Archive for Agustus, 2009

Ramadhan Dan Para Kafilah Facebook

30 Agustus 2009

Hilal Ramadhan baru saja menyembul. Sholat tarawih malam pertama Ramadhan baru saja usai. Kami sekeluarga bersiap meninggalkan garis Start untuk menjelajah medan laga Ramadhan, semoga Sang Panitia Ramadhan mengijinkan kami menyentuh garis Finish di penghujung Ramadhan 1430H. Tiba-tiba anak saya (Noval, 15 th) sambil membawa buku Qur’an menghampiri dan mengajukan tantangan : “Pak, khatamkan Qur’an, yuk”. Spontan saya jawab penuh percaya diri : “OK, Insya Allah”.

Cuma di balik ajakan atau tantangan anak saya itu sepertinya tersembunyi sindiran, seolah-olah anak saya mengatakan kalau akhir-akhir ini bapaknya kurang rajin membuka-buka kitab suci itu (kata lain untuk ‘kurang rajin’ adalah ‘malas’). Membuka-buka saja jarang, apalagi membacanya. Padahal di rumah kitab suci itu pathing geletak, ada tergeletak dimana-mana. Okelah, mungkin itu sekedar sensitifitas perasaan saya saja sebagai orang tua.

Dalam hati saya berkata : “Siapa takut?”. Meski waktu kuliah dulu nilai matematika saya tidak pernah dapat A, tapi kalau cuma menghitung kemungkinan tercapainya tantangan anak saya itu rasanya cukup mudah. Pengalaman saya menunjukkan bahwa kecepatan baca Qur’an saya rata-rata 1 juz/jam. Kecepatan yang masih dalam batas aman, sebab kalau terlalu ngebut khawatir melanggar rambu-rambu tajwid (ilmu tentang cara melafalkan dan membaca Qur’an). Kaidah yang harus dipegang memang bukan ‘lebih cepat lebih baik’, melainkan ‘lanjutkan’ meski grothal-grathul

Jadi kalau dalam satu buku Qur’an itu terdiri dari 30 juz, maka kalau saya mau meluangkan waktu sejam per hari (lagi-lagi) Insya Allah saya akan bisa mengkhatamkannya. Atau, kalau mau di-breakdown menjadi dua kali baca Qur’an per hari, malam dan siang masing-masing setengah jam, juga bisa. Atau, setiap habis sholat fardhu, menyempatkan 12 menit baca Qur’an juga masih feasible dikerjakan. Sudah puluhan kali Ramadhan saya praktekkan dan terbukti bisa saya kerjakan.

Ya… ya…., lalu muncul pertanyaan : Meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca tulisan Arab yang enggak ngerti maksudnya? Tunggu dulu, untuk apa buang-buang waktu…?

Kaidah kedua nampaknya perlu dipahami. Lakukan dulu perintah-Nya, setelah itu silakan dikaji dan dipelajari logika maksud, tujuan dan pencapaiannya. Tapi jangan lalu dibalik, sebab nanti bisa terjadi karena tidak logis (menurut kemampuan akal manusia saat ini) maka lalu tidak usah dilakukan saja.

Namun diam-diam saya bersyukur masih bisa berlapang dada mendengarkan ajakan anak saya dan bahkan merasa panas dan terprovokasi. Sebab di jaman banyak orang tua mengeluh tentang anak sekarang yang katanya susah dinasehati, suka membantah dan suka ngeyel, tapi kalau ada anaknya yang mengajak kebaikan orang tua suka pura-pura tidak mendengar dan pura-pura sibuk. Lalu tiba-tiba minta dimaklumi kalau kemudian merasa capek karena kesibukannya itu dan terkadang malah berkilah sambil berkata anaknya sok tahu dan malah berbalik menasehati ini-itu.

Hari demi hari Ramadhan berlalu. Sebagai orang tua wajar kalau kemudian berlaku sok bijaksana (inilah salah satu keahlian yang perlu dimiliki orang tua), lalu mengajukan nasehat kepada anaknya : “Kayaknya lebih bagus kalau bisa khatam dua kali selama Ramadhan, wong dulu bapak juga bisa”. Nasehat yang beraroma tantangan ini rupanya direspon sama anak saya.

Tapi ya itu tadi, dasar anak sekarang. Menerima tapi dengan syarat. Kepada ibunya dia berbisik : “Bisa khatam dua kali asal nanti dibelikan honda….” (mungkin karena perlu membaca agak ngebut maka perlu tunggangan yang bernama honda). Akhirnya saya jawab : “Oke boss, Insya Allah beres” (anak saya ini waktu balita dulu suka dipanggil ‘boss’ dan sampai sekarang terkadang saya terbawa menyebutnya begitu…). Tentu saja persetujuan saya juga pakai syarat.

