Archive for September, 2010

Tentang Puasa

29 September 2010

(1)

Ritual sahur siap-siap puasa Syawal. Sepiring nasi, lauk dan sayur sudah di depan mata. Tinggal menyendok lalu menyosorkan ke mulut. Namun apa daya, keburu adzan Subuh berkumandang. Tangan pun lunglai membatalkan ritual. Tapi the shaum must go on. Lanjutkan! Sebab puasa sudah diniatkan.

Ketika siang perut terasa melilit-lilit dan lapar, maka itulah indahnya puasa. Kalau puasa kok terasa kenyang terus, maka dia akan kehilangan pesona keindahannya.

***

‎(2)

Jangan berpuasa kalau takut lapar, sama seperti jangan makan kalau takut kenyang. Jika kemudian tubuh menjadi kurus karena puasa atau menjadi ndut karena makan, maka itu hanyalah persoalan manajemen dan persepsi. Manajemen tentang diet dan persepsi tentang penampilan, maksudnya.

So? Tuhan beserta orang-orang yang sabar, termasuk sabar dalam me-manage jadwal makannya dan sabar dalam mensyukuri penampilannya.

Yogyakarta, 27 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bahagia Karena Melepas

29 September 2010

‎”Menderita karena melekat, bahagia karena melepas” — Kalimat itu tertulis di kaca belakang sebuah mobil keluarga yang kujumpai di sebuah jalan tol di Jakarta beberapa waktu yll. Ungkapan yang belum pernah kudengar sebelumnya, membuatku penasaran. Adakah ini kutipan dari sebuah kitab suci?

(Seorang teman berkomentar: Saya sudah lama mendengar kalimat ini dari seorang teman yang menghibur saya dari perasaan berduka yang berkepanjangan ketika bapak saya meninggal tahun 1998, “mantra” ini sangat membantu mencerahkan dan mengubahkan banyak sisi gelap kehidupan. Seorang teman lain berkomentar, katanya itu kutipan dari kitab Sansekerta).

Yogyakarta, 27 September 2010
Yusuf Iskandar

Sikap Kehati-hatian Seorang Ayah

29 September 2010

Bertemu seorang ayah bersama anak dan menantunya di supermarket. Si ayah bercerita kalau baru saja menikahkan anak lelakinya yang dulu pernah kost di rumah saya. Sepertinya kok mendadak sekali. Kata si ayah santai: “Daripada bekstrat-bekstrit, lebih baik saya minta ke orang tua pacarnya untuk secepatnya dinikahkan saja..”.

Terdengar seperti sebuah sikap kehati-hatian seorang ayah yang bertanggung-jawab terhadap anak satu-satunya. Ada hikmah, renungan dan pelajaran… Bagi siapa saja..

Yogyakarta, 27 September 2010
Yusuf Iskandar

Nglaras Di Warung Bakmi Jowo “Bu Gito”

29 September 2010

Agak lama tidak makan mie, kecuali mie instan. Malam ini mampir warung Bakmi Jowo ’29’ Bu Gito, di Rejowinangun, Jogja. Minumnya wedang jahe gula jawa. Citarasanya masih lumayan miroso (terasa taste bakmi jawanya dengan paduan ayam kampung + telor bebek), seperti dulu… Suasana warungnya tradisional, musiknya klenengan tembang-tembang Jawa. Nglarasss…

Walang kekek walange kadung, walang kadung dowo sungune…, eeee ya ee yo…

(Ancar-ancar lokasinya: Dari perempatanan Jl. Veteran – Warungboto, lurus ke timur. Ketika jalan utamanya belok kiri, ambil yang lurus ke timur, tepat di pojok kiri pertigaan).

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

“Banting Setir” Dan Orientasi Mind Set

29 September 2010

‎”Banting setir” (alih profesi) memang nampaknya sederhana. Tapi tidak demikian jika orientasi mind set tidak siap. Takut, kurang pede, bingung, awang-awangen (kebayang jauh)…

Ketika siang-siang datang ke (toko) Madurejo Prambanan seorang teman yang sedang cuti dari kerjanya di Saudi dan petang-petang datang ke (toko) Bintaran Jogja seorang teman dari Malang, maka adalah sebuah kesyukuran kalau sempat berbagi pengalaman. Ilmunya tak seberapa, tapi spirit-nya ittuu…

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Ayam Goreng Kremes “Lombok Ijo”

29 September 2010

Ayam kampung goreng kremes sambal hijau, ayam bakar, lalap daun singkong, terong balado, gereh (ikan asin) layur, tempe penyet, sayur asam, di RM “Lombok Ijo” Jl. Solo (sebelah kiri Saphir Mall) Jogja. Semua tandas tak bersisa oleh tiga orang, bahkan nasinya nambah. Sambalnya begitu menggugah selera. Aslinya dari Semarang dan di Jogja baru dua tahunan berdiri. Harga yang dibayar tergolong murah dibanding citarasa yang ditawarkan. Hmmm…

(Beberapa teman berkomentar antara lain: harganya murah sesuai dengan kocek kita, terong balado dan empal gepuknya enak)

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Sekedar Membuka Pintu

29 September 2010

Delapan belas jam di Surabaya, memang hanya numpang tidur dan buang hajat saja… (bandara – rumah makan – hotel – bandara). Tapi saya lakukan juga pada Jum’at/Sabtu yll, walau tidak ada keuntungan materi apapun yang saya peroleh (selain karena ada yang mbayarin), melainkan membangun silaturrahim pertemanan baru. Sebab saya yakin dengan Sabda Alam bahwa di sana ada sumber rejeki yang pada saat yang (pasti) tepat nanti akan terkuak. Sekedar membuka pintu…

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Lampu Darurat Berbahan Minyak Goreng

29 September 2010

Malming ML (mati lampu)… Kompor minyak sudah dikonversi ke kompor gas, walau pathing jeblug (meledak dimana-mana). Lha kalau lampu? Rupanya belum terpikir mengkonversi ke lampu gas.

Ketika PLN belum bebas byar-pet, sedang lilin jaman sekarang cepat habis, ternyata lampu minyak masih diperlukan. Petromax, teplok, sentir, dhumuk, uplik... Tapi minyak tanah telanjur jadi barang langka. Ayo berkreasi! Bikin lampu darurat berbahan minyak goreng..

(Malming: Malam Minggu.

Membuat lampu darurat berbahan minyak goring : Belajar dari lampu minyaknya tukang sate Madura, juga sering dipakai di resto mewah sebagai pengganti lilin yang minyaknya warna-warni. Yang penting ada sumbu, bisa dari sobekan kain dipasang pada tutup botol kecap/obat/minuman, yang diletakkan pada jarak aman terhadap permukaan minyak goreng. Soal aroma bisa tambahkan 2-3 tetes parfum isi ulang yang murah harganya. Bisa dibuat dengan cepat…)

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Angin Kencang Melanda Jogja

29 September 2010

Angin kencang dan hujan deras melanda Jogja dan sekitarnya. Status: Waspadaaaaa….

(Status siang jam 14:24 WIB)

***

Siang tadi Jogja dilanda angin kencang dan hujan deras. Saatnya pembelajaran. Anak wedok kirim SMS: “Wauuuw ada angin beliung gede di (toko) Bintaran…”. Lalu SMS “boss” saya: “(Toko) Madurejo anginnya kencang banget dan hujan deras…”.

Balasanku ke dua tujuan: “Saat yang sangat baik dimana doa sangat dekat untuk dikabulkan…”. Eh, dibalas cepat sama “boss” saya: “Amin”. Ya kubalas lagi: “Apanya yang diamini wong berdoa saja belum…”.

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Pesawat Tanpa Nomor Kursi 13 Dan 14

29 September 2010

Penerbangan siang Surabaya-Jogja dengan Lion Air dilayani dengan pesawat baling-baling ATR 72-500 kapasitas 72 penumpang. Uniknya, moda angkutan AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang mengambil trayek Surabaya-Jogja-Bandung pp. yang masih terlihat baru ini tidak memiliki no kursi 13 dan 14, setelah no 12 langsng 15. Seolah mengisyaratkan tidak ingin sial (perlambang dari 13) dan tidak mau mati (perlambang dari 14). Aneh tapi nyata.., lha ini di Indonesia.

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

“Hati-hati Ya…”

29 September 2010

Dalam perjalanan naik taksi menuju bandara Juanda, Surabaya. Datang SMS simpatik: “Hati-hati ya…”. Kubalas: “Pesannya sudah kusampaikan ke sopir taksi…”. Lha yang seharusnya berhati-hati kan sopir taksinya. Kalau saya kan tinggal numpang, melamun dan mbayar…

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Banyak Porlap Di Juanda

29 September 2010

Banyak Porlap di Juanda… Sepanjang ingatan saya, di bandara atau tempat lain, tukang angkut barang ini disebut porter. Tapi di bandara Juanda Surabaya disebut Porlap, bahkan ditulis besar-besar di punggung baju seragam hijaunya. Saya tidak tahu pasti kata ini berasal dari bahasa apa, sekedar menduga-duga sepertinya warisan dari bahasa londo Belanda yang dilidah-jawakan. Yang saya tahu ada ungkapan bahasa londo Inggris ‘no taim por lap…”.

(Seorang teman memberi komentar bahwa katanya Porlap itu singkatan dari Porter Lapangan. Barangkali dimaksudkan untuk membedakan antara porter stasiun, porter terminal, porter koplak (pangkalan andong), dan harry porter….hehe. Suwun).

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Status Waspada Kolesterol

29 September 2010

Makan malamnya dengan kepiting goreng ikan asin, bandeng bakar, udang laki rebus, ca kangkung, jus jeruk pecel (lime). Dikomentari anaknya kolega baru: “Bapak makannya banyak juga ya..”. “Baru tahu ya?”, kataku tapi dalam hati. Sarapan paginya menu hotel ala prasman. Yaaa, gitu deh… Inginnya dimakan semua. Walhasil? Status di FB menyesuaikan status Gunung Merapi, dari Normal menjadi Waspada (waspada kolesterol, maksudnya).

(FB : Facebook)

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Nggeblak Di Kamar Hotel

29 September 2010

Menjelang tengah malam baru masuk hotel. Sebenarnya tidak capek-capek amat. Saat maghrib mendarat di bandara Juanda, lalu makan malam dengan menu kepiting dan ikan bakar dan ngobrol. Usai itu baru masuk hotel. Dan, ah…! Kebiasaan lama itu seperti tidak bisa hilang setiap pertama kali masuk kamar hotel, langsung nggeblak.., merebahkan tubuh, menggeliat..! Di sebuah kamar di lantai 12 hotel Somerset Surabaya yang tidak memiliki lantai 13 melainkan langsung 14.

Surabaya, 24 September 2010
Yusuf Iskandar

Kepiting Goreng Telor Asin

29 September 2010

Kepiting telor asin, waaaa… ini menu yang lagi “in” di Surabaya. Kepiting digoreng dengan balutan kuning telor bebek asin yang gurih dan krenyes-nya terasa benar…, apalagi untuk kepiting perempuan yang sedang mengandung telur. Uufff…! Dimeriahkan dengan bandeng bakar + sambal jeruk, udang laki yang manis, oseng kangkung yang bumbu rempahnya begitu terasa. Malam ini kunikmati di Rumah Makan “Aroma Ujung Pandang”, Jl Mayjen Sungkono, Surabaya.

(Seorang teman mengingatkan agar waspada dengan kolesterol dan seorang teman lainnya memberitahu resepnya tentang daun sirsak dan kolesterol)

Surabaya, 24 September 2010
Yusuf Iskandar

Antara Keikhlasan Dan Doa

29 September 2010

Malam tiba lalu turun hujan deras, “boss” saya komentar: “Wah, omset turun lagi nih..”. Fakta itu benar, ada korelasi antara hujan dan jumlah pengunjung toko. Tapi ketahuilah, justru pada saat-saat “tidak menyenangkan” seperti itulah jarak antara doa dan dikabulkannya begitu dekat.

Maka strateginya: mundur selangkah untuk maju berlangkah-langkah, yang di antara keduanya tersisip keikhlasan dan doa (sebab mau ikhlas atau enggak ikhlas, hujan dan omset tetap turun…)

(Seseorang berkomentar minta diberi “ramuan ikhlas” untuk modal persiapan launching toko barunya, agar nanti kalau sepi pengunjung sudah punya resep menghadapinya…..

Maka jawab saya: Bayangkan ketika membuka toko seperti ketika berniat untuk sholat. Libatkan Tuhan di dalamnya, maka karena itu, Beliau akan “turut merasa berkepentingan” terhadap toko atau sholat kita. Wallahu a’lam…)

Yogyakarta, 23 September 2010
Yusuf Iskandar

Menyerap Energi Positif

24 September 2010

Seorang teman mengeluh lagi bete berat, pikiran dan perasaannya nggak puguh, nggak punya semangat wal-gairah, mualasss amat sangat, kluntrak-kluntruk

Saranku: coba sempatkan untuk ngobrol-ngobrol dan cerita-cerita tentang apa saja dengan seseorang yang nasibnya kurang beruntung. Maka di sana ada semangat yang menyala-nyala tentang bagaimana dia survive, lalu seraplah energi positif yang dipancarkannya. Sampeyan akan surprise…!

Yogyakarta, 22 September 2010
Yusuf Iskandar

Kadengaren…

24 September 2010

Pohon mertega (apel bulu) di depan rumahku sangat rimbun daunnya. Sambil membuka baju dan memanjat, kupotongi cabang dan rantingnya. Tiba-tiba “boss” saya pulang dari toko, dengan wajah serius berkata: “Tadi tidak ada apa-apa kan?”.

“Tidak”, jawabku.
“Tidak terjadi sesuatu?”, tanyanya lagi masih dengan mimik serius.
“Tidak. Memang ada apa?”, tanyaku agak tegang.
Sambil ngeloyor ke dalam rumah, berkata santai: “Kadengaren…(tumben)”.
Wooo.., penghinaan nasional!

Yogyakarta, 22 September 2010
Yusuf Iskandar

Candi “Candisari” Kalasan

24 September 2010

Candi “Candisari” Kalasan, adalah satu dari beberapapeninggalan Hindu yang ada di kawasan kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Yogyakarta, 21 September 2010
Yusuf Iskandar

Di Lintas Batas Setengah Abad Perjalanan

23 September 2010

Purnama tepat di atas kepala
tersaput awan tipis
namun tetap tak akan menghalangi sempurnanya
jutaan berkas cahaya memancar
cerah menerangi bumi

Sejenak kutundukkan hati dan pikiran
bersyukur atas setengah abad perjalanan
sungguh melelahkan
penuh suka dan duka
penuh duri menghalang
tapi juga kumudahan

Syukurku tak terkira
tapi juga khawatir tak terbendung
berharap penggal perjalanan berikutnya sanggup kujalani
menjadi lebih baik
menjadi lebih bermanfaat
menjadi tidak sia-sia

Setumpuk lembaran halaman telah penuh kugoresi
dengan tinta biru, hitam, merah
Tumpukan halaman kosong pun menanti
goresan demi goresan berikutnya
berharap tinta emas yang kuguna
apapun warnanya

Sesaat lagi kan kutinggalkan
setengah abad perjalanan ini
yang tak kan pernah kuulangi
tak juga pernah kuhampiri kembali

Mata harus lebih tajam menatap
hati harus lebih peka merasa
pikiran harus lebih arif menimbang
agar hikmah kehidupan tak berlalu tanpa makna
agar perjalanan selanjutnya lebih bijaksana

Purnama tepat di atas kepala
menjadi saksi atas usainya setengah abad perjalanan yang telah kujalani
juga menjadi saksi atas niat suci untuk memulai tahap perjalanan selanjutnya

Tuhan,
ingin rasanya aku mendaki
menuju ke puncak purnama
agar lebih terang kumemandang
mengamati kesalahan dan kebodohan yang kulakukan
agar lebih arif berintrospeksi
lalu turun lagi kebumi
bersama pancaran sang rembulan

Walau awan tipis menghalangi
namun tetap tak akan menghalangi sempurnanya
jutaan berkas cahaya memancar
cerah menerangi bumi

Tuhan,
terima kasihku atas nikmat yang telah Kau anugerahkan
walau sering aku tak pandai mensyukuri
walau sering aku seperti mengingkari
Namun ijinkan aku melanjutkan sujudku
beri aku kesempatan untuk membalas semua anugerahMu
mengagungkan asmaMu
mensyukuri nikmatMu
menghikmahi karyaMu

Agar aku tidak menjadi bodoh
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh
yang dibodohkan oleh ketidakmauanku belajar dari ciptaanMu…
Agar aku tidak menjadi buta
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta
yang dibutakan oleh silaunya kepentingan dunia semata…
Agar aku tidak menjadi hina
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah hina
yang dihinakan oleh kelalaianku atas kesempurnaan kuasaMu…

Tuhan,
ijinkan aku menyempurnakan setengah abad perjalanan ini
dan sertai aku menyempurnakan sisa perjalanan yang segera akan kumulai
akan selalu kurindu kemesraanMu
akan selalu kudamba pelukan kasihMu
akan selalu kuharap petunjukMu
karena sesungguhnya aku takut bila harus jauh dariMu
aku tidak sanggup bila harus berjalan sendiri tanpaMu
sebab semua kuniatkan semata-mata karena penghambaanku kepadaMu
dan hanya bagiMu..

Hanya dengan menyebut namaMu yang Maha Rahman dan Rahim
Ya Allah…
Telah tiba aku di lintas batas setengah abad perjalananku
bersiap melanjutkan perjalanan ke lintasan berikutnya
Ingin segera kumulai, ingin segera kulanjutkan
sepenuh harap
insya Allah selalu ada dalam ridhoMu

Yogyakarta, 23 September 2010 – jam 00:00 WIB
Yusuf Iskandar