Posts Tagged ‘kopi’

Setelah Tetes Terakhir

25 Juni 2010

Tetes terakhir kopi Amungme dari Papua sudah berlalu. Pagi ini disusul dengan kopi Kupu-kupu Bola Dunia dari Bali. Kuat pahitnya, mantap kentalnya, halus bubuknya, terasa kafeinnya, dan… sensasi “theng”-nya itu terasa sekali. Perlu tambahan gula bagi yang tidak suka ‘kopi rasa jamu’…

Terima kasih untuk sahabat yang telah mengirim oleh-oleh kopi. Di atas secangkir kopi itu kulihat wajahmu… (Maka bagi yang ingin wajahnya juga kulihat, kirimlah kopi…)

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Sigri Coffee

27 April 2010

Kopi Bunum Wo oleh-oleh dari negeri jiran PNG belum tuntas dinikmati, rupanya masih ada kopi lain juga oleh-oleh dari PNG yang perlu dicoba, yaitu Sigri Coffee. Mirip kopi Bunum Wo, berbutir agak kasar, hingga banyak butiran kopi yang mengapung saat diseduh air panas. Mesti diaduk agak lama dan ditunggu sesaat agar mengendap. Taste-nya agak beda tapi tetap enak disruput di Minggu pagi. Semoga masih ada kopi lain yang akan mampir untuk dinikmati..

Yogyakarta, 25 April 2010
Yusuf Iskandar

SMS Anak Lanang

20 April 2010

Lagi enak-enak menikmati kopi, anak lanang yang sejak pagi sudah pamit berolahraga kirim SMS: “Pak, aku minta tlong jemurin pakaian yg aku rendam di ember di bwah tangga”.

Kutanya: “Jemur aja, nggak usah dikucek?”.
Dijawab: “Iya..td mlem udah q kucek”.
Kubalas: “Diperas gak?”.
Dijawab: “Terserah”.
Kubalas lagi: “Ongkosnya?”.
Dijawab: “Huu…”.
Kubalas lagi: “Yo wis, tak rendam lagi…”.
Rupanya SMS yang sama juga dikirim ke ibunya. So beres to

Yogyakarta, 18 April 2010
Yusuf Iskandar

Kopi Shang Hai

7 April 2010

Jogja hujan sejak fajar hingga menjelang siang, sejak subuh hingga penghujung dhuha. Air tertumpah dari langit mengiringi sepenggal doa dhuha, semoga rejeki yang masih di langit sedang dihamburkan ke muka bumi (fis-sama’i fa-anzilhu). Dan, kusambut rejeki itu dengan secangkir kopi Shang Hai (haaaa… varian baru dari Cianjur, selain stok yang masih ada di almari, kopi dari Papua, Bandung, Jambi, Medan dan Aceh. Entah kapan habisnya!)

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Pesta Itu Mulai Usai

28 Maret 2010

Tidak saya pungkiri, sebagai penikmat kopi, yang seringkali diidentikkan “ex-officio” juga penikmat asap nikotin… Saat pagi atau sore, serasa ada sesuatu yang hilang tatkala berlangsung rutinitas pesta kecil, ‘jamuan ngupy‘ (maksudnya minum kopi pahit kurang gula, yang rasanya seperti jamu…). Pesta itu nampaknya mulai usai. Pesta itu kini berlangsung tanpa asap bakar-bakar tembakau…

Yogyakarta, 28 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Warung Kopi Blandongan

22 Maret 2010

Setengah malam di warung kopi ‘Blandongan’ (kawasan Gowok, Jogja), warung sederhana yang sukses mengusung simbol ‘kebanggaan daerah’ (Jombang, Gresik & seputarannya). Ngobrol tentang malam, tentang gelap, tentang cahaya.., dan hanya karena pernah mengalami kegelapan maka menjadi tahu artinya setitik cahaya… Kopi Blandongan yang hitam pekat adalah menu utamanya, tapi saya memilih ‘kotang susu’ (kopi gelas tanggung dicampur susu), yang lebih lembut..

