Disinggahi Uang Sepuluh Juta Rupiah

Ada uang ekstra Rp 10 juta tiba-tiba nyusup masuk ke rekeningku. Wauw.., rejeki dari langitkah? Jangan-jangan kecipratan bagi hasil dari mas Nazaruddin atau mbak Malinda. Kutunggu kalau sampai lebih tiga hari tidak ada yang ngaku mau kumiliki.

Di menit-menit terakhir hari ketiga menjelang tutup buku akhir bulan, ternyata uang itu sudah lenyap lagi. Haha.., lumayan dapat kehormatan disinggahi uang Rp 10 juta walau hanya kulihat angkanya dan bukan wujudnya.

Banjarbaru, 30 Juni 2011
Yusuf Iskandar

5 Tanggapan to “Disinggahi Uang Sepuluh Juta Rupiah”

  1. lili Says:

    Pak tulisannya keren sangat, membaca ini menginspirasi saya untuk menulis lagi, menulis tentang ini dan itu , thanks pak

    • Yusuf Iskandar Says:

      Terima kasih mbak. Tetap semangat untuk terus menulis, tentang apapun. Jangan pedulikan soal baik-buruknya. Pantang berhenti menulis…๐Ÿ™‚

      • lili Says:

        Iya Om terimakasih
        Om saya tertarik dengan tulisan Om tentang pesan pesan om pada anak Om yang sedang mendaki
        Saya masih belajar melihat dari sudut pandang ayah saya
        Boleh d share Om, bagaimana kalo yang suka naik gunung itu anak cewek ?

      • Yusuf Iskandar Says:

        Lili, pada dasarnya sama saja. Hanya bedanya kalau cewek sebaiknya ada teman sesama cewek. Atau, ada teman cowok yang dipercaya menjaganya. Harus dipahami bahwa ayah Anda mengemban tanggung jawab berat terhadap anak putrinya. Karena itu, perlu bisa meyakinkan ayah bahwa kepercayaan yang akan diberikan akan mampu Anda jaga sebaik-baiknya dan bukan justru mempersulit tanggung jawab moral seorang ayah. Saya memahami keinginan Anda tapi saya sangat memahami kerisauan ayah Anda. Temukan titik temu yang saling menghargai tanggung jawab masing-masing. Selamat mendaki…๐Ÿ™‚

      • Lili vebriana ichsan Says:

        iya om terimakasih, senang sekali bisa mengobrol dengan om walaupun dalam bentuk seperti ini hehehe.
        saya memahami kerisauan ayah saya terlebih atas omongan orang orang yang mengatakan hal2 negatif tentang pendaki gunung.
        ada perubahan yang terjadi sepertinya. semasa kuliah saya sering melakukan pendakian bersama teman teman organisasi, saya selalu mengenalkan teman teman cowok saya, dengan harapan ayah saya mengetahui bagai mana lingkugan saya, saya juga sering mampir ke rumah semisal mendaki gunungnya dekat dengan rumah. bahkan sampai saat ini teman teman masih sering mampir kalo mendaki gunung.
        tapi saat saya di rumah, entah mengapa ayah saya menjadi melarang saya mendaki gunung.
        ini om yang membuat saya bingung, soalnya tadinya bapak saya well well saja.

        maaf om malah jadi curhat heeheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: