Archive for Oktober, 2009

Good Bye Telkomsel Flash

29 Oktober 2009

Tsel Flash-ku masih terkapar, terpaksa belum bisa on-line

(Sejak dua hari yll. Telkomsel Flash andalanku dalam berinternet murah dan unlimited ternyata klepek-klepek nyaris modar….., sudah diutak-atik-utak enggak bisa-bisa juga….)

Yogyakarta, 23 Oktober 2009

***

Sudah semingguan Tsel Flash semaput, (membuat saya jadi) jauh dari internet…. Sambil nunggu siuman, (lalu) nyoba IM3 dulu….. Serasa seperti baru pulang dari luar angkasa….

(Lumayan, kembali dapat menjumpai teman-teman di dunia maya)

IM3 ongkosnya Rp 1,-/kb. Belum lama klak-klik-klak-klik, tahu-tahu 5Mb terpakai dan Rp 5.000,- bablasss…..

(Oh, borosnya…… Hanya cocok untuk keadaan darurat)

Yogyakarta, 27 Oktober 2009

***

Akhirnya hari ini saya putuskan mem-PHK Telkomsel Flash. Penggantinya sedang diseleksi. Kayak-nya kandidat kuatnya BB…. Itu juga tergantung kalau minggu ini korupsi saya berhasil, dan tidak konangan ‘boss’…..

(Bukan saja Tsel Flash-ku enggak konek-konek, tapi juga konon sekarang tidak ada lagi paket unlimited yang murah. Mendingan putus hubungan dulu dan cari gantinya….. Beberapa teman menyarankan agar ganti BB saja. Maka mesti tanya-tanya info ke teman soal per-BB-an, tentang tipe, spesifikasi dan harga yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kantong, tentu saja. Maklum, rada-rada gaptek kalau soal gadget yang beginian…)

Yogyakarta, 28 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras

28 Oktober 2009

Cuaca seminggu teIMG_2696_rrakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini naga-naganya sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau…..

Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat njumbul-njumbul naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang.

Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. “Waduh, ada apa ini”, pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan…… Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya…. mak jedug, menyentuh landasan bandara Cengkareng. Alhamdulillah, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban.

Saya menguping percakapannya. “Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi”, kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : “Saya juga sudah sport jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja”. Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka aja. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil.

Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : “Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya…”, begitu kira-kira katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan kok ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : “Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa kan masih bisa ditemukan. Lha kalau naik pesawat, hilang entah kemana”. Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?.

***

Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : “Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?”.

Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : “Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak”.

Ooo, begitu to…… Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat.

Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan…. Lho, apanya?

Yogyakarta, 26 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Ikut Invitasi Free Style

28 Oktober 2009

Malam ini anak lanang pamit ke Jakarta. Bersama klubnya ikut invitasi free style (gaya bebas yang bukan renang) di Plaza Senayan (katanya). Le…le… aya-aya wae

(Anakku Noval, 15 th, akhir-akhir ini giat berlatih free syle….. itu semacam ‘akrobat’ memainkan bola basket tapi tidak di lapangan basket. Satu jenis kegiatan yang tidak saya kenal di jaman saya kecil dulu…… Entah bagaimana dia bisa bergabung di klub ‘Kingdom Free Style’ Jogja yang kebanyakan anggotanya para mahasiswa dan sering berlatih demo di pelataran benteng Vredenburg, Jogja. Klub ini sering diminta mengisi acara demo yang bukan unjuk rasa di seputar kawasan Jateng-DIY….. Biasanya sponsornya produk tembakau yang dapat menyebabkan kanker…. hiks…..

Untuk keperluan event invitasi antar kota di Jakarta, rupanya Noval sangat bergairah untuk ikut ambil bagian, sama ngototnya ketika mau ikut mendaki gunung….. Dasar!….. Akhirnya saya mendukung dengan menyediakan sarana transportasinya. Mudah-mudahan kalian sukses, le…..)

Yogyakarta, 27 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Bakmi Mbah Slamet

28 Oktober 2009

Berburu bakmi jawa Mbah Slamet, Kotagede, Jogja. Hmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…..

Seharian ini istriku grundelan : “Penyiar TV ini kayak kekurangan berita, soal poligami disiarkan terus…”. Untuk meredamnya, saya ajak istriku berburu bakmi…

(Selengkapnya tentang bakmi jawanya Mbah Slamet Kotagede ini saya ceritakan dalam tulisan di bawah atau dapat dilihat di Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede, Yogyakarta)

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Peluang Improvisasi (Lagi)

28 Oktober 2009

Ndak ada hujan ndak ada angin, datang tamu dikenal, lapor bahwa penghasilannya yang pas-pasan sudah tidak pas lagi untuk biaya hidup seminggu ke depan, bagi dia, istri dan bayinya, plus bayar listrik dan transport. Lalu mau pinjam uang 100 ribu rupiah, minta tempo seminggu…………..

Puji Tuhan wal-hamdulillah, kata hati saya. Tuhan memang ruarrr biasa…., untuk kesekian kalinya memberi saya kesempatan, apakah saya masih “sempat” ber-improvisasi (lagi)…

(Terkadang heran juga…., kenapa justru teman ini datang ke rumahku. Kenapa bukan ke rumah tetangga atau orang lain yang jelas lebih mampu dan layak dari sisi finansial. Agaknya Tuhan sedang memberi ‘peluang bisnis’ kepadaku, dan peluang itu tidak saya sia-siakan. Peluang yang kalau dicari tidak pernah ada dan mungkin tidak akan datang kedua kali…..)

Yogyakarta, 19 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

HUT Ke-253 Yogyakarta

28 Oktober 2009

Makan malam (di rumah), dengan menu sayur lodeh ndeso dan rendang, sambil nonton (acara) Jogja Java Carnival (HUT kota Jogja ke-253) di Jogja TV…

(“Selamat Ulang Tahun kotaku, Ngayogyokarto Hadiningrat”)

Yogyakarta, 17 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Maju Terus Pantang Mundur

28 Oktober 2009

Hari ini belajar tentang semangat ‘maju terus pantang mundur’. Kedatangan tamu yang luar biasa….. Sang istri menjadi ibu rumah tangga biasa, beranak 3 dan sedang hamil anak ke-4, sambil menyelesaikan S3 yang tertunda-tunda karena kendala biaya. Hal yang sama dialaminya ketika menyelesaikan S1 dan S2. Sang suami jual beras dan  telor sambil menyelesaikan S2. Satu hal yang disyukurinya : hidup sewajarnya tapi merdeka dan bisa sholat tepat waktu….

(Hormat dan penghargaan untuk saudara baruku, mas Basuki dan mbak Rini, sepasang suami-istri dengan tiga anak, malah mau empat, yang sedang berjuang menyelesaikan studinya atas inisiatif dan biaya sendiri di tengah serba keterbatasan mereka. Menjadi pedagang sembako adalah pilihan mas Basuki untuk mencukup kebutuhan keluarganya. Semoga Allah swt. memudahkan langkah pengabdiannya yang patut menjadi teladan bagi siapa saja yang bersemangat ‘maju terus pantang mundur’ dalam menuntut ilmu….)

Yogyakarta, 17 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Berburu Bakmi Mbah Slamet Di Kotagede

27 Oktober 2009

IMG_4405_r1

Penggemar bakmi jawa di Jogja ini memang dimanjakan. Hampir di setiap sudut jalan mudah dijumpai adanya gerobak bakmi dengan aneka cita rasanya. Sebagian diantaranya sudah cukup kondang, bahkan dikenal oleh warga pendatang dari luar kota. Soal rasa, itu tergantung selera dan sensitifitas lidah masing-masing.

Berburu bakmi bisa jadi agenda wisata malam yang sekali-sekali perlu dicoba. Hanya kalau sudah bisa menikmati sensasi bakmi jawa yang khas dengan taste bawang putih dan kemirinya itu, maka yang tadinya sekali-sekali bisa jadi berkali-kali. Sebab banyak pilihan warung bakmi perlu dicoba. Dan satu-satunya cara untuk bisa mengatakan enak atau tidak adalah setelah mencoba mencicipinya sendiri.

Maka pergilah berburu bakmi di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Atas saran beberapa rekan, saya dan keluarga mencari lokasi bakmi Mbah Slamet. Sebuah nama yang belum banyak dikenal orang di dunia perbakmian Jogja. Tidak sulit untuk menemukan lokasi warung ini meski tidak ada tulisan apapun di depan warung bakmi Mbah Slamet ini. Tepatnya berada di Jl. Pramuka 80, Kotagede, Jogja (sebelah timur toko Pamela Swalayan). Di rumah itu pula Mbah Slamet dan istrinya kini tinggal berdua menuntaskan hari tuanya sambil berjualan bakmi.

Ketika kami datang, Mbah Slamet sedang duduk leyeh-leyeh di atas lincak (kursi panjang terbuat dari bambu). “Lho kok sepi, Mbah?”, tanya saya. “Wong niki nembe mawon buka” (ini baru saja buka), jawabnya. Maka jadilah kami bertiga, saya bersama istri dan anak perempuan saya, menjadi pembeli pertamanya. Penglaris, kata orang (tapi ya tetap saja mbayar….). Sementara istri Mbah Slamet masih terlihat sibuk membantu memberes-bereskan perlengkapan warungnya. “Kolo wau kerinan (tadi terlambat bangun)”, kata Mbah Slamet. Rupanya sore itu mereka kecapekan sehingga ketiduran dan terlambat bangun. Maklum, namanya juga mbah-mbah.

Mbah Slamet biasa buka sesudah maghrib. Jam berapapun maghribnya, pokoknya bubar maghrib (usai sholat maghrib) baru buka dan sekitar jam sebelas malam biasanya bakminya sudah habis. Setiap hari Mbah Slamet dan istrinya bekerja sama menjual bakmi jawa menempati teras depan rumahnya. Mbah Slamet urusan perbakmian, sedangkan istrinya urusan cuci-mencuci piring dan perminuman spesialis minuman tanpa es. Jadi jangan pesan es teh atau es jeruk, sebab Mbah Slamet tidak menyediakan es.

Begitulah kegiatan rutin setiap hari sepasang kakek-nenek bak mimi lan mintuno, Mbah Slamet berdua saja dengan istrinya. Ketika saya tanya berapa putranya, dijawabnya : “Kosong, mas….”. Sejenak saya mengernyutkan dahi berusaha memahami maksud jawaban Mbah Slamet, baru kemudian saya ngeh dan merasa bersalah telanjur menanyakannya, sebab ternyata Mbah Slamet dan istrinya tidak dikaruniai anak. Lebih-lebih ketika Mbah Slamet berkata lirih sambil tetap sibuk meracik bakmi : “Wong meniko namung kangge nyambung gesang kok mas (yang dilakukannya ini cuma untuk sekedar menyambung hidup saja)”. Tutur kata bernada datar dari Mbah Slamet itu terasa getir dan nglangut (mengawang-awang) terdengar di telinga saya. Ya, betapa tidak. Dua orang kakek-nenek bahu-membahu berjualan bakmi setiap hari hingga usia tuanya, sementara tidak ada yang diharapkan meneruskan generasi bakmi sesudah mereka. Boro-boro menimang cucu. Tadinya saya mau tanya sampai kapan akan berjualan bakmi, namun pertanyaan itu lalu saya batalkan. Ada perasaan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut.

Begitu lugu dan sederhananya. Sesederhana warungnya yang hanya diisi sebuah meja dengan tiga buah lincak diterangi cahaya sebuah lampu 25 Watt di atas mejanya, berdinding kerei (dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu). Kalau pembelinya banyak, biasanya kemudian mereka rela duduk di trotoar jalan atau sambil nongkrong di atas sadel sepeda motornya. Namun Mbah Slamet begitu pede-nya ketika ditanya kok tidak ada tulisan apapun di depan warungnya agar mudah dicari orang. Jawabnya : “Sampun sami ngertos mas (sudah pada tahu mas)”, yang maksudnya para pelanggannya sudah pada tahu dimana lokasi warung bakminya. Bahkan ketika saya tawari mau saya bikinkan spanduk pun dijawabnya : “Walah, mboten usah mas (tidak usah mas)”. Walah, Mbah Slamet…..

IMG_4404_r1Soal cita rasa bakminya? Karena dalam kamus makan-memakan ini hanya ada dua kategori cita rasa makanan, yaitu hoenak dan hoenak tenan, maka bakmi Mbah Slamet tergolong hoenak. Jam terbangnya di dunia perbakmian sudah membuktikannya. Memulai bisnis perbakmian sejak 37 tahun yll. dan masih bertahan dengan menyajikan sekitar 50 piring per hari hingga saat ini kiranya cukup membuktikan bahwa cita rasa bakmi Mbah Slamet tidak diragukan. Ada yang cocok dan ada yang tidak, itu hal yang lumrah. Dari dulu hingga kini Mbah Slamet tidak pernah mengubah resep racikan bakminya. Ya begitu-begitu itu.

Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak tahun 1972 dengan lokasi warungnya berada di depan terminal bis THR Jogja (sekarang Pura Wisata di Jl. Brigjen Katamso). Masih jelas dalam ingatan Mbah Slamet, bahwa waktu itu masih jaman Toto Koni (ini sejenis lotere yang di jaman itu masih legal). Bisa ditebak bahwa waktu itu Mbah Slamet melayani para penggemar judi atau lotere yang suka mangkal di depan terminal bis yang biasanya beraktifitas di malam hari, yang sedang kelaparan. Kalau sekarang usia Mbah Slamet 67 tahun, itu berarti Mbah Slamet memulai bisnis bakminya sejak usia 30 tahun.

IMG_4406_r1Ubo rampe bakminya sebenarnya standar saja. Setelah telur bebek digoreng di atas wajan dengan menggunakan pemanas arang di atas anglo, lalu diberi adonan bumbu yang terdiri dari campuran bawang putih, ebi (udang kering) dan sedikit kemiri, lalu dituang air sebanyak kebutuhannya untuk bakmi rebus atau bakmi goreng, ditambah irisan kol dan daun bawang, dua genggam mi putih dan mi kuning, suwiran ayam kampung, lalu diaduk hingga masak. Padahal ya cuma begitu, tapi kok ya hoenak…. Lebih-lebih bakmi rebusnya, sruputan pertama kuahnya yang masih panas itu terasa segar benar. Ukuran sepiring penuh bakminya yang dihargai Rp 7.000,- itu cukup banyak.

Akhirnya setelah kenyang menyantap bakmi rebus Mbah Slamet, kami pun pamit pulang dan tidak lupa saya sampaikan sekedar pujian atas bakminya yang enak sambil berucap “matur nuwun”. Eh, malah dijawab : “Kulo ingkang matur nuwun (saya yang terima kasih)”, katanya sambil tersenyum dengan terus melayani enam orang pembeli yang sudah mengantri. Bakminya Mbah Slamet, hmmmmmm…. bakminya full, enggak setengah-setengah…

Yogyakarta, 22 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

IMG_4408_r

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 4

16 Oktober 2009

Matahari sudah naik sepenggalah. Tiba-tiba ada suara orang ketuk-ketuk pagar halaman rumah. Bunyinya cukup keras mengagetkan. Ketika saya lihat keluar ada seorang kakek berdiri di depan pagar sambil meletakkan pikulannya (bukan pukulannya). Rupanya kakek itu adalah seorang penjual keranjang yang bermaksud menawarkan dagangannya sambil minta ijin untuk beristirahat sebentar.

Di depan rumah saya memang ada tempat duduk dengan konstruksi tembok berkeramik putih. Cocok untuk duduk santai di kala tidak panas dan tidak hujan (kalau hujan duduk-duduknya harus sambil bawa payung…). Tempat duduk itu juga tidak dilengkapi dengan atap atau kanopi, karena khawatir dikira halte bis. Tanpa atap saja sudah disenangi orang untuk tempat isirahat, seperti kakek yang pagi itu kecapekan berkeliling kampung menjajakan dagangannya sejak pagi.

”Kebetulan…”, kata saya dalam hati. Ini peluang yang tidak datang saban hari atau bahkan sebulan sekali pun belum tentu. Bukan! Bukan peluang untuk membeli keranjang, melainkan peluang untuk melakukan improvisasi.

Saya lalu kembali masuk rumah dan bilang sama ibunya anak-anak : ”Itu ada yang nawarin keranjang untuk tempat pakaian kotor…”. Istri saya menjawab : ”Ah, masih punya kok….”. Pemberitahuan kepada istri saya itu memang sekedar basa-basi karena sebenarnya saya sudah tahu kalau di rumah masih punya keranjang pakaian yang kondisinya masih bagus.

Sebenarnya saya hanya ingin melakukan test. Rupanya apa yang ada di pikiran saya berbeda dengan apa yang ada di pikiran istri saya. Istri saya berpikir praktis-logis-realitis, tanpa perlu mempertimbangkan hal-hal di luar itu. Di rumah sudah ada keranjang, jadi untuk apa beli lagi?. Begitu kira-kira bunyi pikirannya. Sementara yang ada di pikiran saya berbeda.  Ada seorang kakek ndeso yang berjalan keliling kampung seharian sambil memikul menawar-nawarkan keranjang. Kalaupun tidak membeli keranjangnya, apa yang bisa saya lakukan? Begitu kira-kira jalan pikiran saya berimprovisasi.

Wajarnya seorang perempuan ex-officio menteri keuangan negeri rumah tangga, inginnya serba pragmatis. Ini memang bukan soal baik-buruk atau salah-benar. Ini soal permakluman saja. Siapapun harus memaklumi kalau punya menteri keuangan perempuan, maka kadar sentuhan improvisasinya akan berbeda dengan sentuan-sentuhan sektor riil lainnya. Karena saya suka dengan sentuhan yang lainnya itu, maka sentuhan improvisasinya tidak terlalu saya hiraukan.

Ketika kakek tua itu duduk beristirahat, lalu saya tanya : ”Sudah sarapan pak?”. Sebutan kakek sebenarnya membahasakan anak saya, karena usia sebenarnya tentu saja seusia orang tua saya. Kakek itu menjawab : ”Sampun (sudah)…”.

Saya menyadari kalau apa yang saya tanyakan adalah pertanyaan basa-basi. Seandainya benar bahwa kakek itu belum sarapan, saya duga pasti juga akan bilang ”sampun”, khas pembawaan orang desa yang rendah hati (adakalanya campur sungkan dan malu). Karena itu segera saya kembali masuk rumah lalu mengambil air mineral dingin untuk saya suguhkan kepada kakek itu. Kebetulan sekali pagi itu istri saya baru saja membuat perkedel jagung masih hangat. Ini jenis makanan yang jarang dijual orang dan kalau kepingin terpaksa harus bikin sendiri (wuih… enak tenan dimakan dengan cabe rawit….). Maka sekalian saja saya ambil beberapa biji lalu saya taruh di atas piring kecil dan saya bawa keluar disuguhkan kepada kakek itu sebagai sarapan.

Sambil menyajikan suguhan, kemudian saya ikut duduk leyeh-leyeh bareng kakek penjual keranjang yang sedang beristirahat, sambil mengobrol ngalor-ngidul. Wajah tua nan letih tergurat jelas di wajah kakek itu, namun senyum dan rona cerahnya seolah mencerminkan keikhlasan dan kedamaian hatinya. Saya memang hanya menduga. Tapi dari obrolan kami selanjutnya menyiratkan bahwa dugaan saya benar.

Kakek yang biasa dipanggil pak Asmudi dan berasal dari sebuah dusun di kawasan Imogiri, selatan Yogyakarta, masih naik lagi ke arah perbukitan menuju kecamatan Dlingo itu bercerita banyak tentang dirinya. Ketika saya tanya berapa umurnya, dia menjawab : ”Seket gangsal (lima puluh lima)”. Jelas saya tidak percaya, karena berarti lebih pantas saya sebut kakak, bukan kakek. Lalu katanya lagi mengoreksi : ”Tapi ya mungkin sekitar 60 tahun”. Dan saya masih tidak percaya. Akhirnya kami sepakat bahwa umur yang pantas bagi kakek itu adalah 65 tahun. Lha wong sama-sama tidak tahu umurnya, ya demokratis saja, lalu dibuat kesepakatan. Umur pensiun pejabat saja bisa diulur-ulur apalagi kok cuma umur tukang keranjang, yang berapapun umurnya tidak akan berpengaruh apapun bagi nasibnya. Berbeda dengan masa jabatan seorang pejabat.

Pak Asmudi lalu melepas sandal jepit warna birunya yang untungnya masih tampak berbentuk sandal, lalu mengangkat satu kakinya disilangkan di atas tempat duduknya. Sambil menatap kakinya yang nampak berwarna sawo busuk, mengkilap, berkulit keras, pecah-pecah dan njeber (melebar), pak Asmudi bercerita dengan bangga dan penuh syukur (karena beberapa kali mengucapkan kalimat ”alhamdulillah” dalam omongannya), bahwa empat dari lima anaknya sudah mentas (hidup berumah tangga yang berarti tidak lagi menjadi tanggungannya). Kini, dia dibantu anak bungsunya dan istrnya bekerja menganyam bambu untuk dijadikan keranjang. Kawasan seputaran Imogiri memang merupakan salah satu sentra industri rumahan anyaman bambu. Selain berupa keranjang pakaian yang oleh orang kampungnya disebut gorong, para tetangganya juga membuat tambir atau tampah, kalo atau saringan dari bambu.

Untuk membuat anyaman keranjang bambu sebenarnya melalui tahapan pekerjaan yang tidak sederhana. Bambunya lebih dahulu direndam dalam air sebelum disayat tipis-tipis. Belum lagi ketika mewarnai juga direndam dalam air berwarna (orang desa biasa menyebut di-naptol). Proses rendam-merendam ini bisa berlangsung beberapa hari. Sedangkan untuk menganyamnya sehari bisa selesai. Makanya pak Asmudi setiap empat-lima hari sekali turun ke kota sambil membawa keranjang bertumpuk-tumpuk.

Seperti kebiasaannya setiba di terminal, lalu mulailah berjalan kaki menyusuri kampung-kampung menawarkan keranjangnya. Entah berapa kilometer jarak tempuh perjalanannya sejak pagi hingga sore. Beruntung kalau sehari itu langsung habis, berarti bisa pulang dengan ongkos lebih murah karena tidak harus membayar ongkos angkut keranjangnya yang tentu saja memakan tempat di kendaraan sehingga harus membayar lebih mahal. Kalau hari itu tidak habis? Pak Asmadi berkata lugu : ”Rejeki sampun wonten ingkang ngatur…. (rejeki sudah ada yang mengatur)”, katanya ringan sambil terkekeh kecil.

Satu set keranjangnya biasanya terdiri dari tiga ukuran. Boleh dibeli satu set, boleh juga satu atau dua ukuran saja. Meski keluarga saya sebenarnya sedang tidak membutuhkan keranjang pakaian, pagi itu saya beli juga sebuah yang berukuran paling kecil yang katanya untuk saya dihargai Rp 10.000,- yang akhirnya saya bayar lebih. Karena sesungguhnya saya bukan sedang membeli keranjang (toh sampai sekarang keranjang itu nganggur), melainkan saya sedang membeli peluang untuk memberi kesempatan kepada pak Asmudi memperoleh penghasilan yang halal.

Peluang itulah yang saya beli. Dan sesungguhnya bukan saja peluang itu, melainkan peluang ikutannya seperti memberi sekedar minum dan sarapan. Bahkan memberinya pakaian pantas pakai ketika sebelum pak Asmudi pamit melanjutkan perjalanannya sempat bertanya apa punya telesan (atau basahan, yang maksudnya pakaian bekas yang bisa dipakai di rumah). Apa yang saya lakukan pagi itu sesungguhnya hanya sebuah langkah kecil yang secara kasat mata relatif tidak berarti banyak. Namun saya menganggap bahwa improvisasi hidup semacam itu terkadang perlu dilakukan, agar irama kehidupan ini tidak membosankan.

Tuhan memang ruarr biasa….. telah memberi saya kesempatan berimprovisasi di pagi itu, sambil duduk leyeh-leyeh mengobrol santai ngalor-ngidul dengan kakek penjual keranjang. Kesempatan yang tidak datang setiap saat dan yang ketika datang malah jarang dilihat apalagi ditangkap orang. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang, dan kalau kemudian kesempatan itu datang sepertinya banyak hal menghalangi untuk merealisasikannya.

Yogyakarta, 16 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2
Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 1

Menabrak Orang Mabuk

14 Oktober 2009

Baru dua minggu anakku punya motor baru, sudah berhasil menabrak orang mabuk (yang lagi sempoyongan) menyeberang jalan tadi malam. Lampu pecah, motor rusak ringan, kening lecet… Cuma anakku heran, kok ortunya tidak marah.

Maka agar tidak terlalu mengecewakannya, habis jama’ah maghrib malam ini terpaksa diadakan kultum tentang ‘safety nunggang honda’ (cap apapun motornya, sebut saja honda).

Yogyakarta, 14 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Rokokku Hilang Di Mushola

14 Oktober 2009

Rokokku dan korek apinya hilang di mushola sebuah kantor di Jakarta, padahal di situ tidak ada yang jual rokok. Sekalian saja kotak amalnya tak tambahin. Serik aku…

(Sementara sholat dzuhur, rokok saya taruh dulu di sudut mushola. Usai sholat lupa saya ambil dan ketika saya kembali ke mushola sudah menghilang. Cilakanya di kompleks perkantoran itu tidak ada yang jalan rokok)

Jakarta, 13 Oktober 2009
Yusuf iskandar

Perjalanan Silaturrahim Ke Kudus

14 Oktober 2009

Di bawah ini penggalan catatan perjalanan ke Kudus pada tanggal 11-12 Oktober 2009 yll dan saya posting di facebook :

Maksud hati mau nyoba garang asem, apa daya adanya baru siang, gantinya sarapan tahu campur di Kudus … Sedap juga euy….

Mengunjungi masjid Menara Kudus..

Jenang kudus Sinar 33 yang melegenda, menyongsong seabad berdirinya. Lengket tapi perlu….

Jangan cari menu sapi di Kudus. Maka cicipilah sop dan sate kerbau khas Kudus….. Moooooo…..

Kudus, 11 Oktober 2009

***

On the way back to Jogja, mampir ngopi dan nahu (makan tahu) bandungan di ‘Banaran Coffee and Tea’, nJambu, Ambarawa, dekatnya Syech Puji… ‘thengngng’…

(Ini adalah perjalanan silaturrahim kepada sanak saudara yang sudah suangat lama, mungkin lebih 25 tahun, tidak bertemu. Tentu saja selain bersilaturrahim juga sambil melakukan wisata kota dan kuliner)

Ambarawa, 12 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Pamit Haji

14 Oktober 2009

Tadi malam menghadiri undangan pengajian dalam rangka pamit haji seorang tetangga. Intinya adalah : “Pergi haji kok nunggu panggilan……………”

Yogyakarta, 10 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Seorang Kakek Kecapekan

14 Oktober 2009

Seorang kakek duduk leyeh-leyeh di depan rumah, beristirahat setelah berkeliling memikul dan menjajakan hasil kerajinan keranjang anyaman anaknya. Kesempatan, pikir saya…. Ya, kesempatan untuk ber-‘improvisasi’ (lagi)…… Tuhan memang ruarrr biasa kalau mau menawarkan kesempatan dan peluang. Dan jangan lupa bahwa tidak setiap orang memperolehnya…..

Yogyakarta, 9 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Banjir Bandang

7 Oktober 2009

Banjir Bandang di Tanggamus, Lampung…..

Belum reda petaka gempa
banjir dan longsor datang menjelma
kian lengkap bencana mendera
satu-dua korban tiada bukan berarti lantas dilupa
sungguh berat beban Sumatera
menunaikan langkah demi langkah di alam fana
menjadi cermin bagi siapa hamba
menyempurnakan cita menuju tanah sorga….

Yogyakarta, 6 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Stroke

7 Oktober 2009

Malam ini menjenguk seorang teman yang terkena stroke. Terlihat ingin banyak berkata dan bercanda, apa daya mulut tidak mampu diajak bekerjasama. Betapa tidak mudahnya menjaga semangat untuk kembali seperti sedia kala. Teriring doa semoga Tuhan berkenan memberi kesempatan kedua…..

(Mas Herry ‘Tuyul’, semoga lekas sembuh…. Amin)

Yogyakarta, 5 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Hijau Pepohonan

6 Oktober 2009

10116_1233599806404_1421457436_661776_1104748_n

Teman saya Riady Bakri (Jakarta) mengabadikan bentang pepohonan dalam sebuah fotonya yang diberi judul “Let’s Go Green”. Foto dambil di kawasan hutan sekitar air terjun Coban Rondo, Batu, Malang, Jatim. Tangkapan ini memberi nuansa kuat akan indahnya gradasi warna hijau pepohonan, sekaligus membangkitkan nuansa batin akan pentingnya menjaga hijaunya hutan kita.

Yogyakarta, 6 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Foto ini di-upload di album foto Riady Bakri di Facebook

Antara Keinginan Dan Doa

3 Oktober 2009

Bencana gempa yang memporak-porandakan wilayah Padang, Pariaman dan sekitarnya di provinsi Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 dan keesokan harinya terjadi di wilayah Kerinci di provinsi Jambi, benar-benar membuat miris dan prihatin. Bisa dibayangkan betapa penderitaan yang sedang dialami oleh masyarakat korban gempa di sana, sebagaimana hal yang kurang lebih sama juga pernah terjadi di Aceh, Bengkulu, Tasikmalaya, Jogja dan tak terbilang lagi di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Tayangan televisi yang sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia, semakin membuat dramatis dari kondisi sebenarnya di lapangan. Media televisi telah membuat seolah-olah bencana itu ada di depan mata siapa saja yang kebetulan menyaksikan siarannya. Dampaknya, simpati dan empati masyarakat yang tidak mengalami langsung bencana itu seperti menjadi mudah tersentuh dan tergugah.

***

Menyaksikan siaran televisi yang memberitakan tentang kedatangan tim bantuan dan relawan dari Swiss, Australia dan Jepang, anak saya Noval (15 th) agaknya terusik perasaannya.

“Siapa yang membiayai kedatangan orang-orang dari luar negeri itu, pak?”, tanya Noval.

“Ya pemerintahnya masing-masinglah”, jawab saya sekenanya.

Lha, kalau orang-orang Indonesia yang pada datang ke sana?”, tanya Noval lagi.

“Yaaa… ada yang dibiayai pemerintah, ada juga dari organisasi yang mengirim mereka, ada dari sponsor lain, dan banyak juga yang biaya sendiri terutama orang-orang yang tinggalnya di sekitar Padang sana”, jawab saya lagi.

Diam sesaat, lalu dialog berlanjut. “Dulu waktu ada tsunami di Aceh, ustadku juga dikirim menjadi relawan ke sana”, lanjut Noval yang menyebut guru-gurunya di sekolah dengan panggilan ustad. Saya mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan anakku ini. Maka dialog sengaja ingin saya lanjutkan agar pembicaraan berkembang. Kata saya kemudian : “Ya, itu berarti organisasi ustadmu yang membiayai pengirimannya termasuk biaya hidup di sana”.

“Enak ya….”, kata Noval. Tentu saja kata-kata ini membuat saya celathu (bertanya dalam hati) sambil mengerutkan kening, apa maksudnya enak…. Rupanya belakangan saya baru paham bahwa yang dimaksud dengan enak, adalah bukan enak dalam pengertian bergembira dan bersenang-senang, melainkan dalam pengertian merasa bangga dan berguna karena dapat membantu orang lain yang sedang tertimpa kemalangan.

Setelah terdiam agak lama, tiba-tiba kemudian Noval berkata : “Saya ingin kesana-e…”. Akhiran ‘e’ ini memang khas Jogja banget. Karena saya mulai paham arah pembicaraan Noval, saya pun memancingnya.

Lha ngapain ke sana? Wong orang-orang lagi pada sibuk menangani bencana….. Insya Allah lain waktu kalau ada rejeki kita traveling ke sana”, kata saya menanggapi.

“Ya membantu korban gempa no….”, jawab Noval cepat. Penggalan ungkapan ‘no’ ini juga khas dialek wong Jogja dan Jawa Tengah umumnya.

“Bagaimana bisa, wong kamu masih masuk sekolah dan biaya kesananya kan juga tidak sedikit” kata saya kemudian.

Kan bisa minta ijin”, katanya mematahkan argumentasi pertama saya. Sedang untuk argumentasi yang kedua Noval menghibur diri : “Wah, kalau ada yang mau mengirim kesana, enak ya…..”. Kembali kata ‘enak’ digunakan sebagai ekspresi kebanggaan bisa menolong orang lain.

“Kalau mau membantu kesana, memang praktisnya kalau kita tergabung dalam suatu organisasi relawan. Tapi bisa juga kalau mau datang langsung kesana dengan biaya sendiri dan bergabung dengan tim relawan yang sudah ada di sana”, saya mencoba memberi penjelasan.

Dalam hati sebagai orang tua, saya merasakan sepercik kebanggaan kalau anak saya yang rodo ngglidig… (agak kebanyakan ide dan ulah) ini memiliki empati dengan penderitaan orang lain. Sekalian saja momen obrolan malam di rumah itu saya manfaatkan untuk sedikit cerita pengalaman. Ya namanya juga orang tua, bagaimana pun juga jam terbangnya lebih banyak dari anaknya. Maka mulailah sang bapak ini memamerkan kesombongannya (sudah sombong, pamer lagi…). Ini juga salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh orang tua, yaitu harus pintar sombong di depan anaknya. Sombong bukan dalam konotasi takabur menurut istilah agama, melainkan dalam konteks memberi motivasi.

Dulu sewaktu usia seputaran SMA, saya pernah menjadi anggota KSR (Korps Sukarelawan di bawah bendera PMI di Kabupaten Kendal). Saya sering ditugaskan untuk membantu kegiatan-kegiatan kemansiaan di sana. Ya, memang masih kelas kabupaten saja. Tapi jelas saya telah belajar banyak tentang ilmu tolong-menolong itu. Dan perasaan saya pada jaman tahun 70-80an itu kok Indonesia jarang dilanda bencana ya…. Barangkali karena umur bumi waktu itu belum setua sekarang (30-40 tahun lebih muda dari sekarang), atau karena informasi dan komunikasi belum seterbuka sekarang, atau malah jangan-jangan memang Tuhan “belum punya alasan” untuk membencanai orang-orang Indonesia.

Tujuan saya pamer kesombongan dengan cerita pengalaman itu sejatinya adalah agar kalau Noval ingin membantu orang lain yang terkena bencana, maka perlu memiliki bekal ilmu yang cukup. Apapun bidang ilmunya. Maksudnya agar di lokasi bencana nanti bukan malah bingung sendiri dan merepokan orang lain. Selain itu, akan lebih baik lagi kalau dapat bergabung dengan organisasi kemanusiaan yang ada.

“Saya kepingin kesana-e….”, kata Noval sekali lagi. Saya bisa merasakan kegalauan hatinya demi menyaksikan pemberitaan televisi tentang bencana gempa di Padang dan sekitarnya. Sementara dia merasa tidak bisa ikut berbuat apa-apa kecuali menyumbang melalui kotak amal yang digendong kemana-mana oleh para simpatisan di setiap perempatan jalan. Karena itu saya kemudian meyakinkan dia : “Niat yang bagus, le…. Insya Allah, suatu saat nanti kamu akan bisa melakukannya”.

Selesai dengan kalimat terakhir itu, saya perlu buru-buru menambahkan : “Meskipun begitu ya jangan lalu kamu berdoa agar terjadi bencana lagi supaya kamu bisa menolong. Apalagi terus berdoa agar bencananya terjadi di dekat-dekat Jogja saja supaya biaya kesananya murah……”, kata saya sambil tersenyum meninggalkan Noval yang lagi tidur-tiduran di depan televisi. Dan Noval pun tertawa sambil berseru : “Ya, tidaklah…..”.

Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Bangga Dengan Batik Papua

3 Oktober 2009
IMG_4056_r1

Bangga Mengenakan Batik Papua

Pakai BATIK Papua…, kulakan akua…, njuk nggoaya…

(Cap apapun air mineralnya, sebut saja akua)

Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Salah Kaprah (Tentang Warisan Batik)

3 Oktober 2009

Salah Kaprah : Yang dimangsud Yu Nesko (UNESCO) bukan BATIK-nya, melainkan mBATIK…. Bukan produknya, melainkan kreatifitas karyanya… Kalau kain BATIK, itu Yu Narti, Yu Narto dan Yu Jum di pasar mBringharjo banyak jualan murah-murah. Tapi kalau mBATIK, lha ini yg perlu dilestarikan…..

(Intermezzo…… Ini posting-an saya di Facebook. Meski saya posting dengan guyonan, tapi esensinya benar bahwa yang diakui oleh UNESCO adalah perihal karya mBATIK atau membatik, seperti halnya tradisi pembuatan batik tulis).

Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar