Posts Tagged ‘washington DC’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (6)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 23:45 CST (8 Nopember 2000 – 12:45 WIB)

Hingga menjelang tengah malam ini, ternyata persaingan semakin ketat. Kini George Bush masih unggul sangat tipis terhadap Al Gore dengan perbandingan perolehan suara 246 – 242, masing-masing dari 29 dan 18 negara bagian.

Masih ada empat negara bagian yang belum menyelesaikan hasil perhitungan akhir pemilu, diantaranya dua negara bagian yang akan mengkontribusi cukup besar jatah suaranya, yaitu Florida dan Wisconsin yang masing-masing mempunyai jatah suara 25 dan 11. Sedangkan dua negara bagian lainnya, Iowa dan Oregon, masing-masing menyisakan 7 suara.

Melihat perkembangan pergerakan angka perolehan suara ini terasa semakin mengasyikkan dan mendebarkan. Padahal saya tidak punya kepentingan apapun, tapi kok menarik. Seperti dilansir beberapa media, bahwa persaingan menuju kursi kepresidenan tahun ini adalah yang paling ketat sejak 40 tahun terakhir. Ternyata hingga diselesaikannya perhitungan di 47 negara bagian, masih belum tampak tanda-tanda siapa yang bakal mencapai garis finish pertama kali dengan meraih 270 suara, untuk muncul sebagai pemenangnya. Peluang keduanya untuk menang di sisa negara bagian yang belum selesai perhitungan suaranya sama besar.

Jika sampai lewat tengah malam nanti masih terjadi persaingan ketat, maka perhitungan suara akan menjadi lebih mendebarkan. Ini antara lain disebabkan karena ternyata di negara bagian Oregon, sistem coblosan-nya tidak dilakukan melalui TPS-TPS secara langsung malainkan dilakukan melalui surat yang harus diposkan pada hari Selasa ini. Lagi-lagi, penerapan aturan yang berbeda-beda untuk urusan yang bersifat nasional ini membuat saya heran.

Sebagai akibat dari sistem pemungutan suara lewat pos ini tentu saja hasilnya belum akan diketahui hingga tengah malam nanti, bahkan mungkin baru akan diketahui seluruhnya pada seminggu kedepan. Itu sebabnya jika sampai 50 negara bagian termasuk ibukota Washington DC selesai dengan hasil perhitungannya malam ini dan belum juga ada yang mencapai angka 270, artinya periode deg-degan bagi kedua kandidat akan masih berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Kalau benar demikian kejadiannya, maka barangkali peristiwa semacam ini baru terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Amerika.

Sebagai penonton, saya sendiri sangat menikmati pacuan presiden Amerika ini yang perolehan suaranya saling susul-menyusul silih berganti. Selain melalui saluran internet, saya juga menyaksikannya melalui saluran TV CNN yang ditayangkan sejak sore tadi, lengkap dengan hasil pemilu untuk anggota konggres, senat, gubernur, dsb. beserta komentar-komentarnya. Hingga rela menunda untuk pergi tidur…….-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (8)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 13:00 CST (9 Nopember 2000 – 02:00 WIB)

Ooops….., ternyata pacuan presiden Amerika belum usai. George Bush ternyata “belum” menjadi presiden terpilih. Pagi tadi saya baru tahu ada kejadian menarik dalam pemilihan presiden Amerika kali ini.

Lewat tengah malam tadi, ketika saya lihat CNN melaporkan bahwa Bush berhasil menang di Florida, saya pikir presiden baru Amerika sudah terpilih. TV dan komputer pun lalu saya matikan, dan pergi tidur. Hingga tadi pagi ketika berangkat ke kantor saya masih beranggapan hasil tadi malam sudah final. Rupanya setiba di kantor, saya menjumpai berita menarik bahwa akan dilakukan penghitungan ulang atas jumlah pengumpulan suara di negara bagian Florida. Ini berarti, baik Bush maupun Gore hingga saat ini sama-sama belum mencapai angka ajaib 270 suara (electoral vote) untuk meraih kemenangan.

Padahal dini hari tadi Gore sudah telanjur menilpun Bush untuk mengucapkan selamat dan sudah siap-siap menjumpai pemilihnya di kota Nashville, Tennessee, guna menyampaikan sepatah dua patah kata atas kekalahannya. Gore pun sudah siap menerima kekalahannya dan akan mendukung pemerintahan Bush.

Hasil perhitungan akhir dari 49 negara bagian termasuk dari ibukota Washington DC yang sudah diselesaikan penghitungan suaranya hingga dini hari tadi, George Bush memperoleh 246 suara dari 29 negara bagian dan Al Gore mengumpulkan 260 suara dari 20 negara bagian. Penambahan 11 suara bagi Gore diperoleh dari kemenangannya di negara bagian Wisconsin. Dengan demikian, masih tersisa 2 negara bagian yang belum menyelesaikan perhitungan akhirnya, yaitu Oregon dengan 7 suara dan Florida (yang dilakukan penghitungan ulang) dengan 25 suara.

Dari posisi terakhir pengumpulan suara ini tampaknya suara dari Florida akan menjadi kunci kemenangan baik bagi Bush maupun Gore. Sedangkan suara dari Oregon yang hanya 7 suara, tidak lagi menjadi penentu kemenangan. Selain juga kelihatannya akan perlu waktu untuk mencapai hasil perhitungan akhir di Oregon mengingat sistem pemilihannya dilakukan lewat pos.

Kejadian ini agaknya cukup menarik perhatian bagi masyarakat Amerika sendiri yang biasanya cenderung tidak urus dengan pemilihan presidennya. Baru pertama kali ini dilakukan penghitungan ulang atas perolehan suara di suatu negara bagian di saat-saat yang menentukan. Justru hal ini terjadi di Florida yang secara geografis terletak di pantai timur Amerika yang berarti penutupan TPS-nya sebenarnya sudah dilakukan lebih awal dibandingkan dengan negara bagian lain yang berada di wilayah tengah maupun pantai barat.

Kenapa demikian? Sepanjang yang saya ketahui, saya tidak menjumpai adanya aturan tentang penghitungan ulang ini. Saya hanya mereka-reka, barangkali karena jatah suara (electoral vote) dari Florida menjadi kunci kemenangan bagi kedua kandidat presiden, sedangkan selisih pengumpulan kartu suara (popular vote) antara keduanya sangat tipis, maka diperlukan akurasi dalam perhitungannya hingga tuntas. Tambahan lagi bahwa ternyata tidak semua kabupaten (county) di Florida sudah menggunakan sistem komputerisasi, masih ada juga beberapa daerah yang penghitungannya dilakukan secara manual.

Menurut Panitia Pemilu, dikatakan bahwa di Florida jika margin pengumpulan kartu suara antara kedua kandidat utama sangat tipis atau kurang dari 1%, maka otomatis akan dilakukan penghitungan ulang. Memang dari data terakhir tadi pagi, margin pengumpulan kartu suara antara Bush dan Gore hanya berbeda 1.785 suara untuk keunggulan Bush. Saya tidak tahu alasannya kenapa tadi malam CNN buru-buru menyimpulkan angka yang belum resmi dikeluarkan oleh Panitia ini sebagai angka kemenangan bagi Bush. Akibatnya menjadi fatal karena informasi dari media ini dengan cepat terkonsumsi oleh masyarakat seluruh dunia, terlepas dari apakah nantinya benar-benar Bush yang akan menang di Florida.

Melihat perkembangan penghitungan suara di Florida, maka para pengamat memperkirakan bahwa posisi suara dari pemilih yang tidak hadir (absentee ballots) akan menjadi sangat penting. Ini adalah kartu suara yang antara lain berasal dari pemilih di luar Florida atau di luar negeri, seperti halnya para pekerja dan petugas militer yang sudah terdaftar di Florida sehingga suara mereka dikirimkan melalui surat. Biasanya suara-suara ini tidak banyak berpengaruh di dalam penghitungan akhir suara secara keseluruhan. Tetapi kali ini menjadi sangat berarti karena Florida akan menjadi penentu siapa presiden Amerika yang akan terpilih, sedangkan selisih jumlah suara antara kedua kandidat utama yang sudah dihitung hingga saat ini sangat tipis.

Direncanakan paling lambat hari Kamis sore besok (Jum’at pagi WIB) hasil perhitungan resminya sudah dapat diketahui. Demi menjaga kenetralannya, maka proses penghitungan ulang ini sendiri akan disaksikan oleh berbagai pihak sebagai komisi pengawas, termasuk para pejabat, perwakilan media massa dan perwakilan baik dari kubu George Bush maupun Al Gore.

Tampaknya masa deg-degan bagi kedua kubu Bush maupun Gore beserta pendukungnya masih harus berlanjut hingga hari-hari ini. Masyarakat Amerika juga jadi penasaran dengan belum diketahuinya siapa presiden baru mereka, meskipun pemilu sudah usai. Segenap mata sedang tertuju ke Florida, the Sunshine State yang pantai timurnya banyak dikunjungi wisatawan untuk mandi matahari, terutama di pantai Miami dan Keystone.

Sebagai penonton, saya sangat menikmati kejadian langka ini. Jadi, kalau ada yang berminat dengan kejadian ini, ya mari sama-sama kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh negeri besar ini untuk memilih presiden barunya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (28)

2 November 2008

Golden, 4 Desember 2000 – 21:30 MST (5 Desember 2000 – 11:30 WIB)

Perkembangan persidangan pemilu hari ini sampai pada beberapa keputusan. Secara umum keputusan yang keluar sangat tidak menguntungkan pihak Gore, sebagaimana sebenarnya sudah diperkirakan sebelumnya oleh sebagian kalangan. Seorang profesor hukum dari University of Miami mengungkapkannya sebagai “Black Monday for Vice President Gore”.

Melihat hal ini, sementara pihak menilai bahwa perjuangan Gore melalui jalur hukum akan semakin berat. Tapi toh Gore belum mau menyerah. Masih ada upaya-upaya hukum yang akan ditempuh. Kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan perjuangan Gore ini barangkali : selagi masih ada upaya legal yang dapat dilakukan maka sampai titik darah penghabisan pun akan dilakukan.

Di Washington DC, Mahkamah Agung Amerika memutuskan mengembalikan perkara ke Mahkamah Agung Florida untuk mengklarifikasi tentang perpanjangan waktu penghitungan kartu suara yang melebihi tenggat waktu yang telah ditentukan.

Di Tallahassee, hakim Leon County Circuit menolak permintaan Gore untuk penghitungan ulang di dua kabupaten, yaitu Miami-Dade dan Palm Beach. Karena itu Gore akan melanjutkan mengajukan banding ke Mahkamah Agung Florida. Gore dan proses peradilannya tentu akan berlomba dengan waktu. Pasalnya hari Selasa depan, 12 Desember 2000 dijadwalkan sebagai hari memilihan wakil Florida yang akan duduk dalam lembaga Electoral College untuk nantinya secara formal akan memilih presiden. Sementara yang hingga saat ini dinyatakan sebagai pemenang adalah Partai Republik dengan George Bush sebagai kandidatnya.

Yang menarik dari persidangan di pengadilan Leon County Circuit ini adalah bahwa hakimnya, N. Sanders Sauls, adalah seorang Demokrat. Toh, tidak serta-merta lalu memenangkan Gore yang kandidat Partai Demokrat. Sisi-sisi keadilan yang sungguh-sungguh dilandasi atas hukum dan perundang-undangan serta paradigma hukum yang berlaku tetap dicoba ditegakkan.

Dengan bahasa sederhana saya mengatakan : Tidak selalu apa yang dilakukan oleh golkar-nya Amerika akan dibenarkan oleh hakim yang anggota korpri-nya Amerika. Mungkin itu sebabnya lembaga hukum sangat dijunjung tinggi. 

***

(Sayang sekali, saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu, dikarenakan problem laptop saya belum dapat teratasi. Ya sudah, apa boleh buat. Pokoknya saya tetap melanjutkan catatan ini di sela-sela malam Ramadhan di kamar hotel sambil membuka-buka PR dari kursus seharian tadi).

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (29)

2 November 2008

Golden, 7 Desember 2000 – 23:30 MST (8 Desember 2000 – 13:30 WIB)

(Akhirnya saya yakin bahwa catatan ini tidak akan dapat saya posting tepat waktu selama saya di Golden hingga akhir pekan nanti karena problem software yang tidak bisa saya atasi. Meskipun demikian, catatan perkembangan pemilu Amerika tetap saya lanjutkan. Entah kapan mengirimkannya).

Berita yang sempat saya catat malam ini adalah tentang selesainya saling menyampaikan argumen akhir di Mahkamah Agung Florida setelah Mahkamah Agung Amerika di Washington DC mengembalikan kasus ini ke Mahkamah Agung Florida di Tallahasse.

Malam ini agakanya cukup mendebarkan bagi kedua belah pihak. Pasalnya, apa yang akan diputuskan oleh Mahkamah Agung Florida hari Jum’at besok kemungkinan akan membuka peluang bagi Gore untuk menambah pengumpulan angka. Sudah barang tentu pihak Bush sudah mengantisipasi kemungkinan itu.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (32)

2 November 2008

New Orleans, 11 Desember 2000 – 22:00 CST (12 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Hari Minggu sore kemarin, setiba kembali saya di New Orleans setelah menempuh perjalanan udara dari Denver, saya langsung membuka saluran CNN. Ternyata suasana di luar sidang sudah semakin panas. Para pendukung kedua belah pihak saling berkumpul dan mengunjukkan perasaannya, baik di Washington DC maupun di Tallahassee.

Sidang Mahkamah Agung Amerika dimulai tadi pagi sekitar jam 11:00 waktu setempat. Para pengunjung yang ingin hadir di dalam ruangan sidang Mahkamah Agung ini ternyata sudah mulai berkumpul sejak hari Minggu kemarin. Mereka rela mengambil nomor urut kehadiran terlebih dahulu, seperti layaknya pasien dokter yang mengambil nomor urut kehadiran atau pendaftar ujian masuk perguruan tinggi yang ingin sepagi mungkin berada di urutan paling depan.

Apa yang terjadi kemudian? Para pengunjung itu menggelar kantung tidur (sleeping bag) dan membuka tenda di depan halaman gedung Mahkamah Agung yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah arena perkemahan. Padahal suhu udara malam hari sedang sangat dingin. Mereka sudah mengantungi nomor urut agar esoknya pagi-pagi (Senin pagi tadi) dapat masuk ke ruang sidang mengikuti jalannya persidangan.

***

Kedua pengacara dari kedua pihak, Gore maupun Bush, dicecar oleh para hakim untuk saling mempertahankan argumennya atas boleh tidaknya dilakukan penghitungan ulang. Hingga malam ini belum ada tanda-tanda kapan keputusan akan dikeluarkan oleh hakim mahkamah Agung Amerika.

Sementara di luar sidang, para pendukung kedua belah pihak terus saling melancarkan kampanyenya mendukung kandidat masing-masing. Dengan poster dan teriakan-teriakan, dipisahkan oleh petugas polisi, mereka tidak henti-hentinya mengunjukkan perasaannya. Bukan hanya para kaum mudanya, melainkan juga tampak para kakek dan nenek yang peduli dengan peristiwa bersejarah proses pemilihan presiden Amerika yang berkepanjangan kali ini.

Yang menarik, kalau kemudian antara kedua pendukung fanatik itu bertemu. Maka mereka saling “main hakim sendiri” di luar persidangan. Dalam pengertian yang sebenarnya, mereka saling beradu argumen layaknya antara hakim dan pengacara di dalam persidangan. Hanya sebatas itu, tidak terjadi timpuk-menimpuk atau jotos-menjotos. Biasanya baru selesai kalau sudah ada yang memisah.

Lho, kok bisa? Lha ternyata kok mereka malah dapat berkonfrontasi dan “tawuran” dengan lebih manis. Ini yang saya belum tahu jawabannya.   

***

Hingga hari ini, ada yang mengganjal di pikiran saya. Ketika Amerika sedang dilanda krisis atas proses pemilihan presidennya, tidak satu pun negara di dunia yang cawe-cawe (ikut ambil perduli) secara langsung. Berbeda halnya kalau ada krisis yang serupa terjadi di negara lain, lebih-lebih negara dunia ketiga, maka Amerika segera akan blusukan (menerobos kesana-kemari) untuk turut memainkan peranannya.

Sedemikian digdaya-nyakah negeri Amerika ini sehingga tidak ada negara lain yang berani (atau enggan?) turut campur dalam krisis pemilihan presiden yang sedang dihadapinya? Atau, sedemikian rapuh-nyakah negara-negara berkembang sehingga dengan mudah dicampuri urusannya (terang-terangan atau gelap-gelapan, langsung atau tidak langsung, tampak mata atau sembunyi-sembunyi) oleh Amerika jika sedang dilanda krisis yang serupa?

Atau, ganjalan pikiran saya saja yang terlalu su’udhon (berprasangka buruk)? Entahlah……., saya mau tanya dulu pada rumput padang golf yang bergoyang.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (34)

2 November 2008

New Orleans, 13 Desember 2000 – 22:00 CST (14 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Terjawablah sudah kini siapa yang menjadi pemenang pemilu di Florida, setelah Al Gore di depan publik Amerika menyampaikan pidato kekalahannya pada jam 9:00 malam waktu Amerika Timur yang baru lalu (Kamis pagi jam 9:00 WIB). Pidato Al Gore itu disampaikannya di gedung Eisenhower Executive Office, yang terletak di sebelah Gedung Putih, Washington DC, dengan dihadiri oleh istrinya serta pasangannya Joe Lieberman yang juga bersama istrinya.

Mengawali pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia baru saja menilpun George Bush guna menyampaikan menerima kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung Amerika kemarin malam, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan menerimanya.

Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh sebuah ajakan yang sangat simpatik kalau melihat betapa selama 36 hari terakhir sejak hari pemilu tanggal 7 Nopember yll. kedua belah pihak saling bersaing dengan tajam guna memenangi pengumpulan suara di Florida.

Saat keluar dari gedung Eisenhower dimana Gore menyampaikan pidato kekalahannya, di luar gedung di bawah gerimis, puluhan pendukung Gore masih dengan setia mengelu-elukannya dan memberikan tepuk tangan penghormatan atas Al Gore sambil meneriakkan kata-kata ritmis : “Gore in four, Gore in four”. Tentu yang dimaksud adalah agar Gore berjuang lagi untuk menuju ke Gedung Putih pada tahun 2004 nanti dan mereka akan mendukungnya.

Sejam kemudian, Gubernur Texas George W. Bush juga menyampaikan pidatonya di ruang sidang DPR Texas, yang berada di gedung US Capitol di kota Austin. Sebelum Bush menyampaikan pidato penerimaan kemenangannya, terlebih dahulu dia diperkenalkan kepada segenap hadirin oleh juru bicara DPR yang adalah seorang senior Partai Demokrat, lawan dari partainya Bush, Partai Republik.

Di bagian awal pidatonya, Bush juga mengatakan bahwa ia telah menerima tilpun dari Wakil Presiden Al Gore. Bush sangat berterima kasih atas ucapan selamat dari Gore, karena Bush menyadari bahwa hal itu sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh Gore pada saat seperti ini.

Bush menegaskan komitmennya untuk memajukan Amerika bersama-sama. Bukan untuk kepentingan Partai Republik atau Demokrat, melainkan untuk kepentingan segenap warga Amerika termasuk mereka yang tidak memilihnya.

***

Perjuangan panjang dan melelahkan, malahan membosankan bagi sementara kalangan awam, telah dilakukan pihak Gore sejak 36 hari yll. dengan isu utama dilakukannya penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang dinilai bermasalah. Dengan sendirinya pihak Bush juga mesti melawannya dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya. Maka yang terjadi lebih sebulan ini adalah saling adu argumentasi di berbagai forum pengadilan mulai dari tingkat paling rendah di kabupaten-kabupaten bermasalah hingga tingkat paling tinggi di kota Washington DC.

Kini semua telah selesai. Pagi tadi Gore telah melakukan konferensi jarak jauh dengan segenap tim hukumnya di Florida. Gore menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kepada sekitar 30 pengacara dan staff kampanyenya di Tallahassee yang telah bekerja keras sejak hari pemilu yll.

Setelah keluar keputusan Mahkamah Agung Amerika tadi malam, maka kubu Gore sudah merasa tidak ada lagi jalur upaya hukum yang dapat dilakukan guna memperjuangkan kemenangannya di Florida. Maka 25 jatah suara (electoral vote) Florida jatuh ke tangan George Bush. Dengan demikian, secara nasional Bush berhasil mengumpulkan 271 jatah suara, sedangkan Gore mengumpulkan 267 jatah suara. Menciptakan margin kemenangan yang sangat tipis yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilihan presiden Amerika sebelumnya. Meskipun dari jumlah pengumpulan kartu suara (popular vote) secara nasional Gore lebih unggul dibandingkan Bush.

Usai sudah proses panjang pemilihan presiden Amerika. Tinggal kini dilanjutkan dengan tahap formal selanjutnya hingga pelantikan presiden tanggal 20 Januari 2001 saat secara resmi George Bush melengser Bill Clinton menduduki Gedung Putih.

Selamat untuk George W. Bush menjadi presiden terpilih Amerika ke-43. Saya yakin kali ini saluran-saluran televisi pasti tidak akan salah lagi mengekspose presiden baru Amerika sebagaimana yang terjadi pada tanggal 7 Nopember tengah malam bulan lalu. Presiden Indonesia Gus Durrahman juga pasti sudah siap dengan kawat ucapan selamatnya.

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

Pengantar :

Terdorong oleh obsesi untuk melihat sebanyak mungkin belahan lain dari negara Amerika, maka selama dua pekan dari tanggal 1-15 Juli 2000 yang lalu saya dan keluarga melakukan perjalanan liburan lewat darat mengelilingi setengah negara Amerika belahan timur. Perjalanan ini melintasi 33 negara bagian dan ibukota Washington DC, menjalani hampir 5.500 mil (8.800 km), menghabiskan 186 gallon (704 liter) BBM dan rata-rata 12 jam setiap hari berada di jalan.

Seorang teman Amerika saya mengomentari perjalanan ini sebagai “bahkan sopir truk Amerika pun tidak pernah melakukannya”, dan seorang rekan lainnya berkomentar “it’s crazy“. Yang pasti, kami sekeluarga telah melihat Amerika lebih banyak dari yang pernah dilihat oleh umumnya orang Amerika sendiri.

Hanya karena saya bukan sopir truk dan tidak gila, maka saya bisa berbagi cerita melalui catatan perjalanan ini. Barangkali bisa untuk dikenang bagi yang pernah berada di daerah yang kebetulan saya lalui, atau untuk diniati bagi yang berencana mengunjungi negeri ini, atau untuk sekedar selingan saja.-    

(1).      Mengotak-atik Rute Perjalanan
(2).      Akhirnya Jadi Berangkat Juga
(3).      Mencapai Atlanta Di Hari Pertama
(4).      Jalan Merayap Di Cherokee
(5).      Pejalan Kaki Yang Dimanjakan Di Gatlinburg
(6).      Kelok Twin Falls Yang Memabukkan
(7).      Jalur Lintas Angkasa Di Pegunungan Blue Ridge
(8).      Antri Memasuki Gedung Putih
(9).      Mengunjungi Musium Smithsonian
(10).    Menikmati Ikan Bakar, Lalapan Dan Sayur Asam
(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”
(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam
(13).    Memandang Monumen Washington Dari Gedung Capitol
(14).    Hampir Malam Di New York
(15).    New York, New York
(16).    Menyeberang Ke Patung Liberty
(17).    Senja Di Brooklyn
(18).    Di Puncak Gedung Pencakar Langit
(19).    Ditolak Masuk Gedung Sekretariat PBB
(20).    Makan Hotdog Di Central Park
(21).    Suatu Malam Di Broadway
(22).    Apel Besar Itu Bernama New York
(23).    Jalan-jalan Sore Di Alun-alun Harvard
(24).    Menginap Di Motel Kelas Kambing Di Lebanon
(25).    Mencicipi Sirup Maple Di Vermont
(26).    Hujan Di Sepanjang Pegunungan Adirondack
(27).    Mengenang Tragedi Love Canal
(28).    Love Canal Dan Mimipi Buruk Amerika
(29).    Menyaksikan Air Terjun Niagara Dari Pulau Kambing
(30).    “Mainan Air” Itu Adalah Sebuah Maha Karya
(31).    Menuju Ke Dasar Air Terjun Di Malam Hari
(32).    Ketika Kemalaman Tiba Di Chicago
(33).    Di Madison, Saya Belajar Tentang Arti Kebersihan
(34).    Menyusuri Ladang Jagung Iowa
(35).    Bermalam Di Oskaloosa
(36).    Tengah Hari Musim Panas Di Columbia
(37).    Sejenak Di Tepi Danau Ozark
(38).    Rumah Kecil Di Padang Prairie
(39).    Impian Yang Hilang Di Kota Minyak Tulsa
(40).    Mampir Ke Musium “Cowboy” Di Oklahoma City
(41).    Perjalanan Terpanjang Pada Hari Terakhir
(42).    Di Bawah Purnama, Kami Kembali Ke New Orleans

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(9).     Mengunjungi Musium Smithsonian

Siang hari setelah keluar dari Gedung Putih, masih di hari Selasa, 4 Juli 2000, kami berjalan kembali menuju tempat parkir kendaraan yang agak jauh. Di depan Gedung Putih ada taman atau alun-alun yang disebut Lafayette Square, dan kami berjalan memutari alun-alun ini tidak sebagaimana ketika datang langsung memotong di bagian tengahnya karena memburu waktu.

Dari Gedung Putih kami langsung menuju ke kompleks musium Institut Smithsonian yang membentang di sebelah utara dan selatan jalur lapangan rumput sepanjang lebih 1,5 km antara jalan 1st Street di sebelah timur dan 14th Street di sebelah barat. Di kedua ujung lapangan rumput ini berdiri megah Gedung Capitol di ujung timur dan Monumen Washington di ujung barat. Di pinggiran jalur hijau ini ditumbuhi banyak pepohonan pelindung sehingga terkesan teduh dan berhawa menyegarkan.

Bangunan-bangunan di kompleks Institut Smithsonian yang umumnya berupa bangunan kuno yang masih megah dan kokoh ini antara lain terdapat National Museum of Natural History, National Museum of American History, National History of Art, National Museum of African Art, Arthur M. Sackler Gallery, Freer Gallery of Art, Arts and Industries Building, Hirshhorn Museum and Sculpture Garden, National Air and Space Museum, National Archives, National Postal Museum, Anacostia Museum, dsb.

Masih ada dua musium lainnya yang berlokasi di kota New York, yaitu Cooper-Hewitt, National Design Museum dan National Museum of the American Indian’s George Gustav Heye Center. Untuk memasuki museum-museum yang berada di Washington DC tidak dikenakan biaya, hanya National Design Museum yang berada di New York saja yang mengenakan ongkos masuk.

Institut Smithsonian berdiri pada tanggal 10 Agustus 1846. Smithsonian berasal dari nama seorang ilmuwan Inggris James Smithson yang sangat berjasa dalam upayanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat Amerika masa itu, dan bahkan hingga kini. Dalam perkembangannya kini Institut ini telah banyak dimanfaatkan oleh para peneliti dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu serta telah menghimpun lebih dari 140 juta benda-benda sejarah, contoh-contoh temuan ilmiah, karya-karya seni, dsb. 

Di antara 14 musium di kompleks Institut Smithsonian ini, National Museum of Natural History adalah yang paling banyak diminati pengunjung, paling atraktif serta tersedia berbagai fasilitas umum. Museum ini telah menjadi narasumber untuk berbagai penelitian, koleksi dan pameran khususnya dalam bidang biologi, ilmu kebumian dan antropologi. Ke musium inilah siang itu kami berkunjung setelah berjalan cukup jauh dari lokasi parkir, menyusuri tepian jalur lapangan rumput yang cukup teduh.  

Di musium yang terdiri dari tiga lantai ini antara lain dapat dijumpai jejak kehidupan di bumi melalui berbagai temuan fosil tumbuhan dan hewan seperti mamalia, dinosaurus, reptil, serangga, burung, serta kehidupan laut purba, yang juga dilengkapi dengan laboratorium fosil. Budaya bangsa-bangsa di dunia juga dapat ditelusuri melalui eksibisi budaya Asia dan Afrika, budaya Barat, budaya asli bangsa Amerika serta Amerika Selatan. Termasuk eksibisi legenda ekspedisi Viking di Amerika Utara.

Peristiwa sejarah jaman es serta kehidupan awal di bumi, dan temuan-temuan geologi, batu permata serta mineral juga tersaji dengan lengkap dan sangat menarik. Diantaranya yang menarik adalah temuan mineral baru yang diberi nama smithsonite yang komposisinya berupa zinc carbonate. Penamaan ini sebagai penghargaan atas temuan James Smithson pada tahun 1802. Warna dari mineral ini tergantung pada kandungan unsurnya, akan berwarna merah jambu jika mengandung cobalt dan berwarna biru atau hijau jika mengandung tembaga. Ini menjadikan batu smithsonite tampak indah oleh tampilan warnanya.

Selain itu, yang juga banyak dikerubuti pengunjung adalah pameran batu-batu berlian yang diberi nama hope diamond dan ditempatkan di dalam bungkus ruang kaca (barangkali anti peluru, saya lupa menanyakan saking ikut larut dalam pesona kemilaunya).

Tidak terasa waktu bergulir semakin sore. Beberapa bagian dari museum ini hanya sempat saya lewati sambil lalu saja. Rasanya tidak akan cukup waktu mengelilingi musium ini hanya dalam satu dua jam, jika ingin mengetahui lebih dalam tentang berbagai hal menarik yang dipamerkan. Belum lagi harus dengan sabar menjawab pertanyaan anak-anak yang bahkan saya sendiri sering tidak tahu jawabannya. Tapi mungkin itulah salah satu gunanya musium, untuk mencari jawaban atas banyak pertanyaan.

***

Saya mengenal nama Musium Smithsonian sejak kira-kira 3 tahun yang lalu. Waktu itu saya mendapat tawaran untuk menjadi anggota Institut Smithsonian dan berlangganan majalah yang juga bernama sama. Tertarik dengan isi majalahnya, maka tawaran itu saya terima dan untuk itu saya membayar US$24 untuk satu tahun keanggotaan.

Waktu itu meskipun saya memegang Kartu Anggota, tetapi sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk pada suatu saat akan berkesempatan mengunjungi kompleks musium dimana saya adalah satu dari sekian ribu anggotanya. Kini ada terselip rasa bangga, bahwa akhirnya saya sempat berkunjung ke kompleks musium yang berpusat di kota Washington DC ini. Meskipun tentu saja saya tidak memiliki cukup waktu untuk dapat mengunjungi semuanya yang ada di kompleks Institut Smithsonian ini.

Di Amerika, musium merupakan salah satu tempat tujuan wisata. Maka tidak heran kalau di brosur-brosur promosi pariwisata, tidak hanya wisata alam saja yang tampak menonjol dipromosikan melainkan juga termasuk wisata musium. Pengunjungnya pun tidak hanya dari kalangan tertentu (masyarakat sekolahan, misalnya), melainkan juga para orang-orang tua. Terlebih di musim liburan seperti saat liburan musim panas kali ini, musium adalah salah satu tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.

Sangat berbeda sekali dengan apa yang saya jumpai di Indonesia. Sejak SD saya sudah mengenal bahwa di Jakarta ada musium di Gedung Gajah, tapi ya sekedar hafal namanya saja. Rasa-rasanya juga sangat sedikit warga Jakarta yang dapat bercerita banyak tentang musium ini, selain sebuah gedung yang di depannya ada patung gajahnya. Itu saja. Apalagi musium-musium di daerah yang belum dikenal. Masih lebih baik kalau pernah dikunjungi peserta study tour siswa sekolah.

Untuk sekedar mengambil contoh, di daerah Bintaran Wetan, Yogyakarta, ada Musium Jendral Sudirman. Kalau saya pulang ke Yogya, hampir setiap hari melewati tempat ini karena kebetulan tidak jauh dari rumah mertua. Herannya, setiap kali saya melewatinya seringkali saya lupa bahwa di situ ada musium.

Banyak mahasiswa yang kost di sekitar situ yang juga tidak tahu bahwa ada musium yang sangat bernilai kejuangan di sekitar tempat tinggalnya. Tidak jauh dari sana ada Musium Biologi. Musium yang ini malah nyaris tidak terlihat bentuknya.

Tahun 1978 ketika saya masih di bangku SMA di Kendal, saya pernah menerima kartu pass untuk masuk Musium Zoologi di Bogor, sebagai salah satu penghargaan menang lomba karya tulis. Ketika di tahun yang sama saya punya kesempatan untuk liburan ke Bogor, kesempatan untuk mengunjungi Musium Zoologi yang ada di kawasan Kebun Raya ini tidak saya sia-siakan. Ternyata banyak hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya ada di dalam sana. Sebenarnya cukup menarik untuk dikunjungi dan menambah wawasan. Tetapi kenapa tidak banyak yang tahu tentang musium ini? Saya pun baru tahu karena kebetulan punya kartu pass dan sempat mengunjunginya.

Saya jadi penasaran, dulu di lingkungan kampus Tambak Bayan UPN “Veteran” Yogyakarta pernah berdiri Musium Teknologi Mineral. Mudah-mudahan musium yang dibangun menempati bekas gedung perpustakaan serta pernah dibanggakan sebagai satu-satunya musium teknologi mineral itu kini masih ada yang ngurip-uripi (menghidup-hidupi) keberadaannya dan masih diminati pengunjung, minimal oleh mahasiswanya sendiri.

Terkadang saya heran pada diri sendiri. Terhadap musium di luar negeri yang waktu itu sama sekali tidak saya bayangkan seperti apa bentuk dan isinya, saya rela menjadi anggota dan membayar uang keanggotaan. Tetapi terhadap musium di negeri sendiri saya justru tidak mudah memperoleh informasi yang lengkap, akibatnya menjadi tidak tergerak untuk turut merasa terlibat atau memiliki.

Sepertinya ada sesuatu yang terputus. Musium (termasuk sarana dan medianya) yang memang tidak menarik, atau masyarakatnya (termasuk saya) yang memang tidak tertarik. Rasanya perlu ada jembatan yang menghubungkan kedua ujung yang masih terputus itu. Sebab ini adalah potensi ekonomi yang kalau di Amerika dapat mendatangkan pemasukan guna tujuan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Barangkali saja karena belum ada yang “sempat” memikirkan bagaimana mengemas benda-benda kuno agar juga bernilai rekreatif. Bagaimana mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada tambahan ilmu yang bernilai tinggi di sana, ada sumber inspirasi yang membangkitkan semangat, atau setidak-tidaknya ada sesuatu yang enak dilihat, dinikmati, dikenang dan dibanggakan.

Dengan demikian akan menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat yang pada gilirannya akan tertarik untuk datang dan “membeli”. Atau, jangan-jangan malah jenis pekerjaan semacam ini sendiri yang memang tidak atraktif dan tidak bernilai ekonomis?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(10).    Menikmati Ikan Bakar, Lalapan Dan Sayur Asam

Matahari sudah lengser ke barat, dan sekitar jam 4 sore kami segera bergegas meninggalkan kompleks Musium Smithsonian dengan tujuan untuk kembali menuju kota Wheaton. Kembali kami menyusuri pinggir utara lapangan rumput yang lumayan tidak terlalu panas dengan banyaknya ditumbuhi pepohonan. Dari kejauhan terdengar bunyi musik dari berbagai konser musik yang sedang digelar di beberapa panggung yang ada di lapangan.

Pertunjukan musik sepanjang hari itu memang bagian dari perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika. Maka tidak heran kalau arena di sekitar lapangan hijau itu banyak dipadati pengunjung. Tidak ketinggalan pedagang kaki lima (tapi pakai mobil) yang turut meramaikan suasana di sepanjang pinggiran jalan.

Siang hari tadi sebenarnya juga ada berbagai atraksi lain, diantaranya karnaval atau parade hari kemerdekaan, parade militer, pembacaan naskah “Declaration of Independence”, dsb. Sore dan malam harinya juga akan digelar berbagai atraksi antara lain konser musik oleh National Symphony Orchestra dan pesta kembang api di Monumen Washington yang baru direnovasi.

Hanya yang agak mengherankan saya, dari daftar agenda acara dalam rangka perayaan kemerdekaan Amerika ini saya tidak menemukan ada upacara pengibaran bendera secara nasional yang kalau di Indonesia justru menjadi acara inti. Di Amerika, acara semacam upacara bendera ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan tertentu dan terbatas, karena itu tidak pernah dijumpai arak-arakan anak sekolah, pramuka, hansip, pegawai negeri, tentara, kelompok pemuda ini-itu, pam swakarsa, dsb. yang memenuhi jalanan umum menuju lapangan upacara. Memang, lain ladang lain belalang. Beda negara tentu beda sejarah perjuangannya, karena itu juga beda tradisi dan tata caranya.

***

Cuaca siang itu cukup panas, maka kamipun cepat-cepat saja berjalan menuju ke lokasi parkir kendaraan yang jaraknya agak jauh dari lokasi musium yang baru kami kunjungi. Lama-lama terasa capek juga, apalagi anak-anak. Baru ingat kalau kami belum makan siang. Sesuai rencana, kami akan makan siang di Wheaton. Kata Mas Supeno, di sana ada restoran Indonesia.

Wah, memang ini yang dicari-cari. Serasa tidak sabar segera ingin mencapainya. Sebenarnya rencana semula begitu tiba di Wheaton tadi malam akan langsung makan di restoran Indonesia. Sayangnya saat tiba di Wheaton sudah kemalaman, sehingga restoran sudah tutup.

Mendengar kata restoran Indonesia, rasanya sudah tidak perlu lagi ditanyakan masakannya enak apa tidak. Setidak enak – tidak enaknya masakan di restoran Indonesia, kalau sudah lebih setahun tidak menjumpainya ya pasti akan terasa enak juga. Terbayang sudah, berbagai menu kampung yang sudah luuuamaaa….. tidak ketemu.

Meninggalkan jantung kota Washington DC melalui jalan 16th Street seperti waktu berangkatnya, melaju lurus ke utara hingga menyatu ke jalan Georgia Avenue, memotong jalan lingkar utara Interstate 495 hingga tiba kembali di Wheaton. Sepanjang jalan 16th Street banyak dijumpai rumah-rumah yang berupa bangunan-bangunan kuno yang tampak masih sangat terpelihara dengan baik. Tentu ini memberikan pemandangan yang khas berkesan kota kuno.

Hal yang sama juga kami jumpai di jantung kota Washington DC dimana banyak bangunan-bangunan kuno berkonstruksi menjulang tinggi yang masih difungsikan dan terpelihara dengan baik. Daerah di sekitar pusat kota ini terkesan tidak terlalu sibuk dan relatif enak dijelajahi. Berbeda sekali dengan suasana di sekitarnya yang padat dan ramai sama halnya dengan umumnya kota-kota besar di Amerika.

Setiba di Wheaton, kami langsung saja menuju ke pusat kota, lalu masuk ke jalan 2504 Ennalls Avenue. Di situlah kami akan menyantap makan siang menjelang sore di restoran Indonesia. Restoran “Sabang” namanya. Kebetulan seorang teman Mas Supeno bekerja di restoran ini, sehingga acara membuka-buka daftar menu pun menjadi lebih bersuasana kekeluargaan.

Restoran Sabang sedang tidak ramai, hanya ada satu dua tamu. Ya, karena memang kami datang tidak pada jam makan. Tapi malah kebetulan, kami jadi bisa agak lebih leluasa untuk mengesampingkan tata krama makan di restoran. Terutama dalam hal “cengengesan bersama” menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Hal yang tidak etis untuk dilakukan kalau saja restoran sedang banyak tamu.

Tanpa pikir panjang, langsung saja memesan ikan bakar, lalapan lengkap dengan sambal terasinya, sayur asam dan tentu nasi putih. Anak-anak pun ikut nimbrung : “saya mau sate”. Tidak perlu ditanya-tanya lagi, anak-anak dan ibunya langsung teriak : “es dawet…, es teler…”. Seperti tahu kalau sedang tidak sabar menunggu pesanan makanannya disajikan, musik klenengan gendhing Jawa lalu mengalun. Kedengarannya kok jadi merdu dan bersuasana nglaras (santai seperti tanpa beban pikiran), padahal kalau sedang di Yogya dengar bunyi-bunyian musik gamelan itu di radio biasanya langsung diganti gelombangnya

Pemilik restoran ini bernama Pak Victor yang berdarah Menado. Lho, kok musiknya gendhing Jawa? Tidak penting lagi dipersoalkan. Bagi Pak Victor yang penting adalah tamu-tamunya senang dan berharap akan kembali lagi makan di restorannya. Siang menjelang sore itu Pak Victor tampil rapi, turut menyapa tamu-tamunya. Restoran “Sabang”-nya beroperasi dari jam 11 siang hingga jam 9 atau 10 malam.

Pak Victor yang sudah duapuluh tahunan melanglang Amerika ini paham dengan peluang bisnis di daerah ini. Maka sekitar separuh dari pengembaraannya di Amerika sudah dihabiskannya untuk menekuni bisnis restoran. Dan tampaknya cukup berhasil. Kalau tidak tentu restorannya sudah tutup sejak dulu.

Kabarnya restoran ini menjadi langganan para pejabat Indonesia yang sedang berkunjung ke Washington DC. Disamping lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari kota Washington DC, tentu juga karena menu dan masakan yang disajikannya pas dengan umumnya lidah orang Indonesia. Dengan kata lain saya berkesimpulan, berarti masakannya cukup enak.

Tidak terlalu lama kami menunggu, pesanan pun segera disajikan. Ini dia, masakan yang masih mengepul asapnya segera memenuhi meja. Tanpa tolah-toleh kiri-kanan, jurus tradisional segera dimainkan. Untuk menyelesaikan makanan yang sudah tersaji di meja, saya merasa perlu untuk “turun tangan”, maksudnya membebaskan tangan dari sendok, garpu, pisau dan sejenisnya sehingga bebas berkeliaran dari piring ke piring.

Seperti orang sedang kemaruk (bernafsu makan tinggi setelah sembuh dari sakit). Lalu ….., ikan bakar pun bablas tinggal tulangnya. Lalapan dan sambal terasi ludes, entah daun apa saja yang tadi disajikan. Tinggal menyeruput kuah sayur asam. Anak-anak pun suka dengan satenya. Perut jadi terasa kemlakaren (penuh terisi seperti tidak tersisa lagi rongga yang kosong).

Saya ingat-ingat, sekitar satu setengah tahun tinggal di Amerika, ya baru kali inilah makan sampai keringatan. Alhamdulillah, sebuah kenikmatan yang sudah lama tidak saya alami. Sejenak keluar restoran, merokok di luar karena restoran ini bebas asap rokok, lalu masuk lagi. Ya ini untungnya makan saat bukan jam makan, sehingga tata krama makan di restoran bisa dikesampingkan untuk sejenak berlaku ndeso. Nampaknya Pak Victor juga maklum.

Keluar dari Restoran “Sabang” seusai makan, kami pulang menuju ke rumah Mas Supeno. Istirahat sejenak karena malamnya akan dilanjutkan dengan rencana yang lain. Rupanya kami benar-benar kecapekan, barangkali tadi makannya kebanyakan, yang jelas istirahatnya menjadi berjenak-jenak dan ketiduran agak lama. 

Menikmati ikan bakar, lalapan dan sayur asam, nampaknya memberi kesan tersendiri bagi kami sekeluarga yang sudah cukup lama tidak menjumpai menu makanan semacam itu di Amerika. Bukannya tidak bisa memasak sendiri, tetapi barangkali sama seperti kalau kita di kampung sana, makan gudegnya simbok yang pagi-pagi jualan di ujung gang seringkali terasa lebih enak daripada makan gudeg bikinan sendiri.

Padahal tangannya simbok itu ya njumput gudeg (mengambil gudeg dengan menggunakan ujung-ujung jari), ya nyuwil ayam (mengambil sebagian daging ayam dengan jari tangan), ya nyusuki (memberi uang kembalian setelah menerima pembayaran), ya terkadang garuk-garuk.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam

Dalam perjalanan pulang dari menyaksikan pesta kembang api, kami lalu menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh, masih mudah dicapai dengan berjalan kaki. Tiba di stasiun, hari sudah menunjukkan lebih jam 10 malam. Stasiun sedang tidak terlalu ramai, sehingga kami dapat langsung menuju ke mesin penjual karcis. Dengan menyelipkan uang ke dalam slot mesin, pencet tombol untuk memilih jenis karcis, lalu karcis pun keluar. Uang kembalian juga akan diberikan oleh mesin itu, jika memang ada sisa.

Sangat praktis dan mudah. Hanya tentunya bagi yang baru pertama kali menggunakan jasa metro ini, perlu terlebih dahulu membaca tata caranya sebelum berurusan dengan mesin penjual karcis. Untung kami pergi bersama Mas Supeno yang tentunya sudah paham betul. Jadi sementara menunggu Mas Supeno membeli karcis, saya membaca-baca tata caranya, sekedar ingin tahu.

Ada beberapa macam jenis karcis dan yang paling umum digunakan adalah yang disebut dengan Metrorail farecard, yaitu semacam kartu yang dilengkapi garis magnetik seperti kartu kredit. Selain itu ada Metrocheck card, SmarTrip card dan Metrorail pass. Selain membelinya melalui mesin di stasiun-stasiun, kartu ini juga dijual di tempat-tempat umum seperti halnya kartu tilpun, dan juga dapat dipesan secara on-line melalui media internet.

Harga karcisnya ada beberapa macam mulai yang $1.10 hingga yang maksimum $3.25 tergantung dari jarak tempuhnya. Ada karcis dengan tarip biasa (regular fare) yang berlaku di saat-saat jam sibuk pagi dan sore, dan ada tarip hemat (reduced fare) yang berlaku di luar jam-jam sibuk. Harganya sama, tetapi tarip hemat dapat digunakan untuk menjalani jarak tempuh yang lebih panjang.

Selain menggunakan uang tunai, pembelian juga dapat dilakukan menggunakan kartu kredit. Bahkan bagi pemegang SmarTrip card yang nilai karcisnya sudah habis, mesin ini juga melayani pengisian atau penambahan nilai karcis agar dapat digunakan lebih lama.   

Setelah kami masing-masing memegang karcis, kami lalu menuju ke pintu gerbang untuk masuk peron stasiun. Karcis tinggal diselipkan ke slot-nya, lalu diambil lagi dan palang pintu membuka. Kemudian kami turun melalui tangga berjalan yang panjangnya sekitar 70 meter menuju peron stasiun yang (tentu saja) menuju ke lokasi di bawah tanah. Stasiun Wheaton ini mempunyai tangga berjalan yang paling panjang dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kini tinggal menunggu kereta datang dan lalu naik ke jurusan yang hendak dituju.

Aturan penggunaan karcis yang sama ada pada saat hendak keluar dari stasiun. Selipkan kartu dan lalu akan tercetak angka yang menunjukkan nilai sisa karcis tersebut, tergantung pada penggunaan jarak tempuhnya. Jika ternyata nilai karcisnya kurang, maka palang pintu tidak akan membuka, dan penumpang tersebut dipersilakan menuju ke mesin penjual karcis untuk keluar (exitfare machine) guna menambahkan kekurangannya.

Saya tidak tahu, apa yang harus dilakukan kalau seandainya sang penumpang benar-benar tidak punya uang lagi. Saya tidak mau menanyakannya, karena takut kalau jawabannya adalah : “Ya jangan naik kereta bawah tanah”. Pertanyaan menggelitik yang sama : bagaimana jika ada penumpang yang uangnya kurang lalu nekad menerobos palang pintu dan lari? Ya, paling-paling dikejar petugas. Lha tapi nyatanya tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Artinya kemungkinan pelanggaran semacam itu relatif tidak banyak terjadi.

Jadi, agaknya memang kemoderenan hanya cocok diterapkan bagi masyarakat yang sudah memiliki kesadaran tinggi bahwa semua kemudahan akibat kemajuan teknologi itu disediakan sebagai bagian dari milik masyarakat sendiri. Bukan semata-mata milik pemerintah, dan yang lebih penting adalah masyarakatnya percaya bahwa itu juga bukan semata-mata untuk kepentingan PT ini atau PT itu.   

Malam itu, karena tujuannya hanya sekedar ingin merasakan naik metro, maka begitu datang kereta pertama yang menuju utara dari stasiun Wheaton, kami langsung naik saja. Hanya beberapa menit metrorail yang berjalan dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam segera tiba di stasiun Glenmont. Kami lalu turun dan pindah ke jalur yang kembali ke selatan. Naik kereta lagi menuju Wheaton tapi tidak langsung turun, melainkan dilebihkan hingga tiba di stasiun berikutnya yang agak ke selatan, yaitu Forest Glen.

Forest Glen adalah stasiun yang lokasinya paling dalam, yaitu 60 meter di bawah permukaan tanah. Dari Forest Glen kami pindah kereta lagi menuju utara untuk kembali ke stasiun Wheaton. Cukup kira-kira setengah jam untuk menjawab rasa ingin tahu anak-anak naik kereta bawah tanah. Barulah anak-anak merasa lega, dan kami pun lalu pulang berjalan kaki.

***

Jasa layanan angkutan umum kereta bawah tanah (yang juga mencakup sistem transportasi bis) ini dikelola oleh The Washington Metropolitan Area Transit Authority (WMATA). Pekerjaan konstruksi pertamanya dilakukan pada tahun 1969, dan secara resmi kereta bawah tanah mulai beroperasi tahun 1976.

Sistem trasportasi rel bawah tanah ini menghubungkan 78 stasiun, melayani rute sepanjang 154 km menjangkau wilayah Washington DC dan beberapa wilayah penyangga di sekitarnya yang berada di negara bagian Maryland dan Virginia. Diperkirakan jasa layanan metrorail maupun metrobus ini melayani sekitar 3,4 juta masyarakat pengguna jasa transportasi umum, baik karyawan, siswa sekolah maupun masyarakat umum lainnya.

Seperti halnya untuk kereta bawah tanah, karcis farecard juga disediakan untuk transportasi bis maupun gabungan atau sambungan antara kereta dan bis. Karena itu, berwisata di kota Washington DC menggunakan jasa kereta bawah tanah dapat menjadi daya tarik tersendiri. Selain bebas dari kemacetan, relatif murah, juga mudah jika harus menggunakan bis untuk berpindah (transfer) dari satu lokasi ke lokasi lainnya. 

Sejak pertama kali masuk stasiun hingga naik-turun kereta dan keluar dari stasiun lagi, tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Hanya tampak beberapa orang saja, itupun hanya sekedar mengawasi dan membantu kalau-kalau ada penumpang yang perlu bantuan. Sepanjang dapat dan sempat membaca tulisan rambu-rambu petunjuk, rasanya tidak akan kesulitan. Serba mudah, praktis dan tertib. Lalu….., kapan ya kira-kira kita akan memilikinya. (Bersambung)

Yusuf Iskandar