Archive for Juni, 2009

Repotnya Memilih Jurusan Kuliah

30 Juni 2009

Anak saya sudah diterima dan mbayar untuk Jurusan Ekonomi Manajemen. Lha kok tiba-tiba bilang mau pindah Jurusan Ekonomi Akunting, dengan resiko ongkos yang (sudah dibayar) kemarin hangus dan (harus) mbayar lagi yang jumlahnya jut-jutan….

Sik..sik..sik….., ini bukan soal uang dan boleh atau tidak boleh, melainkan membuat keputusan yang tepat. Maka mulailah saya jalankan salah satu tugas ortu, yaitu “ceramah”, yang ujungnya adalah : “Nduk, malam ini jangan tidur terlalu malam, biar bapak pikir sambil tidur dulu…”.

(Sebelumnya anak pertama saya ini sudah mantap diterima di Jurusan Ekonomi Manajemen program internasional UII — Universitas Islam Indonesia — Yogyakarta, melalui jalur test penerimaan paling awal, sebelum ada kelulusan UAN, saya lupa apa nama programnya… Saking mantapnya sampai tidak mau lagi mendaftar kemana-mana termasuk test masuk perguruan tinggi negeri).

Yogyakarta, 29 Juni 2009
Yusuf Iskandar

***

Setelah bangun esok paginya, barulah ditelisik satu-satu duduknya perkara (ini “ceramah” jilid 2). Kesimpulannya, saran saya begini :

  1. Memastikan apa sih sebenarnya yang terjadi kok ora ono udan ora ono angin ujuk-ujuk kepingin pindah jurusan. Tim kampanye siapa yang telah berhasil mempengaruhi pilihan anak saya yang sebelumnya sudah mantap tenan dengan pilihannya. Setelah itu diurai satu-satu solusinya.
  2. Meminta anak saya untuk cari info/diskusi/konsultasi/dsb selengkap-lengkapnya dengan pihak manapun agar diperoleh gambaran lebih jelas (ya… mirip2 analisa SWOT…) tentang masing-masing jurusan itu.
  3. Barulah kemudian dibuat keputusan.

    Namun sebelum palu diketuk (inilah yang saya maksud jangan tidur terlalu malam), sempatkan untuk sholat tahajud dan istikharah (sesuai ajaran agama yang dianut anak saya).

    Begicu yang terjadi keesokan harinya… Hasilnya? Saya pun menunggu…. Salam utk semua.

    Yogyakarta, 30 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Iklan

    Anakku Mau Mendaki Sindoro

    27 Juni 2009

    Malam ini anakku minta ijin besok mau mendaki gunung Sindoro. Kali ini saya tidak gusar karena ada guru pembinanya yang menyertai. Sambil klecam-klecem lalu minta uang saku 200 ribu +++….. Ijinnya tak seberapa, uang sakunya ituuu…..

    Tapi okelah, anggap saja pengganti janji saya mau ngajak ke gunung Rinjani tapi belum bisa saya penuhi karena kesibukan lain. Dasar ortu…, alasannya sibuk melulu, entah urusan apa, begitu pikir anakku……

    (Ini adalah pendakiannya ke gunung Sindoro, 3153 mdpl, untuk yang kedua kalinya dan berombongan dengan teman-teman sekolah dan pembinanya. Pendakiannya yang pertama beberapa bulan yang lalu hanya berdua dengan pembinanya. Sebenarnya saya kepingin ikut mendaki juga, tapi ya itu tadi…., sebagai ortu ada kesibukan lain yang bersamaan waktunya).

    Yogyakarta, 27 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Dari Debat Capres Putaran Kedua

    26 Juni 2009

    Dari debat capres semalam, saya jadi tahu apa yang ada di pikiran mereka, bagaimana cara mikirnya, serta bagaimana mereka menata, mendudukkan dan berbagi buah pikirannya. Hasilnya, mempersempit pilihan saya. Satu kandidat presiden saya eliminasi dari pertimbangan. Tinggal dua yang masih saya beri kesempatan untuk bisa meyakinkan sebagai yang terbaik (ya diantara dua itu saja….., wong pilihannya ya itu…..).

    (Semalam melihat dan menikmati Debat Capres putaran kedua melalui siaran televisi, kecuali “pariwara berikut ini”….)

    Yogyakarta, 26 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Menandai “Daerah Kekuasaan”

    23 Juni 2009

    IMG_2867_r1

    Jalan lintas antara Jambi – Muara Bulian dapat ditempuh melalui jalan pintas melalui kawasan kebun sawit Asian Agri (sering disebut jalur Nes). Selisih jarak dibanding dengan jalur utama sebenarnya hanya sekitar 6 km, tapi kondisi jalan pintas ini lebih baik, relatif lurus dan kurang padat meskipun lebih sempit.

    Saat hari menjelang senja, saking tidak kuatnya menahan hajat kecil, seorang teman memaksa sopir untuk berhenti sebentar di sebuah kawasan kompleks perumahan Villa Ratu Mas yang belum berpenghuni, guna menandai “daerah kekuasaan” di pojok gapura. Setelah itu, plong rasanya…..

    IMG_2778_rIMG_2781_r

    Jambi, 20 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    “Maximum Security”

    22 Juni 2009

    IMG_2752_r

    Sandal kok bolak-balik hilang….

    Mulanya cuma dipinjam tanpa bilang,
    kemudian setiap kali diperlukan selalu tidak ada,
    akhirnya pergi lama sekali dan tidak kembali lagi….

    Maka, upaya pengamanan maksimum harus diterapkan.

    Koto Buayo – Jambi, 18 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Sepenggal Doa Di Bawah Truk

    22 Juni 2009

    IMG_2777_r

    Dalam perjalanan dari kota Jambi menuju Muara Bulian, di depan kijang yang saya tumpangi terdapat sebuah truk yang melaju ke arah yang sama. Ternyata di bagian bawah belakang truk itu terdapat tulisan yang merupakan sepenggal doa, yang bunyinya sbb.:

    “Ya… Allah.Ampunilah dosa-dosaku.
    Selama ini aku mengambil kesenangan
    di atas penderitaan orang lain”

    Entah siapa yang pantas memanjatkan doa ini…

    Jambi, 19 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Cita-cita Anakku

    21 Juni 2009

    Sampai di rumah di Jogja, ibunya anak-anak menunjukkan buku kenang-kenangan SMP anakku, SMP Islam Terpadu Abu Bakar di Umbulharjo Jogja,  yang tadi malam diwisuda tapi tidak sempat menghadiri acaranya.

    Dalam buku kenang-kenangan SMP, tiap siswa menuliskan cita-cita, pesan dan kesan. Kebanyakan menulis cita-citanya jadi dokter, ustadz, pengusaha, dosen, ahli ini-itu sampai jadi menteri. Tapi anakku menulis cita-citanya : menaiki semua gunung di Indonesia….

    Kata ibunya : “Kamu ini memang aneh….”.
    Kata bapaknya : “Insya Allah akan tercapai…”.
    Dan anakku, Noval, cuma tertawa…

    Yogyakarta, 21 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Masjid Seribu Tiang Dan Oleh-oleh Pempek

    21 Juni 2009

    Pagi tadi setelah check out dari hotel Formosa, Jambi, sebelum sarapan di luar singgah dulu di masjid seribu tiang, Al Falah, Jambi. Jumlah tiangnya 323. Puluhan tiang berlapis tembaga buatan Boyolali, dinding ukirannya buatan Jepara.

    IMG_2884_r

    IMG_2897_rIMG_2902_r

    ***

    Alhamdulillah, dari Jambi numpak singo (naik singa) dan sudah tiba kembali di Jogja. Bawa oleh-oleh kopi Jambi ‘AAA’ dan pempek ‘Selamat’. Pempeknya ini lho…. kok terasa beda dan hoenak sekale… dibanding yang biasa saya beli di Jogja…. Pantesan, langsung babalasss disikat anak-anak….

    Yogyakarta, 21 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Mendadak Harus Segera Kembali Ke Jogja

    21 Juni 2009

    Mendadak besok harus pulang ke Jogja, karena mendapat tilpun dari istri yang mengabarkan bahwa ibu mertua opname masuk rumah sakit, di Jogja… Setelah menerima kabar itu, maka saya putuskan untuk mempercepat kunjungan ke Jambi. Akhirnya dapat tiket juga meski hari-hari ini penerbangan lagi padat-padatnya.

    ***

    Malam ini capek banget (tapi tetap saja tidurnya larut malam…). Setelah seharian tadi mengunjungi pelabuhan batubara di tepian sungai Batang Hari di Talang Duku, lalu meluncur 140 km menuju tambang batubara di Koto Buayo, kab. Batang Hari, sambil observasi dua jembatan sungai Batang Hari di jalan lintas yang menuju Pekanbaru dan Padang… Enjoy aja….

    IMG_2840_rIMG_2842_r

    Foto : Salah satu aktifitas di pelabuhan tongkang batubara di sungai Batanghari, Talang Duku, Jambi.


    ***

    Dalam perjalanan menuju ke lokasi tambang, sempat makan siang di warung Unibaru, persis di depan gerbang masuk ke kampus Universitas Jambi (Unjam) agak ke kanan sedikit. Menunya pindang patin dan soto ceker… Suasana warungnya lumayan santai meskipun berada di tepi jalan raya yang ramai dan panas.

    IMG_2861_rIMG_2863_r

    ***

    Makan malam di Pondok Pindang ‘Sarinande’, Simpang Pulai, Jambi. Menu unggulannya memang pindang (entah pindang khas mana ini…). Ada pindang patin, pindang kerang, petai udang, cah kangkung, cumi asam anis, dan dilengkapi dengan mnuman sari nanas… Mak glegek

    IMG_2873_rIMG_2875_rIMG_2878_rIMG_2881_r

    ***

    Tadi siang istri saya kirim SMS, ada kabar mengejutkan kalau anak saya yang ‘gila gunung’ bahasa Inggris UAN SMP-nya dapat 9,4. Istri saya surprise sebab bahasa Inggris adalah pelajaran yang tidak disukainya dan selama ini ogah-ogahan kalau disuruh belajar coro Londo karena menurutnya tidak ada gunanya.

    Sebuah ‘keberuntungan’ (yang saya percaya) sebagai buah dari semangat dan kemauan kerasnya untuk bisa, sebab dia tahu selama ini ortunya sering khawatir. Sekali lagi, kita sering under estimate terhadap anak-anak kita….

    Jambi, 20 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Makan Malam Di Pasar Mayangsari Jambi

    19 Juni 2009

    Tadi pagi sarapan di Toko Kopi (toko tapi warung…) ‘Sari Rasa’ di Jl. Hayam Wuruk, dekat simpang Jelutung, Jambi. Kopi jambi panas, susu kedelai hangat, nasi gemuk komplit (sudah gemuk, komplit lagi…). Ini tempat sarapan yang selalu ramai setiap pagi.

    IMG_2769_rIMG_2771_rIMG_2774_rIMG_2773_r

    ***

    Malamnya makan di pasar ‘Mayangsari’ (entah kenapa namanya demikian), di Jl. Mr. Assa’at. Pilih menu kari kambing, daging tunjang. Ada juga udang galah goreng. Umumnya disediakan masakan menu Padang.

    IMG_2836_r1IMG_2837_r

    ***

    Tidak ada ‘Tambal Ban’ di Jambi, adanya ‘Tempel Ban’. Tadinya saya pikir salah tulis atau tulisan iseng. Rupanya memang begitu istilah yang berlaku umum di Jambi dan beberapa kawasan di Sumatera.

    IMG_2784_rIMG_2785_r

    ***

    Banyak BH betebaran di Jambi (BH adalah plat nomor polisi Jambi, seperti halnya BG untuk wilayah Sumsel, BE untuk Lampung, BD untuk Bengkulu, BM untuk Riau, dsb.)

    IMG_2869_rIMG_2904_r1

    Jambi, 19 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Nasi Gemuk, Menu Nusantara Dan Sop Kaki Kambing

    18 Juni 2009

    Sarapan pagi nasi gemuk (alias nasi uduk) di warung pinggir jalan, di desa Koto Buayo, Kab. Batang Hari. Minumnya teh cap Singa beraroma vanillin (alias vanila), produksi dari Pematang Siantar. Berbeda dengan teh umumnya di Jawa yang biasanya beraroma harum bunga melati, di Sumatera lebih disukai yang beraroma vanilla….

    IMG_2750_rIMG_2744_r

    ***

    Makan siang di RM Pagi Sore cab. Jambi, menu padang-nusantara. Banyak pilihan, ikan seluang goreng keringnya enak euy…. Menu lainnya standar di indra pencecap. Suasana restonya cukup nyaman.

    IMG_2759_rIMG_2758_r

    ***

    Habis makan malam sop kaki kambing ‘Tiga Bersaudara’ di cabang Simpang Jelutung, Jambi. Ambil sendiri kikil, lidah, kuping, jerohan kambing, lalu diramu jadi sop. Kembali masuk hotel perut kemlakaren.., kekenyangan…. Wuih.

    IMG_2760_rIMG_2763_r

    Jambi, 18 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Bermalam Di Koto Boyo, Jambi

    17 Juni 2009

    IMG_2705_rMakan siang di Muara Bulian, ibukota kabupaten Batang Hari, Jambi. Ketemu menu kepala ikan patin bumbu kuning, udang sungai goreng kering, acar ketimun + kacang panjang, nasinya tamboh ciek…… Wusss… Nama warungnya, Rumah Makan “Yusuf” (eit… kok sama), di Jl. Gajah Mada, Muara Bulian.

    Ketika beberapa menit kemudian melanjutkan perjalanan, lalu mulailah ngantuk…..

    IMG_2701_rIMG_2703_r

    ***

    Malam ini bermalam di desa Koto Boyo (atau Koto Buayo), kec. Batin XXIV, kab. Batang Hari,  lebih 100 km arah barat daya kota Jambi. Sebuah kawasan stockpile (tempat penimbunan) hasil galian batubara dari sebuah tambang kecil batubara.

    Fasilitas akomodasinya masih sangat sederhana, dikelilingi pepohonan kebun karet. Bukan soal menginapnya, tapi cuaca poanas nian, debu berhamburan, air sumur kering, mau mandi syusyahtobat tenan!

    IMG_2786_rIMG_2788_r
    IMG_2737_r
    IMG_2738_r

    ***

    Berkat Tsel Flash, saya bisa ngonline dari pelosok mana-mana…., meski harus dengan memperkuat syaraf sabar dan syaraf anti jengkel, karena sering lelet….

    Jambi, 17 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Tengkleng Bakar Iga Sapi Omah Solo

    16 Juni 2009

    Jam 11:00 WIB mendarat di Terminal 2 bandara Cengkareng. Secara tak terduga, di pangkalan taksi ketemu sahabat saya mas Yusef Hilmi, seorang trainer motivasi yang sering blusukan ke berbagai kawasan Indonesia untuk berbagi ilmu dan menebar motivasi…..

    ***

    IMG_2694_rSetelah sejak siang meetang-meeting, malamnya dalam perjalanan menuju penginapan di Pejaten Barat, diajak teman mampir ke Resto 30 Omah Solo, Warung Buncit. Menu makan unggulannya tengkleng bakar iga sapi dan minumnya es dawet pasar gede. Solo bangeth….!

    Insya Allah besok pagi terbang ke Jambi…

    Jakarta, 16 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Melihat-lihat Tambang Pasir Di Klaten

    11 Juni 2009

    Sejak siang hingga sore tadi jalan-jalan berkeliling melihat-lihat tambang dan bekas tambang pasir di daerah kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten. Tepatnya di seputaran obyek wisata Deles, di kaki timur gunung Merapi. Ada pemandangan menarik kawasan timur kaki gunung Merapi di satu sisi, dan ada pemandangan tidak menarik bekas galian tambang pasir yang tidak tertangani (tidak dilakukan reklamasi) dengan baik.

    Tambangnya sendiri sebenarnya merupakan kegiatan penggalian mineral industri yang umum dilakukan di kawasan potensial endapan pasir yang hasil galian pasirnya banyak dibutuhkan oleh berbagai sektor pembangunan. Namun terkadang sistem penambangannya tidak ditangani dengan sebagaimana mestinya sehingga terlihat acak-acakan. Biasanya hal itu banyak dilakukan oleh para penambang liar. Menjadi tugas berat bagi pemerintah untuk mengawasi dan mengelola sistem penambangan yang dapat berakibat pada kurang terkendalinya aktifitas penambangan yang cenderung merusak lingkungan. Padahal pada beberapa lokasi yang sistem penambangannya ditangani dengan baik hingga tahap rekamasinya, lahan bekas tambang itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung sektor pertanian agar lebih produktif.

    Para professional yang bergelut di sektor penambangan dituntut untuk berperan serta menata sistem penambangan yang demikian itu.

    Yogyakarta, 11 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    IMG_2647_r

    Salah satu aktifitas penambangan pasir

    Bekas tambang sedang dilakukan reklamasi

    Bekas tambang sedang dilakukan reklamasi

    Bekas tambang yang sudah direklamasi, lalu diolah dan ditanami

    Bekas tambang yang sudah direklamasi dan ditanami

    Para Pendaki Kecil Itu Sudah Kembali

    11 Juni 2009

    IMG_2512_r

    Ketika mengantar anak-anak ke terminal bis Jombor, Jogja, saya dan anak-anak ada kesepakatan untuk memberi kabar via SMS setiap kali dapat sinyal ketika mendaki Merbabu. Kebetulan dua dari keempat anak-anak pendaki kecil itu membekali diri dengan ponsel. Tujuan saya sebenarnya hanya ingin terus memastikan perjalanan mereka dalam rangka menjalankan “kewajiban” sebagai orang tua.

    Menjelang siang, sebuah SMS pendek saya terima. Bunyinya : “Magelang”, yang saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di terminal bis Magelang. Tengah hari datang lagi SMS pendek berbunyi : “Wekas”, yang saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di desa Wekas setelah berjalan kaki dari jalan raya menuju desa terakhir sebagai titik awal pendakian. Oleh anak-anak tempat itu biasa disebut dengan base camp.

    Tidak lama kemudian datang lagi SMS berbunyi : “Masjid”. Dalam bayangan saya anak-anak itu sedang beristirahat di desa terakhir sambil sekalian menunaikan sholat dhuhur di masjid kecil yang ada di sana.  Kurang dua jam kemudian, sekitar jam 15:00 saya menerima lagi SMS pendek : “Pos 1”. Berarti mereka sudah mulai mendaki dan mencapai lokasi yang disebut Pos 1.

    Hingga sorenya, lalu malam menjelang ternyata tidak ada lagi SMS masuk. Itu pasti karena sinyal ponsel sudah tidak sanggup lagi mendaki seiring semakin tingginya rute pendakian. Saya menduga anak-anak malam itu nge-camp di pemberhentian kedua atau Pos 2, sebab menurut informasi di sekitar Pos 2 lokasinya cocok untuk berkemah. Selain topografinya relatif datar, juga ada sumber air. Jika benar demikian, maka anak-anak itu sudah berjalan sesuai dengan rencana pendakian mereka. Esok fajarnya mereka akan melakukan summit attack atau mendaki menuju puncak. Setelah itu lalu langsung turun kembali.

    IMG_2583_r1Esok siangnya saya tungu-tunggu kok tidak ada SMS masuk. Padahal kalau mereka langsung turun gunung mestinya saat tengah hari sudah sampai Pos 1 atau desa Wekas dimana sinyal sudah menunggu di sana. Hingga sore tidak juga ada kabar. Saya coba tilpan-tilpun juga tidak nyambung. Sempat sekali berhasil nyambung, tapi belum sempat bicara banyak kemudian terputus, dan setelah itu susah dihubungi lagi.

    Mulailah pikiran saya mencoba menduga-duga. Kemungkinan yang terjadi adalah baterei HP mereka drop atau tidak bekerja baik, entah karena kebasahan, rusak karena jatuh, atau sebab lain. Kalau kehabisan pulsa rasanya tidak, sebab saat saya hubungi mestinya bisa nyambung. Tapi jelas mereka sudah turun dari puncak dan berada di sekitar Pos 1 karena tadi komunikasi bisa nyambung sebentar meski kemudian terputus lagi. Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah mereka tidak mau memenuhi saran saya untuk menyewa ranger atau penduduk setempat yang diajak menemani mendaki sebagai petunjuk jalan. Kelakuan ini sebenarnya sudah saya cium sebelumnya. Rasa percaya diri mereka tinggi sekali.

    Hingga senja hari belum juga ada kabar dari anak-anak. Padahal menurut rencana mestinya mereka sudah turun dan setidak-tidaknya dalam perjalanan kembali ke Jogja. Kemungkinan terburuk adalah mereka bermalam di jalan sebelum mencapai desa terakhir, entah karena cuaca tiba-tiba berubah buruk atau sebab lain. Kalau hal terakhir itu yang terjadi mereka sudah siap dengan bekal lebih yang mereka bawa, minimal untuk satu hari kemudian.

    Salah seorang orang tua dari teman anak saya sudah dua kali menilpun menanyakan kabar anaknya, yang katanya sudah mencoba menghubungi HP-nya tidak bisa. Sebuah kekhawatiran yang sangat wajar kalau mengingat para pendaki kecil itu sebenarnya masih di bawah umur untuk mendaki gunung dengan tanpa didampingi orang dewasa. Kalau saja mereka jadi disertai oleh guru pembinanya seperti rencana awal pendakian mereka, tentunya orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

    IMG_2527_rHingga hari gelap belum juga ada kabar. Ya, sudah. Saya harus percaya pada kemampuan anak-anak itu untuk mengatasi masalah kalau-kalau ada hambatan di jalan sebagaimana mereka sudah menunjukkan tekad dan semangatnya untuk kekeuh ingin mencapai puncak Merbabu.

    Eh… sekitar jam 19:30, tiba-tiba ada SMS masuk. Bunyinya : “Lg dlm p’jlanan plg”. Spontan saya tilpun mereka yang rupanya sedang naik bis Trans Jogja menuju rumah. Cuma yang membikin saya kami tenggengen… alias rada bengong, adalah kata-kata anak saya kemudian : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya rada jengkel juga, antara mau bilang “kurang ajar” dan “alhamdulillah” berbaur menjadi satu…..

    Tapi sudahlah…., namanya juga anak-anak. Mungkin seharusnya saya merasa bangga karena mereka telah membuktikan tekad dan semangatnya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Rupanya para orang tua seperti saya ini terkadang suka under estimate terhadap kemampuan anak-anak. Padahal dalam banyak pengalaman mereka seringkali memperlihatkan kemampuannya lebih dari yang saya sangka.

    Orang tua memang tidak seharusnya terlalu protektif, melainkan bijaksana dalam mengarahkan keinginan anak-anaknya. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu dan pengalaman yang benar. Masalahnya adalah bahwa ternyata tidak mudah menentukan batas antara yang boleh dan tidak boleh, sebab setiap anak memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka kemudian menjadi wajar kalau adakalanya orang tua lalu besikap protektif berlebihan karena menerapkan faktor pengaman yang terlalu tinggi. Kalau di-umbar begitu saja seperti kambing nanti jangan-jangan dianggap sebagai orang tua tidak bertanggungjawab. Peran untuk menjadi nyinyir, reseh dan cerewet adakalanya perlu dilakonkan oleh orang tua.

    ***

    IMG_2581_rSesampainya Noval dan ketiga temannya di rumah, segera saya “interogasi”. Tujuan saya sebenarnya ingin mengapresiasi mereka dan menjajaki seberapa banyak mereka telah belajar dari perjalanan pendakiannya. Tahulah saya kemudian bahwa Noval dan seorang temannya berhasil melakukan summit attack mencapai salah satu puncak Merbabu dan menunaikan sholat Dhuha di puncak Merbabu. Sedang dua temannya yang lain menyerah dan hanya menunggu di Pos 2.

    Namun rupanya anak-anak bisa juga menjadi kurang suka kalau dicereweti orang tuanya. Sementara ibunya Noval hanya berkomentar sambil lalu, membela anaknya : “Bapak ini kayak Satpam saja banyak tanya, ya….” (padahal setahu saya tidak semua Satpam suka banyak tanya).  Lalu disambung : “Sudah…., itu pakaian kotornya dikumpulkan di belakang……”.

    Saya hanya tersenyum kecut, sambil agak bangga berkata dalam hati : “Para pendaki kecil itu sudah kembali, sambil cengengesan… Kalian memang ruarrr biasa….”

    Yogyakarta, 11 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Puncak gunung Merapi dilihat dari puncak gunung Merbabu

    Puncak gunung Merapi dilihat dari puncak gunung Merbabu

    IMG_2543_r

    Para Pendaki Kecil Yang Ruarrr Biasa

    10 Juni 2009

    IMG_2624_rJanjinya anak-anak akan selalu meng-update bapaknya via SMS… Lha ini sampai malam kok tidak ada kabarnya, padahal mestinya sudah turun gunung dan pasti ada sinyal. Jangan-jangan harus nge-camp di gunung semalam lagi? Ujuk-ujuk masuk SMS : “Lg dlm p’jlanan plg”. Kontan saya tilpun mereka. Suara kecil di seberang sana : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya, antara bilang ‘kurang ajar’ & ‘alhamdulillah’ jadi satu… Rupanya kita para ortu ini suka under estimate terhadap anak-anaknya..

    (Malam ini menjelang pukul 20:00 WIB, anak-anak itu sampai di rumah dari pendakiannya ke gunung Merbabu sejak berangkat dari Jogja kemarin, sambil cengengesan…. Selamat… selamat…., para pendaki kecil…. Kalian memang ruarrr biasa…)

    Yogyakarta, 10 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Brobosan

    10 Juni 2009

    Barusan melayat tetangga (seorang guru besar IKIP/UNY). Ada acara telusupan (brobosan)…. Konon sebagai pangejawantah sesanti “mikul dhuwur mendhem jero”… menjunjung tinggi, menghormati, mengenang jasa-jasa almarhum semasa hidupnya dan memendam hal-hal yang kurang baik dan tidak perlu diungkit-ungkit…. Berpulang kepada pandai-pandainya yang masih hidup ni mencerna pelajaran yang dapat dipetik…. Inna lillahi wa-inna ilaihi roji’un

    (Tetangga saya, Prof. Dr. H. Saidiharjo, MPd, warga RT 15, kampung Kalangan, desa Pandean, kecamatan Umbulharjo, kota Yogyakarta, meninggal dunia dalam usia 68 tahun, kemarin siang jam 14:00 WIB)

    Yogyakarta, 10 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Selamat Mendaki, Para Pendaki Kecil

    9 Juni 2009

    100_3786_MerbabuAwalnya anak saya (Noval, 15 tahun) mengajak mendaki gunung Rinjani (3726 mdpl), di pulau Lombok, dalam rangka mengisi waktu libur sambil menunggu hasil UAN SMP-nya. Tapi sayang, bekalnya belum memadahi. Pesawat Jogja-Mataram pp. plus akomodasi, konsumsi, transport lokal, dll, untuk berdua pasti lumayan banyak jumlah rupiahnya. Pada waktu yang bersamaan ibunya sedang butuh tambahan dana cukup banyak untuk membuka toko. Dengan sangat menyesal, saya menjanjikan untuk menjadwal ulang rencana pendakian ke gunung Rinjani.

    Sudah berbulan-bulan ini Noval suka menunggu acara adzan maghrib di depan televisi. Bukan tanda waktu sholatnya yang ditunggu (wong waktu sholat Jakarta), melainkan gambar awal tayangan adzan maghrib di saluran Trans7 adalah pemandangan danau Segara Anak yang membentang indah di tengah perjalanan mendaki Rinjani.

    Rupanya diam-diam Noval merencanakan pendakian alternatif. Beberapa temannya termasuk guru sekolahnya dihubungi dan diajak mendaki ke gunung Merbabu (3142 mdpl). Walhasil, tiga orang temannya jadi bergabung, sementara gurunya berhalangan. Lalu dimatangkanlah rencana pendakian ke gunung Merbabu, tanpa saya ketahui.

    Tiba-tiba Noval minta ijin besok mau mendaki Merbabu. Waduh….. Lalu bermunculan aneka pertanyaan untuk memastikan kesungguhannya. Ternyata memang rencana sudah matang. Bahkan ketika gurunya berhalangan pun mereka tetap berniat berangkat. Jelas, rencana tidak mungkin dibatalkan, sebab semua sudah disiapkan oleh Noval dan ketiga temannya.

    Terkadang terpikir juga, jangan-jangan saya ini tergolong orang tua yang kelewat reseh dan khawatiran. Ya, sementara saya berpikir panjang untuk mengijinkan anak saya mendaki gunung dengan tanpa pendamping orang yang lebih dewasa, sementara itu pula para orang tua dari ketiga temannya Noval sepertinya biasa-biasa saja.

    Sebenarnya bukan soal diijinkan atau tidak diijinkan, melainkan saya hanya khawatir kalau anak-anak itu menganggap bahwa mendaki gunung itu sekedar olah raga kuat jalan mendaki sambil membawa beban di punggungnya. Seperti halnya anggapan para kawula muda umumnya yang baru menyukai hobi petualangan di alam liar. Sedang yang sesungguhnya mendaki gunung itu jauh lebih memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tidak sesederhana itu. Berita terakhir tentang pendaki yang tersesat di gunung Argopuro (Jatim) dan Ciremai (Jabar), hanyalah sedikit contoh dari tidak sederhananya kegiatan mendaki gunung itu.

    Rupanya tekad dan semangat untuk mendaki sudah telanjur tidak bisa dipadamkan. Akhirnya ijin orang tua pun turun, tinggal kewajiban orang tua memberi bekal ilmu dan pengarahan yang cukup.  Saya tidak ingin mereka sekedar berhasil mencapai puncak, melainkan harus ada yang mereka pelajari dan hikmahi melalui kegiatan yang tidak biasa bagi anak-anak seusianya itu.

    Selasa pagi ini cuaca Jogja sedang rada muram. Sejak pagi teman-teman Noval sudah berdatangan ke rumah dengan masing-masing membawa tas ransel besarnya. Noval minta diantar ke terminal bis Jombor di Jogja utara. Saya pun segera menyiapkan kendaraan. Namun sebelum berangkat, Noval dan ketiga temannya (Alfian, 15 tahun; Irman 14 tahun dan Faisal 14 tahun) saya kumpulkan untuk diberi pengarahan. Sementara komentar ibunya sederhana saja : “Wah, harus siap-siap menerima setumpuk pakaian kotor, nih….”.

    ***

    Hal pertama yang saya pastikan kepada ketiga teman Noval adalah apakah sudah memperoleh ijin dari orang tua masing-masing bahwa mereka akan mendaki Merbabu dengan tanpa guru pendamping. Jawaban mereka kompak : “Sudah”. Setelah itu saya tanyakan rencana perjalanan pendakiannya. Lalu saya ingatkan bekalnya harus cukup termasuk untuk antisipasi keadaan darurat jika harus bermalam lebih lama di gunung. Selanjutnya mulailah saya memberikan kultum (kuliah tujuh menit, lalu molor sampai 15 menit).

    Hal-hal pokok yang saya ingin tegaskan adalah bahwa mendaki gunung itu tidak boleh dianggap sebagai kegiatan yang remeh. Tidak boleh sombong, betapapun kuatnya. Harus kompak dan bertenggang rasa dengan kondisi fisik temannya. Jangan memaksakan diri jika di tengah jalan cuaca menjadi buruk, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Lalu saya suruh mereka sebelum mendaki supaya meminta bantuan penduduk setempat untuk menemani pendakian. Seseorang yang oleh para pendaki sering disebut dengan sebutan salah kaprah “ranger”. Terakhir saya minta supaya mengirim SMS setiap kali ketemu sinyal.

    Gunung Merbabu sebenarnya bukan gunung dengan tingkat kesulitan tinggi. Bentang alam topografi dan pepohonannya relatif tidak menyulitkan. Untuk mencapai puncaknya tidak seberat dan seberbahaya puncak Merapi. Namun tetap saja kemungkinan terburuk harus diantisipasi, di antaranya adalah perubahan cuaca seputaran komplek gunung Merbabu-Merapi.

    Itulah sebabnya kenapa saya sebagai orang tua menjadi kedengaran begitu reseh? Karena mereka adalah pendaki-pendaki kecil yang masih suka cengengesan, yang saya khawatirkan belum mampu berpikir jernih ketika terjadi keadaan darurat di tempat yang adoh lor adoh kidul (jauh dari mana-mana), sementara kondisi fisiknya sangat terkuras. Noval dan seorang temannya memang sudah dua kali mendaki Merbabu, tapi dua orang temannya yang lain belum pernah. Dan kali ini adalah pendakian pertama mereka dengan tanpa didampingi oleh seorang dewasa. Akhirnya, sebelum berangkat mereka saya suruh melakukan sholat safar, sebagaimana kebiasaan kami setiap kali sebelum bepergian jauh.

    “Selamat mendaki, para pendaki kecil……”. Ibu kalian di rumah menunggu dan siap menerima order cucian pakaian kotor tanpa biaya….

    Yogyakarta, 9 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    (Note : Ilustrasi foto di atas diambil dari http://morishige.wordpress.com)

    Akhirnya Berangkat Juga Ke Merbabu

    9 Juni 2009

    Akhirnya….. Pagi tadi saya mengantar Noval dan tiga orang temannya ke terminal bis Jombor, setelah sebelumnya saya briefing mereka yang rata-rata berumur 14-15 tahun itu. Beberapa jam kemudian melalui HP temannya kirim SMS, bunyinya : “Magelang” (maksudnya sudah sampai di terminal bis Magelang). Tidak lama kemudian datang lagi SMS : “Wekas” (maksudnya sudah sampai di base camp Wekas, di kaki utara Merbabu). “Selamat mendaki wahai para pendaki kecil…”

    ……. Tengah hari datang lagi SMS, bunyinya : “Masjid” (maksudnya sudah sampai di masjid terakhir di base camp, sholat dhuhur sebelum mulai mendaki). Kurang dua jam kemudian datang lagi SMS : “Pos 1” (berarti sudah mendaki sampai di Pos 1)…. Take care kids…..

    Yogyakarta, 9 Juni 2009
    Yusuf Iskandar

    Anakku Mau Mendaki Merbabu

    9 Juni 2009

    Anakku yang lagi nunggu hasil UAN SMP minta ijin besok mau mendaki gunung Merbabu (ini untuk yang ketiga kalinya) bersama teman-temannya. Sementara saya tahu guru pembinanya yang semula akan mendampingi ternyata tidak bisa. Tapi anakku ngotot pokoknya tetap akan mendaki… Karena saya sedang repot ngurusin toko, maka lewat HP saya pesan : “Tunggu dulu, nanti malam kita diskusikan….”. Sebenarnya saya sedang mengulur waktu untuk berpikir keras agar ada jalan keluar terbaik… Njuk piye yo…?

    (Noval, 15 tahun, berniat mengisi waktu liburannya dengan mengajak tiga orang temannya mendaki gunung Merbabu, 3142 mdpl, di Jawa Tengah. Semula akan mengajak guru sekolahnya, tapi belakangan sang guru berhalangan ikut, dan Noval tetap ngotot mau mendaki juga…)

    Yogyakarta, 8 Juni 2009
    Yusuf Iskandar