Posts Tagged ‘new orleans’

Pak Gubernur Akan Mogok Bersama Para Guru

12 November 2008

Di Jakarta – 18 April 2000, unjuk rasa besar-besaran para guru yang berdatangan ke pusat pemerintahan untuk menuntut kenaikan gaji dan perbaikan nasib. Para wakil rakyat (DPR) dan para pejabat Depdikbud pada intinya mendukung keluhan para bapak dan ibu guru itu. Bahkan Presiden Gus Dur juga menjanjikan akan memperhatikan dan memperbaiki nasib para guru yang kini merasa “tersinggung” disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Di New Orleans – 19 April 2000, beberapa kelas sekolah negeri meliburkan muridnya. Ada apa gerangan? Rupanya para gurunya berbondong-bondong menuju Baton Rouge (ibukota negara bagian Louisiana) guna berunjuk rasa besar-besaran menghadap Gubernur menuntut kenaikan upah.

Apakah mereka sudah semayanan (janjian) hingga peristiwa unjuk rasa itu terjadi berturut-turut di tempat berbeda? Tentu tidak……! Tapi pasti mereka telah sama-sama merasakan bahwa nasib mereka perlu perbaikan.

Hingga kemarin saya masih menganggap kedua peristiwa itu adalah kejadian yang biasa-biasa saja. Ada pihak yang merasa kurang diperhatikan. Lalu karena mengeluh dengan cara yang baik dan enak tidak mempan, ya ditempuhlah cara yang tidak baik dan tidak enak. Itu saja.

Baru ketika saya membaca koran lokal “The Times-Picayune” hari ini, saya merasakan ada hal yang aneh. Di Jakarta, Presiden Gus Dur (yang adalah orang upahan, kata Emha Ainun Nadjib) telah mengabulkan tuntutan para guru, meskipun tentu saja belum memuaskan. Di Louisiana, sudah sebulan ini belum ada tanda-tanda akan dipenuhinya tuntutan para guru. Sampai-sampai keluar tekad Pak Gubernur Mike Foster yang kira-kira jawa-nya berkata demikian : “Kalau DPRD tidak melakukan apa-apa, dan Anda (para guru) merasa harus mogok, maka saya akan ada di sana bersama Anda”. Lho…, Pak Gubernur akan ikut mogok bersama para guru ?

Kejadian itu terasa aneh bagi saya (yang sudah terbiasa hidup dalam berdemokrasi Pancasila). Trias politika murni agaknya memang diterapkan di Amerika. Jika perlu eksekutif akan bertarung dengan legislatif atau yudikatif (tidak ada konspirasi tilpun-tilpunan). Ya, seperti tekadnya Pak Gubernur itu. Ternyata Pak Gubernur memang ngiras-ngirus (sekaligus) sedang berupaya untuk menggolkan usulan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui usulan kenaikan pajak usaha yang hingga kini belum juga disetujui pihak legislatif. Sebagian dari penambahan pemasukan dari pajak itu rencananya akan dialokasikan untuk menaikkan gaji guru.

Perasaan aneh saya semakin menjadi-jadi, ketika saya mencoba menganalogikan (meskipun ini analogi yang tidak tepat), peristiwa di Louisiana dengan di Jakarta. Seandainya, Pak Presiden Gus Dur ikut berunjuk rasa bersama para guru di gedung DPR/MPR ……-

New Orleans, 18 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Mantan Gubernur Itu Kini Sedang Terpuruk

12 November 2008

Namanya Edwin Washington Edwards. Tahun 1964 dia terpilih menjadi anggota Senat dan tahun 1965 dia menjadi anggota Congress. Lalu tahun 1972 dia terpilih menjadi Gubernur negara bagian Louisiana yang ke-56. Karir politiknya cukup mengesankan, terbukti dia berhasil menjadi Gubernur Louisiana hingga empat kali masa jabatan, meskipun tidak secara berturut-turut, dalam periode 1972 hingga meninggalkan kantor gubernuran awal 1996.

Namun sayang, menjelang kelengserannya sebagai Gubernur keempat kalinya, dia tersandung dengan urusan yang saat itu “dikiranya” wajar-wajar saja, tetapi kini oleh pengadilan Federal dinyatakan sebagai perbuatan yang sangat salah. Hari Selasa yang lalu (9 Mei 2000) dia dinyatakan bersalah atas 17 dari 26 perkara yang dituduhkan. Dia tidak sendirian, ada 4 terdakwa lainnya yang juga dinyatakan bersalah oleh juri, dan satu diantaranya adalah putranya sendiri. Mereka terbukti telah bersekongkol melakukan pemerasan atas beberapa perusahaan yang mengajukan ijin pengoperasian usaha perjudian, senilai lebih US$ 3 juta. Tentunya cara pemerasan yang dilakukan oleh mereka tidak sama dengan cara yang dilakukan para preman jalanan, meskipun kejadiannya serupa. Kita semua tentu paham itu.

Banyaknya jumlah perkara yang dituduhkan karena cara pembuktiannya tidak dilakukan secara bongkokan menjadi satu gepok perkara : “pokoknya Sampeyan korupsi 3 juta dollar”. Melainkan setumpuk perkara berbau korupsi itu diurai kasus per kasus, lalu masing-masing dibuktikan benar atau salah. Perlu waktu 18 bulan bagi pengadilan Federal untuk menuntaskan kasus itu hingga amar putusan dijatuhkan.

Hari-hari ini mantan Gubernur itu sedang terpuruk. Pak Edwin kini berusia 72 tahun (kurang lebihnya sebaya dengan mantan Presiden kita, Pak Harto; bedanya Pak Edwin masih bersedia menghadiri pemeriksaan dan sidang pengadilan dengan gagah dan jiwa besarnya, dan Pak Edwin punya istri cantik berusia 35 tahun bernama Candy Edwards), dan dia sedang diancam untuk menjalani hukuman 255 (dua ratus lima puluh lima) tahun penjara. Artinya kalau hukuman itu dijalani, tahun 2255 dia “baru” akan bebas, dan saat itu usianya “sudah” mencapai 327 tahun. Selain hukuman penjara, dia juga harus mengembalikan uang sebesar US$ 2,5 juta (sebuah koran lokal menulis : apakah dia saat ini punya uang sebanyak itu?). Dalam keterpurukannya hari-hari ini, dia dan pengacaranya sedang memikirkan upaya banding. Kalau ternyata tidak berhasil, maka segera dia harus masuk penjara untuk menjalani hukumannya.

Itulah hasil kerja keras FBI selama lebih 3 tahun terakhir, mengumpulkan bukti-bukti guna menjerat sang mantan Gubernur. Ternyata Edwin Edwards ini memang sudah sejak lama, bahkan sejak masa jabatannya yang kedua, sudah diincar FBI untuk dijerat dengan hukum atas perkara yang berbau-bau korupsi. Tetapi setiap kali sang Gubernur berhasil menang di pengadilan.

***

Melihat kenyataan bahwa Edwin Edwards telah empat kali terpilih menjadi Gubernur, tentu bukan prestasi politik yang biasa-biasa saja. Kalau tidak, tentunya sebagian besar rakyat Louisiana tidak bodoh mempercayai Edwin sebagai pemimpinnya. Sebab kita tahu bahwa sistem pemilihan dilakukan secara langsung. Rakyat langsung mencoblos namanya saat pemilihan, bukan tanda gambar yang akan memilih perwakilan mereka. Artinya, jasanya bagi masyarakat Louisiana pada masa itu memang diakui, hingga empat kali periode kepemimpinannya.

Namun, barangkali inilah tradisi demokrasi masyarakat Amerika. Pada saat dia layak dipercaya, maka dia akan dipercaya sepenuhnya. Saat sebagian besar rakyatnya memilihnya sebagai pemimpin (meskipun sebagian sisanya barangkali menolaknya), maka diangkatlah dia sebagai pemimpin. Saat dia menunjukkan performance-nya yang baik dan melakukan hal yang benar, ya dihargailah keberhasilannya itu. Akan tetapi juga, saat dia melakukan kesalahan, ya diberilah hukuman atas kesalahannya itu.

Jasa-jasanya di masa yang lalu ternyata tidak harus menjadi pertimbangan untuk memaafkan kesalahannya, meskipun jasa-jasanya itu diakui. Sampai-sampai Edwin ngayem-ayemi (menenangkan perasaan) dirinya sendiri saat menghadapi wartawan dengan mengatakan : “Barangkali ini adalah bab terakhir dalam hidup saya, tetapi ada banyak bab-bab sebelum ini. Banyak hal telah terjadi di bawah kepemimpinan saya selama saya menjabat sebagai Gubernur negara bagian ini dan sebagai anggota Congress”. Maksudnya tentu agar rakyat atau masyarakat Louisiana tidak begitu saja melupakan jasa-jasanya sebagai Gubernur dan anggota Congress.

***

Melihat episode tragis seorang mantan Gubernur itu, yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah pertanyaan : Mungkinkan esensi keadilan yang demikian itu terjadi di negara kita Indonesia?. Tanpa harus bersembunyi di balik jargon klasik : beda kultur, beda tradisi, beda sistem, dan beda-beda lainnya yang hanya akan melegalisir faktor sungkan dan ewuh-pakewuh….  Ah, yo embuh…….!

New Orleans, 14 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Info Korupsi

12 November 2008

Seorang teman di Indonesia mengirimi saya majalah Tempo layak baca. Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya, berjudul : “Koruptor Mati, Hiduplah Korupsi”, yang diturunkan dalam edisi 13-19 Maret 2000 yang lalu. Pertama, karena di jaman reformasi ini ternyata kasus-kasus beraroma korupsi yang dulu sepertinya tertutup-tutupi, sekarang ini menjadi lebih transparan dan terbuka untuk umum (meskipun ujung-ujungnya ya balik tertutup lagi). Kedua, semakin mudah terbukanya kasus-kasus korupsi itu, semakin terbuka pula demikian mudahnya untuk tertutup lagi. Ketiga, kelihatannya sudah tidak perlu lagi bisik-bisik untuk menuding kasus korupsi, lha wong memang sudah jelas-jelas terjadi (setidak-tidaknya demikian menurut berita media massa).

Ada cerita lain dengan apa yang saya jumpai di sini, setidak-tidaknya di New Orleans. Sejak setahun terakhir ini, entah sudah berapa puluh kali saya jumpai iklan berhadiah di harian “The Times-Picayune”, yang menjanjikan hadiah sampai US$ 100,000 (kira-kira senilai dengan Rp 750 juta) jika Anda punya info tentang perbuatan ilegal, antara lain korupsi, atau perbuatan tidak etis yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah.  Iklan dua kolom itu dipasang oleh The Metropolitan Crime Commission (MCC), yaitu sebuah kelompok LSM yang sangat gencar mengkampanyekan tentang kehidupan pemerintahan yang bersih.

Menurut informasinya, selama lima dekade terakhir ini sebenarnya MCC seperti tidak punya gigi, tidak punya popularitas, dan dianggap enggak ada apa-apanya. Namun tahun-tahun terakhir ini telah berkembang menjadi institusi di luar pemerintahan yang menanjak popularitasnya, cukup bikin kesal (baca : disegani) oleh terutama kalangan hakim dan sheriff, karena memang banyak menyisir polah tingkah dunia peradilan dan kepolisian. Tidak mengherankan kalau keberadaan MCC sempat mengundang cemoohan dari kedua kalangan itu. Keadaan ini mengingatkan saya dengan apa yang sedang menjadi isu hangat di Indonesia, yang juga kedua kalangan itulah yang kini sedang gerah karena sering menjadi sorotan.

Tentang info yang berhadiah besar ini, kalau Anda punya informasi apapun yang ingin disampaikan (tentang tindakan ilegal dan tidak etis), maka Anda tinggal angkat tilpun ke nomor tertentu yang disebut dengan “Watch Dog Corruption Hotline” dan sangat dijamin kerahasiaannya. Setelah itu, info itu akan dikaji lebih jauh oleh MCC, eh siapa tahu, layak untuk diberi imbalan yang sangat menggiurkan untuk hanya sebuah info.

Di bagian akhir dari iklan itu tertulis sebuah ajakan yang sangat menarik : bergabunglah dengan kami untuk menciptakan agar komunitas kita menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk hidup, bekerja dan membina keluarga. Sebuah ajakan yang sangat membangkitkan simpati dan menjadi idaman masyarakat manapun.

Sesungguhnya bukan soal tawaran imbalannya yang menarik perhatian saya, melainkan di balik itu ada mencerminkan betapa perbuatan ilegal dan tidak etis di kalangan pemerintahan, setidaknya di New Orleans, sedemikian menjadi kepedulian umum dalam sistem bermasyarakatnya. (Atau justru sebaliknya, makanya dipasang iklan?. Entahlah). Namun yang patut digaris-bawahi, saya menangkap kesan bahwa hal itu bukan sekedar pemanis wacana politik masyarakatnya.

Dalam hati saya berkhayal : kalau saja itu terjadi di sebuah kumpulan kampung nun jauh di katulistiwa sana yang bernama (saya bangga menyebutnya) Indonesia. Rasanya kita masih boleh berharap banyak kelak di kemudian hari, dengan langkah-langkah yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan antara lain oleh Indonesian Corruption Watch. Dan juga mudah-mudahan oleh anak-anak bangsa lainnya yang tidak terbutakan hatinya.

New Orleans, 9 April 2000.-
Yusuf Iskandar

Nonton Festival Jazz Di New Orleans

12 November 2008

Kota New Orleans punya gawe, yang diberi judul “New Orleans Jazz & Heritage Festival 2000”. Ini adalah pesta musik jazz tahunan terbesar (karena masih ada beberapa pesta musik lainnya yang berskala lebih kecil), yang orang biasa menyebutnya dengan “Jazz Fest 2000” saja, dan tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-31.

Ukuran besarnya pesta memang tidak tanggung-tanggung. Selama periode tujuh hari dalam dua akhir pekan yll (28-30 April dan 4-7 Mei 2000), digelar 10 panggung utama yang setiap harinya di setiap panggung tampil 5-6 kelompok musik mulai sekitar jam 11:00 pagi hingga jam 19:00 sore (saat ini jam 19:00 di Amerika masih terang benderang). Sampai-sampai saya sendiri kesulitan menghitung jumlah kelompok musik yang tampil, yang pasti lebih dari 400 kelompok. Ya benar, lebih 400 kelompok telah tampil. Mulai dari kelompok universitas, sekolah musik, kelompok gereja, kelompok kampung maupun profesional. Ada yang main solo, duet, trio, kuartet, group, hingga rombongan orkestra.

Ada banyak jenis musik, khususnya jazz serta berbagai kembangannya yang juga divariasi dengan musik apa saja. Maka pilihan musik menjadi banyak, ada jazz rock, tradisional maupun kontemporer, ada blues, dixie, rap, R&B, reggae, funk, brass dan country, ada irama latin, brazil, karibia, afrika dan indian, ada musik gospel, musik cajun (tradisional New Orleans), dan ada yang baru bagi saya yaitu musik tradisional zydeco.

Saking banyaknya pilihan musik, sehingga perlu waktu tersendiri sebelum memutuskan untuk datang ke arena pertunjukan, yaitu untuk mencermati jadwal acara guna memilih mau nonton group yang mana, di panggung sebelah mana, hari apa dan jam berapa. Bagi saya yang membawa keluarga tentu mesti mempertimbangkan juga, nanti anak-anak disuruh ngapain, karena pasti mereka belum bisa menikmati suasana seperti ini. Perencanaan semacam ini memang akan sangat berguna dalam hal effisiensi waktu, mengingat arena cukup luas dan padat pengunjung, sementara waktu kita terbatas.

Diantara pemusik terkenal yang tampil diantaranya Chick Corea, Gary Burton, Diana Krall, Sting, Lenny Kravitz (sebagaimana juga dilansir Astaga.com), juga beberapa penampil yang memperoleh sambutan meriah penonton seperti Temptations, Marva Wright, Neville Brothers, serta musik-musik khas tradisional. Maka wajar kalau pesta ini menjadi salah satu kebanggaan New Orleanian (sebutan untuk orang New Orleans). Selain tampil di panggung-panggung terbuka di siang hari, beberapa kelompok juga tampil di malam hari di gedung, hotel maupun tempat pertunjukan lain yang lebih selektif penontonnya. Maka selama tujuh hari pertunjukan, tidak kurang dari 500.000 pengunjung tumplek-bleg (tumpah ruah) di arena terbuka.

Tentu harus mbayar untuk bisa masuk ke arena, dewasa $20.00 dan anak-anak $2.00. Belum lagi jajanan dan minuman, yang tidak bisa tidak pasti dibeli. Lha wong tidak diperkenankan membawa bekal dari luar, sementara cuaca cukup panas, sekitar 90-an. Ini kebiasaan orang Amerika untuk menyebut temperatur, yang maksudnya sekitar 90 derajat Fahrenheit (atau setara dengan 32-33 derajad Celcius). Suhu udara yang cukup panas bagi orang Amerika.

***

Mengajak keluarga untuk hadir di tengah pertunjukan semacam ini memang tidak mudah, sekalipun Panitia juga menyediakan kegiatan khusus bagi anak-anak, serta ada puluhan parade (karnaval) yang berjalan mengelilingi arena. Jelas suasananya sangat riuh, padat dan panas menjadi satu, belum lagi sesekali angin yang bertiup membawa debu. Anak-anak tentu tidak jenak (nyaman, bisa menikmati) dalam suasana seperti ini, sementara kedatangan saya adalah untuk menikmati musik.

Jalan keluarnya? Anak-anak dibelikan makanan dan minuman, lalu disuruh main di bawah tenda raksasa yang digunakan untuk pameran mobil mewah (sehingga tidak kepanasan), dan ibunya diminta dengan hormat untuk mengawasinya, sementara bapaknya ngeluyur dari panggung ke panggung, berdesakan di sela-sela penonton lain.

Maka ada dua tontonan yang ternikmati (awalan ter, artinya tidak sengaja), pertama tentu pertunjukan musiknya, kedua adalah kaum perempuan Amerika yang dalam cuaca panas itu memilih untuk mengenakan (atau tidak mengenakan?) pakaian atasnya hanya ber-kutang ria. Pemandangan ini menjadi biasa, dan (ini yang enggak enak) juga bagi anak-anak. Tapi, itulah yang memang tidak terhindarkan. Anak laki-laki saya yang TK Besar berkomentar : “kok tidak malu, ya”. Karena saya kesulitan menimpali komentarnya, sayapun nyeletuk sekenanya (menirukan gaya orang Medan) : “Ini Amerika, Le…” (Le : panggilan ala kampung untuk menyebut anak laki-laki).-

Minggu siang itu lebih 3 jam saya berada di arena pertunjukan menikmati musik di bawah terik matahari, dan sempat berjalan dari panggung ke panggung. Setiap kelompok mempunyai durasi tampil yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok lokal dan amatir biasanya hanya 30 menit, sedang kelompok profesional yang lebih punya nama bisa sampai 2 jam. Sesekali saya tidak bertahan lama berdiri di satu tempat, karena terganggu oleh bau bir dari botol atau gelas yang dibawa penonton di sebelah saya, atau bau sejenis mariyuana yang (sebenarnya khas dan enak) tapi mengganggu.

Setiap kali berdiri ditengah penonton, saya sempat memperhatikan sekeliling. Nampaknya cara saya menikmati musik berbeda dengan orang Amerika. Saya  cukup menikmatinya dengan diam dan dengan perasaan nglaras, tapi orang Amerika menikmatinya dengan gerakan. Maka begitu alat musik bunyi, tangan, kepala, badan dan pantat mereka langsung megal-megol, lenggak-lenggok, goyang-goyang. Wah …, satu tontonan lagi ternikmati.

Itulah “Jazz Fest”, dan itulah New Orleans. Bagi penggemar dan pecinta musik, maka New Orleans adalah tempatnya, terutama musik jazz dengan berbagai varian serta derivatifnya. Masyarakatnya yang heterogen, yang datang dari berbagai etnis lokal maupun dunia, turut mewarnai jenis musik yang berkembang, dan tentunya enak dinikmati.

New Orleans, 9 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Berakhir Pekan Di Festival Strawberry Ponchatoula

12 November 2008

Selama dua hari di akhir pekan ini, Sabtu-Minggu, 7-8 April 2001, di sebuah kota kecil bernama Ponchatoula digelar acara tahunan yang disebut “Ponchatoula Strawberry Festival”. Tahun ini adalah tahun ke-30 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1972. Menilik sebutan acaranya, memang keramaian ini berkaitan dengan buah strawberry.

Ponchatoula memang terkenal sebagai penghasil utama buah strawberry, khususnya untuk wilayah negara bagian Louisiana. Bahkan para Ponchatolian (sebutan untuk penduduk Ponchatoula) sangat bangga menyebut kotanya sebagai “Strawberry Capital of the World!”. Sebutan yang kedengarannya berlebihan. Namun karena saya tidak menjumpai fakta statistiknya, maka begitulah saya juga menyebut kota Ponchatoula. Setidak-tidaknya sebutan itu sah karena tertuang dalam Perda (ordinance) kota Ponchatoula.

Selain terkenal dengan hasil pertanian buah strawberry, Ponchatoula juga dikenal dengan sebutan sebagai “Antique City of Ponchatoula”. Bukan karena ini kota tua dan antik, melainkan karena di kota ini banyak dijumpai toko-toko yang memperdagangkan barang-barang antik dan kerajinan.

Ponchatoula hanyalah sebuah kota kecil yang terletak di barat laut New Orleans. Untuk mencapai kota yang berjarak sekitar 50 mil (80 km) dari New Orleans ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Ke kota inilah kami sekeluarga berakhir pekan di hari Minggu ini, menikmati acara festival strawberry. Berangkat dari New Orleans sekitar jam 10:30 pagi langsung menuju ke jalan bebas hambatan I-10 ke arah barat, lalu berpindah ke I-55 menuju utara mengitari sisi selatan dan barat danau Ponchartrain.

Sekitar jam 12:00 siang kami sudah berada di kepadatan lalu lintas kota kecil Ponchatoula. Berjalan merambat di jalan Highway 51 sambil mencari tempat parkir. Terlihat di sisi kanan-kiri jalan sudah penuh dengan kendaraan parkir, hingga akhirnya saya masuk ke sebuah lapangan luas yang berfungsi sebagai tempat parkir umum dan gratis.

Keluar dari tempat parkir, kami masih harus berjalan kaki agak jauh menuju arena keramaian. Namun terasa enak saja karena banyak pengunjung lain yang juga melakukan hal yang sama. Semakin mendekat ke arena festival, barulah saya tahu bahwa beberapa pemilik lahan di pinggiran jalan memanfaatkan halamannya untuk tempat parkir dengan membayar US$5. Semakin dekat lagi menuju pusat kota ongkos parkirnya menjadi US$10. Jadi, ya pantes kalau tadi saya parkir gratis, wong lokasinya agak jauh.

***

Festival ini sendiri digelar di sebuah blok di kota Ponchatoula. Selain karena kekhasan acaranya dimana buah strawberry menjadi tema sentralnya, maka selebihnya adalah acara keramaian biasa. Puluhan anjungan (booth) ketangkasan digelar di seputaran arena festival. Anjungan ketangkasan yang kalau di Indonesia sudah diteriaki berbau judi, tapi rupanya “penciuman” masyarakat Amerika memang berselera beda. Jadi, ya anjungan sejenis itulah yang juga banyak diminati.

Sudah umum bahwa arena ketangkasan seperti ini di Amerika biasanya menjanjikan hadiah berupa jenis-jenis mainan anak dan boneka kain (yang kalau di Indonesia sering diidentikan dengan nama boneka “panda”, meskipun bentuknya ada kucing, anjing, beruang, kura-kura, buaya, monyet, tokoh cerita anak-anak, dsb.). Nyaris tidak dijumpai yang menjanjikan hadiah barang menggiurkan atau uang.

Maka dapat ditebak, kalau banyak orang dewasa atau orang tua beradu ketangkasan dengan membayar US$1-5 per permainan, maka pasti mengangankan hadiah buat anak, cucu, keponakan atau adiknya. Itulah sebabnya barangkali bau judi dari permainan ini seakan-akan termanipulasi. Kalau mau berjudi ya datang ke casino, demikian kira-kira kalau ada yang berkilah.

Para pedagang makanan juga mremo (mengambil kesempatan dengan menjajakan jualannya). Lebih-lebih pedagang minuman dingin yang laku keras, mengingat saat ini cuaca sudah mulai panas. Berbagai sarana bermain juga banyak diminati anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa panggung untuk pementasan musik pun didirikan. Yang membedakan pentas musik di sini dengan di beberapa pentas musik yang pernah saya lihat sebelumnya adalah dipasangnya tulisan besar berbunyi “No Dancing”.

Buah strawberry, sebagai identitas utama festival ini, banyak dijajakan oleh para pedagang. Sebagian diantaranya dengan menyebutkan nama pemilik kebunnya. Tentu sebagai lambang kebanggaan bagi pemilik kebun yang menghasilkan strawberry. Selain dalam bentuk buah segar, juga ditawarkan produk olahannya seperti jam, jelly, kue, anggur, dsb. Jika dibandingkan dengan membeli buah strawberry di supermarket, maka membeli di arena ini akan diperoleh buah strawberry segar dengan harga lebih murah.

Acara festival strawberry ini sebenarnya lebih meriah di hari pertama kemarin. Menurut agendanya, kemarin ada karnaval keliling kota yang diikuti oleh puluhan kendaraan, parade mobil antik, lomba makan strawberry, serta penampilan “King and Queen Strawberry”. Jadilah selama dua hari ini kota Ponchatoula dipadati para pendatang. Menurut catatan yang ada, tidak kurang dari 225.000 pengunjung memadati festival ini setiap tahunnya. Entah bagaimana cara mencatatnya, wong untuk masuk ke arena tidak dipungut biaya.

Festival strawberry ini dengan bangga setiap tahunnya digelar oleh Pemda Ponchatoula karena akan menjadi media promosi pariwisata yang efektif bagi kota itu yang pasti terkait dengan beredarnya dollar ke Ponchatoula dan tambahan pemasukan melalui pajak bagi Pemda Ponchatoula.

***

Di balik penyelenggaraan festival ini, ada latar belakang sejarah yang menarik. Pada tahun 1968, seorang anggota Dewan Kota bernama Dr. Charles H. Gideon merasa prihatin akan kehidupan ekonomi kota Ponchatoula yang kurang bergairah. Dia melihat kota Hammond, yaitu kota tetangga Ponchatoula yang memang lebih besar, ternyata lebih dikenal orang dengan sebutan sebagai “Strawberry Capital of Louisiana”.

Pikiran “usil dan kreatif” Dr. Charles menggelitiknya untuk mencari tahu kenapa bukan kota Ponchatoula yang lebih terkenal, padahal produksi strawberry dari wilayah Ponchatoula jauh lebih besar dibandingkan yang dihasilkan kota Hammond. Mulailah dikumpulkannya data-data statistik tentang produksi strawberry dari kedua kota itu yang ternyata memang membuktikan kebenaran anggapannya. Tapi sejauh itu kurang ada warga Ponchatoula yang perduli.

Berbekal data-data statistik itu, Dr. Charles lalu menemui Walikota dan para pejabat kota tetangganya, Hammond. Intinya adalah bahwa Dr. Charles meminta pengakuan bahwa sebenarnya kota Ponchatoula yang lebih layak menyandang sebutan sebagai “Strawberry Capital”. Sekalipun para pejabat Hammond mengakui kebenaran data statistik, namun tetap bergeming, apalagi untuk menyerahkan sebutan kebanggaan yang sudah terlanjur disandang oleh Hammond.

Nekatlah Dr. Charles, dilobinya Walikota Ponchatoula dan para anggota Dewan Kota lainnya untuk mendukung diundangkannya Perda tentang sebutan Ponchatoula sebagai “Strawberry Capital”. Setelah itu, disuratinya Walikota Hammond dan “diancam” agar dalam tempo 30 hari melepaskan semua atribut, tanda-tanda, dan segala macam sebutan tentang “Strawberry Capital” bagi kota Hammond yang disandangnya selama ini.

Maka, setelah itu resmilah Ponchatoula menyandang sebutan yang tidak tanggung-tanggung sebagai “Strawberry Capital of the World”. Kehidupan kota menjadi seperti hidup kembali dengan ditemukannya kebanggaan baru. Para petani strawberry pun semakin menggairahkan kehidupan ekonomi. Berkat pikiran “usil dan kreatif” (plus sedikit kenekatan) Dr. Charles, selanjutnya pada tahun 1972 diproklamirkan tentang tradisi tahunan “Ponchatoula Strawberry Festival”.

Memang hanya sebuah sebutan, tak bedanya dengan “Kota Kembang” untuk Bandung atau “Kota Apel” untuk Malang. Namun dampaknya secara ekonomi terbukti cukup meyakinkan.

***

Sekitar jam 03:00 sore kami baru meninggalkan arena festival. Kami kembali ke New Orleans melalui rute yang berbeda dari berangkatnya, yaitu dengan menyusuri jalan State Road 22 ke arah timur hingga tiba di kota Mendeville di sisi utara danau Ponchartrain. Dari Mendeville lalu ke selatan menyeberangi jembatan tol Lake Ponchartrain Causeway menuju New Orleans. Jembatan Lake Ponchartrain Causeway adalah jembatan suuuangat panjang yang membelah danau Ponchartrain sepanjang 28 mil (sekitar 45 km).

New Orleans, 8 April 2001.
Yusuf Iskandar

Lafayette : Gumbo, Crawfish dan Alligator

12 November 2008

Sekedar tambahan informasi tentang makanan khas daerah Lafayette dan Louisiana selatan umumnya :

gumbo3bg_122499_rGumbo : adalah masakan khas masyarakat Cajun yang tinggal di daerah Lafayette dan sekitarnya, atau umumnya kawasan Louisiana bagian selatan. Orang Louisiana bilang, ini sayur sup tapi merupakan campuran ada sayurnya, ada daging atau seafood-nya, ada tepungnya, ada pedas-pedasnya, sehingga menjadi kental dan nglentrek-nglentrek. Lidah Indonesia akan bilang enak kalau sedikit, kalau banyak jadi nuuuek….

crayfish
Crawfish : adalah jenis seafood yang banyak dijumpai di daerah Louisiana bagian selatan. Sebenarnya juga ada di daerah lain, tetapi Louisiana adalah penghasil terbesarnya baik dari hasil budidaya maupun yang liar di rawa-rawa. Binatang laut
ini berbentuk seperti udang tetapi di kepalanya mempunyai capit seperti kepiting atau rajungan atau karakah. Bagi yang suka seafood, pasti akan menyukainya. Rasanya ya seperti campuran antara udang dan kepiting. Bagi yang belum pernah mencicipinya, bisa dicoba sendiri di rumah : makan udang dan kepiting bersama-sama ….(sebaiknya dimasak dulu, agar tidak terjadi pertempuran di dalam perut).

800px-two_american_alligators_r

Selain itu ada alligator : adalah sejenis buaya yang umum dijadikan bahan makanan dan banyak dijual di restoran. Hewan ini banyak dijumpai di rawa-rawa Amerika sebelah selatan. Selain Louisiana, juga di Texas hingga ke ujung timur Florida. Bentuk binatang ini sepintas sama persis seperti buaya (crocodile). Sama-sama menakutkan. Bedanya : buaya umumnya bisa tumbuh lebih besar dan lebih agresif (apalagi yang jenis buaya darat). Sedangkan alligator relatif tidak sebesar buaya dan (katanya) agak kurang agresif. Meskipun demikian, kalau Anda ketemu binatang sejenis ini di jalan, lebih baik tidak usah mendeskripsi ini buaya atau alligator. Cepat-cepat saja kabur….

Musik tradisonalnya disebut zydeco, semacam jenis musik campuran antara irama jazz, dixie dan country, dengan instrumen terompet (bukan saxofon) dan akordion mendominasi.

zydeco_players

Adalah Pak Suseno (sering dijuluki lurahnya orang Indonesia di Lafayette), beliau orang Malang yang sudah malang-melintang di sektor non-formal di Louisiana sejak lebih 20 tahun yll. Beliau pernah bekerja di Tembagapura sewaktu tambang Freeport masih tahap konstruksi. Lalu kecantol dengan cewek bule yang kebetulan anak seorang expatriate yang juga bekerja di Freeport. Akhirnya menikah dan pindah ke Amerika hingga kini. Pak Seno ini sesekali hadir dalam pertemuan perhimpunan masyarakat Indonesia-Amerika, New Orleans.

Adalah Ibu Erlie Boerhan yang pernah tampil mengisi acara hiburan dalam rangka perayaan HUT kemerdekaan RI tahun 2000 yll di New Orleans. Waktu itu masyarakat Indonesia-Amerika mengadakan perayaan 17-an dan beliau bersama kelompok tarinya menyajikan tari Bali.

Silahkan bernostalgia, bagi mereka yang pernah tinggal di Lafayette atau di daerah sekitar-sekitar Louisiana.

Salam,

New Orleans, 7 Maret 2001
Yusuf iskandar

Mengunjungi Teman Seperguruan di Lafayette

12 November 2008

Berawal dari rencana untuk menghadiri acara social gathering keluarga masyarakat Indonesia-Amerika (Indonesian-American Community Association – IACA) di sebuah desa di luar kota New Orleans. Desa itu terletak di bilangan kota kecil Thibodaux, kira-kira berjarak 60 mil (sekitar 96 km) arah barat daya dari New Orleans. Mengingat acaranya akan diselenggarakan pada sore hari (tepatnya hari Sabtu malam Minggu) di lokasi yang agak jauh, maka sekalian saja kami menyusun rencana melakukan perjalanan keluar kota menjelajahi belahan lain dari wilayah negara bagian Louisiana yang belum pernah kami kunjungi.

Sekalian saya merencanakan untuk mengunjungi keluarga seorang teman seperguruan yang sekian tahun lalu pernah sama-sama berguru di sebuah perguruan tinggi di Yogya, UPN “Veteran” Yogyakarta. Mas Anton Maladi (TM-1977) yang sekarang bergabung dengan sebuah perusahaan minyak Unocal, bersama keluarganya saat ini sedang bertugas di kota Lafayette. Rute jalan yang menuju Lafayette ini kira-kira searah atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh menyimpang dari rute menuju ke Thibodaux.

Hari Kamis malam sebelumnya, Mas Anton saya hubungi dan lalu direnacanakanlah acara silaturrahmi atau gathering kecil-kecilan antar kedua keluarga kami, bertempat di rumah Mas Anton di Lafayette pada hari Sabtu siang.

***

Sabtu pagi, 3 Maret 2001, cuaca New Orleans rada kurang bersahabat. Bukan tidak memperhatikan ramalan cuaca, namun saya berharap ramalannya agak meleset. Ternyata saya terlalu berprasangka buruk kepada peramalnya. Ya maklum, sewaktu di Indonesia saya terbiasa berprasangka buruk kepada sang peramal cuaca. Sejak pagi awan hitam sudah menggantung di langit New Orleans, hujan deras pun menyusul disertai petir menyambar-nyambar.

Rencana berangkat agak pagi jadi tertunda. Malahan sudah siap-siap angkat tilpun untuk memberitahu Mas Anton bahwa rencana silaturrahmi tidak dapat terpenuhi. Namun syukurlah, sekitar jam 10:30 cuaca buruk agak mereda. Langit masih hitam, namun hujan dan petir tidak lagi semenakutkan sebelumnya. Maka sekitar jam 11:00, kami lalu memutuskan untuk segera berangkat menuju Lafayette yang berjarak sekitar 135 mil (216 km) di arah barat New Orleans.

Belum lama meninggalkan New Orleans, hujan deras kembali mengguyur, meskipun tidak lagi disertai petir. Sebenarnya jarak New Orleans – Lafayette tidak terlalu jauh, normalnya dapat saya tempuh paling lama 2,5 jam perjalanan melalui jalan bebas hambatan Interstate 10 (I-10). Namun karena sekitar tiga-perempat perjalanan siang itu kami lalui dalam hujan, maka saya perlu agak mengendalikan kecepatan kendaraan, di bawah batas maksimum yang diperbolehkan (speed limit). Sesekali mencuri batas kecepatan ketika sedang berada di jalanan yang agak kering

Menjelang tiba di kota Lafayette, saya keasyikan melaju di jalan Highway 90 (Hwy 90), sehingga kurang memperhatikan rambu petunjuk arah membelok ke barat. Akibatnya saya kebablasan di rute yang salah. Terpaksa kemudian mencari jalan tembus untuk memutar kembali ke Lafayette, melalui kota kecil Iberville. Baru sekitar jam 2:30 siang kami tiba di rumah Mas Anton.

Kami pun disambut dengan hangat oleh Mas Anton, istri dan kedua putra-putrinya, meskipun terlambat tiba dari waktu yang direncanakan semula. Sambutan hangat layaknya seperti bertemunya teman lama yang tidak pernah ketemu. Dan, memang sebenarnya kami belum pernah ketemu sebelumnya. Hanya ikatan almamaterlah yang membuat pertemuan kami siang itu serasa akrab. Apalagi sama-sama merasa berada di tempat yang jauh dari kampung halaman di Yogya sana.

Siang itupun kami terlibat dalam obrolan mengasyikkan tentang masa sekolah dulu. Lengkap dengan “saat-saat tidak menguntungkan” ketika harus bertahan bertahun-tahun untuk dapat menyelesaikan sekolah di perguruan tinggi tidak negeri (sementara teman-teman lain yang lebih beruntung dapat bersekolah di perguruan tinggi negeri hanya perlu beberapa tahun saja). Ceritera tentang teman-teman lama yang sudah pada bertebaran di mana-mana, juga menjadi bagian dari reuni kecil-kecilan kami siang itu. Saya jadi tahu kalau Mas Heru Pramono yang sekarang ada di Balikpapan sebenarnya juga suka tulis-menulis.

Perbincangan tentang traveling di Amerika tidak kami lewatkan, karena rupanya Mas Anton dan keluarganya sudah punya rencana untuk “keliling setengah Amerika”. Lalu saya jadi ingat Mas Wahyu Suharyo (TM-1988) yang sekarang bergabung dengan perusahaan Halliburton dan tinggal di kota Hobbs, negara bagian New Mexico. Di tengah kesibukannya menyelesaikan program Doktor, Mas Wahyu juga menyimpan rencana untuk “keliling setengah Amerika”, mungkin malah akan lebih dari setengah.

Ujung-ujungnya, sajian makan siang (menjelang sore) dengan menu Indonesia yang ….. uuuenak sekali, hasil masakan istri Mas Anton, melengkapi acara silaturrahmi kami siang itu. Tidak terasa, waktu telah menjelang jam 05:00 sore. Teriring ucapan terima kasih, kami lalu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan kota Lafayette.

***

Kota Lafayette yang terletak pada elevasi sekitar 12 m di atas permukaan laut dan berpopulasi sekitar 95,000 jiwa, siang itu tampak cukup padat. Ini memang kota kecil yang pernah berjaya, antara lain karena berkembang pesatnya industri perminyakan. Dapat dikatakan kota ini dahulu pernah menjadi pusat industri minyak dan gas di kawasan lepas pantai Teluk Mexico. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang industri perminyakan yang membuka kantornya di kota ini, meskipun belakangan ini mulai berkurang.

Kota Lafayette dulunya bernama Vermillionville. Mulai berkembang sejak dibangunnya jaringan kereta api yang menghubungkan kota New Orleans (Louisiana) dan Houston (Texas) pada tahun 1881. Tiga tahun kemudian kota ini berganti nama menjadi Lafayette sebagai penghargaan kepada seorang jendral berkebangsaan Perancis, bernama Marquis de Lafayette, di jaman Revolusi Amerika.

Penduduk asli Lafayette adalah para petani asal Perancis yang pernah terdampar di daratan Nova Scotia, di ujung tenggara Canada dekat dengan ujung timur negara bagian Maine. Ketika datang bangsa Inggris pada tahun 1700-an, para pendatang dari Perancis yang kemudian disebut French Acadian ini terusir dari Nova Scotia dan lalu menempuh perjalanan sangat panjang menuju ke wilayah baru di sisi barat daya Louisiana.

Keturunan dari masyarakat French Acadian ini kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Cajun yang hingga kini masih banyak mempraktekkan dialek bahasa Perancis dan masih mengembangkan tradisi budaya leluhurnya. Oleh karena itu tidak heran kalau di kawasan Lafayette dan umumnya wilayah barat daya Louisiana kini banyak ditemui nama-nama atau sebutan yang berbau Perancis.

***

Dari Lafayette, kami langsung menuju ke jalan Hwy 90 menuju ke arah tenggara. Saya dapat memacu kendaraan pada kecepatan maksimum karena lalu lintas sore yang cukup cerah saat itu tidak terlalu padat. Untuk mencapai kota Thibodaux saya perkirakan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam melalui jalan Hwy 90 yang melintas di sisi selatan kota-kota New Iberia, Franklin dan Morgan City, sebelum akhirnya saya berpindah ke Hwy 20 yang menuju ke utara.

Hari sudah gelap sebelum saya mencapai kota Thibodaux. Kondisi ini membuat saya kurang tajam memperhatikan tulisan nama-nama jalan. Maka …, kebabalasan lagi! Akhirnya kami terlambat tiba di tempat acara social gathering keluarga masyarakat Indonesia-Amerika (IACA). IACA adalah wadah berhimpunnya segenap warga masyarakat Indonesia-Amerika maupun para simpatisan, khususnya yang tinggal di kawasan New Orleans dan sekitarnya. Arisan adalah salah satu kegiatan yang dipandang menarik. Menarik, karena tidak cukup dengan satu-dua kalimat untuk menjelaskan arti sebuah kata ini dalam bahasa Inggris.

Akhirnya, menjelang tengah malam kami baru tiba kembali di New Orleans setelah menempuh perjalanan santai lebih satu jam dari sebuah desa di sebelah utara Thibodaux.-

New Orleans, 6 Maret 2001
Yusuf Iskandar.

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (27)

2 November 2008

Golden, 3 Desember 2000 – 20:30 MST (4 Desember 2000 – 10:30 WIB)

Sekitar jam 05:15 tadi sore saya tiba di kota Golden, Colorado, setelah menempuh perjalanan udara lebih 3,5 jam tidak termasuk transit di Houston, Texas, dan naik shuttle bus dari Denver ke Golden. Seperti biasa, begitu masuk kamar langsung nggeblak (merebahkan diri) di tempat tidur. Bukan capek, melainkan lapar. Untungnya waktu puasa di Golden ini lebih “menguntungkan” lagi dibanding di New Orleans, karena jam 4:30 sore tadi sudah masuk buka puasa.

Langsung buka saluran CNN, ingin tahu apa yang terjadi di akhir pekan ini dengan proses peradilan pemilu. Hingga malam ini, CNN maupun saluran-saluran lain seperti Fox News Channel dan MSNBC ternyata masih menyiarkan siaran langsung dari persidangan di Florida. Melalui persidangan maraton bahkan di akhir pekan, kedua belah pihak Bush dan Gore, saling menyampaikan argumen akhir berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara di Florida.

***

Rangkaian agenda pemilihan presiden Amerika bagi saya sudah kurang menarik lagi, sudah kehilangan greget dan kadar emosionalnya. Ibarat pementasan drama, maka ini adalah antiklimaks. Tinggal menunggu bagaimana keputusan akhirnya saja setelah melewati periode bunga-bunga pentas drama pemilu yang berlarut-larut. Di atas kertas, sudah disahkan oleh pemerintah Florida bahwa Bush adalah pemenangnya dan berhak mengantongi 25 jatah suara (elektoral vote) Florida. Oleh karena itu secara nasional maka Bush telah mengumpulkan jumlah jatah suara melebihi angka 270 untuk memenangi pacuan pemilihan presiden Amerika.

Akibat proses yang berlarut-larut melalui persidangan demi persidangan, maka kalaupun akhirnya nanti Gore dinyatakan menang atas Bush, paling-paling akan membuat kubunya Bush kecewa. Sebaliknya kalau ternyata Bush tetap yang menang, ya sudah memang begitulah kejadiannya.

Meskipun sudah kurang menarik untuk dinikmati, saya masih akan mencoba untuk meng-update apa yang akan terjadi dengan pemilihan presiden Amerika ini dalam beberapa hari ke depan.

(Tapi, wadhuh……., ada masalah dengan dial-up connection laptop saya. Ya…, terpaksa tidak dapat di-posting tepat waktu. Mohon maaf).-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (32)

2 November 2008

New Orleans, 11 Desember 2000 – 22:00 CST (12 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Hari Minggu sore kemarin, setiba kembali saya di New Orleans setelah menempuh perjalanan udara dari Denver, saya langsung membuka saluran CNN. Ternyata suasana di luar sidang sudah semakin panas. Para pendukung kedua belah pihak saling berkumpul dan mengunjukkan perasaannya, baik di Washington DC maupun di Tallahassee.

Sidang Mahkamah Agung Amerika dimulai tadi pagi sekitar jam 11:00 waktu setempat. Para pengunjung yang ingin hadir di dalam ruangan sidang Mahkamah Agung ini ternyata sudah mulai berkumpul sejak hari Minggu kemarin. Mereka rela mengambil nomor urut kehadiran terlebih dahulu, seperti layaknya pasien dokter yang mengambil nomor urut kehadiran atau pendaftar ujian masuk perguruan tinggi yang ingin sepagi mungkin berada di urutan paling depan.

Apa yang terjadi kemudian? Para pengunjung itu menggelar kantung tidur (sleeping bag) dan membuka tenda di depan halaman gedung Mahkamah Agung yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah arena perkemahan. Padahal suhu udara malam hari sedang sangat dingin. Mereka sudah mengantungi nomor urut agar esoknya pagi-pagi (Senin pagi tadi) dapat masuk ke ruang sidang mengikuti jalannya persidangan.

***

Kedua pengacara dari kedua pihak, Gore maupun Bush, dicecar oleh para hakim untuk saling mempertahankan argumennya atas boleh tidaknya dilakukan penghitungan ulang. Hingga malam ini belum ada tanda-tanda kapan keputusan akan dikeluarkan oleh hakim mahkamah Agung Amerika.

Sementara di luar sidang, para pendukung kedua belah pihak terus saling melancarkan kampanyenya mendukung kandidat masing-masing. Dengan poster dan teriakan-teriakan, dipisahkan oleh petugas polisi, mereka tidak henti-hentinya mengunjukkan perasaannya. Bukan hanya para kaum mudanya, melainkan juga tampak para kakek dan nenek yang peduli dengan peristiwa bersejarah proses pemilihan presiden Amerika yang berkepanjangan kali ini.

Yang menarik, kalau kemudian antara kedua pendukung fanatik itu bertemu. Maka mereka saling “main hakim sendiri” di luar persidangan. Dalam pengertian yang sebenarnya, mereka saling beradu argumen layaknya antara hakim dan pengacara di dalam persidangan. Hanya sebatas itu, tidak terjadi timpuk-menimpuk atau jotos-menjotos. Biasanya baru selesai kalau sudah ada yang memisah.

Lho, kok bisa? Lha ternyata kok mereka malah dapat berkonfrontasi dan “tawuran” dengan lebih manis. Ini yang saya belum tahu jawabannya.   

***

Hingga hari ini, ada yang mengganjal di pikiran saya. Ketika Amerika sedang dilanda krisis atas proses pemilihan presidennya, tidak satu pun negara di dunia yang cawe-cawe (ikut ambil perduli) secara langsung. Berbeda halnya kalau ada krisis yang serupa terjadi di negara lain, lebih-lebih negara dunia ketiga, maka Amerika segera akan blusukan (menerobos kesana-kemari) untuk turut memainkan peranannya.

Sedemikian digdaya-nyakah negeri Amerika ini sehingga tidak ada negara lain yang berani (atau enggan?) turut campur dalam krisis pemilihan presiden yang sedang dihadapinya? Atau, sedemikian rapuh-nyakah negara-negara berkembang sehingga dengan mudah dicampuri urusannya (terang-terangan atau gelap-gelapan, langsung atau tidak langsung, tampak mata atau sembunyi-sembunyi) oleh Amerika jika sedang dilanda krisis yang serupa?

Atau, ganjalan pikiran saya saja yang terlalu su’udhon (berprasangka buruk)? Entahlah……., saya mau tanya dulu pada rumput padang golf yang bergoyang.

Yusuf Iskandar

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar

Nenek-nenek Amerika

2 Maret 2008

Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke kota Phoenix (ibukota negara bagian Arizona). Wilayah Arizona ini berada di sebelah selatan agak ke barat daratan Amerika dan di sebelah selatannya berbatasan dengan negara Mexico. Perjalanannya sendiri sebenarnya hal yang biasa-biasa saja, dalam arti saya berangkat dan pulang naik pesawat, siang hari kerja dan malam tidur di hotel. Namun justru dalam hal yang biasa itu saya menjumpai dan mengalami beberapa kejadian menarik yang berkaitan dengan perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.

Seperti biasanya ketika hendak berangkat menuju bandara saya menilpun taksi. Pagi itu, Rabu, 7 Juni 2000, ternyata taksi yang menjemput saya disopiri oleh seorang wanita, yang lebih tepat saya sebut seorang nenek. Meskipun saya lupa menanyakan umurnya, tapi dia mengaku mempunyai dua orang anak sebaya saya dan mempunyai dua orang cucu yang sebaya anak saya. Maka saya taksir usianya sekitar 60-an. Tapi jangan heran, pagi itu dia masih mampu melaju dengan cermat pada kecepatan lebih 50 mil/jam (lebih 80 km/jam), malah memberi bonus dengan dua kali menyerobot lampu kuning yang sudah menjelang merah, saat melalui perempatan jalan.

Tahun ini adalah tahun ke-13 dia menyopiri taksi miliknya sendiri. Dia bergabung dengan perusahaan jasa angkutan yang bertindak sebagai dispatcher (pengatur perjalanan) dengan membayar sejumlah biaya per bulannya. Dia mengaku menarik taksi hanya pada siang hari dari Senin hingga Jum’at saja. Selebihnya hari Sabtu dan Minggu adalah hari-hari milik cucu-cucunya dan milik hari tuanya sendiri (yang menurut pikiran saya malah sebenarnya jadi tidak punya hari tua). Apa yang membanggakannya? Dia merasa menjadi juragan bagi usahanya sendiri, berkehidupan mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ketika transit di bandara internasional Houston (Texas), karena menunggu pesawat lanjutan yang masih cukup lama, saya duduk-duduk di kafe menghadap ke lorong di dalam bandara sambil makan pizza sebagai makan siang. Di depan saya lewat seorang ibu agak gemuk yang juga lebih tepat saya sebut nenek kalau melihat raut muka dan penampilannya. Sambil berjalan lambat dia mendorong trolly atau kereta dorong untuk barang bawaan menuju ke ruang tunggu.

Entah kenapa, barangkali menyusun barangnya kurang rapi, sebuah tasnya yang ternyata belum rapat ditutup tiba-tiba merosot ke belakang dan jatuh tepat di depan langkah kakinya. Hal yang tiba-tiba ini tentu saja membuat sang nenek lambat untuk bereaksi menghindar, dan diapun tersandung tasnya sendiri yang lalu berantakan. Gerak refleksnya membuat dia lalu berpegang erat pada kereta dorongnya, yang kemudian berakibat keretanya mendongak ke atas karena terbebani di bagian belakangnya. Akhirnya kereta dorong itu rubuh bersama-sama dengan badan gemuk sang nenek yang masih memeganginya. Minuman coke-nya pun tumpah bersama es batu yang menyebar di lantai berkarpet.

Tidak ada orang lain yang berada lebih dekat dari saya saat itu, maka spontan saya hampiri sang nenek, saya bantu merapikan barang bawaannya, sambil tidak lupa mengajukan pertanyaan “standard” : “Are you OK?”. Setelah yakin sang nenek memang OK punya, sayapun kembali ke tempat duduk saya di kafe. Sang nenek kemudian berjalan menepi membuang gelas kertas tempat coke-nya yang sudah kosong itu ke tempat sampah, sambil kedua tangannya memegangi pinggangnya. Kemudian dia mendorong keretanya pelan dan menjauh. Barangkali mau mencari tempat duduk yang agak longgar agar bisa beristirahat sambil mengelus-elus boyoknya (pinggangnya) yang sakit, pikir saya.

Sampai di sini saya menduga episode nenek jatuh sudah selesai. Ternyata dugaan saya keliru. Sesaat kemudian nenek itu kembali lagi dengan membawa benda warna jingga berbentuk corongan plastik, persis sama seperti yang biasa dipergunakan oleh pekerja yang sedang memperbaiki jalan raya atau yang dipakai Pak Polisi untuk mengalihkan lajur jalan. Corongan itu lalu diletakkannya di depan tempat tumpahan minumannya tadi. Saya hanya bisa berkesimpulan, rupanya sekalipun sang nenek sudah kepayahan akibat jatuh tadi, dia masih sempat berupaya agar orang lain tidak terganggu oleh bekas tumpahan es batu yang berserakan di lantai yang basah oleh coke-nya itu.

***

Agak lama saya menunggu pesawat lanjutan menuju Phoenix, yang nantinya ternyata memang batal terbang, saya pindah duduk di dekat dinding kaca yang menghadap ke landas pacu pesawat. Di depan sebelah kanan saya ada seorang nenek duduk bersama dengan cucu perempuannya yang agak cerewet khas anak-anak. Terjadi dialog antara mereka berdua yang membuat saya tersenyum dalam hati.

Sang cucu rupanya mengajak main tebak-tebakan dengan neneknya. Bandar udara Houston memang cukup ramai lalu lintas penerbangannya, sehingga setiap kali ada pesawat lewat dan tampak di depannya, sang cucu berkata : “Pesawat itu mau naik”. Sang nenek yang lagi asyik merenda benang yang agaknya memang sengaja dibawa dari rumah, lalu menengok ke depan dan menjawab : “Bukan, itu baru saja mendarat dan mau berhenti menurunkan penumpangnya”.

Ada lagi pesawat lewat, sang cucu berkata lagi :
“Nah, itu juga mau terbang”.
“Itu juga mau berhenti”, kata neneknya membenarkan omongan sang cucu.

Ada lagi pesawat lewat :
“Nah, itu mau berhenti”, kata sang cucu.
“Kalau yang itu mau terbang”, kata sang nenek sambil menolehkan kepalanya ke depan lagi.

Ada lagi pesawat lewat :
“Itu berangkat lagi”, kata sang cucu.
“Itu mau berhenti”, kata sang nenek.
“Itu ada lagi”, kata cucunya lagi. Rupanya lama-lama sang nenek yang lagi asyik merenda benang merasa kesal juga dengan laku cerewet sang cucu. Lalu dengan cuek sang nenekpun nyeletuk yang kira-kira begini : “Embuh, ah…..”.

Sesayang-sayangnya seorang nenek terhadap cucunya, suatu saat ternyata bisa juga dia kehilangan kesabarannya, saat dia sendiri sedang asyik dengan kesukaannya. Manusiawi sekali.

***

Dalam perjalanan saya kembali ke New Orleans sembilan hari kemudian, Jum’at, 16 Juni 2000, lagi-lagi pesawat dari Phoenix dibatalkan, sehingga rute penerbangan saya dialihkan dari semestinya transit di Houston (Texas) menjadi transit via Denver (Colorado).

Di bandara Denver, sambil menunggu pesawat sambungan menuju New Orleans, saat itu sekitar jam 7:00 malam, saya mampir ke sebuah kafe untuk mencari sekedar pengganti makan malam. Ketika antri di depan kasir, di depan saya ada seorang nenek. Kali ini benar-benar seorang nenek kalau melihat raut mukanya yang sudah keriput dan berjalannya yang thunuk-thunuk (sangat pelan dengan badan agak membungkuk), kira-kira kalau berjalan dengan langkah saya satu banding tiga. Pendengarannyapun sudah berkurang, terbukti kasir kafe dicuekin saja ketika mengajak bicara saat membayar.

Setelah memperoleh apa yang dipesannya, dengan santai diapun berdiri menambahkan gula dan creamer ke dalam kopinya (memang sudah biasanya hanya akan diberikan kopi tanpa gula kalau kita pesan kopi). Sang nenek lalu berdiri di pojok menikmati makanannya. Kebetulan saat itu kafe sedang penuh orang-orang muda yang sambil makan menyaksikan siaran langsung di layar TV lebar final kejuaraan basket NBA putaran kelima antara Pacers (Indiana) melawan Lakers (Los Angeles), yang akhirnya dimenangi oleh Pacers dengan skor 120-87 dan membuka peluangnya untuk menyelesaikan the best-seven.

Barangkali inilah cermin kemandirian (dan individualis?) manusia Amerika. Tanpa perduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, setiap orang dianggap mesti mandiri dengan keberadaannya. Maka yang lalu terjadi adalah, seorang nenek setua itu masih sanggup bepergian seorang diri (meskipun naik pesawat) dan makan sambil berdiri di pojok kafe yang penuh orang, sementara puluhan orang muda tanpa perlu merasa sungkan atau tidak sopan bersorak di tempat duduknya di sebelah sang nenek ketika seorang pemain Lakers berhasil membuat nilai.

Malam harinya, di dalam pesawat menuju New Orleans, di samping kiri saya duduk seorang nenek dan di sampingnya lagi duduk seorang ibu yang kira-kira berusia sedikit di atas saya yang ternyata adalah anak dari nenek di sebelah saya. Sejak duduk di pesawat nenek tadi mulai membuka-buka majalah wanita (saya lupa memperhatikan nama majalahnya), hingga seperempat perjalanan sang nenek ini asyik saja membaca. Hingga saya tertidur dia masih membaca.

Saat saya terbangun dia juga masih saja membaca. Kelihatannya sang nenek di sebelah saya ini punya kebiasaan yang bagi saya tidak umumnya dilakukan oleh seorang nenek ketika sedang dalam perjalanan, yaitu membaca dan membaca. Saya jadi ingat, boro-boro membaca, nenek saya di kampung sana pasti memilih tidur kalau sedang dalam perjalanan, atau (katakanlah) sedang menghabiskan waktu.

Ketika tiba di New Orleans tengah malam, sang nenek sempat nyeletuk kepada saya “Tadi enak sekali tidurnya”. Saya paham itu pertanyaan basa-basi, lalu sayapun menjawab juga sebagai basa-basi :”Iya, terima kasih”. Entah kata-katanya itu pujian atau sindiran (karena malam itu memang saya merasa sangat capek hingga tertidur lelap), saya tetap perlu berterima kasih sebagai basa-basi gaya Amerika.

***

Ada tingkah laku, pola hidup dan kebiasaan yang bagi saya berbeda dari yang biasanya saya jumpai dengan nenek-nenek di kampung saya di Jawa sana. Barangkali saja semua peristiwa yang saya jumpai dan alami tadi adalah kebetulan belaka, atau tidak berlaku umum bagi setiap nenek di Amerika. Akan tetapi, paling tidak saya telah menemukan kesan bahwa ada kebiasaan (yang tentunya tumbuh akibat didikan sejak kecil) dalam diri nenek-nenek itu yang bernilai positif : mandiri dan percaya diri. Nilai-nilai itulah yang justru seringkali membuat kita terpuruk di belantara pergaulan masyarakat global.

Barangkali kesan saya keliru, tapi yang jelas saya merasa senang dan terhibur bisa belajar dari melihat perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.-

New Orleans, 20 Juni 2000.-
Yusuf Iskandar

Pensiun Ketika Mati

28 Februari 2008

Hari Minggu, 29 April 2001, sekitar jam 9:00 pagi saya tiba kembali di New Orleans, Louisiana, setelah menempuh perjalanan lumayan panjang sekitar 14 jam dari Juneau, Alaska. Dari bandara New Orleans saya lalu menggunakan taksi untuk pulang ke apartemen. Kali ini saya menjumpai taksi yang tampil beda dari biasanya.

Sejak pertama kali memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi belakang taksi, saya sudah mencium sesuatu yang lain dari biasanya. Di bagian lantai bagasinya tergelar kain tebal seperti selimut bergaris-garis merah muda seakan-akan difungsikan sebagai karpet. Begitu masuk dan duduk di jok belakang taksi, serta-merta tercium bau wangi-wangian yang jelas aromanya terasa sumegrak (bukan semerbak tapi berbau tajam), aroma yang aneh untuk selera indra penciuman orang Indonesia.

Sedan Lincoln tahun 1988 yang berbadan panjang dan lebar yang “dipekerjakan” sebagai taksi itu di dalamnya didekorasi layaknya sebuah ruang tamu. Di seputar kaca depan dan dashboard-nya dihiasi dengan bunga-bunga plastik dan patung-patung kecil Yesus Kristus. Di sela-selanya ditempelkan banyak jam tangan berbagai merek tidak terkenal, sepertinya ditempel dengan lem sehingga susah dilepas. Di bagian atas joknya ditempel hiasan plastik berbentuk udang, crawfish, dsb., yang agaknya juga direkatkan dengan lem.

Di seputar jendela samping ada hiasan-hiasan lain, termasuk kutipan-kutipan kitab Injil serta foto-foto hitam-putih. Dari foto-foto itulah akhirnya saya tahu bahwa pak sopirnya adalah seorang veteran Angkatan Laut. Diam-diam saya cocokkan postur tubuh gagah dan kekar serta wajah tampan yang ada di foto dengan wajah pak sopir. Meskipun tidak tampak serupa benar, namun saya melihat garis-garis wajah yang memang membuktikan bahwa wajah yang ada di foto adalah wajah pak sopir.

***

Untuk meyakinkan dugaan saya, maka akhirnya saya mulai membuka percakapan dengan pak sopir. Pak sopir yang bernama Billy itu memang dulu pernah bekerja di Angkatan Laut Amerika dan pernah tugas ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara. Pak Billy pun mengiyakan dengan tersenyum bangga ketika saya tanya apakah orang yang ada di dalam foto itu adalah dirinya.

Pada bulan Agustus nanti Pak Billy akan genap berusia 75 tahun! Ya, sopir taksi itu adalah Pak Billy yang usianya hampir 75 tahun. Sudah 30 tahun ini Pak Billy menjadi sopir taksi miliknya sendiri. Berjalannya sudah tidak lagi tegap, melainkan pelan dan hati-hati. Bicaranya juga pelan, tidak jelas dan serak-serak kering. Setiap kali mendengarkan pembicaraannya saya mesti mendekatkan telinga saya ke sela-sela antara dua jok depan.

Namun jangan salah, tampil dengan berkacamata plastik hitam (bukan plus atau minus) Pak Billy masih cukup gesit mengemudikan taksinya dan tidak keteter mengikuti laju kecepatan lalulintas New Orleans pagi itu.

Pak Billy mengaku hanya bekerja 4-5 jam saja per hari, itupun terkadang banyak waktu terbuang hanya untuk menunggu dapat penumpang. Dia memang bekerja tidak ngoyo (memaksakan diri). Namun tentu adalah sebuah jenis pekerjaan yang luar biasa di usianya saat ini kalau mengingat bahwa dia mengaku berkerja 7 hari per minggu. Artinya, tanpa mengenal hari libur.

***

Menurut Pak Billy, ada dua hal yang membuatnya bangga, yaitu : bangga dapat menghidupi dan mengatur hidupnya sendiri dan bangga dapat menikmati hari tuanya. Lho? Sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa menjadi sopir taksi ternyata juga merupakan salah satu bentuk kenikmatan di hari tua seseorang. Setidak-tidaknya bagi Pak Billy, dan itulah cara Pak Billy menikmati hari tuanya. Sebuah cara yang tentu saja kedengaran aneh di telinga kita pada umumnya.

Kalau dapat diambil benang merahnya, maka barangkali esensinya adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Adakah sesuatu yang dapat ditiru dari penggalan kehidupan seorang sopir taksi bernama Pak Billy ini? Sesuatu yang kiranya dapat disemangati (bukan mengganti) untuk disisipkan ke dalam budaya masyarakat kita yang pada umumnya selalu merencanakan ingin menikmati hari tuanya setelah pensiun nanti, tapi pasti bukan menjadi sopir taksi.

Jika demikian, lalu kapan Pak Billy akan pensiun? Jawabnya ringan saja, dengan suaranya yang lemah dan serak dia berkata : “I will retire when I die ……”, sambil tertawa terkekeh.

Setelah membayar ongkos taksi US$16 plus tip US$2 setiba di apartemen, saya berkata : “Good Luck, Pak Billy…..”

New Orleans, 30 April 2001
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(1).     Mengotak-atik Rute Perjalanan

Mulanya sekedar sebuah angan-angan, kami sekeluarga ingin melihat kota Washington DC, New York dan air terjun Niagara, selagi kami berkesempatan tinggal di negara besar ini. Ya, karena tempat-tempat itu sudah sangat terkenal dan selama ini namanya sering disebut-sebut orang. Mewujudkan keinginan itu tentu tidak mudah, karena jarak antara tempat-tempat itu dengan kota New Orleans dimana kami tinggal cukup jauh. Jarak dari New Orleans ke New York adalah sekitar 1324 mil (sekitar 2118 km).

Rencana pun diatur untuk bisa mengunjungi tempat-tempat itu. Sebenarnya tidak terlalu susah kalau hanya untuk mengunjungi tempat-tempat itu saja. Masalahnya menjadi agak rumit karena rencana perjalanan yang mulanya hanya sekedar mewujudkan sebuah keinginan, mulai terkontaminasi dengan sebuah obsesi. Kami ingin mengunjungi dan melihat lebih banyak tempat dari belahan negara besar ini selagi kami ada di sini. Karena itu rencana menjadi berkembang, bagaimana agar selain mengunjungi tempat-tempat terkenal itu kami juga bisa mengunjungi dan melihat tempat-tempat lain sebanyak-banyaknya.

Waktu yang saya anggap tepat untuk melakukan perjalanan ini adalah di musim panas. Selain karena anak-anak sekolah sedang libur panjang, juga dipastikan perjalanan tidak akan terganggu salju terutama ketika berada di daerah utara. Selain itu waktu siang hari akan lebih panjang karena matahari baru terbenam selepas jam 20:30, bahkan di daerah Niagara dan kota-kota di bagian utara lainnya matahari baru terbenam jam 21:30. Maka awal bulan Juli kami pilih dengan alokasi waktu selama dua minggu.

***

Sejak jauh hari sebelumnya, saya mulai mengumpulkan berbagai informasi baik yang berkaitan dengan kota-kota tujuan utama maupun daerah-daerah lainnya yang sekiranya akan sempat saya kunjungi. Hal pertama yang kemudian harus diputuskan adalah pilihan antara melakukan perjalanan darat langsung berkendaraan dari New Orleans, atau terbang lebih dahulu ke suatu kota kemudian menyewa kendaraan di sana seperti yang pernah kami lakukan ketika travelling ke daerah Colorado dan sekitarnya.

Dari segi pendayagunaan waktu dan tenaga, pilihan kedua memang lebih ideal. Saya hanya akan kehilangan waktu dua hari untuk terbang saat berangkat dan kembali, selebihnya untuk perjalanan darat memutar dengan menyewa kendaraan. Tetapi pilihan kedua ini menghilangkan kesempatan untuk melihat banyak tempat yang dilalui karena hanya akan lewat di atasnya saja dengan pesawat.

Sedangkan dengan pilihan pertama, saya akan langsung mengerahkan tenaga untuk mengemudi sejak hari pertama hingga hari terakhir. Tetapi saya akan menghemat ongkos pesawat dan sewa kendaraan meskipun sebagai gantinya saya harus menambah alokasi dana untuk BBM. Selain itu, pilihan pertama akan memberi kesempatan untuk lebih banyak melihat tempat-tempat yang saya lalui. Demi mewujudkan obsesi, maka pilihan pertama saya ambil dengan segala resikonya.

Diantara resiko yang harus saya perhitungkan antara lain adalah mengatur sebaik mungkin rencana perjalanan agar dapat mengunjungi sebanyak-banyaknya wilayah Amerika dalam waktu hanya 15 hari. Sebagai sopir tunggal yang tanpa cadangan, ini tentu akan sangat menguras energi. Belakangan saya baru menyadari bahwa rencana perjalanan yang saya buat ternyata sangat ketat dan padat.

Sebagai akibat dari ketatnya rencana perjalanan, maka kondisi fisik kami harus selalu terjaga selama perjalanan. Termasuk dalam “kami” adalah saya, keluarga dan kendaraan. Apa yang harus dilakukan kalau di tengah perjalanan terjadi hal-hal yang tak terduga. Hal berikutnya adalah bagaimana kalau anak-anak merasa bosan berkendaraan terus setiap hari. Jurus-jurus kompromis perlu disiapkan guna menghadapi anak-anak yang tentu akan berpikir dengan logikanya dan berperasaan dengan nalurinya. Hal lainnya adalah mengantisipasi agar tidak terjadi gangguan pada kendaraan karena akan diforsir tenaganya selama 15 hari.

***

Setelah yakin dengan pilihan cara perjalanan, kemudian saya mulai membuat rencana rute perjalanan. Untuk ini saya perlu memiliki peta-peta lengkap seluruh wilayah yang akan saya lalui termasuk dengan informasi tentang obyek-obyek menarik yang bisa dikunjungi. Saya sangat terbantu dengan adanya saya menjadi anggota AAA Emergency Road Service. Ini adalah perusahaan jasa swasta di Amerika yang memberi layanan bantuan perjalanan kepada setiap anggotanya yang mengalami kesulitan di perjalanan.

Sebagai anggota, di manapun di pelosok Amerika kalau misalnya saya mengalami kerusakan kendaraan, kehabisan bensin, ban pecah, kunci kontak terkunci di dalam mobil, dsb. saya tinggal menghubungi nomor tertentu dan kru AAA akan segera datang memberi bantuan tanpa dipungut biaya apapun untuk layanannya, termasuk kalau misalnya kendaraan perlu diderek untuk jarak tertentu. Tentu ada biaya tambahan kalau misalnya perlu diderek untuk jarak yang cukup jauh atau untuk penggantian BBM yang habis. 

Untuk menjadi anggota saya membayar US$42 per tahun. Biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan rasa aman yang saya peroleh ketika melakukan perjalanan berkendaraan. Selain itu, setiap saat tanpa ada batasan saya bisa memperoleh peta-peta, buku panduan wisata, minta dibuatkan rute perjalanan, dsb. dengan tanpa dipungut biaya. Seperti untuk perjalanan saya kali ini, setelah membuat rencana perjalanan secara kasar lalu saya pun menyiapkan daftar peta dan buku panduan wisata untuk saya mintakan ke AAA sebagai bekal perjalanan saya. Baru setelah itu saya akan menyusun rencana perjalanan secara lebih rinci.

Petugas AAA, seorang ibu berusia sekitar 50-an tahun, seperti tidak percaya ketika saya sodori daftar peta dan buku yang saya minta. Semuanya ada 37 lembar peta dan 12 buku panduan wisata saya minta untuk bekal perjalanan. Buku-buku dan peta-peta yang berukuran A0 dan A1 itu terdiri dari peta negara bagian (state map) yang mencakup 33 negara bagian yang akan saya lalui serta peta kota (city map) dari kota-kota yang rencananya akan saya singgahi termasuk ibukota Washington DC.

Iseng-iseng saya timbang, berat semuanya 6,6 kg. Dengan membawa peta lengkap, ini membuat saya merasa bebas, fleksibel dan mudah jika sewaktu-waktu ingin melakukan improvisasi rute karena tersedia peta untuk setiap wilayah yang akan saya lalui.

Mulailah saya membuat rencana perjalanan. Patokannya adalah berangkat dari New Orleans tanggal 1 Juli dan kembali tanggal 15 Juli, menginap di Washington DC 2 malam, di New York 3 malam dan di Niagara Falls 2 malam, serta saya usahakan tanggal 4 Juli berada di Washington DC karena bertepatan dengan Independence Day, yaitu Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika ke 224.

Setiap kali selesai dengan satu rencana rute, kemudian saya hitung jarak dan perkiraan waktu tempuhnya. Ternyata tidak mudah. Tidak selesai dengan dua-tiga kali perencanaan, tapi hingga belasan kali saya mengotak-atik rute perjalanan. Hingga akhirnya saya peroleh yang saya anggap paling representatif. Dari hitung-hitungan jarak dan waktu tempuh, lalu saya tentukan di kota mana saja kami akan menginap dan apakah perlu membuat pemesanan hotel lebih dahulu.

Melihat rute perjalanannya, saya menyadari sepenuhnya bahwa rencana perjalanannya memang sangat ketat. Jarak terpendek sekitar 350 mil (560 km) dan terjauh mencapai 650 mil (1040 km) untuk sehari perjalanan. Artinya, sejak awal saya sudah menyadari bahwa saya akan mengemudi lebih dari 10 jam per hari, bahkan lebih. Padahal idealnya adalah sekitar 6-7 jam saja, dan itupun tidak berturut-turut setiap hari.

Melihat hal ini, maka yang paling utama menjadi perhatian saya adalah menjaga agar saya, keluarga dan kendaraan selalu ada dalam kondisi prima. Karena sehari saja ada gangguan, entah gangguan kesehatan atau kendaraan, maka semua rencana hari berikutnya bisa berubah. Karena itu saya juga menyiapkan rencana alternatif dari beberapa penggal rute yang saya rencanakan. Rencana cadangan ini mencakup rute mana dan obyek mana yang harus saya korbankan jika terjadi keadaan yang tidak diinginkan yang menggangu rencana perjalanan berikutnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(35).    Bermalam Di Oskaloosa

Meninggalkan kota Waterloo hari Rabu, 12 Juli 2000, saat hari mulai rembang petang. Langit merah masih tampak di ufuk barat daya sepertinya berada jauh di ujung jalan lurus di tengah ladang terbuka yang saya lalui dari utara menuju selatan, hingga akhirnya malam pun tiba.

Perjalanan menyusuri ladang jagung Iowa masih saya teruskan dengan tentu saja pemandangan alamnya semakin tidak dapat dinikmati ketika malam benar-benar menjelang. Perjalanan kini telah menjadi semakin membosankan. Tidak ada hal lain yang terlintas di pikiran saya selain secepatnya berhenti mencari penginapan. Tapi, “nginap di mana enaknya?”. Wong sepanjang rute jalan Hwy 63 ini hanya ada kota-kota kecil.

Sampai di hari keduabelas ini agaknya kebosanan sudah mulai dirasakan oleh anak-anak. Mereka tahu bahwa ini adalah perjalanan kembali menuju ke New Orleans, tapi kok tidak sampai-sampai. Beberapa kali anak-anak bertanya apakah New Orleans masih jauh, berapa lama lagi, kapan akan sampai New Orleans, dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu mulai sering ditanyakan.  Saya dan istri sangat-sangat memaklumi dan memahami akan hal ini.

Kepada anak perempuan saya yang lebih besar, terkadang saya gelarkan peta Amerika dan saya tunjukkan di mana posisi kami saat itu, jalan mana saja yang akan dilewati serta apa saja yang akan dilihat di sana. Namun bagi anak laki-laki saya yang lebih kecil, tahunya hanya besok – besoknya – dan besoknya lagi, akan sampai ke New Orleans.

Namun mereka agak terhibur ketika saya beritahu bahwa besok akan menuju ke rumah seorang rekan di Columbia yang mempunyai anak-anak yang kira-kira sebaya dengan anak laki-laki saya. Anak-anak saya pun senang akan ketemu teman barunya.  

***

Menyusuri jalan di sepanjang areal perladangan, sebenarnya ada pemandangan menarik lainnya selain ladang-ladang jagung. Sejak mulai menyusuri ladang jagung di sisi utara wilayah Iowa hingga saya tiba di pertengahannya saat hari mulai gelap, saya melihat banyak mobil-mobil bagus yang diparkir di pinggir atau di pojok areal perladangan menghadap ke jalan raya.

Terkadang hanya satu atau dua mobil, terkadang sampai tiga mobil berjejer di satu lokasi. Antara batas ladang dan badan jalan biasanya masih terdapat bidang terbuka sekitar 10-15 m. Saya sebut banyak karena di sepanjang perjalanan sore hingga malam itu, kalau saya hitung-hitung jumlahnya mencapai lebih duapuluh kendaraan parkir di sana.  

Kelihatannya memang mobil-mobil yang hendak dijual oleh pemiliknya. Keyakinan saya ini karena melihat di setiap mobil yang diparkir itu terdapat tempelan tulisan nomor tilpun. Bisa jadi ini memang cara yang dianggap efektif bagi masyarakat di sana untuk menawarkan mobilnya yang hendak dijual. Setidak-tidaknya, bebas biaya iklan baris, bebas calo dan hanya mereka yang sungguh-sungguh berminat saja yang akan menilpun menghubungi pemiliknya.

Semula saya kira itu mobil yang sengaja diparkir di sana karena pemiliknya sedang berada di ladang. Tetapi kok saya lihat di sekitarnya tidak ada orang-orang bekerja di sana, tidak juga ada perumahan penduduk. Benar-benar berada di daerah terbuka areal pertanian. Lebih heran lagi, saat hari sudah gelap pun saya masih menjumpai mobil-mobil di parkir di pinggir ladang. Berarti sepanjang siang dan malam mobil-mobil itu memang ditinggalkan berada di sana, atau dengan kata lain saya menyimpulkan bahwa wilayah itu tergolong wilayah yang aman dari para penjahil

***

Sekitar 100 km di sebelah selatan kota Waterloo, saya tiba di kota kecil Malcom. Kota ini sebenarnya hanya merupakan titik perlintasan antara jalan Hwy 63 dengan jalan bebas hambatan I-80 yang melintang timur-barat tepat di pertengahan antara kota Des Moines di sebelah barat dan Iowa City di sebelah timur. Setelah melintas di bawah jalan layang I-80, masih di kota Malcom, saya berhenti di sebuah stasiun pompa bensin untuk membeli air mineral dan sekalian beristirahat sejenak.

Terasa sangat sepi sekali suasana kota kecil ini, hanya tampak sedikit orang berlalu lalang dengan sedikit kendaraan melintas. Di saat malam hari, kota kecil ini tampak sebagai kota karena billboard dan lampu-lampu pertokoan yang ada di pinggir jalan seolah-olah memberi tanda adanya kehidupan.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke arah selatan, sekali lagi saya membuka-buka peta perjalanan. Di kota mana kira-kira saya akan menginap. Menurut peta, ada beberapa kota agak besar di antara kota-kota kecil yang akan saya lalui, di antaranya Montezuma, Oskaloosa, Ottumwa dan Bloomfield, sebelum mencapai batas selatan negara bagian Iowa. Kota-kota kecil yang saya sebut di sini sebenarnya jauh lebih sepi dibandingkan dengan kota-kota kecamatan di Indonesia. Jadi memang benar-benar kecil, sepi dan tidak padat penduduknya.

Saat berangkat meninggalkan kota Malcom saya masih belum memutuskan akan menginap dimana, tergantung feeling saja nanti saat memasuki kota-kota itu enaknya menginap dimana. Namun rencana tetap harus dibuat. Mempertimbangkan saat itu sudah lewat jam 21:30, maka paling lama sejam lagi saya harus berhenti untuk bermalam. Kota yang pas untuk itu adalah Oskaloosa yang untuk mencapainya saya masih harus menempuh jarak kira-kira 33 mil (53 km) lagi. Selain itu, kota ini saya pilih karena saya tertarik dengan nama Oskaloosa yang kedengaran “aneh’ di telinga saya.

Melaju di jalan Hwy 63 ini saya agak mengendalikan kecepatan, sekitar 45 mil/jam (70 km/jam) saja. Selain sudah malam berada di jalan yang bukan bebas hambatan juga agar saya merasa agak santai. Baru selepas pukul 10 malam saya masuk ke batas kota Oskaloosa. Saya masih berada di pinggir utara kota saat saya melihat ada penginapan “Red Roof Inn”. Nama ini cukup saya kenal sebagai salah satu jaringan hotel-hotel transit di Amerika.

Mengingat ini adalah kota kecil yang tentunya tidak banyak menyediakan sarana penginapan, maka saya memutuskan untuk langsung saja masuk ke pelataran hotel. Akhirnya, jadilah saya dan keluarga bermalam di kota Oskaloosa yang malam itu sedang dihembus angin malam yang cukup dingin.

***     

Oskaloosa adalah sebuah kota berpopulasi sekitar 10,600 jiwa dan terletak pada ketinggian 256 m dia atas permukaan air laut. Salah satu yang menarik dari kota ini adalah adanya sebuah patung perunggu Chief Mahaska setinggi lebih dua meter yang berdiri di kawasan Taman Alun-alun Kota Oskaloosa. Ini adalah patung kebanggaan masyarakat Oskaloosa sebagai penghormatan atas kepemimpinan Mahaska, seorang tokoh suku Indian Ioway pada awal abad 18. Patung ini pertama kali dibangun pada tanggal 12 Mei 1909 dan baru saja selesai dipugar kembali pada tanggal 16 Oktober 1999.  

Chief Mahaska yang lahir tahun 1784 adalah seorang pemuda Indian Ioway yang tumbuh menjadi seorang pejuang pemberani. Ia membalas kematian ayahnya yang dibunuh oleh suku Indian Sioux. Dengan kemampuan dan keberaniannya di usianya yang masih muda, Chief Mahaska berhasil membunuh beberapa musuhnya dari suku Sioux, hingga akhirnya ia diangkat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin.

Salah satu catatan sejarah tentang Chief Mahaska ini menceriterakan bahwa pada bulan Juli dan Agustus 1824, Mahaska bersama sekelompok pemimpin dari suku Indian Ioway, Sauk dan Fox dikawal oleh pasukan kavaleri Amerika menuju ke kota Washington D.C. untuk membicarakan perjanjian pertanahan.

Waktu itu Amerika sudah berada di usia 48 tahun kemerdekaannya di bawah Presiden kelima James Monroe. Menyertai perjalanan ke Washington D.C. itu antara lain 19 orang kepala suku dan pejuang Indian, enam orang penterjemah dan empat wanita Indian termasuk juga istri Mahaska.

Ketika Mahaska dan rombongannya melintasi wilayah yang dihuni oleh orang-orang kulit putih, mereka melihat kenyataan betapa banyaknya orang-orang kulit putih itu, serta kekuatan dan kemakmurannya. Mahaska baru menyadari bahwa percuma saja dia melakukan perlawanan dan pertempuran. Ia kemudian berpikir untuk tidak akan lagi menyetujui dan mengambil bagian dalam setiap peperangan. Mahaska memutuskan untuk menyimpan senjata kapaknya (tomahawk) yang telah ia gunakan sejak masih muda.

Sekembali dari Washington, Mahaska membangun perumahan untuk keluarganya, memutuskan untuk mengikuti saran Presiden untuk membuka lahan pertanian dan hidup dalam kedamaian bersama masyarakatnya. Mahaska sendiri akhirnya mati dibunuh oleh musuhnya dari suku Indian lainnya. Mahaska juga disebut-sebut sebagai “saudara kaum kulit putih”.

Ini memang soal idealisme. Apakah itu berarti pemerintah Amerika telah memenangkan diplomasi untuk membujuk Mahaska dan pemimpin suku-suku Indian lainnya agar mau hidup bersama-sama membangun negeri Amerika? Pilihan yang diberikan Amerika bagi masyarakat Indian Ioway dengan memberi hak otonomi untuk mengurus dirinya sendiri.

Ataukah, Mahaska yang telah menyadari tidak ada lagi manfaatnya bertempur melawan pasukan Amerika, dan ia lalu mengambil keputusan untuk lebih baik bersama-sama masyarakatnya hidup berdampingan secara damai dengan bangsa kulit putih dengan tetap saling menghargai tradisi dan budaya masing-masing? Pilihan yang dinilainya lebih baik ketimbang bertempur yang tiada habisnya untuk mendirikan negara “Ioway Merdeka” di tengah kekuatan kaum kulit putih yang telah menguasai daratan Amerika.

Idealisme memang bukan fait a compli (sesuatu yang diterpaksakan). Idealisme adalah sebuah pilihan. Termasuk pilihan yang dikompromikan antara pemerintah Amerika dan masyarakat Indian Ioway pada masa itu, ketika Amerika sedang memulai era pembangunan negerinya yang belum lama merdeka.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(42).    Di Bawah Purnama, Kami Kembali Ke New Orleans

Jalan I-49 adalah jalan bebas hambatan yang membelah barat laut – tenggara dari wilayah negara bagian Louisiana yang pada umumnya berupa kawasan datar dan terbuka. Jalan ini berada sejajar dengan sungai Red River yang bermuara di sungai Mississippi. Namun karena kami melintasi daerah itu pada saat malam hari, sehingga tidak dapat melihat apa-apa selain hanya tampak adanya kawasan alam terbuka. Di garis horizon arah tenggara tampak rembulan mulai memancarkan cahayanya, menciptakan bayangan silhouette pepohonan yang tumbuh di sana-sini.

Kami yang sedang melaju ke arah tenggara menjadi seakan-akan sedang disongsong oleh terbitnya rembulan. Mula-mula langit di ujung dunia arah tenggara agak berawan sehingga hanya cahaya cerah saja yang tampak. Namun semakin malam langit semakin cerah, rembulan mulai menampakkan bentuknya ketika berada pada posisi sekitar 10 derajat.

Terlihat bulan penuh dengan latar belakang langit yang tampak bersih dan latar depan bentang alam terbuka luas. Rupanya malam itu memang sedang bulan purnama. Hari Sabtu Pahing, tanggal 15 Juli 2000 adalah bertepatan dengan penanggalan rembulan, malam 14 Rabi’ul Akhir (Bakda Mulud) 1421 kalender Hijriyah.

Semakin malam, jalan bebas hambatan I-49 semakin sepi. Sekali dua kali saya menyalip atau disalip oleh kendaraan lain. Sekali dua kali juga saya berpapasan dengan kendaraan lain yang berada di lajur yang berlawanan arah yang terpisah oleh median jalur hijau bersemak. Di tengah sepinya malam, rasanya kami seperti sedang berjalan menuju ke bulan yang berbentuk bulat penuh yang berada tepat di arah depan kami. Kalaupun saat itu tidak ada siapa-siapa menyertai perjalanan kami kembali ke New Orleans, maka setidak-tidaknya ada bulan purnama yang bergerak semakin tinggi yang terus menemani di depan kami.

Di malam hari terakhir perjalanan kami, yang ada di pikiran kami hanya pokoknya malam itu juga langsung pulang ke New Orleans. Oleh karena itu, rasa kantuk, capek dan letih, seperti termanipulasi dengan semangat untuk segera tiba di New Orleans. Tetap dengan menjaga kewaspadaan, tentunya.

Tidak terasa, menjelang tengah malam saya sudah mendekati ujung selatan jalan I-49. Di kota Opelousas saya keluar dari jalan I-49 dan berpindah masuk ke jalan Hwy 190 yang mengarah ke timur guna mempersingkat jarak menuju ke kota Baton Rouge, ibukota Louisiana. Sekitar satu jam kemudian kota Baton Rouge saya lintasi di pinggirannya saja karena saya segera berpindah ke jalan bebas hambatan I-10 yang menuju ke timur. Dari Baton Rouge tinggal sekitar 126 km lagi untuk sampai ke New Orleans atau sekitar satu setengah jam perjalanan. Anak-anak sudah terlelap tidur sejak tadi di jok belakang mobil.  

Malam semakin larut, namun bulan purnama masih setia mengantarkan kami, bahkan hingga kami berhenti di depan apartemen di New Orleans. Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 02:00 dini hari dan sang purnama sudah berada tinggi di atas angkasa. Berarti sudah masuk hari Minggu, 16 Juli 2000.

Perjalanan panjang lima belas hari mengelilingi setengah daratan Amerika belahan timur telah usai. Secara geografis memang belum sampai setengahnya, namun secara administratif kami telah mengunjungi dan melintasi 33 negara bagian dan ibukota Washington D.C., dari 48 negara bagian yang ada di daratan Amerika. Jarak sejauh 5.500 mil (8.800 km) telah kami jalani dengan menghabiskan 186 gallon (704 liter) bahan bakar minyak. Jarak yang jauhnya kira-kira hampir sama dengan dari Sabang sampai Merauke pulang-pergi.

***

Alhamdulillah“. Kami semua bersyukur bahwa perjalanan panjang telah berjalan dengan lancar dan kami telah tiba kembali ke New Orleans dengan selamat. Tidak kurang suatu apapun, kecuali tabungan yang terpotong oleh tagihan kartu kredit. Namun memang sudah menjadi komitmen kami kemudian, meskipun kedengaran aneh dan mengada-ada, bahwa itu adalah bagian dari sebuah “investasi”.

“Investasi” yang sama sekali tidak kami harapkan hasilnya segera, melainkan sekedar sebuah angan-angan dan harapan. Bahwa kelak, kalau anak-anak besar nanti ingin memahami lebih jauh tentang apa saja yang dapat dipelajari dari negeri besar ini, atau barangkali hanya sekedar ingin napak tilas sepenggal pengalaman masa kecilnya di negeri besar ini, hanya ada satu cara untuk mencapainya : “belajar dan bekerja keras”.

Apakah ini “investasi” yang menjanjikan keuntungan? Kami belum tahu jawabannya. Tapi kami tahu pasti bahwa kami tidak rugi, meskipun tidak untung-untung amat. Keuntungan yang saya yakini sebagai sebuah kenisbian, tidak absolut dan tak terdefinisikan.

Kalau kemudian kami masih memendam keinginan untuk melanjutkan melengkapi sebuah obsesi dengan mengunjungi wilayah-wilayah lain di daratan Amerika ini, maka itu juga adalah bagian dari “investasi”. Yang jelas, kami telah dan akan melihat Amerika, lebih banyak dari yang pernah dilihat oleh umumnya orang Amerika sendiri.

Dan….., masih banyak lagi yang ingin kami lihat. Mewujudkan sebuah obsesi, melengkapi sebuah “investasi”. Insya Allah.-

New Orleans, 25 Januari 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(1).   Tiba Di Juneau Ketemu Sopir Philipino

Setelah menempuh perjalanan panjang dari New Orleans (Louisiana), siang tadi sekitar jam 13:00 AKST (Alaskan Standard Time) atau waktu Alaska, saya mendarat di Juneau, ibukota negara bagian Alaska. Jarak terbang dari New Orleans ke Juneau kalau ditempuh langsung adalah sekitar 7 jam. Tetapi kali ini saya menempuhnya dengan bertahap. Berangkat dari New Orleans hari Senin sore kemarin (23 April) menuju ke Seattle (Washington) dengan transit di Houston (Texas). Tiba di Seattle tengah malam. Hari Selasa siang tadi baru berangkat dari Seattle menuju Juneau menempuh perjalanan udara sekitar 2 jam 15 menit.

Perjalanan bertahap ini saya lakukan karena saya harus mengepaskan dengan pesawat Alaska Air penerbangan No.  75 dari Seattle menuju Juneau, sementara tidak ada penerbangan pagi dari New Orleans yang bisa sambung pada hari yang sama. Maka terpaksa mesti menginap dulu semalam di Seattle.

Alasan untuk mengejar penerbangan No. 75 Alaska Air ini adalah karena saya mau mbarengi Pak Keith Marshall, General Manager tambang perak Greens Creek dimana saya akan melakukan kunjungan tambang selama dua hari. Mempertimbangkan agar nantinya tidak golek-golekan (saling mencari), setiba di Juneau sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi tambang yang relatif terpencil, maka untuk amannya saya memilih mbarengi Sang General Manager.

Perjalanan menuju ke lokasi tambangnya sendiri baru besok pagi. Rencananya akan berangkat dari Juneau jam 04:30 pagi menuju pulau Admiralty menggunakan boat lalu disambung lagi dengan kendaraan darat.

***

Cuaca kota Juneau cukup dingin siang tadi dan hingga sore ini, serta berawan. Suhu udara sekitar 43 derajat Fahrenheit (sekitar 6 derajat Celcius). Langit berawan dengan sesekali hujan rintik-rintik dan cahaya matahari silih berganti menembus awan. Saat ini sedang musim semi (spring). Di belahan lain negara Amerika sudah mulai memanas suhu udaranya, tapi di Alaska yang memang merupakan negara bagian paling utara dari negara Amerika masih saja dingin. Padahal hari-hari ini matahari sedang tepat berada di garis katulistiwa.

Kota Juneau terletak di sisi tenggara wilayah negara bagian Alaska, atau nyelempit di sudut ujung barat daya negara Canada. Meskipun lokasinya masih berada di daratan Amerika Utara, namun kota Juneau dapat dikatakan letaknya terisolir terhadap daratan Amerika, karena untuk mencapainya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan perjalanan udara atau laut. Terhadap kota-kota lain di wilayah Alaska maupun Canada juga tidak ada sarana perhubungan darat, karena kota yang luasnya sekitar 6.700 km2 dan jumlah penduduknya hanya sekitar 31.000 jiwa ini lokasinya dikelilingi laut dan pegunungan bersalju serta glacier (gunung es).

Mengisi waktu sore tadi, saya sempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi Mendenhall Gracier yang lokasinya di sisi barat laut Juneau, tidak terlalu jauh dari kota. Jalan-jalan sore tapi diantar oleh kendaraan hotel yang kebetulan sopirnya orang Philipina. Suhu udara masih cukup dingin, malah sebenarnya saya rasakan sangat dingin. (Mengenai kota Juneau dan Mendenhall Glacier ini mudah-mudahan akan sempat saya ceriterakan lebih lengkap dalam Catatan Perjalanan yang akan saya tulis terpisah).

Sopir Philipino yang mengantarkan saya jalan-jalan sore rupanya cukup surprise ketika tahu ada orang Indonesia yang nyasar ke Alaska. Pasalnya sejak tahun 1988 dia tinggal di Alaska, antara lain di Kodiak (salah satu kota pulau), Anchorage (kota terbesar) dan akhirnya Juneau (ibukota Alaska), belum pernah sekalipun dia ketemu orang Indonesia. Tentu maksudnya bukan tidak pernah ada orang Indonesia datang ke Alaska, hanya saja dia belum pernah menemuinya selama 13 tahun merantau ke Alaska.

***

Malam ini saya memilih untuk istirahat di kamar hotel saja, meskipun sebenarnya matahari baru tenggelam sekitar jam 20:30. Suasana kota Juneau yang memang tidak padat penduduknya ini umumnya juga sudah tampak sepi. Saya pikir akan lebih baik kalau malam ini saya cukup beristirahat, mengingat besok mesti berangkat pagi-pagi dan disambung dengan perjalanan ke tambang bawah tanah Greens Creek.

Meskipun besok akan berangkat jam 04:30 pagi, tapi fajar waktu sholat Shubuh sudah menjelang jam 01:32 dini hari. Yang agak merepotkan saya adalah karena waktu sholat Isya’ baru tiba jam 23:47. Saya belum memutuskan apakah lebih baik tidur dulu atau menunggu waktu sholat Isya’ tiba. Kalau menunggu waktu sholat Isya’ tiba, artinya dua jam kemudian sudah datang waktu Shubuh. Entahlah, tergantung “tingkat kengantukan” saya saja nanti.

Mudah-mudahan besok saya tidak mengalami kesulitan untuk on-line sehingga dapat mengirimkan lanjutan dari surat ini secara tepat waktu. Jika tidak, ya harap dimaklumi kalau terpaksa pengirimannya tertunda.

Juneau, 24 April 2001 – 21:00 AKST (25 April 2001 – 12:00 WIB) 
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(5).   Hari Terakhir Di Juneau

Semalam tidur saya cukup nyenyak setelah dijamu di rumahnya Mas Lorenzo yang ternyata adalah seorang Philipino yang cukup idealis. Oleh perusahaan tempat kerjanya dia sering dipercaya melakukan traveling ke berbagai negara dalam rangka dinas. Dia juga berceritera pernah enam bulan menjadi anggota NPA (New People Army), itu organisasi militer bawah tanah-nya Philipina.

Hari Sabtu ini adalah hari terakhir saya di Juneau, Alaska. Pesawat Alaska Airlines yang saya tumpangi dari Juneau tinggal landas jam 19:04 menuju Seattle, lalu akan disambung dengan pesawat Continental Airlines menuju Houston dan akhirnya ke New Orleans. Jika tidak ada halangan saya baru akan tiba di New Orleans pada hari Minggu pagi besok sekitar jam 09:00.

Siang tadi saya ajak Mas Rodel untuk menemani menyusuri jalan utama kota Juneau, yaitu Highway 7 yang menuju ke arah barat laut yang merupakan penggal jalan Glacier Highway dan Veteran Memorial Highway. Sedangkan penggal jalan yang menuju ke arah tenggara disebut Thane Road. Rute jalan yang menuju barat laut ini kira-kira sepanjang 40 mil (64 km). Dapat dikatakan selepas dari kota Juneau jalan ini sangat sepi, membentang menyusuri pesisir barat daya Juneau.

Hampir di sepanjang perjalanan di sisi barat daya jalan tampak Selat Favorite yang memisahkan daratan Juneau dengan beberapa perbukitan di pulau-pulau kecil yang puncaknya tertutup salju. Di sisi timur laut jalan juga berupa perbukitan yang puncak-puncaknya tertutup salju. Hutan pepohonan pinus mendominasi pemandangan di sebelah-menyebelah pinggir jalan.  

Siang tadi cuaca sangat cerah, tidak sebagaimana beberapa hari terakhir saya berada di kota ini. Suhu udara berkisar 52 derajat Fahrenheit (sekitar 11 derajat Celcius). Cukup hangat. Matahari juga memancarkan sinarnya. Nyaris tidak banyak awan menghalangi. Perjalanan menyusuri Glacier Highway pun berjalan lancar. Sesekali ketemu dengan orang-orang atau kendaraan lain yang sedang mengisi liburan dengan memancing, berperahu, berkemah, sekedar jalan-jalan santai atau piknik di hutan pinus, bersepeda, serta ada juga yang berolah raga panjat tebing. 

Jalan Glacier Highway ini rupanya habis di sekitar mil ke 40 (km ke 64). Buntu dan tidak ada terusannya lagi. Hanya ada kawasan untuk berekreasi. Itulah jarak terjauh yang dapat dijelajahi ke arah barat laut dari wilayah kota Juneau yang memang wilayahnya terisolir dari mana-mana, kecuali dihubungkan melalui sarana udara dan laut. Setelah berhenti beristirahat sejenak lalu kembali menuju ke kota Juneau.

Di perjalanan kembali ke Juneau ini, saya sempatkan untuk berhenti beberapa kali menikmati pemandangan alam laut dan pantai yang indah dengan latar belakang pulau-pulau dengan puncak bukitnya berwarna putih kemilau karena salju yang memantulkan cahaya matahari. Sempat juga berhenti sejenak melihat beberapa orang yang sedang berolahraga panjat tebing di pinggir jalan. Siang tadi saya sungguh beruntung, sempat menjumpai seekor beruang hitam yang sedang longak-longok di pinggir jalan.

Kata orang, beruang hitam ini termasuk jenis beruang yang pemalu, ukuran badannya agak kecil dan kurang agresif. Kalau ketemu suasana hiruk-pikuk cenderung menghindar. Berbeda dengan jenis beruang coklat (grizzly) yang postur tubuhnya lebih gagah dan besar, serta lebih agresif.

***

Kota Juneau memang tidak besar serta tidak sepadat atau sesibuk kota-kota lainnya di Amerika. Dengan mengalokasikan waktu sehari saja rasanya sudah akan dapat menjangkau semua kawasan yang dapat dikunjungi.

Setiba kembali dari ujung jalan Highway 7, saya menuju ke downtown. Di sana ada sarana wisata kereta gantung (tramway) yang menghubungkan pusat kota dengan salah satu Puncak bukit di utaranya. Menurut brosur wisatanya, di puncak bukit itu kita dapat jalan-jalan menikmati pemandangan kota dari ketinggian dan menikmati suasana alam di dekat kawasan bersalju. Ongkosnya sekitar $20 per orang pergi-pulang (naik dan turun lagi dengan tram).

Setiba di bagian penjualan tiket, saya lihat kok sepi sekali, malah saya mesti ketuk-ketuk pintu dulu sebelumnya. Wow…, rupanya kegiatan wisata naik kereta gantung (tramway) ini hanya dibuka pada musim panas (summer) saja. Untuk tahun ini baru akan mulai dibuka tanggal 1 Mei nanti.

Wah, rupanya timing saya untuk berwisata ke Alaska memang tidak tepat. Beberapa obyek wisata alam juga umumnya baru buka saat musim panas tiba. Malah ada yang hanya bulan Juli-Agustus saja setiap tahun. Barangkali karena masih banyak kawasan yang tertutup salju saat di luar musim panas.

***

Sekitar jam 6:00 sore lebih, akhirnya saya menuju ke bandara international Juneau dengan diantar oleh sahabat baru saya yang orang Philipino, Mas Rodel Bulaong. Agak terlambat check-in, tapi tidak menjadi masalah karena pesawat Alaska Airlines yang terbang ke Seattle malam ini tidak terlihat penuh penumpang.

Jam 19:00 lebih sedikit, pesawatpun lalu tinggal landas meninggalkan bandara internasional Juneau. Hari masih sangat cerah, wong matahari masih tampak agak tinggi. Ini dapat dipahami karena matahari baru akan terbenam selepas jam 20:30.

Begitu lepas landas tadi, pesawat langsung berada di sela-sela perbukitan yang putih berkilau oleh hamparan salju. Lalu semakin tinggi dan semakin tinggi, hingga akhirnya berada pada ketinggian sekitar 10 km di atas permukaan laut. Perjalanan dari Juneau menuju Seattle akan ditempuh sekitar 2 jam. Diperkirakan akan mendarat di Seattle sekitar jam 22:00 waktu Seattle (21:00 waktu Alaska).

Sebentar lagi pesawat Alaska Airlines yang saya tumpangi akan tiba di Seattle, maka tulisan inipun segera saya akhiri, karena laptop saya segera akan saya matikan. Terdengar pak sopir pesawat sudah berhalo-halo memberitahu kepada penumpang bahwa pesawat segera akan mendarat di Seattle. Mudah-mudahan setiba di New Orleans hari Minggu besok, surat bagian terakhir ini dapat segera saya posting.

Usai sudah perjalanan singkat lima hari ke Juneau, Alaska, dalam rangka mengunjungi tambang perak bawah tanah Greens Creek. Tentu saja tidak saya sia-siakan kesempatan untuk dapat melihat lebih banyak daerah di sekitar Juneau di sela-sela waktu kunjungan tambang.- (Selesai).

Antara Juneau dan Seattle (di pesawat Alaska Airlines), 28 April 2001- 20:00 AKST (29 April 2001 – 11:00 WIB)
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

5 Februari 2008

Pengantar :

Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya telah membawanya untuk bekerja di tempat yang jauh dari sanak famili.-

(1).     Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
(2).     Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
(3).     Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
(4).     Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
(5).     Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
(6).     Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
(7).     Jika Ingin Tilpun dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
(8).     Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
(9).     Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Sehari Di Selatannya Denver

5 Februari 2008

Pengantar :

Sekedar memanfaatkan waktu luang sehari seusai mengikuti kursus “Mine Evaluation” di Golden, saya melakukan perjalanan singkat ke kawasan di sebelah selatannya kota Denver, Colorado, sebelum kembali ke New Orleans. Hari itu, tanggal 9 Desember 2000 yang bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan 1421 H dan pertengahan musim dingin. Sekedar berbagi cerita.-

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge
(2).   Turun Ke Dasar Ngarai
(3).   Purnama Di Taman Dewata 

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.