Posts Tagged ‘merapi’

Yang Tak Berdaya Dan Yang Peduli

6 Maret 2011

Tulisan berikut ini adalah kumpulan dari cerita status (cersta) yang saya tulis di Facebook.

***

Beberapa hari terakhir ini saya menerima amanah berupa barang dan transferan dana dari beberapa sahabat yang minta disalurkan untuk korban Merapi, erupsi maupun lahar dingin. Mereka minta untuk tidak disebutkan namanya. Haha.., terpaksa harus kupenuhi.

(Sebenarnya kalau selama ini saya menyebut nama itu bukan untuk pamer atau narsis, melainkan dalam rangka kompor-mengompor tentang kebaikan dan laporan bahwa amanahnya sudah saya tunaikan).

(1)

Sekecil apapun yang dapat saya lakukan, maka akan saya lakukan (insya Allah). Sama seperti yang dilakukan para relawan di lokasi bencana dan orang-orang lainnya. Saya hanya ingin menjadi bagian keciiil… saja dari kehidupan para korban bencana.

Sejauh ini saya tidak pernah sengaja menggalang dana, melainkan sekedar berbagi cerita ngalor-ngidul. Jika kemudian ada yang mengirim dana untuk disalurkan, maka saya berusaha menunaikan amanah itu sebaik-baiknya.

(2)

Beberapa sahabat mentransfer sejumlah dana yang nilainya tidak kecil. Warung Mandiri dua unit sudah berdiri di Glagaharjo (dari sorang rekan di Papua) dan dua unit lagi sedang disiapkan di Kepuharjo dan Kinahrejo (dari seorang rekan di Jakarta). MCK di Glagaharjo sedang dibangun, juga mushola sedang dirancang.

Glagaharjo, Kepuharjo dan Kinahrejo (Umbulharjo) adalah kawasan yang rata dengan tanah tersapu awan panas dan nyaris berubah menjadi padang pasir.

(Note: Saat ini, tiga bulan setelah hantaman awan panas Merapi, kawasan itu mulai menampakkan nuansa hijau oleh tanam-tanaman yang mulai tumbuh, walau masih sangat sedikit).

(3)

Tambahan material untuk dinding dan jendela huntara (hunian sementara) untuk pengungsi di dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, Magelang, sudah dikirim (dari dua orang rekan entah dimana). Sejumlah rumah lenyap tersapu lahar dingin di dusun ini.

Huntara ini adalah shelter semi permanen berupa rumah panggung terbuat dari konstruksi bambu di atas lahan persawahan. Layak untuk dihuni sebuah keluarga kecil dan dibangun secara swadaya.

(Note: Kalau saya sebut rekan entah dimana, itu karena saya memang tidak tahu dimana sesungguhnya kedua rekan ini berada, tapi transferan dananya saya terima).

(4)

Alat tulis dan permainan anak sudah dibelanjakan untuk dua TK di desa Sirahan, kecamatan Salam, yang sekolahnya lenyap disapu lahar dingin. Sedangkan anak-anak sementara sekolahnya menyebar di beberapa lokasi. Juga baju seragam pramuka untuk siswa SD yang sekolahnya tertimbun material pasir lahar sudah disiapkan. Pengiriman akan segera dilakukan. Tambahan bantuan logistik untuk pengungsi korban lahar dingin segera juga akan disusulkan…

(5)

Tentu saja semua aktivitas distribusi, alokasi dan penyiapan bantuan itu tidak saya lakukan sendiri melainkan bekerjasama dan didukung oleh banyak pihak, baik yang di Jogja maupun yang di lapangan. Khususnya saya banyak dibantu oleh tim relawan mandiri yang komitmen dan dedikasinya tidak diragukan. Sedang mereka adalah orang-orang yang tidak menerima upah dari siapapun malahan patungan untuk membiayai operasi mereka sendiri.

(6)

Bantuan berupa alat komunikasi HT menjadi “senjata” para relawan untuk saling komunikasi tentang perkembangan situasi. Saat ini, saat musim hujan tak menentu, saat jutaan m3 material vulkanik menunggu menggelontor, saat masyarakat di bantaran sungai was-was, saat ancaman banjir lahar dingin bisa tak terkira besarnya…

Maka para relawan tanpa tanda pengenal ini pun siaga full tidak setengah-setengah… memonitor situasi.

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

(7)

Dua hari terakhir ini saya menerima transfer susulan sejumlah dana dari Papua dan Jakarta untuk disalurkan bagi korban bencana Merapi. Rekan dari Jakarta memberi catatan bahwa dana itu sebagai zakatnya. Maka saya merasa perlu memberi “special treatment” terhadap dana zakat ini agar tidak menyimpang dari SOP tentang per-zakat-an yang obyeknya lebih bersifat personal ketimbang prasarana umum.

(8)

Seorang relawan di kaki selatan Merapi yang mendampingi korban Merapi di wilayah Cangkringan melapor bahwa biaya pembuatan MCK membengkak karena atas permintaan warga konstruksinya dibuat lebih permanen. Belum lagi, ada 16 warga desa Glagaharjo yang meminta bantuan dinding gedheg untuk memulai “membangun kembali” rumahnya, sedang mereka tidak punya akses memperoleh bantuan dari luar. Hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(9)

Relawan lain di kaki barat Merapi yang memantau ancaman banjir lahar dingin dan memfasilitasi penyaluran bantuan untuk korban banjir lahar menyampaikan permintaan usulan bantuan untuk penyelesaian 10 huntara (huntian sementara) rumah bambu bagi warga bantaran sungai Pabelan di dusun Prumpung, Muntilan, yang rumahnya lenyap disapu lahar dingin. Juga hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(10)

Ya, ya… Memang ya tidak mungkin, membantu semua pihak yang tak berdaya yang membutuhkan bantuan, sementara sumber bantuan sangat terbatas.

Maka baiknya dicari yang paling mungkin, yaitu mempertemukan mereka yang tak berdaya dengan mereka yang peduli, dengan kesadaran dan keikhlasan atas segala keterbatasan masing-masing… Lalu katakana: “It’s a beautiful world!”.

Yogyakarta, 4 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tentang Banjir Lahar Dan Anak Sekolah Desa Sirahan

10 Februari 2011

Berikut ini catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, pada tanggal 4 Pebruari 2011 dalam rangka mencari informasi lebih lengkap tentang kemungkinan untuk memberi bantuan bagi sekolah TK dan SD yang hancur terkena hempasan banjir lahar dingin Merapi. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Hari masih siang sebenarnya ketika saya dan teman-teman tiba di desa Sirahan, kecamatan Salam, Jum’at kemarin. Tapi mendung tampak menggelayut merata hingga ke utara ke arah Merapi. Siluet gunung Merapi sesekali membayang.

Saat kami tiba di Sirahan, beberapa orang yang rencananya mau ketemuan ada yang sudah meninggalkan desa. Mendung tebal dan merata adalah tanda-tanda awal untuk siaga penuh bagi masyarakat di sepanjang aliran kali Putih.

(2)

Beruntung kami masih sempat menjumpai dua orang guru TK. Bu Watik (guru TK Pertiwi) yang bangunan sekolahnya lenyap tanpa bekas dan bu Ida (Kepala TK Ibnu Hajjar) yang setengah bangunan sekolahnya hilang dan kini porak poranda. Keduanya terkena terjangan banjir lahar dingin dua minggu yll. Kedua orang guru TK itu pun sudah siap-siap hendak meninggalkan lokasi.

(3)

Bu Watik kini sibuk mengalihkan kegiatan belajar ke-25 anak didiknya ke sebuah rumah warga, tidak jauh dari lokasi TK Pertiwi semula, tapi posisinya lebih aman. Belajarnya sambil duduk lesehan di atas tikar seperti makan gudeg lesehan Malioboro. Alat peraganya seadanya sebab tak satu lembar buku dan sebatang kapur tulis pun selamat dari hempasan lahar dingin.

(4)

Bu Ida harus kami jemput ke tenda posko di tepi sungai agar bisa ngobrol di tempat yang lebih aman yaitu di selasar masjid Sirahan. Kegiatan belajar ke-119 anak didiknya di TK Ibnu Hajjar kini tersebar di tiga lokasi berjauhan ditangani sembilan orang bu gurunya. Ada yang dekat barak pengungsian, ada yang di desa utaranya dan ada yang di selatan desa yang antar keduanya aksesnya terputus. Ketiga lokasi belajar itu tentu saja dalam kondisi darurat.

(5)

Praktis dari kedua sekolah TK itu tak satu pun perlengkapan belajar yang masih dapat digunakan. Walau satu ruang kelas TK Ibnu Hajjar masih nampak utuh, tapi rupanya isi di dalamnya sudah diambil alih digantikan oleh timbunan pasir. Meja-kursinya entah terpindahkan kemana.

Maka bantuan berupa apapun akan sangat berarti bagi anak-anak, begitu kira-kira kata kedua guru itu. Sarana bermain, diharapkannya. Agar anak-anak tidak hanya berlarian tiap hari.

(6)

Datangnya banjir lahar dingin memang begitu cepat. Lebih-lebih tidak disangka bakal sedahsyat itu sehingga tidak melakukan tindakan penyelamatan apapun.

Menurut bu Ida yang pada malam kejadian itu sedang ada di masjid di dekat TK-nya: “Datangnya kurang dari 30 menit sejak dikabarkan dari lereng Merapi akan datang banjir lahar”. Sedangkan TK Ibnu Hajjar sebenarnya tidak berada dekat aliran sungai Putih, bahkan masih terpisah dengan jalan aspal Gulon-Ngluwar…

(7)

Pada malam terjadinya banjir lahar (16/01/11) sebenarnya bu Ida hendak tidur di sekolah TK-nya karena alasan mengungsi dari rumahnya yang ada di dekat kali Putih. Namun “sayang”, kunci sekolahnya tertinggal di rumahnya. Akhirnya pindah ke masjid dekat sekolah bersama beberapa orang lainnya.

Saat banjir itu benar-benar datang, dalam keremangan malam disaksikannya sendiri bagaimana banjir itu menerjang bangunan sekolahnya hingga roboh dan lenyap.

(8)

Bagi bu Ida dan beberapa orang warga desa Sirahan lainnya yang sempat menyaksikan dahsyatnya hempasan banjir lahar, kejadian malam itu sungguh sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Belum lagi kalau ingat betapa semua orang menjadi panik ketika kemudian banjir itu juga mengepung dan nyambangi mereka hingga masuk ke dalam masjid. Sangat dipahami kalau kemudian ada salah seorang anak murid TK yang trauma setelah melihat kejadian itu.

(9)

Bincang-bincang dengan kedua guru TK menjelang sore di selasar masjid itu hendak dilanjutkan sambil jalan-jalan berkeliling melihat lokasi bencana. Namun tiba-tiba tersebar berita bahwa banjir besar sedang bergerak turun dari lereng Merapi.

Serta-merta semua orang waspada dan sebagian bergegas menjauh dari lokasi atau kembali ke pengungsian. Tak terkecuali kedua ibu guru itu pun segera pamit meninggalkan kami. Ya, kami memang harus memahami situasinya…

(10)

Kami jadi kebingungan sendiri. Antara mau langsung meninggalkan lokasi tapi ingat masih ada rencana ke SD Sirahan I yang hendak dituju dan seorang gurunya sudah dihubungi, sementara aksesnya terputus dan harus jalan memutar agak jauh. Antara ingin menyaksikan datangnya banjir lahar tapi sadar kalau sedang berada di zona bahaya di desa Sirahan.

Akhirnya kami putuskan untuk pulang saja meninggalkan lokasi bencana desa Sirahan.

(11)

Sore setelah meninggalkan desa Sirahan, saya memperoleh berita dari pak Kadus Salakan bahwa banjir lahar memang benar-benar datang dan lumayan besar. Beruntungnya jalur aliran lahar yang sudah ada masih mampu menampung aliran banjir sore itu.

Hanya saja kata pak Kadus: “Areal sawah yang tertimbun pasir semakin luas”. Makin terpuruklah petani yang sawahnya mulai menguning…

(12)

Besarnya banjir lahar sore itu bisa diketahui dari makin terputusnya akses menuju desa Sirahan dari arah utara karena tebalnya endapan pasir. Untuk mencapai SDN Sirahan I menjadi lebih sulit.

Esoknya saya peroleh kabar dari Kepala Sekolahnya, bahwa pasir lahar kmbali sudah memasuki ke ruang-ruang kelas. Maka jelas kini ruang kelas tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Mau dibersihkan seperti sebelumnya, jangan-jangan banjir besar datang lagi…

(13)

Besarnya banjir lahar sore itu kembali memutus jalan raya Jogja-Magelang untuk yang kesekian kalinya. Itu karena luberan aliran lahar dingin di kali Putih kembali meninggalkan timbunan material vulkanik dari gunung Merapi berupa pasir dan batu yang memenuhi jalan. Perlu waktu lama untuk membersihkannya. Kembali lalulintas jalan raya terganggu.

(14)

Pulang dari kawasan bencana lahar dingin desa Sirahan, mampir dulu ke kali Krasak yang juga sedang ramai ditonton orang karena banjir lahar. Kami turun ke bawah jembatan.

Sebenarnya bukan untuk melihat banjir lahar, melainkan makan sore nasi brongkos “Warung Ijo” Bu Padmo. Haha, ini bagian menariknya yang harus dicatat.., nasi brongkos mak nyusss…

Banjir kali Krasak sore ini, lebih dari aliran lahar dingin yang selama ini lewat kali Krasak.

(15)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan I yang ruang-ruang kelas sekolahnya dikudeta untuk ketiga kalinya oleh banjir lahar dingin Merapi (ruang kelasnya kini terisi pasir) memohon bantuan sepatu dan seragam pramuka untuk 82 orang muridnya. Semua muridnya kini menyebar di pengungsian, ada kelas darurat, juga numpang ke sekolah lain. Akses menuju sekolah ini harus memutar agak jauh karena jalan utama terputus…

(Puji Tuhan walhamdulillah. Seorang sahabat spontan menyatakan niatnya untuk membantu pakaian seragam pramuka. Sebanyak 82 stel seragam pramuka siap diambil. Sungguh membuat saya terharu. Semoga kebaikan itu, insya Allah akan tercatat di buku besar di langit ke tujuh dan memperoleh balasan yang jauh lebih baik. Matur nuwun kami haturkan)

Yogyakarta, 4-7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Sore Hujan Di Kinahrejo

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng sebagai selingan pengantar week-end…

***

(1)

Hujan deras sore ini mengguyur dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman (desanya Mbah Maridjan). Kabut tebal menyelimuti dan menghalangi pandangan ‘bleger’ (sosok) Merapi. Aliran air hujan yang membawa pasir mengumpul dan menggelontor menuju hulu kali Opak, di lembah Kali Adem…

(2)

Rencana saya untuk menjelajahi desa Umbulharjo sore kemarin gagal. Hujan sangat deras dan lama tumpah di kaki Merapi, termasuk di dusun Ngrangkah 1-2, Pelemsari dan Kinahrejo. Hingga menjelang senja hujan tak juga reda.

Kabut makin tebal, jarak pandang makin terbatas, udara makin terasa dingin. Segelas kopi panas yang disuguhkan Bu Panut (anak pertama Mbah Maridjan, saya berteduh di warungnya) lumayan menghangatkan kebekuan inspirasi…

(3)

Berbeda dengan kawasan Glagaharjo, dusun Kinahrejo desa Umbulharjo dimana almarhum Mbah Maridjan tinggal dan meninggal, jauh lebih ramai pengunjung dan juga lebih banyak bantuan mengalir. Agaknya ke-roso-an Mbah Maridjan cukup menarik dan menjadi alasan untuk datang.

Kini ada puluhan warung berdiri di sana. Bukan saja milik warga asli Umbulharjo, tapi ada juga dari luar desa. Masing-masing mencoba menangkap peluang usaha yang ada, bisnis perwarungan…

(4)

Sebuah warung Mandiri dengan judul “Warung Bu Panut” sedang disiapkan bagi anak pertama Mbah Maridjan itu. Beberapa warung lainnya juga akan disiapkan bagi warga yang memang membutuhkan. Tentu saja tidak bagi semua warga, melainkan sesuai dengan kemampuan donatur yang menjadi sumber dana (hal yang sama juga dilakukan di desa Kepuharjo dan Glagaharjo).

Disanalah aku berdiri…, menunggu hujan tak kunjung reda kemarin sore…

(5)

Belum terlihat tanda-tanda warga desa Umbulharjo yang mulai membenahi apalagi membangun kembali rumahnya. Hampir semua bangunan (bedeng) yang ada adalah warung seadanya.

Namun upaya penghijauan terlihat lebih maju dibanding desa lainnya. Nampaknya bantuan untuk penghijauan memang lebih banyak yang tertuju ke Umbulharjo. Selain karena “nama besar” Kinahrejo dengan Mbah Maridjan-nya, juga kondisi lahan di kawasan itu memang nampak lebih kritis.

(6)

Panggilan hati menjadi relawan terkadang memang tidak masuk akal. Padahal tidak ada keuntungan materi diraih. Seperti Tuti, ibu muda yang anak bayinya baru 15 bulan digendong-gendong ke Umbulharjo, hanya agar bisa turut menemani suami dan teman-temannya sesama relawan bekerja.

Ketika hujan deras tiada reda dan hari hampir malam di Kinahrejo, bayinya pun nekat mau diajak menerobos hujan berbonceng sepeda motor. Uuugh, nggak tega…, akhirnya kuboncengkan naik Jazz…

(7)

Kalau bukan sedang mendung, berkabut dan hujan, bentang alam gunung Merapi terlihat menawan dipandang dari Umbulharjo, Cangkringan.

Kalau dulu sebelum erupsi sosok utuhnya terhalang oleh rimbunnya pepohonan dan pemukiman penduduk. Kini pandangan mata ke arah Merapi terasa lepas bahkan ke seluruh penjuru dengan latar depan kawasan gersang yang mulai sedikit menghijau. Obyek wisata bencana yang sayang untuk dilewatkan…

Yogyakarta, 2-4 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo

30 Januari 2011

(1)

Mengunjungi desa Glagaharjo yang hancur oleh hempasan awan panas Nopember tahun yll, kini mulai terlihat ada denyut kehidupan. Sebagian masyarakat mulai membersih-bersihkan kawasan bekas rumah yang hancur.

Adanya wisatawan yang berdatangan saat hari libur kini menjadi peluang usaha bagi warung-warung seadanya yang mulai bermunculan. Warung Mandiri yang pertama dibangun tiga minggu yll, hanyalah langkah kecil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.

(2)

Keberadaan warung Mandiri (mencari donatur sendiri) desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kini mulai dirasakan hasilnya. Bahkan ada tiga warung lagi kini sudah beroperasi.

Saat hari libur dimana Glagaharjo, seperti halnya desa-desa lain di lereng Merapi menjadi obyek wisata, omset jualannya bisa mencapai Rp 200-300 ribu. Tidak besar, tapi aktifitas ekonomi mulai tumbuh, sementara aktifitas lainnya masih mandek

Tiga petak Warung Mandiri sudah berdiri dan beroperasi melayani para wisatawan bencana Merapi yang kehausan di padang tandus Glagaharjo. Oleh mereka, warung itu disebut warung “Upaya” (upaya untuk melanjutkan kehidupan, maksudnya)

(Note: Saya menyebutnya warung Mandiri – Mencari donatur sendiri – agar kedengaran lebih provokatif untuk ngomporin calon donatur)

(3)

Warung Mandiri yang satu unitnya (termasuk perlengkapan) berbiaya sekitar Rp 1,8 juta itu masih akan dibangun beberapa unit lagi. Lokasinya menyebar, selain desa Glagaharjo, juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Bahkan dua anak Mbah Maridjan juga minta dibantu. Namun masih tertunda karena belum ketemu dengan donatur yang akan membiayai atau mensponsori pembuatannya.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak minta pemerintah? Sungguh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

(4)

Senang rasanya menyaksikan warung Mandiri di desa Glagaharjo itu sudah beroperasi. Saat saya berkunjung, saya disuguhi teh manis hangat oleh bu Suraji, salah seorang warga yang menempati warung itu. Serasa lebih nikmat dari segelas teh biasanya. Mungkin karena gratis…

Sebenarnya ya nggak tega. Tapi itulah ungkapan terima kasih yang tidak harus dinilai dari wujud pemberiannya, melainkan ketulusannya.

(5)

Desa Glagaharjo yang terpanggang awan panas hampir tiga bulan yll kini mulai nampak menghijau oleh rumput, keladi dan pisang. Aneka bibit tanaman baru juga sudah banyak ditanam dan akan terus ditanam.

Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian, sebagian mulai rajin datang ke bekas rumahnya walau sekedar untuk bersih-bersih. Kabar gembira yang beredar adalah bahwa pemerintah Sleman mulai membagikan dana penggantian ternak yang mati.

(6)

Ada yang beda yang dilakukan oleh salah seorang warga bernama Rohmadi. Dengan inisiatifnya sendiri pak Rohmadi memanfaatkan pasir Merapi yang menimbun di rumahnya untuk dibuat batako.

Memang tidak dikerjakan sendiri, melainkan dibantu oleh orang lain yang sudah pengalaman. Niatnya batako itu akan digunakan sendiri untuk membangun kembali rumahnya yang tinggal fondasi. “Tapi kalau ada yang mau beli ya saya jual”, katanya.

Apresiasi untuk pak Rohmadi (beranak satu dan istrinya sedang hamil), dengan kreatifitasnya memanfaatkan timbunan pasir di petak lahannya untuk dibuat batako. Sebuah pemikiran sederhana tapi mletik (cemerlang)…

(7)

Apa yang dilakukan pak Rohmadi dengan membuat batako adalah ide kreatif yang pantas diacungi dua jempol.

Di saat sebagian besar tetangganya masih terpuruk, pak Rohmadi membuka wawasannya. Nalurinya menangkap sebuah potensi sumberdaya. Bahkan sebenarnya dia tidak bisa membuat batako sendiri tapi toh mampu memproduksinya. Minimal untuk membangun kembali rumahnya.

“Kalau bisa, nyuwun (minta) dibantu genting”, katanya.

“Insya Allah”, jawabku.

(8)

Kompas hari ini (29/01/11) menurunkan berita di halaman depan, berjudul “Merapi Mengubah Segalanya”. Itulah kawasan desa Balerante (Klaten, Jateng) dan Glagaharjo (Sleman, DIY) yang akhir-akhir ini sering saya datangi.

Banyak kisah sarat makna kehidupan ada di baliknya. Itu baru dari dua desa di sisi timur kali Gendol. Ada banyak desa di sisi barat kali Gendol yang juga menyimpan cerita yang sama…

‎‎

(9)

Sore itu ada segerombol orang naik mobil bak terbuka turun dari Glagaharjo. Rombongan itu biasanya naik saat pagi. Mereka adalah sekelompok warga dari kota Bantul, selatan Jogja, yang jaraknya lebih 40 km dari Glagaharjo.

Mereka datang lalu ramai-ramai seperti potong padi di sawah, tapi kali ini ramai-ramai membantu warga membenahi desa, rumah, prasarana yang porak-poranda. Kepedulian terhadap derita sesamalah yang mendorong mereka melakukannya.

(10)

Rombongan orang-orang desa itu adalah relawan yang tidak mau disebut relawan. Mereka tidak mewakili lembaga atau bendera tertentu. Mereka datang hanya untuk membantu saudara-saudaranya di lereng Merapi.

Mereka dapat merasakan derita itu. Sebab ketika tahun 2006 wilayah Bantul hancur oleh gempa, warga Glagaharjo melakukan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Bantul. Tidak semua warga dan semua wilayah, tentunya. Tapi apa bedanya? Kearifan lokal itu memang nyata adanya…

(11)

Hari beranjak sore saat saya tinggalkan Glagaharjo, Sleman. Perjalanan sore itu akan saya lanjutkan ke Jumoyo, Magelang, yang sebagian wilayahnya lenyap disapu dan ditimbun banjir lahar dingin.

Sebagian warga Glagaharjo nampak ada yang masih sibuk beres-beres puing rumahnya, sebagian lainnya ada yang mulai kembali ke barak pengungsian. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semua nampak giat di lahan masing-masing. Tidak setiap hari, tapi kesibukan itu sering mereka lakukan.

(12)

Seorang sahabat dari belahan Indonesia Timur mentransfer sejumlah dana dan berpesan agar dibuatkan dua buah warung Mandiri untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Segera saya membantu mempersiapkannya. Betapapun, itu akan sangat membantu memutar roda kehidupan di sana…

Insya Allah, amanah saya tunaikan bekerjasama dengan relawan yang ada di sana (Terima kasih untuk mas Joko Basyuni di Papua).

Yogyakarta, 27-29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

(NB:  Tulisan di atas adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng)

Makan Siang Menu Kepiting Bakar Madu

9 Januari 2011

Aslinya tujuan saya siang tadi mau membayar pembelian material bangunan untuk bantuan Merapi ke toko milik seorang sahabat. Lha kok nyonya toko tiba-tiba menawari makan siang dengan menu spesial masak sendiri, kepiting bakar madu. Waaa…, yo uedan kalau sampai ditolak. Uuuh-alhamdulillah!

Yogyakarta, 5 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Jogja Istimewa

2 Januari 2011

Tambur wis ditabuh, suling wis muni
Holopis kuntul baris, ayo dadi siji
Bareng para prajurit lan senapati
Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti
Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan
Tenang bagai ombak
Gemuruh laksana Merapi

Jogja Jogja Jogja istimewa
Istimewa negerinya, istimewa orangnya
Jogja Jogja Jogja istimewa
Jogja istimewa untuk Indonesia

(Marzuki Mohammad)

Yogyakarta, 14 December 2010
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Untuk Merapi

28 Desember 2010

Pengantar :

Tidak seperti ketika kota Yogyakarta dilanda bencana gempa tahun 2006, waktu itu saya sempat menuliskan catatan bersambung dan saya kirimkan ke teman-teman melalui milis/email. Kali ini saya tidak sempat membuat catatan khusus secara bersambung tentang bencana meletusnya gunung Merapi. Kebetulan saya sedang berada di luar daerah ketika Merapi pertama kali meletus tanggal 26 Oktober 2010, sehingga saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil di handphone.

Selain itu, sejak ada fasilitas media jejaring sosial bernama Facebook, saya merasa lebih enjoy dengan menuliskan penggalan-penggalan catatan berupa status di Facebook. Alasan utamanya, lebih mudah dan praktis untuk saya lakukan kapan saja, dimana saja dan sambil apa saja, tanpa saya harus membuka laptop.

Akan tetapi menyadari bahwa tidak semua teman saya memiliki akun di Facebook, maka terpikir untuk mengumpulkan catatan status Facebook saya, untuk saya share melalui milis/email. Catatan-catatan pendek yang lebih menyerupai catatan harian tentang aktifitas, pikiran, renungan, termasuk guyonan saya terkait bencana meletusnya Merapi ini sepertinya dibuang sayang. Lalu kemudian saya susun dalam beberapa seri setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca. Semoga dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur, syukur-syukur membangkitkan empati.

Catatan Harian Untuk Merapi (1)

28 Desember 2010

(1). Merapi Juga Tak Pernah Ingkar Janji

Tepat jam 6:05 WIB, sesuai janjinya, pesawat Merpati MZ 708 lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar (mungkin karena Jogja adalah titik awal penerbangan panjangnya hari ini sehingga bisa tepat waktu). Ada suguhan mie goreng di pesawat, walau agak-agak gosong tapi lumayan buat ganjal karena tadi terlambat bangun sehingga buru-buru.

Merpati tak pernah ingkar janji… Tapi justru khawatir kalau Merapi yang (konon) juga tak pernah ingkar janji…

(Makassar, 26 Oktober 2010)

——-

(2). Mengantisipasi Hujan Abu Merapi

Awas Merapi… Mengantisipasi kemungkinan hujan abu Merapi, malam ini anak lanang dan wedok saya minta memotong-motong kardus seukuran lubang angin yang ada di rumah (sebenarnya sudah saya siapkan tapi entah pada kemana). Jika abu Merapi benar-benar berkunjung, maka tinggal memasangnya, kalau perlu diplester.

Sejak kemarin juga sudah disiapkan logistik secukupnya, termasuk lampu darurat dan briefing. Tempat paling aman ketika terjadi letusan gunung berapi adalah di dalam rumah.

(Majene, 26 Oktober 2010)

——-

(3). Kewaspadaan Tinggi

Prinsip yang harus dipegang dalam menyikapi, mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi setiap ancaman datangnya bahaya/bencana adalah menganggap (berasumsi) bahwa ancaman itu akan benar-benar terjadi (seperti yang dilakukan oleh Tim Anti Teror). Maka kita akan selalu berada dalam kewaspadaan tingkat tinggi.

(Majene, 26 Oktober 2010)

——-

(4). Sugeng Tindak Mbah Marijan

Mbah, mbah…, mbah Marijan… Kesetiaan akan pengabdian Sampeyan telah mengajari banyak orang. Keikhlasan Sampeyan mengemban amanah telah menginspirasi banyak orang. Tapi ke-roso-an Sampeyan juga telah melenakan banyak orang, sehingga banyak yang terpaksa meninggal dunia di rumah Sampeyan… Semoga semua menjadi hikmah.

“Sugeng tindak mbah, kondur dateng Ingkang Maha Kagungan Merapi…”.

(Mamuju, 27 Oktober 2010)

——-

(5). Gerimis Abu Merapi

Gerimis (belum hujan) abu vulkanik Merapi mulai beranjangsana nyambangi kota Jogja sejak jam tiga pagi tadi. Tidak sia-sia beberapa hari yll saya menyuruh anak lanang dan anak wedok untuk bergotong-royong memotong-motong kardus, karena pagi ini mereka bergotong-royong lagi memasangnya menutup lubang-lubang rumah.

Highly appreciated for your very good teamwork kids…”. Teriring harap, gerimis tidak berubah menjadi hujan…

(Karossa, 30 Oktober 2010)

——-

(6). Tiba Kembali Di Jogja

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya tiba kembali di Jogja. Setelah menempuh perjalanan poanjang Jogja-Makassar-Mamuju-Palu-Makassar-Surabaya-Jogja, selama lima hari. Bandara Adisutjipto memang katanya tadi pagi sempat ditutup sebentar. Alhamdulillah juga, masih sempat merasakan rumah yang ngeres (apa ya bahasa Indonesianya? Sedikit kotor oleh debu, begitulah…).

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (12)

28 Desember 2010

(102). Tambang Pasir Di Tengah Kota

Berkah Merapi… Pasir yang terendap dari gelontoran lahar dingin di sepanjang kali Code yang membelah Yogyakarta, ternyata menjadi berkah tersediri bagi masyarakat yang tinggal di lembah Code. Lihatlah antrian truk yang memanjang menunggu giliran untuk diisi pasir. Dan itu terjadi di tengah kota Jogja.

Ya benar, tambang pasir di tengah kota, di sepanjang aliran kali Code. Mudah-mudahan mereka tidak lupa bahwa banjir lahar dingin masih berstatus AWAS..!

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(103). Berkah Lahar Dingin Merapi

Mau menambang pasir tanpa ijin tapi diijinkan? Malah difasilitasi pemerintah? Maka tambanglah pasir kali Code.

Berkah bagi masyarakat karena nilai ekonomisnya. Pemerintah pun berkepentingan untuk menormalisasi kedalaman sungai yang dangkal total karena endapan lahar dingin. Sebab jika tidak, maka fungsi sungai akan hilang, lalu siap-siap saja mbludak di musim penghujan. Semua pihak kini jadi berkepentingan atas penambangan pasir kali Code.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(104). Purnama Terakhir

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti…

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya…

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(105). Tak Tersentuh Karena Tersembunyi

Matahari tepat di cakrawala barat, masih menyisakan semburat merahnya. Aku tiba di dusun Babadan, desa Butuh, kecamatan Sawangan, Magelang. Lokasinya sekitar 10 km timurlaut dari Blabak, Jl. Raya Jogja-Magelang, menuju arah Ketep lalu belok ke utara ke kaki gunung Merbabu.

Kesanalah petang tadi aku membawa tiga karung beras titipan seorang teman di Bandung bagi korban Merapi non-pengungsi yang tak tersentuh bantuan karena tersembunyi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(106). Mereka Tak Berdaya

Dusun Babadan terletak di baratlaut Merapi pada radius sekitar 12 km, dikelilingi hutan sengon. Ketika letusan besar Merapi terjadi (5/11), warganya terisolir. Pohon-pohon patah menghalangi jalan. Di dalam rumah takut kalau rumahnya roboh oleh abu dan pasir vulkanik. Mereka pun berkumpul di tanah terbuka di bawah guyuran abu panas Merapi dengan perlindungan seadanya. Tangis histeris wanita dan anak-anak nyaris hilang ditelan gemuruh Merapi yang menggetarkan bumi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(107). Posko Mandiri Untuk Korban Merapi Non-Pengungsi

Masyarakat dusun Babadan dan dusun-dusun tetangganya tidak mengungsi. Makanya mereka tidak punya gelar pengungsi. Di sinilah dilema. Karena bukan pengungsi maka lalu “tidak perlu” dibantu. Padahal sama-sama korban Merapi.

Tengoklah, semua bantuan berlabel “pengungsi”. Bahkan di posko-posko sampai berlimpah. Sedang mereka yang non-pengungsi? Jatah pemerintah sangat terbatas, minta ke posko prosedurnya belit-belit. Akhirnya mereka menggalang posko mandiri.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(108). Warga Soronalan Butuh Bantuan Segera

Baru saja dapat kontak dari posko mandiri di desa Soronalan, Sawangan, Magelang. Ada 50 KK di kaki gunung Merbabu yang butuh bantuan mendesak. Sejak letusan besar Merapi (5/11) belum pernah ada bantuan dan warganya makan seadanya (keladi, ketela, dkk). Beras yang saya kirim ke dusun tetangganya tadi malam akhirnya dialihkan ke sana. Cukup untuk 1 kg per KK.

Tuhan…, pliiis…turunkan berasMu yang masih ada di langit (fissama-i fa-anzilhu)…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(109). Berharap Hujan Beras

Mereka bukan pengungsi (makanya tidak ada bantuan), tapi penduduk setempat yang menderita akibat letusan Merapi. Mereka buruh tani, sedang semua ladang hancur. Sebagai penderes kelapa, pohon kelapa rusak. Sebagai pengrajin keranjang, tidak ada yang beli. Sebagai peternak, tidak ada pakan, sedang singkong harus berebut dengan pemiliknya. Pohon pisang rusak oleh abu. Sayur dan tanaman bumbu musnah. Untuk bertahan hidup? Berharap hujan abu berganti hujan beras…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (14)

28 Desember 2010

(115). Tak Sesederhana Mengirim Bantuan

Status Merapi masih AWAS. Radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) diturunkan/dikurangi. Sebagian pengungsi pun berangsur pulang ke kampung halaman. Lalu setelah itu apa…? Kalau sekedar mengganti rumah dan infrastruktur yang rusak itu mudah. Tapi mengembalikan nafas kehidupan ekonomi? Tak sesederhana mengirim bantuan kepada pengungsi melalui posko-posko…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(116). Isi Perut Harus Tetap Dipenuhi

Mereka yang sebagian besar petani, peternak dan buruh lepas, butuh waktu panjang untuk menemukan kembali kehidupannya, memulihkan roda ekonominya, setelah semua hancur tak bersisa. Bahkan untuk sekedar memulai!

Tanah harus diolah dari nol, pohon yang masih hidup perlu waktu untuk diguna, bibit dan pupuk tak terbeli, pakan ternak harus dicari… Sementara hasil dinanti, isi perut harus dicari tapi nggak janji, tak seperti perut Merapi yang tak pernah ingkar janji…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(117). Sampai Kapan Menunggunya?

Sekitar 50 KK warga dusun Soronalan, Sawangan, Magelang, kini tak berkutik setelah diusik abu panas Merapi (5/11). Menunggu…, itu yang dapat mereka lakukan sementara ini. Ya, menunggu bantuan. Ya, menunggu saat aman untuk memulai bekerja. Bertani, beternak, berkerajinan, entah apa lagi… Tapi sampai kapan menunggunya? Dan apa masih ada yang diharapkan untuk ditunggu?

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(118). Mengirm Bantuan Ke Dusun Soronalan Magelang

Menyusuri jalan desa yang menanjak dan menurun selebar cukup satu mobil, membelah ladang-ladang yang rusak oleh abu vulkanik dan pemukiman penduduk, akhirnya sampai ke dusun Soronalan, Sawangan, Magelang.

Menilik lokasinya, pantas saja kalau tak tersentuh bantuan. Seorang relawan mandiri yang perduli dengan nasib tetangga-tetangganya yang hanya makan keladi dan singkong, pontang-panting mencari bantuan. Ke sanalah saya dkk. siang ini mengirim bantuan logistik.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(119). Ada Kebahagiaan Di Wajah Anak-anak Itu

Wajah anak-anak itu begitu ceria, begitu juga ibu-ibunya. Bersama kaum bapaknya berkumpul menyambut bantuan yang “tidak seberapa” yang untuk pertama kali datang ke dusun mereka.

Bekal kue dan makanan ringan yang kami bawa masih tersisa cukup banyak. Dan ketika dibagikan…, mereka, anak-anak dan ibunya, berebut sambil tertawa canda. Mereka menyalami kami. Masya Allah… Tak pernah terbayang menyaksikan kebahagiaan seperti itu…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(120). Kerja Keras Seorang Relawan Mandiri

Dari dusun Soronalan kami menuju dusun Babadan. Jaraknya sekitar 4 km. Jumlah penduduknya sekitar 185 KK, kondisinya tidak jauh beda dengan Soronalan. Kegiatan ekonomi lumpuh, belum ada yang dapat dikerjakan masyarakat. Beruntung di dusun ini ada seorang relawan mandiri yang gesit dan lincah, biasa disapa pak Inggo yang adalah seorang guru. Berkat kerja kerasnya, kemudian bantuan dari luar menjangkau. Malah bisa dibagi ke dusun-dusun lain yang senasib, “seret” bantuan…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(121). Mereka Yang Mencari Kelebihan Bantuan

Di Babadan ketemu kepala dusun Ngaglik yang sedang mencari bantuan. Kelincahan pak Inggo rupanya berhasil mendatangkan bantuan yang selama ini jarang mampir ke lokasi-lokasi yang “tidak populer”, apalagi susah dicapai. Karena itu dusun Babadan menjadi tujuan dusun-dusun lain untuk mencari kelebihan bantuan.

Seperti dusun Ngaglik yang lokasinya sekitar 1 km di atas Soronalan. Sayangnya saya baru tahu itu setelah meninggalkan Soronalan, mestinya tadi bisa sekalian diampiri.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(122). Dana Saweran Tertunda Penyalurannya

Dana saweran dari teman-teman di Jakarta dan Surabaya yang saya terima kemarin, semula tadi pagi mau saya belanjakan logistik untuk dikirim ke dusun Soronalan. Tapi rupanya teman-teman pensiunan Freeport sudah lebih dulu siap dengan logistik dan minta ditemani menyalurkannya, maka saya arahkan ke Soronalan. Sedangkan dana yang saya terima kemarin saya tunda penyalurannya dan akan saya tujukan untuk dusun Ngaglik, yang kondisinya sama seperti dusun Soronalan.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (16)

28 Desember 2010

(133). Kepala Dusun Itu Seorang Wanita

Ada yang istimewa dengan dusun Ngaglik. Saat bertemu pak Parman yang sedang cari bantuan ke dusun tetangga, beliau ditemani istrinya yang cantik berkerudung warna cerah. Relawan “ndeso” itu membawa istrinya untuk urusan yang lebih perlu kegesitan seorang pria.

Ketika kemarin pak Parman saya panggil pak Kadus (Kepala Dusun), pak Parman berkata: “Yang Kepala Dusun sebenarnya istri saya pak”. Aha.., dan bu Parman adalah satu-satunya Kadus wanita di kawasan itu.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(134). Disuguh Singkong Rebus

Saat ngobrol-ngobrol tentang makan, saya disuguh bu Parman dengan teh panas dan singkong rebus. “Ya ini yang kami makan pak”, kata pak Parman ramah. Barangkali mereka memang sudah “terlatih” dengan keterbatasan hidup seperti saat ini, tapi tidak dengan ‘rasa’ kita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan singkong, yang berkarbohidrat tinggi. Hanya saja, mereka makan singkong karena tidak punya pilihan. Sedang kita di tempat lain, makan singkong karena punya banyak pilihan untuk dimakan…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(135). Jum’atan Di Soronalan

Untuk sholat Jum’at, kemarin saya harus turun ke dusun Soronalan sekitar 1 km di bawah Ngaglik. Sengaja saya minta dibonceng sepeda motor. Kebiasaan masyarakat saat jalan menurun, matikan mesin dan motor pun njumbul-njumbul melewati jalan berbatu.

Masjid “Al-Huda” itu terisi sekitar 30 jamaah. Seseorang membisiki saya: “Kami perlu genset untuk masjid pak”.

Bersyukur, petang harinya saya bisa kirim SMS: “Genset sudah di Muntilan, tolong diambil” (Trims untuk HMM Papua).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(136). Serah Terima Bantuan Di Gubug makan “Mang Engking”

Pulang dari Ngaglik kemarin sore, ditunggu teman-teman di Gubug Makan “Mang Engking”, Jl. Soragan/Jl. Godean Jogja (pionir restoran spesial menu udang galah. Halah, udangnya ittuuu…).

Ada acara serah terima bantuan dari keluarga besar PT Freeport Indonesia melalui program “Freeport Peduli” untuk korban Merapi yang dipercayakan penyalurannya kepada Paguyuban mantan karyawan yang ada di Jogja. Wah, bakal kluyuran maneh ki… (siap-siap kluyuran lageee...).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(137). Pilpen Conggambul

Tengah hari, hujan lebat merata seantero Jogja. Nyopiri “boss” ke toko sambil nyetel RRI Jogja. Acaranya, “Pilpen-conggambul-tupon-tugu”. Woppo kuwi…? “Pilihan pendengar, keroncong, langgam, stambul”; dengan kata kunci: “satu pohon satu lagu”.

Elok tenan..! Masyarakat lereng Merapi akan menyukainya. Biar gunungnya lebih sejuk, seperti pantun seorang pendengarnya: Tuku terong simpen ning lemari es, lagu keroncong pancen mak nyesss…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(138). Status Awas Ex Pengungsi

Radius kawasan bahaya Merapi diturunkan sehingga sebagian pengungsi pun pulang ke rumah masing-masing. Selama di posko-posko pengungsian, hidupnya terjamin. Setelah pulang? Bantuan yang menumpuk itu ya ditinggal di posko-posko (entah siapa yang ngurus dan mau dikemanakan). Tinggal pengungsi dheleg-dheleg di kampungnya. Siapa yang perduli?

Pertanian hancur, ekonomi mandek, tidak ada penghasilan. Dan, ada ribuan ex pengungsi yang statusnya AWAS…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(139). Week-End Ke Jogja Mengirim Bantuan

Minggu lalu seorang sahabat week-end ke Jogja pingin menyalurkan bantuan. Bahkan bantuan diantar di tengah malam ke sebuah lokasi di Sawangan, Magelang. Sayang saya tidak bisa menemaninya. Ternyata sekarang mengirim lagi bantuan untuk perlengkapan sekolah. Bahkan bertanya lokasi mana lagi yang mendesak dibantu.

Uuuh.., senang sekali mendengar semangatnya, lebih senang lagi saya sempat memfasilitasi. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuk semuanya.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(140). “Datanglah Ke Jogja”

Pekan-pekan ini, logistik adalah kebutuhan mendesak bagi sebagian besar korban Merapi, terutama mereka yang baru kembali dari pengungsian dan non-pengungsi tapi terkena dampak langsung. Hari ini saya identifikasi ada empat lokasi terpisah yang layak untuk dibantu dan akan menjadi sasaran saya berikutnya.

Ingin saya ajak kepada siapa saja: “Datanglah ke Jogja, lalu kunjungi korban Merapi…”.

Sebuah perjalanan indah dan inspiratif akan Anda kenang sepanjang hayat…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (18)

28 Desember 2010

(151). Kehidupan Seolah Harus Mulai Dari Awal

Sepintas kehidupan mereka, mantan pengungsi dan non-pengungsi korban Merapi itu baik-baik saja. Rumah-rumah masih utuh (kecuali yang terkena awan panas), anak-anak ceria bermain dan mulai sekolah, orang-orang sibuk menyiapkan bibit tanaman (bagi yang masih punya). Tapi sebagian besar dari mereka sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makannya.

Mereka memang terbiasa dalam kesulitan, tapi tidak untuk waktu lama tanpa kejelasan tentang hidup mereka sendiri. Kehidupan seolah harus mulai dari awal lagi…

(Yogyakarta, 30 Nopember 2010)

——-

(152). Masih Banyak Gerilyawan Blusukan

Seorang sahabat mentransfer dana bantuan. Sorenya saya belikan beras lalu saya salurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan logistik hari-hari ini. Lokasi yang sebelumnya sudah saya survey adalah dusun Windusabrang, Babadan dan Cowor, kecamatan Sawangan, Magelang.

Sore tadi relawan mereka terpaksa saya minta mengambilnya ke Jogja berhubung saya tidak sempat bergerilya sendiri karena besok ada misi lain. Insya Allah masih banyak gerilyawan yang akan blusukan ke dusun-dusun…

(Yogyakarta, 30 Nopember 2010)

——-

(153). “Salam Persahabatan” Merapi

Dari jembatan layang Janti, dari dalam taksi menuju bandara, Merapi nampak anggun ditemani Merbabu di belakangnya, seakan menyampaikan “Salam Persahabatan”…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

(154). Kutinggalkan Mereka Sejenak

Dalam dhuhaku pagi ini di bandara Adisutjipto, kutambahkan permohonanku agar Mbah Merapi baik-baik saja, dan agar mengganti hujan abu dengan hujan beras bagi mereka yang sedang tak berdaya di lereng-lerengnya.

Kutinggalkan sebagian dari mereka sejenak… Perjalanan Jogja – Balikpapan – Tarakan – Tanjungselor, insya Allah segera kujalani…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

(155). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas banjir lahar dingin…!!! Beberapa info yang dilansir melalui Twitter #JogjaUpdate, mengabarkan banjir lahar dingin siang ini melanda di hampir semua sungai yang berhulu di Merapi dalam volume lebih besar dari biasanya.

Waspada…! Bagi semua warga di bantaran sungai-sungai yang sering menjadi aliran lahar dingin. Beberapa jembatan ditutup, dibatasi, bahkan ada yang jebol… Jalur utama Jogja – Magelang terganggu…

(Antara Tarakan – Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (19)

28 Desember 2010

(156). Seputar Kali Gendol (1)

Tengah hari mendung, saya tiba di dusun Bronggang, desa Argomulyo, kecamatan Cangkringan, Sleman yang berjarak sekitar 25 km utara Jogja. Tepatnya di lintas jalan alternatif Magelang – Solo.

Sekitar 50 meter ke timur, sampai ke tepi kali Bendol, nampak ada dua dam sabo penahan aliran lahar. Sungai yang dulu dalam dan lebar itu kini penuh dengan material vulkanik gunung Merapi, abu, pasir, batu memenuhi kali Gendol hingga lebih tinggi dari damnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(157). Seputar Kali Gendol (2)

Langit Merapi mendung dan berawan. Bleger (profil) gunung yang sedang kecapekan setelah lebih sebulan aktif bererupsi itu tidak nampak jelas, hanya siluet bayangannya terlihat di balik awan.

Geluduk bersahutan, saat saya memandang sekeliling dimana sejauh mata memandang seolah hanya hamparan material vulkanik yang nampak. Sedang pepohonan kering dan gosong melatari di kejauhan.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(158). Seputar Kali Gendol (3)

Dari dusun Bronggang, bergerak lebih ke utara beberapa kilometer, melalui desa Wukirsari, sampai ke dusun Pager Jurang, desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, yang berada pada radius sekitar 10 km dari Merapi.

Timbunan material vulkanik di kali Gendol terlihat lebih lebar hingga ratusan meter, menimbun kawasan di luar bantaran sungai. Bahkan jalan aspal yang ada di tepi sungai pun tertimbun. Timbunannya lebih dari kampung di sekitarnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(159). Seputar Kali Gendol (4)

Awan panas (wedhus gembel) yang bersuhu sangat panas tidak saja berhembus turun mengikuti aliran kali Gendol tapi juga meluber hingga beberapa ratus meter ke luar bantaran, masuk ke pemukiman dan menyapu apa saja. Semua pepohonan terbakar dan hangus, rumah-rumah penduduk hancur, bahkan manusia dan ternak tak terkecuali.

Andai saja status Awas Merapi tidak segera diikuti dengan evakuasi total, maka korban jiwa tak terperikan lagi. Betapa dahsyatnya…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(160). Seputar Kali Gendol (5)

Lihatlah kawasan di sepanjang sisi kali Gendol di desa Glagaharjo. Pepohonan semua terbakar dan berwarna coklat mengering. Bahkan rumah-rumah penduduk pun terbakar, tampak dari banyaknya arang kayu sisa pembakaran. Belum lagi rumah-rumah yang roboh dan porak-poranda seperti habis terkena badai. Dan badai itu adalah awan panas.

Tak heran kalau setengah desa Glagaharjo bubar jalan, masyarakatnya pun belum bisa pulang dari pengungsian. Lha, mau kemana?

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(161). Seputar Kali Gendol (6)

Sebuah jalan desa di Glagaharjo terlihat lengang. Semua rumah di sepanjang jalan itu hancur dan menyisakan saputan abu yang masih melekat. Demikian pula tidak satu pun pepohonan selamat. Tak terbayangkan andai masih ada manusia di sana ketika awan panas menyinggahi rumah mereka.

Namun kini tanda kehidupan mulai terlihat dari warna hijau pohon pisang dan talas yang kontras dengan dominasi warna abu-abu, coklat dan hitam bekas kebakaran…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(162). Seputar Kali Gendol (7)

Cuaca mendung masih menyelimuti kali Gendol dan Merapi siang tadi. Namun sesekali awan beringsut seakan memberi kesmpatan kepada Merapi dan puncaknya agar dapat dilihat dengan jelas, walau cuaca tidak cerah.

Itulah menit-menit indah bagi kenampakan Merapi dari sungai Gendol. Walau hanya beberapa menit saja, tapi cukup untuk diabadikan atau menjadi latar untuk bergaya-gaya di depan kamera…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(163). Seputar Kali Gendol (8)

Kepulan asap terlihat muncul di beberapa tempat di hamparan material vulkanik di sungai Gendol. Menandakan bahwa di titik itu material masih sangat panas.

Untuk membuktikannya cukup dengan mendekatkan telapak tangan, panasnya masih sangat terasa. Bahkan hanya beberapa cm di bawah permukaannya, suhunya masih sangat poanasss… Yang terakhir itu sebaiknya tidak usah dibuktikan, kecuali dilengkapi dengan peralatan yang sesuai…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(164). Seputar Kali Gendol (9)

Cuaca masih mendung sore kemarin. Dari desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, lalu melanjutkan perjalanan ke sisi timur kali Gendol, ke desa Balerante, Klaten. Untuk mencapai Balerante jalannya harus memutar ke selatan lebih 20 km melalui jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Menyusuri jalan yang relatif lurus, mendaki dan beraspal cukup bagus akhirnya tiba di Balerante yang ternyata bersebelahan dengan desa Glagaharjo dimana kuburan Mbah Marijan berada.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(165). Seputar Kali Gendol (10)

Desa Balerante, kecamatan Kemalang, Klaten dan desa Glagaharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman dipisahkan oleh jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Kondisi kedua desa itu sangat parah. Amat memprihatinkan. Desa Glagaharjo di sisi timur kali Gendol hancur total. Tak satu pun rumah dan tumbuhan selamat dari awan panas. Begitupun desa Balerante bagian barat yang berbatasan dengan Glagaharjo. Warna abu-abu, coklat dan hitam mendominasi seluas mata memandang.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(166). Seputar Kali Gendol (11)

Balerante dan Glagaharjo berada dalam radius sekitar 4 km dari puncak Merapi. Sosok gunung itu nampak begitu dekat. Bahkan saat langit mendung dan berawan kemarin sore, sosok menakutkan itu sesekali nampak jelas. Waktu terbaik untuk menikmati sosok Merapi adalah saat pagi.

Saat ini, lokasi di perbatasan Jateng-DIY itu menjadi obyek wisata dadakan, terlebih setelah dihancurkan awan panas dan ditinggal penghuninya mengungsi hingga kini.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(167). Seputar Kali Gendol (12)

Kalau bukan karena diberitahu seorang relawan di Glagaharjo, saya tidak ngeh kalau di desa itulah almarhum Mbah Maridjan dimakamkan.

Dalam cuaca berkabut sore kemarin, kususuri jalan desa yang sepi dan lengang menuju ke kuburan desa. Ada taburan bunga segar di makam Mbah Maridjan, entah siapa yang baru berziarah. Nampak bersih, tidak seperti diwartakan tertimbun material Merapi. Kukirim doa untuk Mbah Maridjan. Semoga spirit ke-roso-annya abadi…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(168). Seputar Kali Gendol (13)

Di Balerante, kijang hitamku kurang tinggi loncatnya, sehingga terperosok ke selokan. Hari semakin sore, orang-orang mulai pada pulang, suasana jadi sepi. Padahal tadi dipesan sama tentara yang jaga agar posisi parkirnya mengarah ke bawah jaga-jaga kalau keadaan buruk terjadi. Uuuh.., rada tegang.

Setelah maju-mundur sambil diganjal batu akhirnya bisa lolos. Kata temanku: “Itu tanda Mbah Maridjan minta ditengok”. Asal bukan tawaran jadi juru kunci saja..

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(169). Seputar Kali Gendol (14)

Seorang relawan di Glagaharjo yang tiap hari berjaga disana dan prihatin dengan situasi desa yang habis dibumi-hangus awan panas, punya ide “kreatif”. Setiap hari berusaha menanam tumbuhan di pinggir bekas jalan desa. Tujuannya agar kawasan itu segera hijau kembali. Dia minta dikirim bibit tanaman apa saja asal cepat tumbuh dan menghijaukan. Sebuah pemikiran sederhana, langkah kecil, tapi masuk akal manfaatnya. Mumpung sering turun hujan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(170). Seputar Kali Gendol (15)

Sebagian besar warga desa Kepuharjo, Glagaharjo dan Balerante masih berada di pengungsian hingga kini. Selama itu pula hidup mereka ada yang menjamin. Tapi rumah mereka berantakan, ternak mereka mati, ladang mereka hancur dan penghidupan mereka pun seperti terhenti. Mungkin rumah ada yang membangunkan, ternak ada yang mengganti dan ladang ada yang mensubsidi. Tapi tidak begitu saja dengan penghidupan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(171). Seputar Kali Gendol (16)

Setelah warga yang mengungsi itu kembali dari pengungsian. Hidup dan penghidupan harus dimulai dari awal. Tentu “perlu waktu” untuk dapat menggelinding kembali. Lalu bagaimana mereka harus menjalankan penghidupan selama periode “perlu waktu” itu? Adakah yang akan menjamin, setidak-tidaknya membantu memutar roda hidup dan penghidupan mereka? Ruh yang bernama kepedulian memang tak pernah selesai apalagi mati…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(172). Seputar Kali Gendol (17)

Rumah boleh hancur, pepohonan boleh mati, tapi sang merah putih harus tetap berkibar membelah angkasa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman…

(Sebuah bendera merah-putih berukuran sedang, berkibar di atas tiang bambu yang menjulang tinggi di sela puing-puing rumah dan pepohonan yang hancur dan terbakar).

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

Sugeng Tindak Mbah Marijan

28 November 2010

Mbah, mbah…, mbah Marijan… Kesetiaan akan pengabdian Sampeyan telah mengajari banyak orang. Keikhlasan Sampeyan mengemban amanah telah menginspirasi banyak orang. Tapi ke-roso-an Sampeyan juga telah melenakan banyak orang, sehingga banyak yang terpaksa meninggal dunia di rumah Sampeyan… Semoga semua menjadi hikmah.

“Sugeng tindak mbah, kondur dateng Ingkang Maha Kagungan Merapi…”.

Mamuju, 27 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mengantisipasi Hujan Abu Merapi

28 November 2010

Awas Merapi… Mengantisipasi kemungkinan hujan abu Merapi, malam ini anak lanang dan wedok saya minta memotong-motong kardus seukuran lubang angin yang ada di rumah (sebenarnya sudah saya siapkan tapi entah pada kemana). Jika abu Merapi benar-benar berkunjung, maka tinggal memasangnya, kalau perlu diplester.

Sejak kemarin juga sudah disiapkan logistik secukupnya, termasuk lampu darurat dan briefing. Tempat paling aman ketika terjadi letusan gunung berapi adalah di dalam rumah.

Majene, 26 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Merapi Juga Tak Pernah Ingkar Janji

28 November 2010

Tepat jam 6:05 WIB, sesuai janjinya, pesawat Merpati MZ 708 lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar (mungkin karena Jogja adalah titik awal penerbangan panjangnya hari ini sehingga bisa tepat waktu). Ada suguhan mie goreng di pesawat, walau agak-agak gosong tapi lumayan buat ganjal karena tadi terlambat bangun sehingga buru-buru.

Merpati tak pernah ingkar janji… Tapi justru khawatir kalau Merapi yang (konon) juga tak pernah ingkar janji…

Makassar, 26 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Awas Merapi

25 Oktober 2010

Awas Merapi…! Ibarat minimarket baru, Sang Maha Pemilik Merapi tinggal memilih “hari baik” untuk melakukan grand opening, sementara beberapa waktu terakhir ini sudah dilancarkan soft opening. Semoga “bisnis”-Nya kali ini membawa keberkahan baik bagi alam sekitar dimana Merapi berada maupun para stakeholders, sebab sudah dijanjikan bahwa tiada satupun “bisnis”-Nya yang sia-sia…

Yogyakarta, 25 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Selamat Mendaki, Para Pendaki Kecil

9 Juni 2009

100_3786_MerbabuAwalnya anak saya (Noval, 15 tahun) mengajak mendaki gunung Rinjani (3726 mdpl), di pulau Lombok, dalam rangka mengisi waktu libur sambil menunggu hasil UAN SMP-nya. Tapi sayang, bekalnya belum memadahi. Pesawat Jogja-Mataram pp. plus akomodasi, konsumsi, transport lokal, dll, untuk berdua pasti lumayan banyak jumlah rupiahnya. Pada waktu yang bersamaan ibunya sedang butuh tambahan dana cukup banyak untuk membuka toko. Dengan sangat menyesal, saya menjanjikan untuk menjadwal ulang rencana pendakian ke gunung Rinjani.

Sudah berbulan-bulan ini Noval suka menunggu acara adzan maghrib di depan televisi. Bukan tanda waktu sholatnya yang ditunggu (wong waktu sholat Jakarta), melainkan gambar awal tayangan adzan maghrib di saluran Trans7 adalah pemandangan danau Segara Anak yang membentang indah di tengah perjalanan mendaki Rinjani.

Rupanya diam-diam Noval merencanakan pendakian alternatif. Beberapa temannya termasuk guru sekolahnya dihubungi dan diajak mendaki ke gunung Merbabu (3142 mdpl). Walhasil, tiga orang temannya jadi bergabung, sementara gurunya berhalangan. Lalu dimatangkanlah rencana pendakian ke gunung Merbabu, tanpa saya ketahui.

Tiba-tiba Noval minta ijin besok mau mendaki Merbabu. Waduh….. Lalu bermunculan aneka pertanyaan untuk memastikan kesungguhannya. Ternyata memang rencana sudah matang. Bahkan ketika gurunya berhalangan pun mereka tetap berniat berangkat. Jelas, rencana tidak mungkin dibatalkan, sebab semua sudah disiapkan oleh Noval dan ketiga temannya.

Terkadang terpikir juga, jangan-jangan saya ini tergolong orang tua yang kelewat reseh dan khawatiran. Ya, sementara saya berpikir panjang untuk mengijinkan anak saya mendaki gunung dengan tanpa pendamping orang yang lebih dewasa, sementara itu pula para orang tua dari ketiga temannya Noval sepertinya biasa-biasa saja.

Sebenarnya bukan soal diijinkan atau tidak diijinkan, melainkan saya hanya khawatir kalau anak-anak itu menganggap bahwa mendaki gunung itu sekedar olah raga kuat jalan mendaki sambil membawa beban di punggungnya. Seperti halnya anggapan para kawula muda umumnya yang baru menyukai hobi petualangan di alam liar. Sedang yang sesungguhnya mendaki gunung itu jauh lebih memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tidak sesederhana itu. Berita terakhir tentang pendaki yang tersesat di gunung Argopuro (Jatim) dan Ciremai (Jabar), hanyalah sedikit contoh dari tidak sederhananya kegiatan mendaki gunung itu.

Rupanya tekad dan semangat untuk mendaki sudah telanjur tidak bisa dipadamkan. Akhirnya ijin orang tua pun turun, tinggal kewajiban orang tua memberi bekal ilmu dan pengarahan yang cukup.  Saya tidak ingin mereka sekedar berhasil mencapai puncak, melainkan harus ada yang mereka pelajari dan hikmahi melalui kegiatan yang tidak biasa bagi anak-anak seusianya itu.

Selasa pagi ini cuaca Jogja sedang rada muram. Sejak pagi teman-teman Noval sudah berdatangan ke rumah dengan masing-masing membawa tas ransel besarnya. Noval minta diantar ke terminal bis Jombor di Jogja utara. Saya pun segera menyiapkan kendaraan. Namun sebelum berangkat, Noval dan ketiga temannya (Alfian, 15 tahun; Irman 14 tahun dan Faisal 14 tahun) saya kumpulkan untuk diberi pengarahan. Sementara komentar ibunya sederhana saja : “Wah, harus siap-siap menerima setumpuk pakaian kotor, nih….”.

***

Hal pertama yang saya pastikan kepada ketiga teman Noval adalah apakah sudah memperoleh ijin dari orang tua masing-masing bahwa mereka akan mendaki Merbabu dengan tanpa guru pendamping. Jawaban mereka kompak : “Sudah”. Setelah itu saya tanyakan rencana perjalanan pendakiannya. Lalu saya ingatkan bekalnya harus cukup termasuk untuk antisipasi keadaan darurat jika harus bermalam lebih lama di gunung. Selanjutnya mulailah saya memberikan kultum (kuliah tujuh menit, lalu molor sampai 15 menit).

Hal-hal pokok yang saya ingin tegaskan adalah bahwa mendaki gunung itu tidak boleh dianggap sebagai kegiatan yang remeh. Tidak boleh sombong, betapapun kuatnya. Harus kompak dan bertenggang rasa dengan kondisi fisik temannya. Jangan memaksakan diri jika di tengah jalan cuaca menjadi buruk, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Lalu saya suruh mereka sebelum mendaki supaya meminta bantuan penduduk setempat untuk menemani pendakian. Seseorang yang oleh para pendaki sering disebut dengan sebutan salah kaprah “ranger”. Terakhir saya minta supaya mengirim SMS setiap kali ketemu sinyal.

Gunung Merbabu sebenarnya bukan gunung dengan tingkat kesulitan tinggi. Bentang alam topografi dan pepohonannya relatif tidak menyulitkan. Untuk mencapai puncaknya tidak seberat dan seberbahaya puncak Merapi. Namun tetap saja kemungkinan terburuk harus diantisipasi, di antaranya adalah perubahan cuaca seputaran komplek gunung Merbabu-Merapi.

Itulah sebabnya kenapa saya sebagai orang tua menjadi kedengaran begitu reseh? Karena mereka adalah pendaki-pendaki kecil yang masih suka cengengesan, yang saya khawatirkan belum mampu berpikir jernih ketika terjadi keadaan darurat di tempat yang adoh lor adoh kidul (jauh dari mana-mana), sementara kondisi fisiknya sangat terkuras. Noval dan seorang temannya memang sudah dua kali mendaki Merbabu, tapi dua orang temannya yang lain belum pernah. Dan kali ini adalah pendakian pertama mereka dengan tanpa didampingi oleh seorang dewasa. Akhirnya, sebelum berangkat mereka saya suruh melakukan sholat safar, sebagaimana kebiasaan kami setiap kali sebelum bepergian jauh.

“Selamat mendaki, para pendaki kecil……”. Ibu kalian di rumah menunggu dan siap menerima order cucian pakaian kotor tanpa biaya….

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

(Note : Ilustrasi foto di atas diambil dari http://morishige.wordpress.com)

Akhirnya Berangkat Juga Ke Merbabu

9 Juni 2009

Akhirnya….. Pagi tadi saya mengantar Noval dan tiga orang temannya ke terminal bis Jombor, setelah sebelumnya saya briefing mereka yang rata-rata berumur 14-15 tahun itu. Beberapa jam kemudian melalui HP temannya kirim SMS, bunyinya : “Magelang” (maksudnya sudah sampai di terminal bis Magelang). Tidak lama kemudian datang lagi SMS : “Wekas” (maksudnya sudah sampai di base camp Wekas, di kaki utara Merbabu). “Selamat mendaki wahai para pendaki kecil…”

……. Tengah hari datang lagi SMS, bunyinya : “Masjid” (maksudnya sudah sampai di masjid terakhir di base camp, sholat dhuhur sebelum mulai mendaki). Kurang dua jam kemudian datang lagi SMS : “Pos 1” (berarti sudah mendaki sampai di Pos 1)…. Take care kids…..

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Menyaksikan Hari Baru 2009 Di Puncak Merapi

2 Januari 2009
Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januai 2009

Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januari 2009

Ada banyak cara dilakukan orang dalam menyambut datangnya tahun baru 2009. Di antaranya adalah dengan meninggalkan hiruk pikuk perkotaan, menuju ke alam bebas pegunungan. Noval dan bapaknya memilih untuk mendaki gunung Merapi (2.965 mdpl) yang menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber bencana, lalu berdiri di puncak Garuda menjadi saksi atas datangnya hari baru 1 Januari 2009.

Pendakian ini dicapai dari desa Selo, Boyolali, sekitar 60 km arah utara Yogyakarta, pada tanggal 31 Desember 2008 – 1 Januari 2009.

Merapi…..
sumber penghidupan sekaligus sumber bencana

Menggapai puncaknya adalah sebuah perjalanan mencari inspirasi
tentang gairah menemukan pencerahan baru
tentang semangat mengatasi tantangan
tentang kesadaran pengagungan kepada Sang Pencipta.

Namun,
Hari baru hanyalah sebuah keseharian
Menyaksikan sebuah mahakarya adalah kesempatan

Dan bilamana kesempatan itu datang dan kita memilikinya
Subhanallah…..
Maha Suci Allah Sang Pemilik Mahakarya itu
yang telah menciptakannya bersamaan dengan seruan-Nya :
“Hendaklah kalian berfikir…….”

Yogyakarta, 2 Januari 2009
Yusuf Iskandar

img_0902_noval-di-puncak-garuda

img_0860_watu-gajah

img_0905_di-watu-gajah

img_0862_daun-merah-dan-merbabu

img_0852_noval-dan-bapaknya

img_0865_monumen