Pertama, lakukan tapi jangan karena hondanya (apapun sepeda motor yang diinginkannya, sebut saja honda…). Kedua, jangan hanya mengkhatamkan baca Qur’an tetapi setelah Ramadhan harus dilanjutkan dengan mempelajari untuk memahami maknanya dan mengamalkannya. Akhirnya deal dan anak saya pun nyengenges….

Belajar untuk memahami makna bacaan Qur’an dan lalu mengamalkannya adalah sama pentingnya dengan membaca tulisan Arabnya yang enggak dimengerti maksudnya itu. Itulah yang banyak terjadi, merasa sudah puas kalau sudah membaca thok. Tetapi karena membaca thok pun punya nilai ibadah, maka tidak apalah memulai membaca sebisa-bisanya. Sebab kalau tahu-tahu mempelajari maknanya dan mengamalkannya tapi tidak pernah tahu bacaan aslinya juga bisa tinggal menjadi kenangan dan khayalan.

Kaidah ketiga perlu saya tanamkan, yaitu : bacalah, pahami dan amalkan. Jangan karena merasa tidak bisa memahami dan mengamalkan lalu berkata mendingan tidak usah dibaca saja. Hingga akhirnya sepanjang badan mengandung hayat ya hanya sibuk berlindung dibalik kata-kata “percuma kalau tidak tahu artinya dan tidak diamalkan”. Begitu selamanya hingga skak-mat dan game over….. Wallahu a’lam….

***

Jadi, demi mendengar tantangan anak saya yang nadanya agak provokatif itu lalu membuat saya sesumbar dalam hati : “Ah kecil, Insya Allah…..”. Kata ‘Insya Allah’ harus selalu saya gunakan, karena saya takut rasa percaya diri saya yang berlebihan berubah menjadi kesombongan.

Itu teorinya, Bung…!. Prakteknya? Ngudubilah enggak mudah….. Tapi terkadang heran juga, meluangkan sedikit waktu untuk sebuah kebaikan rasanya sulit dan berat sekali. Sementara methentheng (melotot) di depan layar internet sambil ngublek-ublek Facebook serasa waktu sejam tidak cukup. Bahkan panggilan adzan pun sering lewat begitu saja. Bagai peribahasa mengatakan biarlah panggilan adzan berkumandang para kafilah Facebook tetap berlalu….

Kini saya mesti siap-siap untuk membelikan honda sebagai “pahala” tambahan bagi anak saya nanti usai Ramadhan. Insya Allah, bisalah….. Sesial-sialnya kalau nanti tabungan saya tidak cukup, tinggal cari dana talangan Rp 500 ribu untuk DP sudah bisa nyangking honda. Cicilannya nanti diurus belakangan, masak kalah sama pemudik lebaran. Kalau perlu dipikir sambil tidur, toh tidurnya orang berpuasa juga ibadah….. Ugh…!

Yogyakarta, 30 Agustus 2009 (9 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Ngantukan

29 Agustus 2009

Siang hari puasa, sedang menjadi tamu di sebuah kantor di Jakarta. Sementara dihadapkan dengan komitmen yang harus diselesaikan segera, lha kok mata ini rasanya nguantuk sekali. Kalau saja terjadinya di luar Ramadhan, resepnya almarhum Mbah Surip bisa ditiru….. ngopi, ngudut wal-ngemil sepuasnya, dijamin melek lagi. Lha ini pas puasa Ramadhan, mata rasanya berat sekali. Dibawa jalan-jalan malah seperti macan luwe (lapar), mendingan kalau putri Solo, enak dipandang… Mau cuci muka bolak-balik, nanti malah dikira tukang pel toilet.

Saking tidak tahannya, akhirnya pamit pada teman di sebelah : “Sampeyan silakan lanjutkan pekerjaannya, saya mau tidur dulu sebentar…”. Lha memang obatnya orang ngantuk itu ya hanya ada satu, yaitu tidur. Tidak lama langsung mak lerrr….. Lima belas menit kemudian terbangun, badan terasa lebih segar. Tidurnya orang berpuasa memang efektif dan berkualitas, sebab Tuhan berkepentingan untuk menjaga kualitas orang-orang yang ikhlas dengan puasanya yang puasa itu hanya karena untuk menghamba kepada-Nya. Bukan karena alasan lain.

***

Usai merampungkan komitmen di Jakarta, esok harinya saya harus kembali ke Jogja. Sudah enggak sabar rasanya kepingin sampai di rumah. Kangen keluarga? Bukan, tapi kepingin tidur lebih pulas…., agar tubuh kembali prima untuk berbisnis dengan Ramadhan.

Dari kawasan Buncit Raya menuju ke bandara Cengkareng, hari Jumat sore. Ini saat-saat yang harus diwaspadai, mengingat sore menjelang week-end dan buka puasa, lalulintas bisa sangat padat-merayap, termasuk jalan tolnya. Pengalaman sebelumnya saya pernah hampir ketinggalan pesawat, bahkan sekali waktu pernah juga ditinggal beneran

Berbasa-basi seperlunya dengan sopir taksi Transcab yang ada televisinya. Sambil menonton siaran TV One, lalu menitipkan sejumlah uang kepada pak sopir untuk membayar tol. Tidak lama kemudian saya tidak lagi mampu mengendalikan rasa kantuk, dan akhirnya mak lerrr…tertidur di taksi, tinggal Bang One gantian menonton saya. Baru bangun ketika pak sopir tanya mau diantar ke Terminal mana. Ternyata saya sudah melewati gerbang tol terakhir sebelum tiba di Cengkareng, entah tadi lewat jalan mana saja saya tidak tahu.

Turun dari taksi agak gliyeran (sempoyongan), lapar, baru bangun tidur di taksi dan masih rada ngantuk. Saya langsung menuju Terminal B, check-in untuk pesawat Batavia Air yang menuju Jogja. Masih cukup waktu untuk duduk-duduk di ruang tunggu. Tapi justru karena itu saya jadi ngantuk lagi. Kursi di ruang tunggu tidak dilengkapi sandaran kepala, padahal rasa kantuk tak lagi bisa dikendalikan. Akhirnya mak tekluk…. leher patah ke depan, ke belakang, serong kanan, serong kiri, mak lerrr…… Lama-lama leher ya rada sakit juga.

Daripada dilirak-lirik bule perempuan yang sepertinya asyik baca buku tapi sambil mencuri-curi pandang ke arah saya, sebelum saya ge-er mendingan saya bangun lalu keluar dari ruang tunggu. Tujuan saya mencari-cari tempat takjil (makanan buka puasa) gratisan yang memang biasanya ada di bandara. Benar juga memang ada. Setelah mengambil satu paket takjil lalu datang panggilan boarding naik pesawat. Tumben, sore-sore begini pesawat Batavia bisa on-schedule. Sejujurnya, saya rada surprise….

Ketika pesawat mulai atret hendak terbang ke Jogja, mbak pramugari memberitahu bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Paket takjil gratisan pun saya buka dan makan-minum seperlunya sekedar membatalkan puasa. Tidak lama kemudian saya tertidur lagi, dan bahkan saya tidak tahu saat-saat pesawat take-off, karena tahu-tahu mendengar halo-halo pramugari bahwa dalam waktu beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di bandar udara Adisutjipo.

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat di rumah saat seluruh penghuninya sedang sholat tarawih, sehingga saya harus meloncat pagar rumah yang terkunci dan menunggu di teras belakang rumah. Untung tidak saya tinggal tidur lagi di teras….

***

Ini memang sepenggal dongeng tentang ngantuk di kala puasa Ramadhan. Ngantuk adalah rahmat, sebab betapa banyak orang yang harus pergi ke dokter karena tidak bisa ngantuk dan tidur. Beruntunglah orang-orang yang masih bisa ngantuk lalu bisa pula mengobatinya dengan tidur. Lebih beruntung lagi orang-orang yang bisa menikmati ngantuknya seperti apa adanya, sebab ngantuk itu tidak bisa di-manage untuk disetel jadwalnya, melainkan disiasati bagaimana menghadapinya.

Di antara tanda-tanda orang berpuasa adalah ngantukan atau gampang ngantuk, alias sedikit-sedikit ngantuk (ngantuk kok cuma sedikit…?) yang disebabkan oleh karena kurang tidur akibat banyak menggunakan waktu meleknya untuk berbisnis dengan Ramadhan. Itulah yang memang dianjurkan agama. Maka ngantuknya dan kalau kemudian tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah bernilai ibadah. Sesuatu yang mengandung kebaikan tentu ada nilainya di mata Tuhan. Nilai positif itu yang kemudian berjudul pahala.

Ini hanya soal logika saja. Sebenarnya tidak perlu menunggu puasa Ramadhan untuk mengatakan hal ini. Daripada melek tapi malah omongan dan kelakuannya tidak karuan, maka tidur tentu lebih baik. Jadi tergantung pembandingnya, sebab bisa saja tidur adalah bernilai bencana meski sedang berpuasa kalau dengan tidur lalu keluarganya keleleran karena malah tidak berusaha mencari nafkah bagi keluarganya.

Memang banyak ustadz dan penceramah yang dengan bersemangat jihad berkata dalam bahasa londo Arab, menyebut ada Hadits yang bunyinya begini : naumush-shooimun ‘ibadah (tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah)….. Sementara kalangan menilai bahwa penggalan kalimat Hadits itu adalah dhoif (lemah), bahkan cenderung maudhu’ (palsu). Oleh karena itu baiknya dikembalikan ke perkara pokoknya saja, bahwa ibadah itu berbanding lurus dengan ikhtiar.

Tidur mulu… tidak ngapa-ngapain kok dapat pahala, tidak melakukan aksi kok berharap ada reaksi, tidak melakukan kebaikan apapun kok berharap dapat bonus pahala…. Lha kok nyimut….. Itu melawan sunatullah. Bukan itu amal yang pantas dipahalai. Ngantuk akibat kurang tidur menjadi bernilai ibadah kalau waktu malamnya dimanfaatkan untuk berbisnis dengan Ramadhan, tadarus, sholat malam, dzikir, dsb. Lha kalau ngantuk karena malamnya untuk ndugem dan cekakak-cekikik tak jelas juntrungannya…., ya enggak apa-apa juga sih, cuma jangan lalu esoknya berlindung di balik Hadits imitasi bahwa naumush-shooimun ‘ibadah…. Enggak ada itu, enggak ada….!

Cuma perlu hati-hati, bahwa batas antara niat ibadah dan niat malas itu tipis sekali. Hanya diri masing-masing dan Tuhan yang tahu, sebagaimana puasa itu langsung dipersembahkan kepada-Nya, tanpa perantara ustadz, kyai atau imam, dan tanpa alat bantu apapun, tidak juga sarung, kopiyah, baju koko, sajadah, uang infak, dsb. Wallahu’allam…

Yogyakarta, 29 Agustus 2009 (8 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Mbah Surip

23 Agustus 2009

Puasa-puasa begini…. Minggu pagi menjelang siang, bangun dari tidur (sengaja) agak ditunda-tunda (rasa ngantuk sehabis sahur itu memang nikmat sekali kalau bisa ditindaklanjuti dengan tidur, agak berbeda sensasi liyer-liyer-nya dibandingkan ngantuk saat malam hari). Tiba-tiba saya teringat almarhum Mbah Surip. Kata Mbah Surip : “Barangsiapa ingin awet muda dan hidup bahagia di dunia ini, kurangin tidur dan banyakin ngopi…”

Mendadak saya khawatir,  jangan-jangan yang dikatakan Mbah Surip itu bukan guyonan melainkan sungguhan. Untuk bisa tahan ngurangin tidur alias melek lebih lama biasanya perlu dibantu dengan ngopi alias minum kopi. Anjuran gaya hidup versi Mbah Surip ini sepertinya pas benar untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini.

Jangan-jangan yang dimaksud Mbah Surip dengan ngurangin tidur adalah agar lebih banyak waktu melek di malam hari buat sholat malam dan baca kitab suci. Sebab kata Imam Ibnul Qayyim : “Sesungguhnya shalat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya”, maka minimal satu syarat agar tampak awet muda terpenuhi. Selain itu juga terpenuhinya salah satu syarat untuk hidup bahagia, sebab sebuah kajian mengatakan bahwa sholat malam itu mampu menghilangkan stress dan meningkatkan kekebalan tubuh pelakunya. Belum lagi kemuliaan yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. dan terkabulnya setiap doa. Mbah Surip memang ruarrr biasa… eh, sholat malam maksudnya…

Tapi Mbah Surip benar. Akibat dari kurang tidur di malam hari, maka esoknya usai makan sahur, sholat subuh, tadarus baca Qur’an bagi yang sempat, lalu jadi ngantuk pingin tidur. Tidur sehabis subuh ini luar biasa nikmatnya, hingga terasa berat ketika beberapa menit kemudian harus bangun untuk memulai aktifitas. Akhirnya, bangun tidur…, lalu tidur lagi… Bangun lagi…, ya tidur lagi… ha..ha..ha..ha… (untungnya hari pertama dan kedua Ramadhan kali ini jatuh di hari Sabtu dan Minggu).

Berat nian berbisnis dengan Ramadhan. Tapi imbalan yang dijanjikan Tuhan memang tidak baen-baen… Kata Beliau : “Puasa ini untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. Bayangkan, Tuhan sendiri yang akan menyematkan brevet puasa dan segenap asesori yang menyertainya. Sempat disalami Pak Bupati saja bisa membuat baju yang dipakai tiba-tiba serasa sesak semua. Lha ini Allah swt. sendiri yang akan turun tangan mengalungkan medalinya. Subhanallah..., sungguh ini impian yang dirindukan oleh setiap hamba yang mengharapkan sebuah akhir yang indah dan sempurna, khusnul khotimah… Kalau saja, ya kalau saja setiap hamba mengetahui rahasia di balik ini…

***

Puasa-puasa begini… Minggu pagi menjelang siang, terlambat bangun, rada ngantuk, agak malas-malas memulai kegiatan (herannya menghidupkan laptop dan menulis dongeng kok enggak malas…), saya tersenyum sendiri mengingat Mbah Surip. Bukan lantaran keanehan dan kejenakaan orang seperti Mbah Surip. Melainkan saya tersenyum karena merasa telah menemukan rahasia yang sedang disembunyikan Tuhan (sebuah kesombongan kecil tidak dalam konteks takabur melainkan pencapaian dari perenungan diri).

Bukan sebuah kebetulan kalau Tuhan mencetak manusia aneh bin nyleneh model Mbah Surip ke muka bumi. Bukan sebuah kebetulan kalau Mbah Surip suka ngomong ceplas-ceplos dan haha-hihi enggak habis-habisnya. Itu karena Tuhan sedang mengingatkan orang-orang di luar Mbah Surip (termasuk keluarga, tetangga, teman, penggemar, pekerja infotainment yang kurang kerjaan, presiden SBY dan saya), agar memetik pelajaran dari hidup dan matinya Mbah Surip, kelakuan dan ucapannya, kelebihan dan kekurangannya.

Orang cenderung tertawa dengan nada dasar G (Guyon, maksudnya), ketika Mbah Surip bilang kurangin tidur dan banyakin ngopi. Tapi ketika kita sedang berbisnis dengan Ramadhan, ternyata anjuran Mbah Surip itulah yang dibutuhkan. Bahwa sebulan ini perlu mengurangi tidur malam guna memberi kesempatan lebih banyak untuk mengkaji kitab suci dan mendirikan sholat malam.

(Segera saya periksa persediaan kopi di dapur, rupanya saya masih punya simpanan kopi Amungme dari Timika dan kopi AAA dari Jambi, perpaduan keduanya sungguh nikmat benar… Saya baca di koran Kompas hari ini bahwa menurut penelitian, manfaat kafein untuk “menyegarkan” tubuh ternyata lebih optimal jika kopi diminum dalam “dosis” yang sedikit-namun-lebih-sering sepanjang hari. Kalau bulan puasa, ya diaturlah…).

Perkara esok paginya, bangun tidur…, tidur lagi… Bangun lagi…, tidur lagi… ha..ha..ha..ha… Itu diatur nanti saja sambil jalan…, atau diselesaikan sambil tidur lagi…

Suwun, Mbah… Semoga kedamaian menyertai Sampeyan…”.

Yogyakarta, 23 Agustus 2009 (2 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1430H

22 Agustus 2009

Puji Tuhan wal-hamdulillah….., hari pertama Ramadhan tahun ini bisa berkumpul di tengah keluarga di Jogja.  Setelah bolak-balik-bolak Jogja-Jakarta (12-15 lalu dilanjut 18-19 Agustus 2009) karena sebuah komitmen, akhirnya hari ini bisa berada di Jogja, sebelum nanti dilanjut lagi balik ke Jakarta.

“Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1430H”.

Jangan lupa, Ramadhan adalah “the Real Business” (lihat Catatan Dari Madurejo).

Yogyakarta, 21 Agustus 2009 (1 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Pincuk Dan Suru

9 Agustus 2009

Pincuk-suruMenyantap sajian bubur pincuk dan suru, ramai-ramai usai jalan sehat Minggu pagi menyongsong 17-an. Pincuk sebagai pengganti mangkuk, suru sebagai pengganti sendok. Keduanya terbuat dari daun pisang. Keduanya kini jadi barang langka di masyarakat Jawa. Perlu ketrampilan untuk dapat menyendok bubur dengan suru lalu menyuapkan ke mulut masing-masing….. (ke mulut sendiri saja susah, apalagi ke mulut orang lain…..)

(Bersama warga masyarakat kampung RW 04 Kalangan, Pandean, Umbulharjo, Yogyakarta, saya dan istri mengikui acara jalan sehat, Minggu pagi hari ini, dalam rangka perayaan 17-an…)

——-

Main Bola Bersarung

Merdeka… bagi bapak-baak berarti main bola pakai daster istrinya atau sarung, tidak pakai sepatu, di lapangan bekas sawah, ketawa-ketiwi, difoto….

(Sekedar kegiatan selingan yang menghibur dalam rangka perayaan 17-an di kampung)

Yogyakarta, 9 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Terbanglah Si Burung Merak

7 Agustus 2009

Kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar
langit di badan
bersatu dalam jiwa

Ws_rendraPenggalan bait puisi itu begitu melekat di kepalaku, sejak aku masih duduk di bangku SMP, lebih 35 tahun yang lalu. Penggalan puisi itu pernah dikutip oleh majalah musik ‘Aktuil’ (almarhum), tertulis dengan warna putih di atas background hitam, lalu dicetak menjadi sebuah poster besar berukuran A0. Poster itu pun pernah menjadi kebanggaanku hingga kutempel di kamar kecilku (maksudnya, kamar yang berukuran kecil…) yang dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) dan papan. Itulah sebabnya aku begitu menghafalnya. Sepertinya belum lama saya selesai membacanya di atas pentas.

***

Kini sang penulis puisi itu, WS Rendra, telah kembali berpulang menghadap kepada Sang Pencipta. Si Burung Merak itu telah menyelesaikan tugas hidupnya meninggalkan tapak-tapak keindahan dalam berperikehidupan, dan terkadang kegarangan dalam berolah pikir.

Bagi sebagian orang, barangkali masih mengingat bagaimana Rendra membaca puisi-puisinya terkadang dengan teriakan lantang dan garang, lalu kemudian dengan nada lembut dan kemayu, atau sesekali datar tanpa ekspresi. Pilihan katanya terkadang terangkai begitu indah dan romantis, tapi ada kalanya mbeling dan keras sesuka udel-nya, atau bahkan polos apa adanya, begitu saja. Namun ketika Rendra membacanya seorang diri di tengah pentas yang luas, panggung seperti menjadi ruang yang sempit karena penuh terisi oleh getaran vokalnya, kelincahan blocking-nya yang memukau dan gaya panggungnya yang memikat bak bulu-bulu indah burung merak.

Gaya bertuturnya banyak menjadi inspirasi bagi penyair-penyair muda. Puisi-puisi Rendra adalah puisi yang membebaskan, terkadang melankolis, dan seringkali malah memerahkan telinga yang mendengarnya. Ada yang menyukainya dan ada yang membencinya. Namun perjalanan ekspresinya tak bisa dihalang-halangi bagai banjir bandang tak terbendung. Begitu pun perjalanan spiritualnya, seperti bergolak di bawah arus yang tampak tenang, karena orang lain tak perlu tahu apa yang ada di bawah alunan gelombang kehidupannya.

Goresan puisi-puisinya kini sampailah sudah pada tetesan tinta yang terakhir, menyertai perjalanan berikutnya kembali menuju kepada Sang Maha Pujangga. Tinggal penggalan-penggalan sajak dan puisinya menebar meninggalkan banyak perenungan. Puisi-puisi yang akan tetap membebaskan apapun yang masih terbelenggu, memperindah apapun yang masih carut-marut dan membersihkan apapun yang masih kotor. Hanya bagi orang-orang yang dapat memahami hakekat hasil oleh pikir dan olah batin penulisnya. Dan penulis puisi itu adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra alias Si Burung Merak.

Selamat jalan Mas Willy… Terbanglah Si Burung Merak dalam damai bersama hembusan angin penuh pengampunan menuju ke haribaan Sang Penguasa Angkasa Raya.

“Kalau politik itu kotor, maka puisilah yang akan membersihkannya”, kata John F. Kennedy. Semoga puisi-puisimu yang tak kan lapuk oleh hujan dan tak kan lekang oleh panas, pada saatnya akan membersihkan kotoran-kotoran yang menyisip di sela-sela jari kaki bangsamu dan bangsaku yang sedang resah dan gelisah dirundung berbagai godaan nafsu serakah dan amarah.

Yogyakarta, 7 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Note :
WS Rendra meninggal dunia pada Kamis malam, 6 Agustus 2009 (dua hari setelah Mbah Surip)

Inspirasi Mbah Surip

5 Agustus 2009

Mbah Surip : “Barang siapa ingin awet muda dan hidup bahagia di dunia ini, kurangin tidur dan banyakin ngopi….”.

Meski begitu toh….. Bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi…… ha..ha..ha..ha….

Yogyakarta, 5 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

***

Tiada seniman yang begitu menginspirasi melainkan Mbak Surip, dan Mbah Surip adalah utusan ‘orang-2 gila’ yang turut membuktikan mampu mengubah ‘dunia’….

“Mbah, sampeyan ini berpulang kok yo mbarengi tabrakan kereta di Bogor to…. Mugi amal soleh sampeyan, sodaqoh kemana-mana, menyenangkan orang kemana-mana, diterima Gusti Allah…”. Mantep to.., enak to.., ha..ha..ha..ha..wa-innalillahi wa-inna ilaihi roji’un…

Yogyakarta, 4 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Mbah Surip

4 Agustus 2009

Mbah Surip“God must love crazy people…”, kata Chacin kepada Rambo ketika tahu kenekatan Rambo akan masuk ke Afghanistan seorang diri sementara orang-orang ‘gila’ sebelumnya belum pernah ada yang selamat bisa keluar (cuplikan dialog dalam film “Rambo 3”).

Hari ini saya dikejutkan dengan meninggalnya Mbah Surip, seniman ‘gila’ yang bagi saya menjadi inspirasi bagi pembuktian bahwa sukses itu tidak berbanding lurus dengan umur, penampilan, pemikiran atau urusan materi. Sepanjang hidup saya pernah menggemari seniman musik, teater, tari, lukis, kriya dan film. Namun belum pernah ada yang begitu membekas di alam pemikiran saya seperti ketika kenal Mbah Surip.

