Posts Tagged ‘bintaran’

Gereja Tua Bintaran

14 Mei 2011

Gereja St. Yusup Bintaran. Salah satu gereja tua di Jogja yang arsitektur atapnya berbentuk setengah silinder. Sempat mengalami retak-retak ketika terjadi gempa Jogja tahun 2006. Jemaat gereja ini suka mampir ke tokoku “Bintaran Mart” di seberang agak ke belakang.

Yogyakarta, 9 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Berani Ber(wira)usaha

1 Mei 2011

Pengantar:
Tulisan berikut ini adalah kutipan dari cersta (cerita status) saya di Facebook yang penulisannya sudah saya edit kembali agar lebih enak dibaca. Sekedar ingin berbagi…

——-

(1)

Minimarket saya berlokasi tidak jauh dari Superindo di kota Jogja. Celetuk seorang pembeli: “Kok berani sih?”, maksudnya buka pasarmini di dekat pasarsuper.

Jawab “boss” saya lugu: “Rejeki kan sudah ada yang mengatur…”.

Yang dikatakan “boss” saya benar, tapi tidak menjawab. Bahwa antara pasarsuper dan pasarmini tidak bisa dibandingkan. Pasarsuper menjadi tujuan pembelanja berkantung tebal, sedang pasarmini menjadi tujuan “orang lewat” yang mampir belanja…

(2)

Keluarga yang ingin mencukupi kebutuhan mingguan atau bulanannya umumnya rela jauh-jauh mencari pasarsuper sekalian rekreasi. Tapi orang yang tiba-tiba kepingin udut, atau mau menyuguh tamu gulanya habis, atau mendadak kehausan, pasti lebih suka ke pasarmini yang biasanya tidak ngantri dan tidak mbayar parkir. Juga anak-anak yang hanya punya uang jajan Rp 500,-

Jadi? Ya jualan saja sejual-jualnya… Wong yang membelinya beda…

(3)

Itu kan teorinya, antara pasarmini dan pasarsuper. Lha prakteknya? Ya jualan saja terus. Kalau tidak laku? Pelajari agar laku. Kalau rugi? Upayakan agar tidak rugi. Kalau sepi pembeli? Cari cara agar tidak sepi… Maka nasehat seperti apalagi yang diperlukan?

Haha.., jangan terprovokasi. Jawaban atas: pelajari, upayakan dan cari cara, tentu saja tidak tiba-tiba mecothot (muncul) dari kuburan keramat yang dikembangi. Tapi pasti hasil dari belajar dan kerja keras.

(4)

Kemauan belajar dan kerja keras bukan mudah. Hanya mungkin dilakukan kalau seseorang mencintai apa yang dilakukannya. Ya, keyword-nya adalah cinta. Karena itu ketika memilih apa yang mau diusahakan, gunakan energi positif orang yang sedang jatuh cinta.

Ada apa dengan orang ini? Walau matahari terbit dari utara, walau hujan badai menghalangi, walau kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, apapun dilakukan demi yang dicintainya. So? Jatuh cintalah sebelum ber(wira)usaha.

(5)

Sedang asyik-asyiknya menggagas tentang ber(wira)usaha dengan energi cinta, lha kok tadi malam acara Bukan Empat Mata menampilkan ndang ndut rock berjudul “Persetan”.

Liriknya:
Cinta membuat susah pikiran
Serta mengurangi nafsu makan
Akhirnya bisa menguruskan badan
Apalagi kalau patah hati
Sedang menyinta ditinggal pergi
Akhirnya bisa mati bunuh diri…

(Kok hafal? Lha yo dicatet no… Perlu keahlian tersendiri untuk bisa menulis cepat. Haha…).

(6)

Wokkelah… Biar tidak ngoyoworo (membuang-buang waktu). Memulai (wira)usaha dengan niat untuk ibadah. That’s it!

Alasan minimal agar kita tidak sendiri, melainkan melibatkan (Yang Maha) Pihak Lain yang kita ibadahi itu. Alasan maksimal, kalau usaha kita ada masalah, maka pasti (ini janji-Nya)…, pasti (Yang Maha) Pihak Lain itu tidak akan membiarkan kita klepek-klepek ndili… Sedang niat-niat lain selain ibadah, jadikan itu sebagai pelengkap penggembira…

(7)

Maka marilah kita tengok kembali tag line dongeng saya ini: BERANI, BELAJAR, KERJA KERAS, CINTA, (WIRA)USAHA, IBADAH…

Lalu apakah kalau sudah memiliki modal dasar pembangunan usaha dari BERANI sampai IBADAH itu njuk… serta-merta sukses akan diraih? Ya, belum tentu…, enak aja! Tapi setidak-tidaknya kita sudah menyiapkan sebuah wadah untuk menampung rejeki yang mberkahi.., seberapapun banyak dan besarnya.

(8)

Banyak atau sedikit, besar atau kecil, rejeki (baca: keuntungan usaha) itu relatif, tergantung persepsi nafsu kita. Maka sebaiknya (ini sebaiknya lho…), mereka yang ber-KTP Islam, perlu melandasi dengan ikhlas untuk selalu bersabar dan sholat (lha ini repotnya, kalau sudah urusan ikhlas, sabar, sholat… Dan saya tidak ngarang-ngarang). Dan mereka yang ber-KTP non Islam, saya percaya pasti juga ada landasan yang kurang-lebih sama…

“Selamat Ber(wira)usaha”.

Yogyakarta, 27 April 2011
Yusuf Iskandar

Tukang Rujak Pinggir Jalan

6 Maret 2011

Siang poanasss.., nyepeda ke toko Bintaran karena mendadak ada trouble komputer (namanya trouble ya pasti mendadak…). Mampir ke tukang rujak pinggir jalan sambil istirahat. Ternyata pak Harjono tukang rujak itu tetangga saya se-RW.

Sudah mengantongi 5 tahun jam ngulek (rujak), sekarang berencana buka cabang, tepatnya bikin gerobak kedua. Sebuah pencapaian bisnis sangat sederhana yang hanya dapat diapresiasi kalau kita berdiri di pinggir jalan…

Yogyakarta, 3 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

“Banting Setir” Dan Orientasi Mind Set

29 September 2010

‎”Banting setir” (alih profesi) memang nampaknya sederhana. Tapi tidak demikian jika orientasi mind set tidak siap. Takut, kurang pede, bingung, awang-awangen (kebayang jauh)…

Ketika siang-siang datang ke (toko) Madurejo Prambanan seorang teman yang sedang cuti dari kerjanya di Saudi dan petang-petang datang ke (toko) Bintaran Jogja seorang teman dari Malang, maka adalah sebuah kesyukuran kalau sempat berbagi pengalaman. Ilmunya tak seberapa, tapi spirit-nya ittuu…

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Angin Kencang Melanda Jogja

29 September 2010

Angin kencang dan hujan deras melanda Jogja dan sekitarnya. Status: Waspadaaaaa….

(Status siang jam 14:24 WIB)

***

Siang tadi Jogja dilanda angin kencang dan hujan deras. Saatnya pembelajaran. Anak wedok kirim SMS: “Wauuuw ada angin beliung gede di (toko) Bintaran…”. Lalu SMS “boss” saya: “(Toko) Madurejo anginnya kencang banget dan hujan deras…”.

Balasanku ke dua tujuan: “Saat yang sangat baik dimana doa sangat dekat untuk dikabulkan…”. Eh, dibalas cepat sama “boss” saya: “Amin”. Ya kubalas lagi: “Apanya yang diamini wong berdoa saja belum…”.

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Sate Ayam Cak Rosid

15 Juli 2010

Ada warung sate ayam baru di dekat tokoku di Bintaran, Jogja. Tenda, gerobak, pembakar, meja kursi, semua masih tampak anyar gresss… Rupanya ini hari pertama buka dan saya adalah pembeli pertamanya.

Cak Rosid, sebelumnya tukang becak dan parkir. Jelas ini upayanya untuk mengubah nasib. Saya mengapresiasi keberaniannya, sebab betapa banyak orang ingin mengubah nasib tapi tidak memiliki keberanian untuk memulai…

Yogyakarta, 13 Juli 2010
Yusuf Iskandar

“Mobile-mart”

5 Maret 2010

“Mobile-mart” van Bintaran, Jogja

(Seorang teman di Bekasi yang sedang memulai bisnis mie Belitung dengan merek ‘Kibi-kibi’, terinspirasi untuk membuat Mobil Warung (Morung) yang akan digunakan untu melebarkan sayap usahanya berjualan mie Belitung. Really a smart idea….. Berani tampil beda)

Yogyakarta, 4 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Mbah Pono

9 April 2008

Menjelang tengah malam, Kamis malam Jum’at, 25 Juli 2002, mendadak saya kepingin makan bakmi. Sebagai warga Bintaran (setidaknya KTP saya masih beralamat Bintaran Kulon), pilihan utama tentu saja Bakmi Kadin yang warungnya berada di jalan yang sama. Dari rumah Eyangnya anak-anak saya hanya perlu berjalan kaki beberapa puluh meter ke utara sudah sampai di depan Bakmi Kadin.

Lha, ternyata warung Bakmi Kadin masih penuh pengunjung. Saya timbang-timbang, kalau saya pesan bakmi goreng di sini pasti akan sangat lama menunggunya. Lalu saya putuskan untuk menyeberang jalan ke sisi timurnya. Di situ juga ada tukang bakmi. Juga ramai pengunjung, tapi tidak seramai Bakmi Kadin. Di warung ini rasanya saya tidak akan terlalu lama menunggu untuk pesan bakmi goreng dibungkus untuk dibawa pulang.

Berbeda dengan Bakmi Kadin yang dari jauh saja mudah ditandai karena ada papan namanya. Itu pun masih ditambahi tulisan “Yang Asli”. Seakan ingin meyakinkan para pelanggan baru agar tidak keliru dengan “yang tidak asli”, “yang palsu”, “yang tiruan” atau “yang imitasi”. Tukang bakmi yang saya beli malam itu tanpa papan nama. Tapi karena lokasinya ada di depan Bakmi Kadin, saya sebut saja Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Sambil menunggu pesanan saya disiapkan, saya duduk-duduk di bangku agak mojok di samping meja penyaji minuman bajigur. Seperti sudah menjadi ciri khasnya, bahwa pasangan dari tukang bakmi adalah tukang bajigur. Persis sama seperti di warung Bakmi Kadin, di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin inipun juga tersedia bajigur. Tukang bajigurnya adalah seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan tahun. Orang-orang mBintaran biasa memanggilnya Mbah Pono.

***

Mbah Pono ini rupanya termasuk orang tua yang suka diajak ngobrol. Ini tentu membuat saya merasa nyaman duduk berlama-lama di bangku panjang itu menunggu pesanan bakmi goreng sambil ngobrol dengan Mbah Pono. Ngobrol dalam bahasa Jawa krama hinggil tentunya.

Omong-omong tentang bakmi. Bagi lidah saya sebenarnya tidak ada perbedaan taste yang signifikan antara Bakmi Kadin dengan Bakmi Depan Bakmi Kadin. Kalaupun ada perbedaan, maka parameternya adalah “tingkat kelaparan” kita saat itu, dan harga per porsi yang lebih murah di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Namun rupanya masing-masing warung itu sudah memiliki pelanggannya sendiri-sendiri. Hanya untuk pendatang baru, biasanya akan langsung menuju ke Bakmi Kadin “Yang Asli”. Saya anggap wajar-wajar saja kalau ada seseorang yang belum merasa puas kalau belum sempat mencicipi Bakmi Kadin “Yang Asli” yang kini dikelola oleh Mbah Karto perempuan (yang bergelar Hajjah sejak dua musim haji yll, sedang Mbah Karto Kasidi yang laki-laki sudah lama meninggal) dan Pak Rohadi putranya.

Sejak mundurnya Mbah Amat (yang meninggal dunia sebulan yll.) dari dunia per-bajigur-an di awal tahun 70-an, maka Mbah Pono adalah salah satu penerusnya. Lalu ber-partner dengan Mbah Karto, berdua melanjutkan usaha bakmi-bajigur. Seperti Mbah Amat almarhum, pasangan Mbah Karto laki-laki dan Mbah Pono perempuan inipun menempati emperan kantor Kadin.

Ketika kantor Kadin direnovasi sekitar sepuluh tahun yll. Mbah Karto melanjutkan warung bakminya di belakang bangunan Kadin, tepatnya di Jalan Bintaran Kulon 6 yang ditempatinya hingga kini. Namun nasib kurang mujur bagi Mbah Pono. Rupanya Mbah Karto perempuan punya rencana bisnis baru, beliau merencanakan akan menyajikan sendiri minuman bajigur. Dengan kata lain, bakminya Mbah Karto sudah tidak memerlukan tenaga Mbah Pono lagi untuk menjadi partnernya menyediakan bajigur, demikian tutur Mbah Pono malam itu.

Hebatnya, Mbah Pono tidak sakit hati. Beliau nrimo dengan adanya rencana bisnis Mbah Karto yang hingga kini telah berkembang menjadi Bakmi Kadin. Sedangkan Mbah Pono memilih untuk pensiun saja dan tinggal di rumahnya di belakang Jalan Bintaran Kidul.

***

Nampaknya garis hidup Mbah Pono memang tidak jauh-jauh dari dunia per-bajigur-an. Ketika beberapa tahun yll. di depan Bakmi Kadin dibuka warung bakmi baru dan Mbah Pono ditawari untuk menyediakan bajigurnya, beliau pun bersedia. Maka jadilah seterusnya Mbah Pono kembali menjadi tukang bajigur hingga kini, di warung bakmi baru yang tadi saya sebut sebagai Bakmi Depan Bakmi Kadin yang tanpa papan nama.

Bajigurnya Mbah Pono ini rupanya punya taste berbeda, maka tidak heran kalau Mbah Pono punya pelanggan tersendiri. Menurut pengakuannya, banyak pelangan lamanya yang pernah kenal bajigur Mbah Pono sejak masih bersama Mbah Karto laki-laki di depan kantor Kadin yang lama, kini kembali kepadanya. Pengakuan yang bagi saya sukar dibuktikan, tapi saya percaya saja.

Lalu apa rahasianya? Entahlah. Barangkali tangan si pembuatnya saja yang lain. Nampaknya racikan bajigurnya ya begitu-begitu juga. Ada air santan, ada irisan kelapa muda dan kolang-kaling. Yang saya baru tahu adalah bahwa ternyata ada tambahan air kopi barang satu-dua sendok dalam setiap gelas bajigur yang disajikan.

Pilihan hidup Mbah Pono, terkadang memang susah dipahami. Di usia senjanya yang bahkan sudah di ambang malam, beliau memilih untuk tetap tekun menggelar jualan bajigurnya. Dua dandang besar bajigur dihabiskannya mulai jam 4 sore hingga tengah malam menyertai bukanya warung bakmi. Sekitar 150 gelas disajikan setiap hari. Kalau harga per gelasnya Rp 1.500,- maka artinya seorang Mbah Pono telah memutar uang, sebut saja Rp 200.000,- per harinya.

Salut untuk Mbah Pono, dan Mbah-mbah lainnya yang senantiasa tekun dengan kerja kerasnya, saat sebagian mbah-mbah yang lain duduk di kursi goyang menikmati hari tuanya. Orang-orang seperti Mbah Pono ini memang tidak pernah terimbas apalagi mengenal apa itu krismon. Yang dia tahu kalau harga gula atau kelapa naik, ya harga bajigurnya juga ikut naik. Lalu para pelanggannya pun kudu paham. Sesederhana itu, tapi entah sampai kapan.

Sugeng ndalu (selamat malam), Mbah…”. Sekantong plastik bajigur panas langsung saya bawa pulang dan habiskan malam itu juga.-

Yogyakarta, Juli 2002
Yusuf Iskandar

Mbah Amat

9 April 2008

Jum’at sore, 28 Juni 2002, saya tiba di Yogya. Seperti biasa, anak-anak lebih suka langsung menuju ke rumah Eyangnya di Bintaran Kulon. Setiba di rumah Eyangnya anak-anak, terlihat sebuah bendera putih berkibar di pingir jalan di sebelah rumah. Siapapun tahu bahwa bendera putih semacam ini bukan pertanda terjadi genjatan senjata setelah tawuran antar kampung, melainkan tanda ada yang sedang kesripahan (berduka cita).

Dalam hati, saya berprasangka : “Jangan-jangan Mbah Amat yang meninggal…..”. Ini memang prasangka buruk yang (saya yakin) kalau di dengar orang tidak akan menimbulkan amarah. Lantaran semua orang di bilangan mBintaran tahu bahwa Mbah Amat ini memang sudah sangat sepuh (tua), sehingga “wajar” saja kalau misalnya sudah sampai waktunya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta. 

“Innalillahi wa-inna ilaihi ro-ji’un” (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya). Meskipun sungguh tidak saya harapkan, ternyata prasangka saya benar. Mbah Amat Sadari menghembuskan nafas terakhirnya siang tadi, setelah menderita sakit tua sejak beberapa waktu sebelumnya.

***

Kabar tentang orang meninggal dunia sebenarnya hal yang biasa saja. Namun kabar meninggalnya Mbah Amat ini memberi kesan yang luar biasa bagi saya.

