Posts Tagged ‘adisutjipto’

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (6 – Selesai)

28 Desember 2010

(35). “Burung Singa” Tak Mau Ingkar Janji

Seperti tak mau kalah dengan Merpati dan Merapi, “Burung Singa” pun tak mau ingkar janji. Di bandara Mutiara Palu, panggilan boarding dilakukan sesuai jadwal. Eh, lha ternyata take-off tetap saja terlambat lebih 20 menit tanpa permohonan maaf.

Maka bagi penumpang maskapai ini, ketika beli tiket harus juga sudah menyediakan maaf untuk diberikan tanpa diminta, dan dilarang sakit hati…, kalau rada serik (jengkel) boleh…

(Makassar, 30 Oktober 2010)

——-

(36). “Sang Kondektur”

Di bandara Sultan Hasanuddin Makassar, di ruang tunggu Gate 5, seorang petugas Wings bin Lion Air berteriak-teriak sambil mondar-mandir seperti kondektur bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi).

Karena penasaran kudekati “sang kondektur” ini, lalu kutanya: “Jurusan mana mas?”.
Jawabnya: “Baubau…”.
“Ooo saya kira jurusan Surabaya. Saya mau naik Lion yang ke Surabaya…”, kataku.

(Makassar, 30 Oktober 2010)

——-

(37). Seorang Nenek Dan HP-nya

Pesawat Wings Air segera tinggal landas dari bandara Mutiara Palu. Seorang nenek di kananku terlihat bingung karena HP-nya tak henti-henti menderingkan suara kodok. Saking gugupnya HP lalu dimasukkan ke dalam tas tangannya. Ya tetap saja terdengar suara kodoknya. Lalu dikeluarkan lagi. Rupanya si nenek tidak bisa mematikan HP-nya.

Maka pesannya adalah: Jangan sekali-sekali membeli HP yang tidak bisa dimatikan. Belilah HP yang ada tombol “Mati”-nya.

(Makassar, 30 Oktober 2010)

——-

(38). Tiba Kembali Di Jogja

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya tiba kembali di Jogja. Setelah menempuh perjalanan poanjang Jogja-Makassar-Mamuju-Palu-Makassar-Surabaya-Jogja, selama lima hari. Bandara Adisutjipto memang katanya tadi pagi sempat ditutup sebentar. Alhamdulillah juga, masih sempat merasakan rumah yang ngeres (apa ya bahasa Indonesianya? Sedikit kotor oleh debu, begitulah…).

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

(39). Secangkir Kopi “Harapan”

Saya ingat pesan mas Aceng alias Arif Abdullah pemilik warung kopi “Harapan” Palu, dengan gaya canda kira-kira katanya: Bagi penikmat kopi, jangan tinggalkan Palu sebelum menikmati kopi “Harapan”. Sempat kubujuk dia, datanglah ke Jogja dan bukalah cabang di sana…

Malam ini, begitu tiba di rumah, secangkir kopi “Harapan” langsung saya seduh…. Uuugh, nikmatnya. Aromanya tidak seberapa, tapi sensasi kentalnya mroso tenan, theng-nya mantaff...

(Yogyakarta, 30 Oktober 2010)

——-

Iklan

Rejeki Di Dalam Bumi

22 Oktober 2010

Memanfaatkan waktu sempit untuk sholat dhuha dan safar di mushola bandara Adisutjipto, sebelum boarding menuju Jakarta. Terselip doa: “Ya Allah, jika rejeki itu masih ada di dalam bumi maka keluarkanlah (inka-na rizki fil-ardhi fa-akhrijhu). Semudah Engkau mengeluarkan 33 penambang yang telah Kau inapkan mereka di perut bumi selama 68 hari…

(Nyuwun sewu Gusti, saya ke Jakarta mau rembukan tentang bahan tambang yang masih ada di dalam bumi)

Yogyakarta, 14 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Di Antara Qur’an Dan Koran

9 Oktober 2010

Ketika sang burung Singa tinggal landas meninggalkan bandara Adisutjipto. Penumpang di sebelah kanan membuka kedua tangannya berdoa melafal ayat Qur’an. Penumpang di sebelah kiri membuka kedua tangannya membaca koran. Saya yang di tengah jadi merasa tenang, sambil membaca tulisan “Fasten seat belt while seated”.

Balikpapan, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kehilangan Orientasi

16 Juni 2010

Sudah puluhan kali kudatangi, puluhan kali pula kusholati. Di mushola bandara Adisutjipto pagi ini aku benar-benar kehilangan orientasi. Mushola sudah dibersihkan, sajadah sudah digulung, tidak ada petunjuk kiblat, tidak bawa kompas, mau sholat safar wal-dhuha bingung menghadapnya kemana. Akhirnya tanya orang: “Arah barat mana ya?” (Ini Jogja lho mas, tempat KTP-ku diterbitkan… Uuugh…!)

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Di Ketinggian

3 Maret 2010

Lho kok tumben check-in maskapai Singo pagi ini di Adisutjipto lancar. Padahal biasanya klelat-klelet (lelet) seperti anakku kalau disuruh mandi sore (ya…kadang-kadang saya juga). Mudah-mudahan rejeki yang nyanthol di ketinggian 32.000 kaki juga mudah dipetik…(fissamaa-i fa anzilhu..)

Yogyakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Pak Satpam Bandara

18 Februari 2010

Boarding belakangn, rada sepi. Seorang Satpam tiba-tiba mendekat dan berkata pelan: “Rokoknya pak”.
Karena saya rasa kata-kata ini aneh, sy balik tanya memastikan: “Apa pak?”.
Pak Satpam menjawab: “HP-nya tidak ketinggalan pak?”.
Spontan saya jawab: “Oo tidak pak”.

Sambil berjalan menuju pesawat saya berpikir: “Kok sepertinya aneh!”. Sesaat kemudian baru saya ‘ngeh’. …”Eee… alah, pak Satpam, pak Satpam…, caramu kurang manis utk mengharap kebaikan org lain…”.

(Peristiwa ini terjadi di bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Gate 1, sewaktu boarding Lion Air menuju Jakarta)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura (6-14 September 2009)

28 September 2009

Berikut ini penggalan-penggalan catatan perjalanan ke Tembagapura (6-14 September 2009) yang sempat saya posting di Facebook).

——-

Walah.., mau buka bersama di SBY kok ya gagal….. Gara-gara Batavia Air Jogja-SBY delay 2 jam, jadi buka bersama penumpang lain di bandara Jogja saja….

(SBY : Surabaya)

Bandara Adisutjipto – Yogyakarta, 6 September 2009

——-

Insya Allah, melewatkan malam ini di angkasa antara Suroboyo-Timika. Moga-moga pramugarinya menyediakan makan sahur di pesawat, entah dimana…

Bandara Juanda – Surabaya, 6 September 2009

——-

Ngopi dan ngudut dulu di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar… Bandara bagus dan megah, tapi buruk akustiknya…

(Transit di Makassar lumayan lama….)

Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar, 7 September 2009

——-

Tadi malam ke UGD Tembagapura, ngobrol-ngobrol dengan dokter, dicek ini-itu + EKG (rekam jantung), siang nanti check up, sore uji nyali dengan treadmill (biar kalau haus sudah dekat berbuka), lalu ngabuburit dengan dokter lagi….. Alhamdulillah, ibadah Ramadhan jalan terus….

(Ketika di pesawat kemarin malam, tiba-tiba sesak nafas, mual, keringat dingin, lemas dan les-lesan… Angin duduk atau jangan-jangan serangan jantung? Begitu pikirku…. Esoknya teman-teman saya menyuruh agar segera saja cek ke dokter, takut ada apa-apa. Akhirnya malamnya saya ke rumah sakit. Uji treadmill diundur karena dokternya pergi mendadak ke Jakarta…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Pagi ini saya kirim SMS ke anakku : “Tadi malam ada gempa ya?”. Jawab anakku : “Ya, aku terbangun. Karena gak ada orang lain yang bangun, ya tidur lagi….”.

Kemudian saya balas : “Kalau nanti ada gempa lagi, bangun lagi, lalu tidur lagi ya….”. Ha..ha..ha..ha…

(Pagi ini memperoleh kabar ada gempa cukup kuat terasa di Jogja. Segera saya hubungi anak perempuanku menanyakan kabar mereka…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Plong rasanya….. Usai rekam jantung sambil menjalani treadmill siang ini, kata dokter kondisi jantung baik dan normal. Walhamdulillah…

(Menurut analisa dokter, yakin sekali dia bahwa yang saya alami di pesawat waktu malam beberapa hari yll bukan serangan jantung melainkan gejala maag… Sementara kesimpulan ini membuat saya lega dan tersenyum, karena sebelumnya sudah buruk saja pikiranku tentang kemungkinan gangguan jantung….)

Tembagapura – Papua, 12 September 2009

——-

Waduh… Tsel Flash-ku kumat lagiiiii…

(Setelah rada jengkel beberapa jam, akhirnya…)

Selamet…selamet…, Tsel Flash sudah bisa on-line lagi….

(Akhirnya bisa nginternet lagi, di Tembagapura, di atas pegunungan selatan Papua…)

Tembagapura – Papua, 13 September 2009

——-

Alhamdulillah, mission accomplished. Siap-siap mbonceng chopper dari Tembagapura ke Timika, siang terbang ke Solo via Makassar, njuk pulang Jogja…

(Situasi akibat insiden tembak-tembakan di jalur Timika – Tembagapura masih dianggap rawan, makanya saya turun ke Timika dijadwalkan naik helikopter)

Tembagapura – Papua, 14 September 2009

——-

1) Tembagapura-Timika naik heli batal karena cuaca buruk. Lewat darat, pakai rompi anti peluru, ditemani tentara bersenjata, polisi + TNI + panser betebaran…

2) Seperti daerah konflik tanpa musuh. Yang tetap tak terjawab : konflik dengan siapa? musuhnya mana? Biarlah tembaga yang jadi peluru yang nembak kemana2 menjawabnya..

Bandara Mozes Kilangin, Timika – Papua, 14 September 2009

——

Puasa berarti menahan haus dan lapar. Tapi kalau harus menempuh perjalanan Timika-Solo lalu waktu berbukanya diundur 2 jam….. Aaaaaaaalhamdulillah...

(Akibat dari perjalanan dari wilayah WIT ke WITA lalu ke WIB)

Bandara Adisoemarmo – Solo, 14 September 2009

——-

Jam 19:30 WIB masuk rumah… puji Tuhan walhamdulillah. Badan agak nggregess…. Insya Allah, siap-siap dengan another important mission tomorrow…

Yogyakarta, 14 September 2009
Yusuf Iskandar

Apa Yang Sedang Dilakukannya?

12 Juli 2008

Adisutjipto1

Sebuah kendaraan kecil yang rupanya mesin pengepel atau pembersih itu sedang berputar-putar tak tentu arah, ngalor-ngidul, mojok, memutar, tanpa berhenti, di pelataran bandara Adisutjpto Yogyakarta. Piranti pembersih yang menempel di bagian bawah depan kendaraan pun dalam posisi terangkat atau tidak sedang mengepel. Adegan itu saya saksikan selama lebih satu jam, sambil minum kopi menunggu pesawat yang terlambat.
 

Adisutjipto2

Sementara di sisi barat pelataran sedang sibuk dengan pesawat yang datang dan pergi, di sisi timur mesin pengepel itu midar-mider tak jelas tujuannya.

Apa yang sedang dilakukan sopirnya? Entahlah….
(Foto diambil pada tanggal 10 Juli 2008, sekitar jam 08:00 pagi).

 

Yogyakarta, 12 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Dinaikkan Kelas Oleh Garuda

4 Mei 2008

Seperti biasa ketika panggilan boarding dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris antri menuju pintu 2 bandara Adisutjipto, Jogja. Tiba giliran kartu boarding saya diperiksa, saya dipersilakan untuk menyisih dulu. “Wah, ada masalah apa ini?”, begitu pikir saya spontan, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi.

Rupanya saya diberitahu bahwa kartu boarding saya diganti, yang tadinya berwarna hijau bertuliskan “Economy Class” ditukar dengan yang berwarna ungu bertuliskan “Executive Class”. Tanpa basa-basi kalimat pengantar, kecuali sekadar : “Boarding pass-nya diganti ya, pak”. Begitu saja kata si embak petugas Garuda..

Jelas saya “tidak puas” (maksudnya, kok tidak ada penjelasannya…). Ketika saya tanya kenapa? Jawabnya singkat : “Di-upgrade”. Lha ya sudah tahu kalau di-upgrade.

Biar tidak kelamaan, akhirnya ya saya komentari sendiri saja sekenanya : “Up grade otomatis ya, mbak”.

“Iya”, jawab pendek si embak (rupanya bukan hanya senjata, pintu dan kunci yang bisa otomatis, upgrade juga bisa…).

Ya sudah. Tiba-tiba saja ayunan langkah saya menuju pesawat yang parkirnya agak jauh terasa lebih ringan, cara berjalan saya pun menjadi agak gaya, dan pandangan ke sekeliling pelataran parkir pesawat pagi itu terasa lebih jernih. Itu karena tadi pagi saat matahari belum mecungul, sebelum jam enam pagi, saya sudah mendapat rejeki dinaikkan kelas oleh Garuda.

Sebenarnya memang bukan peristiwa yang luar biasa. Hanya karena sudah lama saya tidak menerima jenis rejeki seperti ini maka menjadi begitu istimewa. Saking istimewanya hingga saya berpikir, bagaimana caranya agar rejeki semacam ini bisa berulang kembali.

***

Sebagai penumpang pesawat kelas eksekutif, tentu saja berhak menerima fasilitas, perlakuan dan pelayanan berbeda dibanding penumpang kelas ekonomi. Tempat duduk lebih longgar dan lebar, sajian pembukanya bukan permen melainkan jus, diberi pinjaman handuk kecil hangat, bekal untuk sarapan plus penyajiannya juga beda, bolak-balik ditanya dan ditawari apa mau ditambah minumnya (tapi makanannya tidak).

Bukan itu yang menjadi pemikiran saya (diperlakukan enak saja masih dipikir, apalagi kalau tidak enak…), melainkan kenapa tiket saya bisa di-upgrade?

Saya memang anggota Frequent Flyer Garuda, tapi kalau karena itu mestinya banyak juga penumpang lain yang juga jadi member Frequent Flyer. Sementara ketika saya coba mengamati tempat duduk kelas eksekutif, di sana masih ada 6 kursi kosong dari 16 kursi kelas eksekutif yang tersedia. Jangan-jangan diundi? Rasanya tidak mungkin juga. Kurang kerjaan amat…!

Mestinya bagian pertiketan atau pelaporan penumpang yang tahu jawabannya. Tapi kok jadi saya yang kurang kerjaan kalau mau menanyakan kepada mereka.

Yang ada di pikiran saya sebenarnya adalah kalau saya tahu apa alasannya, maka saya akan tahu apa persyaratannya (conditions). Kalau tahu persyaratannya, maka lain waktu saya akan berusaha memenuhi persyaratan itu. Untuk apa lagi kalau bukan agar dinaikkan kelas lagi oleh Garuda.

Bagaimana menjadikan peristiwa tadi pagi sebagai lesson learn. Jika ada kemenangan kecil (small winning) bisa kita raih untuk mendatangkan keuntungan, maka hanya dengan mengetahui dan memahami kondisinya maka kemenangan-kemenangan kecil berikutnya akan dapat kita kumpulkan sehingga menjadi keuntungan besar.  

He…he…he…,  terima kasih Garuda. Sampeyan tidak salah memilih penumpang untuk diberi rejeki…. (atau dikasihani?).

Jakarta, 2 April 2008
Yusuf Iskandar

Oops…. Saya Ketumpahan Teh Panas

4 Mei 2008

Saat sedang mengantri untuk boarding di bandara Adisutjipto Yogya, tiba-tiba saya disapa oleh seorang teman lama. Karuan saja suasana jadi seru, ngobrol ngalor-ngidul sambil bergerak mengikuti antrian. Saking asyiknya, obrolan masih terus berlanjut sambil jalan memasuki pesawat hingga di dalam pesawat, ketika peragaan busana emergency oleh awak kabin, sampai pesawat take-off, hingga tiba saatnya pembagian makanan dan minuman.

Pembicaraan sepertinya tidak habis-habis, ditambah lagi teman lama saya ini tergolong manusia yang suka cerita-cerita. Rencana semula mau tidur di pesawat pertama yang menuju Jakarta jadi batal.

Sajian teh panas sesuai pesanan pun segera dibagikan oleh pramugari. Saat mbak pramugari menyodorkan segelas, eh… seplastik, eh… segelas plastik (gelas kok plastik, pokoknya ya itulah……), tiba-tiba mak grujug…….! Segelas teh panas tumpah di atas pangkuan, membasahi baju, celana dan yang ada di baliknya. Mak nyosss…., lha wong wedhang (air minum) panas je….. Mau bergerak bangkit ya susah. Terpaksa harus agak menahan rasa panasnya.

Mau marah sama siapa? Malah nanti jadi tontonan penumpang lain, mengalahkan lucunya acara “Just for Laugh” yang lagi ditayangkan di televisi kecil yang menggantung di tengah kabin pesawat.

Mbak pramugari pun berkali-kali meminta maaf. Juga teman saya yang duduk di sebelah kanan saya di dekat jendela. Karena saya duduk di tengah, maka acara serah-terima segelas teh panas itu terjadi tepat di depan saya. Ya sudah. Kedua pihak saya beri maaf. Inilah akibatnya kalau kelewat asyik ngobrol, sampai kurang konsentrasi sewaktu acara serah-serahan teh panas.

Mbak pramugari mungkin merasa sudah menyerahterimakan segelas teh panas kepada teman saya, sementara teman saya sambil terus ngobrol meski sudah mengulurkan tangannya tapi sebenarnya belum benar-benar menerima segelas teh panas itu. Maka segelas teh panas itu telah berada dalam ketidakseimbangan antara lepas dari tangan lentik mbak pramugari tapi belum diterima oleh tangan kasar teman saya yang buruh tambang. Tinggal saya yang jadi pelanduk tak berkutik di tengah-tengah. Ya ke-sok-an (ketumpahan) teh panas itu tadi jadinya….

Dua gepok tisu putih lalu disodorkan oleh mbak pramugari dalam dua kali pemberian, lalu masih ditambah dengan dua gulung handuk kecil putih untuk menyeka air. Tapi ya tetap saja telanjur basah. Apa ya mau buka baju dan celana untuk mengusap bagian tubuh yang basah. Tapi saya menghargai langkah tanggap darurat mbak pramugari, meski itu tidak menyelesaaikan masalah.

Untungnya…. (sudah jelas-jelas sial kok masih untung), yang tumpah adalah teh tawar panas, dan bukan kopi manis panas. Saya pun tidak sedang mengenakan kemeja putih.

Nampaknya mulai saat ini saya mesti lebih waspada, atau memasang status “Siaga” hingga “Awas” seperti menyongsong gejolak gunung Merapi, jika tiba acara serah-serahan minuman di dalam pesawat. Siapa tahu penumpang di sebelah saya sedang kurang konsentrasi, atau justru pramugari atau garanya yang tidak konsentrasi.

Sekalipun bisa marah dan berbunyi-bunyi, tapi kalau sudah telanjur basah apalagi plus meninggalkan noda di baju, padahal mau hadir di meeting atau melakukan presentasi. Njuk terus mau ngapain?

Yogyakarta, 1 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Yang Terpaksa Dan Yang Ingin

4 Mei 2008

Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.

Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk nyepur.

Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.

Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.

Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik take-off dan landing……

***

Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus mibar-miber kesana-kemari naik pesawat terbang.

Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau njeblug itu. Boro-boro tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.

Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. Itinerary pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.

Maka pada Jum’at pagi umun-umun kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan klethikan untuk bekal sarapan pagi.

Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang….. ngueng…ngueng…ngueeeeeng….., lalu lusa naik kereta api….. tut…tut…tuuuut……

Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang….. “Have a nice flight pak dan bu guru…..!”.

Cengkareng, 13 Mei 2006.
Yusuf Iskandar