Archive for the ‘> Seputar GUNUNG MERAPI’ Category

Ke Sirahan Kami Kembali

9 Maret 2011

Kami kembali ke Sirahan setelah kunjungan awal beberapa waktu sebelumnya. Pada tanggal 25 Pebruari dan 5 Maret 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang, dalam rangka mendistribusikan bantuan kepada dua buah sekolah TK dan sebuah SD. Bantuan ini merupakan titipan amanah dari para sahabat yang peduli dengan beban kesulitan yang dihadapi anak-anak di desa Sirahan.

Seperti biasa, selalu ada nuansa berbeda dalam setiap perjalanan saya yang ingin saya “dongengkan”. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Berbagi Dengan Anak-anak TK

(1)

Akhirnya kesampaian juga untuk membantu dua sekolah TK yang gedungnya satu hancur satunya lagi lenyap tak berbekas diangkut lahar dingin di desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang.

Alat tulis, mainan edukatif dsb. Jum’at yll (25/02/11) diserahkan ke TK Pertiwi dan TK Ibnu Hajjar. Kami disambut suka cita oleh para ibu guru TK (entah kenapa kok tidak pernah dengar ada pak guru TK, mungkin khawatir murid-muridnya diajari mbetulin genteng).

(2)

TK Pertiwi (25 murid) saat ini menumpang di salah satu rumah warga yang ditinggal mengungsi karena ancaman banjir lahar dingin kali Putih belum usai. Sekolahnya model lesehan seperti makan gudeg Malioboro.

Menurut Bu Atun sang kepala sekolah, pemilik rumah sudah memberitahu akan pulang menempati rumahnya. Jadi mereka harus pindah. “Tapi ya belum tahu mau pindah kemana?”, tutur bu Atun nglangut (menerawang jauh)…

(3)

Dari TK Pertiwi kami menuju TK Ibnu Hajjar (119 murid) yang kini terbagi di tiga lokasi sekolah darurat. Salah satunya menempati sebuah bangunan kosong milik warga di dusun Gudang Gedolon (warga suka menyebutnya nDolon saja), desa Sirahan. Model sekolahnya sama, lesehan.

Sama seperti TK Pertiwi, TK ini pun kini juga sedang menghimpun bantuan dari mana saja berupa apa saja, asal anak-anak tetap bisa tertangani pendidikannya.

(4)

Sempat menyaksikan sebuah kelas yang anak-anaknya belajar sambil duduk lesehan. Senang rasanya melihat anak-anak itu. Ceria sekali, seperti tidak peduli dengan serba daruratnya sarana belajar yang ada.

Tapi jangan salah. Kata bu guru Suryati: “Ketika cuaca berubah mendung gelap, anak-anak itu gelisah minta segera pulang…”. Rupanya trauma banjir lahar dingin yang telah menggondol sekolah mereka begitu membekas dalam pikiran anak-anak itu.

***

Kue nDeso Bolu Kelapa

(5)

Ada sembilan ibu guru TK Ibnu Hajjar (tidak ada pak guru) siang itu berseragam baju kaus warna biru-putih dan berkerudung menyambut kedatangan kami yang membawa bantuan untuk sekolah TK mereka.

Kami disuguh dengan penganan bolu kelapa. Tapi kok masih panas dan aromanya membuat tdk sabar ingin sgr mencicipi. Rupanya di belakang bangunan yg sementara digunakan untuk TK itu juga digunakan untuk usaha membuat penganan.

(6)

Bolu kelapa adalah penganan berbahan terigu seperti kue bolu kukus. Bedanya bolu kelapa ini terigunya dicampur dengn parutan kelapa yang sebelumnya sudah di-oven sehingga aroma kelapanya tajam merangsang, seperti kelapa yang dibakar untuk umpan tikus.

Itu baru aromanya. Rasanya? Hmmm, empat bolu bablass… “Usaha ini baru setahun”, kata ibu Bambang sang pengusaha yang juga tinggal di bangunan yang ditempati TK itu. Kini omsetnya terus meningkat.

(7)

Bolu kelapa… Kue bolu berbahan terigu bercampur parutan kelapa yang di-oven. Kue ndeso sederhana, dibuat dengan cara sederhana (siapapun mudah membuatnya, kalau mau), dijual dengan harga sederhana.

Tapi ribuan bolu kelapa berhamburan ke pasar-pasar dan warung-warung di sekitar Muntilan yang dapat dibeli dengan harga @Rp 500,- dengan merek DR (Doa Restu). Harga di pabriknya @Rp 400,- per biji.

***

Jum’atan Di Dusun nDolon

(8)

Menjelang tiba waktu dzuhur. TK Ibnu Hajjar, guru dan muridnya harus ditinggalkan sejenak untuk sholat Jum’at. Seorang bu guru menunjukkan jalan menuju masjid terdekat karena letaknya agak tersembunyi.

“Nurul Burhan”, nama masjidnya. Terlihat pak haji Furqon, takmir dan imam masjid, sedang duduk leyeh-leyeh seorang diri di selasar masjid. Waktu dzuhur sudah masuk, tapi masjid kecil itu kok sepi. “Jangan-jangan jum’atan di sini libur”, pikirku.

(9)

Kusalami pak haji Furqon. “Biasanya baru pada datang setelah bedug ditabuh”, kata pak haji tersenyum. Benar juga. Sesaat kemudian datang beberapa orang muda. Bedug ditabuh. 1-2 jama’ah mulai datang. Lalu adzan berkumandang.

Nuansa Islam tradisional kental terasa. Jum’atan dengan dua adzan, sang bilal banyak melagukan salawat, pak haji sebagai khatib sekaligus imam mencengkeram tongkat “komando” sebesar alu (alat tumbuk padi).

(10)

Khotbah Jum’at yang seluruhnya disampaikan dalam bahasa Jawa halus telah diselesaikan pak haji Furqon selaku khatib. Sholat Jum’at segera dimulai, pak haji Furqon pun siap di mimbar imam.

Tiba-tiba beliau membalikkan badan dan berkata: “Gus, Gus Yusuf, monggo…”, sambil tangannya mempersilakan. Aku menoleh ke kiri-kanan ingin tahu siapa yang diajak bicara. Astaghfirullah, rupanya ucapan itu ditujukan kepadaku.

(11)

Pak haji Furqon mempersilakanku menjadi imam. Aku memang agak kaget, tidak menyangka tiba-tiba dipersilakan seperti itu. “Monggo pak…”, jawabku balas mempersilakan sambil mengarahkan jempolku.

Bukan aku tidak mau atau tidak bisa, kalau aku menolak. Bukan juga karena aku hanya mengenakan celana blue-jeans belel dan T-shirt. Melainkan karena beliaulah sebenarnya orang yang paling pantas untuk mengemban tugas menjadi imam pada Jum’at siang itu.

(12)

Alasanku terbukti benar. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, pak haji Furqon ternyata masih mampu melantunkan surat Al-Fatihan dan Al-A’laa dengan makhroj dan tajwid yang jelas dan bersih.

Aku dibuatnya terkagum. Tidak banyak orang tua seusia beliau mampu melakukannya. Namun lebih dari semua itu, adalah kerendahan hatinya sehingga merasa perlu mempersilakan jamaah “barunya” di masjid yang memang jarang kedatangan “tamu” itu.

(13)

Usai jum’atan, kupamiti pak haji Furqon yang wajahnya tampak selalu tersenyum ramah dan kusalami dengan hangat. Subhanallah.., sungguh sepenggal pengalaman yang seharusnya dapat kupetik hikmahnya.

Pak haji Furqon mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah kami berikan. Aku tertegun sejenak. Apa “urusan” haji Furqon berterima kasih untuk bantuan kepada sekolah TK yang hanya numpang di situ… Sebuah kearifan yang sulit dijelaskan.

***

“Lahardi”

(14)

Sebelum kembali ke Jogja, kami sempatkan menengok seorg guru TK Pertiwi yang malam sebelumnya melahirkan anak pertamanya di RSIA Muntilan. Sekedar ingin memberi surprise kepada bu guru yang ketika hamil tua sempat menyaksikan detik-detik menegangkan bagaimana TK-nya dilabrak banjir lahar lalu lenyap.

Seorang teman usul agar bayi laki-laki bu guyu (sengaja pakai ‘y‘) Watik ini diberi nama “Lahardi” (agar selalu ingat dengan lahar dingin).

***

Entok Goreng “Pondok Rahayu” Muntilan

(15)

Agenda terakhir Jum’at siang itu adalah makan siang (ini juga bagian penting). Bagaimanapun juga harus makan, maka dipilihlah “Pondok Rahayu” di pojok Jl. KH A. Dahlan, Muntilan, Magelang.

Menu unggulannya bebek dan ayam kampong, tapi juga ada entok dan kalkun. Bakar atau goreng dengan sambal goreng atau sambal kosek. Dan, pilihanku adalah…entok goreng, yang dagingnya empuk, tekstur seratnya nyaman dikunyah, dan hmmm…

(16)

Tahun 1992 bu Rahayu memulai membuka usaha jualan menu ayam kampung dan bebek. Warungnya kecil dan bertahan di tempatnya yang sekarang dengan judul “Pondok Rahayu”.

Taste-nya tidak diragukan lagi. Terbukti bertahan hingga dua dekade, malah semakin kondang dan diburu pelanggannya. Bahkan sekarang bu Rahayu memiliki armada untuk melayani pesan-antar. Sampai sekarang belum buka cabang, walau niat itu ada.

(17)

Daging entok dan bebek dimasak sedemikian ahlinya sehingga tidak terasa amis (anyir), melainkan pas benar taste-nya. Tadinya mau nyoba kalkun, tapi rupanya harus pesan lebih dahulu mengingat besarnya (seperti kalkun yang disusupi kepalanya Mr. Bean yang dagingnya cukup untuk 25 porsi normal, kecuali yang makannya tidak normal…).

Rahasianya? “Nggih namung sabar…” (ya cuma sabar saja), katanya. Maksudnya, sabar memproses sesuai kebutuhan.

***

Anak-anak, Seragam Dan Semangatnya

(18)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan 1 itu sudah menunggu kedatanganku di teras “sekolah”, bersama para ibu guru dan muridnya. Saya datang mengantar bantuan berupa pakaian seragam pramuka untuk 84 muridnya (sumbangan dari seorang rekan di Jogja yang tidak mau disebut namanya).

Seragam (tepatnya baju sekolah) itu mereka butuhkan, apalagi bagi mereka yang rumah seisinya telah diangkut banjir lahar.

(19)

SDN Sirahan 1, di kecamatan Salam, Magelang, bagian depannya tertutup pasir lahar Merapi, ruang kantornya morat-marit diacak-acak banjir lahar luapan dari kali Putih. Warga yang kebanyakan wali murid, belum mengijinkan sekolah beroperasi mengingat ancaman bahaya banjir lahar masih belum sirna.

Sementara “sekolah” yang ditempati sekarang sebenarnya adalah beberapa rumah warga dusun Purwosari, desa Sirahan, yang ditinggal mengungsi pemiliknya.

(20)

Kabarnya pemilik rumah yang sekarang difungsikan untuk sekolah itu kini bersiap pulang karena jenuh tinggal di pengungsian. Karuan saja para gurunya harus berpikir keras. Ketika kutanya: “Terus belajarnya nanti gimana pak?”. “Ya gimana nanti saja…”, jawab pak Katam pasrah sambil tersenyum (susah lho, pasrah tapi tersenyum…).

Nanti gimana atau gimana nanti? Tergantung pilihannya, kekhawatiran atau ketenangan perasaan..

(21)

Namanya juga anak-anak… Tiap hari hanya bermain di pengungsian membuat ortu dan gurunya bingung. Terpaksa diusahakan angkutan antar-jemput siswa ke/dari “sekolah” barunya.

Setiap minggu sekolah harus menyediakan biaya Rp 240 ribu untuk sewa kendaraan. Entah sampai kapan. Bukan jumlah yang sedikit dalam situasi darurat. Tapi anak-anak gembira berdesakan naik mobil bak terbuka setiap hari. Dan, semangat anak-anak itu masih ada, juga gurunya…

Yogyakarta, 27-28 Pebruari dan 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Mushola Yang Didambakan

8 Maret 2011

Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Suatu ketika warga dusun Srunen, Glagaharjo berbunga-bunga. Ada kunjungan pejabat dari Pemkab “antah-berantah” menyerahkan bantuan sekian ratus juta untuk membangun mushola. Tulisan angka besar-besar pun di serahkan dan difoto sebagai simbol serah-terima.

Sudah lama ternyata bantuan itu tidak juga menampakkan batang hidungnya (bantuan memang tidak punya hidung). Entah mampir leyeh-leyeh dimana.. Warga pun tersenyum…

(2)

Apalagi batang hidungnya, kabarnya pun tak ada. Wooo, dasarrr…! (Maksudnya dasar negara ‘daripada’ Indonesia adalah Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan mushola juga bagian dari urusan ketuhanan itu).

Dasar juga wong cilik, boro-boro melacak bantuan yang angkanya ada di foto. Buang-buang waktu saja, mendingan melakukan hal-hal yang lebih nyata dan membumi, seperti menanam pohon, mengolah lahan, membereskan material sisa bekas rumahnya, dsb…

(3)

Lain lagi dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, musholanya hilang tak berbekas digondol wedhus gembel. Rencana awalnya mau dibangun mushola pengganti ala kadarnya, yang penting bisa untuk sholat.

Tapi belakangan terpikir, nantinya kawasan Glagaharjo akan dikembangkan menjadi kawasan wisata. Kalau musholanya ala kadarnya, nanti orang-orang yang mau sholat juga ala kadarnya dan sholatnya pun ala kadarnya (masih lumayan kalau sempat…).

(4)

Dirancanglah mushola yang lebih layak untuk jangka waktu lebih panjang. Luasnya 8 x 8 m2, biayanya +/- 80 juta. Haduh..! (Panitia mengelus jidat). Darimana biayanya? “Faktor” pemerintah dikesampingkan dulu. Akhirnya diputuskan mushola Mandiri seperti warung-warung Mandiri yang sudah ada (Mandiri: mencari donatur sendiri).

Maka kusarankan (bisanya ya cuma menyarankan): Mulailah dengan Bismillah…. Selebihnya biar Tuhan yang “mencari dana”…

(5)

Proposal pendirian mushola di Kalitengah Lor, Glagaharjo sedang disiapkan. Idenya dengan konsep mushola tumbuh untuk menyiasati keterbatasan dana. Minimal cepat berdiri untuk digunakan.

Sekedar gambaran bahwa lokasi ini menarik untuk tujuan wisata. Tapi masih tampak panas, gersang dan tandus tanpa pepohonan, warga mulai mendirikan kembali rumah seadanya, sulit air, tanpa MCK… Maka mushola diharapkan menjadi “pusat kota” bagi Glagaharjo…

Yogyakarta, 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Yang Tak Berdaya Dan Yang Peduli

6 Maret 2011

Tulisan berikut ini adalah kumpulan dari cerita status (cersta) yang saya tulis di Facebook.

***

Beberapa hari terakhir ini saya menerima amanah berupa barang dan transferan dana dari beberapa sahabat yang minta disalurkan untuk korban Merapi, erupsi maupun lahar dingin. Mereka minta untuk tidak disebutkan namanya. Haha.., terpaksa harus kupenuhi.

(Sebenarnya kalau selama ini saya menyebut nama itu bukan untuk pamer atau narsis, melainkan dalam rangka kompor-mengompor tentang kebaikan dan laporan bahwa amanahnya sudah saya tunaikan).

(1)

Sekecil apapun yang dapat saya lakukan, maka akan saya lakukan (insya Allah). Sama seperti yang dilakukan para relawan di lokasi bencana dan orang-orang lainnya. Saya hanya ingin menjadi bagian keciiil… saja dari kehidupan para korban bencana.

Sejauh ini saya tidak pernah sengaja menggalang dana, melainkan sekedar berbagi cerita ngalor-ngidul. Jika kemudian ada yang mengirim dana untuk disalurkan, maka saya berusaha menunaikan amanah itu sebaik-baiknya.

(2)

Beberapa sahabat mentransfer sejumlah dana yang nilainya tidak kecil. Warung Mandiri dua unit sudah berdiri di Glagaharjo (dari sorang rekan di Papua) dan dua unit lagi sedang disiapkan di Kepuharjo dan Kinahrejo (dari seorang rekan di Jakarta). MCK di Glagaharjo sedang dibangun, juga mushola sedang dirancang.

Glagaharjo, Kepuharjo dan Kinahrejo (Umbulharjo) adalah kawasan yang rata dengan tanah tersapu awan panas dan nyaris berubah menjadi padang pasir.

(Note: Saat ini, tiga bulan setelah hantaman awan panas Merapi, kawasan itu mulai menampakkan nuansa hijau oleh tanam-tanaman yang mulai tumbuh, walau masih sangat sedikit).

(3)

Tambahan material untuk dinding dan jendela huntara (hunian sementara) untuk pengungsi di dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, Magelang, sudah dikirim (dari dua orang rekan entah dimana). Sejumlah rumah lenyap tersapu lahar dingin di dusun ini.

Huntara ini adalah shelter semi permanen berupa rumah panggung terbuat dari konstruksi bambu di atas lahan persawahan. Layak untuk dihuni sebuah keluarga kecil dan dibangun secara swadaya.

(Note: Kalau saya sebut rekan entah dimana, itu karena saya memang tidak tahu dimana sesungguhnya kedua rekan ini berada, tapi transferan dananya saya terima).

(4)

Alat tulis dan permainan anak sudah dibelanjakan untuk dua TK di desa Sirahan, kecamatan Salam, yang sekolahnya lenyap disapu lahar dingin. Sedangkan anak-anak sementara sekolahnya menyebar di beberapa lokasi. Juga baju seragam pramuka untuk siswa SD yang sekolahnya tertimbun material pasir lahar sudah disiapkan. Pengiriman akan segera dilakukan. Tambahan bantuan logistik untuk pengungsi korban lahar dingin segera juga akan disusulkan…

(5)

Tentu saja semua aktivitas distribusi, alokasi dan penyiapan bantuan itu tidak saya lakukan sendiri melainkan bekerjasama dan didukung oleh banyak pihak, baik yang di Jogja maupun yang di lapangan. Khususnya saya banyak dibantu oleh tim relawan mandiri yang komitmen dan dedikasinya tidak diragukan. Sedang mereka adalah orang-orang yang tidak menerima upah dari siapapun malahan patungan untuk membiayai operasi mereka sendiri.

(6)

Bantuan berupa alat komunikasi HT menjadi “senjata” para relawan untuk saling komunikasi tentang perkembangan situasi. Saat ini, saat musim hujan tak menentu, saat jutaan m3 material vulkanik menunggu menggelontor, saat masyarakat di bantaran sungai was-was, saat ancaman banjir lahar dingin bisa tak terkira besarnya…

Maka para relawan tanpa tanda pengenal ini pun siaga full tidak setengah-setengah… memonitor situasi.

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

(7)

Dua hari terakhir ini saya menerima transfer susulan sejumlah dana dari Papua dan Jakarta untuk disalurkan bagi korban bencana Merapi. Rekan dari Jakarta memberi catatan bahwa dana itu sebagai zakatnya. Maka saya merasa perlu memberi “special treatment” terhadap dana zakat ini agar tidak menyimpang dari SOP tentang per-zakat-an yang obyeknya lebih bersifat personal ketimbang prasarana umum.

(8)

Seorang relawan di kaki selatan Merapi yang mendampingi korban Merapi di wilayah Cangkringan melapor bahwa biaya pembuatan MCK membengkak karena atas permintaan warga konstruksinya dibuat lebih permanen. Belum lagi, ada 16 warga desa Glagaharjo yang meminta bantuan dinding gedheg untuk memulai “membangun kembali” rumahnya, sedang mereka tidak punya akses memperoleh bantuan dari luar. Hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(9)

Relawan lain di kaki barat Merapi yang memantau ancaman banjir lahar dingin dan memfasilitasi penyaluran bantuan untuk korban banjir lahar menyampaikan permintaan usulan bantuan untuk penyelesaian 10 huntara (huntian sementara) rumah bambu bagi warga bantaran sungai Pabelan di dusun Prumpung, Muntilan, yang rumahnya lenyap disapu lahar dingin. Juga hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(10)

Ya, ya… Memang ya tidak mungkin, membantu semua pihak yang tak berdaya yang membutuhkan bantuan, sementara sumber bantuan sangat terbatas.

Maka baiknya dicari yang paling mungkin, yaitu mempertemukan mereka yang tak berdaya dengan mereka yang peduli, dengan kesadaran dan keikhlasan atas segala keterbatasan masing-masing… Lalu katakana: “It’s a beautiful world!”.

Yogyakarta, 4 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Sawah Pun Hilang, Sawah Pun Kekurangan Air

3 Maret 2011

Pada tanggal 16 Pebruari 2011 saya sempat numpang lewat ke desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, Magelang. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Sungai Pabelan di wilayah desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, yang semula lebarnya hanya sekitar 10-15 meter, kini menjadi puluhan meter akibat aliran lahar dingin yang memakan areal persawahan di sepanjang bantaran sungai.

(1)

Sungai Putih telah menghancurkan desa Jumoyo dan Sirahan di wilayah kecamatan Salam dengan banjir lahar dingin yang membawa pasir dan batu.

Di sebelah utaranya, rupanya sungai Pabelan juga tidak mau kalah merusak dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, juga kawasan persawahan di sepanjang bantaran sungai… Di desa Gondosuli, kecamatan Muntilan, puluhan hektar sawah yang membentang di sepanjang tepi sungai Pabelan kini musnah.

(2)

Desa Gondosuli kini juga kesulitan air. Tong-tong plastik biru bantuan PMI tampak banyak tergeletak di depan rumah warga. Hampir setiap hari tong-tong plastik itu diisi air oleh mobil pensuplai air. Tentu saja hanya cukup untuk kebutuhan pokok harian. Sedang untuk sawah-ladang tetap harus bergantung kepada kemurahan alam yang membagikan hujan. Di satu sisi sawah-ladang kering, di sisi lain sawah di dekat sungai telah lenyap diterjang banjir lahar. ‎

(3)

Banyak kawasan korban bencana yang hingga kini masih mengalami masalah kesulitan air bersih. Memasuki musim kemarau, pertanian mereka makin terpuruk karena hujan berkurang.

Kebutuhan air bersih harian terus bergantung kepada mobil pemasok air (yang dikelola pemerintah maupun LSM), yang pasti kemampuannya tidak tak terbatas. Memperbaiki infrastruktur air bersih maupun irigasi? Nah, ini yang saya dan lebih-lebih masyarakat hanya bisa berdoa…

Yogyakarta, 19 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Benih Untuk Korban Merapi

3 Maret 2011

Pada tanggal 16 Pebruari 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Pucanganom, kecamatan Srumbung dan desa Sengi, kecamatan Dukun, Magelang, dalam rangka pendistribusian bantuan berupa benih kepada korban tidak langsung dari bencana erupsi gunung Merapi. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Banyak kawasan yang terkena dampak tidak langsung dari letusan Merapi seperti rusaknya lahan persawahan dan perladangan. Untuk mengolah dan menanam kembali perlu biaya mahal. Tidak gampang untuk memulihkan ekonomi.

Sebagian warga menyiasati dengan menanam tanaman yang berbiaya relatif murah tapi cepat menghasilkan, seperti mentimun dan sawi. Itu yang dilakukan warga desa Sengi, kecamatan Dukun. Magelang.

(2)

Alasan warga desa Sengi untuk menanam tanaman yang cepat menghasilkan bukan saja lantaran berbiaya murah, tapi juga desa yang sebelum Merapi meletus adalah kawasan subur penghasil padi, kini menjadi sulit air.

“Banyak sumur warga yang airnya kering”, kata pak Aan seorang warga dusun Ngampel, Sengi. Entah pada lari kemana airnya. Maka untuk menanam tanaman yang umurnya panjang, mereka khawatir tidak akan mampu mengairi hingga tuntas.

(3)

Membantu membangun infrastruktur pengairan tentu tidak sederhana. Ini pekerjaan lintas sektoral. Maka membantu yang mudah dilakukan, kiranya cukup untuk meringankan kesulitan warga.

Itu yang kami lakukan terakhir dengan mengirim benih tanaman sayuran seperti kacang panjang, cabe, terung, dsb. dan kali ini kami kirimkan ke dusun Berokan, desa Pucanganom, kecamatan Srumbung dan dusun Ngampel, desa Sengi, kecamatan Dukun, di wilayah kabupaten Magelang.

Yogyakarta, 18 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tentang Banjir Lahar Dan Anak Sekolah Desa Sirahan

10 Februari 2011

Berikut ini catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, pada tanggal 4 Pebruari 2011 dalam rangka mencari informasi lebih lengkap tentang kemungkinan untuk memberi bantuan bagi sekolah TK dan SD yang hancur terkena hempasan banjir lahar dingin Merapi. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Hari masih siang sebenarnya ketika saya dan teman-teman tiba di desa Sirahan, kecamatan Salam, Jum’at kemarin. Tapi mendung tampak menggelayut merata hingga ke utara ke arah Merapi. Siluet gunung Merapi sesekali membayang.

Saat kami tiba di Sirahan, beberapa orang yang rencananya mau ketemuan ada yang sudah meninggalkan desa. Mendung tebal dan merata adalah tanda-tanda awal untuk siaga penuh bagi masyarakat di sepanjang aliran kali Putih.

(2)

Beruntung kami masih sempat menjumpai dua orang guru TK. Bu Watik (guru TK Pertiwi) yang bangunan sekolahnya lenyap tanpa bekas dan bu Ida (Kepala TK Ibnu Hajjar) yang setengah bangunan sekolahnya hilang dan kini porak poranda. Keduanya terkena terjangan banjir lahar dingin dua minggu yll. Kedua orang guru TK itu pun sudah siap-siap hendak meninggalkan lokasi.

(3)

Bu Watik kini sibuk mengalihkan kegiatan belajar ke-25 anak didiknya ke sebuah rumah warga, tidak jauh dari lokasi TK Pertiwi semula, tapi posisinya lebih aman. Belajarnya sambil duduk lesehan di atas tikar seperti makan gudeg lesehan Malioboro. Alat peraganya seadanya sebab tak satu lembar buku dan sebatang kapur tulis pun selamat dari hempasan lahar dingin.

(4)

Bu Ida harus kami jemput ke tenda posko di tepi sungai agar bisa ngobrol di tempat yang lebih aman yaitu di selasar masjid Sirahan. Kegiatan belajar ke-119 anak didiknya di TK Ibnu Hajjar kini tersebar di tiga lokasi berjauhan ditangani sembilan orang bu gurunya. Ada yang dekat barak pengungsian, ada yang di desa utaranya dan ada yang di selatan desa yang antar keduanya aksesnya terputus. Ketiga lokasi belajar itu tentu saja dalam kondisi darurat.

(5)

Praktis dari kedua sekolah TK itu tak satu pun perlengkapan belajar yang masih dapat digunakan. Walau satu ruang kelas TK Ibnu Hajjar masih nampak utuh, tapi rupanya isi di dalamnya sudah diambil alih digantikan oleh timbunan pasir. Meja-kursinya entah terpindahkan kemana.

Maka bantuan berupa apapun akan sangat berarti bagi anak-anak, begitu kira-kira kata kedua guru itu. Sarana bermain, diharapkannya. Agar anak-anak tidak hanya berlarian tiap hari.

(6)

Datangnya banjir lahar dingin memang begitu cepat. Lebih-lebih tidak disangka bakal sedahsyat itu sehingga tidak melakukan tindakan penyelamatan apapun.

Menurut bu Ida yang pada malam kejadian itu sedang ada di masjid di dekat TK-nya: “Datangnya kurang dari 30 menit sejak dikabarkan dari lereng Merapi akan datang banjir lahar”. Sedangkan TK Ibnu Hajjar sebenarnya tidak berada dekat aliran sungai Putih, bahkan masih terpisah dengan jalan aspal Gulon-Ngluwar…

(7)

Pada malam terjadinya banjir lahar (16/01/11) sebenarnya bu Ida hendak tidur di sekolah TK-nya karena alasan mengungsi dari rumahnya yang ada di dekat kali Putih. Namun “sayang”, kunci sekolahnya tertinggal di rumahnya. Akhirnya pindah ke masjid dekat sekolah bersama beberapa orang lainnya.

Saat banjir itu benar-benar datang, dalam keremangan malam disaksikannya sendiri bagaimana banjir itu menerjang bangunan sekolahnya hingga roboh dan lenyap.

(8)

Bagi bu Ida dan beberapa orang warga desa Sirahan lainnya yang sempat menyaksikan dahsyatnya hempasan banjir lahar, kejadian malam itu sungguh sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Belum lagi kalau ingat betapa semua orang menjadi panik ketika kemudian banjir itu juga mengepung dan nyambangi mereka hingga masuk ke dalam masjid. Sangat dipahami kalau kemudian ada salah seorang anak murid TK yang trauma setelah melihat kejadian itu.

(9)

Bincang-bincang dengan kedua guru TK menjelang sore di selasar masjid itu hendak dilanjutkan sambil jalan-jalan berkeliling melihat lokasi bencana. Namun tiba-tiba tersebar berita bahwa banjir besar sedang bergerak turun dari lereng Merapi.

Serta-merta semua orang waspada dan sebagian bergegas menjauh dari lokasi atau kembali ke pengungsian. Tak terkecuali kedua ibu guru itu pun segera pamit meninggalkan kami. Ya, kami memang harus memahami situasinya…

(10)

Kami jadi kebingungan sendiri. Antara mau langsung meninggalkan lokasi tapi ingat masih ada rencana ke SD Sirahan I yang hendak dituju dan seorang gurunya sudah dihubungi, sementara aksesnya terputus dan harus jalan memutar agak jauh. Antara ingin menyaksikan datangnya banjir lahar tapi sadar kalau sedang berada di zona bahaya di desa Sirahan.

Akhirnya kami putuskan untuk pulang saja meninggalkan lokasi bencana desa Sirahan.

(11)

Sore setelah meninggalkan desa Sirahan, saya memperoleh berita dari pak Kadus Salakan bahwa banjir lahar memang benar-benar datang dan lumayan besar. Beruntungnya jalur aliran lahar yang sudah ada masih mampu menampung aliran banjir sore itu.

Hanya saja kata pak Kadus: “Areal sawah yang tertimbun pasir semakin luas”. Makin terpuruklah petani yang sawahnya mulai menguning…

(12)

Besarnya banjir lahar sore itu bisa diketahui dari makin terputusnya akses menuju desa Sirahan dari arah utara karena tebalnya endapan pasir. Untuk mencapai SDN Sirahan I menjadi lebih sulit.

Esoknya saya peroleh kabar dari Kepala Sekolahnya, bahwa pasir lahar kmbali sudah memasuki ke ruang-ruang kelas. Maka jelas kini ruang kelas tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Mau dibersihkan seperti sebelumnya, jangan-jangan banjir besar datang lagi…

(13)

Besarnya banjir lahar sore itu kembali memutus jalan raya Jogja-Magelang untuk yang kesekian kalinya. Itu karena luberan aliran lahar dingin di kali Putih kembali meninggalkan timbunan material vulkanik dari gunung Merapi berupa pasir dan batu yang memenuhi jalan. Perlu waktu lama untuk membersihkannya. Kembali lalulintas jalan raya terganggu.

(14)

Pulang dari kawasan bencana lahar dingin desa Sirahan, mampir dulu ke kali Krasak yang juga sedang ramai ditonton orang karena banjir lahar. Kami turun ke bawah jembatan.

Sebenarnya bukan untuk melihat banjir lahar, melainkan makan sore nasi brongkos “Warung Ijo” Bu Padmo. Haha, ini bagian menariknya yang harus dicatat.., nasi brongkos mak nyusss…

Banjir kali Krasak sore ini, lebih dari aliran lahar dingin yang selama ini lewat kali Krasak.

(15)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan I yang ruang-ruang kelas sekolahnya dikudeta untuk ketiga kalinya oleh banjir lahar dingin Merapi (ruang kelasnya kini terisi pasir) memohon bantuan sepatu dan seragam pramuka untuk 82 orang muridnya. Semua muridnya kini menyebar di pengungsian, ada kelas darurat, juga numpang ke sekolah lain. Akses menuju sekolah ini harus memutar agak jauh karena jalan utama terputus…

(Puji Tuhan walhamdulillah. Seorang sahabat spontan menyatakan niatnya untuk membantu pakaian seragam pramuka. Sebanyak 82 stel seragam pramuka siap diambil. Sungguh membuat saya terharu. Semoga kebaikan itu, insya Allah akan tercatat di buku besar di langit ke tujuh dan memperoleh balasan yang jauh lebih baik. Matur nuwun kami haturkan)

Yogyakarta, 4-7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Sore Hujan Di Kinahrejo

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng sebagai selingan pengantar week-end…

***

(1)

Hujan deras sore ini mengguyur dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman (desanya Mbah Maridjan). Kabut tebal menyelimuti dan menghalangi pandangan ‘bleger’ (sosok) Merapi. Aliran air hujan yang membawa pasir mengumpul dan menggelontor menuju hulu kali Opak, di lembah Kali Adem…

(2)

Rencana saya untuk menjelajahi desa Umbulharjo sore kemarin gagal. Hujan sangat deras dan lama tumpah di kaki Merapi, termasuk di dusun Ngrangkah 1-2, Pelemsari dan Kinahrejo. Hingga menjelang senja hujan tak juga reda.

Kabut makin tebal, jarak pandang makin terbatas, udara makin terasa dingin. Segelas kopi panas yang disuguhkan Bu Panut (anak pertama Mbah Maridjan, saya berteduh di warungnya) lumayan menghangatkan kebekuan inspirasi…

(3)

Berbeda dengan kawasan Glagaharjo, dusun Kinahrejo desa Umbulharjo dimana almarhum Mbah Maridjan tinggal dan meninggal, jauh lebih ramai pengunjung dan juga lebih banyak bantuan mengalir. Agaknya ke-roso-an Mbah Maridjan cukup menarik dan menjadi alasan untuk datang.

Kini ada puluhan warung berdiri di sana. Bukan saja milik warga asli Umbulharjo, tapi ada juga dari luar desa. Masing-masing mencoba menangkap peluang usaha yang ada, bisnis perwarungan…

(4)

Sebuah warung Mandiri dengan judul “Warung Bu Panut” sedang disiapkan bagi anak pertama Mbah Maridjan itu. Beberapa warung lainnya juga akan disiapkan bagi warga yang memang membutuhkan. Tentu saja tidak bagi semua warga, melainkan sesuai dengan kemampuan donatur yang menjadi sumber dana (hal yang sama juga dilakukan di desa Kepuharjo dan Glagaharjo).

Disanalah aku berdiri…, menunggu hujan tak kunjung reda kemarin sore…

(5)

Belum terlihat tanda-tanda warga desa Umbulharjo yang mulai membenahi apalagi membangun kembali rumahnya. Hampir semua bangunan (bedeng) yang ada adalah warung seadanya.

Namun upaya penghijauan terlihat lebih maju dibanding desa lainnya. Nampaknya bantuan untuk penghijauan memang lebih banyak yang tertuju ke Umbulharjo. Selain karena “nama besar” Kinahrejo dengan Mbah Maridjan-nya, juga kondisi lahan di kawasan itu memang nampak lebih kritis.

(6)

Panggilan hati menjadi relawan terkadang memang tidak masuk akal. Padahal tidak ada keuntungan materi diraih. Seperti Tuti, ibu muda yang anak bayinya baru 15 bulan digendong-gendong ke Umbulharjo, hanya agar bisa turut menemani suami dan teman-temannya sesama relawan bekerja.

Ketika hujan deras tiada reda dan hari hampir malam di Kinahrejo, bayinya pun nekat mau diajak menerobos hujan berbonceng sepeda motor. Uuugh, nggak tega…, akhirnya kuboncengkan naik Jazz…

(7)

Kalau bukan sedang mendung, berkabut dan hujan, bentang alam gunung Merapi terlihat menawan dipandang dari Umbulharjo, Cangkringan.

Kalau dulu sebelum erupsi sosok utuhnya terhalang oleh rimbunnya pepohonan dan pemukiman penduduk. Kini pandangan mata ke arah Merapi terasa lepas bahkan ke seluruh penjuru dengan latar depan kawasan gersang yang mulai sedikit menghijau. Obyek wisata bencana yang sayang untuk dilewatkan…

Yogyakarta, 2-4 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Desa Sirahan Pun Porak-Poranda Oleh Lahar Dingin

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang (Jateng) pada Jum’at, 28 Januari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng…

***

(1)

Jum’at (28/01/2011) siang yll saya harus menuju desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang. Ini desa kedua setelah Jumoyo yang terkena bencana lahar dingin. Lokasinya di baratdaya Jumoyo. Dari arah Jogja saya harus melewati jembatan kali Putih.

Hal yang di luar perkiraan saya adalah jalur di Jumoyo ini muacet minta ampyuuun… Jalan yang tergerus aliran lahar telah menyebabkan badan jalan menyempit. Perlu waktu lebih 1 jam untuk menempuh penggal jalan sekitar 1 km. Huuuh..!

(2)

Bagi yang akan menempuh rute Jogja-Magelang melintas jembatan kali Putih di desa Jumoyo, Salam, sebaiknya mengalokasikan tambahan waktu 1-2 jam. Ada jalan alternatif tapi lebih jauh dan sempit.

Sementara ketika bersamaan dengan turunnya banjir lahar dingin (seringkali sore hari), rute ini ditutup. Lama-tidaknya tergantung besar-kecilnya banjir. Dan urusan buka-bukaan dan tutup-tutupan jalan ini sudah terjadi berulang kali. Maka, ya harus bar-sabbaaar

(3)

Setelah melewati kali Putih, saya bertemu seorang relawan yang akan menemani ke desa Sirahan. Waktunya sangat mepet untuk sholat Jum’at, maka segera ke masjid terdekat dengan lokasi bencana. Masjid yang ada di Sirahan sendiri “libur” karena semua warganya mengungsi.

Ada rasa batin berbeda saat Jum’atan di masjid An-Nur, dusun Tular, desa Seloboro. Itu karena khotbah Jum’at disampaikan dalam bahasa Jawa seutuhnya. Hmmm, sudah lama tidak saya alami…

(4)

Dari desa Seloboro berboncengan sepeda motor dengan seorang relawan segera menuju desa Sirahan yang lokasinya hanya sekitar 2-3 km dari jalan raya Jogja-Magelang.

Setiba di Sirahan, barulah saya tahu bahwa kondisinya lebih buruk dibanding Jumoyo. Jalan desa beraspal Gulon-Ngluar itu telah berubah menjadi sungai. Sepenggal jalan sepanjang lebih 200 m, sebagian tertimbun pasir cukup tebal, sebagian tergerus hingga kedalaman 5 m dari tinggi jalan aslinya.

(5)

Ketika terjadi banjir lahar, sungai Putih yang sebenarnya kecil tidak mampu menanggung beban aliran lahar dingin yang bercampur pasir dan batu-batu besar dalam volume luar biasa.

Maka aliran banjir pun mencari jalannya sendiri dan jalan aspal Gulon-Ngluar dipilihnya. Jalan itu pun tidak cukup, maka meluberlah ke perkampungan desa Sirahan menyapu apa saja dan menghempaskan rumah-rumah penduduk di lima dusun di sepanjang jalan itu… (kelak akan menjadi jalan kenangan)

‎(6)

Hampir 200 rumah di lima dusun (Salakan, Glagah, Jetis, Sirahan dan Gemampang) terkena dampak langsung dari banjir lahar dingin. Sebagian rumah tertimbun dan tenggelam oleh pasir, sebagian roboh, sebagian lainnya hilang terbawa banjir. Praktis semua rumah yang ada di pinggir jalan Gulon-Ngluar yang kini jadi sungai, kondisinya memprihatinkan bahkan lenyap tanpa bekas. Korban jiwa dapat ditekan, karena datangnya banjir lahar sudah diketahui sebelumnya.

(7)

Informasi datangnya banjir lahar dingin dalam skala sangat besar sudah dimonitor para relawan, satu diantaranya pak Sunaryo, Kepala Dusun Salakan. Segera para warga diminta mengungsi (sayang, ada seorang yang “ngeyel” dan akhirnya tewas terseret banjir).

Pergerakan banjir dimonitor dengan pesawat HT sejak di titik tertinggi lereng barat Merapi. Para relawan di sepanjang lintasan kali Putih saling memberi info situasi di lokasi masing-masing.

‎(8)

Sebagai Kepala Dusun, pak Naryo tergopoh-gopoh mengungsikan warganya dibantu para pemuda. Hal yang tidak terduga adalah kecepatan alirannya.

Pak Naryo mencatat, hanya dalam waktu 22 menit tsunami lahar dingin lengkap dengan pasir dan batunya menyapu desa Sirahan dengan dahsyatnya, sejak prtama kali dilaporkan di titik pantauan tertinggi di hulu kali Putih yang berjarak sekitar 22 km. Itu berarti kecepatannya sekitar 1 km/menit atau 17 m/detik. Waoow..!

(9)

Pak Naryo yang menjadi panglima tertinggi dalam situasi kritis di dusunnya, hanya bisa dheleg-dheleg (bengong dan tegang) menyaksikan datangnya banjir lahar yang begitu cepat, begitu dahsyat…

Sambil berdiri di posisi aman, malam itu pak Naryo menyaksikan detik-detik mendebarkan saat rumahnya diterjang banjir.., roboh.., lenyap.., begitu cepat.., dan baru esoknya melihat bekas rumah dan sekitarnya sudah berubah menjadi padang pasir…Top of Form

(10)

Murid-murid SDN Sirahan I baru beberapa hari selesai membersihkan sekolahnya dari endapan pasir banjir lahar dingin yang cukup besar Minggu sebelumnya. Tahu-tahu banjir kedua yang lebih besar datang seminggu berselang.

Maka tunai sudah urusan persekolahan. Ruang kelas kini berisi pasir, perlengkapan berantakan, belajar-mengajar terhenti, murid-murid mengungsi, pekerjaan lebih berat menanti. Beruntung bangunan sekolah tidak rusak berarti.

‎‎‎‎‎SDN Sirahan I, desa Sirahan, kec. Salam, Magelang, nyaris tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin. Sementara ini sekolah masih diliburkan karena ditinggal mengungsi semua muridnya.

(11)

Murid-murid SDN Sirahan I yang adalah warga desa Sirahan kini mengungsi ke barak pengungsian yang jauhnya lebih 3 km dari sekolah. Sebanyak 83 murid kesulitan menuju sekolahnya. Anak-anak itu merasa tidak nyaman untuk numpang belajar di sekolah lain. Anak-anak itu lebih cinta sekolah dan gurunya sendiri.

“Anak-anak kini tidak mau sekolah”, kata bu guru Purwaningsih ‘nglangut’. Anak-anak itu ingin ada kendaraan antar-jemput dari barak ke sekolah pp.

‎(12)

Transportasi menjadi kendala, terutama bagi anak-anak yang ortunya tidak memiliki motor. Jumlah mereka setengah dari jumlah murid. Seperti usul bu guru Purwaningsih: “Anak-anak perlu bantuan transportasi pak”.

Dapat dipahami. Memang tidak mudah membantu dalam bentuk jasa seperti ini. Lebih mudah membantu bentuk barang, sekali dibagi langsung selesai. Sedang bantuan jasa, lebih-lebih berkelanjutan entah sampai kapan, jelas lebih repot mengelolanya terutama bagi donatur personal.

(13)

Ketika terjadi banjir lahar yang pertama, sebenarnya sudah banyak bantuan mengalir untuk sekolah SDN Sirahan I dan murid-muridnya. Namun ketika terjadi banjir lahar kedua yang lebih parah, bantuan berupa buku, tas sekolah dan perlengkapan itu tertunda karena sekolah diliburkan. Murid-murid itu kini lebih butuh perlengkapan sekolah, terutama sepatu dan baju seragam yang banyak tak lagi dimiliki oleh murid yang rumahnya terkena dampak langsung banjir lahar…

(14)

Bangunan sekolah TK Ibnu Hajjar dusun Glagah, desa Sirahan, itu kini isinya porak-poranda dan taman bermainnya hilang, tinggal menyisakan setengah bangunannya. Anak-anak taman nak-kannak itu kini tak lagi punya wahana bermain. Apa boleh buat, alam menghendaki demikian…

Sama seperti hamparan sawah yang sedang mulai menguning itu sebagian kini berubah menjadi dataran pasir. Apa boleh buat, alam pun menghendaki demikian…

(15)

Saya pikir, melihat kondisi TK Ibnu Hajjar di dusun Glagah yang setengah bangunannya dihajar lahar itu sudah membuatku mengelus dada. Lha, begitu tiba di dusun Gemampang saya harus nambahi mengelus jidat.

TK Pertiwi yang ada di sudut pertigaan jalan itu malah bangunannya buablas tak berbekas kecuali secuil dindingnya, tak tahu kemana perginya… Posisinya digantikan oleh segelundung batu besar, yang juga tak tahu darimana datangnya…

(16)

Ya namanya juga anak-anak… Melihat sekolah TK-nya hilang, ya sudah, nggak mau sekolah. Untung ada yang berinisiatif membujuk pindah menempati rumah warga yang masih dapat digunakan sementara pemiliknya mengungsi.

Pak Danang (Kadus Gemampang) mengusulkan bantuan untuk anak-anak (baik yang di TK maupun yang tidak mau sekolah dan tetap di barak), seperti mainan dan buku cerita anak. Saya hanya mengangguk sambil pegang pelipis, mikir maksudnya…

(17)

Segenap warga lima dusun dari desa Sirahan, kecamatan Salam, kini tinggal di pengungsian yang letaknya cukup jauh. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh (tani/bangunan/tambang pasir).

Siang itu saya lihat sebagian dari mereka yang memang benar-benar dibuat tak berkutik oleh bencana, tanpa pekerjaan, duduk-duduk, ngobrol, melamun, di barak pengungsian. Sampai kapan? Menilik potensi ancaman banjir lahar, jelas mereka akan ada di sana untuk waktu lama…

(18)

Anak-anak itu.., anak-anak yang tidak sekolah, bersuka-ria, bercanda, bermain, tertawa riang, di halaman barak pengungsian. Sekarang baru bicara hitungan hari hingga minggu. Sedang naga-naganya mereka akan di sana dengan hitungan bulan… Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupan tiap-tiap keluarga selanjutnya? Bagaimana dengan anak-anak itu dan sekolahnya?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu, saya hanya ingin bagaimana bisa menjadi bagian kecil saja dari kehidupan mereka…

Anak-anak bermain bola di halaman barak pengungsian, sementara para orang tua duduk-duduk menyaksikan dari jauh. Menunggu waktu…, mengisi waktu…, pekerjaan yang tak kan pernah selesai mereka jalani…

(19)

Para korban bencana itu perlu bantuan. Itu pasti. Tapi bantuan apa yang paling dibutuhkan? Riil dan jujur, yang paling dibutuhkan adalah uang..! Kita suka merasa jengah kalau mendengar kata uang.

Uang memang lebih fleksibel, mudah dilipat, juga ditilap. Tapi itulah kenyataan, mereka perlu pengganti penghasilan setelah tidak dapat bekerja. Walau logistik, pakaian dan kebutuhan lain tercukupi, mereka tetap perlu biaya transport, bensin, pulsa, dsb…

‎(20)

Walau uang yang paling mereka butuhkan, tidak serta-merta berarti tidak menerima bantuan non-uang. Apapun rupa bantuannya dan berapapun banyaknya, bantuan akan selalu disambut dengan suka cita. Bahkan sesama dusun dapat saling jujur dan adil dalam mendistribusi bantuan sesuai pesan pemberinya.

Tapi saya (juga banyak donatur, biasanya) lebih memilih untuk mengirimkannya langsung ke posko-posko mandiri yang ada di dusun-dusun ketimbang melalui posko utama.

(21)

Mengakhiri kunjungan saya ke desa Sirahan, sore itu saya berdiri di atas tanggul kali Putih. Nampak jelas permukaan sungai kini berada lebih tinggi dibanding desa Sirahan. Tanggul itu terus ditinggikan dengan mengeruk dasar sungainya dengan alat berat.

Namun setiap kali terjadi banjir lahar dingin, sungai akan penuh kembali. Sedang di atas lereng Merapi sana masih menunggu jutaan m3 material vulkanik siap digelontorkan… Masya Allah..!

(22)

“Kampungku Bencanaku 090111″… Ekspresi warga dusun Gemampang, desa Sirahan, terhadap bencana banjir lahar dingin berskala besar yang pertama, yang telah menghancurkan desanya dan mengantar sebongkah batu besar ke sudut pertigaan jalan desa. (Di batu besar itulah tulisan ekspresi kesedihan itu diabadikan).

Yogyakarta, 29 Januari – 1 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo

30 Januari 2011

(1)

Mengunjungi desa Glagaharjo yang hancur oleh hempasan awan panas Nopember tahun yll, kini mulai terlihat ada denyut kehidupan. Sebagian masyarakat mulai membersih-bersihkan kawasan bekas rumah yang hancur.

Adanya wisatawan yang berdatangan saat hari libur kini menjadi peluang usaha bagi warung-warung seadanya yang mulai bermunculan. Warung Mandiri yang pertama dibangun tiga minggu yll, hanyalah langkah kecil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.

(2)

Keberadaan warung Mandiri (mencari donatur sendiri) desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kini mulai dirasakan hasilnya. Bahkan ada tiga warung lagi kini sudah beroperasi.

Saat hari libur dimana Glagaharjo, seperti halnya desa-desa lain di lereng Merapi menjadi obyek wisata, omset jualannya bisa mencapai Rp 200-300 ribu. Tidak besar, tapi aktifitas ekonomi mulai tumbuh, sementara aktifitas lainnya masih mandek

Tiga petak Warung Mandiri sudah berdiri dan beroperasi melayani para wisatawan bencana Merapi yang kehausan di padang tandus Glagaharjo. Oleh mereka, warung itu disebut warung “Upaya” (upaya untuk melanjutkan kehidupan, maksudnya)

(Note: Saya menyebutnya warung Mandiri – Mencari donatur sendiri – agar kedengaran lebih provokatif untuk ngomporin calon donatur)

(3)

Warung Mandiri yang satu unitnya (termasuk perlengkapan) berbiaya sekitar Rp 1,8 juta itu masih akan dibangun beberapa unit lagi. Lokasinya menyebar, selain desa Glagaharjo, juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Bahkan dua anak Mbah Maridjan juga minta dibantu. Namun masih tertunda karena belum ketemu dengan donatur yang akan membiayai atau mensponsori pembuatannya.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak minta pemerintah? Sungguh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

(4)

Senang rasanya menyaksikan warung Mandiri di desa Glagaharjo itu sudah beroperasi. Saat saya berkunjung, saya disuguhi teh manis hangat oleh bu Suraji, salah seorang warga yang menempati warung itu. Serasa lebih nikmat dari segelas teh biasanya. Mungkin karena gratis…

Sebenarnya ya nggak tega. Tapi itulah ungkapan terima kasih yang tidak harus dinilai dari wujud pemberiannya, melainkan ketulusannya.

(5)

Desa Glagaharjo yang terpanggang awan panas hampir tiga bulan yll kini mulai nampak menghijau oleh rumput, keladi dan pisang. Aneka bibit tanaman baru juga sudah banyak ditanam dan akan terus ditanam.

Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian, sebagian mulai rajin datang ke bekas rumahnya walau sekedar untuk bersih-bersih. Kabar gembira yang beredar adalah bahwa pemerintah Sleman mulai membagikan dana penggantian ternak yang mati.

(6)

Ada yang beda yang dilakukan oleh salah seorang warga bernama Rohmadi. Dengan inisiatifnya sendiri pak Rohmadi memanfaatkan pasir Merapi yang menimbun di rumahnya untuk dibuat batako.

Memang tidak dikerjakan sendiri, melainkan dibantu oleh orang lain yang sudah pengalaman. Niatnya batako itu akan digunakan sendiri untuk membangun kembali rumahnya yang tinggal fondasi. “Tapi kalau ada yang mau beli ya saya jual”, katanya.

Apresiasi untuk pak Rohmadi (beranak satu dan istrinya sedang hamil), dengan kreatifitasnya memanfaatkan timbunan pasir di petak lahannya untuk dibuat batako. Sebuah pemikiran sederhana tapi mletik (cemerlang)…

(7)

Apa yang dilakukan pak Rohmadi dengan membuat batako adalah ide kreatif yang pantas diacungi dua jempol.

Di saat sebagian besar tetangganya masih terpuruk, pak Rohmadi membuka wawasannya. Nalurinya menangkap sebuah potensi sumberdaya. Bahkan sebenarnya dia tidak bisa membuat batako sendiri tapi toh mampu memproduksinya. Minimal untuk membangun kembali rumahnya.

“Kalau bisa, nyuwun (minta) dibantu genting”, katanya.

“Insya Allah”, jawabku.

(8)

Kompas hari ini (29/01/11) menurunkan berita di halaman depan, berjudul “Merapi Mengubah Segalanya”. Itulah kawasan desa Balerante (Klaten, Jateng) dan Glagaharjo (Sleman, DIY) yang akhir-akhir ini sering saya datangi.

Banyak kisah sarat makna kehidupan ada di baliknya. Itu baru dari dua desa di sisi timur kali Gendol. Ada banyak desa di sisi barat kali Gendol yang juga menyimpan cerita yang sama…

‎‎

(9)

Sore itu ada segerombol orang naik mobil bak terbuka turun dari Glagaharjo. Rombongan itu biasanya naik saat pagi. Mereka adalah sekelompok warga dari kota Bantul, selatan Jogja, yang jaraknya lebih 40 km dari Glagaharjo.

Mereka datang lalu ramai-ramai seperti potong padi di sawah, tapi kali ini ramai-ramai membantu warga membenahi desa, rumah, prasarana yang porak-poranda. Kepedulian terhadap derita sesamalah yang mendorong mereka melakukannya.

(10)

Rombongan orang-orang desa itu adalah relawan yang tidak mau disebut relawan. Mereka tidak mewakili lembaga atau bendera tertentu. Mereka datang hanya untuk membantu saudara-saudaranya di lereng Merapi.

Mereka dapat merasakan derita itu. Sebab ketika tahun 2006 wilayah Bantul hancur oleh gempa, warga Glagaharjo melakukan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Bantul. Tidak semua warga dan semua wilayah, tentunya. Tapi apa bedanya? Kearifan lokal itu memang nyata adanya…

(11)

Hari beranjak sore saat saya tinggalkan Glagaharjo, Sleman. Perjalanan sore itu akan saya lanjutkan ke Jumoyo, Magelang, yang sebagian wilayahnya lenyap disapu dan ditimbun banjir lahar dingin.

Sebagian warga Glagaharjo nampak ada yang masih sibuk beres-beres puing rumahnya, sebagian lainnya ada yang mulai kembali ke barak pengungsian. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semua nampak giat di lahan masing-masing. Tidak setiap hari, tapi kesibukan itu sering mereka lakukan.

(12)

Seorang sahabat dari belahan Indonesia Timur mentransfer sejumlah dana dan berpesan agar dibuatkan dua buah warung Mandiri untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Segera saya membantu mempersiapkannya. Betapapun, itu akan sangat membantu memutar roda kehidupan di sana…

Insya Allah, amanah saya tunaikan bekerjasama dengan relawan yang ada di sana (Terima kasih untuk mas Joko Basyuni di Papua).

Yogyakarta, 27-29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

(NB:  Tulisan di atas adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng)

Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin

30 Januari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Gempol,desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang Jateng) pada tanggal 24 Januari 2011. Sebagian besar rumah warga dusun Gempol tertimbun bahkan tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin Merapi yang meluber dari aliran kali Putih.

Aliran lahar dingin di Kali Putih yang terjadi tadi sore (24/01/11)…, tak sebesar minggu lalu yang menghancurkan desa Jumoyo, kecamatan Salam, Magelang (sosok gunung Merapi yang berjarak sekitar 20 km ada di latar belakang).

(1)

Sebagian warga dusun Gempol, desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, masih tinggal di pengungsian akibat erupsi Merapi November tahun lalu.

Saat minggu lalu mereka pulang untuk menengok rumahnya, malah rumahnya pada hilang. Bukan oleh letusan Merapi, tapi oleh sapuan lahar dingin yang menggelontor dari lereng barat Merapi, yang mbludak tak tertampung oleh kali Putih di seputar jembatan jalan raya Jogja-Magelang.

(2)

Kini lebih 500 jiwa warga dusun Gempol tinggal di pengungsian di lapangan depan Balai Desa Jumoyo. Nyaris semua rumah mereka hancur, tenggelam, bahkan hilang. Ada juga yang setengah tenggelam oleh endapan pasir lahar, dan masih tersisa sekitar 39 rumah yang hanya kotor saja. Tapi praktis dusun Gempol kini ditinggal warganya. Ancaman banjir lahar dingin belum selesai, dan entah sampai kapan ancaman itu berhenti..

(3)

Tempat pengungsian itu berupa tenda-tenda berbentuk dome warna putih. Tenda-tenda itu pindahan dari lokasi lain yang sebelumnya digunakan oleh pengungsi korban letusan Merapi.

Ada puluhan tenda berdiri di lapangan depan Balai Desa. Selain warga dusun Gempol, ada juga pengungsi dari dusun Kadirogo, Kemburan dan Dowakan, yang berjumlah lebih 800 jiwa semuanya dari desa Jumoyo.

(4)

Tenda dome warna putih… Dari kejauhan terlihat seperti perkemahan di padang Arafah. Hanya saja lokasi itu dikelilingi oleh hijau pepohonan. Entah sampai kapan mereka akan mampu bertahan di tempat itu. Sedang menyediakan shelter bagi warga kecamatan Cangkringan yang rumahnya hancur oleh awan panas saja sampai sekarang Pemkab Sleman masih kesulitan. Kini ditambah warga kecamatan Salam

(5)

Rombongan lebih 40 sepeda motor berkonvoi ke Balai Desa Jumoyo. Dari tampilannya, ini rombongan orang-orang desa. Dari sepeda motornya, ini pedagang keliling. Keranjang yang terpasang di sepeda motor itu penuh berisi sayur-mayur. Ada apa gerangan?

Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu. Mereka datang tiba-tiba untuk mengirim bantuan sayur-sayuran ke dapur umum pengungsian korban lahar dingin.

(6)

Mereka bukan tukang sayur yang sedang berjualan di pasar. Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Berkonvoi mereka datang, ingin meringankan beban derita sesama. Rasa empati dan peduli yang kemudian menggerakkan hati dan rasa cinta orang-orang kecil itu terhadap sesama.

Sebuah kepedulian dari orang-orang kecil untuk saudara-saudara yang sama kecilnya. Dari mana datangnya cinta, dari lembah Merbabu turun ke desa Jumoyo…

(7)

Sekian kali saya mengunjungi tempat pengungsian, sekian kali pula saya menyaksikan tumpukan pakaian (bekas, layak pakai, bagus) tertimbun, terhampar, berserakan begitu saja seperti tak terurus. Nampaknya pakaian memang bukan kebutuhan mendesak bagi pengungsi korban bencana, termasuk gunung meletus, banjir lahar, juga gempa.

Pada saat-saat tak berdaya, mereka lebih butuh logistik atau bentuk lain yang lebih nyata bagi keseharian di tempat pengungsian…

(8)

Posko utama pengungsian desa Jumoyo tampak tertangani dengan baik. Bantuan pun berdatangan. Namun fenomena lambatnya penyaluran bantuan oleh “alasan prosedural” sering menghantui. Akibatnya bnyak donatur yang kadang-kadang “skeptis” dengan Posko utama.

Donatur merasa lebih puas kalau dapat langsung menyalurkan bantuan ke lokasi yang biasanya dikelola relawan mandiri. Itu juga alasan saya kemarin sore bersama Kadus Gempol turun langsung ke lokasi.

(9)

Pak Sudiyanto, Kadus (Kepala Dusun) Gempol, desa Jumoyo, galau menyaksikan sebuah rumah warganya tinggal menyisakan daun pintu yang masih berdiri. Selebihnya tertimbun pasir setinggi atap sedang atapnya tersapu aliran lahar dingin. Sebagian rumah lainnya bahkan hilang tak berbekas. Termasuk rumah pak Kadus yang tertimbun pasir setengah tingginya.

(10)

Sore itu langit agak mendung dan gerimis mulai turun. Pak Kadus Sudiyanto begitu semangatnya memboncengkan saya dengan sepeda motornya berkeliling dusun menunjukkan rumah-rumah warganya yang kini hilang.

Ada yang tenggelam oleh endapan lahar dingin menyisakan atapnya, ada juga yang benar-benar tersapu dahsyatnya aliran lahar yang membawa pasir dan batu-batu besar. Dusun yang dulu agak jauh dari kali Putih, kini berubah menjadi jalan baru bagi aliran sungai.

(11)

Rute aliran kali Putih itu membelok sebelum menyeberang jalan raya Jogja-Magelang. Namun rupanya aliran kuat lahar dingin Merapi tidak sabar untuk membelok mengikuti aliran sungai yang sudah ada, melainkan lurus saja menyeberangi sekaligus menggerus badan jalan aspal, menghantam pasar Jumoyo dan dusun Gempol seisinya. Begitu berulang setiap kali banjir lahar dingin datang. Maka jalan raya Jogja-Magelang pun berulang terganggu.

(12)

Sekitar jam empat sore itu tiba-tiba orang-orang yang sedang “berwisata” di sekitar jalan raya desa Jumoyo pada berlarian. Petugas keamanan mengumumkan agar orang-orang menjauh karena lahar dingin segera tiba.

Pak Kadus memberitahu saya bahwa sebentar lagi akan melihat datangnya lahar dingin. Kutanya: “Apa aman?”. Dengan yakin dijawab: “Tidak apa-apa, banjirnya kecil”.

Dengan pesawat HT-nya, pak Kadus dapat memonitor gerakan aliran lahar dari Merapi, seberapa besar dan sudah sampai mana.

(13)

Kami memilih lokasi di tanggul timur, dekat pertigaan antara aliran lama dan baru. Semakin lama para “wisatawan” yang datang semakin banyak. Petugas keamanan tidak melarang karena sudah tahu bahwa banjir sore itu tidak besar.

Ketika banjir lahar akhirnya datang, memang tidak sampai meluber keluar dari aliran sungai yang ada sehingga masih aman bagi masyarakat yang ingin menyaksikan. Walau lalulintas Jogja-Magelang sempat ditutup sebentar sebagai tindakan preventif.

(14)

Menunggu datangnya banjir lahar dingin seperti menunggu datangnya pujaan hati. Kata pak Kadus yang merangkap relawan mandiri: “Kalau sudah dapat info ada banjir lahar di atas (Merapi), terus dimonitor laju kepala banjir sambil deg-degan. Kalau nggak datang-datang seperti ada rasa ‘gelo’ (menyesal), padahal tahu bahwa itu bisa jadi petaka…”.

(15)

Dengan melihat sendiri kondisi dusun Jumoyo yang berantakan dan sebagian lenyap, serta warganya yang ingin pulang tapi tidak ada yang dipulangi.

Maka kesanalah saya berencana menyalurkan bantuan (prioritas sementara logistik/sembako). Setidaknya, langsung ke sasaran, sebagaimana diharapkan pak Kadus Gempol. Seorang warga dusun tetangga (Seloiring) juga berharap bantuan langsung ke lokasi. Uugh, nampak ada nada skeptis jika bantuan dikirim ke Posko utama.

(16)

Dusun Seloiring bertetangga dengan dusun Gempol, masih di desa Jumoyo, hanya terpisah oleh jalan raya Jogja-Magelang. Ketika terjadi banjir besar lahar dingin minggu yll. yang telah melenyapkan sebagian dusun Gempol, warga Seloiring selamat tapi nyaris karena ada di batas limpahan kali Putih.

Namun… (lha ini anehnya masyarakat kita), belum mau disuruh mengungsi karena memang belum terbukti terkena bahaya. Sedang potensi ancaman itu nyata di depan mata. Huuh..!

(17)

Masyarakat Gempol pada umumnya adalah buruh tani dan penambang pasir. Entoch, endapan pasir lahar tidak begitu saja dapat ditambang, walau pasir itu kini menghampar nyaris seperti tak kan habis.

“Wah, jadi rejeki bagi warga”, kataku kepada pak Kadus.

“Paling-paling nanti orang luar yang menikmati, warga ya tetap saja begitu…”, jawab pak Kadus sambil memboncengkan saya menuju mobil.

Terasa ada nada getir di baliknya. Saya pun segera pulang membawa serta kegetiran itu…

Yogyakarta, 25-27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Sehari di Glagaharjo

9 Januari 2011

(1)

Siang tadi menuju ke dusun Kalitengah Lor, desa Glagaharjo, Cangkringan, menyalurkan bantuan “Freeport Peduli”. Berombongan membawa seng, bibit tanaman, sekalian menyaksikan penyelesaian sebuah warung contoh, di tengah kawasan terbuka yang masih nampak gersang.

Atas sumbangan seorang rekan, sebuah HT juga disumbangkan bagi operasi Relawan di sana (terima kasih untuk mas Samesto).

(2)

Walau sebagian besar warga Glagaharjo masih berada di pengungsian, bantuan bibit tanaman keras seperti sengon, mahoni, petai, alpokat dan klengkeng, siang tadi diterima warga dengan sangat antusias. Sekedar sebagai langkah awal upaya penghijauan kembali kawasan yang nyaris tak satu pohon pun tersisa oleh hempasan awan panas. Masih dibutuhkan ribuan bibit tanaman apa saja, sementara belum ada tanda-tanda bantuan dari pemerintah…

(3)

Warung contoh itu sangat sederhana. Ukuran 3 m x 3 m, konstruksi bambu, atap asbes, dinding gedek (anyaman bambu), lantai semen. Biaya pembuatan Rp 1,8 juta, termasuk perlengkapan seperti termos, piring, gelas, kompor dan tabung gasnya, tapi belum modal isinya.

Beberapa warung sejenis rncananya akan disiapkan, bukan saja di Glagaharjo, (tapi) juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Tergantung sumberdananya. Berharap pemerintah? Uuugh…

(4)

Sebut saja warung Mandiri (mencari donatur sendiri), “Biayanya murah banget”, kata seorang teman. Benar, karena bukan dibangun oleh pemborong alias tidak ada margin dalam pekerjaan penyiapannya, melainkan bergotong royong oleh sesama relawan dan warga.

Sebuah warung contoh hari ini diselesaikan, insya Allah menyusul berikutnya. Hanya diperuntukkan bagi warga yang benar-benar berjiwa wirausaha. Ya, selektif memang…

——-

(5)

Sebuah batu besar (orang setempat menyebutnya batu”macan”) yang terbawa lahar dingin dari hulu sungai Gendol, kini nongkrong di tengah jalan penghubung antara Bronggang (barat sungai) dan Gadingan (timur sungai) desa Agomulyo, Cangkringan, yang melintas di atas dam sabo.

——-

(6)

Mbah Sarto duduk santai di pinggir makam menghabiskan nasi bungkus makan siangnya. Mengaku sebagai keponakan Mbah Maridjan (tapi sama-sama Mbah), Mbah Sarto kini hampir saban hari ngrekso (menjaga) makam Mbah Maridjan di Glagaharjo.

Menurut Mbah Sarto, leluhur Mbah Maridjan memang berasal dari Glagaharjo walau di sisa usianya Mbah Maridjan menetap di Kinahrejo, desa di sebrang sungai Gendol dan sama-sama berada paling ujung di kaki Merapi.

(7)

Mbah Sarto Tiyoso (keponakan Mbah Maridjan) bangga bisa ngrekso (menjaga) makam Mbah Maridjan di Glagaharjo, Cangkringan. Makan Mbah Maridjan sendiri belum (atau tidak?) dibatu nisan dan nampak retak di seputar tanahnya akibat diguyur hujan terus menerus beberapa hari terakhir ini.

Yogyakarta, 6 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Melepas Matahari Terakhir 2010 Di Kaki Merapi

9 Januari 2011

Pengantar :

Berikut ini penggalan catatan saya saat mengunjungi desa Glagaharjo (kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman) yang berbatasan dengan desa Balerante (kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten) yang saya posting berurutan di Facebook. Kunjungan itu saya lakukan pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 dalam rangka ingin menyaksikan dan melepas matahari terakhir di penghujung tahun 2010.

Kabut sore terakhir di penghujung tahun 2010, di desa Balerante, Kemalang, Klaten (yang berbatasan dengan desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman)…

Yogyakarta, 31 Desember 2010
Yusuf Iskandar

——-

(1)

Bermaksud melepas matahari terakhir tahun 2010, Jum’at senja di kampung Klengon, dusun Kalitengah Lor, desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Ini adalah kawasan pemukiman tertinggi dan terujung di bawah Gunung Kendil, kaki tenggara Merapi. Kawasan ini kini musnah, menyisakan fondasi rumah dan sisa pepohonan yang terbakar awan panas (5/11/2010).

Namun sayang mendung bergelayut rata di angkasa, menutupi bentang Merapi.

(2)

Desa Glagaharjo, Cangkringan (dimana makam Mbah Maridjan berada) terletak di sisi timur kali Gendol. Di seberang barat kali Gendol terbentang kawasan desa Kinahrejo dan Kepuharjo yang nampak rata dan hilang tersapu awan panas. Seluas mata memandang ke arah barat, selatan dan timur adalah hamparan tanah terbuka yang didominasi oleh pemandangan pasir, lahar dingin dan sisa pepohonan mati.

(3)

Ketika kemarin sore saya mengajak seorang relawan mengunjungi desa Glagaharjo (Sleman) dan Balerante (Klaten), Kang Tugi sang relawan, mengajak naik motor saja. Mobil saya titipkan dan saya membonceng sepeda motor yang sudah tidak dikenali mereknya, yang suaranya mbeker-mbeker.., lebih 10 km mengikuti jalan menanjak dan…, blusukan ke bekas jalan-jalan desa.

Rupanya itulah alasannya, agar kami bisa blusukan di jalan-jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor…

(4)

Kawasan Glagaharjo dan Balerante masih nampak suram, lebih-lebih cuaca sore mendung seperti mau hujan sehingga bleger (sosok) Merapi menjadi tidak nampak. Padahal lokasi itu berjarak 5 km dari puncak.

Menyusuri jalan-jalan desa dengan sepeda motor, napak tilas dusun Klangon dan Kalitengah Lor yang merupakan kawasan terujung yang kini “hilang”, hingga masuk ke wilayah TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Bak penampungan dan sumber air goa Jepang masih ada di sana.

(5)

Kini kawasan Glagaharjo dan Balerante menjadi obyek tujuan wisata, seperti halnya Kepuharjo dan Kinahrejo. Lebihlebih di musim liburan ini, wilayah itu menjadi sangat padat pada siang hari. Sedang jalan-jalan desa yang ada umumnya sempit, maka bisa dibayangkan suasana yang padat oleh pengunjung termasuk sepeda motor dan mobil yang berdesak-desakan.

Keadaan ini nampaknya belum diantisipasi, bahkan hingga kini belum tertangani oleh pihak manapun.

(6)

Pihak perangkat desa belum sempat memikirkan desa yang kini ditinggalkan dan nyaris seperti “tak bertuan”. Apalagi perangkat pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi.

Dapat dimaklumi kalau pihak desa masih berfokus menangani warganya yang masih mengungsi karena mau kembali tidak lagi punya tempat berteduh, juga bagaimana masa depan mereka. Akibatnya tidak ada aparat keamanan yang turun ke kawasan itu. Maka tenggang rasa sesama pengunjunglah yang menjadi pengendali.

(7)

Terlihat beberapa bedeng sangat sederhana di beberapa lokasi di Glagaharjo. Sekedar atap peneduh dari plastik atau dinding gedek (bambu). Itu adalah bedeng yang digunakan oleh sebagian warga yang sebenarnya masih di pengungsian untuk membuka lapak berjualan makanan dan minuman seadanya. Sekedar memanfaatkan peluang usaha kecil-kecilan di lokasi wisata dadakan. Wisata bekas letusan Merapi. Tapi itu sebenarnya menjadi titik awal bangkitnya aktifitas ekonomi.

(8)

Relawan yang menemaniku berujar: “Saya kepingin membantu warga yang mau jualan dengan membuatkan warung yang lebih layak, sekalian dapat untuk berteduh pengunjung”.

Memang di kawasan seluas itu nyaris tidak ada bangunan yang masih tegak berdiri dan semua pepohonan mati. Para relawan sedang mengumpulkan material-material bekas yang masih dapat digunakan. Dan itulah salah satu info yang saya cari dalam kunjungan kemarin: Apa yang paling dibutuhkan saat sekarang ini.

(9)

Satu dua warga Glagaharjo kalau siang memang berjualan makanan-minuman bagi pengunjung. Satu dua warga mengumpulkan puing-puing rumahnya. Ada juga yang sudah mencoba mendirikan sebarang bedeng asal bisa ditempati dulu, sehingga bisa memulai beraktifitas di tempat semula.

Sekian lama tinggal di pengungsian tanpa kepastian kapan pulang tentu menjemukan, juga mereka menjadi tidak produktif. Berharap rumah bantuan, entah kapan turun dari langit…

(10)

Hal lain kemudian saya catat sebagai kebutuhan mendesak mereka adalah material bangunan untuk sekedar dapat mendirikan tempat berlindung sederhana, tidak permanen. Hanya agar mereka dapat memulai kehidupan di tempat asalnya, sebagai petani dan peternak. Atap, dinding dan kelengkapan seperlunya tentu akan sangat membantu.

Sekali lagi, berharap rumah? Ah.., berbiaya tinggi, sedang bantuan yang pernah dijanjikan entah kapan menjelma.

(11)

Hari makin petang dan awan gelap masih bergelayut di angkasa kaki Merapi ketika saya berada di kawasan TNGM. Rumpun-rumpun bambu yang dulu rimbun menghijau, kini kering, meranggas, roboh dan mati. Menyisakan pemandangan lepas ke arah gunung dan ke arah dataran rendah.

Masih ada bak penampung air. Perbaikan jaringan pengairan yang pasti perlu biaya banyak, belum mendesak saat ini mengingat warga belum kembali, walau tetap perlu direncanakan.

(12)

Di antara kegersangan tanpa satu pohon tinggipun tersisa melainkan kering dan mati seluas mata memandang, kini tunas-tunas tanaman pisang, keladi dan jenis rerumputan sudah mulai nampak menghijau. Memang akan perlu waktu untuk mengembalikan kerimbunan dan kehijauan Glagaharjo dan Balerante. Sedang kesuburan pasti akan meningkat. Maka penghijauan adalah program yang sedang digiatkan oleh para relawan di sana…

(13)

Para relawan yang sekarang “membina” kawasan Glagaharjo dan Balerante, saat ini sedang giat mengumpulkan bibit aneka tanaman keras. Tujuannya guna membantu mempercepat penghijauan.

Mengharapkan program pemerintah, mereka “no comment” (tidak perlu diterjemahkan apa artinya). Lebih baik langsung bergerak mengusahakan bibit tanaman apa saja sebisanya, bahkan meminta jika perlu dan mencari sendiri…

(14)

Jumat sore itu saya lihat beberapa bibit tanaman sudah ditanam. Mahoni, sengon, kelapa, talok (kersen), gayam, pendeknya bibit apa saja. Ada yang menyumbang tanaman buah seperti mangga dan rambutan. Bibit kelapa adalah hasil meminta karena memang tidak ada dana untuk membelinya. Bahkan bibit pohon gayam dan talok mereka cari sendiri.

Maka bantuan bibit tanaman adalah yang mereka harapkan sekarang. Bibit itu ditanam dimana saja di seluas kawasan gersang itu…

(15)

Menjelang maghrib saya tiba di dusun Sambungrejo, dusun paling ujung atas di desa Balerante, Klaten. Tempat yang saya tuju adalah sebuah masjid yang sedang direnovasi. Dari kejauhan masjid kecil ini, Al-Barokah namanya, nampak jelas berdiri megah. Dari pelataran masjid itu kupandang lepas kawasan gersang ke arah dataran rendah.

Dalam hembusan angin sejuk bertiup cukup kuat, kulepas kepergian senja terakhir tahun 2010… Subhanallah…

(16)

Di sebelah masjid kecil itu ada sebuah rumah yang nampak mulai ada penghuninya. Di sana saya bertemu dengan pak Barjo, takmir masjid itu, satu dari sedikit warga Balerante yang sudah mulai kembali.

Dari pak Barjo saya tahu, bahwa rupanya memang menjadi prioritas Pemkab Klaten untuk memperbaiki masjid lebih dulu (setelah sebelumnya dikunjungi oleh Bupatinya…). Pak Barjo juga sekalian menunggu dan merawat ternak sapi penggantian dari pemerintah untuk sapi-sapinya yang mati.

(17)

Di rumah yang masih terlihat baru diperbaiki itu pak Barjo tinggal bersama kedua orang tuanya, Mbah Sudi dan istrinya yang jelas menampakkan wajah tuanya. Di senja yang berhawa sejuk itu mbah Sudi sedang duduk santai menghangatkan badan dengan menyalakan api unggun di hadapannya.

Melihat kedatanganku, mbah Sudi dan istrinya bangkit menghampiri dan menyalamiku. Tidak tampak kesusahan di mukanya, melainkan aura damai terpancar di wajahnya. Ah…

(18)

Jejak sapuan wedhus gembel dapat saya temukan di seputaran rumah mbah Sudi dan masjid di dekatnya. Dua sepeda motornya yang kini tinggal rangka, masih teronggok di depan rumahnya. Horn (pengeras suara) masjid tergeletak bak besi tua, juga mustoko (kubah) masjid yang lama, selain onggokan kayu seperti sisa kebakaran.

Ketika kutanya apa kegiatannya sekarang. Jawabnya lugu: “Inggih pados suket kangge pakan sapi…(ya cari rumput untuk pakan sapi)”.

(19)           ‎

Antara desa Glagaharjo, kabupaten Sleman dan Balerante, kabupaten Klaten, memang hanya terpisah sebuah jalan desa. Tapi bagaimana kedua Pemkab itu menangani masyaakatnya, nampaknya masyarakat Glagaharjo pantas iri dengan tetangganya di Balerante.

Saat penggantian ternak mati masih angin sorga di Glagaharjo, tetangganya di Balerante sudah sibuk mencari rumput untuk sapi-sapi yang sudah ada di kandangnya, bangunan rumah contoh sudah mulai dibangun, termasuk masjid, dsb.

(20)

Saat warga Glagaharjo belum sempat terpikir melakukan penghijauan, kepada warga Balerante sudah dibagikan bantuan ribuan bibit tanaman. Para relawan kini berupaya mencari bibit tanaman bagi desa Glagaharjo dimana pihak pemerintah belum juga mulai bergerak “menghidupkan” desa itu.

Peran para relawan yang tidak menerima upah sepeserpun dari siapapun layak diapresiasi. Mereka yang kini aktif ngupokoro (mengelola) kawasan yanlg seoah tak bertuan…

(21)

Senja semakin remang, saya turun ke dusun di bawahnya, Banjarsari. Di sini lebih banyak warga yang kembali dari pengungsian. Mereka perbaiki rumah seperlunya asal dapat ditempati dulu. Beberapa warga terlihat sedang membuat api unggun di pinggir jalan untuk menghangatkan suasana yang sejuk, di depan masjid Al-Fatah yang juga baru selesai direnovasi.

Di masjid ini pula kusempatkan bersujud guna menghormati waktu maghrib terakhir tahun 2010…

(22)

Hari semakin gelap, saya menuju ke sebuah rumah yang kini dijadikan Posko Banjarsari, desa Balerante. Pak Darmini, ketua Posko menerima kedatangan saya dengan sangat baik. Kami bertukar pikiran tentang penanganan pasca bencana.

Saya tahu kenapa sebagian warga Balerante sudah kembali dari pengungsian, karena rupanya mereka digilir ronda guna menjaga ternak penggantian pemerintah yang sudah mereka terima, juga harta benda yang msh ada disana.

(23)           ‎

Posko Banjarsari bukan sekedar Posko penerimaan bantuan, tapi juga membuka dapur umum. Benar-benar dapur untuk umum karena siapa saja boleh ikut makan di situ. Bahan makanannya berasal dari bantuan logistik dari siapa saja. Tukang masaknya juga siapa saja yang mau. Dan rupanya selalu ada relawan yang datang dan pergi silih berganti dari mana-mana yang membantu membersihkan desa, menanam pohon, dsb. Semua ikut makan di dapur umum.

(24)

Jum’at malam itu, malam tahun baru 2011, bu Darmini menyuguhkan menu istimewa. Nasi putih, sayur daun ubi dan mie instan rebus. Semua disajikan dingin. Minuman tehnya saja yang hangat. Tapi nuikmatnya… Wow! Saya “terpaksa” nambah makan sayur daun ubi bumbu ndeso.

Soal wujud, rasa dan harganya tidak ada apa-apanya dibanding menu tahun baru di tempat-tempat hiburan. Tapi soal kenikmatan dan kesyukuran, tidak serta-merta harus berbanding lurus..

(25)

Bermalam tahun baru di kaki Merapi yang sejuk tapi gersang, sepi tapi tenteram, sederhana tapi bermakna… Sementra di tempat lain berbiaya tinggi tapi full “mudharat”, di kaki Merapi bergantung bantuan orang lain tapi sarat hikmah.

Apakah di kaki Merapi lebih baik daripada di tempat lain? Bukan itu soalnya, melainkan bagaimana menempatkan diri ke dalam medium yang sesuai menuju titik pencapaian. Perkara titik itu baik atau buruk, ya monggo (silakan)…

(26)

Sambil mnikmati sayur daun ubi dan nyruput teh panas, bercengkerama dengan pak Darmini dan beberapa warga Balerante…

Tiba-tiba ada yang nyeletuk: “Malam ini malam tahun baru lho…”.

Kata salah seorang: “Ya apa bedanya tahun baru dan tidak”.

Iya, ya, apa bedanya..? Ada seribu jawab dari perspektif berbeda. Tapi yang pasti kalender ruang tamu harus diganti. Itu pun kalau ada yang memberi gratis bergambar bintang film cantik, kalau tidak ya di pasang di jumbleng.

(27)

Hari sudah malam dan gulita ketika saya meninggalkan Balerante. Mendung di langit mulai agak tersingkap. Menyusuri jalan desa perbatasan provinsi Jateng-DIY dan memandang ke arah dataran rendah di selatan terkesan lepas dan luas.

“Beruntung” tiada lagi rumah warga dan pepohonan, sehingga bentang kota Yogyakarta di malam hari terlihat indah dengan kerlap-kerlip lampu kota, yang pasti sedang sibuk menyongsong detik-detik pergantian kalender…

(28)

Dalam perjalanan pulang, berhenti di sebuah warung di timur perempatan Manisrenggo, Klaten. Relawan yang menemani perjalanan saya hari itu mengajak mampir ke warung langganannya. Di sana dijual nasi kucing spesial.

Nasi kucing? Ya, nasi seukuran jatah makan kucing yang dibungkus kertas dengan lauk sesendok sambal belut. Harganya Rp 1000,- per bungkus. Wow..! Saya makan sebungkus, bukan karena lapar tapi ingin mencicipi rasanya…

(29)

Sambal belut terbuat dari belut goreng ditumbuk, dibumbu bawang, cabe, garam lalu disangrai. Mirip roa ikan cakalang dari Manado. Ketika dimakan dengan nasi putih (apalagi kalau hangat). Uhmm..!

“Kali ini tidak terlalu pedas. Cabenya mahal”, kata si penjual. Oo.., tak terbayang bahwa harga cabe akan berpengaruh terhadap kualitas nasi kucing. Kalau bukan karena sudah kenyang makan nasi sayur daun ubi, ingin sekali nambah dua takaran kucing…

(30)

Perjalanan saya ke Glagaharjo-Balerante di kaki tenggara Merapi pada Jumat sore terakhir di penghujung tahun 2010 diakhiri dengan obrolan ngalor-ngidul di sebuah warung di Manisrenggo bersama sesama penggemar nasi kucing. Khas suasana warung angkringan… Makannya tak seberapa, tapi berlama-lama nongkrongnya itu…

“Selamat Tahun Baru 2011”.

——-

Catatan Harian Untuk Merapi

28 Desember 2010

Pengantar :

Tidak seperti ketika kota Yogyakarta dilanda bencana gempa tahun 2006, waktu itu saya sempat menuliskan catatan bersambung dan saya kirimkan ke teman-teman melalui milis/email. Kali ini saya tidak sempat membuat catatan khusus secara bersambung tentang bencana meletusnya gunung Merapi. Kebetulan saya sedang berada di luar daerah ketika Merapi pertama kali meletus tanggal 26 Oktober 2010, sehingga saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil di handphone.

Selain itu, sejak ada fasilitas media jejaring sosial bernama Facebook, saya merasa lebih enjoy dengan menuliskan penggalan-penggalan catatan berupa status di Facebook. Alasan utamanya, lebih mudah dan praktis untuk saya lakukan kapan saja, dimana saja dan sambil apa saja, tanpa saya harus membuka laptop.

Akan tetapi menyadari bahwa tidak semua teman saya memiliki akun di Facebook, maka terpikir untuk mengumpulkan catatan status Facebook saya, untuk saya share melalui milis/email. Catatan-catatan pendek yang lebih menyerupai catatan harian tentang aktifitas, pikiran, renungan, termasuk guyonan saya terkait bencana meletusnya Merapi ini sepertinya dibuang sayang. Lalu kemudian saya susun dalam beberapa seri setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca. Semoga dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur, syukur-syukur membangkitkan empati.

Catatan Harian Untuk Merapi (1)

28 Desember 2010

(1). Merapi Juga Tak Pernah Ingkar Janji

Tepat jam 6:05 WIB, sesuai janjinya, pesawat Merpati MZ 708 lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar (mungkin karena Jogja adalah titik awal penerbangan panjangnya hari ini sehingga bisa tepat waktu). Ada suguhan mie goreng di pesawat, walau agak-agak gosong tapi lumayan buat ganjal karena tadi terlambat bangun sehingga buru-buru.

Merpati tak pernah ingkar janji… Tapi justru khawatir kalau Merapi yang (konon) juga tak pernah ingkar janji…

(Makassar, 26 Oktober 2010)

——-

(2). Mengantisipasi Hujan Abu Merapi

Awas Merapi… Mengantisipasi kemungkinan hujan abu Merapi, malam ini anak lanang dan wedok saya minta memotong-motong kardus seukuran lubang angin yang ada di rumah (sebenarnya sudah saya siapkan tapi entah pada kemana). Jika abu Merapi benar-benar berkunjung, maka tinggal memasangnya, kalau perlu diplester.

Sejak kemarin juga sudah disiapkan logistik secukupnya, termasuk lampu darurat dan briefing. Tempat paling aman ketika terjadi letusan gunung berapi adalah di dalam rumah.

(Majene, 26 Oktober 2010)

——-

(3). Kewaspadaan Tinggi

Prinsip yang harus dipegang dalam menyikapi, mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi setiap ancaman datangnya bahaya/bencana adalah menganggap (berasumsi) bahwa ancaman itu akan benar-benar terjadi (seperti yang dilakukan oleh Tim Anti Teror). Maka kita akan selalu berada dalam kewaspadaan tingkat tinggi.

(Majene, 26 Oktober 2010)

——-

(4). Sugeng Tindak Mbah Marijan

Mbah, mbah…, mbah Marijan… Kesetiaan akan pengabdian Sampeyan telah mengajari banyak orang. Keikhlasan Sampeyan mengemban amanah telah menginspirasi banyak orang. Tapi ke-roso-an Sampeyan juga telah melenakan banyak orang, sehingga banyak yang terpaksa meninggal dunia di rumah Sampeyan… Semoga semua menjadi hikmah.

“Sugeng tindak mbah, kondur dateng Ingkang Maha Kagungan Merapi…”.

(Mamuju, 27 Oktober 2010)

——-

(5). Gerimis Abu Merapi

Gerimis (belum hujan) abu vulkanik Merapi mulai beranjangsana nyambangi kota Jogja sejak jam tiga pagi tadi. Tidak sia-sia beberapa hari yll saya menyuruh anak lanang dan anak wedok untuk bergotong-royong memotong-motong kardus, karena pagi ini mereka bergotong-royong lagi memasangnya menutup lubang-lubang rumah.

Highly appreciated for your very good teamwork kids…”. Teriring harap, gerimis tidak berubah menjadi hujan…

(Karossa, 30 Oktober 2010)

——-

(6). Tiba Kembali Di Jogja

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya tiba kembali di Jogja. Setelah menempuh perjalanan poanjang Jogja-Makassar-Mamuju-Palu-Makassar-Surabaya-Jogja, selama lima hari. Bandara Adisutjipto memang katanya tadi pagi sempat ditutup sebentar. Alhamdulillah juga, masih sempat merasakan rumah yang ngeres (apa ya bahasa Indonesianya? Sedikit kotor oleh debu, begitulah…).

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (2)

28 Desember 2010

(7). Bantuan Menumpuk Di Posko Tridadi

Siang ini ke Posko Merapi di Tridadi, Sleman, mengedrop bantuan untuk korban bencana Merapi dari Freeport Peduli. Terlihat bertumpuk-tumpuk bantuan bertimbunan. Entah kapan dan bagaimana akan dapat segera disalurkan kepada yang berhak. Semoga semua terbingkai dalam semangat untuk menjalankan amanah, dan tidak harus disertai prasangka…

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(8). Menuju Pos Pengungsian Gulon

Dari Posko Tridadi, Sleman, menuju ke pos pengungsian desa Gulon, kecamatan Salam, kabupaten Magelang. Di pos ini berkumpul lebih 3000 jiwa (sekitar 750 jiwa di antaranya anak-anak, balita, bayi, ibu hamil) yang berasal dari empat desa dari wilayah kecamatan Srumbung. Mereka menghindar dari desanya yang masuk kawasan rawan bencana di sisi baratdaya Merapi. Jumlah pengungsi bertambah setiap saat seiring aktivitas Merapi. Entah sampai kapan mereka ada di sana.

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(9). Pos-pos Yang “Seret” Bantuan

Pos pengungsian desa Gulon ini dipilih setelah sebelumnya di-survey : pos-pos mana yang bantuannya “seret”. Itu biasanya di daerah yang kurang terkenal (baca: jarang disebut media). Bantuan dari luar memang banyak tertuju ke wilayah kecamatan Pakem, karena memang daerah itu yang banyak disebut media. Maka tidak heran kalau pak Lurah Gulon mengeluh permintaan dropping dari “pusat” sangat minim, padahal di sana terlihat menumpuk. Ini yang terkadang menimbulkan prasangka…

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(10). Memasak Martabak Telor

Anak-anak bermain bola, pasir dan berlarian. Orang-orang tua duduk-duduk di bangku menyaksikan. Ada embah-embah bersandar ke dinding sekolah, melamun entah apa. Beberapa orang lainnya ada yang ngobrol, ada yang ML (melamun & leyehan) di ruang-ruang kelas. Sementara ibu-ibu warga desa Gulon lainnya memasak martabak telor yang digoreng di atas cetakan. Bau gorengannya, hmmm… Seorang ibu mempersilakan untuk mencicipi. Tapi, yaa…masak tega… (walau sebenarnya kepingin)

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——–

(11). Peduli Merapi

Dengan keterampilannya ber-freestyle bola basket, anak lanang dan teman-temannya menggalang dana peduli Merapi dengan cara demo di mall, tempat keramaian dan  perempatanan jalan (yang terakhir itu saya sarankan untuk distop).

Intinya: siapapun bisa melakukan apapun untuk peduli. So, Anda punya keterampilan? Let’s do something. Tidak harus terampil dengan keterampilan Anda, sedang mereka yang tidak bisa main dan punya gitar pun bisa menggitar di perempatan jalan, dan…dapat uang.

(Yogyakarta, 2 Nopember 2010)

——-

(12). Waspada Abunya

Sementara Awas Merapi, Waspada abunya yang beterbangan… Walau nampaknya udara bersih, tapi beberapa hari ini terasa ada sesuatu di tenggorokan. Ketika pagi meludah atau (maaf) membuang lendir dari tenggorokan, tampak warna kehitaman kotor di ludah atau lendir yang terbuang.

Beruntung tubuh kita ini memiliki sistem penyaringan udara yang bekerja otomatis. Jika tidak, seperti mobilku yang tidak bisa di-start gara-gara bensin macet karena saringannya kotor.

(Yogyakarta, 2 Nopember 2010)

——-

(13). Meningkatkan Ke-Awas-an

AWAS Merapi..! Berarti Merapi harus diawasin… Sejak letusan pertama 26 Oktober yll, semakin hari Merapi semakin bergairah melepas energi erupsinya, membagi abu vulkanik, mengumbar wedhus gembel (awan panas), menggelontor lava menjadi lahar. Letusan hari ini lebih besar. Kawasan rawan bencana pun diprluas. Maka warga di luarnya, seperti Jogja, perlu meningkatkan ke-AWAS-annya. Prinsipnya tetap: anggap bahwa ancaman itu akan benar-benar terjadi, agar tetap waspada…

(Yogyakarta, 3 Nopember 2010)

——-

(14). Jangan Lengah Terhadap Merapi

Kota Yogyakarta berjarak sekitar 30-40 km dari Merapi. Jarak yang secara “teoritis” cukup aman terhadap dampak letusan Merapi. Akan tetapi, ke-WASPADAAN-an, ke-SIAGA-an dan ke-AWAS-an terhadap Merapi tidak boleh lengah. Sebab karakter letusan Merapi tidak terduga, juga dampaknya. Tidak perlu panik, melainkan jangan lengah terhadap kemungkinan situasi yang memburuk dampaknya. God bless you, Jogja… Insya Allah…!

(Yogyakarta, 3 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (3)

28 Desember 2010

(15). Waspada Banjir Lahar Dingin

Jogja hujan derasss… Semoga membantu ngerih-rih (meredakan) “kemarahan” Mbah Merapi… Setidak-tidaknya, udara Jogja yang kotor oleh taburan abu vulkanik menjadi agak menyegarkan. Tapi tetap waspada banjir lahar dingin…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(16). Berdoa Di Waktu Kritis

Jogja hujan deras, petir menyambar-nyambar, di tengah rasa takut terhadap bencana Merapi… Wahai warga Jogja, inilah salah satu saat terdekat dengan Sang Maha Penguasa Jagat Seisinya, termasuk isinya Merapi. Maka tundukkan hati dan  pikiran sejenak, lalu berdoa. Sisipkan doa apa saja, termasuk kalau ingin kaya, dapat jodoh, naik pangkat, naik gaji, naik haji… (ini serius). Manfaatkan waktu kritis ini. Syukur kita memperoleh peluang luar biasa ini…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(17). Menulis Makalah

Puji Tuhan walhamdulillah, sambil menemani Mbah Merapi terbatuk-batuk, dalam cuaca hujan deras dan petir menyambar-nyambar siang tadi, sebuah makalah berhasil diselesaikan untuk bahan seminar besok pagi. Topiknya tentang berbahasa tulisan di dunia maya. Lhadalah…, gak ono hubungane karo tambang babar blasss…(tidak ada hubungannya dengan ilmu tambang sama sekali). Yo wis.., tiba saatnya mendongeng berbagi pengalaman…

(Madurejo – Sleman, 4 Nopember 2010)

——-

(18). Musim Gunung Tidak Normal

Lagi musim gunung tidak NORMAL. Ada 20 saudaranya Merapi menggeliat. Berita yang sebenarnya “normal” itu menjadi terkesan “menakutkan” kalau penjelasan di media tidak jelas. Tapi media memang suka begitu.

Contohnya, running text di sebuah TV. Katanya: ‘anak’ gunung Krakatau meningkat aktivitasnya. Lho, kapan ibu Krakatau melahirkan? Padahal maksudnya adalah gunung ‘Anak’ Krakatau. Khawatir saja kalaou nanti ditulis gunung Krakatau ‘anak’..

(Yogyakarta, 4 Nopember 2010)

——-

(19). Gerimis Pasir Dini Hari

Tengah malam di Jogja.., malam Jum’at Pahing, air gerimis telah mereda, geluduk bersahutan. Nun jauh di utara terdengar lembut gemuruh erupsi Merapi dan hujan air telah berganti dengan gerimis pasir Merapi… Lewat tengah malam…, gerimis pasir terdengar semakin lebat. Bukan lagi…tik-tik-tik bunyi hujan, melainkan…krutuk-krutuk-krutuk

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(20). Penggalangan Nasi Bungkus

Rencana mengisi seminar pagi ini, tentang berbahasa tulisan di dunia maya, dibatalkan. Kawasan tempat seminar (kampus UPN “Veteran” Yogyakarta) sedang disibukkan sebagai tempat pengungsian sejak memburuknya dampak letusan Merapi tadi malam. Simpan dulu file Powerpoint, diganti dengan penggalangan nasi bungkus…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(21). Ketika Dapur Umum Belum Siap

Wajah-wajah lelah, letih, bingung, ngantuk, terpancar dari lebih 700 pengungsi yang hari ini ditampung di Auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta. Mereka sejak dini hari tadi dievakuasi dari berbagai barak pengungsian di utara Jogja yang harus menghidar dari radius 20 km.

Dapur umum belum bisa segera disiapkan, sehingga nasi bungkus adalah solusi termudah sementara ini. Itu yang terjadi di banyak tempat pengungsian dadakan di wilayah kota sejak dini hari tadi.

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(22). Ketika Pengungsian Harus Berpindah-pindah

Hingga Jumat siang ini jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY terus bertambah. Sebagian adalah anak-anak yang dipindahkan dari Stadion Maguwoharjo yang kondisinya terbuka dan kurang terlindung. Tikar, makanan bayi, pakaian dalam, adalah sebagian kebutuhan yang mendesak, setelah makan tentu saja…

Situasi pengungsian yang berpindah-pindah seiring status Merapi, bisa dipahami akan “membingungkan” Posko Utama dalam mendistribusikan bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(23). Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Jumlah pengungsi yang datang ke Auditorium UPNVY semakin banyak. Siang ini jumlahnya sudah lebih 1200 orang dan diperkirakan masih akan terus bertambah sebab mereka yang masih ada di bagian utara Jogja segera harus menjauh dari Merapi. Kini pengungsian banyak terpusat di kampus-kampus yang ada di kota Jogja. Bantuan pun terus berdatangan, dari swasta dan personal. Perpindahan mendadak ke berbagai tempat ini pasti akan menyulitkan manajemen distribusi bantuan…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(24). Terbangunnya Kekompakan

Melihat orang-orang muda itu begitu kompak bahu-membahu bekerjasama mengelola bantuan bagi pengungsi, indah sekali tampaknya. Tapi…, masak sih kekompakan itu hanya dapat terbangun ketika ada bencana? Sedang ketika suasana aman dan tenteram mereka kembali timpuk-timpukan? Jika demikian, jangan kemudian menyalahkan Tuhan, kalau….

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

(25). Waspada Banjir Lahar Di Kali Code

Siang ini Kali Code yang membelah kota Jogja sempat nyaris penuh membawa lumpur lahar dingin. Masyarakat di lembah Code sudah bersiap-siap mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Kentongan tanda bahaya dipukul bersahut-sahutan, sebagian harta benda diamankan. Tapi alhamdulillah…air kemudian surut, masyarakat pun lega. Namun semua paham bahwa ancaman belum sepenuhnya berlalu…

(Yogyakarta, 5 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (4)

28 Desember 2010

(26). Bantuan Dari Papua

Rencana mau distribusi bantuan hari ini tertunda, karena barang-barang yang mau dibagi terlambat tiba. Gara-gara pesawat tidak bisa mendarat di Jogja, sehingga harus via bandara Semarang lalu diangkut lewat darat. Ini bantuan dari teman-teman di Papua yang berasal dari Jogja dan sekitarnya yang digabung dalam program Freeport Peduli. Insya Allah, baru besok bisa didistribusikan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(27). Perlu Dukungan Logistik

Akibat letusan besar malam Jumat kemarin, pengungsian menjadi kurang terkontrol. Dapat dimaklumi, karena gelombang pengungsian terus berpindah-pindah seiring dengan perubahan radius Kawasan Rawan Bencana. Sekarang lokasi pengungsian sudah masuk wilayah kota Jogja. Tempat-tempat pengungsian dadakan ini perlu dukungan logistik yang tak terencana. Tak terkecuali desa Madurejo dan desa-desa sekitarnya di Prambanan, Sleman, juga kedatangan pengungsi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(28). Air Mineral Untuk Tetamu Tak Diundang

Sekedar beberapa karton air mineral yang saya drop ke pak RT tadi siang, kiranya bisa membantu sebagai pelengkap nasi bungkus yang dibagikan oleh masyarakat desa Madurejo sebagai tuan rumah dadakan. Ini dalam rangka menyambut tetamu tak diundang, tapi jelas perlu bantuan dan disambut sepenuh rasa simpati. Lebih 500 pengungsi telah memenuhi Balai Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, dan diperkirakan jumlahnya akan bertambah.

(Madurejo – Sleman, 6 Nopember 2010)

——-

(29). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas Banjir Lahar Dingin…! Setelah kemarin siang, sore ini Kali Code kembali naik permukaannya. Arus yang sangat kuat mengalir deras membawa material Merapi. Nyaris melampaui tanggul di sepanjang bantaran sungai yang membentang 10 km membelah kota Jogja, melintasi 9 kecamatan kota. Masyarakat di sepanjang bantaran sungai sudah siap-siap mengungsi mengantisipasi kemungkinan terburuk banjir lahar dingin.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(30). Mbah Merapi Tidur Nyenyak

Seharian ini Jogja redup, mendung dan masih tersaput abu vulkanik tipis bergentayangan. Sore harinya hujan deras mengguyur seakan membersihkan lapisan abu yang menempel dimana-mana. Sementara Mbah Merapi nampak tidur nyenyak sejak semalam. Mudah-mudahan sama seperti Mbah Surip…, bangun tidur, tidur lagi, banguuuun… tidur lagi…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(31). Ketika Perangkat Desa Mendadak Sibuk

Ketika tempat-tempat pengungsian utama penuh, seperti Stadion, GOR dan kampus-kampus, maka Balai Desa menjadi alternatif. Seperti para pengungsi yang mendadak berdatangan ke desa Bokoharjo, Sumberharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Akibatnya, perangkat desa dan masyarakat setempat pun jadi mendadak sibuk kedatangan rombongan tamu ini. Tapi justru tempat-tempat pengungsian “kurang populer” seperti inilah yang jauh dari tujuan pemberian bantuan dari para dermawan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(32). Sampai Kapan Bertahan

Sepulang dari toko tadi sore, mampir sebentar ke Posko pengungsian desa Madurejo. Sekalian survey, berbincang-bincang sebentar dengan petugas untuk mengetahui kebutuhan mendesak para pengungsi. Ternyata jumlah pengungsi ada 1200-an orang dari berbagai desa di wilayah lereng Merapi. Berjubel di tempat yang sangat terbatas. Uuugh…! Kalau ingat entah sampai kapan mereka harus bertahan…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(33). Kearifan Lokal Yang Luar Biasa

Tempat pengungsian dadakan seperti itu umumnya tidak (atau belum?) menyediakan fasilitas dapur umum. Selain masalah prasarana, juga tempat. Maka sibuklah ibu-ibu PKK warga desa, bergotong-royong memasak untuk para pengungsi. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa, tapi lagi-lagi… akan bertahan sampai kapan? Sementara supply logistik bahan mentah begitu mendesak. Selain kebutuhan toiletris, makanan balita, selimut dan obat2an ringat juga mendesak…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(34). Tempat Pengungsian “Tidak Populer”

Siang tadi saya menerima transfer sejumlah dana dari teman di Jakarta dan insya Allah akan ada yang menyusul. Rencananya akan saya salurkan ke tempat-tempat pengungsian yang “tidak populer” seperti di desa-desa itu. Tempat seperti itu biasanya jauh dari jangkauan penyumbang yang pada umumnya sudah tertuju ke tempat-empat yang mudah didatangi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (5)

28 Desember 2010

(35). Hujan Batu Di Cirebon

Hujan batu di Cirebon… Dari gunung Ciremai? Wooo bukan rupanya, tapi dari tawuran antar warga! Huuuuhhh…, mau jadi apa orang-orang ini. Jangan sampai Tuhan memutuskan untuk meletuskan gunung Ciremai agar mereka kompak bersatu bahu-membahu saling membantu…!

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(36). Depe Dan Jupe Jadi Relawan

Depe dan Jupe berkelahi… Aha..! Saya suka berita ini. Bukan karena Depe wal-Jupe-nya, melainkan daripada infotainment ngublek-ublek rumah tangga orang. Jadi, pembandingnya adalah hal yang lebih mudharat. Kalau saya disuruh memilih, Depe, Jupe dan wartawannya saya pilih untuk dikirim ke Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk menjadi relawan…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(37). Ketika Ibu-Ibu PKK Kewalahan

Barusan dihubungi Posko pengungsian desa Madurejo, Prambanan, Sleman, minta dibantu nasi bungkus untuk jadwal besok. Agaknya ibu-ibu PKK sudah kewalahan melayani konsumsi pengungsi yang jumlahnya lebih 1200 orang, dimana dapur umum belum bisa disiapkan. Kebetulan saya sudah menerima transfer dari seorang teman di Jakarta, segera akan saya alokasikan 100 bungkus nasi padang untuk makan siang besok. (Trims untuk mas Tonank).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(38). Waspada Terhadap Kemungkinan Terburuk

Hingga siang ini Jogja redup, mendung, abu tipis bergentayangan. Gemuruh Merapi dapat dinikmati sampai radius >25 km, terdengar keras saat meletus beberapa jam yll. Seorang teman yang tinggal di Jl. Kaliurang Km-7,8 mengabarkan: Jl. Kaliurang Km-13 ke atas (Pamungkas, Besi, Griya Perwita Wisata) mulai ditinggal penghuninya, menjauh dari radius 20 km.

Untuk warga Jogja, jangan ada kepanikan, melainkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terburuk.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(39). Tetap Waspada

Kawasan Rawan Bencana (KRB) saat ini berada di radius 20 km dari puncak Merapi. Jika dalam perkembangannya diperluas menjadi 25 km, berarti ada di dekat-dekat seputaran Jl. Ring Road Utara, atau dapat diterjemahkan bahwa kota Jogja berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan evakuasi.

Bukan menakut-nakuti, melainkan JANGAN LENGAH dan TETAP WASPADA, tapi TIDAK PERLU PANIK, teriring doa semoga tidak sampai terjadi situasi yang lebih buruk…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(40). Bantuan Nyaris Tak Terkelola

Semangat membantu masyarakat kita memang ruarrr biasa… Stadion Maguwoharjo, Sleman yang saat ini menampung lebih 24 ribu pengungsi telah mengubah wajah stadion menjadi menyerupai pasar malam. Roooamainya minta ampyun… (apalagi hari ini SBY berkunjung). Bahkan bantuan yang masuk sangat berlebih, sehingga nyaris tak terkelola dengan baik. Dapat dimaklumi karena lokasinya “strategis”, termasuk full peliputan televisi…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(41). Mengalihkan Bantuan

Semula mau mengirim bantuan ke stadion Maguwoharjo, Sleman. Menimbang lokasi ini sudah “overload” dengan bantuan yang bertubi-tubi, maka lalu dicoba dialihkan ke kampus UPNVY. Ternyata di pengungsian UPNVY pun juga sudah “overload”. Akhirnya dialihkan ke lokasi yang “kurang populer”, yaitu Desa Bokoharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Ke sanalah bantuan karyawan Freeport melalui program “Freeport Peduli” kemudian di antaranya disalurkan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(42). Masalahnya Adalah Pemerataan Bantuan

Menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi yang “kurang populer” terasa lebih puas karena langsung bertemu dengan “end user”. Sedang kalau ke posko-posko di lokasi “strategis”, bantuan akan tertimbun begitu saja karena saking buanyaknya…

Seperti petang tadi ke desa Bokoharjo (lebih 3300 orang) dan Madurejo (lebih 2000 orang), keduanya di kecamatan Prambanan, Sleman, langsung dapat dilihat apa saja dan seberapa kebutuhan utama mereka. Semoga koordinasi semakin baik bagi pemerataan bantuan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(43). Masih Ada Nasi Bungkus Yang Akan Lewat

Dapur umum adalah salah satu kelengkapan pokok tempat pengungsian. Namun justru sering membuat kewalahan terutama bagi perangkat desa yang kedatangan pengungsi. Maka pasokan nasi bungkus bagi lokasi-lokasi “kurang populer” yang jauh dari jangkauan itu masih diperlukan.

Sore tadi mendrop 650 nasi bungkus ke desa Madurejo, Prambanan. Insya Allah, masih ada nasi bungkus yang akan lewat, eh dikirim… (Trims untuk mas Rachmat UPN).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(44)Mampir Ke RM “Sabar Menanti”

Pulang dari Madurejo. Uuuh, mulai terasa lapar… Lalu mampir ke RM “Sabar Menanti” di Jl. Solo Km-11, yang menyediakan menu-menu tradisional seperti sayur santan, lodeh, oseng-oseng, mangut, dsb, ala prasmanan. Terkenal dengan oseng cabe hijaunya, tapi sayang malam ini sudah habis. Sambal terasinya terasa benar tapi pedas, sehingga membuat kepala berkeringat. Menunya sama seperti menu nasi bungkus, hanya bedanya tersaji di piring dan dimasak oleh ahlinya..

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(45)Ada Gempa Lemah

Beberapa waktu yll terasa ada gempa lemah. Saya pikir gempa vulkanik dari Merapi, tapi ternyata gempa tektonik (Info Gempa BMKG — Mag: 3.8 SR, 07-Nov-10, 23:08:31 WIB, di darat 12 km baratdaya WONOSARI-DIY, kedalaman:10 km)

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (6)

28 Desember 2010

(46). Senyampang Merapi Istirahat

Senyampang Merapi lagi istirahat sehari tadi, distribusi bantuan jalan terus untuk lokasi Desa Madurejo, Prambanan. Dana kiriman teman kemarin saya konversi menjadi 100 nasi bungkus untuk makan siang. Tambahan 200 nasi bungkus juga dapat dikirim dari sumber lain. Sementara sorenya masih bisa dikirim 200 nasi bungkus lagi untuk makan malam. Sekedar meringankan ibuibu PKK yang kewalahan harus menyiapkan ransum untuk sekitar 2000 pengungsi.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(47). Semuanya Mendesak

Hari ini saya menerima transfer dana dari rekan di Papua dan Jakarta. Rencananya besok akan saya belanjakan untuk kemudian disalurkan sesuai kebutuhan pengungsi. Beberapa koordinator Posko sudah saya hubungi dalam rangka menyurvei barang kebutuhan yang paling mendesak. Lha kok ternyata semuanya mendesak…? Waduh, piye iki… Harus cari dana tambahan dari sumber lain…. (Thanks untuk mas Didiek Subagyo dan mbak Anita S. Nitisastro).

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(48). Biarkan Menemukan Keseimbangannya

Isi perut ini kalau sudah kebelet mau keluar memang tidak dapat ditahan. Tak juga hujan badai atau acara kondangan. Jangan pernah menyalahkan perut, melainkan manage-lah perut ini dengan arif. Biarkan perut menemukan keseimbangannya. Itu manusiawi…

Maka, jangan pernah menyalahkan Merapi. Jangan ditahan kalau isi perut Merapi kebelet keluar sesuai kodratnya. Manage-lah Merapi dengan arif. Biarkan Merapi menemukan keseimbangannya. Itu gunungwi…

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(49). Kampungku Juga Kedatangan Pengungsi

Malam ini aku baru tahu rupanya di kampungku juga kedatangan pengungsi yang menempati GOR sekolah. Jumlahnya sekitar 50 orang, al. dari kecamatan Cangkringan, daerah terparah korban Merapi. Kusempatkan untuk menengoknya, nampak sudah tertangani dengan baik. Tapi tetap saja perlu dukungan bantuan jika mengingat ketidakjelasan sampai kapan mereka akan bertahan. Semakin lama bisa semakin membuat “frustrasi” kedua belah pihak, ya pengungsinya, ya pengelolanya.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(50). Merapi Normal Dan Baik

Seorang teman dari luar kota tilpun dan bertanya: “Gimana Merapi, mas?”.

“Alhamdulillah, kondisi Merapi normal dan baik…”, jawabku. Lalu kulanjutkan…: “maksudku, normal aktif bererupsi, dan itu lebih baik ketimbang tidak ada apa-apa tahu-tahu terjadi letusan besar…”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(51). Anak Wedok Jadi Relawan

Anak wedok “ikut-ikutan” menjadi relawan. Kemarin membantu ke posko pengungsian di kecamatan Kalasan, Sleman. Ada 1300 pengungsi yang akan menjadi tujuan saya untuk penyaluran bantuan. Ketika kutanya kebutuhan apa yang paling mendesak? Katanya: pakaian dalam, handuk, air mineral dalam galon, beras…

Tapi saking semangatnya, pesan yang ditulis adalah: “Cd sama bh pria wanita…”.
Ya, jelas kutanya: “Bh pria, adakah? Seperti apa…?”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(52). Belanja Lima Karung Beras

Berhubung kendaraan angkutannya agak sakit, berobat dulu, maka baru siang ini sempat belanja dan ngedrop lima karung beras ke Posko pengungsian di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman (ada 3000-an pengungsi di sana). Dapur umum yang dikelola ibu-ibu PKK itu sehari rata-rata memasak delapan kwintal beras

(Note: lima karung beras itu adalah alokasi dari sebagian dana bantuan yang saya terima, sisanya insya Allah masih akan saya salurkan menyusul)

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(53). Bahaya Lahar Dingin

Hujan terus mengguyur kawasan Jogja dan Merapi sejak siang, disertai kilat dan geledek. Udara akan menjadi bersih dari abu vulkanik, tapi AWAS bagi mereka yang tinggal di dekat-dekat aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Untuk masyarakat kota Jogja, ancaman itu berada di sepanjang bantaran Kali Code. Potensi bahaya banjir lahar dingin bisa lebih besar dari banjir biasanya, sebab material lahar di seluas lereng Merapi akan kompak turun gunung rame-rame.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(54). Kurban Untuk Pengungsi

Sepekan lagi Hari Raya Kurban. Sebagian masyarakat muslim bersiap memilih kambing dan sapi untuk menjadi tunggangan “masa depan”. Tapi sebagian masyarakat lainnya sedang tak berdaya, juga hewan mereka lebih dulu tekapar oleh wedhus gembel.

Maka alangkah indahnya kalau para penerima daging kurban “langganan” selama ini, turut berkurban mengalihkan sebagian jatahnya kepada para pengungsi. Diberikan mentah atau matang, itu soal teknis. Yang pasti mereka berhak dan butuh…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(55). Kesalehan Itu Masih Ada

Jogja pagi ini cerah sekali. Sejak dini hari tadi bintang berkelip di angkasa. Langitpun bersih tak berabu. Mengawali minggu ke-3 AWAS Merapi, tetap dengan KEWASPADAAN tinggi sambil menemani Merapi menanak magma. Pengungsi bertahan mengatasi kebosanan. Relawan terus berjuang mengabdi di bidangnya. Saatnya membuktikan bahwa kesalehan individual, sosial dan lingkungan masih ada. Sebab tak sia-sia semua itu tercipta (ma kholaqta hadza bathila)

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(56). Berkolaborasi Dengan Anak Wedok

Hari ini berkolaborasi dengan anak wedok belanja barang bantuan dan langsung mengirimnya. Setelah di-survey sebelumnya, maka segera menuju lokasi pengungsian Posko SMP I Kalasan ngedrop 12 lusin sandal jepit. Dilanjut ke Posko Balai Desa Madurejo, Prambanan, ngedrop 4 lusin handuk dan 80 lembar selimut. Sedang lima karung beras kemarin telah dikirim ke Posko Balai Desa Bokoharjo, Prambanan. (Thanks untuk mas Didiek, mbak Anita dan mas Budi Yuwono).

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(57). Kaos Relawan

Koordinator relawan yang berbasis di Balai Desa Madurejo, kecamatan Prambanan, Sleman, menghubungi saya minta diusahakan kaos seragam bertuliskan RELAWAN. Tujuannya untuk membedakan dengan orang-orang tidak jelas yang membantu-bantu.

“Ada pesan sponsornya nggak apa-apa pak”, katanya.
Wuah…, dan jawab saya: “Nggak janji ya pak, hanya kalau nanti ada yang bersedia menjadi sponsor…”. Lha jumlahnya 60 orang je…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (7)

28 Desember 2010

(58). Bintang Kecil

Dini hari ini langit Jogja begitu cerah. Gemintang menyebar seluas antariksa…..

Bintang kecil di langit yg tinggi
amat banyak menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada…..

(Nyanyian masa kanak-kanak itu kini semakin terlupakan. Coba saja tanyakan anak-anak kita. Tapi hamparan indah itu dua minggu ini sering tertutup abu vulkanik Merapi….)

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(59). Tutul-tutul Abu-abu Abu Merapi

Memasuki minggu ke-3 AWAS Merapi… Baru pagi ini saya tidak perlu memandikan mobil yang kuparkir di karpot. Sebelumnya tiap pagi mobil harus diguyang (dimandikan), digosok dan dilap, karena warna aslinya yang hitam selalu berubah menjadi tutul-tutul abu-abu abu Merapi.

Pertanda bahwa kemarin dan tadi malam tidak ada abu yang berkeliaran. Tapi prihatin dengan saudara-saudara yang tinggal di baratnya Merapi (Muntilan, Magelang, dkk), karena angin kuat berhembus ke arah barat…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(60). Tentang Sendal Jepit

Sendal jepit untuk pengungsi. Apa pentingnya? Ketika pengungsian harus pindah-pindah dalam suasana buru-buru bin panik karena perubahan radius KRB (Kawasan Rawan Bencana), sendal adalah piranti yang sering keteteran dibawa. Hilang, tertinggal, terbawa sebelah, selen (ketukar sebelah), dsb. Kini di pengungsian, mau jalan keluar kagok, ke kamar mandi atau wudhu bergantian. Padahal jumlah mereka ada ratusan, eh ribuan. “Oh sendal jepit, betapa aku butuh kamu…”

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(61). Di Batas “Zona Merah”

Menjelang tengah hari di batas “zona merah” Jl. Kaliurang, Jogja (radius 20 km dari Merapi). Jalan baru distop di Km-14, padahal mestinya di sekitar Km-11. Toko-toko banyak tutup, tapi ada juga yang buka. Rumah-rumah dikosongkan, tapi ada juga yang masih berpenghuni. Suasana lengang, tapi lalu lintas tetap ramai, sehingga pak polisi perlu menghalo-halo (dengan megaphone) dan menghalau-halau (dengan tongkat), intinya dilarang masuk. Entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(62). Tentang Pakaian Dalam

Di posko-posko pengungsian umumnya bantuan berupa pakaian melimpah ruah. Tapi di beberapa lokasi masih ada yang butuh handuk, selimut dan pakaian dalam. Sehelai handuk bisa dipakai rame-rame, selembar selimut bisa berbagi, tapi pakaian dalam? Bayangkan kalau tidak ganti sekian hari. Sedang umumnya mereka kabur dari rumah bukan seperti orang mau pergi haji, melainkan seperti dikejar kirik (anak anjing). Maka jangan diketawain kalau ada yang malu-malu butuh cede wal-beha

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(63). “Pulang Kampung Nih…”

Berita di televisi seringkali lebih heboh, dramatis dan menakutkan daripada aslinya. Dapat dipahami, kalau ada 100 momen, 99 momen “baik-baik saja” dan satu momen “dramatis”, maka sang reporter akan memilih yang satu momen itu untuk ditayangkan. Cilakaknya, penonton di rumah lalu menyimpulkan bahwa 100 momen itu “dramatis” semua.

Maka para orang tua nun jauh di sana lalu menyuruh anaknya yang kost di Jogja untuk segera “pulang kampung nih…” (dengan dialek mas Obama).

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(64). Hidup Dijalani Sebagai Ibadah

Selamat datang di kota kami
Yogyakarta aman dan tentram…

(Mars Yogyakarta)

Kalau ada gunung meletus? Ya berlindung atau lari menghindar. Kalau ada banjir? Ya mengungsi. Kalau ada gempa? Ya menyelamatkan diri. Saya akan melakukan hal yang sama andai tinggal di Jakarta, Sabang atau Merauke.

Tapi kalau saya tinggal di lereng Merapi sedang saya tahu itu masuk KRB, maka saya salah kalau berdiam diri. Sesederhana itu hidup ini saya jalani sebagai ibadah…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(65). Pengungsi Mulai Bosan

Pengungsi di GOR Maguwoharjo, Sleman, mulai pada bosan. Lalu ada yang pindah, minta pulang, dsb. Tapi ada yang kreatif. Di UII, diajari membuat kerajinan kalung (tapi kan tidak semua suka). Di UPN, diadakan senam masal (apa ya mau tiap hari senam). Di UMY, dibangun dapur mandiri (bisa masak sesuai selera). Walau kebanyakan mereka petani, apa ya mau bercocok tanam di halaman? Intinya: Perlu waspada terhadap “kreatifitas jenis lain”…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(66). Numpang Laporan

Sebagai Laporan: Saya telah menerima transfer bantuan untuk pengungsi Merapi sejumlah Rp 4,5 juta. Sudah saya distribusikan berupa nasi bungkus, beras, sendal, handuk dan selimut, ke beberapa lokasi pengungsian di Kalasan dan Prambanan, Sleman. Masih tersisa dana Rp 38 ribu yang rencananya akan saya salurkan menyusul (Terima kasih untuk mas Ari Muriyanto, mas Budi Yuwono, pak Didiek Subagyo, mbak Anita Nitisastro).

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(67). Mengarahkan Bantuan Ke Muntilan

Kebanyakan posko pengungsian yang menyebar di wilayah kota Jogja dan kabupaten Sleman kebutuhannya sudah tercukupi bahkan berlebih (pemerataannya yang belum). Maka saya berencana mengarahkan bantuan ke kawasan lain yang masih minim bantuan, seperti kota Muntilan, kabupaten Magelang.

Muntilan yang sempat lumpuh dan nyaris seperti kota mati ternyata banyak “menyimpan” pengungsi. Ke sanalah saya berencana menyalurkan bantuan titipan dari teman-teman Facebook.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(68). Kali Code Banjir Malam Ini

Jogja malam ini sekitar jam 21:00 – 21:30 WIB… Kali Code banjir cukup besar, membawa material lahar dingin. Di beberapa lokasi muka air sudah melebihi tinggi talut, meluber. Beberapa jembatan ditutup sebagai langkah pengamanan. Berharap tidak berlangsung lama dan tetap terkendali.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-