Archive for Desember, 2009

Persiapan Terakhir

29 Desember 2009

Malam ini persiapan terakhir sebelum besok pagi terbang ke Mataram : packing dan kerokan (jannn.. ndeso tenan). Seorang teman dari Jakarta sudah tiba di Mataram, seorang lagi masih dalam perjalanan menuju Bali, seorang lagi dari Tasik nyusul besok malam. Siap-siap ‘jam session’ menyongsong matahari baru 2010 di puncak Rinjani. Insya Allah, semoga Tuhan memberkati…

Yogyakarta, 28 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Banyak Hikmah Hari Ini

28 Desember 2009

Persiapan Hari ke-8 (H-3) : Hari terakhir sepedaan, besok pagi terbang ke Mataram, NTB. Di Kota Gede ngobrol dengan tukang gorengan sambil makan tempe goreng + teh panas, ketemu bekas teman kerja yang sudah 15 tahunan tidak ketemu, lalu tengok bekas teman kerja juga yang habis operasi jantung. Banyak hikmah dipetik hari ini…

Yogyakarta, 28 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sate Kambing “Pak Bejo”

27 Desember 2009

Sahabat kecilku ngajak makan di luar malam ini. Cari yang mudah dan dekat rumah saja. Pilihan jatuh ke sate kambing dan tongseng kepala kambing “Pak Bejo” Perempatan Warungboto, Jogja… Inilah nikmatnya kalau dokter tidak punya alasan untuk melarang makan ini-itu (karena memang tidak pernah ke dokter, jadi gimana mau melarang…)…. Rasanya sate dan tongsengnya sendiri sangat standard dengan harga lebih mahal…

Yogyakarta, 27 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Mampir Warung Soto Daging “Marzuki”

27 Desember 2009

Persiapan Hari ke-7 (H-4): Tadinya saya akan ‘off’ nyepeda karena ada agenda belajar buku Arab tiap Minggu pagi di ponpes sebelah rumah. Ndilalah Kyainya tidur.., ya kebetulan. langsung ganti kostum & ngayuh sepeda. Belum lama jalan, ketemu warung soto daging, ya terpaksa nyoto dulu… Pesannya adalah: ‘Tetap makan enak agar tetap bisa olahraga bin sehat, lalu perhatikan apa yang terjadi…’

(Warung soto daging “Marzuki” di Jl. Menukan, Jogja)

Yogyakarta, 27 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Mampir Warung Gorengan Bu Kardi

26 Desember 2009

Persiapan Hari ke-6 (H-5) : Masih seperti hari-hari kemarin, from Tahajud to Dhuha, tapi tanpa ‘Serangan Oemoem 1 Maret’ (perang suku di Papua saja tidak tiap hari). Rute bersepeda diubah lewat Pasar Tela, terus ke Kota Gede mampir warung gorengan… 2 gelas teh panas + cemplon, balok, telo, bakwan, tempe, marlboro + ngobrol ngalor-ngidul……. Olah raganya? Lha makan itu kan raga juga yang diolah…..

(Warung gorengan Bu Kardi, Kotagede, Jogja)

Yogyakarta, 26 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Mau Ke Gunung Sumbing

25 Desember 2009

Ke Rinjani saja belum dilakukan, sahabat kecilku sudah minta ijin kalau sepulang dari Rinjani nanti, esoknya mau ke Gunung Sumbing. Sebagai ortu tentu saya harus bijaksana, lalu kata saya : “Ale.., bapa bole temani kah tidak…?”.

