Posts Tagged ‘Stroke’

Temanku Yang Terkena Stroke

20 Desember 2010

(1)

Teman saya yang kena stroke datang ke rumah melapor badannya terasa lebih enak setelah minum jamu sarang semut Papua. Tentu saja masih jauh dari kesembuhan, ibarat menyusuri jalan lintas Trans Sulawesi, ini baru etape awal saja… Setidak-tidaknya dia merasakan badannya lebih enteng dan enak. Tapi justru karena itu dia jadi semakin tidak betah tinggal di rumah, karena badannya terasa enak buat jalan-jalan. Waaah…ya justru ini yang saya khawatirkan…

(2)

Masih tentang teman yang terkena stroke, sambil klecam-klecem (cengengesan) berkata: “Aku masih belum bisa gini...” (Maaaaaf, kata gini mewakili ekspresi kelelakiannya. Saya tidak bermaksud “horror”, tapi itulah potensi mimpi buruk yang dialami penderita stroke).

“Kata dokter, saya harus sabar menghabiskan obatnya dulu…”, jelasnya memelas. Sangat bisa saya pahami.

Pesan yang dapat saya sampaikan: “Semoga kamu dan istrimu masih memiliki cukup kesabaran…”.

Yogyakarta, 1 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Derita Batin Penderita Stroke

22 Oktober 2010

Maghrib kemarin, ex-teman kuliah saya yang menderita stroke, datang ke rumah. Sambil malu-malu dia mengeluh, organ kelelakiannya sudah beberapa bulan tidak bekerja (maaf, saya tidak bermaksud bercerita “horror”, tapi sekedar sharing tentang kenyataan yang dapat dialami oleh penderita stroke).

Dengan rasa prihatin saya hanya bisa menyarankan: “Konsultasikan dengan dokter yang merawatmu agar kamu tidak salah bertindak”. Terbayang derita batinnya, tapi juga terbayang pembelajarannya…

Yogyakarta, 17 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Temanku Yang Terkena Stroke

1 Oktober 2010

Maghrib, enak-enak berbuka, siap-siap ke masjid, datang temanku yang kena stroke. Sejak pagi jalan-jalan (benar-benar jalan kaki) ke Malioboro, lalu mampir ke rumahku. Kebayang, jarak lebih 10 km telah ditempuhnya sambil tertatih-tatih. Katanya, belum lama dompetnya isi KTP, SIM, uang dan obat yang baru ditebusnya jatuh hilang entah dimana.

Uuugh…, Tuhan memang tidak tanggung-tanggung kalau memberi “peluang bisnis”. Muncul tanya di kepala seperti film kartun: “Apa yang seharusnya kulakukan?”

Yogyakarta, 28 September 2010
Yusuf Iskandar

Menyampaikan Titipan

12 September 2010

Pagi ini di hari terakhir Ramadhan, kutemui teman kuliahku yang kini sedang tepuruk dirongrong sakit paru-paru dan stroke. Kusampaikan titipan bantuan dari beberapa sahabat, uang sejumlah Rp 1,9 juta untuk keperluan membeli obat dan usaha istrinya. Semoga dapat membantu meringankan beban hidupnya dan semoga Tuhan membalas ketulusan beberapa sahabat itu dengan yang lebih baik — Lihat: Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan dan Kepedulian Tiga Rekan.

Yogyakarta, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan

2 September 2010

Pagi itu saya sengaja tidak tidur setelah makan sahur dan sholat subuh, karena ada agenda pagi yang harus saya penuhi. Padahal biasanya tidur setelah subuhan itu, wow… luar biasa nikmatnya hingga terkadang terasa malas untuk bangun, seolah-olah ingin terus tidur sampai tiba waktu berbuka. Seolah-olah…..

Belum jam delapan pagi, matahari sedang beranjak untuk memulai tugasnya hari itu. Datang seseorang bersepeda lalu duduk di luar pagar halaman rumah. Melihat istri saya keluar, seseorang itu berkata terbata-bata : “Saya temannya Yusuf, temannya Yusuf…”. Seperti kesulitan untuk berkata-kata lebih banyak. Tinggal istri saya kebingungan yang lalu memanggil saya keluar.

Masya Allah, ternyata seseorang itu adalah teman kuliahku dulu. Pagi itu adalah untuk kedua kali saya bertemu sejak terpisah lebih dua puluh tahun yll. Saat pertemuan pertama beberapa bulan sebelumnya, sengaja saya yang mencari rumahnya untuk menemuinya. Teman saya ini tinggal di sebuah rumah sangat sederhana di sudut sebuah perkampungan di kawasan Kotagede, Yogyakarta.

Waktu itu saya sengaja mencarinya setelah memperoleh informasi bahwa teman saya ini sekarang sedang mengalami kesulitan. Tubuhnya yang dulu waktu kuliah tinggi gagah kini terlihat kurus dan loyo digerogoti penyakit stroke dan paru-paru. Tidak lagi mempunyai penghasilan tetap karena pekerjaan terakhirnya sudah ditinggalkannya akibat sakit tak tersembuhkan. Saya sempat menuliskan cerita status di Facebook :

“B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, ‘mencuri-curi’ bersepeda…”. (17/04/2010)

Setelah saya sambut kedatangannya pagi itu, kemudian saya bimbing dan saya ajak duduk santai di teras depan rumah. Badannya terlihat kurus dan rapuh. Berjalannya tak lagi tegak. Bicaranya nampak sangat kesulitan. Hanya senyum ramahnya yang masih tersisa menandakan masih ada gairah dan semangat hidup dalam dirinya. Tapi dia sanggup bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah saya.

Setelah menanyakan kabarnya, pertanyaan berikutnya adalah : “Apa istrimu tahu kamu bersepeda ke sini?”. Dijawabnya : “Ya dia tahu. Aku tadi pamit”. Agak lega saya mendengar jawabannya. Sebab ketika sebelumnya saya bertemu dengan istrinya, teman saya ini suka mencuri-curi bersepeda kemana-mana padahal kondisi fisiknya sebenarnya tidak memungkinkan. Demi menyambut tamu istimewa saya itu, terpaksa saya menunda keberangkatan ke acara yang seharusnya saya hadiri jam delapan.

Setelah mengobrol kesana-kemari. Akhirnya saya mendengar pengakuannya bahwa dia perlu bantuan keuangan. Dengan menunjukkan sebundel kertas lusuh dari dompetnya yang ternyata adalah bukti pembayaran pembelian obat bertanggal beberapa bulan sebelumnya dari sebuah Rumah Sakit di Jogja. Pendek cerita dia sudah telambat membeli obat karena kesulitan biaya. Mak deg atiku…! Tidak ada yang sempat terpikir di otakku kecuali bahwa teman saya itu sedang berkata yang sebenarnya dan bahwa saya perlu membantunya.

Bukan soal pemberian bantuan yang ingin saya ceritakan. Kalau soal itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik daripada yang saya lakukan. Melainkan perasaan betapa bersyukurnya saya. Bersyukur yang pertama karena pagi itu saya masih dianugerahi keadaan yang lebih baik ketimbang yang sedang dialami oleh teman saya itu. Bersyukur yang kedua karena pagi-pagi saya sudah memperoleh peluang untuk berbagi kebaikan kepada orang lain yang orang lain itu sedang sangat membutuhkannya. Tuhan begitu luar biasa menawarkan sebuah “peluang bisnis” kepada saya pagi itu, di saat saya sedang terburu-buru hendak berangkat memenuhi sebuah komitmen di tempat lain.

Namun tampaknya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu. Melalui utusan-Nya pernah disabdakan: “Pergunakan sebaik-baiknya masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu…”. Astaghfirullah… Sepuluh tahun yll. teman saya itu karirnya sedang melejit dan bersiap hendak menerima promosi jabatan di sebuah perusahaan BUMN. Namun apa hendak dikata, semuanya seolah lenyap dalam sekejap akibat dirinya tidak sanggup lagi menanggung derita atas serangan stroke yang dialaminya dan hingga kini praktis tak tersembuhkan secara total. Bahkan untuk melakukan pekerjaan sederhana pun dia tak lagi mampu walau semangatnya masih menggebu-gebu.

Jika demikian, tahulah saya bahwa nikmat Tuhan yang pernah dianugerahkan kepada seorang manusia itu tidak ada yang dapat menggaransi akan langgeng selamanya. Ketika Sang Pemberi Nikmat menganggapnya cukup, maka benar-benar cukuplah sampai di situ. Kita sering salah kaprah dalam merespon setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ternyata mengucap doa syukur saja belum cukup, melainkan perlu ditambah dengan doa agar kiranya nikmat itu tidak dibreidel sama Tuhan dan agar nikmat itu minimal bertahan tidak dicabut atau dibatalkan.

***

Sempat terpikir, pagi-pagi bukannya saya menerima rejeki tapi malah harus memberi rejeki kepada orang lain. Padahal doa yang sering saya panjatkan adalah agar diberi rejeki yang buanyak, seperti halnya yang saya lakukan saat usai sholat Dhuha sebelum saya menemui teman saya pagi itu. Dan doa itu pun spontan dikabulkan tapi dalam wujud yang sebaliknya, bukan menerima rejeki tapi justru memberi rejeki kepada orang lain.

Nampaknya formula yang harus saya hafalkan adalah bahwa menerima rejeki itu berbanding lurus dengan memberi rejeki kepada orang lain. Sedangkan nominalnya, rejeki yang diterima minimal akan sama besar dengan rejeki yang diberikan kepada orang lain dan bahkan seringkali jauh lebih besar. Maka kalau menurut pernyataan dalam kitab sucinya orang Islam bahwa rejeki itu akan datang dari sumber yang tak terduga (min khaitsu la yahtasib), itu berarti hal yang sama berlaku baik bagi rejeki yang diterima  maupun diberikan, si penerima maupun pemberi.

Oleh karena itu, jika pagi itu saya memperoleh peluang untuk memberi rejeki kepada orang lain berarti harus saya terjemahkan bahwa sesungguhnya saya juga sedang memperoleh portofolio rejeki yang minimal sama nilainya. Kapan cairnya saya tidak tahu, akan tetapi kitab suci yang sama menjanjikan bahwa investasi itu pada saat yang tepat nanti pasti akan diterimakan dan seringkali nilainya jauh lebih besar dari yang pernah diberikan kepada orang lain.

Jika demikian, maka ketika nikmat berupa kemampuan untuk menerima atau memberi itu datang, jangan pernah disia-siakan. Sebab kebaikan yang tersirat di dalam kemampuan untuk memberi maupun menerima hakekatnya adalah sama. Dan tidak ada balasan atas kebaikan itu kecuali kebaikan pula. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:60-61). Dan ketika Tuhan mengulang-ulang kalimat itu hingga 31 kali, maka mudah-mudahan bukan kepada kita sindiran itu ditujukan. Kalaupun benar demikian, maka pasti terkandung maksud yang lebih baik. Wallahu a’lam…

Yogyakarta, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

Melawa Stroke Dengan Semangat Hidup

19 April 2010

B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, ‘mencuri-curi’ bersepeda…

(Untuk temanku Robert Sitinjak, semoga kesehatanmu segera pulih. Semangat hidupmu telah membuktikan keberhasilanmu)

Yogyakarta, 17 April 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Tiba-tiba Sensi

2 April 2010

Mendadak pagi ini saya agak sensi. Dialog biasa saja dengan anak lanang tiba-tiba berubah bernada tinggi.

Anak lanang pamit ke rumah temannya, lalu kuingatkan: “Ini Jumat, Le. Jangan keasyikan lalu lupa jumatan”.
Jawab anakku: “Dekat rumah temanku ‘kan ada masjid”.
Entah kenapa jawaban itu membuat darahku naik ke ubun-ubun (untung nggak stroke). “Di depan Kraton itu ada masjid, tapi berapa banyak pengunjung Kraton yang bahkan tidak tahu masjid itu menghadap kemana..!”

Yogyakarta, 2 April 2010
Yusuf Iskandar

Indahnya Sedekah Doa

11 Maret 2010

Sedih rasanya mendengar kabar dua teman SMA (berarti umurnya +/- sebaya saya) terkulai menderita stroke. Padahal belum sebulan seorang teman SMA lainnya berpulang juga karena sakit yang masih ada hubungannya dengan stroke…

Puji Tuhan wal-hamdulillah… Bukan karena sakit itu, melainkan saya masih punya kesadaran untuk menambah daftar doa tulus kepada Tuhan. Begitu saya berharap orang lain melakukan hal yang sama bagi sesama… “Indahnya sedekah doa”, ketika tangan tak mampu meraih…

Yogyakarta, 9 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Stroke

7 Oktober 2009

Malam ini menjenguk seorang teman yang terkena stroke. Terlihat ingin banyak berkata dan bercanda, apa daya mulut tidak mampu diajak bekerjasama. Betapa tidak mudahnya menjaga semangat untuk kembali seperti sedia kala. Teriring doa semoga Tuhan berkenan memberi kesempatan kedua…..

(Mas Herry ‘Tuyul’, semoga lekas sembuh…. Amin)

Yogyakarta, 5 Oktober 2009
Yusuf Iskandar