Posts Tagged ‘sarapan’

Pagi Di Karossa

28 November 2010

Pagi di depan pasar Karossa, di pertengahan jalan poros Trans Sulawesi Mamuju – Palu

Karossa, 28 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Menikmati Roti Bakar Tersisa

18 Oktober 2010

Akhir-akhir ini ibunya anak-anak dan anak-anaknya juga, suka sekali beli roti bakar saat malam. Biasanya tidak habis dimakan, paginya masih tersisa, ya pasti sudah tidak enak lagi. Akhirnya dibuang ke kolam ikan di belakang rumah, jadi sarapan ikan-ikan. Lama-lama para ikan jadi kesenangan sering sarapan roti. Harus ada solusi.

Sisa roti bakar dimasukkan dalam kocokan sebutir telor ayam (kalau telor angsa kegedean), lalu digoreng dengan mentega pada api kecil. Huuu.., hoenaknya..

Yogyakarta, 8 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Sarapan Nasi Goreng Ndeso

23 September 2010

Pagi tadi ibunya anak-anak masak sop: sawi hijau, kol + bunganya, sosis, bakso, untuk sarapan. Tapi kutolak, aku memilih sarapan bikin sndiri, nasi goreng ndeso: cengek, bawang merah, garam, terasi, kemiri untuk pengganti micin, sedikit kemangi untuk pengharum, tanpa kecap. Hmm, serasa ndeso tenan..

Lalu sop buatan istri? Ya dilahap banyak-banyak setelah itu (jangan dimubazirkan, enak je..). Sarapannya tetap nasi goreng, sedang sop itu menu sesudahnya..

Yogyakarta, 20 September 2010
Yusuf Iskandar

Sarapan Rujak

28 Juli 2010

Tangan pak Sugiono asal Wonosari tampak terampil sekali mengulek sambal, memotong buah dan menyajikan sepiring rujak nenas, bengkuang, pakel, mentimun, pepaya. Orang Jogja menyebutnya lotis (buah dan sambalnya terpisah). “Sudah hafal rumusnya”, katanya.

Jam terbangnya sebagai tukang rujak sudah 15 tahun. Pagi ini saya menjadi pembeli pertamanya. Pagi ini pula saya sarapan rujak. Mak nyusss.., bukan karena enak tapi perutku kaget tiba-tiba diisi rujak…

Yogyakarta, 24 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Kurang Asin

11 Juni 2010

Pagi tadi ‘boss’ saya masak tumis kangkung + telur sayur untuk sarapan. Tidak sabar dengan aromanya, saya menyantapnya duluan. Selesai sarapan lalu saya tanya ‘boss’: “Tadi sempat mencicipi tumisnya?”.

Jawabnya: “Belum, memang kenapa?”.
Lalu jawabku: “Yaaa…, sebagai suami yang baik dan tidak sombong, saya harus mengatakan… uenak tenaaan!”.
Sesaat kemudian giliran ‘boss’ saya mencicipi, lalu katanya: “Ho-oh, kurang asin yo.…”

Yogyakarta, 8 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Pilihan Di Awal Senin

18 Januari 2010

Mengawali Senin dengan harus membuat pilihan: Bersepeda lalu mampir sarapan soto atau beli sarapan soto naik sepeda… Gara-gara pagi umun-umun sudah diusir ‘boss’ saya, katanya: “Sudah sana pergi, daripada di rumah ‘gangguin’ aja…”. Ah, yo wis

Yogyakarta, 18 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Bersepeda Lalu Sarapan Rawon

13 Januari 2010

Bersepedaaaa… (lagi, setelah break 2 minggu karena ke Rinjani). Olahraga? Yaa… sedikitlah, yang pentingnya mampir warung di pinggir jalan sarapan rawon…

(Mampir ke warung soto dan rawon di Jl Sorogenen, Nitikan, Jogja. Rasanya standar saja….)

Yogyakarta, 10 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Bersepeda Ke Kota Gede

24 Desember 2009

Persiapan fisik hari ke-4 (H-7) : Pagi ini kayuhan ditambah…….

Bersepeda ke Kota Gede mengayuh perlahan-lahan/
Mampir makan gudeg pengganjal perut berselonjor kaki nglarasss…./
Bukan soal mau olahraga atau beli sarapan/
Melainkan sekedar mengeringkan rambut karena pagi-pagi sudah keramassss…

(Uuuuh, lha wong jagat seperti ini indahnya kok ya sempat-sempatnya korupsi…..)

(Gudeg Bu Sri, Jl. Karanglo, Kotagede, Jogja)

Yogyakarta, 24 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Gudeg

23 Desember 2009

Hari kedua cek fisik : bersepeda keliling kecamatan, lumayan berkeringat, menempuh 4-5 km. Lalu beli gudeg di ujung gang, sarapan pagi…. Wow, Jogja biyangeth…!

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Tempe Sambal Bawang

21 Desember 2009

Menu sarapan favorit saya adalah : nasi putih + tempe goreng + sambal bawang cabe rawit yang baunya seperti gas bocor….. Sekali waktu, tiga piring nasi bisa bablasss hanya dengan menu ndeso itu… (walau sejam kemudian nabrak-nabrak ke WC akibat cabe rawitnya kebanyakan)

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono

9 Februari 2009

Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka tujuh, tapi cuaca pagi di Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari rada kesulitan menebar lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. Saat sedang menikmati sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing menoleh ke luar rumah karena terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : “Megono……, megono……”. Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan dengan air sumur yang dingin.

Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu paruh baya bergaun hijau kusam yang sedang berjalan melenggang sambil menggendong bakul atau tenggok itu sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi megono, nama makanan yang dijajakannya.

Menu sarapan pagi nasi megono sepertinya sudah menjadi bagian keseharian warga masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang pas untuk menggambarkan suasana ini adalah : “Serasa belum sarapan kalau belum menyantap nasi megono”, atau lebih ekstrim lagi dikatakan “tiada hari tanpa nasi megono”. Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di daerah Pekalongan dan Temanggung, meski agak beda komponen produknya.

Penjual nasi megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota Wonosobo setiap pagi hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya masyarakat Wonosobo pun bisa membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan rumah dengan praktis dan berbiaya murah. Sebungkus nasi megono yang dibungkus daun pisang berlapis kertas seadanya bisa diperoleh dengan pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,- tergantung takaran dan menu tambahannya.

Citarasa masakan setiap orang pasti tidak sama meskipun racikan bumbunya sama, maka biasanya setiap orang sudah memiliki bakul favoritnya masing-masing. Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun Karangkajen, desa Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi megono (atau terbalik, bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman saya….). Masakan nasi megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap pagi Bu Peno yang berparas ayu seperti dawet Banjarnegara, selalu menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu untuk menjajakan nasi megono. Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan sportif dengan lilitan kain kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus dengan berkaus ketat plus celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap bak satpol PP siap beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera membungkus nasi megono sebanyak yang dipesan.

Kopi secangkir yang belum sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu gantian membedah bungkusan nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul yang masih panas kebul-kebul, dilengkapi setoples peyek teri pun menemani sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm….. nikmat benar (mengingatkan saya akan sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi megono yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi di kala udara Wonosobo yang masih dingin.  

Sebungkus nasi megono yang tampilan warnanya semburat kecoklatan itu sepintas memang telihat kurang membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah sedikit, hirup aroma wanginya, sempatkan menelisik komponen produknya, lalu cicipi sedikit demi sedikit. Maka itu adalah hasil pencampuran nasi dan sayur-mayur antara lain daun pepaya dan polong atau kol hijau yang dirajang kecil-kecil, diramu dengan parutan kelapa muda, dan dimasak bersama-sama dengan cara dikukus atau orang Jawa menyebutnya di-dang. Hasilnya adalah nasi megono yang gurih dan hoenak, beraroma merangsang selera dan nyamleng tenan…..

Mengunyah dan menelan nasi megono, diselang-seling dengan menggigit tempe kemul (tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung beras ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk peyek teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh nikmat. Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja mengandung nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau kini merantau di tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi alami.

Di Temanggung ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono, tapi campurannya lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak dijumpai saat tiba musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus seharian berada di sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau sudah berganti.

Di Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang disajikan terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya berupa buah nangka muda atau gori yang dirajang agak kasar, lalau dikukus bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. Makanya lebih beraroma wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono Pekalongan bisa merupakan perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati bersama menu pelengkap berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, balado telor, ikan asin dan lalapan mentimun.

Sajian nasi megono Wonosobo agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani (membuat ketagihan). Karena itu, sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi megono jika sempat menjumpai suasana pagi hari dan kebetulan pas berada di kota Wonosobo.

Yogyakarta, 9 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

12 Desember 2008

Tiba di bandara Cengkareng masih agak pagi. Paling enak ya ngopi dulu. Tidak banyak pilihan tempat ngopi di seputar terminal kedatangan. Seperti sering saya lakukan, akhirnya mampir ke warung ayam goreng Kentucky (KFC). Bukan untuk beli ayamnya, tapi sekedar minum kopinya. Entah apa kopi bubuknya, tapi jelas bukan paling enak, melainkan sekedar pokoknya ngopi…. dan ngudut…..

Baru beberapa saat duduk ngobrol sambil nyruput kopi, datang beberapa anak anggota laskar penyemir sepatu menawarkan diri untuk menyemir sepatu saya dan teman-teman saya. Dengan halus saya tolak karena memang saya tidak terbiasa menyemirkan sepatu di tempat umum, meski sebenarnya di rumah juga jarang saya menyemirnya. Paling-paling saya seka dengan lap saja.

Anak-anak itu ngotot menawarkan jasanya. Malah mengolok-olok kalau sepatu hitam saya kotor. Weleh…, lha sepatu saya belum dua bulan umurnya masak dibilang kotor. Itu juga bukan sepatu bermerek hasil membeli di toko, melainkan ndandakke…., pesan khusus di tukang sepatu pinggir jalan di Jogja. 

Terpancing juga saya untuk melongokkan kepala ke bawah memeriksa sepatu saya. Jelas masih tampak bersih meski tidak mengkilap. Tapi anak itu setengah merengek terus meminta untuk menyemirnya. Akhirnya luluh juga pertahanan saya. Sesaat kemudian sepatu saya sudah bertukar dengan sandal jepit. Anak itu lalu ndeprok (duduk di lantai) di pojok kedai KFC menyemir sepatu saya. Sepatu teman saya juga ikut disemir oleh anak lainnya. Saya perhatikan kedua anak itu begitu asyik menyemir sepatu sambil saling ngobrol di antara mereka. Rupanya ada seorang temannya yang ikut nimbrung.  

***

Tidak perlu waktu lama bagi anak-anak itu untuk nyemir sepatu. Segera mereka menyerahkan sepatu yang sudah selesai disemirnya. Entah kenapa saya tidak lagi tertarik melihat hasil semirannya, melainkan saya pegang pundak salah seorang yang paling kecil diantara mereka yang berdiri tepat di sebelah kiri saya, dan saya tanya : “Sudah sarapan?”. Mereka hanya kleceman (tersenyum malu) saja. Saya ulangi pertanyaan saya, dan seorang yang lebih besar menjawab malu-malu : “Belum”.

Lalu saya suruh mereka bertiga mengikuti salah seorang teman yang saya minta menemani mereka ke kasir untuk pesan sarapan pagi. Sambil menyimpan semir di sakunya, mereka pun segera beriringan menuju kasir KFC untuk pesan makanan. Tidak lama kemudian mereka kembali dengan membawa nampan berwarna coklat berisi nasi, ayam goreng dan softdrink. Saya suruh mereka duduk di sebuah meja kosong tidak jauh dari tempat saya duduk. Kali ini tidak lagi saya melihat wajah malu-malu mereka, melainkan dengan lahap mereka menghabiskan sarapannya.

Saya penasaran, apakah mereka ini tidak sekolah kok pagi-pagi sudah kluyuran di bandara. Segera saya berpindah duduk dan bergabung dengan ketiga anak itu menempati sebuah kursi yang kosong diantara empat kursi yang tersedia.

Diantara mereka bertiga, ternyata Muslim (9 tahun) masih duduk di kelas 3 SD dan Amat (12 tahun) saat ini kelas 6 di sebuah sekolah di dekat rumahnya di Tangerang. Sedangkan Yudi sudah berhenti sekolah sejak lulus SD tahun lalu.

Muslim yang terlihat paling kecil dan sumeh, setiap hari sekitar jam 5 mulai mengayuh sepedanya menuju bandara berbekal semir dan kain lap. Perlu waktu sekitar sejam untuk menuju bandara dari rumahnya. Sedangkan Amat terkadang harus naik ojek mbayar Rp 10.000,- sekali jalan. Karena masih sekolah dan masuknya siang, maka sekitar jam 11 biasanya mereka sudah pulang untuk segera berangkat ke sekolah. Kalau lagi bernasib baik, mereka bisa mengumpulkan uang lebih dari Rp 50.000,- untuk setengah hari bekerja sebagai penyemir sepatu di bandara.

Mereka bertiga hanyalah sebagian dari puluhan anak-anak laskar penyemir sepatu di bandara yang keberadaannya sering menjadi dilema bagi orang lain. Tapi pasti tidak bagi mereka. Jangankan mereka perduli dengan dilema tentang manajemen bandara, memahami keberadaannya saja tidak. Bagi mereka, asal bisa mengais sedikit rejeki yang betebaran di bandara hari itu untuk dibawa pulang, kiranya sudah cukup.

Ketika saya tanya : “Uangnya buat apa?”. Mereka menjawab untuk ditabung. Saya tersenyum menyambut jawabannya. Itulah jawaban yang memang saya harapkan.

Ketika saya tanya lagi : “Setelah terkumpul lalu untuk apa?”.

Si kecil Muslim menjawab untuk beli baju. Waduh, jawabannya agak membuat saya kecewa. Tapi segera saya coba berpikir positif. Jangan-jangan, baju pun masih menjadi kebutuhan dasar sandang yang belum terpenuhi bagi keluarganya Muslim yang orang tuanya pengangguran. Ya, beli baju bisa jadi konsumif, tapi itu bagi mereka yang kebutuhan dasar sandangnya sudah terpenuhi.  

Lain lagi jawaban si Amat : “Untuk beli play station“, katanya.

Wah…., saya agak mengernyitkan dahi. Kok jadi lebih konsumtif, pikir saya. Saya penasaran, dalam hati saya merasa kecewa dengan jawaban itu. Lalu saya desak lagi : “Kenapa beli play station?”.

Kini jawabannya justru membuat saya agak terperangah : “Untuk di-rental-kan, dan kakak saya yang ngurusnya..”.

Saya jadi terdiam sesaat. Dalam hati saya berkata, mletik (cemerlang) juga pikiran anak ini. Itu berati sudah tumbuh semangat wirausaha dalam diri si Amat yang mengaku orang tuanya bekerja mengumpulkan plastik akua (kata lain untuk pemulung). Semangat yang memang kelak akan sangat diperlukan oleh anak-anak yang tumbuh di lingkungan marginal seperti mereka.

Saya tidak sedang mempersoalkan aspek positif atau negatif dari bisnis persewaan play station, melainkan saya ingin memberi apresiasi pada jiwa kewirausahaan yang tumbuh dalam diri anak ini. Jiwa kewirausahaan yang dapat tumbuh dimana saja dan kapan saja, tanpa perlu hitung-hitungan yang rumit. Sedang mereka yang sudah berpendidikan tinggi pun tidak mudah untuk membangkitkan semangat entrepreneurship pada diri mereka.

Sebelum mereka beranjak pamit untuk melanjutkan pekerjaannya pagi itu, sempat saya tanyakan : “Sampai kapan kalian mau nyemir?”. Dan, mereka bertiga pun hanya nyengir.…. Saya tahu ini pertanyaan bodoh dan penuh basa-basi. Tapi saya tanyakan juga, karena sesungguhnya seringkali saya memperoleh jawaban tak terduga yang inspiratif dari anak-anak yang semangatnya juga tak terduga ini.

Anak-anak itu pun segera berlalu setelah menerima sekedar uang semir (tapi halal) dan mengucapkan terima kasih, untuk melanjutkan menjual jasa penyemirannya kepada pemilik sepatu lainnya. Pekerjaan yang tanpa lelah terus dijalaninya sejak 2-3 tahun yang lalu.

***

Pagi itu, saya hanya ingin sekedar berbagi kebahagiaan kecil dengan anak-anak penyemir sepatu bandara Cengkareng. Setidak-tidaknya bagi Yudi, Muslim dan Amat. Meski saya juga tahu, belum tentu mereka bisa menikmati secuil kebahagiaan yang saya niatkan untuk berbagi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tapi ada banyak pelajaran telah saya temukan.

Yogyakarta, 11 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(2).  Sarapan Ketupat Haruan 

Selasa pagi keesokan harinya, sebelum meninggalkan Rantau untuk meneruskan perjalanan ke utara menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan, tentu perlu mengisi bahan bakar. Ya untuk mobil, ya untuk perut penumpangnya. Mampirlah kami ke sebuah warung tempat biasa mangkal para pegawai dan pekerja untuk sarapan. Menunya ketupat dengan lauk kari ikan haruan. Pokoknya, pilih menu yang tidak ada di tempat lain. Minumnya teh panas. Berbeda dengan daerah Sumatera, di kawasan Kalimantan yang saya temui baru pertama kali ini rupanya kebiasaan minum kopi tidak mentradisi. Kalau mau ngopi ya bikin sendiri. Makanya jarang kita dengar ada kopi Kalimantan.

Tersajilah sepiring potongan ketupat, lalu secawan kuah sejenis kari dengan sepotong kepala ikan haruan di atasnya. Lho, kok tidak ada sendoknya? Saya pun tolah-toleh mencari sendok. Tapi teman yang duduk di sebelah saya yang asli Rantau memberitahu, bahwa tradisi masyarakat Rantau makan ketupat haruan tidak pakai sendok. Maka saya pun lalu turun tangan, maksudnya makan pakai tangan. Lha piye iki, ketupat digrujug kuah kari lalu dimakan pakai tangan. Lhadalah….., sepotong ketupatnya remuk, terpaksa butiran nasinya dijumputi pakai jari. Tapi yang paling hoasyik dan hoenak adalah ketika tiba waktunya nithili endas iwak (makan kepala ikan sedikit demi sedikit sampai tuntas-tas-tas-tas…..).

Sebenarnya nama yang benar untuk makanan khas Kalimantan Selatan atau tepatnya masyarakat Banjar ini adalah ketupat kandangan, merujuk pada nama kota Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan. Namun karena bentuk ketupat yang kami sarap di Rantau pagi itu agak berbeda dengan ketupat dari Kandangan, meski kuah campurannya sama, yaitu kuah ikan haruan, maka saya sebut saja ketupat haruan. Jadi kalau kebetulan lain kali berkesempatan mampir di Kalsel, carilah ketupat kandangan, bukan ketupat haruan.

Ikan haruan, mulanya saya tidak tahu juga ini ikan jenis apa? Rupanya ikan haruan ini adalah nama lain untuk ikan gabus, yang kalau di kampung saya disebut ikan kutuk, bentuknya mirip-mirip lele. Prejengannya (profil mukanya) menakutkan seperti kepala ular. Tapi rasanya , bo….. Gurih dan huenak tenan. Tingkat kelezatannya berbeda dengan ikan sejenis yang ada di Jawa atau tempat lain (kata orang yang pernah mencicipi ikan haruan di tempat lain). Untuk mengimbangi kelezatannya, terpaksa kepala ikannya nambah satu porsi lagi.

***

Ikan haruan atau gabus (Ophiocephalus striatus atau Channa striatus) adalah jenis ikan yang banyak hidup di rawa-rawa, bahkan di genangan-genangan air yang masam di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan ikan haruan adalah makanan rakyat Banjar yang umumnya disantap bersama ketupat kandangan. Inilah makanan yang menduduki nilai penting dalam hidangan makanan khas Kalsel. Bahkan untuk ikan haruan berapa pun harganya di pasaran akan dibeli warga demi melengkapi hidangan makanan khas, terutama untuk hidangan ketupat kandangan.

Kini kabarnya ikan haruan ini semakin langka diperoleh di habitatnya di Kalsel. Terutama sejak maraknya dilakukan perburuan anak-anak ikan haruan untuk umpan ikan hias louhan. Sehingga membuat ikan haruan dewasa semakin sulit diperoleh. Padahal selain kelezatannya yang tak tertandingi, katanya, ikan ini juga sebenarnya mempunyai keunggulan lain yaitu sangat bermanfaat untuk penyembuh luka.

Ikan, jenis karnivora yang nenek moyangnya berdomisili di Asia ini pernah mau dimusnahkan dan dicekal masuk ke Amerika. Jenis ikan yang termasuk rakus dan kanibal ini bagi Amerika menjadi mahluk yang menakutkan. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di Kalsel malah menduduki posisi ekonomi yang cukup penting.

Pernah tercatat di Banjarmasin, bahwa kelangkaan komoditas ikan haruan dan beberapa jenis ikan lokal di sana bisa menjadi penyebab terdongkraknya angka inflasi. Agak aneh kedengarannya jika dibandingkan dengan pemicu inflasi di kota-kota lain yang biasanya didorong oleh sektor jasa, properti, atau permintaan barang-barang konsumsi lainnya. Sumbangan perubahan harga ikan haruan bisa menduduki urutan teratas dari 10 komoditas di Kalsel yang menjadi pendorong inflasi. Masyarakat Kalsel memang “maniak” dengan ikan lokal, terutama haruan. Maka wajarlah kalau berapa pun harga ikan haruan akan tetap dibeli oleh masyarakat.

Sementara di Malaysia, ikan ini dipercaya sangat mujarab menjadi penyembuh luka dan amat ampuh untuk pemulihan kesehatan luka bagi ibu sehabis bersalin. Sejak tahun 1931, menurut literatur Malaysia telah menganjurkan pengobatan luka dengan haruan. Perguruan  tinggi di Malaysia hingga kini pun terus meneliti khasiat haruan. Ini karena diindikasikan  di dalam tubuh ikan haruan terkandung semua asam amino esensial dan asam lemak unik yang mampu mempercepat penyembuhan luka.

Sedangkan di Indonesia, penelitian ikan haruan sebagai obat penyembuh luka masih sangat minim. Publikasi penelitian ikan haruan untuk obat di Indonesia baru terpantau dalam penelitian Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS awal Januari 2003 lalu. Penelitian yang mengungkap pemanfaatan ekstrak ikan gabus sebagai pengganti serum albumin yang biasanya digunakan untuk menyembuhkan luka operasi, telah mengantarkan Eddy Suprayitno meraih gelar profesor pertama di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang.

Dari informasi yang sempat saya gali, mengungkapkan kalau penelitian di Indonesia masih terus mengembangkan pembuatan ekstrak untuk obat oles atau serbuk untuk obat luar. Sementara di Malaysia, pembuatan krim dan tablet tersebut sudah dilakukan sejak dulu kala.

***

Barangkali nasehat yang pas akan berbunyi : jangan hanya menikmati kehoenakannya, tapi raih pula manfaat sampingannya. Alangkah bagusnya kalau ada pihak-pihak yang mau secara lebih intensif menggali potensi yang luar biasa dari ikan haruan ini untuk manfaat yang lebih besar. Kurang apa lagi kekayaan yang dimiliki negeri tercinta ini, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Di bawahnya ada batu bara, di atasnya ada kayu, di sela-selanya ada rawa-rawa yang dihuni ikan haruan.

Sementara belum “sempat” diteliti, ya dimasak dululah untuk sarapan bersama ketupat. Hmm…..

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar