Posts Tagged ‘papua’

Catatan Harian Untuk Merapi (10)

28 Desember 2010

(87). Mereka Yang Jauh Dari Bantuan

Dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, sekitar 12 km dari Muntilan, ada di radius (tidak aman) 7 km dari puncak Merapi. Warga laki-laki berjaga-jaga, sedang warga perempuan/lansia/balita masih di pengungsian. Mereka para petani, jelas tidak ada yang dapat dikerjakan apalagi dihasilkan. Jauh dari sentuhan bantuan luar. Logistik adalah kebutuhan mendesak. Walau mereka takut “wedhus gembel”, tapi sore ini diamanahi tiga ekor wedhus gembel kurban…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(88). Mereka Yang Selalu Berstatus Awas Di Dusunnya

Dusun Bandung, Paten, Magelang, jelas berada di radius tidak aman terhadap Merapi (7 km). Tapi mereka harus menjaga hewan dan hartanya, begitu alasannya kenapa sebagian warga tidak mengungsi. Makan seadanya.

Sesuai status Merapi, mereka pun AWAS dan selalu terjaga terhadap gerak-gerik Merapi. Begitu bumi bergetar keras dan bergemuruh, mereka segera kabur menjauh menuruni gunung dengan sepeda motor yang selalu standby. Sambil getok tular (saling memberitahu) teman-temannya…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(89). Korban Merapi Non-Pengungsi

Menempuh jarak sekitar 12 km dari Muntilan, Magelang, ke arah sisi baratdaya lereng Merapi, menuju dusun Bandung, desa Paten. Melalui jalan sempit dan menanjak yang terlapis abu vulkanik. Di sana ada korban Merapi non-pengungsi dan memang tidak mau mengungsi. Mereka sadar ancaman awan panas, juga lahar dingin, bahkan hujan kerikil pun telah dirasakan, sedang abu tipis tak henti menyelimuti. Logistik adalah kebutuhan mendesak kini dan entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(90). Masih Ada Sapi Yang Akan Lewat

Membantu menyalurkan hewan kurban, sebagian dari amanah yang kami terima dari HMM (Himpunan Masyarakat Muslim) PT Freeport Indonesia. Hari ini tiga kambing ke dusun Bandung, Dukun; empat kambing ke dusun Pepe, Muntilan; satu sapi ke dusun Babadan, Sawangan; semua di wilayah kabupaten Magelang, sisi barat-baratdaya Merapi.

Insya Allah, masih ada sapi dan kambing yang akan lewat, besok… (Terima kasih untuk warga HMM Papua).

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(91). Seekor Lembu Ke Sawangan Magelang

Dusun Babadan, kecamatan Sawangan, Magelang terletak di kaki gunung Merbabu yang berhadapan dengan lereng barat Merapi, berada di radius sekitar 6 km dari puncak Merapi (juelass tidak aman). Tapi ratusan KK pengungsi ada di sana. Logistik sangat terbatas dan para lansia butuh selimut. Mereka sadar akan pilihannya itu. Tapi…., banyak hal sulit dicari penjelasannya. Ke dusun itulah seekor lembu (amanah dari rekan-rekan di HMM Papua) malam ini dikirimkan..

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(92). Menuntaskan Amanah Kurban Dari Papua

Tuntas sudah, enam sapi dan 10 kambing selesai disalurkan dalam dua hari ini sebagai amanah kurban dari warga Himpunan Masyarakat Muslim di Papua, untuk para korban bencana Merapi. Apresiasi untuk rekan-rekan yang telah bekerja keras untuk itu. Dan saya bersyukur berkesempatan menjadi bagian dari tim yang ketiban amanah. Semoga kelak menjadi “kendaraan” yang indah bagi para pengkurban, di langit tingkat tujuh yang dijamin bebas dari semburan awan panas maupun abu vulkanik…

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

(93). Penggalangan Dana Dari Mantan Teman Kerja

Beras, gula, sarden, kecap, hari ini dibelanja dan diangkut, siap untuk segera disalurkan ke beberapa lokasi pengungsian maupun korban Merapi non-pengungsi yang membutuhkan (dari hasil survey pendahuluan). Bantuan akan digabung dengan belanjaan lain. Semua dibeli dari hasil penggalangan dana yang bersumber dari para ex-teman kerja di Papua yang sekarang menyebar kemana-mana. Juga teman Facebook. (Terima kasih untuk pak Dwi Pudjiarso).

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

Temanku Yang Terkena Stroke

20 Desember 2010

(1)

Teman saya yang kena stroke datang ke rumah melapor badannya terasa lebih enak setelah minum jamu sarang semut Papua. Tentu saja masih jauh dari kesembuhan, ibarat menyusuri jalan lintas Trans Sulawesi, ini baru etape awal saja… Setidak-tidaknya dia merasakan badannya lebih enteng dan enak. Tapi justru karena itu dia jadi semakin tidak betah tinggal di rumah, karena badannya terasa enak buat jalan-jalan. Waaah…ya justru ini yang saya khawatirkan…

(2)

Masih tentang teman yang terkena stroke, sambil klecam-klecem (cengengesan) berkata: “Aku masih belum bisa gini...” (Maaaaaf, kata gini mewakili ekspresi kelelakiannya. Saya tidak bermaksud “horror”, tapi itulah potensi mimpi buruk yang dialami penderita stroke).

“Kata dokter, saya harus sabar menghabiskan obatnya dulu…”, jelasnya memelas. Sangat bisa saya pahami.

Pesan yang dapat saya sampaikan: “Semoga kamu dan istrimu masih memiliki cukup kesabaran…”.

Yogyakarta, 1 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Sarang Semut Papua

25 Oktober 2010

Kebetulan masih kusimpan sarang semut Papua, konon dapat menjadi obat stroke. Kepada temanku penderita stroke yang malam-malam ke rumahku, kuberi sekantong plastik, kusertakan catatan cara merebus dan meminumnya. Itu karena saya kesulitan menjelaskan secara langsung kepadanya, berharap catatan itu dapat dibaca istrinya.

Saya tidak tahu apakah akan berhasil, tapi setidak-tidaknya ada usaha. Sambil kuberikan jamu itu, sambil kubaca-bacain…(ya kubacain catatan yang tadi itu, maksudnya).

Yogyakarta, 18 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Setelah Tetes Terakhir

25 Juni 2010

Tetes terakhir kopi Amungme dari Papua sudah berlalu. Pagi ini disusul dengan kopi Kupu-kupu Bola Dunia dari Bali. Kuat pahitnya, mantap kentalnya, halus bubuknya, terasa kafeinnya, dan… sensasi “theng”-nya itu terasa sekali. Perlu tambahan gula bagi yang tidak suka ‘kopi rasa jamu’…

Terima kasih untuk sahabat yang telah mengirim oleh-oleh kopi. Di atas secangkir kopi itu kulihat wajahmu… (Maka bagi yang ingin wajahnya juga kulihat, kirimlah kopi…)

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tukang Parkir Itu Orang Papua

7 Juni 2010

Dari wajahnya saya tahu tukang parkir itu orang Papua. Tapi kok bisa ngomong Jawa halus? Rupanya putra Kwamki Lama, Timika, itu sudah 8 tahun di Jogja. Satu dari sedikit orang Papua yang berhasil ‘mengembik di kandang kambing, mengaum di kandang harimau’.

Lulus S1 Tambang dan sedang mengmbil S2 Agrobisnis. Kupamiti dia: “Ko betul. Biar ko pu teman-teman konflik di Timika, tapi ko belajar dan tahu susahnya cari uang”.

(Apresiasi untuk saudaraku, Jackson Tabuni).

Yogyakarta, 31 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Dunia Tak Selebar Buah Merah

29 Mei 2010

Wee…, lha anak lanang ini sekarang mulai ‘berani’ menyalahkan bapaknya:

“Bapak ini dulu kenapa keluar dari Freeport segala. Kalau tidak keluar kan saya mudah kalau mau mendaki Cartenz…”.
Jawabku: “Bapak keluar dari Freeport itu karena biar kau tahu kalau di luar Papua ada banyak gunung yang bisa didaki”. Anak lanang pun nyengenges…

(Terjemahan jawaban saya itu sebenarnya adalah agar dia tidak ‘terlambat tahu’ bahwa dunia ini tidak selebar buah merah).

Yogyakarta, 24 Mei 2010
Yusuf Iskandar

“Selamat Jalan Anakku…”

5 April 2010

“Rasanya belum lama kau kuantar ke Jakarta, nak. Kemarin petang kau kecelakaan dan tak sadarkan diri, lalu pagi ini kau harus segera berangkat menuju keabadian. Bahkan salam perpisahan pun belum sempat kuucapkan. Selamat jalan, anakku…”.

Begitu kira-kira, betapa galau hati kedua orang tuanya. Dan orang tua itu adalah sahabatku, ex-teman kerja di Papua, Bp/Ibu Sriyono. Kami berdoa, Allah swt. pasti telah memilihkan jalan yang terbaik bagi ananda dan keluarganya.

(Turut berduka atas berpulangnya ananda Ria Octarianti, 16 tahun, putri kedua dari Bp/Ibu Sriyono, karyawan PT Freeport Indonesia. Jenazah dimakamkan di dusun Karangwetan, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Orang Papua Mabuk

25 Maret 2010

Seorang Papua terkapar di pinggir jalan. Rupanya dia mabuk berat sejak semalam. Akhirnya dia tersadar dari mabuknya ketika hari sudah agak siang dan dikerumuni orang-orang yang lewat di dekatnya.

Kepalang malu dilihat orang, dia pun berteriak serak-serak lantang: “Apa ko lihat-lihat…! Ko pikir mabuk itu gampang kah? Sa mabuk sampe terkapar badan kotor-kotor semua….”. Orang-orang pun lantas bubar jalan sambil tersenyum.

Yogyakarta, 24 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Hujan Sore-sore

22 Maret 2010

Waktu hujan sore-sore, tanpa kilat menyambar, tanpa pohon kenari… Biasanya juga begitu, memang lagi musimnya, hujan jatuh membasahi bumi… Kalau sore ini terasa beda, itu karena saya ditemani secangkir kopi arabika ‘Amungme Gold’ dari pegunungan Nemangkawi, Papua. Nuansa sruputan pertamanya sore ini bagai Arjuna yang sedang kangen setengah modar dengan Dewi Arimbi nan lamo tak basuo. Wuih, harumnya + sedikit sensasi ‘theng‘-nya itu, lho…

Yogyakarta, 21 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (I)

15 November 2009

( 1 )

Sebenarnya saya juga tidak habis pikir, kenapa sekelompok orang desa yang dilarang gresek (mengais-ngais) emas di saluran pembuangan tailing (limbah tambang) di tambang Freeport di pegunungan Papua sana, kok gedung Plaza 89 Kuningan yang ditimpuki batu oleh sekelompok calon pemimpin bangsa berpendidikan tinggi di Jakarta? Lebih tidak mudeng (paham) lagi, yang di desa sana kemudian menuntut penambahan porsi pembagian dana yang 1% dari pendapatan Freeport, tapi yang di Jakarta menuntut penutupan tambang.

Andaikan saya adalah pemilik Freeport, rasanya su pecah kitorang pu kepala ….. (sudah pecah kami punya kepala) karena kelewat pening mengurai benang kusut. Bagaimana tidak? Dari hanya satu soal tidak boleh mendulang tailing, lalu beranak-pinak jadi belasan soal yang harus dicarikan solusinya sak deg sak nyet (saat ini juga). Dari hanya soal bisnis lokal menyangkut segram-dua gram emas bagi masyarakat setempat, menjadi skala bisnis milyaran dollar bagi masyarakat dunia, menyangkut isu lingkungan, isu HAM, isu politik tentang PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), isu “konspirasi” antar bangsa, isu penutupan tambang, sampai ke isu NKRI. Sak jane ki piye …..(sebenarnya bagaimana sih)?

Sebagai seorang mantan professional tukang insinyur tambang yang sekarang nyambi jadi CEO bisnis mracangan ritel di pinggiran Jogja, wajar kalau saya turut gundah dan gulana. Namun bagaimanapun juga saya harus berpikir jernih….., agar bisa tetap berpikir professional dan proporsional. Saya menerjemahan kata professional ini dengan mudah saja, yaitu mereka yang berpikir dan bertindak berlandaskan SOP (Standard Operating Procedure) atau tata kerja yang benar di bidang masing-masing. Karena itu mereka yang berpikir dan bertindak tidak atas dasar SOP yang semestinya (seumpama berdasarkan rumor, katanya, kabarnya, tampaknya, bajunya, warnanya, baunya, dsb.), di mata saya tak ubahnya seperti acara infotainment atau infomezzo.

Cilakak duabelas-nya, kalau yang berpikir dan bertindak tidak sesuai SOP itu ternyata seorang penjabat (pakai sisipan”n”), tokoh atau orang yang keminter, maka meroketlah dia menjadi seorang bintang infotainment baru. Kalau hanya untuk sekedar bahan guyonan atau plesetan, daripada bengong, okelah…….., saya juga suka dengan infomezzo untuk bekal haha-hihi….. mengusir sentress (pakai sisipan”n”). Tapi kalau kemudian dilempar ke tengah forum publik yang diliput media? Kalau dikatakan tidak professional….., nanti tersinggung. Tapi kalau mau dibilang professional….., kok bau-baunya ngawur……….

Itulah hal pertama yang membuat saya turut belasungkawa dan menyedihi diri sendiri. Sebab akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca komentar para tokoh dan pakar terkait dengan kemelut di depan gawangnya Freeport. Sebagian di antaranya kedengaran professional dan proporsional. Namun sebagian yang lain pathing pecothot….. (kata lain untuk tidak professional).

Lho, mereka juga para ahli. Iya…! Tapi, ibarat seorang ahli tinju yang mengulas soal teknik-teknik menjahit baju (akan lain soalnya kalau ahli tinju ini pernah ikut kursus menjahit misalnya). Atau, ahli bikin bakso berformalin membahas tentang bagaimana seharusnya mengatasi penyakit flu burung (akan lain soalnya kalau si tukang bakso ini pernah jadi petugas lapangan penyuluh kesehatan misalnya). Ya bolah-boleh saja….. wong ini negeri demokrasi, yang (sebaiknya) tidak boleh dan tidak etis adalah kalau njuk menyalahkan bahkan malah mengadili pihak lain.

Alangkah indahnya kalau sebelum menjatuhkan vonis terlebih dahulu mempelajari berkas perkaranya dengan cermat, teliti, adil dan tidak emosional. Bila perlu observasi lapangan dengan membawa koco-benggolo (suryakanta), sehingga tahu persis seluknya dan beluknya dan bukan hanya kabarnya dan kabarinya.

Jangan-jangan mereka yang beringas di Plaza 89 Kuningan dan bahkan di Jayapura itu adalah generasi muda Papua yang belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (melainkan mata kepala orang lain yang rentan terhadap praktek manipulasi dan provokasi) operasi penambangan Freeport dan (apalagi) memahami bagaimana Freeport akhirnya menginvestasikan uang milyaran dollar di Papua dan terus bertambah, sejak 40 tahun yang lalu.

Lha kalau investor kelas kakap seperti Freeport sudah mulai merasa tidak man-nyamman, bagaimana dengan investor-investor besar lainnya? Apalagi yang kelas teri? Lalu muncul dua kepentingan :

Pertama, kepentingan karena khawatir kalau-kalau calon investor kakap lainnya pada lari nggembring membatalkan rencana penanaman modalnya dan Kedua, kepentingan karena khawatir kalau-kalau masyarakat lokal menjadi pihak yang selalu terkalahkan. Padahal mestinya kedua belah pihak bisa di-guyub-rukun-kan untuk hidup berdampingan dalam kerangka simbiose mutualisme untuk kesejahteraan bersama.

Adalah fakta bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan penambangan Freeport sebagai sebuah sistem (bukan sub-sistem) bisnis. Tapi adalah opini emosional kalau kemudian ditemukan adanya masalah kok lalu tambangnya ditutup saja. Janganlah seperti man-paman petani di kampung saya yang membakar sawahnya gara-gara judeg (kehabisan akal) karena sawahnya diganggu tikus. Atau, man-paman Bush yang membakar Afghanistan karena dikira tikusnya ngumpet di sana.

***

Hal kedua yang membuat saya sangat prihatin adalah bahwa saya haqqun-yakil potensi konflik atau kemelut di depan gawangnya Freeport sekarang ini mestinya sudah teridentifikasi sejak lebih 35 tahun yang lalu. Tapi seperti pernah saya singgung sebelumnya, jangan-jangan…………

“sang pimpro gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. …….Pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja ….. Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot”.

Sebagai seorang sopir yang baru saja bermanuver banting setir atau alih profesi, saya melihat agaknya cerita tentang Freeport ini adalah cerita rakyat tradisional tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Masa-masa 35 tahun yang lalu, penumpang-penumpang kecil ini sepertinya tidak terlihat oleh sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio adalah penguasa dan pengusaha. Kalaupun terlihat, ya hanya nylempit di antara bagasi-bagasi besar penumpang lainnya. Sehingga tampak benar-benar keciiiiiil….. sekali, malah masih pada ber-pornoaksi telanjang, enggak pakai baju, ingusan. Akibatnya, menurut ngelmu manajemen resiko……. cincai-lah itu, adalah faktor threats (ancaman) yang dapat dieliminasi pada saat itu juga, tanpa perlu berpikir panjang, apalagi melalui polling SMS……

Namun agaknya ada yang terlupakan. Jaman telah berganti, sopir-sopir cadangan juga bermunculan, penumpang pun berganti generasi. Masa 35 tahun adalah masa yang sangat cukup bagi penumpang-penumpang kecil yang dahulu ingusan dan telanjang untuk berbenah, berdandan dan mematut-matut diri. Sementara sopir-sopir itu tetap saja menganggap mereka seperti 35 tahun yang lalu. Menganggap bahwa senyam-senyum, oka-oke dan manggut-manggutnya mereka sekarang adalah sama dengan lebih 35 tahun yang lalu.

Maka jadilah bom waktu yang tinggal menunggu pemicu. Maka begitu ketemu pemicu, bukan masalah bomnya yang meledak. Kalau hanya bomnya….. kecil lah itu. Melainkan multiple effect kerusakannya ternyata merambat kemana-mana, menjadi pemicu atas timbunan daftar panjang ganjalan yang sudah terendap dan terakumulasi selama periode berbenah diri, sampai ke urusan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tahulah saya sekarang, kenapa urusan tidak boleh mendulang emas di saluran pembuangan limbah tailing di puncak pegunungan nun jauh di sana bisa menyublim di ujung dunia lainnya menjadi keberingasan menuntut tambang ditutup. Rupanya timbunan permasalahan penumpang-penumpang yang dulu dianggap kecil itu memang sambung-menyambung menjadi satu, seperti nyanyian ….. Dari Mimika Sampai Jakarta ….. yang berjajar pulau-pulau, dan itulah Indonesia…..

( 2 )

Freeport riwayatmu kini……. Apakah kejadian akhir-akhir ini akan dipandang sebagai hanyalah sebutir kerikil yang nyisip di antara jari kaki ataukah sebongkah gunung es? Tidak ada bedanya. Toh periode lebih 35 tahun sudah terlewati dan nampaknya tidak terlalu sulit untuk diatasi. Barangkali periode 35 tahun ke depan pun bisa diatasi sebagaimana periode 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan jaman tidak berubah. Tapi ….., siapa yang bisa menggaransi? Maka disitulah baru muncul bedanya…….

Bumi Papua sedang dilanda angkara……. Sialnya kok ya di sana ada Prifot (demikian orang awam suka menyebut perusahaan tambang raksasa ini. Membolak-balik pengucapan huruf “f” dan hurup “p” memang lebih mudah dan lebih enak didengar, seperti menyebut pilem, prei, paham, pilsapat, parmasi, palsapah, dan sebaliknya juga fagi-fagi fergi ke fasar lufa fakai celana fendek karena kefefet kefingin fifis…….).

Konplik demi konplik mewarnai romantika bisnis milyaran dollar. Kemelut demi kemelut merundung di depan gawangnya Freeport. Padahal mestinya ada yang bisa dilakukan untuk menghindari blunder dengan cara yang arif dan bijaksana. Mundur selangkah untuk maju sekian langkah. Kalau mau ……….. (Ijinkan saya menirukan kata “Atasan” saya Yang (Maha) Satu : ….. Tidak ada kesulitan melainkan di baliknya ada kemudahan — QS. 94:5-6).

Ibarat sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio pengusaha dan penguasa ini dan itu, yang terlena lebih 35 tahun. Sopir yang satu lebih suka status quo….. (Habis enak sih…..!). Sopir yang satu memilih menjadi seperti paman petani atau paman Bush. Sementara sopir-sopir lainnya sudah terbangun dari terlenanya, tapi ketika mencoba bermanuver banting setir kepalanya nyampluk (membentur) kaca spion sehingga hanya bisa melihat dari sisi yang berbalikan (sayangnya tidak setiap kaca spion tertulis peringatan seperti di luar negeri : “objects in mirror are closer than they appear”) .

Kalau saya……., kalau saya ini lho….., lebih baik terlena 35 tahun tapi ada yang membangunkan. Perkara siapa yang membangunkan ya mestinya bukan soal benar. Kata orang sonoan dikit : perhatikan “what”-nya dan bukan “who”-nya. Menyitir pesan Kanjeng Nabi Muhammad saw. : (simaklah) apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakannya ….. (bahasa londo-Arabnya : maa-qoola walaa man-qoola).

Kini threats (ancaman) sudah di depan hidung dan mata. Bukan sekedar mendulang tailing, bukan sekedar soal lingkungan, bukan sekedar praktek HAM. Itu isu yang sudah usang, sudah mataun-taun (bertahun-tahun) diungkat-ungkit-ungkat. Melainkan lebih serius lagi soal nyanyian Dari Sabang Sampai Merauke…… yang sedang diublek-ublek oleh penumpang-penumpang kecil yang 35 tahun yang lalu masih telanjang dan ingusan….., karena di jaman itu belum ada kompor minyak masuk pedalaman Papua, sehingga tidak ada yang ngomporin……

***

Berhubung saya yang hanya sopir kendaraan kecil yang ex-officio CEO “Madurejo Swalayan”, sebuah bisnis ritel ndeso, ini selalu optimis dan terkadang kelewat percaya diri, maka saya keukeuh untuk mengatakan bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Dan peluang itu tidak akan pernah habis digali dan tidak akan pernah selesai digarap.

Merubah ancaman menjadi peluang memang bukan pekerjaan seperti membalik telapak tangan (kalau telapak kaki memang rada sulit). Perlu perjuangan panjang dan melelahkan. Perlu kerja keras semua pihak. Dan lebih berat lagi adalah perlu good will dan hati legowo dari para sopir untuk melakukan banting setir secara terencana, terukur, terarah dan tidak emosional.

Pendeknya, matahari harus dibangunkan…..!. (Ben tambah nggegirisi……!). Kalau perlu jangan biarkan dia selalu tenggelam di horizon barat, melainkan tenggelamkan dia di ufuk timur. Paradigma community development harus dirombak-mbak…..! Tidak ada tawar-menawar…..! Paradigma lho, bukan paraturan (peraturan atau kebijakan). Kalo paraturan mah suke-suke nyang bikin aje….

Suka tidak suka, saya tetap mengatakan, jangan biarkan stakeholders selalu berarti obyek, melainkan subyek. Setidak-tidaknya ajari mereka agar berkompeten menjadi subyek. Kalau paradigma tidak berubah, maka action plan-nya pasti akan tambal sulam saja, gali lubang tutup lubang. Nampaknya, “ngelmu gaib” pun harus diyakinkan. Dan yang paling penting, bahwa peluang itu sebenarnya ada di depan mata.

***

Sesungguhnya ini bukan hanya monopoli sopir-sopir kendaraan besar seperti Freeport. Freeport saja yang sedang ketiban apes, duluan diobok-obok. Meskipun sesungguhnya ada fakta lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Bahkan oleh para antropolog pun tidak pernah disinggung-singgung adanya satu faktor sosio-kultural-antropologis (embuh panganan opo iki……) yang terkait dengan etos kerja.

Tapi baiklah, hal itu dikesampingkan saja. Masih banyak sopir-sopir kendaraan besar berpangkat penguasa dan pengusaha di tempat-tempat lain yang seprana-seprene (sengaja) terlena dan enggan dibangunkan. Dan agaknya perlu mulai mawas diri dan belajar dari apa yang sedang dirundung oleh Freeport. Tidak ada buruknya kalau mau belajar dari kemelut di depan gawangnya Freeport, mumpung belum kedarung (telanjur) menjadi blunder.

Omong-omong soal menggarap peluang, rasanya kok tidak ada kata terlambat. Sopir-sopir boleh udzur, boleh meninggal duluan (kalau menginginkan), boleh malas mikir, boleh over-sek (saya suka terjemahan baru ini, untuk menyebut : usia lebih seketan, lebih limapuluhan), tapi kernet dan penumpang kecilnya pasti semakin pintar dan cerdas. Lha, mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana menggali, menangkap dan menggarap peluang-peluang yang ada. Agar hubungan sesrawungan (silaturahmi) antara segenap anasir stakeholders dan shareholders tampak lebih manis, mesra dan profitable.

Tapi perlu pengorbanan dan biaya tidak sedikit? Lha iya….., sudah dibilangin …….., mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana memasukkan biaya-biaya dan peluang-peluang itu sekaligus ke dalam analisis bisnis yang diperbaharui. Mencari tambahan kernet-kernet yang lebih terampil dan trengginas (lincah) juga bukan hal yang tabu. Jer basuki mawa bea…….. Kalau kepingin hidup aman, nyaman, damai, tenteram, sejahtera, gemah ripah loh jonawi tata tentrem kerta raharja, keuntungan dan kekayaannya terus melimpah dan menggunung, ya jelas perlu pengorbanan dan biaya.

Tidak lain agar anak-cucu sopir-sopir yang sudah over-sek itu tetap bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan penuh semangat, langkah tegap, kepala tegak dengan rona kebanggaan di wajahnya, entah berambut lurus atau keriting, entah berkulit sawo bosok, kuning langsat atau gelap gulita …….

Madurejo, Sleman — 5 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

15 November 2009

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Bangga Dengan Batik Papua

3 Oktober 2009
IMG_4056_r1

Bangga Mengenakan Batik Papua

Pakai BATIK Papua…, kulakan akua…, njuk nggoaya…

(Cap apapun air mineralnya, sebut saja akua)

Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Batik Papua

2 Oktober 2009

1_IMG_4024_r1a1b_IMG_4044_r1c2_IMG_4026_r32a_IMG_4028_r3b3_IMG_4023_r24_IMG_4032_r54a_IMG_4035_r5b4b_IMG_4047_r2d5_IMG_4030_r4a5a_IMG_4031_r4b

Menurut bungkusnya, tertulis : Batik Khas Papua (made in Jayapura – Indonesia).

Dapat dibeli di :

  • Toko Aneka Batik Papua, Jl. Percetakan I (Depan Salon Sari), Jayapura, Papua – Tlp. (0967) 523489
  • Toko Aneka Batik Papua, Jl. Raya Abepura, Kota Raja No. 28, Jayapura – Tlp. (0967) 582335
  • Toko Nusantara, Jl. F. Kalasuat No. 3 Sorong – Tlp. (0951) 321328
  • Toko Aneka Batik Timika, Jl. Serui Mekar No. 48, Timika – HP. 0811492481

Yogyakarta, 2 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Ke Jakarta

28 September 2009

Alarmku

Alarmku yang bunyinya seperti ayam jago kluruk, baru jam 1 dini hari sudah mbeker-mbeker… Istriku kaget terbangun. Rupanya saya lupa, setelan jamnya masih WIT..

(Malamnya baru tiba dari Papua, dan lupa mengubah penunjuk waktu pada HP yang biasa saya gunakan sebagai pengganti jam)

Yogyakarta, 15 September 2009

——-

‘Another Mission’

‘Another mission’ hr ini goagal…. Sebagai pelipur lara, berbuka nasi opor + sop ayam pangsit boanyak-boanyak di Terminal F Cengkareng…

(Hari ini ada misi khusus menagih tunggakan pembayaran dari klien di Jakarta. Eh, masih juga dijanjikan… Sabar, sabar…)

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta – 15 September 2009

——

Kembali Nyopir

‘Back to basic’, kembali jadi Sopir-intendant, ngurus warung, wal-angkat wal-junjung, lanjut bisnis dengan Ramadhan, ngurus zakat di kampung. Indahnya…

(Siap-siap membantu ‘Boss’ mempersiapkan warung menyongsong panen raya lebaran…)

Yogyakarta, 16 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Awal September 2009)

28 September 2009

Gempa

Setiap kali ada gempa, orang2 pada kabur berhamburan keluar gedung…. Rupanya gempa itu suka menakut-nakuti orang yg kerjanya di dalam gedung…..

(Intermezzo saja…. Akhir-akhir ini gempa sering terasa di Jogja, meski intensitasnya tidak terlalu besar, tapi bikin deg-degan juga…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Telat Bangun Sahur

Bangun sahur bersama terdengarnya adzan subuh….. Maka : Lanjutkan….! Ya puasanya, ya tidurnya….

(Inilah sekali-sekalinya sekeluarga terlambat bangun untuk makan sahur…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Sarang Semut

Waduh… tobat tenan….! Ngerebus jamu sarang semut Papua, lupa, sampai kering…. Tinggal sarangnya gosong, semutnya pada kabur….

(Pada kunjungan saya ke Papua beberapa bulan yll, saya sempat mampir ke pasar tradisional Swadaya, Timika, membeli sarang semut yang konon mujarab sebagai obat tradisional untuk aneka ria macam penyakit — Tidak lama setelah itu pasar Timika terbakar….)

Yogyakarta, 1 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Tembagapura – Mei 2009

27 Mei 2009

Berikut ini catatan-catatan pendek perjalanan saya ke kota tambang Tembagapura, kabupaten Mimika, Papua, yang sempat saya posting di Facebook (saya tulis ulang dengan penyempurnaan penulisannya agar lebih enak dibaca).

Yusuf Iskandar

———-

Jamblang dan Sate Lilit

Kemarin malam saya diundang makan malam oleh seorang teman (mas Ridwan Wibiksana) dan disuguhi jamblang, masakan khas Cirebon (tumis cabe merah yang bijinya sebagian dibuang, diramu dengan irisan daging)…. hewes..hewes… kepedasan….

Malam ini diundang oleh seorang teman lainnya, yaitu keluarga Pak Ketut Karmawan (kalau tidak salah berasal dari Bali), disuguhi sate lilit (berbahan daging ayam), petai goreng lengkap dengan sambal terasi, bawal goreng dengan sambal tomat, tumis kacang panjang, dll. Wuih…, di saat malam-malam dingin di lokasi berketinggian lebih 2300 mdpl (meter di atas permukaan laut), tapi bisa juga kepala keringatan….

Tembagapura, 26 Mei 2009

—–

Alhamdulillah…..

Alhamdulillah….. pagi ini terasa sakit pada lutut dan paha setelah ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’ hari Minggu kemarin. Kaki terasa sakit untuk jalan, mlanjer, njarem, kemeng, loro kabeh, terasa sakit semua…. Sepertinya sudah agak lama saya tidak menikmati hal seperti ini. Trims, Tuhan….

Tembagapura, 25 Mei 2009

—–

Kakap Woku Belanga

Seorang teman yang agak pinter masak dan hobi memancing, malam ini mengundang saya makan malam. Menu yg ditawarkan : kakap woku belanga (kakapnya hasil mancing di laut), ayam goreng, ca sawi campur telur, minumnya teh tubruk. Ya, jelas saya langsung berangkat ke rumahnya to…. Sampai perut kemlakaren…., kekenyangan. Lalu ngobrol ngalor-ngidul sampai malam. Terima kasih, kawan…. (kawan saya itu namanya pak Herry Siswanto).

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Ikut ‘Race To The Clouds’

Bisa juga saya mencapai garis finish, lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, di urutan ketiga (dari belakang… he..he.., peserta yang lain cukup butuh waktu 1,5 – 2 jam, saya selesai dalam 3 jam lebihnya banyak). Sangat menantang, start di lokasi berelevasi 1988 mdpl (meter di atas permukaan laut), lalu mendaki menuju lokasi berelevasi 2908 mdpl, dan turun lagi.

Bersyukur saya masih sempat ikut kegiatan “aneh” ini di lokasi yang tidak pernah saya sangka… Saya membayangkan seperti sedang perjalanan mendaki gunung. Meski belum cukup memacu adrenalin…

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Mbah Wardi

Tadi siang ketemu teman lama yang ahli urut (pijat) sekaligus melakukan ‘scan’ penyakit. Sewaktu saya masih karyawan dulu, sering saya buktikan hasil ‘scan’-nya ternyata tepat dibanding angka hasil pengecekan laboratorium di Rumah Sakit yang saya lakukan esoknya, termasuk kadar asam urat, kolesterol, dsb. Edan…..

Setelah itu biasanya dia memberitahu resep jamu ramuan herbal atas penyakit yang diderita pasiennya. Ramuannya bisa dicari di halaman sekitar atau membeli di pasar. ‘Cilakaknya’, kok ya terbukti manjur…. Teman saya itu bernama Suwardi, teman-teman biasa memanggilnya Pak Wardi, tapi ada juga yang merasa lebih akrab memanggil Mbah Wardi….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Sepatu Baru

Akhirnya sepatu baruku bisa ditukar dengan yang lebih besar ukurannya. Waktu itu membelinya hanya titip teman di pasar Timika, harganya Rp 99.950,- tapi tidak ada kembaliannya. Hari Minggu besok mau dipakai ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, menempuh jarak lebih 13 km, mendaki 930 m, di elevasi 2000 – 3000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di tengah Papua. Mudah-mudahan bisa mencapai sasaran, dan yang penting bisa turun kembali….., biarpun paling buntut saat semua panitia sudah bubar….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Dinner Di Lupa Lelah Club

Malam ini diajak dinner oleh seorang teman (namanya pak Joko Basyuni) di Lupa Lelah Club (nama sebuah resto di kota tambang Tembagapura, Papua). Bagi pengunjung tempat ini harapannya tentu agar dengan makan-minum di klab ini segera akan lupa dengan segenap rasa lelah, capek, kesal, dan sebangsanya sehabis seharian sibuk dengan kerja di lapangan.

Ketika pulang? Ya lelah lagi……., mendingan nggeblak tidur ah….

Tembagapura, 21 Mei 2009

—–

Tsel Flash

Tsel Flash benar-benar kemayu dan menggemaskan. Pingin tak pithes…. (tapi nanti malah tidak bisa online…). Sudah ditinggal ke belakang kok ya masih saja lenggut-lenggut kayak sapi kekenyangan…

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Menyusuri Pepohonan Cemara

Hawa segar pagi hari, berjalan agak mendaki menyusuri pepohonan cemara yang aroma daun-daunnya sangat khas. Sensasi bau-bauan yang sering dijumpai saat melintasi hutan pertama ketika mendaki gunung…..

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Online Di Tembagapura

Akhirnya bisa juga ng-online di Tembagpura (menggunakan Tsel Flash yang jalannya menggemaskan…). Ini adalah kota tambang di tengah Papua, berada di ketinggian +/- 2000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di lembah pegunungan terjal, sering berkabut, hujan, dingin, mudah lapar, ingin kencing terus, paling enak kemulan sarung… terus enggak usah kerja….

Tembagapura, 19 Mei 2009

—–

Mendarat Di Timika

Jam 18:00 WIT pesawat Airfast yang saya tumpangi dari Surabaya mendarat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Malamnya menikmati karakah (kepiting) goreng mentega di Rumah Makan ‘212’ (tapi pasti tidak ada hubungan saudara dengan Wiro Sableng), di Jl. Belibis, Timika. Alhamdulillah, bisa kembali mengunjungi kota ini……

Timika, 16 Mei 2009

Pahala Betebaran Di Pasar

18 April 2009

img_2098_pasar2

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama…..).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

***

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan untuk mampir ke “Shopping”. “Shopping” adalah sebutan salah kaprah bagi warga Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun sekedar jalan-jalan. “Shopping” adalah sebuah tempat semacam pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke “Shopping” sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh…., permintaan yang rada susah. Telanjur saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan…., ya salah sendiri kok dibaca…). Akhirnya saya temukan juga coklat merk “Dove” buatan Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama.

Ee… ndilalah…. , di pasar “Shopping” itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar “Shopping”. Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan Tembagapura.

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan masuk ke pasar tradisional “Swadaya” di tengah kota Timika. Suasana pasar masih tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee… ndilalah lagi…., di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus.

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi ini bukti bekerjanya “law of attraction”, atau wujud dari rahasianya “the Secrets”, atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? Kejadiannya, mungkin “Iya”. Tapi hakekatnya tentu saja “Tidak”. Karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk dalam skenario Tuhan juga.

***

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin…). Lha, wong namanya pasar, adalah tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu’amalah, bersosialisasi, yang baik maupun yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang bisa dikunjungi seperti pasar “Shopping” yang moderen atau pasar tradisional yan becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, perniagaan nyata maupun maya.

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat.

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow… “enak sekali” tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar…?, peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih berganti.

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan (kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak biasa…), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2099_pasar1

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu

5 April 2009

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika.

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood “Surabaya” sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala “DS” jika terdaftar di kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian…), plus agak deg-degan karena biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa ngebut sendiri…. Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

***

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan mengomandonya untuk menuju ke warung seafood “Surabaya”. Ongkos ojek dari Base Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah…. Semua pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari “kekeliruan” jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang maksudnya : “Naik ojek, pak?”. Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya hanya berkata pendek : “Kembaliannya untuk bapak saja…”. Kalimat pendek itu rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

***

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi sedikit “surprise” yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya.

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : “Tolong yang seribu lima ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak…”. “Nggih, pak…”, jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai pesan kepada penjual tiket tol : “Sisanya untuk mobil di belakang saya ya…”.

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada “surprise-surprise” kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan “bisnis memberi”, entah sebagai penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat.

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar

Maaf, Saya Ke Papua Tanpa Pamit

3 April 2009
Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Mohon maaf, blog ini saya tinggalkan selama tiga minggu karena pergi ke Papua tanpa pamit. Semula saya pikir saya akan mudah mengakses internet di sana. Tapi rupanya saya mengalami beberapa kendala non-teknis yang menyebabkan saya tidak bisa meng-update Catatan Perjalanan saya, praktis selama sebulan.

Tepatnya, dari tanggal 10-31 Maret 2009 saya jalan-jalan ke Papua, tepatnya ke kota Tembagapura dan Timika. Perjalanan ini terlaksana atas undangan teman-teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Ini mirip-mirip perjalanan nosalgia, karena saya pernah bekerja di sana selama periode tahun 1995 hingga 2004.

Selama berada di Tembagapura dan sekitarnya yang lokasinya berada naik-turun di ketinggian antara 2000 – 2400 m di atas permukaan laut, saya mengalami keterbatasan mengakses internet. Fasilitas internet milik perusahaan sangat terbatas. Sementara fasilitas internet yang selama ini saya gunakan, yaitu IM2 dan Smart ternyata tidak dapat saya gunakan karena rupanya hanya sinyal Telkomsel saja yang “berani” naik gunung. Walhasil, saya hanya bisa membuat catatan-catatan kecil yang Insya Allah akan saya posting menyusul.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya, meskipun saya ke sana dalam rangka jalan-jalan, tapi acara jalan-jalan itu terlaksana akibat dari sebuah komitmen. Maka saya berkewajiban menjaga amanat penderitaan komitmen. Sekali sebuah komitmen dibuat, maka semestinya siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, termasuk kesibukan yang seringkali baru selesai hingga malam. Komitmen yang terbingkai dalam acara jalan-jalan dibayarin.

Masih ada alasan ketiga, yaitu bahwa selama di sana saya sering diundang oleh teman-teman lama saya untuk sekedar diajak berbagi tentang pengalaman saya bagaimana mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pegawai alias pensiun alias pengangguran. Teman-teman saya ingin tahu bagaimana saya memulai dan merintis bisnis atau berwirausaha. Tentu saja acara ini hanya bisa dilakukan saat malam hari di sisa waktu yang ada.

Demikian, kini saya kembali ingin melanjutkan catatan-catatan dan dongengan apa saja untuk sekedar berbagi unek-unek, pengalaman, info, curhat, termasuk cerita-cerita yang tidak seberapa bermutu, sekedar sebagai bacaan yang (mudah-mudahan) menghibur kepada siapa saja yang menyukainya. Salam….    

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Jeda Perang

8 Januari 2009

Ada perkembangan baru dari perang Israel vs. Hamas di Jalur Gaza, yaitu disepakatinya “perubahan jadwal” pada agenda harian perang, untuk tidak perang. Kedua belah pihak yang sedang bertikai sepakat  untuk menambah agenda harian berupa genjatan senjata alias jeda perang selama 3 jam (jam 13 s/d 16 waktu setempat) setiap harinya guna memberi kesempatan bagi misi kemanusiaan.

Dalam bayangan saya, begitu jam 1 teng….., para pejuang di kedua belah pihak akan segera meletakkan senjatanya dan melepas nafas panjang, lalu berhamburan ada yang melakukan upaya pertolongan pada pasukan yang cedera, menata kembali perlengkapan dan persenjataannya, mengatur strategi berikutnya, dsb. Bagi masyarakat sipil segera akan berhamburan menolong korban, menambah perbekalan dan kebutuhan hidup, memperbaiki kerusakan prasarana sebisanya, dsb. Hingga nanti kembali masuk lubang persembunyian menjelang jam 4 teng……., menunggu 21 jam berikutnya untuk kembali bisa menghirup udara segar tak berbau mesiu.

Ikhwal jeda perang ini mengingatkan saya pada peristiwa perang suku di Papua (masyarakat setempat mengucapkannya dengan perang tuku, huruf s dilafalkan t…). Sekali waktu terjadi tawuran antar kampung di wilayah kabupaten Mimika, karena umumnya di tanah Papua beda kampung sudah beda suku, maka sebut saja perang suku.

Pagi hari, usai sarapan (dan sepertinya jarang yang mandi) perang segera dimulai, entah siapa yang mendahului. Tanpa bunyi dar-der-dor dan tanpa suara dentum senjata, melainkan…..teriakan hooooooo….. huuuuuuuuu….. dengan tombak dan panah beracun siap membidik sasaran tembak (meski tidak menggunakan senjata yang ditembakkan….). Aura kemarahan demikian memuncak untuk saling melawan dan memusuhi antar kedua belah pihak yang saling berseteru, yang seringkali dipicu oleh sebab yang sepele.

Namun saat tiba waktunya istirahat ketika kedua belah pihak mulai lelah dan capek, begitu saja tiba-tiba keduan kelompok berhenti berperang. Ketika tiba waktunya makan siang, mereka akan berhenti untuk makan siang dulu. Pun jika tiba waktunya untuk minum kopi (sebut saja coffee break), kedua kelompok yang tadi saling berhadap-hadapan akan serentak berhenti mengambil jeda waktu untuk menjerang air, bikin kopi, merokok, makan pinang, merawat yang cedera, cengengesan, ejek-mengejek….. Lengkingan huuuuuuu….. pun berubah menjadi cekikikan ha-ha-hi-hi…. Perang akan dilanjutkan kembali setelah itu, entah bagaimana aba-abanya.

Saat sore hari tiba, masing-masing pasukan akan balik-kanan-bubar-jalan dan pulang beristirahat agar esok badan kembali segar dan siap perang lagi. Tidak tahu kapan berakhirnya. Namun jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam akan terus membara, hingga akhirnya pemerintah terpaksa turun tangan mendamaikan mereka.  Sementara di Jalur Gaza nun jauh di sana, entah pemerintah mana yang harus turun tangan. Wong tangan-tangan yang ada semua berada naik menggenggam kepentingannya masing-masing. 

Meski perang suku di Papua terkesan primitif dengan memanfaatkan senjata tradisional seadanya, namun naluri kemanusiaan terbangun secara otomatis (yang mereka sendiri sebenarnya tidak paham benar naluri kemanusiaan itu jenis makanan apa).  Yang mereka tahu adalah bahwa ada kebutuhan manusia (yang sedang berperang) yang tetap harus dipenuhi, lebih penting ketimbang perang itu sendiri. Karena itu perlu ada jeda perang yang tidak harus diatur dengan jam, melainkan sesuai naluri alamiah seiring berjalannya waktu dan hajat kebutuhan manusia pelakunya.

Indah sekali….. (Lho, perang kok indah? Setidak-tidaknya, tidak lebih nggegirisi atau mengerikan, dibanding yang terjadi di Jalur Gaza).

Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar