Archive for Desember, 2010

Catatan Harian Untuk Merapi

28 Desember 2010

Pengantar :

Tidak seperti ketika kota Yogyakarta dilanda bencana gempa tahun 2006, waktu itu saya sempat menuliskan catatan bersambung dan saya kirimkan ke teman-teman melalui milis/email. Kali ini saya tidak sempat membuat catatan khusus secara bersambung tentang bencana meletusnya gunung Merapi. Kebetulan saya sedang berada di luar daerah ketika Merapi pertama kali meletus tanggal 26 Oktober 2010, sehingga saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil di handphone.

Selain itu, sejak ada fasilitas media jejaring sosial bernama Facebook, saya merasa lebih enjoy dengan menuliskan penggalan-penggalan catatan berupa status di Facebook. Alasan utamanya, lebih mudah dan praktis untuk saya lakukan kapan saja, dimana saja dan sambil apa saja, tanpa saya harus membuka laptop.

Akan tetapi menyadari bahwa tidak semua teman saya memiliki akun di Facebook, maka terpikir untuk mengumpulkan catatan status Facebook saya, untuk saya share melalui milis/email. Catatan-catatan pendek yang lebih menyerupai catatan harian tentang aktifitas, pikiran, renungan, termasuk guyonan saya terkait bencana meletusnya Merapi ini sepertinya dibuang sayang. Lalu kemudian saya susun dalam beberapa seri setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca. Semoga dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur, syukur-syukur membangkitkan empati.

Iklan

Catatan Harian Untuk Merapi (1)

28 Desember 2010

(1). Merapi Juga Tak Pernah Ingkar Janji

Tepat jam 6:05 WIB, sesuai janjinya, pesawat Merpati MZ 708 lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar (mungkin karena Jogja adalah titik awal penerbangan panjangnya hari ini sehingga bisa tepat waktu). Ada suguhan mie goreng di pesawat, walau agak-agak gosong tapi lumayan buat ganjal karena tadi terlambat bangun sehingga buru-buru.

Merpati tak pernah ingkar janji… Tapi justru khawatir kalau Merapi yang (konon) juga tak pernah ingkar janji…

(Makassar, 26 Oktober 2010)

——-

(2). Mengantisipasi Hujan Abu Merapi

Awas Merapi… Mengantisipasi kemungkinan hujan abu Merapi, malam ini anak lanang dan wedok saya minta memotong-motong kardus seukuran lubang angin yang ada di rumah (sebenarnya sudah saya siapkan tapi entah pada kemana). Jika abu Merapi benar-benar berkunjung, maka tinggal memasangnya, kalau perlu diplester.

Sejak kemarin juga sudah disiapkan logistik secukupnya, termasuk lampu darurat dan briefing. Tempat paling aman ketika terjadi letusan gunung berapi adalah di dalam rumah.

(Majene, 26 Oktober 2010)

——-

(3). Kewaspadaan Tinggi

Prinsip yang harus dipegang dalam menyikapi, mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi setiap ancaman datangnya bahaya/bencana adalah menganggap (berasumsi) bahwa ancaman itu akan benar-benar terjadi (seperti yang dilakukan oleh Tim Anti Teror). Maka kita akan selalu berada dalam kewaspadaan tingkat tinggi.

(Majene, 26 Oktober 2010)

——-

(4). Sugeng Tindak Mbah Marijan

Mbah, mbah…, mbah Marijan… Kesetiaan akan pengabdian Sampeyan telah mengajari banyak orang. Keikhlasan Sampeyan mengemban amanah telah menginspirasi banyak orang. Tapi ke-roso-an Sampeyan juga telah melenakan banyak orang, sehingga banyak yang terpaksa meninggal dunia di rumah Sampeyan… Semoga semua menjadi hikmah.

“Sugeng tindak mbah, kondur dateng Ingkang Maha Kagungan Merapi…”.

(Mamuju, 27 Oktober 2010)

——-

(5). Gerimis Abu Merapi

Gerimis (belum hujan) abu vulkanik Merapi mulai beranjangsana nyambangi kota Jogja sejak jam tiga pagi tadi. Tidak sia-sia beberapa hari yll saya menyuruh anak lanang dan anak wedok untuk bergotong-royong memotong-motong kardus, karena pagi ini mereka bergotong-royong lagi memasangnya menutup lubang-lubang rumah.

Highly appreciated for your very good teamwork kids…”. Teriring harap, gerimis tidak berubah menjadi hujan…

(Karossa, 30 Oktober 2010)

——-

(6). Tiba Kembali Di Jogja

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya tiba kembali di Jogja. Setelah menempuh perjalanan poanjang Jogja-Makassar-Mamuju-Palu-Makassar-Surabaya-Jogja, selama lima hari. Bandara Adisutjipto memang katanya tadi pagi sempat ditutup sebentar. Alhamdulillah juga, masih sempat merasakan rumah yang ngeres (apa ya bahasa Indonesianya? Sedikit kotor oleh debu, begitulah…).

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (2)

28 Desember 2010

(7). Bantuan Menumpuk Di Posko Tridadi

Siang ini ke Posko Merapi di Tridadi, Sleman, mengedrop bantuan untuk korban bencana Merapi dari Freeport Peduli. Terlihat bertumpuk-tumpuk bantuan bertimbunan. Entah kapan dan bagaimana akan dapat segera disalurkan kepada yang berhak. Semoga semua terbingkai dalam semangat untuk menjalankan amanah, dan tidak harus disertai prasangka…

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(8). Menuju Pos Pengungsian Gulon

Dari Posko Tridadi, Sleman, menuju ke pos pengungsian desa Gulon, kecamatan Salam, kabupaten Magelang. Di pos ini berkumpul lebih 3000 jiwa (sekitar 750 jiwa di antaranya anak-anak, balita, bayi, ibu hamil) yang berasal dari empat desa dari wilayah kecamatan Srumbung. Mereka menghindar dari desanya yang masuk kawasan rawan bencana di sisi baratdaya Merapi. Jumlah pengungsi bertambah setiap saat seiring aktivitas Merapi. Entah sampai kapan mereka ada di sana.

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(9). Pos-pos Yang “Seret” Bantuan

Pos pengungsian desa Gulon ini dipilih setelah sebelumnya di-survey : pos-pos mana yang bantuannya “seret”. Itu biasanya di daerah yang kurang terkenal (baca: jarang disebut media). Bantuan dari luar memang banyak tertuju ke wilayah kecamatan Pakem, karena memang daerah itu yang banyak disebut media. Maka tidak heran kalau pak Lurah Gulon mengeluh permintaan dropping dari “pusat” sangat minim, padahal di sana terlihat menumpuk. Ini yang terkadang menimbulkan prasangka…

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(10). Memasak Martabak Telor

Anak-anak bermain bola, pasir dan berlarian. Orang-orang tua duduk-duduk di bangku menyaksikan. Ada embah-embah bersandar ke dinding sekolah, melamun entah apa. Beberapa orang lainnya ada yang ngobrol, ada yang ML (melamun & leyehan) di ruang-ruang kelas. Sementara ibu-ibu warga desa Gulon lainnya memasak martabak telor yang digoreng di atas cetakan. Bau gorengannya, hmmm… Seorang ibu mempersilakan untuk mencicipi. Tapi, yaa…masak tega… (walau sebenarnya kepingin)

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——–

(11). Peduli Merapi

Dengan keterampilannya ber-freestyle bola basket, anak lanang dan teman-temannya menggalang dana peduli Merapi dengan cara demo di mall, tempat keramaian dan  perempatanan jalan (yang terakhir itu saya sarankan untuk distop).

Intinya: siapapun bisa melakukan apapun untuk peduli. So, Anda punya keterampilan? Let’s do something. Tidak harus terampil dengan keterampilan Anda, sedang mereka yang tidak bisa main dan punya gitar pun bisa menggitar di perempatan jalan, dan…dapat uang.

(Yogyakarta, 2 Nopember 2010)

——-

(12). Waspada Abunya

Sementara Awas Merapi, Waspada abunya yang beterbangan… Walau nampaknya udara bersih, tapi beberapa hari ini terasa ada sesuatu di tenggorokan. Ketika pagi meludah atau (maaf) membuang lendir dari tenggorokan, tampak warna kehitaman kotor di ludah atau lendir yang terbuang.

Beruntung tubuh kita ini memiliki sistem penyaringan udara yang bekerja otomatis. Jika tidak, seperti mobilku yang tidak bisa di-start gara-gara bensin macet karena saringannya kotor.

(Yogyakarta, 2 Nopember 2010)

——-

(13). Meningkatkan Ke-Awas-an

AWAS Merapi..! Berarti Merapi harus diawasin… Sejak letusan pertama 26 Oktober yll, semakin hari Merapi semakin bergairah melepas energi erupsinya, membagi abu vulkanik, mengumbar wedhus gembel (awan panas), menggelontor lava menjadi lahar. Letusan hari ini lebih besar. Kawasan rawan bencana pun diprluas. Maka warga di luarnya, seperti Jogja, perlu meningkatkan ke-AWAS-annya. Prinsipnya tetap: anggap bahwa ancaman itu akan benar-benar terjadi, agar tetap waspada…

(Yogyakarta, 3 Nopember 2010)

——-

(14). Jangan Lengah Terhadap Merapi

Kota Yogyakarta berjarak sekitar 30-40 km dari Merapi. Jarak yang secara “teoritis” cukup aman terhadap dampak letusan Merapi. Akan tetapi, ke-WASPADAAN-an, ke-SIAGA-an dan ke-AWAS-an terhadap Merapi tidak boleh lengah. Sebab karakter letusan Merapi tidak terduga, juga dampaknya. Tidak perlu panik, melainkan jangan lengah terhadap kemungkinan situasi yang memburuk dampaknya. God bless you, Jogja… Insya Allah…!

(Yogyakarta, 3 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (3)

28 Desember 2010

(15). Waspada Banjir Lahar Dingin

Jogja hujan derasss… Semoga membantu ngerih-rih (meredakan) “kemarahan” Mbah Merapi… Setidak-tidaknya, udara Jogja yang kotor oleh taburan abu vulkanik menjadi agak menyegarkan. Tapi tetap waspada banjir lahar dingin…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(16). Berdoa Di Waktu Kritis

Jogja hujan deras, petir menyambar-nyambar, di tengah rasa takut terhadap bencana Merapi… Wahai warga Jogja, inilah salah satu saat terdekat dengan Sang Maha Penguasa Jagat Seisinya, termasuk isinya Merapi. Maka tundukkan hati dan  pikiran sejenak, lalu berdoa. Sisipkan doa apa saja, termasuk kalau ingin kaya, dapat jodoh, naik pangkat, naik gaji, naik haji… (ini serius). Manfaatkan waktu kritis ini. Syukur kita memperoleh peluang luar biasa ini…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(17). Menulis Makalah

Puji Tuhan walhamdulillah, sambil menemani Mbah Merapi terbatuk-batuk, dalam cuaca hujan deras dan petir menyambar-nyambar siang tadi, sebuah makalah berhasil diselesaikan untuk bahan seminar besok pagi. Topiknya tentang berbahasa tulisan di dunia maya. Lhadalah…, gak ono hubungane karo tambang babar blasss…(tidak ada hubungannya dengan ilmu tambang sama sekali). Yo wis.., tiba saatnya mendongeng berbagi pengalaman…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(18). Musim Gunung Tidak Normal

Lagi musim gunung tidak NORMAL. Ada 20 saudaranya Merapi menggeliat. Berita yang sebenarnya “normal” itu menjadi terkesan “menakutkan” kalau penjelasan di media tidak jelas. Tapi media memang suka begitu.

Contohnya, running text di sebuah TV. Katanya: ‘anak’ gunung Krakatau meningkat aktivitasnya. Lho, kapan ibu Krakatau melahirkan? Padahal maksudnya adalah gunung ‘Anak’ Krakatau. Khawatir saja kalaou nanti ditulis gunung Krakatau ‘anak’..

(Yogyakarta, 4 Nopember 2010)

——-

(19). Gerimis Pasir Dini Hari

Tengah malam di Jogja.., malam Jum’at Pahing, air gerimis telah mereda, geluduk bersahutan. Nun jauh di utara terdengar lembut gemuruh erupsi Merapi dan hujan air telah berganti dengan gerimis pasir Merapi… Lewat tengah malam…, gerimis pasir terdengar semakin lebat. Bukan lagi…tik-tik-tik bunyi hujan, melainkan…krutuk-krutuk-krutuk

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(20). Penggalangan Nasi Bungkus

Rencana mengisi seminar pagi ini, tentang berbahasa tulisan di dunia maya, dibatalkan. Kawasan tempat seminar (kampus UPN “Veteran” Yogyakarta) sedang disibukkan sebagai tempat pengungsian sejak memburuknya dampak letusan Merapi tadi malam. Simpan dulu file Powerpoint, diganti dengan penggalangan nasi bungkus…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(21). Ketika Dapur Umum Belum Siap

Wajah-wajah lelah, letih, bingung, ngantuk, terpancar dari lebih 700 pengungsi yang hari ini ditampung di Auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta. Mereka sejak dini hari tadi dievakuasi dari berbagai barak pengungsian di utara Jogja yang harus menghidar dari radius 20 km.

Dapur umum belum bisa segera disiapkan, sehingga nasi bungkus adalah solusi termudah sementara ini. Itu yang terjadi di banyak tempat pengungsian dadakan di wilayah kota sejak dini hari tadi.

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(22). Ketika Pengungsian Harus Berpindah-pindah

Hingga Jumat siang ini jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY terus bertambah. Sebagian adalah anak-anak yang dipindahkan dari Stadion Maguwoharjo yang kondisinya terbuka dan kurang terlindung. Tikar, makanan bayi, pakaian dalam, adalah sebagian kebutuhan yang mendesak, setelah makan tentu saja…

Situasi pengungsian yang berpindah-pindah seiring status Merapi, bisa dipahami akan “membingungkan” Posko Utama dalam mendistribusikan bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(23). Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY semakin banyak. Siang ini jumlahnya sudah lebih 1200 orang dan diperkirakan masih akan terus bertambah sebab mereka yang masih ada di bagian utara Jogja segera harus menjauh dari Merapi. Kini pengungsian banyak terpusat di kampus-kampus yang ada di kota Jogja. Bantuan pun terus berdatangan, dari swasta dan personal. Perpindahan mendadak ke berbagai tempat ini pasti akan menyulitkan manajemen distribusi bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(24). Terbangunnya Kekompakan

Melihat orang-orang muda itu begitu kompak bahu-membahu bekerjasama mengelola bantuan bagi pengungsi, indah sekali tampaknya. Tapi…, masak sih kekompakan itu hanya dapat terbangun ketika ada bencana? Sedang ketika suasana aman dan tenteram mereka kembali timpuk-timpukan? Jika demikian, jangan kemudian menyalahkan Tuhan, kalau….

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(25). Waspada Banjir Lahar Di Kali Code

Siang ini Kali Code yang membelah kota Jogja sempat nyaris penuh membawa lumpur lahar dingin. Masyarakat di lembah Code sudah bersiap-siap mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Kentongan tanda bahaya dipukul bersahut-sahutan, sebagian harta benda diamankan. Tapi alhamdulillah…air kemudian surut, masyarakat pun lega. Namun semua paham bahwa ancaman belum sepenuhnya berlalu…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (4)

28 Desember 2010

(26). Bantuan Dari Papua

Rencana mau distribusi bantuan hari ini tertunda, karena barang-barang yang mau dibagi terlambat tiba. Gara-gara pesawat tidak bisa mendarat di Jogja, sehingga harus via bandara Semarang lalu diangkut lewat darat. Ini bantuan dari teman-teman di Papua yang berasal dari Jogja dan sekitarnya yang digabung dalam program Freeport Peduli. Insya Allah, baru besok bisa didistribusikan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(27). Perlu Dukungan Logistik

Akibat letusan besar malam Jumat kemarin, pengungsian menjadi kurang terkontrol. Dapat dimaklumi, karena gelombang pengungsian terus berpindah-pindah seiring dengan perubahan radius Kawasan Rawan Bencana. Sekarang lokasi pengungsian sudah masuk wilayah kota Jogja. Tempat-tempat pengungsian dadakan ini perlu dukungan logistik yang tak terencana. Tak terkecuali desa Madurejo dan desa-desa sekitarnya di Prambanan, Sleman, juga kedatangan pengungsi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(28). Air Mineral Untuk Tetamu Tak Diundang

Sekedar beberapa karton air mineral yang saya drop ke pak RT tadi siang, kiranya bisa membantu sebagai pelengkap nasi bungkus yang dibagikan oleh masyarakat desa Madurejo sebagai tuan rumah dadakan. Ini dalam rangka menyambut tetamu tak diundang, tapi jelas perlu bantuan dan disambut sepenuh rasa simpati. Lebih 500 pengungsi telah memenuhi Balai Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, dan diperkirakan jumlahnya akan bertambah.

(Madurejo – Sleman, 6 Nopember 2010)

——-

(29). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas Banjir Lahar Dingin…! Setelah kemarin siang, sore ini Kali Code kembali naik permukaannya. Arus yang sangat kuat mengalir deras membawa material Merapi. Nyaris melampaui tanggul di sepanjang bantaran sungai yang membentang 10 km membelah kota Jogja, melintasi 9 kecamatan kota. Masyarakat di sepanjang bantaran sungai sudah siap-siap mengungsi mengantisipasi kemungkinan terburuk banjir lahar dingin.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(30). Mbah Merapi Tidur Nyenyak

Seharian ini Jogja redup, mendung dan masih tersaput abu vulkanik tipis bergentayangan. Sore harinya hujan deras mengguyur seakan membersihkan lapisan abu yang menempel dimana-mana. Sementara Mbah Merapi nampak tidur nyenyak sejak semalam. Mudah-mudahan sama seperti Mbah Surip…, bangun tidur, tidur lagi, banguuuun… tidur lagi…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(31). Ketika Perangkat Desa Mendadak Sibuk

Ketika tempat-tempat pengungsian utama penuh, seperti Stadion, GOR dan kampus-kampus, maka Balai Desa menjadi alternatif. Seperti para pengungsi yang mendadak berdatangan ke desa Bokoharjo, Sumberharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Akibatnya, perangkat desa dan masyarakat setempat pun jadi mendadak sibuk kedatangan rombongan tamu ini. Tapi justru tempat-tempat pengungsian “kurang populer” seperti inilah yang jauh dari tujuan pemberian bantuan dari para dermawan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(32). Sampai Kapan Bertahan

Sepulang dari toko tadi sore, mampir sebentar ke Posko pengungsian desa Madurejo. Sekalian survey, berbincang-bincang sebentar dengan petugas untuk mengetahui kebutuhan mendesak para pengungsi. Ternyata jumlah pengungsi ada 1200-an orang dari berbagai desa di wilayah lereng Merapi. Berjubel di tempat yang sangat terbatas. Uuugh…! Kalau ingat entah sampai kapan mereka harus bertahan…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(33). Kearifan Lokal Yang Luar Biasa

Tempat pengungsian dadakan seperti itu umumnya tidak (atau belum?) menyediakan fasilitas dapur umum. Selain masalah prasarana, juga tempat. Maka sibuklah ibu-ibu PKK warga desa, bergotong-royong memasak untuk para pengungsi. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa, tapi lagi-lagi… akan bertahan sampai kapan? Sementara supply logistik bahan mentah begitu mendesak. Selain kebutuhan toiletris, makanan balita, selimut dan obat2an ringat juga mendesak…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(34). Tempat Pengungsian “Tidak Populer”

Siang tadi saya menerima transfer sejumlah dana dari teman di Jakarta dan insya Allah akan ada yang menyusul. Rencananya akan saya salurkan ke tempat-tempat pengungsian yang “tidak populer” seperti di desa-desa itu. Tempat seperti itu biasanya jauh dari jangkauan penyumbang yang pada umumnya sudah tertuju ke tempat-empat yang mudah didatangi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (5)

28 Desember 2010

(35). Hujan Batu Di Cirebon

Hujan batu di Cirebon… Dari gunung Ciremai? Wooo bukan rupanya, tapi dari tawuran antar warga! Huuuuhhh…, mau jadi apa orang-orang ini. Jangan sampai Tuhan memutuskan untuk meletuskan gunung Ciremai agar mereka kompak bersatu bahu-membahu saling membantu…!

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(36). Depe Dan Jupe Jadi Relawan

Depe dan Jupe berkelahi… Aha..! Saya suka berita ini. Bukan karena Depe wal-Jupe-nya, melainkan daripada infotainment ngublek-ublek rumah tangga orang. Jadi, pembandingnya adalah hal yang lebih mudharat. Kalau saya disuruh memilih, Depe, Jupe dan wartawannya saya pilih untuk dikirim ke Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk menjadi relawan…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(37). Ketika Ibu-Ibu PKK Kewalahan

Barusan dihubungi Posko pengungsian desa Madurejo, Prambanan, Sleman, minta dibantu nasi bungkus untuk jadwal besok. Agaknya ibu-ibu PKK sudah kewalahan melayani konsumsi pengungsi yang jumlahnya lebih 1200 orang, dimana dapur umum belum bisa disiapkan. Kebetulan saya sudah menerima transfer dari seorang teman di Jakarta, segera akan saya alokasikan 100 bungkus nasi padang untuk makan siang besok. (Trims untuk mas Tonank).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(38). Waspada Terhadap Kemungkinan Terburuk

Hingga siang ini Jogja redup, mendung, abu tipis bergentayangan. Gemuruh Merapi dapat dinikmati sampai radius >25 km, terdengar keras saat meletus beberapa jam yll. Seorang teman yang tinggal di Jl. Kaliurang Km-7,8 mengabarkan: Jl. Kaliurang Km-13 ke atas (Pamungkas, Besi, Griya Perwita Wisata) mulai ditinggal penghuninya, menjauh dari radius 20 km.

Untuk warga Jogja, jangan ada kepanikan, melainkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terburuk.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(39). Tetap Waspada

Kawasan Rawan Bencana (KRB) saat ini berada di radius 20 km dari puncak Merapi. Jika dalam perkembangannya diperluas menjadi 25 km, berarti ada di dekat-dekat seputaran Jl. Ring Road Utara, atau dapat diterjemahkan bahwa kota Jogja berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan evakuasi.

Bukan menakut-nakuti, melainkan JANGAN LENGAH dan TETAP WASPADA, tapi TIDAK PERLU PANIK, teriring doa semoga tidak sampai terjadi situasi yang lebih buruk…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(40). Bantuan Nyaris Tak Terkelola

Semangat membantu masyarakat kita memang ruarrr biasa… Stadion Maguwoharjo, Sleman yang saat ini menampung lebih 24 ribu pengungsi telah mengubah wajah stadion menjadi menyerupai pasar malam. Roooamainya minta ampyun… (apalagi hari ini SBY berkunjung). Bahkan bantuan yang masuk sangat berlebih, sehingga nyaris tak terkelola dengan baik. Dapat dimaklumi karena lokasinya “strategis”, termasuk full peliputan televisi…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(41). Mengalihkan Bantuan

Semula mau mengirim bantuan ke stadion Maguwoharjo, Sleman. Menimbang lokasi ini sudah “overload” dengan bantuan yang bertubi-tubi, maka lalu dicoba dialihkan ke kampus UPNVY. Ternyata di pengungsian UPNVY pun juga sudah “overload”. Akhirnya dialihkan ke lokasi yang “kurang populer”, yaitu Desa Bokoharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Ke sanalah bantuan karyawan Freeport melalui program “Freeport Peduli” kemudian di antaranya disalurkan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(42). Masalahnya Adalah Pemerataan Bantuan

Menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi yang “kurang populer” terasa lebih puas karena langsung bertemu dengan “end user”. Sedang kalau ke posko-posko di lokasi “strategis”, bantuan akan tertimbun begitu saja karena saking buanyaknya…

Seperti petang tadi ke desa Bokoharjo (lebih 3300 orang) dan Madurejo (lebih 2000 orang), keduanya di kecamatan Prambanan, Sleman, langsung dapat dilihat apa saja dan seberapa kebutuhan utama mereka. Semoga koordinasi semakin baik bagi pemerataan bantuan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(43). Masih Ada Nasi Bungkus Yang Akan Lewat

Dapur umum adalah salah satu kelengkapan pokok tempat pengungsian. Namun justru sering membuat kewalahan terutama bagi perangkat desa yang kedatangan pengungsi. Maka pasokan nasi bungkus bagi lokasi-lokasi “kurang populer” yang jauh dari jangkauan itu masih diperlukan.

Sore tadi mendrop 650 nasi bungkus ke desa Madurejo, Prambanan. Insya Allah, masih ada nasi bungkus yang akan lewat, eh dikirim… (Trims untuk mas Rachmat UPN).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(44)Mampir Ke RM “Sabar Menanti”

Pulang dari Madurejo. Uuuh, mulai terasa lapar… Lalu mampir ke RM “Sabar Menanti” di Jl. Solo Km-11, yang menyediakan menu-menu tradisional seperti sayur santan, lodeh, oseng-oseng, mangut, dsb, ala prasmanan. Terkenal dengan oseng cabe hijaunya, tapi sayang malam ini sudah habis. Sambal terasinya terasa benar tapi pedas, sehingga membuat kepala berkeringat. Menunya sama seperti menu nasi bungkus, hanya bedanya tersaji di piring dan dimasak oleh ahlinya..

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(45)Ada Gempa Lemah

Beberapa waktu yll terasa ada gempa lemah. Saya pikir gempa vulkanik dari Merapi, tapi ternyata gempa tektonik (Info Gempa BMKG — Mag: 3.8 SR, 07-Nov-10, 23:08:31 WIB, di darat 12 km baratdaya WONOSARI-DIY, kedalaman:10 km)

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (6)

28 Desember 2010

(46). Senyampang Merapi Istirahat

Senyampang Merapi lagi istirahat sehari tadi, distribusi bantuan jalan terus untuk lokasi Desa Madurejo, Prambanan. Dana kiriman teman kemarin saya konversi menjadi 100 nasi bungkus untuk makan siang. Tambahan 200 nasi bungkus juga dapat dikirim dari sumber lain. Sementara sorenya masih bisa dikirim 200 nasi bungkus lagi untuk makan malam. Sekedar meringankan ibuibu PKK yang kewalahan harus menyiapkan ransum untuk sekitar 2000 pengungsi.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(47). Semuanya Mendesak

Hari ini saya menerima transfer dana dari rekan di Papua dan Jakarta. Rencananya besok akan saya belanjakan untuk kemudian disalurkan sesuai kebutuhan pengungsi. Beberapa koordinator Posko sudah saya hubungi dalam rangka menyurvei barang kebutuhan yang paling mendesak. Lha kok ternyata semuanya mendesak…? Waduh, piye iki… Harus cari dana tambahan dari sumber lain…. (Thanks untuk mas Didiek Subagyo dan mbak Anita S. Nitisastro).

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(48). Biarkan Menemukan Keseimbangannya

Isi perut ini kalau sudah kebelet mau keluar memang tidak dapat ditahan. Tak juga hujan badai atau acara kondangan. Jangan pernah menyalahkan perut, melainkan manage-lah perut ini dengan arif. Biarkan perut menemukan keseimbangannya. Itu manusiawi…

Maka, jangan pernah menyalahkan Merapi. Jangan ditahan kalau isi perut Merapi kebelet keluar sesuai kodratnya. Manage-lah Merapi dengan arif. Biarkan Merapi menemukan keseimbangannya. Itu gunungwi…

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(49). Kampungku Juga Kedatangan Pengungsi

Malam ini aku baru tahu rupanya di kampungku juga kedatangan pengungsi yang menempati GOR sekolah. Jumlahnya sekitar 50 orang, al. dari kecamatan Cangkringan, daerah terparah korban Merapi. Kusempatkan untuk menengoknya, nampak sudah tertangani dengan baik. Tapi tetap saja perlu dukungan bantuan jika mengingat ketidakjelasan sampai kapan mereka akan bertahan. Semakin lama bisa semakin membuat “frustrasi” kedua belah pihak, ya pengungsinya, ya pengelolanya.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(50). Merapi Normal Dan Baik

Seorang teman dari luar kota tilpun dan bertanya: “Gimana Merapi, mas?”.

“Alhamdulillah, kondisi Merapi normal dan baik…”, jawabku. Lalu kulanjutkan…: “maksudku, normal aktif bererupsi, dan itu lebih baik ketimbang tidak ada apa-apa tahu-tahu terjadi letusan besar…”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(51). Anak Wedok Jadi Relawan

Anak wedok “ikut-ikutan” menjadi relawan. Kemarin membantu ke posko pengungsian di kecamatan Kalasan, Sleman. Ada 1300 pengungsi yang akan menjadi tujuan saya untuk penyaluran bantuan. Ketika kutanya kebutuhan apa yang paling mendesak? Katanya: pakaian dalam, handuk, air mineral dalam galon, beras…

Tapi saking semangatnya, pesan yang ditulis adalah: “Cd sama bh pria wanita…”.
Ya, jelas kutanya: “Bh pria, adakah? Seperti apa…?”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(52). Belanja Lima Karung Beras

Berhubung kendaraan angkutannya agak sakit, berobat dulu, maka baru siang ini sempat belanja dan ngedrop lima karung beras ke Posko pengungsian di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman (ada 3000-an pengungsi di sana). Dapur umum yang dikelola ibu-ibu PKK itu sehari rata-rata memasak delapan kwintal beras

(Note: lima karung beras itu adalah alokasi dari sebagian dana bantuan yang saya terima, sisanya insya Allah masih akan saya salurkan menyusul)

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(53). Bahaya Lahar Dingin

Hujan terus mengguyur kawasan Jogja dan Merapi sejak siang, disertai kilat dan geledek. Udara akan menjadi bersih dari abu vulkanik, tapi AWAS bagi mereka yang tinggal di dekat-dekat aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Untuk masyarakat kota Jogja, ancaman itu berada di sepanjang bantaran Kali Code. Potensi bahaya banjir lahar dingin bisa lebih besar dari banjir biasanya, sebab material lahar di seluas lereng Merapi akan kompak turun gunung rame-rame.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(54). Kurban Untuk Pengungsi

Sepekan lagi Hari Raya Kurban. Sebagian masyarakat muslim bersiap memilih kambing dan sapi untuk menjadi tunggangan “masa depan”. Tapi sebagian masyarakat lainnya sedang tak berdaya, juga hewan mereka lebih dulu tekapar oleh wedhus gembel.

Maka alangkah indahnya kalau para penerima daging kurban “langganan” selama ini, turut berkurban mengalihkan sebagian jatahnya kepada para pengungsi. Diberikan mentah atau matang, itu soal teknis. Yang pasti mereka berhak dan butuh…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(55). Kesalehan Itu Masih Ada

Jogja pagi ini cerah sekali. Sejak dini hari tadi bintang berkelip di angkasa. Langitpun bersih tak berabu. Mengawali minggu ke-3 AWAS Merapi, tetap dengan KEWASPADAAN tinggi sambil menemani Merapi menanak magma. Pengungsi bertahan mengatasi kebosanan. Relawan terus berjuang mengabdi di bidangnya. Saatnya membuktikan bahwa kesalehan individual, sosial dan lingkungan masih ada. Sebab tak sia-sia semua itu tercipta (ma kholaqta hadza bathila)

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(56). Berkolaborasi Dengan Anak Wedok

Hari ini berkolaborasi dengan anak wedok belanja barang bantuan dan langsung mengirimnya. Setelah di-survey sebelumnya, maka segera menuju lokasi pengungsian Posko SMP I Kalasan ngedrop 12 lusin sandal jepit. Dilanjut ke Posko Balai Desa Madurejo, Prambanan, ngedrop 4 lusin handuk dan 80 lembar selimut. Sedang lima karung beras kemarin telah dikirim ke Posko Balai Desa Bokoharjo, Prambanan. (Thanks untuk mas Didiek, mbak Anita dan mas Budi Yuwono).

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(57). Kaos Relawan

Koordinator relawan yang berbasis di Balai Desa Madurejo, kecamatan Prambanan, Sleman, menghubungi saya minta diusahakan kaos seragam bertuliskan RELAWAN. Tujuannya untuk membedakan dengan orang-orang tidak jelas yang membantu-bantu.

“Ada pesan sponsornya nggak apa-apa pak”, katanya.
Wuah…, dan jawab saya: “Nggak janji ya pak, hanya kalau nanti ada yang bersedia menjadi sponsor…”. Lha jumlahnya 60 orang je…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (7)

28 Desember 2010

(58). Bintang Kecil

Dini hari ini langit Jogja begitu cerah. Gemintang menyebar seluas antariksa…..

Bintang kecil di langit yg tinggi
amat banyak menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada…..

(Nyanyian masa kanak-kanak itu kini semakin terlupakan. Coba saja tanyakan anak-anak kita. Tapi hamparan indah itu dua minggu ini sering tertutup abu vulkanik Merapi….)

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(59). Tutul-tutul Abu-abu Abu Merapi

Memasuki minggu ke-3 AWAS Merapi… Baru pagi ini saya tidak perlu memandikan mobil yang kuparkir di karpot. Sebelumnya tiap pagi mobil harus diguyang (dimandikan), digosok dan dilap, karena warna aslinya yang hitam selalu berubah menjadi tutul-tutul abu-abu abu Merapi.

Pertanda bahwa kemarin dan tadi malam tidak ada abu yang berkeliaran. Tapi prihatin dengan saudara-saudara yang tinggal di baratnya Merapi (Muntilan, Magelang, dkk), karena angin kuat berhembus ke arah barat…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(60). Tentang Sendal Jepit

Sendal jepit untuk pengungsi. Apa pentingnya? Ketika pengungsian harus pindah-pindah dalam suasana buru-buru bin panik karena perubahan radius KRB (Kawasan Rawan Bencana), sendal adalah piranti yang sering keteteran dibawa. Hilang, tertinggal, terbawa sebelah, selen (ketukar sebelah), dsb. Kini di pengungsian, mau jalan keluar kagok, ke kamar mandi atau wudhu bergantian. Padahal jumlah mereka ada ratusan, eh ribuan. “Oh sendal jepit, betapa aku butuh kamu…”

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(61). Di Batas “Zona Merah”

Menjelang tengah hari di batas “zona merah” Jl. Kaliurang, Jogja (radius 20 km dari Merapi). Jalan baru distop di Km-14, padahal mestinya di sekitar Km-11. Toko-toko banyak tutup, tapi ada juga yang buka. Rumah-rumah dikosongkan, tapi ada juga yang masih berpenghuni. Suasana lengang, tapi lalu lintas tetap ramai, sehingga pak polisi perlu menghalo-halo (dengan megaphone) dan menghalau-halau (dengan tongkat), intinya dilarang masuk. Entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(62). Tentang Pakaian Dalam

Di posko-posko pengungsian umumnya bantuan berupa pakaian melimpah ruah. Tapi di beberapa lokasi masih ada yang butuh handuk, selimut dan pakaian dalam. Sehelai handuk bisa dipakai rame-rame, selembar selimut bisa berbagi, tapi pakaian dalam? Bayangkan kalau tidak ganti sekian hari. Sedang umumnya mereka kabur dari rumah bukan seperti orang mau pergi haji, melainkan seperti dikejar kirik (anak anjing). Maka jangan diketawain kalau ada yang malu-malu butuh cede wal-beha

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(63). “Pulang Kampung Nih…”

Berita di televisi seringkali lebih heboh, dramatis dan menakutkan daripada aslinya. Dapat dipahami, kalau ada 100 momen, 99 momen “baik-baik saja” dan satu momen “dramatis”, maka sang reporter akan memilih yang satu momen itu untuk ditayangkan. Cilakaknya, penonton di rumah lalu menyimpulkan bahwa 100 momen itu “dramatis” semua.

Maka para orang tua nun jauh di sana lalu menyuruh anaknya yang kost di Jogja untuk segera “pulang kampung nih…” (dengan dialek mas Obama).

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(64). Hidup Dijalani Sebagai Ibadah

Selamat datang di kota kami
Yogyakarta aman dan tentram…

(Mars Yogyakarta)

Kalau ada gunung meletus? Ya berlindung atau lari menghindar. Kalau ada banjir? Ya mengungsi. Kalau ada gempa? Ya menyelamatkan diri. Saya akan melakukan hal yang sama andai tinggal di Jakarta, Sabang atau Merauke.

Tapi kalau saya tinggal di lereng Merapi sedang saya tahu itu masuk KRB, maka saya salah kalau berdiam diri. Sesederhana itu hidup ini saya jalani sebagai ibadah…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(65). Pengungsi Mulai Bosan

Pengungsi di GOR Maguwoharjo, Sleman, mulai pada bosan. Lalu ada yang pindah, minta pulang, dsb. Tapi ada yang kreatif. Di UII, diajari membuat kerajinan kalung (tapi kan tidak semua suka). Di UPN, diadakan senam masal (apa ya mau tiap hari senam). Di UMY, dibangun dapur mandiri (bisa masak sesuai selera). Walau kebanyakan mereka petani, apa ya mau bercocok tanam di halaman? Intinya: Perlu waspada terhadap “kreatifitas jenis lain”…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(66). Numpang Laporan

Sebagai Laporan: Saya telah menerima transfer bantuan untuk pengungsi Merapi sejumlah Rp 4,5 juta. Sudah saya distribusikan berupa nasi bungkus, beras, sendal, handuk dan selimut, ke beberapa lokasi pengungsian di Kalasan dan Prambanan, Sleman. Masih tersisa dana Rp 38 ribu yang rencananya akan saya salurkan menyusul (Terima kasih untuk mas Ari Muriyanto, mas Budi Yuwono, pak Didiek Subagyo, mbak Anita Nitisastro).

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(67). Mengarahkan Bantuan Ke Muntilan

Kebanyakan posko pengungsian yang menyebar di wilayah kota Jogja dan kabupaten Sleman kebutuhannya sudah tercukupi bahkan berlebih (pemerataannya yang belum). Maka saya berencana mengarahkan bantuan ke kawasan lain yang masih minim bantuan, seperti kota Muntilan, kabupaten Magelang.

Muntilan yang sempat lumpuh dan nyaris seperti kota mati ternyata banyak “menyimpan” pengungsi. Ke sanalah saya berencana menyalurkan bantuan titipan dari teman-teman Facebook.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(68). Kali Code Banjir Malam Ini

Jogja malam ini sekitar jam 21:00 – 21:30 WIB… Kali Code banjir cukup besar, membawa material lahar dingin. Di beberapa lokasi muka air sudah melebihi tinggi talut, meluber. Beberapa jembatan ditutup sebagai langkah pengamanan. Berharap tidak berlangsung lama dan tetap terkendali.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (8)

28 Desember 2010

(69). Ketika Sawah Ladang Rusak Dan Ekonomi Lumpuh

Dusun Pepe, Muntilan, berada pada Ring 22 Km, sedikit di luar “zona merah”. Sebagian warganya masih bertahan sejak letusan besar Merapi (5/11). Mereka memilih tidak mengungsi dan memang tidak harus mengungsi. Walau dekat situ ada posko pengungsian Van Lith, apa bedanya dengan tetap tinggal di rumah. Tapi masalahnya, karena sebagian besar dari mereka adalah buruh harian dan petani, maka tidak ada yang dapat mereka perbuat. Sedang semua sawah ladang rusak, aktifitas ekonomi lumpuh.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(70). Ke Dusun Pepe Muntilan

Kemarin saya menerima transfer sejumlah dana dari Papua. Maka hari ini saya kirimkan enam karung beras (150 kg) dan satu karung gula pasir (50 kg) ke dusun Pepe, Muntilan. Sekitar 90 KK kini termangu-mangu di rumahnya. Tidak ada yang dapat mereka kerjakan untuk mengais upah, selain membersihkan abu tebal yang mengotori rumahnya. Beberapa rumah roboh karena tidak kuat menahan beban gumpalan tebal abu vulkanik, apalagi ketika basah kena hujan (Terima kasih untuk mas Anto Kadyanto).

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(71). Mengais Sisa Padi

Mbok Yanti gusar. Padinya yang sudah menguning siap dipanen itu rupanya bukan rejekinya. Abu vulkanik yang seperti tiada jeda menghambur sejak letusan besar Merapi (5/11) telah memupus harapannya. Hari-hari ini, janda beranak empat itu dengan dibantu seorang anaknya berusaha mengais, memilih dan memilah sisa padinya yang hancur rata dengan lumpur sawah. Batang padi yang masih bagus dipotong lalu dikeringkan seraya berharap masih ada beras dapat diperoleh, seadanya.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(72). Korban Merapi Non-Pengungsi

Korban Merapi Non-Pengungsi… Mereka tinggal di sekitar kawasan batas Ring 20 Km. Mereka tidak harus mengungsi, tapi praktis tidak banyak yang dapat dikerjakan. Sebagian mereka adalah buruh harian (tani/bangunan/pasar/jasa). Tidak ada aktifitas bertani, bahkan sawah-ladang rusak. Tidak ada aktifitas usaha/ekonomi. Maka tidak ada juga penghasilan harian. Mereka nyaris tak tersentuh bantuan, berbeda dengan pengungsi yang jelas-jelas meninggalkan rumahnya dan full bantuan…

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(73). Menjelang Kota Muntilan

Menjelang masuk kota Muntilan dari arah Jogja, hamparan abu vulkanik tampak di sepanjang jalan. Sebagian sudah dibersihkan, sebab jika tidak, saat hujan akan menjadi licin. Namun gumpalan abu yang melekat di aspal masih tebal di setengah bagian luar dan tengah-tengah jalan. Saat kering, abu berhamburan nyaris tak menyisakan jarak pandang.

Maka bagi para sopir, jangan lupa nyalakan lampu dan kurangi kecepatan. Hati-hatilah, masih ada abu vulkanik yang akan lewat…

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(74). Masih Ada Peluang “Berbisnis”

Malam ini saya menerima SMS dari dusun Pepe, Muntilan, mengabarkan bahwa bantuan yang tadi siang sedang didistribusikan dibagi dalam paket-paket untuk 88 KK prioritas yang dipandang membutuhkan (dari sekitar 150 KK yang ada di sana). Tidak lama kemudian Pak RW-nya juga tilpun.

Tertangkap kesan betapa mereka sangat membutuhkan dan karena itu juga sangat berterima kasih. Masih ada kesempatan dan peluang “berbisnis” dengan pengungsi atau korban yang lain…

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(75). Merapi Sedang Leyeh-leyeh

Sejak siang tadi hingga malam ini sebagian kota Jogja seperti dikepyuri (ditaburi) hujan abu tipis. Entah datang darimana kalau mengingat Merapi sedang leyeh-leyeh seharian ini. Semakin ke arah utara semakin terasa. Memang tidak terlalu tampak dipandang mata, tapi dapat dirasakan. Ada baiknya gunakan masker ketika bepergian keluar. …Jika tidak, jangan kaget kalau tahu-tahu rambut terasa kotor dan pernafasan agak sesak.

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(76). Menyusuri Dusun Pepe Muntilan

Tengah hari, berjalan menyusuri dusun Pepe, Muntilan. Pepohonan tampak berwarna keabu-abuan. Sebagian besar dahannya patah tak mampu menahan beratnya gumpalan abu vulkanik yang melekat. Nyaris semua rusak dan hancur, padi di sawah yang berteras, kebun salak, cabe, tomat, terung, bahkan daun kelapa pun lunglai tak kuasa menahan beban. Kebetulan sedang tidak hujan abu, tapi saat angin bertiup kencang, kepala seperti diguyur debu yang rontok dari pohon.

(Muntilan – Magelang, 13 Nopember 2010)

——-

(77). Datanglah Ke Jogja

“Merapi mengancam, Muntilan mencekam”… Itu bahasa televisi. Berita itu tidak salah. Merapi sejak jaman nabi Adam ya begitu itu. Muntilan mencekam pada satu kawasan saat malam Jum’at, listrik mati, langit mendung, ada petir, hujan abu, terdengar suara gemuruh, sepi tidak ada orang lewat, perut lapar… Padahal tidak seluas Muntilan seperti itu.

Maka kalau ingin menikmati rasa takut, tontonlah TV. Tapi kalau ingin menikmati Merapi, datanglah ke Jogja.

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

(78). Ketika Tenggorokan Terasa Serak

Tenggorokan kok terasa agak serak-serak gitu… Sepertinya ada abu vulkanik yang singgah di sana. Obatnya? Mampir ke angkringan-nya kang Umar di Bintaran Kulon Jogja, beli teh jahe… Sembuh? Siapa bilang…, cuma rasa abu berganti dengan rasa jahe, sedang abunya ya tetap di sana…

(Yogyakarta, 13 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (9)

28 Desember 2010

(79). “Penggampangan Bahasa”

Mbah Merapi masih AWAS, tapi tadi malam Mbah Rono (Ketua PVMBG) mengubah status aman per wilayah kabupaten. Kalau semula sama pada radius 20 km dari puncak Merapi, kini: Boyolali 10 km, Magelang 15 km, Klaten 10, Sleman 20 km.

Ada yang salah? Ya, lagi-lagi soal “penggampangan bahasa” (alias: pokoke ngerti dhewe lah..). Status aman pada jarak 20 km dari Merapi, artinya pada area itulah yang aman. Padahal yang dimaksud adalah sebaliknya. Oh, bahasaku, bahasaku…

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(80). Penanganan Pasca Bencana

Penanganan pasca bencana bagi korban Merapi akan jauh lebih rumit dibanding korban gempa Jogja 2006. Rehabilitasi korban gempa lebih ke infrastruktur dan fasilitas, seperti rumah-rumah yang roboh. Tapi rehabilitasi korban Merapi?

Ribuan hektar sawah ladang dan prasarana rusak. Mereka yang umumnya petani penggarap dan pemilik lahan harus mulai dari nol. Selama itu pula mereka tidak punya penghasilan. Dan ini rawan. Maka bagi pemerintah statusnya menjadi AWAS..!

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(81). “Let’s Think and Do Something”

Masalah penanganan pasca bencana Merapi, Mentawai atau Wasior hampir sama… Sama-sama rumit. Membangkitkan kembali kehidupan ekonomi masyarakat yang telah terpuruk. Maka kepada rekan-rekan yang berbasis di LSM, kampus atau manapun, ajakannya adalah: “Let’s think about it and do something. They need you!”, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Setelah itu, monggo… kalau mau meneruskan mencak-mencak dan misuh-misuh lagi di depan istana…

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

 

(82). Abu Tipis Masih Mengotori

Jogja siang ini redup, mendung berawan, agaknya bersiap mau hujan. Merapi mengeluarkan awan panas. Lahar dingin sewaktu-waktu siap menggelontor ke kali Code. Abu tipis masih mengotori udara Jogja, tidak terlihat tapi nampak jelas menempel di mobil yang berwarna hitam. Ada baiknya lengkapi diri dengan masker jika Minggu ini hendak keluar rumah, kecuali kalau hujan… (bawa payung atau ponco maksudnya, karena airnya akan bercampur abu)

(Yogyakarta, 14 Nopember 2010)

——-

(83). Nasi Bungkus Untuk Berbuka

Sore tadi membantu persiapan sholat Ied dan ritual penyembelihan kurban di kampung untuk Hari Idul Adha besok. Tiba waktu maghrib, tiba waktu berbuka bagi mereka yang berpuasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). Di masjid sudah tersedia segelas teh hangat dan sebungkus nasi Padang. Bukan pengungsi saja yang makan nasi bungkus rame-rame… Hanya bedanya, nasi bungkus yang saya makan bukan karena keterdesakan melainkan direncanakan. Ada “taste” yang beda…

(Yogyakarta, 15 Nopember 2010)

——-

(84). Berbekal Masker Di Malam Takbiran

Malam ini, sebagian besar masyarakat Jogja bermalam takbiran, menyongsong datangnya Idul Adha 1431H besok. Gaung suara takbir, tahmid, tahlil, membahana ke penjuru langit Jogja yang cukup cerah dan nampak bersih. Rembulan tanggal 10 Dzulhijjah 1431 melintas jelas di tengah angkasa… Tapi sebagian wilayah Jogja utara terjadi hujan abu tipis. Para pejalan malam dan pentakbir jalanan perlu waspada dengan berbekal masker, kecuali kambing-kambing dan sapi2-sapi…

(Yogyakarta, 15 Nopember 2010)

——-

(85). Happy Ending Sandiwara Merapi

Indah sekali cara Mbah Rono (Surono, Kepala PVMBG) menyikapi Merapi sejak status AWAS tiga minggu yll. Polah Gunung Merapi yang susah ditebak, tidak seperti biasanya, bagi Mbah Rono bagai sebuah permainan. Harus dipahami tidak dalam konteks meremehkan melainkan kearifan moral dalam bersikap.

Kata Mbah Rono: “Ingin happy ending dalam sandiwara Merapi ini…” — “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sendau gurau…” (QS.47:36).

(Yogyakarta, 16 Nopember 2010)

——-

(86). Berkorban Di Kala Sempit

Berat nian derita para petani-peternak dari lereng Merapi. Rumahnya luluh-lantak, sawah-ladangnya porak-poranda, ternaknya gosong-terpanggang, tinggal jiwanya nglangut di pengungsian bersama anak dan ternak yang terbawa. Kini masih diimbuhi peluang yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepada mereka, ketika dengan spirit Ibrahimnya memutuskan untuk “berkorban di kala sempit” dengan sapi-sapinya. Hanya jika mereka mengetahui…(dan kita boleh iri).

(Yogyakarta, 16 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (10)

28 Desember 2010

(87). Mereka Yang Jauh Dari Bantuan

Dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, sekitar 12 km dari Muntilan, ada di radius (tidak aman) 7 km dari puncak Merapi. Warga laki-laki berjaga-jaga, sedang warga perempuan/lansia/balita masih di pengungsian. Mereka para petani, jelas tidak ada yang dapat dikerjakan apalagi dihasilkan. Jauh dari sentuhan bantuan luar. Logistik adalah kebutuhan mendesak. Walau mereka takut “wedhus gembel”, tapi sore ini diamanahi tiga ekor wedhus gembel kurban…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(88). Mereka Yang Selalu Berstatus Awas Di Dusunnya

Dusun Bandung, Paten, Magelang, jelas berada di radius tidak aman terhadap Merapi (7 km). Tapi mereka harus menjaga hewan dan hartanya, begitu alasannya kenapa sebagian warga tidak mengungsi. Makan seadanya.

Sesuai status Merapi, mereka pun AWAS dan selalu terjaga terhadap gerak-gerik Merapi. Begitu bumi bergetar keras dan bergemuruh, mereka segera kabur menjauh menuruni gunung dengan sepeda motor yang selalu standby. Sambil getok tular (saling memberitahu) teman-temannya…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(89). Korban Merapi Non-Pengungsi

Menempuh jarak sekitar 12 km dari Muntilan, Magelang, ke arah sisi baratdaya lereng Merapi, menuju dusun Bandung, desa Paten. Melalui jalan sempit dan menanjak yang terlapis abu vulkanik. Di sana ada korban Merapi non-pengungsi dan memang tidak mau mengungsi. Mereka sadar ancaman awan panas, juga lahar dingin, bahkan hujan kerikil pun telah dirasakan, sedang abu tipis tak henti menyelimuti. Logistik adalah kebutuhan mendesak kini dan entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(90). Masih Ada Sapi Yang Akan Lewat

Membantu menyalurkan hewan kurban, sebagian dari amanah yang kami terima dari HMM (Himpunan Masyarakat Muslim) PT Freeport Indonesia. Hari ini tiga kambing ke dusun Bandung, Dukun; empat kambing ke dusun Pepe, Muntilan; satu sapi ke dusun Babadan, Sawangan; semua di wilayah kabupaten Magelang, sisi barat-baratdaya Merapi.

Insya Allah, masih ada sapi dan kambing yang akan lewat, besok… (Terima kasih untuk warga HMM Papua).

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(91). Seekor Lembu Ke Sawangan Magelang

Dusun Babadan, kecamatan Sawangan, Magelang terletak di kaki gunung Merbabu yang berhadapan dengan lereng barat Merapi, berada di radius sekitar 6 km dari puncak Merapi (juelass tidak aman). Tapi ratusan KK pengungsi ada di sana. Logistik sangat terbatas dan para lansia butuh selimut. Mereka sadar akan pilihannya itu. Tapi…., banyak hal sulit dicari penjelasannya. Ke dusun itulah seekor lembu (amanah dari rekan-rekan di HMM Papua) malam ini dikirimkan..

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(92). Menuntaskan Amanah Kurban Dari Papua

Tuntas sudah, enam sapi dan 10 kambing selesai disalurkan dalam dua hari ini sebagai amanah kurban dari warga Himpunan Masyarakat Muslim di Papua, untuk para korban bencana Merapi. Apresiasi untuk rekan-rekan yang telah bekerja keras untuk itu. Dan saya bersyukur berkesempatan menjadi bagian dari tim yang ketiban amanah. Semoga kelak menjadi “kendaraan” yang indah bagi para pengkurban, di langit tingkat tujuh yang dijamin bebas dari semburan awan panas maupun abu vulkanik…

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

(93). Penggalangan Dana Dari Mantan Teman Kerja

Beras, gula, sarden, kecap, hari ini dibelanja dan diangkut, siap untuk segera disalurkan ke beberapa lokasi pengungsian maupun korban Merapi non-pengungsi yang membutuhkan (dari hasil survey pendahuluan). Bantuan akan digabung dengan belanjaan lain. Semua dibeli dari hasil penggalangan dana yang bersumber dari para ex-teman kerja di Papua yang sekarang menyebar kemana-mana. Juga teman Facebook. (Terima kasih untuk pak Dwi Pudjiarso).

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (11)

28 Desember 2010

(94). Pe-er Besar Menghadang

Pertengahan minggu keempat sejak Merapi meletus pertama kali (26/10), cuaca Jogja hari ini cerah. Debu, yaa… masih ada dikitlah... Mbah Merapi ingin istirahat. Erupsi menurun. Berharap ancaman letusan segera usai. Konsekuensinya, ancaman banjir lahar dingin masih berstatus AWAS. Di balik semua itu ada timbunan rejeki dari pasir. Tinggal para korban langsung, baik yang mengungsi maupun yang tidak, lha ini dia pe-er besarnya…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(95). Ayo Balik Jogja

Anyway…, sinaoso mekaten… Jogja aman! Jogja bangkit! Jogja bersemangat! Insya Allah… AYO BALIK JOGJA…!

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(96). Bantuan Hasil Saweran

Hasil saweran dari rekan-rekan pensiunan Freeport, dapat dibelanjakan beras, gula, mie instant, dkk. Sore tadi langsung dikirim ke lingkungan dusun Pepe, kecamatan Muntilan, yang sebagian besar warganya adalah buruh harian lepas. Sebagian bantuan lagi diarahkan ke dusun Bandung, kecamatan Dukun, yang berada di lereng baratdaya Merapi (di radius 7 km dari puncak). Karena sudah terlalu sore dan mendung, terpaksa minta mereka untuk mengambilnya sendiri. Tatuuut…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(97). Bakmi “Mbah Dhumuk” Sleman

Hari sudah petang ketika pulang dari mengirim bantuan ke Muntilan. Kepingin mengisi perut dengan menu beda, terpilihlah mie rebus (mie jawa) warung “Mbah Dhumuk”, di Jl. Magelang Km-12, Sleman. Mbah Dhumuk yang sudah malang-melintang di dunia perbakmian sejak lebih setengah abad yll, kini sudah tiada dan anak-anaknya meneruskan usaha itu. Taste-nya agak beda dan lumayan enak. Pantesan selalu ramai. Cuma waktu tunggunya itu lho… Loamaaa banget…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(98). Cerita Tentang Sebuah Batu Besar

Sebuah batu sebesar sapi kurban nongkrong magrong-magrong di tengah jembatan sungai Tlising sehingga menghalangi jalur evakuasi di desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Batu itu mau nyebrang ke atas jembatan karena sungai di bawahnya penuh dengan material lahar dingin Merapi hingga meluber.

Saya tanyakan kepada salah seorang warga: “Kenapa batunya tidak digelindingkan saja agar tidak menghalangi jalan”.
Jawabnya serius: “Belum boleh sama Mbah Merapi…”.

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(99). Masih Ada Satu Letusan Lagi

Radius bahaya Merapi sudah dipersempit. Sebagian warga memang berangsur meninggalkan pengungsian. Tapi kaum bapak di dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, Magelang, masih berjaga-jaga seperti mau perang gerilya, di dusunnya yang berada pada radius 7 km dari puncak dan belum mau membawa keluarga pulang dari pengungsian.

“Kenapa pak?”, tanyaku pada salah seorang yang dituakan.
“Kami merasa masih ada satu letusan lagi”, jawabnya serius. Waduh…! Blaik…!

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(100). Sejenak Menghirup Hawa Segar

Hanya Merapi yang tak pernah ingkar janji… Tidak Merpati, tidak juga Turangga Jogja-Bandung ingkar janji. Katanya 7 jam, malah diimbuhi jadi 8 jam. Abu vulkanik dan pengungsi Merapi sementara kutinggalkan dulu sejenak untuk menghirup hawa segar Bandung… Huuuaah…!

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(101) . Bandung Dan Bandung

Warga kampungku di Kalangan, Umbulharjo, Jogja, mengumpulkan dana untuk dibelikan sembako plus plus. Ingin disalurkan langsung kepada korban Merapi yang benar-benar membutuhkan. Lokasi yang dituju berada di lereng baratdaya Merapi di wilayah kab. Magelang.

Hari ini rombongan kampungku berangkat menuju dusun Bandung. Saya sendiri tidak bisa gabung karena sedang dalam perjalanan pulang dari kota Bandung… (Sebuah kebetulan belaka kalau namanya sama).

(Yogyakarta, 21 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (12)

28 Desember 2010

(102). Tambang Pasir Di Tengah Kota

Berkah Merapi… Pasir yang terendap dari gelontoran lahar dingin di sepanjang kali Code yang membelah Yogyakarta, ternyata menjadi berkah tersediri bagi masyarakat yang tinggal di lembah Code. Lihatlah antrian truk yang memanjang menunggu giliran untuk diisi pasir. Dan itu terjadi di tengah kota Jogja.

Ya benar, tambang pasir di tengah kota, di sepanjang aliran kali Code. Mudah-mudahan mereka tidak lupa bahwa banjir lahar dingin masih berstatus AWAS..!

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(103). Berkah Lahar Dingin Merapi

Mau menambang pasir tanpa ijin tapi diijinkan? Malah difasilitasi pemerintah? Maka tambanglah pasir kali Code.

Berkah bagi masyarakat karena nilai ekonomisnya. Pemerintah pun berkepentingan untuk menormalisasi kedalaman sungai yang dangkal total karena endapan lahar dingin. Sebab jika tidak, maka fungsi sungai akan hilang, lalu siap-siap saja mbludak di musim penghujan. Semua pihak kini jadi berkepentingan atas penambangan pasir kali Code.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(104). Purnama Terakhir

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti…

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya…

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(105). Tak Tersentuh Karena Tersembunyi

Matahari tepat di cakrawala barat, masih menyisakan semburat merahnya. Aku tiba di dusun Babadan, desa Butuh, kecamatan Sawangan, Magelang. Lokasinya sekitar 10 km timurlaut dari Blabak, Jl. Raya Jogja-Magelang, menuju arah Ketep lalu belok ke utara ke kaki gunung Merbabu.

Kesanalah petang tadi aku membawa tiga karung beras titipan seorang teman di Bandung bagi korban Merapi non-pengungsi yang tak tersentuh bantuan karena tersembunyi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(106). Mereka Tak Berdaya

Dusun Babadan terletak di baratlaut Merapi pada radius sekitar 12 km, dikelilingi hutan sengon. Ketika letusan besar Merapi terjadi (5/11), warganya terisolir. Pohon-pohon patah menghalangi jalan. Di dalam rumah takut kalau rumahnya roboh oleh abu dan pasir vulkanik. Mereka pun berkumpul di tanah terbuka di bawah guyuran abu panas Merapi dengan perlindungan seadanya. Tangis histeris wanita dan anak-anak nyaris hilang ditelan gemuruh Merapi yang menggetarkan bumi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(107). Posko Mandiri Untuk Korban Merapi Non-Pengungsi

Masyarakat dusun Babadan dan dusun-dusun tetangganya tidak mengungsi. Makanya mereka tidak punya gelar pengungsi. Di sinilah dilema. Karena bukan pengungsi maka lalu “tidak perlu” dibantu. Padahal sama-sama korban Merapi.

Tengoklah, semua bantuan berlabel “pengungsi”. Bahkan di posko-posko sampai berlimpah. Sedang mereka yang non-pengungsi? Jatah pemerintah sangat terbatas, minta ke posko prosedurnya belit-belit. Akhirnya mereka menggalang posko mandiri.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(108). Warga Soronalan Butuh Bantuan Segera

Baru saja dapat kontak dari posko mandiri di desa Soronalan, Sawangan, Magelang. Ada 50 KK di kaki gunung Merbabu yang butuh bantuan mendesak. Sejak letusan besar Merapi (5/11) belum pernah ada bantuan dan warganya makan seadanya (keladi, ketela, dkk). Beras yang saya kirim ke dusun tetangganya tadi malam akhirnya dialihkan ke sana. Cukup untuk 1 kg per KK.

Tuhan…, pliiis…turunkan berasMu yang masih ada di langit (fissama-i fa-anzilhu)…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(109). Berharap Hujan Beras

Mereka bukan pengungsi (makanya tidak ada bantuan), tapi penduduk setempat yang menderita akibat letusan Merapi. Mereka buruh tani, sedang semua ladang hancur. Sebagai penderes kelapa, pohon kelapa rusak. Sebagai pengrajin keranjang, tidak ada yang beli. Sebagai peternak, tidak ada pakan, sedang singkong harus berebut dengan pemiliknya. Pohon pisang rusak oleh abu. Sayur dan tanaman bumbu musnah. Untuk bertahan hidup? Berharap hujan abu berganti hujan beras…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (13)

28 Desember 2010

(110). Mereka Makan Keladi Dan Ketela

Ketika saya cerita bahwa masyarakat di dusun-dusun terpencil yang terkena dampak letusan Merapi bertahan hidup dengan makan seadanya, seperti keladi dan ketela, maka itu benar adanya. Bukan cerita yang saya dramatisir…

Hanya umbi-umbian di dalam tanah yang bertahan terhadap serangan abu vulkanik panas. Tanaman lain di permukaan rusak, termasuk kelapa, sayuran, rumput, apalagi pisang. Ironisnya, kalau minta bantuan ke posko besar akan ditolak karena mereka bukan pengungsi…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(111). Mereka Adalah Relawan Mandiri

Posko mandiri (itu istilah mereka), adalah posko yang dikelola oleh pribadi-pribadi yang dengan semangat relawan mengelola masyarakat korban Merapi yang ada di rumah-rumah penduduk, bukan di lokasi/barak yang sengaja disiapkan untuk pengungsi.

Dengan upayanya sendiri relawan mandiri ini mencari bantuan ke pelbagai pihak. Bahkan antar mereka sering saling berbagi bantuan jika di lokasinya ada kelebihan. Memang, mereka kebanyakan ada di dusun-dusun terpencil, pelosok dan tersembunyi.

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(112). Bantuan Dari Para Sahabat

Hari ini saya menerima transfer sejumlah dana dari para sahabat di Jakarta dan Surabaya. Rencananya akan langsung saya alokasikan ke posko mandiri di dusun Soronalan dan Babadan, kecamatan Sawangan yang memang butuh bahan makanan mendesak.

Tapi sayang, sore ini cuaca berawan gelap, hujan deras berkepanjangan, sedang lokasi yang mau dituju agak naik ke kaki gunung. Terpaksa ditunda. Insya Allah…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(113). Siapa Yang Lebih Nekat

Seorang relawan mandiri di lereng baratdaya Merapi sore tadi mengirm pesan singkat via SMS, katanya: “Jumlah jiwa ada 250. Ekonomi lumpuh”. Posko itu ada di dusun Semen, kecamatan Dukun, Magelang. Info dari dusun tetangganya mengabarkan kalau masyarakat dusun Semen mencari-cari bantuan logistik.

Kutanya lokasinya di radius berapa dari puncak Merapi?
Jawabnya: “Sekitar 4 km pak!”.

Haduh…, lha yang nekat itu yang dibantu atau yang membantu?

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(114). Hanya Sebuah Potret Kecil

Dusun Babadan, Soronalan, Bandung dan Semen, di wilayah kabupatn Magelang, hanyalah sebagian kecil potret ketakberdayaan masyarakat yang dibuat tak berkutik setelah diplekotho abu dan pasir vulkanik panas dari Merapi. Padahal masih ada buanyak dusun-dusun terpencil yang warganya tidak mengungsi tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyambung hidupnya.

Mereka nyaris tak tersentuh bantuan. Semoga ada orang lain yang bergerilya membantu mereka yang buanyak itu…

(Note: diplekotho adalah ekspresi dalam dialog orang Jogja yang berarti ditakberdayakan)

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (14)

28 Desember 2010

(115). Tak Sesederhana Mengirim Bantuan

Status Merapi masih AWAS. Radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) diturunkan/dikurangi. Sebagian pengungsi pun berangsur pulang ke kampung halaman. Lalu setelah itu apa…? Kalau sekedar mengganti rumah dan infrastruktur yang rusak itu mudah. Tapi mengembalikan nafas kehidupan ekonomi? Tak sesederhana mengirim bantuan kepada pengungsi melalui posko-posko…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(116). Isi Perut Harus Tetap Dipenuhi

Mereka yang sebagian besar petani, peternak dan buruh lepas, butuh waktu panjang untuk menemukan kembali kehidupannya, memulihkan roda ekonominya, setelah semua hancur tak bersisa. Bahkan untuk sekedar memulai!

Tanah harus diolah dari nol, pohon yang masih hidup perlu waktu untuk diguna, bibit dan pupuk tak terbeli, pakan ternak harus dicari… Sementara hasil dinanti, isi perut harus dicari tapi nggak janji, tak seperti perut Merapi yang tak pernah ingkar janji…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(117). Sampai Kapan Menunggunya?

Sekitar 50 KK warga dusun Soronalan, Sawangan, Magelang, kini tak berkutik setelah diusik abu panas Merapi (5/11). Menunggu…, itu yang dapat mereka lakukan sementara ini. Ya, menunggu bantuan. Ya, menunggu saat aman untuk memulai bekerja. Bertani, beternak, berkerajinan, entah apa lagi… Tapi sampai kapan menunggunya? Dan apa masih ada yang diharapkan untuk ditunggu?

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(118). Mengirm Bantuan Ke Dusun Soronalan Magelang

Menyusuri jalan desa yang menanjak dan menurun selebar cukup satu mobil, membelah ladang-ladang yang rusak oleh abu vulkanik dan pemukiman penduduk, akhirnya sampai ke dusun Soronalan, Sawangan, Magelang.

Menilik lokasinya, pantas saja kalau tak tersentuh bantuan. Seorang relawan mandiri yang perduli dengan nasib tetangga-tetangganya yang hanya makan keladi dan singkong, pontang-panting mencari bantuan. Ke sanalah saya dkk. siang ini mengirim bantuan logistik.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(119). Ada Kebahagiaan Di Wajah Anak-anak Itu

Wajah anak-anak itu begitu ceria, begitu juga ibu-ibunya. Bersama kaum bapaknya berkumpul menyambut bantuan yang “tidak seberapa” yang untuk pertama kali datang ke dusun mereka.

Bekal kue dan makanan ringan yang kami bawa masih tersisa cukup banyak. Dan ketika dibagikan…, mereka, anak-anak dan ibunya, berebut sambil tertawa canda. Mereka menyalami kami. Masya Allah… Tak pernah terbayang menyaksikan kebahagiaan seperti itu…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(120). Kerja Keras Seorang Relawan Mandiri

Dari dusun Soronalan kami menuju dusun Babadan. Jaraknya sekitar 4 km. Jumlah penduduknya sekitar 185 KK, kondisinya tidak jauh beda dengan Soronalan. Kegiatan ekonomi lumpuh, belum ada yang dapat dikerjakan masyarakat. Beruntung di dusun ini ada seorang relawan mandiri yang gesit dan lincah, biasa disapa pak Inggo yang adalah seorang guru. Berkat kerja kerasnya, kemudian bantuan dari luar menjangkau. Malah bisa dibagi ke dusun-dusun lain yang senasib, “seret” bantuan…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(121). Mereka Yang Mencari Kelebihan Bantuan

Di Babadan ketemu kepala dusun Ngaglik yang sedang mencari bantuan. Kelincahan pak Inggo rupanya berhasil mendatangkan bantuan yang selama ini jarang mampir ke lokasi-lokasi yang “tidak populer”, apalagi susah dicapai. Karena itu dusun Babadan menjadi tujuan dusun-dusun lain untuk mencari kelebihan bantuan.

Seperti dusun Ngaglik yang lokasinya sekitar 1 km di atas Soronalan. Sayangnya saya baru tahu itu setelah meninggalkan Soronalan, mestinya tadi bisa sekalian diampiri.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(122). Dana Saweran Tertunda Penyalurannya

Dana saweran dari teman-teman di Jakarta dan Surabaya yang saya terima kemarin, semula tadi pagi mau saya belanjakan logistik untuk dikirim ke dusun Soronalan. Tapi rupanya teman-teman pensiunan Freeport sudah lebih dulu siap dengan logistik dan minta ditemani menyalurkannya, maka saya arahkan ke Soronalan. Sedangkan dana yang saya terima kemarin saya tunda penyalurannya dan akan saya tujukan untuk dusun Ngaglik, yang kondisinya sama seperti dusun Soronalan.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (15)

28 Desember 2010

(123). Mencari Daun Pisang Untuk Sapi

Sore mendung di dusun Babadan, Magelang, seorang ibu berjalan letih menggendong daun pisang dengan selendang lusuhnya.

Kutanya: “Untuk apa bu?”.
Dijawab: “Ngge nedo sapi..(untuk makan sapi)”.

Ya, sapi2-sapi tetap harus makan, sedang rumput tak lagi hijau setelah didera abu vulkanik panas. Ketela dan hati batang pisang adalah alternatifnya. Tapi sungguh itu bukan pilihan…, bagi si ibu harus mencari daun pisang, tak juga bagi para sapi yang terpaksa memakannya.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(124). Ikan Wader RM “Purnama” Muntilan

Sore pulang dari Sawangan, teringat belum makan siang. RM “Purnama” di Muntilan, menjadi tujuan. Ini jenis warung pojok yang dulu suka jadi ampiran sopir-sopir truk pasir, tapi kini menjadi jujukan penggemar kuliner. Ikan wader, terkenalnya. Dengan tagline: “Spesial mangut lele, ikan tawar”.

Wow…taste ndeso-nya khas skali. Yang harus dilakukan: Datang, pesan (pilih sendiri), dilayani, dihitung, duduk, makan, mbayar.. (Jangan lupa yang terakhir!).

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(125). Genset Untuk Mushola

Pulang dari Sawangan kemarin, ngirim 3 genset untuk 3 mushola berbeda (amanah dari Himpunan Masyarakat Muslim di Papua). Salah satunya diterimakan melalui seorang teman di dusun Pancoh, desa Girikerto, kecamatan Turi, Sleman, yang berada di radius 12 km selatan Merapi.

Masyarakat sudah pada pulang dari pengungsian. Banyak kebun salak pondoh di sana, tapi sebagian rusak, buahnya jadi abu-abu tersaput abu Merapi. Ternak sebagian mati karena tak terurus selama ditinggal mengungsi.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(126). Tak Lagi Cantik Alami

Bagi sebagian masyarakat yang kebun salaknya tidak terlalu rusak (kalau yang rusak nggak ada lagi yang dapat diceritakan…), harga salaknya bisa jatuh, karena buahnya kotor oleh abu Merapi yang melekat di kulitnya.

“Mengapa demikian?”.

Jawabnya: “Buah salaknya tidak cantik lagi..”.

Jawaban bernada canda ini ada benarnya, karena buah salak harus dicuci dulu sebelum dijual. Itu berarti bersih dan cantiknya buah salak tidak lagi alami. Hmm…, yang cantik alami memang lebih mahal…

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(127). Awas Kolesterol

Teman yang tinggal di Girikerto itu selain punya kebun salak juga ternak burung puyuh. Selama ditinggal mengungsi setengah puyuhnya yang jumlahnya ribuan itu mati, tidak terurus pakannya. Sedang sisanya yang masih hidup pada stress tidak mau bertelur. Kasus ternak mati tidak terurus ini terjadi di banyak lokasi.

Meski begitu toh teman saya itu masih nyangoni kami dengan sekotak salak dan telur puyuh. Mengingat telur puyuh, maka statusku jadi seperti Merapi, AWAS kolesterol..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(128). Merapi Tenang Tapi Waspada Harus

Hari ini, sebulan sudah sejak letusan pertama Merapi (26/10). Malam ini, memasuki minggu keempat sejak letusan besar Jumat dini hari (5/11). Merapi tenang tiga hari ini dibanding hari-hari sebelumnya. Berharap Mbah Merapi pun sedang khusyuk bersujud kepada Sang Penciptanya menyambut malam hari raya Jum’at. Kemudian teruslah beristirahat panjang dalam kedamaian dan ketenangan…

Walau begitu, warga Jogja dan seputaran Merapi tetap harus WASPADA dan jangan lengah..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(129). Disambut Di Dusun Ngaglik, Sawangan

Warga dusun Ngaglik, desa Soronalan, kecamatan Sawangan, Magelang, yang hanya 25 KK, siang tadi nampak begitu antusias menyambut kedatanganku. Para bapak-ibunya menyalamiku. Aku jadi rada kikuk. Sebagian lalu ikut nimbrung saat aku ngobrol dengan Kepala Dusun, setelah menurunkan bantuan yang “tidak seberapa” itu.

Rupanya itulah pertama kali ada bantuan masuk ke dusunnya yang memang tidak mudah dicapai, sejak letusan besar Merapi 3 minggu yll.

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(130). Sekedar Penyambung Hidup

Saweran yang kuterima tiga hari yll akhirnya kusalurkan ke dusun Ngaglik, dari rencana semula ke dusun Soronalan. Ngaglik berada sekitar 1 km lebih jauh dan lebih atas dari Soronalan. Kondisi masyarakat di kedua pedusunan itu sama-sama lumpuh akibat letusan merapi.

Beras, mie instan, kecap dan sarden, yang kukirim tadi siang, hanya sekedar penyambung hidup… (Trims untuk pak Probo Jatmiko, bu Nuning dan seseorang yang tidak mau disebut namanya).

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(131). Tak Ada Lagi Kelapa Dideres

Mata pencaharian utama warga Ngaglik adalah penderes nira dari pohon kelapa untuk dibuat gula jawa dan pembuat keranjang bambu untuk wadah sayur. Kini pohon kelapa rusak oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang dapat dideres. Perlu waktu berbulan-bulan menunggu agar pohon kelapa dapat dideres kembali.

Begitu pun, tanaman sayuran hancur juga oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang membutuhkan keranjang. Sedang memulai bertani bukanlah pekerjaan mudah. Lalu harus ngapain…?

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(132). Sebuah Kearifan Yang Begitu Indah

Ketika abu Merapi berhamburan, semua tanaman hancur, ternak mati, masyarakat kehilangan pencaharian dan penghasilan, beras tak terbeli, bantuan tak kunjung tiba…

Ada warga yang masih punya simpanan padi, jagung, singkong. Maka saling berbagilah mereka, senasib-sepenanggungan, guyub rukun tanpa hitungan laba-rugi, mangan ora mangan kumpul… Sebuah kearifan yang tak pantas disebandingkan dengan hiruk-pikuk di Jakarta tentang aneka kepentingan…

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (16)

28 Desember 2010

(133). Kepala Dusun Itu Seorang Wanita

Ada yang istimewa dengan dusun Ngaglik. Saat bertemu pak Parman yang sedang cari bantuan ke dusun tetangga, beliau ditemani istrinya yang cantik berkerudung warna cerah. Relawan “ndeso” itu membawa istrinya untuk urusan yang lebih perlu kegesitan seorang pria.

Ketika kemarin pak Parman saya panggil pak Kadus (Kepala Dusun), pak Parman berkata: “Yang Kepala Dusun sebenarnya istri saya pak”. Aha.., dan bu Parman adalah satu-satunya Kadus wanita di kawasan itu.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(134). Disuguh Singkong Rebus

Saat ngobrol-ngobrol tentang makan, saya disuguh bu Parman dengan teh panas dan singkong rebus. “Ya ini yang kami makan pak”, kata pak Parman ramah. Barangkali mereka memang sudah “terlatih” dengan keterbatasan hidup seperti saat ini, tapi tidak dengan ‘rasa’ kita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan singkong, yang berkarbohidrat tinggi. Hanya saja, mereka makan singkong karena tidak punya pilihan. Sedang kita di tempat lain, makan singkong karena punya banyak pilihan untuk dimakan…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(135). Jum’atan Di Soronalan

Untuk sholat Jum’at, kemarin saya harus turun ke dusun Soronalan sekitar 1 km di bawah Ngaglik. Sengaja saya minta dibonceng sepeda motor. Kebiasaan masyarakat saat jalan menurun, matikan mesin dan motor pun njumbul-njumbul melewati jalan berbatu.

Masjid “Al-Huda” itu terisi sekitar 30 jamaah. Seseorang membisiki saya: “Kami perlu genset untuk masjid pak”.

Bersyukur, petang harinya saya bisa kirim SMS: “Genset sudah di Muntilan, tolong diambil” (Trims untuk HMM Papua).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(136). Serah Terima Bantuan Di Gubug makan “Mang Engking”

Pulang dari Ngaglik kemarin sore, ditunggu teman-teman di Gubug Makan “Mang Engking”, Jl. Soragan/Jl. Godean Jogja (pionir restoran spesial menu udang galah. Halah, udangnya ittuuu…).

Ada acara serah terima bantuan dari keluarga besar PT Freeport Indonesia melalui program “Freeport Peduli” untuk korban Merapi yang dipercayakan penyalurannya kepada Paguyuban mantan karyawan yang ada di Jogja. Wah, bakal kluyuran maneh ki… (siap-siap kluyuran lageee...).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(137). Pilpen Conggambul

Tengah hari, hujan lebat merata seantero Jogja. Nyopiri “boss” ke toko sambil nyetel RRI Jogja. Acaranya, “Pilpen-conggambul-tupon-tugu”. Woppo kuwi…? “Pilihan pendengar, keroncong, langgam, stambul”; dengan kata kunci: “satu pohon satu lagu”.

Elok tenan..! Masyarakat lereng Merapi akan menyukainya. Biar gunungnya lebih sejuk, seperti pantun seorang pendengarnya: Tuku terong simpen ning lemari es, lagu keroncong pancen mak nyesss…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(138). Status Awas Ex Pengungsi

Radius kawasan bahaya Merapi diturunkan sehingga sebagian pengungsi pun pulang ke rumah masing-masing. Selama di posko-posko pengungsian, hidupnya terjamin. Setelah pulang? Bantuan yang menumpuk itu ya ditinggal di posko-posko (entah siapa yang ngurus dan mau dikemanakan). Tinggal pengungsi dheleg-dheleg di kampungnya. Siapa yang perduli?

Pertanian hancur, ekonomi mandek, tidak ada penghasilan. Dan, ada ribuan ex pengungsi yang statusnya AWAS…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(139). Week-End Ke Jogja Mengirim Bantuan

Minggu lalu seorang sahabat week-end ke Jogja pingin menyalurkan bantuan. Bahkan bantuan diantar di tengah malam ke sebuah lokasi di Sawangan, Magelang. Sayang saya tidak bisa menemaninya. Ternyata sekarang mengirim lagi bantuan untuk perlengkapan sekolah. Bahkan bertanya lokasi mana lagi yang mendesak dibantu.

Uuuh.., senang sekali mendengar semangatnya, lebih senang lagi saya sempat memfasilitasi. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuk semuanya.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(140). “Datanglah Ke Jogja”

Pekan-pekan ini, logistik adalah kebutuhan mendesak bagi sebagian besar korban Merapi, terutama mereka yang baru kembali dari pengungsian dan non-pengungsi tapi terkena dampak langsung. Hari ini saya identifikasi ada empat lokasi terpisah yang layak untuk dibantu dan akan menjadi sasaran saya berikutnya.

Ingin saya ajak kepada siapa saja: “Datanglah ke Jogja, lalu kunjungi korban Merapi…”.

Sebuah perjalanan indah dan inspiratif akan Anda kenang sepanjang hayat…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (17)

28 Desember 2010

(141). Ada Yang Menanyakan Sisa Logistik

Siang tadi saya dihubungi seorang relawan mandiri yang tanya apa saya masih memiliki sisa logistik karena ada sebuah dusun di desa Wonolelo, Sawangan, Magelang, sangat membutuhkan bantuan logistik.

Menurut infonya, belum ada bantuan masuk ke sana karena lokasinya memang ada di radius 4-5 km dari Merapi, yang bagi masyarakat umum (pemberi bantuan) ini lokasi yang dianggap “menakutkan”.

Apa boleh buat, saya hanya bisa menjawab: “Insya Allah saya usahakan…”.

(Yogyakarta, 28 Nopember 2010)

——-

(142). Entah Apa Yang Ditunggu

Siang tadi menyalurkan beras bantuan untuk korban Merapi yang sudah kembali dari pengungsian, di dusun Windusabrang, desa Wonolelo, kecamatan Sawangan, Magelang (23 km dari Blabak, Muntilan dan berada di radius 5 km dari Merapi).

Ketika semua lahan dan tanaman sayur rusak, tak lagi bisa diambil manfaatnya, sedang biaya tak ada, Merapi masih berstatus Awas, maka mereka (210 KK, 800-an jiwa) hanya bisa menunggu. Entah apa yang ditunggu…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(143). Khawatir Kalau Bantuan Dicegat

Hujan turun cukup lebat saat saya dalam perjalanan menuju dusun Windusabrang, Sawangan, Magelang, tengah hari tadi melalui obyek wisata Ketep terus mengikuti jalan yang menuju Boyolali. Seseorang dari dusun itu tadinya keukeuh mau menjemput di Ketep, tapi saya yakinkan setelah di Wonolelo saja.

Rupanya dia khawatir, kalau tidak dikawal seringkali bantuan dicegat di tengah jalan dan diminta oleh masyarakat setempat yang juga butuh logistik. Sebegitunya…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(144). Mereka Perlu Bibit Sayuran

Bantuan yang saya bawa tadi siang sebenarnya darurat, daripada tidak. Walau lokasinya di pinggir jalan, tapi tidak mudah bagi warga Windusabrang dan tetangga-tetangganya untuk mendatangkan bantuan. Ketika tidak lagi berstatus pengungsi, mereka harus survive. Meminta (apalagi cuma berharap) ke pemerintah pun tidak ada hasil.

Untuk segera mulai bertani bukan perkara mudah dan murah. Mereka perlu bibit sayuran yang bisa cepat untuk diusahakan, seperti sawi, kobis, bunga kol, loncang…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(145). Umbi-umbian Pun Rusak

Ketika kutanya sejak pulang dari pengungsian makannya bagaimana?

Jawabnya: “Ya seadanya, sering-sering singkong”.
“Darimana?”, tanyaku.
“Ada orang yang membantu ngirim singkong”, jawabnya lagi.
“Apa kebun singkongnya tidak menghasilkan?”.
“Banyak yang rusak…”.

Rupanya saking tebalnya abu vulkanik panas, kandungan sulfurnya meresap dan merusak umbi-umbian di bawahnya. Insya Allah, masih ada sembako yang akan datang… (Terima kasih kepada HMM Papua untuk berasnya)

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(146). Di Dusun Klakah Dimana Merapi Nampak Indah

Dari Windusabrang saya berkunjung ke dusun Klakah sekitar 3 km masuk ke tenggara ke kaki Merapi, masuk wilayah Selo, kabupaten Boyolali. Dusun ini berada di radius sekitar 3,5 km dari Merapi (Uugh..!), tepat di atas sungai Apu. Kondisi masyarakatnya yang baru kembali dari pengungsian, tidak jauh beda. Tapi konon masyarakat merasa bahwa penanganan bantuan oleh Pemkab Boyolali, lebih baik daripada Pemkab Magelang.

Dari sini, bentang gunung Merapi nampak kekar dan indah…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(147). Tontonan Langka Banjir Lahar Dingin

Sejak dari Muntilan sore tadi, saya lihat banyak orang berkerumun di hampir setiap jembatan yang melintas di jalan Jogja – Muntilan. Rupanya sungai-sungai itu sedang banjir yang tentu saja membawa material lahar dingin Merapi. Arusnya sangat deras dan gemuruh suaranya, rupanya menjadi tontonan langka. Bahkan banyak pengendara mobil yang juga berhenti turut menyaksikan.

Saat tiba di Bintaran dimana kali Code ada di lembahnya, saya lihat inilah banjir terbesar…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(148). Banjir Terbesar Di Kali Code

Kali Code banjir besar sejak sore hingga malam ini. Terbesar selama ini. Arusnya sangat deras. Gemuruh suaranya menakutkan. Tinggi air sudah di atas rata-rata wilayah sepanjang lembah Code.

Di kawasan Bintaran dimana saya berdiri saat ini, air tertahan oleh tanggul bantaran sungai dan karung-karung pasir yang sudah ditumpuk di atasnya. Di lokasi lain ada yang tanggulnya jebol. Masyarakat waspada siap-siap kabur jika kondisi memburuk. Sebagian sudah mengungsi.

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(149). Ada Penonton Terjatuh

Seorang penonton di kawasan Gondolayu terjatuh ke kali Code dan terbawa arus deras yang tak terduga. Sesekali arus agak turun, tiba-tiba membesar lagi, begitu berulang-ulang. Uuugh…, jangan lagi deh… Ayo menjauh, menjauh dari bantaran sungai…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(150). Foto Banjir Lahar Dingin

Foto banjir Kali Code td sore, dpt dilihat di link ini… @JogjaUpdate: #Jogja @marawie: Kali code sekarang http://twitpic.com/3bay3e

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (18)

28 Desember 2010

(151). Kehidupan Seolah Harus Mulai Dari Awal

Sepintas kehidupan mereka, mantan pengungsi dan non-pengungsi korban Merapi itu baik-baik saja. Rumah-rumah masih utuh (kecuali yang terkena awan panas), anak-anak ceria bermain dan mulai sekolah, orang-orang sibuk menyiapkan bibit tanaman (bagi yang masih punya). Tapi sebagian besar dari mereka sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makannya.

Mereka memang terbiasa dalam kesulitan, tapi tidak untuk waktu lama tanpa kejelasan tentang hidup mereka sendiri. Kehidupan seolah harus mulai dari awal lagi…

(Yogyakarta, 30 Nopember 2010)

——-

(152). Masih Banyak Gerilyawan Blusukan

Seorang sahabat mentransfer dana bantuan. Sorenya saya belikan beras lalu saya salurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan logistik hari-hari ini. Lokasi yang sebelumnya sudah saya survey adalah dusun Windusabrang, Babadan dan Cowor, kecamatan Sawangan, Magelang.

Sore tadi relawan mereka terpaksa saya minta mengambilnya ke Jogja berhubung saya tidak sempat bergerilya sendiri karena besok ada misi lain. Insya Allah masih banyak gerilyawan yang akan blusukan ke dusun-dusun…

(Yogyakarta, 30 Nopember 2010)

——-

(153). “Salam Persahabatan” Merapi

Dari jembatan layang Janti, dari dalam taksi menuju bandara, Merapi nampak anggun ditemani Merbabu di belakangnya, seakan menyampaikan “Salam Persahabatan”…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

(154). Kutinggalkan Mereka Sejenak

Dalam dhuhaku pagi ini di bandara Adisutjipto, kutambahkan permohonanku agar Mbah Merapi baik-baik saja, dan agar mengganti hujan abu dengan hujan beras bagi mereka yang sedang tak berdaya di lereng-lerengnya.

Kutinggalkan sebagian dari mereka sejenak… Perjalanan Jogja – Balikpapan – Tarakan – Tanjungselor, insya Allah segera kujalani…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

(155). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas banjir lahar dingin…!!! Beberapa info yang dilansir melalui Twitter #JogjaUpdate, mengabarkan banjir lahar dingin siang ini melanda di hampir semua sungai yang berhulu di Merapi dalam volume lebih besar dari biasanya.

Waspada…! Bagi semua warga di bantaran sungai-sungai yang sering menjadi aliran lahar dingin. Beberapa jembatan ditutup, dibatasi, bahkan ada yang jebol… Jalur utama Jogja – Magelang terganggu…

(Antara Tarakan – Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (19)

28 Desember 2010

(156). Seputar Kali Gendol (1)

Tengah hari mendung, saya tiba di dusun Bronggang, desa Argomulyo, kecamatan Cangkringan, Sleman yang berjarak sekitar 25 km utara Jogja. Tepatnya di lintas jalan alternatif Magelang – Solo.

Sekitar 50 meter ke timur, sampai ke tepi kali Bendol, nampak ada dua dam sabo penahan aliran lahar. Sungai yang dulu dalam dan lebar itu kini penuh dengan material vulkanik gunung Merapi, abu, pasir, batu memenuhi kali Gendol hingga lebih tinggi dari damnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(157). Seputar Kali Gendol (2)

Langit Merapi mendung dan berawan. Bleger (profil) gunung yang sedang kecapekan setelah lebih sebulan aktif bererupsi itu tidak nampak jelas, hanya siluet bayangannya terlihat di balik awan.

Geluduk bersahutan, saat saya memandang sekeliling dimana sejauh mata memandang seolah hanya hamparan material vulkanik yang nampak. Sedang pepohonan kering dan gosong melatari di kejauhan.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(158). Seputar Kali Gendol (3)

Dari dusun Bronggang, bergerak lebih ke utara beberapa kilometer, melalui desa Wukirsari, sampai ke dusun Pager Jurang, desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, yang berada pada radius sekitar 10 km dari Merapi.

Timbunan material vulkanik di kali Gendol terlihat lebih lebar hingga ratusan meter, menimbun kawasan di luar bantaran sungai. Bahkan jalan aspal yang ada di tepi sungai pun tertimbun. Timbunannya lebih dari kampung di sekitarnya.

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(159). Seputar Kali Gendol (4)

Awan panas (wedhus gembel) yang bersuhu sangat panas tidak saja berhembus turun mengikuti aliran kali Gendol tapi juga meluber hingga beberapa ratus meter ke luar bantaran, masuk ke pemukiman dan menyapu apa saja. Semua pepohonan terbakar dan hangus, rumah-rumah penduduk hancur, bahkan manusia dan ternak tak terkecuali.

Andai saja status Awas Merapi tidak segera diikuti dengan evakuasi total, maka korban jiwa tak terperikan lagi. Betapa dahsyatnya…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(160). Seputar Kali Gendol (5)

Lihatlah kawasan di sepanjang sisi kali Gendol di desa Glagaharjo. Pepohonan semua terbakar dan berwarna coklat mengering. Bahkan rumah-rumah penduduk pun terbakar, tampak dari banyaknya arang kayu sisa pembakaran. Belum lagi rumah-rumah yang roboh dan porak-poranda seperti habis terkena badai. Dan badai itu adalah awan panas.

Tak heran kalau setengah desa Glagaharjo bubar jalan, masyarakatnya pun belum bisa pulang dari pengungsian. Lha, mau kemana?

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(161). Seputar Kali Gendol (6)

Sebuah jalan desa di Glagaharjo terlihat lengang. Semua rumah di sepanjang jalan itu hancur dan menyisakan saputan abu yang masih melekat. Demikian pula tidak satu pun pepohonan selamat. Tak terbayangkan andai masih ada manusia di sana ketika awan panas menyinggahi rumah mereka.

Namun kini tanda kehidupan mulai terlihat dari warna hijau pohon pisang dan talas yang kontras dengan dominasi warna abu-abu, coklat dan hitam bekas kebakaran…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(162). Seputar Kali Gendol (7)

Cuaca mendung masih menyelimuti kali Gendol dan Merapi siang tadi. Namun sesekali awan beringsut seakan memberi kesmpatan kepada Merapi dan puncaknya agar dapat dilihat dengan jelas, walau cuaca tidak cerah.

Itulah menit-menit indah bagi kenampakan Merapi dari sungai Gendol. Walau hanya beberapa menit saja, tapi cukup untuk diabadikan atau menjadi latar untuk bergaya-gaya di depan kamera…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(163). Seputar Kali Gendol (8)

Kepulan asap terlihat muncul di beberapa tempat di hamparan material vulkanik di sungai Gendol. Menandakan bahwa di titik itu material masih sangat panas.

Untuk membuktikannya cukup dengan mendekatkan telapak tangan, panasnya masih sangat terasa. Bahkan hanya beberapa cm di bawah permukaannya, suhunya masih sangat poanasss… Yang terakhir itu sebaiknya tidak usah dibuktikan, kecuali dilengkapi dengan peralatan yang sesuai…

(Yogyakarta, 5 Desember 2010)

——-

(164). Seputar Kali Gendol (9)

Cuaca masih mendung sore kemarin. Dari desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, lalu melanjutkan perjalanan ke sisi timur kali Gendol, ke desa Balerante, Klaten. Untuk mencapai Balerante jalannya harus memutar ke selatan lebih 20 km melalui jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Menyusuri jalan yang relatif lurus, mendaki dan beraspal cukup bagus akhirnya tiba di Balerante yang ternyata bersebelahan dengan desa Glagaharjo dimana kuburan Mbah Marijan berada.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(165). Seputar Kali Gendol (10)

Desa Balerante, kecamatan Kemalang, Klaten dan desa Glagaharjo, kecamatan Cangkringan, Sleman dipisahkan oleh jalan batas provinsi DIY-Jateng.

Kondisi kedua desa itu sangat parah. Amat memprihatinkan. Desa Glagaharjo di sisi timur kali Gendol hancur total. Tak satu pun rumah dan tumbuhan selamat dari awan panas. Begitupun desa Balerante bagian barat yang berbatasan dengan Glagaharjo. Warna abu-abu, coklat dan hitam mendominasi seluas mata memandang.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(166). Seputar Kali Gendol (11)

Balerante dan Glagaharjo berada dalam radius sekitar 4 km dari puncak Merapi. Sosok gunung itu nampak begitu dekat. Bahkan saat langit mendung dan berawan kemarin sore, sosok menakutkan itu sesekali nampak jelas. Waktu terbaik untuk menikmati sosok Merapi adalah saat pagi.

Saat ini, lokasi di perbatasan Jateng-DIY itu menjadi obyek wisata dadakan, terlebih setelah dihancurkan awan panas dan ditinggal penghuninya mengungsi hingga kini.

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(167). Seputar Kali Gendol (12)

Kalau bukan karena diberitahu seorang relawan di Glagaharjo, saya tidak ngeh kalau di desa itulah almarhum Mbah Maridjan dimakamkan.

Dalam cuaca berkabut sore kemarin, kususuri jalan desa yang sepi dan lengang menuju ke kuburan desa. Ada taburan bunga segar di makam Mbah Maridjan, entah siapa yang baru berziarah. Nampak bersih, tidak seperti diwartakan tertimbun material Merapi. Kukirim doa untuk Mbah Maridjan. Semoga spirit ke-roso-annya abadi…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(168). Seputar Kali Gendol (13)

Di Balerante, kijang hitamku kurang tinggi loncatnya, sehingga terperosok ke selokan. Hari semakin sore, orang-orang mulai pada pulang, suasana jadi sepi. Padahal tadi dipesan sama tentara yang jaga agar posisi parkirnya mengarah ke bawah jaga-jaga kalau keadaan buruk terjadi. Uuuh.., rada tegang.

Setelah maju-mundur sambil diganjal batu akhirnya bisa lolos. Kata temanku: “Itu tanda Mbah Maridjan minta ditengok”. Asal bukan tawaran jadi juru kunci saja..

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(169). Seputar Kali Gendol (14)

Seorang relawan di Glagaharjo yang tiap hari berjaga disana dan prihatin dengan situasi desa yang habis dibumi-hangus awan panas, punya ide “kreatif”. Setiap hari berusaha menanam tumbuhan di pinggir bekas jalan desa. Tujuannya agar kawasan itu segera hijau kembali. Dia minta dikirim bibit tanaman apa saja asal cepat tumbuh dan menghijaukan. Sebuah pemikiran sederhana, langkah kecil, tapi masuk akal manfaatnya. Mumpung sering turun hujan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(170). Seputar Kali Gendol (15)

Sebagian besar warga desa Kepuharjo, Glagaharjo dan Balerante masih berada di pengungsian hingga kini. Selama itu pula hidup mereka ada yang menjamin. Tapi rumah mereka berantakan, ternak mereka mati, ladang mereka hancur dan penghidupan mereka pun seperti terhenti. Mungkin rumah ada yang membangunkan, ternak ada yang mengganti dan ladang ada yang mensubsidi. Tapi tidak begitu saja dengan penghidupan…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(171). Seputar Kali Gendol (16)

Setelah warga yang mengungsi itu kembali dari pengungsian. Hidup dan penghidupan harus dimulai dari awal. Tentu “perlu waktu” untuk dapat menggelinding kembali. Lalu bagaimana mereka harus menjalankan penghidupan selama periode “perlu waktu” itu? Adakah yang akan menjamin, setidak-tidaknya membantu memutar roda hidup dan penghidupan mereka? Ruh yang bernama kepedulian memang tak pernah selesai apalagi mati…

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-

(172). Seputar Kali Gendol (17)

Rumah boleh hancur, pepohonan boleh mati, tapi sang merah putih harus tetap berkibar membelah angkasa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman…

(Sebuah bendera merah-putih berukuran sedang, berkibar di atas tiang bambu yang menjulang tinggi di sela puing-puing rumah dan pepohonan yang hancur dan terbakar).

(Yogyakarta, 6 Desember 2010)

——-