(Gunung Sumbing bertetangga dengan gunung Sindoro di utara dan gunung Slamet di barat daya. Ketiganya dikenal dengan puncak 3S yang berada di wilayah Jawa Tengah)

Yogyakarta, 25 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Enjoy the Life

25 Desember 2009

Persiapan hari ke-5 (H-6) : Merayakan ibadah Jum’at Natal, dimulai dengan tahajud (dibangunin oleh HP), ngecek masjid, ngecek buku bertulisan Arab, lalu Serangan Oemoem 1 Maret, lalu nyoba sampo baru di kamar mandi (huuu….sejak kapan sampo perlu dicoba?), lalu seperti pagi-pagi kemarin ngayuh sepeda 1/2 jam lebih. Yang 1/2 jam untuk nyoto di Kota Gede, olah raganya ya lebihnya itu… (Dasar, enjoy the life just the way it is….)

(H-6 adalah enam hari menjelang pendakian ke gunung Rinjani, Insya Allah tanggal 31 Desember 2009).

(Warung soto ayam “Lumayan” Kang Parman, Jl. Kemasan, Kotagede, Jogja)

(“Selamat Merayakan Natal dan semoga kedamaian senantiasa menyertai”, bagi rekan yang merayakannya)

Yogyakarta, 25 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Bersepeda Ke Kota Gede

24 Desember 2009

Persiapan fisik hari ke-4 (H-7) : Pagi ini kayuhan ditambah…….

Bersepeda ke Kota Gede mengayuh perlahan-lahan/
Mampir makan gudeg pengganjal perut berselonjor kaki nglarasss…./
Bukan soal mau olahraga atau beli sarapan/
Melainkan sekedar mengeringkan rambut karena pagi-pagi sudah keramassss…

(Uuuuh, lha wong jagat seperti ini indahnya kok ya sempat-sempatnya korupsi…..)

(Gudeg Bu Sri, Jl. Karanglo, Kotagede, Jogja)

Yogyakarta, 24 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Menuju Pendakian Terindah Ke Puncak Rinjani

23 Desember 2009

Pada sekitar pertengahan Desember yll. saya bertanya kepada sahabat kecilku : “Tahun baru nanti mau kemana?”. Pertanyaan ini dipahami oleh sahabat kecilku (Noval, 15 tahun) yang mulai ‘gila’ mendaki gunung yang maksudnya adalah mendaki gunung apa? Tahun baru setahun yll. saya temani sahabat kecilku mendaki puncak Merapi dan tahun baru sebelumnya ke puncak Lawu. Rupanya kali ini Noval belum ada rencana. Ketika saya tanya apakah tahun baru nanti mau muncak? Noval mengiyakan.

Majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi, yang bertajuk “55 Pendakian Terindah” yang barusan saya beli serta-merta saya sodorkan kepada Noval untuk dibacanya. Setelah itu saya beri penawaran : “Pilih satu gunung dan Insya Allah bapak temani untuk mencapai puncaknya pada Tahun Baru nanti, mumpung bapak masih sehat ‘gilanya’. Kecuali puncak Carstensz karena untuk yang satu itu memerlukan persiapan yang sangat khusus dan kita belum siap”. Akhirnya terpilih nominasi antara gunung Semeru atau Rinjani. Setelah kemudian mempertimbangkan tingkat kesulitan, tingkat bahaya dan kondisi cuaca, maka dipilihlah gunung Rinjani di pulau Lombok, NTB. Di balik itu sebenarnya saya bermaksud memenuhi janji saya untuk menemani Noval yang menyimpan obsesi ingin mendaki semua gunung di Indonesia dan mengalahkan bapaknya.

Puncak gunung Rinjani (3.726 mdpl) dapat disebut sebagai puncak tertinggi ketiga di Indonesia setelah Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) sebagai bagian dari pegunungan Jayawijaya di Papua dan gunung Kerinci (3.800 mdpl) di Jambi. Tahun 1995 saya pernah mendaki Carstensz hingga mencapai batas esnya saja. Memang sengaja pendakian itu tidak dimaksudkan untuk mencapai puncaknya mengingat persiapan teknis maupun perlengkapan yang sangat terbatas jika harus mendaki gunung es.

Puncak Kerinci sudah pernah saya capai pada tahun 1995 dalam sebuah pendakian menuju puncak di bawah hujan lebat di tengah belantara Sumatera yang masih menyembunyikan harimau, berdua dengan ditemani seorang gadis sahabat saya Winda. Sedangkan puncak Rinjani pernah saya capai pada tahun 1991 juga berdua dengan seorang sahabat saya Riady Bakri yang kini menekuni hobi fotografi, dan sempat menikmati momen yang begitu menggetarkan hati ketika kami sholat subuh berjamaah menjelang mencapai puncak.

Melalui tulisan ini saya ingin mengenang dan menyampaikan terima kasih disertai penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua sahabat saya itu (kalau mereka sempat membaca tulisan ini, terutama Winda yang sekarang entah dimana). Mereka telah membuktikan menjadi teman seperjalanan pendakian yang luar biasa di tengah upaya yang tidak mudah menaklukkan kedua puncak gunung itu menjadikannya sebagai pendakian terindah.

Pendakian ke Rinjani pada tahun 1991 kami tempuh selama tiga hari dengan mengambil rute mendaki melalui daerah Senaru di sisi utara dan turun melalui daerah Sembalun di sisi timur daratan pulau Lombok. Kali ini kami akan mengambil rute sebaliknya yaitu mengawali pendakian dari Sembalun dengan pertimbangan medan pendakiannya relatif landai dan akan turun melalui Senaru yang medannya lebih terjal selama empat hari karena akan menyempatkan untuk mengeksplorasi kawasan danau Segara Anak yang memiliki bentang alam yang sangat eksotis (seperti sering terlihat di awal acara kumandang adzan maghrib stasiun TV7).

Cuaca pada akhir tahun memang selalu kurang menguntungkan bagi pendaki gunung karena bersamaan dengan datangnya musim penghujan. Oleh karena itu kemungkinan terburuk harus sudah kami antisipasi termasuk jika harus gagal mencapai puncak ketika cuaca tiba-tiba berubah sangat ekstrim. Kerugian lain adalah kemungkinan tidak dapat menikmati pemandangan indah di puncak gunung akibat tebalnya awan, kabut atau malah hujan lebat. Situasi terburuk itu sangat kami sadari peluang terjadinya, termasuk biaya yang tidak sedikit Jogja – Lombok pp.

Oleh karena itu sambil bercanda tapi serius, saya bilang kepada Noval : “Kita memang akan mendaki Rinjani hanya berdua, tapi kita memohon kepada Sang Maha Pemilik Rinjani agar bersedia menjadi pemimpin pendakian. Maka mulai sekarang juga kita jangan berhenti berdoa agar rencana pendakian kita berjalan lancar dan cuaca pun cerah”.

Di balik semua rencana pendakian ini sebenarnya saya menyimpan misi khusus. Sebagai seorang ayah, saya akan menjadikan perjalanan pendakian ini sebagai media untuk mengajari Noval tentang kehidupan dan perjuangan hidup. Kedengarannya seperti ambisius. Tapi memang benar, lebih baik ambisius tetapi didahului dengan pematangan gagasan dan pemikiran, rencana aksi, strategi pencapaian dan pemahaman dalam pelaksanaannya, dari pada ambisius tapi tanpa bekal apa-apa seperti orang-orang yang sering kita lihat bergaya di televisi atau di koran-koran akhir-akhir ini.

Bagi mereka yang tidak suka dengan kegiatan ngoyoworo (membuang-buang waktu) seperti mendaki gunung ini mungkin akan berkata bahwa lebih baik biaya besar yang digunakan untuk mendaki gunung disalurkan kepada mereka yang lebih membutuhkan (mohon maaf, tak endhas-endhasi wae….). Jangan khawatir, untuk yang terakhir itu kami sudah mengalokasikan anggarannya tersendiri, dan sisanya baru dipakai untuk mendaki gunung (sisa tapi jumlahnya lebih banyak…..).

Kini saya ingin mengajak sekaligus mengantarkan sahabat kecilku yang adalah anak lelaki saya menuju ke puncak Rinjani mengawali hari baru tahun 2010. Semoga akan menjadi pendakian terindah bagi Noval, sahabat kecilku, dan mengulang salah satu pendakian terindah yang pernah saya lakukan 18 tahun yll.

Tertarik Bergabung?

Jika ada pembaca tulisan ini yang berminat bergabung melakukan pendakian ke puncak Rinjani bersama-sama dengan saya dan sahabat kecilku, silakan menghubungi saya di alamat email dan no. HP di bagian bawah. Siapkan perlengkapan pendakian Anda, sedangkan untuk transportasi lokal dan konsumsi selama pendakian silakan bergabung dengan kami tanpa biaya. Kami tunggu di Mataram, NTB, hingga tanggal 30 Desember 2009 pagi karena siangnya kami akan meluncur menuju desa terakhir di Sembalun, Lombok Timur.

Jika tidak ada aral melintang, rencana pendakian kami kira-kira sbb.:

31-Des-09 pagi : Memulai perjalanan menuju Plawangan Sembalun.

01-Jan-10 dini hari : Menuju puncak (summit attack) dan langsung turun ke danau Segara Anak.

02-Jan-10 pagi : Meninggalkan danau Segara Anak melalui Plawangan Senaru.

Saya akan berusaha mem-posting status perjalanan saya di Facebook, sepanjang ada sinyal dan battery tidak drop. Hidup pendaki gunung…..! (Email : yiskandar_2000@yahoo.com; HP. 08122787618).

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Mampir Nyoto

23 Desember 2009

Cek fisik hari-3 (H-8): Masih sepedaan keliling kecamatan, pagi ini jarak tempuh ditambah 2 kalinya. Sebelum pulang, mampir nyoto di warung pinggir jalan di ujung gang. Seperti filosofinya: ‘Urip iku mung sak dermo nunut nyoto’ (hidup itu cuma sekedar numpang nyoto)…

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Hadiah Terindah Di Hari Ibu

23 Desember 2009

Hadiah terindah bagi ‘boss’ saya di Hari Ibu : mobil yang baru dibelinya tak srempetke tembok rumah tetangga… Uuugh, siap-siap tidak menerima ‘tanda terima kasih’ terindah. Berharap hal ini dapat diselesaikan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya…

(‘boss’ = istri tercinta)

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Gudeg

23 Desember 2009

Hari kedua cek fisik : bersepeda keliling kecamatan, lumayan berkeringat, menempuh 4-5 km. Lalu beli gudeg di ujung gang, sarapan pagi…. Wow, Jogja biyangeth…!

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Tempe Sambal Bawang

21 Desember 2009

Menu sarapan favorit saya adalah : nasi putih + tempe goreng + sambal bawang cabe rawit yang baunya seperti gas bocor….. Sekali waktu, tiga piring nasi bisa bablasss hanya dengan menu ndeso itu… (walau sejam kemudian nabrak-nabrak ke WC akibat cabe rawitnya kebanyakan)

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Masih Ada Calo Yang Akan Lewat

21 Desember 2009

Setelah (tadi pagi subuh) nge-cek masjid (tikarnya masih ada), lalu nge-cek buku Qur’an (tulisan Arabnya juga masih terbaca), lalu cek email & FB, terus cek fisik (seperti mau jual mobil seken) naik sepeda keliling kecamatan. Sampai rumah, tetap saja ngopi wal-ngudut. “Wooo, piye iki?”, celetuk ibunya Noval…. Tinggal nanti siang cek tiket pesawat Jogja – Mataram (sepertnya ke puncak Rinjani akan menjadi pendakian terindah), berharap masih ada calo yang akan lewat…

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Semeru Atau Rinjani?

21 Desember 2009

Semalam glenik-glenik (ngobrol kecil) dengan anak lanang (Noval, 15 th): “Tahun Baru mau kemana?” (maksudnya mendaki gunung mana). Tinggal tunjuk saja, kecuali Carstensz sebab perlu persiapan sangat khusus, mumpung bapaknya anak lanang ini masih sehat ‘gilanya’…. Nominasinya Semeru (3676 mdpl) atau Rinjani (3726 mdpl)…. Kedengaran ambisius, tapi berharap akan menjadi pendakian terindah…. God willing…

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Bakmi Jowo Bu Gito

19 Desember 2009

Malam mingguan bersama keluarga dengan menikmati Bakmi Jowo Bu Gito, Rejowinangun, Jogja. Dengan tagline unggulan ‘Sinambi Midangetaken Gending2 Jawi’ (sambil menikmati tembang jawa). Wow…, nglarassss tenan poro rawuh

Yogyakarta, 19 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Trio Macan Betina

19 Desember 2009

Dalam sebuah acara reuni akbar: Gembira – tertawa – nyanyi – joget – makan enak, dalam nuansa kenangan dan nostalgia…… Lha kok ujuk-ujuk muncul ‘trio macan betina’ berpakaian gak seberapa tertutup jingkrak-jingkrak di atas pentas… Wow, mata pun terbelalak… Alhamdulillah, nikmat apa lagi yang hendak saya dustakan. Tapi yo wis semono wae, ojo njuk pikiran diumbar (cukup sebatas itu saja, jangan pikiran ini dibiarkan liar…).

(Macan : manusia cantik)

Yogyakarta, 19 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang Rodo Edan

18 Desember 2009

Sopir (taksi) Bluebird yang membawa saya dari Pondok Indah ke Cengkareng siang ini kelihatannya memang rodo edan… Sering memaksakan nyusup-nyusup di tengah kepadatan Jakarta dengan kecepatan tinggi. Doa saya bukan mudah-mudahanan tidak tabrakan, melainkan kalau terpaksa nabrak juga, mudah-mudahan kami selamat…

(Sengaja saya tidak menegurnya karena adrenalin saya meningkat ingin tahu “hasil akhirnya”…. Dasar podo edane….)

Yogyakarta, 17 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Pelajaran Tentang Toleransi Hidup Beragama

18 Desember 2009

Mohon maaf sebelumnya, saya tidak sedang bicara agama melainkan praktek toleransinya :

30 tahun yll saya sekamar kost dengan seorang penganut Katolik kuat. Ketika saya baca Quran di sisi kiri, dia baca Al-Kitab di sisi kanan. Ketika saya sholat, dia agak menyingkir…. Malam ini saya temui dia. Subhanallah, dia kini sorang haji, rektor dan insya Allah akan menjadi (seorang) guru besar. Insya Allah juga, saya akan membantu menuliskan catatan perjalanan spiritualnya….

(Kenangan bersama teman saya yang satu ini, bagi kami sungguh menjadi contoh tentang hidup bertoleransi yang langsung kami praktekkan tanpa definisi yang macam-macam. Mohon doanya saja agar penulisan kisah ini mampu saya selesaikan….)

Yogyakarta, 16 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Pelajaran Tentang Bertenggang Rasa

18 Desember 2009

Sudah tahu jalan sempit, lha kok berhenti di sisi kiri dan kanan sehingga jalan tertutup. Diklakson sampai 14 kali sopir-sopir itu ya nduablek saja… Sampai keringatan saya menahan sabar. Yen tak pikir-pikir…, jangan-jangan yang gueblek itu saya, kok masih bisa-bisanya sabar dan sempat-sempatnya menghitung sampai 14 kali mengklakson…

(Ini kejadian di kampung sekitar tempat tinggal saya di Jogja. Ini sekedar cermin tentang roh bertenggang rasa dalam hidup bermasyarakat yang nampaknya memprihatinkan…)

Yogyakarta, 16 Desember 2009
Yusuf Iskandar