Posts Tagged ‘maghrib’

Derita Batin Penderita Stroke

22 Oktober 2010

Maghrib kemarin, ex-teman kuliah saya yang menderita stroke, datang ke rumah. Sambil malu-malu dia mengeluh, organ kelelakiannya sudah beberapa bulan tidak bekerja (maaf, saya tidak bermaksud bercerita “horror”, tapi sekedar sharing tentang kenyataan yang dapat dialami oleh penderita stroke).

Dengan rasa prihatin saya hanya bisa menyarankan: “Konsultasikan dengan dokter yang merawatmu agar kamu tidak salah bertindak”. Terbayang derita batinnya, tapi juga terbayang pembelajarannya…

Yogyakarta, 17 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Temanku Yang Terkena Stroke

1 Oktober 2010

Maghrib, enak-enak berbuka, siap-siap ke masjid, datang temanku yang kena stroke. Sejak pagi jalan-jalan (benar-benar jalan kaki) ke Malioboro, lalu mampir ke rumahku. Kebayang, jarak lebih 10 km telah ditempuhnya sambil tertatih-tatih. Katanya, belum lama dompetnya isi KTP, SIM, uang dan obat yang baru ditebusnya jatuh hilang entah dimana.

Uuugh…, Tuhan memang tidak tanggung-tanggung kalau memberi “peluang bisnis”. Muncul tanya di kepala seperti film kartun: “Apa yang seharusnya kulakukan?”

Yogyakarta, 28 September 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Sepi “Penumpang”

6 September 2010

Maksudnya hati hendak berjamaah Maghrib di masjid terdekat. Apa daya sudah “ngetem” cukup lama ternyata sepi “penumpang”, bahkan “sopir aslinya” entah kemana…. Maka tak “sopiri” saja sendiri, keburu sahur…, hanya dengan “penumpang” seadanya, itupun begitu salam buru-buru pada ngabur...

Yogyakarta, 4 September 2010
Yusuf Iskandar

Masjidnya “Libur”?

29 Agustus 2010

Habis berbuka, berwudlu, lalu ke masjid terdekat. Niat ingsun mau berjamaah maghrib. Tapi…, lho kok sepi? Tidak ada orang blasss…. Pada kemana orang-orang ini? Jangan-jangan masjidnya “libur”… Kalau “libur” kok tidak ada pengumuman?

Yogyakarta, 27 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Dari Mana Datangnya Rejeki

21 Juni 2010

Petang itu saya agak terlambat tiba di masjid, agak lama setelah gaung adzan maghrib menghilang dari angkasa. Sambil menunggu iqomat tanda dimulainya sholat maghrib, saya jalan melenggang di pinggiran dalam dinding masjid sambil mata melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah Qur’an kecil lusuh yang sampul luarnya sudah hilang dan menyisakan sebundel lembaran-lembaran bertulisan huruf Arab. Lembaran-lembaran itu pun sudah sobek-sobek bagian luarnya. Di sebelahnya ada setumpuk kitab Qur’an yang kondisinya terlihat jauh lebih baik.

Entah kenapa justru kitab lusuh itu lebih menarik perhatian saya. Segera kuraih, lalu kubuka asal saja di bagian tengah, entah pada halaman berapa. Spontan seperti ada yang mengarahkan pandangan mataku pada sebuah ayat yang setelah kubaca bunyi lafalnya sepertinya sangat familiar. Walau tulisan di buku kecil itu terlihat terlalu kecil, tapi bagian awal dari ayat itu masih dapat kubaca, yang berbunyi : “Allahu yabsuthur-rizqo limayyasyaak…..”. Saya juga masih bisa membaca tulisan di bagian atas halaman kitab kecil itu, yaitu surat Al-Ankabuut. Tapi mata plus-minus saya sudah tidak mampu membaca nomor ayatnya sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Karena saya merasa sangat mengenal ayat itu tapi lupa artinya, dengan meninggalkan rasa penasaran saya berkata dalam hati : “Akan kucari artinya nanti di rumah”.

Sepulang dari masjid, setelah bertadarus sebentar segera saya ambil buku tarjamah dan saya cari penggal ayat tadi. Tidak terlalu sulit mencarinya, walau tadi tidak terbaca nomor ayatnya, tapi saya tahu nama suratnya. Akhirnya kutemukan juga. Agak terhenyak saya setelah membaca terjemahan lengkapnya yang berbunyi : “Allah melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambanya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya…” (QS. 29:62).

Entah kenapa saya merasa agak galau. Barangkali karena timing saja. Sebagai “penganggur terselubung” akhir-akhir ini saya agak risau tentang hakekat sumber datangnya rejeki. Padahal terjemahan ayat itu sebenarnya biasa-biasa saja. Makna tersiratnya juga sudah sejak dulu saya pahami. Namun pada petang itu, bunyi sepenggal ayat yang secara kebetulan saya baca di Qur’an sobek di masjid itu, kedengaran bagai sebuah teguran atau peringatan. Sebuah kebetulan?

Ya, tentang rejeki. “Binatang klangenan” yang setiap menit, setiap jam, setiap hari senantiasa diburu dan didambakan orang. Saya atau mungkin orang lain, selama ini sering terlena. Setiapkali bicara ihwal rejeki konotasinya selalu uang dan materi. Referensi pertamanya selalu pemilik uang atau atasan, atau orang-orang kaya. Akibatnya peranan Tuhan seolah-olah “terkesampingkan” dari akal pikiran, dan justru pikiran tentang penguasa uanglah yang kemudian datang melintas lebih dahulu.

Mencarinya memang wajib. Mengupayakan dengan segala daya upaya juga harus. Tapi titik tolak tindakannya (baca : amaliyah) mestinya bukan “kepada siapa” melainkan “atas nama siapa”. Seringkali yang kemudian melintas di pikiran adalah “melobi” kepada penguasa uang, walaupun hal itu dilakukan juga sebagai upaya pelengkap, tapi mestinya bukan itu sebagai esensi penghambaan atas nama Sang Maha Pemberi Rejeki.

Saya tahu bahwa pemikiran terlena seperti itu tidak terlalu salah. Saya juga percaya bahwa sudah ada yang Maha Pengatur Rejeki. Namun yang terjadi seringkali salah kaprah. Alam bawah sadar saya seolah-olah memerintahkan bahwa untuk memperoleh rejeki itu harus fokus dan begitu tergantung kepada pemilik uang atau oknum-oknum lain selain Tuhan.

Lha, kalau sebenarnya Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Kenapa mesti pusing dengan penguasa uang, orang kaya atau atasan? Kenapa tidak langsung saja berfokus kepada Tuhan? Perkara nanti rejeki itu akan dititipkan siapa atau dikirimkan lewat jasa kurir apa, biarlah Tuhan yang mengurusnya. Begitu, pikiran jernih saya kemudian.

Ya, ketika kita butuh rejeki lebih, mestinya ‘kan tinggal berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan, agar kita termasuk dalam kelompok yang dikehendaki-Nya untuk dilapangkan rejekinya? Tapi kenapa selama ini tidak banyak yang mau berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan? Jangan-jangan karena kita merasa malu dan tidak pantas melakukan itu. Atau, malah sebenarnya tahu bahwa dirinya tidak pantas tapi tetap “nekat” merajuk kepada Tuhan. Seperti seorang yang tahu kalau dirinya tidak pantas mencintai gadis yang “mirip” bidadari tapi keukeuh mengubernya? Dan, Jaka Tarub pun kemudian akan mencuri pakaian “mirip” bidadari yang sedang mandi agar dapat merengkuhnya. Maka, jalan pintas ditempuh, sehingga rejeki pun dapat diperoleh. Tinggal keberkahannya yang akan membedakan. “Ora dadi daging (tidak menjadi daging)”, kata orang di kampung saya.

Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana, hanya berusaha memantaskan diri untuk hadir dan “melobi” Tuhan. Sebab Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang berjanji memenuhi kebutuhan hambanya, bahkan Dia pula yang berjanji akan mengabulkan setiap permohonan hambanya.

So, kurang apa lagi? Kurang pantas, jawabnya. Jangan-jangan kita memang kurang pantas untuk hadir dan meminta kepada Tuhan agar diturunkan rejeki dari langit atau dikeluarkan rejeki dari muka bumi. Dan ketika rejeki itu kemudian benar-benar didatangkan, jangan-jangan kita juga sebenarnya kurang pantas diberi amanah mengelolanya.

Yogyakarta, 14 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Dialog Maghrib

6 Mei 2010

Saat maghrib, ‘boss’ saya asyik ngelap mobilnya yang basah kuyup kena hujan. Sambil berjalan meninggalkan rumah, kusapa dia: “Ibu ini rajin sekali..”, kataku sambil lalu.

Eh, dia dengar rupanya. “Ah, bapak aja yang tidak pernah lihat. Tiap pagi juga saya lap”, jawabnya.
“Wah, ngerti ngono… (tahu gitu)”, kataku kemudian.
“Kenapa?”, tanyanya.
“Mestinya tadi sekalian saya belikan overall dan sepatu karet…”, jawabku sambil cepat-cepat berangkat ke masjid.

Yogyakarta, 3 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Kupy Purwaceng

16 April 2010

Jogja seharian ini agak muram. Tansoyo sore tansoyo peteng (semakin sore semakin gelap), gerimis mengundang hujan. Woenake menikmati secangkir kupy purwaceng…, agar semangat lebih kenceng menuju masjid saat sebentar lagi panggilan maghrib mengumandang… (rupanya saya masih punya sisa kupy spesial dari Wonosobo yang namanya mau saya ganti itu…)

(Seorang teman mengoreksi, bahwa kata yang benar adalah sangsoyo, bukan tansoyo)

Yogyakarta, 11 April 2010
Yusuf Iskandar

Antara Purwaceng Dan Sholat Maghrib

25 Februari 2010

Ramuan tradisional purwaceng memang ruarrr biasa! Belum lama minum langsung terasa dampaknya. Semangat dan gairahku langsung menggebu-gebu (seperti enggak sabar mau menggapai puncak Rinjani)…, untuk berjamaah di masjid jami’ Dieng begitu adzan maghrib berkumandang…

Dieng – Wonosobo, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Ada Yang Kangen

12 Februari 2010

Ketika lagi asyik-asyiknya mandi sore, tiba-tiba istriku teriak (dari luar kamar mandi, tentu saja) : “Mas, itu dicariin. Ada yang kangen tuh…”. Sontak berdegup jantungku. Berdebar senang karena ternyata saya masih laku ada yang ngangenin, tapi juga penasaran siapa yang maghrib-maghrib begitu nekat bilang kangen padaku melalui istriku.

“Siapa?”, tanyaku sambil masih deg-degan. Istriku pun menjawab : “Itu si Meriam Bellina…”. Spontan saya tertawa ngakak di dalam kamar mandi mendengar jawaban istriku. Lalu siapa si ‘Meriam Bellina’ itu? Silakan baca cerita sebelumnya di sini :  Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag 2

Yogyakarta, 9 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Menabrak Orang Mabuk

14 Oktober 2009

Baru dua minggu anakku punya motor baru, sudah berhasil menabrak orang mabuk (yang lagi sempoyongan) menyeberang jalan tadi malam. Lampu pecah, motor rusak ringan, kening lecet… Cuma anakku heran, kok ortunya tidak marah.

Maka agar tidak terlalu mengecewakannya, habis jama’ah maghrib malam ini terpaksa diadakan kultum tentang ‘safety nunggang honda’ (cap apapun motornya, sebut saja honda).

Yogyakarta, 14 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Jadi Penerjun Tidak Boleh Merokok

7 April 2009

Duduk lesehan berdua anak lelaki saya (Noval) di depan televisi menjelang maghrib. Saluran TV One sedang menyiarkan diskusi tentang tragedi jatuhnya pesawat Fokker-27 milik TNI AU di hanggar pangkalan udara Husein Sastranegara kemarin siang. Di sela-sela dialog, ditayangkan rekaman kegiatan prajurit TNI AU, di antaranya ada terjun payung. Anak saya tampak serius memperhatikan adegan terjun payung massal oleh Paskhas TNI AU.

Tiba-tiba Noval bertanya : “Pak…, bapak berani enggak terjun payung?”. Saya diam sesaat mecoba menerka-nerka kemana arah pertanyaan anak saya yang satu ini yang seringkali tak terduga.

“Kalau sekarang ya enggak berani”, jawab saya kemudian.  Rupanya jawaban itu tidak memuaskan Noval. Dengan nada mengejek dia melanjutkan : “Wah, bapak kan hobby petualangan, suka dengan tantangan, masak enggak berani ikut terjun payung…”.

Siwalan!“, kata saya dalam hati. Jelas saya tidak terima diejek anak saya begitu. Lalu saya mencoba menjelaskan dengan sabar : “Ya, seberani-beraninya orang, sebelum melakukan kegiatan apapun, apalagi yang beresiko tinggi, harus melakukan pelatihan terlebih dahulu. Tidak boleh begitu saja ikut ini, ikut itu…”, jawab saya.

Noval masih belum puas dengan jawaban saya. Dia pun melanjutkan : “Seandainya bapak ikut latihan dulu, apa bapak berani melakukan terjun payung?”. Waduh, modar aku…! Mendidih juga darah setengah tua saya.

“Berani saja!”, jawab saya tidak mau kalah. “Tapi di usia bapak sekarang, ya jelas bapak tidak bisa”. Jawaban ini membuat Noval jadi penasaran.

“Memang kenapa?”, tanyanya ingin tahu.
“Pertama, karena kondisi fisik bapak sudah menurun. Berbeda halnya kalau sejak muda kondisi fisiknya memang terlatih untuk kegiatan terjun payung. Kedua, bapak seorang perokok”, jawab saya.

“Ooo, seorang penerjun tidak boleh merokok ya…”, kata Noval seakan-akan memahami (meski saya tahu sebenarnya dia belum paham).
Lha, iyalah“, jawab saya merasa menang.
“Tapi kenapa ya, pak”. Eh, masih ngeyel juga dia.
Asal-asalan saja saya menjawab : “Ya, karena susah….. Begitu meloncat terjun dari pesawat terus menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke langit. Pasti akan merepotkan sekali…”.
“Aaaaaaaah…..”, teriak Noval, bersamaan dengan kumandang adzan magrib dari masjid dekat rumah.

Yogyakarta, 7 April 2009
Yusuf Iskandar