Posts Tagged ‘semarang’

Tahu Pong

25 Februari 2010

Tahu pong khas Semarang ‘Sari Roso’, gimbal + kopyok telor

Semarang, 21 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Tahu Bacem

25 Februari 2010

Boja – Semarang, 21 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Mbelah Duren Di Boja

25 Februari 2010

Menjalani trayek Jogja – Klaten – Boyolali – Salatiga – Semarang – Kendal. Mampir kec. Boja mbelah duren… Aaah, ritual mbelah duren langsung di sumbernya, dimana durian berjatuhan dari pohonnya… (Trims untuk Kang Djumarno dan keluarga, serta teman-teman se-SMA 30 tahun yll).

Yogyakarta, 21 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Catatan Di Hari-hari Silaturrahmi (Lebaran 1430H)

30 September 2009

Usai Panen Raya Ramadhan

Panen raya itu sudah bubar… Lontong, ketupat, opor menthok atau enthok (dagingnya lebih padat, tidak segurih daging ayam, berminyak, nek, tapi hoenak dan tampil beda…), mengiringi penutupan panen….. Kini, tinggal hati masing-masing menghitung pembukuan keuntungan yang dapat diraih setelah sebulan berbisnis dengan Ramadhan, atau jangan-jangan hanya sekedar….. “capek deh…”

(Panen raya yang saya maksudkan adalah panen pahala dan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah swt dengan beribadah Ramadhan, dan pembukuan keuntungan yang saya maksudkan adalah catatan amal ibadah selama Ramadhan)

Yogyakarta, 20 September 2009 (1 Syawal 1430H)

——-

Ke Kendal

Bosan dengan opor ayam & menthok (enthok), mampir warung sate kerbau bumbon di Pegandon, Kendal. Bukan sekedar beda, tapi hoenaknya….

(Dalam perjalanan ke kampung halaman di Kendal, di sela-sela nyekar ke makam orang tua, bersilaturrahim, lalu nyate…..)

Kendal, 21 September 2009 (2 Syawal 1430H)

***

Bosan dengan kue lebaran…. Kebetulan sepulang dari rumah embahnya, anakku ngangkut singkong dari hasil kebun sendiri. Rupanya mbakar singkong yang kemudian dilakukan anakku…… (juga bapaknya….).

Yogyakarta, 22 September 2009 (3 Syawal 1430H)

——-

Kembali Ke Toko

Menata kembali isi toko yg morat-marit setelah “diobrak-abrik” pembeli yang belanja keperluan lebaran, sejak H-2. Capek tapi senang….. Bahkan H+4 pembeli masih ramai lebih dari hari biasanya. Rupanya kebutuhan harian tidak bisa ditunda…

Puasa bukan berarti mengurangi makan, melainkan me-reschedule. Lebaran juga bukan berarti banyak makan, melainkan kebanyakan enggak apa-apa. Inilah salah satu keunggulan bisnis ritel….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ultah

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini saya berulangtahun adalah sindiran-guyonan anak perempuan saya tadi siang. Katanya : “Wah, hari ini bakal ada yg nraktir makan, nih….”. Selebihnya live must go on as usual‘….. Ndeso tenan….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ke Semarang

Jalur Jogja-Semarang hari ini ramai-lancar-padat-merayap… Intinya, kudu sabar & enggak boleh terburu-buru sampai (tujuan)…

(Jalur merayap ini terutama antara Muntilan-Magelang-Secang dimana hanya terdiri dari satu lajur untuk masing-masing arah. Di seputaran Ungaran, Kab.,Semarang, juga kembali merayap)

Semarang, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

***

Serabi Ngampin

Mampir mencicipi kue serabi di Ngampin, selatan Ambarawa. Lumayan, ketemu model jajanan berbeda. Semangkuk 4000 rupiah isi 5 (lembar) serabi + santan manis….

(Banyak warung-warung penjual serabi di sepanjang pinggiran jalan selewat kota Ambarawa kalau dari arah utara. Kawasan ini ramai dengan penjual serabi sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya serabi Ngampin pinggir jalan hanya muncul kalau Ramadhan dan Lebaran, tapi sekarang sepanjang waktu ada, bergabung dengan penjual kelengkeng, durian, rambutan, dan aneka jajanan….)

Ambarawa, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

——-

Ramai-Lancar-Padat-Merayap

Istilah baru (oleh wartawan TV) yang mulai akrab di telingaku : Lalulintas ‘ramai-lancar’….., agaknya lawan dari ‘padat-merayap’ yang lebih dulu populer. Meski begitu, waktu menjalani jalur Jogja-Semarang kemarin, ternyata ‘ramai-lancar-padat-merayap’….. (enggak usah dicari lawannya).

Yogyakarta, 25 September 2009 (6 Syawal 1430H)

——-

Bersama Para Miner Di Banaran Café Jogja

Tadi malam hadir di acara silaturrahim informal dengan para miner (buruh tambang alumni UPN) di Banaran Cafe, Jogja. Rupanya ini cafe masih ada hubungan saudara dengan dua Warung Kopi Banaran yang ada di Bawen dan Ambarawa, tapi lain ayah & lain ibu (alias beda manajemen). Kopinya yang di Banaran Jogja kalah theng dibanding yang di Bawen atau Ambarawa….

(Banaran café Jogja berada di lantai bawah gedung LPP, Jl. Solo. Rupanya semua café milik PTP di Indonesia bernama Banaran… Di Jogja termasuk café kecil dan tidak sekomplit yang di Bawen atau Ambarawa)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

***

Menjamu Sahabat Lama Di Resto Numani Jogja

Makan malam dengan sahabat lama (ex teman kerja & teman mendaki Rinjani) di Resto ‘Numani’ Jl. Parangtritis Jogja spesialis gurameh segar yang bisa bikin tuman (bhs Jawa : ketagihan)…. Gurameh bakar, cumi dan udang goreng …tapi tidak panas, cah kangkung, petai goreng, sambal mentah, dan trancam (sejenis karedok, bukan terancam)…. Yang terakhir ini pas di pencecap…..

(Lokasi Resto Numani berada di sekitar km 7 Jl. Parangtitis, kalau dari arah utara selewat perempatan Ringroad dan setelah Taman Seni Gabusan Bantul)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

——-

Antara Mendaki Gunung Dan Omset Toko

Mendaki gunung adalah mencapai puncak tertentu setelah itu turun lagi ke elevasi pengalaman & keterampilan lebih tinggi. Anakku sudah membuktikannya — Sama seperti mengejar omset warung saat lebaran : muncak lalu turun lagi pada elevasi omset lebih tinggi dari sebelumnya. Giliran saya membuktikannya.

Inilah yang paling saya sukai ketika ngurus warung mracangan… Puji Tuhan walhamdulillah

(Anakku mendaki gunung Lawu, 25-27 Sepember 2009, sebagai pendakian yang kesekian kalinya. Di sisi lain, omset “Madurejo Swalayan” mulai menurun sejak mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran kemarin, tapi Alhamdulillah masih lebih tinggi dibanding hari-hari sebelum Ramadhan)

Yogyakarta, 28 September 2009 (9 Syawal 1430H)
Yusuf Iskandar

Semua Pasti Kembali Kepada-Nya

22 Oktober 2008

Beberapa waktu terakhir ini saya agak jauh dari internet. Itu karena lagi sibuk mengurusi bapak saya yang sedang kritis sakitnya hingga akhirnya berpulang ke hadirat Illahi, Tuhan Seru Sekalian Alam Raya, pada hari Minggu Kliwon, 19 Oktober 2008, jam 12:00 WIB di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, dalam usia 75 tahun. Jenazah dimakamkan pada hari itu juga jam 16:30 WIB di Kendal (Jawa Tengah).

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, dan (akhirnya) semua pasti akan kembali kepada-Nya jua.

Kendal, 22 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Berlebaran Di Rumah Sakit

7 Oktober 2008

Puji Tuhan wal-hamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1429 H ini bapak saya masih sakit dan dirawat di rumah sakit di Semarang. Maka kami, anak-anak beserta keluarga dan ekor-ekornya pun berkumpul berlebaran di rumah sakit. Bagi ketiga adik perempuan saya yang tinggalnya di Kendal, cukup mudah untuk mencapai Semarang karena hanya berjarak sekitar 30 km dari Semarang. Sedang bagi saya, usai sholat Ied dan silaturrahim sebentar di Yogya, lalu nunggang kijang meloncati jarak 120 km menuju Semarang melawan arus mudik.

Jadilah kami sekeluarga berlebaran di sebuah kamar di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Ritual silaturahim dan sungkeman lebaran kali ini terasa lain dari biasanya. Tanpa kue, tanpa suguhan, tanpa lontong opor ayam sambal goreng petai, tanpa bersimpuh, tanpa sungkeman. Lha, wong bapak terbaring di tempat tidur. Tinggal emosi tak terucapkan tertahan di dalam hati dan perasaan masing-masing. 

Bagi keluarga kami, lebaran kali ini terasa tidak biasa (sebenarnya ingin saya sebut luar biasa, tapi khawatir kedengaran seperti sugesti motivator yang bisa bermakna sebaliknya). Lebaran kali ini terasa begitu indah. Ini juga gaya bahasa hiperbolis-puitis. Lha, mana ada wong lebaran di rumah sakit, kok indah….. Barangkali lebih tepat saya sebut saja dengan suasana yang lebih khidmat.  Jauh dari senyum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Atau kegembiraan karena mengenakan pakaian baru. Atau kepuasan karena pagi-pagi sudah nyeruput kopi.

***

Bapak saya masuk (lebih tepat, dimasukkan oleh dokter) ke rumah sakit sejak malam pertama pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan (ini ungkapan matematika hitung-hitungan hari Ramadhan, yang maksudnya adalah hari ke sebelas bulan Ramadhan). Gara-garanya sepele. Dua hari sebelumnya bapak saya (usia 75 tahun) terkena serangan jantung. Saat tengah malam tiba-tiba tubuh lunglai, keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh seperti tiada henti, beberapa bagian tubuh terasa nyeri.

Sialnya, tak seorangpun ngeh bahwa itu adalah serangan jantung. Dianggapnya wess-ewess-ewess masuk angin biasa. Maka serta-merta tubuhnya di-blonyoh (dibasahi) dengan minyak tawon biar hangat, sambil agak dipijit-pijit. Ajaibnya, dalam beberapa jam (belakangan baru diketahui bahwa itu adalah beberapa jam masa kritis) sakit yang diderita bapak saya pun mereda dan merasa sudah bablasss angine…. Setelah itu semua berjalan kembali normal seperti biasa. Sampai saat itu pun belum ada yang tahu bahwa bapak saya baru saja mengalami serangan jantung yang sebenarnya “mematikan”.

Baru pada malam kedua setelah serangan jantung itu bapak saya dibawa ke dokter langganannya oleh salah seorang adik saya. Setelah periksa sana periksa sini, dokternya yang terkejut. Rupanya dokter punya ilmu yang bisa mendeteksi bahwa ada yang tidak beres pada jantung bapak saya. Hanya dengan kalimat pendek “saya tidak mau mengambil resiko”, lalu bapak saya diminta segera masuk rumah sakit malam itu juga. Gantian bapak dan adik saya yang terkejut. Lha wong sejak berangkat dari rumah ketawa-ketiwi kok tiba-tiba dimasukkan rumah sakit. Perawat jaga di ICU juga bingung tanya mana orangnya yang sakit, wong semua yang hadir di situ tampak gagah dan sehat.

Selanjutnya, hari-hari Ramadhan dilalui bapak saya di ruang ICU, lengkap dengan selang oksigen, selang infus dan kabel pating tlalang menempel di dada dan ujung jari. Kami pun bergantian menunggui di rumah sakit. Saya juga terpaksa melakukan traveling Yogya-Semarang beberapa kali selama Ramadhan hingga datang Idul Fitri.

Sekali lagi, syukur alhamdulillah, kalau pada Hari Fitri kemarin bapak saya masih sakit dan kami bisa berlebaran di rumah sakit.

Barangkali saya tergolong anak durhaka, wong bapaknya dirawat di rumah sakit kok malah bersyukur. Itu kalau pembandingnya adalah saat bapak saya sehat. Akan tetapi kali ini pembanding saya adalah ucapan dokter beberapa hari sebelumnya. Kala itu dokter mengatakan, kira-kira begini bunyinya : “Upaya medis yang dilakukan sudah maksimum, tinggal pihak keluarga berdoa dan siap dengan hal yang terburuk”. Maka, bagaimana saya tidak bersyukur kalau akhirnya kami bisa berlebaran juga, meski di rumah sakit.

Kita memang suka menggunakan filosofi hidup perbandingan. Dan tanpa kita sadari ilmu perbandingan itu seringkali menjebak kita dalam suasana hati yang destruktif, yang menggiring kita menjadi lupa bersyukur. Itu karena pembanding yang kita gunakan seringkali atas pertimbangan nafsu dan bukan nurani.

Betapa kita sering merasa manjadi orang termiskin sedunia, karena pembandingnya adalah yang lebih kaya. Merasa menjadi orang bodoh karena pembandingnya yang lebih pintar. Merasa menjadi paling sial dan sengsara karena pembandingnya yang lebih bahagia. Merasa menjadi orang gagal karena pembandingnya yang lebih berhasil. Pendeknya, kita sering merasa menjadi orang yang paling karunya…. perlu dimesakke.… dikasihani….., karena pembandingnya adalah yang lebih baik dari kita.

Jarang sekali kita sedikit saja introspeksi, memilih pembanding pada orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sial, lebih sengsara, lebih gagal atau lebih kasihan daripada kita. Barulah nanti akan terlihat bahwa betapa kita selama ini lupa bersyukur (ya, selama ini, karena memang telah cukup lama kita lupa bersyukur).

***

Meski hanya sebentar, setidak-tidaknya berlebaran di rumah sakit telah menyadarkan kami sekeluarga akan artinya sehat. Idul Fitri 1429 H kali ini telah menjadi hari lebaran yang berbeda, yang terpaksa diindah-indahkan tapi tetap khidmat.

Hari menjelang sore ketika kemudian satu keluarga demi satu keluarga meninggalkan rumah sakit, kembali ke rumahnya, melanjutkan makan lontong opor ayam sambal goreng petai. Tinggal bapak saya terbaring lemah di balai-balai rumah sakit, kali ini sudah berkurang kabel-kabel yang menempel di tubuhnya….. Kami anak-anaknya, kembali bergantian menunggui setiap malam…..            

Yogyakarta, 3 Oktober 2008 (3 Syawal 1429 H)
Yusuf Iskandar

Melahap Pecel Mbok Sador Menjelang Tengah Malam

24 Mei 2008

Detik-detik kelaparan saat terlambat makan malam sebenarnya sudah hampir lewat, bisa-bisa perut kembali menjadi kenyang dan tidak kepingin makan berat lagi. Ke kawasan Simpang Lima Semarang malam itu akhirnya kami menuju. Sebab di sana banyak pilihan makan. Simpang Lima adalah salah sebuah kawasan bisnis di kota Semarang yang kalau malam di sekelilingnya betebaran warung-warung tenda yang menyediakan aneka pilihan jenis makanan. Apalagi kalau malam Minggu, kawasan ini cukup ramai dan padat.

Berhenti di sisi selatan Simpang Lima, di ujung utara Jalan Pahlawan, tepatnya di seberang barat Ramayana, terdapat sebuah warung tenda yang menyajikan menu utama pecel. Sepintas warung ini biasa-biasa saja. Di tengah kebingungan mau makan apa, lalu seorang teman sambil agak kurang yakin merekomendasi untuk mencoba menu pecel di warung ini. Semangat untuk makan malam pun segera muncul kembali. Masuklah kami ke warung pecel Mbok Sador.

Kalau menilik nama warungnya memang tidak gaul babar blass….. Tapi, jangan tanya perkara rasanya ketika sudah melahap se-pincuk pecelnya mbok Sador. Nyemmm…. (tanya saja tidak boleh…., karena sebaiknya langsung dicoba saja kalau pas ke Semarang).

Namanya juga pecel, jadi tampilannya ya begitu-begitu juga. Tapi campuran sayurannya cukup komplit. Ada daun ubi, daun pepaya, kenikir, bayam, kacang panjang, kol, thokolan (kecambah atau tauge), lalu diguyur dengan sambal kacang hingga sayurannya tertutup merata. Penjualnya akan tanya pakai peyek (rempeyek) kacang atau teri, masih ada tambahan kerupuk gendar. Kalau bingung, tinggal bilang dicampur semuanya saja. Dijamin semuanya kemripik dan enak.

Rugi sekali kalau melahap pecel mbok Sador hanya dengan campuran “standar”. Sebab telah disediakan menu penambah selera menghampar di depan mata. Tinggal bilang mau ditambah apa. Ada tahu atau tempe bacem, sate keong, sate usus, sate telor puyuh, sate gatra (telur ayam yang belum jadi), rempela ayam, potongan daging sapi, iso, babat, paru dan limpa sapi.  

Bumbu sambal kacangnya sebenarnya biasa saja. Tumbukan kacang tanah tetapi tidak halus sekali sehingga masih terlihat banyak butir-butir tumbukan kasar bijih kacang tanahnya. Ketika saya tanya apa ada resep khususnya, dijawab oleh mbak penjualnya yang supel dan murah senyum bahwa resepnya biasa saja. Tapi ketika bumbu sambal kacang yang biasa-biasa saja itu disiram merata di atas campuran sayuran yang sudah ditambah dengan pilihan menu penggugah selera……., wuih….. terasa benar sedapnya. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, agak gurih dan ….. pokoknya hoenak pol…..

Semua itu disajikan dalam sebuah pincuk yang terbuat dari selembar potongan kertas yang di atasnya di-lambari dengan daun pisang lalu dibentuk menjadi wadah seperti corongan terbuka tapi tidak berlubang bawahnya. Se-pincuk pecel mbok Sador yang barangkali setara dengan sepiring munjung, malam itu pun habis tak bersisa. Kalau menuruti selera, ingin rasanya nambah lagi, tapi kapasitas perut saya rasanya sudah maksimum. Jadi cukuplah satu pincuk saja. Satu pincuk pecel yang nilainya sangat memuaskan.

***

Warung kaki lima pecel mbok Sador ini memang sudah cukup kesohor di Semarang. Setiap hari melayani pelanggannya sejak jam lima sore hingga jam sebelas malam. Habis tidak habis, pokoknya jam sebelas malam (terkadang lebih sedikit) bubar. Kalau sisa ya anggaplah resiko bisnis. Dengan bahasa sederhana, begitulah kira-kira kata mbaknya yang jualan malam itu. Kini, pelanggan pecel mbok Sador akan lebih sering dilayani oleh seorang anak perempuannya dan seorang cucu-keponakannya.

Mbok Sador sendiri kini memang sudah sepuh dan lebih banyak tinggal di rumahnya di Kampung Gandekan, Semarang. Di kampung Gandekan pula mbok Sador dibantu keluarganya juga masih berjualan pecel. Kalau beliau kangen dengan warung pecelnya yang di Simpang Lima, sesekali beliau berkunjung dan sesekali pula ikut melayani pembeli. Namun biasanya tidak bertahan lama. Maklum sakit rematik yang dideritanya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Namun patut dicatat bahwa usaha warung pecelnya yang mulai dibuka sejak kawasan Simpang Lima Semarang masih tertutup untuk pedagang kaki lima di sekitar tahun 1993 itu hingga kini tetap berkibar dan disukai oleh banyak pelanggannya. Manajemen pelayanannya sangat sederhana. Penjual pecel yang bertugas melayani pembeli juga merangkap sebagai pencatat apa yang dimakan oleh pembeli. Bukan pencatat order, karena pembeli langsung menyampaikan orderannya ketika menu disiapkan. Penjual pula yang merangkap sebagai kasir.

Semua pekerjaan itu dilakukan sambil duduk melayani pembeli menghadap sebuah meja setinggi kira-kira 50 cm yang di atasnya terhampar semua bahan ramuan pecel dan asesorinya. Di seputar meja display aneka menu pecel itu terdapat bangku tempat duduk bagi pembeli yang ingin makan sambil duduk menghadap penjualnya. Di belakangnya lagi tersedia banyak kursi plastik dan meja kalau bangku kelas utama yang di depan penuh. Sangat sederhana. Sesederhana suasana warungnya yang santai dan membuat betah.  

Agaknya saya dan teman-teman yang saat menjelang tengah malam itu mampir ke warung pecel mbok Sador tidak salah pilih. Harganya wajar (tentu saja semakin banyak asesori ditambahkan, menjadi semakin mahal) dan yang penting rasanya pas dan memuaskan. Kepuasan itu tercermin ketika esok malamnya, juga menjelang tengah malam, saya dan teman-teman sepakat untuk kembali ke warung pecel mbok Sador untuk kedua kalinya. Dan, di kali yang kedua ini lebih siap untuk memilih asesori menu penggugah selera yang mau ditambahkan. Bahkan saking enaknya menikmati peyek kacang dan teri, oleh penjualnya saya dipersilakan untuk nambah dan ngambil sendiri. Weleh….., mbok Sador memang luar biasa, pecelnya maksudnya…..

Yogyakarta, 24 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Pengalaman Pertama

4 Mei 2008

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya – Semarang, beberapa hari yll.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak…), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : “have a nice flight….”.

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem….., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa’ Gym. Ee…, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak tembelek lencung (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita…..).

Semarang, 30 April 2008
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir

Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju Terminal F, setelah melalui pemeriksaan imigrasi tentunya.

Beberapa tawaran taksi liar saya jawab dengan kata-kata : “mboten” (tidak), dengan senyum kemenangan. Saya tidak perduli apakah mereka ngerti bahasa Jawa atau tidak. Eh, lha kok malah kemudian ada sopir taksi yang nyahut : “Monggo, kalih kulo mawon, Pak” (Mari sama saya saja, Pak). Ya tetap “mboten” jawaban saya.

Tiba di terminal F, saya langsung cari tiket penerbangan tercepat menuju Semarang. “Sudah full booked”, kata gadis di balik kaca loket penjualan tiket. “Cadangan”, jawab saya singkat. Dalam hati saya berkata, jika perlu akan saya mainkan lagi lakon emergency untuk kesekian kalinya.

Penumpang cadangan biasanya baru akan dilayani 30 menit menjelang jam keberangkatan pesawat. Saya tahu itu, tapi saya tidak ingin kehilangan momentum. Saya tongkrongin di depan counter cadangan (biasanya kalau tidak meja no. 24, ya no. 25, saya hapal karena saking seringnya menjadi penumpang cadangan Garuda atau Merpati, sekian tahun yang lalu).

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga 30 menit menjelang jam keberangkatan, saya sudah dipanggil oleh petugas tiket cadangan. Entah karena memang ada kursi kosong, atau barangkali mbak petugasnya risih karena saya tongkrongin di depan mejanya sambil bolak-balik pura-pura tanya tentang status seat saya.

Saat check-in itu, saya tanyakan bagaimana mengenai barang bawaan saya, apakah tidak terlambat kalau tas saya dibagasikan. Dengan sangat meyakinkan saya dipersilahkan untuk membagasikannya. Terus terang, sebenarnya dalam hati saya ragu-ragu dengan jawabannya. Apakah tidak sebaiknya saya tenteng ke dalam kabin saja, pikir saya. Tapi sudahlah, toh pengalaman di Tokyo dan di Singapura sebelumnya tidak ada masalah. Maka saya pun kemudian dapat terbang ke Semarang dengan penerbangan pertama Garuda.

Sekitar jam 11 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di bandara Ahmad Yani Semarang. Selangkah lagi saya akan tiba di kampung saya di Kendal. Saya menunggu untuk ambil bagasi. Satu-satu penumpang mulai keluar bandara sambil membawa bagasinya masing-masing. Hingga orang terakhir pergi, lha tas saya mannnnnaaa……? Saya datangi petugas yang ngurus bagasi, lalu dihalo-halo dengan handy-talky-nya ke pesawat. Ya memang bagasi sudah habis.

Ternyata rasa khawatir saya terhadap jawaban petugas check-in Garuda saat di Cengkareng sebenarnya beralasan. Ironisnya, entah kenapa justru terhadap ucapan bangsa saya sendiri saya merasa tidak yakin. Pertanyaan ini sulit saya jawab. Faktanya memang demikian.

Apa mau dikata, saya terima selembar kertas sebagai tanda bukti bahwa bagasi saya belum saya terima. Dijanjikan bagasi tersebut akan dibawa oleh penerbangan Garuna sore harinya, karena memang masih tertinggal (atau ditinggal?) di Jakarta. Masih ada tapinya, kalau tidak ya dengan pesawat Garuda esoknya, dan saya diminta untuk cek-cek via tilpun ke bandara Semarang. Wah, “puuuancen” (memang)……

Perjalanan menuju Kendal sekitar 45 menit saya lanjutkan dengan taksi. Baru esok harinya terpaksa saya mampir lagi ke bandara Ahmad Yani Semarang untuk mengambil bagasi saya. Masih untung, tas saya utuh tidak tampak ada tanda-tanda bekas dijahilin.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(2).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 2)

Barangkali diilhami oleh konser musik “Woodstock69”, maka para pemusik dan penyandang dana Indonesia menggelar acara yang mirip-mirip “Woodstock69” di TIM (Taman Ismail Marzuki) tahun 1973. Konser musik itu diberi nama “Summer28” singkatan dari Suasana Malam Hari Kemerdekaan Ke 28, yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 16 Agustus 1973.

Turut memeriahkan pagelaran musik (terutama yang berirama rock) pertama dan terbesar pada masa itu, antara lain God Bless (Ahmad Albar, dkk. dari Jakarta), AKA (Ucok Harahap, dkk dari Surabaya), Giant Step (Benny Subardja, dkk dari Bandung), Minstreals (Jelly Tobing dkk dari Medan), dan banyak lagi group-group musik yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

“Summer28” memang sempat kisruh, namun tidak separah “Woodstock69”. Sayangnya kini tidak ada lagi impressario yang berminat menggelar konser musik besar yang sejenis itu. Barangkali khawatir, pertunjukan musiknya akan kalah seru dan kalah heboh dengan “pertunjukan tawuran antar penontonnya”.

***

Itu tahun 1973, saya yang masih sekolah di kelas 1 SMP di kampung saya di Kendal, memandang kota Jakarta tampak seperti jauuuuuuuh ……. sekali. Apalagi datang ke Jakarta, nyaris seperti sebuah mimpi. Namun di tahun yang sama dan tahun-tahun sesudah itu, saya berkali-kali menyaksikan penampilan group-group musik itu di Semarang yang jaraknya hanya 30 km dari Kendal.

Di Semarang, mereka biasanya tampil di THD (Taman Hiburan Diponegoro) dan GOR Simpang Lima. Kedua tempat dan bangunan itu sekarang sudah bablasss…sak angin-anginnya, entah dimakan butho (raksasa) dari mana. Padahal THD waktu itu termasuk Taman Hiburan yang murah-meriah.

Meskipun itu adalah pengalaman masa kecil saya lebih 25 tahun yll. Namun saya masih ingat persis karena saya lakukan berkali-kali. Setiap kali ada pementasan di THD (biasanya sebulan atau dua bulan sekali), hari Sabtu sore saya minta uang kepada almarhum ibu saya Rp 500,- (lima ratus rupiah). Perinciannya : Rp 300,- untuk ongkos naik Colt angkutan Kendal – Semarang pp. Setiba di terminal Pasar Johar lalu berjalan kaki sekitar 750 meter menuju THD di Bubakan. Sisanya untuk bayar tiket masuk THD yang besarnya Rp 200,-

Saat pertunjukan musik di mulai, saya biasanya langsung menyusup ke depan panggung di dekat loud speaker, meskipun bunyinya memekakkan telinga tapi saya dapat nonton dengan bebas dan jelas. Sebab kalau saya tidak melakukan itu, saya akan kalah bersaing dan terhalang oleh penonton-penonton lain yang umumnya lebih dewasa dan lebih besar dari saya. Maklum, wong namanya panggung terbuka murah-meriah, jadi tempat duduknya terkadang jadi tempat berdiri. Apalagi kalau habis hujan, dapat dipastikan menjadi basah.

Berangkat dari Kendal jam 19:00 malam, jam 20:00 tiba di Semarang, jam 20:30 acara dimulai, jam 22:30 acara selesai dan lalu berjalan kaki kembali ke terminal Pasar Johar menunggu angkutan, jam 00:00 tengah malam tiba kembali di rumah di Kendal. Saat menunggu Colt di Pasar Johar, biasanya sambil duduk nongkrong di pagar tempat parkir di halaman sangat luas antara Pasar Johar dengan Masjid Besar dan gedung bioskop “Rahayu”, bersamaan dengan bubaran pasar Ya’ik yang digelar sore hingga malam (sebelum ada bangunan permanen Pertokoan Ya’ik Permai).

Catatan ini memang saya maksudkan untuk sekedar bernostalgia. Namun ada sedikit terselip sebuah kebanggaan, karena pengalaman semacam ini umumnya tidak dialami oleh anak-anak kecil sebaya saya pada jaman itu. Buktinya? Kalau sehabis nonton pertunjukan musik lalu keesokan harinya saya berceritera kepada teman-teman main saya, ternyata tidak nyambung. Kedengaran seperti sebuah “dongeng yang aneh”. Kalau begitu, ya cukup untuk saya nikmati sendiri saja.

New Orleans, 4 Januari 2001.
Yusuf Iskandar