Posts Tagged ‘AMERIKA’

Tuhan Menyertai Setiap Mimpi

17 Maret 2010

Membaca catatan perjalananku berkeliling Amerika, ada pembaca bertanya, bagaimana caranya untuk bisa kesana. Dalam hati sebenarnya ingin menjawab: “Belilah tiket pesawatnya dan uruslah visanya”. Entoch begitu, yang kemudian saya katakan adalah, jangan pikirkan bagaimana caranya, tapi yakini bahwa suatu saat akan kesana (+ doa tentu saja). Mimpi? Saya sudah membuktikan bahwa Tuhan menyertai setiap mimpi, semntara kita sering berprasangka terhadap-Nya…

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Ibu Guru Teladan

12 November 2008
Betsy Rogers

Betsy Rogers

Seorang guru sekolah dasar dari negara bagian Alabama, terpilih sebagai guru terbaik tahun ini di Amerika Serikat. Presiden George Bush menghormatinya di Gedung Putih pada tanggal 30 April yll, dalam acara pemberian penghargaan yang sangat bergengsi “2003 National Teacher of the Year Award”.

Ibu guru teladan itu bernama Betsy Rogers. Sebagai guru terbaik tahun ini, Ibu Rogers akan menghabiskan waktunya tahun depan sebagai duta besar internasional untuk bidang pendidikan. Ibu Rogers akan meninjau ke seluruh Amerika Serikat dan negara lain, dan mengajurkan agar guru-guru sekolah terus diberi kursus lanjutan yang lebih baik.

Ini memang berita terlambat. Pertama kali membaca berita itu, sejujurnya, saya kurang tertarik. Pikiran saya terlanjur skeptis, paling-paling ya seperti pemilihan Pelajar Teladan atau Guru SD Teladan atau ribuan teladan lainnya, saat perayaan 17-an di Jakarta. Itu saja. Namun, ketika kedua kali saya menerima dan membaca berita yang sama, saya mengendus ada hal yang tidak biasa di balik pemilihan guru teladan itu.

Rupanya benar. Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa. Ibu Roger ini ternyata memang bukan sembarang guru SD. Dr. Helen Betsy Roger adalah seorang ibu berusia 51 tahun, seorang sarjana lulusan Samford University tahun 1974 dan menyandang gelar Master dan Doctor di bidang pendidikan. Beliau telah menjadi guru selama 22 tahun dan memilih mengajar murid-murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar di sekolahan kecil dan ndeso yang murid-muridnya berusia antara 5 hingga 7 tahun, dan kebanyakan anak-anak orang miskin (jangan lupa, di Amerika juga banyak orang miskin). SD itu bernama Leeds Elementary School, di Jefferson County, di luar kota Birmingham, negara bagian Alabama.

Seperti diberitakan oleh Voice of America, bahwa menurut Ibu Rogers, salah satu masalah utama sekolah-sekolah yang ada di daerah miskin adalah bahwa sekolah-sekolah ini tidak memperoleh cukup dana. Dia juga menghendaki agar lebih banyak guru yang bersedia datang mengajar ke sekolah-sekolah anak kaum miskin. Dia bersama suaminya pindah ke daerah pertanian dekat Sekolah Dasar Leeds Elementary pada awal tahun 1980-an. Mereka menghendaki kedua putra mereka mengenal anak miskin dan keturunan ras lain. Sejak itu sampai sekarang ia mengajar di sekolah tersebut.

Bagi Betsy Rogers, cara mengajar sangat beraneka ragam. Dia menganjurkan kepada para guru lain agar jangan sekali-kali menganggap bahwa seorang siswa tidak dapat belajar atau bodoh. Sebaliknya, ia menyarankan agar para guru mencoba teknik baru untuk memberi penjelasan.

Betsy Rogers menggunakan lukisan, musik, dan memasak sebagai bagian dari alatnya untuk mengajar. Dia berhasil meyakinkan sekolah tersebut agar memulai suatu program dimana guru-guru mengikuti perkembangan siswa dari mulai awal kelas satu sampai akhir kelas dua. Ini memungkinkan guru dapat mengukur kemajuan anak. Teknik ini di Amerika Serikat disebut looping. Sekolah-sekolah lain di negara bagian Alabama sekarang menggunakan teknik tersebut.

alam karirnya, Ibu Rogers yang nenek dan ibunya juga seorang guru ini, dikenal atas komitmennya terhadap para anak didik di luar jam sekolah. Sebelum jam sekolah dimulai, beliau memberikan pelajaran tambahan kepada murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar membaca. Ibu Rogers juga berminat pada kehidupan siswanya di luar ruang kelas. Dia menghadiri pesta anak-anak dan pertandingan olah raga mereka. Beliau aktif di Komite Sekolah. Beliau juga membantu keluarga para anak didiknya yang kurang beruntung melalui kelompok-kelompok gereja dan paguyuban atau organisasi social kemasyarakatan. Untuk berkomunikasi dengan semua anggota keluarga siswa, dia bahkan mengirim e-mail kepada orang tua siswa (perlu diketahui bahwa sarana email dan internet sudah menjadi sarana komunikasi umum bagi sebagian besar masyarakat Amerika).

Selama bertahun-tahun, Ibu guru Rogers telah bekerja keras untuk memastikan agar anak-anak didiknya memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa mempedulikan status ekonomi mereka. Beliau berargumentasi bahwa sekolah-sekolah yang kinerjanya rendah harus memiliki guru-guru yang terbaik. Beliau mencita-citakan agar kelasnya menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman dan memberikan suasana yang membantu anak-anak mengembangkan dirinya. Beliau juga menginginkan agar para guru menjadi bangga terhadap profesi mereka dan mengetahui akan pengaruh peran mereka terhadap anak didik melalui cara-cara yang mungkin tidak terlihat.

***

Betsy Rogers terpilih mendapat kehormatan nasional di antara 54 orang guru teladan yang mewakili masing-masing negara bagian untuk berdiri di samping Presiden Bush menyampaikan sambutannya di Gedung Putih. Dalam pesan yang disampaikannya dalam kesempatan itu, Betsy Rogers sempat mensitir sebuah ucapan yang sangat puitis, bahwa “anak-anak kita adalah pesan yang hendak kita kirimkan menuju ke suatu masa yang kita tidak pernah melihatnya. Betapa ini adalah tanggungjawab yang mengagumkan dan luar biasa bagi kita sebagai pendidik, untuk bekerja menuju masa depan Amerika”.

Betsy Rogers juga menghimbau murid-muridnya untuk saling membantu. Dikatakannya : “Tidak perduli seperti apapun keadaan hidupmu, kalian tetap dapat memberi”.

Guru-guru seperti Ibu Betsy Rogers ini, menempatkan anak-anak di atas jalan untuk menjadi warga masyarakat yang baik, terlebih lagi menjadi orang tua yang berhasil. Mereka itu menunjukkan kepada para muridnya bahwa di sepanjang jalan itu ada banyak orang-orang yang perduli dan siap untuk membantu. Demikian kata Presiden Bush.

Apa yang dilakukannya sepulang dari Gedung Putih dan tiba di sekolahnya? Ibu guru Rogers menyampaikan pesan-pesannya di forum pertemuan untuk anak-anak TK sampai kelas dua SD. Kemudian dilanjutkan dengan berpidato di depan anak-anak kelas tiga sampai kelas lima SD. Murid-muridnya bangga karena seorang gurunya memperoleh penghargaan tertinggi dari Presidennya. Ibu Rogers pun bangga dapat berbagi cerita dan pengalaman di depan murid-muridnya.

Kelak ketika Ibu Rogers mengambil paket MPP, betapa bangganya para murid bersama-sama menyanyikan lagu “Auld Lang Syne”…… old long ago……saat-saat yang (pernah) indah…..

Semoga kisah tentang ibu guru Betsy Rogers ini dapat mengilhami kita semua (sebagai bagian kecil dari bangsa besar yang lagi terpurukruk-ruk-ruk-ruk ini) untuk berbuat sesuatu……..

Tembagapura, 18 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Mengawali Hari Di Guam

12 November 2008

Pernah dengar kata Guam? Guam adalah nama sebuah tempat, atau tepatnya nama sebuah daratan yang terletak di sisi agak ke barat Samudra Pasifik, yang membatasinya dengan Laut Philipina, atau kira-kira 2,500 km di sebelah utara daratan Papua (Irianjaya). Saya sempat transit di wilayah ini dalam perjalanan dari Honolulu menuju Denpasar.

Guam adalah bagian dari wilayah teritorial Amerika Serikat (barangkali semacam commonwealth untuk Inggris). Daerah ini mempunyai sistem pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh seorang Governor yang saat ini dijabat oleh Carl T.L. Gutierrez, seorang putra daerah Guam asli. Sebagai salah satu dari 13 wilayah teritorial-nya Amerika, Guam bukan merupakan negara bagian Amerika, dan hubungannya dengan pemerintah Amerika adalah sebatas pada bantuan ekonomi dan militer. Menariknya, penduduk Guam ternyata tercatat berkewarganegaraan Amerika dan memperoleh fasilitas sebagaimana warga negara Amerika.

Bulan Juli nanti masyarakat setempat akan melakukan pemungutan suara untuk memilih akan tetap menjadi bagian dari wilayah territorial Amerika atau berdiri sendiri. Pengalaman Puerto Rico barangkali bisa menjadi cermin. Puerto Rico adalah wilayah territorial Amerika terbesar, berada di Laut Karibia. Tiga kali wilayah ini pernah melakukan pemungutan suara untuk menjadi negara bagian (state) Amerika ke-51, dan ternyata penduduknya lebih memilih tetap berstatus “persekemakmuran”, di antaranya karena dengan status ini mereka tidak harus membayar pajak pendapatan Federal.

Luas daratan Guam yang merupakan daratan vulkanik ini hanya sekitar 550 km2, membentang sepanjang kira-kira 48 km timur laut –  barat daya. Tempat ini terkenal sebagai tujuan wisata pantai, karena memang itulah pesona wisata andalannya sebagaimana umumnya banyak daerah kepulauan yang banyak membentang di Samudra Pasifik, tentunya selain dari kehidupan tradisional penduduk aslinya. Saking sedemikian dibanggakannya pesona wisata pantai di Guam, hingga bendera lambang pemerintahannya pun bergambar nyiur melambai dan perahu layar di atas dasar warna biru bergaris kotak merah. Agaknya yang membedakan antara Indonesia dengan Guam, meskipun sama-sama bangga dengan nyiur melambainya, adalah bahwa di Guam tidak ada lagu “Rayuan Pulau Kelapa”.

Guam kini telah menjadi salah satu pilihan bagi kebanyakan wisatawan dari Jepang. Terbukti dari banyaknya jalur penerbangan langsung yang menghubungkan Guam dengan paling tidak ada delapan kota di Jepang, sementara dengan Philipina diwakili kota Manila, Taipei di Taiwan dan dengan Indonesia diwakili Denpasar. Barangkali karena itu maka bahasa Jepang menjadi bahasa kedua setelah Inggris, yang dipergunakan untuk ber-halo-halo di pesawat dari dan ke Guam. Selama beberapa dekade, Guam sangat dipengaruhi oleh kultur masyarakat Jepang, dampak dari para turis Jepang yang mencari pantai tropis terdekat, yang di situ ternyata mereka bias mendapatkan tas-tas produk Chanel yang bebas pajak. Akibatnya secara perlahan masyarakat Guam menerima bahasa, makanan, pakaian dan agama pendatang Jepang.

Daratan Guam yang ibukotanya bernama Hagatna (Agana) dan tidak lebih luas dari wilayah Jakarta itu ternyata tidak padat penduduknya, hanya ditunggui sekitar 153,000 orang yang menggunakan bahasa Inggris dan Chamorro sebagai bahasa resmi, selain juga bahasa Jepang. Bahasa Chamorro ini dalam perkembangannya sebagai salah satu bahasa di wilayah Mikronesia ternyata kalau ditilik-tilik mengandung unsur bahasa Malaysia, Indonesia dan Philipina. Dan kini ternyata masyarakat setempat merasa “kehilangan” dengan budaya asli Chamorro, sebagai dampak dari masuknya budaya barat dan juga terutama dari budaya Jepang. Meskipun penduduknya sedikit, sepengetahuan saya Guam ini tidak pernah absen ikut pentas kejuaraan Ratu Ayu se-Jagat, meskipun jarang masuk final. (Barangkali karena kaum perempuannya sudah terlatih berbikini di pantai. Bedanya kalau di Indonesia yang diperlukan adalah yang sudah terlatih nekad, bukan naked).

Tempat ini dulunya, pada jaman Perang Dunia II, merupakan salah satu pangkalan militer Amerika. Karena itu tidak mengherankan kalau di daratan yang tidak terlalu luas ini banyak dijumpai bekas-bekas peninggalan perang.

Sebagai bagian dari wilayah teritorial Amerika, Guam adalah wilayah teritorial yang terletak di ujung paling barat dari wilayah Amerika lainnya. Letaknya yang berada di sebelah barat garis batas penanggalan internasional, menjadikan kalau kita berada di Guam ini satu hari lebih awal dibandingkan dengan wilayah Amerika lainnya.

Hari Senin jam 15.30 sore saya berangkat dari Honolulu, tiba di Guam jam 19:00 malam tapi ternyata sudah hari Selasa, padahal perjalanan ditempuh sekitar 7,5 jam. Pantesan masyarakat Guam sangat bangga dengan slogannya : “Where Amerika’s Day Begins”, lha wong di belahan Amerika lainnya masih Senin, di Guam sudah Selasa.

Tembagapura, 16 Maret 2000
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (6)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 23:45 CST (8 Nopember 2000 – 12:45 WIB)

Hingga menjelang tengah malam ini, ternyata persaingan semakin ketat. Kini George Bush masih unggul sangat tipis terhadap Al Gore dengan perbandingan perolehan suara 246 – 242, masing-masing dari 29 dan 18 negara bagian.

Masih ada empat negara bagian yang belum menyelesaikan hasil perhitungan akhir pemilu, diantaranya dua negara bagian yang akan mengkontribusi cukup besar jatah suaranya, yaitu Florida dan Wisconsin yang masing-masing mempunyai jatah suara 25 dan 11. Sedangkan dua negara bagian lainnya, Iowa dan Oregon, masing-masing menyisakan 7 suara.

Melihat perkembangan pergerakan angka perolehan suara ini terasa semakin mengasyikkan dan mendebarkan. Padahal saya tidak punya kepentingan apapun, tapi kok menarik. Seperti dilansir beberapa media, bahwa persaingan menuju kursi kepresidenan tahun ini adalah yang paling ketat sejak 40 tahun terakhir. Ternyata hingga diselesaikannya perhitungan di 47 negara bagian, masih belum tampak tanda-tanda siapa yang bakal mencapai garis finish pertama kali dengan meraih 270 suara, untuk muncul sebagai pemenangnya. Peluang keduanya untuk menang di sisa negara bagian yang belum selesai perhitungan suaranya sama besar.

Jika sampai lewat tengah malam nanti masih terjadi persaingan ketat, maka perhitungan suara akan menjadi lebih mendebarkan. Ini antara lain disebabkan karena ternyata di negara bagian Oregon, sistem coblosan-nya tidak dilakukan melalui TPS-TPS secara langsung malainkan dilakukan melalui surat yang harus diposkan pada hari Selasa ini. Lagi-lagi, penerapan aturan yang berbeda-beda untuk urusan yang bersifat nasional ini membuat saya heran.

Sebagai akibat dari sistem pemungutan suara lewat pos ini tentu saja hasilnya belum akan diketahui hingga tengah malam nanti, bahkan mungkin baru akan diketahui seluruhnya pada seminggu kedepan. Itu sebabnya jika sampai 50 negara bagian termasuk ibukota Washington DC selesai dengan hasil perhitungannya malam ini dan belum juga ada yang mencapai angka 270, artinya periode deg-degan bagi kedua kandidat akan masih berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Kalau benar demikian kejadiannya, maka barangkali peristiwa semacam ini baru terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Amerika.

Sebagai penonton, saya sendiri sangat menikmati pacuan presiden Amerika ini yang perolehan suaranya saling susul-menyusul silih berganti. Selain melalui saluran internet, saya juga menyaksikannya melalui saluran TV CNN yang ditayangkan sejak sore tadi, lengkap dengan hasil pemilu untuk anggota konggres, senat, gubernur, dsb. beserta komentar-komentarnya. Hingga rela menunda untuk pergi tidur…….-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (16)

2 November 2008

New Orleans, 16 Nopember 2000 – 22:15 CST (17 Nopember 2000 – 11:15 WIB)

Proses pemilihan presiden di Florida hari ini masih juga diwarnai dengan urusan pengadilan. Malahan Pengadilan Tinggi Florida hari ini memutuskan untuk melanjutkan penghitungan ulang secara manual di beberapa kabupaten. Menurut perkiraan sementara pihak, minimal enam hari diperlukan untuk menyelesaikannya.

Padahal tadi malam ketua panitia pemilu Florida, Katherine Harris, sudah memutuskan untuk tidak akan lagi menerima hasil penghitungan susulan, sehingga dengan demikian tinggal menunggu penghitungan kartu suara dari luar negeri hingga Jum’at tengah malam. Setelah itu akan diketahui jumlah hasil akhirnya dan lalu diputuskan siapa pemenangnya.

Kalau demikian, lalu bagaimana status suara hasil penghitungan ulang yang sedang dilakukan yang pasti tidak akan selesai hingga besok malam? Apakah tetap akan ditolak untuk disahkan oleh panitia pemilu Florida? Inilah yang besok masih ditunggu keputusannya. Selain itu, juga masih ada beberapa hal lain yang juga masih dalam proses pengadilan.

Jika panitia pemilu Frorida tetap pada keputusannya untuk tidak lagi menerima perubahan angka hasil perhitungan ulang yang besok akan dilanjutkan, maka itu berarti mereka tinggal menunggu suara dari luar negeri yang akan ditunggu hingga besok malam. Setelah itu apapun hasilnya, sekitar hari Sabtu siang (Sabtu malam WIB) panitia akan mengesahkannya dan mengumumkan siapa yang berhak mengantongi 25 jatah suara (electoral vote) Florida. Dengan kata lain, siapa presiden Amerika terpilih sudah dapat diketahui.

Akan tetapi, jika panitia pemilu ternyata mengeluarkan keputusan baru untuk mengikuti apa yang telah diputuskan oleh Pengadilan Tinggi, yaitu menyetujui dilanjutkannya penghitungan ulang secara manual di beberapa kabupaten, maka jelas prosesnya menjadi lebih panjang. Paling tidak, akan diperlukan perpanjangan waktu hingga akhir pekan depan.

***

Semua orang berkomentar bahwa pemilu kali ini memang pemilu paling tidak mulus sepanjang sejarah Amerika. Pemilu paling rumit dan melelahkan. Masing-masing pihak saling berteriak, saling melontarkan komentar-komentar tajam dan pedas, saling mencari kebenaran dari setiap langkah yang ditempuhnya. Namun inilah yang mengesankan bagi saya, dan ternyata memang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Amerika, yaitu bahwa masing-masing pihak tetap mengikuti dan menghargai jalur hukum dan aturan yang berlaku.

Betapapun keputusan yang timbul akan “merugikan” atau “menyakitkan” salah satu pihak, namun hukum dan keputusannya tetap dijunjung tinggi. Tidak ada ancan-mengancam, tidak ada culik-menculik, tidak ada teror-menteror, tidak ada bom-mengebom, tidak ada cakar-mencakar, tidak ada jegal-menjegal dan tidak ada gembos-menggembosi. Setiap keputusan hukum akan dijunjung tinggi dan dapat diterima dengan rasa legawa (lapang dada), meskipun sebenarnya menyakitkan atau merugikan.

Saya berkhayal, seandainya yang demikian ini dapat ditiru oleh 200 juta tetangga saya, rasanya tidak perlu pusing-pusing lagi mempersoalkan apakah sebaiknya menerapkan pemilu sistem langsung, atau sistem tidak langsung, atau sistem setengah langsung. Jika aturan sudah dibuat dan disepakati, lalu setiap pihak ikhlas menjalankannya dengan konsekuen, maka apapun sistemnya rasanya akan baik saja. Kalau kemudian kok dianggap masih tidak baik, ya mari sama-sama mengubah aturannya, lalu setelah itu sama-sama mentaatinya dengan konsekuen. Yang menjadi persoalan ‘kan setelah sama-sama membuat aturan, ternyata pelaksanaannya sak geleme dhewe (semaunya sendiri), kalau tidak sesuai dengan keinginannya lalu ngamuk.

***

Bagaimana masyarakat Floridian (sebutan untuk orang Florida) mengekspresikan kemelut pemilu yang sedang terjadi di daerahnya? Tentu ada yang kesal, cuek, geram, heran, cengengesan, tapi ada juga yang kreatif. Inilah salah satu kreatifitas gaya “srimulat” masyarakat Floridian :

Di Amerika, setiap kita akan masuk ke sebuah kota, maka biasanya di batas kota akan terpasang sebuah papan nama yang memuat dua baris tulisan : di bagian atas tertulis nama kota , lalu dibawahnya jumlah populasinya (sekian puluh, sekian ratus, atau sekian ribu jiwa). Kini di salah satu wilayah Florida dijumpai sebuah papan nama berukuran cukup besar. Di bagian atas tertulis dengan tulisan yang rapi : “Welcome to Florida”. Lalu di bawahnya tertulis jumlah populasinya, yang ternyata ada dua macam : pertama tertulis sekian juta “by machine”, dan kedua tertulis sekian juta “by hand”.

Lalu mana yang dipakai? Pengadilanlah yang akan menentukan. Itupun kalau tidak dihitung ulang ……………-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (18)

2 November 2008

New Orleans, 20 Nopember 2000 – 21:00 CST (21 Nopember 2000 – 10:00 WIB)

Kemelut di depan gawang Gedung Putih masih juga belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Berbagai proses peradilan pemilu baik di tingkat kabupaten maupun negara bagian Florida masih terus berlanjut. Saking banyaknya peristiwa peradilan, membuat saya sendiri bingung untuk memahami proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini. Untuk itu berikut ini akan saya coba ketengahkan gambaran besarnya saja.

