Posts Tagged ‘arizona’

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

5 Februari 2008

Pengantar :

Tanggal 21 – 30 April 2000 yll, saya bersama keluarga melakukan perjalanan liburan dengan travelling ke daerah Colorado dan sekitarnya. Selama sembilan hari, lebih 3.000 mil (sekitar 4.800 km) kami jalani, 8 negara bagian (states) kami lewati : Utah, Nevada, California, Arizona, New Mexico, Colorado, Nebraska dan Wyoming. Catatan perjalanan ini saya maksudkan hanya sekedar untuk berbagi cerita ringan, siapa tahu bisa menjadi selingan yang menghibur.-

(1).     Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City
(2).     Salah Jalan Di Salt Lake City
(3).     Menyusuri Lembah Api
(4).     Semalam Di Las Vegas
(5).     Mampir Makan Nasi Di Ujung Timur California
(6).     Di Pinggir Selatan Grand Canyon
(7).     Melihat Batu Gosong
(8).     Bermalam Di Durango
(9).     Melewati Empat Puncak Bersalju
(10).   Di Breckenridge Kami Berski
(11).   Ketemu Penggemar Nagasasra Di Golden
(12).   Sepanjang Jalan 16 Denver
(13).   Numpang Lewat Di Nebraska
(14).   Marga Satwa Saurus Itu Memang Pernah Ada

Musim Panas Di Arizona

5 Februari 2008

Pengantar :      

Tanggal 2 sampai 17 Agustus 2000 yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota Phoenix, ibukota negara bagian Arizona. Di sela-sela hari kerja di saat akhir pekan, saya menyempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Berikut ini catatan perjalanan saya.-

(1).    Api Di Mana-mana
(2).    Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran
(3).    Dunia Kecil Biosphere 2
(4).    Wisata Tambang Di Kota Hantu
(5).    Legenda Tentang Lost Dutchman Mine
(6).    Menyusuri Rute Apache Trail
(7).    Peninggalan Budaya Indian Salado
(8).    Bukit-bukit Merah Di Sedona
(9).    Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung
(10).  Taman Nasional Gila

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(1).   Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City

Mengawali perjalanan dari kota Salt Lake City (Utah) sebenarnya bukan rencana awal saya. Sejak sebulan sebelumnya saya merencanakan untuk memilih kota Denver (Colorado) untuk mengawali perjalanan travelling dengan kendaraan darat bersama keluarga. Karena tujuan utama liburan kali ini adalah mengajak anak-anak melihat salju dan bermain ski, serta mengunjungi Grand Canyon of Colorado. Sambil lalu kami akan mampir-mampir di berbagai obyek wisata yang dilewati.

Namun setelah mencari-cari dan memilih-milih penerbangan dari New Orleans ke Denver, ternyata harga tiketnya termasuk mahal jika dibandingkan dengan ke kota-kota lain untuk jarak terbang yang relatif sama. Semakin mendekati waktu keberangkatan, harga tiket ke Denver pergi-pulang yang paling murah (meskipun tetap tergolong mahal) semakin habis.

Nampaknya kota Denver termasuk jalur basah bagi dunia penerbangan. Pelacakan tiket ini saya lakukan melalui jasa layanan reservasi on-line melalui internet. Di sana saya bisa mengatur rencana perjalanan lewat kota mana, kapan, pesawat apa, mau harga yang berapa dan duduk di sebelah mana. Setelah itu tinggal klik, tiket akan dikirim dan tagihan masuk ke kartu kredit.

Akhirnya saya mengalihkan pencarian tiket murah dengan melihat ke beberapa kota tujuan di sekitaran Denver, diantaranya Fort Collins dan Colorado Spring (Colorado), Las Vegas (Nevada), Albuquerque dan Santa Fe (New Mexico), Cheyenne (Wyoming) dan Salt Lake City (Utah). Ternyata juga tidak mudah, karena saya menentukan kriteria dalam pencarian tiket ini, yaitu tanggal berangkat dan kembali tidak bisa berubah (karena terkait dengan hari libur sekolah dan cuti kantor), harga tiket harus yang paling murah, dan tempat duduk di pesawat berderet untuk kami sekeluarga berempat (di Amerika adalah biasa memesan tiket pesawat sekalian nomor tempat duduknya).

Setelah dipilih-pilih dan dibanding-bandingkan harganya serta disesuai-sesuaikan dengan rencana perjalanannya, akhirnya saya peroleh tiket penerbangan ke Salt Lake City, menggunakan pesawat Delta Airlines. Tiket murah ini membawa resiko pada jadwal penerbangan yang kurang enak, yaitu tiba di Salt Lake City jam 21:30 malam untuk berangkatnya dan akan tiba kembali di New Orleans jam 1:15 dini hari untuk pulangnya sepuluh hari kemudian. Apa boleh buat, itulah yang terbaik buat liburan yang berbanding lurus dengan isi saku.

Setelah reservasi penerbangan OK, selanjutnya saya melacak hotel-hotel yang umumnya menawarkan harga khusus via internet. Untuk itu, tentunya saya harus punya rencana perjalanan yang pasti dan di kota mana saja akan menginap. Memang akhirnya saya berhasil memperoleh hotel-hotel dengan harga yang relatif murah, setelah membanding-bandingkan antara lokasi, harga dan fasilitasnya. Namun rupanya saya kelewat percaya dengan iklan penawaran hotel yang ada di internet.

Belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya saya masih bisa memperoleh harga yang lebih baik (lebih murah). Seharusnya setelah mengecek tarif dan ketersediaan kamar hotel via internet, saya mestinya melakukan pengecekan ulang dengan menghubungi langsung pihak hotel melalui tilpun. Seringkali ada perbedaan harga, bahkan harga bisa berubah-ubah antara pengecekan via tilpun pada saat yang berbeda-beda. Dengan pengecekan ulang, akan bisa diketahui pula apakah pada saat itu (masih) ada penawaran harga yang lebih khusus, yang biasanya tidak muncul di internet. Yang lebih penting lagi, masih ada peluang untuk negosiasi atau bargaining (tawar-menawar).

Rupanya ada kebiasaan yang sama seperti di Indonesia soal tawar-menawar ini. Pertama kali kalau kita tilpun hotel dan menanyakan harga, maka akan dijawab dengan menyebutkan tarif harga standard. Baru setelah kita menawar dan menanyakan tentang harga khusus yang lebih murah, maka seringkali akan diberikan. Kesannya menjadi seolah-olah pihak hotel telah berbaik hati memberikan harga murah. Ya, sama persis dengan traditional marketing ala kampung di desa saya, di Jawa sana. Sebenarnya tidak dinaikkan, tapi juga tidak memberikan harga murah.

Sayangnya, tips dan trik pemesanan hotel gaya Amerika ini baru saya pahami setelah membaca majalah “Reader’s Digest”, ketika saya sudah kembali dari perjalanan liburan. Rugi sih tidak, cuma mestinya bisa lebih untung. Meskipun kejujuran (keluguan) saya kali ini belum membawa keberuntungan, tapi yang pasti saya menikmati imbalan jasa yang layak atas apa yang telah saya bayarkan. – (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(7).   Melihat Batu Gosong

Mempertimbangkan kami masih punya cukup waktu dalam perjalanan kembali ke Flagstaff dari Grand Canyon sore itu, maka sekitar 25 km sebelum mencapai Flagstaff kami berbelok ke timur mampir ke obyek wisata yang disebut Sunset Crater Volcano. Saya memang tertarik dengan namanya, sementara belum banyak informasi yang sempat saya baca tentang tempat itu sebelumnya. Dalam hati saya berkata : pokoknya belok saja, toh hanya 5 km dari jalan besar.       

Ternyata yang namanya Sunset Crater Volcano adalah bekas kawah gunung berapi. Lha wong namanya bekas, jadi yang tampak di sana adalah hamparan batu-batu vulkanis yang nampak gosong, bekas terbakar. Juga tersedia jalan yang cukup aman untuk bisa jalan kaki mendaki ke pinggir bekas kawahnya, jika berminat.

Sepintas sama sekali tidak ada yang menarik bagi saya. Di Indonesia rasanya banyak yang lebih menarik untuk dikunjungi, daripada sekedar batu gosong. Tidak perlu lama-lama, setelah berhenti istirahat sebentar, kamipun langsung memutar untuk melanjutkan perjalanan. Yang lalu kemudian mengganjal di pikiran saya adalah kenapa batu gosong saja mampu mereka promosikan untuk menarik wisatawan. Dan anehnya, banyak juga wisatawan (lokal khususnya) yang mau berkunjung ke situ dan rela membayar uang tanda masuk US$ 7.00.

Obyek wisata Dieng di Jawa Tengah, bagi saya jauh lebih kaya dan menarik untuk dikunjungi, kalau hanya sekedar berkunjung yang diinginkan. Untuk sekedar mengambil contoh : tahun 1977 saya ke Dieng, lalu tahun 1987 saya ke Dieng lagi, memang menarik tapi ya masih begitu-begitu saja. Tidak berkesan ada nilai tambah yang saya peroleh. Padahal di sana ada kawah, ada sumber air panas, ada telaga, ada candi, ada industri jamur, ada pertanian kentang, ada perkebunan teh, ada berbagai legenda yang tidak habis-habisnya digali.

Selesai berkunjung dan melihat, ya sudah. Apa dan bagaimana semua itu? Anda harus mencarinya sendiri, tanya sana tanya sini, riset kepustakaan sendiri jika diperlukan, atau mendatangi kantor Dinas Pariwisata (itupun kalau Anda beruntung petugasnya sedang “mau” Anda kunjungi). Maka janganlah heran kalau Pemda Dati II Banjarnegara, atau Wonosobo sebagai kota terdekatnya sebenarnya kehilangan sumber pendapatan asli daerah (termasuk devisa) dari sektor pariwisata, yang sebenarnya bisa diharapkan lebih banyak. Karena dengan memberi nilai tambah, Dieng akan sangat menjanjikan lebih bernilai ekonomis untuk “dijual”.   

***

Seperti saya singgung di catatan sebelumnya tentang Lembah Api. Kenapa banyak wisatawan berkunjung ke Sunset Crater Volcano adalah karena ada nilai tambah atas batu gosong itu. Brosur-brosur promosi yang dicetak di atas kertas lux berwarna dan terkadang dilengkapi dengan foto, bisa diperoleh dengan mudah, di hotel, di restoran, bahkan di visitor center saat memasuki negara bagian Arizona. Tentu dengan harapan agar para wisatawan tertarik untuk menjadikan tempat itu sebagai salah satu sasaran kunjungannya. Minimal para calon pengunjung tahu bahwa ada tempat yang namanya Sunset Crater Volcano.

Umumnya tempat-tempat wisata di Amerika, setiap kita membeli karcis masuk maka akan disertakan juga brosur yang memuat berbagai informasi tentang tempat yang kita kunjungi, termasuk denah atau peta lokasi lengkap dengan berbagai keterangannya. Dengan demikian pengunjung tidak hanya akan melihat obyeknya saja (batu gosong misalnya), melainkan juga akan tahu “Apa dan Bagaimana”-nya.

Di ruang visitor center, biasanya pengunjung akan memperoleh berbagai macam informasi yang terkait, seperti sejarahnya, proses terjadinya, pengelolaannya, bahkan terkadang dikembangkan lagi dengan peristiwa-peristiwa lain yang ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi di situ. Semua disajikan melalui media yang sangat informatif, bisa gambar-gambar dan foto-foto di dinding, diorama, alat peraga, pemutaran film dan video, buku-buku, hingga dilengkapi dengan cenderamata yang bisa diperoleh dengan membelinya.

Nilai tambah itulah yang sebenarnya sedang mereka jual, bukan semata-mata menjajakan “batu gosong” -nya. Nampaknya kita memang harus mengejar banyak hal di sektor ini. Dalam kenyataannya kita masih menerapkan bahwa antara rekreatif dan edukatif adalah dua hal terpisah. Sementara di sini saya melihat orang sudah mengaitkan bagaimana agar yang rekreatif itu sekaligus berfungsi edukatif, bagi siapa saja, sekalipun untuk itu harus dengan membayar. Siapapun boleh saja tidak setuju, tapi setidak-tidaknya itulah yang baru saja saya tangkap.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(1).   Api Di Mana-mana

Selasa sore sekitar jam 15:30, 2 Agustus 2000, saya tiba di bandara internasional Sky Harbor di kota Phoenix, ibukota negara bagian (state) Arizona. Cuaca demikian panas saat itu, suhu udara bergerak di seputar angka 105-108 derajad Fahrenheit (sekitar 41-42 derajad Celcius). Bagi beberapa daerah di sekitar kota Phoenix, musim panas terutama bulan Agustus sering dikatakan sebagai bulan paling buruk, yang berkonotasi sebagai hari-hari dimana suhu udara sangat panas dan kering.

Bahkan jika kita berada di tempat teduh sekalipun, masih sangat terasa sentuhan hawa panas yang tertiup angin. Wilayah Arizona umumnya memang mempunyai bentang alam tipikal gurun yang aslinya tentu miskin dengan jenis tumbuhan besar. Kalaupun sekarang di sana-sini dijumpai tumbuhan pelindung, itu karena hasil rekayasa pertanian.

Sejam kemudian, dengan menaiki taksi saya tiba di sebuah hotel di kota Tempe (baca : Tempi), yaitu sebuah wilayah yang berada di sisi tenggara Phoenix. Lokasi kota Tempe terhadap Phoenix barangkali dapat saya identikkan dengan kota Depok atau Bekasi terhadap Jakarta. Secara geografis nyaris seperti tidak terpisahkan, namun secara administratif adalah dua kota berbeda. Kedua wilayah ini, berada pada ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan laut, dengan tingkat kepadatan penduduk “hanya” sekitar satu juta untuk Phoenix dan 150 ribu penduduk untuk Tempe.

Pertama kali yang saya lakukan setiba di kamar hotel yang dilengkapi dengan alat pengatur udara adalah menghempaskan diri di tempat tidur dan lalu membuka saluran TV. Ternyata di beberapa saluran TV sore itu ada acara khusus, yaitu siaran langsung Konvensi Nasional Partai Republik di Philadelphia dimana Dick Cheney akan menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat wakil presiden.

Pada saat yang sama juga ada siaran langsung pemadaman kebakaran yang sedang terjadi di Phoenix. Maka, jadilah yang tampak di layar TV adalah tayangan pidato kampanye dan pemadaman kebakaran secara bergantian. Terkadang layar terbagi dua untuk penayangan kedua siaran langsung tersebut secara bersamaan..

Kebakaran besar memang sedang terjadi di sebuah gudang di tengah kota Phoenix sejak beberapa jam sebelumnya, yang bahkan hingga malam hari api belum berhasil dipadamkan. Menarik juga menyaksikan siaran langsung kebakaran dan upaya pemadamannya yang gambarnya diambil dari berbagai sudut. Hingga tengah malam saat TV saya matikan, siaran langsung “acara kebakaran” masih belum selesai.

Di musim panas seperti ini, seperti halnya di Indonesia, kebakaran adalah ancaman bencana yang sangat ditakuti. Dan itulah yang hari-hari ini sedang melanda sebagian wilayah belahan barat Amerika, yaitu kebakaran hutan atau api-api liar yang tiba-tiba muncul di mana-mana. Bahkan kilat yang menyambar pun bisa menyebabkan kebakaran. Berita kebakaran hutan hampir setiap hari menghiasi berita TV dan koran.

***

Sebegitu parahkah kebakaran liar yang sedang melanda Amerika?

Informasi terakhir yang juga dilansir CNN, saat ini kebakaran terjadi di lebih 90 lokasi seluas tidak kurang dari 4,500 km2 menyebar di 11 negara bagian. Secara nasional tahun ini kebakaran liar telah terjadi di lebih 68.700 lokasi dan telah menghanguskan areal yang pada umumnya berupa hutan seluas hampir 22,000 km2. Tentu yang disebut hutan di sini berbeda dengan hutan musim hujan di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia. Menurut data yang ada, bencana kebakaran liar tahun ini merupakan yang terparah selama 13 tahun terakhir.

Secara angka, luas wilayah yang terbakar “hanya” sekitar 0,2 % saja dari seluruh wilayah Amerika. Namun menjadi kepentingan semua pihak, kalau mengingat akan berakibat musnahnya berbagai biota hutan serta tumbuhan. Perlu waktu ratusan tahun untuk kembali ke keadaan seperti asalnya. Itupun kalau tidak keburu terbakar lagi. Maka tidak heran kalau semua petugas pemadam kebakaran hutan dikerahkan silih berganti. Bahkan batalyon tentara dan marinir pun diperbantukan, termasuk bala bantuan dari Australia dan Selandia Baru.

Untungnya, tidak banyak negeri jiran yang tinggal di dekat lokasi kebakaran, sehingga Amerika tidak bisa “membagi” asapnya sebagaimana asap Sumatra atau Kalimantan yang mampir ke negeri tetangga di utaranya. Negara terdekat terhadap lokasi kebakaran ini adalah Canada, dan asap api sudah mulai mendekat ke perbatasan. Namun Canada tidak “teriak-teriak”, barangkali juga maklum karena ternyata Canada pun juga sedang disibukkan dengan munculnya api-api liar yang membakar hutan mereka.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(2).   Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran

Berkendaraan ke arah selatan sejauh 117 mil (sekitar 187 km) dari kota Phoenix, saya akan mencapai kota Tucson. Namun sebelum tiba di Tucson, saya berbelok ke arah barat menuju ke Taman Nasional Saguaro (baca : Sahuaro). Saguaro adalah nama sejenis tanaman kaktus raksasa yang hanya hidup di bagian selatan Arizona, tenggara California dan utara Mexico. Ini adalah jenis tanaman kaktus yang bisa mencapai tinggi 9 – 12 meter, dan sedikit di antaranya bisa lebih dari 15 meter. Batangnya (kita sering salah kaprah menyebutnya sebagai batang) bisa seukuran batang pohon pisang kepok. Kaktus ini mampu hidup hingga lebih 200 tahun.

Demi melindungi kerusakan monumen alam yang hanya ada di daerah itu, tahun 1933 kaktus-kaktus raksasa tersebut, beserta dengan jenis kaktus lainnya, tanaman-tanaman gurun, serta binatang-binatang yang hidup di lingkungan itu, dilindungi melalui pengelolaan Taman Nasional Saguaro. Wilayah gurun tempat tumbuhnya kaktus-kaktus raksasa ini disebut dengan gurun Sonoran. Ini adalah salah satu daerah paling panas dan kering di daratan Amerika utara. Karena itu hanya jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu saja yang sanggup bertahan hidup (survive) di lingkungan ini.

Di daratan Amerika utara dikenal ada empat macam gurun, yaitu Great Basin, Mojave, Chihuahuan dan Sonoran. Taman Nasional Saguaro sendiri yang mencakupi wilayah gurun Sonoran ini terbagi menjadi dua, yaitu Saguaro Timur dan Barat yang masing-masing terpisah sejauh 48 km dengan kota Tucson berada di antaranya.

***

Hari Sabtu, 5 Agustus 2000, sekitar tengah hari saya tiba di lokasi Taman Nasional Saguaro Barat. Memang udara siang hari di musim panas seperti bulan Agustus ini terasa panas sekali. Di sepanjang jalan sekitar tempat ini, pemandangan alamnya didominasi dengan bukit-bukit kering dan kaktus-kaktus raksasa.

Setelah berhenti sejenak di ruang pusat pengunjung (visitor center) guna memperoleh berbagai informasi serta peta lokasi, saya melanjutkan perjalanan untuk masuk lebih jauh ke Taman Nasional Saguaro, dengan  mengelilingi rute wisata yang disebut “Scenic Bajada Loop Drive” sepanjang kira-kira 15 km. Di ruang pusat pengunjung ini seharusnya saya membayar biaya masuk US$4. Namun karena saya memiliki kartu keanggotaan Taman Nasional Amerika, maka saya tidak perlu membayar. Sebagai pemegang kartu National Parks Pass, saya dan keluarga bebas keluar masuk di sejumlah 379 taman nasional yang ada di Amerika selama setahun.

Untuk memiliki kartu National Parks Pass ini saya membayar US$50 dan berlaku satu tahun. Bagi saya ini lebih menguntungkan mengingat kesukaan saya untuk mengunjungi taman-taman nasional, dibanding kalau saya mesti setiap kali membayar sejumlah uang setiap akan masuk ke Taman Nasional. Alasan “idealis” lainnya adalah dengan membayar sekaligus untuk setahun, maka saya telah memberi kontribusi lebih kepada organisasi pengelola taman-taman nasional Amerika yang disebut National Park Foundation (NPF).

NPF ini adalah sebuah organisasi, semacam LSM, yang mengelola sejumlah taman-taman nasional di seluruh Amerika. Organisasi ini merupakan partner bagi lembaga resmi pemerintah National Park Sevice, dan berorientasi non-profit. Sumber dana mereka yang utama berasal dari sumbangan para donatur dan biaya uang masuk di hampir setiap taman nasional (karena ada juga taman nasional yang bebas uang masuk).

Dari uang masuk yang mereka kumpulkan, 80%-nya digunakan langsung untuk mengelola program-program utama taman nasional. Melihat bahwa dari taman-taman nasional yang pernah saya kunjungi secara fisik tampak tertangani dengan sangat baik, pasti mereka telah menerapkan sistem management yang bagus pula.

Ada dua hal yang saya pandang menarik : Pertama, bahwa siapapun mereka, untuk terlibat dalam lembaga ini tentu diperlukan rasa memiliki dan rasa peduli yang sangat tinggi terhadap kekayaan alam negerinya. Kedua, kepuasan dan kenyamanan para pengunjung untuk berwisata dan sekaligus memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru melalui cara-cara yang sangat informatif dan edukatif tetap mereka utamakan, dan bahkan mereka sangat peduli kalau ada pengunjung anak-anak yang suka tanya ini-itu.

Terus terang, sebagai orang yang datang jauh-jauh dari negara yang sedang berkembang terkadang saya merasa iri, bagaimana mereka “mau-maunya” terlibat dalam urusan yang secara kasat mata tidak menjanjikan imbalan yang menggiurkan.

Perlu juga rasanya saya catat, bahwa banyak di antara para petugas itu adalah orang-orang tua (kira-kira orang yang sudah usia pensiun) yang mengisi waktu tuanya dengan menjadi sukarelawan di lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi swadaya masyarakat, ya antara lain semacam NPF ini. NPF juga menerima para remaja yang ingin magang atau menjadi sukarelawan, juga para professional dari berbagai bidang termasuk dokter, pengacara, insinyur, dsb.

Bahkan mereka juga menerima anak-anak yang ingin mengisi waktu liburan mereka dengan berkegiatan di taman-taman nasional yang tentunya jenis kegiatannya disesuaikan dengan usia mereka. Pendeknya siapa saja yang berminat bergabung akan sangat dihargai. Adanya kebanggaan bagi setiap orang untuk bisa terlibat dalam kegiatan LSM semacam inilah yang menurut logika berpikir saya lalu menimbulkan pertanyaan : “Kenapa kita belum bisa?”.

***

Setelah menenggak setengah botol air mineral yang saya bawa untuk sekedar menawarkan haus di saat terik panas tengah hari, saya masuk ke rute jalur wisata “Scenic Bajada Loop Drive”. Beberapa ratus meter pertama jalanan cukup bagus karena beraspal, setelah itu saya melewati jalan tanah yang tentu saja berdebu. Berkendaraan dengan kecepatan sekitar 25-30 km/jam saya menyusuri perbukitan yang tampak kering dan tandus yang di sana-sini terhampar berbagai tanaman gurun, terutama kaktus saguaro dan jenis-jenis kaktus lainnya yang lebih kecil.

Di lokasi gurun Sonoran ini dikenal ada lebih dari 50 jenis kaktus-kaktus kecil dan pendek (meskipun di antaranya juga berbatang besar). Kaktus-kaktus raksasa saguaro yang sudah berusia ratusan tahun biasanya sudah tumbuh bercabang dua, tiga, empat atau terkadang banyak, sehingga dari kejauhan tampak seperti batang senjata trisula yang ditegakkan ke atas. Di gurun ini juga hidup binatang-binatang yang mampu menyesuaikan diri dan bertahan di lingkungan gurun, di antaranya jenis-jenis tikus, ular, tupai, kura-kura, javelinas (sejenis celeng), dsb.

Di antara kaktus-kaktus itu ada yang berlubang-lubang menjadi tempat persembunyian burung-burung kecil seperti : woodpecker, warblers, western kingbirds, burung hantu, dsb. Sekali waktu tampak berbunga dan muncul buah di ujungnya. Buah-buah kaktus ini oleh penduduk asli Amerika dulu (suku Indian) dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan dasar pembuat minuman.

Usai mengelilingi bukit kecil yang diberi nama puncak Apache, akhirnya saya menyelesaikan rute mengelilingi sebagian kecil saja dari areal hutan kaktus raksasa. Bagi mereka yang mempunyai hobi hiking, juga tersedia rute untuk berjalan kaki masuk lebih jauh lagi ke areal Taman Nasional Saguaro. Tentu ada peraturan khusus yang harus mereka taati demi menjaga kelestarian flora dan fauna yang khas hanya ada di taman nasional ini.

Apakah ada yang nekad di saat musim panas seperti ini? Ternyata ada juga mereka yang mengisi liburan musim panas dengan hiking ke gurun Sonoran ini. Pasti mereka sudah sangat siap fisik, mental dan bekal, kalau mengingat bahwa suhu udara saat siang hari sangat panas dan kering, dan tanpa ada pohon pelindung di seluas taman nasional, kecuali kalau sekedar berlindung di balik kaktus.

Sekitar dua jam saya berada di daerah ini, lalu keluar dari areal taman nasional dan melaju ke arah selatan menuju kota Tucson.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(3).   Dunia Kecil Biosphere 2

Siang itu, masih di hari Sabtu, 5 Agustus 2000, saya memasuki kota Tucson. Hanya melewatinya, dan terus menuju ke luar kota melalui State Road (SR) 77, Jalan Oracle. Ternyata saya masih mengenali jalan ini, sejak pertama kali pernah melewatinya pada tahun 1996 dan yang kedua tahun 1998. Itu karena di jalan ini ada Tucson Mall, tempat yang saya anggap paling strategis dan praktis untuk sekedar jalan-jalan sore dan belanja oleh-oleh atau titipan kawan-kawan dari Indonesia. Setelah melaju sejauh sekitar 48 km ke arah timur laut, saya tiba di kompleks Biosphere 2 Center. Ini memang obyek yang sudah lama saya angankan karena ada sesuatu yang menarik di sana. 

Sekitar awal tahun 90-an saya pernah membaca tulisan di sebuah majalah di Indonesia (saya lupa apa nama majalahnya). Dalam tulisan itu diceriterakan tentang adanya sebuah dunia tiruan yang digunakan sebagai media eksperimen kehidupan, di mana ada delapan orang (4 pria dan 4 wanita) masuk ke dalam dunia kecil tiruan itu yang terisolasi terhadap dunia luar. Mereka tinggal dan menjalankan kegiatan hidup seperti biasa selama dua tahun di dalam “kurungan” rumah kaca. Segala macam sistem kehidupan di dalam dunia tiruan itu direkayasa sedemikian rupa sehingga sama dengan dunia nyata di luarnya.

Belakangan baru saya ketahui peristiwa itu terjadi pada tanggal 26 September 1991 hingga 26 September 1993. Selang enam bulan kemudian, tim kedua yang terdiri dari 7 orang (5 pria dan 2 wanita) masuk “kurungan kaca” dan berada di dalamnya selama enam setengah bulan. Para anggota tim yang disebut biospherian itu berasal dari negara Inggris, Jerman, Meksiko, Belgia, Australia, Nepal dan Amerika sendiri. Misi dari kedua tim itu dinilai sukses menyelesaikan berbagai eksperimen tentang sistem kehidupan di dunia nyata melalui media dunia kecil tiruan.

Ketika di tahun 1996, saat pertama kali saya melewati jalan Oracle ini dan melihat tulisan Biosphere 2, saya langsung ingat pada artikel yang pernah saya baca di sebuah majalah enam tahun sebelumnya, yang waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan di daerah mana proyek Biosphere ini berada. Maklum, waktu itu masih susah untuk membayangkan nama-nama tempat atau negara bagian yang ada di Amerika. Sayangnya pada tahun 1996 itu dan juga tahun 1998 saya tidak punya cukup kesempatan untuk mengunjunginya. Baru kali inilah saya benar-benar menyempatkan untuk menyaksikannya sendiri.

***

Di dalam dunia tiruan yang terbuat dari struktur kaca, baja dan beton itu dibangun ada lima bioma : hutan musim hujan, samudra, savana, gurun dan rawa-rawa. Habitat manusia, hewan yang umumnya jenis serangga dan monyet, serta berbagai macam tumbuh-tumbuhan, kesemuanya dirancang dan dibangun menyerupai keadaan sebenarnya.

Semua sistem di dalam Biosphere 2 ini bergantung kepada tenaga listrik. Ada sebuah generator gas alam besar di Pusat Energi yang menghasilkan listrik untuk menggerakkan semua sistem dunia tiruan itu. Pusat Energi juga menghasilkan air panas dan dingin yang akan dibutuhkan untuk pemanasan dan pendinginan Biosphere 2 sesuai dengan kebutuhan. Ada dua buah kubah di luar “kurungan kaca” ini yang berfungsi sebagai paru-paru dunia kecil, dimana tekanan, temperatur dan volume udara dikontrol dan dihubungkan dengan Biosphere 2 melalui saluran bawah tanah.

Proses daur ulang air dan sampah, semuanya dilakukan sebagaimana yang dilakukan orang di dunia nyata. Proses sirkulasi untuk mensuplai udara bersih, proses  kondensasi untuk mensuplai air minum, pengaturan cuaca, dsb. dikontrol dan disesuaikan dengan kebutuhan dari kelima bioma serta habitatnya. Tetapi di dalam Biosphere 2 ini hanya ada daerah beriklim tropis dan subtropis, serta tentunya tidak ada tiupan angin kencang.

Dunia kecil ini dibuat tidak lain adalah untuk mempelajari bagaimana bumi berkerja dan bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem bumi. Melalui dunia kecil tiruan ini diharapkan akan dapat dipelajari mengenai kehidupan yang berada di dalam lingkungan yang dikendalikan oleh manusia sendiri. Pada gilirannya hal ini tentu akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Biosphere 1, ya bumi tempat kita nunut hidup ini.

Sebenarnya ada juga proyek sejenis Biosphere 2 ini di tempat lain, yaitu Bios 3 di daerah terpencil Siberia, Rusia, dan Biosphere “J” yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi di Jepang utara.

Biosphere 2 adalah laboratorium kehidupan terbesar di dunia yang dibangun sejak tahun 1987 dengan biaya sekitar US$200. Menutupi areal seluas 1.27 ha dan bervolume 204.000 m3. Sejak 1 Januari 1996, setelah Columbia University bergabung dengan Biosphere 2 membentuk Biosphere 2 Center, Inc., sarana ini menjadi salah satu kampusnya yang bergengsi dan mulai dibuka untuk dapat dikunjungi masyarakat umum.

Fasilitas pendidikan, penelitian dan pengembangan pun mulai lebih komplit, termasuk asrama mahasiswa. Juga sudah tersedia hotel, restoran dan gedung konferensi. Sungguh menjadi tempat menimba ilmu yang sangat menantang. Hanya saja, di musim panas daerah ini memang menjadi bersuhu udara sangat panas sebagaimana daerah-daerah lain di Arizona, sementara belum banyak tanaman pelindung di sekitarnya.

Ada yang menarik ketika berjalan-jalan mengelilingi berbagai sarana yang ada di kompleks Biosphere 2 Center, salah satunya adalah Laboratorium Peraga (Demonstration Laboratories) yaitu tempat diperagakannya berbagai ekosistem seperti hutan musim hujan, gurun dan ekosistem lainnya. Saat berjalan-jalan di dalam ekosistem yang menirukan kehidupan di daerah tropis, serasa saya sedang berada di tengah hutan di Indonesia lengkap dengan bunyi serangga sesungguhnya, tanaman liar yang tumbuh silang-menyilang, pepohonan besar dan udara yang lembab. Pohon pepaya kampung yang sedang berbuah, pisang, pohon aren dan lamtoro gung juga ada di sini.

Saya terpaksa hanya bisa menelan air liur sewaktu menjumpai tanaman daun kemangi yang kalau saya remas memunculkan bau yang khas menggugah selera makan. Ini memang jenis lalapan kesukaan saya. Dalam hati saya berandai-andai : “Kalau saja saya membawa bekal sambal terasi, wuah ……!”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(8).       Bukit-bukit Merah Di Sedona

Hari Sabtu, 12 Agustus 2000, sekitar jam 10:30 pagi saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah utara melalui jalan bebas hambatan Interstate 17 yang menuju kota Flagstaff, sejauh kira-kira 225 km. Akan tetapi bukan Flagstaff tujuan saya, karena bulan April yang lalu saya sudah ke kota kecil yang berada di sebelah selatan Grand Canyon ini. Beberapa kilometer sebelum masuk kota Flagstaff saya berbelok ke barat lalu belok ke selatan lagi mengikuti jalan Highway 89A menuju kota Sedona.

Highway 89A ini dapat dikatakan letaknya sejajar dengan Interstate 17, dan saya sengaja menyurusi jalan ini balik ke selatan dari arah utara, karena dari sana saya akan melewati beberapa obyek wisata alam pegunungan yang menarik. Daerah ini memang mempunyai bentang alam yang sama sekali berbeda dibandingkan umumnya daerah Arizona yang berupa dataran gurun.

Daerah pegunungan di sini suasananya lebih hijau oleh banyaknya pepohonan, suhu udara juga lebih sejuk dibanding kota Phoenix dan kota-kota lainnya di selatan. Namun tetap saja gugusan bukit-bukit terjal dan tandus menyelip di antara perbukitan hijau. Justru gugusan bukit-bukit inilah yang ternyata memberi pemandangan indah yang khas karena warna batuannya yang kemerah-merahan dan bentuknya yang monumental sehingga sering menjadi simbul bagi kebanggaan masyarakat kota Sedona dan sekitarnya.

***

Rute Highway 89A dari Flagstaff menuju Sedona sepanjang 40 km ini dikenal sebagai salah satu jalur wisata paling indah di Amerika. Bukit-bukit yang merupakan formasi batuan gamping dan lempung merah menghiasi sepanjang perjalanan rute ini. Bukit-bukit merah berada di sebelah barat jalur jalan dua lajur dua arah yang berkelok-kelok mendaki dan menuruni lereng pegunungan. Di antara jalan dan bukit-bukit itu membentang lembah dan sungainya.

Para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan menyusuri rute ini memang perlu ekstra hati-hati. Ya, karena dengan sendirinya perhatian akan terbagi antara menikmati pemandangan indah di sepanjang rute dan waspada terhadap kendaraan lain karena jalan yang berkelok dengan jurang di sebelahnya.

Tiba di Oak Creek Canyon, saya menyempatkan untuk berhenti sebentar. Sekedar menghirup hawa segar pegunungan dan menikmati pemandangan yang tidak biasanya saya jumpai di Arizona. Lembah Oak Creek membentang sepanjang 25 km dengan lebarnya ada yang mencapai 1.5 km, dengan dinding tebingnya berwarna putih, kuning dengan dominasi warna kemerah-merahan, dan di sela-selanya menyebar pepohonan pinus, cypress dan juniper.

Melanjutkan ke arah selatan, saya tiba di Slide Rock State Park. Masih di bilangan lembah Oak Creek, di dasar sungainya dijumpai bidang luncuran air sepanjang kira-kira 20 meter yang terbentuk oleh proses alam. Di musim panas seperti ini, tempat ini menjadi pilihan orang-orang tua, muda maupun anak-anak untuk bermandi dan berendam di sungai. Mereka memanfaatkan tempat ini untuk meluncur di air sungai di dasar lembah Oak Creek. Yang menarik dari obyek mandi sungai ini adalah air sungainya setiap hari dimonitor kualitasnya. Tempat ini pernah ditutup untuk umum gara-gara diketahui terkontaminasi oleh bakteri yang tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk itu disediakan nomor tilpun khusus (hotline) yang bisa dihubungi setiap saat untuk mengetahui kondisi airnya.

Lebih ke selatan lagi sebelum mencapai kota Sedona, kali ini saya menjumpai pemandangan bukit merah yang beraneka bentuknya, di kejauhan sebelah-menyebelah jalan. Namun cuaca siang itu tiba-tiba hujan deras, padahal saya sedang berada di pinggir sungai di dekat jembatan, karena dari sini tampak lebih jelas pemandangan bukit-bukit merah yang menggunung di kejauhan sebelah timur dan barat jalan.

Ada anjungan atau lebih tepat semacam tempat terbuka yang dilengkapi pagar pengaman di sebelah kiri dan kanan jalan di pinggiran sungai. Tempat ini memang disediakan untuk para wisatawan agar dapat lebih leluasa melihat pemandangan. Rupanya antara kedua anjungan tersebut bersambungan melalui bawah jembatan. Sangat kebetulan tentunya, di bawah jembatan itulah saya bisa berteduh sementara menunggu hujan reda. Setelah agak lama menunggu ternyata hujan tidak juga mereda, akhirnya saya putuskan untuk berlari hujan-hujanan menuju ke tempat parkir, lalu melanjutkan perjalanan. Lumayan basah.

Di antara bentuk-bentuk bukit merah di daerah ini ada yang dikenal dengan nama Courthouse Rock, Bell Rock dan Cathedral Rock. Dua yang terakhir ini yang paling terkenal dan sering ditampilkan menghiasi kartu pos, kalender atau foto-foto promosi pariwisata.

Akhirnya saya sampai di kota Sedona, sebuah kota kecil tapi ramai oleh wisatawan. Satu hal yang paling membuat frustrasi sejak dari Oak Creek Canyon hingga masuk ke Sedona adalah mencari tempat parkir. Terbatasnya area terbuka di antara lajur jalan, lembah dan bukit-bukit, membuat lokasi parkir kendaraan sangat terbatas, termasuk di Sedona. Saat hari libur seperti hari ini, memperoleh tempat parkir menjadi tidak mudah. Sementara parkir di sembarang tempat di pinggir jalan tentu saja tidak diperbolehkan.

Seperti yang saya alami ketika hendak berhenti di Slide Rock, setelah memutar balik dan memutar lagi, baru akhirnya saya dapatkan lokasi agak lebar di pinggir jalan sehingga masih ada jarak aman antara kendaraan dengan badan jalan. Begitulah aturannya untuk bisa parkir di pinggir jalan, itupun di luar kota yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk parkir secara “normal”.

Kota Sedona sendiri berada pada ketinggian 1.340 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh sekitar 7.700 jiwa. Menurut sejarahnya, nama Sedona diambil dari nama seorang wanita, istri dari Theodore Schnebly salah seorang dari sedikit keluarga yang pada tahun 1901 nekad memulai kehidupan di daerah yang waktu itu masih dianggap sangat terpencil adoh lor adoh kidul (jauh dari utara maupun selatan).

Mula-mula daerah itu mau diberi nama “Schnebly Station”, tapi rupanya oleh kantor pos terdekat masa itu dianggap terlalu panjang dan merepotkan penulisannya. Maka dicarikanlah nama yang lebih pendek, lalu diambillah nama “Sedona”. Pak Theodore ini belakangan diangkat menjadi kepala kantor post pertama di daerah itu.

Kini, Sedona menjadi kota yang cukup terkenal dan menjadi salah satu kota tujuan wisata setelah Grand Canyon. Setidak-tidaknya 4 juta wisatawan dari seluruh dunia datang ke tempat ini setiap tahunnya (saya jadi ingat, kita pernah mau mendatangkan 5 juta wisatawan asing ke Indonesia dalam setahun saja susahnya setengah mati).

Pemandangan alamnya yang khas dengan tonjolan bukit-bukit berwarna kemerah-merahan di sepanjang rute menuju Sedona dari arah utara telah mengundang para sutradara film layar lebar maupun televisi untuk merekam filmnya di sekitar daerah ini. Ternyata hal ini memang bisa menjadi promosi yang efektif bagi kota Sedona, sehingga makin dikenal oleh para wisatawan.

***

Dari kota Sedona, saya melanjutkan menuju ke selatan ke arah kota Jerome dan Prescott. Belum jauh meninggalkan pusat kota Sedona, saya berbelok ke timur. Ada jalan lingkar yang menuju ke Red Rock State Park. Taman Red Rock seluas 115 ha ini berupa dataran agak tinggi yang di tengahnya berdiri tegak bukit warna kemerahan sama seperti Oak Creek. Untuk masuk ke tempat ini saya mesti membayar US$5, karena ternyata taman ini tidak termasuk dalam kategori National Park, melainkan State Park yang dikelola secara lokal oleh Pemda setempat. Kali ini kartu pass saya tidak berlaku.

Tempat ini menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pelestarian lingkungan, sehingga daerah ini tertutup untuk kegiatan berkemah karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan flora maupun fauna yang ada. Kegiatan alam hanya di siang hari, dan para wisatawan pun diharuskan tetap melewati jalan setapak yang disediakan. Umumnya para wisatawan hanya akan berada di pinggir luar dari taman ini, dimana akan dijumpai aliran sungai yang jernih berbatu-batu dengan latar belakang menjulang tinggi bukit berwarna kemerahan.

Sebegitu ketatnya aturan ditegakkan jika memang dianggap perlu, demi kepentingan pelestarian ekosistem yang ada. Dan ternyata orang-orang (wisatawan maupun penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya) sangat patuh dan menghargai aturan yang demikian ini. Satu lagi perasaan gumun (heran) muncul di pikiran saya. Ya, barangkali karena pembandingnya adalah “semangat tidak patuh dan tidak menghargai” yang selama ini sering saya jumpai di kampung saya yang jauh di katulistiwa sana.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar