Posts Tagged ‘batubara’

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau

13 April 2011

Pengantar:

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya ketika melakukan kunjungan ke lokasi survey pemboran batubara di wilayah kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 25 -31 Maret 2011.

Penggalan catatan ini saya posting di status Facebook sebagai cersta (cerita status) selama periode tanggal 25 Maret s/d 3 April 2011. Tulisan ini sudah saya edit dari tulisan aslinya agar lebih mudah dibaca dan diikuti alur ceritanya. Sekedar ingin berbagi dongeng.

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb
(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan
(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan
(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”
(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb
(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga
(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari
(8) Berhasil Di Upaya Keempat
(9) Cerita Dari Penghuni Camp
(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal
(11) Bersiap Meninggalkan Hutan
(12) Terpaksa Bermalam Di Bedeng Dekat Dermaga
(13) Antara Petuah, Doa Dan Kerja Keras
(14) Terbang Kembali Ke Jogja

Yogyakarta, 25 Maret – 3 April 2011
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan

7 Januari 2011

Catatan Perjalanan:

Saya berkesempatan melakukan perjalanan singkat mengunjungi desa Binai, kecamatan Tanjung Palas Timur, kabupaten Bulungan dari tanggal 1-4 Desember 2010 dalam rangka kunjungan lapangan ke lokasi potensi batubara di salah satu wilayah kabupaten Bulungan (Kaltim).

Saya membuat catatan-catatan pendek tentang pikiran, renungan, inspirasi dan apa saja yang ringan, mengusik dan melintas di pikiran termasuk guyonan, selama perjalanan saya dan lalu menuliskannya di Facebook. Catatan-catatan pendek itu saya kumpulkan dan saya susun kembali sebagai penggalan catatan perjalanan (setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca).

Hari Pertama : Tiba Di Ranah Minang

25 Juli 2009

Pagi… Untuk pertama kali menginjakkan kaki di ranah Minang, di bandara Minangkabau, Padang. Langsung meluncur ke Sawahlunto sekitar 100 km arah timur laut.

(Naik taksi bandara ongkosnya Rp 330.000 sampai Sawahlunto. Perjalanan melewati kota Solok nan elok dan jalan Lintas Sumatera yang menuju Muara Bungo, Jambi).

Siang… Mengunjungi tambang rakyat batubara. Lubang-lubang tambang rakyat bawah tanah yang digali dengan cara sangat sederhana, relatif seadanya. Tapi hasilnya luar biasa…

(Batubara yang dihasilkan tambang-tambang ini rata-rata 1 ton/orang/hari. Anggap saja ada sekitar 2.000 orang buruh gali batubara, maka produksinya menjadi sekitar 2.000 ton/hari atau 60.000 ton/bulan. Semuanya untuk memasok kebutuhan PLTU Ombilan 2 x 100 MW, yang menjadi bagian dari jaringan listrik interkoneksi Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumater Utara).

Malam… Mampir ke Ponsel (Pondok Selohan, alias lesehan) di Jalan Lintas Sumatera. Menikmati teh taluah (telur) dan soto padang. Hmmm…

Sawahlunto, 22 Juli 2009
Yusuf Iskandar

——-

Transit Di Jakarta (Dari Timika Menuju Padang)

Seharian tadi ngantor di kantor orang, di Jakarta… Insya Allah besok pagi terbang ke Padang, lalu menuju Sawahlunto, melihat-lihat tambang batubara yang beberapa waktu lalu njebluk…. (ya melihat-lihat saja.….)

Jakarta, 21 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Bermalam Di Koto Boyo, Jambi

17 Juni 2009

IMG_2705_rMakan siang di Muara Bulian, ibukota kabupaten Batang Hari, Jambi. Ketemu menu kepala ikan patin bumbu kuning, udang sungai goreng kering, acar ketimun + kacang panjang, nasinya tamboh ciek…… Wusss… Nama warungnya, Rumah Makan “Yusuf” (eit… kok sama), di Jl. Gajah Mada, Muara Bulian.

Ketika beberapa menit kemudian melanjutkan perjalanan, lalu mulailah ngantuk…..

