Archive for the ‘> Seputar PAPUA’ Category

Batik Papua

2 Oktober 2009

1_IMG_4024_r1a1b_IMG_4044_r1c2_IMG_4026_r32a_IMG_4028_r3b3_IMG_4023_r24_IMG_4032_r54a_IMG_4035_r5b4b_IMG_4047_r2d5_IMG_4030_r4a5a_IMG_4031_r4b

Menurut bungkusnya, tertulis : Batik Khas Papua (made in Jayapura – Indonesia).

Dapat dibeli di :

  • Toko Aneka Batik Papua, Jl. Percetakan I (Depan Salon Sari), Jayapura, Papua – Tlp. (0967) 523489
  • Toko Aneka Batik Papua, Jl. Raya Abepura, Kota Raja No. 28, Jayapura – Tlp. (0967) 582335
  • Toko Nusantara, Jl. F. Kalasuat No. 3 Sorong – Tlp. (0951) 321328
  • Toko Aneka Batik Timika, Jl. Serui Mekar No. 48, Timika – HP. 0811492481

Yogyakarta, 2 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Di Tepinya Danau Sentani, Papua

5 Agustus 2008

Sebuah rumah gubuk, di tepinya danau Sentani, Papua

Tumpuk-undung Di Jayapura

30 Juli 2008
Di sudut kota Jayapura
Di lereng bukit
Di ketinggian
Terbangun sebuah kawasan pemukiman
Dinding, atap, lantai, serpih demi serpih,
akhirnya rumah demi rumah
Bak rumah susun, flat, kondo, atau pagupon
Terbangun dengan sendirinya
Hingga tumpuk-undung
Entah mana depan, mana belakang
Entah dari mana mereka datang
Bahkan, entah dari mana mereka masuk dan keluar, naik dan turun
Mungkin datang dari langit, lalu menclok, lalu terbang lagi ke angkasa
Berangkat pagi, pulang senja
Begitu seterusnya
Bersatu dalam tumpuk-undung-nya kehidupan
 
Yogyakarta, 30 Juli 2008
Yusuf Iskandar
Pemukiman Di Lereng

Pemukiman Di Lereng (1)

Pemukiman di Lereng (2)

Pemukiman di Lereng (2)

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Banyak “Pace-Mace” Di TOP TV

28 Juli 2008
Berita "Tanah Papua News Sepekan" di TOP TV
“Tanah Papua News Sepekan” di TOP TV

Salah satu saluran televisi yang sering saya tonton selama kunjungan singkat ke Jayapura adalah membuka saluran TOP TV. Ini adalah siaran TV lokal yang jangkauannya baru di wilayah kota Jayapura dan sekitarnya di bawah bendera PT Jayapura Televisi. TOP TV secara resmi mulai mengisi udara Papua sejak tanggal 1 Mei 2007 dan kini mengudara dari jam 11 siang sampai 11 malam pada kanal 26 UHF.

Salah satu acara yang menarik perhatian saya adalah siaran berita bertajuk “Tanah Papua News Sepekan”. Ini adalah acara siaran berita tentang berbagai peristiwa sosial maupun pemerintahan di seputaran Papua. Isi dan format berita dan tayangan berita TOP TV yang mengusung motto “Pancaran Cahaya Kasih” ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan TV-TV lokal di daerah lain.

Hanya yang menarik adalah penggunaan kata sapaan “pace-mace” oleh pembaca berita maupun peliput berita. Kata “pace-mace” yang dimaksudkan sebagai sapaan “bapak-ibu” diucapkan puluhan kali di sepanjang acara sebagai pengganti sapaan “saudara” atau “pemirsa” seperti halnya di siaran TV-TV Jakarta.

Menariknya, kata “pace-mace” diucapkan pada hampir setiap awal kalimat tanpa koma (disambung dengan kalimat berikutnya), seolah-olah si pembaca berita sedang berdialog dengan penontonnya dan bukan sekedar menuturkan sebuah peristiwa. Maka bagi pemirsa televisi yang baru pertama kali menonton saluran TOP TV akan memberi kesan aneh tapi enak didengar. Sapaan akrab “pace-mace” betebaran di sepanjang acara, baik berita maupun liputan atau reportase, selain kata paetua (bapak), su (sudah), dong (mereka), tong (kita), bilang (mengatakan), dsb.

TOP TV telah memulai sebuah langkah untuk mengglobal, mewakili geliat pembangunan (kata benda dari bangun yang maksudnya tidak tidur) masyarakat Jayapura khususnya dan Papua pada umumna. Maju dan jayalah saudaraku di Papua…!

Yogyakarta, 25 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Terminum Air Keras

25 Juli 2008

Seperti tersambar geledek rasanya ketika di Jogja tiba-tiba saya menerima kabar dari seberang sana yang mengabarkan bahwa salah seorang tenaga lokal yang membantu survey nun jauh di Papua, terminum cairan asam klorida alias air keras. “Wuah…, modar…!”.

Kabar pertama menyebutkan bahwa salah seorang tenaga lokal yang asli Papua itu mengeluh sakit dan pamit pulang meninggalkan camp yang berada di atas bukit di tepian hutan. Belakangan dilaporkan bahwa kemarin tanpa sengaja dia meminum air di dalam botol akua yang ternyata berisi cairan asam klorida (HCl).

Apa benar sampai tertelan? Bagaimana kejadiannya? Bagaimana keadaannya sekarang? Pertanyaan itu silih berganti berkecamuk di pikiran saya, sebelum kabar yang lebih jelas menyusul kemudian.

Asumsi yang saya pikirkan kemudian, di tengah ketidakjelasan kabar awal itu adalah kemungkinan yang terburuk yang bisa terjadi, yaitu bahwa tenaga lokal itu benar-benar telah tertelan cairan asam klorida. Segera saya minta koordinator lapangan untuk turun dari camp, meninggalkan pekerjaannya, menyusul orang itu dan secepatnya membawanya ke rumah sakit. Agak sedikit melegakan ketika saya menerima pemberitahuan bahwa tindakan pertolongan pertama sudah dilakukan, yaitu dengan menyuruhnya minum air putih sebanyak-banyaknya, juga minum susu. Tapi tentu saja tidak cukup sebagai penolong, kecuali daripada tidak melakukan apa-apa.

Herannya, orang itu tidak mau dibawa ke rumah sakit. “Tidak apa-apa”, katanya. Dia memilih untuk beristirahat di rumah saja. Saya jadi berpikir lagi. Kalau terminumnya kemarin, lalu esoknya masih sanggup berjalan turun gunung, berarti kondisinya tidak parah. Jangan-jangan (dan mudah-mudahan) memang belum sempat terminum, melainkan baru sampai di mulut lalu dimuntahkannya. Tidak sampai masuk ke tembolok, apalagi usus duabelas jari.

***

Larutan HCl yang kenampakannya jernih, tidak berwarna dan berbau tajam pada kepekatan tinggi ini memang menjadi salah satu pirantinya seorang geolog ketika mendeskripsi batuan, antara lain untuk mengidentifikasi adanya kandungan batuan karbonat. Ketika ditetesi dengan larutan HCl, batuan karbonat segera akan bereaksi seperti air mendidih, menimbulkan gelembung udara dan gas klorida.

Untuk kepraktisan di lapangan, biasanya larutan asam ini disimpan dalam botol plastik kecil seperti botol cuka yang runcing ujungnya, sehingga menggunakannya tinggal meneteskan dengan cara memencet botolnya. Cairan HCl yang sebenarnya sudah agak diencerkan yang dibawa oleh tim survey ini tersimpan di dalam botol bekas air mineral cap Aqua, rupanya kemudian diambil dan diminum oleh seorang tenaga lokal yang sedang kehausan. Ini pelajaran sangat penting tentang keselamatan kerja (safety) untuk tidak boleh terjadi lagi.

Ketika dua hari kemudian saya menyusul ke Papua, segera saya lakukan safety talk dan investigasi singkat. Kesimpulannya, telah terjadi tindakan tidak aman (unsafe act) yang disengaja. Bukan oleh si penyimpan cairan asam, melainkan oleh teman-temannya si peminum cairan asam.

Apa pasal? Cairan air keras itu disimpan di dalam botol bekas air mineral yang label aslinya sudah dilepas dan sebagai gantinya diberi tulisan cukup jelas tentang isinya, lalu disimpan di dalam tas. Ketika tas sedang ditinggal pemiliknya, rupanya keberadaan botol itu terintip oleh salah seorang tenaga kerja yang sedang kehausan (tidak perlu naik pesawat murah-meriah untuk bisa kehausan…..). Botol itu kemudian diambil dan ditanyakan kepada temannya yang lain apakah air dalam botol itu air minum. Sialnya, temannya malah mengatakan bahwa kalau mau, ya diminum saja….. Dan guebleknya, kok ya diminum beneran. Ketika si peminum teriak-teriak kelocotan mulutnya, teman-temannya malah tertawa. Rasanya hanya ada satu kata yang pas untuk mengekspresikan kejadian itu…… “Oeddan…!”.

Ketika saya tanyakan kepada tim survey, apa orang itu buta huruf sehingga tidak bisa membaca label tulisannya? Jawabnya : “Tidak, wong dia bisa kirim SMS…” (Aha…, ini cara baru untuk mendeteksi apakah seseorang itu buta huruf atau tidak. Lihat saja apa dia nenteng-nenteng ponsel dan berkirim SMS. Tapi jangan terkecoh ketika melihat orang menenteng HP dan ketika HP berdering kemudian diangkatnya, lalu katanya : “Haloo… ini SMS dari siapa….?”).

***

Hari ketiga setelah kejadian saat saya sudah berada di Papua, dan saya tanyakan bagaimana kondisi orang itu sekarang? Dijawab bahwa orangnya tidak apa-apa. Hanya gigi-giginya ngilu semua dan tetap tidak mau diajak ke rumah sakit. Malah orang itu berkilah : “Tidak perlu ke rumah sakit, bapak…. Bisa sembuh kalau minum saguer…..!?!”. Saguer adalah legen kelapa, sejenis minuman keras lokal. Maksudnya, ya nenggak minuman keras.

Yaa…., memang tidak beda jauh antara minuman keras dengan air keras. Sama-sama tentang cairan dan sama-sama tentang keras (Ugh, tobat tenan……!).

Jayapura, 21 Juli 2008
Yusuf Iskandar

NB :
Suatu ketika ada seorang Papua terkapar di pinggir jalan. Rupanya dia mabuk berat sejak semalam. Akhirnya dia tersadar dari mabuknya ketika hari sudah agak siang dan dikerumuni orang-orang yang kebetulan lewat di dekatnya. Kepalang malu dilihat orang, dia pun berteriak serak-serak lantang : “Apa kamu lihat-lihat…….! Kau pikir mabuk itu gampang kah? Saya mabuk sampai terkapar badan kotor-kotor….”. Orang-orang yang berkerumun pun bubar jalan sambil tersenyum.

Lengang Di Perbatasan RI-PNG, Di Skouw Wutung

23 Juli 2008
Perbatasan RI-PNG di Skouw Wutung

Perbatasan RI-PNG di Skouw Wutung

Dua hari terakhir ini perbatasan Skouw Wutung yang memisahkan antara propinsi Papua (RI) dengan Papua Nugini (PNG) terlihat lengang oleh pelintas batas, tidak seperti hari-hari biasanya. Para petugas di Skouw, kecamatan Muara Tami (wilayah Indonesia) pun tidak terlalu jelas duduk permasalahannya. Tetapi bisik-bisik mengatakan bahwa pemerintah PNG melarang pelintas batas warga negaranya yang biasanya suka berbelanja ke pasar di luar negeri, maksudnya di wilayah Indonesia.

Demi melihat pintu gerbang wilayah PNG ditutup, dirantai dan digembok rapat-rapat, maka petugas perbatasan di wilayah RI pun lalu juga menutup pintu gerbangnya. Menurut petugas polisi, tentara dan masyarakat di wilayah Skouw, keadaan seperti itu relatif sering terjadi dan biasanya karena sedang ada masalah di pihak PNG. Akibatnya, seperti dua hari terakhir ini perbatasan Skouw Wutung antara RI – PNG terlihat lengang dan tidak nampak aktifitas masyarakat berlalu-lalang seperti hari biasanya dan pasar di wilayah RI pun tutup karena kurang pelanggan “asing”-nya.

(Foto diambil tanggal 22 Juli 2008, jam 11:00 WIT – Yusuf Iskandar)

Zona bebas selebar sekitar 20 m memisahkan antara gerbang PNG dan RI

Menara Suar Perbatasan RI-PNG milik Direktorat Jendral Perhubungan Laut

Memandang ke arah timur ke gerbang perbatasan RI-PNG

Papan peringatan tentang bahaya AIDS bagi pelintas batas yang memasuki wilayah PNG

Memandang ke arah barat menuju ke wilayah RI

Tiada Dulang Wajan Pun Berguna

18 Juli 2008

Mengais-ngais endapan pasir di sepanjang alur sungai di bukit Ungabo, Sentani Timur, Papua. Berharap ada butir-butir emas yang dapat ditemukan. Para pendulang emas pun berdatangan dari mana-mana. Tidak saja penduduk asli setempat, melainkan juga dari Sulawesi Utara.

Mendulang emas, adalah aktivitas mereka selama berhari-hari meninggalkan rumah dan tinggal di hutan. Kalaupun barang beberapa gram butir emas mereka dapatkan, maka itulah karunia Yang Kuasa yang mereka harapkan.

Peralatan mereka sangatlah sederhana. Yang utama adalah dulang (pan) yang terbuat dari kayu. Tapi kalaupun terpaksa tidak ada dulang dimiliki, maka wajan (yang telinganya patah satu) pun berguna.

(Foto diambil pada tanggal 23 Juni 2008, sekitar jam 14:00 WIT — Yusuf Iskandar)

Bentang Alam Danau Sentani, Jayapura, Papua

25 Juni 2008

Sentani1

Satu sore di punggungan bukit Ungabo, Sentani Timur, Papua, membentang begitu indahnya alam perawan danau Sentani yang luasnya sekitar 7.500 hektar. Dikelilingi oleh perbukitan ilalang dan semak-semak dengan sedikit pepohonan besar, tampak dari kejauhan seolah-olah dikelilingi oleh selimut hijau.

Masyarakat kampung Yoka dan Ayope tinggal di sebreang-menyeberang danau. Suasana alamnya terlihat masih asli, begitu juga kehidupan masyarakatnya. Namun lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jayapura, hanya sekitar 25 km. Dari jalan utama Jayapura – bandara Sentani yang melintas menyusuri dinding utara danau, pun dapat terlihat dengan jelas pemandangan alam danau Sentani.

Bukit Ungabo, adalah sebuah bukit yang ditengarai menyimpan potensi alam bahan tambang emas.

(Foto diambil tanggal 22 Juni 2008, jam 16:00 WIT – Yusuf Iskandar)