Mbah Surip telah berhasil mewakili crazy people yang di-must love-i oleh God….. Sukses Mbah Surip diraih ketika anggapan persyaratan umur, penampilan, pemikiran atau pernik-pernik urusan materi tidak lagi terpenuhi. Banyak sedekah, selalu berdoa dan visi sederhananya untuk menyenangkan orang lain digendong kemana-mana sebagaimana Mbah Surip menggendong siapa saja yang mau digendongnya. “Tak gendong kemana-mana… Mantep to…, enak to…., ha…ha…ha…ha…”.

Orang boleh saja mengatakan Mbah Surip meninggal karena kelelahan, kebanyakan ngudut rokok kretek dan kebanyakan ngopi, sementara makannya tidak teratur. Tipikal orang-orang ‘gila’ atau gelandangan yang makan dan tidurnya memang tidak perlu diatur. Tetapi ‘ketidak-teraturan’ hidup Mbah Surip itulah yang merangsangnya menggapai sukses di hari tuanya.

Perlu kegilaan untuk menjadi seperti Mbah Surip. Dan herannya orang-orang ‘gila’ seperti Mbah Surip itulah yang justru dicintai Tuhan, dalam makna bahwa Tuhan akan membuktikan hukum alamnya (sunatullah) bahwa setiap kerja keras yang disertai doa tulus pasti, sekali lagi pasti, akan membuahkan hasil. Pasti, dalam konotasi sebagai perwujudan terbaik menurut sudut pandang Tuhan.

Saya tidak tahu apakah Mbah Surip ini tergolong sebagai umat yang tekun beribadah atau tidak. Namun setidak-tidaknya, keyakinannya akan arti sebuah kerja keras, semangat untuk berbagi dan memberi, dan berdoa hanya dan hanya kepada Tuhan, adalah cermin kesalehannya sebagai seorang hamba. Hamba yang ‘gila’. Hamba yang berpikir out of the box, bahkan box-nya telah disobek-sobeknya. Hamba yang tidak pernah ‘mati’ karena Mbah Surip tidak pernah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya. Hamba yang akan melakukan apa saja bahkan dengan medium yang bagi orang awam dianggap aneh. Hamba yang berani membuat terobosan. Hamba yang berpikir paradoksal, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Hamba yang begitu menikmati arti kemedekaan…. (sebentar lagi perayaan 17-an).

Mbah Surip di usia senjanya seperti sebuah kelahiran baru (aneh, lahir langsung tua…) tetapi membawa spirit tentang sukses dan tentang kemauan keras untuk sukses. Tidak perduli teori atau hukum apapun yang diyakini orang lain, melainkan keyakinannya bahwa Tuhan akan menyertai orang-orang ‘gila’. Kebebasan berekspresi, kata para seniman. Kemerdekaan hidup, kata orang-orang yang pernah mengalami penjajahan.

“Selamat jalan, Mbah….. Hati-hati di jalan ya, di Bogor ada tabrakan kereta, di Papua ada pesawat keblusuk, di Natuna ada kapal klelep….. Insya Allah, amal saleh Sampeyan dicatat di buku besarnya Tuhan Yang Maha Jujur, Adil, Rahasia dan Demokratis, tidak seperti catatannya orang-orang yang Sampeyan kenal selama ini”.

Merdeka, Mbah…!

Yogyakarta, 4 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Mewakili ekspresi saya tentang Mbah Surip, berikut ini kutipan catatan status saya di Facebook :

Tiada seniman yg begitu menginspirasi melainkan Mbak Surip, dan Mbah Surip adalah utusan ‘orang-2 gila’ yg turut membuktikan mampu mengubah ‘dunia’…. (04/08/09).

“Banyak orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya”, kata Spike Lee, sutradara film “Miracles at St. Anna”. (03/08/09).

“Aku tidak hanya berpilkir ‘out of the box’. Aku telah merobek-robeknya…..”. Penggalan dialog dalam film “The Fast And The Furious III”. (01/08/09)

“Pagi, Mario…..”

3 Agustus 2009

“Banyak orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya”, kata Spike Lee, sutradara film “Miracles at St. Anna”.

Kata-kata mas Spike ini memang tidak seberapa menjengkelkan. Terngiang-ngiang di kepala hingga terbawa tidur, lalu bermimpi ketemu mas Spike.

Njuk, gimana mas agar tidak mati?”.
“Ya, cintailah pekerjaanmu”, katanya.

“Tapi bagaimana caranya agar dapat mencintai pekerjaan?”.
“Sama persis seperti bagaimana sampeyan mencintai istri, suami, anak, sahabat, selingkuhan…… Yaitu melihat segala sesuatunya dari sisi positif, apapun yang ada di depan panca indera, mata, telinga, hidung, tenggorokan, hati, plus indera keenam, kalau punya. Pokoknya jangan sekali-kali menimbang-nimbang sisi buruknya. Semuanya harus dibuat baik, indah, menyenangkan dan menantang, agar sampeyan kreatif dan selalu berkeinginan untuk maju dan berprestasi…”, jawabnya lagi.

Weleh…, susah je… Bagaimana kalau tetap enggak bisa juga?”
Jawab mas Spike : Ya ganti pekerjaan aja! Cari pekerjaan lain yang bisa dicintai. Tapi haqqun-yakil, biasanya keadaan seperti sebelumnya akan terulang kembali. Semakin sering ganti pekerjaan akan semakin bertambah fly-watch sampeyan meraih peluang untuk berpengalaman ‘menjadi orang mati setelah diperbudak oleh pekerjaan yang tidak dicintainya’……

Lalu, sambung mas Spike lagi : Kalau sampeyan belum percaya, tanya saja sama Mario… : “Pagi, Mario….”. Maka pesannya adalah : Jangan menambah jumlah orang-orang yang sudah ‘mati’, lalu perhatikan apa yang akan terjadi….

Yang akan terjadi ya jumlah orang ‘hidup’ semakin banyak…. Tapi ‘hidup’ yang bermanfaat yang akan mewarnai kehidupan itu sendiri, seperti Mario tidak sengaja menumpahkan cat dan mewarnai tembok rumahnya.

Tapi tunggu dulu, “Emangnya kalau ‘mati’ nappa….?”.
Ya enggak apa-apa, wong cuma berangkat pagi, pulang malam, tiap bulan terima gaji, ngona-ngono …, begita-begitu setiap hari, dan kalau akhirnya tidak memperoleh promosi lalu memelas merasa didholimi…. (Lha ya siapa yang sempat-sempatnya mendholimi orang ‘mati’, enggak ada untungnya babar blass…., yang ada malah didoakan agar dosa-dosanya diampuni…..).

Saya pun terbangun : “Matur nuwun, mas Spike…”.

Yogyakarta, 3 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

‘Anim’ Dan ‘Sentheng’

2 Agustus 2009

‘Anim’ dan ‘sentheng’, keduanya bukan nama anak yang haus permainan murah-meriah tapi di-plokotho dengan ayat-ayat judi…..

“Awas ‘anim’…!”, teriak ‘boss’ saya tiba-tiba yang agaknya masih trauma setelah kemarin moncong mobilnya saya serempetkan dinding tembok. Saya pun lalu dengan sigap menghindari ‘anim’ ketika mengemudikan kjang masuk ke gang sempit. Tapi anak saya justru yang bengong: “Apa ‘anim’…?

‘Anim’ adalah kosa kata pasaran dalam bahasa Jawa sejak jaman pendudukan Belanda dulu yang sekarang sudah langka digunakan orang. Hanya orang-orang tua Jawa yang masih sering menggunakan kata ini dalam percakapan sehari-hari. Biasanya untuk menyebut tiang listrik atau hal-hal yang berbau listrik PLN (listrik kok bau…..). Naga-naganya kata ini berasal dari bahasa Belanda yang “dijawakan”. Maka pantas saja kalau anak-anak Jawa sekarang tidak familiar dengan kata ini, sebab kedengaran aneh.

Selain ‘anim’, ada juga yang menyebut tiang listrik atau tilpun yang terbuat dari besi dan biasanya bercat hitam pekat dengan sebutan ‘sentheng’. Kata ini pun sekarang jarang digunakan. Maka jangan heran kalau ada orang Jawa yang tidak mengenal kata ini. Padahal kata ‘sentheng’ kedengaran lebih gaul…, cocok untuk nama cafe, diskotik atau geng motor, dengan asesori yang serba hitam seperti dukun. Atau jangan-jangan malah dikira nama jenis makanan, sebab konon dulu pernah ada pejabat yang masuk bui gara-gara ‘sentheng’ se-kabupaten dimakannya…..

Sekarang musim agustusan, jadi boleh juga kalau ada ide mengadakan perayaan 17-an dengan lomba panjat ‘sentheng’, asal jangan makan ‘sentheng’….

Hidup ‘anim’…, hidup ‘sentheng’…. Merdeka….!

Yogyakarta, 2 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Berpikir “Out of the Box”

1 Agustus 2009

“Aku tidak hanya berpilkir ‘out of the box’. Aku telah merobek-robeknya…..”

(Penggalan dialog dalam flm “The Fast And The Furious III”. Jangan-jangan penulis ceritanya adalah penggemar Thukul…..)

Yogyakarta, 1 Agustus 2009
Yusuf Iskandar