Posts Tagged ‘improvisasi’

Nasi Goreng Gurami Petai

7 Juni 2010

Nasi goreng ini harus menjadi istimewa. Itu ide yang terbersit saat pagi ini ibunya anak-anak bikin nasi goreng ‘biasa’, buat sarapan. Masih ada gurami bakar sisa kemarin, ada petai di kulkasku + vitamin U (ulat) di dalamnya. Improvisasi harus dilakukan! Dan, jadilah… ‘Nasi goreng gurami petai’. Hwaaa…..hoenak tenaaaan….

Yogyakarta, 31 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Pindah Rumah Kah?

4 Maret 2010

Akhir-akhir ini anak lanang sering pulang larut, tapi ortunya jarang diberitahu sedang dimana dan ngapain. Sekali waktu ditilpun sama ibunya agar segera pulang. Eh…, tidak pulang-pulang juga. Terpaksa bapaknya turun jari tangan (maksudnya, nulis SMS), bunyinya: “Boss, pindah rumah kah?” (waktu kecil dulu anak lanang ini suka dipanggil ‘boss’).

Tidak lama kemudian, uthuk, uthuk, uthuk….., anak lanang pulang. So? Sekali waktu improvisasi itu perlu…

Yogyakarta, 3 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Ada Yang Kangen

12 Februari 2010

Ketika lagi asyik-asyiknya mandi sore, tiba-tiba istriku teriak (dari luar kamar mandi, tentu saja) : “Mas, itu dicariin. Ada yang kangen tuh…”. Sontak berdegup jantungku. Berdebar senang karena ternyata saya masih laku ada yang ngangenin, tapi juga penasaran siapa yang maghrib-maghrib begitu nekat bilang kangen padaku melalui istriku.

“Siapa?”, tanyaku sambil masih deg-degan. Istriku pun menjawab : “Itu si Meriam Bellina…”. Spontan saya tertawa ngakak di dalam kamar mandi mendengar jawaban istriku. Lalu siapa si ‘Meriam Bellina’ itu? Silakan baca cerita sebelumnya di sini :  Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag 2

Yogyakarta, 9 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Berimprovisasi Di Warung Soto Pak Marto Jogja

21 November 2009

Dalam perjalanan mengantar istri ke tokonya, tiba-tiba beliau mengajak berhenti mampir ke Warung Soto Pak Marto di Jl. Janti Jogja. “Lapar”, katanya singkat. “Sama”, jawab saya juga singkat. Sebelumnya memang sudah beberapa kali kami mampir ke warung soto ini. Lokasinya di jalan utama masuk Jogja dari sisi tenggara, tepatnya di seberang agak ke barat dari balai Jogja Expo Center (JEC), memang cukup strategis. Mudah dicari dan dihampiri.

Siang itu suasana warung agak ramai karena ada rombongan bis besar yang juga berhenti makan siang. Meski bernama warung, tapi tampilannya sebenarnya cukup megah. Barangkali sebutan warung dimaksudkan untuk mengenang masa-masa almarhum Pak Marto merintis usahanya sebagai tukang soto lebih 25 tahun yll. di lokasi itu. Ketika itu penggal ke barat jalan Janti masih menjadi kawasan jin buang anak (hasil hubungan gelap barangkali…) alias ndeso, sepi dan masih berupa jalan desa.

Seputaran tahun 1983 Pak Marto memulai bisnis sotonya. Semakin hari sotonya semakin dikenal dan menjadi jujukan para penyoto (penggemar soto) dari kawasan sekitarnya. Namun sayang, Pak Marto tidak sempat lama menikmati sukses dari hasil kerja kerasnya. Tahun 1995 Pak Marto berpulang, lalu disusul Bu Marto sekitar dua tahun kemudian. Kini bisnis sotonya masih terus berkibar dan dilanjutkan oleh generasi kedua dan ketiganya. Seperti warung soto yang di Jl. Janti itu kini dikelola oleh salah seorang cucunya. Sementara Warung Soto Pak Marto pun semakin merambah membuka cabangnya di berbagai kota.

Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Kalau kategori rasa itu boleh diskala jadi tiga: pertama enak, kedua enak banget, dan ketiga hoenak tenan….., maka soto Pak Marto termasuk enak. Jenis sotonya adalah soto daging sapi, cuma dagingnya kurang full, masih setengah-setengah…… Saya dapat memakluminya kalau alasannya karena harga jualnya yang semangkuk Rp 7.000,-disesuaikan dengan harga beli daging sapi di pasar.

Seperti umumnya warung makan di Jogja, maka selalu ada asesori kecap manis disediakan. Rupanya di warung ini tidak memilih kecap terkenal yang katanya dibuat dari kedelai hitam, melainkan kecap lokal cap Ayam yang kecapnya kental dan lebih terasa manis gulanya ketimbang kedelainya. Meski demikian, kalau lagi berada di sisi tenggara Jogja, warung soto Pak Marto ini bisa jadi pilihan untuk petualangan kuliner soto-menyoto. Nama besar Pak Marto seolah menjadi jaminan para penggemar soto.

***

Di warung itu kami mengambil tempat duduk yang dekat jalan masuk, karena kebetulan tempat itu yang kosong. Sambil menikmati hangatnya sruputan kuah soto yang bening menyegarkan, lalu datang seorang pengamen memainkan alat musiknya yang sangat sederhana. “Icik-icik” namanya. Sejenis alat musik seadanya terbuat dari kayu yang dilengkapi entah apa, sehingga kalau digoyang-goyang berbunyi “icik-icik”…. Pengamen itu adalah seorang bapak tua yang jalannya sudah agak membungkuk berbaju warna hijau pupus lusuh. Jelas bukan memainkan lagu. Tanpa intro, tanpa reffrain dan bukan juga lupa syairnya, melainkan sekedar irama musik monoton yang baru bisa berhenti setelah disodori uang.

Satu menit, dua menit…. Musik itu masih berbunyi. Sementara tidak seorangpun pelayan warung yang perduli, saking sibuknya mondar-mandir melayani pengunjung warung yang lagi ramai. Padahal yang diharapkan oleh pengamen itu barangkali hanya sekedar uang cepek-nopek. Kalau sesekali ada yang memberi koin gopek, sudah sangat berterima kasih.

Tiga menit, empat menit….. Belum juga ada orang warung yang memperdulikannya. Mulailah pikiran kreatif saya yang sedang kelebihan energi positif menangkap peluang. Ya, peluang untuk sedikit berimprovisasi spontan mengambil alih kepedulian terhadap bapak tua pengamen “icik-icik” itu. Lalu saya hampiri pengamen tua itu sambil saya sodorkan selembar ribuan. Benar juga, musik langsung berhenti dan pengamen tua itu ngeloyor pergi sambil berterima kasih. Mission accomplished. Saya pun duduk kembali, melanjutkan nyruput soto, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang pengamen tua melainkan melanjutkan ngobrol dengan istri yang tadi terputus sebentar.

Usai nyoto, becanda sebentar dengan cucunya Pak Marto, lalu beranjak meninggalkan tempat parkir. Entah datang energi positif dari mana, tahu-tahu terpikir untuk melakukan improvisasi tahap kedua. Membuka kaca mobil sebelah kanan (kalau sebelah kiri terlalu jauh…..), lalu menyodorkan uang parkir dalam satuan agak besar. Ketika tukang parkir separuh baya itu hendak mengambil kembaliannya, segera saya berbisik : “Tulung turahane diwenehke anake njenengan….(tolong sisanya diberikan kepada anak Bapak)”.

Segera tancap gas, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang tukang parkir itu melainkan ngobrol lain dengan istri. And another mission accomplished. Begitu saja. Lalu perjalanan pun dilanjutkan menuju toko di Madurejo, kecamatan Prambanan, Jogja.

Just a simple improvisation in my life. Saya sedang membicarakan nominal uang yang relatif tidak seberapa dibanding harga soto yang barusan saya santap dan rokok yang saya hisap. Tapi dipastikan manfaatnya sangat besar bagi orang-orang yang sedang membutuhkan. Saya sendiri heran, kenapa sangat jarang saya melakukan hal-hal kecil seperti ini. Tepatnya, jarang terpikir untuk lebih sering melakukannya. Padahal jumlah uang yang saya libatkan dalam improvisasi kecil semacam itu sama sekali tidak akan mengganggu roda ekonomi dan kehidupan saya maupun keluarga saya. Tapi berat rasanya untuk sering-sering melakukannya. Butuh dorongan kuat untuk merangsang bangkitnya energi positif yang nilai manfaatnya luar biasa, tanpa saya sadari wujudnya.

Yogyakarta, 22 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 4

16 Oktober 2009

Matahari sudah naik sepenggalah. Tiba-tiba ada suara orang ketuk-ketuk pagar halaman rumah. Bunyinya cukup keras mengagetkan. Ketika saya lihat keluar ada seorang kakek berdiri di depan pagar sambil meletakkan pikulannya (bukan pukulannya). Rupanya kakek itu adalah seorang penjual keranjang yang bermaksud menawarkan dagangannya sambil minta ijin untuk beristirahat sebentar.

Di depan rumah saya memang ada tempat duduk dengan konstruksi tembok berkeramik putih. Cocok untuk duduk santai di kala tidak panas dan tidak hujan (kalau hujan duduk-duduknya harus sambil bawa payung…). Tempat duduk itu juga tidak dilengkapi dengan atap atau kanopi, karena khawatir dikira halte bis. Tanpa atap saja sudah disenangi orang untuk tempat isirahat, seperti kakek yang pagi itu kecapekan berkeliling kampung menjajakan dagangannya sejak pagi.

”Kebetulan…”, kata saya dalam hati. Ini peluang yang tidak datang saban hari atau bahkan sebulan sekali pun belum tentu. Bukan! Bukan peluang untuk membeli keranjang, melainkan peluang untuk melakukan improvisasi.

Saya lalu kembali masuk rumah dan bilang sama ibunya anak-anak : ”Itu ada yang nawarin keranjang untuk tempat pakaian kotor…”. Istri saya menjawab : ”Ah, masih punya kok….”. Pemberitahuan kepada istri saya itu memang sekedar basa-basi karena sebenarnya saya sudah tahu kalau di rumah masih punya keranjang pakaian yang kondisinya masih bagus.

Sebenarnya saya hanya ingin melakukan test. Rupanya apa yang ada di pikiran saya berbeda dengan apa yang ada di pikiran istri saya. Istri saya berpikir praktis-logis-realitis, tanpa perlu mempertimbangkan hal-hal di luar itu. Di rumah sudah ada keranjang, jadi untuk apa beli lagi?. Begitu kira-kira bunyi pikirannya. Sementara yang ada di pikiran saya berbeda.  Ada seorang kakek ndeso yang berjalan keliling kampung seharian sambil memikul menawar-nawarkan keranjang. Kalaupun tidak membeli keranjangnya, apa yang bisa saya lakukan? Begitu kira-kira jalan pikiran saya berimprovisasi.

Wajarnya seorang perempuan ex-officio menteri keuangan negeri rumah tangga, inginnya serba pragmatis. Ini memang bukan soal baik-buruk atau salah-benar. Ini soal permakluman saja. Siapapun harus memaklumi kalau punya menteri keuangan perempuan, maka kadar sentuhan improvisasinya akan berbeda dengan sentuan-sentuhan sektor riil lainnya. Karena saya suka dengan sentuhan yang lainnya itu, maka sentuhan improvisasinya tidak terlalu saya hiraukan.

Ketika kakek tua itu duduk beristirahat, lalu saya tanya : ”Sudah sarapan pak?”. Sebutan kakek sebenarnya membahasakan anak saya, karena usia sebenarnya tentu saja seusia orang tua saya. Kakek itu menjawab : ”Sampun (sudah)…”.

Saya menyadari kalau apa yang saya tanyakan adalah pertanyaan basa-basi. Seandainya benar bahwa kakek itu belum sarapan, saya duga pasti juga akan bilang ”sampun”, khas pembawaan orang desa yang rendah hati (adakalanya campur sungkan dan malu). Karena itu segera saya kembali masuk rumah lalu mengambil air mineral dingin untuk saya suguhkan kepada kakek itu. Kebetulan sekali pagi itu istri saya baru saja membuat perkedel jagung masih hangat. Ini jenis makanan yang jarang dijual orang dan kalau kepingin terpaksa harus bikin sendiri (wuih… enak tenan dimakan dengan cabe rawit….). Maka sekalian saja saya ambil beberapa biji lalu saya taruh di atas piring kecil dan saya bawa keluar disuguhkan kepada kakek itu sebagai sarapan.

Sambil menyajikan suguhan, kemudian saya ikut duduk leyeh-leyeh bareng kakek penjual keranjang yang sedang beristirahat, sambil mengobrol ngalor-ngidul. Wajah tua nan letih tergurat jelas di wajah kakek itu, namun senyum dan rona cerahnya seolah mencerminkan keikhlasan dan kedamaian hatinya. Saya memang hanya menduga. Tapi dari obrolan kami selanjutnya menyiratkan bahwa dugaan saya benar.

Kakek yang biasa dipanggil pak Asmudi dan berasal dari sebuah dusun di kawasan Imogiri, selatan Yogyakarta, masih naik lagi ke arah perbukitan menuju kecamatan Dlingo itu bercerita banyak tentang dirinya. Ketika saya tanya berapa umurnya, dia menjawab : ”Seket gangsal (lima puluh lima)”. Jelas saya tidak percaya, karena berarti lebih pantas saya sebut kakak, bukan kakek. Lalu katanya lagi mengoreksi : ”Tapi ya mungkin sekitar 60 tahun”. Dan saya masih tidak percaya. Akhirnya kami sepakat bahwa umur yang pantas bagi kakek itu adalah 65 tahun. Lha wong sama-sama tidak tahu umurnya, ya demokratis saja, lalu dibuat kesepakatan. Umur pensiun pejabat saja bisa diulur-ulur apalagi kok cuma umur tukang keranjang, yang berapapun umurnya tidak akan berpengaruh apapun bagi nasibnya. Berbeda dengan masa jabatan seorang pejabat.

Pak Asmudi lalu melepas sandal jepit warna birunya yang untungnya masih tampak berbentuk sandal, lalu mengangkat satu kakinya disilangkan di atas tempat duduknya. Sambil menatap kakinya yang nampak berwarna sawo busuk, mengkilap, berkulit keras, pecah-pecah dan njeber (melebar), pak Asmudi bercerita dengan bangga dan penuh syukur (karena beberapa kali mengucapkan kalimat ”alhamdulillah” dalam omongannya), bahwa empat dari lima anaknya sudah mentas (hidup berumah tangga yang berarti tidak lagi menjadi tanggungannya). Kini, dia dibantu anak bungsunya dan istrnya bekerja menganyam bambu untuk dijadikan keranjang. Kawasan seputaran Imogiri memang merupakan salah satu sentra industri rumahan anyaman bambu. Selain berupa keranjang pakaian yang oleh orang kampungnya disebut gorong, para tetangganya juga membuat tambir atau tampah, kalo atau saringan dari bambu.

Untuk membuat anyaman keranjang bambu sebenarnya melalui tahapan pekerjaan yang tidak sederhana. Bambunya lebih dahulu direndam dalam air sebelum disayat tipis-tipis. Belum lagi ketika mewarnai juga direndam dalam air berwarna (orang desa biasa menyebut di-naptol). Proses rendam-merendam ini bisa berlangsung beberapa hari. Sedangkan untuk menganyamnya sehari bisa selesai. Makanya pak Asmudi setiap empat-lima hari sekali turun ke kota sambil membawa keranjang bertumpuk-tumpuk.

Seperti kebiasaannya setiba di terminal, lalu mulailah berjalan kaki menyusuri kampung-kampung menawarkan keranjangnya. Entah berapa kilometer jarak tempuh perjalanannya sejak pagi hingga sore. Beruntung kalau sehari itu langsung habis, berarti bisa pulang dengan ongkos lebih murah karena tidak harus membayar ongkos angkut keranjangnya yang tentu saja memakan tempat di kendaraan sehingga harus membayar lebih mahal. Kalau hari itu tidak habis? Pak Asmadi berkata lugu : ”Rejeki sampun wonten ingkang ngatur…. (rejeki sudah ada yang mengatur)”, katanya ringan sambil terkekeh kecil.

Satu set keranjangnya biasanya terdiri dari tiga ukuran. Boleh dibeli satu set, boleh juga satu atau dua ukuran saja. Meski keluarga saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan keranjang pakaian, pagi itu saya beli juga sebuah yang berukuran paling kecil yang katanya untuk saya dihargai Rp 10.000,- yang akhirnya saya bayar lebih. Karena sesungguhnya saya bukan sedang membeli keranjang (toh sampai sekarang keranjang itu nganggur), melainkan saya sedang membeli peluang untuk memberi kesempatan kepada pak Asmudi memperoleh penghasilan yang halal.

Peluang itulah yang saya beli. Dan sesungguhnya bukan saja peluang itu, melainkan peluang ikutannya seperti memberi sekedar minum dan sarapan. Bahkan memberinya pakaian pantas pakai ketika sebelum pak Asmudi pamit melanjutkan perjalanannya sempat bertanya apa punya telesan (atau basahan, yang maksudnya pakaian bekas yang bisa dipakai di rumah). Apa yang saya lakukan pagi itu sesungguhnya hanya sebuah langkah kecil yang secara kasat mata relatif tidak berarti banyak. Namun saya menganggap bahwa improvisasi hidup semacam itu terkadang perlu dilakukan, agar irama kehidupan ini tidak membosankan.

Tuhan memang ruarr biasa….. telah memberi saya kesempatan berimprovisasi di pagi itu, sambil duduk leyeh-leyeh mengobrol santai ngalor-ngidul dengan kakek penjual keranjang. Kesempatan yang tidak datang setiap saat dan yang ketika datang malah jarang dilihat apalagi ditangkap orang. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang, dan kalau kemudian kesempatan itu datang sepertinya banyak hal menghalangi untuk merealisasikannya.

Yogyakarta, 16 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 1

Seorang Kakek Kecapekan

14 Oktober 2009

Seorang kakek duduk leyeh-leyeh di depan rumah, beristirahat setelah berkeliling memikul dan menjajakan hasil kerajinan keranjang anyaman anaknya. Kesempatan, pikir saya…. Ya, kesempatan untuk ber-‘improvisasi’ (lagi)…… Tuhan memang ruarrr biasa kalau mau menawarkan kesempatan dan peluang. Dan jangan lupa bahwa tidak setiap orang memperolehnya…..

Yogyakarta, 9 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3

25 April 2009

Anak lelaki saya minta ibunya membelikan buah melon, tapi ibunya lupa. Kebetulan suatu siang saya berada di dekat kios buah pinggir jalan di Jogja, maka langsung saja saya membelikan sebutir melon, sebelum nanti lupa lagi. Kepada penjual buah saya utarakan maksud saya, kemudian saya minta dipilihkan yang bagus, sekalian dimasukkan ke tas kresek, saya tanya harganya, lalu saya bayar tunai begitu saja.

Kami (saya dan tukang buah) siang itu menjalankan bisnis kepercayaan. Saya tepis jauh-jauh pikiran bagaimana kalau ternyata saya dibohongi dengan dipilihkan buah melon yang jelek, toh buahnya tidak saya lihat lagi setelah dimasukkan ke dalam tas kresek warna hitam. Atau bagaimana kalau ternyata harganya dimahalkan atau kemahalan, sebab saya langsung membayarnya begitu saja dengan tanpa menawar sedikitpun atas harga yang disebutkannya.

Sampai di rumah saat sorenya, sebutir melon yang beratnya dua kilogram setengah lebih sedikit itu saya pamerkan ke istri. Tujuan saya tentu memberikan surprise karena kemarin dia lupa membelikan buah melon pesanan anak saya. Lalu istri saya bertanya : “Beli melon, berapa harganya?”.

“Sekilo enam ribu rupiah”, jawab saya.

“Ditawarkan berapa?”, tanya istri saya lagi.

“Ya, enam ribu rupiah”, jawab saya tanpa merasa ada yang salah. Ya, memang sebenarnya tidak ada yang salah kok

“Mestinya masih bisa ditawar lebih murah”, komentar istri saya kemudian sambil memotong setengah buah melon itu lalu mengirisnya menjadi tipis-tipis menyerupai bulan sabit. Dialog saya dan istri kemudian terhenti sebentar karena kami berpikir dengan jalan pikiran masing-masing.

Sesaat kemudian, sambil leyeh-leyeh di depan televisi saya berkata dengan nada datar : “Kapan ya…. terakhir kali kita membeli buah tanpa menawar…. Lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau malah belum pernah sama sekali…..”.

***

Dasar ibu-ibu, merasa belum afdol kalau belanja kok tidak nawar, kecuali di pasar moderen sekalipun tahu harga yang dipasang sebenarnya lebih mahal. Bila perlu mati-matian bertahan di depan bakul pasar hanya perkara uang seribu-dua ribu rupiah. Tapi itu memang sangat manusiawi (mungkin lebih tepat disebut ibuwi). Terkadang bukan masalah rupiahnya, melainkan kepuasannya.

Sama seperti ketika sekali waktu tawar-menawar dengan tukang becak di Jogja. Sang penumpang berlagak sok tahu bahwa biasanya biayanya tidak segitu. Dan sang tukang becak tidak mau kalah dengan berlakon memelas agar tawaran ongkosnya disetujui. Akhirnya mereka sepakat dengan ongkosnya. Begitu tiba di tujuan, sang penumpang malah menggandakan ongkos becaknya, tinggal sang tukang becak munduk-munduk berterima kasih. Kalau memang begitu kenapa tadi mesti buang-buang waktu untuk bernegosiasi alot menawar ongkosnya? Ya itu tadi, improvisasi atas nama kepuasan. Kepuasan telah berhasil memenangi negosiasi (menang melawan tukang becak kok sombong….), kepuasan memberi lebih banyak tanpa diminta kepada tukang becak (seringkali antara berharap pujian dan ikhlas batasnya tipis sekali), dan kepuasan melakukan improvisasi dalam hidup.

Ya, apa yang saya lakukan siang itu adalah sekedar ingin berimprovisasi. Keinginan itu terbersit begitu saja tanpa saya rencanakan. Bukan saya tidak bisa melakukan tawar-menawar. Sekali waktu saya pun bisa ikut menawar kalau lagi membeli buah. Sekedar ingin membuktikan bahwa saya juga bisa nyinyir bernegosiasi untuk bertahan memperoleh penghematan seribu-dua ribu rupiah. Suatu jumlah rupiah yang sebenarnya persentasenya relatif sangat kecil dibanding jumlah pengeluaran bulanan keluarga. Tapi kok ya dilakukan juga dan malah hampir selalu dilakukan.

Artinya, kalau sekali waktu kita melakukan improvisasi kecil melakukan bisnis kepercayaan semodel cerita di atas, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang nyaris tidak terlihat, tidak berpengaruh, tidak ada artinya apa-apa dalam penggalan kehidupan kita. Tapi faktanya, susah nian melakukannya dengan sepenuh keikhlasan.

Yogyakarta, 25 April 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2

11 April 2009

Mengisi waktu sore pada sehari sebelum Pemilu 9 April 2009, saya mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan rumah, lalu merapikan tumpukan sampah di pojokan (meski jelas sampah kadangkala perlu dirapikan juga). Saya sudah siap dengan sebuah korek api dan seberkas kertas bekas. Saya memang hendak mengisi waktu dengan membakar sampah dedaunan kering agar tidak terlalu menggunung di pojokan pelataran rumah.

Kegiatan bakar sampah seperti sore itu memang sudah seperti ritual yang saya lakukan setiap beberapa hari sekali, kecuali kalau saya lagi keluar kota atau hujan. Sambil jongkok membakar dedaunan kering, sesekali bergeser menghindari asap putihnya yang tertiup angin dan sesekali kucek-kucek mata yang berair karena asap putihnya mampir dan terasa pedas di mata. Ini memang sekedar kegiatan iseng dan sepele, tapi saya yakin tidak setiap orang sempat dan bisa melakukannya. Membakar sampah adalah kegiatan mengisi waktu yang cukup menghibur. Saya begitu menikmatinya.

***

Tiba-tiba lewat seorang ibu, lalu mendekat dan dengan suara tidak terdengar terlalu jelas, dia berkata : “Pak, minta sedekah…”. Dengan pandangan agak melongo setengah tidak percaya saya menatap ibu itu. Benarkah yang saya dengar tadi? Sepertinya saya tidak percaya. Sebab menilik penampilan ibu yang saya taksir berumur 40-an tapi terlihat muda yang sore itu tampil berbusana kebaya warna merah muda, berkerudung rapi, wajahnya terlihat kuning bersih dan terawat, senyumnya pun tampak manis (entah kalau dimanis-maniskan). Pendeknya, sama sekali bukan wajah susah yang perlu disedekahi. 

Kemudian terjadi percakapan pendek yang semakin membuat saya tidak konsentrasi pada pokok persoalannya bahwa ibu itu meminta sedekah. Terutama ketika dia menceritakan bahwa dia tinggal di gang sebelah kampung saya. Nyaris saya tidak percaya, sebab itu berarti ibu itu adalah tetangga saya. Lebih empat tahun saya tinggal di situ kok saya tidak pernah tahu keberadaan ibu itu. Sungguh, hal inilah yang mendadak membuat hati saya gelisah berkepanjangan. Pikiran saya melayang kemana-mana sambil saya tetap berdialog.

Kalau benar apa yang diceritakannya tentang tempat tinggalnya. Itu berarti kalau saya terbang agak ke atas dan saya lihat kenampakan dari Google Earth, jarak lurus antara rumah saya dan rumahnya tidak sampai 50 meter. Bagaimana mungkin saya bisa tinggal empat tahun di sana sementara di belakang rumah saya ada orang yang mengalami kesulitan hidup sehingga harus meminta sedekah kepada tetangganya? Dan tetangga itu adalah saya? Tetangga macam apa saya ini……

Berbagai pikiran dan prasangka berkecamuk menjadi satu di otak saya. Apakah perlu saya verifikasi dulu kata-katanya baru saya ulurkan sedekah, atau saya berikan sedekah dulu baru nanti menyusul diverifikasi kebenarannya? Akhirnya saya tepis pikiran buruk itu, lalu saya niatkan memberikan sedekah kepada seseorang yang membutuhkan, tidak perduli apakah dia tetangga saya atau bukan. Sejumlah uang lumayan besar saya berikan kepada ibu itu, sekedar sebagai improvisasi hidup sembari membakar sampah, menyambut Pemilu esok hari (jangan-jangan saya tidak jadi bersedekah kalau tidak ada Pemilu….). Ah, lupakan saja….

Percakapan masih saya lanjutkan, agar saya bisa lebih mengenalnya. Rupanya dia memang seorang ibu yang ramah. Sebut saja namanya Mak Isah, seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu, tidak memiliki pekerjaan tetap dan mempunyai tiga orang anak remaja yang semuanya tidak sekolah dan tidak bekerja. Mak Isah dan anak-anaknya rupanya selama ini tinggal berpindah-pindah dan terakhir mengontrak sebuah kamar di belakang kampung yang saya tinggali, hanya beda RT. Pantesan saya tidak mengenal keberadaannya.

Ketika saya tanya sore itu dia dari mana, jawabnya : “Baru saja keluar dari rumah”. Ketika saya tanya mau kemana, jawabnya : “Menemui orang-orang”. Pandangan saya cukup lama mengantar kepergiannya meninggalkan saya, sambil pikiran saya terus memproses data-data yang saya kumpulkan : “Jangan-jangan pekerjaannya memang meminta-minta…..”.

***

Malamnya saya panggil seorang takmir musholla dari RT sebelah, sekaligus karena kebetulan ada urusan lain. Setelah mendengar informasi dari takmir musholla itu, barulah saya percaya bahwa semua keterangan Mak Isah itu benar. Bahkan ketika saya ketemu pak RT-nya, saya jadi semakin tahu siapa Mak Isah itu. Rupanya almarhum suaminya dulu adalah seorang pejabat kaya di Sumatera, yang karena tersandung kasus korupsi sehingga semua hartanya disita dan jatuh miskin (rupanya bukan hanya batu yang bisa nyandungin, melainkan korupsi juga…). Lalu keluarga mereka pindah ke Jogja dan harus memulai hidup dari awal. Tragis memang. Lebih tepat kalau almarhum suaminya bukan disebut koruptor, melainkan tupai. Seperti bunyi pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dan ketika tupai itu jatuh, maka istri dan anak-anaknya yang menjadi korban. Beruntung tupai itu “cepat” meninggal, tapi “cilakak duabelas” bagi istri dan anak-anaknya yang tergelepar-gelepar berusaha kembali ke pohon. Kini rupanya Mak Isah tidak sanggup bekerja keras menggapai ranting pepohonan.  

Mak Isah kini menempuh jalan termudah untuk melanjutkan kehidupannya, yaitu dengan meminta-minta. Beberapa kali tetangganya membantunya dengan memberi pekerjaan sebagai pembantu, buruh cuci, dan apa saja. Tapi rupanya mental Mak Isah tidak siap dengan pekerjaan seadanya seperti itu. Tahulah saya kini, bahwa setiap hari Mak Isah menempuh perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan kota Yogyakarta hingga larut malam baru pulang ke rumahnya. Menyambangi dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu toko ke toko lainnya, dari satu warung makan ke warung makan lainnya, demi meminta sedekah. Perasaan malunya sudah sirna di balik paras wajahnya yang tergolong cantik. Sampai-sampai seorang tetangga saya mengatakan, kalau saja Mak Isah ini dimasukkan ke salon kecantikan, maka ketika keluar pasti dikira Meriam Bellina (padahal setahu saya wajah Meriam Bellina jauh berbeda dengan Mak Isah…).

Kini tetangga-tetangga Mak Isah sudah maklum, setiap kali Mak Isah datang, diberinya seribu-dua ribu sekedar sebagai sedekah hari itu.Ya, hari itu. Karena di hari lain Mak Isah akan datang lagi dan minta lagi. Peristiwa sore itu memang tidak seorang pun tahu, tak juga istri dan anak-anak saya. Bahkan tangan kiri saya pun tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan saya. Saya memang ingin melupakannya. Tapi ketika kemudian saya ceritakan apa yang terjadi, mereka malah memberitahu bahwa Mak Isah memang sering mampir ke rumah. Kini tinggal saya menggerutu dalam hati : “Siwalan….., tiwas sore itu saya bersedekah banyak, besok pasti akan datang lagi dan datang lagi….. Tahu begitu, saya cukup memberi sedikit-sedikit saja…..”. Sial benar! Setelah tahu cerita lengkapnya justru membuat saya jadi tidak ikhlas dengan sedekah yang telah saya berikan.

Untuk apa kisah ini saya ceritakan? Saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, bahwa betapa sulitnya menjaga keikhlasan. Improvisasi hidup yang saya lakukan sore itu ternyata rentan terhadap ketidak-ikhlasan. Saya pikir ini adalah perkara keseharian yang sangat manusiawi. Siapa pun pasti pernah mengalaminya. Bahwa suatu ketika malaikat akan mencontreng kolom ikhlas amal kita, di saat yang lain gantian kolom tidak ikhlas yang dicontreng. Meski kemudian score-nya seri bin impas, namun saya berharap punya tambahan contrengan positif karena telah mengingatkan pembaca dongeng ini bahwa menjaga keikhlasan itu tidak mudah. Sangat manusiawi kalau sesekali kita tergelincir menjadi tidak ikhlas. Melakukan improvisasi tetap perlu, tapi menjaga keikhlasannya jauh lebih perlu. Sama perlunya sesekali saya mengisi waktu sore dengan membakar dedaunan kering agar pelataran rumah saya tetap terlihat bersih.

Yogyakarta, 11 April 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu

5 April 2009

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika.

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood “Surabaya” sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala “DS” jika terdaftar di kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian…), plus agak deg-degan karena biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa ngebut sendiri…. Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

***

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan mengomandonya untuk menuju ke warung seafood “Surabaya”. Ongkos ojek dari Base Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah…. Semua pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari “kekeliruan” jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang maksudnya : “Naik ojek, pak?”. Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya hanya berkata pendek : “Kembaliannya untuk bapak saja…”. Kalimat pendek itu rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

***

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi sedikit “surprise” yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya.

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : “Tolong yang seribu lima ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak…”. “Nggih, pak…”, jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai pesan kepada penjual tiket tol : “Sisanya untuk mobil di belakang saya ya…”.

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada “surprise-surprise” kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan “bisnis memberi”, entah sebagai penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat.

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar