Archive for Oktober, 2008

Sukses

31 Oktober 2008

Lebaran yang lalu saya menghadiri acara temu kangen dengan teman-teman SMA dulu, di sebuah pendopo kecamatan di Kendal. Kemasan acaranya pun rodo ndeso, yaitu sunatan masal sekaligus halal-bihalal. Lha wong namanya lagi asyik ketemu teman-teman yang 30-an tahun yang lalu pernah se-SMA, maka anak-anak yang sunat ya silakan nyincing sarung sunat-sunatan dan yang pada kangen ya silakan kangen-kangenan.

Beberapa hari yang lalu saya juga menghadiri acara reuni dan halal-bihalal dengan teman-teman sealmamater yang tinggal di seputar Jakarta, di sebuah hotel berbintang. Berbeda dengan reuni di kampung, kemasan acara di Jakarta sudah barang tentu lebih berbintang dengan tema yang lebih canggih.

Topik utama yang seringkali menjadi menu obrolan saat orang-orang bereuni adalah tema tentang kesuksesan. Siapa yang tidak turut merasa bangga kalau ada teman sekolahnya dulu, sekarang sudah jadi orang. Ada yang jadi pejabat negeri, jadi pengusaha sukses, jadi selebriti terkenal, atau jadi-jadian lainnya.

“Padahal dia itu dulu sangat pendiam dan kurang gaul….”, kata seorang teman berkomentar.
“Dulu dia itu bodoh banget lho…”, guyon yang lain.
“Malas sekali dia dulu, dan suka nyontek…”, celetuk yang lain lagi.

Atau sebaliknya : “Kasihan ya, dulu kan bintang kelas, ranking satu terus….”. Dan seterusnya, yang kesemuanya dibingkai dalam suasana cengengesan penuh canda dan keakraban.

***

Ukuran kesuksesan selalu dikaitkan dengan apa yang tampak di luarnya. Jadi apa dia, atau punya apa dia. Kita pun sering terkagum dalam hati menyaksikan kesuksesan teman-teman kita. Tentu, sudah semestinya kita turut merasa bangga dan memberi apresiasi atas pencapaian itu. Bagaimanapun juga, kesuksesan itu adalah buah dari kerja kerasnya.

Namun terkadang saya tidak bisa dan merasa tidak cukup hanya berhenti sampai di situ saja. Ada hal lain yang seringkali menggelitik hati saya. Hal lain yang tidak kasat mata, yang tidak tampak di luarnya, melainkan harus dicari dan digali melalui obrolan dan percakapan. Hal lain inilah, bagi saya adalah juga sebuah kesuksesan.     

Dari obrolan dan perbincangan akrab dengan teman lama, akhirnya saya temukan kesuksesan-kesuksesan yang tidak kasat mata itu. Teman yang sewaktu sekolah dulu kurang gaul itu ternyata sekarang sudah menjadi seorang pengusaha. Bahkan berhasil membantu temannya yang lain yang sedang terpuruk usahanya untuk bangkit lagi.

Teman lain yang dulu suka nyontek dan kini sudah jadi pejabat negeri juga berhasil membantu membuka jalan bagi teman lainnya yang seprana-seprene masih tidak jelas pekerjaannya. Ada juga yang telah berhasil membuka banyak lapangan pekerjaan kecil-kecilan di desanya. 

Seorang teman lain yang dulu nduablek setengah mati dan sering dianggap madesu (masa depan suram), lha kok sekarang jadi orang alim. Dulu suka “prek” dengan urusan ibadah, sekarang sering mengingatkan agar jangan lupa bersedekah.

Ada juga teman yang kehidupannya biasa-biasa saja, tapi sering mengintip 40 keluarga tetangganya apakah ada yang kesulitan makan. Ada teman juga yang meski mampu tapi memilih untuk menunda pergi haji karena lebih mementingkan lebih dahulu ingin mengantarkan adik-adiknya menyelesaikan studi hingga bisa hidup mandiri. Teman lain lagi di tengah kesibukannya masih menyempatkan ngumpulke balung pisah (mengumpulkan tulang yang berserakan)….., rajin mengumpulkan dan mengontak teman-teman lama agar terus terjaga tali silaturrahim.

Kesuksesan-kesuksesan kecil yang tidak tampak dari luar seperti ini seringkali lebih bisa saya nikmati. Seringkali mampu menjadi penerang hati yang lagi temaram bahkan gelap. Seringkali terasa lebih sejuk dan membangunkan saya dari mimpi.

Kesuksesan yang pertama memang lebih pada ukuran kuantitas, berdimensi duniawi dan karena itu tidak abadi. Jika Sang Empunya Dunia menghendaki, bisa bablasss tak berbekas dalam sekejap, bahkan lebih cepat dari sakit mencret. Sedang kesuksesan yang kedua lebih pada ukuran kualitas, berdimensi akherat dan karena itu lebih hakiki. Kalaupun segera mati, kebaikannya akan terus mengalir tiada henti.

Oleh karena itu, hal yang paling saya sukai dan nikmati ketika berada dalam forum pertemuan dan silaturrahim adalah kalau saya dapat menyibak dan menemukan kesuksesan-kesuksesan kecil yang tidak kasat mata itu. Kesuksesan lahiriah tetap perlu, kesuksesan batiniah lebih perlu. Keduanya perlu dipuji, diapresiasi, diteladani, dihikmahi dan disyukuri.

Tapi sayang, seringkali saya hanya bisa menggunakan otak saya thok. Akibatnya saya lebih sering menerima sinyal SMS alias merasa Senang Melihat (orang lain) Susah atau Susah Melihat (orang lain) Senang. Padahal ketika saya mau menyedekahkan sedikit saja tempat di hati saya……, walah…. hidup berjama’ah di muka bumi ini kok jebulnya yo elok tenan……

Yogyakarta, 31 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Semua Pasti Kembali Kepada-Nya

22 Oktober 2008

Beberapa waktu terakhir ini saya agak jauh dari internet. Itu karena lagi sibuk mengurusi bapak saya yang sedang kritis sakitnya hingga akhirnya berpulang ke hadirat Illahi, Tuhan Seru Sekalian Alam Raya, pada hari Minggu Kliwon, 19 Oktober 2008, jam 12:00 WIB di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, dalam usia 75 tahun. Jenazah dimakamkan pada hari itu juga jam 16:30 WIB di Kendal (Jawa Tengah).

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, dan (akhirnya) semua pasti akan kembali kepada-Nya jua.

Kendal, 22 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Mendadak Jadi Pranatacara

16 Oktober 2008

Pranatacara atau terkadang juga disebut pranata adicara adalah kosa kata dalam bahasa Jawa yang berarti pembawa acara atau MC. Mendadak jadi MC….. Siapa takut? Bagi sebagian dari kita, kiranya bukan menjadi sesuatu yang luar biasa kalau suatu saat mendadak ditunjuk menjadi pembawa acara atau MC.

Sepanjang bisa berhalo-halo, ditambah sedikit wawasan, improvisasi plus bumbu cengengesan, kiranya sudah bisa menjadi MC. Begitulah biasanya yang kita alami. Mendadak ditunjuk jadi MC pada pertemuan kampung atau kantor, arisan, pengajian, syukuran, reuni, rapat, sunatan, halal-bihalal, pentas seni, perlombaan sampai kampanye bin coblosan pemilu. Enteng saja sebagian dari kita menjalankannya, termasuk pengalaman saya sepanjang hayat dikandung badan ini.

Namun ceritanya menjadi lain, ketika suatu kali seorang teman menilpun saya dan meminta saya menjadi MC pada acara lamaran anak perempuannya. Kenapa jadi beda? Karena MC yang dimaksud adalah pranatacara alias pranata adicara.

Dimana bedanya? Pertama, ini adalah acara yang bagi sebagian kalangan dipandang mengandung ada bau-bau sakral. Kata lainnya, ada ketentuan tidak tertulis yang menengarai bahwa acara semacam ini harus berjalan mulus, khidmat dan jangan sampai ada kesalahan.

Kedua, di kalangan masyarakat Jawa acara semacam ini biasanya berlangsung dalam format suasana nJawani. Komunikasi dilangsungkan dalam bahasa Jawa halus, termasuk sambutan-sambutan, dsb. (kecuali bacaan kalam Ilahi…. ). Ini yang susah…. Bukan kalam Ilahinya, tapi justru ngomong Jawanya. Aneh rasanya, dan heran juga saya. Lha seprana-seprene bergaul dengan orang Jawa, sejak mbrojol ke dunia pun sudah nangis dan ngomong cara Jawa, disuruh jadi pranatacara kok sambat…. mengeluh susah.

Tapi ya begitulah. Akhirnya terpaksa syarat saya ajukan, ketika menjawab permintaan teman tadi. Saya bersedia jadi MC acara lamaran, asal menggunakan bahasa Indonesia. Kedengaran rada nasionalis sepertinya, tapi sebenarnya ya karena kesulitan ngomong bahasa Jawa halus alias kromo hinggil itu tadi.

Eh, lha kok teman saya setuju. Ya terpaksa secepat kilat kasak-kusuk cari referensi untuk bekal, minimal guna meminimalisir kalaupun nanti terjadi kesalahan. Alasannya ya seperti saya ceitakan di depan. Untuk acara-acara yang bersifat umum barangkali, sak-dek sak-nyet (seketika) saya siap. Tapi kalau acara lamaran dalam format Jawa, apalagi pernikahan, saya belum punya “fly watch”.   

***

Tiba saatnya membawakan acara. Sang MC yang mendadak jadi pranatacara pun mengantarkan acara demi acara di depan tetamu undangan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sementara para wakil keluarga yang menyampaikan sambutan pengantar, lamaran, penerimaan, dst. menggunakan bahasa Jawa kromo hinggil….. Sudah begitu, malah para wakil keluarga itu sebelum menyampaikan sambutannya pakai minta ijin segala kalau hendak bicara dalam bahasa Jawa. Entah ini bagian dari sopan-santun atau sindiran kepada pranatacara yang keukeuh berbahasa Indonesia.

Akhirnya, acara pun dapat berlangsung dengan aman dan terkendali, meskipun keringat sempat bercucuran membasahi baju batik baru (maklum, habis lebaran) yang saya kenakan tanpa rangkapan kaus singlet (karena memang tidak biasa dan tidak punya, kalau yang ini memang rodo ndeso…). 

Tapi tuan rumah dan para pihak yang terkait sempat sangat berterima kasih sama sang pranatacara. Pasalnya di akhir acara, sang pranatacara bahasa Indonesia ini, memberi bonus doa. Dalam draft susunan acara yang disodorkan si empunya hajat, tidak tertulis mata acara doa, akibatnya petugas pendoa pun tidak disiapkan. Tapi saya berinisiatif memimpin doa (sok alim ya biarin, wong berdoa itu baik, pikir saya…..). Lalu saya bacakan doa berbahasa Arab. Saya jamin ini bukan doa yang mengancam, meski saya yakin hanya sebagian kecil saja dari yang hadir tahu maksud dari doa yang saya lafalkan. Yang pasti ujungnya berbunyi : “Amiiin” (vokal i-nya agak panjang…..).

Asyik juga mendadak jadi MC, eh… pranatacara acara lamaran dalam format Jawa. Belakangan terpikir, barangkali ada baiknya juga kalau sempat belajar tentang pranatacara yang full bahasa Jawa kromo hinggil…… Tapi syusyah je…..

Kendal, 15 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Noval Berulang Tahun Di Puncak Welirang

14 Oktober 2008
Gunung Welirang (3159 mdpl)

Gunung Welirang (3159 mdpl)

Lebaran H-3 yll, Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP, minta ijin kepada bapaknya mau ke Gunung Welirang dan Arjuna di Jatim bersama gurunya. Perjalanan pendakian ini (katanya) dalam rangka survey pendahuluan sebelum dia dan rombongan sekolahnya mendaki berjamaah usai Lebaran.

Sayang, bapaknya tidak mengijinkan. Bukan masalah mendakinya, melainkan karena beberapa alasan “rada gaib”. Pertama, bahwa hari-hari di penghujung bulan Ramadhan, terutama malam harinya adalah “the golden nights” yang teramat sayang untuk dilewatkan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak. Dan, mendaki gunung adalah tidak termasuk alasan yang mendesak itu.

Kedua, mendaki gunung di bulan Ramadhan adalah pekerjaan yang cenderung ngoyoworo….., membuang waktu. Peluang untuk gagal puasa lebih besar ketimbang berhasilnya. Lebih dari itu, maslahat (kebaikan) yang bakal diraih dari mendaki gunung di bulan puasa tidak sebanding dengan “nilai gaib” yang dapat dikumpulkan dari ibadah puasa dengan tanpa daki-mendaki.

Akibatnya, Noval mecucu …., cemberut karena kecewa tidak memperoleh ijin bapaknya. Padahal keinginannya begitu menggebu-gebu. Telanjur dia “berkorban” tekun berpuasa, rajin sholat tarawih, menghatamkan tadarus Qur’an sebelum Ramadhan berakhir. Telanjur dia rela tidak dibelikan asesori lebaran yang serba baru melainkan diganti dengan perlengkapan baru untuk mendaki gunung. Tas punggung, baju kaos, matras, lampu darurat, adalah sebagian diantaranya. Namun toh akhirnya bisa menerima juga, setelah Noval berhasil di-rih-rih bapaknya…. ditenangkan dan dijelaskan kenapa-kenapanya.

Tiba hari Lebaran H+5, Noval yang telah ditunjuk untuk membantu gurunya menjadi pendamping bagi tim teman sekolahnya dalam Ekspedisi Welirang – Arjuna 2008, akhirnya diijinkan bapaknya berangkat. Aura wajahnya kembali sumringah….

Pagi hari menjelang pamit berangkat, bapaknya menyempatkan untuk memberi kuliah sekadarnya tentang mendaki gunung. Bagaimanapun juga, briefing semacam ini perlu, dalam rangka memberi wanti-wanti oleh orang tua kepada anaknya. Sekurang-kurangnya sekadar berbagi pengalaman. Kalaupun toh orang tuanya tidak punya pengalaman mendaki gunung, setidak-tidaknya orang tua pasti punya pengalaman hidup. Wong jam hidupnya lebih banyak.

Di mata bapaknya Noval, mendaki gunung adalah kegiatan yang resikonya tergolong tinggi. Karena ketidak-tahuan, kebanyakan anak-anak muda atau pendaki pemula sering menyepelekan hal ini. Bapaknya pun dulu juga berpikir begitu. Dikiranya mendaki gunung hanya soal kuat-kuatan jalan kaki. Padahal banyak aspek perlu diketahui. Yang utama tentu aspek keselamatan.

Belum lagi tentang penanganan perbekalan yang nanti akan digembol di punggungnya. Bagaimana kalau hujan, kalau udara teramat dingin, kalau terpisah dari kelompoknya, kalau tersesat, kalau kemalaman di tengah hutan, kalau kehilangan arah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat jarang sempat dipikirkan oleh anak-anak muda atau para pendaki pemula. Tahunya asal kuat jalan sambil menggendong ransel saja.

Meski pengarahan singkat sudah diberikan kepada Noval. Tak urung, bapaknya memonitor perjalanan Noval via ponsel, sejak naik bis dari Jogja menuju Surabaya sampai kembali ke Jogja. Sampai mana? Lagi ngapain? Sedang menuju kemana? ….. Namanya juga orang tua, dan salah satu syarat menjabat sebagai orang tua adalah berani cerewet, meski ini jelas tidak disukai anaknya.

Akhirnya, berhasil juga Noval mencapai puncak gunung Welirang, 3159 mdpl. Hal yang paling membuatnya bangga adalah ketika puncak gunung Welirang dicapainya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 14, tanggal 8 Oktober 2008. Namun ada sedikit nada kekecewaan, ketika Noval dan timnya batal melanjutkan untuk muncak (istilah kesukaan Noval untuk menyebut menuju ke puncak) gunung Arjuna, 3339 mdpl. Rupanya setelah muncak ke Welirang, cuaca berubah drastis dari yang semula cerah menjadi hujan lebat. Maka rencana muncak ke gunung Arjuna dibatalkan agar jadwal kembali ke Jogja tidak berubah.

***

Pagi masih agak remang di Jogja, angka digital jam menunjukan menjelang jam 5 pagi, sebuah SMS masuk ke HP saya. Bunyinya : “Pak, bukain pin2”. Maka legalah saya. Noval, anak kedua saya, sudah pulang dengan wajah penuh kemenangan. Lalu saat siang hari sambil bersiap-siap tidur balas dendam, Noval berkata : “Tahun baru nanti ke Rinjani, ya pak?”. Mak glek……. air liurku.

Yogyakarta, 13 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Berlebaran Di Rumah Sakit

7 Oktober 2008

Puji Tuhan wal-hamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1429 H ini bapak saya masih sakit dan dirawat di rumah sakit di Semarang. Maka kami, anak-anak beserta keluarga dan ekor-ekornya pun berkumpul berlebaran di rumah sakit. Bagi ketiga adik perempuan saya yang tinggalnya di Kendal, cukup mudah untuk mencapai Semarang karena hanya berjarak sekitar 30 km dari Semarang. Sedang bagi saya, usai sholat Ied dan silaturrahim sebentar di Yogya, lalu nunggang kijang meloncati jarak 120 km menuju Semarang melawan arus mudik.

Jadilah kami sekeluarga berlebaran di sebuah kamar di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Ritual silaturahim dan sungkeman lebaran kali ini terasa lain dari biasanya. Tanpa kue, tanpa suguhan, tanpa lontong opor ayam sambal goreng petai, tanpa bersimpuh, tanpa sungkeman. Lha, wong bapak terbaring di tempat tidur. Tinggal emosi tak terucapkan tertahan di dalam hati dan perasaan masing-masing. 

Bagi keluarga kami, lebaran kali ini terasa tidak biasa (sebenarnya ingin saya sebut luar biasa, tapi khawatir kedengaran seperti sugesti motivator yang bisa bermakna sebaliknya). Lebaran kali ini terasa begitu indah. Ini juga gaya bahasa hiperbolis-puitis. Lha, mana ada wong lebaran di rumah sakit, kok indah….. Barangkali lebih tepat saya sebut saja dengan suasana yang lebih khidmat.  Jauh dari senyum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Atau kegembiraan karena mengenakan pakaian baru. Atau kepuasan karena pagi-pagi sudah nyeruput kopi.

***

Bapak saya masuk (lebih tepat, dimasukkan oleh dokter) ke rumah sakit sejak malam pertama pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan (ini ungkapan matematika hitung-hitungan hari Ramadhan, yang maksudnya adalah hari ke sebelas bulan Ramadhan). Gara-garanya sepele. Dua hari sebelumnya bapak saya (usia 75 tahun) terkena serangan jantung. Saat tengah malam tiba-tiba tubuh lunglai, keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh seperti tiada henti, beberapa bagian tubuh terasa nyeri.

Sialnya, tak seorangpun ngeh bahwa itu adalah serangan jantung. Dianggapnya wess-ewess-ewess masuk angin biasa. Maka serta-merta tubuhnya di-blonyoh (dibasahi) dengan minyak tawon biar hangat, sambil agak dipijit-pijit. Ajaibnya, dalam beberapa jam (belakangan baru diketahui bahwa itu adalah beberapa jam masa kritis) sakit yang diderita bapak saya pun mereda dan merasa sudah bablasss angine…. Setelah itu semua berjalan kembali normal seperti biasa. Sampai saat itu pun belum ada yang tahu bahwa bapak saya baru saja mengalami serangan jantung yang sebenarnya “mematikan”.

Baru pada malam kedua setelah serangan jantung itu bapak saya dibawa ke dokter langganannya oleh salah seorang adik saya. Setelah periksa sana periksa sini, dokternya yang terkejut. Rupanya dokter punya ilmu yang bisa mendeteksi bahwa ada yang tidak beres pada jantung bapak saya. Hanya dengan kalimat pendek “saya tidak mau mengambil resiko”, lalu bapak saya diminta segera masuk rumah sakit malam itu juga. Gantian bapak dan adik saya yang terkejut. Lha wong sejak berangkat dari rumah ketawa-ketiwi kok tiba-tiba dimasukkan rumah sakit. Perawat jaga di ICU juga bingung tanya mana orangnya yang sakit, wong semua yang hadir di situ tampak gagah dan sehat.

Selanjutnya, hari-hari Ramadhan dilalui bapak saya di ruang ICU, lengkap dengan selang oksigen, selang infus dan kabel pating tlalang menempel di dada dan ujung jari. Kami pun bergantian menunggui di rumah sakit. Saya juga terpaksa melakukan traveling Yogya-Semarang beberapa kali selama Ramadhan hingga datang Idul Fitri.

Sekali lagi, syukur alhamdulillah, kalau pada Hari Fitri kemarin bapak saya masih sakit dan kami bisa berlebaran di rumah sakit.

Barangkali saya tergolong anak durhaka, wong bapaknya dirawat di rumah sakit kok malah bersyukur. Itu kalau pembandingnya adalah saat bapak saya sehat. Akan tetapi kali ini pembanding saya adalah ucapan dokter beberapa hari sebelumnya. Kala itu dokter mengatakan, kira-kira begini bunyinya : “Upaya medis yang dilakukan sudah maksimum, tinggal pihak keluarga berdoa dan siap dengan hal yang terburuk”. Maka, bagaimana saya tidak bersyukur kalau akhirnya kami bisa berlebaran juga, meski di rumah sakit.

Kita memang suka menggunakan filosofi hidup perbandingan. Dan tanpa kita sadari ilmu perbandingan itu seringkali menjebak kita dalam suasana hati yang destruktif, yang menggiring kita menjadi lupa bersyukur. Itu karena pembanding yang kita gunakan seringkali atas pertimbangan nafsu dan bukan nurani.

Betapa kita sering merasa manjadi orang termiskin sedunia, karena pembandingnya adalah yang lebih kaya. Merasa menjadi orang bodoh karena pembandingnya yang lebih pintar. Merasa menjadi paling sial dan sengsara karena pembandingnya yang lebih bahagia. Merasa menjadi orang gagal karena pembandingnya yang lebih berhasil. Pendeknya, kita sering merasa menjadi orang yang paling karunya…. perlu dimesakke.… dikasihani….., karena pembandingnya adalah yang lebih baik dari kita.

Jarang sekali kita sedikit saja introspeksi, memilih pembanding pada orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sial, lebih sengsara, lebih gagal atau lebih kasihan daripada kita. Barulah nanti akan terlihat bahwa betapa kita selama ini lupa bersyukur (ya, selama ini, karena memang telah cukup lama kita lupa bersyukur).

***

Meski hanya sebentar, setidak-tidaknya berlebaran di rumah sakit telah menyadarkan kami sekeluarga akan artinya sehat. Idul Fitri 1429 H kali ini telah menjadi hari lebaran yang berbeda, yang terpaksa diindah-indahkan tapi tetap khidmat.

Hari menjelang sore ketika kemudian satu keluarga demi satu keluarga meninggalkan rumah sakit, kembali ke rumahnya, melanjutkan makan lontong opor ayam sambal goreng petai. Tinggal bapak saya terbaring lemah di balai-balai rumah sakit, kali ini sudah berkurang kabel-kabel yang menempel di tubuhnya….. Kami anak-anaknya, kembali bergantian menunggui setiap malam…..            

Yogyakarta, 3 Oktober 2008 (3 Syawal 1429 H)
Yusuf Iskandar

Selamat Idul Fitri 1429H

2 Oktober 2008

Menghaturkan :

“Selamat Idul Fitri 1429H — Mohon Maaf Lahir Batin”

Istirahat sejenak
introspeksi diri
sempurnaan ibadah
setelah itu melanjutkan perjalanan menjelajah pelosok bumi
mencari inspirasi
mengagungkan asma-Nya
mensyukuri nikmat-Nya

kemudian
jalan-jalan lagi
makan-makan lagi

semoga kita semua adalah hambanya yang pandai bersyukur
dan mampu belajar atas ayat-ayat-Nya.

Yogyakarta, 1 Oktober 2008 (1 Syawal 1429H)
Yusuf Iskandar