sudah “memaksa” untuk memberi kesempatan meraih kebaikan…

(Maljum : Malam Jum’at)

***

Dari majelis taklim malam Jum’atan di selatan Jogja. Alhamdulillah, rejeki memang tidak akan kemana. Pulangnya dibekali bancakan dua kotak makan malam dan kue.

Dalam perjalanan pulang lewat jam 22:00 ketahuan ban mobil tertusuk paku. Alhamdulillah juga, rejeki memang tidak akan kemana. Pulangnya mampir tukang tambal ban. Ya rejeki bagi tukang tambal ban maksudnya.., dan saya tetap saja nunggu dan mbayar…

Yogyakarta, 3 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Rejeki Tak Dapat Ditolak

18 Oktober 2010

Mobil kijang itu mau dipakai acara pengantinan, jadi harus tampil bersih. Karena malas nyuci sendiri, maka kubawa ke tempat pencucian mobil. Beres? Ternyata belum. Lha kok ndilalah, pulangnya hujan. Mobil yang aslinya warna hitam itu jadi ada tutul-tutulnya putih.

Wuah, wuasem tenan..! Terpaksa sampai rumah dilap dan digosok lagi agar tutul-tutul putihnya hilang. Walhamdulillah, rejeki memang tidak akan kemana, tidak juga dapat ditolak, termasuk rejeki ngelap mobil…

Yogyakarta, 9 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan

2 September 2010

Pagi itu saya sengaja tidak tidur setelah makan sahur dan sholat subuh, karena ada agenda pagi yang harus saya penuhi. Padahal biasanya tidur setelah subuhan itu, wow… luar biasa nikmatnya hingga terkadang terasa malas untuk bangun, seolah-olah ingin terus tidur sampai tiba waktu berbuka. Seolah-olah…..

Belum jam delapan pagi, matahari sedang beranjak untuk memulai tugasnya hari itu. Datang seseorang bersepeda lalu duduk di luar pagar halaman rumah. Melihat istri saya keluar, seseorang itu berkata terbata-bata : “Saya temannya Yusuf, temannya Yusuf…”. Seperti kesulitan untuk berkata-kata lebih banyak. Tinggal istri saya kebingungan yang lalu memanggil saya keluar.

Masya Allah, ternyata seseorang itu adalah teman kuliahku dulu. Pagi itu adalah untuk kedua kali saya bertemu sejak terpisah lebih dua puluh tahun yll. Saat pertemuan pertama beberapa bulan sebelumnya, sengaja saya yang mencari rumahnya untuk menemuinya. Teman saya ini tinggal di sebuah rumah sangat sederhana di sudut sebuah perkampungan di kawasan Kotagede, Yogyakarta.

Waktu itu saya sengaja mencarinya setelah memperoleh informasi bahwa teman saya ini sekarang sedang mengalami kesulitan. Tubuhnya yang dulu waktu kuliah tinggi gagah kini terlihat kurus dan loyo digerogoti penyakit stroke dan paru-paru. Tidak lagi mempunyai penghasilan tetap karena pekerjaan terakhirnya sudah ditinggalkannya akibat sakit tak tersembuhkan. Saya sempat menuliskan cerita status di Facebook :

“B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, ‘mencuri-curi’ bersepeda…”. (17/04/2010)

Setelah saya sambut kedatangannya pagi itu, kemudian saya bimbing dan saya ajak duduk santai di teras depan rumah. Badannya terlihat kurus dan rapuh. Berjalannya tak lagi tegak. Bicaranya nampak sangat kesulitan. Hanya senyum ramahnya yang masih tersisa menandakan masih ada gairah dan semangat hidup dalam dirinya. Tapi dia sanggup bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah saya.

Setelah menanyakan kabarnya, pertanyaan berikutnya adalah : “Apa istrimu tahu kamu bersepeda ke sini?”. Dijawabnya : “Ya dia tahu. Aku tadi pamit”. Agak lega saya mendengar jawabannya. Sebab ketika sebelumnya saya bertemu dengan istrinya, teman saya ini suka mencuri-curi bersepeda kemana-mana padahal kondisi fisiknya sebenarnya tidak memungkinkan. Demi menyambut tamu istimewa saya itu, terpaksa saya menunda keberangkatan ke acara yang seharusnya saya hadiri jam delapan.

Setelah mengobrol kesana-kemari. Akhirnya saya mendengar pengakuannya bahwa dia perlu bantuan keuangan. Dengan menunjukkan sebundel kertas lusuh dari dompetnya yang ternyata adalah bukti pembayaran pembelian obat bertanggal beberapa bulan sebelumnya dari sebuah Rumah Sakit di Jogja. Pendek cerita dia sudah telambat membeli obat karena kesulitan biaya. Mak deg atiku…! Tidak ada yang sempat terpikir di otakku kecuali bahwa teman saya itu sedang berkata yang sebenarnya dan bahwa saya perlu membantunya.

Bukan soal pemberian bantuan yang ingin saya ceritakan. Kalau soal itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik daripada yang saya lakukan. Melainkan perasaan betapa bersyukurnya saya. Bersyukur yang pertama karena pagi itu saya masih dianugerahi keadaan yang lebih baik ketimbang yang sedang dialami oleh teman saya itu. Bersyukur yang kedua karena pagi-pagi saya sudah memperoleh peluang untuk berbagi kebaikan kepada orang lain yang orang lain itu sedang sangat membutuhkannya. Tuhan begitu luar biasa menawarkan sebuah “peluang bisnis” kepada saya pagi itu, di saat saya sedang terburu-buru hendak berangkat memenuhi sebuah komitmen di tempat lain.

Namun tampaknya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu. Melalui utusan-Nya pernah disabdakan: “Pergunakan sebaik-baiknya masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu…”. Astaghfirullah… Sepuluh tahun yll. teman saya itu karirnya sedang melejit dan bersiap hendak menerima promosi jabatan di sebuah perusahaan BUMN. Namun apa hendak dikata, semuanya seolah lenyap dalam sekejap akibat dirinya tidak sanggup lagi menanggung derita atas serangan stroke yang dialaminya dan hingga kini praktis tak tersembuhkan secara total. Bahkan untuk melakukan pekerjaan sederhana pun dia tak lagi mampu walau semangatnya masih menggebu-gebu.

Jika demikian, tahulah saya bahwa nikmat Tuhan yang pernah dianugerahkan kepada seorang manusia itu tidak ada yang dapat menggaransi akan langgeng selamanya. Ketika Sang Pemberi Nikmat menganggapnya cukup, maka benar-benar cukuplah sampai di situ. Kita sering salah kaprah dalam merespon setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ternyata mengucap doa syukur saja belum cukup, melainkan perlu ditambah dengan doa agar kiranya nikmat itu tidak dibreidel sama Tuhan dan agar nikmat itu minimal bertahan tidak dicabut atau dibatalkan.

***

Sempat terpikir, pagi-pagi bukannya saya menerima rejeki tapi malah harus memberi rejeki kepada orang lain. Padahal doa yang sering saya panjatkan adalah agar diberi rejeki yang buanyak, seperti halnya yang saya lakukan saat usai sholat Dhuha sebelum saya menemui teman saya pagi itu. Dan doa itu pun spontan dikabulkan tapi dalam wujud yang sebaliknya, bukan menerima rejeki tapi justru memberi rejeki kepada orang lain.

Nampaknya formula yang harus saya hafalkan adalah bahwa menerima rejeki itu berbanding lurus dengan memberi rejeki kepada orang lain. Sedangkan nominalnya, rejeki yang diterima minimal akan sama besar dengan rejeki yang diberikan kepada orang lain dan bahkan seringkali jauh lebih besar. Maka kalau menurut pernyataan dalam kitab sucinya orang Islam bahwa rejeki itu akan datang dari sumber yang tak terduga (min khaitsu la yahtasib), itu berarti hal yang sama berlaku baik bagi rejeki yang diterima  maupun diberikan, si penerima maupun pemberi.

Oleh karena itu, jika pagi itu saya memperoleh peluang untuk memberi rejeki kepada orang lain berarti harus saya terjemahkan bahwa sesungguhnya saya juga sedang memperoleh portofolio rejeki yang minimal sama nilainya. Kapan cairnya saya tidak tahu, akan tetapi kitab suci yang sama menjanjikan bahwa investasi itu pada saat yang tepat nanti pasti akan diterimakan dan seringkali nilainya jauh lebih besar dari yang pernah diberikan kepada orang lain.

Jika demikian, maka ketika nikmat berupa kemampuan untuk menerima atau memberi itu datang, jangan pernah disia-siakan. Sebab kebaikan yang tersirat di dalam kemampuan untuk memberi maupun menerima hakekatnya adalah sama. Dan tidak ada balasan atas kebaikan itu kecuali kebaikan pula. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:60-61). Dan ketika Tuhan mengulang-ulang kalimat itu hingga 31 kali, maka mudah-mudahan bukan kepada kita sindiran itu ditujukan. Kalaupun benar demikian, maka pasti terkandung maksud yang lebih baik. Wallahu a’lam…

Yogyakarta, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

Doa Untuk Istri

5 Agustus 2010

Saat berangkat ke masjid untuk jama’ah Isya, kupamiti istriku yang spontan berpesan: “Jangan lupa mendoakan istrinya…”. Pulang dari masjid kubilang pada istriku: “Sudah kudoakan”.

“Minta banyak rejeki?”, tanyanya.
“Jelas…”, jawabku, lalu cepat-cepat kulanjutkan: “Kudoakan…: Ya Allah, berilah istriku rejeki yang buanyak, agar lebih buanyak pula yang bisa dibagikan kepada suaminya…”.
Lha kok enak…!”, katanya kemudian.

Yogyakarta, 27 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Itu Seperti Tendangan Pisang

14 Juli 2010

Eforia sebulan penuh, Piala Dunia 2010 sudah usai. Tapi sayang, momen yang saya tunggu-tunggu tak kunjung terjadi, yaitu tendangan pisang. Seperti pernah diperagakan oleh Michael Platini (Perancis) atau Roberto Carlos (Brazil). Inilah tendangan jarak jauh ke arah gawang dimana bola melintas melengkung ke samping sepertinya akan menjauh tapi ternyata arahnya kembali masuk ke gawang. Begitulah biasanya gerak lintasan rejeki yang datang kepada kita.., mampir-mampir dulu…

Yogyakarta, 12 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Dalam Doa Syukur

8 Juli 2010

Setiap kali diundang hadir ke acara syukuran, selalu kita diajak berdoa memohon agar semoga rejekinya semakin bertambah. Tapi malam ini saya baru ngeh bahwa rupanya ada yang kurang dalam doa syukur itu, yaitu memohon agar semoga nikmat yang sudah ada tidak dicabut. Sebab apa artinya rekening semakin gemuk ipel-ipel… tapi nikmat yang sudah ada dieliminasi oleh Sang Panitia Pemberi Nikmat…

Yogyakarta, 30 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Dari Mana Datangnya Rejeki

21 Juni 2010

Petang itu saya agak terlambat tiba di masjid, agak lama setelah gaung adzan maghrib menghilang dari angkasa. Sambil menunggu iqomat tanda dimulainya sholat maghrib, saya jalan melenggang di pinggiran dalam dinding masjid sambil mata melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah Qur’an kecil lusuh yang sampul luarnya sudah hilang dan menyisakan sebundel lembaran-lembaran bertulisan huruf Arab. Lembaran-lembaran itu pun sudah sobek-sobek bagian luarnya. Di sebelahnya ada setumpuk kitab Qur’an yang kondisinya terlihat jauh lebih baik.

Entah kenapa justru kitab lusuh itu lebih menarik perhatian saya. Segera kuraih, lalu kubuka asal saja di bagian tengah, entah pada halaman berapa. Spontan seperti ada yang mengarahkan pandangan mataku pada sebuah ayat yang setelah kubaca bunyi lafalnya sepertinya sangat familiar. Walau tulisan di buku kecil itu terlihat terlalu kecil, tapi bagian awal dari ayat itu masih dapat kubaca, yang berbunyi : “Allahu yabsuthur-rizqo limayyasyaak…..”. Saya juga masih bisa membaca tulisan di bagian atas halaman kitab kecil itu, yaitu surat Al-Ankabuut. Tapi mata plus-minus saya sudah tidak mampu membaca nomor ayatnya sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Karena saya merasa sangat mengenal ayat itu tapi lupa artinya, dengan meninggalkan rasa penasaran saya berkata dalam hati : “Akan kucari artinya nanti di rumah”.

Sepulang dari masjid, setelah bertadarus sebentar segera saya ambil buku tarjamah dan saya cari penggal ayat tadi. Tidak terlalu sulit mencarinya, walau tadi tidak terbaca nomor ayatnya, tapi saya tahu nama suratnya. Akhirnya kutemukan juga. Agak terhenyak saya setelah membaca terjemahan lengkapnya yang berbunyi : “Allah melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambanya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya…” (QS. 29:62).

Entah kenapa saya merasa agak galau. Barangkali karena timing saja. Sebagai “penganggur terselubung” akhir-akhir ini saya agak risau tentang hakekat sumber datangnya rejeki. Padahal terjemahan ayat itu sebenarnya biasa-biasa saja. Makna tersiratnya juga sudah sejak dulu saya pahami. Namun pada petang itu, bunyi sepenggal ayat yang secara kebetulan saya baca di Qur’an sobek di masjid itu, kedengaran bagai sebuah teguran atau peringatan. Sebuah kebetulan?

Ya, tentang rejeki. “Binatang klangenan” yang setiap menit, setiap jam, setiap hari senantiasa diburu dan didambakan orang. Saya atau mungkin orang lain, selama ini sering terlena. Setiapkali bicara ihwal rejeki konotasinya selalu uang dan materi. Referensi pertamanya selalu pemilik uang atau atasan, atau orang-orang kaya. Akibatnya peranan Tuhan seolah-olah “terkesampingkan” dari akal pikiran, dan justru pikiran tentang penguasa uanglah yang kemudian datang melintas lebih dahulu.

Mencarinya memang wajib. Mengupayakan dengan segala daya upaya juga harus. Tapi titik tolak tindakannya (baca : amaliyah) mestinya bukan “kepada siapa” melainkan “atas nama siapa”. Seringkali yang kemudian melintas di pikiran adalah “melobi” kepada penguasa uang, walaupun hal itu dilakukan juga sebagai upaya pelengkap, tapi mestinya bukan itu sebagai esensi penghambaan atas nama Sang Maha Pemberi Rejeki.

Saya tahu bahwa pemikiran terlena seperti itu tidak terlalu salah. Saya juga percaya bahwa sudah ada yang Maha Pengatur Rejeki. Namun yang terjadi seringkali salah kaprah. Alam bawah sadar saya seolah-olah memerintahkan bahwa untuk memperoleh rejeki itu harus fokus dan begitu tergantung kepada pemilik uang atau oknum-oknum lain selain Tuhan.

Lha, kalau sebenarnya Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Kenapa mesti pusing dengan penguasa uang, orang kaya atau atasan? Kenapa tidak langsung saja berfokus kepada Tuhan? Perkara nanti rejeki itu akan dititipkan siapa atau dikirimkan lewat jasa kurir apa, biarlah Tuhan yang mengurusnya. Begitu, pikiran jernih saya kemudian.