Sejak saya menjadi menantunya Eyangnya anak-anak lebih 10 tahun yll, saya mengenal Mbah Amat sebagai sosok orang sangat tua yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup dan taat beribadah. Terakhir saya ketemu Mbah Amat setahun yll, beliau masih tekun sholat lima waktu dengan berjamaah di masjid Bintaran, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Padahal berjalannya saja sudah tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya.

Ketika jenasahnya akan diberangkatkan ke pemakaman esok harinya, seperti biasa ada acara sambutan oleh pihak keluarga. Hal yang menakjubkan saya adalah saat diumumkan bahwa almarhum Mbah Amat mempunyai dua orang anak, sekian cucu, sekian buyut (anaknya cucu) dan sekian canggah (cucunya cucu). Dengan kata lain, di masa hidupnya Mbah Amat ini sempat ketemu dengan keturunan generasi kelimanya.

Luar biasa. Di masa kini, sangat jarang seseorang yang sempat ketemu dengan canggahnya. Alih-alih ketemu canggah (generasi ke-5), sempat ketemu buyut (generasi ke-4) saja sudah merupakan karunia Tuhan yang sangat besar. Bahkan Mbah Amat ini sudah lebih dahulu ditinggal mati oleh seorang anaknya.

Menurut catatan di Kartu Keluarga, Mbah Amat lahir tahun 1904 yang berarti meninggal dunia dalam usia 98 tahun. Namun sangat diyakini oleh keluarganya bahwa sesungguhnya usia Mbah Amat lebih dari seabad ketika meninggal dunia. Pasalnya, menurut ceritera seorang cucunya yang setia menemani Mbah Amat hingga detik-detik akhir hidupnya, suatu kali beberapa minggu sebelum meninggal pernah omong-omong santai dengan Mbah Amat serta menanyakan usianya. Dan Mbah Amat dengan sangat yakin dan gaya humornya menjawab bahwa usianya lebih dari seratus tahun. Sebuah usia yang rasanya memang masuk akal.

Kalau demikian halnya, berapa usia sebenarnya? Sayang sekali, Kartu Keluarga model lama yang masih tertulis dengan huruf Arab Jawa, tulisannya sudah sangat buruk, rusak dan kabur, sehingga tidak terbaca. Itu sebabnya maka dibuatlah Kartu Keluarga model baru, sebagaimana yang dimilikinya saat ini yang menyebut beliau lahir tahun 1904.

***

Siapakah Mbah Amat ini? Orang-orang tua atau orang-orang lama di sekitar Bintaran mengenal almarhum sebagai tukang bajigur. Bajigurnya Mbah Amat dulu sempat sangat populer dan digemari, hingga berhenti mbajigur sejak sekitar 30 tahun yll. sebelum generasi tukang bajigur berikutnya muncul melanjutkan berjualan bajigur.

Tidak jelas benar kenapa sebagai orang Yogya, Mbah Amat menekuni usaha menjadi tukang bajigur, yang sebenarnya lebih dikenal sebagai minuman khas daerah Jawa Barat. Namun yang jelas, Mbah Amat pernah berjaya dengan bajigurnya hingga puluhan tahun dan setiap malam menggelar dagangannya di tritisan (emperan) kantor yang kelak kemudian dikenal sebagai kantor Kadin, berpasangan dengan tukang bakmi bernama Mbah Karto Kasidi. Kini bakminya Mbah Karto dikenal sebagai Bakmi Kadin.

Di saat-saat akhir hayatnya, saat periode pikun dialaminya, Mbah Amat suka meminta cucunya untuk menyediakan anglo di dekat tempat tidurnya. Lalu beliau mengambil kipas dan berlaku seolah-olah sedang menghidupkan arang di atas anglo yang sedang memanaskan dandang berisi bajigur. Kalau diingatkan cucunya bahwa Mbah Amat kini sudah tidak lagi berjualan bajigur, beliau hanya tesenyum.

Kini, Mbah Amat mantan tukang bajigur Bintaran itu telah tiada. Meninggalkan kesan yang luar biasa menurut ukuran akal saya. Wafat dalam usia seabad. Sempat bertemu dengan canggahnya (keturunan kelima) sebelum meninggalnya. Di hari tuanya nyaris tidak pernah absen sholat lima waktu berjamaah di masjid.

Suka guyon (bercanda) dan nrimo (ikhlas) menjalani hidup, agaknya bisa menjadi salah satu laku Mbah Amat yang layak dicontoh. “Selamat jalan, Mbah……!”.  

Yogyakarta, Juli 2002.
Yusuf Iskandar