Yogyakarta, 21 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Tetes Kopi Penghabisan

19 Maret 2010

Akhirnya, sampailah pada tetes kopi penghabisan (dari 0,5 kg kopi Aroma). Sepertinya perlu ke Bandung lagi khusus untuk beli kopi, kecuali… (nah, ini bagian terpentingnya) ada yang berbaik hati membelikannya.

Tapi no worries, tidak sedramatis itu lah, di rumah saya masih punya kopi purwaceng (oppo iki..!), atau ngambil saja dari toko ‘boss’ saya (nah, ini bagian terindahnya, mempunyai ‘boss’ jualan kopi, nggak laku dijual ya diminum sendiri…)

Yogyakarta, 18 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Menikmati Kopi ‘Aroma’

12 Februari 2010

Jogja hujan deras sore ini. Dan, secangkir ‘Koffie Fabriek Aroma Bandoeng’ menghangatkan suasana lahir maupun batin. Suasana lahir, karena sensasi ‘theng...’ kopinya ruar biasa, jannn cocok tenan… Suasana batin, karena untuk membelinya butuh ‘perjuangan’ (maksudnya, mutar-mutar enggak karuan mencari alamat tokonya di Bandung membelah lalulintas yang super semrawut).

(Kopi ‘Aroma’ dapat dibeli langsung ke pabriknya di Jl. Banceuy 51, Bandung)

Yogyakarta, 7 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Program Pembangunan

28 Januari 2010

Program pembangunan pagi ini tidak lancar…. Harus di-SMS bolak-balik-bolak, baru dijawab “Iya, yaaa…”. Dikumandangkan adzan dalam bahasa Indonesia : “Sholat itu lebih baik daripada tiduuur….”, eh dijawab : “Udah tahu!”, tapi selimut ditarik juga menutupi kepalanya. ‘Digangguin’, kok malah nesu (marah)… Ah, yo wis. Bikin kopi kental ‘jelas lebih enak’… lalu siap-siap week end ke Jakarta (kalenderku ada NB-nya: week end boleh dijatuhkn kapan saja…).

Yogyakarta, 25 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Daun Binahong

3 Desember 2009

Lagi menjerang air, jari tangan tersentuh panci panas… Aauw…! Luka bakar seluas 3,5 x 0,75 cm2. Atasi dengan daun binahong, langsung kering tidak jadi melepuh, tidak sakit, seperti tidak apa-apa, kecuali bekasnya…

(Air di dalam galon dispenser habis dan terlambat mengisi ulang, terpaksa harus menjerang air dulu untuk bisa menikmati secangkir kopi di pagi hari. Ndilalahmak nyusss, jari telunjuk tangan kiri menyentuh bagian panci yang masih puanas…. Langsung diolesi cream untuk membantu mengurangi rasa panasnya. Setelah rasa panasnya agak reda lalu ditutup dengan daun binahong yg sudah dihancurkan dengan cara diremas-remas atau dikunyah).

Yogyakarta, 3 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Wisata Agro Kebun Kopi Banaran

19 Mei 2008

Wisata Agro Banaran

Kawasan perbukitan di seputaran Banaran Cafe yang bersuasana menyegarkan di pinggir jalan raya Bawen – Salatiga, Jateng. Kampoeng Kopi Banaran yang berada di tepi areal perkebunan kopi PTP Nusantara IX yang kini dikembangkan sebagai kawasan wisata agro, bisa menjadi alternatif tempat beristirahat bagi pengendara di jalur Semarang – Solo maupun Semarang – Yogyakarta.

Istirahat Makan Siang Di Kampoeng Kopi Banaran

19 Mei 2008

Banaran_1

Menempuh perjalanan Yogyakarta – Semarang atau Solo – Semarang atau sebaliknya, adakalanya menjadi membosankan, terutama bagi mereka yang sudah sering midar-mider di jalur itu dengan kendaraan pribadi. Kalau istirahat bisa dianggap sebagai obatnya, maka ada pilihan untuk mencoba beristirahat di Kampoeng Kopi Banaran.

Kampoeng Kopi Banaran adalah sebuah area tempat makan di pinggiur jalan yang bernuansa alam bebas. Kawasan yang juga menyebut dirinya Wisata Agro ini terletak di Jl. Raya Bawen – Solo km 1,5 tidak jauh dari pertigaan terminal Bawen ke arah selatan pada jalur yang menuju kota Salatiga dan Solo, Jateng. Lokasinya persis berada di tikungan jalan, sehingga pengunjung dari arah utara perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke lokasi yang berada di sisi barat jalan ini.

Sejenak menyeruput kopi tubruk yang mak thengngng… sensasinya, bisa mengubah suasana batin para sopir menjadi lebih segar. Bagi mereka yang tidak biasa minum kopi hitam, masih banyak pilihan minuman panas atau dingin turunan dari kopi dan teh, atau minuman es-esan. Menu unggulannya memang kopi, sesuai namanya. Barangkali memang gagasan utamanya adalah menyediakan tempat pemberhentian atau peristirahatan yang menyenangkan bagi mereka yang sedang capek menempuh perjalanan berkendaraan.

Kalau kemudian sruputan kopi tubruk dirasa belum cukup (dan biasanya memang begitu…), ada tersedia banyak pilihan menu makan. Makanannya disajikan secara khas di atas wadah piring terbuat dari anyaman bambu yang di-lambari dengan daun pisang. Aneka masakan ayam kampung adalah lauk utamanya. Rasa masakannya tergolong enak dengan racikan bumbunya pas banget di lidah orang kebanyakan. Harga yang harus dibayar pun tergolong wajar.

Selain masakan ayam kampungnya yang pokoknya enak banget, jangan lupa untuk juga mencicipi tahu goreng bandungan plus sambalnya. Tahu khas dari daerah Bandungan, Ambarawa ini gigitannya terasa kenyal dan gurih dan hoenak tenan….., tapi tidak memberi efek kenyang. Serasa tidak akan cukup kalau hanya mencocol satu, dua, tiga, empat atau lima potong tahu gorengnya. Membeli yang belum dimasak untuk dibawa pulang pun bisa.

Sambil menikmati makan siang, alunan irama musik keroncong dan campursari yang dibawakan oleh sekelompok pemusik seolah-olah mengiringi irama yang sama di perut pengunjungnya. Sambil menunggu nasi di tembolok turun ke usus halus sebelum tubuh beranjak melanjutkan perjalanan, sambil kepala lenggut-lenggut seperti sapi kekenyangan mengikuti alunan musik keroncong sederhana. Nglaras benar……

***   

Banaran_2

Keunggulan lain lain dari Kampoeng Kopi Banaran ini selain masakannya yang enak dan lokasinya yang mudah dicapai, adalah bahwa kawasan ini cocok untuk dijadikan obyek tujuan wisata. Resto atau kafe ini menempati sebagian kecil dari kawasan perkebunan kopi seluas lebih 400 hektar milik PT Perkebunan Nusantara IX. Meski sebenarnya sudah sejak enam tahun lalu di kawasan ini sudah berdiri warung kopi Banaran, namun pengembangan secara lebih professional sebagai kawasan wisata agro mula dibuka sejak diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2005.

Tentu wisata agro perkopian adalah utamanya. Dan, kini di kawasan ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas taman bermain, kegiatan outbound, sarana olah raga, camping ground, kebun buah, dsb. Lokasinya yang berada pada ketinggian lebih 400 meter di atas permukaan laut cukup memberi hawa segar di lingkungan perbukitan yang berpemandangan menarik. Sehingga kalaupun hanya ingin sekedar beristirahat, maka lokasi ini cocok untuk disinggahi bersama keluarga.

Bisnis warung kopi pinggir jalan yang bernuansa elite dan kini lebih populer dengan sebutan kafe, agaknya memang lagi nge-trend. Kampoeng Kopi Banaran juga menangkap peluang itu. Maka dalam skala kawasan yang lebih kecil, warung kopi Banaran juga membuka cabangnya di daerah kecamatan Mungkid, yaitu di penggal jalan naik-turun perbukitan di antara Magelang – Ambarawa. Lokasinya yang berada di pinggir jalan tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

Salah satu kebiasaan saya kalau menjumpai produk kopi yang khas di daerah yang kebetulan sempat saya kunjungi adalah ingin menikmati lebih puas di rumah. Karena itu sekotak kopi robusta Banaran seberat 250 gram saya cangking untuk dibawa pulang (mbayar, tentu saja…..). Sekedar agar ketika di rumah bisa lebih puas menikmati rasa kopinya yang mantap alami….., seperti yang tertulis di bungkusnya.

Yogyakarta, 19 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”

Masyarakat Bintan ini mempunyai kebiasaan unik, yaitu minum kopi. Bukan di rumah, di kantor, di hotel, atau di resto, melainkan di kedai-kedai kopi yang banyak betebaran di setiap sudut kota. Apakah dia orang biasa atau pejabat atau pengusaha, mereka pada pergi ke kedai-kedai kopi kalau dirasa-rasa sudah tiba waktunya kepingin ngopi. Acara ngopi atau coffee break ini bisa terjadi kapan saja. Tidak perduli pagi hujan, siang bolong panas terik, sore mendung atau malam dingin semribit, pokoknya kalau kepingin ngopi ya pergi nongkrong di kedai kopi. Tapi ya jangan lalu dibayangkan semua penduduk Bintan tumplek-blek di kedai kopi. Itu demo namanya!. Njuk nanti siapa yang tunggu rumah atau kantor……

Maka kedai kopi menjadi tempat paling strategis untuk bertemu membicarakan ihwal apa saja. Lobi-lobi politik, transaksi bisnis, silaturahmi, sekedar membuang waktu, nglaras, diskusi serius, ngumpul-ngumpul penuh canda, semua bisa berlangsung setiap saat setiap hari di kedai kopi, tanpa mengenal hari libur atau jam istirahat. Pokoknya kapan saja.

Salah satu kedai kopi favorit di kota Kijang adalah kedai kopi “Hawaii” yang berlokasi di depan pasar Berdikari. Mudah ditemukan lokasinya karena memang kota ini tidak terlalu ramai. Aroma dan rasa kopi di kedai kopi “Hawaii” ini sangat khas dan kuat sehingga membuat setiap penggemar kopi pasti kepincut untuk kepingin kembali ngopi lagi di tempat ini. Maka ada seloroh bagi pendatang baru di kota ini, yaitu dianggap belum sah datang ke Kijang kalau belum pernah singgah ngopi di kedai kopi “Hawaii”.

Sang pemilik kedai adalah seorang Cina tua yang biasa dipanggil A-Eng. Di usianya yang sudah 79 tahun ternyata engkoh A-Eng ini masih terlihat bregas (gagah), gesit, dan tidak menampakkan kelelahan fisiknya. A-Eng suka diajak ngobrol, apalagi kalau menyangkut kedai kopinya. Engkoh ini pun dengan berapi-api akan bercerita panjang-lebar dengan logat Melayu-Cina yang mulai rada susah dipahami karena giginya yang sudah pada hilang dan diganti gigi emas. Konon, air Riau memang terkenal keras dalam mempercepat kerusakan gigi.

Dulunya A-Eng tinggal di pulau Koyang, yaitu sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Bintan. Katanya semasa muda dulu suka berburu menangkapi monyet dan menyucrup otaknya, hingga puluhan ekor jumlahnya. Hmmmmm…….. Itulah selalu jawabnya kalau ditanya apa resep awet mudanya. Tentu saja ini formula yang tidak layak ditiru. Tapi begitulah pengalaman hidup A-Eng hingga di usianya yang sekarang.

Pada tahun 1969 A-Eng pindah ke Kijang. Dia lalu membuka usaha kedai kopi di depan pasar Berdikari yang pada waktu yang sama juga sedang mulai buka. Tentu saja waktu itu kota Kijang masih sangat sepi. Tapi relatif lebih ramai karena kota ini adalah bekas pusat kegiatan penambangan bauksit ketika Belanda masih jaya. Sejak itulah hingga kini A-Eng tidak pernah pindah. Kedainya pun tidak pernah direnovasi, diperbaiki atau sekedar dirapikan, sejak 37 tahun yang lalu. Maka wajarlah kedai kopi “Hawaii” milik engkoh A-Eng yang ada sekarang ini tampak sangat sederhana dan tradisional, meski tidak dipungkiri munculnya kesan kurang bersih.

Perihal nama “Hawaii” untuk kedainya itu, menurut penuturan A-Eng adalah pemberian pak Camat Kijang pada masa itu. Karena A-Eng yang wong ndeso Cina-Melayu ini bingung kedainya mesti dijuduli apa, maka dia pun minta pak Camat Kijang untuk memberinya nama, dan lalu dipilihlah nama “Hawaii” yang bertahan hingga sekarang menjadi trade mark kopinya engkoh A-Eng.

Dulu pernah tersiar rumor, katanya kopinya A-Eng bercampur ramuan daun ganja, makanya setiap sruputan pertama dari kopinya selalu menimbulkan efek thengngng….. di kepala peminumnya, apalagi bagi mereka yang tidak biasa minum kopi. Namun A-Eng membantahnya, diapun tidak merahasiakan resepnya.

Pulau Bintan memang bukan penghasil kopi, makanya A-Eng membeli kopi Sumatra biasa. Menurut A-Tet, satu dari empat orang anaknya yang sekarang tekun membantu usaha babahnya, kopi mentahnya berasal dari kopi Jambi, digoreng sendiri dengan sedikit tambahan minyak wijen dan lalu digilingnya sendiri. Begitu saja, katanya. Kalau kemudian tercipta taste kopi yang khas dan numani (membuat tuman atau ketagihan), itu karena penyajiannya.

Sebelum disajikan, kopi kental itu direndam atau diseduh dalam air panas mendidih agak lama, lalu disaring. Setelah itu tinggal menyajikan dalam cangkir kecil, dan lagi-lagi agak mbludak…… Mau kopi O atau dicampur susu, tinggal pesan saja. Susunya pun tidak sembarang susu, mesti merk “Double Dice” dari negeri seberang. Suatu ketika susunya pernah diganti, ternyata dikomplain penggemarnya. Katanya susunya kurang enak dan akibatnya seringkali kopi dalam cangkir pembelinya tidak dihabiskan. Akhirnya kembali lagi dia menggunakan susu cap “Double Dice” itu hingga sekarang.

Harga secangkir kopinya A-Eng terbilang murah. Cukup Rp 2.500,-. Itu sebabnya kedai kopi “Hawaii” ini laris manis tanjung kimpul. Sehari A-Eng bisa menghabiskan sampai 40 kg kopi, terkadang lebih. Hanya penggemar berat kopi hitam saja yang akan sanggup nenggak kopinya A-Eng lebih dari secangkir, mengingat kental dan aromanya yang kuat, serta sensasi thengngng… di kepala itu.

Iseng-iseng saya tawarkan kepada koh A-Eng untuk buka cabang di Jogja. Waralaba juga bolehlah. Dalam hati saya berkhayal, kalau dijual Rp 5.000,- sampai Rp 15.000,- per cangkir bagi penggemar kopi rasanya masih sepadan dengan sensasi thengngng… yang diberikan, tergantung lokasi dan tampilan kedainya. Mbah A-Eng ini hanya tertawa. Katanya, dia tidak bisa menjamin rasa dan aromanya tidak berubah. Wah…….

Sebagai penggemar kopi yang sudah terbiasa ngopi pagi dan sore, bagaimanapun juga tidak saya lewatkan kesempatan untuk membeli satu kilogram kopi ramuannya A-Eng ini sebagai oleh-oleh untuk saya sendiri. Harganya Rp 25.000,- per kilogram. Tentu dengan harapan agar di Jogja nanti saya akan memperoleh sensasi thengngng….. yang sama seperti ketika ngopi di kedai “Hawaii”.

Pendeknya, sruputan pertama begitu thengngng….., selebihnya terserah Anda…… Mau secangir, dua cangkir atau tiga cangkir mbludak……

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(3).  Mbelah Duren Di Waung Pak Leman

Sejak saya datang menjelang maghrib, Pak Leman yang nama lengkapnya Soleman (konon kalau di Jerman ejaannya menjadi Lehmann…..), tak habis-habisnya bercerita tentang pengalaman hidupnya menjadi pekerja tambang. Mengaku sebagai penduduk asli dusun Siring, sejak tahun 1983 Pak Leman dan keluarganya menempati sepetak rumah merangkap warung di pinggir jalan tambang. Jalan kampung yang biasa dilalui truk-truk pengangkut batubara. Di warung kecil-kecilan itu pula Bu Leman berjualan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat sekitarnya.

Hari-hari ini musim durian sudah menjelang tiba. Pak Leman pun nyambi jualan durian, seperti sudah bertahun-tahun dilakoninya. Musim durian di Bengkulu memang baru awal-awalnya. Karena pohon durian milik Pak Leman belum mulai menghasilkan, maka Pak Leman kulakan durian dari tetangganya yang mempunyai pohon durian di hutan yang sudah mulai matang.

Saat petang mulai meremang itulah, dalam perjalanan pulang ke kota Bengkulu dari sebuah lokasi tambang, kami berhenti sejenak di warung Pak Leman itu. Ya buat apa lagi kalau bukan mau menikmati buah durian. Kebetulan pas ada tetangga Pak Leman yang baru keluar dari hutan membawa durian. Meski untuk itu tetangga Pak Leman itu rela berjalan kaki berkilo-kilometer memikul beberapa butir durian dari kebunnya untuk dijual.

Acara tunggal petang itu adalah mbelah duren….. Mula-mula jenis durian biasa, cukup manis dan enak rasanya. Lalu Pak Leman menyodorkan jenis durian tembaga. Dagingnya agak lembek, berwarna kekuningan, tapi rasanya …..boo……, huenak tenan….. Belum pernah saya temukan durian jenis ini di Jawa.

Di Sumangtrah memang terkenal kalau yang namanya durian tembaga itu tiada yang melawan rasanya. Bagi orang yang sudah lama tinggal di Sumatera barangkali tidak asing lagi dengan jenis durian ini. Tapi bagi mereka yang belum pernah mencicipi durian ini, sepertinya perlu dicatat di buku agenda untuk suatu saat nanti mencobanya. Selain karena kekuatan rasa dan aromanya, terutama sensasi kliyeng-kliyeng di kepala kalau kebanyakan (namanya juga kebanyakan…..).

Entah kenapa durian yang dagingnya berwarna kekuning-kuningan ini disebut durian tembaga. Saya tidak paham muasal-asalnya kenapa bukan durian kuningan atau durian emas, disebutnya.

Selain durian biasa dan durian tembaga, masih ada satu jenis durian lagi yang saya coba petang itu, yaitu durian roti. Dagingnya kesat dan berwarna keputih-putihan (sengaja kata ‘putih’ saya tulis berulang). Ketika dimakan terasa taste seperti roti tawar. Barangkali itu, makanya disebut durian roti. Kalau umumnya orang bikin roti rasa durian, maka ini durian rasa roti. Memang tidak semanis durian tembaga, tapi tetap saja hoenak tenan……  Tidak ada salahnya juga, suatu saat nanti diagendakan untuk dicoba, bagi yang kepingin.

Sambil menikmati durian, sambil menyeruput kopi Bengkulu yang katanya hasil olahan dari kebun Pak Leman sendiri. Masih sambil mendengarkan cerita-cerita seru pengalaman hidup Pak Leman…. tan soyo dalu tan soyo gayeng….. , dan semakin malam semakin berbau mistis.

Ketika akhirnya kami berpamitan, tidak lupa Pak Leman memberi tips. Kalau habis makan durian, ambil sebilah kulitnya, tuangkan sedikit air putih ke ceruk kulitnya, lalu diminum. Katanya selain dapat menetralisir baunya, juga dapat menetralisir hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin berkecamuk di dalam perut. Khusus untuk durian tembaga, ada tips tambahan. Jangan buru-buru minum air es karena akan berakibat perut kembung. Dan jangan dulu minum bir atau minuman beralkohol, kecuali bagi yang memang merencanakan untuk teler……..

***

Malam seperti semakin menuju larut, padahal sebenarnya belum. Itu karena kampung di sekitarnya sudah sepi bin senyap. Sesekali sopir truk angkutan batubara lewat menyapa Pak Leman. Langit pun tampak bersih dengan bulan sabit menggantung di dinding timur. Pak Leman pun semakin sulit dipenggal cerita-ceritanya.

Warung Pak Leman menjadi satu-satunya tempat yang masih terlihat terang-benderang, sementara rumah-rumah tetangganya sudah pada tutup, dengan kerlip lampu-lampu kecil di sana-sini, khas suasana desa. Waktu maghrib sudah lama terlewati. Saya memilih untuk memanfaatkan “fasilitas” untuk men-jamak (menggabung) sholat maghrib dengan isya, sebagai seorang musafir yang sedang lapar duren di kawasan ladang batubara……

Akhirnya, Pak Leman hanya minta duriannya dihargai Rp 5.000,- sebutirnya, sedangkan kopinya gratis. Sebagai sapaan selamat datang, katanya. Padahal dua hari sebelumnya kami membeli durian di kota Bengkulu harganya Rp 12.500,- per butir. Katanya kalau lagi musim-musimnya durian, harga sebutir durian hanya sekitar dua-tiga rebuan per butir. Eee…, lha kok di jalan Kusuma Negara Jogja tetap saja dua puluh lima ribuan per butir, tidak perduli lagi musim apa……

Bengkulu, 30 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(6).  Membeli Kopi Bengkulu Di Pasar Panorama

Pesan paling pas bagi penggemar kopi kalau kebetulan berkesempatan datang ke Bengkulu adalah : jangan lupa membeli kopi Bengkulu. Pesan itu kini saya amalkan. Bahkan sudah saya amalkan dengan tertib ketika lebih sebelas tahun yang lalu saya masih bekerja di Bengkulu. Setiap kali cuti ke Jogja, pasti saya sempatkan untuk mampir pasar dan membeli kopi Bengkulu. Selain sebagai oleh-oleh juga untuk dikonsumsi sendiri.

Dulu, kalau membeli kopi di pasar Minggu (ini nama sebuah pasar di Bengkulu), langsung digoreng dan digiling di tempat, sehingga aromanya sangat menggairahkan dan lalu dibungkus masih dalam kondisi hangat.

Tentang kopi Bengkulu ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kopi-kopi dari daerah lain yang pernah saya coba rasanya, seperti (saya urutkan dari barat saja) : kopi Medan (meski persisnya tentu bukan dari kota Medan), Jambi, Palembang, Lampung, Jawa, Bali, Toraja, Kupang, Timor, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kopi dari setiap daerah masing-masing memiliki kekhasan taste-nya. Dan kopi Bengkulu hanyalah satu dari kekhasan aroma dan taste di antara aneka ria jenis kopi itu. Tapi jelas beda dengan kopi bikinan pabrik yang biasa saya beli di toko, atau bahkan yang dijual di warung saya “Madurejo Swalayan” di Prambanan.

*** 

Untuk memperoleh kopi Bengkulu sebenarnya tidak sulit. Banyak kopi asli Bengkulu yang merupakan hasil industri rumahan. Maka kalau hanya ingin membeli kopi saja sebenarnya tidak terlalu merepotkan. Namun saya akhirnya memilih untuk membeli kopi Bengkulu di pasar Panorama. Pasar Panorama adalah sebuah pasar tradisional yang masih ada di tengah kota Bengkulu.

Saya tergoda untuk pergi ke pasar ini. Karena memang bukan semata-mata mau membeli kopinya, melainkan sambil cuci mata blusukan di pasar tradisional. Suasana khas yang rasanya sudah langka bagi mereka yang hidup penuh kesibukan di kota, dan terlalu sayang untuk dilewatkan ketika berada di tempat yang baru. Selain berharap sensasi thengng… dari kopinya, saya juga berharap sensasi hiruk-pikuk di pasar tradisional.

Di pasar, umumnya dijual ada dua macam kopi, yaitu kopi asli dan tidak asli (kurang tepat kalau disebut tiruan). Beda antara keduanya hanya pada masalah kandungannya, yang satu 100% kopi-pi, yang lainnya ada campurannya (beras, jagung atau entah apa lagi). Karena itu harganya berbeda, warnanya berbeda dan sensasi thengng...-nya juga berbeda. Kopi yang asli dijual dengan harga berkisar Rp 20.000,- per kilogramnya, terkadang lebih sedikit, terkadang kurang sedikit. Sedang kopi yang tidak asli tentu lebih murah dan bervariasi. Kopi yang asli berwarna lebih gelap kehitaman dibanding yang tidak asli. Merek dagangnya juga beraneka merek, dan setiap penjual pun menjadi pemegang mereknya masing-masing.

Tidak perlu pusing untuk memilih kopi yang merek apa, sepanjang masih kopi asli dan tidak campuran, dijamin tidak akan keblondrok (salah pilih). Cara penggorengan, penggilingan, pembungkusannya pun sama. Hanya, tentu saja setiap kopi ditangani oleh tangan berbeda. Oleh karena itu, setiap merek kopi di pasar sudah memiliki penggemar dan pelanggannya masing-masing.

***

Di pasar Panorama, meski yang dijual adalah kopi Bengkulu dan penjualnya pun fasih bercakap Bengkulu. Namun banyak di antara mereka yang aslinya (bukan tiruan) adalah pendatang dari luar Bengkulu. Kata orang sana, kebanyakan kalau bukan dari mBatak, ya Jawa. Jadi ya jangan hueran kalau di pasar tradisional Bengkulu ini di sana-sini ter-celemong dialek Jawa.

Lengkap sudah, ketika saya kembali ke Yogyakarta dengan membawa beberapa bungkus kopi asli Bengkulu yang biasanya dikemas per 250 graman, buat oleh-oleh. Minimal tetangga di kampung saya di Jogja yang gemar minum kopi, bisa turut kecipratan dleweran kopi Bengkulu dan menikmati sensasi thengng…-nya. Selain ada juga oleh-oleh lempuk atau lempok durian kalau suka makanan dodol-dodolan. Hanya perlu diingat satu hal, jangan pernah minta oleh-oleh ketupat bengkulen….., bisa merepotkan.

Yogyakarta, 4 Juli 2006
Yusuf Iskandar