Archive for the ‘> Dari New Orleans Ke Kendal’ Category

Dari New Orleans Ke Kendal

5 Februari 2008

Pengantar :

Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya telah membawanya untuk bekerja di tempat yang jauh dari sanak famili.-

(1).     Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
(2).     Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
(3).     Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
(4).     Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
(5).     Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
(6).     Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
(7).     Jika Ingin Tilpun dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
(8).     Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
(9).     Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(2).   Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba

Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30, sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans, tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal dunia sekitar satu  jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal. Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.

Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda dari yang saya rencanakan. Sudah pasti saya tidak akan menangi almarhum ibu saya. Lha wong baru akan tiba di rumah hari Selasa malam atau mungkin malah hari Rabunya. Maka saat itu juga saya pesankan agar secepatnya dilakukan persiapan pemakaman tanpa perlu menunggu kedatangan saya.

Dengan perasaan tidak menentu di sepanjang perjalanan menuju bandara New Orleans, saya mantapkan niat bahwa musibah ini harus dihadapi dengan ikhlas dan tawakal. Hanya dalam doa di sepanjang perjalanan pulang dari New Orleans ke Kendal, saya bisa menyertai ibu saya yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(3).   Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang

Penerbangan New Orleans ke Dallas – Ft.Worth selama satu setengah jam dengan pesawat American Airlines (AA) berjalan lancar. Hari itu juga disambung dengan penerbangan lanjutan AA menuju Tokyo. Di perjalanan, sambil membayangkan persiapan pemakaman ibu saya, sambil terus mengirimkan doa, sambil saya berpikir apakah ada cara lain untuk mendapatkan penerbangan tercepat menuju kampung halaman. Jelas, bermalam di Tokyo bukan pilihan yang tepat (meskipun bunyi tiketnya demikian) di saat seperti itu.

Perjalanan selama 16 jam menuju Tokyo dengan menyeberangi Samudra Pasifik, sepertinya kurang dari 4 jam. Berangkat dari Dallas jam 11:30 siang, tiba di Tokyo jam 15:15 sore. Di sepanjang perjalanan, setiap kali saya memperhatikan petunjuk waktu setempat (saat dimana posisi pesawat berada), hanya berkisaran di seputar jam 1, 2 atau 3 siang. Tidak mengalami sore, malam dan pagi. Dari Dallas hari Minggu, tiba di Tokyo hari Senin, karena perjalanan menyeberangi Samudra Pasifik adalah perjalanan melewati garis batas penanggalan internasional.

Tapi sebagai seorang muslim, saya “untung”. Selama perjalanan 16 jam, bahkan hari telah berganti, saya hanya berkewajiban sholat satu kali saja, yaitu Dzuhur yang waktunya suuuaangat panjang. Lha waktu-waktu sholat yang lain kemana? Ya, embuh….. Wong nyatanya begitu, berangkat dari Dallas menjelang waktu Dzuhur, tiba di Tokyo sesudah bedug Ashar. Penjelasan yang paling masuk akal adalah barangkali karena pesawatnya bergerak ke arah barat bersamaan dengan “bergeraknya” matahari, sehingga waktunya seperti siang terus.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat

Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada, saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.

Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya berniat menilpun bapak saya dari pesawat. Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan bapak dan adik-adik saya di Kendal.

Saya tatap terus gagang tilpun di depan saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata cara penggunaan tilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).

Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$ 10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.

Maka, gagang tilpun segera saya angkat, saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata memang langsung ….. kring, di Kendal sana (saya sedemikian percaya diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah saya, pasti dia akan berpikir bahwa saya tidak ndeso. Wong sudah saya hapalkan tata caranya).

Pembicaraan dengan bapak dan adik saya ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ….., rasanya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(5).   Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa

Senin sore, 14 Pebruari 2000, sekitar jam 15:45 saya sudah berada di ruang kedatangan bandar udara Narita, Tokyo. Dari sinilah, rupanya serangkaian upaya yang sangat melelahkan di sepanjang perjalanan saya dari New Orleans ke Kendal akan saya mulai.

Menurut tiketnya, saya akan bermalam di Tokyo menunggu perjalanan sambungan menuju Jakarta esok harinya dengan Japan Airlines (JL), karena rute inilah yang akhirnya saya dapatkan saat pesan tiket di New Orleans. Oleh karena itu bagasi saya harus diambil di Tokyo. Untuk mengambil bagasi, saya harus keluar dari bandara melewati imigrasi, dan untuk melewati imigrasi saya ditanya tentang visa kunjungan ke Jepang.

Karena saya hanya akan overnight menunggu penerbangan sambungan esok harinya, maka diperlukan shore pass. Sedangkan untuk memperoleh shore pass saya mesti menghubungi dan meminta kepada petugas American Airlines (AA), yaitu perusahaan penerbangan yang mengatur perjalanan saya dari Amerika.

Petugas imigrasi bandara Narita lalu menunjukkan agar saya menuju counter AA. Saya pun segera mundur dari gerbang imigrasi, dan menuju counter AA yang dimaksud. Ternyata di sana tidak ada siapa-siapa, bahkan nyaris tidak ada tanda-tanda bahwa di situ tempat meminta shore pass. Saya pun celingukan, berjalan kesana-kemari, kesal, sambil jelalatan barangkali ada petunjuk arah. Karena tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di counter yang ditunjukkan tadi., saya lalu berhenti dan bersandar di sebuah meja setinggi dada (dalam hati saya mereka-reka, orang Jepang ini umumnya pendek tapi meja counter-nya kok tidak lazim tingginya).

Eh, lha kok ternyata di atas meja itu ada tempelan kertas bertuliskan kira-kira bunyinya adalah : jika Anda perlu bantuan untuk mendapatkan shore pass, silahkan hubungi nomor-nomor di bawah ini….. Lalu tertulis berderet nama perusahaan penerbangan beserta nomor-nomor tilpun.

Saya temukan nomor tilpun untuk pesawat AA, ternyata nomor tilpun yang aslinya dicetak dengan komputer sudah dicoret dan diganti dengan tulisan tangan. Dan itupun sudah juga dicoret lagi, diganti dengan tulisan tangan yang lebih jelek, dan nulisnya miring lagi. Di balik meja tinggi itu ada sebuah pesawat tilpun dan komputer “kuno” yang sepertinya tidak pernah dipakai. Tampak kusam dan sudah tidak cerah lagi warnanya.

Sejenak saya tolah-toleh, sekedar untuk meyakinkan bahwa di situ memang tidak ada siapa-siapa, selain ada seorang ibu muda yang juga penumpang pesawat yang sedang sama bingungnya dengan saya. Lalu saya beranikan diri mengangkat gagang tilpun, ambil nafas sejenak, lalu menekan sebuah nomor yang tertulis jelek itu. Entah mau nyambung kemana atau siapa, yang penting tilpun. Dalam hati saya berharap, mudah-mudahan nomornya tidak salah, tidak salah sambung dan tidak dijawab oleh mesin otomatis. Berhasil…..!

Ternyata memang langsung nyambung ke kantor perwakilan AA, entah kantornya ada di mana. Belum sempat saya mengutarakan maksud saya menilpun, dengan cepat ditimpali oleh pembicara di seberang sana dan saya diminta menunggu sebentar, karena petugas AA akan segera datang (dalam hati saya berharap mudah-mudahan yang menjawab tadi bukan jin Tomang yang suka menterjemahkan kata-kata “sebentar” berarti bisa sampai satu jam).

Seperti tahu kekhawatiran saya, dua orang petugas AA yang nampak jelas mereka orang Jepang, memang membuktikan pesannya tadi. Belum lima menit…., sudah sampai ke meja tempat saya menilpun tadi. Lho, kok tahu kalau saya menilpun dari situ?

Agaknya mereka lari, nafasnya masih ngos-ngosan, karena itu saya tidak tega untuk langsung mencecar dengan pertanyaan. Tapi sepertinya mereka sudah paham apa yang saya butuhkan, barangkali memang itu tugas rutinnya, sehingga malah mereka yang mendahului mengajukan pertanyaan beruntun, antara lain saya datang dengan pesawat nomor berapa, penerbangan lanjutannya dengan pesawat apa, nomor berapa, kapan, dsb. Tiba-tiba saya merasa menjadi tidak sendirian di Narita, tidak sebagaimana saat kebingungan tadi.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo

Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.

Melihat betapa pedulinya mereka terhadap persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency karena ibu saya meninggal dunia. Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting macak melas (berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu…..) sedramatis mungkin.

Benar juga, dengan cara yang sangat simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera berjalan cepat meninggalkan saya. Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet keyboard, lalu keluar secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang memang saya harapkan.

Sambil menunggu petugas AA memainkan komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap dengan petugas penerbangan lain.

Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan yang juga orang Jepang tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah sambung.

Petugas AA telah selesai dengan komputer “kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan langsung ke Jakarta hari itu juga. Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana jam 1:30 dini hari Selasa. Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus, saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.

Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda. Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah kelebihan mereka dalam me-manage pelanggannya. Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan jasa di Indonesia yang mau meniru.

Salah seorang petugas yang laki-laki kemudian membawa saya ke counter AA di bagian keberangkatan (saya tidak jadi meminta shore pass untuk keluar bandara melewati imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.

Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung. Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya. Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi sekalipun.

Dia bingung karena alternatif pertama penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa confirm. Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus stand by. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.

Yang membuat dia bingung adalah kenapa tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga). Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan “non ticketable“. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa melakukan endorsement guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan nama penerbangannya.

Ini membuat saya harus berpikir keras, mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura. Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan. Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG.

Pertimbangan saya waktu itu adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura saya akan melakukan jurus macak melas yang sama seperti tadi untuk mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore (belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan strategi saya ini ternyata salah).

Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura. Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat meyakinkan, petugas AA itupun ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir. AA akan mengaturnya, dan saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.

Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari sudah malam lagi. “Wis embuh“, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di Tokyo.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(7).   Jika Ingin Tilpun Dari Tilpun Umum Di Bandara Narita

Saat itu Senin malam, 14 Pebruari 2000, sambil menunggu saat boarding, saya mencari tilpun umum untuk melakukan panggilan internasional menghubungi adik-adik di Kendal sana. Privilege untuk menunggu di VIP lounge sebagai penumpang kelas bisnis saya korbankan.

Saya jumpai beberapa kotak tilpun umum, semuanya sudah diantri oleh calon penilpun. Satu per satu kotak tilpun saya dekati dari samping, di antara antrian orang. Saya baca aturan pakainya dengan teliti, yang ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris. Rupanya ada bermacam-macam perusahaan jasa tilpun, tidak dimonopoli oleh PT Telkom-nya Jepang saja. Ada diantaranya yang dapat dioperasikan menggunakan kartu kredit, tapi hanya Amex yang diterima.

Untuk alasan kemudahan, saya coba antri di belakang kotak tilpun yang menerima Amex. Tiba giliran saya, langsung kartu Amex saya gesekkan, dan saya ikuti instruksi selanjutnya. Tidak mau nyambung, dan tidak ada pesan apa-apa. Saya ulangi lagi, juga gagal. Setelah ketiga kalinya gagal, langsung saya batalkan. Saya merasa tidak enak sama orang lain yang antri di belakang saya.

Saya pindah ke pesawat di kotak sebelah, tapi sebelumnya saya baca aturan mainnya dulu, ternyata harus menggunakan kartu tilpun. Di dekat situ memang ada mesin penjual kartu tilpun, tapi membelinya harus menggunakan uang Jepang. Padahal di sekitar lobby keberangkatan tidak saya jumpai ada tempat penukaran uang.

Terpaksa cari akal, masuk toko souvenir dan cari barang-barang yang layak dibeli setidak-tidaknya tidak akan mubazir, dan yang penting bisa dibayar dengan dollar. Dapatlah piring hias yang ada gambarnya pemandangan kaki Gunung Fuji. Saat membayar, sambil tanya sama kasirnya berapa harga kartu tilpun termurah. Dijawab 1000 yen (saat itu 1 dollar sekitar 105 yen), maka lalu saya bayar souvenir sekalian tukar dollar dengan 1000 yen. Satu langkah untuk tilpun terselesaikan.

Langkah berikutnya adalah membeli kartu tilpun kepada mesin. Benar juga, begitu saya selipkan uang 1000 yen ke dalam mesin, langsung keluar selembar kartu tilpun. Lalu saya kembali menuju kotak tilpun yang tadi, dan antri lagi. Tiba giliran, lalu pencet ini-itu. Lho kok tidak sambung-sambung, dihalo-halo sama mesin penjawab katanya kode aksesnya salah. Perasaan saya sudah benar.

Saya coba tolah-toleh cari bantuan. Saya pilih seorang gadis Jepang yang sedang menunggu giliran di pesawat tilpun sebelah, lalu saya tanya. Cuma dijawab dengan senyum manis. Saya ulangi bertanya lagi, malah senyumnya makin dimanis-maniskan. Lho? Rupanya tidak paham bahasa Inggris. Lalu saya tanya orang yang antri di belakang saya, dijawab bahwa dia juga baru pertama kali akan memakai tilpun. Wah…! Terpaksa amit mundur dulu, memberi kesempatan kepada yang antri di belakang saya.

Belum menyerah saya. Saya coba lagi membaca dengan lebih teliti tata cara melakukan international call. Eh, ketahuan bodohnya. Rupanya mesin penjawab tadi benar, saya telah menggunakan kode akses untuk tilpun interlokal dalam negeri.

Kali ini saya gagal untuk berlaku tidak ndeso sebagaimana yang saya peragakan di pesawat sebelumnya. Maklum, saking banyaknya tulisan tentang “juklak” (petunjuk pelaksanaan) menilpun, yang mana untuk setiap perusahaan tilpun yang kotaknya ada di situ tidak sama aturan mainnya.

Terpaksa kembali ke antrian lagi, dan kali ini berhasil hingga titik pulsa terakhir. Ngomong dengan adik saya jadinya harus cepat-cepat, wong kartunya yang termurah. Pasti jatah pulsanya sedikit, pikir saya. Entah berapa banyak pulsanya, saya lupa memperhatikan. Yang jelas, belum lima menit ….., pembicaraan saya akhiri dan nampaknya memang pas pulsanya habis.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(8).   Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi

Selasa, 15 Pebruari 2000, sekitar jam 1:30 dini hari, pesawat Singapore Airlines (SQ) mendarat di Terminal 2 Changi, Singapura. Saya harus melewati imigrasi, karena mesti keluar dulu untuk ambil bagasi. Ternyata bagasi saya sudah tiba bersama-sama saya. Terus terang saya agak gumun (heran), bahwa petugas American Airlines (AA) di Tokyo benar-benar menangani bagasi saya yang seharusnya saya ambil di Tokyo, mengikuti penerbangan lanjutan saya ke Singapura malam itu juga. Padahal saya sudah tidak lagi menggunakan jasa penerbangan mereka.

Pikiran pertama setiba di bandara Changi adalah langsung mencari counter Thai Airways (TG). Maksudnya mau menegosiasikan tiket saya agar bisa pindah dengan pesawat pertama yang terbang ke Jakarta paginya, yaitu Garuda Indonesia (GA) dan seklaigus menukar tiketnya. Ternyata untuk ketemu counter TG maupun juga GA saya mesti menuju ke Terminal 1. Wah, agak jauh.

Saya ubah skenarionya. Saya coba langsung menghubungi counter SQ di Terminal 2. Lalu dijelaskan oleh petugasnya bahwa tiket saya tidak bisa langsung digunakan untuk penerbangan lain, karena di Tokyo tiket AA saya sudah dialihkan ke TG. Untuk dapat pindah ke SQ atau pesawat lain, harus ada endorsement dulu dari pihak TG.

Akhirnya tetap juga saya mesti ke Terminal 1, itupun belum tentu buka, di saat dini hari, kata seorang Satpam bandara yang saya tanyai. Belum lagi mesti jalan kaki, karena sky-train yang menghubungkan Terminal 2 ke Terminal 1 dan sebaliknya sudah berhenti beroperasi dan baru mulai beroperasi lagi jam 6 pagi. Belum lagi sambil menyeret bagasi yang cukup berat. Yen, tak pikir-pikir …….., kok ya lebih baik istirahat saja dulu, simpan tenaga untuk esok paginya berburu lagi pesawat tercepat menuju Jakarta. Jadilah, masuk ke Terminal 2 lagi melalui imigrasi, dan stempel imigrasi di paspor pun saya minta untuk dibatalkan.

Dalam hal overnight di Singapura seperti ini, pengalaman sebelumnya saya langsung menuju ke lantai 3 untuk tidur di hotel transit airport. Bagaimanapun juga ini adalah kesempatan untuk istirahat, memulihkan stamina, dan bisa tidur dengan posisi sempurna, meskipun harus mbayar. Akan tetapi mempertimbangkan bahwa esok pagi-pagi mesti sudah mulai ngurus ini-itu kesana-kemari, saya memilih untuk tidur di kursi ruang tunggu di lantai 2 saja.

Di sana banyak sesama penumpang transit yang juga tidur di kursi menunggu penerbangan lanjutan esok paginya. Tetapi yang lebih penting bagi saya adalah agar tidak kebablasan tidurnya. Lumayan ….., toh bisa juga tidur 2-3 jam, meskipun diselingi nglilir (terbangun) beberapa kali. Selain karena tidurnya tidak dengan posisi sempurna, juga karena pikiran tetap bekerja menyusun skenario untuk esok paginya.

Sekedar pengalaman pembanding, pada tahun 1993 saya pernah kemalaman di Cengkareng dalam perjalanan dari Bengkulu ke Yogya, dan terpaksa tidur di Terminal F.  Rasanya seperti di rumah suwung (tidak berpenghuni), meskipun tidurnya di airport. Sepi dan tidak ada “tanda-tanda kehidupan”, boro-boro ada yang jual makanan. Bahkan karena tidur di bangku ruang tunggu saya merasa kedinginan, akhirnya pindah tidur di musholla. Itupun masih kedinginan, lapar lagi.

Sebelum merebahkan badan di kursi tunggu Terminal 2 Changi, saya sempatkan untuk mencari smoking area. Maklum, sejak dari New Orleans kemarin saya terpaksa menahan keinginan untuk merokok, karena memang di setiap tempat terpampang tulisan dilarang merokok.

Namun sebenarnya saya menahan keinginan merokok bukan lantaran ada tanda “No Smoking”. Melainkan karena tidak saya jumpai orang yang tidak tahu malu, yang suka melanggar tapi justru bangga. Tidak saya jumpai orang yang suka nekad melanggar aturan umum. Saat itu, saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang tahu malu dan menghargai aturan. Ingin rasanya saya mengajak 200 juta tetangga saya agar mempunyai keinginan yang sama. Tapi jangan-jangan ……, untuk punya keinginan semacam itupun para tetangga saya itu juga malu.

Di kesempatan lain, sekali waktu saya transit di bandara Taipei, Taiwan. Karena di sekitar ruang tunggu tidak boleh merokok, saya berjalan menuju lorong penghubung antara ruang-ruang tunggu. Agak ke ujung lorong memang tidak saya jumpai tulisan “No Smoking”, tapi juga tidak ada tulisan “Smoking Area”.

Hanya yang melegakan, di situ ada bekas puntung rokok berserakan di sepanjang tempat bunga. Saya hanya berlogika : berarti puluhan orang yang merokok sebelum saya berkategori tidak melanggar aturan, alias tidak dilarang. Kesimpulan yang bagus, terkadang logika secara bodoh semacam ini ada gunanya. Paling tidak, bisa menjadi “tempat persembunyian” yang masuk akal.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah

Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di prayer room yang letaknya agak tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.

Sky-train ternyata beroperasi 5 menit lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh. Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian check-in TG di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan endorsement atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa membuat status seat saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya harus mengejar waktu sekitar 50 menit.

Bagian check-in TG rupanya tidak bisa memberi endorsement. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2. Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah…, modar aku!, batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi. Tetapi sang petugas juga ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya, disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”, katanya.

Dengan berharap banyak di balik kata “siapa tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2. Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang. Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50.

Setelah jalan kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi ke bagian check-in di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil berharap barangkali petugas lain bisa membantu. Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya datang ke kantor. Yaaa ….., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan menggotong-gotong barang bawaan karena kereta dorong tidak diperbolehkan masuk dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.

Kalau gelisah begini biasanya paling enak menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa anguk-anguk (berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.

Saat itulah saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket Singapore Airlines (SQ). Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak confirm, tapi SQ punya kelebihan lain.

Pertama : ada banyak counter SQ di Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua : perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat : saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan emergency.

Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan salah sudah telanjur dibuat. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency

Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat pintu agar terlihat dari dalam. Benar juga, saya lalu dibukakan pintu dan ditanya keperluannya apa oleh petugas kantor yang saya taksir usianya sudah menjelang pensiun, yang agaknya orang Thailand.

Mulailah saya berakting sedramatis mungkin, bahwa saya perlu bantuannya agar tiket TG saya bisa dibuatkan endorsement untuk pesawat yang lebih awal menuju Jakarta. Tentu dengan alasan emergency. Alhamdulillah, tanpa banyak kesulitan dan tanya macam-macam, endorsement bisa dibuatkan. Tiket TG saya distempel, ditandatangani, lalu saya ditanya mau pakai pesawat apa.

Mempertimbangkan saat itu sudah menjelang pukul 7:00 pagi, pasti pesawat GA sudah kabur, tidak terkejar. Langsung saya mintakan dengan pesawat SQ. Tentu ucapan “thank you” tidak saya lupakan (Ada keinginan untuk mengucapkan “kap kun kah“, seingat saya itu bahasa Thai-nya terima kasih, biar sok akrab, tapi saya takut salah, nanti malah “dadi gawe”. Saatnya tidak tepat, pikir saya) bahkan tidak cukup sekali saya ucapkan kata “thank you“.

Seperti dikejar setan, saya langsung terbirit-birit menuju bagian check-in SQ, agar bisa mengejar pesawat pertama menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 7:00 pagi.

Sampai di sana ternyata saya mesti antri. Melihat kenyataan itu, dalam hati saya berpikir berarti pesawatnya belum berangkat, barangkali agak molor. Hal yang tidak saya sukai, tapi kali itu justru menguntungkan. Ketika tiba giliran mau check-in, saya ingat bahwa status kursi saya sewaktu di Tokyo masih belum OK. Maka terpaksa saya mainkan lagi pentas lakon emergency.

Di depan petugas counter yang tampangnya seperti pemuda Cina berkacamata, saya dahului nerocos bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency, bla…bla…bla…, dan seterusnya. Ujung-ujungnya minta tolong agar bisa berangkat ke Jakarta dengan pesawat pertama SQ.

Agaknya berhasil, terbukti sang petugas cukup lama mencermati tiket kelas bisnis dan paspor saya sambil pencet-pencet tombol komputer di depannya. Saya perhatikan sampai dua kali dia bolak-balik berkonsultasi dengan supervisor-nya yang berada tidak jauh di belakangnya.

Di menit-menit terakhir menjelang pesawat berangkat, seat saya di-OK-kan, meskipun disertai permintaan maaf karena saya hanya bisa terbang di kelas ekonomi karena kelas bisnis sudah habis. Hati saya berbunga-bunga, lha wong saya yang memaksa terbang, kok dia yang minta maaf. Barangkali itulah bahasa bisnis.

Lalu bagaimana dengan barang bawaan saya? Apakah tas saya masih cukup waktu untuk dibagasikan? Dengan sangat meyakinkan petugas itupun menjawab silahkan saja. Saya masih ragu, saya tanya lagi apa tidak terlambat? Dengan sopan dijawabnya tidak. Nanti akan ada petugas SQ yang mengurusnya, dan saya dipersilahkan tinggal ambil di Jakarta. Saya hanya berharap mudah-mudahan ucapannya benar.

Entah saya dapat energi dari mana, yang jelas setelah dapat kartu boarding, cepat sekali saya bergerak menuju gate yang telah ditentukan, dan puluhan orang telah saya salip sambil sesekali mengucap “excuse me“. Sambil agak malu saya masuk pesawat, karena di sana ternyata saya sudah ditunggu orang sepesawat termasuk pilot dan pramugarinya yang berseragam khas.

Lha kok ternyata benar, saya tiba di Jakarta bersama-sama dengan bagasi saya. Luar biasa, saya benar-benar gumun. Bagaimana mereka mengurusi sebuah tas yang cukup berat di menit-menit terakhir sebelum pintu pesawat ditutup, sementara kegiatan di bandara Changi pagi itu sudah sangat sibuk. (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir

Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju Terminal F, setelah melalui pemeriksaan imigrasi tentunya.

Beberapa tawaran taksi liar saya jawab dengan kata-kata : “mboten” (tidak), dengan senyum kemenangan. Saya tidak perduli apakah mereka ngerti bahasa Jawa atau tidak. Eh, lha kok malah kemudian ada sopir taksi yang nyahut : “Monggo, kalih kulo mawon, Pak” (Mari sama saya saja, Pak). Ya tetap “mboten” jawaban saya.

Tiba di terminal F, saya langsung cari tiket penerbangan tercepat menuju Semarang. “Sudah full booked”, kata gadis di balik kaca loket penjualan tiket. “Cadangan”, jawab saya singkat. Dalam hati saya berkata, jika perlu akan saya mainkan lagi lakon emergency untuk kesekian kalinya.

Penumpang cadangan biasanya baru akan dilayani 30 menit menjelang jam keberangkatan pesawat. Saya tahu itu, tapi saya tidak ingin kehilangan momentum. Saya tongkrongin di depan counter cadangan (biasanya kalau tidak meja no. 24, ya no. 25, saya hapal karena saking seringnya menjadi penumpang cadangan Garuda atau Merpati, sekian tahun yang lalu).

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga 30 menit menjelang jam keberangkatan, saya sudah dipanggil oleh petugas tiket cadangan. Entah karena memang ada kursi kosong, atau barangkali mbak petugasnya risih karena saya tongkrongin di depan mejanya sambil bolak-balik pura-pura tanya tentang status seat saya.

Saat check-in itu, saya tanyakan bagaimana mengenai barang bawaan saya, apakah tidak terlambat kalau tas saya dibagasikan. Dengan sangat meyakinkan saya dipersilahkan untuk membagasikannya. Terus terang, sebenarnya dalam hati saya ragu-ragu dengan jawabannya. Apakah tidak sebaiknya saya tenteng ke dalam kabin saja, pikir saya. Tapi sudahlah, toh pengalaman di Tokyo dan di Singapura sebelumnya tidak ada masalah. Maka saya pun kemudian dapat terbang ke Semarang dengan penerbangan pertama Garuda.

Sekitar jam 11 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di bandara Ahmad Yani Semarang. Selangkah lagi saya akan tiba di kampung saya di Kendal. Saya menunggu untuk ambil bagasi. Satu-satu penumpang mulai keluar bandara sambil membawa bagasinya masing-masing. Hingga orang terakhir pergi, lha tas saya mannnnnaaa……? Saya datangi petugas yang ngurus bagasi, lalu dihalo-halo dengan handy-talky-nya ke pesawat. Ya memang bagasi sudah habis.

Ternyata rasa khawatir saya terhadap jawaban petugas check-in Garuda saat di Cengkareng sebenarnya beralasan. Ironisnya, entah kenapa justru terhadap ucapan bangsa saya sendiri saya merasa tidak yakin. Pertanyaan ini sulit saya jawab. Faktanya memang demikian.

Apa mau dikata, saya terima selembar kertas sebagai tanda bukti bahwa bagasi saya belum saya terima. Dijanjikan bagasi tersebut akan dibawa oleh penerbangan Garuna sore harinya, karena memang masih tertinggal (atau ditinggal?) di Jakarta. Masih ada tapinya, kalau tidak ya dengan pesawat Garuda esoknya, dan saya diminta untuk cek-cek via tilpun ke bandara Semarang. Wah, “puuuancen” (memang)……

Perjalanan menuju Kendal sekitar 45 menit saya lanjutkan dengan taksi. Baru esok harinya terpaksa saya mampir lagi ke bandara Ahmad Yani Semarang untuk mengambil bagasi saya. Masih untung, tas saya utuh tidak tampak ada tanda-tanda bekas dijahilin.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Selasa siang, 15 Pebruari 2000, sekitar tengah hari saya tiba di Kendal. Dari masjid kota yang berada tidak jauh dari rumah saya terdengar adzan (panggilan sholat) waktu Dzuhur. Ya, saya sudah tiba di rumah, di Kendal. Sebuah perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans ke Kendal yang sangat melelahkan baru saja usai.

Saya disambut adik-adik saya. Lalu saya salami bapak saya. Mana ibu? Rasanya seperti tidak percaya, kalau tidak ada lagi seorang ibu yang biasanya menyambut kedatangan anaknya dengan suka-cita. Terharu? Ya. Sedih? Ya. Tapi sungguh, agama yang saya peluk tidak pernah mengajarkan yang berlebihan. Pemakaman ibu saya memang baru Senin pagi kemarinnya dilaksanakan, saat saya berada di atas Samudra Pasifik dalam perjalanan dari Dallas menuju Tokyo.

Beberapa saudara saya yang lebih sepuh (tua) menepuk-nepuk bahu saya, sambil mengingatkan bahwa tidak ada kewajiban lain bagi seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tiada, kecuali mendoakannya. Memang begitu kata guru-guru mengaji saya sewaktu kecil dulu.

Seorang ibu, kehadirannya seperti lumrah-lumrah saja saat dia berada di tengah-tengah kita, atau saat kita berada di sekitarnya. Tapi baru terasa betapa dia adalah sebuah sosok yang kita butuhkan sebagai panutan, justru ketika dia “hilang” dari tengah-tengah kita.

Tidak ada yang perlu disesali dengan kepergiannya yang mendadak untuk mendahului menghadap Allah, kembali kepada Sang Khalik, Sang Pencipta. Juga tidak ada yang harus disesali, sekalipun saya tidak menangi (sempat mengalami) saat-saat terakhir menjelang pemakaman ibu. Kalaupun ada yang harus disesali, ternyata justru jawaban kalau kita ditanya : “Apakah kita sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya?”.-

Kendal, 20 Pebruari 2000.
Yusuf Iskandar