Archive for the ‘> Pemilu Amerika 2000’ Category

Pemilu Amerika 2000 : Para Kandidat Presiden Amerika

7 November 2008

Tadi malam, setiba saya di rumah dari perjalanan ke Phoenix, Arizona, saya sempat melihat di TV, meski terlambat, siaran langsung hari terakhir dari Konvensi Nasional Partai Demokrat. Kandidat presiden Al Gore (yang saat ini adalah Wakilnya Bill Clinton) telah menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden Amerika ke 43 yang akan memulai masa jabatannya awal tahun 2001 nanti. Sehari sebelumnya, Joe Lieberman juga melakukan hal yang sama untuk kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat.

Konvensi nasional ini adalah puncak dari tahap pemilihan kandidat presiden dan wakil presiden dari masing-masing partai. Kali ini Partai Demokrat menggelar Konvensi Nasionalnya di gedung Staple Center, Los Angeles, California, di sisi barat dataran Amerika, selama tanggal 11 – 17 Agustus2000.

Seperti sudah diduga sebelumnya, pidato semacam ini sekaligus sebagai ajang kampanye dan penggalangan massa, banyak berisi kata-kata manis dan program-program indah. Dari komentar-komentar yang disampaikan via tilpun ke CNN oleh warga Amerika secara langsung seusai Konvensi malam itu juga, dapat disimak bagaimana warga Amerika mengekspresikannya. Ada yang memujinya sebagai “pidato terbaik yang pernah didengar”, ada yang spontan mengatakan “sebagai simpatisan Partai Republik saya akan beralih memilih Al Gore”, sebaliknya ada pula yang dengan sinis mengatakan : “janji, janji dan janji”. Ternyata pada dasarnya ya sami mawon (sama saja) dengan pidato kampanye di Indonesia.

Dua minggu sebelumnya (tanggal 2 Agustus 2000) ketika saya baru saja tiba di kota Phoneix, lalu menyetel TV di hotel, Dick Cheney sedang menyampaikan pidato penerimaannya untuk dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden dari Partai Republik. Esok harinya, giliran George W. Bush (yang saat ini adalah Gubernur negara bagian Texas, dan anak dari George Bush mantan presiden Amerika ke 41), menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden juga dari Partai Republik. Konvensi nasional Partai Republik sendiri sudah diselenggarakan di gedung First Union Center, Philadelphia, Pensylvania, di sisi timur dataran Amerika, pada tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2000 yang lalu.

Kedua agenda politik Amerika itu memang telah disiarkan melalui media cetak maupun elektronik secara besar-besaran. Setiap harinya stasiun-stasiun TV seperti berlomba menyiarkannya secara langsung dari arena Konvensi, disertai dengan berbagai komentar, analisis, tanya-jawab, peristiwa-peristiwa terkait, dan sampai digunakannya media chatting di internet yang bisa diikuti oleh siapa saja.

Tanpa publikasi yang seheboh Konvensi Partai Republik dan Demokrat, ternyata Partai Reformasi juga menyelenggarakan Konvensi Nasionalnya di kota Long Beach, California, pada tanggal 10-13 Agustus 2000, dengan kandidat presidennya Pattrick J. Buchanan. Ini adalah bagian dari kegiatan partai penggembira yang selalu muncul menyisip sebagai partai independen, selain ada juga Partai Hijau, Partai Sosialis, Partai Konstitusi, Partai Hukum Alam, dan Partai Libertarian. Mereka adalah sekelompok partai gurem yang keberadaannya tidak diabaikan, sekalipun tidak pernah memperoleh jumlah suara yang meyakinkan.

***

Konvensi Nasional semacam ini memang menjadi semacam seremoni formalitas bagi partai-partai untuk mengumumkan kandidatnya masing-masing, baik bagi presiden maupun wakil presiden pasangannya. Selanjutnya, para kandidat ini akan bersafari ke segenap pelosok negeri untuk berkampanye menggalang suara bagi kemenangannya.

Sejauh ini dari hasil berbagai jajak pendapat, George Bush nampaknya masih lebih unggul dibandingkan Al Gore. George Bush diuntungkan dengan adanya dukungan dari sebagian besar gubernur negara bagian yang berasal dari partai yang sama, yaitu para Republikan. Namun masih banyak kemungkinan dapat terjadi, tergantung keberhasilan mereka berkampanye, menjual program, dan terutama menarik simpati dari pendukung tradisional partai lawan agar beralih mendukungnya, dan hal semacam ini sudah jamak terjadi.

Pacuan kandidat presiden dan wakil presiden akan terus berlangsung, hingga hasil akhirnya baru akan diketahui pada tanggal 7 Nopember nanti saat rakyat Amerika menuju ke TPS-TPS (sengaja tidak saya katakan berduyun-duyun, karena kabarnya urusan coblos-menyoblos ini di Amerika tidak segegap-gempita di Indonesia). Saat itu rakyat Amerika akan memencet tombol mesin pemungut suara, dan lalu menunggu hasil perhitungannya secara nasional. Kita lihat saja nanti, siapakah yang akan memimpin negara adikuasa mulai tahun 2001 nanti.

New Orleans, 18 Agustus 2000
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000

2 November 2008

Pengantar :

Hari Selasa tanggal 4 Nopember 2008 ini rakyat Amerika akan melangsungkan pesta demokrasi untuk memilih Presiden Amerika ke-44. Dua kandidat presiden telah siap bertarung memperebutkan suara pilihan segenap warga Amerika, yaitu Barack Obama (Partai Demokrat) dan John McCain (Partai Republik). Di atas kertas, dan juga dari hasil jajak pendapat berbagai lembaga independen sebelum pemilu, menunjukkan bahwa Obama lebih unggul dibanding McCain. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari pacuan presiden Amerika tahun ini? Kita tunggu saja hasilnya.

Barack Obama

Barack Obama

John McCain

John McCain

Sekedar memberi gambaran tentang pemilu presidan Amerika, berikut ini saya ketengahkan catatan lama saya ketika ada pemilihan presiden Amerika tahun 2000, dimana bertarung antara George Bush (Partai Republik) dan Al Gore (Partai Demokrat). Pemilu presiden Amerika tahun 2000 ternyata menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik, karena inilah pemilu Amerika yang sepanjang sejarah Amerika akan tercatat sebagai pemilu yang paling rumit, paling melelahkan dan menjadi catatan buruk sistem demokrasi dalam perpemiluan Amerika. Bahkan media Amerika menjulukinya sebagai pemilu paling ora karuan.

George W. Bush

George W. Bush

Al Gore

Al Gore

Catatan-catatan yang lebih menyerupai reportase itu saya tulis bersambungan dalam 35 bagian saat saya tinggal di New Orleans, dan saya kirim kepada teman-teman di Indonesia mulai tanggal 6 Nopember s/d 14 Desember 2000. Semoga catatan lama ini dapat membantu untuk memahami apa yang terjadi dalam demokrasi sistem pemilu di Amerika.

Yogyakarta, 1 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (1)

2 November 2008

New Orleans, 6 Nopember 2000 – 11:00 CST (7 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Hari Selasa besok Amerika punya hajatan Pemilu. Masyarakat Amerika yang mempunyai hak pilih akan menggunakan hak pilihnya melalui mesin-mesin pemungutan suara di berbagai tempat. Di negara bagian (state) Louisiana, tempat-tempat pemungutan suara (TPS) akan mulai dibuka Selasa, 7 Nopember 2000 jam 6:00 pagi (Di Indonesia, Selasa, 7 Nopember 2000, jam 19:00 WIB) hingga ditutup jam 8:00 malam. Namun di beberapa negara bagian lain jam bukanya bervariasi antara jam 6:00 hingga jam 9:00 pagi, demikian halnya jam tutupnya antara jam 6:00 hingga jam 9:00 malam.

Hari Selasa pertama setiap bulan Nopember adalah “Hari Pemilu” di Amerika. Ya Pemilu apa saja : Presiden, anggota Konggres, anggota Senat, Gubernur negara bagian, Kepala Polisi, Kepala-Kepala Departemen, Walikota, Sekwilda, Kepala Kejaksaan, dsb. Tentunya bagi jabatan-jabatan yang pas menjelang berakhir masa jabatannya. Hanya saja tahun ini agak berbeda, sebagaimana setiap empat tahun sekali karena bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Bill Clinton, yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang baru.

Pada dasarnya besok bukan hari libur nasional, tetapi sekolah-sekolah pada meniadakan kegiatan belajar-mengajar, karena guru-guru dan karyawannya akan meninggalkan sekolah ikut coblosan. Kegiatan perkantoran juga biasanya menghindari agenda-agenda penting di hari itu, karena memberi kesempatan kepada setiap karyawannya yang berhak memilih untuk menuju ke TPS-TPS.

***

Untuk tidak sekedar mengetahui hasilnya saja siapa yang akan jadi pemenang antara pasangan ganda Partai Republik George W. Bush – Dick Cheney melawan pasangan Partai Demokrat Al Gore – Joe Lieberman, ada baiknya kita lihat cara penghitungan suaranya.

Dari jumlah pemilih yang ada di Amerika akan direpresentasikan dengan sejumlah 538 electoral vote (saya tidak tahu apa padanan bahasa Indonesianya yang pas, maka selanjutnya saya sebut saja dengan jatah suara). Ke-538 jatah suara ini tersebar ke seluruh 50 negara bagian yang ada plus ibukota Washington DC. Setiap negara bagian mempunyai jatah suara yang berbeda-beda, tetapi jumlahnya proporsional dengan populasinya dan biasanya juga sama dengan jumlah anggota konggres yang diwakilinya.

Sebagai contoh : negara bagian Montana, Wyoming atau Vermont yang tidak padat penduduknya, hanya mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 3 saja. Sebaliknya negara bagian Texas, New York dan California yang padat penduduknya, mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 32, 33 dan 54. Sedangkan negara bagian Louisiana dimana saya tinggal, mempunyai jatah suara 9.

Sistem perolehan suara ini umumnya digunakan patokan winner-take-all, artinya siapa kandidat yang menang di sebuah negara bagian (mengantongi jatah suara lebih dari 50%), maka dia berhak memperoleh semua jatah suara dari negara bagian tersebut. Sedangkan yang kalah tidak memperoleh jatah suara. Kecuali negara bagian Nebraska dan Maine yang membagi jatah suaranya berdasarkan distrik perwakilan konggresnya. Lagi-lagi saya tidak tahu pasti kenapa untuk aturan yang bersifat nasional ini, ada juga negara bagian yang ingin mempunyai aturan sendiri. Otonomi dalam berdemokrasi?

Oleh karena itu tidak heran kalau setiap kandidat saling berusaha agar dapat menang di negara bagian yang jatah suaranya banyak, sehingga dengan hanya menang di California misalnya, akan sama artinya dengan menang di beberapa negara bagian sekaligus yang mempunyai jatah suara sedikit.

Dengan demikian, kandidat yang secara nasional dapat mengumpulkan jatah suara (electoral vote) minimal setengah ditambah satu, atau 270 suara, maka dia berhak menjadi pemenangnya. Angka 270 suara adalah jumlah dari pengumpulan jatah suara dari negara-negara bagian yang berhasil dimenanginya.

Meskipun tak seorangpun melihat kemungkinan akan terjadinya hasil seri (269 vs 269), namun jika hal itu terjadi juga, maka pemenangnya akan dipilih oleh perwakilan Kongres dengan setiap perwakilan Kongres mempunyai satu hak suara. 

Dari hitung-hitungan di atas, maka secara teoritis seorang kandidat yang menang di lebih banyak negara bagian belum tentu menjadi pemenang pemilihan jika ternyata dia hanya menang di negara-negara bagian yang jatah suaranya kecil. Sebaliknya seorang kandidat yang menang di lebih sedikit negara bagian tetapi mempunyai jatah suara yang banyak, bisa jadi akan menjadi pemenangnya.

***

Siapa kira-kira yang bakal menjadi pemenangnya? Dari berbagai jajak pendapat hingga hari terakhir ini menunjukkan bahwa persaingan antara George Bush dan Al Gore semakin ketat, meskipun George Bush masih sedikit lebih unggul dalam popularitas. Jajak pendapat gabungan yang dilakukan oleh harian USA Today-CNN-Gallup menunjukkan dalam beberapa hari terakhir ini popularitas George Bush lebih unggul 47%-45% terhadap Al Gore. Padahal beberapa hari sebelumnya popularitas George Bush unggul 48%-43%.

Dari perkiraan angka yang ada hingga hari ini, menurut USA Today, George Bush diperkirakan unggul di sejumlah 26 negara bagian dengan mengumpulkan 224 jatah suara, sedangkan Al Gore unggul di 12 negara bagian dengan 181 jatah suara. Masih ada 12 negara bagian sisanya dengan jatah suara 133 yang mempunyai peluang sama untuk diungguli George Bush maupun Al Gore.

Apakah kira-kira George Bush yang akan jadi pemenangnya? Sejarah membuktikan, pernah terjadi seorang kandidat yang kalah dalam popularitas ternyata berhasil menang dalam pemilihan presiden.

Jadi? Kita lihat saja bagaimana hasilnya besok. Bagi mereka yang berminat, dapat melihat pergerakan angka-angka hasil pemilu ini dari waktu ke waktu melalui beberapa website, diantaranya dengan mengakses ke http://www.usatoday.com atau http://www.cnn.com. Tapi di Indonesia sedang malam hari, ya…. terpaksa baru besoknya bisa melihat hasilnya…..  Mudah-mudahan saya sempat mem-posting hasil pergerakan suaranya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (2)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 13:30 CST (8 Nopember 2000 – 02:30 WIB)

Sehabis istirahat makan siang ini saya sempatkan membuka-buka internet untuk mengetahui bagaimana perkembangan sementara pemilu Amerika hari ini (saya lakukan ini karena saya tertarik dengan pesta demokrasinya rakyat Amerika).

Dari beberapa sumber yang sempat saya akses, ternyata hasil pengumpulan suara tidak langsung dipublikasikan dari waktu ke waktu. Hasil tercepat kelihatannya secara resmi baru dapat diketahui umum pada Selasa sore nanti sekitar jam 05:00 PM waktu Amerika Tengah (Rabu pagi jam 6:00 WIB). Meskipun beberapa media on-line sudah mengabarkan hasil sementara di beberapa kota di wilayah timur Amerika. Diantaranya, George Bush unggul atas Al Gore di sebuah kota kecil Dixville Notch di wilayah negara bagian New Hampshire. Secara tradisional, kota Dixville Notch ini memang menjadi salah satu kota pertama di wilayah Amerika timur yang mengawali coblosan.

Hingga menit terakhir sebelum hari pemilu, ada perkembangan menarik dari popularitas kedua kandidat utama presiden. Menurut jajak pendapat yang dilansir Reuters/MSNBC, popularitas Gore berhasil mengungguli Bush dengan 48% – 46%, sisanya diraih oleh Partai Hijau 5%, Partai Libertarian dan Partai Reformasi masing-masing 0,5%. Sedangkan jajak pendapat yang dilakukan USA Today/CNN/Gallup masih memproyeksikan Bush unggul atas Gore dengan 48% – 46%, dan sisanya dipegang oleh beberapa partai tambahan selain Republik dan Demokrat.

Berapapun pergerakan prosentase popularitas kedua kandidat utama ini, yang tampak jelas adalah bahwa hingga menit-menit terakhir ini belum ada yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi pemenang. Dalam sejarah pemilu di Amerika, sejak sekitar 40 tahun terakhir baru kali inilah berbagai jajak pendapat menunjukkan perbandingan prosentase yang sangat ketat. Berbeda halnya dengan beberapa pemilu sebelumnya, dimana dari berbagai jajak pendapat biasanya sudah tampak perbedaan prosentase yang signifikan sehingga sudah dapat diprediksi siapa yang bakal menang. Karena itu pemilihan presiden kali ini menjadi menarik untuk diperhatikan, termasuk bagi warga masyarakat Amerika sendiri.

Barangkali mirip-mirip dengan apa yang terjadi dalam sejarah pemilu di Indonesia. Orang cenderung untuk tidak terlalu antusias memperhatikan pemilu-pemilu dijaman Orde Baru, lha wong sudah pasti Golkar akan menang mutlak. Berbeda halnya dengan pemilu terakhir tahun 1999 yll, orang penasaran ingin tahu apa yang bakal terjadi, karena tidak ada lagi mayoritas tunggal melainkan adanya perimbangan popularitas partai-partai besarnya.

***

Apa komitmen politik yang dibawa Bush dan Gore untuk menarik simpati rakyat Amerika agar memilih mereka? Bush mengatakan : “I’m a uniter, not a devider” (Saya adalah pemersatu, bukan pemecah-belah). Gore mengatakan : “I will move country forward” (Saya akan membawa negeri ini melangkah ke depan).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Apakah lalu masyarakat Amerika tertarik untuk memilih satu di antara kandidat yang ada, atau dengan kata lain apakah semua warga negara Amerika yang berhak memilih akan menggunakan hak pilihnya? Ini salah satu pertanyaan yang menarik, karena selama ini kita di Indonesia seringkali menjadikan tingkat kepedulian atau kesadaran berdemokrasi di negara maju sebagai acuan. Setiap kali kita bicara tentang pendidikan politik atau demokrasi, seringkali menggunakan negara maju sebagai acuannya, di antaranya ya Amerika ini.

Dalam sejarah pemilu di Indonesia, rata-rata di atas 90% warga masyarakat yang berhak memilih akan datang ke TPS-TPS untuk memberikan hak suaranya, baik untuk memilih maupun untuk tidak memilih alias golput. Di Amerika, bisa mencapai angka 70% adalah prestasi politik yang suuuangat bagus. Dua pemilu terakhir, tahun 1992 dan 1996, hanya sekitar 55% dan 49% saja warga yang mempunyai hak suara menyalurkan suaranya untuk memilih. Tahun 1996 adalah prosentase terburuk sejak tahun 1924.

Maka muncullah analogi berpikir coro bodon (cara bodoh) di otak saya : kalau begitu siapa sebenarnya yang tingkat pendidikan atau kesadaran berpolitik atau berdemokrasinya lebih tinggi? Siapa yang “lebih sadar” dan siapa yang “lebih tidak sadar” (atau semaput) dalam berdemokrasi?

Memang tidak sesederhana itu analoginya. Sebagai hasil pembangunan demokrasi dalam kehidupan masyarakat Amerika yang semakin mapan, maka masyarakat Amerika menjadi cuek dengan pemilu. Siapapun presidennya ya tidak ada bedanya, akan begitu-begitu juga dampaknya bagi “nasib” mereka. Demikian barangkali salah satu alasan yang dimiliki oleh separuh dari masyarakat Amerika yang berhak memilih tapi tidak menggunakan hak pilihnya.

Kok, kedengarannya sama seperti sikap skeptisnya para golput yang pernah ada di Indonesia. Jadi, pola kehidupan politik dan demokrasi di negara maju dan negara berkembang apakah berarti ya sami mawon (sama saja)?. Alasan di atas memang baru satu dari seribu yang mungkin ada. Saya tidak tahu 999 alasan lainnya yang bisa jadi akan menggugurkan kesimpulan di atas.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (3)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 17:30 CST (8 Nopember 2000 – 06:30 WIB)

Negara bagian Kentucky dan Indiana adalah dua negara bagian yang pertama kali menutup TPS-TPS-nya pada jam 06:00 sore waktu setempat atau jam 05:00 sore waktu New Orleans (Rabu, 06:00 WIB). Maka hasil pemilu pun sudah dapat diketahui dan George Bush ternyata unggul tipis atas Al Gore.

Dengan cara perhitungan winner-take-all, maka George Bush berhak mengantongi jatah suara (electoral vote) dari kedua negara bagian ini. Dengan demikian sementara George Bush sudah memperoleh 20 jatah suara (electoral vote) masing-masing 8 dan 12 dari negara bagian Kentucky dan Indiana, sedangkan Al Gore belum memperolehnya. Diperlukan minimal 270 jatah suara (electoral vote) untuk memenangi pemilihan presiden Amerika.

Ada hal yang menarik di kalangan analis politik Amerika, yaitu bahwa sejak tahun 1964 siapapun yang menang di Kentucky yang menjadi negara bagian yang pertama kali menutup TPS-nya dan menghitung suaranya, biasanya berhasil menjadi presiden terpilih. Apakah demikian yang akan terjadi dengan George Bush? Kita lihat saja nanti.

Negara bagian berikutnya yang akan menutup TPS-nya dan menghitung hasilnya pada Selasa sore jam 06:00 waktu New Orleans nanti (Rabu, 07:00 WIB) adalah Florida, Georgia, New Hampshire, South Carolina, Vermont dan Virginia.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (4)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 19:45 CST (8 Nopember 2000 – 08:45 WIB)

Hingga saat ini persaingan semakin ketat. Al Gore kini unggul tipis dengan 145 suara dari 12 negara bagian dan George Bush 130 suara juga dari 11 negara bagian. Masih cukup panjang jalan menuju angka kemenangan 270 suara hingga tengah malam nanti (tengah hari Rabu WIB), dan masih banyak kemungkinan dapat terjadi.

Kejar mengejar jumlah suara ini tentu mengingatkan kita pada Sidang Umum MPR yang lalu, ketika Gus Dur dan Megawati saling susul-menyusul dalam penghitungan perolehan suara. Hanya bedanya di sini tidak ada penggembira yang hobinya ngamuk (dulu, baru alasan dicari belakangan).

George Bush tadi siang mencoblos di kota Austin, negara bagian Texas, dimana dia saat ini menjabat sebagai Gubernur dan ternyata dia memang memenangi perolehan suara di kampungnya sendiri. Sementara Al Gore mencoblos di Tennessee, negara bagian di mana dia berasal, tepatnya di kota Elmwood yang hingga kini belum selesai penghitungan suaranya.

Kita tunggu perkembangan selanjutnya, karena setiap jam hingga tengah malam nanti beberapa negara bagian secara bertahap dari timur ke barat akan menutup TPS-nya dan menghitung jumlah perolehan suaranya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (5)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 21:30 CST (8 Nopember 2000 – 10:30 WIB)

Al Gore yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Presiden ternyata justru kalah di Tennessee, negara bagian dari mana dia berasal. CNN melaporkan, setelah 39 negara bagian telah menutup TPS dan menghitung suaranya, kini giliran George Bush melejit dengan meraih 217 suara dari 24 negara bagian meninggalkan Al Gore yang masih meraih 172 suara dari 15 negara bagian.

Masih 11 negara bagian lagi yang belum menyelesaikan pemilu dan penghitungan suaranya hingga malam ini. Bush perlu 53 suara lagi untuk mencapai angka kemenangan 270. Akan tetapi Al Gore punya kartu truf dengan keyakinannya untuk menang di negara bagian California yang mempunyai 54 jatah suara, ditambah dengan keyakinannya untuk juga meraih kemenangan di beberapa negara bagian di pantai barat lainnya.

Al Gore dan pasangannya Joe Lieberman serta George Bush dan pasangannya Dick Cheney, saat ini tentu sedang deg-degan dan semakin tegang mengamati perkembangan perolehan suara dari setiap negara bagian yang mulai menghitung hasil pemilu sejak seharian tadi.

Melihat kejar-kejaran angka yang demikian ini, para pemilih di wilayah pantai barat seperti negara bagian California, Oregon dan Washington, serta Alaska dan Hawaii yang baru akan menutup TPS-nya sekitar satu jam lagi tentunya sudah mulai membuat hitungan-hitungan “politis”. Para pemilih di wilayah barat Amerika ini yang seharian sibuk di kantor atau di ladang dan baru saat menjelang penutupan sempat pergi ke TPS-TPS tentu sudah melihat hasil perhitungan suara dari wilayah timur Amerika.

Kepada siapa suara mereka akan diberikan? Kemungkinan pertama mereka akan terus menggunakan hak pilihnya untuk memperkuat posisi jago mereka. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka berubah pikiran jika jago mereka sudah jelas kalah, mereka memilih untuk tidak memilih saja dan pulang ke rumah.

Cara berpikir sederhana ini memang hal yang lumrah saja. Ya seperti yang saya kemukakan sebelumnya, banyak juga masyarakat Amerika ini yang tidak terlalu menganggap penting tentang pemilihan presidennya. Buktinya? Diramalkan hanya 50% saja dari masyarakat yang mempunyai hak pilih akan menggunakan haknya tahun ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (6)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 23:45 CST (8 Nopember 2000 – 12:45 WIB)

Hingga menjelang tengah malam ini, ternyata persaingan semakin ketat. Kini George Bush masih unggul sangat tipis terhadap Al Gore dengan perbandingan perolehan suara 246 – 242, masing-masing dari 29 dan 18 negara bagian.

Masih ada empat negara bagian yang belum menyelesaikan hasil perhitungan akhir pemilu, diantaranya dua negara bagian yang akan mengkontribusi cukup besar jatah suaranya, yaitu Florida dan Wisconsin yang masing-masing mempunyai jatah suara 25 dan 11. Sedangkan dua negara bagian lainnya, Iowa dan Oregon, masing-masing menyisakan 7 suara.

Melihat perkembangan pergerakan angka perolehan suara ini terasa semakin mengasyikkan dan mendebarkan. Padahal saya tidak punya kepentingan apapun, tapi kok menarik. Seperti dilansir beberapa media, bahwa persaingan menuju kursi kepresidenan tahun ini adalah yang paling ketat sejak 40 tahun terakhir. Ternyata hingga diselesaikannya perhitungan di 47 negara bagian, masih belum tampak tanda-tanda siapa yang bakal mencapai garis finish pertama kali dengan meraih 270 suara, untuk muncul sebagai pemenangnya. Peluang keduanya untuk menang di sisa negara bagian yang belum selesai perhitungan suaranya sama besar.

Jika sampai lewat tengah malam nanti masih terjadi persaingan ketat, maka perhitungan suara akan menjadi lebih mendebarkan. Ini antara lain disebabkan karena ternyata di negara bagian Oregon, sistem coblosan-nya tidak dilakukan melalui TPS-TPS secara langsung malainkan dilakukan melalui surat yang harus diposkan pada hari Selasa ini. Lagi-lagi, penerapan aturan yang berbeda-beda untuk urusan yang bersifat nasional ini membuat saya heran.

Sebagai akibat dari sistem pemungutan suara lewat pos ini tentu saja hasilnya belum akan diketahui hingga tengah malam nanti, bahkan mungkin baru akan diketahui seluruhnya pada seminggu kedepan. Itu sebabnya jika sampai 50 negara bagian termasuk ibukota Washington DC selesai dengan hasil perhitungannya malam ini dan belum juga ada yang mencapai angka 270, artinya periode deg-degan bagi kedua kandidat akan masih berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Kalau benar demikian kejadiannya, maka barangkali peristiwa semacam ini baru terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Amerika.

Sebagai penonton, saya sendiri sangat menikmati pacuan presiden Amerika ini yang perolehan suaranya saling susul-menyusul silih berganti. Selain melalui saluran internet, saya juga menyaksikannya melalui saluran TV CNN yang ditayangkan sejak sore tadi, lengkap dengan hasil pemilu untuk anggota konggres, senat, gubernur, dsb. beserta komentar-komentarnya. Hingga rela menunda untuk pergi tidur…….-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (7)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 01:30 CST (8 Nopember 2000 – 14:30 WIB)

Akhirnya negara bagian Florida yang memberikan jatah suara 25 menjadi kunci kemenangan bagi George Bush. Setelah melalui periode perhitungan suara yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan lebih 8 jam sejak jam 05:00 Selasa sore tadi, akhirnya George Bush berhasil mencapai garis finish terlebih dahulu setelah melampaui angka kemenangan 270 suara. Bush kini telah mengumpulkan 271 suara dari 30 negara bagian, sedangkan Gore baru menambah 7 suara dari negara bagian Iowa dan mengumpulkan 249 suara dari 19 negara bagian.

Penghitungan suara memang belum selesai, masih menyisakan dua negara bagian lagi yaitu Oregon dan Wisconsin yang masing-masing menyisakan 7 dan 11 suara. Apapun hasil perhitunganya nanti, kiranya sudah tidak akan mempengaruhi posisi kemenangan George Bush sebagai Presiden Amerika yang baru, menggantikan Bill Clinton bulan Januari 2001 nanti.

Kemenangan tipis ini yang agaknya sangat dinanti-nantikan oleh para industriawan Amerika, mengingat George Bush dipandang mempunyai komitmen yang tinggi terhadap dunia industri. Seperti diketahui bahwa Bush sekarang ini masih menjabat sebagai gubernur negara bagian Texas, dimana industri perminyakan di wilayah itu termasuk menonjol di daratan Amerika utara.

Berakhirlah sudah momen terpenting dari pesta demokrasi rakyat Amerika, meskipun secara keseluruhan proses pemilu belum selesai karena masih ada banyak perhitungan angka-angka perolehan suara yang akan diselesaikan. Antara lain bagi pemilihan anggota Konggres, Senat, Gubernur, berbagai peraturan perundang-undangan dan peraturan-peraturan hukum di tiap-tiap negara bagian yang juga di-pemilu-kan.

Selamat untuk Gus Bush, eh … George Bush, menjadi Presiden Amerika ke-43 dari Partai Republik. Semoga tidak membawa Amerika menjadi semakin pethenthang-pethentheng……

Yusuf iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (8)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 13:00 CST (9 Nopember 2000 – 02:00 WIB)

Ooops….., ternyata pacuan presiden Amerika belum usai. George Bush ternyata “belum” menjadi presiden terpilih. Pagi tadi saya baru tahu ada kejadian menarik dalam pemilihan presiden Amerika kali ini.

Lewat tengah malam tadi, ketika saya lihat CNN melaporkan bahwa Bush berhasil menang di Florida, saya pikir presiden baru Amerika sudah terpilih. TV dan komputer pun lalu saya matikan, dan pergi tidur. Hingga tadi pagi ketika berangkat ke kantor saya masih beranggapan hasil tadi malam sudah final. Rupanya setiba di kantor, saya menjumpai berita menarik bahwa akan dilakukan penghitungan ulang atas jumlah pengumpulan suara di negara bagian Florida. Ini berarti, baik Bush maupun Gore hingga saat ini sama-sama belum mencapai angka ajaib 270 suara (electoral vote) untuk meraih kemenangan.

Padahal dini hari tadi Gore sudah telanjur menilpun Bush untuk mengucapkan selamat dan sudah siap-siap menjumpai pemilihnya di kota Nashville, Tennessee, guna menyampaikan sepatah dua patah kata atas kekalahannya. Gore pun sudah siap menerima kekalahannya dan akan mendukung pemerintahan Bush.

Hasil perhitungan akhir dari 49 negara bagian termasuk dari ibukota Washington DC yang sudah diselesaikan penghitungan suaranya hingga dini hari tadi, George Bush memperoleh 246 suara dari 29 negara bagian dan Al Gore mengumpulkan 260 suara dari 20 negara bagian. Penambahan 11 suara bagi Gore diperoleh dari kemenangannya di negara bagian Wisconsin. Dengan demikian, masih tersisa 2 negara bagian yang belum menyelesaikan perhitungan akhirnya, yaitu Oregon dengan 7 suara dan Florida (yang dilakukan penghitungan ulang) dengan 25 suara.

Dari posisi terakhir pengumpulan suara ini tampaknya suara dari Florida akan menjadi kunci kemenangan baik bagi Bush maupun Gore. Sedangkan suara dari Oregon yang hanya 7 suara, tidak lagi menjadi penentu kemenangan. Selain juga kelihatannya akan perlu waktu untuk mencapai hasil perhitungan akhir di Oregon mengingat sistem pemilihannya dilakukan lewat pos.

Kejadian ini agaknya cukup menarik perhatian bagi masyarakat Amerika sendiri yang biasanya cenderung tidak urus dengan pemilihan presidennya. Baru pertama kali ini dilakukan penghitungan ulang atas perolehan suara di suatu negara bagian di saat-saat yang menentukan. Justru hal ini terjadi di Florida yang secara geografis terletak di pantai timur Amerika yang berarti penutupan TPS-nya sebenarnya sudah dilakukan lebih awal dibandingkan dengan negara bagian lain yang berada di wilayah tengah maupun pantai barat.

Kenapa demikian? Sepanjang yang saya ketahui, saya tidak menjumpai adanya aturan tentang penghitungan ulang ini. Saya hanya mereka-reka, barangkali karena jatah suara (electoral vote) dari Florida menjadi kunci kemenangan bagi kedua kandidat presiden, sedangkan selisih pengumpulan kartu suara (popular vote) antara keduanya sangat tipis, maka diperlukan akurasi dalam perhitungannya hingga tuntas. Tambahan lagi bahwa ternyata tidak semua kabupaten (county) di Florida sudah menggunakan sistem komputerisasi, masih ada juga beberapa daerah yang penghitungannya dilakukan secara manual.

Menurut Panitia Pemilu, dikatakan bahwa di Florida jika margin pengumpulan kartu suara antara kedua kandidat utama sangat tipis atau kurang dari 1%, maka otomatis akan dilakukan penghitungan ulang. Memang dari data terakhir tadi pagi, margin pengumpulan kartu suara antara Bush dan Gore hanya berbeda 1.785 suara untuk keunggulan Bush. Saya tidak tahu alasannya kenapa tadi malam CNN buru-buru menyimpulkan angka yang belum resmi dikeluarkan oleh Panitia ini sebagai angka kemenangan bagi Bush. Akibatnya menjadi fatal karena informasi dari media ini dengan cepat terkonsumsi oleh masyarakat seluruh dunia, terlepas dari apakah nantinya benar-benar Bush yang akan menang di Florida.

Melihat perkembangan penghitungan suara di Florida, maka para pengamat memperkirakan bahwa posisi suara dari pemilih yang tidak hadir (absentee ballots) akan menjadi sangat penting. Ini adalah kartu suara yang antara lain berasal dari pemilih di luar Florida atau di luar negeri, seperti halnya para pekerja dan petugas militer yang sudah terdaftar di Florida sehingga suara mereka dikirimkan melalui surat. Biasanya suara-suara ini tidak banyak berpengaruh di dalam penghitungan akhir suara secara keseluruhan. Tetapi kali ini menjadi sangat berarti karena Florida akan menjadi penentu siapa presiden Amerika yang akan terpilih, sedangkan selisih jumlah suara antara kedua kandidat utama yang sudah dihitung hingga saat ini sangat tipis.

Direncanakan paling lambat hari Kamis sore besok (Jum’at pagi WIB) hasil perhitungan resminya sudah dapat diketahui. Demi menjaga kenetralannya, maka proses penghitungan ulang ini sendiri akan disaksikan oleh berbagai pihak sebagai komisi pengawas, termasuk para pejabat, perwakilan media massa dan perwakilan baik dari kubu George Bush maupun Al Gore.

Tampaknya masa deg-degan bagi kedua kubu Bush maupun Gore beserta pendukungnya masih harus berlanjut hingga hari-hari ini. Masyarakat Amerika juga jadi penasaran dengan belum diketahuinya siapa presiden baru mereka, meskipun pemilu sudah usai. Segenap mata sedang tertuju ke Florida, the Sunshine State yang pantai timurnya banyak dikunjungi wisatawan untuk mandi matahari, terutama di pantai Miami dan Keystone.

Sebagai penonton, saya sangat menikmati kejadian langka ini. Jadi, kalau ada yang berminat dengan kejadian ini, ya mari sama-sama kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh negeri besar ini untuk memilih presiden barunya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (9)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 22:30 CST (9 Nopember 2000 – 11:30 WIB)

Program acara di saluran TV CNN hingga malam ini masih dipenuhi dengan berita hasil pemilu kemarin, terutama berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara di negara bagian Florida, lengkap dengan segala macam ulasan, komentar, tanggapan, dsb. Hal yang sama juga mengisi halaman-halaman surat kabar. Rupanya bukan hanya saya sebagai orang luar yang menikmati drama mendebarkan tanpa akhir (meminjam istilah harian USA Today) pacuan presiden tadi malam, bagi publik Amerika pun peristiwa ini cukup menarik untuk dinikmati.

Peristiwa pengumpulan suara yang berlangsung sangat ketat dalam pemilihan presiden kali ini yang bahkan hingga kini belum diketahui hasil akhirnya, kelihatannya memang belum pernah terjadi. Masih perlu waktu untuk menyudahinya, dengan sementara menghasilkan score 260 – 246 untuk keunggulan Al Gore. Menurut catatan harian The Times Picayune, peristiwa yang hampir sama terjadi tahun 1916 dimana Woodrow Wilson mengungguli Charles E. Hughes dengan 277 – 254. Kemudian tahun 1976 ketika Jimmy Carter menang melawan Gerald Ford dengan nilai 297 – 240. Selebihnya pengumpulan angka biasanya diakhiri dengan kemenangan telak (berselisih cukup besar).

Hal yang menarik dari persaingan ketat antara Bush dan Gore kali ini adalah perlu dilakukannya penghitungan ulang jumlah kartu suara di Florida yang justru terjadi saat jatah suara Florida akan menjadi kunci kemenangan bagi para kandidat presiden tersebut. Mengenai hal ini saya sempat penasaran, kenapa mesti dihitung ulang. Setelah tanya sana-sini dan mencari-cari referensi, akhirnya saya menemukan jawaban bahwa ternyata negara bagian Florida memang mempunyai aturan tersendiri mengenai penghitungan hasil akhir pemilu.

Di Florida, penghitungan ulang hasil pemilu akan otomatis dilakukan jika terjadi selisih kartu suara (popular vote) di bawah setengah persen (dalam catatan saya sebelumnya saya tulis satu persen). Seperti yang terjadi tadi malam, dimana Bush mengumpulkan 2.909.135 suara (49%) dan Gore mengumpulkan 2.907.351 suara (49%) dan berselisih hanya 1.784 suara, maka penghitungan ulang suara pun perlu dilakukan secara lebih lengkap dan teliti.

Hal semacam ini tidak terjadi di negara bagian yang lain karena memang tidak memberlakukan aturan yang demikian. Contohnya di negara bagian Wisconsin, selisih suara Bush dan Gore sebenarnya juga kurang dari setengah persen, tapi toh tidak perlu dilakukan penghitungan ulang. Rupanya meskipun ini urusan yang berskala nasional dan demi kepentingan nasional, pemerintah federal Amerika harus tunduk kepada aturan yang berlaku di pemerintah negara bagian Florida.

Hingga malam ini, menurut CNN, penghitungan ulang baru berhasil diselesaikan di 19 kabupaten (county) dari 67 kabupaten yang ada di Florida. Masih akan perlu waktu untuk menyelesaikan keseluruhan penghitungan ulang, belum lagi kalau harus ditambah dengan menghitung kartu suara yang diposkan dari luar negeri. Sementara ini tercatat jumlah suara Bush menjadi 2.909.465 sedangkan suara Gore menjadi 2.907.722. Panitia memperkirakan penghitungan ulang akan selesai hari Kamis sore (Jum’at pagi WIB).

Entah apa yang bakal terjadi besok sore. Akankah penyelesaian penghitungan ulang diperpanjang waktunya, mengingat masih banyak suara dari luar negeri yang mungkin terlambat diterima panitia dan tentunya juga perlu diperhitungkan. Menurut catatan dalam pemilihan presiden tahun 1996 ada sekitar 2.300 suara dari luar negeri. Saya tidak tahu, aturan berbeda apalagi yang akan diberlakukan. Kalau benar demikian, tentu akan semakin mendebarkan menunggu hasilnya, terutama bagi kedua kandidat presiden dan pendukungnya.

Bagi saya yang bukan pengamat politik, saya menikmati tayangan peristiwa kejar-kejaran pengumpulan suara tadi malam lebih sebagai hiburan drama yang mengasyikkan. Dan kelihatannya memang kemasan acara semacam itu yang disajikan CNN. Barangkali karena saking bergairahnya ingin memberikan suguhan acara dan surprise bagi penontonnya, sampai-sampai CNN kebablasan dengan membuat proyeksi atas hasil hitungan sementara di Florida dengan menyebut Bush sebagai pemenangnya.

Belakangan ternyata keliru, setidak-tidaknya angka yang diumumkan CNN bukanlah angka resmi yang dikeluarkan oleh panitia pemilu Florida. Ketika tadi siang iseng-iseng saya tanyakan kepada rekan Amerika saya : “Kok media seperti CNN bisa ceroboh begitu?”. Jawabnya ringan saja : “That’s American Press”

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (10)

2 November 2008

New Orleans, 9 Nopember 2000 – 18:00 PM (10 Nopember 2000 – 07:00 WIB)

Kini semua mata tertuju ke negara bagian Florida, apa yang sedang dan akan terjadi di sana. Perhatian tidak lagi pada jumlah jatah suara (electoral vote) secara nasional, melainkan lebih detail lagi ke jumlah kartu suara (popular vote) khusus di wilayah Florida. Dengan menang di Florida, maka Bush atau Gore akan berhak mengantongi tambahan 25 jatah suara (electoral vote), yang akan membuat total jatah suaranya secara nasional melebihi batas angka kemenangan 270. Oleh karena itu, setiap lembar kartu suara menjadi berarti sangat sensitif. Ini karena siapa pun yang menang di Florida meski hanya unggul dengan satu suara, maka dia akan menjadi presiden Amerika yang baru.

Tidak heran kalau kedua kubu, Bush maupun Gore, seakan-akan tidak ingin terlena sedetikpun menyaksikan setiap perhitungan ulang di 67 kabupaten (county) yang ada. Saking krusialnya hasil perhitungan ulang ini, maka segala kemungkinan mulai dipelototin, setiap hal yang dapat menyebabkan kalah atau menang mulai saling dicari alasan pembenaran atau kesalahannya. Mulai dari cetakan kartu suara yang membingungkan pemilih, kartu suara yang hilang, kartu suara yang dianggap tidak sah, mulai timbul rasa saling curiga, dsb. Yen tak pikir-pikir……, kalau sudah begini kok jadi sama saja dengan kita di Indonesia, ya…….

Bahkan, kelompoknya Al Gore sedang mempersiapkan permintaan agar dilakukan penghitung ulang secara manual terhadap empat kabupaten. Hal ini muncul karena adanya protes dari para pemilih Gore terhadap adanya cetakan kartu suara yang membingungkan sehingga dikhawatirkan suara yang seharusnya lari ke Gore oleh komputer “dibelokkan” ke Pat Buchanan, seorang kandidat dari partai gurem, Partai Reformasi. Agaknya komputer pun sudah mulai dicurigai dan tidak dipercaya. Ada-ada saja, tapi nyata dan kelihatannya kok ya masuk akal.-

Sesuai janji panitia pemilu Florida yang akan menyelesaikan penghitungan ulang kartu suara pada akhir jam kerja Kamis sore ini, ternyata hingga saya mau pulang kantor belum juga selesai. Menurut catatan CNN saat ini panitia sudah berhasil menyelesaikan penghitungan ulang di 64 kabupaten dan masih 3 kabupaten lagi.

Hasil sementaranya menunjukan selisih yang semakin tipis. Jumlah suara untuk George Bush terkumpul 2.909.720 suara dan untuk Al Gore 2.909.358 suara. George Bush unggul sementara dengan selisih “hanya” 362 suara. Apakah Al Gore akan berhasil mempersempit margin dan mengungguli George Bush, atau Bush akan tetap bertahan di posisinya dan terpilih menjadi presiden?

Tunggu dulu. Kalaupun Bush akan tetap unggul di 67 kabupaten, Al Gore tentu tidak akan terima begitu saja. Masih ada kartu suara yang belum dihitung, yaitu yang disebut dengan absentee ballots atau suara yang diberikan secara tidak langsung melalui pos. Suara jenis ini kebanyakan dari para petugas militer yang sedang bertugas di luar negeri. Pada pemilu tahun 1996 yang lalu jumlahnya sekitar 2.300 suara.

Dalam pemilu-pemilu sebelumnya suara jenis ini dapat diabaikan karena jumlahnya relatif tidak akan berpengaruh terhadap penentuan siapa yang menang atau kalah di setiap negara bagian. Tetapi kali ini menjadi sensitif, melihat kenyataan akan selisih yang sangat tipis antara jumlah suara yang dikumpulkan Bush dan Gore yang sedang dihitung ulang. Besar kemungkinan absentee ballots dapat menyebabkan Bush atau Gore berada di posisi yang sebaliknya.

Kalau jenis suara ini akan ditunggu kedatangannya, maka masa penantian bagi rakyat Amerika untuk mempunyai presiden yang baru masih akan panjang. Paling tidak, perlu tenggang waktu seminggu lagi. Bush dan Gore pun menjadi semakin berolah raga jantung ………….

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (11)

2 November 2008

New Orleans, 9 Nopember 2000 – 23:30 CST (10 Nopember 2000 – 12:30 WIB)

Melihat perkembangan penghitungan ulang kartu suara di Florida, bagi penggemar sepakbola barangkali dapat digambarkan sebagai kemelut di depan gawang yang tak berkesudahan. Sementara penghitungan ulang kartu suara di Florida masih belum akan tuntas hingga minggu depan, sementara itu pula muncul berbagai kontroversi diantaranya pemilih di kota Palm Beach yang meminta diadakan pemilihan ulang. Sedangkan publik Amerika lainnya sedang menanti siapa presiden mereka yang baru.

The Associated Press memberikan angka sementara hasil penghitungan ulang di Florida dengan Bush untuk sementara masih unggul tipis terhadap Gore dengan 229 suara. Selisih angka ini diperoleh setelah diselesaikannya penghitungan ulang di 66 kabupaten dari 67 kabupaten yang ada, dan tinggal menyisakan dari kota Palm Beach. Angka ini memang belum resmi karena batas akhir pengumpulan hasil penghitungan ulang dari tiap-tiap kabupaten paling lambat harus diserahkan kepada panitia pemilu pada hari Selasa depan.

Hasil akhir selengkapnya ternyata masih akan menunggu hingga Jum’at pekan depan. Kartu suara yang berasal dari pemilih di luar negeri masih akan ditunggu hingga batas akhir penerimaan tanggal 17 Nopember, atau 10 hari setelah hari pemilu. Melihat ketatnya selisih angka sementara antara kedua kandidat utama presiden ini, maka suara dari pemilih luar negeri tampaknya akan sangat menentukan siapa yang akan menjadi pemenangnya.

Palm Beach, adalah kota wisata di pantai timur Florida. Hingga malam ini para pemilihnya berunjuk rasa menuntut diadakannya pemilihan ulang. Demikian halnya yang terjadi di ibukota negara bagian Florida, Tallahassee. Pasalnya, para pemilih merasa sempat bingung saat harus mencoblos kartu suara sebagai akibat dari rancangan kartu suara yang dianggap membingungkan.

Hal ini berakibat ada sekitar 19.000 kartu suara yang dianggap oleh panitia tidak sah karena terdapat dua coblosan dan ada ribuan suara lagi yang coblosannya mengarah ke Pat Buchanan, kandidat presiden dari Partai Reformasi. Padahal suara-suara itu seharusnya dimaksudkan untuk memilih Al Gore, kandidat Partai Demokrat, demikian pengakuan para pemilih yang ternyata pendukung Al Gore.

Anehnya, Pat Buchanan yang sebenarnya diuntungkan karena memperoleh lonjakan suara hingga 110% dari yang diperkirakannya, malah merasa tidak enak menerima tambahan suara akibat kesalahan pemilih Gore. Dia mengatakan : “saya tidak mau mengambil suara-suara yang bukan ditujukan untuk saya”. Padahal sesungguhnya Pat Buchanan sendiri sangat memerlukan tambahan suara guna memantapkan legitimasi partai guremnya dalam percaturan pemilihan presiden Amerika.

Lha ya sudah kadung (terlanjur) dicoblos……… Ya, tapi barangkali memang begitulah sopan santun berpolitik mereka. Apakah di balik itu ada keinginan terselubung agar bukan Bush yang nantinya jadi presiden, tentu urusan lain. Lha yang ketambahan suara yang bukan haknya saja merasa sungkan, lalu apa namanya kalau, umpamanya lho ini, ada yang merebut (dengan paksa) suara yang bukan haknya……….?

***

Selain kontroversi kartu suara di Pal Beach, muncul pula protes lain dari pihak Gore tentang adanya keterlambatan pengiriman kotak-kotak pemilu ke tempat penghitungan. Sementara pemilih dari masyarakat kulit hitam juga protes karena banyak orang kulit hitam yang mengalami kesulitan untuk memilih dengan alasan kartu suara habis atau TPS sudah ditutup. Hal yang terakhir ini mengingatkan saya pada pemilu di desa-desa di Indonesia pada jaman Orde Baru dulu.

Pihak Bush pun tidak mau kalah, jika pihak Gore mengajukan tuntutan atas kontroversi Palm Beach, maka pihak Bush siap-siap mengajukan tuntutan juga agar di negara bagian Wisconsin dan Iowa juga diadakan penghitungan ulang. Di kedua negara bagian ini selisih suara antar keduanya memang tipis, hanya saja Wisconsin dan Iowa tidak mempunyai undang-undang tentang penghitungan ulang jika selisihnya kurang dari setengah persen.

Pemilu memang hajat nasional Amerika, tetapi pemerintah federal tidak mempunyai hak untuk mengatur penyelenggaraannya di setiap negara bagian. Negara bagianlah yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur tata cara dan teknis-teknis penyelenggaraannya. Oleh karena itu antara tiap-tiap negara bagian bisa berbeda-beda aturan, cara, perlengkapan dan thethek-bengek-nya (segala macam yang terkait).

Pacuan presiden Amerika jadi makin panjang. Penghitungan ulang di kota Palm Beach baru akan dilakukan lagi hari Sabtu dan angka resmi hasil penghitungan total dari 67 kabupaten baru akan dilakukan Selasa depan, sambil menunggu masuknya suara dari luar negeri sampai Jum’at depan. Sementara di luar sana masyarakat pemilih tetap protes atas berbagai kontroversi yang terjadi di Palm Beach.

Entah bagaimana pemerintah Florida akan menyelesaikan hal ini, kita lihat saja nanti. Lebih baik mencari udara segar dulu di akhir pekan ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (12)

2 November 2008

New Orleans, 12 Nopember 2000 – 23:00 CST (13 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Sejarah Amerika akan mencacat, bahwa ini adalah pemilihan presiden Amerika paling ora karu-karuan (paling liar, kata majalah Time). Setidaknya jika dibandingkan dengan pemilihan presiden yang hampir dapat dikatakan selama ini selalu berjalan mulus, demokratis, dan menjadi kebanggan Amerika sepanjang sejarahnya.

Pemilih dari kabupaten West Palm Beach menuntut diadakannya pemilihan ulang akibat cetakan kartu suara yang dianggap membingungkan sehingga mereka mengatakan suara yang seharusnya untuk Al Gore, jadi lari ke Pat Buchanan. Kubu Al Gore meminta diadakan penghitungan ulang dengan tangan (manual recount). Kubu George Bush tidak mau kalah akan maju ke pengadilan agar pemilihan ulang tidak dilakukan. Masih ditambah kemungkinan Bush akan juga menuntut diadakan penghitungan ulang di beberapa negara bagian lain dimana Bush kalah tipis dari Gore.

Hari Sabtu kemarin, penghitungan ulang di West Palm Beach sudah dilaksanakan di empat TPS (precinct) yang mencakup jumlah kartu suara sebanyak 1% dari total kartu suara di wilayah itu. Hasilnya, kini Bush unggul tipis 288 suara atas Gore. Tapi perjalanan masih panjang, pergerakan jumlah suara masih akan terus berubah.

Untuk menghitung 1% (sekitar 4.500) kartu suara saja diperlukan sekitar 9 jam, karena setiap kartu suara harus diteliti dan disaksikan oleh semua pihak di badan pemeriksa sebelum dinyatakan sah atau tidak. Nah, kalau kemudian akan dilanjutkan dengan menghitung seluruhnya 100% dari kartu suara West Palm Beach, entah berapa ratus jam lagi diperlukan. Benar-benar pekerjaan yang tidak akan mengenal jam atau hari istirahat. Buktinya Sabtu dan Minggu, siang dan malam, CNN selalu melaporkan perkembangannya secara langsung. Artinya, kegiatan tidak berhenti.

Untuk menghitung ulang secara manual tentu tidak mudah dan tidak cepat. Diawali dengan adu pendapat bagaimana cara menentukan sebuah kartu suara yang berupa kertas komputer yang dicoblos itu sah atau tidak. Penghitungan suara dengan tangan inipun kemudian disepakati dengan menerapkan kriteria ala kampung. Setiap kartu suara diterawang (dihadapkan) ke sinar matahari, jika ada sinar yang tembus, berarti sah.

Eh, sekitar seperempat jalan, para petugas pemeriksa berubah pikiran. Kriteria diubah berdasarkan jenis lubangnya (lha wong lubang saja kok ada jenisnya). Lubang di kartu suara (yang disebut chad) yang berbentuk segi empat dikategorikan berdasarkan 5 kategori : lubang yang hanya sobek di satu sudutnya, dua sudutnya, dan tiga sudutnya. Ketiga jenis lubang ini sah. Dua kriteria lagi yang tidak sah adalah coblosan yang hanya menghasilkan kehamilan (pregnant), maksudnya tidak tembus dan yang hanya cekung saja atau terlipat.

Ada-ada saja. Ya, tapi aturan tentang kriteria ini memang pernah dibuat dan disetujui oleh Badan Pemeriksa kabupaten Palm Beach pada tahun 1990. Karena aturan kriteria diubah, maka terpaksa suara yang tadi sudah diteliti dan dihitung ulang, perlu diteliti lagi. Tak terhindarkan lagi, cara bodoh perhitungan suara di jaman komputer ini akhirnya memakan waktu seharian. Celakanya, sebanyak 420.000 kartu suara akan dihitung ulang dengan cara yang sama. Lha, rak modar tukang hitungnya………..

Tapi memang begitulah, prosedur yang kini sedang diterapkan di Palm Beach. Belum lagi masih ada tiga kabupaten lainnya yang juga melakukan penghitungan ulang secara manual. Ini baru di negara bagian Florida, belum di negara bagian lainnya. Ternyata di negara bagian Oregon yang penghitungan suaranya belum tuntas, juga berlaku peraturan yang hampir sama. Jika margin suara antara kedua kandidat utama kurang dari seperlima persen, maka otomatis akan dilakukan penghitungan ulang dengan tangan.

Selain itu, kalau tuntutan Bush untuk menyetop penghitungan ulang di Florida tidak berhasil, Bush sudah ancang-ancang untuk mengajukan permintaan penghitungan ulang suara di negara bagian Iowa dan Winconsin. Di kedua negara bagian ini selisih kemenangan Gore terhadap Bush memang cukup tipis, hanya saja di sana tidak ada aturan yang meng-otomatis-kan penghitungan ulang seperti di Florida.

Sebenarnya Bush merasa tidak senang dengan acara penghitungan ulang di Florida yang dikhawatirkan akan membawa kerugian terhadap jumlah kemenangan suaranya sementara ini. Akan tetapi sebagai Gubernur negara bagian Texas, ternyata Bush pernah menandatangani peraturan di wilayahnya pada tahun 1997 yang mengatakan bahwa perhitungan dengan tangan adalah cara terbaik untuk memastikan pandangan yang sebenarnya dari para pemilih.

Selain kontroversi di beberapa wilayah negara bagian di atas, masih ditambah lagi di wilayah negara bagian New Mexico. New Mexico punya aturan berbeda lagi. Beberapa hari sebelum hari pemilu, di tempat-tempat strategis seperti di Mal, sudah ditempatkan kotak suara bagi pemilih yang sekiranya saat hari pemilu tidak berada di tempat, dapat menyalurkan haknya lebih awal. Celakanya lagi, pada saat penghitungan suara beberapa hari yll. dilaporkan ada kotak suara yang hilang, tetapi kini ditemukan kembali tersimpan di gudang. Tentu saja, ini mengundang tanda tanya.

Pendeknya, hari-hari ini Amerika masih akan sibuk dengan urusan pemilihan presiden barunya. Diperkirakan hingga akhir Nopember bahkan pertengahan Desember masih akan diramaikan dengan menyelesaikan berbagai kontroversi. Padahal pada tanggal 18 Desember akan diadakan sidang dari para wakil negara bagian yang berada dalam lembaga Electoral College yang nantinya akan memilih presiden. Setiap negara bagian akan mengirimkan wakilnya sebanyak jatah suara (electoral vote) dan diwakili oleh partai yang menang.

Bagaimana rakyat Amerika memandang semua kejadian ini? Dari jajak pendapat CNN, agaknya masyarakat yang tinggal di luar wilayah Palm Beach sudah tidak sabar lagi dengan berbagai kontroversi ini. Umumnya mereka menginginkan tidak perlu ada penghitungan ulang, agar soal pemilihan presiden segera tuntas, entah siapa yang akan jadi presiden nanti.

Agaknya kali ini penantian rakyat Amerika masih cukup panjang untuk mengetahui siapa presiden barunya. Masyarakat boleh saja tidak sabar dan malah cenderung tidak perduli, tapi yang pasti kejadian ini telah menjadi komoditi yang bernilai ekonomis bagi media massa. Berita-berita Election 2000 adalah komoditi yang mempunyai harga jual tinggi sebagai acara entertainment.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (13)

2 November 2008

New Orleans, 13 Nopember 2000 – 23:00 CST (14 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Tuntutan Bush untuk menyetop penghitungan ulang secara manual kartu suara di West Palm Beach hari ini ditolak oleh pengadilan. Bush akan melakukan upaya banding untuk ini. Sementara pihak Gore mencak-mencak (marah), pasalnya hanya diberi waktu hingga Selasa sore besok bagi keempat kabupaten untuk pengesahan seluruh hasil penghitungan ulang kartu-kartu suara yang kini sedang diselesaikan secara manual. Tentu tidak akan cukup waktu, pikir Gore. Untuk ini pihak Gore pun mengajukan protes.

Posisi sementara (menurut The Asssociated Press) hasil penghitungan ulang di Florida, Bush kini unggul 388 kartu suara (bertambah 100 dibanding angka sebelumnya). Secara nasional, Gore masih unggul sementara atas Bush dengan 255 – 246 jatah suara (electoral vote). Selain Florida, negara bagian New Mexico dan Oregon masih dianggap belum selesai. Tetapi karena masing-masing hanya menyediakan jatah suara 5 dan 7, maka posisinya tidak krusial dibandingkan dengan Florida yang menyediakan 25 jatah suara. Artinya, kalaupun keduanya diraih oleh Bush, tetap tidak akan menentukan kemenangannya. Berbeda halnya dengan Florida, siapapun yang meraihnya, akan menjadikan jumlah jatah suaranya melebihi angka kemenangan 270.

***

Kalau soal penghitungan ulang, itu memang karena peraturan berbunyi demikian. Tetapi di wilayah Florida, khususnya West Palm Beach juga terjadi kontroversi tentang kartu suara yang membingungkan, yang sekarang populer dengan sebutan kartu suara model kupu-kupu (butterfly ballot). Dan ini yang sekarang juga sedang diperjuangkan oleh para pemilih di sana agar dilakukan pemilihan ulang.

Mari sejenak kita lihat kenapa hanya wilayah itu yang ribut-ribut tentang kartu suara yang membingungkan. Sebagaimana diketahui, bahwa setiap negara bagian berhak mengatur tentang tata cara pemilu, termasuk tentang bentuk atau model kartu suara dan aturan pencoblosannya. Di antara cara-cara pemilihan itu, antara lain dengan menekan tombol, mengungkit tungkai (lever), menuliskan nama, memberi tanda silang, menghitamkan bulatan dengan pensil, dsb. Ada yang pemilihannya dengan datang ke TPS dan ada yang via pos. Salah satunya di Florida adalah dengan membuat lubang (punch) di bidang segi empat kecil (hasil coblosannya disebut chad).

Kartu suara di Florida ini dijuluki dengan kartu model kupu-kupu, karena pada halaman yang dicoblos terbagi menjadi dua bagian kiri dan kanan yang masing-masing berisi urutan nama kandidat presiden. Di tengah-tengahnya terdapat punch yang harus dicoblos sesuai dengan nama kandidat presiden yang tertulis di sebelah kiri atau kanannya.

Entah kenapa, letak urutan punch ini dari atas ke bawah menunjuk ke nama kandidat presiden secara zig-zag. Barangkali karena ukuran huruf-hurufnya dibuat agak besar sehingga makan tempat, sementara ukuran lubangnya kecil. Maklum, Palm Beach ini selain kota wisata juga kota pensiunan, yang berarti banyak orang-orang tua. Banyak mereka yang menikmati hari tuanya dengan memilih tinggal di kota ini.

Di sisi halaman kiri paling atas tertulis nama George Bush, kemudian diikuti di bawahnya dengan nama Al Gore, dst. Tetapi urutan lubang punch di bagian tengah halaman kertas urutannya paling atas untuk Bush, kemudian urutan kedua di bawahnya untuk Pat Buchanan (yang namanya tertulis di sisi halaman bagian kanan), lalu urutan ketiga untuk Al Gore, dst. Rupanya peletakan lubang punch yang zig-zag terhadap urutan nama yang demikian ini menjebak para pemilih Gore. Karena dilihat Gore berada di urutan kedua setelah Bush, dikiranya lubang punch yang harus dicoblos ya lubang urutan kedua pula, padahal seharusnya lubang yang ketiga.

Umumnya para pemilih itu baru menyadari kesalahannya setelah berada di luar TPS selesai memilih. Maka histerislah para pemilih fanatik Partai Demokrat yang seharusnya bermaksud memilih Gore, tapi terjebak memilih lubang punch yang kedua milik Pat Buchanan. Itulah pangkal persoalannya yang membuat hingga kini mereka menuntut dilakukannya pemilihan ulang melalui tuntutan sidang pengadilan. Ini juga agaknya yang diperkirakan akan menjadi kartu truf Gore. Kenapa?

Seperti diketahui bahwa tanggal 18 Desember sudah dijadwalkan sebagai hari sidang bagi para wakil dari setiap negara bagian yang berada dalam Electoral College yang jumlahnya sesuai dengan jumlah jatah suara (electoral vote) dari partai yang menang di negara bagian tersebut. Menurut Undang-Undangnya, sidang ini tetap akan dilakukan guna memilih presiden, tidak tergantung pada berapa wakil negara bagian yang hadir.

Nah, jika hingga tanggal tersebut persoalan di Florida tidak kunjung tuntas, maka jelas tidak akan ada wakil dari Florida. Ini berarti komposisi Electoral College akan sama seperti posisi jatah suara (electoral vote) jika tanpa Florida. Secara teoritis, Gore akan menang pemungutan suara di sidang Electoral College, karena posisi jatah suara (electoral vote) sementara ini memang Gore lebih unggul. Kecuali jika ada utusan Electoral College yang tiba-tiba mbalelo berpindah ke suara partai lawan. Tetapi kemungkinan ini hampir dapat dipastikan tidak akan terjadi, karena utusan dari masing-masing Partai Demokrat dan Republik pasti bukan sembarangan orang.

Namun, tentunya Bush juga sudah membaca kemungkinan seperti ini. Apa strateginya? Ya, embuh……… Yang jelas jalan menuju ke terpilihnya presiden baru Amerika masih akan rumit dan berliku-liku penuh dengan trik-trik mencari setiap peluang untuk menambah angka jatah suaranya.

Sementara ini memang hanya memperebutkan jatah suara Florida. Lha, tapi siapa tahu tiba-tiba Bush juga meminta penghitungan ulang dengan tangan atas wilayah Iowa dan Wisconsin atau New Mexico yang margin kemenangan Gore memang tipis di wilayah-wilayah tersebut. Belum lagi Bush sangat berharap kartu suara yang akan datang dari luar negeri (absentee ballot) akan dapat menambah perolehan suara Partai Republik.

Meskipun kebanyakan orang Amerika tidak terlalu perduli dengan proses bertele-tele ini, saya sendiri menikmatinya sebagai sebuah hiburan. Enggak tahu dengan Anda………-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (14)

2 November 2008

New Orleans, 14 Nopember 2000 – 23:00 CST (15 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Hingga batas akhir jam 5:00 Selasa sore tadi, panitia pemilu Florida telah mengesahkan hasil penghitungan kartu suara dengan posisi Bush unggul tipis 300 suara atas Gore. Dengan demikian, menurut panitia Pemilu, tinggal menunggu masuknya kartu suara dari luar negeri yang batas akhirnya adalah hari Jum’at malam nanti. Dari suara luar negeri ini Bush berharap akan dapat memperoleh banyak tambahan suara.

Meskipun demikian, tiga kabupaten di Florida dimana pemilih Gore sangat dominan, masih gigih berjuang agar diberi kelonggaran menyampaikan hasil penghitungan ulang kartu suara secara manual selewat batas waktu tersebut. Tentu dengan harapan Gore akan memperoleh tambahan suara.

Hingga kini, berbagai ketidakpuasan yang datang dari kedua kubu Bush maupun Gore masih terus menggulir menuju ke sidang pengadilan. Yang menarik, setiap kali permasalahan dibawa ke pengadilan, maka prosesnya demikian cepat dan hasilnya pun tidak dinilai sebagai hasil KKN. Adanya ketidakpuasan di salah satu pihak, jelas tak terhindarkan. Adanya unsur subyektif, juga pasti tak terhindarkan, wong masing-masing pelakunya adalah juga pendukung salah satu partai. Namun adanya penerapan hukum dan peraturan yang konsekuen, setidak-tidaknya demikian kesan yang muncul di permukaan, bagi saya memberi kesan yang tidak biasa.

Penantian Amerika masih akan panjang. Bagi warga Amerika yang tertarik mengikuti perkembangan pemilu kali ini memang dapat membangkitkan rasa emosional tersendiri. Belum pernah terjadi proses demokrasi yang sedemikian rumit dan berlarut-larut seperti kali ini dalam sejarah Amerika sejak lebih 200 tahun yang lalu. Memang pada tahun 1916 ketika pemilu antara Presiden Woodrow Wilson dari Partai Demokrat dan penantangnya Charles Evans Hughes dari Partai Republik, kontroversi dan kebingungan juga pernah terjadi. Namun tidak sampai berlarut-larut dan rumit.

Kita tunggu hari Rabu besok, bagaimana kelanjutannya. Sementara baik pihak Bush maupun Gore masih saling melanjutkan kampanye “tahap kedua”-nya untuk mencari berbagai kemungkinan yang dapat ditembus guna menambah pengumpulan suara mereka. Di sisi lain, posisi hasil perolehan jatah suara (electoral vote) di wilayah negara bagian New Mexico, Iowa, Oregon dan Wisconsin dimana Gore unggul, serta di New Hampshire dimana Bush yang unggul, masih ada kemungkinan untuk digoyang melalui mekanisme permohonan penghitungan ulang secara manual karena margin kemenangan masing-masing dinilai sangat tipis.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (15)

2 November 2008

New Orleans, 15 Nopember 2000 – 21:45 CST (16 Nopember 2000 – 10:45 WIB)

Hari ini di Florida banyak diwarnai dengan urusan pengadilan atas berbagai tuntutan yang berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara. Kedua belah pihak pun saling mengeluarkan pernyataan dan pandangan-pandangannya.

Siang tadi, Pengadilan Tinggi Florida telah menyatakan menolak upaya untuk menghentikan penghitungan ulang di tiga kabupaten. Pengadilan juga meminta agar Sekwilda Florida sebagai panitia tertinggi pemilu di negara bagian Florida dapat membuat keputusan yang terbaik untuk mempertimbangkan permintaan beberapa kabupaten melakukan penghitungan ulang secara manual.

Sekitar sejam yang lalu, setelah mempertimbangkan alasan-alasan yang dikemukakan oleh tiga kabupaten, yaitu Broward, Dade dan Palm Beach untuk melanjutkan penghitungan ulang secara manual, akhirnya Sekwilda Florida memutuskan menolak perubahan-perubahan terhadap hasil perhitungan suara yang telah masuk. Ini berarti tidak ada perpanjangan waktu guna menerima hasil penghitungan suara secara manual yang sedang diselesaikan di tiga kabupaten tersebut. Pihak Gore tentu saja menentang keputusan ini dan siap untuk bertarung lagi di pengadilan besok pagi.

Sementara pengadilan banding federal di Atlanta, Georgia, menyatakan akan mempertimbangkan tuntutan Bush untuk menyetop penghitungan ulang di Florida, setelah sebelumnya tuntutan Bush ini kalah di pengadilan negara bagian di Orlando.

Tadi siang, Wakil Presiden Al Gore mengajukan tawaran agar proses pemilihan presiden dapat segera diselesaikan, yaitu dengan menyatakan akan sangat menghargai jika dapat dilakukan penghitungan ulang secara manual di tiga kabupaten tersebut (atau seluruh Florida) dan meminta agar Gubernur George Bush menyetujuinya. Setelah itu tinggal menunggu hasil penghitungan dari suara luar negeri (absentee ballot).  Al Gore juga mengajak George Bush untuk bertemu secara pribadi, bukan untuk bernegosiasi tetapi untuk memperbaharui suasana dialog, demi demokrasi.

Usulan Gore ini ternyata ditolak oleh Bush. Beberapa menit yang lalu, Bush menyatakan menolak untuk melanjutkan penghitungan suara secara manual, karena penghitungan ulang dengan mesin sebenarnya telah dilakukan tiga sampai empat kali. Bush menyatakan agar proses pemilihan ini hendaknya fair, accurate and final. Bush juga menyatakan dengan senang hati akan melakukan pertemuan pribadi dengan Gore tetapi nanti setelah proses pemilu selesai.

Penghitungan suara dari luar negeri yang jumlahnya diperkirakan sekitar 4.000 suara akan dimulai hari Jum’at siang lusa dan akan diselesaikan hingga tengah malam. Hasilnya baru akan disahkan pada hari Sabtu siangnya. Diperkirakan, suara dari luar negeri ini akan banyak mendukung George Bush.

Dengan melihat perkembangan ini apakah pada hari Sabtu nanti semua proses penghitungan suara di Florida akan selesai dan berarti secara nasional juga akan dapat diketahui siapa pemenangnya? Dan mengakhiri periode yang oleh pers disebut too close to call (angkanya terlalu mepet untuk dapat disimpulkan siapa pemenangnya)?. Para pengamat, analis, wartawan maupun pejabat belum ada satupun yang berani menjawabnya.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (16)

2 November 2008

New Orleans, 16 Nopember 2000 – 22:15 CST (17 Nopember 2000 – 11:15 WIB)

Proses pemilihan presiden di Florida hari ini masih juga diwarnai dengan urusan pengadilan. Malahan Pengadilan Tinggi Florida hari ini memutuskan untuk melanjutkan penghitungan ulang secara manual di beberapa kabupaten. Menurut perkiraan sementara pihak, minimal enam hari diperlukan untuk menyelesaikannya.

Padahal tadi malam ketua panitia pemilu Florida, Katherine Harris, sudah memutuskan untuk tidak akan lagi menerima hasil penghitungan susulan, sehingga dengan demikian tinggal menunggu penghitungan kartu suara dari luar negeri hingga Jum’at tengah malam. Setelah itu akan diketahui jumlah hasil akhirnya dan lalu diputuskan siapa pemenangnya.

Kalau demikian, lalu bagaimana status suara hasil penghitungan ulang yang sedang dilakukan yang pasti tidak akan selesai hingga besok malam? Apakah tetap akan ditolak untuk disahkan oleh panitia pemilu Florida? Inilah yang besok masih ditunggu keputusannya. Selain itu, juga masih ada beberapa hal lain yang juga masih dalam proses pengadilan.

Jika panitia pemilu Frorida tetap pada keputusannya untuk tidak lagi menerima perubahan angka hasil perhitungan ulang yang besok akan dilanjutkan, maka itu berarti mereka tinggal menunggu suara dari luar negeri yang akan ditunggu hingga besok malam. Setelah itu apapun hasilnya, sekitar hari Sabtu siang (Sabtu malam WIB) panitia akan mengesahkannya dan mengumumkan siapa yang berhak mengantongi 25 jatah suara (electoral vote) Florida. Dengan kata lain, siapa presiden Amerika terpilih sudah dapat diketahui.

Akan tetapi, jika panitia pemilu ternyata mengeluarkan keputusan baru untuk mengikuti apa yang telah diputuskan oleh Pengadilan Tinggi, yaitu menyetujui dilanjutkannya penghitungan ulang secara manual di beberapa kabupaten, maka jelas prosesnya menjadi lebih panjang. Paling tidak, akan diperlukan perpanjangan waktu hingga akhir pekan depan.

***

Semua orang berkomentar bahwa pemilu kali ini memang pemilu paling tidak mulus sepanjang sejarah Amerika. Pemilu paling rumit dan melelahkan. Masing-masing pihak saling berteriak, saling melontarkan komentar-komentar tajam dan pedas, saling mencari kebenaran dari setiap langkah yang ditempuhnya. Namun inilah yang mengesankan bagi saya, dan ternyata memang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Amerika, yaitu bahwa masing-masing pihak tetap mengikuti dan menghargai jalur hukum dan aturan yang berlaku.

Betapapun keputusan yang timbul akan “merugikan” atau “menyakitkan” salah satu pihak, namun hukum dan keputusannya tetap dijunjung tinggi. Tidak ada ancan-mengancam, tidak ada culik-menculik, tidak ada teror-menteror, tidak ada bom-mengebom, tidak ada cakar-mencakar, tidak ada jegal-menjegal dan tidak ada gembos-menggembosi. Setiap keputusan hukum akan dijunjung tinggi dan dapat diterima dengan rasa legawa (lapang dada), meskipun sebenarnya menyakitkan atau merugikan.

Saya berkhayal, seandainya yang demikian ini dapat ditiru oleh 200 juta tetangga saya, rasanya tidak perlu pusing-pusing lagi mempersoalkan apakah sebaiknya menerapkan pemilu sistem langsung, atau sistem tidak langsung, atau sistem setengah langsung. Jika aturan sudah dibuat dan disepakati, lalu setiap pihak ikhlas menjalankannya dengan konsekuen, maka apapun sistemnya rasanya akan baik saja. Kalau kemudian kok dianggap masih tidak baik, ya mari sama-sama mengubah aturannya, lalu setelah itu sama-sama mentaatinya dengan konsekuen. Yang menjadi persoalan ‘kan setelah sama-sama membuat aturan, ternyata pelaksanaannya sak geleme dhewe (semaunya sendiri), kalau tidak sesuai dengan keinginannya lalu ngamuk.

***

Bagaimana masyarakat Floridian (sebutan untuk orang Florida) mengekspresikan kemelut pemilu yang sedang terjadi di daerahnya? Tentu ada yang kesal, cuek, geram, heran, cengengesan, tapi ada juga yang kreatif. Inilah salah satu kreatifitas gaya “srimulat” masyarakat Floridian :

Di Amerika, setiap kita akan masuk ke sebuah kota, maka biasanya di batas kota akan terpasang sebuah papan nama yang memuat dua baris tulisan : di bagian atas tertulis nama kota , lalu dibawahnya jumlah populasinya (sekian puluh, sekian ratus, atau sekian ribu jiwa). Kini di salah satu wilayah Florida dijumpai sebuah papan nama berukuran cukup besar. Di bagian atas tertulis dengan tulisan yang rapi : “Welcome to Florida”. Lalu di bawahnya tertulis jumlah populasinya, yang ternyata ada dua macam : pertama tertulis sekian juta “by machine”, dan kedua tertulis sekian juta “by hand”.

Lalu mana yang dipakai? Pengadilanlah yang akan menentukan. Itupun kalau tidak dihitung ulang ……………-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (17)

2 November 2008

New Orleans, 19 Nopember 2000 – 20:00 CST (20 Nopember 2000 – 09:00 WIB)

Batas akhir pengumpulan suara luar negeri untuk wilayah Florida, Jum’at tengah malam, telah terlampaui. Penghitungan suara luar negeri juga sudah diselesaikan. Namun hasil akhirnya belum dapat disahkan karena ternyata masih ada pertentangan tentang penghitungan ulang kartu suara, paling tidak di tiga kabupaten yaitu Palm Beach, Broward dan Miami-Dade.

Dari lebih 3.500 suara luar negeri yang diterima panitia pemilu Florida, Partai Republik (George Bush) meraih tambahan 1.380 suara dan Partai Demokrat (Al Gore) memperoleh tambahan 750 suara. Hal ini menjadikan posisi Bush untuk sementara ini semakin unggul dengan selisih 930 suara.

Namun dari suara luar negeri ini, ternyata ada sebanyak 40% kartu suara yang dinyatakan oleh panitia sebagai suara tidak sah. Tentu saja ini menimbulkan kontroversi tersendiri. Terutama menimbulkan ketidakpuasan dari kubu Bush karena diharapkan dari suara luar negeri ini Bush akan memperoleh banyak tambahan suara.

Peradilan guna mendengarkan alasan dari kedua belah pihak untuk menghentikan penghitungan ulang suara (yang dituntut oleh pihak Bush) atau sebaliknya mengesahkan perubahan akibat penghitungan ulang (yang dituntut oleh pihak Gore), masih akan digelar hari Senin besok jam 1:00 siang waktu Florida (Selasa, jam 1:00 dini hari WIB).

Sementara ini penghitungan ulang secara manual masih berlanjut di kabupaten Broward dan Palm Beach. Sedangkan di kabupaten Miami-Dade, penghitungan ulang dengan tangan sebanyak setengah juta suara akan mulai dilakukan hari Senin besok. Seorang anggota panitia pemeriksa kartu suara memperkirakan pekerjaan ini akan memakan waktu sekitar dua minggu, termasuk hari-hari akhir pekan dan libur Thanksgiving Day pada hari Kamis dan Jum’at depan. Pekerjaan melelahkan yang tetap akan diselesaikan demi hukum dan demokrasi, katanya.

Di peradilan berbeda (State Circuit Court), hari Senin besok juga akan memutuskan apakah konstitusi Amerika memperkenankan peradilan ini untuk memerintahkan diadakannya pemilihan ulang di kabupaten Palm Beach sebagaimana dituntut oleh pendukung Partai Demokrat akibat adanya kartu suara yang membingungkan dan menyebabkan kesalahan dalam mencoblos.

Isu tentang pemilihan ulang belakangan ini agak kurang menarik, karena sebagian orang menganggap bahwa kebingungan para Demokrat atas kartu suara yang dikenal dengan kartu model kupu-kupu ini sebagai hal yang mengada-ada. Tapi entah kalau ternyata putusan pengadilan dapat menguntungkan Partai Demokrat dengan mengabulkan diadakannya pemilihan ulang.

Sebuah sekolah SD di Florida pernah iseng-iseng membuat tiruan kartu model kupu-kupu, lalu dibagikan kepada para muridnya dan mereka semua diminta memilih Al Gore. Ternyata semua murid dapat mencoblos dengan benar, meskipun sebagian mengatakan sempat bingung untuk mencoblos. Kalau demikian (kira-kira kesimpulannya), lho kok bingung…..? Seperti pernah saya kemukakan sebelumnya, barangkali yang bingung adalah para orang tua lanjut usia yang memang banyak tinggal di wilayah Palm Beach.

Yang jelas, hingga hari ini belum ada yang dapat meramalkan kapan kira-kira rangkaian proses pemilu yang semakin rumit ini akan berakhir, atau kapan kira-kira presiden baru Amerika akan terpilih untuk menggantikan Bill Clinton tanggal 20 Januari 2001 nanti.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (18)

2 November 2008

New Orleans, 20 Nopember 2000 – 21:00 CST (21 Nopember 2000 – 10:00 WIB)

Kemelut di depan gawang Gedung Putih masih juga belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Berbagai proses peradilan pemilu baik di tingkat kabupaten maupun negara bagian Florida masih terus berlanjut. Saking banyaknya peristiwa peradilan, membuat saya sendiri bingung untuk memahami proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini. Untuk itu berikut ini akan saya coba ketengahkan gambaran besarnya saja.

Sidang Mahkamah Agung negara bagian Florida tadi sore mendengarkan argumen dari kedua belah pihak tentang sah tidaknya hasil penghitungan ulang di tiga kabupaten untuk ditambahkan ke dalam hasil penghitungan akhir sementara yang sudah disetujui oleh panitia pemilu Florida. Hingga saat ini masih belum ada keputusan peradilan, bahkan belum ada kejelasan kapan akan diputuskan. Jadi, ya masih menunggu.

Padahal Gore banyak berharap agar hasil penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara itu dapat disahkan untuk ditambahkan ke dalam hasil akhir sementara. Pasalnya ketiga kabupaten, yaitu Broward, Miami-Dade dan Palm Beach adalah termasuk wilayah basis pendukung Partai Demokrat. Beberapa TPS yang telah selesai menghitung memang mengindikasikan akan adanya penambahan suara bagi Gore, meskipun angka tersebut belum dilansir keluar.

Sementara proses peradilan masih berlanjut, sementara itu pula acara penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang jumlahnya ratusan ribu di tiga kabupaten juga masih terus dilanjutkan. Entah kapan selesainya, padahal di minggu ini akan ada dua hari libur nasional Thanksgiving Day, yaitu Kamis dan Jum’at.

Sementara itu lagi, tuntutan dari para pemilih di wilayah kabupaten Palm Beach untuk meminta pemilu ulang ternyata ditolak. Kini para pemilih tersebut sedang mengajukan banding atas keputusan penolakan dari peradilan State Circuit Court. Jadi, ya masih menunggu lagi kapan akan diputuskan.

Di lain pihak, adanya sekitar 40% suara (lebih 1.500 suara) dari absentee ballot yang kebanyakan berasal dari para anggota militer dan keluarganya yang sedang bertugas di luar negeri yang telah dinyatakan ditolak karena tidak sah, kini sedang diperjuangkan untuk ditinjau kembali. Para militer itu merasa haknya untuk memilih tidak dihargai, padahal kesalahan itu bukan semata-mata karena keteledorannya.

Bush sangat berharap atas suara luar negeri ini yang diyakini banyak berasal dari para pendukungnya. Sebagaimana telah terbukti dari suara luar negeri yang sudah sah dihitung, Bush mengumpulkan jumlah dua kali lebih banyak dibanding yang dikumpulkan Gore. Apakah suara dari luar negeri ini akan disetujui untuk dipertimbangkan kembali kesahannya. Hingga kini belum ada kepastian. Jadi, ya masih menunggu lagi apakah akan ada perubahan pengumpulan suara.

Ketiga persoalan di atas, dari sekian banyak persoalan yang masih dalam proses peradilan, kiranya cukup memberi gambaran bagi saya (dan kita), bahwa kesimpulan paling gampang adalah proses pemilu masih belum selesai dan tidak tahu kapan akan selesai. Dengan kata lain, presiden baru Amerika belum akan diketahui dalam waktu dekat ini dan penantian Amerika untuk memiliki presiden baru masih akan panjang.

Hingga hari ketigabelas setelah pemilu dilangsungkan tanggal 7 Nopember yll, kedudukan sementara pengumpulan jatah suara (electoral vote) masih tetap 255 untuk Gore dan Bush 246 untuk Bush. Kunci kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang menang di Florida yang berhak memperoleh tambahan 25 jatah suara guna mencapai angka kemenangan 270.

Sedangkan kedudukan sementara pengumpulan kartu suara (popular vote) di Florida saat ini Bush masih unggul atas Gore dengan 930 suara. Bush sedang berusaha keras agar dapat memperbesar angka kemenangannya, sedangkan Gore sedang berusaha keras untuk memperkecil selisih kekalahannya untuk selanjutnya mengungguli Bush sekalipun hanya dengan sedikit suara saja. Untuk itulah berbagai trik dan cara ditempuh oleh kedua belah pihak melalui mekanisme hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi, ya masih menunggu lagi. Entah sampai kapan proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini akan berakhir.

Yusuf Iskandar