Posts Tagged ‘alaska’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (5)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 21:30 CST (8 Nopember 2000 – 10:30 WIB)

Al Gore yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Presiden ternyata justru kalah di Tennessee, negara bagian dari mana dia berasal. CNN melaporkan, setelah 39 negara bagian telah menutup TPS dan menghitung suaranya, kini giliran George Bush melejit dengan meraih 217 suara dari 24 negara bagian meninggalkan Al Gore yang masih meraih 172 suara dari 15 negara bagian.

Masih 11 negara bagian lagi yang belum menyelesaikan pemilu dan penghitungan suaranya hingga malam ini. Bush perlu 53 suara lagi untuk mencapai angka kemenangan 270. Akan tetapi Al Gore punya kartu truf dengan keyakinannya untuk menang di negara bagian California yang mempunyai 54 jatah suara, ditambah dengan keyakinannya untuk juga meraih kemenangan di beberapa negara bagian di pantai barat lainnya.

Al Gore dan pasangannya Joe Lieberman serta George Bush dan pasangannya Dick Cheney, saat ini tentu sedang deg-degan dan semakin tegang mengamati perkembangan perolehan suara dari setiap negara bagian yang mulai menghitung hasil pemilu sejak seharian tadi.

Melihat kejar-kejaran angka yang demikian ini, para pemilih di wilayah pantai barat seperti negara bagian California, Oregon dan Washington, serta Alaska dan Hawaii yang baru akan menutup TPS-nya sekitar satu jam lagi tentunya sudah mulai membuat hitungan-hitungan “politis”. Para pemilih di wilayah barat Amerika ini yang seharian sibuk di kantor atau di ladang dan baru saat menjelang penutupan sempat pergi ke TPS-TPS tentu sudah melihat hasil perhitungan suara dari wilayah timur Amerika.

Kepada siapa suara mereka akan diberikan? Kemungkinan pertama mereka akan terus menggunakan hak pilihnya untuk memperkuat posisi jago mereka. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka berubah pikiran jika jago mereka sudah jelas kalah, mereka memilih untuk tidak memilih saja dan pulang ke rumah.

Cara berpikir sederhana ini memang hal yang lumrah saja. Ya seperti yang saya kemukakan sebelumnya, banyak juga masyarakat Amerika ini yang tidak terlalu menganggap penting tentang pemilihan presidennya. Buktinya? Diramalkan hanya 50% saja dari masyarakat yang mempunyai hak pilih akan menggunakan haknya tahun ini.

Yusuf Iskandar

Iklan

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar

Tambang Perak Bawah Tanah Greens Creek, Alaska

6 Februari 2008

Pengantar :

Pada tanggal 25-26 April 2001 yll. saya berkesempatan melakukan kunjungan tambang ke Greens Creek Mine, Alaska, USA. Tambang perak bawah tanah ini dioperasikan oleh Kennecott Minerals, salah satu anak perusahaan Rio Tinto yang bersama-sama Hecla Mining Company melakukan “joint venture” untuk kepemilikan tambang Greens Creek. Berikut ini catatan saya dan semoga bermanfaat.

——-

Pendahuluan

Tambang Greens Creek, adalah sebuah tambang bawah tanah yang berlokasi di pulau Admiralty, negara bagian Alaska, USA. Lokasi tambang ini berada di kawasan Taman Nasional Tongass dimana banyak dihuni satwa-satwa liar sejenis burung elang, beruang dan rusa. Oleh karena itu, adalah menjadi komitmen pihak tambang Greens Creek yang dalam menjalankan operasi penambangannya dengan tetap menjaga kelestarian Taman Nasional ini.

Hasil utama dari tambang Greens Creek adalah perak, emas, seng dan timbal. Metode penambangan yang diterapkan adalah Cut and Fill yang dimodifikasi menjadi Drift and Fill. Lombong (stope) dalam metode ini dimodifikasi menjadi berupa lorong-lorong atau lubang bukaan mendatar (drift) yang diekskavasi secara bertingkat dari bawah ke atas dengan siklus kerja : pemboran, peledakan, pemuatan, pengangkutan, pengisian dan pemadatan.

Tambang Greens Creek merupakan joint venture antara Rio Tinto (70,3%) dan Hecla Mining Company (29,7%). Sebagai pemegang saham utama, Rio Tinto mengoperasikan tambang ini melalui anak perusahaannya, Kennecott Minerals, yang juga mengoperasikan tambang tembaga di Salt Lake City (Utah).

Kondisi Geografis

Lokasi tambang ini dapat dicapai dari kota Juneau, ibukota Alaska, yang terletak di sisi tenggara dari wilayah negara bagian Alaska. Dari Juneau menyeberang ke pulau Admiralty dengan menggunakan kapal motor (boat) yang memang khusus disewa oleh pihak tambang Greens Creek untuk pengangkutan karyawan Juneau – pulau Admiralty p.p.

Dengan kata lain, tidak terdapat sarana transportasi komersial yang melayani rute ini secara reguler ke dan dari pulau Admiralty yang memang bukan kawasan hunian. Selain dengan kapal motor, pulau Admiralty juga dapat dicapai dengan menggunakan pesawat terbang kecil yang dikelola oleh perusahaan penerbangan lokal.

Kota Juneau sebagai ibukota Alaska yang berpopulasi sekitar 31.000 jiwa, dapat dikatakan merupakan kota yang terpencil dilihat dari tidak adanya sarana transportasi darat yang menjangkau kota ini, meskipun terletak menjadi satu dengan daratan Amerika Utara.

Bagian utara dan timur laut wilayah Juneau ini berupa pegunungan yang puncak-puncaknya nyaris selalu tertutup salju dan glacier. Sedangkan di sisi selatan dan barat laut berbatasan dengan teluk Alaska dimana banyak terdapat pulau-pulau kecil yang umumnya tidak berpenghuni. Oleh karena itu transportasi udara menjadi sarana utama ke dan dari kota ini, sementara transportasi laut umumnya digunakan untuk sarana pengangkutan barang karena akan memerlukan waktu berhari-hari. Meskipun ada juga feri untuk penyeberangan jarak dekat.

Kesampaian Daerah

Tambang Greens Creek, pulau Admiralty dan kota Juneau pada umumnya, termasuk daerah beriklim dingin. Terletak pada kira-kira 58o Lintang Utara dan 135o Bujur Barat. Suhu udara rata-rata dalam setahun, terendah 18oF (sekitar -8oC) terjadi pada bulan Januari dan tertinggi 64o (sekitar 18oC) terjadi pada bulan Juli. Curah hujan rata-rata per hari berkisar antara 2,8 – 7,7 inch (sekitar 71-196 mm).

Setelah sebelumnya berkorespondensi dengan General Manager tambang Greens Creek, Mr. Keith Marshall, maka untuk mengunjungi tambang ini saya sengaja terbang dari Seattle menuju Juneau dengan menggunakan penerbangan yang sama dengan beliau pada tanggal 24 April 2001 yll. Selanjutnya keesokan harinya berangkat menuju ke lokasi tambang Greens Creek.

Setiap hari kapal motor yang cukup mewah meninggalkan dermaga Juneau jam 05:00 pagi dengan mengangkut karyawan Greens Creek yang tinggal di Juneau. Perjalanan dengan kapal motor ditempuh selama 30 menit. Setiba di dermaga pulau Admiralty, selanjutnya disambung dengan kendaraan bis sejauh kira-kira 15 mil (sekitar 24 km) menuju ke lokasi tambang yang terletak di kawasan perbukitan berhutan pinus yang puncak-puncaknya nyaris selalu tertutupi oleh salju. Perjalanan darat menuju ke lokasi tambang ini ditempuh selama 45 menit, sehingga pada jam 06:30 pagi biasanya para karyawan sudah tiba di tempat kerja masing-masing.

Hal yang sama terjadi pada sore hari. Sekitar jam 17:00 karyawan meninggalkan lokasi tambang dan selanjutnya menggunakan sarana yang sama dan akan kembali tiba di Juneau sekitar jam 18:30 sore. Sarana angkutan yang sama berlaku bagi semua karyawan, dari miner hingga General Manager. Bagi karyawan yang tidak tinggal di Juneau, juga tersedia perumahan lajang, di camp site yang berada di lokasi yang berdekatan dengan pelabuhan pengapalan konsentrat di pulau Admiralty.

Kondisi kesampaian daerah menuju ke lokasi tambang yang demikian ini mengingatkan saya pada lokasi tambang emas PT Lusang Mining di Bengkulu yang sekarang sudah tidak berproduksi. Demikian juga lokasi tambang PT Freeport Indonesia di Irianjaya (Papua) untuk skala infrastruktur yang lebih besar.

Potensi Cadangan Dan Produksi

Endapan cadangan bijih tambang Greens Creek berbentuk sangat tidak beraturan dan menyebar pada kedalaman antara 90 m di bawah permukaan laut hingga ketinggian 500 m di atas permukaan laut pada areal seluas kira-kira 121 ha. Endapan cadangannya tersebar dan dapat dipisah-pisahkan dalam sembilan zona bijih.

Adanya bentuk endapan yang tidak beraturan dengan batuan utamanya argillite dan phyllite, membuat tambang ini menerapkan selective mining guna mengurangi pengotoran (dilution) batuan bijih (ore) terhadap batuan sekitarnya atau batuan sampah (waste).

Total cadangan terukur saat ini sekitar 10 juta ton. Tingkat produksi rata-rata untuk tahun 1999 (meskipun saya mencatat data terakhir, namun saya akan menyajikan data yang telah resmi dipublikasikan untuk tahun 1999) sekitar 1.600 tpd (ton per day) dengan kadar rata-rata 746,48 g/t-Ag, 6,22 g/t-Au, 14 %-Zn, dan 6 %-Pb. Perhitungan cut-off grade tidak dinyatakan dalam kandungan mineral (% atau g/t, misalnya), melainkan dikonversi dalam nilai dollar ($) yang disebut dengan Net Smelter Revenue (NSR).

Jika melihat tingkat produksinya, maka dapat dikatakan bahwa tambang Greens Creek merupakan tambang bawah tanah berskala kecil. Saat ini tambang Greens Creek sedang berusaha meningkatkan produksi per harinya menjadi sekitar 1,800 hingga 2,000 tpd. Dengan demikian dapat diperkirakan tambang ini akan habis ditambang dalam 15 tahun. Kegiatan pemboran eksplorasi saat ini masih terus berlanjut dan sangat diyakini bahwa cadangan yang ada saat ini masih akan bertambah.

Potensi cadangan bijih Greens Creek pertama kali ditemukan pada tahun 1975, tetapi kegiatan pemboran eksplorasinya baru dimulai pada tahun 1978. Tahap pekerjaan persiapan penambangan (development) awalnya mulai tahun 1987 hingga mencapai produksi penuh pada tahun 1989. Pada tahun 1973 tambang ini tutup sebagai akibat dari jatuhnya harga logam. Namun pada tahun 1996 tambang Greens Creek beroperasi kembali seiring dengan selesainya pekerjaan persiapan penambangan (development).

Penambangan Dengan Metode Drift and Fill

Tambang Greens Creek terletak pada ketinggian sekitar 300 m di atas permukaan laut. Di area ini terdapat fasilitas pabrik pengolahan bijih (mill) serta batch plant untuk pencampuran material isian (filling material), perkantoran, bengkel, gudang material, dsb. Portal utama untuk masuk ke tambang bawah tanahnya berada pada elevasi 280 m.

Untuk mencapai lokasi zona-zona endapan bijih yang terpisah-pisah, dari portal utama tambang yang disebut 920 Portal Entry (berada pada elevasi 920 ft) dibuat lorong atau lubang bukaan mendatar (tunnel). Dari lorong ini kemudian dibuat beberapa lorong naik dan turun (ramp) menuju ke lokasi-lokasi dimana zona bijih berada.

Beberapa lorong bantu (sublevel) selanjutnya dibuat tepat di samping endapan bijih. Ukuran penampang dari lorong-lorong ini umumnya seragam 15 ft tinggi x 15 ft lebar (4,5 m x 4,5 m). Jarak vertikal antara lorong-lorong bantu pada setiap zona bijih adalah 60 ft (18 m). Jumlah lorong bantu yang dibuat untuk setiap zona bijih disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan tinggi dari zona bijihnya.

Penambangan dilakukan dengan membuat lubang bukaan mendatar dari lorong bantu menuju ke badan bijih (orebody). Lubang bukaan mendatar sebelum mencapai badan bijih disebut dengan akses lombong (stope access) dan setelah tepat berada pada badan bijih selanjutnya disebut dengan lombong (stope). Karena yang disebut dengan lombong ini pada dasarnya adalah lubang bukaan mendatar (drift) yang setelah selesai ditambang akan diisi dengan material isian, maka sistem penambangan ini disebut juga dengan Drift and Fill.

Ukuran penampang lombong yang sebenarnya adalah lorong mendatar, yaitu 12 ft tinggi dan 15 ft lebar (3,6 m x 4,5 m). Dengan demikian, dari setiap blok lorong bantu yang tebalnya 60 ft (18 m) akan ditambang dalam lima tingkat yang bergerak dari bawah ke atas. Tingkat paling bawah akan dibuka dengan membuat akses lombong dengan kemiringan (grade) negatif, sedangkan tingkat paling atas akses lombong akan berkemiringan (grade) positif, terhadap elevasi lorong bantu.

Setiap kali selesai dilakukan pelombongan (stoping) maka akan diikuti dengan pengisian material isian (filling material) yang berupa campuran pasir buangan (pasir tailing) dengan semen. Setelah dipadatkan dan mengering, maka akses lombong di atasnya telah siap untuk ditambang dengan ukuran tinggi dan lebar lubang bukaan yang sama. Demikian seterusnya penambangan bergerak dari bawah ke atas.

Karena lebar lombongnya adalah selebar lorong mendatar, maka dari setiap akses lombong yang membujur dapat dibuat banyak lombong yang melintang yang disebut dengan panel-panel, hingga selebar badan bijih. Panel-panel yang melintang ini dibedakan menjadi panel primer (primary panel) dan panel sekunder (secondary panel) secara berselang-seling. Panel-panel primer dibuka dan ditambang lebih dahulu, yang akan dilanjutkan dengan panel-panel sekunder setelah pada panel primer selesai dilakukan pengisian dan pemadatan sehingga setelah kering akan berfungsi sebagai dinding atau pilar bagi panel sekunder.

Dengan demikian maka pada setiap tingkat dari lima tingkat yang direncanakan dari setiap blok penambangan dapat memiliki beberapa permuka kerja (working face) pada saat yang sama. Hal ini memberi keluwesan (flexibility) dalam melakukan operasi penambangan bagi para pekerja dalam setiap gilir kerja (shift).

Peralatan Dan Perlengkapan Penambangan

Secara umum, pekerjaan ekskavasi batuan yang dilakukan di tambang Greens Creek ini adalah pembuatan lorong atau lubang bukaan mendatar (main level, sublevel, drift, stope access, panel). Pola pemboran yang diterapkan untuk setiap lubang bukaan adalah sama, yaitu pola parallel cut dengan 45 lubang isian dan 4 lubang kosong berada di bagian tengah.

Bahan peledak yang digunakan adalah emulsion yang dirangkai dengan menggunakan detonator non-elektrik untuk pengaturan waktu tunda (delay) peledakan. Pengisian bahan peledaknya dengan powder factor 2,25 lbs/ton (0,84 kg/ton). Untuk pengisian bahan peledak ke dalam lubang-lubang tembak (charging) menggunakan truck Getman yang dimodifikasi sehingga mampu membawa emulsion sekaligus untuk pengisiannya, kotak detonator dan perlengkapan peledakan lainnya.

Di dalam tambang terdapat sebuah gudang bantu penyimpanan bahan peledak yang berupa sebuah lubang bukaan mendatar tanpa pagar dan pintu serta tanpa petugas penjaga. Di lokasi ini terdapat dua buah tangki penyimpanan emulsion, dua buah kontainer masing-masing untuk menyimpan detonator dan detonating cord, dan sumbu ledak (safety fuse).

Jenis alat muat yang digunakan adalah LHD (load-haul-dump), yaitu 2 buah Wagner 3,5 cuyd dan 2 buah Wagner 6,0 cuyd (Atlas Copco), serta 3 buah Toro 6,0 cuyd (Tamrock). Jenis alat angkut yang digunakan yaitu 6 buah truck 40 ton untuk pengangkutan batuan bijih (ore) dan sampah (waste) dan 9 buah truck 20 ton untuk pengangkutan batuan sampah dan material isian, masing-masing truck tersebut buatan Atlas Copco dan Tamrock.

Alat pemaku-batuan (rockbolting) yang digunakan adalah bolter (Tamrock) dengan split-set sebagai paku-batuannya, sedangkan alat pemborannya adalah single boom jumbo (Tamrock). Untuk pemadatan material isian digunakan LHD Wagner 3,5 cuyd yang dimodifikasi dengan mengganti bucket-nya dengan jammer.

Dengan menggunakan truck 40 ton, bijih hasil penambangan diangkut ke pabrik pengolahan (mill) yang berada di luar tambang. Hasil konsentrat dari pabrik pengolahan selanjutnya dikapalkan ke berbagai pabrik peleburan (smelter) di seluruh dunia dalam bentuk konsentrat kering.

Material Isian

Pasir buangan (pasir tailing) dari pabrik pengolahan merupakan bahan utama untuk pembuatan material isian. Sekitar 50% dari pasir tailing digunakan sebagai material isian setelah dicampur dengan semen dan air, dan 50% sisanya dibuang ke lokasi penimbunan tailing.

Untuk pembuatan material isian digunakan campuran 86% material solid dan 14% air. Material solidnya terdiri dari pasir tailing dan semen. Kandungan semen sebanyak 5% merupakan campuran yang saat ini dinilai paling baik dari segi kekuatan dan ekonomi. Dalam 3-5 hari setelah pengisian dan pemadatan, ternyata campuran yang berbentuk pasta ini setelah kering dapat menghasilkan kekuatan sekitar 300 psi. Proses pencampurannya dilakukan di sebuah batch plant yang terletak di luar tambang. Untuk pengangkutannya ke dalam tambang digunakan truck 20 ton.

Tenaga Kerja dan Sistem Kerja

Salah satu yang menarik dari tambang ini dibandingkan dengan tambang-tambang lain pada umumnya adalah digunakannya traktor pertanian (Kubota) sebagai sarana pengangkutan karyawan ke dan dari dalam tambang, dengan pertimbangan fleksibilitas untuk bermanuver serta kokoh. Traktor pertanian ini dimodifikasi dengan menambahkan semacam platform pada bagian belakangnya sehingga cukup untuk mengangkut 4-5 orang berdiri. Traktor ini pula yang digunakan oleh para miner untuk menuju ke lokasi kerja masing-masing di bawah tanah. Tak terkecuali, para karyawan staff dan tamu pun akan menggunakan traktor ini untuk masuk ke lokasi-lokasi di bawah tanah.

Jumlah seluruh karyawan tambang Greens Creek saat ini sekitar 270 orang dan kurang dari separohnya bekerja di bagian tambang. Para karyawan bekerja dalam dua gilir kerja (day shift dan night shift) yang pengaturannya mengikuti apa yang dikenal dengan sebutan republic schedule (menyerap dari sebutan sistem gilir kerja yang diterapkan oleh tambang-tambang di daerah Republic, wilayah negara bagian Washington).

Karyawan terbagi dalam tiga kelompok (crew) dengan minimum 40 jam kerja per minggu. Dengan sistem ini maka lama hari liburnya bervariasi antara 2-5 hari libur berturut-turut dengan hari Minggu selalu dijadikan sebagai hari libur. Meskipun demikian, kesempatan tetap terbuka bagi karyawan yang menginginkan kerja lembur (overtime). Oleh karena itu, tambang Greens Creek menggunakan 365 hari per tahun dalam perhitungan produksi tahunannya.

Penutup

Termasuk ramping dalam organisasi, namun ditunjang dengan adanya underground skilled miner yang dimiliki dengan tingkat upah relatif tinggi dibanding daerah-daerah lain di kawasan Amerika Utara, tambang Greens Creek telah membuktikan sebagai salah satu tambang metal bawah tanah yang mampu beroperasi secara menguntungkan dan effisien.

Pada tahun 1998, MSHA (Mine Safety and Health Administration) dan National Mining Association memberi penghargaan bergengsi (national sentinel of safety award) kepada tambang Greens Creek atas unjuk kerjanya yang dinilai sangat baik di bidang keselamatan kerja untuk kategori tambang metal bawah tanah.-

Untuk informasi lebih lanjut : http://www.greenscreek.com/

New Orleans, 4 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

Pengantar :

Selama lima hari dari tanggal 24 hingga 28 April 2001, saya berkesempatan mengunjungi kota Juneau, Alaska. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan ke tambang perak bawah tanah Greens Creek yang dijadwalkan pada tanggal 25-26 April 2001. Tambang Greens Creek yang terletak di Pulau Admiralty merupakan sebuah tambang bawah tanah skala kecil yang beroperasi dengan metode penambangan “Cut and Fill” secara sangat effisien.

Kesempatan untuk mengunjungi tambang Greens Creek di Alaska ini tentu saja juga saya manfaatkan untuk menjelajahi lebih jauh ke wilayah di sekitarnya yang memungkinkan untuk dijangkau, terutama di seputaran kota Juneau. Berbagai pengalaman selama perjalanan singkat ini saya usahakan untuk dapat saya ceritakan secara mendekati real time dan mengirimkannya kepada rekan-rekan saya dalam milis Upnvy dan Upntby (alumni UPN “Veteran” Yogyakarta) melalui media internet. Mudah-mudahan dapat menjadi tambahan informasi yang bermanfaat.

(1).   Tiba Di Juneau Ketemu Sopir Philipino
(2).   Terlambat Bangun Malah Disewakan Pesawat Khusus
(3).   Waktu Sholat Yang Membingungkan
(4).   Jalan-jalan Keliling Kota Dan Dijamu Teman Baru
(5).   Hari Terakhir Di Juneau

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(2).   Terlambat Bangun Malah Disewakan Pesawat Khusus

Hari ini menjadi hari yang kurang menguntungkan bagi saya. Kekhawatiran saya tadi malam rupanya menjadi kenyataan. Pagi tadi saya terlambat bangun, sehingga ketinggalan boat yang menuju ke lokasi tambang Greens Creek di Pulau Admiralty.

Tadi malam saya menunggu waktu sholat Isya’ tiba terlebih dahulu, lalu setel jam dan pergi tidur. Jadi, lewat tengah malam saya baru tidur. Sial sekali, entah karena tidak mendengar alarm jam akibat kecapekan, atau nyetel jamnya yang tidak benar, akhirnya saya terlambat bangun. Lebih malu lagi, karena saya terbangun justru karena ditilpun oleh Sang General Manager tambang Greens Creek pada jam 4:40 pagi.

Sial, malu, memaki pada diri sendiri, lalu istighfar. Pokoknya segala macam perasaan tidak menyenangkan komplit menjadi satu. Dalam ketergesa-gesaan, hanya dalam waktu lima menit, akhirnya saya siap meninggalkan hotel. Buru-buru minta tolong sopir kendaraan hotel untuk mengejar kapal motor yang akan meninggalkan pelabuhan Juneau jam 05:00 pagi.

Di luar pengetahuan saya, rupanya sang sopir mengira saya akan naik pesawat, sehingga saya dibawa ke bandara. Padahal sopir ini sudah biasa mengantarkan orang yang akan menyeberang ke Pulau Admiralty. Setelah saya jelaskan bahwa saya akan menuju ke tambang Greens Creek, barulah dia ngeh (paham apa yang dimaksudkan). Lalu berbalik menuju ke pelabuhan penyeberangan yang jaraknya cukup makan waktu. Setiba di pelabuhan, masih terlihat kapal motor yang akan menuju ke Pulau Admiralty meninggalkan dermaga. Telat satu menit. Tapi ya, namanya tetap saja telat.

Saya sempat dheleg-dheleg, tidak tahu apa yang mesti saya lakukan. Saya ingat, kalau di film-film mestinya saya dapat lari mengejar perahu lalu meloncat dari dermaga dan menjangkau sambil bergelantung di pagar perahu. Tapi kejadian tadi pagi adalah live show, yang ada hanya perasaan menyesal, bingung dan panik, karena berarti saya akan menyia-nyiakan waktu seharian hanya untuk menunggu jadwal kapal motor besok paginya. Itu juga kalau tidak terlambat bangun lagi…….

Akhirnya kembali ke hotel. Di sepanjang perjalanan saya ajak sang sopir untuk diskusi langkah apa yang sebaiknya saya lakukan dan apakah ada cara lain untuk menuju Pulau Admiralty. Di hotel, petugas front desk pun saya ajak rembugan (rundingan). Keputusannya : dengan berbagai cara pagi itu juga saya menghubungi pihak  tambang Greens Creek untuk minta saran. Tentu saja belum ada orang di sana, kecuali mesin penjawab tilpun. Hanya bisa meninggalkan pesan ke mesin.

Perjalanan menuju Pulau Admiralty hanya mungkin ditempuh via udara, karena tidak ada sarana penyeberangan komersial antar pulau, kecuali yang khusus bagi karyawan tambang Greens Creek tadi pagi. Pihak hotel membantu menghubungi berbagai perusahaan penerbangan lokal untuk mencari informasi jasa penerbangan antar pulau yang ada untuk hari itu. Di saat hari masih pagi, hasilnya sama saja, nihil.

Akhirnya saat menjelang jam 07:00 pagi, perusahaan penerbangan Ward Air bisa dihubungi. Jawabnya adalah : “belum ada kepastian apakah ada penerbangan menuju Pulau Admiralty”. Wuuuah, modar aku…….  Dhelek-dhelek lagi……

Lha kok ndilalah (secara kebetulan), Sang General Manager yang sudah tiba di kantornya sekitar jam 07:15 menilpun ke kamar hotel dan mengatakan agar saya langsung saja menuju ke Ward Air, karena sudah dibuatkan reservasi untuk berangkat jam 08:00.

“Alhamdulillah….., mak plong rasanya”. Lha kok ya kebetulan sekali saya berurusan dengan orang bule yang baik hati dan penuh pengertian (ini tentu sebutan versi saya). Langsung saja saya minta diantarkan menuju ke bandara pemberangkatan Ward Air. Akhirnya jam setengah delapan lewat sedikit, saya sudah tiba di sana, dengan perasaan lega selega-leganya.

Jam 07:45 sopir pesawatnya sudah ngajak berangkat. Dibantunya saya membawa barang bawaan, lalu disuruhnya saya naik ke pesawat kecil. Kecil seperti mainan saja, berkapasitas 6 orang termasuk pilotnya. Rupanya hanya saya sendiri penumpangnya. Pak Pilot pun menawarkan untuk duduk di depan di sebelahnya. Kebetulan, ethok-ethok (pura-puranya) menjadi co-pilot. Ada sedikit rasa bangga, bisa naik pesawat khusus sendirian. Tapi lebih banyak rasa malu pada diri sendiri, akibat keteledoran terlambat bangun lalu jadi seperti diperlakukan istimewa.

Tanpa halo-halo segala macam, Pak Pilot langsung tancap gas. Perjalanan menuju Pulau Admiralty hanya ditempuh kurang dari 15 menit pada ketinggian jelajah sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Belum jam 08:00 sudah mendarat, atau tepatnya “mengair” karena berhentinya di atas air di dermaga Pulau Admiralty.

Sambil menunggu kendaraan jemputan dari tambang, saya sempatkan untuk ngopi dulu di kantin di lingkungan camp site-nya karyawan tambang Greens Creek. Gratis. Untuk menuju ke tambang yang terletak pada elevasi sekitar 300 meter di atas permukaan laut, dari camp ini saya masih harus menempuh perjalanan darat sejauh 8 mil (sekitar 13 km) yang ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit.

Tiba di lokasi tambang, hanya rasa malu, disertai ucapan maaf dan terima kasih, yang meluncur tidak habis-habisnya. Untungnya, kejadian yang saya alami tadi pagi sepertinya (mudah-mudahan penilaian saya benar) dapat dipahami. Terbukti dari hangatnya sambutan dan penerimaan dari semua pihak di tambang Greens Creek. Bersyukur sekali saya, di hari yang sedang sial ini ketemu dengan orang-orang yang baik.

***

Dengan ditemani oleh Chief Engineer tambang Greens Creek, pagi itu saya menjelajahi lorong-lorong tambang bawah tanah. Tidak sebagaimana tambang-tambang umumnya, sarana transportasi ke tambang bawah tanah ini bukannya mobil, melainkan traktor pertanian yang dimodifikasi sehingga di bagian belakang kemudinya ada platform untuk penumpang berdiri. Dalam hati saya jadi geli (ingin tertawa) sendiri. Kok jadi seperti kernet angkutan kota……

Tambang Greens Creek termasuk tambang bawah tanah skala kecil dengan tingkat produksi hanya sekitar 1.800 ton bijih per hari. Hasil utamanya adalah perak, seng, emas dan timbal. Metode penambangannya adalah “Cut and Fill” dengan sedikit modifikasi, sehingga sebenarnya lebih tepat disebut dengan metode “Drift and Fill”. Pendeknya, lebih 3 jam saya jadi “kernet traktor”, mutar-mutar di lorong-lorong tambang bawah tanah. Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi kecil di kantor sambil beristirahat. (Tentang tambang ini sendiri, mudah-mudahan saya akan sempat menceriterakannya secara lebih lengkap dalam Catatan Perjalanan yang akan saya tulis menyusul).

Sore harinya, mestinya saya dapat kembali dan menginap di hotel di Juneau, untuk esok pagi berangkat lagi ke tambang. Namun saya memilih untuk tinggal di camp site. Toh, hanya semalam ini saja. Besok sore rencananya saya akan meninggalkan tambang Greens Creek dan bermalam di Juneau. Hitung-hitung untuk merasakan pengalaman baru dan berbeda, tinggal di lokasi perumahan karyawan tambang, di sebuah pulau terpencil di Alaska yang katanya banyak beruang coklat (grizzly) dan beruang hitam serta rusa liar.

Rusanya sudah beberapa yang saya jumpai dalam perjalanan darat menuju ke lokasi tambang tadi pagi. Sedangkan untuk ketemu beruang, katanya perlu nasib baik kalau kebetulan sang beruang sedang main-main ke pinggiran jalan tambang. Demikian pula untuk melihat ikan paus atau singa laut, perlu nasib baik karena sesekali suka muncul saat dalam perjalanan boat dari Juneau ke Pulau Admiralty.

Sore tadi saya memenfaatkan waktu untuk jalan-jalan di seputar camp site di pinggiran Pulau Admiralty yang berpemandangan cukup menawan, di bawah suhu udara sangat dingin. Malam ini saya ingin tidur lebih awal. Sementara jadwal waktu sholat lebih agak merepotkan dibanding kemarin. Waktu sholat Isya’-nya hari ini sangat pendek, yaitu Isya’ jam 23:55 dan Subuh besok jam 01:10 dini hari.

Wooops ……., sorry. Rupanya saya tidak berhasil men-dial-up untuk melakukan hubungan internet. Entah kenapa, saya sudah malas mengkutak-katik berhubung sudah ngantuk. Apa boleh buat, surat kedua ini tidak dapat saya kirimkan tepat waktu dari pulau terpencil ini. Mudah-mudahan dapat saya kirimkan besok. Mohon dimaklumi.

Pulau Admiralty, 25 April 2001 – 21:30 AKST (26 April 2001 – 12:30 WIB) 
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(3).   Waktu Sholat Yang Membingungkan

Tadi malam, ketika saya coba-coba on-line dari sebuah kamar di camp-site ternyata tidak berhasil, saya langsung tidur saja karena sudah suuuangat ngantuk. Lebih-lebih dihantui kekhawatiran kalau esok pagi terlambat bangun lagi. Sholat Isya’ terpaksa saya jama’ takdim (mendahulukan sebelum waktunya tiba) bersamaan waktunya saat sholat Maghrib. Saya mantapkan niat bahwa saya sedang dalam “status” sebagai musafir.

Pagi tadi jam 04:00 sudah bangun. Siap-siap, lalu sarapan pagi dan membungkus bekal untuk dibawa ke tambang. Udara pagi di seputaran camp-site yang terletak di pinggir pantai Pulau Admiralty terasa sangat dingin, lebih-lebih angin kencang yang bertiup dari arah laut. Untuk menikmati sebatang rokok seusai sarapan pagi terpaksa sambil jalan mondar-mandir ke sana-kemari, berhubung dilarang merokok di dalam ruangan.

Jam 05:00 pagi bis yang membawa karyawan berangkat menuju ke lokasi tambang. Agenda saya hari ini adalah ketemu dengan bagian Geologi untuk mengetahui lebih jauh tentang grade control dalam kaitannya dengan metode penambangan “Cut and Fill” dimana diterapkan prinsip selective mining guna mengurangi dilution atau pengotoran batuan bijih (ore) oleh batuan samping atau batuan sampah (waste).

Sekitar tiga jam hingga tengah hari saya kembali menyusuri lorong-lorong bawah tanah menyertai dua orang geologist (laki-laki dan perempuan) sambil memahami kasus-kasus di lapangan dalam kaitannya upaya mereka mengontrol aplikasi selective mining. Seperti halnya hari kemarin, saya naik traktor Kubota yang dimodifikasi sedemikian rupa. Bedanya kalau kemarin berdiri seperti kernet, hari ini saya duduk di sebelah supir.

***

Salah satu tujuan saya mengunjungi tambang bawah tanah Greens Creek adalah untuk memahami bagaimana tambang ini menerapkan metode penambangan “Cut and Fill”. Sebuah modifikasi metode penambangan yang direncanakan akan diterapkan bagi salah satu potensi endapan bawah tanah Freeport yang selama ini menerapkan metode “Block Caving” untuk beberapa potensi endapan bawah tanahnya.

Tambang Greens Creek merupakan joint venture antara Kennecott Minerals (70,3%) dan Hecla Mining Company (29,7%). Sedangkan di Kennecott sendiri ada terdapat saham Rio Tinto, seperti halnya Rio Tinto juga punya saham di Freeport. Oleh karena itulah maka atas saran Rio Tinto pula saya mengunjungi tambang Greens Creek berkaitan dengan prospek metode penambangan “Cut and Fill” yang kira-kira akan diterapkan di salah satu potensi bawah tanah tambang Freeport.

Dengan total karyawannya sekitar 270 orang dan kurang dari separohnya adalah bagian tambang, ternyata tambang ini termasuk tambang yang effisien meskipun biaya operasi per tonnya relatif tinggi. Tambang perak, seng serta emas dan timbal ini termasuk tambang skala kecil dan dapat dikatakan operasinya berjalan sederhana. Kurang sophisticated dibandingkan tambang-tambang besar lainnya. Namun operasi tambangnya sangat ditunjang dengan adanya para underground skilled miner yang dimilikinya.

Endapan bijih tambang Greens Creek pertama kali diketemukan tahun 1975. Berproduksi secara penuh baru pada tahun 1989 seusai tahap eksplorasi dan development. Tahun 1993 tambang ini tutup sebagai akibat dari jatuhnya harga logam, hingga akhirnya beroperasi kembali pada tahun 1996 hingga sekarang.

Lokasinya yang cukup terpencil memang menyulitkan untuk suplai kebutuhan materialnya. Sebagian karyawan ada yang tinggal di kompleks perumahan (camp-site) yang terletak di pinggir dermaga pengapalan konsentrat dan mereka ini umumnya karyawan lajang. Sebagian lainnya yang mempunyai keluarga dan tinggal di Juneau, biasanya berangkat pagi-pagi naik kapal motor yang disewa perusahaan lalu disambung bis dan demikian pula saat pulang kerja sore hari. Cara ini berlaku sama bagi setiap karyawan baik miner maupun General Manager. Karena itu ya mohon dimaklumi, kalau saya merasa sangat “tidak enak” ketika harus naik pesawat khusus pagi kemarin.

***

Sore tadi, saya pun meninggalkan lokasi tambang Greens Creek setelah berpamitan dengan Sang General Manager yang (di mata saya) sangat baik. Sekali lagi saya memohon maaf kepada beliau dan sangat berterima kasih atas kesempatan yang sangat berharga ini. Jawaban beliau kira-kira begini : “Sudahlah, itu tidak perlu diingat-ingat. Siapa saja bisa terlambat kalau mesti berangkat jam 4:00 pagi”. Kata-kata yang bernada ngayem-ayemi (membuat perasaan lega) ini tentu saja cukup meringankan beban perasaan saya ketika meninggalkan tambang Greens Creek.

Akhirnya saya pun kembali ke hotel yang sama seperti saat pertama kali tiba di Juneau. Malam ini mau istirahat dulu. Perjalanan kunjungan tambang selama dua hari ini saya rasakan sukses dan memuaskan. Banyak hal baru yang saya pelajari untuk dijadikan bahan kajian lebih lanjut. Meninggalkan lokasi tambang naik bis menuju dermaga kapal motor yang lokasinya berbeda dan cukup jauh dari lokasi camp site. Untuk mencapai dermaga kapal motor ini perlu menempuh perjalanan darat sekitar 25 km selama 45 menit dari lokasi tambang. Dari dermaga disambung dengan kapal motor (boat) yang cukup mewah menuju dermaga di Juneau selama kira-kira 30 menit.

Besok adalah hari Jum’at yang adalah hari bebas saya. Mestinya saya akan langsung kembali ke New Orleans menempuh perjalanan sekitar 10 jam termasuk transit di Seattle dan Houston. Jika ditambah dengan perbedaan waktu antara Alaska dan Louisiana, maka perjalanan seakan-akan menjadi 13 jam. Oleh karena itu, tetap saja saya baru akan mulai masuk kantor hari Seninnya. Saya pikir-pikir, ya mendingan saya manfaatkan waktu sehari lagi untuk menjelajahi kawasan Juneau sebelum pulang ke New Orleans. Toh, masuk kerjanya juga hari Senin.

***

Hari-hari ini matahari tepat di katulistiwa. Akibatnya jadwal sholat di wilayah beriklim dingin seperti Alaska ini menjadi “agak merepotkan”. Malam ini waktu Isya’ baru tiba tengah malam lewat sedikit (kira-kira jam 00:05). “Lha, njuk kapan tidurnya?”. Tapi anehnya, waktu Shubuh besok malah mundur 2 jam dibanding tadi pagi, yaitu menjadi jam 03:22 dini hari. Bingung juga saya, kok perubahan waktunya tidak teratur. Pokoknya ya ikuti sajalah.

Juneau, 26 April 2001 – 22:30 AKST (27 April 2001 – 13:30 WIB) 
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(4).   Jalan-jalan Keliling Kota Dan Dijamu Teman Baru        

Jum’at pagi ini cuaca kota Juneau tidak terlalu cerah. Sama seperti beberapa hari kemarin. Sesekali cahaya matahari menerangi bumi Alaska, tetapi lebih sering tertutup awan dengan rintik-rintik hujan. Pagi hingga siang hari suhu udara berkisar di angka 43 derajat Fahrenheit (sekitar 6 derajat Celcius). Cukup membuat saya kedinginan kalau berlama-lama di tempat terbuka, meskipun sudah mengenakan jaket.

Akan tetapi karena ya memang sudah diniati ingin memanfaatkan waktu hari bebas hari ini, maka tetap saja saya merencanakan untuk keluar melihat-lihat sisi lain dari kawasan kota Juneau ini. Sebelumnya saya memang sudah janjian dengan sopir hotel yang orang Philipina. Bahwa hari ini dia off dari kerja paruh waktunya sebagai sopir di hotel dan bersedia menemani saya jalan-jalan.

Wah, ya tentu saja tawaran ini saya terima dengan senang hati. Rupanya memang ada jiwa kultur Melayu yang serupa dengan orang Indonesia, yaitu bahwa karena merasa sama-sama jauh dari kampung halaman, maka kami menjadi seperti saudara saja layaknya.

Pagi tadi saya datangi rumahnya yang merangkap sebagai tempat usahanya. Orang Philipina yang bernama Rodel Bulaong ini menjalankan usaha jasa pengiriman barang ke Philipina. Rupanya memang cukup banyak perantau asal Philipina di Alaska ini yang sudah menjadi WNA (warga negara Amerika). Di kota Juneau saja ada lebih 6.000 orang, belum lagi di kota-kota lainnya termasuk kota terbesarnya Anchorage. Maka tidak mengherankan setiap ada pemilihan gubernur negara bagian, si calon gubernur biasanya menyempatkan “sowan” ke warga asal Philipina guna meminta dukungan. Itu karena prosentase pemilih asal Philipina cukup untuk mengangkat angka perolehan suara si calon Gubernur.

Memenuhi janjinya, Mas Rodel seharian tadi mengantarkan saya jalan-jalan keliling kota Juneau, termasuk ke downtown dan menyeberang ke Pulau Douglas dengan menggunakan kendaraannya. Kalau hari Selasa yang lalu sebagai sopir hotel dia mengantar-jemput saya ke Mendenhall Glacier dan saya memberinya tip sebagaimana menjadi kebiasaan di Amerika. Seharian tadi sebagai kawan dia menemani saya keliling kota dengan cukup saya yang membeli bensinnya.

Rencana semula saya memang mau sewa kendaraan saja biar lebih bebas ngeluyur kemana-mana, tapi rupanya dilarang oleh Mas Rodel yang baik ini. Dikatakannya bahwa sewa kendaraan di Juneau sangat mahal dibandingkan kota-kota lain di Amerika, demikian halnya dengan taksi. Untuk dua hari sewa kendaraan bisa menghabiskan US$100-200. Demikian halnya kalau di kota-kota lain naik taksi untuk jarak kira-kira dari hotel tempat saya menginap ke downtown berkisar US$10, di Juneau bisa US$30.    

***

Siang tadi saya ke downtown, selain ingin jalan-jalan melihat pusat kota yang tidak besar dan tidak ramai ini, juga mencari sekedar barang-barang souvenir. Rupanya banyak toko-toko pada tutup, ada banyak juga yang tutup karena sedang dalam perbaikan. Katanya karena ini bukan musim liburan sehingga tidak banyak pengunjung. Alasan ini masuk akal kalau mengingat Juneau bukanlah kota besar dan relatif terisolir terhadap daratan Amerika lainnya. Setidaknya untuk mencapai kota ini tidak dapat dicapai lewat jalur darat. Umumnya lewat udara, sedang kalau lewat laut bisa dua hari atau lebih.

Langit yang mendung, hujan rintik-rintik dan hawa dingin memang membuat acara jalan-jalan siang di kota Juneau menjadi kurang leluasa, meskipun ya saya lakukan juga. Dari downtown saya menyeberang ke Pulau Douglas melalui Douglas Bridge sebagai satu-satunya jembatan penghubung antara kota Juneau dan Pulau Douglas. Di sepanjang pantai selatan Juneau berada beberapa dermaga, antara lain Aurora dan Harris. Banyak perahu-perahu motor pesiar milik perorangan yang ditambatkan di sini. Memandang ke arah utara tampak puncak-puncak pegunungan yang berwarna putih karena diselimuti salju.

Sebelum saya berada di Juneau, saya membayangkan di kota ini akan menyewa kendaraan dan lalu saya akan traveling menuju ke kota-kota lain di Alaska. Kini kejadiannya tidak semudah yang saya bayangkan. Karena sekalipun saya membawa kendaraan sendiri, praktis saya tidak akan dapat kemana-mana kecuali keliling di seputaran kota Juneau saja. Untuk dapat menuju ke kota lain seperti Anchorage atau Fairbank, saya harus terbang dulu dari Juneau, baru di sana sewa kendaraan. Sementara ongkos pesawat tergolong cukup mahal dibandingkan jarak yang sama di daratan utama Amerika.

Kalaupun dipaksakan mau berkendaraan, maka harus menyeberang menggunakan jasa kapal feri menuju ke arah hulu sungai Yukon yang dapat memakan waktu 6 jam lebih untuk menyeberang ke kota lain. Selanjutnya dari sana berkendaraan melewati satu-satunya jalan darat yang ada, masuk lebih dahulu ke wilayah negara Canada. Karena itu hanya mereka yang benar-benar punya waktu longgar yang mau menggunakan cara ini.

Saya menyadari bahwa waktunya memang tidak tepat untuk berwisata ke Alaska. Waktu yang tepat adalah di saat musim panas. Oleh karena itu yang ingin saya lakukan saat ini adalah mengeksplorasi sebanyak-banyaknya kawasan di seputaran kota Juneau yang memungkinkan untuk dijangkau.

***

Jum’at siang tadi “tepaksa” saya tidak Jum’atan. “Lha piye, wong ora ono mesjid” (tidak ada masjid) di Juneau. Menurut daftar masjid di Amerika yang saya miliki, di Alaska hanya ada di kota Anchorage yang jaraknya sekitar 800 mil (1.280 km) dari Juneau dan dapat ditempuh dengan pesawat udara selama dua jam.

Saya coba-coba membolak-balik buku tilpun tidak saya ketemukan masjid atau komunitas muslim di Juneau. Saya mencoba melacak beberapa nama yang berbau Arab dalam buku tilpun, dengan maksud akan saya tilpun untuk saya tanyai dimana bisa Jum’atan. Tapi ya tidak ketemu wong mencarinya secara acak, mau membaca satu-persatu daftar buku tilpun khawatir keburu sudah Ashar. Belakangan teman baru saya yang juga asal Philipina berceritera bahwa dia pernah ketemu keluarga muslim di Juneau, barangkali ada beberapa keluarga.

Sore tadi saya diundang diajak makan di rumah seorang teman asal Philipina juga. Bersama Mas Rodel sekitar jam 06:30 sore meninggalkan hotel menuju ke rumah seorang teman baru bernama Lorenzo Jaravata. Di depan hotel ada billboard yang selalu menunjukkan waktu dan suhu udara. Dari billboard yang tampak dari jendela kamar hotel, sore tadi hingga malam ini suhu udara terbaca 36 derajat Fahrenheit (sekitar 2 derajar Celcius). Bagi saya bukan hanya cukup dingin, melainkan membuat saya kedinginan berada di luar.

Mas Lorenzo yang bekerja sebagai salah seorang Manager Bank di Juneau ini rupanya hobinya memasak. Kami pun lalu dijamu di rumahnya. Sambil ngobrol duduk di depan dapur apartemennya, sambil dia mempersiapkan masakan. Untuk kesekian kalinya selama di Alaska ini saya ketemu orang-orang yang sangat baik, setidak-tidaknya memperlakukan saya sebagai seorang sahabat meskipun baru kenal.

Pulang dari rumah Mas Lorenzo jadi ngantuk kekenyangan. Biasa, perut kampung. Maka ajakan Mas Rodel untuk menjemput beberapa teman perempuannya lalu menuju ke diskotik malam ini saya tolak dengan awalan “I’m very sorry”. Toh, sahabat baru saya ini memahami penolakan saya. Lha wong perut lagi kemlakaren (kekenyangan) kok diajak njoget. Yang saya khawatirkan sebenarnya bukan njoget-nya, melainkan kalau sepulang dari diskotik kembali ke hotel terus saya tidak bisa ngomong “I’m sorry”….. 

Juneau, 27 April 2001 – 23:00 AKST (28 April 2001 – 14:00 WIB)  
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(5).   Hari Terakhir Di Juneau

Semalam tidur saya cukup nyenyak setelah dijamu di rumahnya Mas Lorenzo yang ternyata adalah seorang Philipino yang cukup idealis. Oleh perusahaan tempat kerjanya dia sering dipercaya melakukan traveling ke berbagai negara dalam rangka dinas. Dia juga berceritera pernah enam bulan menjadi anggota NPA (New People Army), itu organisasi militer bawah tanah-nya Philipina.

Hari Sabtu ini adalah hari terakhir saya di Juneau, Alaska. Pesawat Alaska Airlines yang saya tumpangi dari Juneau tinggal landas jam 19:04 menuju Seattle, lalu akan disambung dengan pesawat Continental Airlines menuju Houston dan akhirnya ke New Orleans. Jika tidak ada halangan saya baru akan tiba di New Orleans pada hari Minggu pagi besok sekitar jam 09:00.

Siang tadi saya ajak Mas Rodel untuk menemani menyusuri jalan utama kota Juneau, yaitu Highway 7 yang menuju ke arah barat laut yang merupakan penggal jalan Glacier Highway dan Veteran Memorial Highway. Sedangkan penggal jalan yang menuju ke arah tenggara disebut Thane Road. Rute jalan yang menuju barat laut ini kira-kira sepanjang 40 mil (64 km). Dapat dikatakan selepas dari kota Juneau jalan ini sangat sepi, membentang menyusuri pesisir barat daya Juneau.

Hampir di sepanjang perjalanan di sisi barat daya jalan tampak Selat Favorite yang memisahkan daratan Juneau dengan beberapa perbukitan di pulau-pulau kecil yang puncaknya tertutup salju. Di sisi timur laut jalan juga berupa perbukitan yang puncak-puncaknya tertutup salju. Hutan pepohonan pinus mendominasi pemandangan di sebelah-menyebelah pinggir jalan.  

Siang tadi cuaca sangat cerah, tidak sebagaimana beberapa hari terakhir saya berada di kota ini. Suhu udara berkisar 52 derajat Fahrenheit (sekitar 11 derajat Celcius). Cukup hangat. Matahari juga memancarkan sinarnya. Nyaris tidak banyak awan menghalangi. Perjalanan menyusuri Glacier Highway pun berjalan lancar. Sesekali ketemu dengan orang-orang atau kendaraan lain yang sedang mengisi liburan dengan memancing, berperahu, berkemah, sekedar jalan-jalan santai atau piknik di hutan pinus, bersepeda, serta ada juga yang berolah raga panjat tebing. 

Jalan Glacier Highway ini rupanya habis di sekitar mil ke 40 (km ke 64). Buntu dan tidak ada terusannya lagi. Hanya ada kawasan untuk berekreasi. Itulah jarak terjauh yang dapat dijelajahi ke arah barat laut dari wilayah kota Juneau yang memang wilayahnya terisolir dari mana-mana, kecuali dihubungkan melalui sarana udara dan laut. Setelah berhenti beristirahat sejenak lalu kembali menuju ke kota Juneau.

Di perjalanan kembali ke Juneau ini, saya sempatkan untuk berhenti beberapa kali menikmati pemandangan alam laut dan pantai yang indah dengan latar belakang pulau-pulau dengan puncak bukitnya berwarna putih kemilau karena salju yang memantulkan cahaya matahari. Sempat juga berhenti sejenak melihat beberapa orang yang sedang berolahraga panjat tebing di pinggir jalan. Siang tadi saya sungguh beruntung, sempat menjumpai seekor beruang hitam yang sedang longak-longok di pinggir jalan.

Kata orang, beruang hitam ini termasuk jenis beruang yang pemalu, ukuran badannya agak kecil dan kurang agresif. Kalau ketemu suasana hiruk-pikuk cenderung menghindar. Berbeda dengan jenis beruang coklat (grizzly) yang postur tubuhnya lebih gagah dan besar, serta lebih agresif.

***

Kota Juneau memang tidak besar serta tidak sepadat atau sesibuk kota-kota lainnya di Amerika. Dengan mengalokasikan waktu sehari saja rasanya sudah akan dapat menjangkau semua kawasan yang dapat dikunjungi.

Setiba kembali dari ujung jalan Highway 7, saya menuju ke downtown. Di sana ada sarana wisata kereta gantung (tramway) yang menghubungkan pusat kota dengan salah satu Puncak bukit di utaranya. Menurut brosur wisatanya, di puncak bukit itu kita dapat jalan-jalan menikmati pemandangan kota dari ketinggian dan menikmati suasana alam di dekat kawasan bersalju. Ongkosnya sekitar $20 per orang pergi-pulang (naik dan turun lagi dengan tram).

Setiba di bagian penjualan tiket, saya lihat kok sepi sekali, malah saya mesti ketuk-ketuk pintu dulu sebelumnya. Wow…, rupanya kegiatan wisata naik kereta gantung (tramway) ini hanya dibuka pada musim panas (summer) saja. Untuk tahun ini baru akan mulai dibuka tanggal 1 Mei nanti.

Wah, rupanya timing saya untuk berwisata ke Alaska memang tidak tepat. Beberapa obyek wisata alam juga umumnya baru buka saat musim panas tiba. Malah ada yang hanya bulan Juli-Agustus saja setiap tahun. Barangkali karena masih banyak kawasan yang tertutup salju saat di luar musim panas.

***

Sekitar jam 6:00 sore lebih, akhirnya saya menuju ke bandara international Juneau dengan diantar oleh sahabat baru saya yang orang Philipino, Mas Rodel Bulaong. Agak terlambat check-in, tapi tidak menjadi masalah karena pesawat Alaska Airlines yang terbang ke Seattle malam ini tidak terlihat penuh penumpang.

Jam 19:00 lebih sedikit, pesawatpun lalu tinggal landas meninggalkan bandara internasional Juneau. Hari masih sangat cerah, wong matahari masih tampak agak tinggi. Ini dapat dipahami karena matahari baru akan terbenam selepas jam 20:30.

Begitu lepas landas tadi, pesawat langsung berada di sela-sela perbukitan yang putih berkilau oleh hamparan salju. Lalu semakin tinggi dan semakin tinggi, hingga akhirnya berada pada ketinggian sekitar 10 km di atas permukaan laut. Perjalanan dari Juneau menuju Seattle akan ditempuh sekitar 2 jam. Diperkirakan akan mendarat di Seattle sekitar jam 22:00 waktu Seattle (21:00 waktu Alaska).

Sebentar lagi pesawat Alaska Airlines yang saya tumpangi akan tiba di Seattle, maka tulisan inipun segera saya akhiri, karena laptop saya segera akan saya matikan. Terdengar pak sopir pesawat sudah berhalo-halo memberitahu kepada penumpang bahwa pesawat segera akan mendarat di Seattle. Mudah-mudahan setiba di New Orleans hari Minggu besok, surat bagian terakhir ini dapat segera saya posting.

Usai sudah perjalanan singkat lima hari ke Juneau, Alaska, dalam rangka mengunjungi tambang perak bawah tanah Greens Creek. Tentu saja tidak saya sia-siakan kesempatan untuk dapat melihat lebih banyak daerah di sekitar Juneau di sela-sela waktu kunjungan tambang.- (Selesai).

Antara Juneau dan Seattle (di pesawat Alaska Airlines), 28 April 2001- 20:00 AKST (29 April 2001 – 11:00 WIB)
Yusuf Iskandar