IMG_2701_rIMG_2703_r

***

Malam ini bermalam di desa Koto Boyo (atau Koto Buayo), kec. Batin XXIV, kab. Batang Hari,  lebih 100 km arah barat daya kota Jambi. Sebuah kawasan stockpile (tempat penimbunan) hasil galian batubara dari sebuah tambang kecil batubara.

Fasilitas akomodasinya masih sangat sederhana, dikelilingi pepohonan kebun karet. Bukan soal menginapnya, tapi cuaca poanas nian, debu berhamburan, air sumur kering, mau mandi syusyahtobat tenan!

IMG_2786_rIMG_2788_r
IMG_2737_r
IMG_2738_r

***

Berkat Tsel Flash, saya bisa ngonline dari pelosok mana-mana…., meski harus dengan memperkuat syaraf sabar dan syaraf anti jengkel, karena sering lelet….

Jambi, 17 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Semalam Di Perian

31 Mei 2008

PerianPerian adalah nama sebuah desa, termasuk wilayah kecamatan Muara Muntai, kabupaten Kutai Kartanegara, provinsi Kalimantan Timur. Dari Samarinda jaraknya hanya sekitar 120 km atau sekitar 4 jam perjalanan darat dan dapat dicapai melalui kota Tenggarong lalu setiba di perempatan Muara Muntai belok ke selatan.

Penggal jalan antara Samarinda – Tenggarong sepanjang kurang lebih 40 km kondisinya bagus melewati jalan cor-coran beton seperti jalan tol dan menyeberang sungai Mahakam melalui sebuah jembatan gantung yang tampak megah. Karena itu untuk melewatinya menuju Tenggarong harus mbayar, meski bukan mbayar tol jalan atau jembatan melainkan judulnya adalah penggunaan aset Pemda.

Dari Tenggarong ke perempatan Muara Muntai yang jaraknya hampir 40 km juga, kondisinya cukup bagus. Seperti bahasa ramalan cuaca, keadaan jalan beraspal bagus sebagian, karena sebagian lainnya banyak berlubang atau aspalnya dikelupas. Rencananya mau ditambal agar bagusnya tidak sebagian-sebagian. Konon sudah cukup lama rencana itu hingga kini masih tetap rencana. Maka kondisi jalan aspalnya ya tetap beraspal bagus sebagian itu tadi. Tapi secara umum cukup enak dilewati tanpa kesulitan selain perlu jeli mengantisipasi lubang di sana-sini.

Perempatan Muara Muntai ini oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Pos 19, karena merupakan kilometer ke-19 dihitung jarak dari pelabuhan sungai Mahakam di daerah Senoni. Jalan lintas dari pelabuhan Senoni menuju Perian memotong jalan raya Tenggarong menuju Kotabangun dan Melak. Jalan lintas ini kini banyak dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan tambang batubara sebagai jalan angkut batubara dari tambang-tambang kecil yang menyebar di kawasan Muara Muntai selatan menuju ke pelabuhan tongkang sungai Mahakam di Senoni.

Dari perempatan Muara Muntai ke desa Perian jaraknya sekitar 40 km juga. Sebagian melewati jalan tanah padat dan sudah mengalami pengerasan serta cukup lebar, sehingga kendaraan bisa melaju agak kencang. Sebagian sisanya berupa jalan tanah lunak dan mengandung banyak material lumpur serta lebarnya pas-pasan, sehingga rentan terhadap guyuran air hujan.

Seperti pengalaman sebulan sebelumnya, saya gagal mencapai desa Perian yang sebenarnya tinggal sekitar tiga kilometeran lagi. Gara-gara karena turun hujan deras malam sebelumnya telah menyebabkan kondisi sebagian jalan tanah ini berubah jadi kubangan lumpur dan agak longsor (longsor kok agak…..). Yang jelas, jalan tanah menjadi tidak bisa dilalui meski dengan kendaraan 4WD alias double gardan.

Barulah ketika keadaan cuaca sedang cerah, kendaraan yang saya tumpangi dengan mudah melaluinya. Hingga sampailah saya ke desa Perian. Ini adalah kunjungan ke lapangan dalam rangka melakukan survey batubara. Maka kunjungan saya pasti bukan ke kawasan pemukiman melainkan ke kawasan yang jauh dari pemukiman.

Dengan kata lain, saya tinggal di sebuah bedeng darurat di tepi jalan hutan eks-jalan logging atau jalan pengangkutan kayu di jaman jaya-jayanya pembalakan kayu dulu. Namanya juga bedeng darurat, konstruksinya menyerupai rumah panggung. Tapi jelas bukan bangunan rumah melainkan gubuk seadanya dari rangkaian batang-batang pohon, berdinding papan yang dipaku seadanya, beratap terpal warna-warni, dan berlantai papan kayu juga.

Malam memang sedang tidak berteman rembulan purnama. Gelap-gulita sudah pasti, tapi langit sangat bersih sehingga nampak bertaburan bintang-bintang. Ada penerangan bertenaga genset yang dinyalakan hingga tengah malam saja agar hemat BBM (lebih-lebih setelah harga BBM naik) dan dibantu lampu minyak. Banyak nyamuk dan serangga kecil seperti agas yang menjengkelkan, karena itu mesti sedia lotion anti nyamuk. Kalau tidak siap dengan sleeping bag maka sarung atau sekedar selimut menjadi piranti penting, karena juga membantu mengatasi hawa dingin di balik dinding papan yang pasti tidak kedap angin dingin dini hari hingga pagi.

Mandinya di sungai berpornoaksi, telanjang bebas di tepi sungai yang airnya jernih dan dingin menyegarkan dengan arus airnya yang cukup kuat tapi masih aman. Inilah di antara saat-saat paling mengasyikkan. Bukan telanjangnya, melainkan sentuhan dinginnya air sungai yang merata di sekujur tubuh. Segar nian….! Hanya jika habis turun hujan, terkadang air sungai agak tinggi, berarus deras dan jadi kotor kecoklatan. Kalau sudah begini mendingan tidak usah mandi, daripada cari penyakit!

Bahan makanan mesti dibawa dari luar, wong lokasinya jauh dari warung dan kawasan pemukiman. Kebutuhan air untuk masak diambil dari sungai dengan cara dipompa dan terkadang dengan menampung air hujan. Lokasi sekitarnya juga bukan kawasan sawah-ladang penduduk sehingga sangat jarang bertemu dengan petani yang berlalu-lalang. Paling-paling segelintir manusia yang cari kayu atau curi-curi menebang pohon.

Hal yang paling menyebalkan adalah kawasan ini tidak dikunjungi sinyal telepon seluler. Memang ada titik-titik tertentu yang ditengarai udaranya mengandung sinyal. Tapi sayang lokasinya berada di puncak perbukitan.

Di desa Perian inilah saya sempat tinggal satu malam, pada tanggal 26-27 Mei 2008 yang lalu, menemani teman-teman saya melakukan survey batubara. Ketika masyarakat Kaltim sedang berpesta demokrasi memilih calon gubernurnya yang baru, beberapa warga masyarakat lokal yang membantu pelaksanaan survey seperti tidak perduli perkara coblos-menyoblos ini.

Memang bukan pengalaman pertama, tapi pengalaman seperti ini selalu saja mengesankan, karena pasti ada nuansa tersendiri pada setiap waktu dan setiap lokasi yang berbeda. Mereka yang sudah terbiasa melakukan survey lapangan pasti memiliki kesannya sendiri-sendiri.        

Yogyakarta, 31 Mei 2008
(Saya lupa hari ini adalah hari “Dilarang Merokok” alias World No Tobacco Day, telanjur klepas-klepus hingga siang….)
Yusuf Iskandar

Goa Tengkorak Yang Tidak Menyeramkan

19 Maret 2008

Menyusuri sungai Kandilo di wilayah kabupaten Pasir, Kaltim, dengan naik ketinting kecil membuat dag-dig-dug juga mulanya. Sedikit saja badan bergoyang patah-patah karena mengatur posisi pantat sambil kedua tangan bertumpu di kedua sisi perahu, maka perahupun ikut oleng. Pendeknya, duduk mesti tenang dan diemmmm….. aja. Tapi lama-kelamaan jadi terbiasa juga menikmati olang-oleng-nya ketinting. Asal tidak tumplek… terbalik saja….. Bukan takut dengan air sungai, melainkan karena ada penghuni lain di sana, yaitu buaya sungai.

Sekali waktu, seorang teman melihat dan memberitahu ada buaya kecil menatap tajam di pinggir sungai. Ketika ditanyakan kepada tukang ketinting (lebih biasa disebut motoris), sang pengemudi perahu diam seribu basa dan cuek saja, pura-pura tidak mendengar. Tanya kenapa? Nampaknya bagi masyarakat sekitar adalah tabu membicarakan perihal buaya di depan beliaunya (beliau buaya, maksudnya). Seperti kata pepatah, biarlah buaya menatap tajam, ketinting tetap berlalu. Agar tidak saling mengganggu dan (insya Allah) selamat…… Pantang untuk saling bertegur sapa dengan buaya.

Selain buaya, jenis binatang yang sering saya jumpai di sepanjang tepian sungai ini adalah berang-berang, kera kampung (saya tidak tahu namanya), bekantan (kera berhidung mancung) dan tentu saja bangsa burung-burungan, tidak termasuk cucakrowo sing dowo buntute… .

Namun yang paling spektakuler adalah ketika melewati sepenggal perbukitan kapur. Dinding batu kapur yang terbelah sungai, di atasnya ditumbuhi pepohonan rimbun, sehingga terasa teduh dan berhawa segar. Pemandangan ke arah timur, di sana terbentang bukit kapur yang menjulang tinggi. Sorotan matahari sore memberi rona bayangan pada dinding bukit kapur yang menjulang tinggi itu jadi tampak kemerah-merahan. Menakjubkan! Sayang adoh lor adoh kidul…., sehingga sulit untuk dijangkau wisatawan.

*** 

Hari sudah menjelang maghrib ketika kami hampir tiba kembali ke desa Kesungai. Pandangan mata tertuju pada dinding batu terjal yang ternyata di atas sana ada sebuah goa. Namanya goa Tengkorak. Menilik namanya, maka kesan mistis, angker dan menyeramkan,  yang pertama terbayang. Apalagi hari sudah rembang petang. Tapi menimbang bahwa kapan lagi bisa nyambangi goa isi tengkorak di tempat terpencil itu, maka terlalu sayang untuk dilewatkan. Ketinting pun menepi ke sisi barat, menurunkan kami. Tukang ketintingnya dipersilakan langsung pulang, sementara kami akan melihat-lihat goa Tengkorak, dan pulangnya jalan kaki saja.

Untuk naik menuju mulut goa tidak terlalu susah, hanya perlu memanjat lebih seratus anak tangga. Ya, susah juga sih sebenarnya….. Ngos-ngosan….. Mulut goanya berada di sekitar pertengahan dinding tegak lurus gunung kapur setinggi lebih 50 meter, yang dari kejauhan tampak berwarna putih. Di sana sudah terpasang menara kayu komplit dengan anak tangga zig-zag. Fasilitas itu memang disediakan oleh pemerintah guna memberi kemudahan bagi wisatawan yang ingin nyambangi tengkorak-tengkorak di dalam goa.

Yang disebut goa ini sebenarnya hanya cerukan kecil. Tinggi mulut goanya sekitar 1,5 meteran, sehingga untuk masuk ke dalamnya badan mesti rada dibungkukkan. Lebar guanya 2 meteran dan kedalaman ceruk goa ini tidak sampai 10 meter. Tidak jauh dari mulut gua terlihat onggokan tengkorak-tengkorak dan tulang belulang bekas manusia yang tertata rapi berjajar tiga baris.

Kata orang, jumlah tengkoraknya ada 37 buah. Karena penasaran saya hitung juga, ketemunya 35 buah. Dihitung ulang tetap saja 35 buah. Ya sudah, pokoknya percaya saja jumlahnya 37 buah.

Kata orang juga, tengkorak-tengkorak ini harum baunya. Karena penasaran saya coba mengambus-ambuskan hidung sambil membuka lubang hidung lebar-lebar (meskipun saya tahu ukuran lubang hidung saya ya tetap saja segitu), tidak juga tercium aroma harumnya. Ya sudah, pokoknya percaya saja baunya harum. Ketimbang kuwalat.

Masih kata orang, jangan coba-coba mengambil tengkorak atau tulang-tulang yang ada di situ. Yang sudah-sudah, orangnya bakal ketimpa musibah. Ya sudah, tidak usah mengambil tengkorak. Hanya wisatawan kurang kerjaan saja rasanya yang mau nyangking tengkorak di bawa pulang…..

Konon tengkorak dan tulang belulang itu dahulu milik raganya para nenek dan moyangnya masyarakat Pasir, pada jaman kerajaan Sadurengas pada abad 16 Masehi. Masyarakat jaman itu adalah penganut kepercayaan Hindu Kaharingan, sebelum datangnya ekspedisi Islam dari Kesultanan Demak.

Di jaman itu orang yang meninggal dunia mayatnya tidak dikubur, melainkan dipak dengan setangkup kayu yang disebut lungut, atau di-blusuk-kan ke dalam lubang kayu yang sengaja dibuat untuk itu. Proses pengepakan ini berlangsung sekitar setahun hingga jasadnya habis dan tinggal tersisa tengkorak dan kerangkanya. Tidak ada keterangan yang menjelaskan tentang bagaimana menangani baunya. Barulah kemudian tengkorak dan tulang-belulangnya dipindahkan ke ceruk-ceruk atau goa-goa di dinding batu melalui upacara adat. Sebagian di antaranya, ya yang sekarang masih bisa ditemukan di goa Tengkorak itu.    

Untuk mencapai lokasi goa Tengkorak tidaklah sulit. Sebelum memasuki Batu Kajang, desa dimana berada perusahaan tambang batubara PT. Kideco Jaya Agung dari arah Balikpapan lalu masuk ke kanan. Ada petunjuk arah cukup jelas terpasang di pinggir jalan. Masuk menuju desa Kesungai sekitar 4 km, lalu jalan kaki sejauh kurang-lebih satu kilometer menyeberangi dua jembatan gantung beralas kayu yang melintas di atas sungai Kesungai dan sungai Kandilo. Pemandangan dari bawah goa juga cukup bagus, karena memang letaknya di ketinggian.

Meski bernama goa Tengkorak dan di dalamnya banyak tengkoraknya, tapi sungguh ini bukan tempat yang menyeramkan. Kalaupun ada yang menyeramkan, itu karena para tengkoraknya pada meringis (yang tidak meringis berarti tengkoraknya ompong……..).

Selain goa Tengkorak, sebenarnya ada satu goa lagi yang konon lebih besar, lebih misterius tapi indah. Namanya goa Lojang. Letaknya tidak terlalu jauh dari goa Tengkorak, dan tidak perlu menyeberang jembatan gantung. Juga berada di tengah tebing tegak bukit kapur yang lebih tinggi. Dapat ditebak bahwa goa ini indah karena di dalamnya banyak stalaktit dan stalagmit, dan misterius karena tidak seorang pun tahu dimana ujungnya. Mungkin lebih tepat disebut ujung goanya belum ditemukan. Lha wong namanya goa di bukit kapur……..

Namun sayang karena hari semakin gelap, saya tidak sempat menyinggahi goa Lojang. Pasti semakin gelap pula di dalam goanya. Namun sayang yang kedua adalah karena kedua goa itu nampaknya belum menjadi perhatian pemerintah setempat untuk dijual kepada wisatawan. Padahal potensi nilai jual kawasan bukit kapur itu tergolong tinggi. Paling-paling masyarakat Batu Kajang dan sekitarnya yang keluar-masuk daerah itu, termasuk para pegawai tambang batubara di dekat situ.

Yogyakarta, 1 Maret 2007
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(4).   Mencari Batubara Di Pasir 

Memasuki wilayah Kalimantan Timur, kemudian kami agak bisa bernapas lega. Kondisi jalan Trans Kalimantan mulai bagus dan mulus. Setidak-tidaknya kondisi jalan yang berlubang-lubang tidaklah separah di wilayah selatan. Kami melewati kota kecamatan Jaro, Muara Koman, Batu Kajang hingga tiba di persimpangan jalan Trans Kalimantan di kecamatan Kuaro. Suasana kota-kota kecamatan ini nampak berbeda dengan kota-kota kecil di wilayah selatan. Di wilayah utara ini terkesan lebih enak dipandang. Sama-sama kota kecil tapi nuansa kotanya berbeda.

Terlebih Muara Koman, kota yang memiliki kontur perbukitan ini selintas sambil jalan kota ini tampak indah dan tertata rapi. Dapat dipahami karena di wilayah ini menjadi basis aktifitas industri sehingga pemerintahannya tentu lebih kaya oleh kontribusi dari industri, dibanding daerah lainnya. Industri perkayuan, perkebunan dan pertambangan memang betebaran di wilayah Kalimantan Timur.

Suasana lebih ngota lagi nampak di kota Batu Kajang dimana terdapat industri tambang batubara PT Kideco, juga sebuah perusahaan tambang batubara papan atas. Suasana kotanya lebih hidup dan ramai. Refleksi dari gairah ekonomi masyarakatnya yang tumbuh seirama dengan pertumbuhan industri di sekitarnya. Mekanisme pasar yang logis-logis saja. Di mana-mana juga begitu. Di mana ada gula, di situ ada semut. Hanya biasanya, semakin manis gulanya semakin banyak pula semut-semut nakalnya….. 

***

Tepat di pertigaan Kuaro, kami berhenti untuk makan siang. Ya, pokoknya cari warung sedapatnya, wong ini  kota kecil yang sepi. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 15:00 WITA. Ketemulah menu makan siang dengan daging payau, sebutan lokal untuk daging rusa yang rasanya mirip-mirip daging kambing.

Dari pertigaan Kuaro, kalau terus ke atas (utara) akan menuju arah kota Balikpapan, sedang kalau ke selatan menuju kota Tanah Grogot. Tujuan kami sore itu adalah menuju kota Tanah Grogot yang berjarak 28 km lagi dari Kuaro. Kami akan menginap di Tanah Grogot.

Akhirnya sekitar jam 5 sore kami sudah memasuki kota Tanah Grogot. Sebuah kota yang tidak terlalu padat, jalan-jalan kotanya cukup lebar dan berpenampilan bersih, sehingga enak dilihat. Tanah Grogot adalah ibukota kabupaten Pasir. Kabupaten yang letaknya paling selatan dari wilayah propinsi Kalimantan Timur dan berbatasan dengan Kalimantan Selatan. Kota-kota kecamatan yang saya lalui sejak memasuki perbatasan Kalimantan Timur adalah termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Pasir.

Tujuan utama perjalanan kami kali ini memang menuju ke kota ini, tepatnya ke wilayah kabupaten Pasir.  Kami akan blusukan di beberapa lokasi untuk mencari dan melihat-lihat singkapan batubara. Lokasi singkapan yang sebelumnya sudah kami ketahui posisinya dan koordinatnya. Tentu saya tidak sendiri, melainkan ditemani oleh geologist yang memang ahlinya dalam urusan singkap-menyingkap untuk melihat lebih detil apa yang ada di baliknya.

Kami sudah kangsenan (janjian) dengan orang yang akan mewakili penguasa lokasi batubara untuk bertemu di Tanah Grogot. Utusan penguasa lokasi (bukan pemilik, melainkan pemegang hak Kuasa Pertambangan) akan menemani kami menunjukkan lokasi-lokasi singkapan batubara yang sudah diketahui. Meskipun kami sudah memiliki data-data koordinatnya, adanya “saksi mata” ini akan mempermudah dan mempercepat pekerjaan, dibandingkan kalau kami mesti thunak-thunuk ngalor-ngidul mencari sendiri lokasi singkapannya. Belum lagi nanti kalau dicurigai macam-macam oleh pemilik tanahnya. Bisa runyam akibatnya. Maka adanya pendamping dari orang yang sudah mengenal dan dikenal di sana akan sangat membantu.

Prinsip mencari singkapan dan lalu mengeksplorasi potensinya, adalah juga yang saya terapkan  dalam mengelola warung mracangan “Madurejo Swalayan” yang (alhamdulillah) sekarang semakin tumbuh sehat menjelang setahun usianya. Tanpa bermaksud mengajari siapapun, yang saya lakukan hanya sekedar menemukan singkapannya lalu menangkap peluang di baliknya. Ini hanyalah salah satu jenis suplemen yang telah terbukti khasiatnya meningkatkan vitalitas usaha.  

***

Besoknya kami akan blusukan di salah satu sudut wilayah kabupaten Pasir untuk mencari batubara. Mencari batubara di Pasir, hanya mungkin ada di Kalimantan. Jangan coba-coba mencarinya di pasir kali Opak atau pasir kali Krasak, misalnya. Seuntung-untungnya, hanya akan menemukan batu yang membara di pasir Merapi ketika terjadi erupsi.

Yogyakarta, 5 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(2).  Ladang Emas Hitam Di Taba Penanjung

Di tengah teriknya siang, kami (saya dan beberapa teman) pergi meninggalkan kota Bengkulu menuju ke arah timur. Mengikuti jalan raya yang menuju kota Curup dan Lubuklinggau. Kira-kira tiba di kilometer 20, di desa Taba Lagan lalu nyempal membelok menuju arah tenggara. Masih melalui jalan aspal beberapa kilometer sampai ke desa Lagan Bungin, lalu disambung dengan jalan desa. Lebih tepat disebut jalan tambang yang berupa tanah dan batu yang dipadatkan di tengah perkampungan. Disebut jalan tambang, karena jalan yang cukup lebar untuk dua buah truk bersimpangan ini sebenarnya dibuat sebagai sarana pengangkutan hasil tambang batubara dari lokasi penambangan menuju pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

Perjalanan masih dilanjutkan menyusuri jalan tambang hingga sejauh kira-kira 18 km menuju ke arah perbukitan. Lha wong namanya jalan perbukitan, ya tentu saja naik-turun dan belak-belok membelah kawasan pinggiran hutan yang tampak sudah terbuka dirambah orang dan di sana-sini masih dijumpai kawasan rumah-rumah penduduk. Rumah penduduk yang tampak sangat sederhana, sekedar berbentuk rumah panggung dari bahan kayu. Akhirnya sampai ke lokasi dimana banyak diusahakan penambangan batubara, terkadang suka disebut dengan si emas hitam. Di siang yang terik dan berdebu itu akhirnya saya tiba di ladang emas hitam di pinggiran sebelah barat Bukit Barisan, tepatnya di daerah Taba Penanjung, Bengkulu.

Batubara atau si emas hitam ini memang banyak diketemukan di Sumatera. Di sepanjang lereng barat dan timur Bukit Barisan yang membentang selatan-utara membelah pulau Sumatera, banyak memiliki potensi cadangan endapan batubara. Kecamatan Taba Penanjung hanyalah satu dari sekian banyak daerah di Sumatera yang kaya akan batubara. Di sana ada banyak perusahaan tambang yang kini terus menggali batubara untuk diangkut keluar pulau, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mupun luar negeri, tergantung kecocokan spesifikasinya antara persediaan dan permintaan.

Untuk sekedar menyebut contoh, kalau kita ingat pelajaran Ilmu Bumi sewaktu sekolah dulu. Pak guru akan bertanya : “Batubara banyak dihasilkan di…..?”. Pak guru pun menjawab sendiri : “Ombilin”, karena murid-muridnya susah mengingat nama tempat yang berada di propinsi Sumatera Barat itu. Sejarah panjang tentang industri tambang batubara di Indonesia memang tidak bisa lepas dari nama itu.

Potensi batubara di Sumatera memang sangat besar, tidak kalah dari yang ada di Kalimantan yang akhir-akhir ini lebih populer namanya sebagai penghasil batubara. Namun karena ketersediaan sarana pengangkutan di Sumatera umumnya sangat terbatas, sehingga para investor masih pikir-pikir kalau mau mengusahakan penambangan batubara di Sumatera. Hitung-hitungan njelimet mesti dilakukan dengan teliti menyangkut pengangkutan batubara dari lokasinya yang jauh di pedalaman menuju pelabuhan terdekat yang mempunyai fasilitas pengisian ke tongkang atau kapal.

Di Sumatera Selatan sarana pengangkutannya menggunakan sepur Babaranjang (batubara rangkaian panjang). Sedang di lokasi lain umumnya masih memanfaatkan sarana jalan darat sebagai jalan angkut. Tentu saja kapasitas produksinya tidak bisa maksimal karena terkait dengan pertimbangan kepadatan lalulintas umum akibat truk pengangkut batubara yang midar-mider melalui jalan umum. Sementara di Kalimantan meskipun sarana jalan umum masih terbatas, tetapi lebih diuntungkan dengan banyaknya sungai-sungai yang layak dimanfaatkan sebagai sarana pengangkutan.

***

Rasanya belum lama saya mendengar tentang agenda besar pemerintah untuk menjadikan batubara sebagai sumber energi alternatif. Maksudnya alternatif selain minyak. Sejak jamannya bapak presiden HMS hingga pak SBY, semangat untuk memasyarakatkan batubara (atau boleh juga kalau mau dipelesetkan menjadi membatukan dan membarakan masyarakat) sepertinya gebu-menggebu. Harap maklum, potensi cadangan batubara di bumi Indonesia ini memang tergolong buesar. Selama ini belum didayagunakan secara optimal.

Istilah briket batubara digaung-gaungkan sampai ke pelosok desa, bahkan sampai ke masyarakat yang tidak tahu apa itu batubara. Pelaku bisnis pun serta-merta berlomba menangkap peluang. Tapi kini, entah kenapa semangat itu sepertinya memudar. Briket batubara dan anglonya telanjur diproduksi. Tapi semua orang keburu lupa hal-ihwal batubara, dan akhirnya kembali mencari kayu bakar dan mengantri minyak tanah meski harganya selangit.

Kalau soal polusi, tentu bukan monopoli batubara. Minyak dan gas pun menimbulkan polusi yang membahayakan kesehatan manusia. Malah bisa menyebabkan kematian ketika terhirup hidung…….., kalau menghirupnya seperti kucing ngembus-embus ikan asin. Asal penanganan dan pengelolaannya benar menurut kaidah ilmu dan teknologi, tentunya dampak apapun akan dapat direduksi atau dikendalikan.

Sejauh ini baru sektor industri besar yang banyak memanfaatkan sumber alam ini, belum memasyarakat ke sektor rumah tangga. Perlu “aba-aba” pemerintah lagi……. Kalau ternyata “aba-aba” itu tidak pernah muncul lagi, ladang emas hitam akan tetap dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luar negeri.

***

Salah satu dapurnya perusahaan tambang yang sempat saya kunjungi ternyata memanfaatkan batubara untuk memasak. Tentu bukan karena “aba-aba” yang pernah digembar dan digemborkan pemerintah, melainkan karena disana batubara pating tlecek (berserakan) tidak dimanfaatkan. Lha wong namanya juga lokasi tambang batubara…..

Apa keunggulan benda ini? Antara lain, lebih panas sehingga waktu untuk memasaknya lebih cepat, dan akibatnya ya tentu lebih hemat. Kalaupun untuk memperoleh batubaranya harus membeli, maka harganya masih relatif lebih murah dibandingkan dengan harga minyak dan gas untuk digunakan dengan tujuan yang sama. Lha kalau demikian, kenapa pemerintah setengah hati mengkampanyekan penggunaan batubara sebagai sumber energi alternatif? Wah, yo embuh……..

Bengkulu, 28 Juni 2006
Yusuf Iskandar