Posts Tagged ‘timika’

Tukang Parkir Itu Orang Papua

7 Juni 2010

Dari wajahnya saya tahu tukang parkir itu orang Papua. Tapi kok bisa ngomong Jawa halus? Rupanya putra Kwamki Lama, Timika, itu sudah 8 tahun di Jogja. Satu dari sedikit orang Papua yang berhasil ‘mengembik di kandang kambing, mengaum di kandang harimau’.

Lulus S1 Tambang dan sedang mengmbil S2 Agrobisnis. Kupamiti dia: “Ko betul. Biar ko pu teman-teman konflik di Timika, tapi ko belajar dan tahu susahnya cari uang”.

(Apresiasi untuk saudaraku, Jackson Tabuni).

Yogyakarta, 31 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

15 November 2009

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura (6-14 September 2009)

28 September 2009

Berikut ini penggalan-penggalan catatan perjalanan ke Tembagapura (6-14 September 2009) yang sempat saya posting di Facebook).

——-

Walah.., mau buka bersama di SBY kok ya gagal….. Gara-gara Batavia Air Jogja-SBY delay 2 jam, jadi buka bersama penumpang lain di bandara Jogja saja….

(SBY : Surabaya)

Bandara Adisutjipto – Yogyakarta, 6 September 2009

——-

Insya Allah, melewatkan malam ini di angkasa antara Suroboyo-Timika. Moga-moga pramugarinya menyediakan makan sahur di pesawat, entah dimana…

Bandara Juanda – Surabaya, 6 September 2009

——-

Ngopi dan ngudut dulu di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar… Bandara bagus dan megah, tapi buruk akustiknya…

(Transit di Makassar lumayan lama….)

Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar, 7 September 2009

——-

Tadi malam ke UGD Tembagapura, ngobrol-ngobrol dengan dokter, dicek ini-itu + EKG (rekam jantung), siang nanti check up, sore uji nyali dengan treadmill (biar kalau haus sudah dekat berbuka), lalu ngabuburit dengan dokter lagi….. Alhamdulillah, ibadah Ramadhan jalan terus….

(Ketika di pesawat kemarin malam, tiba-tiba sesak nafas, mual, keringat dingin, lemas dan les-lesan… Angin duduk atau jangan-jangan serangan jantung? Begitu pikirku…. Esoknya teman-teman saya menyuruh agar segera saja cek ke dokter, takut ada apa-apa. Akhirnya malamnya saya ke rumah sakit. Uji treadmill diundur karena dokternya pergi mendadak ke Jakarta…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Pagi ini saya kirim SMS ke anakku : “Tadi malam ada gempa ya?”. Jawab anakku : “Ya, aku terbangun. Karena gak ada orang lain yang bangun, ya tidur lagi….”.

Kemudian saya balas : “Kalau nanti ada gempa lagi, bangun lagi, lalu tidur lagi ya….”. Ha..ha..ha..ha…

(Pagi ini memperoleh kabar ada gempa cukup kuat terasa di Jogja. Segera saya hubungi anak perempuanku menanyakan kabar mereka…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Plong rasanya….. Usai rekam jantung sambil menjalani treadmill siang ini, kata dokter kondisi jantung baik dan normal. Walhamdulillah…

(Menurut analisa dokter, yakin sekali dia bahwa yang saya alami di pesawat waktu malam beberapa hari yll bukan serangan jantung melainkan gejala maag… Sementara kesimpulan ini membuat saya lega dan tersenyum, karena sebelumnya sudah buruk saja pikiranku tentang kemungkinan gangguan jantung….)

Tembagapura – Papua, 12 September 2009

——-

Waduh… Tsel Flash-ku kumat lagiiiii…

(Setelah rada jengkel beberapa jam, akhirnya…)

Selamet…selamet…, Tsel Flash sudah bisa on-line lagi….

(Akhirnya bisa nginternet lagi, di Tembagapura, di atas pegunungan selatan Papua…)

Tembagapura – Papua, 13 September 2009

——-

Alhamdulillah, mission accomplished. Siap-siap mbonceng chopper dari Tembagapura ke Timika, siang terbang ke Solo via Makassar, njuk pulang Jogja…

(Situasi akibat insiden tembak-tembakan di jalur Timika – Tembagapura masih dianggap rawan, makanya saya turun ke Timika dijadwalkan naik helikopter)

Tembagapura – Papua, 14 September 2009

——-

1) Tembagapura-Timika naik heli batal karena cuaca buruk. Lewat darat, pakai rompi anti peluru, ditemani tentara bersenjata, polisi + TNI + panser betebaran…

2) Seperti daerah konflik tanpa musuh. Yang tetap tak terjawab : konflik dengan siapa? musuhnya mana? Biarlah tembaga yang jadi peluru yang nembak kemana2 menjawabnya..

Bandara Mozes Kilangin, Timika – Papua, 14 September 2009

——

Puasa berarti menahan haus dan lapar. Tapi kalau harus menempuh perjalanan Timika-Solo lalu waktu berbukanya diundur 2 jam….. Aaaaaaaalhamdulillah...

(Akibat dari perjalanan dari wilayah WIT ke WITA lalu ke WIB)

Bandara Adisoemarmo – Solo, 14 September 2009

——-

Jam 19:30 WIB masuk rumah… puji Tuhan walhamdulillah. Badan agak nggregess…. Insya Allah, siap-siap dengan another important mission tomorrow…

Yogyakarta, 14 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Awal September 2009)

28 September 2009

Gempa

Setiap kali ada gempa, orang2 pada kabur berhamburan keluar gedung…. Rupanya gempa itu suka menakut-nakuti orang yg kerjanya di dalam gedung…..

(Intermezzo saja…. Akhir-akhir ini gempa sering terasa di Jogja, meski intensitasnya tidak terlalu besar, tapi bikin deg-degan juga…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Telat Bangun Sahur

Bangun sahur bersama terdengarnya adzan subuh….. Maka : Lanjutkan….! Ya puasanya, ya tidurnya….

(Inilah sekali-sekalinya sekeluarga terlambat bangun untuk makan sahur…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Sarang Semut

Waduh… tobat tenan….! Ngerebus jamu sarang semut Papua, lupa, sampai kering…. Tinggal sarangnya gosong, semutnya pada kabur….

(Pada kunjungan saya ke Papua beberapa bulan yll, saya sempat mampir ke pasar tradisional Swadaya, Timika, membeli sarang semut yang konon mujarab sebagai obat tradisional untuk aneka ria macam penyakit — Tidak lama setelah itu pasar Timika terbakar….)

Yogyakarta, 1 September 2009
Yusuf Iskandar

Hari Keempat : Kembali Ke Jogja

25 Juli 2009

Transit di bandara Cengkareng…., menuju Jogja setelah meninggalkan Padang tadi pagi… Sayangnyo waktu ambo indak lamo di Padang, cuma malinteh sabanta sajo…

Bandara Cengkareng, 25 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Alhamdulillah sudah sampai rumah di Jogja dengan aman, tertib dan bermartabak (beli martabak, maksudnya….). Oleh-oleh ikan bilih dari danau Singkarak siap digoreng kering…. Hmmm…

Seringkali ketika akan bepergian jauh, teman & saudara berpesan “Hati-hati….”. Lho, yang mestinya disuruh hati-hati itu kan sopir kendaraan (mobil, pesawat) yang saya tumpangi, bukan sayanya….. Lha, kalau saya sih tinggal numpang lalu tidur…. Atau, jangan-jangan mereka mengira saya sopir?

Malam ini malam Minggu kembali, di rumah, setelah dua minggu meninggalkan keluarga…. Perjalanan Panjang : Yogya – Timika – Padang – Yogya usai sudah dengan beragam kejadian. Ugh…. biasa saja, gak capek kok…. (mo bilang capek takut dikatain istri : “tuh, kan……”).

Yogyakarta, 25 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Hari Pertama : Tiba Di Ranah Minang

25 Juli 2009

Pagi… Untuk pertama kali menginjakkan kaki di ranah Minang, di bandara Minangkabau, Padang. Langsung meluncur ke Sawahlunto sekitar 100 km arah timur laut.

(Naik taksi bandara ongkosnya Rp 330.000 sampai Sawahlunto. Perjalanan melewati kota Solok nan elok dan jalan Lintas Sumatera yang menuju Muara Bungo, Jambi).

Siang… Mengunjungi tambang rakyat batubara. Lubang-lubang tambang rakyat bawah tanah yang digali dengan cara sangat sederhana, relatif seadanya. Tapi hasilnya luar biasa…

(Batubara yang dihasilkan tambang-tambang ini rata-rata 1 ton/orang/hari. Anggap saja ada sekitar 2.000 orang buruh gali batubara, maka produksinya menjadi sekitar 2.000 ton/hari atau 60.000 ton/bulan. Semuanya untuk memasok kebutuhan PLTU Ombilan 2 x 100 MW, yang menjadi bagian dari jaringan listrik interkoneksi Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumater Utara).

Malam… Mampir ke Ponsel (Pondok Selohan, alias lesehan) di Jalan Lintas Sumatera. Menikmati teh taluah (telur) dan soto padang. Hmmm…

Sawahlunto, 22 Juli 2009
Yusuf Iskandar

——-

Transit Di Jakarta (Dari Timika Menuju Padang)

Seharian tadi ngantor di kantor orang, di Jakarta… Insya Allah besok pagi terbang ke Padang, lalu menuju Sawahlunto, melihat-lihat tambang batubara yang beberapa waktu lalu njebluk…. (ya melihat-lihat saja.….)

Jakarta, 21 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Keluar Dari Tembagapura Naik Heli

20 Juli 2009

Alhamdulillah, pagi ini bisa sampai Timika…, naik chopper. Insya Allah nanti sore terbang ke Jakarta.

(Kebetulan cuaca pagi hari sedang bagus dan ada trip heli atau chopper dari Tembagapura ke Timika. Hanya butuh waktu tempuh 15 menit lebih sedikit, dibanding perjalanan darat 2 jam menyusuri gigir pegunungan)

Timika, 20 Juli 2009 (siang)
Yusuf Iskandar

***

Untung tadi pagi bisa mbonceng Heli, sehingga bisa keluar dari Tembagapura menuju Timika yang jalan keluar-masuknya masih ditutup.

Malam ini mendarat di Jakarta. Sampai hotel langsung nggeblak…. Terpaksa belum sempat pulang ke Jogja, karena perjalanan (Insya Allah) masih akan berlanjut….

(Dari Tembagapura jam 7:00 WIT. Rencana semula dari Timika mau langsung nyambung pesawat Airfast Indonesia jam 9:00 WIT, tapi ternyata pesawat ditunda jam 16:00 WIT sore. Lao-lao — santai – dulu di hotel Rimba Papua yang dulu bernama Sheraton Timika. Penerbangan dari Timika transit di Makassar dan Surabaya, hingga sekitar jam 19:30 WIB tiba di Jakarta)

Jakarta, 20 Juli 2009 (malam)
Yusuf Iskandar

Terpaksa Belum Bisa Meninggalkan Tembagapura

17 Juli 2009

Maksud hati Sabtu besok pulang ke Jogja, apa daya jalan dari Tembagapura menuju ke Timika masih ditutup karena (dinyatakan) belum aman. Terpaksa pulangnya mundur entah sampai kapan…. Ugh, tidur lagi aja ah…. (tahu-2 terbangun, ada bom njebluk di Jakarta…..)

(Sejak insiden penembakan hari Sabtu, Minggu, Selasa, Rabu dan terakhir Jumat, praktis selama empat hari terakhir ini jalan utama Timika – Tembagapura terutama antara Mile-50 – Mile-66 yang merupakan kawasan perbukitan ditutup, karena menurut aparat polisi masih dinyatakan belum aman)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura Di Saat Yang “Kurang Tepat”

13 Juli 2009

Alhamdulillah, malam ini sekitar jam 20:00 WIT sampai juga saya di Tembagapura, Papua. Setelah sempat 6 jam tertahan di area Mile-50, akhirnya ikut rombongan konvoi bis karyawan dikawal polisi melewati “medan tempur” Mile 51-53. Asyik…asyik…, soalnya sopir dan penumpang lainnya saya tinggal tidur di bis….

Tembagapura, 13 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Tadi malam berangkat dari rumah JK terus ke SBY….., sore tadi sudah sampai TIM….. (JK: Jogjakarta; SBY: Surabaya; TIM: Timika)

Malam ini nginap di Timika dulu (hotel Rimba Papua, dulu bernama Sheraton Timika), sambil menunggu penembaknya pergi….. Menikmati menu healthy food, baramundi rebus + sayur mentah, dimakan pakai garam + merica, kentang panggang….

(Sejak ada insiden penembakan pada Sabtu pagi dan Minggu siang, 11-12 Juli 2009, di area Mile 52-53 jalur jalan dari Timika menuju kota tambang Tembagapura, lalu lintas semua kendaraan sangat diperketat dan dibatasi untuk alasan keamanan)

Timika, 12 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Tembagapura – Mei 2009

27 Mei 2009

Berikut ini catatan-catatan pendek perjalanan saya ke kota tambang Tembagapura, kabupaten Mimika, Papua, yang sempat saya posting di Facebook (saya tulis ulang dengan penyempurnaan penulisannya agar lebih enak dibaca).

Yusuf Iskandar

———-

Jamblang dan Sate Lilit

Kemarin malam saya diundang makan malam oleh seorang teman (mas Ridwan Wibiksana) dan disuguhi jamblang, masakan khas Cirebon (tumis cabe merah yang bijinya sebagian dibuang, diramu dengan irisan daging)…. hewes..hewes… kepedasan….

Malam ini diundang oleh seorang teman lainnya, yaitu keluarga Pak Ketut Karmawan (kalau tidak salah berasal dari Bali), disuguhi sate lilit (berbahan daging ayam), petai goreng lengkap dengan sambal terasi, bawal goreng dengan sambal tomat, tumis kacang panjang, dll. Wuih…, di saat malam-malam dingin di lokasi berketinggian lebih 2300 mdpl (meter di atas permukaan laut), tapi bisa juga kepala keringatan….

Tembagapura, 26 Mei 2009

—–

Alhamdulillah…..

Alhamdulillah….. pagi ini terasa sakit pada lutut dan paha setelah ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’ hari Minggu kemarin. Kaki terasa sakit untuk jalan, mlanjer, njarem, kemeng, loro kabeh, terasa sakit semua…. Sepertinya sudah agak lama saya tidak menikmati hal seperti ini. Trims, Tuhan….

Tembagapura, 25 Mei 2009

—–

Kakap Woku Belanga

Seorang teman yang agak pinter masak dan hobi memancing, malam ini mengundang saya makan malam. Menu yg ditawarkan : kakap woku belanga (kakapnya hasil mancing di laut), ayam goreng, ca sawi campur telur, minumnya teh tubruk. Ya, jelas saya langsung berangkat ke rumahnya to…. Sampai perut kemlakaren…., kekenyangan. Lalu ngobrol ngalor-ngidul sampai malam. Terima kasih, kawan…. (kawan saya itu namanya pak Herry Siswanto).

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Ikut ‘Race To The Clouds’

Bisa juga saya mencapai garis finish, lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, di urutan ketiga (dari belakang… he..he.., peserta yang lain cukup butuh waktu 1,5 – 2 jam, saya selesai dalam 3 jam lebihnya banyak). Sangat menantang, start di lokasi berelevasi 1988 mdpl (meter di atas permukaan laut), lalu mendaki menuju lokasi berelevasi 2908 mdpl, dan turun lagi.

Bersyukur saya masih sempat ikut kegiatan “aneh” ini di lokasi yang tidak pernah saya sangka… Saya membayangkan seperti sedang perjalanan mendaki gunung. Meski belum cukup memacu adrenalin…

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Mbah Wardi

Tadi siang ketemu teman lama yang ahli urut (pijat) sekaligus melakukan ‘scan’ penyakit. Sewaktu saya masih karyawan dulu, sering saya buktikan hasil ‘scan’-nya ternyata tepat dibanding angka hasil pengecekan laboratorium di Rumah Sakit yang saya lakukan esoknya, termasuk kadar asam urat, kolesterol, dsb. Edan…..

Setelah itu biasanya dia memberitahu resep jamu ramuan herbal atas penyakit yang diderita pasiennya. Ramuannya bisa dicari di halaman sekitar atau membeli di pasar. ‘Cilakaknya’, kok ya terbukti manjur…. Teman saya itu bernama Suwardi, teman-teman biasa memanggilnya Pak Wardi, tapi ada juga yang merasa lebih akrab memanggil Mbah Wardi….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Sepatu Baru

Akhirnya sepatu baruku bisa ditukar dengan yang lebih besar ukurannya. Waktu itu membelinya hanya titip teman di pasar Timika, harganya Rp 99.950,- tapi tidak ada kembaliannya. Hari Minggu besok mau dipakai ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, menempuh jarak lebih 13 km, mendaki 930 m, di elevasi 2000 – 3000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di tengah Papua. Mudah-mudahan bisa mencapai sasaran, dan yang penting bisa turun kembali….., biarpun paling buntut saat semua panitia sudah bubar….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Dinner Di Lupa Lelah Club

Malam ini diajak dinner oleh seorang teman (namanya pak Joko Basyuni) di Lupa Lelah Club (nama sebuah resto di kota tambang Tembagapura, Papua). Bagi pengunjung tempat ini harapannya tentu agar dengan makan-minum di klab ini segera akan lupa dengan segenap rasa lelah, capek, kesal, dan sebangsanya sehabis seharian sibuk dengan kerja di lapangan.

Ketika pulang? Ya lelah lagi……., mendingan nggeblak tidur ah….

Tembagapura, 21 Mei 2009

—–

Tsel Flash

Tsel Flash benar-benar kemayu dan menggemaskan. Pingin tak pithes…. (tapi nanti malah tidak bisa online…). Sudah ditinggal ke belakang kok ya masih saja lenggut-lenggut kayak sapi kekenyangan…

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Menyusuri Pepohonan Cemara

Hawa segar pagi hari, berjalan agak mendaki menyusuri pepohonan cemara yang aroma daun-daunnya sangat khas. Sensasi bau-bauan yang sering dijumpai saat melintasi hutan pertama ketika mendaki gunung…..

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Online Di Tembagapura

Akhirnya bisa juga ng-online di Tembagpura (menggunakan Tsel Flash yang jalannya menggemaskan…). Ini adalah kota tambang di tengah Papua, berada di ketinggian +/- 2000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di lembah pegunungan terjal, sering berkabut, hujan, dingin, mudah lapar, ingin kencing terus, paling enak kemulan sarung… terus enggak usah kerja….

Tembagapura, 19 Mei 2009

—–

Mendarat Di Timika

Jam 18:00 WIT pesawat Airfast yang saya tumpangi dari Surabaya mendarat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Malamnya menikmati karakah (kepiting) goreng mentega di Rumah Makan ‘212’ (tapi pasti tidak ada hubungan saudara dengan Wiro Sableng), di Jl. Belibis, Timika. Alhamdulillah, bisa kembali mengunjungi kota ini……

Timika, 16 Mei 2009

Pahala Betebaran Di Pasar

18 April 2009

img_2098_pasar2

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama…..).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

***

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan untuk mampir ke “Shopping”. “Shopping” adalah sebutan salah kaprah bagi warga Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun sekedar jalan-jalan. “Shopping” adalah sebuah tempat semacam pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke “Shopping” sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh…., permintaan yang rada susah. Telanjur saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan…., ya salah sendiri kok dibaca…). Akhirnya saya temukan juga coklat merk “Dove” buatan Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama.

Ee… ndilalah…. , di pasar “Shopping” itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar “Shopping”. Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan Tembagapura.

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan masuk ke pasar tradisional “Swadaya” di tengah kota Timika. Suasana pasar masih tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee… ndilalah lagi…., di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus.

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi ini bukti bekerjanya “law of attraction”, atau wujud dari rahasianya “the Secrets”, atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? Kejadiannya, mungkin “Iya”. Tapi hakekatnya tentu saja “Tidak”. Karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk dalam skenario Tuhan juga.

***

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin…). Lha, wong namanya pasar, adalah tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu’amalah, bersosialisasi, yang baik maupun yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang bisa dikunjungi seperti pasar “Shopping” yang moderen atau pasar tradisional yan becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, perniagaan nyata maupun maya.

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat.

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow… “enak sekali” tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar…?, peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih berganti.

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan (kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak biasa…), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2099_pasar1

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu

5 April 2009

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika.

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood “Surabaya” sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala “DS” jika terdaftar di kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian…), plus agak deg-degan karena biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa ngebut sendiri…. Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

***

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan mengomandonya untuk menuju ke warung seafood “Surabaya”. Ongkos ojek dari Base Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah…. Semua pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari “kekeliruan” jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang maksudnya : “Naik ojek, pak?”. Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya hanya berkata pendek : “Kembaliannya untuk bapak saja…”. Kalimat pendek itu rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

***

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi sedikit “surprise” yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya.

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : “Tolong yang seribu lima ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak…”. “Nggih, pak…”, jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai pesan kepada penjual tiket tol : “Sisanya untuk mobil di belakang saya ya…”.

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada “surprise-surprise” kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan “bisnis memberi”, entah sebagai penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat.

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar

Maaf, Saya Ke Papua Tanpa Pamit

3 April 2009
Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Mohon maaf, blog ini saya tinggalkan selama tiga minggu karena pergi ke Papua tanpa pamit. Semula saya pikir saya akan mudah mengakses internet di sana. Tapi rupanya saya mengalami beberapa kendala non-teknis yang menyebabkan saya tidak bisa meng-update Catatan Perjalanan saya, praktis selama sebulan.

Tepatnya, dari tanggal 10-31 Maret 2009 saya jalan-jalan ke Papua, tepatnya ke kota Tembagapura dan Timika. Perjalanan ini terlaksana atas undangan teman-teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Ini mirip-mirip perjalanan nosalgia, karena saya pernah bekerja di sana selama periode tahun 1995 hingga 2004.

Selama berada di Tembagapura dan sekitarnya yang lokasinya berada naik-turun di ketinggian antara 2000 – 2400 m di atas permukaan laut, saya mengalami keterbatasan mengakses internet. Fasilitas internet milik perusahaan sangat terbatas. Sementara fasilitas internet yang selama ini saya gunakan, yaitu IM2 dan Smart ternyata tidak dapat saya gunakan karena rupanya hanya sinyal Telkomsel saja yang “berani” naik gunung. Walhasil, saya hanya bisa membuat catatan-catatan kecil yang Insya Allah akan saya posting menyusul.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya, meskipun saya ke sana dalam rangka jalan-jalan, tapi acara jalan-jalan itu terlaksana akibat dari sebuah komitmen. Maka saya berkewajiban menjaga amanat penderitaan komitmen. Sekali sebuah komitmen dibuat, maka semestinya siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, termasuk kesibukan yang seringkali baru selesai hingga malam. Komitmen yang terbingkai dalam acara jalan-jalan dibayarin.

Masih ada alasan ketiga, yaitu bahwa selama di sana saya sering diundang oleh teman-teman lama saya untuk sekedar diajak berbagi tentang pengalaman saya bagaimana mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pegawai alias pensiun alias pengangguran. Teman-teman saya ingin tahu bagaimana saya memulai dan merintis bisnis atau berwirausaha. Tentu saja acara ini hanya bisa dilakukan saat malam hari di sisa waktu yang ada.

Demikian, kini saya kembali ingin melanjutkan catatan-catatan dan dongengan apa saja untuk sekedar berbagi unek-unek, pengalaman, info, curhat, termasuk cerita-cerita yang tidak seberapa bermutu, sekedar sebagai bacaan yang (mudah-mudahan) menghibur kepada siapa saja yang menyukainya. Salam….    

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Sisi Lain Dari Insiden Timika

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting dari tulisan lama :

Banyak orang sudah tahu, setidak-tidaknya membaca atau mendengar berita tentang insiden di Timika, Papua. Tepatnya yang terjadi di lingkungan area kerja PT Freeport Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2002 yll. Tiga orang tewas jadi korban penembak gelap. Gelap karena pada saat kejadian terhalang kabut tebal dan gelap karena hingga kini tidak ketahuan siapa mereka, apa motifnya dan lalu kemana perginya setelah menembak.

Bagi saya dan kita semua, kiranya hanya bisa turut merasa prihatin. Insiden memang sudah terjadi. Korban juga sudah terlanjur berjatuhan. Tinggal menyisakan PR (yang seringkali tidak pernah terjawab tuntas) bagi pemerintah dan aparat keamanan.

Melihat tragedi insiden Timika, lalu mencoba melongok ke layar lebih luas, yaitu Indonesia, terasa ada hal kecil yang mengganjal di sisi kemanusiaan kita. Sampai-sampai seorang rekan di Tembagapura menulis : “Bangsa lain, dalam momen paling sedihpun masih memikirkan kepentingan bersama. Bangsa kita, any moment, tilep uang rakyat !”. Apa pasalnya sehingga rekan saya ini demikian geram?

Rupanya rekan saya itu membaca berita di media. Isinya : Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulawesi Utara meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk tidak mengizinkan pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulut tour keliling Eropa dengan menggunakan dana APBD 2002. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tanpa mau melihat kehidupan rakyat Sulut sedang terhimpit kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ekonomi”, demikian kata Ketua Forum Advokasi Pemantau Parlemen (Foraper) Minahasa, Sulut. Sungguh ini ide dan rencana yang luar biasa. Dana APBD yang akan digunakan untuk tour ke Eropa tentu tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat yang bersamaan, kita dengar tragedi gelombang pengungsi TKI di Nunukan, Kaltim. Betapa banyak dari mereka, orang dewasa maupun anak-anak, yang akhirnya meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang tak tertangani dengan baik. Betapa pemerintah (baca : saudara-saudara kita yang kebetulan sedang berkuasa) terkesan begitu lamban dan kurang cekatan menghadapi masalah kemanusiaan yang memerlukan penanganan cepat semacam ini.

Sementara di Tembagapura, beberapa hari setelah insiden Timika, ada pengumuman kepada masyarakat. Isinya : bagi masyarakat yang bersimpati kepada dua orang korban asal Amerika dan ingin menyampaikan sumbangan uang duka, maka diminta agar uang tersebut disampaikan kepada lembaga sosial di Amerika yang telah ditunjuk oleh masing-masing ahli waris, lengkap beserta alamatnya. Dalam kedukaan yang mendalam akibat tragedi penembakan, mereka masih ingin menyisihkan sebagian hatinya untuk sesamanya.

Lalu, dimana sebagian hati kita saat bencana kemanusiaan sedang melanda saudara-saudara kita lainnya, di belahan Indonesia lainnya? Mudah-mudahan rangkaian fragmen lelakon ini menjadi cermin kecil yang layak untuk dilongak-longok, apakah tampak di wajah kita bahwa kita masih punya sedikit hati untuk perduli kepada sesama.

Tembagapura, 6 September 2002
Yusuf Iskandar

Teman Seperjalanan Yang Baik Hati

31 Juli 2008

Akhirnya datang juga…., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk perjalanan Jayapura – Timika – Denpasar – Jakarta. Padahal sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung yang lain.

Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura – Jakarta.

Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. Selama ini hanya midar-mider naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati.

Dalam perjalanan Jayapura – Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah kata pun.

Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.

Dalam perjalanan Timika – Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian makan siang, penumpang di sebelah saya njawil (menyolek) tangan saya. Rupanya meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur.

Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali membangunkan saya.

Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, njuk ora sido turu aku…… (saya jadi tidak bisa tidur….)

“Untungnya”, teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur ngleker di pesawat….).

Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue thok tanpa minum, keseredan. Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa menjengkelkan……

Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar – Jakarta dapat berlangsung dengan tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang di sebelah saya.

Yogyakarta, 31 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Kisah Tentang Pak Wahib Dan Bu Inul

21 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah penggalan email (setelah saya revisi sedikit agar lebih sesuai untuk pembaca umum) yang pernah saya tulis untuk sebuah kelompok diskusi kecil di Tembagapura tentang tokoh Ahmad Wahib dengan bukunya “Pergolakan Pemikiran Islam” dan fenomena si ratu goyang ngebor Inul Daratista. Lalu meluncurlah catatan kecil “Kisah tentang Pak Wahib dan Bu Inul” ini. Sekedar untuk selingan saja.-
———–

(1)

Ing sawijining dino……. (pada suatu hari………)

Ahmad Wahib dengan pergolakan pemikirannya (sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau catatan pribadinya kelak menyebabkan dirinya bakal diomongin orang (yang sebagian di antaranya “memusuhi” pemikirannya), dan dikafir-kafirin. Biarlah, Pak Wahib ini pernah berjuang dengan dunianya dan pemikirannya, bukan untuk siapa-siapa.

Inul Daratista dengan pergolakan kreatifitasnya (juga, sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau bakal dikenal dan dibicarakan banyak kalangan (yang sebagian diantaranya “menyiriki” kreasinya), dan diharam-haramin. Biarlah, Bu Inul yang sedang berjuang memperoleh label “halal” dari MUI ini tenang menikmati produknya (entah labelnya nanti mau ditempel di mana).

Kini, Pak Wahib, Insya Allah, sudah tenang di alamnya — rest in peace. Dan, kita respek dengan pergolakan pemikiran Islamnya dan sikap amal sholehnya.

Pun, Bu Inul, sedang menikmati kreatifitasnya. Satu lagu konon dihargai Rp 6 juta (kini pasti lebih mahal lagi), complete with drilling style, FOB Jakarta. Kalau FOB Papua, barangkali jadi Rp 10 juta per lagu. Jadi kalau Bu Inul presentasi di kota Tembagapura, Kuala Kencana, Timika dan sekitarnya misalnya, masing-masing dengan 6 lagu, maka total purchasing cost-nya Rp 180 juta + bonus “saweran”. Lha iya, siapa yang tidak ngiri. Yang paling nyebelin ‘kan kalau ngiri-nya pakai embel-embel “nambahin gelar”, “mengatas-namakan”, dsb.

Nuwun sewu, saya bukan anggota FBI (Fans Berat Inul), hanya tertarik mencermati, atas dua alasan :

Pertama, Inul adalah fenomena yang bisa terjadi setiap saat di depan mata kita, untuk tema apa saja (kebetulan saat ini bertema drilling style).

Kedua, Inul adalah representasi kaum marginal yang di-fait-accompli (diterpaksakan) oleh kemarginalannya, sehingga harus struggling to surrender di haribaan “Sang Raja yang mengatas-namakan” (Anda pasti tahu, siapa Sang Raja ini. Bisa dibayangkan betapa nelangsa dan makan hatinya untuk berada dalam suasana seperti ini).

Maka tentang inul-menginul ini, saya mendukung gerakan FPI (Front Pembela Inul), bukan Inul sebagai Inul Daratista yang gedrug-gedrug di acara Duet Maut SCTV, melainkan Inul sebagai representasi kaum marginal yang termarginalkan semarginal-marginalnya. Mudah-mudahan beribu-ribu Inul lainnya yang ada di depan kita ini tidak lupa bahwa doanya sangat dekat di sisi Tuhannya. Kalau tidak, “Kasihan, deh lu…..”.-

Tembagapura, 30 April 2003
Yusuf Iskandar

——-
*) Ahmad Wahib — Salah seorang pelaku Angkatan ’66 yang kumpulan catatan hariannya dibukukan dengan judul “Pergolakan Pemikiran Islam”.

*****

(2)

Sejujurnya, saya sebenarnya juga merasa risih ketika enak-enak nonton TV bersama anak-anak dan istri kemudian muncul iklan produk “HORE”, dan lalu disuguhi bokong-nya Bu Ainur Rohimah meghal-meghol kayak menthok (itik manila). Saya bayangkan saat itu orang tua saya, mertua saya, tetangga saya, guru ngaji saya, para pejabat, Rhoma Irama dan termasuk alim ulama anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) beserta keluarganya, berada dalam suasana yang mirip-mirip yang saya alami. Karuan saja kalau kemudian mereka mencak-mencak : “Busyet…, Ini haram…!”.

Noval, anak saya yang kini kelas 3 SD, sambil tertawa bilang : “ngebornya kayak bey blade, ya Pak….”. Jangankan di luar sana, di rumah saya sudah jatuh korban. Sekali waktu Noval dimarahin ibunya, maka sambil cengengesan spontan dia membelakangi ibunya dan pantatnya di-meghal-meghol-kan menirukan ngebornya Inul. “Tuobat tenan….”, kata ibunya.

Jadi, Inul harus berhenti ngebor? Enteng saja Bu Inul yang penampilannya terkesan lugu, ndeso dan tidak neko-neko ini bilang : “Lha, saya sudah belajar 8 tahun untuk bisa ngebor kayak gini, kok sekarang disuruh berhenti”. Nah lu…!

Diam-diam, kaum ibu pun memuja Bu Inul, saking gemasnya dan kepinginnya bisa meniru lenturnya dan gemulainya liak-liuk tubuh Bu Inul ini. Para ibu berbusana muslimah pun berebut memeluk Bu Inul ketika ada kesempatan ketemu.

Dan…, “Kenapa harus Inul yang disalahkan?”, kira-kira demikian kilah para ibu. Di keramaian Jakarta, di pelosok Jawa Timur atau di Tembagapura, ada ratusan orang yang juga suka meliak-liukkan tubuhnya, tidak hanya Bu Inul.

Akhirnya, fatwapun dijatuhkan oleh IKADI, bahwa goyang ngebor Inul hukumnya haram. Agak “lega” sudah, setidak-tidaknya keputusan sudah dibuat (entah oleh siapa pun saja), dan kontroversi yang berkembang (untuk sementara) mereda.

Implikasinya adalah, barangsiapa mendukung, memfasilitasi, membantu, akan terselenggarakannya kegiatan dan tontonan ngebor-mengebor ala Inul, maka mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menjadi bagian dari perbuatan yang haram itu tadi. Demikian setidak-tidaknya yang hendak disampaikan oleh IKADI. Termasuk, penyelenggara acara TV, pemasang iklan, pendukung acara, penontonnya, dan pesawat TV-nya sendiri (berapa inch pun ukuran TV Anda).

Kini pertanyaannya : “Kenapa harus Inul?”. Pertanyaan yang cukup mengganggu, bagi orang yang tidak suka mikir yang lurus-lurus.

Ya, kenapa bukan para penari dan penyanyi latar yang beberapa tahun terakhir ini justru tampak lebih seronok dan erotis dan merangsang penampilannya?

Kenapa bukan Akbar Tanjung yang menyelewengkan dana Bulog yang diharamkan, sehingga semua pejabat Golkar yang mendukung keberadaannya kini juga akan termasuk orang-orang yang berbuat haram?

Kenapa bukan Tommy Suharto yang diharamkan, sehingga semua orang yang ada di sekitarnya adalah termasuk yang melakukan perbuatan haram?

Kenapa bukan para penguasa yang sepertinya membiarkan peredaran VCD porno merajalela?

Kenapa bukan mereka yang seakan menutup mata terhadap peredaran bebas minuman keras dan narkoba?

Atau, kenapa bukan mereka, ribuan “Inul-Inul” lainnya yang jauh lebih “Inul” daripada Inul.

Seorang rekan di milis ini berkomentar gusar : “…..padahal jaman sekarang ini susah lho, orang yang mampu meraih prestasi dan sukses dengan tanpa KKN, tanpa katabeletje, melainkan dengan usaha keras, merangkak dari bawah, seperti yang dilakukan Inul”.

Tahun depan, konon kalau jadi, rencananya Inul akan membiayai ibunya naik haji. Ibunya Inul saat ini tengah menerawang jauh, gamang memikirkan bagaimana dia harus melafalkan kalimat : “Kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah….”, beruang-ulang. Ya, “kepenuhi panggilan-Mu” dengan uang haram, karena dia ingat uang pemberian Inul kini berstempel haram (menurut fatwa IKADI).

Jadi, Kenapa harus Inul?

Pertanyaan yang barangkali iramanya sama : Kenapa harus Marsinah, Kenapa harus Pak De (“pembunuh” Dice), Kenapa harus Prabowo Subianto, Kenapa harus Ahmad Wahib? Kenapa harus Abu Bakar Ba’asyir? Mereka adalah bagian dari orang-orang yang terpaksa terpinggirkan menjadi korban “pranata salah mangsa” (sistem salah musim).

Sistemnya sendiri sudah ada sejak dulu. Juga tidak ada yang salah. Namun, pada “musim-musim” tertentu sistem bisa saja salah, disalah-salahkan atau dipersalahkan. Apalagi kalau “musim penghujan yang basah”, sistem bisa menjadi licin dan rentan untuk terpeleset atau dipelesetkan. Wallahua’lam…..

Wassalam,

Tembagapura, 13 Mei 2003
Yusuf Iskandar

Matoa (1)

21 Maret 2008

Matoa adalah nama buah. Bentuknya lonjong, bulat agak memanjang, seperti buah kelengkeng, seukuran telur burung puyuh besar dan ada juga yang lebih besar lagi sedikit. Warna kulit buahnya, kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang menyebut hijau-kekuningan dan kalau sudah matang berubah menjadi coklat kemerahan.

Rasa buahnya “ramai”, dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka yang suka.

Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.

Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin disebut pometia pinnata.

Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.

Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak presiden Megawati mencanangkan penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, pada awal Maret yll.

Dalam rangka program penghijauan nasional itulah, maka Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim dan Gubernur Papua JP Solossa, pada Maret yll. mengawali penanaman 1000 pohon matoa di Kabupaten Mimika.

***

Hari Sabtu, 7 Juni 2003 akhir pekan lalu, Departemen Lingkungan (Environmental) PT Freeport Indonesia melanjutkan gerakan penanaman 1000 pohon matoa. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk kegiatan rekreasi yang melibatkan segenap jajaran management, karyawan dan keluarganya, diselingi dengan acara-acara lomba dan hiburan bagi anak-anak. Maka, 1000 pohon matoa pun segera selesai ditanam beramai-ramai. Penanaman dilakukan di lahan bekas penimbunan tailing (pasir buangan) sisa hasil pengolahan tembaga, di tepi selatan sungai Aijkwa, atau di sisi utara kota Timika.

Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan, bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan kayunya juga cukup indah.

Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Papua.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau ada yang menawarkan matoa yang ukurannya sangat besar dan menjadi makanan kesukaan butho (raksasa), maka itu pasti matoahari….. ..)

Tembagapura, 9 Juni 2003
Yusuf Iskandar