Archive for the ‘Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau’ Category

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (1)

13 April 2011

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb

(1)

Jogja – Balikpapan – Tanjung Redep (Berau)… “Tidak ada kemudahan melainkan karena Engkau mudahkan, dan sebaik-baik kemudahan adalah kemudahan yang Engkau berikan”.

(Note: Catatan pembuka, sambil duduk di ruang tunggu bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Siap-siap terbang dengan pesawat Lion Air dari Jogja ke Balikpapan)

(2)

Mestinya pesawat Batavia itu siang ini terbang ke Berau dari Balikpapan. Telanjur kubayangkan orang lain pada jumatan di darat, aku tidak jumatan di udara. Tapi kok ya ndilalah.., pesawat ke Berau delay tiga jam.

Setelah Tuhan “memaksa” aku terbang ke Berau alih-alih kemarin ke Bandung untuk melayat guruku, aku tetap diberi kesempatan untuk jumatan di Balikpapan. Maka “dirusak”-Nya sebuah pesawat Batavia, sehingga harus ada yang delay terbang. Betapa Maha Hebatnya Dia.

(Note: Guruku yang saya maksud adalah alm. Prof. Ir. RM Partanto Prodjosoemarto yang meninggal dunia kemarin di Bandung. Sesungguhnya saya berniat melayat, tapi rupanya sesaat sebelum saya mendengar kabar duka itu, saya telanjur mengkonfirmasi hari ini terbang ke Berau)

(3)

Bukan sekedar jumatan, syukurku bertambah karena sempat silaturrahim dengan mantan teman kerja yang sudah lebih enam tahun tidak bertemu. Lalu jumatan bersama di masjid “Istiqomah” di kompleks Total-Pertamina Balikpapan, lalu makan rawon di kantin masjid yang bergaya lesehan… Puji Tuhan wal-hamdulillah… (kenyang banget karena sejak pagi belum sarapan, hanya sempat ngupi…).

(4)

Jam 16:30 WITA pesawat yang delay lebih tiga jam dari Balikpapan akhirnya mendarat di bandara Kalimarau Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim). Rencana mau langsung menuju lokasi survey ditunda besok karena sudah kesorean.

Leyeh-leyeh dulu di hotel. Semalam di Tanjung Redeb. Insya Allah besok pagi baru menuju lokasi survey…

(5)

Bandara Kalimarau… Ini bandara yang sekitar tiga tahun yll aku pernah menjadi tukang buka pintu pagar depannya, gara-gara kepagian tiba di bandara. Bahkan kubangunkan Satpam yang ketiduran ditonton pemain bola di TV.

Kini tampak tidak banyak berubah, melainkan sebuah bandara baru sedang dibangun di dekatnya. Tidak besar, terkesan minimalis, dilengkapi dengan dua belalai (garbarata) kecil. Saya suka dengan belalai kecilnya. Menarik, untuk ukuran bandara kecil.

(6)

Bandara baru Kalimarau, Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim) yang sedang dalam tahap penyelesaian. Bandara kecil yang dilengkapi dengan dua belalai kecil… Sebuah lambang kemajuan kota seiring dengan meningkatnya kesibukan ekonomi daerah dimana mulai banyak aktifitas eksplorasi dan eksploitasi potensi tambang terutama batubara.

(7)

Taksi dari bandara Kalimarau adalah angkutan kota yang dicarter. Ongkosnya Rp 40 ribu ke kota Tanjung Redeb. Sampailah ke hotel “Sederhana” yang akhirnya saya pilih. Alasannya sederhana, ya karena hotel ini memang sederhana.

Agenda pertama biasa.., langsung nggeblak merebahkan badan, menggeliat, leyehan… Tak sesederhana namanya, hotel ini layak untuk tempat menginap, leyehan dan buang hajat. Ada AC, air panas, TV, mudah cari makan di luar…

(8)

Sambil menikmati suasana malam, mampir makan di sebuah warung dekat hotel. Dari ujung selatan Jl. Pangeran Antasari sampai tepian sungai Segah berjajar warung-warung menyajikan menu ikan-ikanan (tapi ikan beneran), ayam dan bebek.

Pilihanku bandeng goreng racikan seorang ibu asal Mojokerto yang sudah 12 tahun marung (membuka warung) di Tanjung Redeb. Selalu hati-hati kalau makan bandeng karena duri halusnya betebaran di sekujur tubuhnya.

(Jum’at, 25 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (2)

13 April 2011

(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan

(9)

Cuaca Tanjung Redeb siang ini panas sekali, padahal matahari sudah lewat condong ke barat. Segera saya tinggalkan kota Tanjung Redeb ke luar ke arah barat untuk menuju ke lokasi survey mblusuk ke hutan di kawasan bernama Sambarata.

Jarak tempuhnya sekitar 70-an km, tapi waktu tempuhnya bakal bisa 3-4 jam melintasi jalan tanah serta naik-turun perbukitan. Itu kalau cuaca tidak hujan. Kalau hujan? Nggak tahu, mungkin malah nggak bisa lewat…

(10)

Kata teman seperjalananku yang sudah lebih dahulu naik-turun ke lokasi survey, cuaca cerah bin panas ini karena hari Jum’at kemarin mulai cerah. Maksudnya? “Biasanya kalau Jum’atnya cerah, maka dua-tiga hari kemudian juga akan cerah”, katanya sambil cengengesan.

Anyway, bismillahi tawakkaltu ‘alallohu laa haula walaa quwwata illa billahi… Maka Allahlah sebaik-baik penjaga…

(11)

Namanya juga mblusuk ke hutan. Sekitar 5 km menyusuri jalan raya Tanjung Redeb – Tanjung Selor, menyimpang ke barat ke Jl. Birang (menuju kampung Birang). Jalan berbatu, bertanah merah, berkubangan lumpur, hanya pepohonan menghiasi, mobil pun terseok-seok, entah untuk berapa jam ke depan. Sinyal ponsel mulai putus-putus, sebentar pasti akan menghilang, habis…

Dan, cerita status ini pun akan terputus dan berlanjut esok, lusa atau esoknya lusa. Insya Allah.

(12)

Baru sekitar setengah jam perjalanan dari Tanjung Redeb, sekitar 25 km, mobil 4WD yang kutumpangi terperosok kubangan lumpur… Uuugh! Dicoba diatasi tak juga berhasil.

Sore semakin remang, senja pun lenyap, gelap hadir di tengah jalan hutan. Jam 19 masih tak berkutik. Beruntung cuaca begitu cerah, bintang bertaburan di angkasa. Namun geluduk terdengar di kejauhan. Hanya nyanyian serangga malam dan serangga-serangga kecil beterbangan menemani. ‎

(13)

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain mencari pertolongan. Pak sopir mencoba berjalan menuju bulldozer perusahaan logging, tapi sudah tidak ada orang.

Mencoba berburu sinyal yang sesaat timbul, beribu saat tenggelam. Seorang teman mencoba memanfaatkan yang sesaat itu untuk mencari bantuan. Berharap bantuan datang, jam berapapun adanya. Sambil harap-harap cemas agar tidak keburu hujan. Jika terlambat, maka bantuan pun tak akan bisa menuju. ‎

(14)

Terperosoknya mobil yang kutumpangi ini sesungguhnya bukan karena semata-mata kondisi alam, tapi lebih disebabkan kecerobohan sang sopir. Sebab mestinya masih ada bagian jalan yang bisa dipilih untuk menghindari kubangan. Entah kenapa sang sopir pede sekali menerabas kubangan. Maka sang sopir dan teman satu lagi saling menyalahkan dan berbantahan. Walau dalam nuansa guyon, tapi terdengar getir di telinga. Toh, sudah terjadi… ‎

(15)

Semakin malam, gelap gulita. Ada mendung berjalan-jalan di langit, menutupi taburan gemintang. Semoga tidak kebelet mampir. Biar melanjutkan perjalanannya di atas sana…

Sang sopir yang kelelahan tidur terkapar di tanah. Lagu-lagi ndang-ndut muncrat dari HP-nya. Teman lain membuat perapian dengan membakar ranting kayu kering. Cahaya api menyibak gelapnya malam. Hanya ketika berada dalam kegelapan maka kita akan tahu artinya setitik cahaya. ‎

(16)

Jam 21 malam bantuan yang ditunggu tidak juga datang. Geluduk dan kilat bersahutan di batas cakrawala. Betapa bodohnya aku ini. Kenapa tadi mampir membeli bekal minum tapi tidak sekalian membeli sekedar makanan.

Mestinya, walau sedang tak berdaya di hutan, malam ini bisa menjadi sebuah pesta kecil, sambil tepekur bermalam Minggu di depan perapian. Bermusikkan nyanyian serangga malam dan geluduk, berpencahayaan kilat yang memantik di angkasa… ‎

(17)

Tiba-tiba teringat, aku belum sholat maghrib dan isya… Haruskah kulakukan sekarang? Air entah ada dimana. Atau nunggu nanti saja kalau sampai di lokasi yang layak? Tapi cukupkah kesempatannya? Tidak tahu jam berapa akan sampai. Atau absen dulu? Toh Tuhan pasti “maklum” dengan sikon yang sedang saya hadapi.

Tapi keputusanku adalah memanfaatkan segala fasilitas yang ada: tayamum, jama’-qoshor, di atas tanah terbuka, masih pakai sepatu, kira-kira menghadap kiblat… ‎

(18)

Jam 21:30 gerimis benar-benar turun dan menjadi hujan. Kami tinggalkan perapian lalu masuk mobil. Setengah jam kemudian gerimis reda. Sopir dan seorang teman mencoba lagi menangani mobil, menggali, mendongkrak, men-start, dalam gelap, tanpa hasil. Aku yang pegang senter. Hanya bisa setengah jam saja hingga gerimis kembali membesar.

Tipis harapan ada bantuan, semakin malam dan hujan. Tanpa komando kami masuk mobil, tidak lama kemudian semua terlelap… ‎

(19)

Bermalam di mobil adalah pilihan terbaik. Aku berusaha tidur senyaman mungkin di jok depan. Kubayangkan sama seperti ketika harus tidur di kereta malam, bis malam atau pesawat terbang malam.

Bukan sesuatu yang luar biasa. Yang luar biasa adalah, dan ini bagian menariknya, perut lapar tapi tidak membawa bekal… Untung masih ada air. Duduk leyehan di dalam mobil, membayangkan makan sego kucing dua bungkus dan teh jahe gula batu. ‎

(Sabtu, 26 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (3)

13 April 2011

(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan

(20)

Tidurku benar-benar lelap sampai pagi, sempat dua kali terbangun tapi tidur lagi. Untung tidak kliyengan… Tapi jelas pinggang dan leher terasa patah-patah, padahal tidak goyang…

Sholat subuh kutunaikan di dalam mobil. Kali ini fasilitas persolatan yang ada kugunakan habis-habisan: tayamum, sambil duduk di mobil menghadap ke tenggara…

Air bersih entah ada dimana, tanah berlumpur dan lengket, langit pagi makin terang… ‎

(21)

Kucoba keluar mobil untuk menikmati pagi. Nyanyian burung di pagi hari menyambut bangunku…

Gerimis malam masih tersisa rintiknya. Dengan mengenakan sepatu aku injakkan kaki keluar mobil, lalu menggeliat, berjalan-jalan sejenak, menghirup nikmatnya hawa pagi pegunungan. Kabut masih menggantung di pucuk-pucuk pepohonan. Makin berjalan, kakiku terasa makin berat. Ternyata lempung lengket itu menggelayuti sepatuku. Ah, lebih enak kulepas sepatu.. ‎

(22)

Aku masih punya air minum… Lumayan untuk melegakan tenggorokan, walau perut sebenarnya belum terisi sejak kemarin… Berharap ada mobil lain lewat sepertinya hil yang mustahal. Ini hari Minggu, pekerja logging pada libur. Sang sopir sudah jalan naik-turun bukit mencari bantuan. Teman satu lagi memilih tidur lagi.

Kucoba jalan ke tempat lebih tinggi siapa tahu ada sinyal. Berjalan terseok-seok karena lumpur lengket dan licin, padahal sudah lepas sepatu. ‎

(23)

Aha…dapat sinyal. Beberapa SMS berhasil kukirim keluar. Tapi untuk kirim status ke Facebook rupanya masih sulit, sementara baterei harus kuhemat.

Menikmati suasana pagi di jalan hutan. Bening tetes embun di dedaunan dan kuncup bunga warna ungu. Matahari masih samar terhalang awan, padahal sudah sepenggalah tingginya. Pucuk daun warna merah bata tampak kontras di antara hijau dedaunan. Aku berjalan turun kembali ke mobil…

(24)

Duduk nangkring di pintu bak belakang mobil, membunuh waktu menanti pertolongan, sambil menulis cersta Facebook yang baru dapat dikirim setelah nanti ketemu sinyal (mau duduk di tanah, berlumpur).

Tiba-tiba pandanganku tertuju ke bawah pada genangan air di belakang mobil. Kulihat seekor semut hutan yang panjang tubuhnya sekitar 1,5 cm, sedang berenang di tengah genangan air. Keenam kakinya menggapai-gapai seperti sedang berjuang agar tidak tenggelam. ‎

(25)

Kuperhatikan semut hitam itu dengan seksama. Kutunggu 5 menit, 10 menit, 15 menit.., masih juga tidak beranjak dari posisinya semula. Tak juga berhasil menggapai tepian genangan. Entah bagaimana semut itu bisa terjebak dalam genangan.

Akhirnya aku loncat turun, jongkok mendekati semut itu. Kuambil sepotong ranting, kuangkat tubuh semut itu dengan ranting karena khawatir kalau menyengat dan kupindahkan ke atas bongkah tanah di tepi jalan.

(26)

Semut itu diam sesaat lalu cepat merangkak menjauh (kalau berjalan nanti dikira sirkus). Kupandang lekat-lekat semut itu. Dalam hati aku berkata dan memohon: “Tuhan, sungguh aku ikhlas membebaskan semut yang tak kukenal itu dari genangan air. Maka kalau apa yang kulakukan pagi ini dapat Engkau catat sebagai ibadahku, tolong ulurkan tanganMu agar aku pun segera lepas dari perangkap kubangan lumpur di hutan ini…”.

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (4)

13 April 2011

(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”

‎(27)

Kurang dari sejam kemudian terdengar bunyi mesin bulldozer semakin mendekat. Lalu dari belokan muncul sebuah bulldozer CAT model kuno merayap naik. Tapi lho.., sopir dozer-nya kok sopir mobilku?

Sebentar, sebentar.., itu bulldozer siapa dan darimana? “Ya yang ada di pinggir jalan tadi, pak…”, jawabnya ringan.

Woo.., “ueddan”, kataku dalam hati. Tapi bagus juga punya sopir rada edan. Bisa “mencuri” bulldozer, jika terpaksa… ‎

(28)

“Kunci kontaknya gimana?”, tanyaku lugu. “Ya dikonsletkan saja…”, jawabnya lugu juga, yang maksudnya di-jumper seperti di film-film itu.

Ternyata mas Kentung, sopir mobil yang kusewa, pemuda gempal asal Solo yang sudah lima tahun tidak pulang itu dulu pernah bekerja di perush logging (penebangan kayu). Selama itu pula dia banyak berurusan dengan alat-alat berat. Pantesan, lincah sekali dia “mencuri” bulldozer… ‎

(29)

Maka ketika pagi-pagi sekali dia sudah berjalan naik-turun bukit meninggalkan kami berdua di mobil, rupanya dalam rangka mencari bantuan, ya dengan “mencuri” bantuan berupa bulldozer itu.

Yen tak pikir-pikir.., antara mencari dan mencuri itu kan hanya beda satu huruf saja. Ketika harus mencari dia berteriak agak kesal tapi semangat “aaah…” dan setelah berhasil mencuri dia berteriak lega tapi puas “uuuh…”. (Just kidding…). ‎

(30)

Kebetulan hari Minggu. Karyawan perusahaan kayu itu pada libur, maka dozer pun pada nongkrong ditinggal operatornya. Kebetulan tapi juga keharusan…

Kebetulan karena dozer-nya pada nganggur. Keharusan karena kalau tidak nekat “mencuri” kami tidak tahu berapa lama lagi kami harus menunggu bantuan datang sebab di lokasi itu tidak bakalan ada kendaraan yang lewat pada hari itu… ‎

(31)

Sekitar jam 10 pagi akhirnya mobilku lepas dari kubangan. Baru jalan tertatih-tatih beberapa kilometer, setelah mengembalikan dozer yang tadi “dicuri”, kami terjebak lagi di jalan berlempung licin. Rupanya double gardan mobilku tidak berfungsi.

Aagh… Praktis kami pun tak berkutik. Terpaksa sopirku yang rada edan itu beraksi kembali “mencuri” dozer lain. Giliran bulldozer Komatsu yang “dicurinya”, juga dengan cara mengkonsletkan entah kabel apa.. ‎

(32)

Sopirku yang sejak malam sebelumnya berbusana tarzan-tarzanan alias hanya menyisakan cd (celana dalam) dan kaos saja karena tubuhnya yang berkulit hitam itu jadi kecoklatan penuh berlumuran lumpur. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bukan sekedar membebaskan mobil itu dari jalan yang licin yang membuatnya tak mampu bergerak, melainkan ditariknya terus hingga jauh. Dan dozer itu tidak dikembalikan lagi tapi ditinggal begitu saja di tepi jalan. Ngabuuur… ‎

(33)

Sekitar jam 14 siang akhirnya kami tiba kembali di Tanjung Redeb. Alhamdulillah… Hal pertama yang kami lakukan adalah makan nasi bungkus yang sedianya mau dikirim untuk menolong kami tapi keburu pak sopirku sukses dengan aksi “pencuriannya”.

Hmm… Nasi, ayam goreng, tempe dan lalapan yang banyak daun kemanginya, tandas tak bersisa kecuali bungkusnya. Lebih-lebih seikat daun kemangi segar membuat nafsu makanku memuncak sampai ke ubun-ubun… ‎

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (5)

13 April 2011

(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb

(34)

Perjalanan akan dilanjutkan, tepatnya dicoba lagi, besoknya. Malamnya jalan-jalan saja keliling kota Tanjung Redeb hingga kemudian berhenti di kawasan dimana berjajar kedai-kedai sambung-menyambung menjadi satu, itulah kawasan Tepian.

Ini lokasi untuk santai di malam hari, berada di sisi selatan sungai Segah. Cukup nyaman dan indah dinikmati kalau cuaca sedang cerah. Aneka makanan dan minuman tinggal pilih.., mbayar tentu saja… ‎

(35)

Ada judul yang menarik perhatian saya, yaitu sarabba. Rupanya ini susu jahe. Jahe dikeprek, dibakar, lalu dicampur dengan susu panas. Lumayan untuk penghangat badan yang capek. Pasangannya roti bakar yang rotinya warna hijau, disayat tengahnya lalu diisi coklat atau selai. Tapi ya belum makan kalau belum nasi, maka pesan juga nasi goreng.

Uuuh.., bukan rasanya. Tapi karena tiba-tiba turun hujan lebat dan penjualnya kalang kabut memasang tenda. ‎

(36)

Huh, kenyang, capek, ngantuk… Jam 21:30, cari penginapan di luar kota arah barat, sekedar untuk melepas penat. Atas saran teman, saya menuju hotel “Beringin” di bilangan Teluk Bayur.

Sampe di depannya, bunyi musik keras sekali entah darimana sumbernya. Tidak nampak bentuk hotel. Di teras ada seorang gadis berkaos dan celana ketat nangkring di sepeda motor. Cengengesan sendiri dengan HP-nya, acuh saja melihat kedatanganku. ‎

(37)

Begitu masuk saya semakin ragu. Mana resepsionis? Hanya ada 3 wanita sedang ngobrol sambil duduk dengan posisi “tidak sopan”.

Kutanya salah satunya: “Hotelnya dimana?”.
“Disini”, jawabnya.
Aku ingin membatalkan saja tapi kepalang sudah di dalam. Kutanya seorang wanita paruh baya yang katanya resepsionis. “Ada kamar?”. “Penuh”, jawabnya pendek tanpa mengubah posisi “tidak sopan”-nya.

Hmmm, sukka… (suka dengan jawaban pendeknya, bukan posisinya). ‎

(38)

Setelah mendengar jawaban resepsionis itu segera saya pamit kabur. Hmm.., bisa-bisa tidak istirahat aku (karena bunyi musik yang keras itu).

Cari tempat lain, dekat batas kota. Ada hotel “Pelangi”. Ini baru benar hotel transit yang tarifnya di bawah Rp 250 ribu/malam. Ada TV dan AC, tapi tidak ada air panas. Lumayan, untuk sekedar nggeblak dan buang hajat. Baru 15 menit di kamar, sudah ML (mati lampu). Uuuh.., ya minta lilin. Rupanya sudah disiapkan.

(39)

Karena mati lampu jadi tidak bisa nge-charge HP. Yo wisss… Dalam keremangan cahaya lilin ingin segera melampiaskan rasa penat bin capek. Tidak lama turun gerimis, lalu hujan lebat, silih berganti sampai pagi.

Haaa…, nyanyian kodok ada di sebelah hotel. Nyaman sekali… Sudah bayar murah, dinina bobok sama nyanyian kodok. Paginya sudah disiapkan kopi dan kue. Ya, hotel transit, diman orang biasanya masuk malam, paginya keluar…

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (6)

13 April 2011

(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga

(40)

Dua hari terjebak lumpur dan akhirnya bisa keluar setelah 17 jam tak berkutik di tengah jalan hutan, akhirnya bisa kembali ke Tanjung Redeb. Hari ini saya kembali menuju lokasi survey lewat jalan yang “seharusnya” yang menurut info jembatan yang kemarin putus sudah bisa dilalui. Berharap kondisi jalan lebih baik dan lancar sehingga tidak harus menginap lagi di jalan.

(41)

Walau menurut info kondisi jalan lebih bagus dari kemarin, agak trauma, kali ini mampir pasar Gayam Tanjung Redeb yang nampak megah dan mewah untuk makan dulu dan membeli bekal lebih banyak…hehe.

Tengah hari di Tanjung Redeb (Berau) yang panas terik, mobil Mitsubishi Strada 4WD segera melaju ke utara arah Tanjung Selor (Bulungan). Tidak lagi lewat rute yang kemarin yang kondisinya sensitif terhadap hujan, melainkan rute lain yang (katanya) lebih “bersahabat”.

(Note: Yang saya maksud dengan pasar Gayam sesungguhnya adalah pasar tradisional Gayam yang sudah direlokasi ke Pasar Sanggam Adji Dilayas yang masih terlihat baru, megah, luas, berarsitektur indah dan penataannya sangat bagus. Barangkali inilah pasar tradisional termegah di seluruh wilayah provinsi Kaltim).

(42)

Waaa.., dasar rejeki. Jembatan darurat sungai Birang yang katanya sudah dapat dilewati ternyata belum ada apa-apanya. Ya nampak sungai saja… yang berarus deras dengan kayu gelondongan teronggok di sana.

Terpaksa kembali ke rute yang kmarin. Semoga cuaca cerah siang ini bertahan hingga malam sehingga jalan berlumpur yang mulai mengering itu dapat dilalui dengan aman terkendali… Maka perjalanan hari ini adalah edisi “siaran ulang” perjalanan dua hari yll. Bismillah..!

(Note: Sementara lanjutan cersta yang kemarin belum sempat terkirim semuanya, siang ini segera saya akan kehilangan sinyal lagi. So, lanjutan cersta saya akan tertunda… Mohon dukungan doanya saja. Matur nuwun)

(43)

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih… Upaya kedua hari ini menuju ke lokasi survey ternyata juga harus gagal. Kali ini masalah kendaraan. Belum sejam perjalanan tiba-tiba double gardan kendaraan Strada 4WD tidak berfungsi…

Jelas perjalanan tidak dapat dilanjutkan. Telanjur mobil terjebak kubangan lumpur… Perlu waktu tiga jam untuk bergulat agar bisa lolos dari kubangan dan kembali lagi ke Tanjung Redeb. Benar-benar.., uuugh…!

(44)

Mencoba tidak menyerah, selagi masih punya pilihan… Begitu tiba di Tanjung Redeb, langsung bersiap melakukan upaya ketiga menembus lokasi survey. Senja tadi kami sepakat melakukan perjalanan malam melalui rute berbeda lagi.

Petang, maghrib menjelang, saya naik ke atas ketinting atau ces (perahu motor). Kali ini menuju ke arah hulu untuk nanti disambung dengan mobil yang beberapa hari yll ditinggal di sana karena ada kerusakan. Katanya sekarang sudah diperbaiki.

(45)

Ketinting segera melaju ke hulu sungai Segah yang lebarnya lebih 100 m. Sungai Segah adalah sungai yang melintasi kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim).

Senja di sungai Segah menyajikan pemandangan indah saat mentari tenggelam di cakrawala barat. Langit nampak bersih walau sedikit berawan. Ombak sungai terlihat tenang. Di rembang petang, orang-orang yang tinggal di sepanjang tepian sungai mulai mengakhiri kesibukan.

(46)

Perjalanan dengan ketinting selama 25 menit terasa nyaman saja. Tanaman rengas yang daunnya gatal kalau mengenai kulit membentang di sepanjang tepian sungai. Di antara kawasan pemukiman penduduk dengan kerlap-kerlip lampunya dan pelabuhan batubara yang terang benderang dengan lampu kuning mercury.

Namun awan hitam tiba-tiba menyeruak dari arah baratlaut menutup langit. Mendung gelap pun tiba, seperti begitu mendadak datangnya.

(47)

Ketinting tiba di pelabuhan sungai yang biasa disebut Logpond ketika gerimis mulai turun, kilat dan geluduk menyambar-nyambar. Berteduh di pondok bekas pelabuhan kayu yang dijaga pak Jakobus yang asli Timor. Sekalian numpang sholat maghrib wal-isya setelah ambil wudhu di sungai.

Hari makin gelap. Teman saya yang nyopir kendaraan nampak gelisah. Mobil yang mau saya tumpangi solarnya tinggal sdikit, sedang tukang solar yang biasanya kehabisan stok.

(48)

Sisa solar minim dan diperparah cuaca hujan, teman yang juga sopir itu menyatakan tidak berani jalan malam. “Daripada nanti terpaksa tidur di hutan lagi…”, katanya. “Wah, kapok…”, batinku.

Sekitar jam 19 malam akhirnya kami kembali naik ketinting. Menyusuri sungai Segah dalam gelap, hujan, gemuruh geluduk, menuju ke hilir kembali ke Tanjung Redeb. Lebih baik tidur di Tanjung Redeb. Aku hanya diam membenarkan… Sambil dheleg-dheleg (diam membisu)…

(Senin, 28 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (7)

13 April 2011

(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari

(49)

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku merenung, lelakon apa sebenarnya yang sedang kujalani ini… Ini hari ketiga saya berusaha menuju lokasi survey dan untuk ketiga kalinya usaha itu gagal.

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku bermuhasabah, sejenak, rahasia apa yang sedang “dimainkan” Tuhan atasku… Sejak pesawatku delay di Balikpapan 4 hara yll sehingga rencana mau langsung ke lokasi tertunda esoknya.

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku berdzikir…

(50)

Diamku adalah dzikirku
setiap tetes gerimis yang membasahi tubuhku adalah dzikirku
setiap bunyi kecepak ombak sungai yang dihantam ketinting adalah dzikirku setiap berkas kilatan petir adalah dzikirku
setiap gema geluduk adalah dzikirku
setiap tamparan angin sungai adalah dzikirku
setiap deru mesin ketinting adalah dzikirku
setiap tarikan nafasku adalah dzikirku
hingga setiap denyut nadiku adalah dzikirku
Dan dzikirku tak pernah berhenti…

(51)

Sayup-sayup terdengar adzan isya ketika ketinting merapat di dermaga di belakang rumah seorang teman. Segera aku turun dengan membawa serta barang bawaan. Duduk leyehan di ruang tamu, sambil ngupi, menghela nafas panjang…

Aku belum ingin menyerah! Upaya keempat untuk menembus lokasi survey akan kulakukan lagi besok. Insya Allah. Dan kuingat lagi doaku saat berngkat dari Jogja: “Tuhan, tidak ada kemudahan melainkan karena Engkau mudahkan…”.

(Senin, 28 Maret 2011)

(52)

Dalam subuhku aku bersujud, berserah diri dan menancapkan niat
Hari ini adalah hari keempat aku akan melakukan upaya keempat untuk menembus menuju lokasi survey tujuanku
Kubangkitkan kesadaranku bahwa sesungguhnya aku hanyalah setitik embun pagi yang menggantung di kelopak bunga hutan Aku hanyalah setetes air hujan yang semalaman mengguyur Tanjung Redeb
Aku hanyalah sebutir pasir tanah lumpur yang memerangkap kendaraanku selama tiga hari kemarin.

(53)

Kubangkitkan kesadaranku bahwa sesungguhnya aku hanya bagian sangat kecil dari rencana besar yang ada di luar jangkauanku
Niat kuat sudah dipancangkan, namun keadaan juga melemahkan
Usaha sudah dilakukan, namun halangan juga diterpakan
Ada doa yang kulupakan :
Tuhan, jika menurutMu perjalananku ini baik bagi ibadahku, tolong mudahkanlah
Tapi jika menurutMu ini buruk bagi ibadahku, maka berilah aku jalan keluar terbaik.

(54)

Pagi hujan di Tanjung Redeb, bahkan sejak semalaman seperti tak pernah berhenti. Gerimis berganti hujan silih berganti. Cuaca murung, mendung menggelayut. Tiba-tiba datang SMS dari seorang sahabat: “Lagi ngapain, mas?”. Kujawab: “Menikmati hujan pagi, sambil leyeh-leyeh, ngudut dan ngupi…”.

Tinggal gorengan saja yang kurang… (Menunggu cuaca cerah untuk mulai melangkahkan kaki melakukan upaya yang keempat kali…)

(Selasa, 29 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (8)

13 April 2011

(8) Berhasil Di Upaya Keempat

(55)

Maka mulailah pagi ini aku berangkat meninggalkan Tanjung Redeb, memulai upaya keempat untuk menembus menuju lokasi survey di pedalaman Sambarata, Berau.

Naik ketinting ke arah hulu sungai Segah dalam cuaca mendung dan rintik hujan. Perjalanan selanjutnya akan dilakukan dengan kendaraan darat mendaki pegunungan selama 2-3 jam kalau cuaca dan kondisi jalan bagus. Kalau tidak? Ya, embuh… Semoga kali ini berhasil. Bismillah…

(56)

Daihatsu Hi-Line yang beberapa hari terakhir ini rusak dan ditinggal di Logpond seberang sungai Segah, masih perlu sedikit perbaikan lagi. Tidak apa-apa, aku masih sabar menanti.

Akhirnya jam 12 siang kami berangkat dari Logpond melaju ke utara melalui jalan tambang batubara hingga km-50 belok ke bekas jalan logging. Naik-turun perbukitan, lewat jalan berlumpur lengket sekitar 30 km. Cuaca lumayan cerah, panas, tanah lumpur mulai mengering. ‎

(57)

Walau kendaraan 4WD itu harus berjalan megal-megol seperti entok, menjalani lintasan yang sebagian mulai kering, akhirnya sekitar jam 2 siang tiba di camp yang kutuju. Perjalanan darat itu hanya dua jam saja.

Hari-hari kemarin satu-satunya kendaraan itu rusak, sementara rute alternatif jaraknya lebih jauh dan kondisinya lebih buruk sehingga perlu kendaraan 4WD dan cuaca yang kondisinya juga bagus. Bersyukur, upaya keempat di hari keempat berhasil mencapai lokasi yang kutuju. ‎

(58)

Camp yang dihuni sekitar 30 orang pekerja pemboran itu adalah bedeng darurat dengan konstruksi kayu dan beratap plastik tebal. Ber-“kasur” karung plastik yang dibentang mencipta alas tidur empuk seperti mengambang di atas plastik. Cukup nyaman.

Kalau malam-malam ada beruang, orang utan atau ular yang merunduk-runduk berkunjung mengais sisa makanan, ya anggap saja itu sebagai bentuk berbagi.., “sesama mahluk yang butuh makan dilarang saling mendahului..”. ‎

(59)

Sore ini santai dulu di lokasi camp sambil ngobrol-ngobrol dengan para pekerja. Mendengar keluhan dan permasalahan yang terjadi kenapa pekerjaan dinilai lambat oleh klien.

Selalu banyak cerita dan kegiatan sampingan yang menarik. Salah satu yang menarik adalah acara mandi di sungai. Waaa, segarnya… Langit nampak cerah menyambut malam, gemintang di angkasa, angin lembut, nyanyian malam di hutan mulai mendendang (29/03) ‎

(60)

Tapi rupanya cuaca cerah tidak berlangsung lama sebab mendung segera berkunjung. Ketika genset sudah dimatikan dan digantikan dengan lampu minyak, orang-orang pun mulai lelap dalam peraduan malam di hutan.

Menjelang tengah malam kelelapan agak terganggu. Kilat dan petir menyambar-nyambar memekakkan telinga membangunkan semua yang tidur. Geluduk bersahutan. Hujan pun segera mengguyur lebat. Bahkan sampai pagi.

‎(Selasa, 29 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (9)

13 April 2011

(9) Cerita Dari Penghuni Camp

(61)

Pagi-pagi bu Siti yang tukang masak ribut. Bu Siti yang tidur di tempat yang bertabir karung plastik bercerita, katanya semalam ada binatang mendekat. Bu Siti tidak berani membuka tabir untuk melihat langsung, tapi dari bayangannya terlihat besar seperti orang utan. Ditunjukkan bekas tapak kaki berlumpur dimana-mana di bagian dapur.

Namun orang-orang sepertinya tidak merespon serius. Bukan tidak percaya, melainkan ya terus mau ngapain? Sepanjang tidak mengganggu… ‎

(62)

Belum selesai dengan ributnya bu Siti. Seseorang cerita, katanya tadi pagi ketika sedang sholat subuh, tiba-tiba dilewati ular kecil di pahanya. Karena yakin si ular hanya mau numpang lewat, ya dibiarkan saja. Pura-pura tidak tahu…

Ketika diceritakan ularnya jalan ke arah tempat tidur depan. Maka sibuklah semua yang tidur di situ membongkar tumpukan pakaian dan tasnya… Haha, ular kurang kerjaan kalau dia tidur di dalam tas… ‎

(63)

Romantika tidur di camp belum habis rupanya. Seorg lagi cerita, katanya kemarin malam ada beruang mengais-ngais di bawah tempat tidurnya. Bu Siti tidak mau kalah. “Iya, saya juga lihat bekasnya di tempat piring-piring kotor”.

Apapun kisahnya, tetaplah cerita yang akan selalu menarik diceritakan. Tapi pertanyaannya adalah: “Terus mau ngapain?”. Bedeng darurat adalah tempat terbuka yang siapapun dapat masuk dari arah manapun. ‎

(64)

Dan ini bagian menariknya: Ketika sore saya pulang dari hutan, tiba-tiba bu Siti yang asal Semarang itu bilang: “Pak, gimana caranya agar binatang-binatang itu tidak datang-datang kesini?”.

Menyadari saya tidak punya ilmu peri kebinatangan, sambil becanda kujawab saja: “Didongani wae, bu (didoain saja)”. Eh, rupanya ditanggapi serius: “Ya, tolong pak. Mumpung bapak masih disini”. Walah, aku yang jadi kelabakan, ya “terpaksa” aku benar-benar berdoa untuk itu… ‎

(65)

Apakah binatang-bnatang itu benar-benar tidak datang lagi? Entahlah… Semoga saja demikian. Bu Siti benar-benar lugu dan karena itu menjadi haqqun-yakil kalau doaku manjur seperti jamu pegal linu.

Tapi sebenarnya intinya bukan pada kemanjuran doa, melainkan keyakinannya bahwa binatang-binatang itu tidak akan mengganggu. Perkara mereka datang lagi.., lha namanya juga binatang cari makan kok tiba-tiba ada yang datang membawa makanan. Ya monggo saling berbagi…

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (10)

13 April 2011

(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal

(66)

Lokasi survey yang jalannya berlumpur dan berlempung lengket pada lintasan yang mendaki dan menurun sering membuat repot. Kalau pun ada kendaraan 4WD sering juga tidak mampu saking buruknya jalan. Kalau sudah begitu, terpaksa berjalan kaki.

Hmmm.., maka pagi itu saya tempuh juga lintasan 12 km pergi-pulang termasuk menerabas hutan, naik-turun lereng licin, nyebrang kali, plus bonus disruput pacet, si binatang kecil yang suka minta donor darah kotor. ‎

(67)

Menempuh lintasan 12 km dengan kondisi seperti saya ceritakan sebelumnya, memang bukan hal yang menyenangkan. Ada dua cara untuk membuatnya menjadi menyenangkan: jalani sebagai ibadah dan nikmati sebagai an adventure.

Seperti ketika sedang mendaki gunung, seberat dan sesulit apapun bila cita-cita untuk menggapai puncak sudah dipancangkan, maka semua yang terjadi di sepanjang perjalanan adalah bunga-bunga untuk dinikmati. Mengada-ada? Tanyakan kepada mereka yang suka mendaki gunung… ‎

(68)

Jangan pikirkan jauh dan capeknya, tapi coba hirup dan nikmati bau hutan basah oleh embun pagi atau tanah lempung becek habis hujan… Di sana ada sensasi alami yang ngangeni (menimbulkan rasa kangen).

Saya memahami, bagi sebagian orang kata-kata itu hanya ada di buku kumpulan puisi. Tapi bagi sebagian orang lainnya, itu nyata. Tanyakan kepada mereka yang suka blusukan ke hutan, dimana hutan menjadi bagian dari hidupnya…

(69)

Di tengah hutan ada sebuah tempat yang elevasinya lebih tinggi. Orang-orang suka beristirahat di situ karena lokasi itu rupanya satu-satunya lokasi yang dijumpai sering disambangi sinyal. Dan orang-orang pun menyebutnya gunung sinyal.

Tapi harus pandai-pandai menangkap sinyal yang singgah. Sekali waktu sinyal datang, tapi setiap kali HP goyang sedikit saja sang sinyal pun kabur. Aha.., untuk menangkap sinyal yang datang, orang-orang itu punya cara rupanya. ‎

(70)

Apa akal? HP dimasukkan kantong plastik, lalu digantungkan di ranting pohon yang ada. Diamkan beberapa saat sambil ditunggu dan dilihat layar HP-nya sehingga ketahuan ketika ada sinyal.

Kalau mau kirim SMS, tulis dulu pesannya, sehingga nanti tinggal klik kirim. Kalau mau telpun sebaiknya gunakan head set, sehingga nanti tinggal pencet tombol OK. Maka sinyal pun nyaman singgah di HP tanpa terganggu goyangan….

(71)

Cara menangkap sinyal — HP dimasukkan kantong plastik, lalu dibiarkan digantung di cabang pohon agar tidak goyang-goyang, lalu tunggu sampai sang sinyal datang. Di lokasi dimana sinyal sulit ditemukan, seperti di hutan misalnya, sinyal tidak suka dengan goyangan, apapun jenis goyangnya… ‎

(72)

Begitulah cara orang-orang yang sedang melintas di hutan itu berkomunikasi keluar. Mereka akan memanfaatkan waktu istirahat di bukit sinyal yang jaraknya sekitar 5 km dari camp.

Ketika mereka kembali ke camp waktu sore, mereka merasa terisolir lagi. Sinyal terdekat ada di gunung kapur (sebutan salah kaprah untuk sebuah lokasi yang warna tanahnya putih seperti kapur), jaraknya sekitar 15 km. Hanya bisa ditempuh saat cuaca bagus. Huuhh..! ‎

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar