Posts Tagged ‘kuliner’

Rumah Makan ‘Taman’ Jogja

4 Maret 2010

Saya menemukan sebuah rumah makan model prasmanan, Rumah Makan ‘Taman’, di Janturan, Warung Boto, Jogja. Ini contoh cara cerdas memanfaatkan sebidng tanah. Sebentar lagi akan dikonversi jadi semacam food court berkonsep taman kuliner, menggandeng pedagang-pedagang menu spesial yang sudah kondang di Jogja, dengan sistem bagi hasil. Taste-nya oke, lebih dari harga yang harus dibayar. Keunggulannya, murah-meriah-renyah-dekat rumah…

Yogyakarta, 3 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing Bang Mamat

25 Februari 2010

Turun dari Dieng menuju Wonosobo gelap bin gulita (lha wong malam, maksudnya karena jalan berkabut), berliku, menurun, untung rute ini sudah dibuka (minggu yll putus karena longsor). Tiba di Wonosobo, dilanjut dengan berburu kuliner. Selalu dan selalu… Pilihan jatuh ke sate kambing dan tongseng kambing muda Bang Mamat (Mamat ini juga bukan nama kambing), yang katanya top-markotop

(Saya mampir ke warung sate kambing Bang Mamat yang di cabang Jl. A. Yani, Wonosobo, jalan yang menuju arah ke Banjarnegara)

Wonosobo, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Kuliner Campursari

25 Februari 2010

Agenda campursari hari ini — Siang di Boja : durian + pecel + ayam bakar. Sore di Semarang : tahu pong + gimbal (bakwan udang) + tahu telur kopyok. Malam di Kendal : udang bakar + wedang ronde. Tanpa buang hajat (hajat kok dibuang…). Kok cukup? Kata teman saya : Bersyukurlah orang-orang yang memiliki panjang usus = 12 kali panjang badan…

Kendal, 21 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede

27 Oktober 2009

IMG_4405_r1

Penggemar bakmi jawa di Jogja ini memang dimanjakan. Hampir di setiap sudut jalan mudah dijumpai adanya gerobak bakmi dengan aneka cita rasanya. Sebagian diantaranya sudah cukup kondang, bahkan dikenal oleh warga pendatang dari luar kota. Soal rasa, itu tergantung selera dan sensitifitas lidah masing-masing.

Berburu bakmi bisa jadi agenda wisata malam yang sekali-sekali perlu dicoba. Hanya kalau sudah bisa menikmati sensasi bakmi jawa yang khas dengan taste bawang putih dan kemirinya itu, maka yang tadinya sekali-sekali bisa jadi berkali-kali. Sebab banyak pilihan warung bakmi perlu dicoba. Dan satu-satunya cara untuk bisa mengatakan enak atau tidak adalah setelah mencoba mencicipinya sendiri.

Maka pergilah berburu bakmi di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Atas saran beberapa rekan, saya dan keluarga mencari lokasi bakmi Mbah Slamet. Sebuah nama yang belum banyak dikenal orang di dunia perbakmian Jogja. Tidak sulit untuk menemukan lokasi warung ini meski tidak ada tulisan apapun di depan warung bakmi Mbah Slamet ini. Tepatnya berada di Jl. Pramuka 80, Kotagede, Jogja (sebelah timur toko Pamela Swalayan). Di rumah itu pula Mbah Slamet dan istrinya kini tinggal berdua menuntaskan hari tuanya sambil berjualan bakmi.

Ketika kami datang, Mbah Slamet sedang duduk leyeh-leyeh di atas lincak (kursi panjang terbuat dari bambu). “Lho kok sepi, Mbah?”, tanya saya. “Wong niki nembe mawon buka” (ini baru saja buka), jawabnya. Maka jadilah kami bertiga, saya bersama istri dan anak perempuan saya, menjadi pembeli pertamanya. Penglaris, kata orang (tapi ya tetap saja mbayar….). Sementara istri Mbah Slamet masih terlihat sibuk membantu memberes-bereskan perlengkapan warungnya. “Kolo wau kerinan (tadi terlambat bangun)”, kata Mbah Slamet. Rupanya sore itu mereka kecapekan sehingga ketiduran dan terlambat bangun. Maklum, namanya juga mbah-mbah.

Mbah Slamet biasa buka sesudah maghrib. Jam berapapun maghribnya, pokoknya bubar maghrib (usai sholat maghrib) baru buka dan sekitar jam sebelas malam biasanya bakminya sudah habis. Setiap hari Mbah Slamet dan istrinya bekerja sama menjual bakmi jawa menempati teras depan rumahnya. Mbah Slamet urusan perbakmian, sedangkan istrinya urusan cuci-mencuci piring dan perminuman spesialis minuman tanpa es. Jadi jangan pesan es teh atau es jeruk, sebab Mbah Slamet tidak menyediakan es.

Begitulah kegiatan rutin setiap hari sepasang kakek-nenek bak mimi lan mintuno, Mbah Slamet berdua saja dengan istrinya. Ketika saya tanya berapa putranya, dijawabnya : “Kosong, mas….”. Sejenak saya mengernyutkan dahi berusaha memahami maksud jawaban Mbah Slamet, baru kemudian saya ngeh dan merasa bersalah telanjur menanyakannya, sebab ternyata Mbah Slamet dan istrinya tidak dikaruniai anak. Lebih-lebih ketika Mbah Slamet berkata lirih sambil tetap sibuk meracik bakmi : “Wong meniko namung kangge nyambung gesang kok mas (yang dilakukannya ini cuma untuk sekedar menyambung hidup saja)”. Tutur kata bernada datar dari Mbah Slamet itu terasa getir dan nglangut (mengawang-awang) terdengar di telinga saya. Ya, betapa tidak. Dua orang kakek-nenek bahu-membahu berjualan bakmi setiap hari hingga usia tuanya, sementara tidak ada yang diharapkan meneruskan generasi bakmi sesudah mereka. Boro-boro menimang cucu. Tadinya saya mau tanya sampai kapan akan berjualan bakmi, namun pertanyaan itu lalu saya batalkan. Ada perasaan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut.

Begitu lugu dan sederhananya. Sesederhana warungnya yang hanya diisi sebuah meja dengan tiga buah lincak diterangi cahaya sebuah lampu 25 Watt di atas mejanya, berdinding kerei (dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu). Kalau pembelinya banyak, biasanya kemudian mereka rela duduk di trotoar jalan atau sambil nongkrong di atas sadel sepeda motornya. Namun Mbah Slamet begitu pede-nya ketika ditanya kok tidak ada tulisan apapun di depan warungnya agar mudah dicari orang. Jawabnya : “Sampun sami ngertos mas (sudah pada tahu mas)”, yang maksudnya para pelanggannya sudah pada tahu dimana lokasi warung bakminya. Bahkan ketika saya tawari mau saya bikinkan spanduk pun dijawabnya : “Walah, mboten usah mas (tidak usah mas)”. Walah, Mbah Slamet…..

IMG_4404_r1Soal cita rasa bakminya? Karena dalam kamus makan-memakan ini hanya ada dua kategori cita rasa makanan, yaitu hoenak dan hoenak tenan, maka bakmi Mbah Slamet tergolong hoenak. Jam terbangnya di dunia perbakmian sudah membuktikannya. Memulai bisnis perbakmian sejak 37 tahun yll. dan masih bertahan dengan menyajikan sekitar 50 piring per hari hingga saat ini kiranya cukup membuktikan bahwa cita rasa bakmi Mbah Slamet tidak diragukan. Ada yang cocok dan ada yang tidak, itu hal yang lumrah. Dari dulu hingga kini Mbah Slamet tidak pernah mengubah resep racikan bakminya. Ya begitu-begitu itu.

Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak tahun 1972 dengan lokasi warungnya berada di depan terminal bis THR Jogja (sekarang Pura Wisata di Jl. Brigjen Katamso). Masih jelas dalam ingatan Mbah Slamet, bahwa waktu itu masih jaman Toto Koni (ini sejenis lotere yang di jaman itu masih legal). Bisa ditebak bahwa waktu itu Mbah Slamet melayani para penggemar judi atau lotere yang suka mangkal di depan terminal bis yang biasanya beraktifitas di malam hari, yang sedang kelaparan. Kalau sekarang usia Mbah Slamet 67 tahun, itu berarti Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak usia 30 tahun.

IMG_4406_r1Ubo rampe bakminya sebenarnya standar saja. Setelah telur bebek digoreng di atas wajan dengan menggunakan pemanas arang di atas anglo, lalu diberi adonan bumbu yang terdiri dari campuran bawang putih, ebi (udang kering) dan sedikit kemiri, lalu dituang air sebanyak kebutuhannya untuk bakmi rebus atau bakmi goreng, ditambah irisan kol dan daun bawang, dua genggam mi putih dan mi kuning, suwiran ayam kampung, lalu diaduk hingga masak. Padahal ya cuma begitu, tapi kok ya hoenak…. Lebih-lebih bakmi rebusnya, sruputan pertama kuahnya yang masih panas itu terasa segar benar. Ukuran sepiring penuh bakminya yang dihargai Rp 7.000,- itu cukup banyak.

Akhirnya setelah kenyang menyantap bakmi rebus Mbah Slamet, kami pun pamit pulang dan tidak lupa saya sampaikan sekedar pujian atas bakminya yang enak sambil berucap “matur nuwun”. Eh, malah dijawab : “Kulo ingkang matur nuwun (saya yang terima kasih)”, katanya sambil tersenyum dengan terus melayani enam orang pembeli yang sudah mengantri. Bakminya Mbah Slamet, hmmmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

IMG_4408_r

Sop Sapi Mas Gandhul Jogja

8 April 2009

img_2105_r

Bagi penggemar masakan sop sapi, barangkali tidak terlalu sulit menemukan warung penjual sop kaki di banyak pinggiran jalan. Salah satu pilihan yang mudah dicapai kalau kebetulan sedang berada di Jogja adalah sop kaki Mas Gandhul. Lokasinya berada di pinggir Jalan Solo km 8,5 yang merupakan jalan utama akses Jogja – Solo. Kira-kira 100 meter barat pertigaan Ring Road timur, seberang hotel Sheraton agak ke kanan sedikit.

Dalam perjalanan pulang dari mengantar istri saya belanja keperluan toko, kami sengaja mampir ke warung ini karena ingin mencicipi menu sop sapi yang ditawarkan. Siang menjelang sore itu, rumah makan Mas Gandhul sedang sepi. Kata seorang mbak pegawainya, biasanya ramai kalau jam makan siang dan terkadang juga saat sarapan pagi. Rumah makan ini memang buka mulai jam 7 pagi sampai jam 7 malam, terkadang juga molor lebih malam.

img_2108_rPilihan menunya beragam. Menu unggulannya adalah sop sapi dan soto ayam kampung. Ada pilihan sop daging, sop babat, sop kikil atau sop komplitan yang berisi campuran daging, babat dan kikil sekaligus. Juga tersedia pilihan soto dan pecel lele. Menyesuaikan judul menu yang diunggulkan, akhirnya saya memesan sop komplit. Dengan harapkan sekali sendok, dua-tiga sop ternikmati. Alias pesan sekali tapi bisa mencicipi rasa daging, babat dan kikil sapinya sekaligus. Bukan mau ngirit, tapi sekedar menyesuaikan kemampuan tembolok.

Puji Tuhan walhamdulillah, saya masih dikaruniai kemampuan menjadi pemakan segala, sehingga tidak ada kekhawatiran akan bayang-bayang hantu kolesterol dan hantu-hantu makanan sejenisnya. Bahkan nambah sop babatnya pun, siapa takut?.  Meski cuaca Jogja sedang panas, menyeruput kuah sop sapi Mas Gandhul terasa segar dan nikmat. Kuah sopnya terasa pas di lidah, mengalir lembut melalui tenggorokan menuju tembolok meninggalkan kelezatannya. Campuran irisan tipis daging, babat dan kikil sapi (namanya juga sop komplit), dengan irisan kentang, tomat, seledri, serta taburan bawang goreng dan remukan emping, menimbulkan aroma sop yang cukup merangsang. Jangan lupa tambahkan kecrotan jeruk nipis dan kecap manis secukupnya (kalau suka), khas selera wong Jogja yang suka dimanis-maniskan.

Rumah makan Mas Gandhul ini terbilang baru dalam upayanya turut meramaikan blantika perkulineran Jogja. Terbukti mampu bertahan setahun ini dan kata pegawainya setiap hari hampir selalu ludes, meski masih dalam tingkat omset yang terbatas. Artinya, setiap hari selalu tersaji bahan baru, bukan sisa kemarin. Lokasinya pun cukup strategis, mudah dijangkau, berada di pinggir jalan yang cukup ramai di Jogja. Tapi tampilannya yang sangat sederhana untuk ukuran rumah makan di pinggir jalan besar, menyebabkan agak kurang menyolok sehingga berpotensi terlewati ketika berada di depannya. Sementara label “Mas Gandhul” sebenarnya cukup menjual.

img_2106_rPemiliknya boleh berbangga dengan nilai lebih dari lokasinya. Setidak-tidaknya, para pegawai hotel Sheraton dan perkantoran di seputarannya adalah pelanggan setia sop sapi dan soto ayam Mas Gandhul yang masing-masing dibanderol Rp 10.000,- dan Rp 5.000,- per porsi lengkap dengan nasinya. Cukup untuk membuat perut merasa tenteram sambil terkadang keringatan (di kepala tentu saja, bukan di perut).   

Menilik cita rasa sop kaki yang ditawarkan oleh Mas Gandhul ini kiranya bisa menjadi pilihan untuk sarapan pagi atau makan siang saat berada di seputaran Jogja timur dengan harga yang terjangkau. Konon trade mark Mas Gandhul adalah panggilan kecil sang empunya warung yang walaupun masih menjadi pegawai di Jakarta tetapi berani berwirausaha di bidang yang persaingannya cukup ketat di Jogja.

Yogyakarta, 7 April 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Apresiasi untuk teman saya Agung “Mas Gandhul” Nurcahyo, yang meski masih mburuh di Jakarta tetapi keberanian, kreatifitas dan semangatnya untuk berwirausaha di Jogja terus menyala-nyala dan layak ditiru.-

Udang Bakar Madu Khas Banyu Mili Resto Yogyakarta

26 Januari 2009
Banyu Mili Resto

Banyu Mili Resto

Banyu mili, dalam bahasa Jawa berarti air mengalir. Tapi umumnya orang Jawa merasa lebih nyaman kalau mengucapkannya mbanyu mili (dengan imbuhan huruf ‘m’ di depannya) yang artinya kemudian menjadi : seperti air mengalir atau mengalir seperti air. Kosa kata banyu mili biasanya memberi kesan suasana segar, sejuk, indah, santai, disertai suara gemericik air yang mengalir. Nampaknya kesan itu pula yang hendak “dijual” oleh pemilik resto Banyu Mili di kawasan Jalan Godean, Yogyakarta.

Terdorong oleh rasa ingin mencoba menu masakan yang berbeda pada suatu malam di Yogyakarta, maka seperti air yang mengalir pula kami menuju kompleks perumahan Griya Mahkota Regency di Jalan Godean Km 4,5 Yogayakarta. Di sana ada Banyu Mili Resto & Country Club, sebuah pilihan tempat makan yang menawarkan aneka pilihan menu ikan yang bukan saja bernuansa alam melainkan juga bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga.   

Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja dan mudah dijangkau, berada di kawasan perumahan mewah dengan aneka fasilitas bermain dan rekreasi. Ada danau buatan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk (saung), lengkap dengan fasilitas pemancingan dan kolam renang, atau sekedar menikmati taman yang ditata asri, atau bermain remote control boat dan aero modelling.

Hanya karena tujuan kami malam itu adalah makan, dan bukan mau mandi atau mancing, maka mengalirlah saya dan rombongan berlima menuju ke salah sebuah meja makan di Banyu Mili Resto, yang pada malam itu suasananya tampak sepi.

Lupakan dulu soal kesegaran, kesejukan atau rekreasi, melainkan langsung fokus ke menu makan yang disajikan melalui dua lembar daftar menu berupa kertas dilaminasi bagus dan rapi. Meski sudah tahu menu unggulan resto ini adalah berbahan udang dan gurami, tak urung, bingung juga ketika hendak memesan makanan.

