Archive for the ‘> Tentang Konser Musik Woodstock’ Category

Tentang Konser Musik Woodstock

5 Februari 2008

Pengantar :

Catatan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan rekan saya Mas Mimbar Seputra : “Apakah kota Woodstock yang saya maksud dalam perjalanan Keliling Setengah Amerika itu adalah kota Woodstock yang sering digelar pesta musik kaliber dunia?”. Pertanyaan ini justru mengingatkan saya tentang konser musik Woodstock dan masa kecil saya. Karena itu, catatan berikut ini sekaligus merupakan catatan perjalanan dan nostalgia saya.

(1).     Konser Musik Woodstock (Bagian 1)
(2).     Konser Musik Woodstock (Bagian 2)

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(1).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 1)

Kota Woodstock yang saya lewati dalam perjalanan keliling setengah Amerika berada di negara bagian Vermont, sedangkan kota Woodstock yang berkaitan dengan festival musik (yang disebut Mas Mimbar) itu berada di negara bagian New York. Ya ….., masih dekat-dekat Manhattan, sekitar 160 km di utaranya.

Saya sebut berkaitan dengan festival musik, karena sebenarnya konser musik “Woodstock” yang pertama kali diadakan pada bulan Agustus 1969 bertempat di kota kecil Bethel, di sebelah barat daya kota Woodstock, New York. Sedangkan nama “Woodstock” terlanjur diabadikan karena memang di kota itulah rencana mula-mula konser “Woodstock69” akan diselenggarakan, sebelum kemudian dipindah ke Bethel.

Inilah konser musik rock terbesar, terheboh dan terkisruh yang pernah diselenggarakan, sehingga kemudian mengilhami Pemda negara bagian New York untuk mengeluarkan beberapa peraturan menghindari hal serupa terulang kembali. Padahal pesta musik ini menyandang motto “three days in peace and music“.

Sekitar 500.000 penonton membanjiri kota kecil Bethel. Kemacetan terjadi dimana-mana di jalan yang menyambung ke Bethel. Ratusan polisi terpaksa kerja lembur. Tindak pencurian, pengrusakan, pemerkosaan, dan beraneka ria kejahatan terjadi, termasuk korban yang meninggal dunia di lokasi konser yang berlangsung tiga hari tiga malam non-stop.

Di “Woodstock69” inilah pemusik-pemusik terkenal turut ambil bagian, seperti : Janis Joplin, Jimi Hendrix, Bob Dylan, Roger Daltrey, Jerry Garcia, dsb. Sedangkan kota Woodstock sendiri (yang namanya diabadikan sebagai judul konser musik) kini menjadi kota terbesar keempat di Amerika dalam urusan studio rekaman, setelah New York, Los Angeles dan Nashville. 

Konser musik berikutnya, “Woodstock94”, digelar bulan Agustus 1994 di kota kecil Saugerties, dalam rangka memperingati 25 tahun “Woodstock69” yang melegenda. Kali ini lokasinya memang berdekatan dengan kota Woodstock.

Kemudian digelar lagi “Woodstock99” pada bulan Juli 1999 di kota Rome, dalam rangka merayakan 30 tahun “Woodstock69”. Kebetulan kota ini sempat saya lewati ketika turun dari pegunungan Adirondack dalam perjalanan keliling setengah Amerika. Lokasinya agak menjauh ke utara dari kota Woodstock.

“Woodstock94” dan “Woodstock99” berlangsung lebih tertib. Ratusan ribu pengunjung membanjiri arena pesta musik yang juga digelar selama tiga hari. Kali ini pihak Pemda setempat sudah lebih siap, termasuk bagaimana menjaring sebanyak-banyaknya dollar para pengunjung yang datang dari penjuru Amerika.

Yang kemudian terlintas di pikiran saya bukan pesta musiknya, melainkan tempat penyelenggaraannya yang kiranya dapat menjadi cermin bagi kita. Bahwa hajat-hajat besar (maksud saya, acara-acara berskala besar) semacam ini tidak harus diselenggarkan di Jakarta atau Bandung atau Surabaya. Melainkan dapat juga digelar di Cikopo atau Alas Roban atau Pacitan. Agar, rupiahnya para orang kota itu juga ngepyur (tertabur) ke pelosok-pelosok desa melalui penginapan, rumah makan, angkutan atau oleh-oleh (termasuk kendil, cepuk, slepi dan sejenisnya).

Pertanyaan bernada “curiga” dan “waswas” yang kemudian muncul di Jakarta adalah : Apakah masyarakat dan daerah setempat sudah siap?

Kapakno-kapak (biar bagaimanapun juga) kalau tidak pernah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik (wong kita ini tidak kekurangan orang-orang pinter) dan lalu dicoba diterapkan, ya daerah tidak akan pernah siap mengurus apa yang menjadi urusannya …….-

New Orleans, 3 Januari 2001.
Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(2).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 2)

Barangkali diilhami oleh konser musik “Woodstock69”, maka para pemusik dan penyandang dana Indonesia menggelar acara yang mirip-mirip “Woodstock69” di TIM (Taman Ismail Marzuki) tahun 1973. Konser musik itu diberi nama “Summer28” singkatan dari Suasana Malam Hari Kemerdekaan Ke 28, yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 16 Agustus 1973.

Turut memeriahkan pagelaran musik (terutama yang berirama rock) pertama dan terbesar pada masa itu, antara lain God Bless (Ahmad Albar, dkk. dari Jakarta), AKA (Ucok Harahap, dkk dari Surabaya), Giant Step (Benny Subardja, dkk dari Bandung), Minstreals (Jelly Tobing dkk dari Medan), dan banyak lagi group-group musik yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

“Summer28” memang sempat kisruh, namun tidak separah “Woodstock69”. Sayangnya kini tidak ada lagi impressario yang berminat menggelar konser musik besar yang sejenis itu. Barangkali khawatir, pertunjukan musiknya akan kalah seru dan kalah heboh dengan “pertunjukan tawuran antar penontonnya”.

***

Itu tahun 1973, saya yang masih sekolah di kelas 1 SMP di kampung saya di Kendal, memandang kota Jakarta tampak seperti jauuuuuuuh ……. sekali. Apalagi datang ke Jakarta, nyaris seperti sebuah mimpi. Namun di tahun yang sama dan tahun-tahun sesudah itu, saya berkali-kali menyaksikan penampilan group-group musik itu di Semarang yang jaraknya hanya 30 km dari Kendal.

Di Semarang, mereka biasanya tampil di THD (Taman Hiburan Diponegoro) dan GOR Simpang Lima. Kedua tempat dan bangunan itu sekarang sudah bablasss…sak angin-anginnya, entah dimakan butho (raksasa) dari mana. Padahal THD waktu itu termasuk Taman Hiburan yang murah-meriah.

Meskipun itu adalah pengalaman masa kecil saya lebih 25 tahun yll. Namun saya masih ingat persis karena saya lakukan berkali-kali. Setiap kali ada pementasan di THD (biasanya sebulan atau dua bulan sekali), hari Sabtu sore saya minta uang kepada almarhum ibu saya Rp 500,- (lima ratus rupiah). Perinciannya : Rp 300,- untuk ongkos naik Colt angkutan Kendal – Semarang pp. Setiba di terminal Pasar Johar lalu berjalan kaki sekitar 750 meter menuju THD di Bubakan. Sisanya untuk bayar tiket masuk THD yang besarnya Rp 200,-

Saat pertunjukan musik di mulai, saya biasanya langsung menyusup ke depan panggung di dekat loud speaker, meskipun bunyinya memekakkan telinga tapi saya dapat nonton dengan bebas dan jelas. Sebab kalau saya tidak melakukan itu, saya akan kalah bersaing dan terhalang oleh penonton-penonton lain yang umumnya lebih dewasa dan lebih besar dari saya. Maklum, wong namanya panggung terbuka murah-meriah, jadi tempat duduknya terkadang jadi tempat berdiri. Apalagi kalau habis hujan, dapat dipastikan menjadi basah.

Berangkat dari Kendal jam 19:00 malam, jam 20:00 tiba di Semarang, jam 20:30 acara dimulai, jam 22:30 acara selesai dan lalu berjalan kaki kembali ke terminal Pasar Johar menunggu angkutan, jam 00:00 tengah malam tiba kembali di rumah di Kendal. Saat menunggu Colt di Pasar Johar, biasanya sambil duduk nongkrong di pagar tempat parkir di halaman sangat luas antara Pasar Johar dengan Masjid Besar dan gedung bioskop “Rahayu”, bersamaan dengan bubaran pasar Ya’ik yang digelar sore hingga malam (sebelum ada bangunan permanen Pertokoan Ya’ik Permai).

Catatan ini memang saya maksudkan untuk sekedar bernostalgia. Namun ada sedikit terselip sebuah kebanggaan, karena pengalaman semacam ini umumnya tidak dialami oleh anak-anak kecil sebaya saya pada jaman itu. Buktinya? Kalau sehabis nonton pertunjukan musik lalu keesokan harinya saya berceritera kepada teman-teman main saya, ternyata tidak nyambung. Kedengaran seperti sebuah “dongeng yang aneh”. Kalau begitu, ya cukup untuk saya nikmati sendiri saja.

New Orleans, 4 Januari 2001.
Yusuf Iskandar