Posts Tagged ‘tambang bawah tanah’

Belajar Dari Cile (Catatan Dari Tragedi Tambang San Jose)

22 Oktober 2010

Pengantar:

Berikut ini kutipan dari catatan status saya di Facebook mengekspresikan upaya penyelamatan 33 orang penambang yang terperangkap di tambang bawah tanah San Jose, Cile (sedikit penyuntingan telah saya lakukan pada penulisannya).

***

(1)

Menegangkan dan mendebarkan…! Upaya penyelamatan satu per satu dari 33 penambang yang terjebak di kedalaman sekitar 700 meter di perut bumi di tambang emas-tembaga San Jose, Cile (MetroTV siang ini). Bertahan hidup hingga hari ke-68, sungguh sebuah upaya survival dan rescue yang luar biasa. Tapi perjuangan belum selesai, masih ada banyak kemungkinan dapat terjadi. Semoga Tuhan melindungi mereka…  (13/10/10)

(2)

Dramatis…! Menyaksikan tayangan langsung (di MetroTV) upaya penyelamatan satu demi satu dari 33 penambang yang terjebak di bawah tanah sejak lebih 2 bulan yll, di tambang San Jose, Cile. Ini pasti hasil kerja tim lintas sektoral yang sangat professional, cermat dan luar biasa. Sungguh berharap agar sektor industri pertambangan di Indonesia dapat belajar banyak dari manajemen rescue yang sangat spesifik dan kompleks semacam ini.  (13/10/10)

(3)

Heroik…! “Hidup mengalahkan kematian”, begitu presiden Cile melukiskan bagaimana semangat bertahan para penambang yang telah lebih 2 bulan terjebak di kedalaman hampir 700 meter di tambang bawah tanah menanti untuk diselamatkan dan bagaimana tim penyelamat bekerja keras menyelamatkan mereka. Mengharukan dan membangkitkan semangat. Pemimpin dan rakyat Cile pantas bangga, dan bangsa manapun di dunia ini pantas cemburu, juga (mestinya) Indonesia…  (14/10/10)

(4)

Inspiratif…! Bahkan Obama pun tergetar emosinya menyaksikan upaya penyelamatan 33 penambang Cile yang terjebak di perut bumi. Inspiratif, bagi siapapun yang sedang merindu semangat heroisme. Inspiratif, bagi siapapun yang sedang mendamba figur kepemimpinan yang menyentuh rasa dan logika. Inspiratif, bagi siapapun yang peduli bahwa ada pelajaran yang dapat dipetik… Tapi juga inspiratif, bagi mereka yang galau dan nglangut: “Seandainya itu terjadi di negeriku…”.  (14/10/10)

(5)

Belajar dari Cile…! Ekspresi yang tepat. “Mumpung” terjadi di tempat lain, industri tambang Indonesia harus belajar dari pengalaman ini. Beberapa tahun ke depan tambang-tambang mineral di Indonesia akan semakin banyak menggunakan metode tambang bawah tanah (underground) sesuai karakteristik endapannya. Maka untuk hal-hal yang beresiko tinggi semacam ini, sebaiknya buang jauh-jauh semangat learning by doing, alias baru belajar setelah kejadian. Please.., deh! (15/10/10)

(6)

Bukan kebetulan…! Dalam perspektif ‘daripada’ sila pertama ‘daripada’ Pancasila, tragedi tambang di Cile, adalah bukan peristiwa kebetulan. Sebagai muslim saya meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia apa-apa yang telah diciptakan Tuhan (ma kholaqta hadza bathila), tidak juga diciptakannya tambang emas bawah tanah, bangsa Cile, Sebastian Pinera, 33 penambang yang selamat, teknologi kapsul dan pemborannya… Lalu untuk apa semua itu terjadi? Kita renungkan sambil ngupy sore…  (15/10/10)

(7)

Waspadalah! Waspadalah…! Setelah 33 penambang Cile terjebak 69 hari di tambang San Jose dan berhasil diselamatkan. Kemarin (17/10): Di tambang batubara Yuzhou, Cina, 26 penambang tewas dan 11 lagi masih terperangkap. Di tambang emas Casa Negra, Ekuador, 2 penambang tewas dan 2 lagi masih terperangkap. Maka waspadalah penambang di Indonesia. Ancaman itu nyata adanya. Preventive action harus sungguh-sungguh dilakukan… Semoga tidak terjadi hal-hal buruk.  (18/10/10)

Yogyakarta, 14-18 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Terowongan

2 Maret 2010

Jalan keluar/masuk ke rumahku naga-naganya bakal terhalang bangunan yang pemiliknya keukeuh dengan hak miliknya. Melihat aku tenang-tenang saja, istriku menyanyi terusss, enggak sabar.

“Lakukanlah sesuatu”, katanya. Kujawab: “Aku pernah bikin terowongan bawah tanah lebih 200 meter ditembus dari dua arah dan hasilnya sempurna, 16 tahun aku kerja di tambang bawah tanah, maka terpaksanya akan kupersembahkan padamu sebuah terowongan menuju rumah kita”. Maka makin merdulah nyanyian istriku. Tapi aku suka.

Yogyakarta, 26 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (1)

2 Maret 2008

Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 17:30 (14:30 WIB) 

Konferensi Internasional Ke-3 The MassMin 2000 hari ini mulai digelar bertempat di Sheraton Brisbane Hotel, Queensland, Australia.  Selama empat hari dari tanggal 30 Oktober hingga 2 Nopember nanti, tiga hari pertama akan diisi dengan presentasi makalah dan akan diakhiri dengan workshop di hari keempat. Pada tanggal 3 Nopembernya akan diadakan kunjungan tambang ke tambang Northparkes, Sydney, New South Wales.

Konferensi MassMin 2000, kali ini adalah yang ketiga kali setelah konferensi sebelumnya yang pertama diadakan pada tahun 1981 di Denver, Colorado, USA. Lalu yang kedua tahun 1992 di Johannesburg, South Africa, dan di dekade ketiga ini diselenggarakan di Brisbane.

Dari sekitar 330 peserta yang mewakili 19 negara yang ambil bagian dalam konferensi ini, tampaknya tidak banyak dihadiri oleh delegasi dari Indonesia. Barangkali karena konferensi pertambangan ini bersifat lebih spesifik, yaitu membahas tentang berbagai isu dan pengalaman yang bekaitan dengan pengusahaan tambang endapan masif (massive mine) yang umumnya ditambang dengan metoda caving (block caving, sub-level caving, panel caving) dan stoping skala besar (sub-level stoping, longhole stoping), termasuk berbagai metode turunan atau pengembangannya (underground benching, front cave, inclined footwall, dsb.). Sepanjang pengetahuan saya tambang di Indonesia yang menerapkan metode penambangan masif seperti ini adalah tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia.

Pagi tadi tepat jam 8:30 (waktu Brisbane) MassMin 2000 telah dibuka oleh Presiden AusIMM (Australian Institute of Mining and Metallurgy), dan tidak tampak ada pejabat pemerintahan yang hadir. Sidang-sidang sesi pertama dan kedua pagi tadi sebelum saat makan siang dipimpin oleh Prof. ET Brown dari The University of Queensland.

Professor Brown ini adalah penulis dari beberapa buku “Rock Mechanic” yang sewaktu saya kuliah buku-bukunya sering dibolak-balik karena banyak memuat rumus-rumus hitungan (ya dibolak-balik saja, lha wong termasuk mata kuliah yang selalu perlu mikir setengah mati). Di antara bukunya (kalau tidak salah ingat) adalah “Underground Excavation” dan “Rock Mechanic for Underground Excavation”, yang kesemuanya banyak berurusan dengan rumus-rumus hitungan mekanika batuan yang berhubungan dengan penambangan bawah tanah.

Setelah setengah hari pertama banyak membicarakan topik-topik umum (overview), lazimnya sebuah konferensi atau seminar, maka seusai makan siang baru mulai masuk ke topik-topik yang lebih khusus. Dua topik di sesi ketiga dan keempat membahas tentang “Mass Mining Design Methodology” dan “Future Technologies”. Ada beberapa topik menarik di sesi ini antara lain presentasi yang dibawakan oleh WA Hustrulid, yang buku suuuangat tebalnya yang berjudul “Underground Mining Handbook” hingga kini menjadi buku pintarnya sekolah-sekolah tambang. Saking tebalnya hingga jarang mahasiswa yang memiliki fotokopinya, ya karena uang saku bulanannya tidak cukup untuk mengkopi buku yang tebalnya lebih seribu halaman.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (2)

2 Maret 2008

Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 24:00 (21:00 WIB)

MassMin memang ajang pertemuan bagi para professional tambang endapan masif bawah tanah, karena itu banyak topik yang akan didiskusikan menyangkut berbagai pengalaman dan masalah-masalah yang dihadapi oleh tambang-tambang bawah tanah di dunia.

Beberapa topik yang diketengahkan dalam sesi pertama dan kedua tadi pagi sebagai bahasan overview mengawali konferensi ini antara lain mewakili Rio Tinto Ltd., group De Beers yang mengoperasikan banyak tambang intan di Afrika, Codelco yang mewakili kelompok BUMN-nya Chili yang berhasil mengoperasikan tambangnya secara effisien dan menyajikan visinya untuk go international, dan tentu tinjauan tentang keselamatan kerja oleh wakil dari pemerintah negara bagian Queensland, Australia.

Ada beberapa topik menarik yang dipresentasikan di sesi kedua dan ketiga. Di antaranya adalah membahas karakterisasi tambang bawah tanah ditinjau dari studi mekanika batuan, dan beberapa pemikiran baru dari WA Hustrulid tentang pemilihan metode penambangan untuk tambang bawah tanah berskala besar. WA Hustrulid adalah Professor of Mining, University of Utah dan juga seorang konsultan tambang di USA. Mengikuti paparan Pak Hustrulid ini serasa seperti sedang mengikuti kuliah. Sayangnya, sebagaimana seminar atau konferensi, waktu yang disediakan hanya 30 menit untuk setiap makalah, sehingga tentu tidak mungkin untuk membahasnya secara mendalam.

Dengan kata lain, untuk memahami lebih jauh tentang pemikiran baru Pak Hustrulid ini saya mesti mempelajari lagi naskah lengkap dari makalahnya yang cukup panjang. Topiknya Pak Hustrulid ini agaknya cukup menarik juga bagi peserta lain, terbukti dari cukup banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang ditujukan kepada beliau seusai presentasi.

Ada satu topik lainnya yang cukup menarik adalah tentang optimasi pengoperasian alat angkut dan muat di tambang bawah tanah yang kini dikenal dengan istilah mine automation. Istilah ini sekarang mengacu kepada sistem pengoperasian alat bergerak di tambang bawah tanah secara kendali jarak jauh (remote control). Bagaimana mengoperasikan alat LHD (load haul dump) yang cukup dilakukan dari depan layar monitor termasuk pengaturan perjalanannya yang disesuaikan antara lain dengan rencana penambangan dan produksinya. Dengan demikian tidak diperlukan operator yang langsung berada di dalam kabin untuk mengemudikan LHD di lorong-lorong produksi tambang.

Sistem pengoperasian tele-remote LHD ini sekarang sudah diterapkan di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, terutama di lokasi wet muck (material timbunan yang basah) yang sewaktu-waktu dapat terjadi runtuhan material dalam jumlah banyak secara tak terkendali akibat adanya air yang terperangkap di dalamnya.

Terlepas bahwa presentasi makalah ini “berbau” promosi oleh pihak pembuat perangkat komputerisasinya, tetapi banyak informasi baru yang patut dikaji lebih dalam dari segi pengembangan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi operasi tambang bawah tanah. Terbukti sekarang ini sistem automation untuk alat LHD ini sudah menjadi semacam standard bagi tambang-tambang endapan masif di dunia. Dalam perkembangannya sistem ini juga akan masuk ke sistem pengoperasian alat angkut (truck) di bawah tanah.

***

Setelah selesai dengan segepok presentasi makalah di hari pertama ini, acara dilanjutkan sore dan malam harinya dengan Welcoming Cocktail Party di lantai 30 Sheraton Brisbane Hotel, tempat keseluruhan acara konferensi diselenggarakan. Acara minum-minum dan ngemil bersama sambil berdiri ini tentu saja menjadi semacam ajang pertemuan bagi segenap peserta. Dari yang serius membicarakan bisnis sampai yang hanya sekedar ngobrol ketemu teman-teman lama. Saya memilih menjadi kelompok yang kedua, sambil sesekali bicara serius biar tidak “ketinggalan jaman”. Bagaimanapun juga membina relasi tetap diperlukan. Eh, siapa tahu suatu saat saya butuh mengontak seseorang untuk mencari informasi atau rujukan bertukar pikiran, paling tidak sudah terbuka jalannya.

Konferensi MassMin ketiga ini diselenggarakan atas dukungan utama dari JKMRC (Julius Kruttschnitt Mineral Research Centre) Brisbane, Australia beserta perusahaan tambang De Beers dan Northparkes.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (3)

2 Maret 2008

Brisbane, 31 Oktober 2000 – jam 23:45 (20:45 WIB)

Makalah-makalah yang disajikan di hari kedua konferensi MassMin 2000 mulai dikelompokkan temanya. Meskipun pembahasannya masih bersifat umum dan belum banyak yang membahas tema-tema yang lebih bersifat teknis atau kajian khusus tentang tambang endapan masif.

Jam 8:00 pagi tepat, sesi ke-5 dimulai, tapi ruangan sidang belum separuhnya terisi. Barangkali banyak peserta yang mengira acara dimulai seperti hari pertama kemarin yaitu jam 8:30. Atau, pesertanya pada kesiangan bangun karena pada teler kebanyakan minum tadi malam saat acara Cocktail Party. Atau, memang ini sudah hal yang lumrah?

Dari beberapa tema yang dipresentasikan, saya mencatat (menurut pandangan saya, tentunya) ada banyak topik menarik. Kriteria menarik menurut saya didasari pada hal-hal antara lain : mengandung informasi baru yang belum saya ketahui, membahas tema yang kebetulan pas dengan pekerjaan yang sedang saya geluti sehari-hari dan membahas kajian, teknologi atau ide-ide yang memang baru. Oleh karena itu, tema yang bagi saya menarik, bisa jadi tidak menarik bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya.

Diantara tema-tema yang saya anggap menarik di sesi ke-5 adalah masalah material handling di tambang Olimpic Dam, Australia Selatan. Olimpic Dam adalah tambang yang menghasilkan tembaga, uranium, emas dan perak, dengan menerapkan metode sublevel stoping dan longhole stoping. Selain itu adalah tentang tambang tembaga El Teniente di Chili, yang menerapkan metode pre-undercut caving method.

Pada sesi ke-6 setelah jeda minum teh, beberapa tema yang saya anggap menarik antara lain tentang tambang bawah tanah Mount Isa yang beroperasi di lokasi paling dalam dan paling panas suhu udaranya di Australia, yang menghasilkan bijih zinc. Selain itu ada pembahasan tentang tambang emas Obuasi di Ghana, Afrika, yang tahun 1995 melakukan perubahan metode penambangan sehingga menjadi lebih efektif dan efisien, setidak-tidaknya menurut paparan mereka. Topik menarik lainnya adalah tentang penggunaan evaluasi kondisi permukaan guna penentuan kriteria-kriteria perencanaan tambang bawah tanah, dan simulation modeling.

Setelah istirahat makan siang (yang bukan nasi, sehingga saya merasa seperti belum makan), masuk ke sesi ke-7 dan ada satu tema yang memang saya tunggu-tunggu, yaitu bahasan tentang metode sublevel caving yang dimodifikasi dan diperbaiki sehingga menjadi lebih efektif dan efisien. Makalah ini ditulis oleh G. Bull dan C.H. Page. Selain paparannya yang menarik, juga di bagian akhir presentasinya ada peserta yang memberi tanggapan cukup “keras”. Tanggapan itu disampaikan oleh seorang professor dari Lulea University of Technology, Swedia, bernama Agne Rustan. 

Karena kebetulan “mike” yang biasa digunakan kalau ada orang bertanya, yang adanya di tengah-tengah peserta tiba-tiba mati. Maka pak Professor pun langsung saja maju ke depan mimbar berdiri di sebelah pembicara. Tanpa basa-basi atau halo-halo pembuka, Pak Professor langsung mengatakan bahwa terminologi tentang  draw column yang digunakan dalam makalah adalah salah, dan Pak Professor akan membahasnya secara lebih lengkap melalui makalahnya yang akan dipresentasikan di hari ketiga besok. Rupanya Pak Professor memang sudah melakukan studi yang lebih dalam tentang satu aspek yang berkaitan dengan hal yang baru saja dipresentasikan.

Tentu saja hal ini membuat para peserta agak terperangah, karena tidak menyangka akan ada tanggapan yang cara penyampaiannya terkesan “tembak langsung”, bahkan bagi orang Barat sekalipun. Seperti menyadari kalau kata-katanya cukup membuat kuping merah apalagi bagi pembicara yang masih berdiri di belakang mimbar berdampingan dengannya, Pak Professor pun mengakhiri tanggapannya dengan ndagel mengatakan bahwa gambar-gambar yang dipresentasikan tadi bagus-bagus. Hadirin pun menjadi “gerrrrr”. Dan sang pembicara hanya mengucapkan terima kasih.

Terlepas dari soal “tembak langsung”, tapi memang itulah tujuan dari seminar atau konferensi atau sebangsanya. Saling beradu argumentasi untuk memperoleh kesimpulan yang dianggap paling benar dan tepat. Untuk itu maka perlu dilakukan kajian yang mendalam sesuai dengan pokok kajian yang diambil. Kalaupun kemudian prosesnya membuat kuping merah, ya itu adalah bagian dari resiko mencari kebenaran dalam ngelmu.

***

Setelah agenda presentasi tersebut, saya tidak melihat ada topik-topik berikutnya yang saya angap menarik. Karena itu lalu saya keluar dari ruang sidang, dan menuju ke stand pameran yang menawarkan produk software untuk perencanaan tambang. Saya memang sudah janjian mau ketemu jam 14:15 untuk melihat demo software produk dari Prunge Pty. Ltd. Saya ingin tahu seperti apa software itu dan kemampuannya. Bersamaan dengan acara konferensi memang tersedia sarana untuk pameran “kecil-kecilan” sebagai pelengkapnya. Tentu saja hanya diikuti oleh sangat sedikit perusahaan yang umumnya juga menjadi sponsor penyelenggaraan konferensi MassMin 2000.

Seusai melihat demo dan ngobrol-ngobrol dengan salesman-nya, saya meninggalkan arena konferensi. Bersama dengan seorang kolega asal India yang sudah lama tinggal di Amerika dan dua orang mahasiswa Indonesia yang juga menjadi peserta konferensi, kami lalu menghabiskan waktu sore untuk jalan-jalan di kota Brisbane dalam perjalanan untuk mengunjungi kampus University of Queensland.

Malam harinya kami bertemu kembali dengan segenap peserta konferensi karena ada agenda acara makan malam bersama (Conference Dinner). Setelah acara makan-memakan sudah habis saya lalu meninggalkan ruangan, meskipun secara resmi acaranya belum ditutup. Soalnya mata sudah mulai merasa berat dan ngantuk. Eh, lha kok di kamar hotel malah menyalakan laptop dan membuat catatan ini. Ya…. sudah kadung (terlanjur) rampung catatannya.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (6)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 23:30 (20:30 WIB)

Seharian tadi rangkaian acara hari terakhir konferensi MassMin 2000 diisi dengan Workshop dan Diskusi Panel. Jumlah pesertanya tinggal kira-kira setengah dari hari-hari sebelumnya, karena memang sudah banyak peserta yang pulang meninggalkan arena konferensi dan tidak mengikuti acara diskusi panel. Peserta pameran juga sudah pada bubar.

Makalah-makalah yang dibahas seharian tadi cukup menarik, sehingga banyak peserta yang bertahan hingga selesai. Padahal selesainya agak molor hingga 45 menit, karena waktu yang disediakan untuk diskusi panel ternyata memang kurang panjang. Apa boleh buat, diskusi tetap harus diakhiri.

Agenda Workshop yang mengisi setengah hari pertama diisi dengan paparan beberapa tema yang terutama berkaitan dengan studi rock mechanic dalam kaitannya dengan penerapan sistem penambangan metoda caving. Di antaranya di tambang tembaga Philex di Philiphina, tambang tembaga Tongkuangyu di China, tambang tembaga El Teniente di Chili, tambang tembaga dan emas Freeport di Indonesia dan tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia. Kajian tentang mekanika batuan ini memang mendominasi berbagai topik pembahasan selama konferensi karena mekanika batuan adalah parameter utama dalam penerapan metode caving endapan bijih massif.

Selepas istirahat makan siang, lalu memasuki forum diskusi panel yang mengetengahkan tiga topik berbeda, yaitu : “Cave Predictability”, “Equipment Selection and Future Technology” dan “Cave Planning and Construction”. Topik kedua tentang teknologi baru dalam operasi penambangan termasuk salah satu yang cukup menarik. Meskipun makalah yang disajikan oleh perusahaan alat-alat tambang Sandvik Tamrock selaku sponsor utama konferensi ini agak berbau promosi dagang, namun tetap saja ada hal-hal yang menarik untuk dikaji.

Presentasi dari Sandvik Tamrock yang dibawakan sendiri oleh Presidennya ini antara lain diisi dengan pengenalan alat-alat tambang, bawah tanah khususnya, yang berteknologi baru. Penggunaan alat-alat baru ini pada gilirannya akan merubah operasi suatu tambang dapat dilakukan dengan tele-mining, yaitu operasi penambangan yang dilakukan dari jarak jauh. Diperlihatkan melalui tayangan video bagaimana operasi pemboran, pengisian bahan peledak dan peledakan bawah tanah dapat dilakukan hanya oleh seorang operator yang duduk di depan layar monitor di ruang kontrol. Demikian halnya operasi pengerukan, pengangkutan dan penumpahan hasil peledakan dengan menggunakan alat LHD, termasuk operasi pengangkutan dengan truck.

Bagi mereka yang sempat hadir di forum Minexpo 2000 di Las Vegas awal Oktober yll. Tentunya akan dapat berceritera lebih lengkap tentang peralatan tambang berteknologi tinggi dan tele-mining. Namun secara umum dapat dibayangkan ilustrasi seperti ini :

Seorang wanita cantik berpenampilan bak sekretaris di Jl. Sudirman – Jakarta, masuk ruangan kaca ber-AC, duduk manis di kursi yang empuk menghadap layar monitor, tangan dan jemarinya yang berkutek menggerak-gerakkan stick dan sesekali memencet tombol, sambil terus menatap layar monitor memainkan gambar alat bor, alat muat dan alat angkut. Pada saat yang sama alat-alat tambang yang sebenarnya sedang bergerak dan berjalan sendiri layaknya sebuah mainan mengeruk bongkahan bijih, memuat ke atas truck, mengangkut ke mulut crusher dan menumpahkan isinya.

Lalu pada kemana para underground miner yang memakai pakaian kerja tambang lengkap dengan lampu di topinya dan membawa self rescuer, mengoperasikan alat bor, alat muat, alat angkut, pagi masuk tambang sore baru keluar atau sebaliknya? Ya digantikan oleh wanita cantik itu.

Agaknya ilustrasi di atas (bukan tidak munkin) tidak lama lagi bakal menjadi kenyataan, demikian yang sempat saya lihat dari tayangan video promosi alat-alat berteknologi tinggi untuk operasi tele-mining. Sudah barang tentu tidak semua jenis pekerjaan di tambang bawah tanah akan dapat di-tele-mining-kan. Barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kejadian seperti ilustrasi di atas bukanlah hanya sebuah khayalan.

Apakah cocok diterapkan di setiap tambang, termasuk Indonesia? Itu soal lain. Mestinya akan ada peraturan yang mengaturnya. Kalau tidak, lha njuk mau dikemanakan tenaga kerja tambang yang ada saat ini, terutama yang ada di perusahaan-perusahaan besar yang dari segi investasi dan sumber dananya tidak mengalami masalah. Yang ingin saya katakan sebenarnya adalah bahwa harus ada pihak-pihak yang sudah mulai memikirkan untuk mengantisipasi hal-hal semacam itu, yang jelas bukan hil yang mustahal. Siapa ? Ya, embuh….. Asal jangan terlambat start saja dengan peserta lomba lari dalam rangka menyambut globalisasi.

***

Meskipun agenda konferensi sudah berakhir tadi sore, namun masih ada satu rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan besok tanggal 3 Nopember 2000 yaitu kunjungan tambang. Tambang yang akan dikunjungi adalah tambang tembaga Northparkes yang berada di wilayah kota Parkes di negara bagian New South Wales, Australia. Tambang Northparkes ini dikenal sebagai tambang yang mempunyai produktivitas paling tingi sedunia.

Malam ini saya mau mengepak barang karena besok pagi akan bergabung dengan rombongan yang akan menuju ke tambang Northparkes. Direncanakan perjalanan akan ditempuh dari Brisbane naik pesawat ke selatan menuju Sydney, lalu disambung dengan penerbangan lagi kira-kira satu jam dari Sydney ke arah barat menuju kota Parkes.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebuah kota kecil di negara bagian New South Wales, Australia. Nama kotanya Parkes. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan dan studi lapangan di tambang tembaga bawah tanah Northparkes. Beberapa surat saya tulis, namun berhubung kesulitan mengakses internet dari kota ini di awal-awal kedatangan saya, maka surat ini terlambat saya kirimkan.

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia
(2).    Tambang Northparkes
(3).    Terserang Flu Dan Pilek
(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum
(5).    Menuju Ke Canberra
(6).    Tiga Jam Di Canberra
(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange
(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation
(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh
(10).  Membaca Koran Dan Memburu Kanguru
(11).  Malam Terakhir Di Parkes
(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(3).    Terserang Flu Dan Pilek

Hari Kamis ini tiba-tiba badan saya terasa nggreges (tidak enak badan). Nampaknya gejala flu atau pilek sedang saya alami. Entah kenapa. Kalau di kampung saya orang suka menyebut sebagai akibat dari perubahan cuaca. Lha, padahal cuacanya ya dari dulu memang begitu. Hanya saya saja yang berpindah-pindah dari daerah yang sedang bermusim panas dua minggu yll. di Amerika, kemudian pindah ke musim kemarau seminggu yll. di Indonesia, dan kini pindah lagi ke musim dingin di Australia.

Sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa kondisi fisik saya memang sedang tidak prima. Yang pasti, akibat nggreges ini saya menjadi serba tidak enak untuk melakukan agenda kerja. Cuaca dingin di siang hari yang mestinya biasa-biasa saja, menjadi terasa sangat dingin di badan.Tapi ya tetap saya paksakan untuk dapat menyelesaikan agenda kerja saya. Termasuk observasi ke tambang bawah tanah bersama seorang Geotech Engineer. Dan dia adalah seorang wanita.

Rupanya di Australia ini sudah lazim kalau ada para insinyur wanita yang bekerja di tambang bawah tanah, juga di bagian lapangan. Seperti di tambang Northparkes ini, di bagian tambang bawah tanah (underground) ada insinyur wanita yang bekerja sebagai Geotech Engineer dan Draw Control Engineer yang tugasnya merangkap, ya pengumpulan data lapangan, ya pengolahan datanya dan penyajian laporannya.

Di bagian tambang terbuka (open pit) malah dipimpin oleh seorang Superintendent wanita yang bertanggung jawab kepada Mine Manager, selain ada juga Mine Engineer wanitanya. Belum lagi kalau masuk ke kantor tambang bawah tanah yang lokasinya memang berada di bawah tanah, di bagian pusat kontrol sistem tambangnya terdapat beberapa pegawai wanita.

Di Indonesia, para tukang insinyur wanita agaknya masih harus menunggu entah sampai kapan untuk dapat memiliki kesempatan bekerja di tambang bawah tanah sebagaimana para tukang insinyur pria. Bukan soal diskriminasi dan bukan juga soal kemampuan, melainkan lebih disebabkan masih adanya kepercayaan sebagai hal yang tabu.

Sulit dipercaya, tapi kenyataannya keadaan semacam itu masih berlaku di beberapa tambang bawah tanah yang pernah ada di Indonesia. Akhirnya daripada membuat karyawan yang lain resah akibat pelanggaran terhadap hal yang ditabukan itu, maka biasanya lalu pihak perusahaan memutuskan untuk tidak menerima pegawai wanita untuk bekerja di tambang bawah tanah.

Mudah-mudahan dalam perkembangannya nanti akan ada perubahan. Sayang kalau ada Mine Engineer wanita yang berkemampuan tinggi di bidang tambang bawah tanah tetapi tidak terbuka kesempatan untuk mengembangkannya.

***

Sore tadi saya pulang dari lokasi tambang sedikit lebih awal karena terburu-buru hendak mencari obat flu. Beberapa rekan menyarankan untuk mencarinya ke apotik (pharmacy), tetapi apotik sudah tutup jam 5 sore. Akhirnya saya coba mencarinya ke Shopping Center yang buka hingga jam 9:00 malam. Saya dapatkan juga tabletnya yang menurut petunjuknya dapat digunakan untuk mengobati gejala flu dan pilek. Mudah-mudahan manjur.

Malam ini saya ingin tidur lebih awal dengan berselimut rapat karena memang udaranya cukup dingin.

Parkes, 2 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation

Hari Senin dan Selasa, 6 dan 7 Agustus 2001 kemarin saya mempergunakan kesempatan untuk bergabung dengan para penambang (miner) di tambang bawah tanah Northparkes. Kali ini saya sengaja ikut dengan salah satu kru dengan maksud agar memperoleh gambaran lebih lengkap tentang bagaimana para pekerja tambang ini mengorganisasikan dan menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saya berharap agar mereka tetap bekerja sebagaimana biasanya, dalam arti bukan lantaran diikuti orang lain lalu bekerjanya diproduktif-produktifkan.

Operasi tambang Northparkes yang berproduksi rata-rata 15.000 ton perhari ini dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari sembilan orang dalam setiap gilir kerja (shift) yang bekerja selama 12 jam. Oleh karena itu dalam satu hari ada dua gilir kerja. Jumlah sembilan orang ini sudah termasuk kepala timnya yang disebut team leader, 3 atau 4 orang operator alat muat (loader) yang disebut dengan alat LHD (load-haul-dum), seorang operator control room dan beberapa pekerja lainnya yang umumnya perkemampuan serba bisa.

Salah satu kru yang saya ikuti disebut dengan secondary breaker. Salah satu tugas dari kru ini adalah mengatasi bongkahan-bongkahan batuan besar (boulder) yang jika langsung dimuat, diangkut dan ditumpah ke dalam mesin pemecah batuan (crusher) maka dapat menggangu proses operasi mesin ini. Selain itu tim ini juga bertugas mengatasi draw point (tempat pengambilan bijih hasil penambangan) yang tersumbat, sehingga material bijih tidak mau turun atau keluar ke mulut draw point. Keadaan ini disebut dengan hung-up.

Untuk melakukan pekerjaannya, kru yang terdiri dari dua orang ini ternyata seringkali berpisah dengan masing-masing saling berbagi tugas. Kalaupun kemudian perlu melakukan pengeboran dan peledakan ulang, maka jika memungkinkan akan diselesaikan oleh salah seorang saja. Demikian halnya misalnya untuk pekerjaan perbaikan jaringan pipa, perbaikan lantai beton (concrete) yang rusak, penyanggaan batuan, dsb. jika memungkinkan mereka akan berbagi tugas dengan masing-masing menyelesaikan tugas yang berbeda.

Demikian seterusnya sehingga pekerjaan hari itu dapat dituntaskan. Seringkali dalam melakukan tugasnya mereka tanpa diawasi oleh team leader-nya, sepertinya sudah otomatis mereka tahu apa yang mesti dikerjakan. Padahal mereka juga menyelingi kegiatannya dengan berhenti untuk merokok, makan dan ngobrol sebagaimana lazimnya.

***

Di bagian ruang kontrol (control room) yang juga berlokasi di bawah tanah, seorang pekerja duduk di depan layar monitor sambil sesekali mengangkat tilpun dan ngomong di pesawat radio komunikasi. Di atas layar monitor utama terdapat enam layar monitor lainnya yang menayangkan hasil liputan kamera-kamera yang di pasang di banyak lokasi strategis sehingga sewaktu-waktu dapat dilihat apa yang sedang terjadi di lapangan dengan mengubah-ubah salurannya.

Semua sistem aliran bijih (ore flow) hasil penambangan mulai dari penumpahan batuan dari alat muat LHD, mesin pemecah batuan (crusher), pengangkutan dengan ban berjalan (belt conveyor) pengangkutan dengan alat pengerek (hoisting), hingga ban berjalan di permukaan tanah, dikendalikan dari ruang kontrol ini. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa perlu ada orang yang menjaga di tiap-tiap alat tersebut.

Oleh karena itu banyak sekali jenis pekerjaan yang dapat dirangkap oleh seorang operator di control room. Kalau di tambang-tambang lain umumnya perlu beberapa operator khusus yang menjalankan dan mengawasi masing-masing bagian crusher, conveyor, winder, dsb. maka di tambang Northparkes para pekerja itu tidak diperlukan lagi.

***

Saat ini operasi LHD masih dilakukan oleh seorang operator. Namun dalam rencana penambangan endapan bijih pada tahap pengembangan berikutnya, direncanakan operasi LHD juga akan dikendalikan dari ruang kontrol ini. Inilah yang kini disebut sebagai konsep otomatisasi tambang atau mine automation.

Pada saat ini tambang Northparkes sedang mempersiapkan rencana penambangan endapan yang ada tepat di bawah dari yang saat ini sedang ditambang yang disebut dengan Lift 2. Cadangan baru ini sebenarnya merupakan kelanjutan ke arah bawah dari endapan yang saat ini ditambang dan disebut sebagai Lift 1.

Lift 2 kini menjadi proyek tersendiri yang ditangani oleh sebuah tim khusus yang melibatkan semua disiplin ilmu terkait. Tujuannya tentu agar proyek Lift 2 tambang Northparkes ini dapat segera beroperasi secara tepat waktu pada saat tambang Lift 1 yang ada saat ini habis cadangannya. Dan hal itu diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2003.

Parkes, 8 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh

Hari ini, kembali saya ngantor di kantor tambang bawah tanah. Kali ini saya banyak bergabung dengan bagian perawatan dan pemeliharaan tambang dan peralatannya (maintenance). Hal ini berkaitan dengan agenda saya untuk memahami masalah pembiayaan dalam operasi tambang Northparkes, mengingat bahwa biaya pemeliharaan (maintenance cost) tambang ini merupakan porsi terbesar dari biaya operasi penambangannya.

Dari omong-omong dengan para pekerja, saya baru tahu bahwa di lingkungan perusahaan tambang Northparkes tidak dikenal adanya penggolongan antara karyawan staff dan non-staff. Dapat dikatakan bahwa semua karyawannya adalah staff yang diatur melalui peraturan kepegawaian yang tertuang dalam Employee Handbook, mulai dari General Manager hingga operator dan administrasi. Tidak ada karyawan yang statusnya non-staff. Dengan kata lain, di perusahaan tambang ini tidak ada tidak memiliki buruh yang biasanya identik dengan karyawan non-staff.

Oleh karena itu, semua karyawan mempunyai jam kerja pokok yang banyaknya sesuai dengan aturan minimal yang dipersyaratkan. Tidak dikenal adanya jam kerja lembur (overtime). Rata-rata karyawan bagian operasional tambangnya bekerja 42 jam per minggu. Semua karyawan menerima gaji (salary) yang sesuai dengan jenjang kepangkatannya yang secara umum nilainya di atas rata-rata.

Pertanyaan saya lalu : Bagaimana kalau ada pekerjaan yang menuntut karyawan untuk bekerja di luar jam kerja yang semestinya atau perlu tambahan jam kerja? Maka secara guyon jawabnya adalah : “Ya, nasib…….”. Artinya, sebagai karyawan staff maka pada dasarnya siap untuk diminta atau tidak diminta bekerja kapan saja sepanjang memang dibutuhkan oleh perusahaan. Demikian kira-kira bunyi peraturan kerja karyawan staff.

***

Akibat dari tidak adanya karyawan non-staff, maka tidak pula dikenal adanya Serikat Buruh (Union) karena status kepegawaiannya menjadi tidak ada karyawan yang bersatus buruh.

Lalu bagaimana jika ada perselisihan perburuhan? Ya, tidak akan ada yang berselisih, wong tidak ada buruh. Semua karyawan diatur melalui peraturan kepegawaian karyawan sejak awal pertama kali mereka masuk kerja. Memang sulit untuk mengidentifikasi sisi untung-ruginya secara mendetail. Namun yang pasti sistem ini sudah berjalan sejak pertama kali perusahaan tambang ini berdiri pada tahun 1994.

***

Diterapkannya pola kepegawaian tambang tanpa buruh ini nampaknya ingin ditiru oleh perusahaan-perusahaan tambang lainnya. Barangkali karena melihat tidak pernah terjadinya perselisihan perburuhan (lha, wong memang tidak punya buruh…). Tapi kenyataannya memang tidak mudah untuk mengubah pola kepegawaian konvensional menjadi pola kepegawaian dengan tanpa buruh.

Sistem ini agaknya hanya mungkin untuk diterapkan pada perusahaan yang baru dibuka. Sehingga sejak pertama kali penerimaan karyawan memang sudah diatur dengan perjanjian kerja bahwa mereka semua akan diperlakukan sebagai karyawan layaknya karyawan staff.

Agaknya pola perusahaan tanpa buruh (non-staff) ini hanya pas untuk diterapkan di perusahaan yang jumlah karyawannya kecil, sebagaimana halnya di tambang Northparkes yang jumlah keseluruhan karyawannya hanya sekitar 170 orang dan itu sudah mencakup semua jenjang kepangkatan dan bidang kegiatan. Sedikitnya jumlah karyawan ini karena banyak bidang-bidang perkerjaan yang dikontrakkan atau diserahkan kepada pihak kontraktor.

Apakah mungkin pola kepegawaian semacam ini diterapkan di Indonesia?

Parkes, 9 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Tambang Perak Bawah Tanah Greens Creek, Alaska

6 Februari 2008

Pengantar :

Pada tanggal 25-26 April 2001 yll. saya berkesempatan melakukan kunjungan tambang ke Greens Creek Mine, Alaska, USA. Tambang perak bawah tanah ini dioperasikan oleh Kennecott Minerals, salah satu anak perusahaan Rio Tinto yang bersama-sama Hecla Mining Company melakukan “joint venture” untuk kepemilikan tambang Greens Creek. Berikut ini catatan saya dan semoga bermanfaat.

——-

Pendahuluan

Tambang Greens Creek, adalah sebuah tambang bawah tanah yang berlokasi di pulau Admiralty, negara bagian Alaska, USA. Lokasi tambang ini berada di kawasan Taman Nasional Tongass dimana banyak dihuni satwa-satwa liar sejenis burung elang, beruang dan rusa. Oleh karena itu, adalah menjadi komitmen pihak tambang Greens Creek yang dalam menjalankan operasi penambangannya dengan tetap menjaga kelestarian Taman Nasional ini.

Hasil utama dari tambang Greens Creek adalah perak, emas, seng dan timbal. Metode penambangan yang diterapkan adalah Cut and Fill yang dimodifikasi menjadi Drift and Fill. Lombong (stope) dalam metode ini dimodifikasi menjadi berupa lorong-lorong atau lubang bukaan mendatar (drift) yang diekskavasi secara bertingkat dari bawah ke atas dengan siklus kerja : pemboran, peledakan, pemuatan, pengangkutan, pengisian dan pemadatan.

Tambang Greens Creek merupakan joint venture antara Rio Tinto (70,3%) dan Hecla Mining Company (29,7%). Sebagai pemegang saham utama, Rio Tinto mengoperasikan tambang ini melalui anak perusahaannya, Kennecott Minerals, yang juga mengoperasikan tambang tembaga di Salt Lake City (Utah).

Kondisi Geografis

Lokasi tambang ini dapat dicapai dari kota Juneau, ibukota Alaska, yang terletak di sisi tenggara dari wilayah negara bagian Alaska. Dari Juneau menyeberang ke pulau Admiralty dengan menggunakan kapal motor (boat) yang memang khusus disewa oleh pihak tambang Greens Creek untuk pengangkutan karyawan Juneau – pulau Admiralty p.p.

Dengan kata lain, tidak terdapat sarana transportasi komersial yang melayani rute ini secara reguler ke dan dari pulau Admiralty yang memang bukan kawasan hunian. Selain dengan kapal motor, pulau Admiralty juga dapat dicapai dengan menggunakan pesawat terbang kecil yang dikelola oleh perusahaan penerbangan lokal.

Kota Juneau sebagai ibukota Alaska yang berpopulasi sekitar 31.000 jiwa, dapat dikatakan merupakan kota yang terpencil dilihat dari tidak adanya sarana transportasi darat yang menjangkau kota ini, meskipun terletak menjadi satu dengan daratan Amerika Utara.

Bagian utara dan timur laut wilayah Juneau ini berupa pegunungan yang puncak-puncaknya nyaris selalu tertutup salju dan glacier. Sedangkan di sisi selatan dan barat laut berbatasan dengan teluk Alaska dimana banyak terdapat pulau-pulau kecil yang umumnya tidak berpenghuni. Oleh karena itu transportasi udara menjadi sarana utama ke dan dari kota ini, sementara transportasi laut umumnya digunakan untuk sarana pengangkutan barang karena akan memerlukan waktu berhari-hari. Meskipun ada juga feri untuk penyeberangan jarak dekat.

Kesampaian Daerah

Tambang Greens Creek, pulau Admiralty dan kota Juneau pada umumnya, termasuk daerah beriklim dingin. Terletak pada kira-kira 58o Lintang Utara dan 135o Bujur Barat. Suhu udara rata-rata dalam setahun, terendah 18oF (sekitar -8oC) terjadi pada bulan Januari dan tertinggi 64o (sekitar 18oC) terjadi pada bulan Juli. Curah hujan rata-rata per hari berkisar antara 2,8 – 7,7 inch (sekitar 71-196 mm).

Setelah sebelumnya berkorespondensi dengan General Manager tambang Greens Creek, Mr. Keith Marshall, maka untuk mengunjungi tambang ini saya sengaja terbang dari Seattle menuju Juneau dengan menggunakan penerbangan yang sama dengan beliau pada tanggal 24 April 2001 yll. Selanjutnya keesokan harinya berangkat menuju ke lokasi tambang Greens Creek.

Setiap hari kapal motor yang cukup mewah meninggalkan dermaga Juneau jam 05:00 pagi dengan mengangkut karyawan Greens Creek yang tinggal di Juneau. Perjalanan dengan kapal motor ditempuh selama 30 menit. Setiba di dermaga pulau Admiralty, selanjutnya disambung dengan kendaraan bis sejauh kira-kira 15 mil (sekitar 24 km) menuju ke lokasi tambang yang terletak di kawasan perbukitan berhutan pinus yang puncak-puncaknya nyaris selalu tertutupi oleh salju. Perjalanan darat menuju ke lokasi tambang ini ditempuh selama 45 menit, sehingga pada jam 06:30 pagi biasanya para karyawan sudah tiba di tempat kerja masing-masing.

Hal yang sama terjadi pada sore hari. Sekitar jam 17:00 karyawan meninggalkan lokasi tambang dan selanjutnya menggunakan sarana yang sama dan akan kembali tiba di Juneau sekitar jam 18:30 sore. Sarana angkutan yang sama berlaku bagi semua karyawan, dari miner hingga General Manager. Bagi karyawan yang tidak tinggal di Juneau, juga tersedia perumahan lajang, di camp site yang berada di lokasi yang berdekatan dengan pelabuhan pengapalan konsentrat di pulau Admiralty.

Kondisi kesampaian daerah menuju ke lokasi tambang yang demikian ini mengingatkan saya pada lokasi tambang emas PT Lusang Mining di Bengkulu yang sekarang sudah tidak berproduksi. Demikian juga lokasi tambang PT Freeport Indonesia di Irianjaya (Papua) untuk skala infrastruktur yang lebih besar.

Potensi Cadangan Dan Produksi

Endapan cadangan bijih tambang Greens Creek berbentuk sangat tidak beraturan dan menyebar pada kedalaman antara 90 m di bawah permukaan laut hingga ketinggian 500 m di atas permukaan laut pada areal seluas kira-kira 121 ha. Endapan cadangannya tersebar dan dapat dipisah-pisahkan dalam sembilan zona bijih.

Adanya bentuk endapan yang tidak beraturan dengan batuan utamanya argillite dan phyllite, membuat tambang ini menerapkan selective mining guna mengurangi pengotoran (dilution) batuan bijih (ore) terhadap batuan sekitarnya atau batuan sampah (waste).

Total cadangan terukur saat ini sekitar 10 juta ton. Tingkat produksi rata-rata untuk tahun 1999 (meskipun saya mencatat data terakhir, namun saya akan menyajikan data yang telah resmi dipublikasikan untuk tahun 1999) sekitar 1.600 tpd (ton per day) dengan kadar rata-rata 746,48 g/t-Ag, 6,22 g/t-Au, 14 %-Zn, dan 6 %-Pb. Perhitungan cut-off grade tidak dinyatakan dalam kandungan mineral (% atau g/t, misalnya), melainkan dikonversi dalam nilai dollar ($) yang disebut dengan Net Smelter Revenue (NSR).

Jika melihat tingkat produksinya, maka dapat dikatakan bahwa tambang Greens Creek merupakan tambang bawah tanah berskala kecil. Saat ini tambang Greens Creek sedang berusaha meningkatkan produksi per harinya menjadi sekitar 1,800 hingga 2,000 tpd. Dengan demikian dapat diperkirakan tambang ini akan habis ditambang dalam 15 tahun. Kegiatan pemboran eksplorasi saat ini masih terus berlanjut dan sangat diyakini bahwa cadangan yang ada saat ini masih akan bertambah.

Potensi cadangan bijih Greens Creek pertama kali ditemukan pada tahun 1975, tetapi kegiatan pemboran eksplorasinya baru dimulai pada tahun 1978. Tahap pekerjaan persiapan penambangan (development) awalnya mulai tahun 1987 hingga mencapai produksi penuh pada tahun 1989. Pada tahun 1973 tambang ini tutup sebagai akibat dari jatuhnya harga logam. Namun pada tahun 1996 tambang Greens Creek beroperasi kembali seiring dengan selesainya pekerjaan persiapan penambangan (development).

Penambangan Dengan Metode Drift and Fill

Tambang Greens Creek terletak pada ketinggian sekitar 300 m di atas permukaan laut. Di area ini terdapat fasilitas pabrik pengolahan bijih (mill) serta batch plant untuk pencampuran material isian (filling material), perkantoran, bengkel, gudang material, dsb. Portal utama untuk masuk ke tambang bawah tanahnya berada pada elevasi 280 m.

Untuk mencapai lokasi zona-zona endapan bijih yang terpisah-pisah, dari portal utama tambang yang disebut 920 Portal Entry (berada pada elevasi 920 ft) dibuat lorong atau lubang bukaan mendatar (tunnel). Dari lorong ini kemudian dibuat beberapa lorong naik dan turun (ramp) menuju ke lokasi-lokasi dimana zona bijih berada.

Beberapa lorong bantu (sublevel) selanjutnya dibuat tepat di samping endapan bijih. Ukuran penampang dari lorong-lorong ini umumnya seragam 15 ft tinggi x 15 ft lebar (4,5 m x 4,5 m). Jarak vertikal antara lorong-lorong bantu pada setiap zona bijih adalah 60 ft (18 m). Jumlah lorong bantu yang dibuat untuk setiap zona bijih disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan tinggi dari zona bijihnya.

Penambangan dilakukan dengan membuat lubang bukaan mendatar dari lorong bantu menuju ke badan bijih (orebody). Lubang bukaan mendatar sebelum mencapai badan bijih disebut dengan akses lombong (stope access) dan setelah tepat berada pada badan bijih selanjutnya disebut dengan lombong (stope). Karena yang disebut dengan lombong ini pada dasarnya adalah lubang bukaan mendatar (drift) yang setelah selesai ditambang akan diisi dengan material isian, maka sistem penambangan ini disebut juga dengan Drift and Fill.

Ukuran penampang lombong yang sebenarnya adalah lorong mendatar, yaitu 12 ft tinggi dan 15 ft lebar (3,6 m x 4,5 m). Dengan demikian, dari setiap blok lorong bantu yang tebalnya 60 ft (18 m) akan ditambang dalam lima tingkat yang bergerak dari bawah ke atas. Tingkat paling bawah akan dibuka dengan membuat akses lombong dengan kemiringan (grade) negatif, sedangkan tingkat paling atas akses lombong akan berkemiringan (grade) positif, terhadap elevasi lorong bantu.

Setiap kali selesai dilakukan pelombongan (stoping) maka akan diikuti dengan pengisian material isian (filling material) yang berupa campuran pasir buangan (pasir tailing) dengan semen. Setelah dipadatkan dan mengering, maka akses lombong di atasnya telah siap untuk ditambang dengan ukuran tinggi dan lebar lubang bukaan yang sama. Demikian seterusnya penambangan bergerak dari bawah ke atas.

Karena lebar lombongnya adalah selebar lorong mendatar, maka dari setiap akses lombong yang membujur dapat dibuat banyak lombong yang melintang yang disebut dengan panel-panel, hingga selebar badan bijih. Panel-panel yang melintang ini dibedakan menjadi panel primer (primary panel) dan panel sekunder (secondary panel) secara berselang-seling. Panel-panel primer dibuka dan ditambang lebih dahulu, yang akan dilanjutkan dengan panel-panel sekunder setelah pada panel primer selesai dilakukan pengisian dan pemadatan sehingga setelah kering akan berfungsi sebagai dinding atau pilar bagi panel sekunder.

Dengan demikian maka pada setiap tingkat dari lima tingkat yang direncanakan dari setiap blok penambangan dapat memiliki beberapa permuka kerja (working face) pada saat yang sama. Hal ini memberi keluwesan (flexibility) dalam melakukan operasi penambangan bagi para pekerja dalam setiap gilir kerja (shift).

Peralatan Dan Perlengkapan Penambangan

Secara umum, pekerjaan ekskavasi batuan yang dilakukan di tambang Greens Creek ini adalah pembuatan lorong atau lubang bukaan mendatar (main level, sublevel, drift, stope access, panel). Pola pemboran yang diterapkan untuk setiap lubang bukaan adalah sama, yaitu pola parallel cut dengan 45 lubang isian dan 4 lubang kosong berada di bagian tengah.

Bahan peledak yang digunakan adalah emulsion yang dirangkai dengan menggunakan detonator non-elektrik untuk pengaturan waktu tunda (delay) peledakan. Pengisian bahan peledaknya dengan powder factor 2,25 lbs/ton (0,84 kg/ton). Untuk pengisian bahan peledak ke dalam lubang-lubang tembak (charging) menggunakan truck Getman yang dimodifikasi sehingga mampu membawa emulsion sekaligus untuk pengisiannya, kotak detonator dan perlengkapan peledakan lainnya.

Di dalam tambang terdapat sebuah gudang bantu penyimpanan bahan peledak yang berupa sebuah lubang bukaan mendatar tanpa pagar dan pintu serta tanpa petugas penjaga. Di lokasi ini terdapat dua buah tangki penyimpanan emulsion, dua buah kontainer masing-masing untuk menyimpan detonator dan detonating cord, dan sumbu ledak (safety fuse).

Jenis alat muat yang digunakan adalah LHD (load-haul-dump), yaitu 2 buah Wagner 3,5 cuyd dan 2 buah Wagner 6,0 cuyd (Atlas Copco), serta 3 buah Toro 6,0 cuyd (Tamrock). Jenis alat angkut yang digunakan yaitu 6 buah truck 40 ton untuk pengangkutan batuan bijih (ore) dan sampah (waste) dan 9 buah truck 20 ton untuk pengangkutan batuan sampah dan material isian, masing-masing truck tersebut buatan Atlas Copco dan Tamrock.

Alat pemaku-batuan (rockbolting) yang digunakan adalah bolter (Tamrock) dengan split-set sebagai paku-batuannya, sedangkan alat pemborannya adalah single boom jumbo (Tamrock). Untuk pemadatan material isian digunakan LHD Wagner 3,5 cuyd yang dimodifikasi dengan mengganti bucket-nya dengan jammer.

Dengan menggunakan truck 40 ton, bijih hasil penambangan diangkut ke pabrik pengolahan (mill) yang berada di luar tambang. Hasil konsentrat dari pabrik pengolahan selanjutnya dikapalkan ke berbagai pabrik peleburan (smelter) di seluruh dunia dalam bentuk konsentrat kering.

Material Isian

Pasir buangan (pasir tailing) dari pabrik pengolahan merupakan bahan utama untuk pembuatan material isian. Sekitar 50% dari pasir tailing digunakan sebagai material isian setelah dicampur dengan semen dan air, dan 50% sisanya dibuang ke lokasi penimbunan tailing.

Untuk pembuatan material isian digunakan campuran 86% material solid dan 14% air. Material solidnya terdiri dari pasir tailing dan semen. Kandungan semen sebanyak 5% merupakan campuran yang saat ini dinilai paling baik dari segi kekuatan dan ekonomi. Dalam 3-5 hari setelah pengisian dan pemadatan, ternyata campuran yang berbentuk pasta ini setelah kering dapat menghasilkan kekuatan sekitar 300 psi. Proses pencampurannya dilakukan di sebuah batch plant yang terletak di luar tambang. Untuk pengangkutannya ke dalam tambang digunakan truck 20 ton.

Tenaga Kerja dan Sistem Kerja

Salah satu yang menarik dari tambang ini dibandingkan dengan tambang-tambang lain pada umumnya adalah digunakannya traktor pertanian (Kubota) sebagai sarana pengangkutan karyawan ke dan dari dalam tambang, dengan pertimbangan fleksibilitas untuk bermanuver serta kokoh. Traktor pertanian ini dimodifikasi dengan menambahkan semacam platform pada bagian belakangnya sehingga cukup untuk mengangkut 4-5 orang berdiri. Traktor ini pula yang digunakan oleh para miner untuk menuju ke lokasi kerja masing-masing di bawah tanah. Tak terkecuali, para karyawan staff dan tamu pun akan menggunakan traktor ini untuk masuk ke lokasi-lokasi di bawah tanah.

Jumlah seluruh karyawan tambang Greens Creek saat ini sekitar 270 orang dan kurang dari separohnya bekerja di bagian tambang. Para karyawan bekerja dalam dua gilir kerja (day shift dan night shift) yang pengaturannya mengikuti apa yang dikenal dengan sebutan republic schedule (menyerap dari sebutan sistem gilir kerja yang diterapkan oleh tambang-tambang di daerah Republic, wilayah negara bagian Washington).

Karyawan terbagi dalam tiga kelompok (crew) dengan minimum 40 jam kerja per minggu. Dengan sistem ini maka lama hari liburnya bervariasi antara 2-5 hari libur berturut-turut dengan hari Minggu selalu dijadikan sebagai hari libur. Meskipun demikian, kesempatan tetap terbuka bagi karyawan yang menginginkan kerja lembur (overtime). Oleh karena itu, tambang Greens Creek menggunakan 365 hari per tahun dalam perhitungan produksi tahunannya.

Penutup

Termasuk ramping dalam organisasi, namun ditunjang dengan adanya underground skilled miner yang dimiliki dengan tingkat upah relatif tinggi dibanding daerah-daerah lain di kawasan Amerika Utara, tambang Greens Creek telah membuktikan sebagai salah satu tambang metal bawah tanah yang mampu beroperasi secara menguntungkan dan effisien.

Pada tahun 1998, MSHA (Mine Safety and Health Administration) dan National Mining Association memberi penghargaan bergengsi (national sentinel of safety award) kepada tambang Greens Creek atas unjuk kerjanya yang dinilai sangat baik di bidang keselamatan kerja untuk kategori tambang metal bawah tanah.-

Untuk informasi lebih lanjut : http://www.greenscreek.com/

New Orleans, 4 Mei 2001
Yusuf Iskandar