Sebuah kombinasi suasana hati yang nyaris hampir selalu terjadi ketika masuk ke dalam rumah makan yang sebelumnya sudah tersugesti bahwa makanannya berkategori enak atau enak sekali, yaitu lapar tapi bingung… Sudah tahu sedang lapar dan kepingin segera makan, juga sudah tahu kalau makanannya bakal enak, tapi urusan memilih menu ternyata tidak selesai dalam 5-10 menit.

Jalan keluarnya, percaya saja pada menu unggulan atau menu spesial yang ditawarkan, yaitu udang bakar madu ukuran standar (ada juga yang ukuran super), gurami bumbu cobek ukuran sedang (ada juga ukuran besar, tapi ukuran kecil tidak ada) dan kepiting telur saus tiram. Masih ditambah dengan asesori kangkung tumis, sambal terasi dadak, sambal tomat dan tahu-tempe goreng. Kalau menu pelengkapnya memang relatif berasa standar, tapi menu unggulannya itu yang brasa lebih dan lebih brasa….  

img_1040_udangCoba bayangkan….. (walah…., lha saya membayangkan saja serasa seperti benar-benar sedang menyantapnya….). Seporsi udang bakar madu terdiri dari empat tusuk yang setiap tusuknya terdiri dari empat ekor udang. Di balik warna merah-oranye udangnya, bumbunya mrasuk sekali (benar-benar meresap) sampai menembus kulit udangnya dan menyentuh dagingnya yang kenyal-kenyal gurih. Rasa asam berbalut rasa manis madunya terasa pas di selera. Meski sedikit kerepotan memisahkan kulit, kepala dan kaki-kaki udang, tak menghalangi untuk menghabiskan ekor demi ekor udang mlungker yang telah tersaji dua piring di atas meja.

img_1042_guramiGurami bumbu cobek sebenarnya hanya sebuah nama, yaitu gurami goreng disajikan di atas piring dengan guyuran sambal bawang merah, cabe rawit merah, tomat yang digoreng setengah matang, dan bisa ditambah dengan sedikit perasan jeruk nipis. Sebenarnya hanya menu gurami goreng sederhana, tapi takaran sambal setengah gorengnya begitu pas sehingga memberi sensasi sedap dan nikmat (selain karena memang sedang lapar…., dan terkadang ya terpaksa agak rakus juga daripada mubazir…).

img_1039_kepitingMeski bukan restoran spesial seafood, namun cara membumbui kepiting telornya pantas dipuji. Saus tiram yang menyelimuti kepiting goreng dipadu dengan irisan loncang atau daun bawang dan bawang bombay bagai membuat sang pemakan tak ingin berhenti. Sayang telor kepitingnya digoreng matang agak keras, sehingga agak merepotkan untuk diambil dari cangkangnya meski masih tetap bisa dirasakan kemrenyes tekstur kecil-kecil telur kepitingnya.  

Walhasil, semuanya wes…ewes…ewes… bablasss tak bersisa. Tinggal kulit udang, cangkang kepiting dan duri gurami yang njebubuk di atas meja. Soal harga secara umum memang sedikit di atas rata-rata menu sejenis di resto lain di Jogja, namun itu sebanding dengan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan yang memang diidamkan oleh para pencari makan.

Resto Banyu Mili yang baru berumur setahunan ini memang termasuk baru di kalangan penikmat makan di Jogja. Namun kreatifitas pemiliknya yang memadukan wisata makan dengan fasilitas rekreasi keluarga yang bernuansa alam dan tertata rapi agaknya cukup menjadi daya tarik tersendiri.

Pengunjung bisa memilih untuk makan di gubuk-gubuk di tepi danau buatan, di ruangan bermeja-kursi, atau bisa juga lesehan. Restoran yang jam bukanya pukul 10.00 – 22.00 ini siap menampung hingga 500 orang tamu sekaligus. Sedangkan fasilitas rekreasinya buka setiap hari dari pukul 07.00 – 18.00. Satu lagi, sebuah pilihan bagi penikmat kuliner di Jogja, sekaligus tempat rekreasi keluarga yang elok dan bersih.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

img_1045_r

Seafood Mr. Asui, Sebuah Ikon Kuliner Di Pangkal Pinang

24 Agustus 2008

Sebuah bangunan lama dengan tampilan luar sangat sederhana, bahkan terkesan tidak terawat, dan tetap dibiarkan seperti itu hingga kini. Bangunan itu dulunya adalah restoran seafood yang hingga kini sangat terkenal di kawasan pulau Bangka, provinsi Babel (Bangka-Belitung). Seafood Restaurant Mr. Asui, namanya. Cara penamaannya yang keminggris, telah menjadi merek dagangnya sendiri.

Kini restoran Mr. Asui menempati bangunan yang tampilannya relatif lebih baru yang berada di belakangnya. Ada sebuah gang selebar 2,5 meteran sepanjang 15 meteran yang menghubungkan jalan besar menuju restoran yang berada di dalam gang. Lokasi restoran ini nyaris berada di posisi tusuk sate, di Jl. Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapainya, terutama dari jalan protokol Jl. Jendral Sudirman. Rasanya siapapun pasti tahu dimana restoran Mr. Asui berada.

Seafood Restaurant Mr. Asui seperti sudah menjadi ikon kuliner menu ikan laut di Pangkal Pinang. Menjadi tempat jujukan para penggemar menu masakan seafood yang kebetulan berkunjung ke Pangkal Pinang, tak terkecuali para pejabat dan selebriti. Menu masakan mahluk laut yang ditawarkan cukup komplit dengan citarasa yang tergolong enak.

***

Malam itu, kami tertarik untuk mencoba menu ikan jebung bakar, kakap bakar dan kepiting saos tiram, di antara sekian banyak pilihan ikan laut. Lalu, sepiring ca kangkung adalah asesori sayuran yang kami pesan.

Nama ikan jebung agak asing di telinga saya. Di tempat lain ikan jebung ini disebut juga ikan kambing-kambing (entah kenapa nama kambing tidak cukup disebut sekali saja, melainkan diulang dua kali). Disebut kambing-kambing karena memang profil wajah ikan ini kalau dilihat dari samping sangat mirip dengan prejengan wajah kambing yang sedang meringis kelihatan gigi-giginya.

Tidak seperti ikan bakar biasanya di tempat lain, ikan bakarnya engkoh Asui, baik ikan jebung maupun kakap yang kami pesan, dibakar begitu saja dengan tanpa dibumbui terlebih dahulu. Kalau digado atau dimakan ikannya saja tentu terasa hambar tak berasa. Yang khas di restoran ini adalah sambal cairnya yang menjadi teman makan ikan bakar. Sambalnya berasa manis dan asam. Pas benar kalau dicocol dengan suwiran ikan bakar yang tak berbumbu.

Sambal cair yang warnanya menyerupai saos tomat ini selalu tersedia di atas meja bersama dengan jeruk kunci dan cabe rawit merah. Jeruk kunci adalah salah satu jenis jeruk yang sepertinya jarang saya jumpai di tempat lain. Berukuran sebesar kelereng, sedikit lebih kecil dari jeruk purut, kulitnya halus dan biasa digunakan sebagai penambah rasa asam seperti halnya cuka atau jeruk nipis.    

Sebaiknya dimakan pada saat masih fanas (pakai awalan ‘f’, saking masih panasnya…) atau sebelum dingin. Sebab kalau sudah dingin, serat-serat ikan jebung akan menjadi agak keras ketika digigit dan rasa seafood-nya menjadi kurang mak nyuss… dan malah membuat mudah nek

Bumbu tiram yang mengguyur kepitingnya juga begitu lebih berasa dan berasa lebih. Lebih-lebih kalau dapat kepiting perempuan dengan gumpalan butir-butir telurnya yang berwarna jingga dan kenyal digigit. Kalau kebanyakan nasinya, maka kuah saos tiramnya pun pas benar dicampur untuk menghabiskan nasi putih.

Bagi penggemar menu seafood, Seafood Restaurant Mr. Asui sebaiknya jangan dilewatkan bila sekali waktu berkesempatan berkunjung ke Pangkal Pinang, Bangka. Konon sudah banyak orang-orang Pangkal Pinang yang mencoba berwirausaha membuka restoran sejenis, tapi kebanyakan tidak mampu bertahan lama. Tidak sebagaimana restorannya engkoh Asui yang seperti melegenda dan identik dengan menu masakan seafood di kawasan kota Pangkal Pinang pada khususnya dan pulau Bangka pada umumnya. Entah apa rahasianya.

Yogyakarta, 24 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Ada Pilihan Sop Gurami Di Serang

15 Mei 2008

Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.

Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan “S” Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang “menjual”. Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : “sopnya enak, pak…”, maka saya lalu menyetujuinya.

Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.

Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya….).

Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.

Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan sruputan pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan kepyuran emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.

Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. Lha, wong guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar taste-ya.

***

Rumah makan “S” Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan. 

Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, wong dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.

Setidak-tidaknya menu sop rumah makan “S” Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong hoenak sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu…..

Yogyakarta, 15 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Makan Malam, Akhirnya Datang Juga…

7 April 2008

Mencari makan malam di Tanjung Redeb sebenarnya mudah. Kalau mau yang lebih merakyat dan murah meriah, datanglah ke kawasan Tepian sungai Segah. Di sana banyak pilihan menu di warung-warung tenda yang berjajar di sepanjang jalan yang menuju ke Tepian dari arah selatan. Atau kalau mau yang agak eksklusif, ada beberapa resto yang dapat dipilih. Meskipun untuk jenis yang terakhir ini plihan belum sebanyak di kota-kota lain.

Salah satu yang menjadi tujuan makan malam kami waktu itu adalah New Family Cafe. Ini adalah nama tempat makan yang menyebut dirinya dengan embel-embel Resto dan Tempat Pemancingan Umum. Lokasinya berada di Jalan Pulau Sambit, Gg. Aren, kira-kira di pertengahan dari arah Tanjung Redeb menuju Teluk Bayur, lalu masuk gang kecil ke kiri kira-kira 25 meter. Lokasinya memang tidak terlalu jelas terlihat dari jalan raya, tapi ada papan nama di pinggir jalan.

Memperhatikan lokasinya, resto ini menempati lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas untuk model resto kebun atau terbuka, tapi cukup rimbun dengan pepohonan. Deretan meja-kursi berada di bangunan utama dan di sekeliling kolam ikan. Resto yang dibangun dengan konstruksi kayu ini juga menawarkan kegiatan rekreatif berupa pemancingan dengan disediakannya kolam ikan di bagian tengah, meski tidak terlalu besar ukurannya. Tentunya kegiatan pemancingan hanya kalau siang hari saja. Juga tersedia musik hidup (live), bukan sekedar organ tunggal. Suasananya cukup santai.

Menu ikan-ikanan (maksudnya berbahan dasar ikan) adalah menu unggulannya. Banyak pilihan ikan, terutama ikan laut. Juga banyak pilihan cara memasaknya, dibakar atau digoreng dengan aneka bumbunya. Cah kangkung, jamur, sambal tomat adalah asesori yang menjadi pasangan beraneka menu ikan.

***

Begitu mengambil tempat yang agak mojok, kami segera didatangi oleh seorang pelayan yang siap mencatat order makanan. Karena belum paham karakteristik dari setiap menu dan penyajiannya, maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk tanya-tanya dulu kepada mbak pelayan. Antara lain, tentang menu unggulan yang ditawarkan, seperti apa memasaknya, seberapa besar ukurannya, cukup untuk berapa orang, dsb.

Maksudnya agar jangan sampai kurang, tapi jangan juga tersisa berlebihan. Ini karena kami memilih pesan makanan secara rombongan, bukan sendiri-sendiri. Kalau saja sedang di kota sendiri bersama keluarga, sisa makanan (maksudnya makanan yang tidak habis dimakan di resto) bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Lha, kalau sedang di kota lain, mau diapakan?

Tapi sayang, agaknya si mbak pelayan kurang terampil dan kurang responsif dalam memahami model pelanggan seperti saya. Ketika ditanya seekor ikan patin goreng dan ikan putih bakar masing-masing cukup untuk berapa orang? Dijawabnya cukup untuk 2-3 orang. Maka yang terlintas di benak saya adalah seekor ikan yang sama ukuran dan penyajiannya dengan kalau kita pesan ikan di resto ikan-ikanan di tempat lain.

Setelah menunggu agak lama (ini yang agak membuat kesal, apalagi sedang lapar-laparnya, sementara resto malam itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung), akhirnya datang juga….. Seperti acara televisi dimana seorang pemainnya belum tahu terhadap plot yang akan dimainkan. Dan pemain itu adalah saya dan rombongan.

Nasi sudah dibagikan secara adil dan merata di dalam piring masing-masing pemain, bukan di dalam cething atau tempat nasi. Lha ikannya? Dua ekor ikan berukuran sedang masing-masing sudah berada di piringnya dan sudah dipotong-potong. Kalau dihitung potongannya, memang setiap orang akan kebagian satu atau dua potong ikan. Tapi tentu bukan seperti itu maksud dari pertanyaan saya semula. Melihat gelagatnya bahwa sajian ikan tentu tidak memenuhi yang dibutuhkan, maka pelayan dipanggil dan segera pesan lagi dua porsi tambahan, ikan yang sama.     

Sambil menunggu rombongan ikan kloter kedua mendarat, acara makan malam segera dimulai. Para pemain segera meraih ikan sepotong demi sepotong dari piringnya. Karena pesanan enggak datang-datang, lama-lama nasi di piring masing-masing pemain habis sendiri (maksudnya terpaksa dihabiskan meski hanya dengan cah kangkung, tempe goreng dan dengan jumlah ikan yang terbatas, daripada bengong menunggu pesanan tidak datang-datang…..).

Akhirnya datang juga……, dua piring ikan kloter tambahan segera mendarat di atas meja makan. Tapi nasinya sudah telanjur habis. Terpaksa pesan beberapa piring nasi putih tambahan, dengan maksud untuk teman menghabiskan dua piring ikan susulan tadi. Ee…., judulnya kini ganti, nasi nan tak kunjung tiba……

Sambil menunggu ransum tambahan nasi putih, dua piring ikan pun di-thithili (dimakan sedikit-sedikit) rame-rame seperti potong padi di sawah. Lama-lama ya habis juga itu ikan, tepatnya tinggal sedikit, itu pun bagian ekor dan endhas (kepala). Dan, judulnya masih tetap nasi nan tak kunjung tiba…..

Setelah disusuli oleh seorang rekan ke dapur (jadi tahu seperti apa dapurnya), akhirnya datang juga….. , dan nasi putih kemudian tersaji di atas meja. Terpaksa lagi, nasi putih pun di-thithili dengan sisa potongan ikan yang masih ada, daripada mubazir wong sudah dipesan. Jadi, perlu pesan ikan lagi? Lalu nasi putih lagi?

Maka, acara “akhirnya datang juga” terpaksa distop, sebelum “guyonan” pelayan resto semakin menjadi-jadi…….

***

Perihal menu ikan dan ramuan bumbunya, sejujurnya harus diacungi jempol. Rasanya cocok, hoenak dan pas di indra pencecap. Cah kangkungnya juga lezat, meski agak kematangan memasaknya, tapi tetap memberikan taste yang delicious, kata orang sono. Apalagi sambal tomatnya, wuih…. beberapa kali saya cecap-cecap untuk menyelidiki bagaimana membuatnya. Ya, enggak bisa juga wong bukan ahlinya. Pendeknya, dari sisi cita rasa resto ini layak diunggulkan untuk dicoba dan dinikmati rasanya.

Hanya saja, mesti “hati-hati” sebelum menjatuhkan pilihan pesanan makanan. Jangan sampai diajak “guyonan” sama pelayannya. Sebab betapapun enaknya rasa masakannya, menjadi tidak bisa dinikmati kalau mesti menunggu kelewat lama. Perut yang semula lapar keburu kenyang dengan sendirinya, lalu lapar lagi, lalu kenyang lagi.

Cita rasanya memang pantas untuk dibayar mahal, tapi “guyonan” ala acara televisi “akhirnya datang juga”….., ngngngng….. caaapek, deh! (nunggunya). Mudah-mudahan pengalaman malam itu adalah satu-satunya kejadian di New Family Cafe, agar saya tetap bisa merekomendasikan untuk mencoba berpetualang dengan menu lezatnya New Family Cafe.

Madurejo, 19 Januari 2008
Yusuf Iskandar