Archive for November, 2009

Ketika Ditinggal Tidur Gadis Cantik Teman Seperjalanan

28 November 2009

Setelah sport jantung naik ojek membelah kemacetan Jakarta, setiba di depan stasiun saya melihat jam di HP (saya tidak punya arloji) menunjukkan pukul 19:40 WIB. Ini berarti saya masih punya sisa waktu sekitar 20 menit sebelum kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi berangkat menuju Jogja.

Walaupun nafas saya mulai terasa lebih longgar dan lega, tiba-tiba saya merasa harus memutuskan di antara tiga pilihan di tengah sisa waktu yang singkat. Saya harus menentukan antara ke toilet dulu karena sudah kebelet sejak tadi, makan dulu setelah sehari berpuasa dan baru sempat diisi sedikit air putih saja, atau sholat maghrib dan isya dijamak (digabung). Assessment singkat kemudian saya lakukan. Kalau ke toilet masih bisa di atas kereta dan demikian pula makan, tapi kalau sholat di kereta akan rada kesulitan. Maka akhirnya saya putuskan untuk ke mushola dan sholat dulu.

Selesai sholat, segera saya bergegas masuk stasiun Gambir dan langsung naik ke lantai tiga sambil terburu-buru. Pasalnya halo-halo stasiun sudah memanggil-manggil penumpang Argo Lawu. Rupanya tempat duduk saya di Gerbong 1, terpaksa harus jalan menuju ke ujung depan rangkaian kereta. Masuk gerbong, lalu mencari tempat duduk, kemudian meletakkan tas ransel butut berisi laptop ke tempat bagasi di atas tempat duduk dan….. wow, penumpang di sebelah kanan saya ternyata seorang gadis cantik. Setidak-tidaknya saya melihat paras ayunya. Untuk subyek seperti ini memang biasanya assesssment bisa cepat (tapi sumprit….., ini bukan karena pengalaman melainkan naluri saja).

Begitu merebahkan badan di tempat duduk kereta dan lalu saya buat perasaan senyaman mungkin, serta-merta begitu saja saya bercerita kepada gadis di sebelah saya tentang perjalanan mendebarkan yang baru saja saya lakukan naik ojek menuju stasiun Gambir. Gadis itu tertawa renyah mendengar cerita saya. Entah kenapa spontan saya merasa gadis itu bukan orang lain, sehingga tidak perlu berbasa-basi ini-itu. Komunikasi jadi mudah dan lancar seperti dua orang yang sudah lama kenal. Bagi seorang yang suka iseng ketika tidak ada kesibukan lain seperti yang saya alami malam itu, maka suasana akrab itu perlu saya bangun karena selama delapan jam ke depan dia akan menjadi teman seperjalanan menuju Jogja. Agar azas “praduga tak bersalah” dapat ditegakkan, sengaja saya tidak membuat Bab Pendahuluan dengan ingin tahu siapa namanya, apalagi no HP-nya.

Tidak lama kemudian kereta Argo Lawu berangkat meninggalkan Jakarta. Saya masih termangu-mangu sambil tersenyum (jelas tidak sendiri karena sudah ada teman tersenyum di sebelah saya yang pasti jauh lebih manis), kalau mengingat perjalanan saya naik ojek membelah kemacetan Jakarta beberapa menit sebelumnya.

Sekitar sejam perjalanan, barulah saya ingat dua hal yang sebelum masuk stasiun tadi belum sempat saya tunaikan. Sekitar jam 9 malam saya pesan kopi panas dan nasi goreng sebagai makanan berbuka yang terlambat. Setelah itu baru ke toilet sembari sesudahnya menghabiskan sebatang Marlboro merah di depan toilet kereta. Eh bukan sebatang, melainkan dua batang. Lalu kembali duduk dan melanjutkan ngobrol dengan gadis di sebelah saya yang rupanya seorang karyawan bank swasta yang hendak libur mudik ke Magelang lewat Jogja.

Ada sedikit keheranan saya dengan pengalaman perjalanan saya hari itu. Hanya untuk keperluan dua jam di Jakarta, tapi perjalanannya serasa mengalami hari yang aneh. Saya berangkat dari Jogja siang harinya naik pesawat. Maskapai Lion Air memberi saya tempat duduk no. 38F pada pesawat MD 90 yang berarti berada di baris paling belakang dan seat paling pojok kanan yang tidak berjendela. Ketika kembali ke Jogja naik kereta, Argo Lawu memberi saya tempat duduk Gerbong 1 no. 1A yang berarti paling depan. Pas benar, dari duduk paling belakang saat berangkat ke duduk paling depan saat kembali, padahal ada ribuan penumpang, ratusan agen perjalanan dan puluhan calo di antaranya.

Dalam perjalanan kembali ke Jogja pada malam Idul Adha yang seharusnya malam takbiran itu  rasanya sulit sekali untuk tidur, klisikan….. Padahal waktu berangkat naik pesawat siangnya saya full tidur sejak pesawat lepas landas di Adisutjipto hingga mendarat di Cengkareng. Untuk mengusir kejenuhan, saya ber-SMS-ria dengan para sahabat di luar kereta sambil diselingi ngobrol canda dengan gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya malam itu. Para sahabat yang berada jauh di luar kereta sana bisa menjadi teman seperjalanan yang lebih mengasyikkan melalui SMS. Itu karena kami tidak saling terikat ruang dan waktu. Bisa kapan saja dilakukan, sambil apa saja, membicarakan apa saja, asyik dengan dirinya sendiri tanpa masing-masing perlu tahu apalagi perduli dengan suasana di sekitarnya.

Diantaranya saya sempatkan ber-SMS dengan anak perempuanku di Jogja. Saya bercerita tentang pengalaman mendebarkan naik ojek menerobos kemacetan yang barusan dialami bapaknya di Jakarta dan hingga nyaris ketinggalan kereta. Salah satu SMS yang saya kirim ke putriku itu bunyinya begini : “Just left Jakarta, nearly missed the train, a beautiful girl sits right beside me…”.

Rupanya oleh putriku dibalas cepat : “Ha ha ha.. oke oke.. be careful pa…”, kata SMS putriku bernada canda. Saya tersenyum membacanya sambil berucap “thanks” dalam hati. Saya senang membaca pesan putriku, cuma habis itu saya mikir : “Lho, sing be careful iki opone… (yang be careful itu apanya)”. Sebab yang mestinya disuruh be careful itu masinisnya, kalau saya kan tinggal duduk pasrah sama keretanya dan tidur kalau bisa, atau…. ya ngobrol dengan a beautiful girl right beside me itu tadi.

Karena kemudian saya ditinggal tidur juga oleh gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya, sementara SMS sahabat nun jauh di luar kereta sana terus menemani sambil takbiran di dalam kereta, sejenak pikiran saya menerawang jauh…..

Enam tahun yang lalu pada malam yang sama, saya dan ibunya putriku mengumpulkan kerikil di padang Muzdalifah. Lalu tiduran di atas tikar menikmati malam yang bersih dengan hembusan angin dingin yang bertiup sesekali lembut sesekali agak kencang melintas di bentang alam antara padang Arafah dan lembah Mina. Labbaikallahumma labbaik…., kupenuhi panggilanmu Ya Allah….. Ingin sekali aku mengulanginya, ingin sekali aku kembali memenuhi ajakanMu untuk bercumbu-mesra dalam suasana batin yang tak terkatakan, melainkan hanya titik airmata mewakili kehadiranku di hadapanMu…

Yogyakarta, 28 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

28 November 2009

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : “Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak”, katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. “Tapi ditawar saja, pak”, katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker…, segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal wesss…. begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. “Oedan…”, kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss…. berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. “Huhhh….”, kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap road race.

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : “Kita lurus pak”. Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : “Belok kanan, belok kanan….!”. Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. “Huhhhh, lagi…..”.

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : “Bang, tahu stasiun Gambir kan?”. “Ya, tahu”, jawabnya meyakinkan.

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. “Wuahhh, modar aku!”.

“Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?”, tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : “Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah”. Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir’ melainkan ‘terminal kota’. “Aaahhhh…. Guoblog!”, kata saya misuh-misuh…, memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : “Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana”, maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : “Jalan terus dan ikuti perintah saya!”. Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku!

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e’) dan saya panggil ‘Abang’, ternyata kemudian bilang begini : “Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)”, katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : “Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)”, kata saya sambil rada jengkel.

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : “Turahane pek-en nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)”, lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta…..

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Coto Makassar

27 November 2009

Banyak sekali daging sapi dan kambing dikirim ke rumah hari ini. Nyate? Nggule? Ibunya anak-anak lalu punya ide, hati dan jerohan sapinya dibikin coto makassar. Hmmm….. Sometimes, having a small improvisation is beautiful…..

(“Selamat Idul Adha 1430H… Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kurban kita diterima Allah swt sebagai wujud penghambaan dan ketakwaan kita. Amin….)

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Malam Takbiran Di Argo Lawu

27 November 2009

Di Argo Lawu menuju Jogja, duduk di samping seorang gadis manis. Sambil takbiran menghabiskan malam… membayangkan sedang mengumpulkan kerikil di Muzdalifah…

(Tadi siang terbang dari Jogja ke Jakarta karena ada keperluan mendadak. Sekitar dua jam saja di Jakarta lalu malamnya kembali ke Jogja naik kereta api Argo Lawu, agar esok pagi-pagi bisa sholat Idul Adha di rumah dan membantu panitia penyembelian hewan qurban di kampung)

Jakarta (di dalam KA Argo Lawu), 26 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Hari Guru 25 Nopember 2009

27 November 2009

Anakku hari ini libur sekolah, katanya Hari Guru.

Pada Hari Kartini, kartini-kartini tidak libur; Hari Pahlawan, kepahlawanan tidak libur; Hari Kereta Api, sepur-sepur tidak libur; Hari Buruh, buruh-buruh malah minta libur; Hari Idul Qurban saja kambing-kambing tidak libur. Bukankah lebih baik kalau pada Hari Guru diadakan kegiatan lebih meriah tapi khusyuk dalam rangka memberi penghormatan atas jasa pak/bu guru yang sungguh luar biasa? –

“Terima kasihku padamu, guruku…”.

Yogyakarta, 25 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Obrolan Seorang Bapak Dan Anak Perempuannya

24 November 2009

Anak perempuanku yang baru tahun pertama kuliah, malam itu minta dijemput ke kampusnya sepulang dari kegiatan outbond ke luar kota. Pada waktu yang bersamaan saya telanjur ada janji mau ketemuan dengan seorang teman, di sebuah café di Jogja. Lokasi café dan kampusnya sama-sama jauh dari rumah, tapi jalurnya searah. Agar saya tidak perlu bolak-balik menjemput anakku lalu pulang dan berangkat lagi padahal rutenya sama, maka tiba-tiba saja muncul ide untuk menggabungkan kedua agenda itu. Saya merencanakan untuk menjemput anakku dulu, kemudian pulangnya mampir ke café ketemu seorang teman.

Sebelum berangkat dari rumah saya berdoa di dalam hati. Benar-benar saya berdoa dengan hidmat. Bukan sekedar selintas di pikiran dengan kata ‘mudah-mudahan’, sebagaimana salah kaprah yang sering dilakukan orang bahwa dikiranya yang namanya berdoa itu cukup dengan melintaskan harapan di pikiran, lalu selebihnya : “Tuhan kan Maha Tahu” (ya memang sudah sejak dulu kalau Tuhan itu Maha Tahu). Doa saya bunyinya kira-kira begini : “Tuhan, kalau sekiranya niat mengajak anak perempuanku mampir ke café malam ini adalah baik, tolong dimudahkan. Tapi jika menurut Panjenengan tidak baik, beri saya keikhlasan untuk nyopir bolak-balik…”.

Sampai di kampus, anak perempuanku pas baru tiba juga. Dia langsung masuk mobil lalu kemudian saya memutar balik kendaraan. Sebelum mulai jalan, anakku saya tanya dulu tentang kesediannya untuk saya ajak mampir café dan menemani bapaknya ketemu seorang teman. Jangan-jangan dia kecapekan dan tidak setuju. Tapi rupanya anakku setuju dan bersedia ikut ke café. Maka meluncurlah kami ke sebuah café. Ya, seorang bapak berusia menjelang setengah abad bersama anak gadisnya lalu turun dari mobil dan masuk café.

Sesampai di sana, mengambil tempat duduk, pesan makanan dan minuman sekedarnya, lalu saya pun ngobrol ngalor-ngidul dengan teman. Sementara anakku yang juga duduk semeja (barangkali) turut mendengarkan obrolan orang tuanya sambil memainkan HP-nya. Sesekali anakku saya ajak bicara. Sekitar satu setengah jam lebih sedikit lamanya kami nongkrng di cafe, hingga kemudian kami pun pulang.

Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dengan peristiwa ini. Lebih-lebih di kota besar, nongkrong di café malam-malam bagi seorang perempuan maupun orang tua sebaya saya bukanlah hal yang aneh. Tapi tidak bagi bapaknya anak perempuanku itu yang  termasuk manusia konservatif. Maka momen itu saya manfaatkan untuk mendiskusikan beberapa hal, sambil kami berkendaraan pulang.

***

Seorang bapak dan seorang anak perempuan malam-malam nongkrong di café tanpa ada alasan yang jelas, sepanjang pemahaman saya tidak pernah ada referensi rujukannya. Artinya, kalau mau ditimbang-timbang antara manfaat dan mudharatnya, hampir pasti, sekali lagi hampir pasti lebih banyak mudharatnya. Begitulah menurut ilmu yang pernah saya pelajari sejak dari buaian dulu hingga sekarang sebelum masuk kubur. Jika kemudian di jaman sekarang pemandangan itu seperti lumrah dijumpai, maka itu pasti bukan salah ilmunya melainkan pelaku jamannya. Kalau jamannya sih baik-baik saja, sekedar pergantian waktu dari malam ke siang, hari ke bulan, tahun ke abad, dst. Tapi justru pelakunya ini yang susah diatur karena memiliki nafsu dan akal yang keduanya sering uncontrollable.

Sambil berkendaraan santai, sambil saya bercerita menunjukkan café-café yang kalau malam banyak dikunjungi anak-anak perempuan muda, entah pelajar, entah mahasiswa, entah pekerja, entah yang merangkap semuanya. Termasuk hotel yang menerapkan tarif spesial short time sehingga banyak dikeluar-masuki tamu. Termasuk tempat-tempat makan yang enak. Lho, kok bapaknya malah tahu? Lha itulah repotnya, untuk bisa memberitahu memang harus tahu duluan (dasar!).

Tapi inti sebenarnya dari obrolan bapak dan anak perempuan itu adalah memberi sebuah pemahaman (bukan nasehat, sebab anak sekarang suka apatis kalau mendengar istilah nasehat apalagi dari orang tuanya). Pemahaman bahwa bukanlah hal yang baik dan benar kalau ada anak perempuan malam-malam suka keluyuran dan nongkrong di café, kalau bukan karena ada urusan yang mendesak (tapi celakanya sekarang ini segala urusan itu kok ya kelihatannya mendesak semua, atau terkadang didesak-desakkan).

Bukan tidak boleh (takut juga bapaknya kalau dibilang suka ngatur), sesekali okelah oleh karena ada alasan yang dapat diterima oleh pertimbangan akalnya sendiri (tidak dibutuhkan akal orang lain untuk mempertimbangkannya). Maka itulah pentingnya mendidik dan memberi makan yang sehat bagi akalnya sendiri, agar tidak bergantung kepada akal orang lain. Namun kalau nongkrong di café itu menjadi kebiasaan…., ya bukan salah juga. Hanya ya itu tadi, digaransi bahwa mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya.

Lagian ya ngapain saya nongkrong di café”, komentar anak perempuanku ini membuat hati saya mak plong….. Saya percaya dengan kejujurannya (kalau tidak percaya ya jangan jadi bapaknya).

Ngiras-ngirus (sekalian) saya bercerita kepada anakku bahwa terkadang bapaknya juga nongkrong sampai malam di café, untuk tujuan ketemu klien atau partner kerja, melakukan lobby, meeting dan terkadang juga berjudul hang out. Sebab profesi bapaknya memang menuntut untuk banyak ketemu orang. Tapi saya memastikan kepada anakku bahwa dari rumah tujuannya mesti benar dan lurus dulu, sebab di luaran sana banyak fasilitas untuk miring-miring, bahkan terkadang dapat diperoleh dengan gratis.

Akhirnya anak perempuanku tertawa ngakak ketika saya bilang : “Tapi ibu tidak tahu kalau bapak pergi ke café. Bapak bukannya berbohong sama ibu, melainkan hanya tidak mengatakan yang sebenarnya…..”, dan anakku pun terus tertawa. Saya tidak tahu tertawa ngakaknya anakku ini karena menganggap cerita bapaknya ini lucu, atau malah melecehkan bapaknya, atau jangan-jangan senang karena punya bapak ‘enggak seberapa gila’. Sebab ibunya anak perempuanku ini lebih konservatif lagi dibanding bapaknya, sehingga rentan terhadap kemungkinan salah paham. Biar tidak sulit menjelaskannya (kelamaan diskusi sebelum berangkat malah akhirnya tidak jadi pergi), mendingan tidak mengatakan yang sebenarnya tanpa harus berbohong.

Dunia ini memang butuh orang-orang yang konservatif. Dunia menjadi indah justru karena ada orang-orang yang konservatif cara berpikirnya, juga negara dan keluarga, agar perilaku kehidupan ini sak madyo (sedang-sedang saja), proporsional, sewajarnya dan tidak kebablasan seperti para penguasa otonomi daerah.

Yogyakarta, 23 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Berimprovisasi Di Warung Soto Pak Marto Jogja

21 November 2009

Dalam perjalanan mengantar istri ke tokonya, tiba-tiba beliau mengajak berhenti mampir ke Warung Soto Pak Marto di Jl. Janti Jogja. “Lapar”, katanya singkat. “Sama”, jawab saya juga singkat. Sebelumnya memang sudah beberapa kali kami mampir ke warung soto ini. Lokasinya di jalan utama masuk Jogja dari sisi tenggara, tepatnya di seberang agak ke barat dari balai Jogja Expo Center (JEC), memang cukup strategis. Mudah dicari dan dihampiri.

Siang itu suasana warung agak ramai karena ada rombongan bis besar yang juga berhenti makan siang. Meski bernama warung, tapi tampilannya sebenarnya cukup megah. Barangkali sebutan warung dimaksudkan untuk mengenang masa-masa almarhum Pak Marto merintis usahanya sebagai tukang soto lebih 25 tahun yll. di lokasi itu. Ketika itu penggal ke barat jalan Janti masih menjadi kawasan jin buang anak (hasil hubungan gelap barangkali…) alias ndeso, sepi dan masih berupa jalan desa.

Seputaran tahun 1983 Pak Marto memulai bisnis sotonya. Semakin hari sotonya semakin dikenal dan menjadi jujukan para penyoto (penggemar soto) dari kawasan sekitarnya. Namun sayang, Pak Marto tidak sempat lama menikmati sukses dari hasil kerja kerasnya. Tahun 1995 Pak Marto berpulang, lalu disusul Bu Marto sekitar dua tahun kemudian. Kini bisnis sotonya masih terus berkibar dan dilanjutkan oleh generasi kedua dan ketiganya. Seperti warung soto yang di Jl. Janti itu kini dikelola oleh salah seorang cucunya. Sementara Warung Soto Pak Marto pun semakin merambah membuka cabangnya di berbagai kota.

Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Kalau kategori rasa itu boleh diskala jadi tiga: pertama enak, kedua enak banget, dan ketiga hoenak tenan….., maka soto Pak Marto termasuk enak. Jenis sotonya adalah soto daging sapi, cuma dagingnya kurang full, masih setengah-setengah…… Saya dapat memakluminya kalau alasannya karena harga jualnya yang semangkuk Rp 7.000,-disesuaikan dengan harga beli daging sapi di pasar.

Seperti umumnya warung makan di Jogja, maka selalu ada asesori kecap manis disediakan. Rupanya di warung ini tidak memilih kecap terkenal yang katanya dibuat dari kedelai hitam, melainkan kecap lokal cap Ayam yang kecapnya kental dan lebih terasa manis gulanya ketimbang kedelainya. Meski demikian, kalau lagi berada di sisi tenggara Jogja, warung soto Pak Marto ini bisa jadi pilihan untuk petualangan kuliner soto-menyoto. Nama besar Pak Marto seolah menjadi jaminan para penggemar soto.

***

Di warung itu kami mengambil tempat duduk yang dekat jalan masuk, karena kebetulan tempat itu yang kosong. Sambil menikmati hangatnya sruputan kuah soto yang bening menyegarkan, lalu datang seorang pengamen memainkan alat musiknya yang sangat sederhana. “Icik-icik” namanya. Sejenis alat musik seadanya terbuat dari kayu yang dilengkapi entah apa, sehingga kalau digoyang-goyang berbunyi “icik-icik”…. Pengamen itu adalah seorang bapak tua yang jalannya sudah agak membungkuk berbaju warna hijau pupus lusuh. Jelas bukan memainkan lagu. Tanpa intro, tanpa reffrain dan bukan juga lupa syairnya, melainkan sekedar irama musik monoton yang baru bisa berhenti setelah disodori uang.

Satu menit, dua menit…. Musik itu masih berbunyi. Sementara tidak seorangpun pelayan warung yang perduli, saking sibuknya mondar-mandir melayani pengunjung warung yang lagi ramai. Padahal yang diharapkan oleh pengamen itu barangkali hanya sekedar uang cepek-nopek. Kalau sesekali ada yang memberi koin gopek, sudah sangat berterima kasih.

Tiga menit, empat menit….. Belum juga ada orang warung yang memperdulikannya. Mulailah pikiran kreatif saya yang sedang kelebihan energi positif menangkap peluang. Ya, peluang untuk sedikit berimprovisasi spontan mengambil alih kepedulian terhadap bapak tua pengamen “icik-icik” itu. Lalu saya hampiri pengamen tua itu sambil saya sodorkan selembar ribuan. Benar juga, musik langsung berhenti dan pengamen tua itu ngeloyor pergi sambil berterima kasih. Mission accomplished. Saya pun duduk kembali, melanjutkan nyruput soto, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang pengamen tua melainkan melanjutkan ngobrol dengan istri yang tadi terputus sebentar.

Usai nyoto, becanda sebentar dengan cucunya Pak Marto, lalu beranjak meninggalkan tempat parkir. Entah datang energi positif dari mana, tahu-tahu terpikir untuk melakukan improvisasi tahap kedua. Membuka kaca mobil sebelah kanan (kalau sebelah kiri terlalu jauh…..), lalu menyodorkan uang parkir dalam satuan agak besar. Ketika tukang parkir separuh baya itu hendak mengambil kembaliannya, segera saya berbisik : “Tulung turahane diwenehke anake njenengan….(tolong sisanya diberikan kepada anak Bapak)”.

Segera tancap gas, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang tukang parkir itu melainkan ngobrol lain dengan istri. And another mission accomplished. Begitu saja. Lalu perjalanan pun dilanjutkan menuju toko di Madurejo, kecamatan Prambanan, Jogja.

Just a simple improvisation in my life. Saya sedang membicarakan nominal uang yang relatif tidak seberapa dibanding harga soto yang barusan saya santap dan rokok yang saya hisap. Tapi dipastikan manfaatnya sangat besar bagi orang-orang yang sedang membutuhkan. Saya sendiri heran, kenapa sangat jarang saya melakukan hal-hal kecil seperti ini. Tepatnya, jarang terpikir untuk lebih sering melakukannya. Padahal jumlah uang yang saya libatkan dalam improvisasi kecil semacam itu sama sekali tidak akan mengganggu roda ekonomi dan kehidupan saya maupun keluarga saya. Tapi berat rasanya untuk sering-sering melakukannya. Butuh dorongan kuat untuk merangsang bangkitnya energi positif yang nilai manfaatnya luar biasa, tanpa saya sadari wujudnya.

Yogyakarta, 22 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Mampir Nyoto Di Warung Soto Sapi Winong Kotagede

20 November 2009

Jumat pagi-pagi ini saya mesti mengantar anak perempuan ke terminal bis Giwangan, Jogja. Sejak kemarin dia sudah wanti-wanti agar bapaknya tidak lupa. Katanya mau mengikuti kegiatan outbond kampusnya ke daerah Sarangan (Jatim) lalu besoknya pindah ke Magelang (Jateng). Pulang dari terminal sengaja saya menempuh rute memutar melalui kecamatan Kotagede, sekedar ingin menikmati suasana pagi mendung yang baru akhir-akhir ini melanda kawasan Jogja dan sekitarnya setelah berbulan-bulan panas terus-terusan.

Tiba di daerah Winong, ujuk-ujuk saya ingat di daerah itu ada warung soto sapi yang lumayan enak, cerita seorang teman. Tidak susah untuk mencari lokasinya, tepatnya di Jl. Ngeksigondo no. 4 yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah tinggal saya. Langsung saja berhenti tepat di depan warung yang pagi itu masih terlihat sepi. Kemudian pesan semangkuk soto sapi sambil sedikit ngobrol dengan pelayannya. Biasa, kalau sudah begini rasa ingin tahu selalu muncul. Sumber informasi yang paling mudah, ya ngobrol dengan pelayannya.

Semangkuk soto dengan kandungan irisan daging sapinya cukup banyak segera tersajikan. Belum puas dengan itu, lalu saya pesan iso (usus) goreng yang dipotong kecil-kecil sebagai ramuan tambahan. Sayang iso gorengnya dibumbu bacem. Saya kurang begitu suka karena sensasi rasa asli isonya jadi hilang.

Sruputan pertama kuahnya begitu menggoda, selebihnya terserah yang menyruput…, sebab rasa kaldu dagingnya langsung terasa. Setelah dicecap-cecap sebentar kemudian saya tambah dengan kecap manis. Dasar lidah Jogja, kalau belum ditambah kecap serasa makan soto tanpa kecap…… Kurang manis, maksudnya. Rasanya lumayan enak, terutama bagi sopir yang sedang kelaparan di pagi mendung. Bisa sebagai referensi kalau suatu kali nanti kepingin makan soto yang lokasinya tidak jauh dari rumah di kawasan Jogja tenggara.

Warung soto ini sudah cukup dikenal di wilayah Jogja, sebagai warung Soto Sapi Winong. Tampilan warungnya yang mengesankan sederhana dan melayani pecinta soto sejak pagi hingga sore hari itu kini sudah memiliki cabang di Jl. Wonosari dan Jl. Solo. Masih di wilayah Jogja juga. Ini menandakan bahwa bisnis persotoan yang mulai dirintis oleh Pak Wachid sebagai pemiliknya sejak sekitar tahun 1993 itu cukup berkembang. Setidak-tidaknya memberi pilihan bagi pecinta soto yang sedang berada di wilayah kota Yogyakarta. Harga semangkuk nasi soto yang hanya Rp 7.000,- kiranya masih wajar  jika menimbang citarasa yang ditawarkan dan asesori irisan daging dalam racikan sotonya. Setidaknya sebanding dengan kebutuhan sebagai pilihan sarapan pagi bagi warga masyarakat penyoto (penggemar soto) yang tinggal atau melewati wilayah seputaran Kotagede, Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran dan membawa sebungkus soto untuk ‘boss’ saya di rumah, saya pun pamit kepada pelayannya (ke pelayan saja kok pamit….). Beberapa saat sebelum meninggalkan halaman warung, lha kok tiba-tiba ada sepeda motor berhenti menghalangi. Pengendaranya sepasang muda-mudi. Keduanya lalu turun dan terlibat dalam pembicaraan serius. Tentu saja saya tidak mendengar percakapan mereka. Tapi memperhatikan ekspresi wajah keduanya sepertinya sedang bertengkar.

Dari belakang kemudi saya memperhatikan adegan yang langka itu. Dalam hati saya memberi apresiasi kepada kedua orang itu. Setidak-tidaknya mereka telah melakukan safe action berlalu lintas. Berboncengan sepeda motor, bertengkar, lalu menepi berhenti dulu. Daripada nanti dikira pemain sirkus jalanan, naik sepeda motor sambil berantam…..  Pelajarannya adalah, jangan naik sepeda motor sambil bertengkar. Kalau terpaksa juga mau bertengkar di jalan, menepilah dulu dan berhenti di tempat yang aman (Lha ya siapa yang mau bertindak bodoh semacam ini? Tapi faktanya toh terjadi juga…..).

Tidak lama kemudian, mereka pun bersepakat melanjutkan perjalanan berboncengan kembali. Mungkin sudah ada kesepakatan damai atau gencatan senjata sementara waktu. Entahlah, itu urusan mereka. Yang jelas, kemudian saya pun mengambil gambar spanduk penanda warung Soto Sapi Winong lalu berangsur pulang. Tadi itu bukan saya sengaja ingin menikmati adegan pertengkaran sepasang muda-mudi, melainkan saya terpaksa menunggu hingga pertengkaran selesai karena mereka berhenti tepat di depan tulisan yang mau saya foto.

***

Nyoto atau makan soto adalah salah satu pilihan sarapan pagi yang relatif murah-meriah-mudah. Tergolong makanan cepat saji yang bukan fast food. Kalau kebetulan uang saku lagi cekak, makan soto tanpa pesan minum pun masih layak ditempuh, sebab kuah soto tidak bersantan dan menyegarkan.

Menyimak kata orang Jawa : “Urip mung sak dermo nunut nyoto” (hidup itu cuma sekedar numpang makan soto), murah, cepat, dan kebutuhan perut terpenuhi. Esensinya adalah bahwa hidup ini cuma sebentar saja, sebelum menuju ke destinasi terakhir yang lebih kekal dan abadi. Karena itu, tunaikanlah hidup ini sebagaimana adanya dan wajarnya, sebagaimana makan soto di pagi hari. Sebab soto dan penyoto itu tidak mungkin neko-neko. Dari dulu hingga nanti lewat tanggal 21 Desember 2012, yang namanya soto dan nyoto ya begitu itu…..

Yogyakarta, 20 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Dasa Windu Prof. Drs. H.R. Bambang Soeroto

19 November 2009

Bersyukur, dapat mempersembahkan sebuah buku kecil berjudul “Perjuangan Itu Tidak Ada Akhirnya”, bagi sesepuh almamater UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Drs. H.R. Bambang Soeroto, yang berulang tahun ke-80 pada 17 Nopember 2009… Mangayubagyo Dasa Windu….

(Sejak merintis dan mendirkan APN, lalu PTPN, hingga akhirnya UPN, pak Bambang Soeroto menjabat sebagai Rektor selama 35 tahun, dari tahun 1958 sampai 1993. Kemudian tahun 1993 – 2003 pak Bambang Soeroto menjadi Rektor Universitas Proklamasi Yogakarta)

Yogyakarta, 18 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Lembur Dan Nasi Kucing

19 November 2009

Siap-siap untuk lembur (beneran, nih). Tiba-tiba kepingin makan nasi kucing di angkringan depan. Eh, siwalan…. Nasinya sudah diborong orang lain yang juga lembur, tinggal kucingnya keluyuran kemana-mana…….

Yogyakarta, 17 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

15 November 2009

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008
Yusuf Iskandar

Menunggu Dimimpikan

15 November 2009

Minggu pagi ini ada yang aneh pada istriku. Beliau terlihat baik sekali di depan saya, lebih dari hari biasanya. Gaya bahasanya pun terdengar lebih halus dan manis dari biasanya. Ada apa gerangan? Ada yang berulang tahun? Ada yang sedang syukuran? Menang lotere? Meraih sukses lebih? Semua jawabannya ternyata tidak.

“Mau dimasakin air untuk bikin kopi, enggak mas?”, tanyanya mesra.
Kok tumben saya ditanya begitu”, kataku heran tapi hanya dalam hati. Biasanya kalau saya bikin kopi sendiri dengan menggunakan air dari dispenser, sering dikomentari : “Kopi terusss…..”. Kebetulan hari ini air mineral di galon di atas dispenser memang sedang habis dan telat diganti. Dalam keadaan seperti ini maka kalau mau bikin kopi mesti menjerang air dulu.

“Pasti ada apa-apa”, kataku lagi dalam hati. Tapi apa ya? Di depan beliau ekspresi saya sengaja cuek aja…, pura-pura seperti tidak ada apa-apa (boro-boro memuji, dasar…!). Tapi hati saya penuh dengan rasa penasaran dan curiga. Meski beliau penggemar Mario Teguh, dampaknya pasti tidak sedrastis pagi ini. Sampai akhirnya istri saya yang justru tidak bisa menahan perasaannya, tipikal seorang wanita.

Barulah kemudian istriku duduk mendekat dan berkata : “Semalam aku mimpi buruk…… Sampeyan meninggal dunia……”.
“Innalillahi wa-inna ilaihi rojiun”, kata saya spontan dalam hati. Wooo….., itu to sebabnya. Pantesan pagi ini kok tampak lain dari pagi biasanya, rupanya saya ‘meninggal dunia’ tadi malam.

Sejujurnya saya sendiri sempat galau. Kenapa sampai mimpi buruk itu hadir menjadi bunga tidur istriku. Jelas ini bukan bunga yang mekar indah harum mewangi, melainkan bagai kuncup bunga kembang tak jadi karena diserang hama KPK (kutu putih kecil). Kalau kebanyakan orang berangan-angan tentang dream comes true. Tapi kali ini sungguh saya berharap jangan comes true dulu, deh…..

***

Sambil menikmati secangkir kopi susu yang susunya full enggak setengah-setengah…., dan menghisap sebatang rokok putih dalam-dalam, saya merenung dalam hati (padahal biasanya kalau merenung itu dalam pikiran). Hasilnya?

Sssttt……, hari ini saya punya alasan dan bargaining position untuk rada dimanjakan oleh beliau…”.

Sssttt yang kedua…., saya punya alasan tambahan untuk menjadi lebih mesra….”. Lebih mesra kepada istri? Ya. Dan kalau itu sih sudah jelas menjadi kewajiban harian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tapi bagaimana menjadi lebih mesra kepada Sang Pemilik Hidup?  Ampun Gusti wastaghfirullah. “Masak sih saya harus menunggu dimimpikan dulu untuk menambah kemesraanku padaMu?”……..

Yogyakarta, 15 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Sumilar Sebagai Pengganti Abate

15 November 2009

Sumilar5 Sumilar7

Pagi tadi rumah saya kedatangan petugas pengasapan (fogging) dari Kelurahan. Asap putih pun segera memenuhi sekeliling rumah. Pengasapan akan membantu untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya tak terusik. Cara yang efektif untuk mengatasi jentik nyamuk dan telurnya adalah dengan rumus 3M (menguras, menutup, mengubur), ikanisasi (menaruh ikan di bak atau tandon air) dan pemberian abate.

Dua hari yang lalu rumah saya juga didatangi dua orang petugas penyuluh kesehatan dari Kelurahan. Kunjungannya ini memang terkait dengan wabah penyakit demam berdarah yang akhir-akhir ini menyemarak di kampung kami (seperti yang saya ceritakan sebelumnya).

Selain memberi penyuluhan tentang 3M, lalu melakukan pengamatan secara sekilas kalau-kalau ada tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Ada satu lagi yang baru, yaitu membagi bubuk pembasmi nyamuk yang disebut sumilar.

Sumilar ini ternyata adalah bahan pengganti abate yang selama ini digunakan dan dikenal masyarakat. Cara penggunaannya hampir sama dengan abate, yaitu dicelupkan atau dimasukkan ke dalam bak atau tandon air. Menurut penjelasannya, bahan pembasmi nyamuk yang disebut sebagai hormon sumilar ini lebih baik dibanding abate.

Setelah melacak di internet, saya menemukan penjelasan dari Sugeng Juwono Mardihusodo, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM yang juga menjabat sebagai presiden nyamuk, Asosiasi Pengendalian Nyamuk Indonesia (Kompas, Selasa 04-03-2008). Menurut beliau, sumilar sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk untuk menjadi dewasa dan mematikannya. Selain itu, sumilar juga mempunyai daya bunuh lebih lama dibanding abate. Kalau abate hanya efektif untuk 2-3 bulan pemakaian, sedangkan sumilar bisa mencapai 4-5 bulan.

Masih menurut Pak Sugeng : “Nyamuk-nyamuk sekarang sudah semakin sulit diberantas. Mereka sudah kebal abate dan disinfektan. Kekebalan pada nyamuk tersebut muncul karena memiliki gen resisten terhadap obat-obatan itu”.

***

Rupanya sekarang ini sumilar sedang diujicoba untuk dimasyarakatkan di kota Yogyakarta. Mudah-mudahan bukan uji coba tentang daya gunanya, melainkan hanya pemasyarakatannnya saja. Pelaksanaan uji coba ini adalah hasil kerjasama antara pemerintah kota dengan sebuah yayasan non-profit di Yogyakarta.

Sumilar kini mulai dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat kota (masyarakat luar kota belum). Nampaknya Yogyakarta menjadi kota pertama yang menggunakan produk sumilar yang konon buatan Malaysia (begitu menurut informasi petugas penyuluh). Dari namanya saja sudah dapat ditebak, produk ini adalah buatan perusahaan Sumitomo.

Sumilar ini berupa butir-butir berukuran kecil (lebih kecil dari butiran batupasir), berwarna coklat muda bercampur dengan satu-dua butiran yang berwarna kehitaman. Bahan butiran halus ini dibagikan sudah dalam bentuk kemasan sangat sederhana, yaitu berupa bungkusan kantong plastik kecil yang diikat tali (jelas ini bukan kemasan dari pabriknya melainkan dikemas ulang agar masyarakat tinggal memakainya dengan mudah).

Plastiknya sendiri sudah ditusuk-tusuk dengan jarum sehingga berlubang-lubang kecil yang memungkinkan ditembus air. Di dalam bungkusan plasik ditambahi beberapa butir kerikil yang berfungsi sebagai pemberat. Maka, bungkusan sumilar tinggal dicelupkan atau ditenggelamkan ke dalam bak air dengan menggunakan talinya sebagai penggantung.

Seberapa efektifnya penggunaan sumilar sebagai pengganti abate? Kota Yogyakarta sedang membuktikannya. Kiranya yang akan menjadi kendala nampaknya justru ketelatenan masyarakat untuk memasang atau menggantung kantong plastik berisi sumilar ke dalam bak atau tandon, mengingat jika menggunakan abate biasanya tinggal menumpahkannya saja ke dalam air.

Umbulharjo – Yogyakarta, 26 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 1)

15 November 2009

Suatu ketika anak, adik, keponakan, saudara atau tetangga kita terserang demam tinggi. Kejadian ini seringkali membuat kita, apalagi orang tuanya, kalang kabut dibuatnya. Berbagai obat penurun panas diberikan dan berbagai cara dilakukan untuk meredakan demamnya. Sehari, dua hari, tiga hari, hingga hari keempat akhirnya panas badannya menurun. Kita pun merasa lega.

Namun, sungguh. Pada musim penghujan seperti sekarang ini, dimana wabah demam berdarah (DB) sedang melanda hampir ke seantero belahan Indonesia, sebaiknya mulai memberi perhatian lebih jika mengalami kejadian seperti ilustrasi di atas. Siapa tahu, turunnya suhu badan itu justru pertanda masuknya si penderita demam ke tahap kritis DB.

Akhir-akhir ini berita tentang wabah DB hampir setiap hari mewarnai media kita. Slogan 3M pun bak kafilah yang terus berlalu. Saking seringnya penayangan berita itu sehingga sepertinya menjadi kabar yang “biasa-biasa saja”. Persis seperti dulu ketika kita mendengar berita bencana banjir, longsor, angin ribut atau kecelakaan, ada seorang saja yang meninggal, kita sudah prihatin setengah mati. Namun belakangan ini, saking seringnya kabar tentang bencana muncul di media, kok sepertinya menjadi kabar yang biasa saja. Akhirnya kita kurang tertarik untuk mencermatinya. Demikian halnya dengan kabar tentang demam berdarah.

Namun ketika anak, adik, keponakan atau saudara kita terserang DB, barulah kita kelabakan, bahwa ternyata tidak banyak yang kita ketahui tentang wabah penyakit ini.

***

Minggu-minggu belakangan ini ada empat orang tetangga saya di kampung Kalangan, Umbulharjo, terserang DB. Tiga orang anak-anak dan satu orang dewasa. Dua dari tiga anak ini adalah kakak beradik. Syukurlah, kini semua sudah mulai pulih kondisinya, meski dua dari ketiga anak itu sempat mengalami periode masa kritis.

Dua hari yang lalu saya sempat bezoek ke Rumah Sakit. Dari cerita-cerita dengan orang tua penderita, akhirnya sedikit banyaknya saya dapat belajar tentang seluk dan beluknya penyakit yang akhir-akhir ini cukup menjadi momok bayang-bayang kematian.

Saya mulai bisa merasakan bagaimana kalutnya sebagai orang tua ketika tiba-tiba anaknya terserang demam tinggi, kemudian diikuti muntah-muntah, lalu ngomyang (bahas Jawa, artinya mengigau atau bicara sendiri tidak karuan), dan terjadinya di tengah malam (kalau mau lebih dramatis lagi, saat sedang hujan lebat dan pas listrik mati).

Barulah saya ngeh, betapa pengetahuan praktis yang kedengarannya remeh-temeh ini menjadi sangat penting di kala kita sendiri yang mengalami menjadi orang tua itu.

Tetangga saya itu lalu menyodorkan sebuah buku tipis tentang perdemamberdarahan. Sepintas saya buka-buka buku itu ternyata memuat banyak tips praktis yang disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Buku tipis terbitan Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada itu berjudul “Mengenal Demam Berdarah”, ditulis oleh Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp A(K), seorang dokter spesialis anak yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran UGM.

Berikut ini sedikit tips yang saya kutip dari buku itu, sekedar untuk jaga-jaga siapa tahu di musim wabah DB seperti sekarang ini tiba-tiba pengetahuan praktis itu dibutuhkan.

Tentang gejala DB :

Gejala umum DB (seperti umumnya penyakit lain) dimulai dengan demam tinggi yang terjadi pada masa akut hari ke-1, ke-2 dan ke-3, diikuti gejala-gejala yang dalam buku itu dirumuskan dengan : Demam + KLMNO(P), yaitu :

  1. Demam
  2. Kepala nyeri, pusing.
  3. Lemah.
  4. Mual (nek), muntah.
  5. Nyeri Otot dan sendi.
  6. Perdarahan spontan jarang terjadi pada masa akut. Kalaupun ada, misalnya mimisan, bintik merah di kulit.

Setelah masa akut pada tiga hari pertama, maka waspadalah ketika kemudian demam mulai menurun.

Demam turun akan berarti baik, kalau pasien semakin segar, mau makan dan minum, dan gejala KLMNO(P) menghilang.

Demam turun akan berarti semakin kritis, kalau gejala KLMNO(P) semakin parah :

  • Kepala semakin pusing
  • Lemah sampai kesadaran menurun bahkan shock,
  • Mual, muntah, perut sangat-sangat nyeri
  • Nyeri Otot
  • Perdarahan spontan (seperti mimisan, muntah darah, berak darah, batuk darah, biru-biru pada bekas tusukan jarum).

Tentang demam dan masa kritis :

Demam pada DB berkisar selama 2 – 7 hari (suhu badan mencapai lebih 38,5 derajat Celcius). Hari ke-1 hingga ke-3 adalah masa akut. Sedangkan masa kritis terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6 (ketika suhu badan mulai menurun). Disebut masa kritis karena 80% penderita yang tergolong berat akan mengalami shock dan hilang kesadaran pada hari-hari ini.

Tentang perawatan di rumah :

Ketika masih menjalani perawatan di rumah (biasanya kita atau orang tua belum tahu dan belum menyadari akan kemungkinan terkena DB), maka yang paling utama penderita harus diupayakan tetap mau makan dan minum (apa saja) sebanyak-banyaknnya, juga perlu diperhatikan kekerapan kencingnya.

Jika kira-kira sudah masuk hari ke-4, ke-5, ke-6 sejak pertama kali demam, lalu muncul gejala salah satu saja dari 6K, maka segeralah dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.

6K itu adalah :

  1. K – Kesadaran menurun, anak gelisah
  2. K – Kulit, kaki, tangan terasa anyes (sejuk), lembab dan dingin.
  3. K – Kencing berkurang, atau malahan tidak kencing selama 6 jam.
  4. K – Kejang
  5. K – Kurang sekali makan dan minum, muntah terus-menerus, sehngga tubuh menjadi lemas
  6. K – Keluar perdarahan (hidung, kulit, mulut, dubur).

Tentang nyamuk pembawa virus dengue :

Mahluk pembawa virus dengue penyebab DB, yaitu nyamuk aedes aegyptie (ini jenis nyamuk rumahan) mempunyai daya jelajah per harinya mencapai 30-50 meter. Sedangkan kawannya aedes albopictus (ini jenis nyamuk kebun atau outdoor) mempunyai kemampuan jelajah per harinya hingga 400-600 meter.

Nyamuk ini suka di tempat yang gelap dan lembab. Sekali beroperasi, dia senang menggigit beberapa orang sekaligus. Waktu operasinya biasanya pagi dan sore. Meski nyamuk ini tergolong pendek umurnya, hanya sekitar dua mingguan, tapi telurnya mencapai sejumlah 400 dan jika tidak ada genangan air mampu bertahan di dinding tandon air hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Maka, kita semua sesungguhnya mempunyai peluang yang sama untuk digigit nyamuk, karena nyamuk-nyamuk nakal ini lincah menyusup baik di kolong-kolong jalan tol maupun hingga naik lift ke lantai 30 apartemen.

Akhirnya, ada baiknya kita tingkatkan kewaspadaan melakukan deteksi dini seperti hendak menyongsong banjir kiriman, tsunami atau gunung mbledos, terhadap tanda-tanda serangan demam berdarah.

Jadi, waspadalah, justru ketika demam mulai turun. Jangan-jangan serangan DB sedang mengintai anak, adik, keponakan, saudara, tetangga atau malah diri kita sendiri.

Umbulharjo – Yogyakarta, 20 Maret 2008 (di Alun-alun Utara sedang ada perayaan Grebeg Sekaten)
Yusuf Iskandar

NB :
Meski “Madurejo Swalayan” menjual aneka obat anti nyamuk, tapi pasti itu tidak akan mampu membasmi gerombolan nyamuk dan telur-telurnya, melainkan hanya sebagai pengantar tidur saja.

Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 2)

15 November 2009

Cover DBKeprihatinan saya masih berlanjut perihal wabah penyakit demam berdarah (DB). Usai sholat jumatan siang tadi saya ketemu salah seorang tetangga yang baru saja sembuh dari serangan DB dan orang tua dari dua anak yang terserang DB yang salah satunya sempat mengalami masa kritis beberapa hari yll. Kesempatan ini saya pergunakan sebaik-baiknya untuk menggali informasi dan pengalaman.

Pasalnya beberapa hari yll anak kedua saya (13,5 tahun) mendadak pulang lebih awal dari sekolahnya dan mengeluh kepala pusing, badan panas disertai muntah-muntah. Serta-merta pikiran saya melayang jauh mengarah kepada kemungkinan serangan DB. Terapi pertama yang saya lakukan adalah memberinya obat turun panas dan “memaksanya” agar tetap makan dan banyak minum (minum apa saja).

Ternyata tetangga saya yang terserang DB tidak hanya empat orang, melainkan lebih dari enam orang. Tentu saja peristiwa ini membuat Pak RW menjadi sibuk. Upaya untuk melakukan pengasapan (fogging) pun diajukan kepada instansi terkait agar segera dapat dilakukan di wilayah kampung kami.

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa pengasapan itu sebenarnya hanya akan membunuh nyamuk, sedangkan jentik-jentik dan telurnya tetap sehat wal afiat dan siap-siap menjadi kader agen penyebar virus dengue. Oleh karena itu, pengasapan bisa tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk itu, ingat rumus 3M (Menutup, Menguras, Mengubur) adalah langkah yang tepat dan bukan sekedar slogan.

***

Kenapa orang dewasa yang terkena DB jarang yang sampai mengalami ke tahap masa kritis? Salah satu alasan yang bagi saya masuk akal adalah karena orang dewasa lebih nalar bahwa meski sakit, tubuh tetap perlu makan dan banyak minum. Sedangkan anak kecil, kalau sudah emoh makan dan minum, sekali emoh ya tetap emoh. Tidak perduli apa urusannya.

Padahal, tetap makan dan banyak minum adalah satu-satunya cara agar terhindar dari masa kritis penderita DB. Begitulah kesimpulan kami orang awam ini. Setidak-tidaknya kesimpulan itu dibenarkan oleh pengalaman tetangga saya yang sudah dua kali terserang DB dan orang tua dari kedua anak yang terserang DB. Kesimpulan yang sangat masuk akal setelah merujuk kepada penjelasan dokter dan apa yang diterangkan dalam buku praktis “Mengenal Demam Berdarah”, tulisan Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp. A(K).

Penyakit DB yang disebabkan oleh virus dengue itu hingga kini belum ada obatnya. Satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kodisi dan daya tahan tubuh penderita atau calon penderita. Kondisi tubuh yang fit perlu dipertahankan, baik dalam rangka pencegahan maupun perawatan.

Benar-benar kita perlu waspada ketika mulai menderita demam, lalu perhatikan pada hari keempat ketika demam mulai turun. Apakah kondisi tubuh menjadi lebih enakan, segar dan mau makan juga minum. Atau sebaliknya, tubuh menjadi lemah, kepala pusing, mual-mual dan tidak enak makan atau minum, otot-otot dan persendian nyeri, atau malah ada tanda-tanda perdarahan. Ada baiknya mengingat-ingat rumus KLMNO(P) seperti ditunjukkan dalam buku di atas.

Jika hal terakhir itu yang terjadi, perhatikan penuturan dari tetangga saya berikut ini :

Menurut dokter, itulah saatnya mulai terjadi pembengkakan lever (hati), sehingga terasa seperti ada yang mendorong (menyodok-nyodok) ke atas, di dalam perut. Peristiwa ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi bila peristiwa ini dialami oleh anak-anak kita, jangan maido (menyalahkan) kalau mereka akan mengerang dan merintih kesakitan.

Bagi anak-anak yang umurnya masih di bawah 3 tahun, barangkali mereka hanya bisa menangis dan merintih menahan sakit. Tetapi bagi mereka yang usianya lebih tua, seringkali sampai mengeluarkan kata-kata yang siapapun orang tua yang mendengarnya pasti akan menangis. “Saya tidak tahan lagi, Ma…”, “Saya tidak kuat lagi, Bu…”, “Lebih baik mati saja……”. Begitulah rintihan anak-anak, saking menahan rasa sakit luar biasa yang ditimbulkan. Ini bukan kalimat yang saya dramatisir, melainkan sungguh-sungguh terjadi dan banyak terjadi. Pada tahap ini pula penderita adakalanya mengalami shock atau juga kehilangan kesadaran seperti orang linglung.

Dengan rasa sakit seperti itu, sudah barang tentu tidak akan mampu untuk makan atau minum. Apapun yang dimasukkan ke mulutnya segera akan muntah keluar lagi. Itulah sebabnya kenapa harus segera dibawa ke rumah sakit, karena harus diberi infus untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum tubuhnya yang semakin lemah. Memang hanya itulah terapi yang akan diberikan dokter. Obat-obatan selebihnya hanya bersifat “asesori” yang tidak ada hubungan langsung dengan serangan virus dangue.

Dan satu lagi upaya terakhir, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dengan kekuatan doa. Masa kritis itu akan terjadi pada hari keempat hingga keenam sejak hari pertama penderita mengalami demam. Jika penderita berhasil melewati masa kritis ini, maka kebanyakan penderita segera akan memasuki masa pemulihan mulai hari ketujuh dan selanjutnya, hingga diijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Jadi kalau dihitung-hitung sejak hari pertama terserang demam, maka siklusnya hanya sekitar tujuh hari dan (mudah-mudahan) penderita akan segera pulih.

***

Apa yang saya ceritakan di atas adalah ringkasan pengalaman dari seorang tetangga saya yang belum lama pulih dari DB dan seorang tetangga yang anaknya sempat mengalami masa kritis akibat DB. Pengalaman itu lalu saya rujuk kepada buku “Mengenal Demam Berdarah”.

Meskipun demam yang dialami anak saya sudah turun dan sekarang malah sudah pecicilan minta ijin mau bersepeda keliling ring-road Jogja, tapi keprihatinan saya akan serangan wabah DB belum reda. Apalagi melihat siaran berita di televisi yang masih saja menayangkan wabah penyakit DB di mana-mana. Penyakit ini pernah membunuh adik sepupu saya lebih 35 tahun yll, ketika itu DB masih menjadi new comer di Indonesia.

Maka sekali lagi waspadalah, justru ketika demam mulai turun.

Umbulharjo – Yogyakarta, 21 Maret 2008 (Jumat Agung dan hujan nyaris seharian mengguyur kota Yogyakarta)
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (I)

15 November 2009

( 1 )

Sebenarnya saya juga tidak habis pikir, kenapa sekelompok orang desa yang dilarang gresek (mengais-ngais) emas di saluran pembuangan tailing (limbah tambang) di tambang Freeport di pegunungan Papua sana, kok gedung Plaza 89 Kuningan yang ditimpuki batu oleh sekelompok calon pemimpin bangsa berpendidikan tinggi di Jakarta? Lebih tidak mudeng (paham) lagi, yang di desa sana kemudian menuntut penambahan porsi pembagian dana yang 1% dari pendapatan Freeport, tapi yang di Jakarta menuntut penutupan tambang.

Andaikan saya adalah pemilik Freeport, rasanya su pecah kitorang pu kepala ….. (sudah pecah kami punya kepala) karena kelewat pening mengurai benang kusut. Bagaimana tidak? Dari hanya satu soal tidak boleh mendulang tailing, lalu beranak-pinak jadi belasan soal yang harus dicarikan solusinya sak deg sak nyet (saat ini juga). Dari hanya soal bisnis lokal menyangkut segram-dua gram emas bagi masyarakat setempat, menjadi skala bisnis milyaran dollar bagi masyarakat dunia, menyangkut isu lingkungan, isu HAM, isu politik tentang PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), isu “konspirasi” antar bangsa, isu penutupan tambang, sampai ke isu NKRI. Sak jane ki piye …..(sebenarnya bagaimana sih)?

Sebagai seorang mantan professional tukang insinyur tambang yang sekarang nyambi jadi CEO bisnis mracangan ritel di pinggiran Jogja, wajar kalau saya turut gundah dan gulana. Namun bagaimanapun juga saya harus berpikir jernih….., agar bisa tetap berpikir professional dan proporsional. Saya menerjemahan kata professional ini dengan mudah saja, yaitu mereka yang berpikir dan bertindak berlandaskan SOP (Standard Operating Procedure) atau tata kerja yang benar di bidang masing-masing. Karena itu mereka yang berpikir dan bertindak tidak atas dasar SOP yang semestinya (seumpama berdasarkan rumor, katanya, kabarnya, tampaknya, bajunya, warnanya, baunya, dsb.), di mata saya tak ubahnya seperti acara infotainment atau infomezzo.

Cilakak duabelas-nya, kalau yang berpikir dan bertindak tidak sesuai SOP itu ternyata seorang penjabat (pakai sisipan”n”), tokoh atau orang yang keminter, maka meroketlah dia menjadi seorang bintang infotainment baru. Kalau hanya untuk sekedar bahan guyonan atau plesetan, daripada bengong, okelah…….., saya juga suka dengan infomezzo untuk bekal haha-hihi….. mengusir sentress (pakai sisipan”n”). Tapi kalau kemudian dilempar ke tengah forum publik yang diliput media? Kalau dikatakan tidak professional….., nanti tersinggung. Tapi kalau mau dibilang professional….., kok bau-baunya ngawur……….

Itulah hal pertama yang membuat saya turut belasungkawa dan menyedihi diri sendiri. Sebab akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca komentar para tokoh dan pakar terkait dengan kemelut di depan gawangnya Freeport. Sebagian di antaranya kedengaran professional dan proporsional. Namun sebagian yang lain pathing pecothot….. (kata lain untuk tidak professional).

Lho, mereka juga para ahli. Iya…! Tapi, ibarat seorang ahli tinju yang mengulas soal teknik-teknik menjahit baju (akan lain soalnya kalau ahli tinju ini pernah ikut kursus menjahit misalnya). Atau, ahli bikin bakso berformalin membahas tentang bagaimana seharusnya mengatasi penyakit flu burung (akan lain soalnya kalau si tukang bakso ini pernah jadi petugas lapangan penyuluh kesehatan misalnya). Ya bolah-boleh saja….. wong ini negeri demokrasi, yang (sebaiknya) tidak boleh dan tidak etis adalah kalau njuk menyalahkan bahkan malah mengadili pihak lain.

Alangkah indahnya kalau sebelum menjatuhkan vonis terlebih dahulu mempelajari berkas perkaranya dengan cermat, teliti, adil dan tidak emosional. Bila perlu observasi lapangan dengan membawa koco-benggolo (suryakanta), sehingga tahu persis seluknya dan beluknya dan bukan hanya kabarnya dan kabarinya.

Jangan-jangan mereka yang beringas di Plaza 89 Kuningan dan bahkan di Jayapura itu adalah generasi muda Papua yang belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (melainkan mata kepala orang lain yang rentan terhadap praktek manipulasi dan provokasi) operasi penambangan Freeport dan (apalagi) memahami bagaimana Freeport akhirnya menginvestasikan uang milyaran dollar di Papua dan terus bertambah, sejak 40 tahun yang lalu.

Lha kalau investor kelas kakap seperti Freeport sudah mulai merasa tidak man-nyamman, bagaimana dengan investor-investor besar lainnya? Apalagi yang kelas teri? Lalu muncul dua kepentingan :

Pertama, kepentingan karena khawatir kalau-kalau calon investor kakap lainnya pada lari nggembring membatalkan rencana penanaman modalnya dan Kedua, kepentingan karena khawatir kalau-kalau masyarakat lokal menjadi pihak yang selalu terkalahkan. Padahal mestinya kedua belah pihak bisa di-guyub-rukun-kan untuk hidup berdampingan dalam kerangka simbiose mutualisme untuk kesejahteraan bersama.

Adalah fakta bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan penambangan Freeport sebagai sebuah sistem (bukan sub-sistem) bisnis. Tapi adalah opini emosional kalau kemudian ditemukan adanya masalah kok lalu tambangnya ditutup saja. Janganlah seperti man-paman petani di kampung saya yang membakar sawahnya gara-gara judeg (kehabisan akal) karena sawahnya diganggu tikus. Atau, man-paman Bush yang membakar Afghanistan karena dikira tikusnya ngumpet di sana.

***

Hal kedua yang membuat saya sangat prihatin adalah bahwa saya haqqun-yakil potensi konflik atau kemelut di depan gawangnya Freeport sekarang ini mestinya sudah teridentifikasi sejak lebih 35 tahun yang lalu. Tapi seperti pernah saya singgung sebelumnya, jangan-jangan…………

“sang pimpro gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. …….Pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja ….. Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot”.

Sebagai seorang sopir yang baru saja bermanuver banting setir atau alih profesi, saya melihat agaknya cerita tentang Freeport ini adalah cerita rakyat tradisional tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Masa-masa 35 tahun yang lalu, penumpang-penumpang kecil ini sepertinya tidak terlihat oleh sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio adalah penguasa dan pengusaha. Kalaupun terlihat, ya hanya nylempit di antara bagasi-bagasi besar penumpang lainnya. Sehingga tampak benar-benar keciiiiiil….. sekali, malah masih pada ber-pornoaksi telanjang, enggak pakai baju, ingusan. Akibatnya, menurut ngelmu manajemen resiko……. cincai-lah itu, adalah faktor threats (ancaman) yang dapat dieliminasi pada saat itu juga, tanpa perlu berpikir panjang, apalagi melalui polling SMS……

Namun agaknya ada yang terlupakan. Jaman telah berganti, sopir-sopir cadangan juga bermunculan, penumpang pun berganti generasi. Masa 35 tahun adalah masa yang sangat cukup bagi penumpang-penumpang kecil yang dahulu ingusan dan telanjang untuk berbenah, berdandan dan mematut-matut diri. Sementara sopir-sopir itu tetap saja menganggap mereka seperti 35 tahun yang lalu. Menganggap bahwa senyam-senyum, oka-oke dan manggut-manggutnya mereka sekarang adalah sama dengan lebih 35 tahun yang lalu.

Maka jadilah bom waktu yang tinggal menunggu pemicu. Maka begitu ketemu pemicu, bukan masalah bomnya yang meledak. Kalau hanya bomnya….. kecil lah itu. Melainkan multiple effect kerusakannya ternyata merambat kemana-mana, menjadi pemicu atas timbunan daftar panjang ganjalan yang sudah terendap dan terakumulasi selama periode berbenah diri, sampai ke urusan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tahulah saya sekarang, kenapa urusan tidak boleh mendulang emas di saluran pembuangan limbah tailing di puncak pegunungan nun jauh di sana bisa menyublim di ujung dunia lainnya menjadi keberingasan menuntut tambang ditutup. Rupanya timbunan permasalahan penumpang-penumpang yang dulu dianggap kecil itu memang sambung-menyambung menjadi satu, seperti nyanyian ….. Dari Mimika Sampai Jakarta ….. yang berjajar pulau-pulau, dan itulah Indonesia…..

( 2 )

Freeport riwayatmu kini……. Apakah kejadian akhir-akhir ini akan dipandang sebagai hanyalah sebutir kerikil yang nyisip di antara jari kaki ataukah sebongkah gunung es? Tidak ada bedanya. Toh periode lebih 35 tahun sudah terlewati dan nampaknya tidak terlalu sulit untuk diatasi. Barangkali periode 35 tahun ke depan pun bisa diatasi sebagaimana periode 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan jaman tidak berubah. Tapi ….., siapa yang bisa menggaransi? Maka disitulah baru muncul bedanya…….

Bumi Papua sedang dilanda angkara……. Sialnya kok ya di sana ada Prifot (demikian orang awam suka menyebut perusahaan tambang raksasa ini. Membolak-balik pengucapan huruf “f” dan hurup “p” memang lebih mudah dan lebih enak didengar, seperti menyebut pilem, prei, paham, pilsapat, parmasi, palsapah, dan sebaliknya juga fagi-fagi fergi ke fasar lufa fakai celana fendek karena kefefet kefingin fifis…….).

Konplik demi konplik mewarnai romantika bisnis milyaran dollar. Kemelut demi kemelut merundung di depan gawangnya Freeport. Padahal mestinya ada yang bisa dilakukan untuk menghindari blunder dengan cara yang arif dan bijaksana. Mundur selangkah untuk maju sekian langkah. Kalau mau ……….. (Ijinkan saya menirukan kata “Atasan” saya Yang (Maha) Satu : ….. Tidak ada kesulitan melainkan di baliknya ada kemudahan — QS. 94:5-6).

Ibarat sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio pengusaha dan penguasa ini dan itu, yang terlena lebih 35 tahun. Sopir yang satu lebih suka status quo….. (Habis enak sih…..!). Sopir yang satu memilih menjadi seperti paman petani atau paman Bush. Sementara sopir-sopir lainnya sudah terbangun dari terlenanya, tapi ketika mencoba bermanuver banting setir kepalanya nyampluk (membentur) kaca spion sehingga hanya bisa melihat dari sisi yang berbalikan (sayangnya tidak setiap kaca spion tertulis peringatan seperti di luar negeri : “objects in mirror are closer than they appear”) .

Kalau saya……., kalau saya ini lho….., lebih baik terlena 35 tahun tapi ada yang membangunkan. Perkara siapa yang membangunkan ya mestinya bukan soal benar. Kata orang sonoan dikit : perhatikan “what”-nya dan bukan “who”-nya. Menyitir pesan Kanjeng Nabi Muhammad saw. : (simaklah) apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakannya ….. (bahasa londo-Arabnya : maa-qoola walaa man-qoola).

Kini threats (ancaman) sudah di depan hidung dan mata. Bukan sekedar mendulang tailing, bukan sekedar soal lingkungan, bukan sekedar praktek HAM. Itu isu yang sudah usang, sudah mataun-taun (bertahun-tahun) diungkat-ungkit-ungkat. Melainkan lebih serius lagi soal nyanyian Dari Sabang Sampai Merauke…… yang sedang diublek-ublek oleh penumpang-penumpang kecil yang 35 tahun yang lalu masih telanjang dan ingusan….., karena di jaman itu belum ada kompor minyak masuk pedalaman Papua, sehingga tidak ada yang ngomporin……

***

Berhubung saya yang hanya sopir kendaraan kecil yang ex-officio CEO “Madurejo Swalayan”, sebuah bisnis ritel ndeso, ini selalu optimis dan terkadang kelewat percaya diri, maka saya keukeuh untuk mengatakan bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Dan peluang itu tidak akan pernah habis digali dan tidak akan pernah selesai digarap.

Merubah ancaman menjadi peluang memang bukan pekerjaan seperti membalik telapak tangan (kalau telapak kaki memang rada sulit). Perlu perjuangan panjang dan melelahkan. Perlu kerja keras semua pihak. Dan lebih berat lagi adalah perlu good will dan hati legowo dari para sopir untuk melakukan banting setir secara terencana, terukur, terarah dan tidak emosional.

Pendeknya, matahari harus dibangunkan…..!. (Ben tambah nggegirisi……!). Kalau perlu jangan biarkan dia selalu tenggelam di horizon barat, melainkan tenggelamkan dia di ufuk timur. Paradigma community development harus dirombak-mbak…..! Tidak ada tawar-menawar…..! Paradigma lho, bukan paraturan (peraturan atau kebijakan). Kalo paraturan mah suke-suke nyang bikin aje….

Suka tidak suka, saya tetap mengatakan, jangan biarkan stakeholders selalu berarti obyek, melainkan subyek. Setidak-tidaknya ajari mereka agar berkompeten menjadi subyek. Kalau paradigma tidak berubah, maka action plan-nya pasti akan tambal sulam saja, gali lubang tutup lubang. Nampaknya, “ngelmu gaib” pun harus diyakinkan. Dan yang paling penting, bahwa peluang itu sebenarnya ada di depan mata.

***

Sesungguhnya ini bukan hanya monopoli sopir-sopir kendaraan besar seperti Freeport. Freeport saja yang sedang ketiban apes, duluan diobok-obok. Meskipun sesungguhnya ada fakta lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Bahkan oleh para antropolog pun tidak pernah disinggung-singgung adanya satu faktor sosio-kultural-antropologis (embuh panganan opo iki……) yang terkait dengan etos kerja.

Tapi baiklah, hal itu dikesampingkan saja. Masih banyak sopir-sopir kendaraan besar berpangkat penguasa dan pengusaha di tempat-tempat lain yang seprana-seprene (sengaja) terlena dan enggan dibangunkan. Dan agaknya perlu mulai mawas diri dan belajar dari apa yang sedang dirundung oleh Freeport. Tidak ada buruknya kalau mau belajar dari kemelut di depan gawangnya Freeport, mumpung belum kedarung (telanjur) menjadi blunder.

Omong-omong soal menggarap peluang, rasanya kok tidak ada kata terlambat. Sopir-sopir boleh udzur, boleh meninggal duluan (kalau menginginkan), boleh malas mikir, boleh over-sek (saya suka terjemahan baru ini, untuk menyebut : usia lebih seketan, lebih limapuluhan), tapi kernet dan penumpang kecilnya pasti semakin pintar dan cerdas. Lha, mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana menggali, menangkap dan menggarap peluang-peluang yang ada. Agar hubungan sesrawungan (silaturahmi) antara segenap anasir stakeholders dan shareholders tampak lebih manis, mesra dan profitable.

Tapi perlu pengorbanan dan biaya tidak sedikit? Lha iya….., sudah dibilangin …….., mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana memasukkan biaya-biaya dan peluang-peluang itu sekaligus ke dalam analisis bisnis yang diperbaharui. Mencari tambahan kernet-kernet yang lebih terampil dan trengginas (lincah) juga bukan hal yang tabu. Jer basuki mawa bea…….. Kalau kepingin hidup aman, nyaman, damai, tenteram, sejahtera, gemah ripah loh jonawi tata tentrem kerta raharja, keuntungan dan kekayaannya terus melimpah dan menggunung, ya jelas perlu pengorbanan dan biaya.

Tidak lain agar anak-cucu sopir-sopir yang sudah over-sek itu tetap bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan penuh semangat, langkah tegap, kepala tegak dengan rona kebanggaan di wajahnya, entah berambut lurus atau keriting, entah berkulit sawo bosok, kuning langsat atau gelap gulita …….

Madurejo, Sleman — 5 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

15 November 2009

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Surprise! Perpanjangan SIM Kurang Dari Sejam

15 November 2009

Hari ini saya menyempatkan memperpanjang SIM A saya yang sudah habis masa berlakunya sejak tiga bulan yang lalu. Pertama, terlambat karena lupa. Kedua, semakin terlambat karena belum ada kesempatan.

Sejak berangkat dari rumah saya sudah membayangkan apa yang bakal terjadi di kantor Lalulintas, Poltabes Yogyakarta. Tiba di tempat parkir akan disongsong oleh para calo yang berbaik hati akan membantu menguruskan perpanjangan SIM. Di kawasan kantor juga akan ketemu oknum polisi yang juga akan menawarkan jasanya, belum lagi calo (kalau calo tidak perlu disebut oknum) yang midar-mider mencari calon klien. Setelah itu menunggu lama hingga siang hari saat mengambil SIM baru. Itu pengalaman saya terakhir memperpanjang SIM C di tempat yang sama.

Namun apa yang saya alami tadi pagi sungguh di luar bayangan saya. Benar-benar saya dibuat surprise. Begitu memarkir sepeda motor, tidak seorangpun menghampiri saya, kecuali tukang parkirnya tentu. Masuk ke halaman dalam, suasana kompleks perkantoran sudah sangat berubah. Rupanya belum lama selesai dilakukan renovasi. Tampak luas, bersih dan enak dipandang. Karena itu wajar kalau saya tolah-toleh harus menuju ke bagian mana. Juga tidak tampak orang-orang yang biasanya lincah menawarkan jasanya.

Sampai akhirnya saya berdiri di depan Loket 1 bagian informasi. Dengan ramah petugas disana memberitahu agar lebih dahulu memfotokopi KTP dan SIM lama, lalu periksa dokter. Pak dokter pun memeriksa tekanan darah dan melakukan test buta warna. Saya dinyatakan sehat dan membayar biaya pemeriksaan Rp 20.000,- (ini biaya resmi).

Lalu menuju Loket 2 bagian pembayaran. Sesuai ketentuan yang pengumumannya terpasang di dinding, maka untuk perpanjangan SIM biayanya (hanya) Rp 60.000,-. Sedangkan bagi permohonan SIM baru biayanya (juga hanya) Rp 75.000,-.

Kemudian semua berkas dikembalikan dalam sebuah map warna biru, termasuk formulir yang harus diisi. Selanjutnya menuju Loket 3 untuk menyerahkan berkas. Disini saya disodori sebuah angket isian yang merupakan formulir penilaian atas kinerja Bagian Pelayanan SIM.

Tidak lama lalu dipanggil ke Loket 4 untuk tanda tangan, pengambilan foto dan sidik jari. Akhirnya dipanggil untuk mengambil SIM baru yang berlaku lima tahun.

Segera saya lihat jam di ponsel (maklum karena saya tidak biasa pakai arloji). Sejak pertama kali tadi saya sampai di depan Loket 1 hingga saya meninggalkan Loket 4, ternyata kurang dari sejam.

Ini sungguh luar biasa! Seperti tidak percaya, tiba-tiba saya harus pulang dengan sudah mengantongi SIM A saya. Memang hari ini masyarakat yang memerlukan pelayanan SIM tidak sepadat hari biasanya. Tapi menilik pola kerja yang tergolong efektif, lancar dan bersahabat, kalaupun padat, kiranya itu hanya masalah menunggu antrian saja. Bukan karena faktor “lain”. Rasanya pantas kalau unit pelayanan SIM di Poltabes Yogyakarta memperoleh penghargaan setinggi-tingginya atas peningkatan sistem pelayanannya.

Saya tidak menyesal telah menuliskan komentar dalam angket penilaian seperti ini : “Surprise dan penghargaan setnggi-tinginya atas perubahan/peningkatan pelayanan yang luar biasa”. Tentu, masyarakat Yogya berharap agar pelayanan yang sudah sangat baik itu dapat dipertahankan. Jangan sampai, pujian saya berubah menjadi penyesalan, jika ternyata di belakang hari nanti kembali bermetamorfose ke pola yang lama. Uh, sayang sekali kalau sampai hal itu terjadi.

***

Total biaya yang saya keluarkan hanya Rp 80.000,- Kurang asuransi yang tidak saya bayar. Hal itu karena selama proses pengurusan tadi tidak ada yang memberitahu bahwa ada pilihan untuk ikut asuransi yang besar preminya (hanya) Rp 16.000,- Saya pikir, akan dibayar pada tahap akhir nantinya.

Hanya saja, ketika akan mengambil SIM yang sudah jadi, mbak Polwan yang ada di situ bertutur dengan manis, ramah dan berbisik : “Biaya untuk laminating lima ribu rupiah, pak”. Saya pun tersenyum memaklumi, dalam hati. Kalau mau menolak sebenarnya bisa, wong tidak ada aturannya. Tapi, sungguh saya tidak tega menolaknya, setelah menerima pelayanan yang menurut ukuran saya secara keseluruhan sangat memuaskan.

Dengan senang hati dan ikhlas, saya tinggalkan selembar lima ribuan di meja si mbak Polwan. Bagaimanapun juga mbak Polwan dan rekan-rekan setimnya sudah menunjukkan pola kerja yang mengagumkan. Sekali lagi, saya hanya bisa berharap semoga pelayanan yang seperti itu bisa awet, langgeng dan (Insya Allah) mberkahi bagi siapa saja.

Sebelum meninggalkan halaman parkir, saya terusik untuk tahu lebih banyak tentang peningkatan pelayanan yang ada di lingkungan Poltabes Yogya, yang menurut informasi perubahan dan perbaikan pelayanan itu sudah berjalan sejak sebulan terakhir. Lalu saya datangi pak Polisi yang jaga di gardu pelayanan masyarakat yang berada paling depan.

Namun sayang, petugas yang saya tanya terkesan agak ogah-ogahan menjawab pertanyaan saya untuk menjelaskan segala sesuatunya. Jangan-jangan saya dikira wartawan sehingga beliau agak takut. Entahlah. Sambil senyam-senyum pak Polisi itu menjawab sepotong-sepotong. Padahal tadinya saya berharap pak Polisi itu akan memberi penjelasan dengan meyakinkan dan penuh percaya diri, dan dengan bangga atas perbaikan kinerja pelayanan di lingkungan instansinya.

Meskipun saya tidak mau su’udzon (berprasangka buruk), tapi jangan-jangan pak Polisi itu adalah representasi dari “ketidak-ikhlasan para oknum” atas perubahan yang terjadi? Mudah-mudahan pikiran saya salah. Maaf pak Polisi…..

Yang sebenarnya, mestinya itu adalah peluang bagi pak Polisi (mewakili instansinya) untuk melakukan “marketing” kepada salah satu “customer”-nya. Atau peluang untuk “meyakinkan dan menjual produk yang terbukti berkualitas”, guna menjaga kepuasan pelanggannya. Atau minimal untuk membangun image tentang arti penting persahabatan (dengan masyarakat yang dilayani).

Tapi rupanya memang tidak mudah menjalankan misi yang semacam ini. Untungnya, pak Polisi yang pagi itu saya temui, masih “mau” tersenyum menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang (mungkin) rada aneh bagi beliau.

Sekali lagi, terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas perbaikan kinerja pelayanan SIM di Poltabes Ngayogyokarto Hadiningrat.

Yogyakarta, 24 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Rahasia ”The Secret” (Ini Rahasia, Lho…)

15 November 2009

Sejak film “The Secret” diluncurkan tahun 2006, dan disusul dengan bukunya yang berjudul sama, “The Secret” (TS) seakan menjadi topik yang fenomenal dan membangkitkan kontroversi di kalangan pembacanya. Karena itulah buku karya Rhonda Byrne ini menjadi menarik.

Rahasia yang disampaikan dalam buku TS ini sebenarnya ringkas saja, yaitu tentang hukum ketertarikan atau tarik-menarik (law of attraction). Hukum tarik-menarik ini sendiri sebenarnya sudah banyak dibicarakan oleh banyak pemikir dan penulis-penulis sebelumnya. Hukum tarik-menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Jadi, ketika kita memikirkan suatu pikiran, maka sebenarnya kita juga sedang menarik pikiran-pikiran serupa ke dalam diri kita.

Hukum tarik-menarik adalah hukum alam, sama halnya seperti hukum gravitasi. Hukum tarik-menarik adalah hukum penciptaan. Para ahli fisika kuantum mengatakan bahwa seluruh Semesta muncul dari pikiran. Anda menciptakan hidup Anda melalu pikiran-pikiran Anda dan hukum tarik-menarik. Maka, hukum tarik-menarik memberikan apa yang Anda pikirkan. Begitulah penulisnya antara lain menyimpulkan.

Pikiran (thoughts), adalah pelaku utama dalam rahasia hukum tarik-menarik ini. Untuk mendeskripsikan tentang pikiran, dikatakan bahwa pikiran bersifat magnetis, pikiran memiliki frekuensi. Selama Anda berpikir, pikiran-pikiran itu dikirimkan ke Semesta, dan pikiran-pikiran itu akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirimkan keluar akan kembali ke sumbernya. Dan sumber itu adalah Anda.

Maka selain pikiran Anda, Semesta (the Universe) adalah “partner” yang diperlukan untuk bekerjanya hukum tarik-menarik ini. Rahasia yang ditunjukkan dalam buku TS ini antara lain mencakup bahasan panjang tentang bagaimana rahasia kekayaan, percintaan, kesehatan, hidup Anda dan kehidupan akan bekerja berdasarkan hukum tarik-menarik.

Ada tiga tahap yang digambarkan sebagai cara untuk menggunakan rahasia ini, yaitu tahap Meminta, Percaya dan lalu Menerima. Meminta, apa yang Anda inginkan kepada Semesta. Percaya, dengan melibatkan bertindak, berbicara, berpikir seakan-akan Anda telah menerima apa yang Anda minta. Menerima, melibatkan perasaan yang Anda rasakan ketika permintaan Anda terwujud.

***

Hal yang menurut saya kemudian menjadi pangkal pro dan kontra adalah pandangan kritis kaum agamawan terhadap pemikiran Rhonda Byrne yang seakan-akan menafikan peran Tuhan dalam sistem hukum tarik-menarik ini. Setidaknya kurang dirujuk secara eksplisit. Bahkan dalam banyak bahasan terkesan rancu dalam mendudukkan hakekat Tuhan.

Tetapi tidak dipungkiri, ada terkandung pemikiran positif tentang pentingnya berdoa dan berprasangka baik dalam tahap Meminta. Perlunya sebuah keyakinan (iman), kesabaran dan penyerahan diri (tawakkal) dalam tahap Percaya. Dan pentingnya terus bersyukur untuk mencapai tahap Menerima. Adalah benar, kalau dikatakan ada hal-hal yang tidak kasat mata (gaib) yang harus dipercayai. Juga adalah benar bahwa manusia mempunyai andil dalam menentukan nasibnya sendiri.

Namun kemudian menjadi ganjalan ketika sepertinya tidak “melibatkan” Tuhan dalam sistem proses hukum tarik-menarik antara Pikiran dan Semesta. Di sisi inilah, beberapa kalangan mewanti-wanti agar pembaca “berhati-hati” dalam memahami rahasia buku TS ini.

Ijinkan saya menyampaikan pandangan dari perspektif agama saya, Islam. Dalam memahami rahasia TS, dari awal saya sudah menentukan batasan bahwa Semesta (the Universe) yang dimaksud dalam TS adalah Tuhan Semesta Alam (Allahu Robbi). Dengan demikian, maka alur cerita TS menjadi sinkron dengan keyakinan agama saya. Hal-hal selebihnya yang menjadi ilustrasi dalam TS kemudian saya anggap sebagai intermezo saja, antara lain tentang Jin dan lampu Aladin.

Apa yang diceritakan Rhonda Byrne dalam TS, secara garis besar dapat saya ungkapkan secara berbeda dalam kerangka hubungan mahluk dan khaliknya dalam perspektif agama Islam.

Meminta (tahap pertama dalam proses menggunakan rahasia dalam TS), sebagai seorang hamba akan melakukannya dengan berdoa. Doa adalah wujud permohonan dan harapan yang tulus dari seorang hamba yang tak pernah berhenti dengan keinginan-keinginan. Dalam doa pula, kita melalui proses Percaya (tahap kedua dalam TS), yaitu meyakini akan ketergantungan seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Lalu melalui doa yang tulus tentu harus disertai dengan kesabaran dan penyerahan diri secara total (tawakkal), tanpa mengenal putus asa.

Dengan demikian maka doa melahirkan kekuatan jiwa dan hati yang bersih dari prasangka buruk (su’udzdzon) terhadap Tuhan (memasuki tahap ketiga dalam TS). Sebab Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan setiap doa hambanya yang saleh. Hamba yang saleh adalah hamba yang senantiasa bersyukur dan menjelmakannya dalam setiap amal perbuatan, tiada henti dalam enak dan tidak enak, dalam suka dan duka, dalam sempit maupun lapang. “Raab-Mu berkata, mintalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan untukmu” (QS : Al-Mukminun 60).

Pada dasarnya, hukum tarik-menarik ini bukanlah “hal baru” dalam sejarah kehidupan manusia. Allah swt. menegaskan dalam salah satu Hadist Qudsi : “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku” (HR Bukhari Muslim). Maka jika pikiran positif tentang Aku (Allah swt) yang terus kita tumbuh-kembangkan dan yakini sehingga mengejawantah dalam setiap amal perbuatan sehari-hari, kebaikan pulalah yang akhirnya akan kembali ke dalam diri kita.

Semua proses itu terbingkai dalam landasan hati yang khusyuk, legowo dan penuh rasa sukacita, karena bebas dari prasangka buruk melainkan keyakinan dan optimisme bahwa permohonan dan harapan seorang mahluk pasti akan direspon positif oleh Sang Khalik. Tak henti-henti kita lantunkan doa sapu jagat demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Bilamana semua daya upaya, pikiran, keyakinan, optimisme dan hak-hak Tuhan tidak ditunaikan sebagaimana mestinya, maka wajar kalau kemudian Tuhan pun enggan memancarkan kembali kewajiban-Nya. Manusia sendirilah yang seharusnya me-manage dirinya sebelum berharap umpan balik dari Tuhannya. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS : Ar Ro’du 11).

Ketika kita menumbuhkan pikiran positif tentang kekayaan, perniagaan (bisnis), kesehatan, hubungan antar manusia (mu’amalah), karir, kehidupan dan segala macam keinginan-keinginan (tidak hanya urusan duniawi, tetapi juga ukhrawi), dan lalu diikuti dengan amal perbuatan sesuai ajaran yang ditentukan, maka tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk mengirim balik mewujudkan semua keinginan itu kepada diri kita. Dan, itu janji-Nya. Masalahnya tinggal bagaimana kita menempatkan diri secara proporsional dalam sistem Mahluk – Khalik.

Maka, bagi saya sebagai seorang muslim, memahami rahasia hukum tarik-menarik adalah sesungguhnya memahami rahasia firman-firman Allah dalam Al-Qur’an. Kalau kemudian buku TS sukses meledak di pasar dan mendatangkan kekayaan bagi penulisnya, maka itulah karunia besar yang diberikan Allah kepada Bu Rhonda dalam menggali, memikirkan dan mengemasnya dengan sangat brillian. Bersyukurlah Bu Rhonda…. (yang ini rahasia, lho….). Kalaupun ada kontroversi di muka bumi ini karenanya, maka kewajiban kita untuk mendayagunakan akal dan pikiran kita (belajar) dengan semaksimal mungkin.

Yogyakarta, 26 Januari 2008
Yusuf Iskandar

In Memorium Pak De HMS — Sustainable Business

15 November 2009

SoehartoInnalillahi wa inna ilaihiroji’un…

Bapak Pembangunan itu telah tiada tadi siang, Minggu, 27 Januari 2008, jam 13:10 WIB. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya sesuai dengan amal ibadahnya (dan, biar Allah swt. sendiri yang memberi rapor atas amal ibadahnya itu).

Terlepas dari masalah hukum yang dihadapi oleh Haji Muhammad Soeharto (HMS) selama dekade menjelang akhir hayatnya, ada hikmah positif yang saya petik dari beliau di awal kepemimpinannya.

Tangan besinya telah menjaga, mengawal dan mensukseskan “teori” yang diyakini keampuhannya sejak awal memimpin negeri ini, yaitu Trilogi Pembangunan. Bahkan telah mematahkan teori ekonomi pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, thok. Sedangkan, Pak De HMS meraciknya menjadi Trilogi Pembangunan yang diawali dengan Stabilitas, baru Pertumbuhan, dan akhirnya Pemerataan. Lengkapnya :

  • Stabilitas Nasional yang dinamis
  • Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan
  • Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

“Teori” Trilogi Pembangunan itu lalu diimplementasikan melalui program Pembangunan Jangka Panjang (PJP) selama lima kali Pelita (5 x 5 tahun = 25 tahun). Barangkali karena beliau khawatir PJP tidak tercapai sesuai impian mulianya, maka Pak De HMS “merasa perlu” untuk mengawal dan memimpin sendiri menjadi pimpronya. Untuk itu, maka beliau “terpaksa” harus menjadi presiden minimal untuk waktu 25 tahun ke depan, sejak dicanangkannya Pelita Pertama pada tanggal 1 April 1969.

Namun sayang, di tengah perjalanan banyak anggota keluarga besar timnya yang terlena sehingga banyak yang terpeleset dan keenakan dalam terpelesetnya. Terus dan terus, berurat berakar. Jama’ah yang terpeleset pun semakin tahun semakin banyak. Akhirnya menjadi “salah kaprah” secara berjama’ah pula, hingga sepertinya menjadi kebenaran kolektif. Dan, Pak De HMS terperosok bak ketua Paguyuban.

Namun tidak dipungkiri, bahwa “teori” Trilogi Pembangnannya terbukti sukses dikawal hingga babak terakhir, sampai akhirnya Pak De HMS lengser keprabon.

***

Obsesinya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan cara mengawalnya sendiri pelaksanaan PJP, terbukti berhasil (sekali lagi, terlepas dari aneka ria dakwaan, sangkaan, tuduhan, terkait KKN). Barangkali tanpa disadari oleh beliau, bahwa sejak awal kuartal pertama tahun 1969, hanya obsesi itulah yang ada dalam benak dan pikiran Pak De HMS. Dan, itu barangkali dapat digambarkan sebagai mulai bekerjanya “law of attraction” (hukum tarik-menarik) yang terpancar dari pikiran beliau. Hingga akhirnya berhasil diwujudkan pada 25 tahun kemudian.

Sekali lagi, namun sayang, pancaran pikiran positif atas obsesi Pak De HMS, pada babak-babak akhir kepemimpinannya terkontaminasi oleh pikiran positif (juga) akan virus kenikmatan dan keenakan menduduki kursi goyang ketua “Paguyuban Indonesia”. Maka, “law of attraction” pun bekerja untuk kedua pikiran positif yang (disadari atau tidak, direncana atau tidak) terpancar bersamaan dalam pikiran Pak De HMS.

Dalam pikiran Pak De HMS, bahwa skenario sustainable development atau pembangunan berkelanjutan selama PJP harus sukses dan sukses, Pelita demi Pelita, meski untuk itu beliau harus tersandung-sandung mengendalikan sendiri wadya bolo timnya dan ketidakpuasan stakeholder lainnya. Tidak boleh ada yang mbalelo. Kalau ada yang merintangi pun akan digebugnya. Pokoknya pembangunan berkelanjutan harus sukses..ses..ses..ses…

Jadi, lalu apa urusannya?

Sebagai pengelola warung ritel ndeso, “Madurejo Swalayan”, pantas rasanya kalau saya mengambil inspirasi dari semangat tanpa menyerah (meski tidak harus dengan tangan besi yang seakan-akan menghalalkan segala cara), tentang bagaimana mengurus warung seperti mengurus negara (dan, jangan sebaliknya).

Sustainable business harus dijaga kinerjanya, jangan hanya bulita demi bulita (business lima tahun), melainkan obsesikan bahwa bisnis itu akan berlangsung lima kali bulita, syukur lebih. Pancarkan pikiran positif dan obsesi sustainable business sebagai pancingan bekerjanya “law of attraction” untuk 25 tahun ke depan.

Menciptakan stabilitas kinerja toko di tahun-tahun awal. Meningkatkan pertumbuhan bisnisnya setinggi mungkin. Hingga kelak dapat melakukan pemerataan bisnis dan hasil-hasilnya. Kalaupun harus berjama’ah, maka itu adalah dalam rangka berbagi sukses dan kebaikan dalam bingkai hubungan antar manusia (mu’amalah) seperti yang digariskan oleh Sang Pemilik Alam Semesta.

Bisnis tidak selalu berarti usaha jual-beli, melainkan bisnis untuk urusan apa saja. Tidak sekedar “do it”, melainkan “plan it” sebaik-baiknya. Lalu pancarkan pikiran-pikiran positif akan pencapaiannya dalam jangka panjang.

Tidak mudah memang, tapi tidak berarti tidak bisa. Insya Allah. God speed…..!

Yogyakarta, 27 Januari 2008
Yusuf Iskandar