Sidang Mahkamah Agung negara bagian Florida tadi sore mendengarkan argumen dari kedua belah pihak tentang sah tidaknya hasil penghitungan ulang di tiga kabupaten untuk ditambahkan ke dalam hasil penghitungan akhir sementara yang sudah disetujui oleh panitia pemilu Florida. Hingga saat ini masih belum ada keputusan peradilan, bahkan belum ada kejelasan kapan akan diputuskan. Jadi, ya masih menunggu.

Padahal Gore banyak berharap agar hasil penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara itu dapat disahkan untuk ditambahkan ke dalam hasil akhir sementara. Pasalnya ketiga kabupaten, yaitu Broward, Miami-Dade dan Palm Beach adalah termasuk wilayah basis pendukung Partai Demokrat. Beberapa TPS yang telah selesai menghitung memang mengindikasikan akan adanya penambahan suara bagi Gore, meskipun angka tersebut belum dilansir keluar.

Sementara proses peradilan masih berlanjut, sementara itu pula acara penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang jumlahnya ratusan ribu di tiga kabupaten juga masih terus dilanjutkan. Entah kapan selesainya, padahal di minggu ini akan ada dua hari libur nasional Thanksgiving Day, yaitu Kamis dan Jum’at.

Sementara itu lagi, tuntutan dari para pemilih di wilayah kabupaten Palm Beach untuk meminta pemilu ulang ternyata ditolak. Kini para pemilih tersebut sedang mengajukan banding atas keputusan penolakan dari peradilan State Circuit Court. Jadi, ya masih menunggu lagi kapan akan diputuskan.

Di lain pihak, adanya sekitar 40% suara (lebih 1.500 suara) dari absentee ballot yang kebanyakan berasal dari para anggota militer dan keluarganya yang sedang bertugas di luar negeri yang telah dinyatakan ditolak karena tidak sah, kini sedang diperjuangkan untuk ditinjau kembali. Para militer itu merasa haknya untuk memilih tidak dihargai, padahal kesalahan itu bukan semata-mata karena keteledorannya.

Bush sangat berharap atas suara luar negeri ini yang diyakini banyak berasal dari para pendukungnya. Sebagaimana telah terbukti dari suara luar negeri yang sudah sah dihitung, Bush mengumpulkan jumlah dua kali lebih banyak dibanding yang dikumpulkan Gore. Apakah suara dari luar negeri ini akan disetujui untuk dipertimbangkan kembali kesahannya. Hingga kini belum ada kepastian. Jadi, ya masih menunggu lagi apakah akan ada perubahan pengumpulan suara.

Ketiga persoalan di atas, dari sekian banyak persoalan yang masih dalam proses peradilan, kiranya cukup memberi gambaran bagi saya (dan kita), bahwa kesimpulan paling gampang adalah proses pemilu masih belum selesai dan tidak tahu kapan akan selesai. Dengan kata lain, presiden baru Amerika belum akan diketahui dalam waktu dekat ini dan penantian Amerika untuk memiliki presiden baru masih akan panjang.

Hingga hari ketigabelas setelah pemilu dilangsungkan tanggal 7 Nopember yll, kedudukan sementara pengumpulan jatah suara (electoral vote) masih tetap 255 untuk Gore dan Bush 246 untuk Bush. Kunci kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang menang di Florida yang berhak memperoleh tambahan 25 jatah suara guna mencapai angka kemenangan 270.

Sedangkan kedudukan sementara pengumpulan kartu suara (popular vote) di Florida saat ini Bush masih unggul atas Gore dengan 930 suara. Bush sedang berusaha keras agar dapat memperbesar angka kemenangannya, sedangkan Gore sedang berusaha keras untuk memperkecil selisih kekalahannya untuk selanjutnya mengungguli Bush sekalipun hanya dengan sedikit suara saja. Untuk itulah berbagai trik dan cara ditempuh oleh kedua belah pihak melalui mekanisme hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi, ya masih menunggu lagi. Entah sampai kapan proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini akan berakhir.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (23)

2 November 2008

New Orleans, 27 Nopember 2000 – 22:00 CST (28 Nopember 2000 – 11:00 WIB)

Dua jam yang lalu, sekitar jam 8:00 Senin malam ini. (Selasa pagi, 9:00 WIB), Al Gore tampil di depan publik dan menyampaikan pidatonya. Dia tetap akan melanjutkan upayanya untuk menentang pengesahan suara Florida kemarin malam. Dikatakannya bahwa warga Amerika adalah sama kedudukannya pada Hari Pemilu hanya jika semua kartu suaranya dihitung. Pernyataan ini merujuk kepada adanya kartu-kartu suara yang tidak dihitung yang jumlahnya lebih dari 10.000 suara, sebagai akibat dari tidak terdeteksinya hasil coblosan oleh mesin penghitung.

Gore juga merujuk kepada adanya penghitungan ulang dengan tangan atas kartu suara di beberapa kabupaten yang tidak berhasil diselesaikan hingga tenggat hari Minggu sore jam 5:00 yll. Padahal Sekwilda Florida sudah akan segera mengesahkan hasilnya sesuai dengan keputusan Mahkamah Agung Florida yang hanya memberi batas akhir penghitungan ulang hingga Minggu sore itu.

Itulah yang kini sedang diperjuangkan pihak Gore yang menginginkan agar semua hasil penghitungan ulang dapat diakui hasilnya dan semua suara yang belum dihitung dengan mesin dapat dilakukan penghitungan ulang. Apapun hasilnya.

Gore mengingatkan bahwa mengabaikan suara sama artinya dengan mengabaikan demokrasi itu sendiri. Dengan gaya retoriknya Gore mengatakan : “Dan jika kita mengabaikan ribuan suara di Florida dalam pemilu ini, bagaimana Anda atau siapapun warga Amerika mempunyai keyakinan bahwa suara Anda tidak akan juga diabaikan di pemilu mendatang?”.

Sementara pihak Bush tetap berkeyakinan akan kemenangannya sesuai dengan hasil akhir yang disahkan oleh panitia pemilu Florida kemarin malam. Bush pun sudah siap-siap membuka kantor di Gedung Putih dalam rangka masa transisi jabatan kepresidenannya.

Proses peradilan masih akan berlanjut dalam minggu ini dan hari-hari selanjutnya, di berbagai macam jenis peradilan dan tingkatan peradilan, yang menjadi tidak mudah dipahami oleh masyarakat awam. Rupanya tidak hanya saya yang bingung, penyiar CNN pun juga kebingungan memahami buuuanyaknya proses peradilan ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (24)

2 November 2008

New Orleans, 28 Nopember 2000 – 21:15 CST (29 Nopember 2000 – 10:15 WIB)

Hari ini tidak ada breaking news, kecuali kedua kubu saling melempar pernyataan. Sudah lebih 20 hari sejak hari pemilu, kontroversi tentang presiden Amerika masih belum juga tuntas…tas…tas…tas… Meskipun hasil akhir suara Florida sudah disahkan Minggu malam yll.

Bush sedang “kebelet”, tidak sabar lagi ingin boyongan ke Gedung Putih menggantikan Bill Clinton pada 20 Januari 2001 nanti. Gore sedang “gerah”, memperjuangkan adanya banyak suara dari pendukungnya di beberapa kabupaten yang ternyata tidak diakui oleh panitia pemilu Florida saat pengesahan dan juga adanya banyak kartu suara yang tidak terbaca oleh mesin penghitung. Proses peradilan atas tuntutan pihak Gore ini masih berlanjut ke tingkat selanjutnya dan masih akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang

Melihat hasil keputusan pengesahan suara di Florida pada Minggu malam lalu, yang menghasilkan angka kemenangan bagi George Bush, seorang rekan di Indonesia (Mas Henry Lumbantoruan) bertanya : “ada banyak massa nggak yang ke gedung DPR-nya Amrik untuk protes hasil sementara Pemilu itu?”

Ternyata tidak ada massa yang ramai-ramai datang ke gedung DPR untuk protes hasil pemilu, yang ada justru protes dari Al Gore, Joe Lieberman dan kubunya. Itu juga cukup dilakukan dari rumah, tidak perlu memprovokasi teman-temannya lalu ngelabrak di jalanan.

Beberapa hari terakhir menjelang pengesahan suara Florida memang banyak massa berunjuk rasa (bukan protes, melainkan memang sedang mengunjukkan perasaannya), antara lain di sekitar kantor pemilu di Tallahassee (Florida). Pendukung Bush bergerombol membawa poster dan meneriakkan yell-yell, di sebelah lain pendukung Gore juga melakukan hal yang sama. Kedua pihak dipisah oleh polisi, dibatasi dengan police line. Tidak ada PAM-Swakarsa.

Di kediaman George Bush di Austin (Texas), massa berunjuk rasa mendukung Bush sambil membawa poster, berjalan keliling halaman, meneriakkan yell-yell. Kalau ada mobil lewat yang juga pendukung Bush, mobil lalu berjalan perlahan sambil membunyikan klakson tanda mendukung. Ternyata di situ juga ada sekelompok kecil pendukung Gore, yang juga membawa poster. Mereka baik-baik saja, saling cengengesan. Mengekspresikan sikapnya masing-masing, tanpa perlu gelut atau tawuran.

Di kediaman Al Gore di Washington DC, massa berunjuk rasa mendukung Gore juga sambil membawa poster. Ketika diumumkan bahwa Bush yang unggul di Florida, massa pendukung Gore lalu meletakkan posternya dan balik kanan. Padahal sebelumnya saya “mengharapkan” mereka akan membakar ban, merusak mobil, melempari gedung atau menjarah toko. Ternyata “harapan” saya tidak cocok untuk saya gunakan di Amerika. Lha, ternyata kok mereka lebih sareh (mampu mengendalikan emosi) daripada saya.

Saya kira, inilah salah satu buah dari hasil pembangunan masyarakat (dan demokrasi) yang sudah mapan. Karena pihak manapun yang jadi Presiden, tidak akan berdampak besar terhadap sistem kehidupan masyarakatnya. Hanya soal beda figur saja dan skala prioritas pembangunannya. Selebihnya, kehidupan akan berjalan normal kembali.

Tidak ada trauma historis yang hanya menyebabkan ketidakpercayaan dan kecurigaan. Sebab kalau itu yang terjadi, maka bersiap-siaplah untuk mengatasi setiap kemelut dengan kemelut baru. Kalau ternyata hasilnya tidak memuaskan, lalu diberikanlah terapi dengan kemelut baru lagi, yang biasanya juga menghasilkan kemelut lagi. Demikian seterusnya, dan itu yang terjadi dalam kurun 4 tahun terakhir sejarah reformasi bangsa kita.

Pihak yang kalah dalam pemilu Amerika akan kecewa? Pasti. Tidak puas? Jelas. Lalu, berbagai cara legal pun akan ditempuh oleh kedua belah pihak guna melampiaskan kekecewaan dan ketidakpuasannya. Setelah itu? Semua pihak akan menghargai apapun keputusan akhirnya. Kemungkinan akan adanya ketidakpuasan yang berlebihan dan tak terkendali oleh individu, dapat saja terjadi. Insiden-insiden kecil tentu tak terhindarkan. Tetapi ketidakpuasan kolektif yang memicu kerusuhan dan teror, kelihatannya kok tidak terjadi dan itulah yang saya lihat sejauh ini.

Peristiwa pemilihan presiden Amerika tahun ini memang akan menjadi cacatan terburuk dalam sejarah demokrasi Amerika. Namun saya melihat, ini juga akan menjadi catatan sejarah bahwa betapapun rumit dan tegangnya proses pemilu kali ini, diperkirakan akan dapat diselesaikan dengan tetap saling menghormati proses demokrasi, sekalipun berlarut-larut. Hal yang terakhir ini memang menjadi salah satu kebanggaan warga Amerika, setiap kali saya omong-omong dengan rekan Amerika saya.

Kini perkenankan saya bermimpi : Kalau saja……., “semangat tidak gampang ngamuk” yang seperti ini dapat ditiru oleh rekan-rekan muda*) saya di mana saja, dan bukannya malah meniru gaya hidup bebas tak terbatasnya ………- 

Note :
*) Seseorang hingga berumur 40 tahun, menurut KNPI masih disebut pemuda.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (26)

2 November 2008

New Orleans, 30 Nopember 2000 – 22:00 CST (1 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Di Tallahassee, Florida, sekitar 462.000 kartu suara yang dikirim dari Palm Beach menggunakan truk carteran tadi sore sudah tiba. Besok akan menyusul sekitar 654.000 kartu suara lagi dari Miami-Dade. Selanjutnya pada hari Sabtu Mahkamah Agung Florida akan mulai menggelar peradilan untuk memutuskan apakah perlu dilakukan penghitungan atas sejumlah kartu suara yang dinilai pihak Gore sebagai bermasalah.

Di Washington DC, untuk pertama kali dalam 210 tahun sejarah Amerika, Mahkamah Agung Amerika akan menangani kasus pemilihan presiden. Besok Jum’at, pengadilan tingkat tertinggi ini akan menggelar peradilan atas tuntutan George Bush untuk membatalkan keputusan Mahkamah Agung Florida yang beberapa waktu yll. telah mengijinkan penghitungan ulang kartu suara secara manual selewat batas akhir yang ditentukan.

Berbagai proses peradilan masih berlanjut dan pihak Gore tentunya menyadari bahwa kini saatnya harus berkejaran dengan deadline. Pada tanggal 12 Desember nanti setiap negara bagian harus sudah menunjuk wakilnya yang duduk dalam Electoral College untuk memilih Presiden pada tanggal 18 Desember. Secara formal yuridis, 25 pemilih yang duduk dalam Electoral College Florida akan berasal dari Partai Republik dimana Bush telah dinyatakan menang oleh Sekwilda Florida.

Sementara itu, disamping kini Bush sudah mulai mempersiapkan kantor sementara dalam rangka masa transisi atas kemenangannya menjadi presiden Amerika ke-43, Bush juga mulai mempersiapkan personal kabinet dan perangkatnya. Meskipun Bush adalah seorang Republikan, tapi dalam memilih pembantu-pembantunya tidak selalu mesti dari unsur partai yang sama. Seorang anggota DPR Demokrat dari negara bagian Louisiana bahkan sudah dihubungi untuk kemungkinan diminta menjadi sekretaris Departemen Energi dalam kabinet Bush nantinya.

Nampaknya kalau sudah bicara dalam kerangka nasional, maka orang yang tepat di tempat yang tepat untuk diajak bekerja bersama menjadi lebih dipentingkan. Meskipun tentunya tidak dipungkiri bahwa untuk posisi-posisi strategis tentunya Bush akan menempatkan orang-orang yang sekubu dengannya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (28)

2 November 2008

Golden, 4 Desember 2000 – 21:30 MST (5 Desember 2000 – 11:30 WIB)

Perkembangan persidangan pemilu hari ini sampai pada beberapa keputusan. Secara umum keputusan yang keluar sangat tidak menguntungkan pihak Gore, sebagaimana sebenarnya sudah diperkirakan sebelumnya oleh sebagian kalangan. Seorang profesor hukum dari University of Miami mengungkapkannya sebagai “Black Monday for Vice President Gore”.

Melihat hal ini, sementara pihak menilai bahwa perjuangan Gore melalui jalur hukum akan semakin berat. Tapi toh Gore belum mau menyerah. Masih ada upaya-upaya hukum yang akan ditempuh. Kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan perjuangan Gore ini barangkali : selagi masih ada upaya legal yang dapat dilakukan maka sampai titik darah penghabisan pun akan dilakukan.

Di Washington DC, Mahkamah Agung Amerika memutuskan mengembalikan perkara ke Mahkamah Agung Florida untuk mengklarifikasi tentang perpanjangan waktu penghitungan kartu suara yang melebihi tenggat waktu yang telah ditentukan.

Di Tallahassee, hakim Leon County Circuit menolak permintaan Gore untuk penghitungan ulang di dua kabupaten, yaitu Miami-Dade dan Palm Beach. Karena itu Gore akan melanjutkan mengajukan banding ke Mahkamah Agung Florida. Gore dan proses peradilannya tentu akan berlomba dengan waktu. Pasalnya hari Selasa depan, 12 Desember 2000 dijadwalkan sebagai hari memilihan wakil Florida yang akan duduk dalam lembaga Electoral College untuk nantinya secara formal akan memilih presiden. Sementara yang hingga saat ini dinyatakan sebagai pemenang adalah Partai Republik dengan George Bush sebagai kandidatnya.

Yang menarik dari persidangan di pengadilan Leon County Circuit ini adalah bahwa hakimnya, N. Sanders Sauls, adalah seorang Demokrat. Toh, tidak serta-merta lalu memenangkan Gore yang kandidat Partai Demokrat. Sisi-sisi keadilan yang sungguh-sungguh dilandasi atas hukum dan perundang-undangan serta paradigma hukum yang berlaku tetap dicoba ditegakkan.

Dengan bahasa sederhana saya mengatakan : Tidak selalu apa yang dilakukan oleh golkar-nya Amerika akan dibenarkan oleh hakim yang anggota korpri-nya Amerika. Mungkin itu sebabnya lembaga hukum sangat dijunjung tinggi. 

***

(Sayang sekali, saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu, dikarenakan problem laptop saya belum dapat teratasi. Ya sudah, apa boleh buat. Pokoknya saya tetap melanjutkan catatan ini di sela-sela malam Ramadhan di kamar hotel sambil membuka-buka PR dari kursus seharian tadi).

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (32)

2 November 2008

New Orleans, 11 Desember 2000 – 22:00 CST (12 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Hari Minggu sore kemarin, setiba kembali saya di New Orleans setelah menempuh perjalanan udara dari Denver, saya langsung membuka saluran CNN. Ternyata suasana di luar sidang sudah semakin panas. Para pendukung kedua belah pihak saling berkumpul dan mengunjukkan perasaannya, baik di Washington DC maupun di Tallahassee.

Sidang Mahkamah Agung Amerika dimulai tadi pagi sekitar jam 11:00 waktu setempat. Para pengunjung yang ingin hadir di dalam ruangan sidang Mahkamah Agung ini ternyata sudah mulai berkumpul sejak hari Minggu kemarin. Mereka rela mengambil nomor urut kehadiran terlebih dahulu, seperti layaknya pasien dokter yang mengambil nomor urut kehadiran atau pendaftar ujian masuk perguruan tinggi yang ingin sepagi mungkin berada di urutan paling depan.

Apa yang terjadi kemudian? Para pengunjung itu menggelar kantung tidur (sleeping bag) dan membuka tenda di depan halaman gedung Mahkamah Agung yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah arena perkemahan. Padahal suhu udara malam hari sedang sangat dingin. Mereka sudah mengantungi nomor urut agar esoknya pagi-pagi (Senin pagi tadi) dapat masuk ke ruang sidang mengikuti jalannya persidangan.

***

Kedua pengacara dari kedua pihak, Gore maupun Bush, dicecar oleh para hakim untuk saling mempertahankan argumennya atas boleh tidaknya dilakukan penghitungan ulang. Hingga malam ini belum ada tanda-tanda kapan keputusan akan dikeluarkan oleh hakim mahkamah Agung Amerika.

Sementara di luar sidang, para pendukung kedua belah pihak terus saling melancarkan kampanyenya mendukung kandidat masing-masing. Dengan poster dan teriakan-teriakan, dipisahkan oleh petugas polisi, mereka tidak henti-hentinya mengunjukkan perasaannya. Bukan hanya para kaum mudanya, melainkan juga tampak para kakek dan nenek yang peduli dengan peristiwa bersejarah proses pemilihan presiden Amerika yang berkepanjangan kali ini.

Yang menarik, kalau kemudian antara kedua pendukung fanatik itu bertemu. Maka mereka saling “main hakim sendiri” di luar persidangan. Dalam pengertian yang sebenarnya, mereka saling beradu argumen layaknya antara hakim dan pengacara di dalam persidangan. Hanya sebatas itu, tidak terjadi timpuk-menimpuk atau jotos-menjotos. Biasanya baru selesai kalau sudah ada yang memisah.

Lho, kok bisa? Lha ternyata kok mereka malah dapat berkonfrontasi dan “tawuran” dengan lebih manis. Ini yang saya belum tahu jawabannya.   

***

Hingga hari ini, ada yang mengganjal di pikiran saya. Ketika Amerika sedang dilanda krisis atas proses pemilihan presidennya, tidak satu pun negara di dunia yang cawe-cawe (ikut ambil perduli) secara langsung. Berbeda halnya kalau ada krisis yang serupa terjadi di negara lain, lebih-lebih negara dunia ketiga, maka Amerika segera akan blusukan (menerobos kesana-kemari) untuk turut memainkan peranannya.

Sedemikian digdaya-nyakah negeri Amerika ini sehingga tidak ada negara lain yang berani (atau enggan?) turut campur dalam krisis pemilihan presiden yang sedang dihadapinya? Atau, sedemikian rapuh-nyakah negara-negara berkembang sehingga dengan mudah dicampuri urusannya (terang-terangan atau gelap-gelapan, langsung atau tidak langsung, tampak mata atau sembunyi-sembunyi) oleh Amerika jika sedang dilanda krisis yang serupa?

Atau, ganjalan pikiran saya saja yang terlalu su’udhon (berprasangka buruk)? Entahlah……., saya mau tanya dulu pada rumput padang golf yang bergoyang.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (33)

2 November 2008

New Orleans, 12 Desember 2000 – 22:45 CST (13 Desember 2000 – 11:45 WIB)

Baru saja sekitar jam 10:00 PM waktu Amerika Timur (09:00 PM waktu New Orleans), Mahkamah Agung Amerika (US Supreme Court) mengeluarkan keputusan pengadilan yang sangat ditunggu-tunggu sejak seharian tadi. Karena keputusan tersebut akan menentukan siapa bakal presiden Amerika ke-43. Surat keputusan yang dinilai mengandung pernyataan yang cukup rumit tersebut ternyata tidak mudah dan tidak dapat cepat dipahami secara rinci oleh kebanyakan para pengamat.

Intinya adalah bahwa 7 dari 9 hakim di Mahkamah Agung Amerika mnemukan adanya constitutional problems di dalam keputusan Mahkamah Agung Florida sebelumnya yang memerintahkan untuk dilakukannya penghitungan ulang atas kartu suara undervote di Florida. Oleh karena itu Mahkamah Agung Amerika sebagai lembaga peradilan tertinggi mengirimkan balik kasus tersebut kepada Mahkamah Agung Florida.

Sementara diketahui bahwa batas akhir penyelesaian kasus ini adalah tanggal 12 Desember 2000, yang berarti adalah malam ini dan tinggal tersisa 1-2 jam lagi. Tanggal 12 Desember adalah tanggal yang dijadwalkan bagi setiap negara bagian untuk pengangkatan utusan para pemilih yang akan duduk di lembaga Electoral College. Siapa yang diangkat sebagai utusan adalah partai yang menang di negara bagian tersebut.

Oleh karena itu, banyak pihak dapat menyimpulkan bahwa ini adalah kemenangan bagi George Bush. Melalui pengamat kampanyenya, James Baker, pihak Bush dan Cheney menyampaikan rasa puas atas keputusan Mahkamah Agung Amerika dan terima kasih kepada para pengacara serta pendukung setianya.

Banyak kalangan juga menilai, habis sudah upaya hukum yang masih dapat ditempuh oleh pihak Gore dan Lieberman atas kemelut pemilu di Florida. Sementara pihak juga menyarankan agar Al Gore sebaiknya segera menyatakan kekalahannya dalam pemilihan presiden yang berlarut-larut ini, yang berarti mengakui kemenangan George Bush.

Apakah akan demikian? Beberapa menit yang lalu pihak Gore dan Lieberman menyatakan masih sedang mempelajari amar putusan Mahkamah Agung Amerika yang dipandangnya sangat panjang dan kompleks sehingga perlu waktu untuk mempelajarinya lembar demi lembar. Reaksi apakah yang akan dikemukakan oleh pihak Gore dan Lieberman ini baru akan disampaikan besok (Rabu) pagi.

***

Itulah breaking news yang malam ini sedang dibahas hangat oleh para pengamat di berbagai saluran televisi. Sedangkan berbagai proses peradilan lainnya baik di tingkat lokal maupun negara bagian masih terus berlanjut, akan tetapi kurang berbobot politis dalam menentukan kemenangan kedua kandidat.

Agaknya hari-hari ini adalah hari-hari tanpa jam kerja bagi sebagian kantor pengadilan dan Mahkamah Agung, karena semua proses hukum yang sedang diupayakan oleh kedua belah pihak Gore maupun Bush berlangsung secara siang-malam. Seperti halnya malam ini, hasil persidangan yang beberapa menit sebelumnya oleh berbagai stasiun televisi dinyatakan tidak tahu kapan akan diputuskan, tahu-tahu keluar menjelang tengah malam.

Untuk sementara, kebanyakan para pengamat menganggap inilah saatnya penentuan kemenangan pemilihan presiden. Dan George Bush adalah pemenangnya. Namun, pernyataan pihak Gore bahwa baru besok pagi akan menyampaikan reaksinya atas putusan Mahkamah Agung Amerika, tentu saja membuat semua kalangan penasaran. Apa yang akan dilakukan Gore? Celah hukum apalagi yang masih dapat diupayakan? Atau, akankah Gore menyampaikan pernyataan kekalahannya? Kita tunggu besok pagi. 

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (34)

2 November 2008

New Orleans, 13 Desember 2000 – 22:00 CST (14 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Terjawablah sudah kini siapa yang menjadi pemenang pemilu di Florida, setelah Al Gore di depan publik Amerika menyampaikan pidato kekalahannya pada jam 9:00 malam waktu Amerika Timur yang baru lalu (Kamis pagi jam 9:00 WIB). Pidato Al Gore itu disampaikannya di gedung Eisenhower Executive Office, yang terletak di sebelah Gedung Putih, Washington DC, dengan dihadiri oleh istrinya serta pasangannya Joe Lieberman yang juga bersama istrinya.

Mengawali pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia baru saja menilpun George Bush guna menyampaikan menerima kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung Amerika kemarin malam, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan menerimanya.

Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh sebuah ajakan yang sangat simpatik kalau melihat betapa selama 36 hari terakhir sejak hari pemilu tanggal 7 Nopember yll. kedua belah pihak saling bersaing dengan tajam guna memenangi pengumpulan suara di Florida.

Saat keluar dari gedung Eisenhower dimana Gore menyampaikan pidato kekalahannya, di luar gedung di bawah gerimis, puluhan pendukung Gore masih dengan setia mengelu-elukannya dan memberikan tepuk tangan penghormatan atas Al Gore sambil meneriakkan kata-kata ritmis : “Gore in four, Gore in four”. Tentu yang dimaksud adalah agar Gore berjuang lagi untuk menuju ke Gedung Putih pada tahun 2004 nanti dan mereka akan mendukungnya.

Sejam kemudian, Gubernur Texas George W. Bush juga menyampaikan pidatonya di ruang sidang DPR Texas, yang berada di gedung US Capitol di kota Austin. Sebelum Bush menyampaikan pidato penerimaan kemenangannya, terlebih dahulu dia diperkenalkan kepada segenap hadirin oleh juru bicara DPR yang adalah seorang senior Partai Demokrat, lawan dari partainya Bush, Partai Republik.

Di bagian awal pidatonya, Bush juga mengatakan bahwa ia telah menerima tilpun dari Wakil Presiden Al Gore. Bush sangat berterima kasih atas ucapan selamat dari Gore, karena Bush menyadari bahwa hal itu sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh Gore pada saat seperti ini.

Bush menegaskan komitmennya untuk memajukan Amerika bersama-sama. Bukan untuk kepentingan Partai Republik atau Demokrat, melainkan untuk kepentingan segenap warga Amerika termasuk mereka yang tidak memilihnya.

***

Perjuangan panjang dan melelahkan, malahan membosankan bagi sementara kalangan awam, telah dilakukan pihak Gore sejak 36 hari yll. dengan isu utama dilakukannya penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang dinilai bermasalah. Dengan sendirinya pihak Bush juga mesti melawannya dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya. Maka yang terjadi lebih sebulan ini adalah saling adu argumentasi di berbagai forum pengadilan mulai dari tingkat paling rendah di kabupaten-kabupaten bermasalah hingga tingkat paling tinggi di kota Washington DC.

Kini semua telah selesai. Pagi tadi Gore telah melakukan konferensi jarak jauh dengan segenap tim hukumnya di Florida. Gore menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kepada sekitar 30 pengacara dan staff kampanyenya di Tallahassee yang telah bekerja keras sejak hari pemilu yll.

Setelah keluar keputusan Mahkamah Agung Amerika tadi malam, maka kubu Gore sudah merasa tidak ada lagi jalur upaya hukum yang dapat dilakukan guna memperjuangkan kemenangannya di Florida. Maka 25 jatah suara (electoral vote) Florida jatuh ke tangan George Bush. Dengan demikian, secara nasional Bush berhasil mengumpulkan 271 jatah suara, sedangkan Gore mengumpulkan 267 jatah suara. Menciptakan margin kemenangan yang sangat tipis yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilihan presiden Amerika sebelumnya. Meskipun dari jumlah pengumpulan kartu suara (popular vote) secara nasional Gore lebih unggul dibandingkan Bush.

Usai sudah proses panjang pemilihan presiden Amerika. Tinggal kini dilanjutkan dengan tahap formal selanjutnya hingga pelantikan presiden tanggal 20 Januari 2001 saat secara resmi George Bush melengser Bill Clinton menduduki Gedung Putih.

Selamat untuk George W. Bush menjadi presiden terpilih Amerika ke-43. Saya yakin kali ini saluran-saluran televisi pasti tidak akan salah lagi mengekspose presiden baru Amerika sebagaimana yang terjadi pada tanggal 7 Nopember tengah malam bulan lalu. Presiden Indonesia Gus Durrahman juga pasti sudah siap dengan kawat ucapan selamatnya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (35 – Selesai)

2 November 2008

New Orleans, 14 Desember 2000 – 22:30 CST (15 Desember 2000 – 11:30 WIB)

Setelah 35 kali saya menuliskan pertanyaan sebagai judul catatan ini, kini sudah terjawab yaitu bahwa akhirnya Gubernur Texas, George W. Bush, terpilih sebagai Presiden Amerika ke-43, setelah mengalahkan Wakil Presiden Al Gore melalui pertarungan sengit selama 36 hari.

Kedudukan akhir pengumpulan kartu suara secara nasional (popular vote) adalah : Gore mengumpulkan 50.158.094 suara (48%) dan Bush mengumpulkan 49.820.518 suara (48%), dengan sisanya diraih partai gurem penggembira pemilu lainnya. Meskipun Gore menang di popular vote, tetapi Gore hanya berhasil mengumpulkan 267 jatah suara (electoral vote) dari 21 negara bagian termasuk ibukota Washington DC, sedangkan Bush mengumpulkan 271 jatah suara dari 30 negara bagian. Karena pemilihan presiden didasarkan pada jumlah jatah suara yang berhasil dikumpulkan dari negara-negara bagian, maka Bush yang akhirnya berhak menjadi pemenangnya.

Banyak pelajaran akan dipetik oleh berbagai elit politik Amerika dari proses panjang pemilihan presiden yang akan menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemilu di Amerika. Berbagai kalangan kini mulai mengamat-amati perangkat peraturan dan perundang-undangan pemilu di wilayah negara bagian masing-masing, guna mengantisipasi jika seandainya kasus yang serupa akan kembali terjadi di masa-masa mendatang.

Sebagai catatan akhir, saya ingin menggaris-bawahi hal-hal sbb. :

Pertama :

Melihat proses pemilu yang tidak mulus kali ini, sebagian orang di belahan dunia lain mengkhawatirkan akan terjadinya krisis politik di Amerika. Bahkan sebagian lain mencemooh bahwa demokrasi Amerika yang dibangga-banggakan itu ternyata tidak berjalan. Saya justru berpendapat sebaliknya, inilah saatnya demokrasi Amerika sedang diuji. Bagaimana Amerika akan keluar dari kemelut berkepanjangan itu. Akhirnya memang terbukti bahwa Amerika dapat keluar dari kemelut pemilihan presiden dengan cara yang demokratis. Tanpa terjadi chaos, tanpa terjadi kekerasan, tanpa terjadi krisis politik.

Lha, kok justru di Amerika saya melihat pangejawantahan (manifestasi) dari semboyan para leluhur Jawa : kalah tanpa wirang, menang tanpa ngasorake (mudah-mudahan saya tidak salah mengkutip pemeo ini), yang artinya kalah tanpa kehilangan kehormatan dan menang tanpa merendahkan lawannya.

Setelah berbagai cara legal ditempuh oleh Al Gore, dan akhirnya tidak juga berhasil dan tidak ada cara “halal” lagi yang dapat ditempuh, maka dengan kesatria Al Gore mengakui kekalahannya dan siap bersama-sama pendukungnya berdiri di belakang George Bush, demi Amerika. Betatapun keputusan pengadilan sangat membuat Gore kecewa, namun toh Gore tetap menghormati keputusan itu dan menerimanya. Bush pun memuji Al Gore dan siap melayani semua warga Amerika baik yang memilih maupun tidak memilih Bush, menuju cita-cita bersama.

Saya sendiri sempat merasa miris, membayangkan seandainya peristiwa serupa terjadi di Indonesia misalnya, bencana apa lagi yang akan terjadi. Merinding rasanya membayangkan di Indonesia akan terjadi chaos, kekerasan di mana-mana, dan bukan tidak mungkin terjadi pertumpahan darah yang sia-sia.

Kedua :

Meskipun Gore unggul dalam pengumpulan suara secara nasional (popular vote), namun karena kemenangan ditentukan oleh pengumpulan jatah suara (electoral vote) dari setiap negara bagian, maka akhirnya Bush yang dinyatakan menang. Kenyataan ini sebenarnya mirip dengan sistem perwakilan dalam lembaga politik kita, dimana jumlah anggota DPR/MPR ditentukan secara proporsional oleh banyaknya partai yang menang di tiap-tiap propinsi.

Sebagai ilustrasi, tentunya kita masih ingat dengan hasil pemilu di Indonesia tahun lalu, dimana secara nasional PKB mengumpulkan jumlah suara lebih banyak dibandingkan Golkar (identik dengan popular vote). Akan tetapi kenyataannya jumlah anggota perwakilan Golkar di DPR/MPR lebih banyak daripada perwakilan PKB (identik dengan electoral vote). Maka seandainya di Indonesia ini hanya ada dua partai saja dan masing-masing mengajukan kandidat presidennya, sudah barang tentu kandidat Golkar yang akan menang karena mempunyai perwakilan pemilih yang lebih banyak.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada yang aneh dengan sistem pemilu dalam institusi politik kita. Kalaupun ada yang aneh jika dibandingkan dengan sistem pemilu di Amerika adalah bahwa di Amerika sejak tahap awal rakyat sudah melihat “kucing” yang mau dibeli, sedangkan bagi kita “kucing” itu masih dalam karung. Jika akhirnya “kucing”-nya diganti-ganti atau justru “kucing liar” (entah keluar dari karung atau sarungnya siapa), maka tidak ada yang boleh protes.

Keanehan yang kedua adalah adanya anggota perwakilan di DPR/MPR yang diangkat. Apapun alasannya, pasti tidak akan terhindarkan bahwa mereka yang diangkat akan berasal dari pihak yang sedang berkuasa. Maka tidak heran ketika mantan Presiden Soeharto keukeuh (berkeras) ketika menyampaikan sambutan tanpa teks di depan Rapim ABRI tahun 1980 di Pakanbaru, bahwa adanya sepertiga anggota DPR/MPR yang diangkat adalah demi mengamankan UUD 1945.

Belakangan saya baru sempat berprasangka buruk, jangan-jangan bukan UUD 1945-nya yang diamankan melainkan pelaksananya. Mudah-mudahan prasangka buruk saya keliru, dan kalaupun benar, ya sudah terlambat 20 tahun. Barangkali karena waktu itu saya adalah satu dari 180 juta orang yang menderita “sakit gigi”.   

***

Akhirnya saya berharap, semoga tim pemantau pemilu dari Indonesia yang (menurut Kepala Konsul Jendral RI di Houston) juga berangkat ke Amerika, dapat kembali ke tanah air dengan membawa hal-hal positif yang sekiranya dapat dipelajari dan diterapkan. Terutama bagi perbaikan sistem demokrasi Pancasila yang suuuangat kita bangga-banggakan. Sama bangganya dengan masyarakat Amerika atas sistem demokrasi mereka yang memang terbukti berjalan.

Saya percaya bahwa lain ladang memang lain belalangnya. Justru karena itu jangan hendaknya belalangnya jadi sak karepe dhewe (semaunya sendiri). George Bush saja mengajak segenap rakyat Amerika untuk berdoa kepada Tuhan, demi kejayaan Amerika. Marilah kita juga berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, demi kejayaan Indonesia.

Yusuf Iskandar