Archive for the ‘> Seputar Amerika’ Category

Hari Bapak

13 November 2008

Sembilan puluh empat tahun yang lalu, di kota Spokane, negara bagian Washington, seorang perempuan sedang mendengarkan wejangan Hari Ibu. Hatinya gundah. Ia enam bersaudara, ibunya meninggal saat melahirkan saudaranya yang keenam. Maka ayahnya, seorang veteran perang sipil bernama William Smart, lalu menjadi orang tua tunggal membesarkan keenam anaknya di kawasan pedesaan di bagian timur negara bagian Washington.

Perempuan itu, Sonora Louise Smart Dodd, ingin menunjukkan rasa terima kasihnya sebagai wujud penghargaan kepada ayahnya yang di mata Sonora telah berjuang bertahun-tahun tanpa kenal lelah membesarkan dan mendidik keenam anak-anaknya. Melebihi perjuangannya di medan perang. Menurut Sonora, ayahnya sangat mencintai anak-anaknya dan tabah dalam membesarkan mereka sebagai seorang bapak tanpa istri atau menjadi single parent selama 21 tahun.

Bagi Sonora dan kelima saudaranya, dengan tidak dimilikinya figur seorang ibu alias piatu, tentu tidak berarti mereka tidak memilik sorga, sebagaimana pepatah mengatakan “sorga terletak di telapak kaki ibu”. Ayahnya, sebagai orang tua tunggal yang ber-dwifungsi dalam menjalankan roda keluarganya, ya sebagai ayah, ya sebagai ibu, perjuangannya tidak dipungkiri bernilai setara sebagai perjuangan layaknya seorang ibu.

***

Pada tahun 1909, Sonora mengusulkan sebuah hari untuk menghormati ayahnya yang lahir pada tanggal 5 Juni. Hari itu dinamakannya sebagai Hari Bapak. Usulan itu memperoleh dukungan dari masyarakat. Namun dengan alasan tidak cukup waktu untuk mempersiapkannya, Hari Bapak yang pertama baru diperingati pada tanggal 19 Juni 1910 di Spokane, Washington.

Salah satu dukungan datang dari Harry C. Meek, Presiden Lion Club Chicago yang memberi andil kuat untuk diadakannya Hari Bapak. Ia berkampanye ke seluruh Amerika, menyampaikan tentang perlunya ada sebuah hari untuk menghormati kaum ayah. Hingga pada tahun 1920, Lion Club Amerika menganugerahkan jam emas kepada Harry sebagai “Originator of Father Day”.

Pada tahun 1924, pada masa pemerintahan Presiden Calvin Coolidge, sebagai presiden Amerika yang ke-30, ia menyatakan dukungannya untuk menjadikan tanggal 19 Juni sebagai Hari Nasional. Namun, baru pada tahun 1966, Presiden Lyndon Johnson sebagai presiden Amerika ke-36, memproklamirkan Hari Bapak sebagai hari nasional yang diperingati pada setiap hari Minggu ketiga bulan Juni. Kini, Hari Bapak diperingati di seluruh Amerika dan Kanada.

Bunga mawar dipilih untuk menandai Hari Bapak. Orang akan menyematkan bunga mawar merah jika ayahnya masih hidup dan akan mengenakan bunga mawar putih jika ayahnya sudah meninggal. Sama halnya ketika Hari Ibu tiba, pada Hari Bapak banyak warga Amerika memberi hadiah kepada suami, kakak laki-laki atau ayah mereka. Beraneka ragam kreasi dasi biasa dipilih sebagai hadiah pada Hari Bapak, selain tentunya juga perlengkapan kantor, barang elektronik, pakaian atau wewangian (meskipun barangkali uangnya juga minta kepada Sang Bapak). Maka tidak heran kalau kemudian toko-toko dan pusat perbelanjaan atau mall dipadati pembeli.

Orang-orang pun biasa memberikan aneka surprise kepada sang ayah tercinta setiap Hari Bapak tiba. Untuk tahun 2003 ini, Hari Bapak di Amerika jatuh pada tanggal 15 Juni 2003, sebagai hari Minggu ketiga di bulan Juni.

Menurut alkisah, jika pada tahun 1909 ide Sonora Dodd tentang Hari Bapak muncul di belahan barat laut daratan Amerika, maka setahun sebelumnya yaitu tahun 1908 Dr. Robert Webb telah meluncurkan acara Hari Bapak dalam suatu kebaktian di gereja Central di kota Fairmont, negara bagian West Virginia, di belahan timur daratan Amerika. Sebagian orang Amerika meyakini, saat itulah sebenarnya kali pertama Hari Bapak dirayakan.

***

Begitulah cerita tentang Hari Bapak di Amerika. Betapa seorang ayah juga sudah semestinya dihargai jasanya sebagaimana orang merayakan Hari Ibu untuk menghargai jasa-jasa seorang ibu. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah tidak perlu diadakan perayaan Hari Bapak? Agar kaum bapak juga senang memperoleh penghargaan sebagaimana penghargaan bagi kaum ibu.

Jawabannya, ngngng…., barangkali memang tidak perlu. Karena para bapak, dan Bapak-bapak, di Indonesia ini sudah cukup neko-neko….., kebanyaken (pakai akhiran ken) acara, dan sudah cukup manggut-manggut menerima perlakuan ABS (Asal Bapak Senang) setiap hari.

Kalaupun, setelah melalui referendum misalnya, terpaksa Hari Bapak itu harus diadakan di Indonesia, lalu tanggal lahir bapaknya siapa yang pantas dipilih?

Tembagapura, 19 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Iklan

Memperpanjang Waktu Siang

12 November 2008

Layaknya ritual tahunan orang Amerika, maka mulai hari Minggu, 2 April 2000 ini hampir di seluruh wilayah Amerika memajukan putaran jamnya sebanyak satu jam. Tepatnya pada  jam 2:00 dini hari orang-orang Amerika memutar jamnya menjadi jam 3:00. Ini yang disebut dengan “Daylight Saving Time” (DST) guna menambah atau memperpanjang waktu siang hari, mengawali datangnya musim panas. Sebagai ilustrasi, kalau menurut Waktu Standard untuk periode Oktober – April beda waktu antara Jakarta dan New Orleans adalah 13 jam lebih awal, maka setelah DST untuk periode April – Oktober waktu di Jakarta menjadi 12 jam lebih awal dibandingkan dengan di  New Orleans.

DST dimulai setiap hari Minggu pertama bulan April dan akan diakhiri pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, saat mana orang-orang Amerika akan kembali memundurkan jamnya satu jam, kembali ke Waktu Standard. Untuk tahun ini, akhir DST jatuh pada tanggal 29 Oktober 2000, sehingga tepat pada jam 2:00 dini hari, orang-orang Amerika akan memutar jamnya kembali dengan memundurkannya menjadi jam 1:00.

(Yang agak membingungkan bagi kita adalah istilah dimajukan dan dimundurkan. Kita terbiasa mengatakan kalau suatu acara dimajukan satu jam, artinya yang semula jam 8:00 dirubah menjadi jam 7:00. Sedangkan dalam pengertian DST, dimajukan artinya semula jam 8:00 bergerak maju menjadi jam 9:00. Demikian pula untuk dimundurkan).

Meskipun Kongress Amerika telah menyetujui tentang tata cara DST pada tahun 1966 melalui “Uniform Time Act”, ternyata tidak semua wilayah Amerika menerapkannya. Negara bagian Hawaii dan wilayah teritorial Amerika seperti Puerto Rico, Kepulauan Virgin, American Samoa dan Guam adalah wilayah-wilayah yang memilih untuk tidak ikut ritual tahunan DST. Kalau itu saja barangkali masih masuk akal, karena letak geografisnya memang terpisah dari daratan benua Amerika. Yang mengherankan ternyata negara bagian Arizona, dan lebih “aneh” lagi hanya sebagian dari wilayah negara bagian Indiana yang mengikuti aturan DST sedang sisanya tidak mau memutar-mutar jarum jamnya dua kali setahun (Apakah ini cermin “demokratisnya” Amerika, atau hanya sekedar “ingin tampil beda”, saya tidak tahu).

Terakhir aturan tentang awal dan akhir DST di Amerika ini dituangkan dalam amandemen tahun 1986, yang ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagen, atas “Uniform Time Act” 1966 yang semula menetapkan awal DST adalah hari Minggu terakhir bulan April dan berakhir pada hari Minggu terakhir bulan Oktober. Namun sebelum itu, aturan tentang DST ini ternyata telah melalui sejarah yang panjang.

***

Tidak hanya di Amerika, ada sekitar 70 negara di dunia yang hingga saat ini menerapkan pola memperpanjang waktu siang hari di musim panas, tentunya dengan ketentuan waktu awal dan akhir yang berbeda-beda. Di Eropa tata cara ini dikenal dengan sebutan “Summer Time”. Negara-negara di dunia yang menerapkan DST antara lain adalah : Mesir dan Namibia (di Afrika); Israel, Irak, Iran, Libanon, Palestina, Syria, Mongolia dan negara-negara Eropa serta bekas Rusia (di Asia); Australia, Selandia Baru, Fiji dan Tonga (di Australasia); Rusia, negara-negara Uni-Eropa dan Greenland (di Eropa); USA, Canada, Mexico, Cuba, Brasil, Chili, Paraguay dan Antarctica (di Amerika).

Referensi tentang DST ini dimulai sejak Benjamin Franklin pertama kali melemparkan idenya dengan gaya humor lewat essainya yang berjudul “Turkey vs. Eagle. Cauley is my Beagle” di tahun 1784. Namun lebih satu abad kemudian baru disarankan kembali oleh seorang berkebangsaan Inggris, William Willett, di tahun 1907. Dari hasil pengamatannya, ia menulis sebuah pamflet yang berjudul “The Waste of Daylight”. Tahun 1916, sebuah Undang-undang Parlemen di Inggris mengangkat ide Willet ke dalam pengantar “British Summer Time”. Negara Inggris menegaskan bahwa bangsanya dapat menghemat energi dan merubah jamnya selama Perang Dunia I.

Tahun 1918 pada Perang Dunia II, Kongres Amerika mengetengahkan tentang DST, ternyata tidak populer. Ketika Amerika terlibat perang lagi di tahun 1942, kembali Kongres memberlakukan DST guna menghemat energi dengan memperpanjang waktu siangnya (mengurangi waktu gelapnya), hingga tahun 1945. Tahun 1945 hingga 1966, tidak ada peraturan di Amerika tentang DST, sehingga setiap negara bagian dan daerah bebas untuk menerapkan DST atau tidak, dengan tata cara masing-masing kapan mulai dan kapan berakhir.

Bisa dibayangkan apa yang kemudian terjadi. Terjadilah “kebingungan nasional”, terutama mereka yang bergerak di bidang industri siaran dan transportasi. Bukan saja karena pimpinan nasional mereka yang tidak mau repot-repot mengatur tentang waktu di pelosok wilayahnya, tetapi lebih-lebih masyarakatnya yang jadi sangat repot akibat setiap tempat menerapkan aturan yang berbeda-beda. Stasiun radio dan TV setiap saat mesti mengumumkan saat awal dan akhir DST dari setiap kota dan wilayah. Penumpang dan sopir bis antar kota antar negara bagian dalam sepanjang jalur perjalanannya harus sekian kali mengubah-ubah jam tangannya tergantung tempat dan aturan waktu yang berlaku. Para petani pun dibuat repot sehubungan dengan adanya penambahan waktu siang hari. Hingga akhirnya Kongres memutuskan untuk mengakhiri masa “kebingungan nasional” mereka, setelah terlanjur berjalan lebih 20 tahun. Presiden Lyndon Johnson menandatangani “The Uniform Time Act” pada tanggal 13 April 1966.

***

Di balik semua itu, keuntungan apa sebenarnya yang bisa diperoleh dengan perpanjangan waktu siang hari. Departemen Transportasi Amerika (yang mengurusi tata cara DST) melakukan studi dan menyimpulkan bahwa DST ternyata membawa keuntungan, antara lain : Pertama, menghemat energi. Dalam periode 1974-1975 (setelah perang Arab – Israel dan embargo minyak Arab tahun 1973), DST mampu menghemat kebutuhan minyak hingga 600.000 barrel per tahun. Kedua, menyelamatkan jiwa dan mencegah cedera akibat kecelakaan lalulintas. Akibat DST memungkinkan para pekerja dan pelajar pulang ke rumah di hari yang masih terang (jam belajar di Amerika hampir sama dengan jam kerja, berbeda dengan di Indonesia). Perjalanan di hari yang masih terang dipandang lebih aman dibanding jika hari sudah gelap. Ketiga, mencegah tindak kejahatan. Juga karena siang hari lebih panjang maka mengurangi kemungkinan orang terkena tindak kejahatan yang umumnya terjadi saat hari gelap.

Datangnya DST oleh Bagian Keselamatan dimanfaatkan untuk menganjurkan agar pada saat menggeser jarum jam sekaligus mengganti batu baterei “smoke detector” yang ada di rumah atau bangunan. Nyatanya di Amerika ini 90% perumahan dilengkapi dengan alat pendeteksi asap kebakaran, tetapi diperkirakan sepertiganya tidak berfungsi karena lalai mengganti batereinya.

Yang menarik, kalau sekarang Anda tanya kepada orang Amerika kenapa ada DST ? Umumnya mereka akan kesulitan menjawab, paling-paling akan terdengar jawaban : “karena Perang Dunia”, atau “agar orang-orang punya waktu lebih banyak berkegiatan di luar akibat waktu siang lebih panjang”, atau “untuk membantu petani”. Padahal, umumnya petani justru menolak DST. Petani biasanya bangun tidur mengikuti irama matahari, tidak perduli jam berapa. Dengan adanya DST, para petani jadi repot harus menyesuaikan jadwal hidupnya untuk menjual hasil pertaniannya kepada orang-orang yang mengikuti DST. Agaknya inilah yang terjadi di sebagian negara bagian Indiana yang para petaninya enggan untuk ikut-ikutan dengan aturan DST.

New Orleans, 2 April 2000
Yusuf Iskandar

(Disarikan dari berbagai sumber).-

Ibu Guru Teladan

12 November 2008
Betsy Rogers

Betsy Rogers

Seorang guru sekolah dasar dari negara bagian Alabama, terpilih sebagai guru terbaik tahun ini di Amerika Serikat. Presiden George Bush menghormatinya di Gedung Putih pada tanggal 30 April yll, dalam acara pemberian penghargaan yang sangat bergengsi “2003 National Teacher of the Year Award”.

Ibu guru teladan itu bernama Betsy Rogers. Sebagai guru terbaik tahun ini, Ibu Rogers akan menghabiskan waktunya tahun depan sebagai duta besar internasional untuk bidang pendidikan. Ibu Rogers akan meninjau ke seluruh Amerika Serikat dan negara lain, dan mengajurkan agar guru-guru sekolah terus diberi kursus lanjutan yang lebih baik.

Ini memang berita terlambat. Pertama kali membaca berita itu, sejujurnya, saya kurang tertarik. Pikiran saya terlanjur skeptis, paling-paling ya seperti pemilihan Pelajar Teladan atau Guru SD Teladan atau ribuan teladan lainnya, saat perayaan 17-an di Jakarta. Itu saja. Namun, ketika kedua kali saya menerima dan membaca berita yang sama, saya mengendus ada hal yang tidak biasa di balik pemilihan guru teladan itu.

Rupanya benar. Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa. Ibu Roger ini ternyata memang bukan sembarang guru SD. Dr. Helen Betsy Roger adalah seorang ibu berusia 51 tahun, seorang sarjana lulusan Samford University tahun 1974 dan menyandang gelar Master dan Doctor di bidang pendidikan. Beliau telah menjadi guru selama 22 tahun dan memilih mengajar murid-murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar di sekolahan kecil dan ndeso yang murid-muridnya berusia antara 5 hingga 7 tahun, dan kebanyakan anak-anak orang miskin (jangan lupa, di Amerika juga banyak orang miskin). SD itu bernama Leeds Elementary School, di Jefferson County, di luar kota Birmingham, negara bagian Alabama.

Seperti diberitakan oleh Voice of America, bahwa menurut Ibu Rogers, salah satu masalah utama sekolah-sekolah yang ada di daerah miskin adalah bahwa sekolah-sekolah ini tidak memperoleh cukup dana. Dia juga menghendaki agar lebih banyak guru yang bersedia datang mengajar ke sekolah-sekolah anak kaum miskin. Dia bersama suaminya pindah ke daerah pertanian dekat Sekolah Dasar Leeds Elementary pada awal tahun 1980-an. Mereka menghendaki kedua putra mereka mengenal anak miskin dan keturunan ras lain. Sejak itu sampai sekarang ia mengajar di sekolah tersebut.

Bagi Betsy Rogers, cara mengajar sangat beraneka ragam. Dia menganjurkan kepada para guru lain agar jangan sekali-kali menganggap bahwa seorang siswa tidak dapat belajar atau bodoh. Sebaliknya, ia menyarankan agar para guru mencoba teknik baru untuk memberi penjelasan.

Betsy Rogers menggunakan lukisan, musik, dan memasak sebagai bagian dari alatnya untuk mengajar. Dia berhasil meyakinkan sekolah tersebut agar memulai suatu program dimana guru-guru mengikuti perkembangan siswa dari mulai awal kelas satu sampai akhir kelas dua. Ini memungkinkan guru dapat mengukur kemajuan anak. Teknik ini di Amerika Serikat disebut looping. Sekolah-sekolah lain di negara bagian Alabama sekarang menggunakan teknik tersebut.

alam karirnya, Ibu Rogers yang nenek dan ibunya juga seorang guru ini, dikenal atas komitmennya terhadap para anak didik di luar jam sekolah. Sebelum jam sekolah dimulai, beliau memberikan pelajaran tambahan kepada murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar membaca. Ibu Rogers juga berminat pada kehidupan siswanya di luar ruang kelas. Dia menghadiri pesta anak-anak dan pertandingan olah raga mereka. Beliau aktif di Komite Sekolah. Beliau juga membantu keluarga para anak didiknya yang kurang beruntung melalui kelompok-kelompok gereja dan paguyuban atau organisasi social kemasyarakatan. Untuk berkomunikasi dengan semua anggota keluarga siswa, dia bahkan mengirim e-mail kepada orang tua siswa (perlu diketahui bahwa sarana email dan internet sudah menjadi sarana komunikasi umum bagi sebagian besar masyarakat Amerika).

Selama bertahun-tahun, Ibu guru Rogers telah bekerja keras untuk memastikan agar anak-anak didiknya memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa mempedulikan status ekonomi mereka. Beliau berargumentasi bahwa sekolah-sekolah yang kinerjanya rendah harus memiliki guru-guru yang terbaik. Beliau mencita-citakan agar kelasnya menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman dan memberikan suasana yang membantu anak-anak mengembangkan dirinya. Beliau juga menginginkan agar para guru menjadi bangga terhadap profesi mereka dan mengetahui akan pengaruh peran mereka terhadap anak didik melalui cara-cara yang mungkin tidak terlihat.

***

Betsy Rogers terpilih mendapat kehormatan nasional di antara 54 orang guru teladan yang mewakili masing-masing negara bagian untuk berdiri di samping Presiden Bush menyampaikan sambutannya di Gedung Putih. Dalam pesan yang disampaikannya dalam kesempatan itu, Betsy Rogers sempat mensitir sebuah ucapan yang sangat puitis, bahwa “anak-anak kita adalah pesan yang hendak kita kirimkan menuju ke suatu masa yang kita tidak pernah melihatnya. Betapa ini adalah tanggungjawab yang mengagumkan dan luar biasa bagi kita sebagai pendidik, untuk bekerja menuju masa depan Amerika”.

Betsy Rogers juga menghimbau murid-muridnya untuk saling membantu. Dikatakannya : “Tidak perduli seperti apapun keadaan hidupmu, kalian tetap dapat memberi”.

Guru-guru seperti Ibu Betsy Rogers ini, menempatkan anak-anak di atas jalan untuk menjadi warga masyarakat yang baik, terlebih lagi menjadi orang tua yang berhasil. Mereka itu menunjukkan kepada para muridnya bahwa di sepanjang jalan itu ada banyak orang-orang yang perduli dan siap untuk membantu. Demikian kata Presiden Bush.

Apa yang dilakukannya sepulang dari Gedung Putih dan tiba di sekolahnya? Ibu guru Rogers menyampaikan pesan-pesannya di forum pertemuan untuk anak-anak TK sampai kelas dua SD. Kemudian dilanjutkan dengan berpidato di depan anak-anak kelas tiga sampai kelas lima SD. Murid-muridnya bangga karena seorang gurunya memperoleh penghargaan tertinggi dari Presidennya. Ibu Rogers pun bangga dapat berbagi cerita dan pengalaman di depan murid-muridnya.

Kelak ketika Ibu Rogers mengambil paket MPP, betapa bangganya para murid bersama-sama menyanyikan lagu “Auld Lang Syne”…… old long ago……saat-saat yang (pernah) indah…..

Semoga kisah tentang ibu guru Betsy Rogers ini dapat mengilhami kita semua (sebagai bagian kecil dari bangsa besar yang lagi terpurukruk-ruk-ruk-ruk ini) untuk berbuat sesuatu……..

Tembagapura, 18 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Mengawali Hari Di Guam

12 November 2008

Pernah dengar kata Guam? Guam adalah nama sebuah tempat, atau tepatnya nama sebuah daratan yang terletak di sisi agak ke barat Samudra Pasifik, yang membatasinya dengan Laut Philipina, atau kira-kira 2,500 km di sebelah utara daratan Papua (Irianjaya). Saya sempat transit di wilayah ini dalam perjalanan dari Honolulu menuju Denpasar.

Guam adalah bagian dari wilayah teritorial Amerika Serikat (barangkali semacam commonwealth untuk Inggris). Daerah ini mempunyai sistem pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh seorang Governor yang saat ini dijabat oleh Carl T.L. Gutierrez, seorang putra daerah Guam asli. Sebagai salah satu dari 13 wilayah teritorial-nya Amerika, Guam bukan merupakan negara bagian Amerika, dan hubungannya dengan pemerintah Amerika adalah sebatas pada bantuan ekonomi dan militer. Menariknya, penduduk Guam ternyata tercatat berkewarganegaraan Amerika dan memperoleh fasilitas sebagaimana warga negara Amerika.

Bulan Juli nanti masyarakat setempat akan melakukan pemungutan suara untuk memilih akan tetap menjadi bagian dari wilayah territorial Amerika atau berdiri sendiri. Pengalaman Puerto Rico barangkali bisa menjadi cermin. Puerto Rico adalah wilayah territorial Amerika terbesar, berada di Laut Karibia. Tiga kali wilayah ini pernah melakukan pemungutan suara untuk menjadi negara bagian (state) Amerika ke-51, dan ternyata penduduknya lebih memilih tetap berstatus “persekemakmuran”, di antaranya karena dengan status ini mereka tidak harus membayar pajak pendapatan Federal.

Luas daratan Guam yang merupakan daratan vulkanik ini hanya sekitar 550 km2, membentang sepanjang kira-kira 48 km timur laut –  barat daya. Tempat ini terkenal sebagai tujuan wisata pantai, karena memang itulah pesona wisata andalannya sebagaimana umumnya banyak daerah kepulauan yang banyak membentang di Samudra Pasifik, tentunya selain dari kehidupan tradisional penduduk aslinya. Saking sedemikian dibanggakannya pesona wisata pantai di Guam, hingga bendera lambang pemerintahannya pun bergambar nyiur melambai dan perahu layar di atas dasar warna biru bergaris kotak merah. Agaknya yang membedakan antara Indonesia dengan Guam, meskipun sama-sama bangga dengan nyiur melambainya, adalah bahwa di Guam tidak ada lagu “Rayuan Pulau Kelapa”.

Guam kini telah menjadi salah satu pilihan bagi kebanyakan wisatawan dari Jepang. Terbukti dari banyaknya jalur penerbangan langsung yang menghubungkan Guam dengan paling tidak ada delapan kota di Jepang, sementara dengan Philipina diwakili kota Manila, Taipei di Taiwan dan dengan Indonesia diwakili Denpasar. Barangkali karena itu maka bahasa Jepang menjadi bahasa kedua setelah Inggris, yang dipergunakan untuk ber-halo-halo di pesawat dari dan ke Guam. Selama beberapa dekade, Guam sangat dipengaruhi oleh kultur masyarakat Jepang, dampak dari para turis Jepang yang mencari pantai tropis terdekat, yang di situ ternyata mereka bias mendapatkan tas-tas produk Chanel yang bebas pajak. Akibatnya secara perlahan masyarakat Guam menerima bahasa, makanan, pakaian dan agama pendatang Jepang.

Daratan Guam yang ibukotanya bernama Hagatna (Agana) dan tidak lebih luas dari wilayah Jakarta itu ternyata tidak padat penduduknya, hanya ditunggui sekitar 153,000 orang yang menggunakan bahasa Inggris dan Chamorro sebagai bahasa resmi, selain juga bahasa Jepang. Bahasa Chamorro ini dalam perkembangannya sebagai salah satu bahasa di wilayah Mikronesia ternyata kalau ditilik-tilik mengandung unsur bahasa Malaysia, Indonesia dan Philipina. Dan kini ternyata masyarakat setempat merasa “kehilangan” dengan budaya asli Chamorro, sebagai dampak dari masuknya budaya barat dan juga terutama dari budaya Jepang. Meskipun penduduknya sedikit, sepengetahuan saya Guam ini tidak pernah absen ikut pentas kejuaraan Ratu Ayu se-Jagat, meskipun jarang masuk final. (Barangkali karena kaum perempuannya sudah terlatih berbikini di pantai. Bedanya kalau di Indonesia yang diperlukan adalah yang sudah terlatih nekad, bukan naked).

Tempat ini dulunya, pada jaman Perang Dunia II, merupakan salah satu pangkalan militer Amerika. Karena itu tidak mengherankan kalau di daratan yang tidak terlalu luas ini banyak dijumpai bekas-bekas peninggalan perang.

Sebagai bagian dari wilayah teritorial Amerika, Guam adalah wilayah teritorial yang terletak di ujung paling barat dari wilayah Amerika lainnya. Letaknya yang berada di sebelah barat garis batas penanggalan internasional, menjadikan kalau kita berada di Guam ini satu hari lebih awal dibandingkan dengan wilayah Amerika lainnya.

Hari Senin jam 15.30 sore saya berangkat dari Honolulu, tiba di Guam jam 19:00 malam tapi ternyata sudah hari Selasa, padahal perjalanan ditempuh sekitar 7,5 jam. Pantesan masyarakat Guam sangat bangga dengan slogannya : “Where Amerika’s Day Begins”, lha wong di belahan Amerika lainnya masih Senin, di Guam sudah Selasa.

Tembagapura, 16 Maret 2000
Yusuf Iskandar

Nenek-nenek Amerika

2 Maret 2008

Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke kota Phoenix (ibukota negara bagian Arizona). Wilayah Arizona ini berada di sebelah selatan agak ke barat daratan Amerika dan di sebelah selatannya berbatasan dengan negara Mexico. Perjalanannya sendiri sebenarnya hal yang biasa-biasa saja, dalam arti saya berangkat dan pulang naik pesawat, siang hari kerja dan malam tidur di hotel. Namun justru dalam hal yang biasa itu saya menjumpai dan mengalami beberapa kejadian menarik yang berkaitan dengan perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.

Seperti biasanya ketika hendak berangkat menuju bandara saya menilpun taksi. Pagi itu, Rabu, 7 Juni 2000, ternyata taksi yang menjemput saya disopiri oleh seorang wanita, yang lebih tepat saya sebut seorang nenek. Meskipun saya lupa menanyakan umurnya, tapi dia mengaku mempunyai dua orang anak sebaya saya dan mempunyai dua orang cucu yang sebaya anak saya. Maka saya taksir usianya sekitar 60-an. Tapi jangan heran, pagi itu dia masih mampu melaju dengan cermat pada kecepatan lebih 50 mil/jam (lebih 80 km/jam), malah memberi bonus dengan dua kali menyerobot lampu kuning yang sudah menjelang merah, saat melalui perempatan jalan.

Tahun ini adalah tahun ke-13 dia menyopiri taksi miliknya sendiri. Dia bergabung dengan perusahaan jasa angkutan yang bertindak sebagai dispatcher (pengatur perjalanan) dengan membayar sejumlah biaya per bulannya. Dia mengaku menarik taksi hanya pada siang hari dari Senin hingga Jum’at saja. Selebihnya hari Sabtu dan Minggu adalah hari-hari milik cucu-cucunya dan milik hari tuanya sendiri (yang menurut pikiran saya malah sebenarnya jadi tidak punya hari tua). Apa yang membanggakannya? Dia merasa menjadi juragan bagi usahanya sendiri, berkehidupan mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ketika transit di bandara internasional Houston (Texas), karena menunggu pesawat lanjutan yang masih cukup lama, saya duduk-duduk di kafe menghadap ke lorong di dalam bandara sambil makan pizza sebagai makan siang. Di depan saya lewat seorang ibu agak gemuk yang juga lebih tepat saya sebut nenek kalau melihat raut muka dan penampilannya. Sambil berjalan lambat dia mendorong trolly atau kereta dorong untuk barang bawaan menuju ke ruang tunggu.

Entah kenapa, barangkali menyusun barangnya kurang rapi, sebuah tasnya yang ternyata belum rapat ditutup tiba-tiba merosot ke belakang dan jatuh tepat di depan langkah kakinya. Hal yang tiba-tiba ini tentu saja membuat sang nenek lambat untuk bereaksi menghindar, dan diapun tersandung tasnya sendiri yang lalu berantakan. Gerak refleksnya membuat dia lalu berpegang erat pada kereta dorongnya, yang kemudian berakibat keretanya mendongak ke atas karena terbebani di bagian belakangnya. Akhirnya kereta dorong itu rubuh bersama-sama dengan badan gemuk sang nenek yang masih memeganginya. Minuman coke-nya pun tumpah bersama es batu yang menyebar di lantai berkarpet.

Tidak ada orang lain yang berada lebih dekat dari saya saat itu, maka spontan saya hampiri sang nenek, saya bantu merapikan barang bawaannya, sambil tidak lupa mengajukan pertanyaan “standard” : “Are you OK?”. Setelah yakin sang nenek memang OK punya, sayapun kembali ke tempat duduk saya di kafe. Sang nenek kemudian berjalan menepi membuang gelas kertas tempat coke-nya yang sudah kosong itu ke tempat sampah, sambil kedua tangannya memegangi pinggangnya. Kemudian dia mendorong keretanya pelan dan menjauh. Barangkali mau mencari tempat duduk yang agak longgar agar bisa beristirahat sambil mengelus-elus boyoknya (pinggangnya) yang sakit, pikir saya.

Sampai di sini saya menduga episode nenek jatuh sudah selesai. Ternyata dugaan saya keliru. Sesaat kemudian nenek itu kembali lagi dengan membawa benda warna jingga berbentuk corongan plastik, persis sama seperti yang biasa dipergunakan oleh pekerja yang sedang memperbaiki jalan raya atau yang dipakai Pak Polisi untuk mengalihkan lajur jalan. Corongan itu lalu diletakkannya di depan tempat tumpahan minumannya tadi. Saya hanya bisa berkesimpulan, rupanya sekalipun sang nenek sudah kepayahan akibat jatuh tadi, dia masih sempat berupaya agar orang lain tidak terganggu oleh bekas tumpahan es batu yang berserakan di lantai yang basah oleh coke-nya itu.

***

Agak lama saya menunggu pesawat lanjutan menuju Phoenix, yang nantinya ternyata memang batal terbang, saya pindah duduk di dekat dinding kaca yang menghadap ke landas pacu pesawat. Di depan sebelah kanan saya ada seorang nenek duduk bersama dengan cucu perempuannya yang agak cerewet khas anak-anak. Terjadi dialog antara mereka berdua yang membuat saya tersenyum dalam hati.

Sang cucu rupanya mengajak main tebak-tebakan dengan neneknya. Bandar udara Houston memang cukup ramai lalu lintas penerbangannya, sehingga setiap kali ada pesawat lewat dan tampak di depannya, sang cucu berkata : “Pesawat itu mau naik”. Sang nenek yang lagi asyik merenda benang yang agaknya memang sengaja dibawa dari rumah, lalu menengok ke depan dan menjawab : “Bukan, itu baru saja mendarat dan mau berhenti menurunkan penumpangnya”.

Ada lagi pesawat lewat, sang cucu berkata lagi :
“Nah, itu juga mau terbang”.
“Itu juga mau berhenti”, kata neneknya membenarkan omongan sang cucu.

Ada lagi pesawat lewat :
“Nah, itu mau berhenti”, kata sang cucu.
“Kalau yang itu mau terbang”, kata sang nenek sambil menolehkan kepalanya ke depan lagi.

Ada lagi pesawat lewat :
“Itu berangkat lagi”, kata sang cucu.
“Itu mau berhenti”, kata sang nenek.
“Itu ada lagi”, kata cucunya lagi. Rupanya lama-lama sang nenek yang lagi asyik merenda benang merasa kesal juga dengan laku cerewet sang cucu. Lalu dengan cuek sang nenekpun nyeletuk yang kira-kira begini : “Embuh, ah…..”.

Sesayang-sayangnya seorang nenek terhadap cucunya, suatu saat ternyata bisa juga dia kehilangan kesabarannya, saat dia sendiri sedang asyik dengan kesukaannya. Manusiawi sekali.

***

Dalam perjalanan saya kembali ke New Orleans sembilan hari kemudian, Jum’at, 16 Juni 2000, lagi-lagi pesawat dari Phoenix dibatalkan, sehingga rute penerbangan saya dialihkan dari semestinya transit di Houston (Texas) menjadi transit via Denver (Colorado).

Di bandara Denver, sambil menunggu pesawat sambungan menuju New Orleans, saat itu sekitar jam 7:00 malam, saya mampir ke sebuah kafe untuk mencari sekedar pengganti makan malam. Ketika antri di depan kasir, di depan saya ada seorang nenek. Kali ini benar-benar seorang nenek kalau melihat raut mukanya yang sudah keriput dan berjalannya yang thunuk-thunuk (sangat pelan dengan badan agak membungkuk), kira-kira kalau berjalan dengan langkah saya satu banding tiga. Pendengarannyapun sudah berkurang, terbukti kasir kafe dicuekin saja ketika mengajak bicara saat membayar.

Setelah memperoleh apa yang dipesannya, dengan santai diapun berdiri menambahkan gula dan creamer ke dalam kopinya (memang sudah biasanya hanya akan diberikan kopi tanpa gula kalau kita pesan kopi). Sang nenek lalu berdiri di pojok menikmati makanannya. Kebetulan saat itu kafe sedang penuh orang-orang muda yang sambil makan menyaksikan siaran langsung di layar TV lebar final kejuaraan basket NBA putaran kelima antara Pacers (Indiana) melawan Lakers (Los Angeles), yang akhirnya dimenangi oleh Pacers dengan skor 120-87 dan membuka peluangnya untuk menyelesaikan the best-seven.

Barangkali inilah cermin kemandirian (dan individualis?) manusia Amerika. Tanpa perduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, setiap orang dianggap mesti mandiri dengan keberadaannya. Maka yang lalu terjadi adalah, seorang nenek setua itu masih sanggup bepergian seorang diri (meskipun naik pesawat) dan makan sambil berdiri di pojok kafe yang penuh orang, sementara puluhan orang muda tanpa perlu merasa sungkan atau tidak sopan bersorak di tempat duduknya di sebelah sang nenek ketika seorang pemain Lakers berhasil membuat nilai.

Malam harinya, di dalam pesawat menuju New Orleans, di samping kiri saya duduk seorang nenek dan di sampingnya lagi duduk seorang ibu yang kira-kira berusia sedikit di atas saya yang ternyata adalah anak dari nenek di sebelah saya. Sejak duduk di pesawat nenek tadi mulai membuka-buka majalah wanita (saya lupa memperhatikan nama majalahnya), hingga seperempat perjalanan sang nenek ini asyik saja membaca. Hingga saya tertidur dia masih membaca.

Saat saya terbangun dia juga masih saja membaca. Kelihatannya sang nenek di sebelah saya ini punya kebiasaan yang bagi saya tidak umumnya dilakukan oleh seorang nenek ketika sedang dalam perjalanan, yaitu membaca dan membaca. Saya jadi ingat, boro-boro membaca, nenek saya di kampung sana pasti memilih tidur kalau sedang dalam perjalanan, atau (katakanlah) sedang menghabiskan waktu.

Ketika tiba di New Orleans tengah malam, sang nenek sempat nyeletuk kepada saya “Tadi enak sekali tidurnya”. Saya paham itu pertanyaan basa-basi, lalu sayapun menjawab juga sebagai basa-basi :”Iya, terima kasih”. Entah kata-katanya itu pujian atau sindiran (karena malam itu memang saya merasa sangat capek hingga tertidur lelap), saya tetap perlu berterima kasih sebagai basa-basi gaya Amerika.

***

Ada tingkah laku, pola hidup dan kebiasaan yang bagi saya berbeda dari yang biasanya saya jumpai dengan nenek-nenek di kampung saya di Jawa sana. Barangkali saja semua peristiwa yang saya jumpai dan alami tadi adalah kebetulan belaka, atau tidak berlaku umum bagi setiap nenek di Amerika. Akan tetapi, paling tidak saya telah menemukan kesan bahwa ada kebiasaan (yang tentunya tumbuh akibat didikan sejak kecil) dalam diri nenek-nenek itu yang bernilai positif : mandiri dan percaya diri. Nilai-nilai itulah yang justru seringkali membuat kita terpuruk di belantara pergaulan masyarakat global.

Barangkali kesan saya keliru, tapi yang jelas saya merasa senang dan terhibur bisa belajar dari melihat perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.-

New Orleans, 20 Juni 2000.-
Yusuf Iskandar

Keramahtamahan Amerika

28 Februari 2008

Sekali waktu saya mencoba menghitung berapa banyak kata “terima kasih” dan “maaf” yang saya ucapkan per hari, mulai saat bangun tidur pagi hari hingga menjelang tidur malam hari. Hasilnya? Rata-rata tidak lebih dari 10 kali. Malah seringkali hitungan angkanya di bawah 10 untuk ucapan “terima kasih” dan di bawah 5 untuk ucapan “maaf”.

Ketika pertanyaan yang sama saya bandingkan dengan ketika saya tinggal di Indonesia, ternyata hasil hitungan angkanya lebih kecil lagi. Artinya, lingkungan di Amerika memang menuntut saya (atau siapapun juga) untuk lebih membiasakan diri mengucapkan kedua kata itu.

Saya justru kaget sendiri, ketika lingkupnya saya persempit di lingkungan keluarga saya sendiri. Ternyata kedua kata itu menjadi barang langka, nyaris jarang terdengar diucapkan. Kalau demikian, lalu timbul pertanyaan di hati saya : Apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah berbuat salah sehingga antar anggotanya tidak perlu saling mengucapkan kata maaf?. Ataukah keluarga saya termasuk keluarga yang tidak bisa berterima kasih antar sesama anggota keluarganya?

***

Dalam keseharian saya di Amerika, sering saya jumpai seseorang mengucapkan kata “terima kasih” ketika dia hampir ketinggalan hendak naik lift dan orang-orang yang lebih dahulu ada di dalam dengan suka rela kembali membuka pintu lift mempersilahkannya masuk.

Seorang lainnya berterimakasih ketika diberi jalan menyusuri lorong-lorong rak atau almari di dalam pertokoan. Seorang ibu berterimakasih kepada anaknya yang mengambilkan sebuah barang belanjaannya yang jatuh dari kereta belanja. Hampir setiap orang merasa perlu berterimakasih ketika ditanyakan tentang kabarnya.

Atau, seseorang mengucapkan kata “maaf” ketika usai membuka pintu masuk ke sebuah ruangan, dia lupa ketika melepaskan daun pintu begitu saja dan tidak memudahkan jalan bagi orang lain di belakangnya yang juga hendak masuk ke ruangan yang sama.

Seseorang meminta maaf ketika tanpa disadarinya dia berdiri menghalangi jalan orang lain. Seorang ibu meminta maaf kepada anaknya ketika barang belanjaannya secara tidak sengaja menyenggol kepala anaknya, padahal bukan salah sang ibu.

Itu semua sedikit contoh yang saya jumpai dalam keseharian saya di Amerika, untuk sekedar membandingkannya dengan yang biasa saya jumpai di Indonesia, dimana kejadian-kejadian semacam itu nampaknya dianggap sebagai hal yang lumrah-lumrah saja yang memang sewajarnya terjadi. Tanpa perlu basa-basi dengan kata-kata “terima kasih” atau “maaf”.

Sekedar contoh sebaliknya (yang kedengaran ekstrim, tapi nyata), ketika ada seorang anak tanpa sengaja menabrak emak-nya yang sedang asyik tawar-menawar dengan bakul kain di pasar. Apa kata emak-nya?. “Ooo…..matane ora
ndelok-ndelokke..
.” (matanya tidak lihat-lihat). Padahal emak-nya yang keasyikan sehingga berdiri menghalangi jalan orang lain.

Atau, orang tua yang menyuruh anaknya menutup pintu. Setelah pintu ditutup, ya sudah. Tanpa perlu kata-kata terima kasih. Layaknya menjadi satu segmen kehidupan yang memang semestinya orang tua menyuruh anaknya dan sudah sepatutnya sang anak patuh.

***

Maka ketika saya ingat lagi pertanyaan yang muncul dalam hati saya tadi, apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah salah atau keluarga yang tidak pernah berterima kasih, saya merasa “agak” lega dan terhibur. Sebab ketika pertanyaan yang sama saya coba proyeksikan kepada keluarga lain tetangga-tetangga saya di Indonesia, ternyata sebenarnya saya berada pada “level” yang sama dengan kebanyakan keluarga di Indonesia.

Hah? Ternyata saya tidak sendirian. Apakah memang demikian senyatanya? Kedengarannya subyektif. Atau, jangan-jangan saya hanya mencari pembenaran atas kesalahan kolektif bersama lebih 200 juta keluarga tetangga saya?

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sepotong cermin yang saya temukan di tengah kultur Amerika. Cermin yang nyaris tidak pernah memantulkan bayangan sisi baik budaya Amerika ke desa saya di katulistiwa sana.

Herannya, justru budaya-budaya yang tidak cocok malahan dibawa masuk (bukan cuma dipantulkan) untuk ditiru dan diterapkan. Lebih celaka lagi, ternyata kita lebih permisif terhadap budaya-budaya yang (sebenarnya) tidak cocok itu.

***

Budaya berbasa-basi (katakanlah itu demikian, atau taruhlah dilakukan dengan tanpa ketulusan) untuk mengucapkan kata “terima kasih” atau “maaf”, bagaimanapun juga adalah satu sisi positif dari keramahtamahan Amerika yang pantas untuk dijadikan bahan introspeksi kolektif di antara kita. Padahal Amerika tidak pernah meng-claim dirinya sebagai bangsa yang ramah, (maaf) tidak sebagaimana kita. Apalagi sampai mem-penataran-kannya atau malah menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah.

Bukannya keramahtamahan itu tidak penting, melainkan anak-anak bangsa kita kurang melihat contoh perilaku keramahtamahan yang ditunjukkan oleh para orang tua mereka. Keramahtamahan dalam perspektif yang tidak sempit, tidak picik, tidak lemah, tidak buta, tidak tiran dan tidak sak geleme dhewe (semaunya sendiri), yang oleh orang Islam disebut sebagai akhlaqul karimah (budi pekerti luhur atau tingkah laku terpuji). Dan, termasuk dalam akhlaqul karimah adalah dengan ketulusan mengucapkan kata-kata “terima kasih” dan “maaf”.

Bahkan disebutkan bahwa orang yang meminta maaf terlebih dahulu (entah dia salah atau benar) mempunyai derajat yang lebih mulia ketimbang orang yang dimintai maaf. Indah sekali suratan itu, kalau saja dapat diwujudkan dalam keseharian kita. Mudah-mudahan.-

New Orleans, 19 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Pensiun Ketika Mati

28 Februari 2008

Hari Minggu, 29 April 2001, sekitar jam 9:00 pagi saya tiba kembali di New Orleans, Louisiana, setelah menempuh perjalanan lumayan panjang sekitar 14 jam dari Juneau, Alaska. Dari bandara New Orleans saya lalu menggunakan taksi untuk pulang ke apartemen. Kali ini saya menjumpai taksi yang tampil beda dari biasanya.

Sejak pertama kali memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi belakang taksi, saya sudah mencium sesuatu yang lain dari biasanya. Di bagian lantai bagasinya tergelar kain tebal seperti selimut bergaris-garis merah muda seakan-akan difungsikan sebagai karpet. Begitu masuk dan duduk di jok belakang taksi, serta-merta tercium bau wangi-wangian yang jelas aromanya terasa sumegrak (bukan semerbak tapi berbau tajam), aroma yang aneh untuk selera indra penciuman orang Indonesia.

Sedan Lincoln tahun 1988 yang berbadan panjang dan lebar yang “dipekerjakan” sebagai taksi itu di dalamnya didekorasi layaknya sebuah ruang tamu. Di seputar kaca depan dan dashboard-nya dihiasi dengan bunga-bunga plastik dan patung-patung kecil Yesus Kristus. Di sela-selanya ditempelkan banyak jam tangan berbagai merek tidak terkenal, sepertinya ditempel dengan lem sehingga susah dilepas. Di bagian atas joknya ditempel hiasan plastik berbentuk udang, crawfish, dsb., yang agaknya juga direkatkan dengan lem.

Di seputar jendela samping ada hiasan-hiasan lain, termasuk kutipan-kutipan kitab Injil serta foto-foto hitam-putih. Dari foto-foto itulah akhirnya saya tahu bahwa pak sopirnya adalah seorang veteran Angkatan Laut. Diam-diam saya cocokkan postur tubuh gagah dan kekar serta wajah tampan yang ada di foto dengan wajah pak sopir. Meskipun tidak tampak serupa benar, namun saya melihat garis-garis wajah yang memang membuktikan bahwa wajah yang ada di foto adalah wajah pak sopir.

***

Untuk meyakinkan dugaan saya, maka akhirnya saya mulai membuka percakapan dengan pak sopir. Pak sopir yang bernama Billy itu memang dulu pernah bekerja di Angkatan Laut Amerika dan pernah tugas ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara. Pak Billy pun mengiyakan dengan tersenyum bangga ketika saya tanya apakah orang yang ada di dalam foto itu adalah dirinya.

Pada bulan Agustus nanti Pak Billy akan genap berusia 75 tahun! Ya, sopir taksi itu adalah Pak Billy yang usianya hampir 75 tahun. Sudah 30 tahun ini Pak Billy menjadi sopir taksi miliknya sendiri. Berjalannya sudah tidak lagi tegap, melainkan pelan dan hati-hati. Bicaranya juga pelan, tidak jelas dan serak-serak kering. Setiap kali mendengarkan pembicaraannya saya mesti mendekatkan telinga saya ke sela-sela antara dua jok depan.

Namun jangan salah, tampil dengan berkacamata plastik hitam (bukan plus atau minus) Pak Billy masih cukup gesit mengemudikan taksinya dan tidak keteter mengikuti laju kecepatan lalulintas New Orleans pagi itu.

Pak Billy mengaku hanya bekerja 4-5 jam saja per hari, itupun terkadang banyak waktu terbuang hanya untuk menunggu dapat penumpang. Dia memang bekerja tidak ngoyo (memaksakan diri). Namun tentu adalah sebuah jenis pekerjaan yang luar biasa di usianya saat ini kalau mengingat bahwa dia mengaku berkerja 7 hari per minggu. Artinya, tanpa mengenal hari libur.

***

Menurut Pak Billy, ada dua hal yang membuatnya bangga, yaitu : bangga dapat menghidupi dan mengatur hidupnya sendiri dan bangga dapat menikmati hari tuanya. Lho? Sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa menjadi sopir taksi ternyata juga merupakan salah satu bentuk kenikmatan di hari tua seseorang. Setidak-tidaknya bagi Pak Billy, dan itulah cara Pak Billy menikmati hari tuanya. Sebuah cara yang tentu saja kedengaran aneh di telinga kita pada umumnya.

Kalau dapat diambil benang merahnya, maka barangkali esensinya adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Adakah sesuatu yang dapat ditiru dari penggalan kehidupan seorang sopir taksi bernama Pak Billy ini? Sesuatu yang kiranya dapat disemangati (bukan mengganti) untuk disisipkan ke dalam budaya masyarakat kita yang pada umumnya selalu merencanakan ingin menikmati hari tuanya setelah pensiun nanti, tapi pasti bukan menjadi sopir taksi.

Jika demikian, lalu kapan Pak Billy akan pensiun? Jawabnya ringan saja, dengan suaranya yang lemah dan serak dia berkata : “I will retire when I die ……”, sambil tertawa terkekeh.

Setelah membayar ongkos taksi US$16 plus tip US$2 setiba di apartemen, saya berkata : “Good Luck, Pak Billy…..”

New Orleans, 30 April 2001
Yusuf Iskandar