Archive for Oktober, 2010

Awas Merapi

25 Oktober 2010

Awas Merapi…! Ibarat minimarket baru, Sang Maha Pemilik Merapi tinggal memilih “hari baik” untuk melakukan grand opening, sementara beberapa waktu terakhir ini sudah dilancarkan soft opening. Semoga “bisnis”-Nya kali ini membawa keberkahan baik bagi alam sekitar dimana Merapi berada maupun para stakeholders, sebab sudah dijanjikan bahwa tiada satupun “bisnis”-Nya yang sia-sia…

Yogyakarta, 25 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mentertawakan Diri Sendiri

25 Oktober 2010

Sambil bersih-bersih dan merapikan tanaman di halaman depan rumah, istriku berkhayal kepingin bikin kolam ikan. Kudengarkan dengan seksama gagasan dan rencana-rencananya tentang kolam ikan. Setelah selesai, sambil mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan, kukatakan: “Tapi tetap saja mobil kita nggak bisa keluar-masuk…” (Lihat status sebelumnya). Terkadang mentertawakan diri sendiri itu perlu agar irama hidup ini terjaga keseimbangannya…

Yogyakarta, 24 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pagelaran Wayang Kulit

25 Oktober 2010

Hari ini anak wedok ulang tahun. Sejak siang tadi dia stand by di toko. Di depan toko diadakan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Semar Mbangun Kahyangan”, dengan Ki Dalang Seno Nugroho. Bukan.., bukan untuk merayakan ulang tahun anak wedok. Wayang kulit itu acara berbeda, yaitu dalam rangka peresmian renovasi kompleks gereja St Yusup Bintaran Yogyakarta, yang kebetulan lokasinya ada di depan toko kami, “Bintaran Mart”.

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

‘Nglulu’

25 Oktober 2010

Hari-hari terakhir ini, seperti Minggu pagi ini, saya suka kerja bakti sendiri di depan rumah untuk meratakan, merapikan dan membersihkan jalan. Tujuannya agar gerobak yang mengangkut material untuk membangun rumah yang di pojok yang seminggu terakhir ini menghalangi akses mobilku, dapat berjalan lancar. Dengan senyum ikhlas kupersilakan gerobak pengangkut material itu mondar dan mandir. Bahasa Jawanya nglulu…(entah apa bahasa Indonesianya).

Yogyakarta, 24 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Juara Freestyle

25 Oktober 2010

Sejak berangkat ke Jakarta Kamis yll, tidak ada kabar apa-apa dari anak lanang. Tahu-tahu tadi sore memberitahu (itu pun setelah kutanya kabarnya): “Barusan aku jawara 1 pak, untuk freestyle nasional”, katanya via SMS. “Alhamdulillah. Great..!”, balasku —

Freestyle yang dimaksud adalah anak cabang olahraga bola basket yang tidak dikenal di jaman bapaknya muda dulu. Kira-kira sejenis keterampilan akrobatik memain-mainkan bola basket.

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Jajanan Tradisional

25 Oktober 2010

Sore-sore gerimis, langit gelap lebih awal karena awan hujan merata di langit Jogja. Mampir membeli jajanan tradisional di depan pasar Lempuyangan. Ada getuk, klepon, cetil, putu, dkk, siap dibeli dengan harga terjangkau. Taruhlah uang seribu-dua ribu, maka sebungkus jajan pasar yang terbuat dari tepung beras dengan taburan kelapa dan bubuk gula cukup untuk membuat kenyang, sehat, dengan sensasi kunyahan berbeda ketimbang makanan goreng-gorengan

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Buku Baru Tentang Bisnis Ritel

25 Oktober 2010

Beberapa waktu yll saya diminta oleh penerbit Tiga Kelana untuk menuliskan endorsement untuk buku barunya. Hari ini saya menerima kiriman buku tsb, berjudul: “Berani Memulai & Menjalankan Bisnis Ritel yang Sukses”, terjemahan dari karya Deborah Penrith, dengan latar belakang usaha ritel di Inggris, tebal 184 hal.

Saya tidak tahu buku ini dijual dengan harga berapa. Lumayan buat tambahan referensi.

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Cara Menghargai Konsumen

25 Oktober 2010

Saya selalu wanti-wanti kepada kasir tokoku agar bekerja cak-cek (gesit dan lincah) dan bukan klelat-klelet (lambat dan lelet). Umumnya konsumen akan rela mengantri (walau lama) untuk bertransaksi sepanjang dilihatnya kasir telah bekerja cak-cek itu tadi. Maka salah satu cara untuk menghargai konsumen adalah dengan menunjukkan semangat tinggi dalam bekerja dan bertindak, untuk melayani…

Yogyakarta, 22 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Tujuan Menghalangi Jalan

25 Oktober 2010

Melihat pemilik rumah pojok yang menggali-gali jalan menghalangi akses ke rumahku, seorang tetangga berkata padaku: “Wah pak, kijangnya nggak bisa keluar ya…”. Kalau mau dipaksakan sebenarnya bisa, wong kijangku biasa off-road (minggir-minggir jalan, maksudnya). Hanya saja nanti pemilik rumah pojok itu kecewa kalau melihat saya bisa lewat. Saya tidak mau lewat karena ingin “membantu” pemilik rumah pojok itu agar tujuannya menghalangi jalan tercapai…

Yogyakarta, 22 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Anak Lanang “Berbisnis”

25 Oktober 2010

Anak lanang datang ke toko, ikut makan pecel lele. Tapi pulangnya mbungkus untuk dikasihkan kakaknya. Rupanya dia sedang “berbisnis”. Tadi kakaknya nitip uang 10 ribu minta dibelikan makan. Menu pecel lele pun diberikan, tapi uang yang 10 ribu masuk saku.

Anak lanang bukan tidak jujur, hanya tidak mengatakan yang sebenarnya. Memang tidak ada yang dirugikan. Ketika kukirim SMS bahwa kakaknya tanya uang yang 10 ribu, jawabnya: “Kekekekek…”.

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pesta Pecel Lele

25 Oktober 2010

Pagi-pagi mancing lele di kolam belakang toko. Itu yang tadi dilakukan seorang pegawai toko Madurejo, Jogja. Maka siang ini semua pegawai pesta pora makan siang dengan pecel lele sepuasnya. Pemiliknya juga…(kalau ini wajib). Lalapan mentimun, tomat dan daun kemangi yang dipetik di pinggiran sawah yang daunnya lebar-lebar.

Order kerja spesial untuk besok, besoknya dan besoknya besok, masih sama: Lanjutkan pestanya, habiskan lelenya…!

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Memulai Usaha Minimarket

25 Oktober 2010

(1)

Seorang teman ingin buka minimarket sendiri (bukan waralaba), dan bertanya: “Bagaimana memulainya?”. Pertanyaan klasik dan selalu seperti itu. Jawabannya pun klasik: “Ya seperti kalau mau buka warung…”. Tentu ada kelanjutannya.

Kalau belum punya tempat, carilah yang strategis. Kalau sudah punya tempat, berjuanglah agar tokonya maju dan berkembang. Caranya? “Nanti ketemu sendiri…”.

(2)

Kok ketemu sendiri”? Kalau punya toko saja belum, tapi sudah ketakutan kalau tidak laku, ya malah nggak jadi buka toko. Yang saya maksud “ketemu sendiri” adalah, jika sudah telanjur punya toko maka siapapun pasti akan berjuang keras untuk mengatasi setiap kendala yang terjadi.

Maka biasanya saya tanya: “Apa sampeyan sungguh-sungguh menyintai dan siap menekuni bisnis minimarket?”. Kalau “Ya”, maka itulah aset gratis untuk menuju “ketemu sendiri” itu tadi.

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Takut Tusuk Jarum

25 Oktober 2010

Seorang teman nervous berat ketika akan menjalani terapi akupunktur. “Takut…”, katanya. “Ah, nggak perlu takut. Hanya seperti digigit semut saja kok, bahkan lebih sakit ketika ditusuk jarum untuk diambil sampel darah…”, kataku menenangkan.

Beberapa waktu kemudian kuterima SMS-nya: “Kamu sudah pernah?”, tanyanya. Dan kujawab cepat: “Belum…”.

Yogyakarta, 20 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Nasi Bakar Wirosaban Jogja

25 Oktober 2010

“Nasi Bakar Wirosaban”, judul warungnya. Berlokasi di selatan RSUD Wirosaban Yogyakarta, berupa gubuk-gubuk sederhana di atas kolam.

Nasi bakar adalah nasi uduk + daun ubi dan kemangi dibungkus daun pisang lalu dibakar. Lauknya ikan nila kremes, juga ada gurami atau lainnya, bisa goreng/bakar. Harganya senada dengan kesederhanaan tampilan gubuk-gubuk dan fasilitasnya, alias murah-meriah-renyah. Rasanya tergolong oenak, buktinya saya habis dua porsi…

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Ujian Kesabaran

25 Oktober 2010

Tetanggaku yang membangun rumah di pojok jalan itu ternyata benar-benar mewujudkan niatnya, menyebabkan mobilku dan tetanggaku tidak punya akses. Benar-benar tidak habis pikir. Beliau seorang haji, koaya-roaya, pemilik pesantren dimana saya biasa berjamaah dan sesekali menjadi imamnya, ngangkut materialnya juga lewat di depan rumahku dan ngotori. Tapi, keukeuh wae… Huuu, indah nian ujian kesabaran ini (Tuhan, sebetulnya Sampeyan ini punya rencana apa sih…?)

Yogyakarta, 20 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mencintai Bisnis

25 Oktober 2010

Memilih bidang usaha itu seperti memilih pasangan, sehingga mencintai bisnis juga seperti mencintai pasangan. Maka mati-matian, apapun akan dilakukan untuk menjaganya, mempertahankannya, menyelamatkannya, mengupayakan kesembuhannya ketika sakit, mencari jalan keluar ketika kepentok, bangkit ketika terpuruk.

Ada gairah, semangat, energi, yang kualitas-kuantitasnya sering tidak masuk akal dimiliki orang-orang yang sedang jatuh cinta, maka jatuh cintalah pada bidang bisnis yang dipilih.

Yogyakarta, 20 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bisnis Itu Bukan Gawan Bayi

25 Oktober 2010

Seorang teman yang masih orang gajian berniat usaha minimarket. Katanya: “Biar istriku yang mengelola”. Istrinya langsung teriak: “Ah nggak mau. Aku nggak bisa dagang. Nggak punya bakat”.

Inilah soalnya. Dagang atau bisnis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan bakat. Bisnis itu ketrampilan yang dapat dipelajari dan dilatih. Syaratnya mau kerja keras untuk belajar dan menjadi terlatih. So? Bisnis itu bukan gawan bayi (bawaan lahir), tapi bayi itulah hasil bisnis.

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kompas

25 Oktober 2010

Sebuah kompas, baru ada artinya justru ketika dia dibawa pergi oleh seorang pejalan atau pengembara. “Kompas harus selalu bepergian, dalam perjalanan yang kau tak tahu dimana akhirnya” (kata Helge kepada Svenja dalam film “Tsunami”).

Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki kompas yang membimbing keselamatan perjalanannya, walau tetap tidak tahu kemana akhirnya.

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menu Beda ‘Samudra Tea’

25 Oktober 2010

Ada yang spesial di Coffee Shop Santika Hotel Jogja. Menu tehnya diberi nama ‘Samudra Tea’ yang tampil beda.

Tersaji teh biasa dalam gelas penyeduh teh, secawan gula batu, gelas kosong, dan (ini yang beda) empat pilihan rasa (cengkeh, caramel, hazelnut, syrup) berupa larutan yang disajikan dalam tabung reaksi seperti digunakan di laboratorium kimia. Tinggal pilih, maka teh pun beraroma sesuai selera. Tampilan beda itulah yang harus dibayar lebih mahal…

Yogyakarta, 18 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Nasehat Mario Teguh

25 Oktober 2010

Ada nasehat Mario Teguh bagi para istri yang diungkapkan dengan kata-kata sederhana tapi manis bin mendalam (Metro TV tadi malam). Bunyinya : “Jangan melatih suami untuk tertarik kepada wanita lain”. (Lha yang mau latihan itu ya siapaaa…).

Yogyakarta, 18 Oktober 2010
Yusuf Iskandar