Ya, ketika kita butuh rejeki lebih, mestinya ‘kan tinggal berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan, agar kita termasuk dalam kelompok yang dikehendaki-Nya untuk dilapangkan rejekinya? Tapi kenapa selama ini tidak banyak yang mau berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan? Jangan-jangan karena kita merasa malu dan tidak pantas melakukan itu. Atau, malah sebenarnya tahu bahwa dirinya tidak pantas tapi tetap “nekat” merajuk kepada Tuhan. Seperti seorang yang tahu kalau dirinya tidak pantas mencintai gadis yang “mirip” bidadari tapi keukeuh mengubernya? Dan, Jaka Tarub pun kemudian akan mencuri pakaian “mirip” bidadari yang sedang mandi agar dapat merengkuhnya. Maka, jalan pintas ditempuh, sehingga rejeki pun dapat diperoleh. Tinggal keberkahannya yang akan membedakan. “Ora dadi daging (tidak menjadi daging)”, kata orang di kampung saya.

Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana, hanya berusaha memantaskan diri untuk hadir dan “melobi” Tuhan. Sebab Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang berjanji memenuhi kebutuhan hambanya, bahkan Dia pula yang berjanji akan mengabulkan setiap permohonan hambanya.

So, kurang apa lagi? Kurang pantas, jawabnya. Jangan-jangan kita memang kurang pantas untuk hadir dan meminta kepada Tuhan agar diturunkan rejeki dari langit atau dikeluarkan rejeki dari muka bumi. Dan ketika rejeki itu kemudian benar-benar didatangkan, jangan-jangan kita juga sebenarnya kurang pantas diberi amanah mengelolanya.

Yogyakarta, 14 Juni 2010
Yusuf Iskandar

SMS Titipan

24 Mei 2010

Seorang teman kirim pesan: Tolong kirim SMS ke no INI dan isinya INI, setiap hari selama 10 hari. Waduh, ada apa ini? Temanku ini bukan orang sembarangan, tapi isinya kok seperti sembarangan. Kutanya: “Opo to iki (apa ini)?”. Jawabnya: “Anakku ikut audisi INI, tolong dukungan SMS sampeyan, istri dan anak-anak”.

Ee alah.., maka kuniatkan plus doa: “Tuhan, kukembalikan titipan rejeki pulsa dari-Mu melalui anaknya temanku yang sedang ikut audisi. Semoga berkah”.

Yogyakarta, 20 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Alirkan Terus Airnya

5 April 2010

Merespon status saya tentang konsep ‘memberi dan menerima’ dalam konteks rejeki, seorang sahabat, senior dan sumber inspirasi saya, mengutip pesan ibunda beliau: “Kalau ingin sumbermu besar, alirkan terus airnya, jangan pernah dibendung”. Sungguh saya sampai merinding menelaah kalimat indah itu…

(Terima kasih Pak Dwi Pudjiarso. Semoga kita tetap diberi kemampuan untuk terus berpikir, memahami dan mengamalkan)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Nasehat Bapak Kepada Putrinya

22 Maret 2010

Nasehat seorang bapak kepada putrinya yang sedang belajar bisnis:

“Rebutlah rejeki pagi, jumlahnya sama deng rejeki siang, sore atau malam, tapi yang memperebutkan sedikit karena perebut-perebut lainnya masih pada mlungker berbungkus selimut, boro-boro sholat subuh (bagi perebut yang ber-KTP Islam)…”.

NB: Nasehat ini hanya ditujukan khusus kepada putrinya bapak itu.

Yogyakarta, 21 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Di Ketinggian

3 Maret 2010

Lho kok tumben check-in maskapai Singo pagi ini di Adisutjipto lancar. Padahal biasanya klelat-klelet (lelet) seperti anakku kalau disuruh mandi sore (ya…kadang-kadang saya juga). Mudah-mudahan rejeki yang nyanthol di ketinggian 32.000 kaki juga mudah dipetik…(fissamaa-i fa anzilhu..)

Yogyakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar