Posts Tagged ‘puasa’

99 Catatan Harian Ramadhan 1432H

14 November 2011

Pengantar:

Berikut ini kumpulan catatan harian saya seputaran Ramadhan hingga Idul Fitri 1432H (1-31 Agustus 2011) yang saya posting dalam cerita status di halaman Facebook. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik, atau paling tidak, dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur syukur-syukur inspiratif. Monggo…

Yusuf Iskandar

****

(1)

Peluang bisnis itu kembali tiba. Kini membentang di depan mata. Betapa bersyukurnya…

Peluang bisnis yang praktis dapat dijalankan tanpa modal sama sekali, tidak juga modal dengkul. Peluang bisnis yang sangat spektakular, yang digaransi pasti untung. Tidak perlu menghadiri seminar, training, atau sejenisnya. Tidak perlu pengalaman. Yang diperlukan hanya rasa ikhlas seikhlas-ikhlasnya… Ya, peluang bisnis itu bernama Ramadhan.

‎(Jogja, 1 Agustus 2011)

(2)

RESOLUSI RAMADHAN. Ramadhan datang tiap tahun, tapi tidak banyak orang mau menangkap peluang bisnis Ramadhan itu. Sehingga tahun demi tahun peluang itu lewat begitu saja, tanpa secuil pun nilai tambah. Sayang sekali. Sedang untuk bisnis yang tak yakin untung-ruginya saja tiap tahun dibuat Resolusi sambil pethenthengan.

Resolusi Ramadhan, sebenarnya mudah saja… Tingkatkan amal kita sedikiiit saja lebih baik. Itu sudah lebih dari cukup asal ikhlas dan konsisten.

‎(Jogja, 1 Agustus 2011)

(3)

Malam pertama… Selalu menjadi malam yang mendebarkan yang dihadapi dengan rasa galau tapi sukacita. Malam yang ditunggu-tunggu untuk dapat dilalui dengan penuh semangat dan gairah. Malam yang selalu diimpikan menjadi malam yang mengesankan dan penuh kenangan.

Secara lahir, bersih-bersih tubuh dilakukan. Secara batin, bersih-bersih hati dengan saling memaafkan dan mengikhlaskan. Maka malam pertama Ramadhan pun sepantasnya disambut dengan ceria tapi khusyuk penuh rasa penghambaan…

‎(Jogja, 1 Agustus 2011)

(4)

Agenda malam pertama Ramadhan adalah sholat tarawih (+witir). Di kampungku ada pilihan. Di pesantren, 23 rakaat, tanpa kultum, gerak cepat. Di masjid, 11 rakaat, ada kultum, gerak normal.

Anak lanang kutanya: “Mau tarawih dimana?”.
“Di pesantren tapi 11 rakaat”, jawabnya tidak mau rugi.
Kataku: “Kalau itu karena ngantuk atau sedang capek, OK tidak apa-apa. Tapi kalau karena mau buru-buru main, itu yang tidak benar”.
“Hahaha…”, jawabnya. Woo dasar..!

(Jogja, 1 Agustus 2011)

(5)

Pulang tarawih di malam pertama Ramadhan. Duduk santai menyaksikan balap Formula 1 sambil menyruput secangkir teh hangat. Tehnya spesial, ramuan uji coba campuran antara teh cap “Poci” dari Slawi yang aroma wanginya tajam dan teh cap “Tjatoet” dari Tegal yang kuat rasa tehnya.

Saat sesruput teh spesial itu turun mengalir di tenggorokan dengan aroma wanginya… Uufff, seperti tidak sabar ingin segera berbuka, padahal puasa saja belum…

‎(Jogja, 1 Agustus 2011)

(6)

Penyakitnya orang yang sedang puasa adalah ngantukan, setelah itu diikuti lemes dan akhirnya males. Komplikasi dari penyakit ngantukan-lemes-males ini adalah biang dari laku tidak produktif. Penyakit ini tidak ada obatnya, melainkan dilawan agar tidak menjadi semakin tidak produktif.

Kalau mau dituruti, penyakit ini bisa menyerang sehari suntuk. Akhirnya kluntrak-kluntruk (lemas tak berdaya). Dan itu bukan gaya hidupnya orang yang berpuasa.

‎(Jogja, 2 Agustus 2011)

(7)

Penyakit ngantukan-lemes-males menjadi semakin parah ketika menyerang orang yang berpuasa tapi dengan pede-nya berlindung di balik Hadits: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.

Kata-kata itu tidak salah. Yang salah adalah orang yang berpuasa tapi mau cari enaknya. Tidur itu ibadah kalau ketika tidak tidur menjadi mudharat. Tapi kalau tidak tidur karena ada kewajiban harus ditunaikan, ya tidurnya malah yang mudharat, boro-boro ibadah… Lha kok nyimut (enak buangets)?

‎(Jogja, 2 Agustus 2011)

(8)

Hari pertama puasa ditutup (tapi buka) dengan secangkir kopi Aroma mokka arabika (dari Bandung) dan jajan pasar klepon, cenil, putu dan onde-onde. Habis itu badan terasa lemas, duduk di depan televisi menyaksikan Pak De Marzuki Alie yang sedang cengengesan membela diri tentang omongannya yang pathing pecothot mau membubarkan KPK dan memaafkan koruptor. Padahal belum kekenyangan (saya, bukan Pak De Zuki) lalu terdiam menunggu waktu Isya, belum mandi…

‎(Jogja, 2 Agustus 2011)

(9)

Ketika nabi Muhammad saw bilang: “Berpuasalah agar kau sehat”, itu tidak bohong. Maka kalau belum “mampu” berpuasa karena perintah Tuhan, berpuasalah karena tidak enak sama teman atau jadikanlah puasa untuk gaya hidup, sebagai upaya menjaga kesehatan dan kebugaran.

Ketika nanti terbukti benar bahwa dengan puasa ternyata tubuh menjadi sehat, maka yakinlah bahwa perintah Tuhan itu tidak sia-sia, bukan iseng untuk variasi tahunan. Tunaikan hingga tuntas…

‎(Jogja, 2 Agustus 2011)

(10)

Kata pak ustadz, puasa itu dimulai sejak terbit fajar dan diakhiri saat tenggelam matahari. Mengakhiri puasa tapi justru dengan buka puasa.

Sebulan dalam setahun, kata ‘buka’ berarti ‘tutup’. Itulah hal pertama saat kebahagiaan diraih oleh mereka yang berpuasa karena mendamba ketakwaan. Kebahagiaan kedua adalah ketika orang-orang yang berpuasa itu kelak berjumpa dengan Tuhannya. Maka setiap kali menutup sehari puasa berati membuka dua pintu kebahagiaan.

‎(Jogja, 3 Agustus 2011)

(11)

Sepulang dari sholat subuh di masjid, anak wedok yang sedang ada di kamarnya saya ingatkan via SMS (haha.., korban teknologi): “Sempatkan tadarus, nduk“.

“Udah tadi, habis subuhan”, jawabnya.
Kok nggak kedengaran?”, tanyaku.
“Ya makanya beliin toa, nanti kan kedengaran, hahaha…”, jawabnya

(Toa adalah merek alat pengeras suara. Maka apapun merek alat halo-halonya, sebut saja toa…).

‎(Jogja, 3 Agustus 2011)

(12)

“Jangan salahkan tukang roti, jika tukang daging yang membuat rotinya” (kata Alexsie Kutchinov kepada Jack Tuliver dalam film “7 Seconds”). Artinya, si tukang roti ketiban sial tapi bukan sialan…

Maka jangan salahkan orang yang berpuasa jika orang yang tidak berpuasa (atau tidak jelas puasanya) “over acting” minta agar bulan Ramadhan dihormati. Sebab bagi orang-orang yang berpuasa karena la’allakum tattaquun itu sama saja, bulan Ramadhan dihormati atau tidak..

‎(Jogja, 3 Agustus 2011)

(13)

Puasa itu ibadah individual, sangat pribadi. Saking pribadinya hingga kata Allah: “Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya”. Tapi puasa menjadi lebih indah ketika dikerjakan berjama’ah dalam kebersamaan.

Alangkah indahnya kalau masing-masing kita menjadi pribadi yang mendukung suksesnya puasa orang lain (keluarga, saudara, tetangga, teman, bahkan lawan politik). Seolah mereka berkata: “Subhanallah, indahnya Ramadhan bersamamu”, tanpa kita mendengarnya.

‎(Jogja, 3 Agustus 2011)

(14)

Setelah libur awal Ramadhan beberapa hari, pagi ini anak lanang berangkat ke sekolah dengan gaya cool (terlihat tenang tapi sebenarnya ngantuk). Tidak seperti biasanya teriak-teriak minta uang saku. Berkat puasa dia tidak punya alasan untuk minta uang jajan. Tapi…, ada tapinya. Katanya: “Dikumpulin dulu, ditagih akhir bulan”.

 

Maka pesannya adalah: Wahai para ortu, jangan senang dulu kalau anak-anak Anda sekarang “berbaik-baik” tidak minta uang jajan…

‎(Jogja, 4 Agustus 2011)

(15)

Malam ini sengaja sholat tarawih di pesantren dekat rumah, 23 rakaat. Lebih capek? Ternyata itu mitos. Sebab sholat itu menjadi enak dinikmati dan dihayati karena sang iman melantunkan bacaannya dengan indah dan fasih. Belum lagi rakaat sebanyak itu dilakukan dengan gerakan yang benar, serasa sedang berolahraga dengan gerakan yang pas sesuai kebutuhan.

So? Nikmati dan hayati bacaannya sekaligus gerakannya. Maka kiranya bukan soal berapa jumlah rakaatnya.

‎(Jogja, 4 Agustus 2011)

(16)

Bukan soal bertarawih (+witir) dengan 11 atau 23 rakaat. Jauh lebih penting adalah memaknai syiar malam-malam Ramadhan dengan qiyamullail dengan niat yang tulus, lagi khusyuk.

Di sanalah ada kebaikan yang dijanjikan oleh Sang Khalik. Tinggal meraihnya, apapun cara yang dilakukan. Mau sedikit jungkar-jungkir atau banyak, kualitas penghambaannyalah yang menentukan nilai kebaikannya. Dan hebatnya, Sang Khalik menggaransi tak pernah ingkar janji.

‎(Jogja, 4 Agustus 2011)

(17)

Untuk kesekian kali anak lanang tidak berbuka puasa di rumah melainkan gabung dengan teman-temannya entah dimana. Saya pikir, wajar saja. Sepanjang dapat diyakinkan kalau setelah tahap berbuka ada tahap maghrib, lalu isya dan tarawih.

Tiba-tiba anak wedok kirim BBM: “Aku buka puasa di luar”. Uugh, makin sepi saja suasana berbuka di rumah. Yo wis, sebagai ortu hanya bisa memberi nasehat (juga via BBM): “Kenapa di luar? Tidak di dalam saja? Nanti masuk angin…”.

‎(Jogja, 4 Agustus 2011)

(18)

Tidur lagi setelah sahur dan subuh, adalah saat-saat paling nikmat bagi orang yang berpuasa. Tidurnya bisa tidak aman dan tidak terkendali. Tidak aman karena bisa benar-benar sangat lelap dan tidak terkendali karena berat untuk bangun.

Jika ada aktifitas penting di pagi hari tapi terasa ngantuk setelah subuh, usahakan tidurnya enggak full, melainkan setengah-setengah. Yang saya lakukan adalah tidur sambil duduk di kursi atau bersandar di tempat tidur dan pasang alarm di dekatnya…

‎(Jogja, 5 Agustus 2011)

(19)

Bukber (buka bersama) pada puasa hari kelima di Pondok Makan “Pelem Golek” Jl. Monjali (Monumen Jogja Kembali), Jogja. Tempatnya cukup enak dengan nuansa halaman belakang taman pinggir sungai. Sangat cocok untuk makan siang bersama keluarga (saat di luar Ramadhan tentu saja).

Menu utamanya aneka masakan berbahan ikan. Citarasanya tidak mengecewakan. Pokoke woenak…

‎(Jogja, 5 Agustus 2011)

*******

(20)

Di lantai 15 di sebuah gedung di tengah Jakarta di hari keenam Ramadhan. Ngutak-atik dan melototin angka dan grafik, tidak perduli akhir pekan tapi perduli kalau masih puasa. Kepala teklak-tekluk pengen ngantuk tapi mau ngupi malu dan nggak enak… (nggak enak sama Tuhan).

Alhamdulillah, masih punya rasa malu dan rasa enggak enak… Sebab salah satu problem bangsa ini kan hilangnya kedua rasa itu..

‎(Jakarta, 6 Agustus 2011)

(21)

Entah kenapa habis berbuka dengan sup buah (nama gaul untuk es campur) dan tempe-tahu goreng, lalu tak tahan segera kabur ke WC. Bukan soal “ke”-nya, tapi “WC”-nya itu…

WC di gedung tinggi di Jakarta (ibukota daripada negeri Indonesia) ini ternyata bule bangets. Tidak ada air untuk cebok melainkan tisu gulung (di warung-warung banyak dipakai sebagai tisu makan). Piye iki? Aspek bersihnya, okelah. Tapi aspek sucinya jadi meragukan untuk kemudian sholat

‎(Jakarta, 6 Agustus 2011)

(22)

Ketika tidak tersedia fasilitas air di WC melainkan kertas tisu, jadi ingat kebiasaan terpaksa, saat tinggal di negara manca. Harus diakalin… Sembunyi-sembunyi, ambil tisu banyak-banyak, dibawa masuk ke WC, tunaikan hajat, cebok dengan tisu basah, akhirnya “dibilas” dengan tisu kering…

Beres? Ya, beres urusan bok-cebbook.., tapi belum beres urusan bersuci. Hanya jika terpaksa, sholat ditunaikan. Tapi sebisa mungkin berusaha dibilas lagi semestinya..

‎(Jakarta, 6 Agustus 2011)

(23)

Teh poci… Teh hijau Chinese tea dengan cangkir kecilnya menemani kerja lembur di malam ketujuh Ramadhan di gedung tinggi di Jakarta. Baiknya curi kesempatan untuk sholat tarawih, daripada nanti di hotel pasti sudah nguwantuk…

Haha.., terpaksa urusan las-billas tadi diulangi dengan tisu lebih basah, lalu berwudhu, lalu sholat tarawih di sebuah ruangan di lantai 15. Semoga pemilik gedung dan kantor juga kecipratan kebaikan dari tarawihku yang 11 rakaat…

‎(Jakarta, 6 Agustus 2011)

(24)

Siang menjelang sore hari puasa… Di sebuah kantor di gedung tinggi di Jakarta. Kalau tiba saatnya ngantuk, ya ngantuk. Tidak ada yang dapat melawannya… Dibawa jalan-jalan sambil menggeliat ya tetap ngantuk, dipakai ngobrol sambil ketawa ya ngantuk, dicuci mukanya sambil berwudlu ya masih ngantuk… Yang belum dicoba adalah dibawa ngabuburit sambil ngupi…

(Jakarta, 8 Agustus 2011)

(25)

Ditawari buka puasa dengan bubur pisang hijau. “Wah, harus dicoba nih…”, pikir saya. Sering dengar menu ini tapi belum pernah benar-benar mencobanya (kalau tidak benar-benar, sering). Warna buburnya merah muda. Tapi yang namanya pisang hijau ini ternyata bukan pisang warna hijau yang suka disuapkan ke bayi atau yang seperti pisang ambon, melainkan pisang biasa entah apa, yang dibungkus dengan tepung beras warna hijau. Walau “ketipu” tetap saja woenaaak

(Jakarta, 8 Agustus 2011)

(26)

Saat pertama tiba di sebuah kantor di Jakarta Sabtu yll dan mau sholat, seorang karyawati memprsilakan saya sholat di sebuah ruangan. Dengan meyakinkan dia menggelarkan sajadah dan berkata: “Menghadap ke sana pak”. Dzuhur, asar, maghrib, isya dan tarawih saya tunaikan. Minggunya berulang kembali.

Sore tadi saya baru tahu ternyata dua hari kemarin saya sholat menghadap ke selatan. “Uugh, si mbak pede sekali”, kataku dalam hati.

(Jakarta, 8 Agustus 2011)

(27)

Pesawat yang ke Jogja masih tiga jam lagi, lebih. Kebayang menunggu sambil kantuk-terkantuk di bandara Cengkareng. Iseng-iseng tanya kalau-kalau ada penerbangan lebih cepat dan masih ada kursinya (kecuali kalau semua kursinya dilepas). Ternyata ada, termasuk masih ada kursinya juga. Syukurlah, sehingga terkantuk-kantuknya cukup setengah jam saja…

GA 214 jurusan Jogja-Jakarta pun terbang. Alhamdulillah, hari ini kembali berbuka puasa bersama keluarga di rumah.

(Jogja, 9 Agustus 2011)

(28)

Empat hari menyelesaikan kerja crash program di Jakarta, siang dan malam, cukup menguras energi. Ternyata mesin tua ini masih sanggup digenjot untuk wayangan seperti jaman sekolah dulu walau dalam bulan puasa.

Haha.., hanya karena ini bukan keterpaksaan melainkan pilihan (dan menjadi pilihan yang “aneh” untuk manusia setengah abad), maka irama ‘kerja – ngantuk – sedikit tidur – puasa’ bisa dinikmati… Kalau orang puasa tidur saja ibadah, apalagi melek…

(Jogja, 9 Agustus 2011)

(29)

Ujung ekor sapi betina (Al-Baqarah) menemani malamku yang kesekian di penggal sepertiga pertama Ramadhan, untuk (kembali) menjalani malam hingga tiba waktu sahur. Ini memang kisah tentang pilihan, bukan keterpaksaan.

Ketika pilihan telah dibuat, maka dia tidak lagi bebas dari konsekuensi. Tapi ketika pilihan yang telah dibuat itu dinikmati dengan kesyukuran, maka konsekuensi itu pun menjadi enak dijalani. Allahumma innaka ‘affuwwun… Wahai Sang Maha Pengampun.

(Jogja, 10 Agustus 2011)

(30)

Mesin tua ini memang tidak lagi bisa dibohongi. Setelah diforsir kerja siang-malam beberap hari belakangan ini, akhirnya lelah juga. Saat berbuka tiba, tapi body mesin umur setengah abad ini terasa tak enak.

Ditakjil dengan dua gelas blimwul tea (teh blimbing wuluh) berkadar vitamin C tinggi, masih saja nggak enak body. Dibawa juga tarawih di mushola walau body semakin nggreges. Akhirnya tumbang juga, terkapar, minta waktu istirahat lebih, walau sebentar-sebentar terbangun.

(Jogja, 10 Agustus 2011)

*******

(31)

Sholat tarawih (+witir) di Jogja umumnya 11 rakaat. Ada beberapa tempat penyelenggaraan tarawih di seputaran kampungku. Tapi anak-anak yang kost di belakang rumahku suka tarawih ke sebuah masjid di luar kampung agak jauh. Ketika saya tanya kenapa tarawih di sana? Jawabnya: “Alhamdulillah, di sana tidak ada kultumnya”. Lho?

“Sebelas rakaat juga?”, tanyaku penasaran.
“Iya”, jawabnya. Tidak ada kultum, tapi alhamdulillah

(Jogja, 11 Agustus 2011)

(32)

Di antara “tanda-tanda” orang berpuasa, selain kalau siang menolak diajak makan ayam bakar dan es kelapa muda (walaupun dibayarin): Pertama, kalau sholat dzuhur dan ashar agak malas-malasan mengangkat kedua tangan untuk takbiratul-ihram. Kedua, ketika melakukan gerakan sujud dan duduk di antara dua sujud, kedua telapak tangannya diseret di alas sholat, alih-alih diletakkan. Tapi bagaimana pun juga, itu tetap lebih baik ketimbang tidak sholat…

(Jogja, 11 Agustus 2011)

(33)

Duduk di teras depan rumah usai tarawih, mengawali malam sepertiga kedua bulan Ramadhan. Menyruput segelas teh belimbing wuluh. Mensyukuri bulan jelang purnama di atas kepala. Menikmati gemericik air kolam koi. Mendengarkan teriakan suara kodok kawin di musim kemarau, yang tidak lama lagi akan bertelur dan kemudian berudunya berhamburan di kolam koi. Hingga tiba giliran ibunya anak-anak teriak-teriak kolam koinya berganti menjadi kolam kodok..

(Jogja, 11 Agustus 2011)

(34)

Ada hal-hal sederhana seputar Ramadhan yang jarang diperhatikan: Pertama, puasa ini peluang untuk menutup ketekoran balance sheet amal manusia. Kedua, puasa ini satu-satunya ibadah yang praktis tanpa perlu biaya. Ketiga, puasa ini sarana fitness center bagi kesehatan manusia.

Akhirnya, jangan heran, karena Tuhan Maha Tahu bahwa manusia ini baru bergerak kalau terpaksa, maka dipatoklah semua itu menjadi wajib hukumnya, agar dikerjakan.

(Jogja, 11 Agustus 2011)

(35)

Benang merah atas hal-hal sederhana yang jarang membuat ngeh orang-orang yang berpuasa maupun yang harusnya berpuasa tapi tidak, yaitu bahwa betapa sayangnya Tuhan kepada manusia, sehingga manusia dipaksa untuk meraih kebaikan-kebaikan yang dijanjikan.

Tuhan lebih tahu bahwa kecil kemungkinan manusia mau sukarela melakukan sesuatu bahkan demi kebaikan dirinya sendiri. Maka, puasa itu mestinya pantas dijalani dengan… enjoy aja!

(Jogja, 11 Agustus 2011)

(36)

Nah, setelah manusia (baca: orang-orang beriman) merasa enjoy aja dengan puasanya, maka Allah pun dengan bangga akan menyematkan sendiri tanda kehormatan predikat takwa bagi oknum-oknum yang setiap kali datang bulan Ramadhan merasa enjoy aja, itu tadi.

Tapi, uuuuugh..! Sulit dan berat sekali untuk tidak membohongi diri sendiri bahwa ternyata tidak mudah untuk ikhlas lahir-batin bersikap enjoy aja

(Jogja, 11 Agustus 2011)

(37)

“Wahai orang-orang yang berpuasa, sesungguhnya ngagoler (tiduran) di masjid atau mushola itu lebih mulia dan enak ketimbang di emper toko”, begitu bunyi kata-kata bijak. Itulah sebabnya maka ketika siang di bulan Ramadhan, masjid dan mushola ramai pengunjung yang sedang mengejar kemuliaan dan… keenakan itu tadi.

(Jogja, 13 Agustus 2011)

(38)

Bleger (sosok) si cantik rembulan yang di awal Ramadhan menjadi rebutan untuk diintip itu kini telah sampai pada setengah perjalanannya…

Malam ini, si cantik rembulan itu betapa tampak begitu merak ati (mempesona). Di singgasana angkasa musim kemarau yang bersih, tenang, hening, syahdu, menenteramkan para penghuni langit dan bumi (termasuk para pengintip saat si cantik baru menjuntaikan helai rambutnya).

(Jogja, 13 Agustus 2011)

(39)

Tak lagi manusia berebut mengintipnya sebab malam ini tubuh telanjangnya utuh ada di depan mata. Dan para pengintip pun terpesona. Tahu-tahu sudah setengah perjalanan dilalui tanpa terasa.

Orang-orang di kampungku suka mengatakan ora keroso (tidak terasa), tahu-tahu Ramadhan tinggal setengah sedang kita merasa belum berbuat apa-apa. Bukan untuk rembulan, tapi untuk diri kita sendiri. Jangan-jangan sisa setengah perjalanan Ramadhan pun akan ora keroso terlalui…

(Jogja, 13 Agustus 2011)

(40)

Tapi sebaiknya jangan berhenti mengintip. Justru perlu lebih diintensifkan. Sebab si cantik rembulan itu sesungguhnya menjadi isyarat akan turunnya “sosok” yang jauh lebih pantas didambakan dan diperebutkan oleh seluruh penghuni langit dan bumi.

Adalah sebuah malam yang sungguh mulia yang lebih baik dari masa seribu bulan, dimana para malaikat akan turun mengatur segala macam urusan hingga fajar tiba. Intip dan rengkuhlah, dalam ridho Illahi…

(Jogja, 13 Agustus 2011)

(41)

Setelah seharian membanting tulang (untung tidak pecah), kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, sejak fajar bangun sahur hingga malam menjelang tidur… Memasak, menyiapkan makan, mencuci, menyeterika, beres-beres rumah… Ibu muda itu (eh, ibu tua ding…) mengeluh sulit untuk bisa rutin ber-tilawah (membaca Qur’an) di Ramadhan kali ini.

Kataku: “Semua itu adalah tilawahmu. Niatkan itu menjadi tilawahmu…”.

(Jogja, 14 Agustus 2011)

(42)

Ujuk-ujuk kepingin makan asinan. Kemarin ngunduh kedondong kecil-kecil dari halaman belakang toko di Madurejo, Prambanan. Setelah men-download resep asinan dari bidadari dari langit, dibikinlah semangkuk asinan.

Saat berbuka, nggak sabar pengen mencicipi asinan bikinanku. Tapi, uufff.., asinanku keasinan, kurang manis… Tapi tunggu dulu, bukankah memang seperti itu mestinya? Sebab kalau kemanisan berarti namanya manisan. Ah, yang penting enaaak

(Jogja, 14 Agustus 2011)

*******

(43)

Rembulan di atas lorong celah rumah
Sisa purnama di waktu subuh
Melepas segenap warga bumi dan langit melanjutkan sisa perjalanan
Menuju paruh kedua Ramadhan
Semoga selamat sampai tujuan
Meraih kemenangan
Menjadi muttaqin

(Jogja, 16 Agustus 2011)

(44)

Tiba-tiba rasa ini terusik saat tadarus pagi Ramadhan… Sedemikian krusial-nya sikap berperilaku baik, sehingga tidak cukup disebut sekedar agar berbuat baik kepada sesama, melainkan dirinci: kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh (termasuk jauh secara akidah), teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya (QS. 4:36).

Jadi, penegasan perintah seperti apalagi yang diperlukan?

(Jogja, 16 Agustus 2011)

(45)

Usai mampir sholat ashar di sebuah masjid, leyeh-leyeh di selasarnya. Lapar, haus dan ngantuk adalah kombinasi ketidak-nyamanan yang pas sekali saat puasa. Semilir angin sore di tengah cuaca panas terasa woenak banget sampai tertidur.

Tahu-tahu terbangun karena takmir masjidnya menggoyang-goyang vacum cleaner membersihkan sajadah, nyetel kaset lagu-lagu islami dengan volume keras sekali. Ya langsung ngabur saja, daripada diajak menggoyang-goyang vacum cleaner

(Jogja, 16 Agustus 2011)

(46)

Malam ini malam pitulasan (17-an), bertepatan malam 17 Agustus dan malam 17 Ramadhan, menjadi malam Tasyakuran. Bersyukur untuk nikmat merdeka dan (siapa tahu) malam kemuliaan (laiatul-qadar).

Merdeka itu.., ya pokoke yang sering dipekikkan itu. Malam kemuliaan itu, lebih baik dari seribu bulan. Maka pekik “Merdeka” itu sekedar simbolisasi yang bagi masyarakat Jogja berarti Segoro Amarto (semangat gotong royong agawe majune Ngayogyokarto), sepanjang jaman…

(Jogja, 16 Agustus 2011)

(47)

Menjadi imam sholat di Indonesia ini harus “fleksibel” sepanjang masih dalam tataran syari’at. Jika jama’ahnya biasa Subuh dengan doa qunut, dia ber-qunut. Jika jama’ahnya biasa tarawih 20 rakaat, dia pun siap memimpin. Termasuk jika perlu tarawih agak over speeding karena makmum mau segera hadir ke acara tasyakur 17-an.

Begitupun mestinya, jika ada makmumnya yang mbalelo maka harus berani “berimprovisasi”…, ya diceblek (digebuk) saja makmumnya.

(Jogja, 17 Agustus 2011)

(48)

Jihad terbesar saat berpuasa bagi sopir-sopir yang sedang menjalankan kendaraannya adalah melawan hawa nafsu ketika menghadapi pengendara sepeda motor yang motornya jalan sak karepe dhewe (motornya yang semaunya sendiri) dan kemaruk membunyikan klakson (kalau ini pengendaranya).

Kemaruk, bahasa Jawa: doyan makan sehabis sakit. Tapi pengendara sepeda motor itu doyan membunyikan klakson (jangan-jangan) justru karena sakit…

(Jogja, 18 Agustus 2011)

(49)

Pulang tarawih ingin segera makan dan siap-siap tilawah baca kitab suci. Tiba-tiba ibunya anak-anak ribut: “Itu lihat, lihat, kodoknya nakal sekali…”. Opo maneh iki (apalagi ini)… “Wong tadi cuma inguk-inguk (tengok-tengok) kolam kok tahu-tahu nyemplung”, katanya lagi.

Wuah! Alamat bakal nambah lagi warga kolam koi nih, pikirku. Terpaksa dengan semangat ’45 kusingsingkan lengan baju koko, ambil jaring, menangkap kodok lalu kusuruh pergi jauh… Uh!

(Jogja, 18 Agustus 2011)

(50)

Menjelang tengah malam, saat bulan sisa purnama masih di atap langit, acara peringatan malam Nuzulul Qur’an di kampungku baru usai. Mau menuntut ilmu cari pengalaman sekaligus untuk pengamalan tapi jadi kemalaman, dan bangun sahur kesiangan.

Tema tadi malam adalah Al-Qur’an sebagai pembeda yang haq dan bathil. Maka tema fajar ini adalah sepiring mie instan sebagai pembeda yang sahur dan tidak… Alhamdulillah, masih sempat sahur walau nabrak-nabrak

(Jogja, 19 Agustus 2011)

(16)

Memasuki sepertiga pungkasan Ramadhan, tahap krusial periode ora keroso (tidak terasa) di sisa Ramadhan, sebaik-baik tema utama adalah: Berburu malam kemuliaan…

Sejenak menengok ke lubuk terdalam kitab suci: Demikian sayangnya Tuhan kepada manusia sehingga diwajibkan berpuasa. Maka sepantasnya manusia membalasnya dengan cinta kepada Tuhannya, seolah berkata: Aku tahu, burungpun tahu, badaipun tak akan memisahkan kita, Ya Rabb..

(Jogja, 20 Agustus 2011)

(52)

Tak siapapun tahu kapan malam kemuliaan itu tiba. Tapi malam itu pasti tiba, sebab Lailatul Qadar tak kan ingkar janji, menebar berjuta cinta tak terdefinisi.

Pada malam itu para malaikat pun sibuk mondar-mandir naik-turun semalam suntuk, melangsir persediaan cinta yang bahkan tak kan pernah habis dibagikan, kepada siapa saja yang mengharapkan dan memburu cinta itu. Ya, cinta itu ternyata memang harus diburu… Andai semua manusia (mau) tahu tentang itu.

(Jogja, 20 Agustus 2011)

(53)

Alunan simfoni keagungan merebak ke celah-celah malam. Irama nafas penyerahan diri memohon ampunan. Hanya cinta yang didamba. Cinta Sang Pencipta kepada hambaNya yang meminta. Cinta yang mewujud dalam pemahaman paling tinggi, tak terhingga. Cinta yang menjelma dalam kebaikan selama lebih dari umur manusia.

Andai.., cinta seindah itu yang sekian lama ditunggu, tercurah sekali saja dalam hidup manusia di malam kemuliaan, itulah cinta yang tak tergantikan..

(Jogja, 20 Agustus 2011)

(54)

Ada sebulan waktu puasa di siang hari, waktu mulia bagi seorang hamba berada sangat dekat dengan Tuhannya. Tapi hanya ada satu malam seorang hamba memiliki kesempatan meraih keagungan cinta menggapai puncak kemesraan bersama Tuhannya yang sedang menunggu “dengan tidak sabar” untuk dirayu dan dicumbui pada malam itu, malam kemuliaan…

Sujud khusyuk merajuk, sebulan siangnya dan satu malamnya. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari (QS. 6:13).

(Jogja, 21 Agustus 2011)

(55)

Buka puasa sederhana dengan menu secangkir kopi Aroma, jagung rebus dan kacang rebus. Sebagai penggemar berat makanan gorengan, selama bulan puasa ini saya berusaha menguranginya. Bayangkan, tubuh yang pengisiannya dikurangi selama puasa, tahu-tahu digelontor dengan menu minyak-minyakan. Uugh…, mengerikan!

Sebagai warga manusia setengah abad, saya sadar bahwa menu goreng-gorengan tidak menguntungkan bagi kesehatan.

(Jogja, 21 Agustus 2011)

*******

(56)

Anak lanang jatuh dari motor. Kepala, lutut, kaki, luka dan memar (pundaknya tidak). Minggu sore ibunya baru tahu. Pantesan, sejak Sabtu sore pamit tidur di rumah temannya dan tidak biasanya sampai sehari-semalam tanpa kabar. Rupanya dia ingin agar ortunya tidak tahu, tapi luka yang dialaminya tidak bisa disembunyikan.

Maka sibuklah ibunya bak perawat. Tinggal bapaknya siap-siap memberi kultum bak ustadz. Ingin tahu kajiannya? Ikuti setelah ini…

(Jogja, 22 Agustus 2011)

‎‎(57)

Belum dua hari anak lanang terkapar di rumah karena cedera jatuh dari motor. Mukanya masih bengkak tak berbentuk, lututnya masih sakit untuk jalan. Tahu-tahu bilang ke ibunya: “Aku mau latihan basket, boleh nggak?”.

Gubrax.., ibunya melongo tak berkata-kata. Bapaknya senyum saja. Terbersit sedikit rasa bangga. Bukan, bukan karena kenekatan anak lanang, tapi lebih karena masih mau minta ijin ibunya. Biar kuterjemahkan diamnya ibunya: “Apa maumu anakku?”…

(Jogja, 22 Agustus 2011)

(58)

Buka puasa hari ini lebih sederhana lagi. Secangkir kopi putih cap Luwak dan lima butir buah talok (kersen, ceri). Kopi putihnya beli 1 sachet @Rp 1000,- dan buah taloknya cari di pinggir jalan kampung, sebelum berebut dengan kelelawar saat maghrib tiba.

Buah talok sebagai pengganti kurma, bahkan lebih manis dari kurma. Cukup untuk pengganjal perut bekal sholat tarawih sebelum makan beneran sepulang tarawih.

(Jogja, 22 Agustus 2011)

(59)

Mbah Min (70 tahun), setiap hari dengan sepeda tuanya berkeliling dari desa ke desa, mencari rumput bagi kambingnya. Fisiknya masih terlihat kuat, bahkan di bulan puasa ini, di balik tubuh rentanya.

Setiap tiba waktu sholat Ashar, dia singgah di sebuah masjid dekat tokoku di Prambanan, Sleman. Yang membuat saya heran, begitu tiba langsung sholat Ashar, tidak perduli sudah adzan atau belum, berjamaah atau tidak, habis itu lalu pergi begitu saja…

(Jogja, 23 Agustus 2011)

(60)

Buka puasa hari ini dengan gaya berbeda. Secangkir kupi putih (white coffee) dengan sebuah, eh sebutir durian montong yang warnanya bak durian mentega, bijinya tipis kecil, dagingnya tebal dan kenyal, rasa manisnya pas takaran sesuai sensitifitas indra pencecap di lidah.

Lalu dimakan sebagai menu pembatal puasa dengan niat sebagai pengganti kurma… (mau diniatkan sebagai apa saja kan bolah-boleh saja). Sensasinya itu lho, hmmmm…

‎(Jogja, 23 Agustus 2011)

(61)

Niatnya hendak mengantar temannya ke acara bukber. Tahu-tahu ada sepeda motor keluar dari gang kecil, langsung mak kluwer… belok kiri tanpa tolah-toleh. Anak lanang pun kaget, tidak mampu mengendalikan motornya, lalu oleng dan jatuh terjerambab.

Situasi “nyaris” seperti ini sering terjadi. Betapa para penyepeda motor sering menganggap sepele detik-detik saat keluar dari gang lalu belok kiri tanpa memperhatikan lalulintas dari arah lain…

(Jogja, 23 Agustus 2011)

(62)

Subuh ini, langit bersih sekali. Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Tampak olehku lebih cerah cahayanya. Itulah bulan sabit yang sedang memberitahu kepada segenap penghuni bumi, bahwa Ramadhan akan segera berakhir. Seolah berpesan: Jangan sia-siakan sisa waktu beberapa hari yang masih tersisa.

Pujilah Dia lalu mohonlah ampunan-Nya… Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni…

(Jogja, 24 Agustus 2011)

*******

(63)

“5 days to go”… Puasa kok ora keroso (tidak terasa). Waspadai fenomena ini! Jangan-jangan karena kita belum melakukan “apa-apa”, belum berjuang sungguh-sungguh untuk menangkap kebaikan Ramadhan. Masih ada sisa sedikit waktu lagi, 5 hari bukan waktu yang lama. Harus ada “apa-apa” yang kita lakukan.

Hanya mereka yang telah berjuang yang pantas berharap meraih kemenangan di Hari Fitri. Kalau tidak berjuang kok berharap meraih kemenangan. “No way!”, kata Tuhan.

‎(Jogja, 24 Agustus 2011)

(64)

Di penghujung Ramadhan
memasuki paruh kedua di sepertiga terakhir Ramadhan
Cuaca terasa lebih dingin
angin berhembus lembut
malam hening
nuansa khusyuk menyelimuti…

Telanjur berniat hendak bercumbu menggapai cintaNya
Telanjur berniat bermesraan denganNya
Tiba-tiba kondisi badan terasa drop, nggreges

Harus dilawan!
Sebab setiap kali niat baik dipancangkan
maka pada saat yang sama godaan pun mulai beraksi
Selalu begitu…

(Jogja, 24 Agustus 2011)

(65)

Aku ingin mencumbu kekasihku
Aku tidak ingin gagal meraih cintaNya
Kegagalan hari-hari kemarin harus dapat kutebus untuk kuselesaikan
walau cuaca buruk harus kulalui
Hingga sampai kepada tempat tertinggi (Al A’raaf)…

Para rasul Allah, Nuh, Hud, Shaleh, Luth, pada jamannya telah mengingatkan:
“Sembahlah Allah…” (QS. 7:49,65,73,85)
kepada kaumnya yang lebih mencintai berhala
Dan berhala-berhala itu masih akan tetap ada, menyesatkan para pemujanya.

(Jogja, 25 Agustus 2011)

(66)

Serangan flu bisa datang tiba-tiba. Tenggorokan gatal dan kering, badan meriang dan nggreges, bersin-bersin… Ini hari kedua aku bertempur melawan pasukan flu. Terasa semakin menjadi. Benteng pertahana dengan vitamin C dosis tinggi nampaknya tak mampu membendungnya.

Buka puasa hari ini kepingin bakso panas wal-pedas. “Biar ingusnya keluar semua”, kata istriku. Habis itu? Ya tetap saja nggak sembuh. Malah megap-megap…

‎(Jogja, 25 Agustus 2011)

(67)

“4 days to go”… Pertempuran melawan serangan flu terus berlangsung. Penghujung Ramadhan adalah masa-masa rawan terhadap serangan flu, sebab banyak pemburu malam kemuliaan yang kondisi fisiknya semakin menurun di perburuan lap-lap terakhir.

Wahai para pemburu malam kemuliaan, jaga stamina agar mencapai finish, sebentar lagi. Tetap dengan semangat ’45 menggapai kemuliaan yang dijanjikan Tuhan yang pasti tak kan ingkar janji.

(Jogja, 25 Agustus 2011)

(68)

Usai maghrib di pesantren dekat rumah, menyambut pak Kyai yang pulang umrah, badan terasa semakin nggak karuan. Terjadi pertentangan batin. Setengah hati menyuruh tetap berangkat tarawih. Setengah sisanya berkata: “Sampeyan lagi sakit, ada alasan kuat untuk absen. Istirahat saja di rumah, tidur atau leyeh-leyeh…”, katanya.

Tapi saya ingat, sekali alasan pembenaran saya setujui, segera akan disusul alasan-alasan berikutnya yang “sepertinya” juga benar… Tinggal pilih!

(Jogja, 25 Agustus 2011)

(69)

Akhirnya saya mengambil pilihan “tidak populer” untuk tetap berangkat tarawih. Tidak kubiarkan virus flu mengendalikan aktifitasku. Lalu sengaja kupilih tarawih yang 23 rakaat.

Sambil jalan ke masjid saya niatkan: “Setiap bacaannya kunikmati, setiap gerakannya kulakukan dengan benar. Setiap tarikan nafasku adalah masuknya energi positif dan setiap hembusannya adalah keluarnya energi negatif. Selebihnya mohon ijinmu Ya Allah bagi kesembuhan sakitku”.

(Jogja, 25 Agustus 2011)

(70)

Angin dingin berhembus agak kuat saat pulang tarawih. Sudah sembuh? Tentu tidak, saya toh tidak sedang main sulap. Tapi minimal saya bisa bilang kepada para virus flu: “Silakan kalau sampeyan ingin numpang di tubuhku. Tapi jangan pengaruhi aktifitasku”.

Kedengaran sombong. Tapi pandanglah dari sisi yang berbeda. Sebab itulah satu-satunya cara agar tidak terlena dengan alasan-alasan pembenaran yang hanya akan melemahkan. Perburuan malam kemuliaan harus berlanjut..!

‎(Jogja, 25 Agustus 2011)

(71)

Namun sungguh bukan urusan remeh-temeh untuk melawan flu. Pulang tarawih, mandi air panas, makan, minuman suplemen berkadar vitamin C tinggi, teh belimbing wuluh, jamu rebusan tanaman ciplukan, lalu pamit kepada istri. Lho mau kemana?

Bukan… Hanya pamit bahwa dalam beberapa hari ini tidak akan mengganggu tidurnya karena akan berburu malam kemuliaan. Malam-malam dimana saya akan bermesraan dengan Sang Pemilik Malam dan Siang (QS. 6:13).

(Jogja, 26 Agustus 2011)

(72)

Hari ini nampaknya menjadi puncak serangan flu. Pilek, hidung mampet, bernafas sesekali lewat mulut, badan masih nggreges. Kepinginnya dibawa tidur, tapi susah karena ingus menyumbat lubang hidung. Cuaca panas dengan udara kering terasa semakin menambah berat serangan flu dan nggak enak badan.

Sejauh ini saya masih bertahan menjauh dari obat kimia komersial, selain karena puasa tak boleh terusik hanya karena gangguan serangan virus flu.

(Jogja, 26 Agustus 2011)

(73)

Ada undangan wukwer (wuka wersama) dengan menu wewek wakar. Karena hidung tersumbat, suara jadi windeng (sengau), jadi susah mau mengucap kata bukber, bebek bakar dan bindeng.

Tempatnya di resto “Foodfezt” Jl. Kaliurang Jogja yang membawa tagline ‘Semacam Tempat Makan’, padahal ya memang tempat makan. Pilihan menunya kuwomplit karena ini tempat kolaborasi berbagai kedai makan. Enak citarasanya, layak harganya…

‎(Jogja, 26 Agustus 2011)

*******

(74)

“3 days to go”… Semakin dekat menuju penghujung Ramadhan. Ya, Ramadhan hampir habis, hari-hari penuh berkah dan kemuliaan itu hampir berlalu (Ini kata-kata retoris yang karena saking sering didengar jadi nyaris tak berarti apa-apa. Andai setiap orang tahu hakekatnya, tak kan sempat berpikir tentang mudik).

Dan malam ini, malam 27 Ramadhan. Sebuah malam yang bagi sebagian orang adalah malam yang sangat spesial dalam konteks malam kemuliaan (lailatul-qadar).

(Jogja, 26 Agustus 2011)

(75)

Ketika sampai pada kisah para nabi dan kaumnya, pada jamannya masing-masing (Nuh, Musa dan Yunus as, lalu Huud, Shaleh, Ibrahim, Syuaib dan Luth as, hingga Yusuf dan Ya’qub as), maka sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pengajaran (ibrah) bagi orang-orang yang mempunyai akal (QS. 12:111).

Inilah salah satu sindiran Allah yang cukup pedas melalui kitab suciNya…

(Jogja, 27 Agustus 2011)

(76)

Kosa kata yang lagi ngetop di media pada hari-hari ini, selain ‘Nazaruddin’ dan ‘korupsi’ adalah: ‘padat-merayap’ dan ‘ramai-lancar’… Entah kenapa tidak ada yang mencoba kata baru: ‘padat-ramai’, ‘padat-lancar’, ‘ramai-padat’ atau ‘ramai-merayap’. Padahal sama saja. Sama-sama membingungkan…

Masih lebih jelas dan nyata kalau dipilih rangkaian kata: ‘Nazaruddin-merayap’, ‘korupsi-lancar’…

(Jogja, 27 Agustus 2011)

(77)

Puji Tuhan wal-hamdulillah, hari ini serangan flu agak mereda. Nampaknya pasukan flu sudah merasa tidak betah singgah di tubuhku, karena terus kumusuhi agar tak nyaman berlama-lama.

Tak pernah kupenuhi keinginannya untuk mempengaruhi semangat pendakian Ramadhanku. Semangatkulah yang harus mempengaruhi virus flu agar segera angkat kaki dan tidak mengganggu misiku…

(Jogja, 28 Agustus 2011)

(78)

“2 days to go”… Perjalanan pendakian Ramadhan semakin mendekati puncaknya. Semoga malam kemuliaan bisa dinikmati. Andai pun tidak, karena tak seorang pun tahu kapan datangnya, maka peluang bisnis Ramadhan belum usai. Adrenalin makin tak terkendali menjelang summit attack ke puncak Ramadhan. Bersyukur karenanya.

Namun galau hati makin tak terkira. Apakah masih ada pendakian berikutnya. Maka pendakian ini harus berhasil.

(Jogja, 28 Agustus 2011)

(79)

Pendakian Ramadhan benar-benar sudah mendekati puncaknya. Semakin terasa melelahkan, tapi sungguh semakin terasa nikmatnya. Untuk pertama kali tadi malam aku ngantuk saat sholat tarawih. Tapi aku tidak boleh menyerah. Malam-malam indah di penghujung Ramadhan ini tak ingin kulepas begitu saja. Seperti belum puas aku bercumbu dan bermesraan dengan Sang Pemilik Kemuliaan.

Uugh.., semakin galau hati ini. Kepada fajar aku mendesah: Kemesraan ini janganlah cepat berlalu..

(Jogja, 28 Agustus 2011)

(80)

Mestinya semalam aku punya alasan untuk tidur lebih awal. Nguwantuk bangets (pakai ‘s’ di belakangnya…). “Sedang kamu masih flu”, kata para virus flu. Tapi kuyakinkan berkata: “Tidak”.

Aku masih rindu dengan Kekasihku. Tak kan kulewatkan menuntaskan percintaanku dengan Sang Penguasa Malam dan Siang, terlebih di penghujung Ramadhan ini. Walau paginya nyaris terlambat sahur, tapi aku bersyukur sebab pasukan flu menyerah dan telah kabur dari tubuhku…

(Jogja, 28 Agustus 2011)

*******

(81)

“Final day”… Sholat tarawih terakhir di malam terakhir Ramadhan ditandai dengan rasa kantuk yang amat sangat. Nampaknya stamina sudah kian menurun justru di etape terakhir menuju puncak pendakian. Puasa tinggal sehari lagi, menggapai puncak kemenangan di hari fitri yang insya Allah jatuh pada Selasa (30 Agustus 2011).

Bagi yang berhari raya Rabu, (31 Agustus 2011), masih ditambah sehari pendakian lagi. Tetap semangat meraih ampunanNya!

(Jogja, 28 Agustus 2011)

(82)

Syukurku.., memiliki kesempatan menapaki hari demi hari hingga tiba di ujung Ramadhan.
Syukurku.., dianugerahi kemesraan bersamaNya.
Syukurku.., merasa ingin lebih lama menikmati Ramadhan.

Tapi galauku.., segera akan berpisah dengan Ramadhan yang pasti akan kurindukan.
Galauku.., belum banyak bisa berbuat membalas kemesraanNya.
Galauku.., saat bermohon agar dicukupkan umurku untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.

(Jogja, 28 Agustus 2011)

(83)

Sampailah pada etape terakhir pendakian Ramadhan. Semoga perjalanan panjang ini dapat kusempurnakan. Menggapai puncak kemenangan… Dalam sujud syukurku, dalam galau hatiku, menyelesaikan subuh terakhir, mengawali hari terakhir Ramadhan…

Masih tersisa waktunya, walau hanya sehari ini. Mencoba tidak surut, mencoba meraih sejuta kebaikan dan kemuliaan yang masih dapat digapai, sebelum senja terakhir tiba, di Ramadhan kali ini…

(Jogja, 29 Agustus 2011)

(84)

Summit attack menuju puncak pendakian Ramadhan… Akhirnya sampai juga pada saat yang membahagiakan. Selamat sampai di puncak kegembiraan Hari Fitri, 1 Syawal 1432H (Selasa, 30 Agustus 2011).

Bagi saudara-saudara yang masih akan menggenapkan 30 hari puasanya, masih ada sehari perjalanan harus ditempuh. Semoga selamat sampai tujuan. Allahu Akbar wa-lillahilhamdu (Allah maha besar dan segala puji hanya bagi Allah)…

(Jogja, 29 Agustus 2011)

(85)

Perjalanan hari terakhir Ramadhan terasa begitu terik panasnya, kerongkongan pun terasa kering merindukan siraman air es kelapa muda. Lebih-lebih harus diwarnai dengan aktifitas angkat-junjung stok barang di toko hingga keringatan. Uuuf, begitu bersemangat dan menyenangkan. Ya, karena hal itu berarti tokoku laris-manis (hehe…).

Selalu begitu… Maksudnya, sedang untuk meraih kemenangan saja banyak godaan, apalagi mengawali perjuangan…

(Jogja, 29 Agustus 2011)

(86)

Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, sampailah pengusaha ritel pada saat yang menggembirakan, yaitu timing jelang lebaran.

Menangkap peluang bisnis Ramadhan dengan berjuta kebaikan yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah keniscayaan karena Tuhan tak pernah ingkar janji. Dan menangkap peluang bisnis lebaran dengan berjuta omset yang dihasilkan adalah keniscayaan lain bagi orang-orang yang mau bekerja keras karena Tuhan pun tak kan ingkar janji dengan sunatullah-Nya.

(Jogja, 29 Agustus 2011)

(87)

“Selamat Idul Fitri 1432H – Mohon Maaf Lahir Dan Batin”…

Semoga kita termasuk ke dalam golongannya orang-orang yang kembali kepada kesucian serta meraih kebahagiaan dan kemenangan…

Fajar Idul Fitri telah menandai awal dari perjalanan dan perjuangan panjang 11 bulan berikutnya hingga kembali menjemput Ramadhan. “Ya Rabb, pertemukanlah kembali kami dengan Ramadhan…”.

(Jogja, 30 Agustus 2011)

‎*******

(88)

Uang zakat maal sudah disiapkan, mau disalurkan melalui Amil di masjid dekat toko. Ndilalah, sampai sana telat, masjid sepi dan panitianya kabur entah kemana. Beralih ke masjid yang satu lagi. Ndilalah lagi, panitianya juga sudah bubar jalan. Ke masjid lain, keburu maghrib. Lalu mau diapakan uang ini?

Bukan salah saya kalau uangnya saya bawa pulang lagi, salahnya panitia keburu bubar. Tapi pasti, saya salah kalau kemudian zakat tidak jadi ditunaikan.

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(89)

Sore jelang maghrib hari terakhir Ramadhan. Mau menyalurkan zakat maal ke sebuah Panti Asuhan, kok ya alamat lokasinya susah dicari. Bolak-balik di Jl. Ring Road Selatan, Jogja.

Bukan soal zakatnya. Kalau itu siapapun bisa melakukan dengan jumlah nominal lebih banyak, kalau punya uang dan mau membayarkannya. Tapi tidak semua orang mau repot melakukannya dan bersusah-susah mengantarkannya sendiri ke alamat yang bahkan susah dicari.

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(90)

Setelah tanya sana-sini, tibalah di Panti Asuhan Balita “Gotong Royong”, Tegal Krapyak, Sewon, Bantul. Di rumah berdinding bambu itu ada 20 anak balita yang diasuh oleh ibu-ibu masyarakat sekitar. Anak-anak itu sudah “diserah-terimakan” oleh ortunya yang tidak mampu membiayai hidupnya, menanti ada ortu “baru” yang akan mengadopsi. Sejak berdiri tujuh tahun yll, lebih 60 anak sudah diadopsi.

Atas inisiatif anak wedok, ke situlah saya salurkan zakat maal kemarin.

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(91)

Saat saya dan anak wedok hendak masuk ke rumah kontrakan Panti Asuhan Balita itu, nampak beberapa anak usia 1-2 tahun berebut melongokkan kepalanya ke jendela (tanpa daun) melainkan celah-celah bambu. Begitu masuk, anak-anak itu berebut minta digendong.

Uuugh… Kami tak sempat berkata-kata, bahkan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami. Saat berpamitan, seorang anak bahkan tidak mau lepas dari gendongan anak wedok…

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(92)

Malam lebaran adalah malam panen raya bagi pengusaha ritel. Jamaknya, toko-toko akan memperpanjang jam operasi alias menunda waktu tutup toko guna memfasilitasi pembeli yang masih sibuk mencari kebutuhan lebaran. Jika kemudian pemasukan juga melonjak, maka itulah dampak yang wajib disyukuri.

Tak terkecuali saya dan “boss” saya, perlu menemani pegawai toko hingga larut malam baru pulang. Antara lain, ya untuk mengurusi dampak itu…

‎‎(Jogja, 30 Agustus 2011)

(93)

Sukses menyelesaikan sebulan perjalanan pendakian Ramadhan hingga mencapai puncaknya di Hari Fitri adalah satu hal. Mempertahankan kesuksesan adalah hal lain yang nampaknya justru lebih berat. Menjaga semangat, kekhusyukan, kualitas, keikhlasan, 11 bulan kemudian secara ajek dan konsisten (istiqomah), hmmm…

Kalau harus jujur, hati kecil berkata malu-malu: “Nggak janji…”. Tapi sebaiknya waspada, jangan sampai Tuhan berkata hal yang sama.

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(94)

Ketika ada seorang tetangga yang saya pandang layak disantuni, saya bilang kepada “boss” saya: “Tolong bapak itu dikasih zakat maal”.

“Boss” saya berkata: “Tapi dia non-muslim”.
“Tidak ada hubungannya dengan harga tomat gondol!”, kataku cepat.

Menyadari ekspresi bicaraku yang nadanya terdengar terlalu keras, lalu kulembutkan: “Kalau begitu ganti judulnya… Sedang Tuhan saja membagi girik rejeki tak pernah mempersoalkan agama di KTP mahluknya”.

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(95)

Jangan rayakan lebaran tanpa lontong-opor. Itulah “ajaran” tradisi sejak Belanda belum tiba. Sudah dipesankan ayam kampung, nggak tahunya sama ibunya anak-anak malah dimasak gulai ayam. Bukan nggak enak rasanya, hanya serasa lebaran jadi kurang afdhol…

Terpaksa ngluruk (bertandang) ke rumah mertua numpang makan lontong wal-opor ayam plus sambal goreng krecek. Wauw…

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(96)

Ketika perjalanan pendakian Ramadhan hampir mencapai puncaknya, seorang sahabat muda berpamitan minta didoakan mau mulai pendakian ke gunung Rinjani, agar pendakiannya diberkahi. Tentu saja kusemangati dan kudoakan, sambil kuwanti-wanti: “Jaga sholatnya”. Lho, apa hubungannya?

Kalau bisa menjaga sholatnya, maka Tuhan akan mengambil-alih penjagaan atas dirinya… Selamat mendaki untuk mbak Prapti (Sleman) dan mas Hamzan (Mataram).

(Jogja, 30 Agustus 2011)

(97)

Memasuki lebaran ini tidur terasa lebih lelap, nyenyak, nikmat. Serasa baru lepas dari beban berat. Padahal justru beban lebih berat mestinya menghadang di 11 bulan mendatang.

Kalau selama Ramadhan beban berat karena kondisi fisik terkuras untuk ibadah fisik. Kini beban berat karena kondisi mental tertantang untuk ibadah mental mempertahankan ruh Ramadhan dalam keseharian secara ajek (istiqomah). Maka waspadai kenikmatan yang melenakan ini…

‎(Jogja, 31 Agustus 2011)

(98)

Salah satu kata kunci di seputaran Idul Fitri adalah silaturrahim. Di penghujung Ramadhan kemarin tiba-tiba seorang teman SMP mampir ke toko dalam perjalanan mudiknya. Alhamdulillah, hampir 35 tahun kami tidak bertemu, tahu-tahu nyambung lagi.

Dan luar biasanya silaturrahim adalah berlakunya “efek domino”. Ketika satu tali silaturrahim terbuka maka silaturrahim dengan teman-teman lain yang sudah dianggap “hilang” pun nyambung lagi (Salam untuk mas Novianto di Malang).

(Jogja, 31 Agustus 2011)

(99)

Ketika menerima puluhan SMS ucapan Idul Fitri, maka itu peristiwa yang lazimnya disambut dengan sukacita. Namun ketika satu diantaranya dikirim oleh seseorang di kaki Merapi yang pernah saya kirimi bantuan yang berasal dari para sahabat, sungguh ada rasa dan nuansa batin yang beda. Sebab ucapan itu hakekatnya adalah ucapan “tak tersampaikan” yang mestinya untuk para sahabat saya itu.

Semoga ruh Ramadhan dan kepedulian terhadap sesama tak padam oleh waktu.

(Jogja, 31 Agustus 2011)

*******

Kawah Chandra Di Muka

12 September 2010

Puasa sudah. Zakat fitrah sudah. Sholat Ied sudah. Maaf-maafan sudah. Makan opor ayam dan sambal goreng hati juga sudah… Setelah itu lalu apa?

Nampaknya akan menempuh perjalanan waktu 11 bulan berikutnya hingga tiba waktunya ritual “sudah” di atas diulang kembali. Padahal yang diharapkan kitab suci adalah agar Ramadhan itu menjadi kawah (1 bulan) chandra di muka bagi (11 bulan) chandra di belakangnya

(chandra = bulan).

Yogyakarta, 10 September 2010
Yusuf Iskandar

Menunggu Tamu

13 Agustus 2010

(1)

Menunggu tamu yang tidak tepat waktu tapi tidak memberitahu… Huh! Menjengkelkan! Tapi saya perlu tamu ini. Pingin marah! Tapi nanti dibilang puasa kok tidak sabar. Padahal kalau lagi kesal begini enaknya makan, ngopi, ngudut, tapi sedang puasa.

Ya sudah.., dibacakan ayat Qur’an saja. Herannya semakin asyik tadarus kok malah tamunya tidak datang-datang. Jadi makin bete. Maka judulnya: “Marah membawa pahalah” (pakai ‘h’ di balakangnya…)

(2)

Akhirnya tamuku datang juga saat hari sudah sore, tapi sayang hanya sebentar. Padahal istriku sudah menyiapkan teh hangat dan gorengan (ya cuma disiapkan…), barangkali saja tetamuku mau ngabuburit menanti maghrib, sambil menthelengi (melototi) teh hangat dan gorengan…

Yogyakarta, 11 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Kebahagiaan Orang Berpuasa

26 Maret 2010

Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: (1) Ketika berbuka, (2) Ketika kelak berjumpa dengan Tuhannya. Jadi pantaslah kalau doanya orang yang berpuasa itu LUAR BIASA MUJARAB-nya.

Maka beruntunglah orang yang tidak sempat berpuasa (termasuk Senin-Kamis), tapi sempat bersedekah kepada mereka yang berpuasa. Bagi orang ini KEBAIKAN yang tak terkira. Hanya saja: ‘Telanjur’ hari ini saya puasa, sampai menjelang berbuka kok nggak ada juga yang tertarik menangkap peluang KEBAIKAN itu?

Yogyakarta, 25 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Membatalkan Puasa Senin-Kemis

17 Maret 2010

Kolegaku yang sedang puasa Senin-Kamis, tiba-tiba kirim SMS. Merasa kurang pede dia tanya: “Saya pusing sekali, boleh nggak ya kalau saya batal puasa?”.

Sebenarnya pertanyaan mudah, malah tadinya tidak akan saya jawab. Tapi saya pikir, siapa tahu bisa kecipratan pahalanya, maka kujawab: “Berbuka saja nggak apa-apa, insya Allah niat awalmu sudah dicatat sebagai ibadah”.

Nampaknya jawabanku memuaskannya. Sesaat kemudian saya susulkan SMS: “Minimal aku yang mencatatnya…”

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sepenggal Kebahagiaan

22 Januari 2010

Adalah sepenggal kebahagiaan dan kenikmatan : Berbuka puasa dengan secangkir teh manis, pisang rebus, marlboro (kekeuh wae..), doa, jamaah maghrib di masjid, tilawah, sepiring pecel tanpa nasi….

Yogyakarta, 22 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Goyang Jabar

3 September 2009

Gempa 7,3 SR melanda Jabar, berpusat di laut selatan baratdaya Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara data melaporkan ada sekian puluh jiwa melayang, sekian ratus manusia terluka, sekian ribu rumah rusak parah, dan tak terhitung jumlahnya yang resah wal-gelisah terantuk musibah.

Pikiran saya melayang teringat gempa Jogja 5,9 SR, 27 Mei 2006, ketika di pagi hari tiba-tiba bumi Jogja bergoyang patah-patah selama 57 detik. Padahal pantasnya kalau Jogja itu goyangnya lemah gemulai bak tari Bedoyo, bukannya patah-patah seperti di Jabar yang kemudian menyebakan rumah-rumah rubuh mak breg….., dan sekian ribu manusia pun berpulang ke haribaan Sang Maha Penggoyang.

Siapapun mafhum bahwa gempa itu pasti akan terjadi tanpa aba-aba. Musibah itu akan tetap melanda bumi Jabar dan kawasan sekitarnya, karena memang demikian kepastian yang telah ditulis di dalam buku besarnya Sang Pemilik Bumi. Bukan peristiwa kebetulan, melainkan skenario yang sudah terencanakan dengan manis dan indah. Hanya manusia saja yang seringkali kurang pandai membaca tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pemilik Rencana.

Seandainya manusia ini mempunyai kemampuan untuk terbang ke langit tingkat tujuh yang berjuta tahun jaraknya dan kemudian menyaksikan bagaimana sistem tata surya ini bermanuver, niscaya akan paham bahwa bagi Tuhan, bumi ini bak sebutir pasir terbawa angin muter-muter. Maka tahulah bahwa bumi Jabar hanyalah bagian kecil saja dari butir pasir itu, apalagi manusia-manusianya yang pethenthang-pethentheng tidak paham juga kalau keberadaannya nyaris tak terdefinisikan.

Apa artinya? Untuk mengacak-acak bumi Jabar, bagi Tuhan adalah semudah menghembuskan asap rokok Marlboro merah yang diarahkan ke kerumunan pasir, tinggal clik….. seperti menggesekkan ibu jari dan jari tengah…. Lalu berantakanlah bumi Jabar dan manusia-manusianya, Ada yang mati, ada yang hilang, ada yang cedera, dan ada yang menangis, ketakutan, stress, bingung, menggerutu. Tapi ada juga yang ikhlas dan hatinya semeleh, pasrah dan nerimo…., bahwa ini adalah sebuah kepastian. Siap atau tidak siap, sudah kaya atau masih miskin, sudah dilantik jadi anggota Dewan atau masih berperkara, sebodo teuing….. bumi Jabar akan tetap digoyang.

Kalau sedemikian mudahnya Tuhan mengoyang bumi Jabar dan manusia-manusianya. Maka akan sedemikian mudah pula Tuhan menatanya kembali. Bahkan sama mudahnya dengan mengabulkan apapun permintaan manusia-manusia yang barusan dijungkir-balikkan. Tapi coba kita ingat-ingat, kapan terakhir kali kita berdoa mengajukan permohonan dengan penuh kesadaran dan penghambaan kepada Sang Khalik? Padahal itu adalah perintah-Nya dan sekaligus disertai dengan janji-Nya yang pasti bakal dipenuhi. Anehnya, sudah disuruh minta, kemudian dijanjikan bakal dipenuhi, enggak mau juga… Tidak cukup sampai di situ. Bulan mega-bonus pun ditawarkan-Nya. Gratis tanpa modal. Itu pun masih disisipi dengan sebuah malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Maka penghuni bumi Jabar dan sekitarnya sepertinya pantas bersyukur. Mereka yang kemudian meninggal dunia setelah digoyang patah-patah sedang mereka dalam keadaan berpuasa dengan ikhlas dan khusyuk karena iman dan semata mengharap ridho-Nya (imaanan wah-tisaaban), sepertinya mereka telah menutup episode hidupnya dengan happy ending (khusnul khotimah). Sungguh sebuah anugerah.

Puasa yang ikhlas adalah puasa yang dikerjakan bukan karena enggak enak sama tetangga atau teman kerja sebelah meja. Puasa yang ikhlas adalah puasa yang targetnya seperti diperintahkan-Nya agar la’allakum tattaquun… agar kalian bertakwa. Maka tidak siapapun dapat menilai kualitas ibadah puasa seseorang, karena puasa itu memang diperuntukkan hanya bagi Tuhan dan tidak siapapun bisa turut campur.

Mereka yang kemudian selamat jiwanya sedang mereka ikhlas menerima musibah dan tetap bersyukur, maka mereka sesungguhnya sedang berada sangat dekat di sisi Tuhannya. Doanya sangat dekat dengan kunci terkabulkannya. Ya, doanya mereka yang sedang berpuasa, doanya mereka yang teraniaya oleh musibah, doanya mereka yang sabar dan khusyuk.

(Memang diperlukan skill yang terlatih untuk bisa bersyukur di tengah musibah…, sebuah keterampilan yang tidak begitu saja akan dimiliki seseorang. Benar-benar tidak mudah, belum lagi kalau wartawan televisi memfasilitasi untuk muring-muring di depan kamera ketika bantuan terlambat).

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang penuh keberkahan bagi masyarakat Jabar dan sekitarnya. Goyang Jabar adalah pertanda kecintaan Tuhan kepada manusia yang dipilihnya. Tinggal manusianya dipersilakan untuk memilih : Mau?.

Yogyakarta, 3 September 2009 (13 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Ngantukan

29 Agustus 2009

Siang hari puasa, sedang menjadi tamu di sebuah kantor di Jakarta. Sementara dihadapkan dengan komitmen yang harus diselesaikan segera, lha kok mata ini rasanya nguantuk sekali. Kalau saja terjadinya di luar Ramadhan, resepnya almarhum Mbah Surip bisa ditiru….. ngopi, ngudut wal-ngemil sepuasnya, dijamin melek lagi. Lha ini pas puasa Ramadhan, mata rasanya berat sekali. Dibawa jalan-jalan malah seperti macan luwe (lapar), mendingan kalau putri Solo, enak dipandang… Mau cuci muka bolak-balik, nanti malah dikira tukang pel toilet.

Saking tidak tahannya, akhirnya pamit pada teman di sebelah : “Sampeyan silakan lanjutkan pekerjaannya, saya mau tidur dulu sebentar…”. Lha memang obatnya orang ngantuk itu ya hanya ada satu, yaitu tidur. Tidak lama langsung mak lerrr….. Lima belas menit kemudian terbangun, badan terasa lebih segar. Tidurnya orang berpuasa memang efektif dan berkualitas, sebab Tuhan berkepentingan untuk menjaga kualitas orang-orang yang ikhlas dengan puasanya yang puasa itu hanya karena untuk menghamba kepada-Nya. Bukan karena alasan lain.

***

Usai merampungkan komitmen di Jakarta, esok harinya saya harus kembali ke Jogja. Sudah enggak sabar rasanya kepingin sampai di rumah. Kangen keluarga? Bukan, tapi kepingin tidur lebih pulas…., agar tubuh kembali prima untuk berbisnis dengan Ramadhan.

Dari kawasan Buncit Raya menuju ke bandara Cengkareng, hari Jumat sore. Ini saat-saat yang harus diwaspadai, mengingat sore menjelang week-end dan buka puasa, lalulintas bisa sangat padat-merayap, termasuk jalan tolnya. Pengalaman sebelumnya saya pernah hampir ketinggalan pesawat, bahkan sekali waktu pernah juga ditinggal beneran

Berbasa-basi seperlunya dengan sopir taksi Transcab yang ada televisinya. Sambil menonton siaran TV One, lalu menitipkan sejumlah uang kepada pak sopir untuk membayar tol. Tidak lama kemudian saya tidak lagi mampu mengendalikan rasa kantuk, dan akhirnya mak lerrr…tertidur di taksi, tinggal Bang One gantian menonton saya. Baru bangun ketika pak sopir tanya mau diantar ke Terminal mana. Ternyata saya sudah melewati gerbang tol terakhir sebelum tiba di Cengkareng, entah tadi lewat jalan mana saja saya tidak tahu.

Turun dari taksi agak gliyeran (sempoyongan), lapar, baru bangun tidur di taksi dan masih rada ngantuk. Saya langsung menuju Terminal B, check-in untuk pesawat Batavia Air yang menuju Jogja. Masih cukup waktu untuk duduk-duduk di ruang tunggu. Tapi justru karena itu saya jadi ngantuk lagi. Kursi di ruang tunggu tidak dilengkapi sandaran kepala, padahal rasa kantuk tak lagi bisa dikendalikan. Akhirnya mak tekluk…. leher patah ke depan, ke belakang, serong kanan, serong kiri, mak lerrr…… Lama-lama leher ya rada sakit juga.

Daripada dilirak-lirik bule perempuan yang sepertinya asyik baca buku tapi sambil mencuri-curi pandang ke arah saya, sebelum saya ge-er mendingan saya bangun lalu keluar dari ruang tunggu. Tujuan saya mencari-cari tempat takjil (makanan buka puasa) gratisan yang memang biasanya ada di bandara. Benar juga memang ada. Setelah mengambil satu paket takjil lalu datang panggilan boarding naik pesawat. Tumben, sore-sore begini pesawat Batavia bisa on-schedule. Sejujurnya, saya rada surprise….

Ketika pesawat mulai atret hendak terbang ke Jogja, mbak pramugari memberitahu bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Paket takjil gratisan pun saya buka dan makan-minum seperlunya sekedar membatalkan puasa. Tidak lama kemudian saya tertidur lagi, dan bahkan saya tidak tahu saat-saat pesawat take-off, karena tahu-tahu mendengar halo-halo pramugari bahwa dalam waktu beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di bandar udara Adisutjipo.

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat di rumah saat seluruh penghuninya sedang sholat tarawih, sehingga saya harus meloncat pagar rumah yang terkunci dan menunggu di teras belakang rumah. Untung tidak saya tinggal tidur lagi di teras….

***

Ini memang sepenggal dongeng tentang ngantuk di kala puasa Ramadhan. Ngantuk adalah rahmat, sebab betapa banyak orang yang harus pergi ke dokter karena tidak bisa ngantuk dan tidur. Beruntunglah orang-orang yang masih bisa ngantuk lalu bisa pula mengobatinya dengan tidur. Lebih beruntung lagi orang-orang yang bisa menikmati ngantuknya seperti apa adanya, sebab ngantuk itu tidak bisa di-manage untuk disetel jadwalnya, melainkan disiasati bagaimana menghadapinya.

Di antara tanda-tanda orang berpuasa adalah ngantukan atau gampang ngantuk, alias sedikit-sedikit ngantuk (ngantuk kok cuma sedikit…?) yang disebabkan oleh karena kurang tidur akibat banyak menggunakan waktu meleknya untuk berbisnis dengan Ramadhan. Itulah yang memang dianjurkan agama. Maka ngantuknya dan kalau kemudian tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah bernilai ibadah. Sesuatu yang mengandung kebaikan tentu ada nilainya di mata Tuhan. Nilai positif itu yang kemudian berjudul pahala.

Ini hanya soal logika saja. Sebenarnya tidak perlu menunggu puasa Ramadhan untuk mengatakan hal ini. Daripada melek tapi malah omongan dan kelakuannya tidak karuan, maka tidur tentu lebih baik. Jadi tergantung pembandingnya, sebab bisa saja tidur adalah bernilai bencana meski sedang berpuasa kalau dengan tidur lalu keluarganya keleleran karena malah tidak berusaha mencari nafkah bagi keluarganya.

Memang banyak ustadz dan penceramah yang dengan bersemangat jihad berkata dalam bahasa londo Arab, menyebut ada Hadits yang bunyinya begini : naumush-shooimun ‘ibadah (tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah)….. Sementara kalangan menilai bahwa penggalan kalimat Hadits itu adalah dhoif (lemah), bahkan cenderung maudhu’ (palsu). Oleh karena itu baiknya dikembalikan ke perkara pokoknya saja, bahwa ibadah itu berbanding lurus dengan ikhtiar.

Tidur mulu… tidak ngapa-ngapain kok dapat pahala, tidak melakukan aksi kok berharap ada reaksi, tidak melakukan kebaikan apapun kok berharap dapat bonus pahala…. Lha kok nyimut….. Itu melawan sunatullah. Bukan itu amal yang pantas dipahalai. Ngantuk akibat kurang tidur menjadi bernilai ibadah kalau waktu malamnya dimanfaatkan untuk berbisnis dengan Ramadhan, tadarus, sholat malam, dzikir, dsb. Lha kalau ngantuk karena malamnya untuk ndugem dan cekakak-cekikik tak jelas juntrungannya…., ya enggak apa-apa juga sih, cuma jangan lalu esoknya berlindung di balik Hadits imitasi bahwa naumush-shooimun ‘ibadah…. Enggak ada itu, enggak ada….!

Cuma perlu hati-hati, bahwa batas antara niat ibadah dan niat malas itu tipis sekali. Hanya diri masing-masing dan Tuhan yang tahu, sebagaimana puasa itu langsung dipersembahkan kepada-Nya, tanpa perantara ustadz, kyai atau imam, dan tanpa alat bantu apapun, tidak juga sarung, kopiyah, baju koko, sajadah, uang infak, dsb. Wallahu’allam…

Yogyakarta, 29 Agustus 2009 (8 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Sepenggal Doa Di Hari Fitri

27 September 2008

Catatan Pengantar :

Dua buah tulisan di bawah ini adalah tulisan lama saya yang saya tulis dua tahun yll. Karena saya pikir isinya masih pas, dan (yang lebih penting) saya ingin merenungkannya kembali. Maka semoga ada setitik hikmah yang bisa dipetik. Disertai ucapan tulus :

“Selamat Idul Fitri 1429H – Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Wassalam.

Yogyakarta, 27 Setember 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar

——-

Sekian lama sekian tahun, saya sempat midar-mider numpang lewat, hingga akhirnya suatu kali berkesempatan singgah dan menjelajah negeri jiran yang bernama Singapura. Saya pernah nyinyir nggrundel sendiri, Singapura itu sebuah pulau yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya. Pengurus pulau sak uplik itu telah berhasil mengamalkan sebuah titah agar mendayagunakan ilmu pengetahuan semaksimal-maksimalnya demi kesejahteraan umat manusia penghuninya. Dari sudut pandang (sempit) ini, saya merasa bahwa pengelola pulau itu ternyata kok ya lebih islami daripada saya (sebut saja “saya”) yang seprana-seprene cuma piya-piye saja…..

Kita ini (maksudnya, saya bersama segenap tetangga saya dan Sampeyan semua), baru kecopetan dompet plus kartu-kartu utang saja sudah lenger-lenger. Baru terkena cobaan hidup kecil saja sepertinya merasa dunia sudah tidak berpihak kepada kita. Apalagi ketimpa musibah besar, kontan nelangsa seperti dunia tiba-tiba kiamat, merasa paling kasihan sedunia, paling tidak berdaya, paling miskin dan tidak punya apa-apa lagi.

Padahal yang terakhir itu amat dekat dengan kekufuran (begitu agama saya mengajarkan). Sedangkan kalau sudah telanjur kufur (lawan dari syukur), maka itu adalah tanda-tanda awal dari cilakak duabelas dunia wal-akhirat.

Ketika sedang jatuh lalu tertimpa tangga, padahal sedang sakit gigi dan ingat cicilan rumah sudah ditogah-tagih saja sama bank, pas mau bangkit ndilalah tangannya mencekal telek lencung……. Uh! Dunia seperti gelap bin gulita….., tidak punya apa-apa lagi, tidak berdaya-upaya, boro-boro sisa tabungan buat modal. Mau bayar zakat pitrah saja berat rasanya, kepala berbintang-bintang. Padahal tahun lalu masih bisa menyisihkan sedikit zakat maal (bukan mall), meskipun hitungannya diminim-minimkan agar tidak kebanyakan.

Mak deg…! Mungkin benar, tampaknya tidak punya apa-apa lagi. Padahal mestinya kita masih punya hati dan ilmu. Sebuah kekayaan, sebuah “apa-apa” yang menurut Sang Maha Pemberi Apa-apa adalah bekal untuk bangkit, berpikir dan bekerja, terus dan terus tiada henti.

Mak deg…! Kenapa tidak mencoba untuk berperilaku islami seperti pengelola pulau Singapura dalam mendayagunakan ilmunya. Merubah dari yang tidak punya apa-apa menjadi apa-apa punya. Paling tidak, ruh dan semangat untuk apa-apa punya tetap tumbuh, sehingga yakin bahwa dunia tetap berpihak kepada kita. Hanya ilmunya yang perlu dipelajari dan dipikiri, dan itu adalah titah Sang Khalik. Tidak diperlukan sertifikat S1, S2 atau S3 untuk bisa mempelajari dan memikiri hal semacam itu.

***

Sebulan ini kita sudah menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka (karena candra Ramadhan ada sebelum candra Syawal, kalau Ramadhan sesudah Syawal namanya candradibelakang). Ada yang sebulan penuh dan ada yang sebulan kurang sehari tapi tetap saja dibilang sebulan penuh, kita menempuh beraneka ria mata ujian ulangan setiap tahun, siang dan malam, pendeknya duapuluh empat jam non-stop, berlapar-lapar, berhaus-dahaga, berngantuk-ngantuk, ngempet semburan nafsu liar, mengkaji ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, dan ber-mu’amalah dalam kesalehan. Dalam lapar dan “pura-pura” miskin, dalam kebodohan dan “pura-pura” tidak punya apa-apa dan tidak berdaya apa-apa. Itupun kita bisa (bagi yang berniat untuk bisa, sebab ada yang memang tidak berniat untuk bisa). Padahal sendiri saja, tidak bersama, karena ini memang urusan pribadi antara kita dan Sang Pencipta.

Maka faktanya adalah, ketika kita sedang “apa-apa punya”, ternyata kita sanggup untuk “tidak punya apa-apa”. Jadi betapa kita ini sebenarnya bisa menjadi lebih singapura ketimbang Singapura. Wong kita punya hati dan ilmu. Sementara hati dan ilmunya persis sama plek.

***

Duh, Gusti Allah….., tolong Panjenengan berkati para pemimpin dan pengurus tanah kami. Bantu kami menyingkap hijab (tabir) yang menghalangi pandangan kami, agar kami semua ngeh, bahwa tanah kami ini sesungguhnya apa-apa punya. Terangi hati dan pikiran kami, agar kami mampu membedakan mana minyak dan mana emas, mana lumpur panas dan mana telek lencung hangat, mana asap dan mana parsel, mana menolong dan mana menyolong, mana sapaan mesraMu dan mana teguran kerasMu….. 

Duh, Gusti Allah….., di hari yang fitri ini (maap Gusti, bukannya saya mau ikut-ikutan kalau hari fitri saya adalah Senin 23 Oktober 2006, tapi itu juga menurut ilmu yang Panjenengan ajarkan…..). Semoga Engkau mengelompokkan kami ke dalam gerombolannya orang-orang yang mudik rame-rame menuju ke ranah kesucian dan kemenangan.

Agar kami tidak menjadi buta, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta, yang dibutakan oleh silau-gemerlapnya dunia.

Agar kami tidak menjadi bodoh, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh, yang dibodohkan oleh kesombongan seakan-akan kami tidak butuh siapa-siapa.

Agar kami tidak lemah, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah lemah, yang dilemahkan oleh ketidak-mau-tahuan kami bahwa sesungguhnya negeri kami ini negeri yang apa-apa punya.

Duh, Gusti Allah….., kabulkanlah doa kami. Engkau kabulkan sedikiiiiit saja dulu, kami sudah bersyukur kok, sisanya tolong disusulkan…… Amin.

PS :
Selamat Idul Fitri 1427H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Yogyakarta – 23 Oktober 2006 (1 Syawal 1427H)
Yusuf Iskandar

Lebaran Sebentar Lagi

27 September 2008

Lebaran sebentar lagi.

Dengan berharap memperoleh lailatul-lebaran, maka berarti kita (yang muslim) punya peluang untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan sebulan penuh, komplit seisi-isinya yang tak terukur nilai ibadahnya. Ya kualitasnya, ya kuantitasnya.

Tidak ada hari-hari dimana khalayak ramai (orang muslim tentunya) berebut memaksimalkan kuantitas ibadahnya, keculi di hari-hari Ramadhan. Tidak ada hari-hari dimana orang ramai-ramai seperti potong padi di sawah berlomba meraih kualitas ibadah sekuali-kualinya, selain di hari-hari Ramadhan.

Inilah hari-hari dimana malaikat Rakib (malaikat pencatata kebaikan) super sibuk nyenthangi (memberi tanda centhang.….) pada kolom ibadah dengan kode : bermutu tinggi (karena selama sebelas bulan sebelumnya ternyata mutu ibadahnya rendah terus, bahkan tekor…..). Sejak kita tidur sampai bangun sampai tidur lagi…..

Nyaris semua orang muslim sepakat (meski belum tentu menghayati), bahwa Ramadhan adalah sebuah peluang. Peluang untuk meraih bonus, mengumpulkan angka cum, menumpuk poin positif dan menutupi ketekoran. Tapi, lha wong namanya peluang, jadi ya terserah bagi siapa saja yang mau menerkamnya atau melepaskannya. Siapa cepat dia dapat? Bukan…..! Itu permainan gaya kita.

Inilah huebatnya Sang Maliki Yaumiddin (Yang menguasai hari pembalasan). Siapa saja pasti dapat. Sebab kalaupun orang se-Sidoarjo, se-Aceh atau se-Jogja semuanya cepat menangkap peluang, maka digaransi semua akan dapat balasannya bersama-sama. Sebaliknya, taruhlah semua kelelat-kelelet menangkap peluang, juga dijanjikan masih akan dapat hasilnya beramai-ramai. Horo... coba…..! Tidak ada janji yang akan selalu ditepati melainkan janji-Nya. Kita saja yang suka semaunya sendiri. Tidak mau menangkap peluang tapi nagih bonusnya terus….. Bagita (bagi rata), katanya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi Ramadhan lebih sebentar lagi, lagi. Hari-hari indah selama sebulan datang menjelang. “MARHABAN YA RAMADHAN”, kata teman kecil saya, Sayid Bakar namanya. “ASAUP NALUB HALITAMROH”, kata spanduk yang memasangnya terbalik di sudut perempatan kampung. Lha, yang disuruh menghormati bulan puasa itu siapa?

Wong puasa kok minta dihormati. Minta diistimewakan. Kalau begitu mah keciiil.…. (sambil menjentikkan seruas ujung jari kelingking). Kalau puasa kok minta dihormati, ya anak sekolah Taman Nak-Kannak saja mampu. ‘Gak ada tantangan! Justru nilai kualitasnya terletak karena banyaknya tantangan, godaan dan rayu-bujukan. Barangkali yang dimaksud sekedar tenggang rasa. Maksudnya : “Awas, ada orang sedang merasa lapar, tenggang dia, jangan ganggu dia…..!”.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi hari-hari luar biasa sebentar lagi mau lewat. Karena hanya lewat, biasanya tidak berlangsung lama. Meski sebenarnya lama atau sebentarnya tergantung pada bagaimana cara menangkap yang mau lewat itu. Kalau dianggapnya sebagai “aktifitas ngoyoworo”, ya lebaran jadi luamaaa sekali…… Tapi kalau dianggapnya sebagai sebuah rahmat dan nikmat, sungguh terlalu cepat dia berlalu. Tahu-tahu sudah mau lebaran. Padahal rasanya belum banyak detik-menit-jam-hari-minggu yang telah dialokasikan untuk menggapai rahmat dan ampunan-Nya. Belum banyak waktu-waktu senggang digunakan untuk menutup nilai tekor selama sebelas bulan sebelumnya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi tidak banyak orang yang ngeh bahwa sebulan sebelum lebaran adalah sebuah peluang bisnis. Bisnis yang margin keuntungannya dijamin kekal bin abadi dunia wal-akhirat. Bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi. Bisnis yang dijamin memberikan Return on Investment ribuan bahkan jutaan persen. Nyaris dengan modal bodong. Boro-boro bermodal sarung kumel plus kupluk bolong, tidak punya dengkul pun bisa meraup yield jutaan persen. Itu kalau tahu “trik”-nya…… Namun sayang-sayang seribu kali sayang. “Trik” itu hanya bisa diperoleh kalau seseorang mau mengaji (ini bahasa kampung saya). Bahasa moderennya adalah mau melakukan kajian, mau belajar, mau berpikir, mau menyadari kebodohannya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi saya hanya bisa melamun, berimajinasi mewanti-wanti kepada anak-anak saya (yang sialnya tidak pernah berhasil, sebab selalu ditanggapi sambil cengengesan). Boro-boro kepada anak-anak orang lain atau orang tuanya……., anak sendiri saja syusyahnya bukan main…..

Cobalah nak…….. Saat malam pertama Ramadhan tiba, tarik napas dalam-dalam, resapi aliran udaranya. Nikmati bahwa itu adalah udara Ramadhan, yang setiap molekulnya bernilai ibadah. Kalau kau tahu…..!

Hisap aromanya, agar aroma tubuhmu adalah aroma Ramadhan. Masukkan ke dalam darah dan biarkan dia mengalir ke seluruh tubuh, agar tubuhmu adalah tubuh Ramadhan. Gerakkan ke seluruh anggota badan, agar ayunan tangan dan langkahmu adalah irama gerak Ramadhan. Rambatkan ke indera pandangan matamu, gerak bibirmu, pendengaran telingamu dan sentuhan lembut kulitmu, agar getaran inderamu adalah getaran Ramadhan.

Cobalah nak…….., untuk melakukannya malam demi malam. Tidak usah dululah melakukan yang lain-lain, melainkan menyatulah dengan aura Ramadhan. Agar nanti di malam terakhir Ramadhan kalian tidak menyesal karena tahu-tahu esok lebaran tiba. Dan kalian baru menyadari bahwa bulan super deal barusan berlalu….. Air matamu akan menetes tak terbendung bagai lumpur panas. Namun (siapa tahu) itu terlambat, karena tidak ada yang bisa menggaransi tahun depan akan berjumpa kembali dengan Ramadhan

Lebaran sebentar lagi.

Hanya rasa ikhlas menyambut kedatangan Ramadhan yang akan membedakan apakah lebaran benar-benar sebentar lagi atau masih lama. Rasa ikhlas yang mengejawantah menjadi tetesan air mata saat bersujud keharibaan-Nya, di tengah malam….. sunyi….. sepi….. sendiri…..

Rasa ikhlas yang diawali dengan kesadaran untuk saling memaafkan.

PS.
“Mohon maaf lahir dan batin”

Yogyakarta, 22 September 2006 (29 Sya’ban 1427H)
Yusuf Iskandar

Selamat Berpesta Ramadhan-ria

31 Agustus 2008

Email dan SMS berdatangan berduyun-duyun berebut menghampiri kita, di mailbox dan di ponsel kita. Nyaris tak terbendung banyaknya. Saking banyaknya terkadang tak sempat terbaca semua pesan yang disampaikan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah kalau tidak sempat membaca semuanya, bahkan terkadang tak juga sempat membuka semuanya. Bukan karena si pengirim tidak bakal tahu, tapi rasanya akan dapat dimaklumi ketika puluhan bahkan ratusan SMS pathing pecothot di hape kita.

Berbagai kata, kalimat, gaya bahasa, ungkapan, parikan, plesetan, mewarnai unjuk rasa dan unjuk hati akan datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H. Namun, apapun kata-katanya, tujuanya tetap satu, yaitu ungkapan kegembiraan menyambut Ramadhan dan ungkapan saling bermaafan yang tulus sebagai salah satu kunci pembuka pintu Ramadhan. Agar hati menjadi bersih, lega dan longgar guna menampung berjuta kebaikan yang dibawa dan akan ditebar oleh Ramadhan, bagi mereka yang memang berniat memperolehnya.

Ya, hanya mereka yang sungguh-sungguh berniat dan berharap. Rugi sekali mereka yang tidak berniat, sebab akhirnya menjadi tidak berusaha meraihnya. Rugi sekali mereka yang setengah hati menyambut kehadiran Ramadhan. Rugi sekali mereka yang enggan mengelu-elukan tebaran rahmat, berkah dan maghfirah yang sedang diangkut oleh Ramadhan dari atas langit paling atas untuk dibagi-bagikan kepada peminta dan pengharapnya. Karena itu, Ramadhan perlu disongsong dan disambut dengan sepenuh rasa suka-cita, kegembiraan dan semangat (jangan membuang waktu untuk mempertimbangkannya sekalipun dengan sangat dan sungguh-sungguh).

Hanya dengan itu, maka bulan mega-bonus ini akan benar-benar menebarkan bonusnya. Lebih dari sekedar gebyar hadiahnya, melainkan Ramadhan tidak akan pilih-pilih siapa pemenangnya. Kalaupun empat milyar warga bumi menjadi pemenangnya, maka sebanyak itu pula hadiah akan ditebarkan.

Ramadhan adalah bulan mega-promo, lebih dari sekedar bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah, melainkan hadiah yang dijanjikan akan mencakup lebih dari segala macam rahmat, berkah dan ampunan. Jauh lebih besar, lebih luas dan lebih dahsyat dari itu.

Ramadhan adalah bulan penuh kedahsyatan bagi mereka yang tahu dan mau tahu. Ramadhan adalah bulan penuh pesta bagi mereka yang suka begadang dan dugem, hanya diperlukan sedikit ilmu dan usaha untuk memahaminya. Ramadhan adalah bulan penuh peluang bisnis. Bisnis dengan Tuhan yang margin keuntungannya tak terhingga, tak terukur dan tak terbandingkan. Maka, Ramadhan layak dielu-elukan. Ramadhan pantas disambut dengan gembira.

Mari kita rayakan pesta Ramadhan-ria. Sekarang juga. Ya, saat ini juga. Saat kita masih punya kesempatan untuk berpesta bersama Ramadhan. Mumpung pesta itu baru saja dimulai. Mumpung pesta itu baru akan berakhir sebulan kemudian. Sebab tak seorang jua mampu menggaransi kalau tahun depan kita masih punya kesempatan untuk kembali bisa hadir dalam pesta Ramadhan.

Mari kita tangkap peluang bisnis terdahsyat yang pernah dijanjikan oleh Tuhan. Yang profit-nya tak cukup ditebar dari seluas langit. Yang kebaikannya tak pandang bulu akan diberikan kepada siapa saja yang berniat tulus-ikhlas-khusyuk mengharapkannya. Sampai-sampai nabi Muhammad saw. memberi wanti-wanti, seandainya manusia ini tahu kedahsyatan Ramadhan, mereka pasti akan meminta agar sepanjang tahun dikoversi menjadi Ramadhan semua. Inilah sebuah pertanda bahwa pesta itu memang ada masa kadaluwarsanya dan pertanda agar jangan sampai kita gagal menangkap peluang bisnis yang luar biasa ini.

Semoga kita akan keluar dari pesta Ramadhan-ria ini, dan bergabung ke dalam kelompok orang-orang yang kembali kepada kesucian dan orang-orang yang meraih kemenangan. Dan, kita adalah pemenangnya.

NB :
Kepada rekan-rekan muslim : Selamat berpesta Ramadhan-ria.

Yogyakarta, 31 Agustus 2008 (malam 1 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar