Posts Tagged ‘sms’

Dasar “Mama” Nekat

16 September 2010

Dasar “Mama” nekat…! Bukannya kirim SMS maaf lahir batin, malah minta dikirimin pulsa… Sebuah SMS dari nomor 087841225018, isinya: “Kirimin mama duluh pulsa 50rbu di no baru mama ini no.nya 081244754756 kirim secepat nya penting mama lg ada masalah”.

Ya kubalas saja: “Mama ini kok guoblok banget to…! Klo lg ada masal…ah, mbok coba mama ke kantor PLN terdekat….biar disetrum…”

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Masih Tentang SMS “Akal-akalan”

2 September 2010

BERPIKIR SEJENAK SEBELUM BERTINDAK…

[SMS dari PROMO 3433 : “Anda BERHAK utk mengambil pulsa 50 ribu rupiah! Ambil segera dgn hubungi *500*45# sekarang! Buruan, hanya utk 40 pengirim! Info:02145849666 duasmsperhari”]

(Note: Sepertinya sebuah tawaran menarik. Tapi percayalah, hasilnya benar-benar akan membuat sebagian besar dari Anda jadi kepingin mbanting gelas…)

Yogyakarta, 2 September 2010
Yusuf Iskandar

“Subuh Call”

8 Juli 2010

Usai subuh di Jogja, kukirim SMS kepada anak lanang di Jakarta: “Subuh duluuuu…”. Begitu kebiasaanku membangunkan anak-anak untuk subuh. Terkadang SMS harus berulang-ulang karena nggaak…bangun-bangun. Sesekali dibalas : “Iya, iya…!”.

Tapi tadi pagi jam 9 baru dibalas: “Sudah”.
“Lho, sholatnya yang terlambat atau balas SMS-nya?”, tanyaku agak sensi.
Dijawab: “SMS bapak”.

Ooo…, so jangan percaya begitu saja kecaggihan teknologi, sekali waktu bisa jadi biang misunderstanding.

Yogyakarta, 29 Juni 2010
Yusuf Iskandar

SMS Anak Lanang

26 Mei 2010

Sedang meeting dengan calon klien di Jakarta, tiba-tiba datang SMS dari anak lanang: “Pak, Trans7 pendakian lebih dari 5500 mdpl. Kayaknya Himalaya..”. Tanpa perlu berbalas SMS, saya langsung tahu kemana arah pembicaraan anak lanang ini.

Sebagai ortu yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, lalu kusampaikan nasehat: “Berdoalah sejenak, agar suatu saat nanti Allah memberi kesempatan untuk ke sana, kepada kita (sama bapak juga lho, jangan hanya untuk kamu..). Amin!”

Yogyakarta, 21 Mei 2010
Yusuf Iskandar

SMS Titipan

24 Mei 2010

Seorang teman kirim pesan: Tolong kirim SMS ke no INI dan isinya INI, setiap hari selama 10 hari. Waduh, ada apa ini? Temanku ini bukan orang sembarangan, tapi isinya kok seperti sembarangan. Kutanya: “Opo to iki (apa ini)?”. Jawabnya: “Anakku ikut audisi INI, tolong dukungan SMS sampeyan, istri dan anak-anak”.

Ee alah.., maka kuniatkan plus doa: “Tuhan, kukembalikan titipan rejeki pulsa dari-Mu melalui anaknya temanku yang sedang ikut audisi. Semoga berkah”.

Yogyakarta, 20 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Ingat Jalan Pulang

28 April 2010

Sejak pulang dari piknik ke Bali, anak lanang langsung sibuk dengan free-style. Belum sempat berbagi cerita, sudah beredar susah dipegang ekornya… Ibunya hanya geleng-geleng kepala, sedang bapaknya mengangguk-angguk.

Ketika seharian nggak pulang-pulang, ibunya bilang: “Mbok anaknya di-SMS”.
Maka kukirim SMS: “Masih ingat jalan pulang to?”.
Anak lanang (dengan lugunya) menjawab: “Masih……”.
Gantian saya yang bingung mau membalas apa lagi. Akhirnya kutulis: “Skb..”

(skb = syukurlah kalau begitu).

Yogyakarta, 27 April 2010
Yusuf Iskandar

SMS “Akal-akalan”

20 April 2010

Datang lagi SMS “akal-akalan”, dari GRATIS INFO. Isinya : “Selamat anda masuk dlm daftar yg akan kami berikan THR di akhir bulan ini, utk mengaktifkan ketik REG THR kirim ke9168, 10jt menanti utk anda” —> So? DELETE SAJA & JANGAN LAKUKAN APAPUN!

Inilah cara licik mencari uang dengan memanipulasi mind set seseorang sehingga tergerak untuk “membeli” info tanpa merasa ada yang salah. Harre gene ada THR gratis? Tunjangan Hulan Rapril, kale…

Yogyakarta, 18 April 2010
Yusuf Iskandar

SMS Anak Lanang

20 April 2010

Lagi enak-enak menikmati kopi, anak lanang yang sejak pagi sudah pamit berolahraga kirim SMS: “Pak, aku minta tlong jemurin pakaian yg aku rendam di ember di bwah tangga”.

Kutanya: “Jemur aja, nggak usah dikucek?”.
Dijawab: “Iya..td mlem udah q kucek”.
Kubalas: “Diperas gak?”.
Dijawab: “Terserah”.
Kubalas lagi: “Ongkosnya?”.
Dijawab: “Huu…”.
Kubalas lagi: “Yo wis, tak rendam lagi…”.
Rupanya SMS yang sama juga dikirim ke ibunya. So beres to

Yogyakarta, 18 April 2010
Yusuf Iskandar

Langit Penuh Bintang

25 Maret 2010

Menjelang subuh. Kupandang langit penuh bintang bertaburan.

Lalu kukirim SMS kepada bidadari: “Rabbanaa ma kholaqta hadzaa baathila…(Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia)”.

Balasan dari sana: “Sayang langit sini tak berbintang, tapi langit sini hanya takut pada Tuhan, yang sedang turun menghamparkan rahmat dan ampunan bagi yang memohon. Lanjuuut…” (Ee rupanya bidadari itu blm selesai tahajud, tapi sempat balas SMS..)

Yogyakarta, 24 Maret 2010
Yusuf Iskandar

SMS Tipu-tipu

25 Maret 2010

Datang SMS, pengirimnya dari GRATIS INFO. Isinya : “Selamat No.HP anda akan membuat anda mendpt uang, mau tau berapa jumlah uang yg akan didapat ketik REG UANG kirim ke 9168”

—–> Maka pesannya adalah: DELETE SAJA & JANGAN LAKUKAN APAPUN… Inilah cara licik mencari uang dengan memanipulasi mind set seseorang sehingga tergerak untuk “membeli” info tanpa merasa ada yang salah… “Selamat untuk Panitia”.

Yogyakarta, 23 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Nginap Di Hotel

18 Maret 2010

Anak lanang yang sedang free style-an di Jakarta dan numpang nginap di rumah famili temannya, cerita bangga via SMS:

“Nanti malam dapat fasilitas nginap di hotel X”.
Bapaknya tidak mau kalah: “Bapak juga sering nginap disitu…”.
Dia ganti Tanya-tanya: “Bintang berapa? Bagus nggak?”.
Dijawab bapaknya: “Bintang 3. Lumayan bagus”.
Kemudian disusuli SMS sama bapaknya: “Ra sah ngetarani ndeso-ne, le…! (Tidak usah menampakkan ndeso-nya, le…!)”. Dan SMS pun berhenti.

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Membatalkan Puasa Senin-Kemis

17 Maret 2010

Kolegaku yang sedang puasa Senin-Kamis, tiba-tiba kirim SMS. Merasa kurang pede dia tanya: “Saya pusing sekali, boleh nggak ya kalau saya batal puasa?”.

Sebenarnya pertanyaan mudah, malah tadinya tidak akan saya jawab. Tapi saya pikir, siapa tahu bisa kecipratan pahalanya, maka kujawab: “Berbuka saja nggak apa-apa, insya Allah niat awalmu sudah dicatat sebagai ibadah”.

Nampaknya jawabanku memuaskannya. Sesaat kemudian saya susulkan SMS: “Minimal aku yang mencatatnya…”

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Pindah Rumah Kah?

4 Maret 2010

Akhir-akhir ini anak lanang sering pulang larut, tapi ortunya jarang diberitahu sedang dimana dan ngapain. Sekali waktu ditilpun sama ibunya agar segera pulang. Eh…, tidak pulang-pulang juga. Terpaksa bapaknya turun jari tangan (maksudnya, nulis SMS), bunyinya: “Boss, pindah rumah kah?” (waktu kecil dulu anak lanang ini suka dipanggil ‘boss’).

Tidak lama kemudian, uthuk, uthuk, uthuk….., anak lanang pulang. So? Sekali waktu improvisasi itu perlu…

Yogyakarta, 3 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Program Pembangunan

28 Januari 2010

Program pembangunan pagi ini tidak lancar…. Harus di-SMS bolak-balik-bolak, baru dijawab “Iya, yaaa…”. Dikumandangkan adzan dalam bahasa Indonesia : “Sholat itu lebih baik daripada tiduuur….”, eh dijawab : “Udah tahu!”, tapi selimut ditarik juga menutupi kepalanya. ‘Digangguin’, kok malah nesu (marah)… Ah, yo wis. Bikin kopi kental ‘jelas lebih enak’… lalu siap-siap week end ke Jakarta (kalenderku ada NB-nya: week end boleh dijatuhkn kapan saja…).

Yogyakarta, 25 Januari 2010
Yusuf Iskandar

SMS Dan Pembangunan

23 Januari 2010

Kemajuan teknologi seluler memang memudahkan program pembangunan. Contohnya: Dulu membangunkan anakku mesti ke kamarnya, mengetuk, lalu teriak. Sekarang sambil leyeh-leyeh tinggal nulis SMS : “Banguuuuuun”, lalu send. Kalau belum bangun juga, diulang : “Hoee hoeee hoee” dan send. Belum bangun juga, tulis lagi : “Piye iki?“, send. Eh, bukannya bangun malah dibalas “Lha piye?“…

Yogyakarta, 23 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Gerhana Matahari – 15 Januari 2010

15 Januari 2010

Barusan kirim SMS mengingatkan putriku yang lagi shopping di pasar (ya masak di gedung DPR): “Nanti siang ada gerhana matahari, sempatkan cari masjid dan perbanyak doa. In addition, it’s really good topic for writing practice“… (Kalau ada orang lain turut teringatkan, ya alhamdulillah…)

Yogyakarta, 15 Januari 2010
Yusuf Iskandar

“Kunanti Doamu Selalu…”

11 Desember 2009

Sambil ngopi di bandara Jogja, siap mbonceng burung Garuda ke Jakarta, kirim SMS kira-kira seperti tulisan di bak belakang truk : “Kunanti doamu selalu…”

Yogyakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Ketika Ditinggal Tidur Gadis Cantik Teman Seperjalanan

28 November 2009

Setelah sport jantung naik ojek membelah kemacetan Jakarta, setiba di depan stasiun saya melihat jam di HP (saya tidak punya arloji) menunjukkan pukul 19:40 WIB. Ini berarti saya masih punya sisa waktu sekitar 20 menit sebelum kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi berangkat menuju Jogja.

Walaupun nafas saya mulai terasa lebih longgar dan lega, tiba-tiba saya merasa harus memutuskan di antara tiga pilihan di tengah sisa waktu yang singkat. Saya harus menentukan antara ke toilet dulu karena sudah kebelet sejak tadi, makan dulu setelah sehari berpuasa dan baru sempat diisi sedikit air putih saja, atau sholat maghrib dan isya dijamak (digabung). Assessment singkat kemudian saya lakukan. Kalau ke toilet masih bisa di atas kereta dan demikian pula makan, tapi kalau sholat di kereta akan rada kesulitan. Maka akhirnya saya putuskan untuk ke mushola dan sholat dulu.

Selesai sholat, segera saya bergegas masuk stasiun Gambir dan langsung naik ke lantai tiga sambil terburu-buru. Pasalnya halo-halo stasiun sudah memanggil-manggil penumpang Argo Lawu. Rupanya tempat duduk saya di Gerbong 1, terpaksa harus jalan menuju ke ujung depan rangkaian kereta. Masuk gerbong, lalu mencari tempat duduk, kemudian meletakkan tas ransel butut berisi laptop ke tempat bagasi di atas tempat duduk dan….. wow, penumpang di sebelah kanan saya ternyata seorang gadis cantik. Setidak-tidaknya saya melihat paras ayunya. Untuk subyek seperti ini memang biasanya assesssment bisa cepat (tapi sumprit….., ini bukan karena pengalaman melainkan naluri saja).

Begitu merebahkan badan di tempat duduk kereta dan lalu saya buat perasaan senyaman mungkin, serta-merta begitu saja saya bercerita kepada gadis di sebelah saya tentang perjalanan mendebarkan yang baru saja saya lakukan naik ojek menuju stasiun Gambir. Gadis itu tertawa renyah mendengar cerita saya. Entah kenapa spontan saya merasa gadis itu bukan orang lain, sehingga tidak perlu berbasa-basi ini-itu. Komunikasi jadi mudah dan lancar seperti dua orang yang sudah lama kenal. Bagi seorang yang suka iseng ketika tidak ada kesibukan lain seperti yang saya alami malam itu, maka suasana akrab itu perlu saya bangun karena selama delapan jam ke depan dia akan menjadi teman seperjalanan menuju Jogja. Agar azas “praduga tak bersalah” dapat ditegakkan, sengaja saya tidak membuat Bab Pendahuluan dengan ingin tahu siapa namanya, apalagi no HP-nya.

Tidak lama kemudian kereta Argo Lawu berangkat meninggalkan Jakarta. Saya masih termangu-mangu sambil tersenyum (jelas tidak sendiri karena sudah ada teman tersenyum di sebelah saya yang pasti jauh lebih manis), kalau mengingat perjalanan saya naik ojek membelah kemacetan Jakarta beberapa menit sebelumnya.

Sekitar sejam perjalanan, barulah saya ingat dua hal yang sebelum masuk stasiun tadi belum sempat saya tunaikan. Sekitar jam 9 malam saya pesan kopi panas dan nasi goreng sebagai makanan berbuka yang terlambat. Setelah itu baru ke toilet sembari sesudahnya menghabiskan sebatang Marlboro merah di depan toilet kereta. Eh bukan sebatang, melainkan dua batang. Lalu kembali duduk dan melanjutkan ngobrol dengan gadis di sebelah saya yang rupanya seorang karyawan bank swasta yang hendak libur mudik ke Magelang lewat Jogja.

Ada sedikit keheranan saya dengan pengalaman perjalanan saya hari itu. Hanya untuk keperluan dua jam di Jakarta, tapi perjalanannya serasa mengalami hari yang aneh. Saya berangkat dari Jogja siang harinya naik pesawat. Maskapai Lion Air memberi saya tempat duduk no. 38F pada pesawat MD 90 yang berarti berada di baris paling belakang dan seat paling pojok kanan yang tidak berjendela. Ketika kembali ke Jogja naik kereta, Argo Lawu memberi saya tempat duduk Gerbong 1 no. 1A yang berarti paling depan. Pas benar, dari duduk paling belakang saat berangkat ke duduk paling depan saat kembali, padahal ada ribuan penumpang, ratusan agen perjalanan dan puluhan calo di antaranya.

Dalam perjalanan kembali ke Jogja pada malam Idul Adha yang seharusnya malam takbiran itu  rasanya sulit sekali untuk tidur, klisikan….. Padahal waktu berangkat naik pesawat siangnya saya full tidur sejak pesawat lepas landas di Adisutjipto hingga mendarat di Cengkareng. Untuk mengusir kejenuhan, saya ber-SMS-ria dengan para sahabat di luar kereta sambil diselingi ngobrol canda dengan gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya malam itu. Para sahabat yang berada jauh di luar kereta sana bisa menjadi teman seperjalanan yang lebih mengasyikkan melalui SMS. Itu karena kami tidak saling terikat ruang dan waktu. Bisa kapan saja dilakukan, sambil apa saja, membicarakan apa saja, asyik dengan dirinya sendiri tanpa masing-masing perlu tahu apalagi perduli dengan suasana di sekitarnya.

Diantaranya saya sempatkan ber-SMS dengan anak perempuanku di Jogja. Saya bercerita tentang pengalaman mendebarkan naik ojek menerobos kemacetan yang barusan dialami bapaknya di Jakarta dan hingga nyaris ketinggalan kereta. Salah satu SMS yang saya kirim ke putriku itu bunyinya begini : “Just left Jakarta, nearly missed the train, a beautiful girl sits right beside me…”.

Rupanya oleh putriku dibalas cepat : “Ha ha ha.. oke oke.. be careful pa…”, kata SMS putriku bernada canda. Saya tersenyum membacanya sambil berucap “thanks” dalam hati. Saya senang membaca pesan putriku, cuma habis itu saya mikir : “Lho, sing be careful iki opone… (yang be careful itu apanya)”. Sebab yang mestinya disuruh be careful itu masinisnya, kalau saya kan tinggal duduk pasrah sama keretanya dan tidur kalau bisa, atau…. ya ngobrol dengan a beautiful girl right beside me itu tadi.

Karena kemudian saya ditinggal tidur juga oleh gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya, sementara SMS sahabat nun jauh di luar kereta sana terus menemani sambil takbiran di dalam kereta, sejenak pikiran saya menerawang jauh…..

Enam tahun yang lalu pada malam yang sama, saya dan ibunya putriku mengumpulkan kerikil di padang Muzdalifah. Lalu tiduran di atas tikar menikmati malam yang bersih dengan hembusan angin dingin yang bertiup sesekali lembut sesekali agak kencang melintas di bentang alam antara padang Arafah dan lembah Mina. Labbaikallahumma labbaik…., kupenuhi panggilanmu Ya Allah….. Ingin sekali aku mengulanginya, ingin sekali aku kembali memenuhi ajakanMu untuk bercumbu-mesra dalam suasana batin yang tak terkatakan, melainkan hanya titik airmata mewakili kehadiranku di hadapanMu…

Yogyakarta, 28 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Para Pendaki Kecil Yang Ruarrr Biasa

10 Juni 2009

IMG_2624_rJanjinya anak-anak akan selalu meng-update bapaknya via SMS… Lha ini sampai malam kok tidak ada kabarnya, padahal mestinya sudah turun gunung dan pasti ada sinyal. Jangan-jangan harus nge-camp di gunung semalam lagi? Ujuk-ujuk masuk SMS : “Lg dlm p’jlanan plg”. Kontan saya tilpun mereka. Suara kecil di seberang sana : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya, antara bilang ‘kurang ajar’ & ‘alhamdulillah’ jadi satu… Rupanya kita para ortu ini suka under estimate terhadap anak-anaknya..

(Malam ini menjelang pukul 20:00 WIB, anak-anak itu sampai di rumah dari pendakiannya ke gunung Merbabu sejak berangkat dari Jogja kemarin, sambil cengengesan…. Selamat… selamat…., para pendaki kecil…. Kalian memang ruarrr biasa…)

Yogyakarta, 10 Juni 2009
Yusuf Iskandar